Rabu, 30 Agustus 2017

Kang Said: Nahdliyin Kehilangan Orang Tua, Guru, dan Panutan

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj, mengungkapkan wafatnya Rais ‘Aam KH Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh merupakan kehilangan besar bagi Nahdliyin. Mbah Sahal, demikian Kiai Sahal disapa di kesehariannya, dinilai sebagai sosok orang tua, guru, sekaligus panutan yang selalu bisa mengayomi.

?

Kang Said: Nahdliyin Kehilangan Orang Tua, Guru, dan Panutan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Nahdliyin Kehilangan Orang Tua, Guru, dan Panutan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Nahdliyin Kehilangan Orang Tua, Guru, dan Panutan

“Nahdlatul Ulama dan seluruh keluarga besarnya, Nahdliyin, baru saja kehilangan orang tua, guru, dan juga panutan,” kata Kiai Said di Jakarta, Jumat (24/1/2014).

? Dalam kenangannya, Kiai Said sudah melihat begitu alimnya seorang Mbah Sahal dari karyanya, yaitu kitab Ushul Fiqh Thoriqotul Husul. Secara pribadi Kiai Said mengenal Mbah Sahal sebagai seorang ulama yang teguh dalam memegang pendirian.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

? “Sejak zaman Orde Baru sampai sekarang. Sejak eranya Gus Dur, Pak Hasyim, dan dengan saya, Beliau adalah Rais ‘Aam yang teguh memegang pendirian. Prinsipnya tidak pernah berubah, sekali bilang khitah ya tetap khitah. Beliau tidak takut dicerca dan dikritik, lurus, dan tidak sombong ketika dipuji,” kenang Kiai Said.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

? Kang Said, demikian Kiai Said disapa dalam keseharian berduet dengan Mbah Sahal sejak tahun 2010 yang merupakan hasil Muktamar ke-32 di Makasar, merasa senang karena di setiap agenda rapat dapat menjalankan tugas kepemimpinan secara bersama-sama.?

“Alhamdulillah, di era saya ini Mbah Sahal bisa selalu hadir setiap ada rapat. Itu yang tidak terjadi sebelumnya,” ujarnya.

?

Menegaskan kembali instruksi yang sudah dikeluarkan PBNU, Kang Said meminda seluruh Nahdliyin untuk melaksanakan salat ghaib dan membaca doa serta tahlil, sebagai bentuk penghormatan kepada Mbah Sahal.

?

“Insya Allah Mbah Sahal mendapatkan tempat terbaik,” tutup Kang Said.?

Rais ‘Aam PBNU KH Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh, meninggal dunia pada Jumat (24/1) dinihari sekitar pukul 01.15 WIB. Jenazah Kiai yang juga menjabat Ketua Umum Mejelis Ulama Indonesia (MUI) tersebut dimakamkan pukul 09.25 WIB pagi tadi di kompleks pemakaman Syeikh Ahmad al-Mutamakkin, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Santri, Syariah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Gus Ainun: Banjiri Sanad Keguruan NU di Internet

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Sanad keguruan menjadi ciri khas kalangan nahdliyin dalam menerima ilmu agama. Selain keakuratan ilmu dan kesalehan guru, sanad sangat dibutuhkan. Karenanya, sanad keguruan ini perlu dibaca setiap kali pengajian. Kalau perlu, mata rantai keilmuan itu diunggah di media sosial, website, atau akun-akun pribadi lainnya.

“Minta saja kepada para kiai kita. Lalu unggah di website atau blog. Ini sangat dibutuhkan,” kata Gus Ainun Najib yang belakangan namanya mencuat melalui website Kawal Pemilu di Jakarta, Selasa (16/6).

Gus Ainun: Banjiri Sanad Keguruan NU di Internet (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Ainun: Banjiri Sanad Keguruan NU di Internet (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Ainun: Banjiri Sanad Keguruan NU di Internet

Ainun selama ini resah atas banjirnya ajaran-ajaran agama yang cenderung radikal dan ekstrem di internet. Sementara mereka tidak memiliki sanad yang menyambungkan paham yang mereka ajarkan hingga ke Rasulullah atau ulama yang menulis kitab-kitab rujukan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pada forum Workshop Penguatan Jaringan Anti Radikalisme di Dunia Muda untuk Ulama Muda yang digagas Pondok Pesantren An-Nur Slawi dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Gus Ainun mengapresiasi tingginya pengguna internet di kalangan nahdliyin.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Dengan tingginya angka pengguna, maka sanad-sanad guru agama kita akan semakin tampak pohon besarnya. Mintalah usai mengaji dengan guru-guru kita. Mereka akan memberikannya. Sanad menjadi pertanggungjawaban keilmuan selain validitas ilmu dan kezuhudan guru yang bersangkutan,” kata Gus Ainun yang kini tinggal di Singapura sebagai konsultan teknologi dan informasi.

Menurut Ainun, ilmu agama berbeda dari ilmu pada umumnya. Sanad dibutuhkan antara lain untuk memastikan distorsi informasi keagaman antara penerima dan penyampai ilmu.

Sebagaimana diketahui bahwa ilmu dan orang berilmu pengetahuan mendapat tempat istimewa di kalangan nahdliyin. Kecuali itu, sanad keguruan yang menyambung penerima ilmu dan generasi sebelumnya sangat diperhatikan. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kiai, Olahraga Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Gus Dur Tolak Jadi Capres, Pilih Besarkan PKB

Lebak, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Mantan Presiden RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) kini menolak dicalonkan kembali menjadi Presiden pada pemilihan umum (pemilu) presiden tahun 2009 mendatang, karena merasa disakiti dengan dilengserkan saat menjabat presiden sebelumnya.

Gus Dur menjawab ribuan dukungan kader Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pada Musyawarah Wilayah Luar Biasa (Muswilub) DPW Provinsi Banten, di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Kamis (15/11), menyatakan keengganan dicalonkan sebagai presiden kembali walaupun dukungan untuk itu cukup kuat.

Selasa, 29 Agustus 2017

Sekjen PBNU Ajak Syechermania Baca 1 Miliar Shalawat Nariyah

Surakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H A Helmy Faishal Zaini mengajak ribuan Syechermania, sebutan untuk pencinta Habib Syech, berpartisipasi dalam agenda pembacaan satu miliar Shalawat Nariyah guna memperingati Hari Santri Nasional. Shalawat Nariyah akan dibaca serentak pada Sabtu malam, 21 Oktober 2017.

Sekjen PBNU Ajak Syechermania Baca 1 Miliar Shalawat Nariyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekjen PBNU Ajak Syechermania Baca 1 Miliar Shalawat Nariyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekjen PBNU Ajak Syechermania Baca 1 Miliar Shalawat Nariyah

"Bulan ini (Oktober) bulan keramat karena 22 oktober kita akan memperingati hari santri. PBNU membuat rangkaian acara salah satunya pembacaan satu miliar shalawat nariyah," ujarnya saat hadir dalam acara shalawat bersama Habib Syech bin Abdul Qodir dalam rangka memperingati hari santri di Surakarta, Jawa Tengah, Sabtu (14/10) malam.

Satu miliar, lanjutnya ini sudah dibagi habis ke seluruh jajaran pengurus NU dari Sabang sampai Merauke. Ia menambahkan, PBNU membuat sistem per paket di mana satu paket 4444 kali baca.

"Bapak/ibu bisa ikut di masjid-masjid, majelis shalawat, struktur NU mulai ranting, cabang dan wilayah. Bisa juga baca di rumah masing-masing Sabtu (21/10) bada isya, target kita satu miliar," imbuh Helmy.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sementara Habib Syech mengatakan, tahun lalu di Banjarmasin ia memimpin pembacaan Shalawat Nariyah saat acara shalawatan. "Saya pimpin sendiri masing-masing jamaah 10 kali baca Shalawat Nariyah waktu itu karena ribuan yang hadir," tutur Pemimpin Majelis Ahbabul Mushtofa ini.

Ribuan jamaah membanjiri lokasi Solo Bershalawat di depan Balai Kota Surakarta. Lantunan syiir dan shalawat bergema, mulai dari “Kisah Sang Rasul”, “Demi Waktu”, hingga “Padang Bulan” disenandungkan, tidak ketinggalan “Ya Lal Wathon” dan “Syiir Nahdlatul Ulama”. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Budaya Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Masdar Farid: Nabi Juga Mencoret Tujuh Kata

Denpasar, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pengalaman NU menyetujui penghapusan tujuh kata dalam sila pertama Pancasila juga pernah terjadi pada zaman Nabi Muhammad SAW. Atas tuntutan sejumlah musyrikin Mekkah, Rasulullah rela mencoret tujuh kata yang tertuang dalam Perjanjian Hudaibiyah.

“Ini luar biasa. Ada kesamaan antara sejarah umat Islam dan Nahdlatul Ulama,” terang Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Mas’udi dalam sambutan Rapimnas LTMNU Region VIII PWNU Bali, Senin (9/7), di Denpasar.

Masdar Farid: Nabi Juga Mencoret Tujuh Kata (Sumber Gambar : Nu Online)
Masdar Farid: Nabi Juga Mencoret Tujuh Kata (Sumber Gambar : Nu Online)

Masdar Farid: Nabi Juga Mencoret Tujuh Kata

Masdar menjelaskan, sebelum dicoret Perjanjian Hudaibiyah memuat kata-kata “bismillahir rahmanirrahim” dan “rasulillah”. Sejumlah orang Mekah yang tidak terima menuntut penghapusan tujuh kata itu (bi, ism, Allah, ar-rahman, ar-rahim, rasul, Allah) untuk digantikan dengan redaksi yang lebih netral.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Penggalan sejarah ini, menurutnya, membuktikan bahwa sikap NU terhadap ideologi kebangsaan NKRI sudah ada di jalur yang tepat. KH Hasyim Asy’ari sendiri yang memberikan keberanian moral kepada putranya KH Wahid Hasyim untuk mencoret tujuh kata Pancasila yang berbunyi “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknyanya”.

“Melalui istikharah dan inayah dari Allah SWT, Hadratus Syaikh mengikhlaskan untuk mencoret tujuh kata. Ini adalah amal jariyah NU kepada bangsa ini,” tuturnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kiai asal Purwokerto ini menambahkan, sikap ini berpijak pada ajaran pokok NU yang dalam hal kenegaraan di antaranya menganut prinsip keadilan dan permusyawaratan.?

“Bagi warga NU secara konseptual Pancasila sudah Islami,” tandasnya.

Redaktur : Syaifullah Amin

Penulis ? ? : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi AlaNu, Kiai Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 27 Agustus 2017

Kang Said: Pengurus NU Jangan Tertarik Jabatan Politik

Tangerang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menghadiri Pelantikan Bersama dan Muskercab I PCNU Tangerang, Ahad, 19 Desember 2010. PCNU Tangerang Masa Khidmat 2010-2015 dipimpin Rais Syuriah KH Najib Syahruwardi dan Ketua Tanfidziyyah KH Bunyamin.

Dalam pidatonya, KH Said Aqil Siroj menegaskan bahwa pengurus tidak perlu tertarik dengan jabatan politik karena itu bukan tugas utama Nahdlatul Ulama. ”Tidak usah kepingin (jabatan politik, red), karena tugas NU adalah menjaga agama,” ujar pria yang akrab disapa Kang Said ini.

Kang Said: Pengurus NU Jangan Tertarik Jabatan Politik (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Pengurus NU Jangan Tertarik Jabatan Politik (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Pengurus NU Jangan Tertarik Jabatan Politik

"Kalau semua orang berpolitik, lalu siapa yang akan menjaga NU. NU adalah harapan masyarakat untuk menjaga integritas bangsa ini. Dan ke depan, NU harus berperan penting, dan itu tidak harus melalui politik praktis," tutur Kang Said kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi..

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sebagai mandataris muktamar, ia juga menegaskan bahwa tidak akan masuk pada jabatan politik. "Capres, cawapres atau apapun, saya sama sekali tidak tertarik dan akan tetap konsisten menjaga NU bersama warga NU," ucapnya dengan tegas dan disambut tepuk tangan hadirin.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi



Melestarikan peradaban

Pada kesempatan ini Kang Said juga mengajak hadirin untuk menjaga dan melestarikan hadlarah (peradaban) yang selama ini telah dibangun para ulama. ”Kita harus bangga dengan hadlarah yang telah dibangun para pendahulu kita. Yakni hadlarah tsaqafiyah atau intelektualitas dan hadlarah tamaddun atau beradab,” tambahnya.

Kang Said kemudian menceritakan zaman di mana Rasulullah hijrah ke Madinah. Negara Madinah dihuni muslim pendatang (Muhajirin), muslim pribumi (Anshor), dan umat lainnya. Muhajirin dengan karakternya yang luar biasa siap meninggalkan hartanya demi mencari karunia dan ridla Allah. Sementara kaum Anshor siap berkorban apapun demu menjaga integritas sosial Madinah.

”Kalau bangsa ini ingin baik, harus memiliki mental Muhajirin dan Anshor. Kita jangan mudah marah. Meskipun kemarahan itu timbul karena penguasanya yang tidak bisa dipercaya,” pungkasnya. (bil)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Jadwal Kajian, Aswaja, Olahraga Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 26 Agustus 2017

Niat, Pembeda Pekerjaan Bernilai Ibadah dan Kebiasaan

Banyuwangi, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Niat berfungsi sebagai motivasi atau pendorong bagi hamba yang ingin melakukan ibadah. Dengan niat, ibadah menjadi tidak lesu. Demikian nasihat yang disampaikan pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwari Kertosari, Kecamatan Banyuwangi KH Ahmad Shiddiq.

Niat, Pembeda Pekerjaan Bernilai Ibadah dan Kebiasaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Niat, Pembeda Pekerjaan Bernilai Ibadah dan Kebiasaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Niat, Pembeda Pekerjaan Bernilai Ibadah dan Kebiasaan

Menurut Shiddiq, niat secara bahasa adalah menyengaja, sedangkan secara istilah adalah menyengaja sesuatu yang berbarengan dengan kegiatan amal ibadah.

"Sehingga pokok dari niat adalah kunci pembeda antara perbuatan atau tingkah laku yang bernilai ibadah atau kebiasaan. Contoh hal kebiasaan seperti bernapas, melihat, tidur, mandi, dan lain sebagainya," jelas kiai akrab disapa Gus Shiddiq pada acara rutinan pertemuan alumni Pondok Pesantren Al-Anwari di kediaman alumni Syaiful, Gumuk, Kecamatan Licin. Kamis (17/3) malam.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Gus Shiddiq menambahkan, ada beberapa pekerjaan berkaitan dunia yang bernilai ibadah karena bagusnya niat dalam mengawalinya. Pun sebaliknya, ada beberapa amal perbuatan akhirat yang dinilai duniawi saja karena salahnya niat dalam pelaksanaan.

"Sehingga penekanan niat setiap perbuatan menjadi sangat penting. Apa pun bentuk amal ibadahnya,” tegas Rais Syuriah MWC NU Banyuwangi itu.

Para peserta pertemuan alumni yang dilakukan tiap bulan itu sempat mendirikan shalat ghaib dan doa bersama untuk KH Hasyim Muzadi yang wafat di Malang pada Kamis (16/3).

Rutinan tersebut sebagai wadah pertemuan untuk merencanakan agenda dan pengembangan para alumni. "Dalam jangka pendek kita akan memiliki gawe gelaran haul ke-27 KH Abdul Wahid Akwan selaku muassis dan pengasuh pertama Pondok Pesantren Al-Anwari. Perlunya sinergitas antaralumni secara keseluruhan sebagai bekal kesuksesan acara dimaksud," jelas Ayunk Notonegoro, sekretaris panitia haul, pada Sabtu (18/3) pagi.

Ayunk berharap seluruh rangkaian kegiatan kelangsungan haul baik sebelum dan akan berjalan sukses tanpa ada halangan. "Semoga acara haul ke-27 kali ini berjalan tanpa halangan," harap Ayunk. (M. Sholeh Kurniawan/Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Tokoh, Syariah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 25 Agustus 2017

PBNU-BNN Nyatakan Darurat Narkotika

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pengurus harian PBNU menerima kunjungan rombongan Badan Nasional Narkotika (BNN) di Gedung PBNU, Jakarta, Rabu (21/10) sore. Mereka memperkuat kerja sama kedua pihak yang selama ini terjalin di tengah kondisi darurat narkotika.

“Kita punya 13.000 sekolah Ma’arif. Hampir bisa dipastikan pelajarnya tidak menggunakan narkotika. Tidak melakukan penyalahgunaan saja itu sudah merupakan pencegahan luar biasa,” kata Kang Said di hadapan para rombongan BNN.

PBNU-BNN Nyatakan Darurat Narkotika (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU-BNN Nyatakan Darurat Narkotika (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU-BNN Nyatakan Darurat Narkotika

Sementara Kepala BNN Budi Waseso menyampaikan bahwa pihaknya sudah melakukan kerja sama pencegahan penyalahgunaan narkotika dengan banom-banom NU seperti IPNU, IPPNU, Fatayat NU. Kini, Budi menambahkan, BNN tengah menjajaki kerja bareng dengan Lembaga Dakwah NU dan GP Ansor.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Narkotika di Indonesia ini sudah di titik darurat. Para Bandar tidak segan-segan melebarkan segmen pasar mereka kepada pelajar TK,” kata Budi yang didampingi rombongannya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Mereka juga tengah menyiapkan kerja-kerja pencegahan berbasis keluarga selain pelajar, santri, dan para dai. “Kita juga bahkan menyasar tempat hiburan. Kita sudah ketemu Ahok untuk mewajibkan tempat hiburan ‘Bersih Narkotika’,” ujar Budi.

Kedua pihak berencana menindaklanjuti kerja-kerja pencegahan berbasis keluarga dan berbasis masjid. Pertemuan diakhiri dengan pertukaran cendera antara kedua pihak. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Santri, Doa, Ubudiyah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jihad Pagi NU Pringsewu Bahas Abu Lahab Sang Provokator

Pringsewu, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Kajian Tafsir Al-Qur’an pada Ngaji Ahad Pagi atau Jihad Pagi di Gedung PCNU Pringsewu, Lampung, sudah memasuki pembahasan Surat al-Lahab. Kajian mingguan yang dilaksanakan untuk umum mulai dari pukul 06.00 sampai pukul 07.00 ini selalu diasuh oleh Mustasyar PCNU Kabupaten Pringsewu H. Sujadi.

Dengan referensi Tafsir Jalalain dan beberapa referensi kitab lainnya, ustadz penghafal Al-Qur’an ini memberikan penjelasan tentang asbabun nuzul atau sebab diturunkannya surat yang didalamnya menceritakan orang yang suka memprovokasi dan menghalangi perjuangan Nabi Muhammad dalam mensyiarkan Islam di Kota Makkah.

Jihad Pagi NU Pringsewu Bahas Abu Lahab Sang Provokator (Sumber Gambar : Nu Online)
Jihad Pagi NU Pringsewu Bahas Abu Lahab Sang Provokator (Sumber Gambar : Nu Online)

Jihad Pagi NU Pringsewu Bahas Abu Lahab Sang Provokator

Menurutnya, dalam Surat al-Lahab ini dikisahkan bagaimana paman Nabi sendiri yang bernama Abu Lahab menentang ajaran Islam yang dibawa keponakannya. Abu Lahab atau bernama asli Abdul Uzza bin Abdul Mutholib tak sendirian, istrinya pun yang bernama Ummu Jamilah juga memprovokasi kaum Quraisy untuk menentang syiar Islam tersebut.

Abah Sujadi, begitu ia piasa disapa, mengatakan bahwa dalam setiap perjuangan akan selalu ada saja orang yang menghalangi, memprovokasi, dan mengajak orang lain untuk menyerang perjuangan yang sedang dilakukan. "Maka itu ada istilah musuh dalam selimut seperti perjuangan Nabi yang ditentang oleh pamannya sendiri, yaitu Abu Lahab," katanya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Namun, Abah Sujadi yang merupakan alumni Pesantren Quran Kalibeber Jawa Tengah ini menyampaikan bahwa optimisme harus terus ditanamkan dalam hati untuk terus melakukan perjuangan. "Allah melindungi orang-orang yang benar-benar berjuang di jalan-Nya," tegasnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurutnya, setiap perjuangan menegakkan agama Islam pasti melalui medan yang penuh tantangan. Adalah sunnatullah sesuatu diciptakan oleh Allah berlawan-lawanan. Ada pahala ada siksa, ada yang setuju ada yang menyerang dan merongrong, dan seterusnya.

"Namun siapa saja yang menentang risalah Allah, mereka tidak akan berhasil dan akan rusak segala sesuatu yang diusahakannya di dunia," katanya.

Jamaah tampak antusias mengikuti kajian tafsir ini. Salah satunya adalah Mustangin yang berasal dari Kecamatan Banyumas. Menurutnya Kajian Tafsir yang diasuh oleh H. Sujadi sangat penting sekali untuk lebih memahami ayat Al-Qur’an sehingga tidak seenaknya sendiri menafsirkannya.

"Zaman sekarang banyak sekali orang yang menafsirkan sendiri melalui Al-Qur’an terjemahan dengan modal keilmuan yang minim. Padahal menafsirkan Al-Qur’an membutuhkan kemampuan berbagai disiplin keilmuan," katanya.

Menurutnya H. Sujadi merupakan sosok yang memiliki kemampuan tersebut. Selain hafidz Al-Qur’an dan alumni pesantren Al-Qur’an, silsilah keilmuannya juga jelas. "Pringsewu bangga memiliki ulama seperti beliau yang Istiqomah dalam memberikan pencerahan kepada masyarakat dan umat," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Sejarah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 23 Agustus 2017

Jatman Kembali Akan Gelar Konferensi Internasional Bela Negara

Pekalongan, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Jamiyyah Ahlit Thariqah Al Mutabarah An Nahdliyyah (JATMAN) kembali akan menggelar kegiatan bertaraf internasional. Kegiatan yang akan diselenggarakan pekan depan (27-29 Juli) di Kota Pekalongan diikuti oleh delegasi ulama dari 40 negara.Kegiatan serupa pernah dilakukan oleh Jatman pada bulan Januari 2016 kemarin di Kota Pekalongan dihadiri 9 ulama asal Timur Tengah dan beberapa mufti besar asal Amerika dengan agenda bahasan masalah "bela negara".

Panitia kegiatan, KH Mirza Hasbullah menjelaskan, Konferensi Ulama Internasional ini akan mengambil tema pentingnya bela negara merupakan kelanjutan kegiatan yang sama yang pernah digelar ada Januari 2016 kemarin di Kota Pekalongan.

Jatman Kembali Akan Gelar Konferensi Internasional Bela Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Jatman Kembali Akan Gelar Konferensi Internasional Bela Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Jatman Kembali Akan Gelar Konferensi Internasional Bela Negara

“Ini rangkaian kelanjutan dari Konferensi Ulama Internasional yang digelar pada bulan Januari lalu. Kemenhan memberikan respon bagus terhadap kegiatan tersebut sehingga ingin agar konferensi ulama bertemakan bela negara kembali digelar,” tuturnya.

Dikatakan, para pembicara yang terdiri dari para ulama tarekat dari dalam dan luar negeri, serta sejumlah tokoh di Indonesia diharapkan akan hadir dalam event tersebut. Sampai kemarin sudah ada lebih dari 60 ulama Internasional mengkonfirmasi akan hadir dalam konferensi internasional ini.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Beberapa Pembicara dalam Konferensi Ulama Internasional antara lain Habib Muhammad Luthfi bin Yahya (Rais Aam JATMAN), Menteri Pertahanan RI Jendral Purn Ryamizard Ryacudu, Syaikh Dr. Muhammad Adnan Al-Afyuni (Mufti Damaskus, Syiria), Syaikh Dr Adam Syahiduf (Chechnya), Syaikh Prof Dr Utsman Asy-Syibli (Amerika Serikat), serta KH Dr Muhammad Zainul Majdi (Gubernur Nusa Tenggara Barat).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Melalui konferensi tersebut, lanjut Mirza, para ulama ingin menegaskan bahwa Islam merupakan agama rahmatan lil ‘alamin. Islam bukanlah teroris maupun tempat aktivitas ekstrimisme dan radikalisme.Bela negara dengan tarekat merupakan sesuatu yang tidak bisa dipisahkan. Dua hal tersebut akhirnya melahirkan konsep bahwa setiap anak bangsa memiliki kewajiban mencintai tanah air secara utuh.

“Fokus pembahasannya tentang bela negara. Nantinya diharapkan, konsep bela negara di Indonesia akan menjadi contoh oleh negara-negara lain,” ungkapnya, kemarin (22/7).

Disampaikan bahwa rangkaian kegiatan akan dimulai pada hari Senin (25/7) pagi, berupa pawai bela negara dan kirab merah putih dengan titik start Stadion Hoegeng dan finish di depan Gedung Kanzus Sholawat di Jalan Dr Wahidin, Kota Pekalongan. “Pada hari Selasa 26 Juli, para tamu undangan, para ulama dari luar daerah dan luar negeri mulai berdatangan,” ungkapnya.

Selanjutnya pada Rabu (27/7) diadakan acara pembukaan konferensi, secara resmi mulai pukul 09.30 hingga 11.30 Wib. Pembukaan rencananya digelar di halaman Gedung HA Djunaid Convention Center, di Kompleks Ponpes Modern Alquran Buaran, Kota Pekalongan.

Lalu pada hari Kamis (28/7) atau hari kedua pembukaan konferensi, ada kegiatan di Hotel Santika Pekalongan diikuti 300 ulama, serta pertemuan ulama ada di Gedung HA Djunaid diikuti 1.000 ulama domestik dan sebagian dari luar negeri.

“Pada hari Kamis (28/7) di Gedung HA Djunaid itu akan diikuti sekitar 1.200 ulama. Sedangkan di Hotel Santika akan ada konferensi yang diikuti sekitar 300 ulama thariqah dari luar negeri dan dalam negeri. Yang dari luar negeri ada sekitar 50, sedangkan dari dalam negeri ada sekitar 250 ulama,” bebernya.

Lalu rangkaian kegiatan akan ditutup pada hari Jumat (29/7) di Gedung Kanzus Sholawat. Penutupan diisi dengan pengajian thariqah dipimpin Rais Aam Jatman, Habib M Lutfi bin Ali bin Yahya. (abdul muiz/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Meme Islam, Nahdlatul, Daerah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 21 Agustus 2017

PMII Suka Gelar Talk Show Jurnalistik dan Launching Website

Yogyakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Dalam rangka memfasilitasi kebutuhan kader-kader PMII di wilayah jurnalistik, Departemen Media dan Jaringan PMII Komisariat UIN Sunan Kalijaga mengadakan “Talk Show Jurnalistik dan launching Website PMII Komisariat UIN Sunan Kalijaga” pada hari Selasa (15/01/13) di Teatrikal Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga.

Pembicara yang hadir adalah Romel Masykuri, sebagai Koordinator Media dan Jaringan sekaligus penggagas website PMII dan Wendi Lesmana sebagai Ketua I yang mewadahi Departemen-Departemen. 

PMII Suka Gelar Talk Show Jurnalistik dan Launching Website (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Suka Gelar Talk Show Jurnalistik dan Launching Website (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Suka Gelar Talk Show Jurnalistik dan Launching Website

Acara yang berlangsung 2 jam ini mendapat respon positif oleh seluruh kader-kader PMII, pasalnya ini baru pertama PMII Komisariat UIN Sunan Kalijaga membuat website dan dapat terlaksana.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dalam pemaparannya, Romel Masykuri memberikan penjelasan bahwa website ini digagas atas pertimbangan pesatnya era teknologi yang berkembang di Indonesia, sehingga PMII tidak boleh gagap dalam merespon hal itu, melainkan menjadikannya sebagai energi positif dalam mengembangkan kerja-kerja gerakan. 

Lebih lanjut, Romel yang sekaligus salah satu penulis produktif di media massa menambahkan bahwa keberadaan website ini akan menjadi media gerakan alternatif bagi kader-kader PMII untuk mengembangkan potensi menulisnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Di sisi lain, Wendy Lesmana memberikan penjelasan bahwa sudah saatnya kader-kader PMII mampu mangambil peran strategis dalam area pertarungan media yang sudah tidak sehat, sehingga kader PMII juga ikut memberikan pembangunan konstruktif ditengah arus media massa yang sudah tidak independen.

Website ini bernama Dialektika dan memiliki jargon “Bergerak Tanpa Tendensi, Loyalitas Tanpa Batas”. Alamat website ini adalah www.pmii-uinjogja.or.id

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Adi Prasetyo

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Amalan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Bersama Fatayat, Stikes Icsada Bojonegoro Diskusi Pemanasan Global

Bojonegoro, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Usai mengadakan kegiatan rutin olahraga pagi setiap Minggu, Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat NU Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro, mendapat kunjungan dosen Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Insan Cendekia Husada (Stikes Icsada) Bojonegoro, Ahad (27/9).

Mereka menggelar diskusi tentang pemanasan global (global warming) di Balai Desa Sarangan, Kecamatan Kanor, yang dihadiri sekitar 65 lebih anggota Fatayat NU, perwakilan masing-masing ranting se-Kanor.

Bersama Fatayat, Stikes Icsada Bojonegoro Diskusi Pemanasan Global (Sumber Gambar : Nu Online)
Bersama Fatayat, Stikes Icsada Bojonegoro Diskusi Pemanasan Global (Sumber Gambar : Nu Online)

Bersama Fatayat, Stikes Icsada Bojonegoro Diskusi Pemanasan Global

"Kegiatan seperti ini baru, sebab biasanya hanya senam Minggu pagi saja," kata Ketua Ranting Fatayat NU Desa Sarangan, Masfiah.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurut Masfiah, setiap kegiatan senam pagi ada sekitar 50 sampai 100 anggota yang ikut. Namun sekarang ini ada 65 lebih yang turut serta. Kegiatan bertambah menarik dan bermanfaat, karena ada tambahan diskusi dari Kampus Ungu, sebutan Stikes Icsada Bojonegoro.

Tamu yanga hadir saat itu adalah perwakilan dari Prodi D III Kebidanan dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Kampus Ungu.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Salah satu pemateri dari Prodi D III Kebidanan Kampus Ungu, Istitoah menjelaskan, semakin sedikitnya tanaman dan penghijauan di desa turut serta mempercepat pemanasan global. Olah karena itu, dibutuhkan tanaman baru, termasuk yang terkecil seperti bunga maupun sayuran.

"Pola hidup harus juga diubah, seperti membuang sampah sembarang, menggunakan makanan organik dan lain sebagainya," terang Isti, panggilan akrab Istitoah.

Menurutnya, membuang sampah secara sembarangan cukup berbahaya bagi lingkungan. Padahal, seharusnya bisa dipisah dan dimanfaatkan ulang. Untuk yang basah dipakai pupuk organik atau kompos, sedangkan yang kering juga diolah untuk kegiatan kreatif.

"Bisa menambah pemasukan untuk belanja juga saat kreatif, seperi membuat bros, bunga, tas, dan lain-lain dari daur ulang sampah. LP2M Kampus Ungu juga tengah berkampanye daur ulang sampah," pungkasnya. (M. Yazid/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Jadwal Kajian, Internasional Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 20 Agustus 2017

Karya Sastra Santri Al-Muayyad Masuk Antologi Workshop Menulis

Solo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Malam itu, aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Seorang laki-laki berdialek Sumatera marah habis-habisan di depan rumah merah. Aku tidak ingin melihatnya karena enggan membuka jendela kamarku.

Aku dengar orang itu menuduh tetanggaku mencuri hasil kerjasama restoran. Setelah itu aku mendengarkan music dengan headset karena tidak ingin mendengarnya lagi, begitu menakutkan percakapan mereka!

Karya Sastra Santri Al-Muayyad Masuk Antologi Workshop Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)
Karya Sastra Santri Al-Muayyad Masuk Antologi Workshop Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)

Karya Sastra Santri Al-Muayyad Masuk Antologi Workshop Menulis

Itulah sepenggal kisah yang terdapat dalam cerpen ‘Suara-suara dari Jendela’ yang ditulis Ashfiya Nur Atqiya, salah satu santri Pondok Pesantren Al-Muayyad Solo. Karya Ashfiya bersama santri Al-Muayyad lainnya, masuk dalam buku antologi karya workshop menulis untuk remaja.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Ada empat karya santri Al-Muayyad yang masuk dalam buku Kisah yang Berulang di Hari Minggu,” terang Miftahul Abrori, salah satu pegiat sastra di Al-Muayyad, Sabtu (20/4).

Mereka adalah Ashfiya dan Faiz Tamamy yang mengirimkan karya cerpen, serta M. Izzat Abidi dan Ahmad Alfi yang mengirimkan karya puisi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dijelaskan oleh Miftah, para santri Al-Muayyad yang karyanya dibukukan tersebut, merupakan anggota komunitas Thariqat Sastra Sapu Jagad. Komunitas ini merupakan wadah bagi para santri Al-Muayyad yang gemar akan sastra.

Selain Komunitas Sapu Jagad, untuk mendorong produktifitas tulis menulis dan kesusastraan santri, juga terdapat Majalah Serambi Al-Muayyad.

“Di majalah Serambi, para santri dapat menuliskan karya-karya mereka baik dalam bentuk artikel, cerpen, puisi dan lainnya,” ungkapnya. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Olahraga, Quote, Syariah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 19 Agustus 2017

Apakah Nabi Muhammad SAW Berperang Atas Nama Agama?

Dewasa ini, isu kekerasan atas nama agama mendapat perhatian luas. Konflik terjadi di pelbagai tempat, mulai dari konflik Poso, Ambon, serta kasus intoleransi lainnya. Kemudian pada skala dunia, perseteruan Palestina dan Israel, perang di Afghanistan, masalah etnis Rohingya (meski agak kompleks) yang paling aktual saat ini, menjadikan agama dianggap sebagai sumber masalah konflik.

Pada dasarnya konflik antarras bahkan antarnegara tidak bisa dipandang semata konflik agama. Diperlukan data-data yang utuh dan mampu memetakan konflik yang terjadi. Namun, sentimen agama memang masih cukup sensitif untuk memicu simpati dan dukungan kelompok. Bahkan, karena sentimen ini, banyak muslim yang terjun ke area konflik karena keyakinan bahwa mereka bisa mati syahid dalam konflik tersebut.

Apakah Nabi Muhammad SAW Berperang Atas Nama Agama? (Sumber Gambar : Nu Online)
Apakah Nabi Muhammad SAW Berperang Atas Nama Agama? (Sumber Gambar : Nu Online)

Apakah Nabi Muhammad SAW Berperang Atas Nama Agama?

Permasalahan lainnya, selain konflik-konflik yang dibingkai sebagai masalah agama tersebut, mulai banyak golongan penyeru jihad yang melakukan aksi teror. Kita bisa mencontohkan gerakan ISIS, jaringan Jamaah Islamiyah, lalu konflik di Marawi dan belahan dunia lainnya, juga serangkaian aksi pemboman di Indonesia, berkaitan sangat erat nilai-nilai agama yang diyakini, terlebih Islam.

Kalangan ini, menganggap yang tidak sepaham dengan mereka, adalah kafir, dan wajib diperangi. Bukan sekadar propaganda, tetapi sudah dengan aksi nyata. Dalam hadits-hadits yang dikutip, semisal dalam pamflet-pamflet di media sosial maupun video-video yang diputar, menegaskan sikap untuk berperang atas nama Islam. Mereka menyebutkan bahwa Islam menyerukan untuk memerangi dan membunuh kaum kafir karena mereka mangkir dari agama Islam, dengan menyodorkan fakta-fakta sejarah perang yang dilakukan Nabi. Pertanyaannya, benarkah Nabi melakukan peperangan atas dasar perbedaan agama?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Perang antara Muslim dan non-Muslim telah terjadi sejak masa Nabi, itu benar adanya. Namun jika kita menganalisa lebih dalam, perang-perang yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW itu tidak bermotifkan agama. Ada konflik lain yang memicu perang tersebut, terlebih peperangan itu dipicu lebih dahulu oleh kalangan non-Muslim yang bermaksud menumpas umat Muslim. Karena, Islam tidak membolehkan berperang sebelum diperangi terlebih dahulu. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 190.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) jangan melampaui batas karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

KH Ali Mustafa Yaqub dalam bukunya Islam Antara Perang dan Damai menegaskan bahwa Nabi tidak pernah berperang atas motif perbedaan agama. Motif perang tersebut adalah konflik dengan alasan lain. Sebagai contoh, ada tiga perang penting pada masa Nabi melawan non-Muslim, tetapi kesemuanya bukan karena konflik agama. Berikut penjelasannya.

1. Perang Badar

Peperangan ini terjadi pada tahun kedua Hijriah, dan dipimpin oleh Nabi melawan kaum non-Muslim Mekkah. Mulanya, orang-orang yang berhijrah ke Madinah hendak meminta masyarakat non-Muslim Mekkah untuk mendapatkan hak kembali atas tanah, rumah, serta ternak mereka yang ditinggal hijrah.

Mereka sampaikan hal ini kepada kaum non-Muslim Mekkah yang berdagang ke Syam. Namun, ternyata para pedagang ini menginformasikan ke Mekkah menyatakan kepada masyarakatnya bahwa mereka dalam bahaya. Sebab tersulut amarah, dikirimlah pasukan besar ke Madinah untuk membantu kaum mereka, yang dianggap akan diperangi oleh umat Muslim. Terjadilah peperangan di lembah Badar di selatan Madinah.

2. Perang Melawan kaum Yahudi

Perang melawan kaum Yahudi Madinah ini terjadi dalam Perang Bani Quraizhah pada tahun kelima hijriyah. Penyebabnya adalah pembatalan pakta damai secara sepihak oleh masyarakat Yahudi, yang telah disepakati bersama kaum Muslimin. Terjadi seusai perang Khandaq, perang Bani Quraizhah ini disebabkan pengingkaran kesepakatan damai secara sepihak, yang mencederai kedaulatan kaum Muslim di Madinah, bukan sebab perbedaan agama.

3. Perang Melawan Kaum Kristen dan Bizantium

Hal ini terjadi pada Perang Tabuk, saat diketahui bahwa Kerajaan Bizantium telah beraliansi dengan kabilah-kabilah non-Muslim dari daerah Syam untuk memerangi umat Muslim yang semakin meluas pengaruhnya. Perang ini terjadi pada tahun kesembilan hijriyah.

Nabi pun menyiapkan pasukan, tetapi setelah pasukan tiba di Tabuk, tidak ditemui adanya pasukan dari musuh. Perang pun tidak jadi dilakukan. Selanjutnya, datang beberapa kabilah dari kaum Kristen, dan Nabi membuat perjanjian perdamaian dengan mereka. Dari sini kita tahu, bahwa perang ini nyaris terjadi bukan karena motif agama, melainkan karena ancaman serangan dari luar.

Selain perang-perang tersebut, masih banyak contoh lain yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak sekalipun berperang atas nama agama. Selain itu, Islam tidak mengajarkan untuk memerangi non-Muslim, apalagi sesama Muslim yang masih seiman. Pun peperangan terjadi tidak boleh dimulai oleh Muslimin.

Pemicu dan kondisi sosio-politik perang-perang pada masa Nabi itu harus ditelaah lebih lanjut agar kita tidak terjebak pada pandangan bahwa Islam adalah agama yang “haus perang” dan kejam terhadap non-Muslim. Wallahu a’lam. (M Iqbal Syauqi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Nasional Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 18 Agustus 2017

Chaves Tuntut Raja Spanyol Minta Maaf

Caracas, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. President Venezuela Hugo Chavez Menuntut Raja Spanyol Juan Carlos untuk meminta maaf secara publik atas perkataannya yang menyuruhnya diam saat penutupan KTT Ibero-Amerika di Santiago, Cile, pekan lalu.



Chaves Tuntut Raja Spanyol Minta Maaf (Sumber Gambar : Nu Online)
Chaves Tuntut Raja Spanyol Minta Maaf (Sumber Gambar : Nu Online)

Chaves Tuntut Raja Spanyol Minta Maaf

Chaves mengatakan sikap yang tunjukkan raja Spanyol itu bisa memperkeruh hubungan kedua negara dan merusak investasi Spanyol di Venezuela.

"Raja Spanyol itu harus meminta maaf karena dia menyerang saya," kata Chaves dalam sebuah wawancara di stasiun televisi pemerintah, Jumat (16/11).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Saya tidak akan meminta dia untuk sungkem, hanya mau mengingatkan bahwa dia sudah melangkah terlalu jauh, dia melakukan sesuatu yang tidak layak," terangnya.

Sehari sebelumnya, kepada stasiun televisi Promar, presiden yang pernah memproklamirkan "segera runtuhnya kerajaan Amerika Serikat (AS)" itu mengatakan bahwa pihaknya akan meninjau hubungan diplomatik dan ekonomi dengan Spanyol.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Kami tak ingin merusak hubungan, namun saat ini saya sedang melakukan peninjauan hubungan politik, diplomatik, dan ekonomi dengan Spanyol," terang Chaves.

"(Peninjauan) ini berarti semua perusahaan Spanyol harus menunjukkan bisnis apa yang mereka lakukan. Saya sendiri akan memantau dan melihat apa yang terjadi di dalam perusahaan-perusahaan itu," ujarnya.

Chavez menyebut Grupo Santander dan Banco Bilbao Vizcaya Argentaria sebagai kemungkinan sasaran. Sejumlah perusahaan besar Spanyol berinvestasi di Venezuela, termasuk raksasa telekomunikasi Telefonica dan perusahaan minyak Repsol. Telefonica merupakan operator telepon seluler terbesar di Venezuela.

Seperti dilaporkan sumber Associated Press, sikap keras Chavez pada penutupan KTT Ke-17 Ibero-Amerika di Cile, pekan lalu, menyulut konfrontasi yang sudah memanas. Dalam pidatonya, Chavez menyebut mantan Perdana Menteri Spanyol Jose-Maria Aznar sebagai fasis karena mendukung invasi AS ke Irak.

"Mantan Perdana Menteri Spanyol benar- benar seorang fasis. Seorang fasis bukanlah manusia. Ular lebih manusiawi daripada fasis," kata Chavez.

Raja Juan Carlos yang geram dengan pernyataan itu segera berdiri dan meminta Chavez untuk "tutup mulut", sambil menudingkan jari ke arah Chavez. Raja Juan Carlos semakin berang saat Presiden Nikaragua Daniel Ortega mendukung Chavez.

"Saudara kita Spanyol harus belajar untuk berdialog dan menyadari bahwa era kerajaan dan raja sudah menjadi sejarah. Kami bukan lagi bawahan raja mana pun," kata Ortega.(dar)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kyai, Pendidikan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 16 Agustus 2017

Ini Usia Potensial Seseorang Tertarik Kelompok Teroris

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Pol Hamidin menyatakan bahwa usia-usia anak muda menjadi sangat rentan untuk gabung dengan organisasi terorisme dan radikalisme. Mereka yang bergabung dengan kelompok teror lebih dominan adalah mereka yang berusia remaja menuju dewasa.

“Berdasarkan usia, orang Indonesia yang rentan jadi teroris adalah usia 21 sampai 30 tahun dengan persentase 47 persen. Sementara berdasarkan tingkat pendidikan adalah anak-anak SMA dengan persentase 63 persen (dari penelitian yang dilakukan),” kata Hamidin dalam pertemuan internasional yang diinisiasi NU, International Summit of Moderate Islamic Leaders di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Senin (9/5) siang.

Ini Usia Potensial Seseorang Tertarik Kelompok Teroris (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Usia Potensial Seseorang Tertarik Kelompok Teroris (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Usia Potensial Seseorang Tertarik Kelompok Teroris

Ia menjelaskan bahwa ada beberapa alasan mengapa para anak muda tersebut bisa bergabung dan menjadi seorang teroris. “Bisa karena mencari identitas, membutuhkan rasa kebersamaan, ingin memperbaiki apa yang dianggap sebagai ketidakadilan, serta mencari sensasi dan heroik,” paparnya.

Namun demikian, ia menganggap bahwa Indonesia adalah negara yang mampu mengidentifikasi aksi-aksi dan jaringan terorisme sehingga gerakan-gerakan radikal tersebut tidak meluas. Ia mengatakan bahwa sampai saat ini ada seribu lebih teroris yang sudah ditangkap dan direhabilitasi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sementara itu, Katib Aam Nahdlatul Ulama (NU) KH Yahya Cholil Staquf mengatakan bahwa jumlah teroris yang tertangkap tentu tidak akan mengurangi jumlah teroris yang ada.

“Malah semakin bertambah,” tegas Gus Yahya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ia meyakini bahwa hal tersebut terjadi karena dua hal. Pertama, strategi yang digunakan untuk menaggulangi terorisme selama ini mengandung kelemahan-kelemahan. “Di antaranya adalah pengingkaran bahwa di dalam terorisme ini ada elemen-elemen Islam yang mempengaruhi dan membuat mereka seperti itu,” katanya.

Kedua, para teroris menggunakan strategi yang canggih, massif, dan belum tertandingi sehingga mereka beraksi tanpa ada hadangan seperti tanpa ada halangan yang berarti.

“Gelombang yang tertarik terhadap terorisme tidak berkurang. Kita harus membangun strategi yang sama kuatnya untuk menghadapi terorisme,” tandasnya. (Muchlishon Rochmat/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Fragmen, AlaNu, Daerah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 15 Agustus 2017

Mbah Muchit: Cintailah Kiai dan Rawatlah NU

Solo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Meskipun sudah memasuki usia senja, semangat tokoh satu ini untuk terus berjuang bersama NU memang patut kita tiru. Sebagai sesepuh dan Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Muchit Muzadi tak pernah lelah untuk memberikan semangat kepada generasi penerus.

Mbah Muchit: Cintailah Kiai dan Rawatlah NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Muchit: Cintailah Kiai dan Rawatlah NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Muchit: Cintailah Kiai dan Rawatlah NU

Seperti yang dikatakannya saat menerima kunjungan dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep, Ahad (10/8), di rumahnya, Malang. “Cintailah kiai dan rawatlah NU,” pesan Mbah Muchit singkat, sebagaimana ditirukan Sekretaris PCNU Sumenep A Dardiri Zubaidi dalam akun facebooknya.

Dardiri sendiri, mewakili generasi NU yang hidup di zaman sekarang, menjadikan Kiai Muchith sebagai sosok yang banyak menginspirasi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Sejak kecil saya sudah mengenal KH Muchit Muzadi, santri Hadratus Syekh KH Hasyim Asyari dan orang dekat KH Ahmad Shidiq Perumus Khittah NU. Sebagian buku beliau saya punya, salah satu judulnya : Menjadi NU, Menjadi Indonesia,” ujarnya.

Menurutnya, meski telah berusia 90 tahun, Mbah Muchith masih memiliki semangat yang luar biasa. “Semangat beliau luar biasa membaja. Semoga beliau dipanjangkan umur oleh Allah swt. Beliau bagi saya salah satu jimat sakti yang masih dimiliki NU sekarang,” ungkapnya. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi News Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 13 Agustus 2017

Maulid Nabi, PMII Unsuri Gelar Khataman Al-Quran

Sidoarjo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PK PMII) Universitas Sunan Giri (Unsuri) Waru Sidoarjo memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Mereka mengadakan khotmil Al-Quran, istighosah, dan doa bersama di masjid Agung Unsuri, Ahad (20/12).

Maulid Nabi, PMII Unsuri Gelar Khataman Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Maulid Nabi, PMII Unsuri Gelar Khataman Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Maulid Nabi, PMII Unsuri Gelar Khataman Al-Quran

"Dengan acara khotmil Al-Quran, istighosah dan doa bersama ini semoga seluruh kader PMII Unsuri serta masyarakat tidak beranggapan bahwa seorang aktivis hanya memegang megaphone atau demo di lapangan. Namun, PMII juga ditanamkan nilai-nilai ke-Islaman," kata Ketua PK PMII Unsuri Muhtadi.

Menurut Muhtadi, kader PMII harus mengimplementasikan nilai-nilai ke-Islaman, salah satunya dengan mengadakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Sehingga pemahaman dan persepsi yang ada dalam jiwa, sosok organistoris bisa berubah.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ketua panitia peringatan Maulid Dita Laraswati berharap melalui moment Maulid Nabi itu semua kader PMII Unsuri dapat mengikuti dan meneladani Rasulullah SAW.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Saya mewakili panitia berharap agar semua anggota, kader, pengurus mulai dari rayon hingga komisariat PMII Universitas Sunan Giri khususnya serta semua mahasiswa Unsuri bisa memahami tentang ajaran yang dibawa Rasulullah SAW sehingga dapat meneladani perilakunya. Hal ini sesuai dengan manhaj PMII yaitu Ahlusunnah wal jamaah (Aswaja)," pungkas Dita.

Acara yang diikuti sedikitnya 20 anggota dan pengurus PMII rayon dan komisariat itu berjalan lancar dan penuh khidmat. Nampak antusias dan semangat mereka dalam memuliakan Maulid Nabi Muhammad SAW ini. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi PonPes, Quote, Pondok Pesantren,Attijani Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Mulai dari Kinang Hingga Telur Kamal, Ini Filosofinya

Solo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Setiap diadakannya Tradisi Sekaten yang diadakan di Kota Surakarta, para pengunjung tentu tidak asing dengan beberapa benda sebagai berikut, yakni; kinang, pecut (cambuk), mainan gangsingan, celengan, dan telur.

Benda-benda ini, menurut Tafsir Anom K.R.T. Muhammad Muhtarom, memiliki filosofi tersendiri. Kinang misalnya, benda yang terdiri dari 5 unsur ini sebagai pembelajaran seseorang harus melaksanakan 5 rukun Islam.

Mulai dari Kinang Hingga Telur Kamal, Ini Filosofinya (Sumber Gambar : Nu Online)
Mulai dari Kinang Hingga Telur Kamal, Ini Filosofinya (Sumber Gambar : Nu Online)

Mulai dari Kinang Hingga Telur Kamal, Ini Filosofinya

“Dalam kinang bila hanya menggunakan 3 unsur kinang maka sudah enak yang artinya bila kita mampu melaksanakan 3 rukun islam; syahadat, sholat dan puasa maka sudah baik. Sedangkan, dua unsur lainnya, zakat dan haji menjadi penyempurna, bila ada kemampuan,” terang Muhtarom yang juga Ketua MWCNU Pasar Kliwon itu, Selasa (13/12).

Sementara itu, pecut memiliki makna bahwa kita harus berupaya mecut (mencambuk) hawa nafsu. “Artinya mampu mengendalikan hawa nafsu, agar hidupnya selamat terarah,” kata dia.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kemudian, gangsingan yang artinya istiqamah. Ketika gangsingan diputar dengan putaran yang sangat kencang maka gerakan gangsingan akan stabil dan celengan, bermakna agar banyak menabung amal shalih.

“Hidup di dunia ini pada hakikatnya permainan belaka diibaratkan dengan simbol berbagai dolanan (mainan). Ketika kita kita bisa mengambil nilai-nilai di atas maka hidup kita akan mencapai kesempurnaan maka dilambangkan dengan endok (telur) kamal,” pungkasnya. (Ajie Najmuddin/Fathoni)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Doa Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 11 Agustus 2017

Mengenang Kepergian KH Sahal Mahfudh

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Tengah malam itu, Jumat, 24 Januari 2014, Rais Aam Syuriah PBNU KH MA Sahal Mahfudh dinyatakan berpulang ke rahmatullah. Kiai Sahal wafat di kediamannya setelah beberapa hari dirawat di RSUD Dr Kariadi Semarang, Jawa Tengah.

Jarum jam menunjukkan pukul 01:05 WIB. Kediaman Kiai Sahal di kompleks Pesantren Maslakul Huda Kajen-Margoyoso-Pati, Jawa Tengah, tampak sepi. Beberapa menit sebelumnya keluarga inti dan sebagian santri ndalem bergantian menuntun Kiai Sahal melafalkan bacaan tahlil dan beberapa surat pendek.

Mengenang Kepergian KH Sahal Mahfudh (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengenang Kepergian KH Sahal Mahfudh (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengenang Kepergian KH Sahal Mahfudh

“Beliau masih bisa mengikuti meski suaranya lemah dan terbata-bata. Tapi masih jelas terdengar,” ujar salah satu santri ndalem tersebut. Lalu, ia membangunkan Dr Imron Rosyadi lantaran alat yang menempel di badan Kiai Sahal menunjukkan garis horizontal.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dr Imron kemudian memeriksa kondisi terakhir sang kiai. Akhirnya, sang dokter berkata lirih, “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raajiuun.” Ia mengambil kesimpulan bahwa ulama kharismatik ini telah wafat.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dokter pribadi Kiai Sahal ini, sejak Kamis (23/1) sore agaknya telah bersiap untuk situasi terburuk sekalipun. “Nanti malam siap-siap melekan (terjaga-red.) yaa,” tutur santri ndalem Kiai Sahal menirukan Dokter Imron, usai acara haul di Kajen-Pati beberapa hari lalu.

Kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi, santri yang tidak berkenan disebut namanya itu seperti menangkap sesuatu yang lain dari pernyataan sang dokter. “Tidak biasanya Dokter Imron bilang kayak gitu. Tapi, saya ndak berani mikir aneh-aneh. Mungkin beliau sudah punya itungan medis tersendiri,” ujarnya sembari menyedot sebatang rokok di tangannya.

Ia menambahkan, kesehatan Kiai Sahal menurun beberapa kali pasca-rapat pleno PBNU di Wonosobo hingga Munas Alim Ulama-Konbes NU di Kempek-Cirebon, 2013 silam.

Kiai Sahal, berpulang di tengah banjir besar yang mengepung kota Pati dan sekitarnya. Praktis, para pelayat pun tertahan di beberapa tempat. Bahkan, para elit PBNU dan Majelis Ulama Indonesia, kesulitan menerjang banjir untuk memberikan penghormatan terakhir kepada ulama ahli Ushul Fiqh ini.

Wafatnya rais aam tiga periode (1999-2004, 2004-2009, 2010-2015) dan Ketua Umum MUI tiga periode (2000-2005, 2005-2010, 2010-2015) ini kemudian menjadi headline hampir semua media arus utama. Tulisan opini yang mengulas pemikiran Kiai Sahal juga tersebar di berbagai media.

Selain wafatnya Kiai Sahal, sejumlah peristiwa penting terjadi pada tanggal 24 Januari. Pada tahun 41 Masehi, Kaisar Romawi Kaisar Gaius, dikenal untuk kelakuan eksentriknya dan despotisme kejamnya, dibunuh oleh prajuritnya.

Sementara itu, di Nusantara pada 1905, Sultan Muhammad Seman, putra Pangeran Antasari gugur oleh Belanda yang menjadi pertanda berakhirnya perlawanan rakyat dalam Perang Banjar di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.

Lalu, pada 1678, Joan Maetsuycker, kepala VOC di Batavia antara tahun 1653-1678 meninggal pada tahun tersebut saat masih menjabat. Selain wafatnya para tokoh tersebut, pada 24 Januari 1916, Jenderal Besar Sudirman lahir di Bodas Karangjati-Rembang-Purbalingga, Jawa Tengah.

Peristiwa tak kalah penting lainnya, pada 2001, saat Presiden KH Abdurrahman Wahid menjadikan Tahun Baru Imlek 2552 sebagai hari libur fakultatif di Indonesia. (Musthofa Asrori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kyai Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 09 Agustus 2017

Mereka Masih Hafal Mars IPNU IPPNU

Malang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Kabupaten Malang menggelar kegiatan silaturrahmi Alumni IPNU-IPPNU Kabupaten Malang antar generasi yang diselenggarakan di gedung serbaguna PCNU Kabupaten Malang, Kamis (9/5) lalu.

Mereka Masih Hafal Mars IPNU IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Mereka Masih Hafal Mars IPNU IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Mereka Masih Hafal Mars IPNU IPPNU

Hadir beberapa alumni IPNU-IPPNU dari angkatan periode lama sampai periode akhir yakni 2010-2012 yang baru saja demisioner 6 bulan yang lalu. Suasana begitu hangat dan tampak ceria menghiasi wajah para tamu yang hadir karena sangat senang bertemu dengan rekan-rekanita yang dulu telah berjuang bersama-sama.

Acara yang dipandu oleh Rekan Yusuf Bachtiar ini diawali dengan Pra Acara oleh Tim Banjari Pondok Pesantren Al-Ittihad Poncokusumo, lalu pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Rekan Alfan, disambung dengan menyanyikan Indonesia raya dan Mars IPNU-IPPNU.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Mars ini menjadi nostalgia para alumni yang hadir. Sebagian besar masih sangat fasih dan bersemangat menyanyikan lagu penyemangat IPNU-IPPNU itu.

Selain itu juga ada sambutan dari Rekan Nur Ridwan selaku Ketua PC IPNU Kabupaten Malang yang sekaligus mensosialisasikan program kerja PC IPNU-IPPNU Kabupaten Malang periode 2012-2014. 

Kegiatan ini juga dimeriahkan dengan sosialisasi dari PWNU tentang Kartu Anggota Koperasi NU oleh Bapak Wazir. Dan acara yang ditunggu-tunggu adalah sambung rasa antar alumni, yang merupakan session berbagi pengalaman semasa dulu berjuang di IPNU-IPPNU. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Harapan kami dengan adanya silaturahim alumni antar generasi ini dapat mendukung segala program dan gerak perjuangan kami, baik itu moril atau materil,” kata Ketua IPNUNur Ridwan. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Ika Rosaria

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kajian Sunnah, Hikmah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 08 Agustus 2017

Fungsi, Tujuan dan Hakikat Zakat

Fungsi dan Hakikat Zakat

Yang dimaksud dengan zakat di sini bukanlah zakat fitrah yang berhubungan dengan ibadah puasa Ramdhan. Tetapi zakat kekayaan (zakat mal) yang wajib dibayarkan oleh setiap muslim yang memiliki jenis kekayaan tertentu dalam kurun waktu yang telah ditentukan. Oleh karena itu pembahasan zakat kekayaan ini tidak harus dibarengkan dengan pembahasan ibadah puasa, karena kewajiban membayar dan menunaikannya tidak selalu pada bulan Ramadhan. Namun demikian tidak ada salahnya bulan Ramadhan ini digunakan sebagai ruang untuk mengingatkan kembali kewajiban zakat atas orang muslim berikut fungsi dan hikmahnya.

Zakat adalah satu dari rukun Islam, selain syahadat, shalat, puasa dan haji. Sebagaimana asal kata rukun dari bahasa Arab ar-ruknu yang bermakna sudut. Rukun atau sudut adalah ruang pertemuan antara satu sisi dengan sisi lainnya, di dalam sudut ini terdapat rangka yang berfungsi sebagai perekat sehingga satu bangunan bisa berdiri dengan kokoh. Demikian lah fungsi rukun Islam yang empat, syahadat, puasa, haji dan zakat. Adapun shalat merupakan satu tonggak kokoh di tengah yang menghubungkan keempat sudut tersebut, yang dalam bahasa jawa disebut juga sebagai soko guru. Inilah yang dimaksud dengan kalimat As-sholatu imaduddin. Bahwa shalat merupakan tiang utamanya agama Islam.

Ibarat sebuah bangunan yang memerlukan empat rangka yang terletak di empat sudut dan satu soko guru, demikian pula keberadaan agama Islam dengan kelima rukun Islamnya, yang mana  zakat berlaku sebagai salah satu sudutnya. Demikianlah pentingnya zakat dalam agama Islam sehingga Allah swt mewajibkannya dalam surat Al-Bayyinah ayat 5:

Fungsi, Tujuan dan Hakikat Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Fungsi, Tujuan dan Hakikat Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Fungsi, Tujuan dan Hakikat Zakat

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.

Begitu juga yang dijelaskan dalam hadits Rasulullah saw. sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn Abbas ra.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Bahwasannya Rasulullah saw. mengutus Muadz ra. ke negeri Yaman maka beliau berpesan “serulah mereka untuk bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain Allah dan aku (Muhammad) adalah utusan Allah. Jika mereka mentaatimu terhadap seruan itu, maka berilah pelajaran mereka, bahwa Allah mewajibkan mereka untuk mengerjakan shalat lima waktu sehari semalam, jika mereka mentaati seruanmu itu maka berilah pelajaran kepada mereka bahwa Allah mewajibkan zakat yang diambil dari orang-orang kaya dari mereka untuk orang-orng fakir. 

Secara bahasa arti zakat adalah bertambah. Adapun secara syara’ adalah harta tertentu yang diambil untuk diberikan kepada golongan tertentu, yaitu ashnaf tsamaniyah (delapan golongan yang berhak menerima zakat).

Kedelapan golongan tersebut telah diterangkan dalam surat at-Taubah ayat 60:

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

 Adapun keterangan tentang kedelapan golongan itu adalah sebagai berikut.

Orang fakir: orang yang amat sengsara hidupnya, tidak mempunyai harta dan tenaga untuk memenuhi penghidupannya.  Orang miskin: orang yang tidak cukup penghidupannya dan dalam keadaan kekurangan. Pengurus zakat: orang yang diberi tugas untuk mengumpulkan dan membagikan zakat. Muallaf: orang kafir yang ada harapan masuk Islam dan orang yang baru masuk Islam yang imannya masih lemah. Memerdekakan budak: mencakup juga untuk melepaskan muslim yang ditawan oleh orang-orang kafir. Orang berhutang: orang yang berhutang karena untuk kepentingan yang bukan maksiat dan tidak sanggup membayarnya. Adapun orang yang berhutang untuk memelihara persatuan umat Islam dibayar hutangnya itu dengan zakat, walaupun ia mampu membayarnya. Pada jalan Allah (sabilillah): yaitu untuk keperluan pertahanan Islam dan kaum muslimin. Di antara mufasirin ada yang berpendapat bahwa fisabilillah itu mencakup juga kepentingan-kepentingan umum seperti mendirikan sekolah, rumah sakit dan lain-lain. rang yang sedang dalam perjalanan yang bukan maksiat mengalami kesengsaraan dalam perjalanannya. Demikianlah menjadi sangat mafhum jika zakat menjadi salah satu hal tepenting yang menyokong keberadaan agama Islam. Karena zakat menjadi salah satu sistem distribusi ekonomi yang berfungsi meratakan dan menumbuhkan perekonomian umat.

Pada sisi lain zakat merupakan proses penyucian diri dari segala harta yang kotor yang merupakan hak orang lain. Apabila kotoran tersebut tidak segera dikeluarkan, niscaya akan merusak harta kekayaan yang ada. Sehingga kekayaan yang ada menjadi tidak berkah. Inilah salah satu hikmah diwajibkannya zakat  bagi orang muslim.

Oleh karena itu, tidak tepat jika seseorang yang membayar zakat dianggap sebagai dermawan, karena zakat itu merupakan kewajiban. Bahkan dengan posisi demikian zakat lebih pantas dikatakan sebagai batas kekikiran seseorang, artinya seseorang itu telah terlepas dari status kikir bila telah menunaikan zakat, tetapi belum sampai pada taraf dermawan. Karena dia baru membayar apa yang diwajibkan saja.

Adapun syarat wajibnya zakat yang harus dipenuhi oleh mereka yang terkena hukum wajib membayar zakat adalah, 1) orang Islam, 2) orang merdeka, 3) milik sempurna, 4) sampai satu nisab, 5) sampai haul (satu tahun).

Demikian sedikit keterangan untuk mengingatkan kembali kewajiban zakat kepada umat mslim. Keterangan lebih lanjut mengenai tatacara, besaran dan syarat zakat kekayaan dapat dilihat dalam situs www.laziznu.or.id  (Red. Ulil H)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Aswaja, Nusantara Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 07 Agustus 2017

Ribuan Nahdliyin Memeriahkan Pelantikan PWNU Sulsel

Makassar, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Ribuan Nahdliyin ikut mengantar prosesi pelantikan PWNU Sulawesi Selatan (Sulsel) masa khidmat 2013-2018 dibawah kepemimpinan KH Muh. Sanusi Baco sebagai rais syuriyah dan Prof Dr Iskandar Idy sebagai ketua tanfidziyah.

Ribuan Nahdliyin Memeriahkan Pelantikan PWNU Sulsel (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Nahdliyin Memeriahkan Pelantikan PWNU Sulsel (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Nahdliyin Memeriahkan Pelantikan PWNU Sulsel

Berbagai usur warga NU hadir, diantaranya Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama se-Sulawesi Selatan, pengurus banom se-Sulawesi Selatan, dan tentunya masyarakat NU pada prosesi pelantikan PWNU Sulsel yang berlangsung meriah di Hotel Sahid Makassar, (6/6/2013).

Sholawat pun menggema di Ballroom hotel, ketika prosesi pelantikan mulai berlangsung. Tampak hadir H Jusuf Kalla, Gubernur Sulawesi Selatan, Sekretaris Jenderal PBNU, Wakil Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan, HM Aksa Mahmud, Andi Djamaro Dulung, Rektor Universitas Islam Makassar, Walikota/Bupati se-Sulawesi Selatan, Kepala Dinas se-Sulawesi Selatan, Rekor UMI, Pangdam Wirabuana, Kapolda Sulselbar, dan masih banyak tokoh-tokoh Sulawesi Selatan lainnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Prosesi pelantikan pun berlangsung khidmat, ketika Sekretaris PWNU Sulsel Prof Dr H Arfin Hamid, MH membacakan naskah Surat Keputusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama tentang Pengesahan. Setelah prosesi pelantikan PWNU Sulsel masa khidmat 2013-2018 yang langsung dilantik oleh Sekretaris Jenderal PBNU H Marsudi Syuhudi sudah selesai.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dalam sambutannya. Marsudi Syuhud menyampaikan pesan untuk mengembalikan NU di pesantren, sehingga PWNU Sulsel kali ini diminta untuk lebih konsentrasi dalam dunia pendidikan dan berharap untuk tetap menjaga kesolidan untuk membangun NU Sulsel yang lebih baik.

Sedangkan dalam sambutan Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo mengajak semua pengurus NU Sulsel yang baru dilantik untuk bersama-sama membangun Sulawesi Selatan yang jauh lebih baik dan jangan sungkan untuk menegur apabila dalam kepemimpinannya, jauh dari ulama, khususnya NU Sulawesi Selatan.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor:Andi Muhammad Idris

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Nusantara Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Merumuskan Gus Dur Muda

Gagasan dan pemikiran Ketua Umum PBNU 1984-1999 KH Abdurrahman Wahid yang dituangkan dalam bentuk tulisan sejak tahun 1970-an tak habis digali. Pemikirannya masih tetap relevan hingga sekarang. Tak heran, beraragam buku dengan berbagai pendekatan telah terbit. Beragam diskusi dan seminar tak habis-habis digulirkan.

Sebagai salah satu upaya untuk memperkenalkan dan melanjutkan gagasan kiai yang biasa disapa Gus Dur, salah seorang santrinya di Pondok Pesantren Ciganjur Jakarta, Syaiful Arif, merumuskan kegiatan bertajuk “Kursus Pemikiran Gus Dur”. Kursus tersebut menggali detail-detail gagasan Gus Dur.  

Merumuskan Gus Dur Muda (Sumber Gambar : Nu Online)
Merumuskan Gus Dur Muda (Sumber Gambar : Nu Online)

Merumuskan Gus Dur Muda

Dalam kursus tersebut, lebih menekankan gagasan Gus Dur saat muda. Syaiful Arif menyebutnya Gus Dur Muda, yaitu antara 1970 hingga 1999 (ketika Gus Dur jadi Presiden RI keempat). Dalam istilah lain disebut Gus Dur teoritis.  

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Untuk mengetahui lebih jauh tentang kursus pemikiran Gus Dur Abdullah Alawi dari Pondok Pesantren An-Nur Slawi mewawancarai anaka muda kelahiran Kudus, Jawa tengah, 1981. Syaiful Arif termasuk anak muda NU yang cukup produktif dalam menulis buku. Berikut petikan wawancaranya. 

Asal mula muncul ide kursus pemikiran Gus Dur?

Gus Dur kan sudah wafat, kalau tidak diterusin pemikirannya kan sayang. Selama ini kan gerakan-gerakan Gus Durian itu hanya menenmpatkan Gus Dur sebagai pribadi, bukan sebagai pemikiran.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kenapa bisa berkesimpulan seperti itu?

Karena di dalam gerakan gerakan Gus Durian selama ini, penggalian pemikiran itu kayaknya kurang belum maksimal. Menempatkan Gus Dur sebagai pribadi, ya bagus, karena memang Gus Dur pribadi. Artinya, yang kita diskusikan, kita ingat, yang ingin kita teruskan itu kan perjuangannya sebagai pribadi. Tapi kan di dalam pribadi Gus Dur itu, ada Gus Dur praktis, ada Gus Dur teoritis.

Gus Dur praktis itu, Gus Dur di dalam praktik politik dan praktik perjuangannya, baik di PKB, di negara, maupun di NU. Nah, tetapi praktik Gus Dur, praktik perjuangannya dilandasi oleh Gus Dur yang teoritis. Artinya dilandasi oleh pemikiran. Nah, saya lihat selama ini, -ya ini mungkin pembagian wilayah kerja aja ya, teman-teman yang memang masuk di dalam praktik Gus Dur, saya memilih di ruang-ruang teoritisnya. Itu yang pertama. 

Yang kedua, jelas sekali selama ini kan Gus Dur itu pemikir. Kalau tidak kita tidak dijaga pemikirannya melalui diskusi-diskusi yang intens, ya warisan itu akan jadi warisan “berdebu” di dalam buku-bukunya yang mungkin hanya sekilas sekali ditengok dan dibaca. Padahal kan kalau pemikiran terhenti pada teks, dia hanya terhenti pada teks. Bukan menjadi pemikiran. Menjadi pemikiran itu kan ketika diperbincangkan. Dari perbincangan itu bisa kemudian ditindaklanjuti, bisa dikritisi, bisa menjadi inspirasi. Jadi, aku kebetulan pernah nyantri dengan beliau, ya merasa beban moral. Makanya kemudian yang kupilih kan kursus. Kursus ini kan artinya satu langkah menuju, kita bedakan antara diskusi dengan kursus ya. Diskusi kan tidak ada silabus, hanya sekadar berbagi informasi. Tapi kalau kursus itu ada silabus, dan metodenya juga metode klasikal. Artinya di situ tidak hanya ada pembicara, tetapi ada tutor, pengajar. 

Nah, kalau seseorang sudah memastikan diri sudah siap untuk menjadi pengajar atau tutor di dalam kursus itu kan dia punya konsekuensi kan, ya dia harus menguasai betul, detail dari pemikiran Gus Dur karena kan sebelum kursus ini aku menawarkan sama teman-teman Gus Durian ya.

Metode kursus kan mengkelaskan Gus Dur karena selama ini kan pemikiran Gus Dur hanya terserak-serak, bercerai-berai di opini di koran. Kemudian aku memiliah Gus Dur muda dan Gus Dur tua. 

Bagiamana penjelasannya?

Gus Dur muda itu Gus Dur dari tahun 1970 sampai pertengahan 90. Gus Dur tua itu Gus Dur sejak menjadi presiden sampai wafat. Nah, Gus Dur muda, yaitu Gus Dur yang pemikirannya layak menjadi diskursus intelektual karena tulisan-tulisannya tidak hanya dalam bentuk opini di koran, tapi di makalah-makalah panjang. Baik dalam jurnal seperti Prisma, jurnal Pesantren, maupun makalah-makalah seminar, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Nah, dengan tulisan-tulisan panjang itu kan kita bisa merumuskan pemikiran Gus Dur sebagai wacana intelektual dan materi-materi akademis. Nah, kursus pemikiran Gus Dur itu masuk di ruang itu. Jadi, menempatkan Gus Dur dalam wacana intelektual dan khususnya materi-materi akademis. 

Kenapa disebut kursus?

Karena kan ya memang sampai saat ini belum ada kurikulum pemikiran Gus Dur. Karena itu aku kemudian merumuskan materi, silabus pemikiran Gus Dur yang aku harapkan sistematis dan menjadi satu langkah menuju yang akademis, atau akademisasi Gus Dur. 

Sementara Gus Dur tua itu kan sejak menjadi presiden sampai lengser, itu kan Gus Dur yang tulisan-tulisannya hanya dipercikkan di koran. Gus Dur yang sudah sepuh itu, ya Gus Dur yang sudah  praktis. Tulisan-tulisan di koran adalah refleksi dari peristiwa-peristiwa aktual atau penggalian kembali memori pemikiran yang masih ada dalam endapan di pemikiran beliau. Selama ini banyak orang menempatkan Gus Dur hanya di dalam Gus Dur di era tua. Mereka tidak masuk di dalam pemikiran Gus Dur di era muda. 

Gus Dur muda? 

Itu terkait materi. Gus Dur muda itu Gus Dur yang terinspirasi dari teologi pembabasan Amerika Latin. Dari situ Gus Dur kemudian mengolah tradisi Islam, khusunya tradisi Islam pesantren dan NU, untuk menghadapi developmentalisme Orde Baru . Gus Dur muda itu kan Gus Dur era Orde Baru. Dalam era Orde Baru itu, Gus Dur yang masih muda, merumuskan tradisi; mengolah tradisi intelektual Islam tradisional pesantren dan NU dalam wacana-wacana teologi pembebasan untuk menghadapi developmentalisme dan modernisasi. Jadi, kalau developmentalisme itu kan wacana ekonomi politik, kalau modernisasi kan wacana kebudayaan. Nah, Gus Dur mencoba mengolah tradisi-tradisi Islam pesantren dan NU untuk menanggapi modenisasi dan developmentalisme.

Nah, salah satu hasil prodak pemikirannya seperti Islam sebagai etika sosial. Islam sebagai etika sosial itu kan jarang dilihat banyak orang karena selama ini orang melihat pemikiran Islam Gus Dur itu kan hanya dua, pribumisasi Islam dan pluralisme agama. Padahal ketika aku telusuri di dalam teks-teks Gus Dur muda itu ada dua pemikiran lain yang selama ini belum dibaca orang. Yang pertama, Islam sebagai etika sosial dan kedua, negara kesejahteraan Islam.

Bagaimana penjelasannya kedua-duanya? 

Nah, itu kemudian aku jadikan materi ya. Islam sebagai etika sosial. Di kursus itu kan, pemikiran Islam Gus Dur; kalau kita pinjam istilah Marx, ya itu kan basis struktur, ada struktur ada suprastruktur. Ada lantai, ada tiang, ada dinding ada langit-langit, ada atap. Nah, pribumisasi Islam itu, lantai dari pemikiran Gus Dur karena ia mempertemukan Islam dan budaya. Nah, budaya itu kemudian menjadi landasan dari masyarakat dan landasan dari negara. Nah, prbumisasi Islam sebagai basis struktur dari pemikiran Islam Gus Dur itu kemudian menopang struktur pemikiran Islam Gus Dur, yakni Islam sebagai etika sosial. Kenapa? Karena Islam sebagai etika sosial adalah pemikiran Islam Gus Dur yang menempatkan Islam sebagai etika masyarakat; akhlak sosial. Jadi Gus Dur itu selalu memaknai akhlak sebagai etika sosial. Beliau tidak pernah menafsiri di luar konteks itu, umpamanya akhlak adalah pribadi. Itu nggak pernah, beliau. Jadi, akhlak itu pasti dalam kurung etika sosial.

Etika sosial itu bagaiamana?

Etika sosial itu sederhana, Gus Dur mencoba menggali kemudian merumuskkan prinsip-prinsip etis kehiidupan sosial. Prinsip-prinsip etis kehidupan sosial itu sebenarnya letakanya di dalam kewajiban masyarakat untuk menciptakan sturktur masyarakat yang berkeadilan. Struktur masyarakat yang berkeadilan itu merupakan wujud wujud etis masyarakat yang didukung oleh prinsip-prinsip keislaman. Gus Dur menarik dalam hal ini. Beliau punya gagasan tentang rukun sosial. Di Islam itu kan ada rukan Islam ada rukun iman. Rukun iman itu teologis, rukun Islam itu, katakanlah amal ya dari iman. Kata Gus Dur di dalam rukun Islam itu ada dimensi sosial ada zakat, ada haji ada shalat (ketika berjamaah). 

Artinya, amal-amal ritual itu sebenarnya bersifat sosial. Artinya memiliki keberpihakan terhadap pensejahteraan masyarakat. Namun sayangnya, banyak sekali umat Islam yang hanya memahaminya dalam kerangka ritual individual. Akhirnya, rukun sosial itu tidak ada dampak sosialnya. Nah, Gus Dur menggagas kita perlu sebuah rukun sosial, atau rukun tetangga, kata Gus Dur. Rukun sosial itu menjembatani antara rukun Islam dengan rukun iman. Artinya, kita harus menjadikan kepedulian sosial itu sebagai bagian dari rukun Islam dan rukun iman, menjadi bagian dari teologi. 

Jadi, Gus Dur menggagas teologi sosial. Nah, ini Islam sebagai etika sosial. Ini struktur. Struktur sosial dari basis yang ditopang pribumisasi Islam. Kenapa? Karena, tanpa pribumisasi Islam, Islam tidak akan menjadi etika sosial. Kenapa? Karena pribumisasi Islam-lah yang kemudian meleraikan ketegangan antara Islam dan budaya. Nah, ketidakmampuan meleraikan Islam dan budaya akan menyebabakan islamisasi budaya atau purifikasi budaya lokal yang kemudian menjadi trade mark dari gerakan-gerakan Arabis. Nah, gerakan-gerakan Arabis itu, kata Gus Dur, terjebak di dalam perjuangan Islam yang simbolik. Kenapa? Karena tujuan mereka hanya menerapkan simbol-simbol Islam di dalam budaya lokal. (Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Tegal, Aswaja, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 06 Agustus 2017

BNN Ajak Warga NU Berantas Penyalahgunaan Narkoba

Banyuwangi, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi Waseso menilai problem bangsa Indonesia khususnya dalam hal penyalahgunaan narkoba sudah pada titik mengkhawatirkan. Karenanya ia mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk NU, untuk bersama-sama memberantas praktik haram ini.

BNN Ajak Warga NU Berantas Penyalahgunaan Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
BNN Ajak Warga NU Berantas Penyalahgunaan Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

BNN Ajak Warga NU Berantas Penyalahgunaan Narkoba

Mantan Kabareskrim yang akrab disapa Buwas ini menyampaikan, Pemerintah memutuskan bahwa negara sudah dalam status darurat penyalahgunaan narkoba. Angka kematian yang disebabkan narkoba meningkat 130 persen hanya dalam 3 bulan.

“Ini sungguh-sungguh sangat mengkhawatirkan. Kami BNN akan bekerja keras untuk dapat menekan angka negatif ini, tentunya dengan berbagai usaha yang harus didukung penuh oleh masyarakat khususnya warga NU sebagai organisasi Islam dengan massa terbesar di negara ini," ujar Budi dalam halaqoh nasional yang diselenggarakan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi, Senin (11/1).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Forum halaqah hasil kerja sama dengan Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Kemenko Polhukam) ini membahas tentang bahaya narkoba, terorisme, dan radikalisme. Turut hadir Menko Polhukam Luhut Binsar Panjaitan, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Saud Usman Nasution, Wakil Gubernur Jatim H Syaifullah Yusuf (Gus Ipul), Ketua PWNU Jatim KH Hasan Mutawakkil Alalloh, dan Ketua PCNU Banyuwangi H Masykur Ali.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Gus Ipul yang juga Ketua PBNU dalam sambutannya mengatakan bahwa narkoba, terorisme, dan radikalisme adalah musuh bangsa bersama, dan ketiganya harus dijadikan skala prioritas dalam hal pemberantasan masalah di negeri ini.

Baginya, acara halaqoh nasional seperti ini merupakan salah satu wujud kepedulian dan kesungguhan pemerintah dalam pencegahan serta pemberantasan narkoba dan terorisme dari tingkat paling bawah yaitu akar rumput yang terdiri dari pelajar dan mahasiswa. Menurutnya, NU harus berada di garda terdepan dalam mewujudkan tujuan pemerintah yang mulia ini.

Acara ini dihadiri sekitar tiga ribu warga, termasu para pengurus NU di berbagai tingkatan, perwakilan pelajar dari berbagai sekolah di Banyuwangi. (Anang Lukman Afandi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Sejarah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

95 Persen Konten Media Sosial adalah Sampah

Ambon, Pondok Pesantren An-Nur Slawi?

President of Southeast Asian Press Alliance (SEAPA), Eko Maryadi, mendorong awak media dan masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam menjadikan content media sosial sebagai bahan pemberitaan.?

95 Persen Konten Media Sosial adalah Sampah (Sumber Gambar : Nu Online)
95 Persen Konten Media Sosial adalah Sampah (Sumber Gambar : Nu Online)

95 Persen Konten Media Sosial adalah Sampah

"Bisa saya katakan 95 persen konten media sosial adalah sampah," kata Eko saat menjadi narasumber dalam Diseminasi Pedoman Peliputan Terorisme dan Peningkatan Profesionalisme Media Massa Pers dalam Meliput Isu-isu Terorisme di Ambon, Maluku, Kamis (3/11) melalui siaran pers.?

Eko menyebut content media sosial adalah informasi yang belum dapat dikategorikan sebagai berita, sehingga menyebarluaskannya dibutuhkan sebuah kehati-hatian. "Menjadi persoalan karena kebiasaan masyarakat kita begitu menerima broadcast di Whatsapp, menganggapnya menarik dan menyebarluaskan. Padahal itu informasi yang mentah yang belum terverifikasi kebenarannya," tegasnya.?

Khusus kepada awak media, Eko meminta agar verifikasi ketat dilakukan ketika akan menjadikan content media sosial sebagai bahan pemberitaan.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Chek dan rechek mutlak dilakukan secara ketat. Jangan karena alasan suka dan percaya yang mengirimkan orang tenar, kita (wartawan) ? langsung memberitakannya," tandas Eko.?

Dalam keterangannya mantan jurnalis di beberapa media asing tersebut juga mengatakan, pelaku terorisme terindikasi sengaja memanfaatkan media sosial untuk menyebarluaskan paham yang diyakininya, karena tidak mampu melakukannya melalui media arus utama.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Juga karena media sosial saat ini paling banyak diakses masyarakat, mengalahkan media massa pers. Nyaris semua masyarakat menggunakan gadget yang di dalamnya ada aplikasi sosial media. Sekali lagi, hati-hati menyikapi dan menyebarluaskan content yang ada di media sosial," jelas Eko. ?

Diseminasi Pedoman Peliputan Terorisme dan Peningkatan Profesionalisme Media Massa Pers dalam Meliput Isu-isu Terorisme adalah salah satu metode Pelibatan Masyarakat dalam Pencegahan Terorisme yang diselenggarakan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) di 32 provinsi se-Indonesia. Satu metode lainnya adalah Visit Media, kunjungan dan diskusi dengan redaksi media massa pers. (Red: Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Olahraga, Santri Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 03 Agustus 2017

Ma’arif NU Jombang Sapa Madrasah di Lereng Hutan

Jombang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Kebanyakan para pegiat dan pengabdi pendidikan yang tulus ada di tingkatan bawah. Dengan keterbatasan yang dimiliki, mereka masih berkenan membina peserta didik dengan penuh keikhlasan. Kiprah seperti ini tidak luput dari perhatian LP Maarif NU Jombang.

Ma’arif NU Jombang Sapa Madrasah di Lereng Hutan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ma’arif NU Jombang Sapa Madrasah di Lereng Hutan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ma’arif NU Jombang Sapa Madrasah di Lereng Hutan

Pengurus LP Maarif NU Jombang memiliki program bulanan yang bernama silaturahmi dan bakti sosial. "Kegiatan ini hasil kerja sama LP Maarif NU bersama kelompok kerja penyuluh kabupaten Jombang," kata Ketua LP Maarif Jombang, KH Salmanuddin, Rabu (27/8) petang.

Untuk bulan ini, lokasi yang dituju adalah MI Maarif NU Raden Patah yang berada di desa Cupak kecamatan Ngusikan. Kegiatan ini diikuti KH Taufiq Abdul Jalil (PCNU Jombang), utusan dari MWC Maarif NU Kudu, Ploso, Ngusikan, serta Kesamben. Juga ikut bergabung 10 penyuluh Kementerian Agama Jombang.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Perasaan iba, sedih, haru, dan salut campur aduk saat rombongan menginjakkan kaki di madrasah yang berada di pinggiran hutan ini. Betapa tidak, jumlah peserta didik di madrasah tersebut hanya 23 siswa. "Itu adalah jumlah keseluruhan dari kelas 1 hingga 6," kata Gus Salman, sapaan akrabnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Namun kendati kondisinya cukup memprihatinkan, namun ada secercah kebanggaan dari madrasah ini. "Meskipun berada di kawasan lereng hutan, namun madrasah ini berkenan untuk ikut Badan Hukum Perkumpulan Nahdhatul Ulama atau BHPNU," tandas Pengasuh pesantren Babussalam Kalibening Mojoagung ini.

Benar-benar istimewa dan sangat membanggakan, lanjutnya.

Di hadapan para guru dan murid, rombongan kemudian memberikan penyuluhan tentang arti pendidikan serta pentingnya menjaga kesehatan. "Meskipun berada di kawasan yang kurang mendapat perhatian, tapi kami berharap para guru dan murid di sini tetap semangat mengajar dan menuntut ilmu, serta berupaya menjaga kesehatan diri dan lingkungan," kata Gus Salman.

Usai pemberian materi kesehatan dan motivasi pendidikan, rombongan kemudian memberikan bantuan seragam kepada seluruh siswa. "Kami juga memberikan sejumlah alat olahraga, dan alat shalat kepada dewan guru serta layanan kesehatan," katanya. 

"Apa yang kita lakukan selama ini, rasanya tidak sebanding dengan yang mereka khidmatkan kepada agama, bangsa dan negara, juga NU," tandas alumnus Madrasatul Quran Tebuireng ini. 

Kesadaran untuk bergabung dalam BHPNU menjadi bukti nyata bahwa madrasah ini taat organisasi. "Dan itu ternyata dilakukan dengan penuh kesadaran diri oleh madrasah yang memiliki tenaga pengajar, siswa dan fasilitas yang cukup memprihatinkan," katanya dengan mata berkaca-kaca.

Karena itu, dengan segala keterbatasan yang dimiliki, LP Maarif akan terus memberikan perhatian kepada madrasah yang memiliki loyalitas tinggi kepada NU.

Gus Salman berharap agar Maarif diberikan kekuatan untuk membantu agar keberadaan madrasah di kawasan terpencil seperti ini bisa mendapatkan perhatian. "Ini bentuk kepedulian kita kepada masa depan dan generasi NU di masa mendatang," pungkasnya. (Syaifullah/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pesantren, News, Tokoh Pondok Pesantren An-Nur Slawi