Senin, 31 Juli 2017

Khotbah Jumat Mesti Kontekstual dengan Kebutuhan Umat

Majalengka, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Ketua Pengurus Pusat Lembaga Ta’mir Masjid NU (LTMNU) KH Abdul Manan A Ghani menegaskan fungsi masjid sebagai pusat ? pemberdayaan masyarakat. Kegiatan masjid harus bergerak mengikuti kebutuhan masyarakat, termasuk khotbah Jumat.

Menurut Manan, tidak relevan seorang khotib yang gencar menggaungkan isu-isu internasional, dengan mengabaikan keterpurukan rakyat yang sedang dihadapi. Padahal, jamaah membutuhkan pencerahan dan solusi untuk memecahkan persoalan mereka.

Khotbah Jumat Mesti Kontekstual dengan Kebutuhan Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
Khotbah Jumat Mesti Kontekstual dengan Kebutuhan Umat (Sumber Gambar : Nu Online)

Khotbah Jumat Mesti Kontekstual dengan Kebutuhan Umat

“Khotibnya bicara Osama bin Laden, Palestina, dan seterusnya. Padahal, jamaahnya bingung dikejar-kejar rentenir. Jadi khotbah perlu disesuaikan dengan masyarakatnya,” ujarnya saat memberikan materi Rapat Pimpinan Daerah (Rapimda) LTMNU Kabupaten Majalengka dan Kota Cirebon di Sumberjaya, Majalengka, Jawa Barat, Ahad (6/1) petang.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Manan menjelaskan, masjid tak sebatas tempat upacara peribadatan, seperti shalat. Seperti diteladankan Nabi, tempat suci ini juga berguna untuk menyelesaikan berbagai problem sosial, ekonomi, kesehatan, dan pendidikan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Manan menyayangkan khotbah di sejumlah masjid yang muatan materinya jauh dari persoalan konkret masyarakat sekitarnya. Alih-alih member solusi, para khotib justru menggaungkan wacana yang tidak kontekstual, atau bahkan provokasi permusuhan.

?

?

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis ? ? : Mahbib Khoiron?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi News, Daerah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 26 Juli 2017

Muskerwil PWNU Jatim Bahas Isu Lokal dan Nasional

Surabaya, Pondok Pesantren An-Nur Slawi 



Menjelang Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur membentuk tim kecil untuk membahas materi. Dalam Muskerwil itu akan ada empat komisi yang akan dibahas beberapa isu lokal dan nasional.

Muskerwil PWNU Jatim Bahas Isu Lokal dan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Muskerwil PWNU Jatim Bahas Isu Lokal dan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Muskerwil PWNU Jatim Bahas Isu Lokal dan Nasional

"Muskerwil juga akan membahas isu isu kebangsaan yang sedang menerpa Indonesia," kata KH Mutawakkil Alallah saat ditemui setelah rapat terbatas (23/8).

Dalam Muskerwil yang akan dilakukan pada 24 sampai 25 Septmber itu, PWNU bersama tim inti akan membagai dalam empat komisi, di antaranya Komisi Progam Kerja, Komisi Organisasi, Komisi Rekomendasi dan Bahtsul Masail.

Kiai Mutawakkil Alallah mengatakan, Muskerwil ini sebagai ajang untuk mengevaluasi kinerja PWNU Jawa Timur dalam hal pelaksaan progam. Muskerwil juga sebagai bahan untuk mengoptimlisasi progam kerja yang sudah dirumuskan pada Konferwil dan sebagai bahan untuk Munas dan Konbes PBNU mendatang.

Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo ini, juga menegaskan bahwa dalam Muskerwil akan membahas soal isu kebangsaan seperti upaya untuk menanggulangi gerakan radikalisme dengan mengadakan progam deradikalisasi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Problem dana haji juga direncanakan akan dibahas di komisi bahtsul masail," tegasnya. "Dari hasil Muskerwil ini akan menjadi bahan rekomendasi pada forum tertinggi setelah muktamar NU itu," pungkas Kiai Mutawakkil. (Rof Maulana/Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Aswaja, Pahlawan, Doa Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 24 Juli 2017

Kiai Tholchah: Guru Agama Tak Sekedar Pendidik Profesional

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pendidikan agama saat ini masih terhenti pada pengajaran ilmu agama, belum mencapai internalisasi nilai.? Pendidikan agama masih lebih terfokus pada aspek afektif, bukan kognitif.

“Pendekatannya masih pada a’malul jawarih (gerak tubuh), tidak sampai a’malul qulub (ketergerakan hati: red),” kata Mustasyar PBNU KH Tholchah Hasan, ketika menjadi narasumber dalam Temu Pakar Pendidikan Islam: Deradikalisasi, Multikultural, Wawasan Kebangsaan, serta PenguatanAkhlakul Karimah, di Jakarta, Senin (24/9).

Kiai Tholchah: Guru Agama Tak Sekedar Pendidik Profesional (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Tholchah: Guru Agama Tak Sekedar Pendidik Profesional (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Tholchah: Guru Agama Tak Sekedar Pendidik Profesional

Dalam kesempatan itu, Kiai Tholchah mempertanyakan pencapaian pendidikan agama selama ini. “Banyaknya perilaku menyimpang di kalangan pemuda pelajar, seperti radikalisasi, narkoba, pergaulan bebas, dan kriminalitas, memunculkan pertanyaan tentang sampai di mana capaian dan pengaruh pendidikan Islam terhadap perubahan perilaku dan sikap peserta didik di sekolah,” ujarnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurutnya, tidak semua guru agama di sekolah mempunyai kelayakan mengajar agama, baik dari segi penguasaan bahan ajar, performa dalam menjalankan tugas, maupun keteladanan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu, perlu adanya pembekalan berkesinambungan bagi peguatan penguasaan guru terhadap materi ajar.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Guru agama selama ini lebih mencerminkan dirinya sebatas sebagai pendidik professional, tidak bisa menjadi pendakwah yang bertanggungjawab terhadap pendidikan spiritual,” katanya.?

Menurut Kiai Tholchah, di luar kompetensi pendidik yang diatur dalam PP 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, khusus guru agama, harus ada 2 kompetensi yang dikuasai, yaitu: leadership dan spiritual. Jika tidak ada 2 kompetensi ini, pendidikan agama di sekolah terasa kering.

Ditambahkan, guru agama selama ini juga kurang menggunakan soft-skill secara kreatif sehingga sulit dalam membentuk lingkungan keagamaan yang mendukung. Selain itu, apresiasi dan dukungan komunitas sekolah juga sering kurang memadai. Akibatnya fasilitas dan sarana pembelajaran pendidikan agama sangat terbatas.

Lebih dari itu, pendidikan agama sebagai saranan pembentukan karakter luhur, membutuhkan figur keteladanan (uswah hasanah). Tanpa itu, pendidikan agama akan kering dan hambar.?

Sayangnya, tambah Kiai Tholchah, keteladanan justru mulai langka di sekolah. Guru agama bahkan tidak mampu menjadi teladan di sekolahnya. Banyak guru agama yang minder di sekolahnya, dan merasa lebih rendah di banding guru lain.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Sumber ? : Kementerian Agama

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi News, Pertandingan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Stand Majalah Bangkit PWNU DIY di Muktamar Ramai Pengunjung

Jombang, Pondok Pesantren An-Nur SlawiDi ajang Muktamar ke-33 NU di Jombang, 1-5 Agustus, Majalah Bangkit PWNU DIY membuka stand di kompleks Pesantren Tebuireng dan di sekitar alun-alun Jombang. Stand tersebut menjajakan merchandise khas muktamar yakni kaos dan poster ibroh Rais Aám. Sejak dibuka sabtu sore, stand Majalah Bangkit tersebut ramai pengunjung. “Kami sampai kuwalahan melayani pengunjung yang sejak stand kami buka, tak putus-putus. Sampai-sampai, kaos khas muktamar laris manis dan habis malam itu juga,” ujar Muhlisin penjaga stand di Tebuireng, Ahad (02/08)Selain kaos, poster ibroh Rais A’am khas Majalah Bangkit juga laris manis. Poster ibroh yang paling digemari adalah poster ibrohnya KH Hasyim Asyári yang berbunyi, “Siapa yang mengurus NU, saya anggap santriku, siapa yang menjadi santriku saya doakan khusnul khotimah beserta keluarganya.“Begitu stand kami buka, beberapa jam kemudian Poster ibroh KH Hasyim Asy’ari langsung ludes dibeli para pengunjung. Hari ini, rencananya tim dari Jogja akan mengirimkan lagi kaos dan poster ibroh Rais Aám,” tambahnya.? Ditemui terpisah, senada dengan Muhlisin, Yayan penjaga stand di Alun-alun Jombang juga mengungkapkan hal yang sama. “Ini di luar dugaan. Para pengujung begitu antusias membeli merchandise yang kami jajakan. Kaos dan poster ibroh Rais Aam khas Majalah Bangkit ludes diserbu pengujung dan habis malam itu juga,” ujarnya. Menurut Pimpinan Redaksi Majalah Bangkit PWNU DIY, Muhammadun, larisnya merchandise yang dijajakan di stand Majalah Bangkit dikarenakan merchandise tersebut berkaitan langsung dengan muktamar. “Kaos muktamar dan Ibroh Rais Aám yang kami jual berkaitan langsung dengan muktamar. Bukan hanya kaos biasa saja. Selain itu, desain-desain baju kami juga beda dengan yang lain. Jadi wajar kalau antusiasme pengunjung begitu besar. (Nur Rokhim/Mukafi Niam)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Tegal, Ubudiyah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Stand Majalah Bangkit PWNU DIY di Muktamar Ramai Pengunjung (Sumber Gambar : Nu Online)
Stand Majalah Bangkit PWNU DIY di Muktamar Ramai Pengunjung (Sumber Gambar : Nu Online)

Stand Majalah Bangkit PWNU DIY di Muktamar Ramai Pengunjung

Calon Jamaah Haji Lansia Bisa Ajukan Percepatan Keberangkatan

Batam, Pondok Pesantren An-Nur Slawi



Kementerian Agama kembali menerapkan kebijakan untuk mempercepat keberangkatan jamaah haji lanjut usia (lansia). Karenanya, bagi jamaah yang berusia  minimal 75 tahun bisa segera mengajukan percepatan keberangkatan ke Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota tempat mendaftar haji (domisili).

“Tahun ini masih diberikan kesempatan bagi lanjut usia minimal 75 tahun untuk mengajukan percepatan keberangkatan. Sehingga diharapkan jamaah lansia mendapat prioritas mengingat kondisi fisik yang lemah,” kata Kasubdit Pendaftaran Haji M Noer Alya Fitra (Nafit), Kamis malam (10/03) sebagaimana dikutip dari laman kemenag.go.id.

Calon Jamaah Haji Lansia Bisa Ajukan Percepatan Keberangkatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Calon Jamaah Haji Lansia Bisa Ajukan Percepatan Keberangkatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Calon Jamaah Haji Lansia Bisa Ajukan Percepatan Keberangkatan

Menurutnya, calon jamaah haji lansia yang ingin mendapat percepatan keberangkatan bahkan dapat didampingi oleh satu pendamping. “Prosedurnya dengan mengajukan ke Kemenag Kabupaten/Kota tempat pendaftaran,” tambahnya.

Selain prioritas lansia, Kementerian Agama juga telah menerbitkan  Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 29 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji Reguler yang membatasi pendaftaran haji minimal berusia 12 tahun. Direktur Pelayanan Haji Dalam Negeri Ditjen PHU Ahda Barori mengatakan bahwa sebelumnya tidak ada aturan minimal usia untuk mendaftar haji.

“Antrian haji sudah terlalu lama di Indonesia sehingga dalam aturan yang baru, mendaftar haji harus sudah berusia 12 tahun,” terang Ahda. Bahkan,  antrian daftar tunggu haji di Sulawesi Selatan sudah mencapai 28 tahun.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Aturan lainnya,  lanjut Ahda, kuota haji diprioritaskan untuk jamaah yang belum berhaji. Kalau orang yang sudah pernah haji ingin berhaji lagi, dia baru boleh mendaftar kembali setelah sepuluh tahun dari keberangkatan terakhir.

Regulasi baru penyelenggaraan haji ini disosialisasikan kepada para kepala seksi pendaftaran haji seluruh Sumatera dan unsur Ditjen  Penyelenggaraan Haji Dan Umrah. Sebelumnya, sosialisasi telah dilakukan di Makassar untuk kawasan Indonesia Timur dan Yogyakarta untuk wilayah Jawa. Red: Mukafi Niam

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi IMNU, Quote, Hikmah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 23 Juli 2017

PBNU Kutuk Rencana Pemindahan Makam Nabi

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menegaskan upaya untuk memindahkan makam suci Nabi Muhammad harus ditentang keras oleh umat Islam.

“Allah yang akan menjaga Utusan-Nya, semoga yang akan membongkar makam beliau dilaknat Allah,” tegasnya, Rabu.?

PBNU Kutuk Rencana Pemindahan Makam Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Kutuk Rencana Pemindahan Makam Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Kutuk Rencana Pemindahan Makam Nabi

Kiai Said yang menyelesaikan pendidikan doktornya di Universitas Ummul Qura Makkah ini menjelaskan, memang, ada kebencian mendalam orang-orang Wahabi terhadap jamaah yang menziarahi makam Rasulullah karena hal itu dianggap syirik.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Banyak orang Arab Saudi yang sudah bepergian ke pojok-pojok dunia, tetapi belum pernah ke Madinah,” jelasnya.

Ia menggambarkan hal ini, seperti orang Indonesia yang sudah pergi ke mana-mana, tetapi belum pernah mengunjungi Candi Prambanan atau Borobudur.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sebelumnya, harian The Independent melaporkan adanya proposal yang sudah disebarkan di lingkungan pengelola dua masjid suci, masjidil haram dan masjid nabawi, salah satunya berisi rencana tentang pemindahan makam nabi dari Masjid Nabawi ke pemakaman al Baqi, dan menjadikan makam nabi anonim sebagaimana makam-makam keluarga nabi yang sebelumnya sudah dipindah ke tempat tersebut. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Halaqoh, Amalan, PonPes Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 22 Juli 2017

Sambut Menristek Dikti, PWNU Sumbar Siap Dirikan UNU

Padang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Dalam rangka menyambut kunjungan Direktorat Jenderal Dikti Kemeterian Ristek dan Pendidikan Tinggi ke Sumatera Barat, pihak panitia pendirian UNU Sumbar dan PWNU Sumbar menyatakan kesiapannya dengan pendirian Universitas Nahdlatul Ulama Sumatera Barat.

Hal itu terungkap dalam rapat evaluasi antara BP3TNU, PWNU dan panitia Pendirian UNU Sumbar di aula PWNU Sumbar, Jumat (6/2).

Sambut Menristek Dikti, PWNU Sumbar Siap Dirikan UNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Menristek Dikti, PWNU Sumbar Siap Dirikan UNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Menristek Dikti, PWNU Sumbar Siap Dirikan UNU

Ketua PWNU Sumbar Drs H Maswar MA mengungkapkan, saat ini pihaknya sedang berjalan mempersiapkan lahan untuk pembangunan kampus dan mempersiapkan gedung kampus untuk proses perkuliahan.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Maswar melanjutkan, memang pihaknya baru bisa memanfaatkan gedung pihak lain yang representative. “Namun dalam waktu dekat kita akan berusaha agar dapat membangun gedung yang permanen,” katanya di dampingi Sekretaris PWNU Sumbar Firdaus,M.Si.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dalam kesempatan yang sama, mantan Koordinator Kopertis Wilayah X (Sumbar Riau jambi & Kepri) Prof Dr der soz Damsar MA juga mendukung langkah NU untuk memusatkan UNU Sumbar di Kabupaten Padang Pariaman.? “Karena sangat strategis dalam pengembangan pendidikan tinggi di Sumatera Barat,” ujarnya.?

Di sisi lain, kata mantan Dekan FISIP Universitas Andalas ini, orang Pariaman juga dikenal dengan kebiasaan “badoncek” nya, yakni orang Pariaman dalam budayanya suka bergotong royong. “Harapan kita UNU Sumbar mampu tumbuh dan berkembang di Sumatera Barat,” harapnya.

Ketua Pendirian UNU Sumatera Barat Dr H Ahmad Wira usai rapat menyampaikan, bahwa semua pihak di NU Sumbar ? sepakat, kampus UNU Sumbar akan dipusatkan di kabupaten Padang Pariaman dan Kota Pariaman.

“Mudah-mudahan dengan kerja keras, semua infrastruktur termasuk lahan dan gedung perkuliahan, serta konsep akademik dan SDM dapat selesai dalam waktu dekat,” ujarnya.

Hadir dalam pertemuan itu sesepuh yang juga mustasyar NU Sumbar Drs H Armin AN, mantan Rais Syuriah NU Prof Dr H Asasriwarni, MH dan tokoh NU lainnya serta para calon dekan dan kader NU. (Afriendi/Fathoni)

?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kiai, Olahraga Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kenalkan NU Sejak Dini dengan Lomba Mewarnai

Bondowoso, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Dalam rangka menyemarakkan datangnya bulan Muharram 1439 Hijriah, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Jambesari Darus Sholah menggelar lomba mewarnai lambang NU untuk siswa taman kanak-kanak atau raudlatul athfal (TK/RA) sekecamatan setempat.

Perlombaan tersebut berlangsung di Aula Balai Desa Jambe Anom, Kecamatan Jambesari Darus Sholah, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, Rabu (27/9).

Kenalkan NU Sejak Dini dengan Lomba Mewarnai (Sumber Gambar : Nu Online)
Kenalkan NU Sejak Dini dengan Lomba Mewarnai (Sumber Gambar : Nu Online)

Kenalkan NU Sejak Dini dengan Lomba Mewarnai

Ketua MWCNU Kecamatan Jambesari Darus Sholah Abdul Mufid menjelaskan, kegiatan ini dimaksudkan sebagai upaya mendidik generasi Islam sejak dini agar mengenal tahun baru Islam yang biasa dikenal dengan kalender hijriah.

"Kegiatan ini juga untuk mengenalkan sejak dini kepada anak-anak kepada NU," tambahnya.

Melalui peringatan hari besar ini, anak-anak diharapkan bisa mengenang peristiwa-peristiwa penting yang terjadi beberapa ratus tahun silam sejak Nabi Adam sampai dengan Nabi Muhammad, yang terjadi pada 10 Muharram.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selain lomba, MWCNU Jambersari Darus Sholah juga menggelar agenda tahunan santunan anak yatim. Satunan kepada kaum duafa ini dilaksanakan MWCNU setempat tiap 10 Muharram tiba.

"Malam Sabtu nantinya akan di gelar istighotsah dan santunan anak yatim sebanyak 100 anak yatim serta pelantikan pengurus ranting MWCNU dan insyaallah Bapak Bupati Bondowoso hadir," ucapnya. (Ade Nurwahyudi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Cerita Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 18 Juli 2017

10 Alasan Pentingnya Memperingati Maulid Nabi (1)

Bulan maulid telah tiba. Lantunan barzanji, dhiba’ dan puji-pujian kepada Rasulullah saw menggema di setiap surau, masjid dan mushalla, lapangan hingga kantor-kantor.

Para santri berlomba mendendangkan dengan lagu yang indah. Suara yang merdu ? menambah khusyu’ hati kyai membayangkan kehadiran Kanjeng Nabi. Anak-anak kecil berkalung sarung cerah gembira menunggu jajanan yang sebentar lagi dihidangkan. Allahumma shalli wa sallim ‘alaihi.

10 Alasan Pentingnya Memperingati Maulid Nabi (1) (Sumber Gambar : Nu Online)
10 Alasan Pentingnya Memperingati Maulid Nabi (1) (Sumber Gambar : Nu Online)

10 Alasan Pentingnya Memperingati Maulid Nabi (1)

Begitulah suasana maulid dimeriahkan umat muslim Nusantara. Bulan maulid adalah bulan suka-cita. Cerah sinarnya menyibakkan kegelapan yang menyelimuti ummat manusia. Meski tradisi peringatan maulid telah berurat-akar di tanah air ini, tidak ada salahnya jika dikemukakan kembali beberapa alasan penting diadakannya maulid Nabi saw.

Dalam bukunya Kalimatun Hadi’atun fil Bid’ah, Kalimatun Hadi’atun fil Ihtifal bil Maulid, Kalimatun Hadi’atun fil Istighatsah, Dr. Oemar Abdullah Kamil menerangkan beberapa hal yang berhubungan tentang peringatan maulid Rasulullah saw. Ada Sepuluh alasan yang menjadikan pentingnya memperingati Maulid Nabi yaitu:

Pertama, bahwa Allah swt memberkati dan mengagungkan hari dan tanah kelahiran para nabi. Apalagi hari kelahiran Rasulullah saw. Oleh karena itu sudah sepantasnya kita sebagai umat Rasulullah memuliakan hari kelahirannya. ? Hal ini berdasar pada kisahkan dalam sebuah hadits yang dinukil oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari jilid VII bahwa ketika dalam perjalanan Mi’raj, Rasulullah saw diperintahkan Jibril shalat dua rekaat di Bethlehem. Setelah Rasulullah saw. selesai shalat, Jibril lalu bertanya “apakah kamu tahu di mana kamu shalat saat itu? Rasulullah saw menjawab “tidak” dan jibril berkata lagi “kamu shalat di Bethlehem tempat kelahiran Nabi Isa”. Demikian potongan hadits tersebut:

…ثم قال Ù„Ù? اÙ? زل فصل فÙ? زلت وصلÙ? ت فقال Ù„Ù? اتدرÙ? اÙ? Ù? صلÙ? ت ØŸ فقلت لا، قال صلÙ? ت فÙ? بÙ? ت لحم بÙ? احÙ? Ø© بÙ? ت المقدس، Ø­Ù? Ø« ولد عÙ? سى بÙ? مرÙ? Ù… علÙ? Ù‡ السلام ثم ركبت فمضÙ? Ù? ا

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Hadits di atas membuktikan betapa Allah dan Rasul-Nya menghormati tanah kelahiran Nabi Isa as sebagai Nabi Allah swt. Sekaligus juga menunjukan kesadaran beliau akan arti sebuah sejarah bagi kehidupan umat manusia.?

Demikian pula Allah swt merahmati hari hari kelahiran Nabi Isa dengan kesejahteraan sebagaimana temaktub dalam surat Maryam ayat 33.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

وَالسَّلامُ عَلَÙ? ÙŽÙ‘ Ù? َوْمَ وُلِدْتُ

Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan (Maryam: 33)

Jikalau Allah swt memberkati hari kelahiran Nabi Isa as, bukankah berarti hari kelahiran Rasulullah saw lebih diberkati dan dilimpahi kesejahteraan? Sesungguhnya semua hari itu sama, diciptakan dan ditentukan oleh Allah swt, oleh karenanya Ia berhak memuliakan dan meng-istimewakan hari-hari pilihan-Nya. Hal ini dapat dibuktikan dalam beberapa ayat dalam al-Qur’an dimana Allah ? dengan tegas menentukan nilai dari hari-hari (ayyam) tersebut. Diantaranya dalam Surat Ibrahim ayat 5 dan al-Jatsiyah ayat 14

وَلَقَدْ أَرْسَلْÙ? َا مُوسَى بِآÙ? اتِÙ? َا Ø£ÙŽÙ? Ù’ أَخْرِجْ قَوْمَكَ مِÙ? ÙŽ الظُّلُمَاتِ إِلَى الÙ? ُّورِ وَذَكِّرْهُمْ بِأَÙ? َّامِ اللَّهِ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami, (dan Kami perintahkan kepadanya): "Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah” (Ibrahim: 5)

? قُلْ لِلَّذِÙ? Ù? ÙŽ آمَÙ? ُوا Ù? َغْفِرُوا لِلَّذِÙ? Ù? ÙŽ لَا Ù? َرْجُوÙ? ÙŽ Ø£ÙŽÙ? َّامَ اللَّهِ لِÙ? َجْزِÙ? ÙŽ قَوْمًا بِمَا كَاÙ? ُوا Ù? َكْسِبُوÙ? ÙŽ

Katakanlah kepada orang-orang yang beriman hendaklah mereka memaafkan orang-orang yang tiada takut hari-hari Allah karena Dia akan membalas sesuatu kaum terhadap apa yang telah mereka kerjakan (al-Jasiyah: 14).

Alasan kedua pentingnya memperingati maulid Nabi adalah bertolak dari kisah Abu Lahab, paman Rasulullah saw yang memerdekakan budaknya bernama Tsuwaibah al-Aslamiyyah pada hari kelahiran Rasulullah saw. Begitu girangnya Abu Lahab atas kelahiran keponakannya yang bernama Muhammad saw, sehingga ia memerdekakan Tsuwaibah al-Aslamiyyah yang sekaligus berlaku sebagai orang pertama yang menyusui Muhammad saw.?

Walaupun dalam Surat al-Lahab, Allah swt telah memfonisnya sebagai orang yang celaka di dalam neraka, tetapi berkat rasa girangannya semasa hidup atas kelahiran Muhammad saw, ia pun mendapatkan syafaat setiap hari senin dengan merasakan kesejukan. Begitulah di ceritakan oleh Ibnu Katsir dalam kitabnya Bidayah wan Nihayah halaman 272-273.?

Cerita Ibn Katsir ini juga termuat dalam hadits shahih bukhari dalam kitab nikah “sesungguhnya Abu Lahab berkata kepada saudaranya Abbas di dalam mimpinya: “sungguh dia telah meringankan penderitaanku setiap hari senin”.

Begitu pentingnya riwayat ini sehingga al-hafidz Syamsyuddin bin Nashiruddin ad-Dimasyqi dalam kitabnya Mawridus Shadi fi Maulidil Hadi menuturkan:

Jikalau seorang kafir ini telah dicela dengan ‘tabbat yada…’ yang kekal di neraka.Telah diringankan setiap hari Senin karena bergembira dengan kelahiran Muhammad.? Maka, apa yang kira-kira akan dianugerahkan kepada hamba yang selalu berbahagia dengan kelahiran Rasul-Nya selama hayat hingga meninggal dalam Islam?

?

Redaktur: Ulil Hadrawy. Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kiai, Hadits Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 17 Juli 2017

Dirikan Madrasah Hingga Terapkan Sistem Pembelajaran Salaf

Probolinggo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pondok Pesantren Ihayussunnah di Desa Sentong Kecamatan Krejengan Kabupaten Probolinggo berdiri 87 tahun lalu, tepatnya tahun 1927 oleh KH Abdul Karim. Saat ini pesantren ini diasuh oleh cicit sang pendiri KH Moh Nashih. Dari pesantren ini banyak lahir ulama yang eksistensinya sangat dibutuhkan oleh masyarakat.

Letak Pondok Pesantren Ihyaussunnah sangat strategis dan mudah dijangkau oleh kendaraan umum. Dari batas Kota Kraksaan Kabupaten Probolinggo hanya butuh waktu 10 menit ke arah selatan untuk menuju ke pesantren ini.

Dirikan Madrasah Hingga Terapkan Sistem Pembelajaran Salaf (Sumber Gambar : Nu Online)
Dirikan Madrasah Hingga Terapkan Sistem Pembelajaran Salaf (Sumber Gambar : Nu Online)

Dirikan Madrasah Hingga Terapkan Sistem Pembelajaran Salaf

Pengasuh Pondok Pesantren Ihyaussunah KH. Moh Nashih mengisahkan, dulunya pesantren tersebut didirikan oleh KH. Abdul Karim, kakek buyutnya. Dimana Kiai Karim ini merupakan menantu dari KH Rifa’i Tabrani, Pengasuh Pondok Pesantren Rofi’atul Islam di desa yang sama.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Jadi, kami terikat tali persaudaraan dengan KH Munir Kholili, Pengasuh Pondok Pesantren Rofi’atul Islam. Dimana Kiai Munir saat ini dipercaya sebagai Rais Syuriyah PCNU Kota Kraksaan,” katanya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurut Kiai Nashih, sebelum berdiri menjadi pondok pesantren, Kiai Karim mengawali dengan memberikan pengajian kitab dan Al Qur’an. Namun lambat laun pengajian kitab ini merubah menjadi Madrasah Diniyah (Madin).

Berkat dukungan masyarakat, Madin ini akhirnya berubah menjadi sebuah pondok pesantren yang sederhana. Berbeda dengan Pondok Pesantren Rofi’atul Islam yang tidak menerima santri putri, pesantren ini sejak awal telah menerima santri putri dan putra. “Alhamdulillah, semakin lama pesantren ini semakin maju,” jelasnya.?

Kiai Karim mengasuh pesantren ini hingga tahun 1947. Ketika diasuh Kiai Karim, santri mukim hampir mencapai 100 orang. Kemudian kepengasuhan pesantren dilanjutkan menantunya KH. Bahrawi hingga tahun 1950. Pada masa kepemimpinan Kiai Bahrawi, didirikanlah Madrasah Ibtidaiyah (MI) Islamiyah. “Madrasah ini, selain mengajarkan ilmu agama juga mengajarkan ilmu berhitung dan bahasa Indonesia,” terangnya.

Setelah itu, kepemimpinan pesantren ini bergeser kepada KH. Ma’sum Abdul Karim, putra tertua dari KH. Bahrawi. Saat Kiai Ma’sum memimpin banyak kemajuan yang dicapai. Siswa kelas VI pada MI pada masa ini mulai diikutkan ujian negara.

Pada tahun 1963, Kiai Ma’sum melakukan perombakan pada sistem manajemen. Jika sebelumnya madrasah yang ada hanya ala kadarnya, maka pada tahun itu manajemen disusun dengan cermat. “Namun keputusan yang dilakukan setelah sebelumnya dimusyawarahkan kepada keluarga dan tokoh masyarakat,” akunya.

Lima tahun kemudian Kiai Ma’sum mendirikan Madrasah Mu’allimin yang menggunakan masjid sebagai tempat belajar. Madrasah ini merupakan kelanjutan dari madrasah yang ada. Madrasah ini mengajarkan 70 persen ilmu agama, sedang sisanya untuk ilmu umum. “Pengajarnya sebagian besar dari luar pesantren,” imbuhnya.

Berikutnya, 2 tahun kemudian Madrasah Mu’allimin berganti nama menjadi MTs (Madrasah Tsanawiyah) Al Muttahidah. Madrasah ini menampung siswa dari dua pesantren. Yakni, Pondok Pesantren Ihyaussunnah dan Rofi’atul Islam. Tak lama berselang, pada tahun 1971 KH. Ma’sum Abdul Karim wafat.

“Saat Kiai Ma’sum wafat putranya masih kecil. Sehingga lewat musyawarah keluarga kepemipinan pesantren diamanatkan ke KH. Rofi’i Abdul Karim, abah saya,” tuturnya.

Pada masa Kiai Rofi’i, MI dan MTs Al Muttahidah mulai menerapkan kurikulum Departemen Agama (Depag) pada tahun 1974. Dengan begitu santri yang belajar pada 2 madrasah ini mengikuti ujian Negara.

Kemudian pada tahun 1982, Kiai Rofi’i mendirikan MA (Madrasah Aliyah) Al Muttahidah. Pendirian gedung madrasah ini merupakan bantuan dari Raja Kholid dari Saudi Arabia. “Abah selama 11 tahun belajar dan pernah menjadi wartawan disana. Sehingga mempunyai hubungan baik dengan Pemerintah Arab Saudi,” jelasnya.

Pada ? akhir tahun 1996, KH Rofi’i Abdul Karim wafat saat menghadiri undangan pengajian. Kemudian atas musyawarah keluarga yang dipimpin KH. Munir Kholili, pada tahun 1997 diputuskan pimpinan pondok pesantren diserahkan kepada KH. Moh Nashih.

“Sebenarnya masih ada kakak saya yang lebih pantas. Namun beliau bermukim di daerah lain. Hingga akhirnya saya yang diberi amanat oleh keluarga. Saya waktu itu masih mondok di Kencong Jember,” ujar alumni STAI Zainul Hasan ini.

Terapkan Sistem Pembelajaran Salafiyah

Seperti pondok pesantren lain, di Pondok Pesantren Ihyaussunnah diterapkan sistem pendidikan salafiyah. “Santri mulai mengikuti kegiatan sejak pukul 03.00 dengan salat Tahajjud dan salat Subuh. Selanjutnya mengaji kitab kuning hingga pukul 06.00,” ungkap Pengasuh Pondok Pesantren Ihyaussunnah KH. Moh. Nashih.

Aktivitas santri dilanjutkan pada pukul 07.00 hingga 13.30, dimana santri belajar di MTs dan MA. “Setelah itu, 30 menit kemudian santri masuk ke MA hingga pukul 16.30,” tuturnya.

Pondok pesantren ini juga menerapkan metode pendidikan salafiyah yang meliputi Madin, pengajian kitab kuning, halaqah diniyah dan Tahfidatul Qur’an. Kegiatan ini dilaksanakan usai salat Maghrib yang dilanjutkan dengan pengajian Al Qur’an. Lalu belajar membaca kitab klasik hingga pukul 21.00. “Santri yang tidak sekolah pada pagi hari, ada pengajian khusus pendalaman kitab klasik,” ujarnya.

Selain kitab yang sudah umum diajarkan di kalangan pesantren, pondok pesantren ini juga mempunyai kitab khusus. Kitab ini merupakan karangan KH. Rofi’i Abdul Karim, yakni Kamus Bahasa Arab Pusha atau kamus bahasa Arab berdasarkan kitab, Kamus Bahasa Arab Amiyah atau kamus percakapan bahasa Arab sehari-hari. Kemudian ada juga Kamus Luar Biasa Bahasa Arab yang diajarkan di Madin. Selain itu ada Silahul Mukmin. Yaitu, kitab yang berisi doa-doa.

Pondok pesantren ini mengutamakan pendidikan akhlak dalam mendidik para santri. Hal itu tergambar dalam usaha yang selalu menekankan pada keutamaan dalam berakhlakul karimah. “Percuma punya santri pintar, tetapi akhlaknya jelek. Apalagi tidak menghormati orang tua. Itu yang tidak kami harapkan,” tegasnya.

Terbagi dalam Tiga Asrama

Kini Pondok Pesantren Ihyaussunnah yang memasuki usia 87 tahun ini mempunyai sekitar 300 santri mukim. Sedangkan yang non mukim sekitar 100 orang yang terdiri dari pelajar di MTs dan MA Al Muttahidah.

Namun, santri sebanyak itu tidak berada di satu pondok atau asrama. Mereka tersebar pada tiga asrama. Yakni asrama pusat Ihyaussunnah, Darul Hayat dan Arrofi’iyah. Masing-masing asrama dipimpin pengasuh berbeda. Asrama Ihyaussunnah diasuh oleh KH. Moh Nashih. Sedangkan Arrofi’iyah berada di Kelurahan Semampir Kecamatan Kraksaan dipimpin oleh KH Moh Hafid dan asrama Darul Hayat dipimpin oleh H. Kamil Abrori, menantu tertua KH Rofi’i Abdul Karim.

Meski berada tiga asrama, semua kegiatan masih terpusat. Yang membedakan hanyalah pada pengajaran agama yang berada di bawah pengasuh masing-masing. Sekolah umum dan kegiatan imtihan tetap disatukan di pondok pusat. “Untuk kegiatan besar masih tetap tersentral,” katanya. (Syamsul Akbar)

Foto: Santri Pondok Pesantren Ihyaussunnah Desa Sentong Kecamatan Krejengan Kabupaten Probolinggo ketika melakukan bakti sosial kerja bakti membersihkan kuburan yang berada di sekitar pesantren.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Quote Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rais Syuriyah NU Lampung Utara Wafat

Lampung Utara, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Inna lilahi wa inna ilahi rajiun. Rais Syuriah PCNU Lampung Utara KH Imam Muhyidin wafat sekitar pukul 06.00 WIB, Jumat (25/9) pagi. Pimpinan pesantren Minhajul Huda Cempaka Sungkai Jaya, Kotabumi Lampung Utara itu meninggal karena sakit.

"Beliau juga tercatat sebagai Ketua Badan Penyelenggara Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama Lampung,” ujar SekretarisGP Ansor setempat Hidrikal Mukrom di Kotabumi.

Rais Syuriyah NU Lampung Utara Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Syuriyah NU Lampung Utara Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Syuriyah NU Lampung Utara Wafat

Menurut Hidrikal, aktivis PMII bisa meneladani sejumlah perilaku terpuji almarhum. Almarhum juga dekat dengan anak-anak PMII setempat.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Kiai Imam adalah alumni PMII yang termasuk kiai sepuh di pesantren Darul Kair selain KH Abdul Syukur Syah pimpinan pesantren setempat," katanya lagi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ucapan belasungkawa atas wafatnya Majelis Pembina PMII Lampung Utara itu disampaikan sejumlah kolega termasuk Ketua PCNU Waykanan KH Nur Huda. Allahummaghfir lahu warhamhu wa`afihi wa`fu`anhu. Semoga almarhum khusnul khotimah. (Gatot Arifianto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Sejarah, Pesantren Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 14 Juli 2017

Lakukan Pertukaran Pelajar, Pesantren Nuris Sebar Islam Nusantara di ASEAN

Singapura, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Gerak langkah Pondok Pesanten Nurul Islam (Nuris), Antirogo, Jember, Jawa Timur sudah merambah lintas negara. Lembaga yang dibinanya, Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA) Unggulan Nuris, belum lama ini menggelar Nuris Student Exchange Program (NSEP), yaitu sebuah program pertukaran pelajar antara Nuris dengan negara pelajar negara jiran seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura.?

Kali ini Nuris mengirimkan 12 pelajar yang telah dipersiapkan secara khusus untuk mengemban amanah visi internasional Nuris selama satu bulan di tiga negara yang serumpun itu. Mereka diberi tugas untuk mengajar di berbagai lembaga seperti Annuban (Taman Kanak-kanak/TK), Prakthom (Sekolah Dasar/ SD), dan Mattahayom (Sekolah Menengah Pertama/ SMP). Mata pelajaran yang diajarkan yakni, Al-Qur’an, bahasa Arab, bahasa Inggris, dan bahasa Indonesia.?

Lakukan Pertukaran Pelajar, Pesantren Nuris Sebar Islam Nusantara di ASEAN (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakukan Pertukaran Pelajar, Pesantren Nuris Sebar Islam Nusantara di ASEAN (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakukan Pertukaran Pelajar, Pesantren Nuris Sebar Islam Nusantara di ASEAN

"Selain itu, mereka juga belajar kebudayaan kepada masyarakat dan keislaman kepada ulama-ulama di sana," tutur pengasuh Pondok Pesantren Nuris, Robith Qoshidi kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi, Senin (4/4).

Menurut Gus Robith, sapaan akrabnya, pertukaran pelajar dengan lembaga di tiga negara tersebut merupakan kelanjutan dan inovasi kegiatan Program Abdi Masyarakat (PAM) ? yang telah dilakukan Nuris selama ini. Mereka mengajar Al-Qur’an, bahasa Arab, bahasa Inggris, dan kitab kuning di berbagai pesantren di Jember.?

"Tujuannya jelas, untuk belajar mengabdi sekaligus mengamalkan ilmunya di masyarakat. Kalau ke mancanegara, selain belajar dan mengajar, juga dapat mempererat tali persaudaraan khususnya sesama muslim di tiga negara tersebut," cetusnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sementara itu, Kepala MA Unggulan Nuris, Balqis Al-Humairo, mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut sangat positif dan membanggakan. Selain dapat mengimplementasikan ilmunya, juga bisa menambah wawasan dan pengalaman yang nantinya dapat direalisasikan di Nuris sendiri. "Terus terang kami bangga dengan mereka. Mereka adalah pelajar pilihan," ungkapnya.

Sebelumnya MA Unggulan Nuris sudah kedatangan dua siswa dari Thailand yang hingga kini masih betah belajar di kampus Nuris. Menurut Balqis, kegiatan pertukaran pelajar tersebut akan terus berlanjut pada tahun ajaran berikutnya. Ia berharap agar pertukaran pelajar ini mampu meningkatkan hubungan bilateral antara Indonesia dengan ketiga negara tersebut. Selain itu, program internasional Nuris ini dapat mempelopori terwujudnya keislaman Nusantara sesuai yang didengungkan dalam Muktamar ke-33 NU 2015 lalu.?

"Islam adalah agama yang moderat dan toleran. Hal inilah yang dipelajari di pesantren Indonesia. Dan harus diketahui dunia bahwa Islam itu sejuk, teduh dan antikekerasan serta menjunjung tinggi toleransi," lanjutnya. (Aryudi A. Razaq/Fathoni)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Bahtsul Masail, Kajian Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Stop Nafsu Belanja Jelang Lebaran

Brebes, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Dorongan untuk berbelanja menjelang hari raya Idul Fithri semakin menguat. Pengendalian diri di saat seperti ini kian penting. Karenanya, pembelanjaan mesti direncanakan secara cermat. Kebutuhan yang bersifat prioritas mesti menjadi perhatian utama.

Stop Nafsu Belanja Jelang Lebaran (Sumber Gambar : Nu Online)
Stop Nafsu Belanja Jelang Lebaran (Sumber Gambar : Nu Online)

Stop Nafsu Belanja Jelang Lebaran

Demikian dikatakan Ketua Muslimat NU Brebes Hj Nurhalimah kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi di Kantor Muslimat NU Brebes jalan Kiai Kholid Barat, Pasarbatang Brebes, Rabu (16/7).

Nurhalimah berpesan agar warga tidak perlu memaksakan diri untuk berbelanja secara berlebihan. Warga perlu menunda keinginan belanja barang yang tidak sesuai dengan kebutuhan pokok. Perencanaan belanja yang tidak cermat mengakibatkan besaran pengeluaran membengkak.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Berusahalah untuk hemat belanja. Jangan keburu nafsu,” saran Nurhalimah.

Tanpa kendali, pembelanjaan bisa mengesankan foya-foya. Penyajian hidangan oleh kalangan ibu rumah tangga tidak harus dengan makanan mahal tetapi cukup yang bergizi. Demikian juga dengan penyediaan pakaian. Cukup dinilai dari kelayakan, bukan bandrolnya, kata Nurhalimah. Ia menempatkan ibu rumah tangga dalam hal ini memegang peran kunci.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Hadapilah Ramadhan dan Idul Fithri dengan hemat sesuai dengan kondisi kemampuan keluarga,” sarannya. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pondok Pesantren, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pelajar NU Cirebon Luncurkan "Sejuta Buku untuk Dhuafa"

Cirebon, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pimpinan cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) kabupaten Cirebon meluncurkan program "Gerakan Sejuta Buku Tulis untuk Dhuafa" di Kantor PCNU Kabupaten Cirebon, Sabtu (4/5).

Pelajar NU Cirebon Luncurkan Sejuta Buku untuk Dhuafa (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Cirebon Luncurkan Sejuta Buku untuk Dhuafa (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Cirebon Luncurkan "Sejuta Buku untuk Dhuafa"

Wahyono, ketua PC IPNU Kabupaten Cirebon menjelaskan, program penggalangan amal berupa buku tulis ini akan dilangsungkan selama dua bulan ke depan hingga memasuki tahun pelajaran baru 2013-2014. Kemudian akan dibagikan serentak untuk para siswa sekolah yang kurang mampu di wilayah Kabupaten Cirebon.  

“Pengumpulan sumbangan buku tulis ini akan dilakukan sampai memasuki awal tahun ajaran baru, jika dirasa sudah mencapai target, maka kami akan mendistribusikan ke sekolah-sekolah di Kabupaten Cirebon melalui pengurus komisariat baik IPNU maupun IPPNU di sekolahnya masing-masing,” jelas Wahyono.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sementara itu, ketua PC IPPNU Kabupaten Cirebon, Putri Hidayani mengatakan, bahwa program ini bermula dari keprihatinan karena melihat pelajar Indonesia yang masih kurang beruntung.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Mereka, sambung Putri, menghadapi keterbatasan untuk memenuhi fasilitas dalam menempuh pendidikan. Diharapkan, melalui program ini dapat sedikit mengurangi beban para siswa yang kurang mampu di Cirebon, “Saling berbagi sangat penting dilakukan demi memperingan beban teman-teman yang kurang beruntung,” papar Putri.

Peluncuran diakhiri dengan penyerahan sumbangan buku tulis secara simbolik oleh KH Faris Fuad Hasyim dari PC GP Ansor Kabupaten Cirebon, H. Zainal Arifin Waud, perwakilan dari DPRD Kabupaten Cirebon, serta KH. Hasan Bisri, mewakili PCNU Kabupaten Cirebon.

Peluncuran program "Gerakan Sejuta Buku Tulis Untuk Dhuafa" ini dihadiri puluhan pelajar dari pelbagai sekolah di Cirebon.

Redaktur        : Abdullah Alawi

Kontributor    : Sobih Adnan

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Sholawat, Quote, Budaya Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 12 Juli 2017

Materi Ketarunaan dan Bela Negara Masuk Kurikulum Pesantren As-Shidiqiyah

Karawang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Menyongsong tahun pelajaran baru 2016/2017, Pesantren Asshiddiqiyah Karawang membuat kurikulum yang berisi tentang hal-hal yang berkaitan dengan kenegaraan. Kurikulum ini diberi nama Ketarunaan dan Bela Negara.

"Kurikulum ini diadakan supaya santri tidak hanya pintar ngaji dan pelajaran sekolah. Tapi juga memiliki jiwa nasionalisme atau cinta akan tanah airnya," kata Pengasuh Pesantren Ashidiqiyah KH Hasan Nuri Hidayatullah dalam sambutannya pada pembukaan kurikulum baru ini di Pesantren Ashidiqiyah Karawang, Sabtu (30/7).

Materi Ketarunaan dan Bela Negara Masuk Kurikulum Pesantren As-Shidiqiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Materi Ketarunaan dan Bela Negara Masuk Kurikulum Pesantren As-Shidiqiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Materi Ketarunaan dan Bela Negara Masuk Kurikulum Pesantren As-Shidiqiyah

Rais Syuriyah PCNU Karawang ini menambahkan bahwa dalam pelaksanaan pendidikan kurikulum baru ini pihak pesantren akan bekerja sama dengan Polsek Cilamaya, Koramil Cilamaya, dan Satkorcab Banser Karawang. Hal ini dilakukan agar santri dapat lebih mendalami lagi tentang kedisiplinan, nasionalisme, dan peran ulama-santri dalam memperjuangkan NKRI.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Semoga kegiatan ini dapat membentuk sinergi antara pesantren, TNI dan Kepolisian dalam mempertahankan NKRI dari ancaman-ancaman kelompok yang ingin memecah belah NKRI," ujar kiai yang sering disapa Gus Hasan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ia sendiri sudah berkoordinasi dengan Koramil dan Polsek Cilamaya. Kedua institusi negara ini bersyukur dan mengapresiasi serta siap mendukung kurikulum baru di Pesantren Asshiddiqiyah Karawang.

"Pak Danramil dan Pak Kapolsek bersyukur karena di tengah kondisi bangsa dan generasi yang mulai jauh dari nilai-nilai kebangsaan, ada pesantren yang peduli untuk membentengi hal itu," ungkapnya.

Hadir dalam kegiatan ini Kapolsek Cilamaya, utusan Danramil Cilamaya, Komandan Satkorcab Banser Karawang, Aparat Desa Sukatani serta civitas akademik Pesantren Asshidiqiyah Karawang. (Aiz Luthfi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Sholawat, Nahdlatul Ulama, News Pondok Pesantren An-Nur Slawi

PMII Sepuluh Nopember Kembali Lahirkan Kader Baru

Surabaya, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Senin, (17/8) tepatnya saat fajar hari, PMII Sepuluh Nopember Surabaya kembali lahirkan kader perjuangan baru. Tak kurang sekitar 40 orang dilantik menjadi kader dari PMII Sepuluh Nopember. Upacara pelantikan yang dilaksanakan di Gedung MWC NU Sukolilo ini merupakan puncak dari acara Pelatihan Gerak Mahasiswa yang dimulai sejak hari Sabtu, (15/7) hingga hari Senin, (17/8).

PMII Sepuluh Nopember Kembali Lahirkan Kader Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Sepuluh Nopember Kembali Lahirkan Kader Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Sepuluh Nopember Kembali Lahirkan Kader Baru

Sebelumnya, kegiatan Pelatihan Gerak Mahasiswa untuk pelaksanaan hari pertama diadakan di Gedung Kementerian dan Kebudayaan BP-PAUDNI REG II, Surabaya. Untuk pelaksanaan hari kedua hingga pelantikan, lokasi pelatihan berada di Gedung MWC NU Sukolilo.?

Pada pelaksanaan hari pertama ada tiga materi yang diterima oleh peserta pelatihan ini. Begitu pula untuk pelaksanaan hari kedua, materi yang diterima oleh peserta ada tiga buah materi, namun ada tambahan sesi diskusi antara peserta pelatihan dengan panitia acara yang dalam hal ini adalah anggota PMII Sepuluh Nopember sendiri.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Materi pada hari pertama berupa bagaimana cara bertransformasi dari siswa menjadi mahasiswa yang dibawakan oleh Dr Agus Zainal Arifin SKom MKom. Materi kedua berupa bagaimana cara menjadi mahasiswa yang berprestasi yang dibawakan oleh Zahra S. Arfenti. Sedangkan materi terakhir dibawakan oleh lima orang kader PMII Sepuluh Nopember yang sukses di berbagai bidang meliputi wiraswasta, akademik maupun kepenulisan.

Pada pelatihan hari kedua, peserta mendapatkan materi keagamaan dari Ustadz Teguh Rahmanto atau biasa disebut dengan Cak Teguh. Selanjutnya peserta mendapatkan materi dari mantan presiden BEM ITS periode 2013/2014, adalah Mukhliks N. Said yang berkesempatan membagikan pengalamannya seputar keorganisasian di kampus. Materi terakhir adalah pengetahuan seputar PMII yang dibawakan oleh sahabat M. Imam Rahmat Fahmi yang juga ketua umum organisasi ini.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Lahirkan 40 Kader Baru

Pada malam harinya, tepatnya fajar hari Senin (17/8), sebanyak 40 kader baru PMII Sepuluh Nopember mengikuti proses pembaiatan yang dipimpin oleh sesepuh organisasi ini, Cak Imam Syuhadi, alumni Kimia ITS. Setelah prosesi pembaiatan dilakukan, diadakanlah sesi sharing antara sesepuh lain di organisasi ini, Cak Rahmad Puji. Ia menceritakan perjalanannya selama menjadi kader di badan otonom NU bagi mahasiswa ini. Ia berpesan pada kader baru PMII supaya mampu menjadi penggerak di kehidupan kampus maupun bermasyarakat.?

“Harapannya kader-kader seperti kalian bisa berperan aktif dalam kehidupan di kampus maupun masyarakat,” pungkasnya. (Ahmad Hanan/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Bahtsul Masail Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 11 Juli 2017

Tepuk Pundak untuk Jamaah

Salah satu hal yang lazim dilakukan dalam shalat sehubungan dengan proses jamaah adalah menjadikan seseorang sebagai imam dengan cara menepuk pundaknya di tengah-tengah shalat. Secara fiqih hal ini dibolehkan (mubah), bahkan disunnahkan jika tepukan itu memberi tanda bahwa yang bersangkutan telah didaulat menjdi imam. Sebagaimana diterangkan dalam Fathul Mu’in

 

(? ?) ? ? (? ? ? ? ?) ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ?.

Tepuk Pundak untuk Jamaah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tepuk Pundak untuk Jamaah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tepuk Pundak untuk Jamaah

 

“Niat menjadi imam atau berjama’ah bagi imam adalah sunah, di luar shalat jum’ah, karena untuk mendapatkan keutamaan berjama’ah. Seandainya ia niat berjama’ah di tengah mengerjakan shalat maka ia mendapatkan keutamaan itu. Adapun dalam shalat jum’ah wajib baginya niat berjama’ah saat takbiratul ihram”.      

Dalil di atas menunjukkan kesunnahan niat sebagai imam walaupun niatnya baru ada di tengah shalat. Karena bagaimanapun juga shalat Jama’ah jauh lebih utama dari pada shalat sendirian.

Akan tetapi jika sekiranya tepukan di pundak itu terlalu keras hingga mengagetkan imam dan membatalkan shalatnya, maka hukumnya menjadi haram. Sebagaimana diterangkan dalam kitab Mauhibah Dzil Fadl

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

 

(?) ? ? ? (?) ? ? ? (? ? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. (? ? ? ? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

 

“Haram bagi siapa pun bersuara keras jika mengganggu jama’ah yang lain, baik di dalam shalat maupun di luar shalat karena membahayakan, seperti (memperingatkan) orang yang sesat, orang yang membaca atau orang yang tidur. Tidak boleh mengganggu walaupun terhadap orang yang fasik karena kefasikan itu tidak ada yang tahu kecuali dirinya. Pendapat yang mengharamkan tersebut itu jelas, namun bertentangan dengan pendapat dalam kitab al-Majmu’ dan sesamanya. Tidak diharamkannya jika kesemuanya tidak terlalu mengganggu.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

(Pengertian tidak haram jika gangguannya ringan), yakni yang dimaksud oleh mushannif (pengarang) adalah haram jika sangat mengganggu. Dalam ungkapan kitab al-I’ab bahwa keterangan dalam kitab al-Majmu’ (yang tidak mengharamkan) adalah jika tidak terlalu mengganggu kepada orang lain sehingga dapat ditoleransi, berbeda jika suara keras tersebut sampai membatalkan bacaan (shalat) secara keseluruhan, maka hukumnya haram”. (ulil)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi News, Pertandingan, Habib Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Benarkah Tasawuf Biang Kemunduran Umat Islam?

Surabaya, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Tasawuf memang sering mendapatkan kritikan dan tuduhan menyakitkan. Beberapa orientalis dan pemikir Muslim sendiri tidak sedikit yang menuduh tasawuf menjadi biang kemunduran peradaban Islam. Tasawuf dituduh sebagai ‘virus’ yang menghambat kemajuan dan menyebabkan ketertinggalan dunia muslim dalam kancah peradaban modern. Ajaran dan doktrin-doktrin tasawuf dianggap tidak relevan dengan spirit era global dan modernisme. 

Begitupun, kelompok-kelompok Islam puritan menganggap tasawuf sebagai bid’ah dan khurafat yang menyesatkan, seperti kita lihat akhir-akhir ini dengan kemunculan kelompok Islam radikal-puritan/salafi-wahabi. 

Benarkah Tasawuf Biang Kemunduran Umat Islam? (Sumber Gambar : Nu Online)
Benarkah Tasawuf Biang Kemunduran Umat Islam? (Sumber Gambar : Nu Online)

Benarkah Tasawuf Biang Kemunduran Umat Islam?

“Padahal bila kita baca dalam sejarah, banyak para sufi yang justru memajukan peradaban Islam. Para sufi dikenal dengan keilmuannya yang ensiklopedis. Kita bisa sebutkan seperti Syekh Sahl At-Tasturi, sufi yang ahli tafsir. Syekh Ibnu Arabi, sufi yang mengedepankan tasawuf-falsafi dikenal pula sebagai ahli tafsir dan hadits. Syekh Ibnul Farid  dan Syekh Fariduddin Al-Aththar adalah dua figur sufi yang dikenal luas sebagai sastrawan,” kata Kiai Said Aqil dalam pidato pengukuhan guru besar Ilmu Tawasuf di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Sabtu (29/11).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Demikian pula, ia menjelaskan banyak sarjana-sarjana muslim yang menyatakan bahwa apa yang disebut tasawuf tak lebih dari etika Islam. Karenanya, tasawuf cukup saja diberi label sebagai moralitas Islam. Tujuan tasawuf dalam hal ini adalah sama dengan tugas Nabi Muhammad Saw., yaitu: ”Tidaklah Aku diutus kecuali hanya untuk menyempurnakan akhlak yang luhur”.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Menurut hemat Saya, pendapat tersebut tidak benar. Cakupan tasawuf bukan sekedar etika, tapi lebih penting dari itu tasawuf mengurai dan berkecimpung dalam wilayah estetika. Tasawuf tidak lagi bicara soal baik buruk, tapi berbicara tentang sesuatu yang indah. Ia selalu mengaitkan dengan jiwa, roh, dan intuisi. Ia tidak hanya membangun dunia yang bermoral, tapi juga sebuah dunia yang indah dan penuh makna.” 

Ia menegaskan, tasawuf melampaui apa yang diserap oleh pikiran, perilaku dan perasaan manusia secara penampakan. Tasawuf tidak bisa diturunkan derajatnya hanya semata perbuatan yang secara lahiriah sebagai kebajikan seperti, bersedekah atau kebajikan sosial lainnya. Bukan pula, tasawuf diidentikkan secara ekstrem sebagai wahana untuk memperbanyak ibadah (katsrah al-ibadah) khususnya yang sifatnya ritual. Tarekat pun yang dipandang sebagai pelembagaan dari praktik tasawuf tidak mesti disejajarkan dengan makna tasawuf. 

“Apalagi, tasawuf kemudian disamakan dengan ilmu hikmah yang berfungsi sebagai pengobatan dan penyembuhan segala problem konkrit manusia yang lebih bersifat instan. Misalnya karya Imam Ali Al-Buni yaitu kitab Syamsul Al-Ma’arif atau juga karya Imam Ad-Dairabi yaitu kitab Al-Mujarrabat,” tandasnya.

Tasawuf, kata Kiai Said yang menyelesaikan doktornya di universitas Ummul Qura Makkah, bukan pula spiritualitas yang sekedar menjadi tempat pengasingan diri. Tasawuf berusaha menampilkan visi keagamaan yang otentik yang mengarahkan diri untuk melampaui diri. Sebuah visi yang tepat dalam menafsirkan dunia, dunia lain di luar dunia ini yang mungkin ada dan melingkupi seluruh realitas. Sebuah komitmen yang lebih besar dari sekedar tujuan perkembangan pribadi dan spiritualitas semata. Sebuah obsesi yang lebih tinggi dari sekedar pemahaman hidup di dunia dan materi. 

“Karena tasawuf merupakan bentuk dari ajaran Islam itu sendiri, maka ia banyak menjanjikan untuk memenuhi hasrat hidup manusia seutuhnya dari pada janji-janji spiritualisme sekejap. Ia bukan hanya untuk memahami realitas alam, tetapi ia juga untuk memahami eksistensi dari tingkat yang paling rendah hingga yang paling tinggi, yaitu kehadiran Allah (tajalli).” (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pahlawan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Peran Pendidikan di Keluarga di Mata Ki Hadjar Dewantara

Jombang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Tidak banyak yang mengetahui bahwa Ki Hadjar Dewantara memiliki pandangan cemerlang terkait masalah pendidikan dalam keluarga. Dalam seminar hukum keluarga yang berlangsung di Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang, sejumlah gagasan Ki Hajar yang jarang diketahui banyak mengemuka.

"Keluarga bagi Ki Hajar Dewantara adalah pendidikan yang utama," kata salah seorang narasumber seminar Chafid Wahyudi, Ahad (24/4).

Peran Pendidikan di Keluarga di Mata Ki Hadjar Dewantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Peran Pendidikan di Keluarga di Mata Ki Hadjar Dewantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Peran Pendidikan di Keluarga di Mata Ki Hadjar Dewantara

Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya ini mengemukakan bahwa alam keluarga adalah tempat terbaik untuk melakukan pendidikan, tidak terkecuali pendidikan sosial, lanjutnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pengurus Lembaga Talif wan Nasyr (LTN) NU Kota Surabaya ini memaparkan sejumlah kritik yang disampaikan Ki Hadjar Dewantara terhadap institusi pendidikan termasuk kampus yang semata hanya memandang peserta didik tidak ubahnya sebagai hubungan bisnis.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Sistem pendidikan kita terjebak pada komersialisasi," kata dia.

Secara lebih detail, Chafid menjelaskan pandangan Ki Hadjar Dewantara terkait keluarga. "Pertama, orang tua dalam pendidikan keluarga berperan sebagai guru atau penuntun, pengajar dan pemimpin pekerjaan atau pemberi contoh," terangnya.

Tiga peran ini merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari orang tua saat berada di rumah, lanjutnya.

Sedangkan yang kedua, dalam alam keluarga, anak saling mendidik. "Semakin keluarga itu besar, maka proses pendidikan semakin besar," kata pegiat literasi ini. Hal ini juga berlaku kebalikannya. "Semakin kecil keluarganya, maka proses pendidikan akan semakin kecil," ungkapnya.

"Ketiga, anak-anak berkesempatan mendidik dirinya sendiri," katanya. Lebih jelas, Chafid mengemukakan dalam alam keluarga mereka tidak berbeda kedudukannya seperti orang hidup di masyarakat. "Beragam kejadian, sering kali memaksa anak-anak mendidik diri mereka sendiri," lanjutnya.

Ketika keluarga absen dalam pendidikan, maka keberadaan lembaga pendidikan formal hanya mengeksploitasi intelektualitas serta menjadi materialistis. Kalau hal ini terus menerus dilanjutkan, sistem pendidikan hanya akan menghasilkan produk-produk keras di fisik namun rapuh di jiwa. "Pada gilirannya membentuk sikap individualistik sehingga tidak ramah terhadap alam," pungkasnya.

Seminar hukum keluarga ini diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Akhwal as-Syakhsiyyah Fakultas Ilmu Agama Islam Unipdu. Di samping Chafid Wahyudi, tampil pula Hasan Ikhwani dari ITS. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kajian, Fragmen, AlaNu Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 09 Juli 2017

GP Ansor-Pemuda Katolik Pringsewu Inisiasi Forum Lintas Agama

Pringsewu, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Pringsewu dan Komisariat Cabang (Komcab) Pemuda Katolik Kabupaten Pringsewu menggelar acara Silaturahmi Kebangsaan di aula gedung PCNU Pringsewu, Lampung, Sabtu (15/04).

Acara tersebut dihadiri Kasat Intel Polres Tanggamus IPTU Andy Yunara, Ketua PC GP Ansor Pringsewu M. Sofyan, Ketua Komcab Pemuda Katolik Pringsewu R. Didi Budiawan C, Kasatkorcab Banser Pringsewu Sunarman, dan para kader dari kedua organisasi kepemudaan tersebut.

GP Ansor-Pemuda Katolik Pringsewu Inisiasi Forum Lintas Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor-Pemuda Katolik Pringsewu Inisiasi Forum Lintas Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor-Pemuda Katolik Pringsewu Inisiasi Forum Lintas Agama

Dalam sambutannya, Ketua Komcab Pemuda Katolik menyampaikan rasa bangga dan senang atas respon yang diberikan oleh GP Ansor dengan mengizinkan organisasinya menjalin tali silaturahim dalam rangka saling bertukar pengalaman di bidang keorganisasian dan sosial kemasyarakatan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Didi Budiawan juga menyampaikan bahwa tujuan diadakannya silaturahmi tersebut adalah untuk saling mengenal dan membahas beberapa kesamaan misi organisasi antara Pemuda Katolik dan GP Ansor. Selain itu, dirinya dan organisasinya juga berkomitmen serta konsisten dalam menjaga kerukunan dan toleransi beragama bersama GP Ansor.

Hal senada juga disampaikan oleh M. Sofyan, dalam sambutannya Sofyan juga sangat senang bisa bersilaturahmi dengan Pemuda Katolik. Menurutnya, meski berbeda agama namun tetap bersama-sama untuk terus menjaga kerukunan dan toleransi beragama. Yang tidak kalah pentingnya adalah antara GP Ansor dan Pemuda Katolik sepakat bahwa NKRI adalah harga mati.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dirinya juga menginisiasi agar di Kabupaten Pringsewu ini dibentuk Forum Pemuda Lintas Agama. Dalam wadah ini, seluruh organisasi kepemudaan dari berbagai agama yang ada bersatu padu untuk membangun sinergi menjaga toleransi beragama dan menjaga empat pilar kebangsaan yaitu Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945.

Sementara itu, Kasat Intel Polres Tanggamus sangat mengapresiasi terselenggaranya acara tersebut. Menurutnya, pemuda adalah aset bangsa yang harus dijaga dan dimonitor dengan baik agar pemuda benar-benar terarah pada hal-hal yang positif sehingga mereka dapat berkontribusi terhadap masyarakat, bangsa dan negara sesuai dengan potensi yang dimiliki masing-masing.

IPTU Andy juga menegaskan bahwa pihaknya sangat mendukung dan meminta kegiatan seperti ini terus dilanjutkan, tidak hanya antara GP Ansor dan Pemuda Katolik saja tetapi seluruh elemen organisasi kepemudaan dari berbagai agama juga dilibatkan.

Dari hasil kegiatan tersebut, disepakati beberapa poin kesamaan misi di antaranya adalah mereka sepakat untuk tetap menjalin tali silaturahim dan menjaga toleransi beragama, sepakat bahwa NKRI adalah harga mati yang harus dijaga dari rongrongan kelompok radikal yang mencoba untuk memecah belah persatuan dan kesatuan. Mereka juga sepakat untuk membentuk Forum Pemuda Lintas Agama yang akan disusun bersama pihak kepolisian dan organisasi kepemudaan lainnya.

Acara Silaturahmi tersebut ditutup dengan pemberian kenang-kenangan dari GP Ansor kepada Pemuda Katolik dan foto bersama sebagai simbol kebersamaan dalam keberagaman serta bersatu padu dalam membangun negeri. (Henudin/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ulama Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Forum PCINU Bakal Warnai Muktamar ke-33 NU

Jombang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Panitia lokal muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum (PPBU), mengundang lebih dari 20 Pimpinan Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) untuk hadir dalam acara “Forum Diskusi dan Reuni PCINU Internasional” yang rencananya akan ditempatkan di Pondok Pesantren al-Muhajirin 3 Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang.

Forum PCINU Bakal Warnai Muktamar ke-33 NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Forum PCINU Bakal Warnai Muktamar ke-33 NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Forum PCINU Bakal Warnai Muktamar ke-33 NU

Acara forum diskusi ini akan berjalan di sela-sela muktamar ke-33 NU berlangsung, yakni tanggal 1, 2, 4, dan 5 Agustus 2016. Target acara ini adalah mempertemukan kaum nahdliyin yang berada di luar negeri, baik yang masih aktif maupun yang sudah purna.

“Tanggal 3 Agustus sengaja dikosongkan karena pada tanggal tersebut di masing-masing pesantren dipakai sidang komisi. Jadi Pondok Pesantren Tambak Beras sepakat mengosongkan semua kegiatan muktamar pada tanggal tersebut, dan mengharuskan semua untuk fokus ke sidang komisi,” kata ketua panitia Latif Malik kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi, Rabu (28/7).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Acara ini akan diisi dengan diskusi berbagai tema penting, seperti krisis Timur Tengah dan materi muktamar ke-33 NU. “Forum ini akan dibuat santai, mengingat peserta muktamirin dalam forum muktamar biasanya sudah jenuh dengan materi utama muktamar, jadi yang kita tekankan adalah mempererat silaturrahim antar PCINU,” kata pria yang akrab disapa Gus Latif ini.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dalam forum di atas, panitia akan memberikan berbagai fasilitas untuk peserta, di antaranya adalah 12 kamar penginapan, terdiri dari 8 putra dan 4 putri. Selain itu, peserta juga akan mendapat kartu identitas peserta dan kartu parkir, serta konsumsi tentu saja. Tamu yang diundang dari luar daerah ini juga dapat meminta panitia untuk menjemput mereka di lokasi terdekat, seperti bandara, stasiun kereta api, dan terminal bus.

Untuk konfirmasi kehadiran dan informasi lebih lanjut, peserta bisa menghubungi M. Najih Arromadloni sebagai pelaksana, di nomor ponsel 081938299525. (Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Doa Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 06 Juli 2017

25 Tim Bertarung di LSN Region Banten

Tengerang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Liga Santri Nusantara (LSN) Region Banten mulai digelar. 25 tim sepakbola dari berbagai Pondok Pesantren di Banten tersebut ikut berlaga untuk memperebutkan posisi yang akan mewakili Banten di LSN Nasional.

25 Tim Bertarung di LSN Region Banten (Sumber Gambar : Nu Online)
25 Tim Bertarung di LSN Region Banten (Sumber Gambar : Nu Online)

25 Tim Bertarung di LSN Region Banten

Pembukaan liga santri tersebut ditandai dengan dilakukannya tendangan pertama (kick off) oleh Kepala Dinas Pemuda Olah Raga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Tangerang, Ahmad Taufik dan Ketua Pengurus Cabang Nahdatul Ulama Kabupaten Tangerang, KH Encep Subandi di Stadion Mini Solear, Desa Munjul, Kecamatan Solear, Kabupaten Tengerang, Banten, Senin (28/8).

25 tim yang bertanding tersebut berasal dari enam pesantren di Kabupaten Tangerang, satu pesantren di Kota Tangerang, tiga pesantren di Kota Tangsel, tujuh pesantren di Kabupaten Serang, empat pesantren di Lebak, satu pesantren di Pandeglang dan dua pesantren di Cilegon.

Koordinator LSN Region Banten, Ahmad Fauzi mengatakan event yang sudah ketiga kalinya digelar tersebut bertujuan untuk mencari bibit pemain sepakbola dari kalangan pesantren yang saat ini di Indonesia jumlah ribuan santri. Dari jumlah tersebut, Fauzi menyakini, ada santri yang memiliki potensi sebagai atlet sepakbola yang bisa dikembangkan sampai tingkat profesional.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Pesanten inheren dengan sepakbola, mereka sudah terbiasa bermain sepakbola dimanapun, bahkan dengan sarungan. Kebiasaan mereka bermain sepakbola itu kita fasilitasi melalui liga ini," ujarnya.

Fauzi mencontohkan, hasil dari liga santri sebelumnya yaitu munculnya sosok Rafli, atlet sepakbola yang saat ini sudah bergabung dipelatnas timnas U-19. Rafli adalah striker tim dari pesantren Al Ashariyah, Kabupaten Tangerang pernah berlaga di LSN Region Banten tahun sebelumnya.

Ditambahkan Fauzi, LSN Region Banten tersebut akan berlangsung hingga 9 September 2017, kemudian tim yang berhasil meraih juara satu, akan mewakili Banten masuk ke semifinal LSN tingkat nasional yang akan digelar pada bulan Oktober 2017 di Bandung.

Ketua Pelaksana LSN Region Banten, Khoirun Huda mengatakan peserta yang mengikuti event tersebut harus memenuhi kriteria khusus yang sudah ditetapkan oleh pihak panitia.

"Salah satu persyaratannya, usia pemaon maksimal 17 tahun yang dibuktikan dengan kartu santri, ijazah atau akte kelahiran," ujarnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Lebih jauh Huda mengatakan Liga santri ini terselenggara atas kerjasama antara Kemenpora dengan Rabithah Maahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) atas inisiasi Kader muda NU Ahmad Muhaimin Iskandar. " saya berharap kedepan Liga Santri ini bisa mandiri dan menjadi Liga profeaional". Imbuhnya

Sementara itu, Ahmad Taufik, Kepala Disporabudpar Kabupaten Tangerang mengatakan pagelaran LSN menjadi ajang strategis yang menjadi wadah santri berkompetisi dan berprestasi dalam olah raga sepakbola. Ia berharap ajang ini dimanfaatkan secara maksimal oleh santri untuk bisa mengukir prestasi hingga ditingkat nasional.

"Kami berharap akan muncul atlet-atlet muda berprestasi dari kalangan pesantren melalui LSN ini," ungkapnya.

Ia juga mengatakan akan memberikan dukungan bagi pengembangan atlet sepakbola dari kalangan santri tersebut.

"Kami memberikan kesempatan yang sama seperti atlet lainnya, tentunya kami akan memberikan dukungan," tandasnya.

Pada saat pembukaan LSN Region Banten tersebut digelar tiga kali pertandingan dari enam tim sepakbola. (Khoirun Huda/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Hikmah, Ubudiyah, Habib Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Mesantren Tanpa Biaya, Program Unggulan RMI Cirebon

Cirebon, Pondok Pesantren An-Nur Slawi 

Pengurus Rabithah Maahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) Kabupaten Cirebon mengadakan pelantikan pengurus masa khidmah 2017-2022 di Pondok Pesantren Assalafiyah Bode, Plumbon, Jumat (10/11). Pelantikan ditandai dengan launching program unggulan dan penandatanganan kerja sama dengan sejumlah lembaga.

Program-program yang diluncurkan adalah Mondok Mesantren Tanpa Biaya (Mantab), beasiswa kuliah sambil bekerja di Taiwan bagi lulusan pondok pesantren, dan penguatan kerja sama antar-pesantren melalui deklarasi Ikatan Roisul Maahid (Ikrom).

Mesantren Tanpa Biaya, Program Unggulan RMI Cirebon (Sumber Gambar : Nu Online)
Mesantren Tanpa Biaya, Program Unggulan RMI Cirebon (Sumber Gambar : Nu Online)

Mesantren Tanpa Biaya, Program Unggulan RMI Cirebon

Pelantikan dihadiri perwakilan RMI PBNU KH Arwani Syaerozi, Ketua RMI NU Jawa Barat KH Amin Maulana, Ketua MUI Kabupaten Cirebon KH Bahrudin Yusuf, serta para ulama dan kiai pondok pesantren di Cirebon. Tampak pula para bakal calon bupati dan wakil bupati yang merupakan kader NU.

Sementara itu, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Cirebon, KH Aziz Hakim Syaerozi mengapresiasi keseriusan pengurus RMI NU dalam penguatan jamiyah melalui sejumlah program unggulan. Ia berharap sejumlah terobosan direalisasikan secara maksimal dan terus menerus, sehingga manfaatnya dapat dirasakan bagi warga NU.

Bila hal itu sudah tercapai, ia berharap makin banyak orang tua yang menitipkan anak-anaknya di pesantren.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"NU ingin mendorong agar makin banyak orang tua yang mempercayakan anaknya untuk dididik di pesantren. Meskipun hari ini kita menghadapi banyak tantangan eksternal yang membuat pesantren belum dilirik oleh mayoritas masyarakat," kata pembina Pesantren Assalafie Babakan, Ciwaringin itu.

Salah satu cara PCNU Kabupaten Cirebon untuk menumbuhkan minat adalah dengan membantu masyarakat dari kalangan tidak mampu melalui program Mondok Mesantren Tanpa Biaya (Mantab). Program yang bekerjasama dengan pondok pesantren dan para donatur warga NU itu dianggap manfaatnya sangat besar.

Selain memberikan kesempatan kepada anak dari keluarga tidak mampu untuk belajar agama dan ilmu umum di lingkungan pesantren, lanjut dia, juga menjadi strategi persuasif mengikis pemahaman agama radikal dan menguatkan karakter Islam ramah.

"Sebagaimana kita tahu, banyak pelaku terorisme dan radikalisme atas nama agama berasal dari keluarga tidak mampu atau masalah ekonomi," kata Kang Aziz.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rais Syuriah PCNU Kabupaten Cirebon, KH Wawan Arwani Amin juga berharap gema program itu tidak hanya gelegar di awal tetapi terus berjalan dengan baik.

Kang Wawan juga memaparkan tentang sejarah peran pesantren yang begitu besar untuk bangsa. Pesantren juga harus terus menunjukkan perannya dalam memberikan solusi masyarakat dan bangsa.

Sejauh ini, sambungnya, lulusan pesantren yang menjadi ulama, kiai, ustad dan dai relatif sedikit sekitar 20 persen. Karena itu, tugas RMI NU di bawah kepemimpinan KH Badrudin Hambali untuk juga fokus membantu menyiapkan ruang atau lahan profesional bagi lulusan pesantren.

"Tantangan RMI hari ini di antaranya memastikan lulusan pesantren masuk pada berbagai dimensi kehidupan, misal ruang profesional, karir, dan lainnya yang positif. Tidak melulu jadi ulama," kata Pengasuh Pesantren Buntet itu.

Dari launching program yang dimunculkan dalam pelantikan, dianggap Kang Wawan merupakan kecerdasan RMI memotret kondisi zaman. Pihaknya bangga RMI NU bekerjasama dengan mitra strategis dalam menyiapkan calon profesional dari lulusan pesantren untuk bekerja dan kuliah di luar negeri.

"Saya rasa harus banyak pilihan untuk menyiapkan lulusan pesantren agar dapat masuk ke dunia profesional atau karir," tukas dia. (Kalil Sadewo/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Santri, Makam, Nahdlatul Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 05 Juli 2017

Rakornas PMII Bakal Dipusatkan di Tiga Titik

Mataram, Pondok Pesantren An-Nur Slawi   

Panitia Rapat Koordinasi Nasional Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang bakal dihelat pada 3-5 September nanti di Lombok, Nusa Tenggara Barat terus mematangkan persiapan. Rencananya, Rakornas akan dipusatkan di tiga lokasi.

Ketiga lokasi tersebut antara lain adalah di Islamic Center NTB untuk acara pembukaan, di Pondok Pesantren Nurul Islam Kekalik Mataram untuk acara istighotsah, dan di Asrama Haji Narmada Lombok Barat untuk pembahasan materi Rakornas.

Rakornas PMII Bakal Dipusatkan di Tiga Titik (Sumber Gambar : Nu Online)
Rakornas PMII Bakal Dipusatkan di Tiga Titik (Sumber Gambar : Nu Online)

Rakornas PMII Bakal Dipusatkan di Tiga Titik

Panitia Rakornas Pengurus Besar PMII juga sudah menemui  DR. Hj Nurul Yaqin, salah satu alumni Korps PMII Putri (Kopri) Kota Mataram di kediamannya di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Kehadiran panitia tersebut dalam rangka melaporkan agenda berskala nasional itu.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Kami laporankan kesiapan kegiatan kepada ‘orang tua’ bahwa sejauh ini pesiapan kami sudah mencapai 90 persen," kata Bahaidian, Ketua Pengurus Koordinator Cabang PMII NTB, selaku panitia daerah, Jumat (28/8).

Menurut Obok, sapaan akrabnya, Panitia Daerah bersama Panitia Nasional sudah mantap menggelar kegiatan berskala nasional itu. Ia berharap Rakornas PMII bisa berjalan sesuai dengan harapan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Wahyu Satriadi, Ketua Panitia Nasional, di tempat yang sama meminta kepada badan otonom (Banom) dan lembaga NU lainnya untuk tidak membuat agenda pada saat Rakornas berlangsung.

"Kami harapkan kepada Sahbat-sahabat Pimpinan Badan Otonom dan lembaga NU agar tidak membuat agenda di saat yang sama. Mari pusatkan kegiatan di satu tempat, khususnya pada pembukaan," pintanya. (Hadi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Amalan, Kiai Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Israel Copot Detektor Logam, Umat Islam Diimbau Kembali Hidupkan al-Aqsa

Jerusalem, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Para pemuka agama di Yerusalem, Kamis (27/7), meminta umat Islam untuk melanjutkan shalat di Masjid al-Aqsa setelah Israel membuka semua penghalang yang dipasang selama dua minggu terakhir.

Seperti dilaporkan kantor berita Palestina WAFA, setelah melakukan pertemuan di Yerusalem, mereka memutuskan untuk menyeru kepada umat Islam Palestina agar kembali menunaikan sembahyang di dalam kompleks Masjid al-Aqsa.

Israel Copot Detektor Logam, Umat Islam Diimbau Kembali Hidupkan al-Aqsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Israel Copot Detektor Logam, Umat Islam Diimbau Kembali Hidupkan al-Aqsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Israel Copot Detektor Logam, Umat Islam Diimbau Kembali Hidupkan al-Aqsa

Seruan tersebut dikumandangkan menyusul komite teknis Waqf berkesimpulan bahwa semua penghalang yang dipasang Israel di luar gerbang kompleks al-Aqsa telah dibersihkan.

Israel mencopot penghalang terakhir Kamis dini hari, beberapa hari setelah melepaskan detektor logam yang ditempatkan di luar Gerbang Lions yang mengarah ke kompleks al-Aqsa.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sejak 14 Juli warga Palestina bersikeras memindahkan semua penghalang tersebut, berharap kehidupan dalam kompleks Masjid al-Aqsa kembali normal. Mereka memandang, upaya Israel memperketat penjagaan di kompleks masjid tersebut sebagai simbol kontrol dan penguasaan atas Masjid.



Pondok Pesantren An-Nur Slawi

(Baca: Situasi Masjid al-Aqsa Memanas, PBB Keluarkan Kecaman)


Selama lima hari ribuan umat Islam telah mengadakan shalat di jalanan dan gang-gang yang menuju ke Masjid sebagai bentuk protes terhadap perlakuan Israel.

Para pemimpin Muslim mengumumkan bahwa shalat subuh pada Kamis diadakan di dalam Masjid. Mereka juga menyerukan penutupan semua masjid di Yerusalem pada hari Jumat sehingga orang dapat mengadakan shalat Jumat siang di Masjid al-Aqsa. Puluhan ribu orang diharapkan hadir di Yerusalem untuk shalat Jumat. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Fragmen, Santri, Olahraga Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 03 Juli 2017

Peringati 17 Agustus, 6000 Banser Apel Akbar

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Dalam rangka memperingati hari ulang tahun ke-68 Republik Indonesia, sedikitnya 6000 personel Barisan Ansor Serbaguna (Banser) se-Jawa Timur menggelar apel akbar di kota Malang. Apel akbar rencananya akan digelar pada Sabtu (24/8).

Peringati 17 Agustus, 6000 Banser Apel Akbar (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati 17 Agustus, 6000 Banser Apel Akbar (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati 17 Agustus, 6000 Banser Apel Akbar

Demikian dikatakan Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor (PP GP Ansor) M Aqil Irham di kantor pusat GP Ansor jalan Kramat Raya nomor 65A, Jakarta Pusat, Selasa (20/8) malam.

“Upacara apel akbar itu juga mencakup kegiatan halal bihalal usai lebaran,” kata M Aqil Irham yang juga tengah mengoreksi puluhan SK buat pengurus cabang GP Ansor.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dalam kaitan apel akbar, lanjut M Aqil Irham, GP Ansor mengambil momentum ini untuk upaya konsolidasi organisasi di samping memantau persiapan peringatan puncak harlah ke-79 GP Ansor di bulan November tahun ini.

Apel akbar digelar untuk merenungkan kembali makna kemerdekaan RI, tambah M Aqil Irham. Kemerdekaan mesti dipahami dalam makna merdeka secara hakiki. Merdeka secara politik, ekonomi, dan budaya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kemerdekaan RI yang berulang setiap tahun harus diperingati dengan makna, bukan sekadar peringatan rutin belaka. Dalam rangka memperingati kemerdekaan semua kalangan masyarakat termasuk pemerintah membutuhkan waktu senggang untuk memberikan makna terhadap kemerdekaan itu sendiri, imbuh M Aqil Irham.

Dari renungan itu masyarakat akan melihat capaian-capaian dan kekurangan-kekurangan yang harus dibenahi mulai dari masalah penyelewengan wewenang, persoalan keamanan, kesejahteraan, kekeliruan kebijakan, lingkungan hidup dan seterusnya, tandas Aqil Irham.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Aswaja, Meme Islam, Lomba Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 02 Juli 2017

PMII Latih Santri Az-Zahra Kelola Website

Jepara, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Sains dan Teknologi Unisnu Jepara melatih santri SMK Az-Zahra Mlonggo, Jepara, Jawa Tengah untuk mengelola Website.?

Kegiatan bertema Membangun Aplikasi Berbasis Web Menggunakan HTML, CSS Bootstrap dan PHP itu dilaksanakan di ruang Multimedia Jum’at-Sabtu (1-2/4) lalu.?

PMII Latih Santri Az-Zahra Kelola Website (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Latih Santri Az-Zahra Kelola Website (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Latih Santri Az-Zahra Kelola Website

Pada sesi pertama dan kedua, peserta memperoleh materi Instalasi, HTML Dasar, CSS, dan Bootstrap. Pada pertemuan berikutnya yang akan dilaksanakan Jumat-Sabtu (8-9/4) mendatang, peserta akan diberikan materi PHP Dasar dan Pengujian APP.?

Dalam pelatihan yang berlangsung 4 hari itu, Teguh Zulianto Ketua PMII Rayon Sains dan Teknologi menyatakan, dengan kegiatan itu pihaknya berkeinginan menjadikan generasi muda menjadi produktif dan bukan generasi konsumtif.?

Agar menjadi kader yang produktif dirinya memaparkan dengan kegiatan-kegiatan yang positif cita-cita itu bisa tercapai.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kegiatan pelatihan website ada kaitannya dengan jurusan yang dimiliki oleh SMK Az-Zahra yakni Multimedia. Salah satu mata pelajaran yang diterima oleh santri adalah Mengisi Halaman Website.?

Sehingga kegiatan itu menurut Khoirul Khakim bisa menjadi sarana untuk mengembangkan web, desain, dan programmer yang andal. Salah satu pengajar mapel produktif itu juga membeberkan pandai mengelola website bisa dimanfaatkan untuk jual beli online.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Dengan jualan online, santri bisa mendapat keuntungan. Adapun masyarakat yang dagangannya dijualkan bisa tambah terangkat harkat martabatnya,” imbuh dia.?

Nurul Khikmatul AM, salah satu peserta yang kali pertama mengikuti kegiatan mempunyai rasa ingin tahu ke tahap yang berikutnya. Apalagi materi tentang web baru ia dapatkan ? di kelas XI nanti.?

“Saya ingin bisa belajar lagi tentang web agar bisa otak-atik HTML lebih dalam,” harap dia yang juga santri pesantren Az-Zahra. (Syaiful Mustaqim/Fathoni) ? ?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Tokoh, Halaqoh Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 01 Juli 2017

Mengunjungi Makam Siti Fatimah Binti Maimun

Gresik, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Makam Siti Fatimah Binti Maimun terletak di desa Leran kecamatan Manyar atau sekitar 7 km sebelah utara kota Gresik. 

Tidaklah susah untuk menemukan desa Leran. Desa tersebut terletak di tepi jalan Daendels (jalan yang memanjang dari ujung timur-ujung barat pulau Jawa) yang menghubungkan Gresik-Lamongan-Tuban. Selain itu, desa Leran juga berada tidak jauh dari gerbang Tol Manyar yang menghubungkan Gresik dengan Surabaya dan Sidoarjo.

Mengunjungi Makam Siti Fatimah Binti Maimun (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengunjungi Makam Siti Fatimah Binti Maimun (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengunjungi Makam Siti Fatimah Binti Maimun

Desa Leran merupakan daerah pesisir utara pulau Jawa dan menjadi tempat yang pertama dituju Syekh Maulana Malik Ibrahim dan Siti Fatimah Binti Maimun saat tiba di tanah Jawa. Di daerah tersebut, terdapat sebuah masjid yang didirikan Syekh Maulana Malik Ibrahim saat pertama kali menyebarkan Islam di tanah Jawa. Adanya sisa-sisa kehidupan bandar adalah bukti bahwa dulunya desa tersebut kota bandar besar.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selain dikenal sebagai kawasan industri, kecamatan Manyar juga dikenal sebagai kawasan santri. Masyarakat Manyar dikenal begitu kuat dengan tradisi Islamnya. Ditambah lagi,  banyaknya pesantren yang berdiri di kecamatan tersebut semakin menguatkan kesan kecamatan Manyar sebagai kawasan santri. Salah satu pondok yang berdiri disana adalah PP Mambaus Sholihin Suci yang diasuh oleh KH Masbukhin Faqih.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Makam Siti Fatimah terletak di dalam sebuah cungkup persegi dengan luas 4x6 M dan tinggi 16 M. Cungkup tersebut berbahan batu kapur yang diambil dari gunung Suci, Manyar. Berbeda dengan bangunan makam wali pada umumnya, cungkup makam Siti Fatimah Binti Maimun menyerupai sebuah candi pada masa Hindu-Budha. Konon, cungkup itu dibangun oleh seorang raja Budha yang hendak mempersunting Siti Fatimah.

Selain makam Siti Fatimah Binti Maimun, didalam cungkup tersebut juga terdapat makam 4 dayangnya, yakni Putri Seruni, Putri Keling, Putri Kucing, dan Putri Kamboja. Sedangkan di luar cungkup, terdapat beberapa makam kerabat Siti Fatimah yang konon turut mengantar Siti Fatimah menyebarkan Islam di tanah Jawa. Menariknya, diantara banyak makam tersebut, terdapat 8 makam panjang yang menyita perhatian banyak orang. Makam panjang tersebut terdiri dari 6 makam panjang berukuran 9 meter dan 2 makam panjang berukuran 6 meter. Pemilik dari 8 makam panjang tersebut adalah Sayid Jafar, Sayid Harim, Sayid Syarif (ketiganya paman Siti Fatimah), Sayid Jalal, Sayid Jamal, Sayid Jamaluddin, Raden Ahmad, dan Raden Said. 

Selain itu, tedapat pula beberapa makam warga sekitar. Konon, dulunya area makam Siti Fatimah Binti Maimun merupakan tempat pemakaman umum. Tetapi, semejak tahun 70-an atau saat Makam Siti Fatimah Binti Maimun diambil alih Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Timur, area makam tersebut tidak lagi dibolehkan menjadi pemakaman umum.

Sejarah Siti Fatimah Binti Maimun

Menurut H Hasyim Ali, juru kunci makam, Siti Fatimah atau dikenal dengan sebutan Putri Retno Suwari lahir di Malaka pada tahun 1064 Masehi. Ayahnya bernama Maimun (bergelar Sultan Mahmud Syah Alam) berasal dari Iran. Sedangkan ibunya bernama Siti Aminah berasal dari Aceh. Maimun sendiri merupakan sepupu dari Syekh Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) sehingga Siti Fatimah Binti maimun merupakan keponakan dari Syekh Maulana Malik Ibrahim.

Konon, Siti Fatimah datang ke Jawa atas perintah Syekh Maulana Malik Ibrahim untuk menyebarkan Islam di tanah Jawa. Menurut H. Hasyim Ali, juru kunci makam, bukan Siti Fatimah yang datang terlebih dulu ke Jawa, melainkan Syekh Maulana Malik Ibrahim. Syekh Maulana Malik menginjakkan kaki di tanah Jawa sekitar tahun 1079-1080, sedangkan Siti Fatimah menyusul kemudian pada tahun 1081. Saat datang ke tanah Jawa, Siti Fatimah Binti Maimun masih berusia 17 tahun.

Kedatangan Siti Fatimah sendiri dimaksudkan untuk menyebarkan agama Islam lewat jalur perkawinan. Kala itu, Syekh Maulana Malik Ibrahim berniat mengawinkan Siti Fatimah dengan seorang raja Budha. Karna pada awalnya Syekh Maulana Malik mengalami kesulitan untuk menyebarkan Islam di tengah masyarakat yang masih kuat dipengaruhi Hindu-Budha. Siti Fatimah datang ke Jawa tidak sendiri. Ia ditemani ayah, ibu, beserta  rombongan yang terdiri dari kerabat dan pengikut Maimun atau Sultan Mahmud Syah Alam.

Hanya saja, sebelum misi tersebut terlaksana, Siti Fatimah terlebih dulu wafat akibat wabah penyakit yang menyerang daerah Leran dan sekitarnya kala itu. Siti Fatimah wafat pada 7 Rajab 475 Hijriyah (2 Desember 1082 M) atau saat masih beusia 18 tahun. Beserta 4 dayangnya, Siti Fatimah wafat saat masih perawan.

Kondisi Makam 

Tanggal 15 Syawwal atau 15 hari setelah hari raya ditetapkan sebagai haul Siti Fatimah Binti maimun.  Tanggal itu diambil dari ditemukannya makam tersebut. Menurut H Hasyim Ali, makam Siti Fatimah Binti Maimun baru ditemukan 4 Abad setelah tahun wafatnya. 

“Jadi, (haul Siti Fatimah) bukan tanggal wafatnya, tapi tanggal ditemukannya,” tutur  H Hasyim Ali

Juru kunci makam yang pertama bernama Mbah Legi. Ia menjadi juru kunci makam sekitar abad 16-an. Juru kunci makam dijabat secara turun-temurun. Juru kunci saat ini, H Hasyim Ali, merupakan keturunan ke-7 dari juru kunci yang pertama.

Saat ini, makam Siti Fatimah Binti Maimun berada dibawah perlindungan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Timur yang berkantor di Trowulan, Mojokerto. Keadaan makam sendiri bisa dibilang cukup terawat. Selain kebersihan area makam yang terjaga, keaslian bangunan makam juga benar-benar diperhatikan. Bahkan, H Hasyim Ali sangat berterima kasih atas kepedulian BP3 terhadap perawatan makam selama ini.

Di akhir cerita, H Hasyim Ali berpesan kepada masyarakat untuk meneladani perjuangan para pendahulu yang menyebarkan Islam di tanah Jawa. Menurutnya, keikhlasan Siti Fatimah Binti Maimun menyediakan dirinya untuk dinikahkan dengan raja Budha demi tersebarnya agama Islam sungguh sebuah pengorbanan yang luar biasa kala itu. Hingga tak lama kemudian, wabah penyakit pun datang dan akhirnya Siti Fatimah Binti Maimun meninggal dunia. 

“Pengabdiannya kepada agama harus kita teladani,” tutur H Hasyim Ali menutup ceritanya. 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Ahmad Faiz

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Fragmen Pondok Pesantren An-Nur Slawi