Selasa, 26 Februari 2013

LPPNU Kudus Pelopori Kedaulatan Pangan Nahdliyin

Kudus, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Kedaulatan pangan warga NU mendapat prioritas bagi program kerja Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) Kudus. Program kerja ini diarahkan untuk mengatasi tantangan dan permasalahan ekonomi dan pertanian demi menopang kemandirian pangan terutama warga NU.

LPPNU Kudus Pelopori Kedaulatan Pangan Nahdliyin (Sumber Gambar : Nu Online)
LPPNU Kudus Pelopori Kedaulatan Pangan Nahdliyin (Sumber Gambar : Nu Online)

LPPNU Kudus Pelopori Kedaulatan Pangan Nahdliyin

“Memanfaatkan lahan seperti pekarangan dengan menanam tanaman seperti sayuran yang biasa diperlukan bisa untuk mencukupi kebutuhan sekaligus mengurangi pengeluaran biaya sehari-hari,” ujar Ketua LPPNU Kudus Rois Noor kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi di sela sarasehan petani LPPNU di pesantren Al-Mawaddah desa Honggosoco Jekulo Kudus, Selasa (15/4).

LPPNU, tambah Rois, akan membuka outlet guna mewadahi pemasaran produk dan hasil pertanian para petani binaan NU. “Tentu saja hasil pertanian yang dipasarkan berupa produk organik.”

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rois menambahkan, selama ini LPPNU mendampingi petani untuk mengembangkan pertanian organik sehingga outlet ini nantinya bisa menjadi akses pasar hasil pertanian mereka.

Wakil Ketua PCNU Kudus Fajar Nugroho menegaskan, NU Kudus terus mendukung tiga program unggulan yang sudah digariskan LPPNU Kudus, pertanian organik, kemandirian pangan, dan outlet hasil bumi sebagai upaya pemberdayaan kaum tani.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sarasehan petani bertajuk “Sosialisasi Badan Usaha Milik Petani (BUMP)” ini menghadirkan Ketua PW LPPNU Jawa Tengah Edi Waluyo sebagai narasumber. Acara ini dihadiri pengurus cabang NU Kudus, kelompok petani binaan, dan pengurus LPPNU sekaresidenan Pati. (Qomarul Adib/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Tokoh, Makam Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 21 Februari 2013

Habib Abdurrahman: Jangan Mudah Mengafirkan dan Membid’ahkan

Kotawaringin Barat, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Majlis dzikir dan shalawat Rijalul Ansor Kotawaringin Barat (Kobar) Kalimantan Tengah menyelenggarakan kegiatan rutin di Masjid Nurul Qolbi Kelurahan Baru Pangkalan Bun, Ahad (7/1) malam, Agenda sebulan sekali tersebut dihadiri para pengurus Gerakan Pemuda Ansor Kobar dan warga sekitar. 

Habib Abdurrahman: Jangan Mudah Mengafirkan dan Membid’ahkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Abdurrahman: Jangan Mudah Mengafirkan dan Membid’ahkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Abdurrahman: Jangan Mudah Mengafirkan dan Membid’ahkan

“Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman dan menanamkan amalan Ahlussunah wal Jama’ah (Aswaja) khususnya kepada generasi muda Islam," Muhammad Sulthon, PC Ansor Muhammad Sulthon,  Wakil Sekretaris PC GP Ansor Kobar. 

Selama kegiatan, panitia menghadirkan Habib Abdurrahman bin Husein Al Qodiri. Dalam penjelasannya, ia menekankan agar generasi muda NU dan umumnya seluruh generasi Islam agar waspada terhadap paham radikalisme. Di antara cirinya adalah mudah mengafirkan dan menyatakan pihak lain melakukan bid’ah dalam ibadah. 

"Jangan mudah mengafirkan orang lain. Dan jangan mudah membidahkan ibadah orang lain, " jelas Habib. 

Habib Abdurrahman juga mengatakan pentingnya memberikan pemahaman akidah Aswaja kepada masyarakat umum khususnya generasi muda Islam. Hal ini dimaksudkan agar mereka selamat dari ancaman paham yang bisa memecah kerukunan umat beragama serta mengancam kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Sekarang banyak ideologi yang diterapkan oleh kelompok tertentu untuk mempengaruhi khususnya generasi muda. Mereka mencekoki agar para pemuda benci terhadap amalan-amalan yang merupakan warisan para alim ulama dan kiai," tandasnya. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Lebih jauh Habib Abdurrahman memberikan penjelasan betapa berbahaya jika para pemuda tidak dibentengi dengan pengetahuan agama yang benar.”Jika salah, maka maulidan, yasinan, tahlilan dan ziarah kubur, akan mereka anggap haram,” tegasnya. (Suhud/Ibnu Nawawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kiai, Syariah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 20 Februari 2013

Ada Benang Merah antara Islam Indonesia dengan Marokko

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Warna lokal atau penyebaran Islam dengan menghargai budaya setempat agar mudah diterima oleh masyarakat ternyata bukan monopoli Islam Indonesia. Marokko, salah satu negera dengan penduduk mayoritas muslim juga sangat menghargai tradisi lokal.

Informasi ini dikemukakan oleh Nasrullah Jasam, MA, alumni Ponpes Assidiqiyah Jakarta yang kini sedang menyelesaikan studi doktoralnya di Universitas Abdul Malik Sa’di Tetauan Marokko, saat berkunjung ke Pondok Pesantren An-Nur Slawi? pekan lalu.

Ada Benang Merah antara Islam Indonesia dengan Marokko (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada Benang Merah antara Islam Indonesia dengan Marokko (Sumber Gambar : Nu Online)

Ada Benang Merah antara Islam Indonesia dengan Marokko

Diceritakan oleh Nasrullah bahwa banyak tradisi Islam di Marokko yang mirip dengan Indonesia seperti dalam ritual orang meninggal seperti peringatan tujuh hari, 40 hari sampai dengan haul. Contoh lain, kalau di Indonesia ada istilah bubur merah, bubur putih, di Marokko pada momen-moment tertentu ada makanan tertentu, dan hanya keluar pada saat itu. Pada hari Jum’at, mereka makan kus-kus, makanan seperti tumpeng. Pada bulan Ramadhan, di Indonesia ada makanan tertentu, hal yang sama juga terjadi di Marokko.

“Jadi ada benang merah. Kalau memang Syeikh Maghribi itu betul dari Marokko mungkin bisa terlacak, tapi sampai sekarang asal Islam di Indonesia masih kontraversi, jadi saya kira hampir sama dengan Indonesia, tidak puritan seperti di Arab Saudi, sangat kultural dan ramah terhadap budaya lokal,” tandasnya.

Dijelaskannya bahwa wilayah Marokko merupakan wilayah yang terarabisasi atau musta’rob, bukan Arab murni, sama juga dengan Mesir dan Aljazair. Ketika Islam masuk dan ingin diterima secara ramah, maka konsekuensinya seperti yang terjadi di Indonesia dimana kulitnya tidak dipertahankan tetapi substansi ajarannya tidak dirubah.

Seperti juga di Indonesia, tasawwuf juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, Nasrullah menuturkan bahwa secara pribadi ia? pernah mengikuti ritual tasawwuf di Marokko, yaitu tarekat Kodiriah Buziziyah. Pada bulan maulud yang di Indonesia dirayakan dengan meriah, hal yang sama juga dilakukan di Marokko, ada tarekat yang melakukan semacam kholwat selama 30 hari, ada yang menghadiahi sapi yang besar dan gemuk.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Justru model seperti ini banyak menarik orang-orang bule, karena Marokko kan berdekatan dengan Eropa, untuk belajar Islam. Jadi nuansa mistiknya kuat. Katakanlah daerah-daerah seperti Marakhes, kalau kita ke sana kita rasakan mistisnya sangat kuat,” imbuhnya.

Kebebasan Beragama Dihargai

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dalam beberapa aspek, kebebasan dalam menjalankan agama juga dihargai. Setiap warga negara diajarkan tentang ajaran Islam, tetapi negara tidak memaksakannya. Alumni Ponpes Assidiqiyah tersebut memberi contoh meskipun ia kuliah di fakultas Ushuluddin yang notabene merupakan fakultas agama, tetapi mahasiswa tidak diwajibkan untuk berjilbab dan jika berjilbab, ini merupakan atas kesadaran pribadinya, bukan atas paksaan. “Saat ini, para pemikir Marokko sangat bangga bahwa Islam di Marokko paling moderat. Terlepas dari fihak lain setuju atau tidak,” imbuhnya.

Hari Raya Selalu Bersamaan

Jika di Indonesia, berlebaran bisa diawali pada hari yang berbeda, jangan harap hal tersebut terjadi di Marokko. Meskipun ada pendapat yang berbeda tentang penentuan hari lebaran, tetapi ketika pemerintah memutuskan, semua warga negara mengikutinya. Ini memang berkaitan dengan perangkat UU yang memungkinan negara bisa menentukan kapan puasa diawali dan diakhiri. Dalam UU Marokko, setiap warga negara wajib berpuasa Ramadhan, sebagai konsekuensinya, jika ia berlebaran duluan sementara negara masih belum memutuskan puasa diakhiri, ia bisa dijerat UU.

“Ada komitmen bahwa pemimpin spiritual adalah raja sebagai amirul mukminin dan kebijakan harus keluar dari sana. Jadi saya kira kewibawaan pemerintah yang membedakan. Kalau di Indonesia, sebagai contoh dalam kasus lebaran. Kalau ada ormas yang menyatakan lebaran berbeda, Depag tidak bisa berbuat apa-apa, karena memang perangkat hukumnya tidak ada. Tapi kalau disana tidak, kalau diputuskan hari ini, ya harus hari ini karena memang UU-nya jelas. Ini peranan pemerintah yang paling signifikan,” tandasnya.

Dijelaskannya secara umum, penduduk Marokko mengikuti mazhab Maliki, baik para pengikut salafy atau tradisional. Hal ini terefleksikan dari wudhunya, bahkan dari wiridan yang mereka baca setiap sholat sampai dengan sholat taraweh semuanya sama, mungkin hanya lagunya saja yang berbeda.

Kesempatan Beasiswa

Sampai sekarang, baru sekitar 40-an mahasiswa Indonesia yang belajar disana. Sebagian besar belajar pada tingkat pascasarjana dengan komposisi 20 persen belajar S1, 30 persen belajar S2 dan 50 persen studi doktoral.

Pemerintah Marokko memberikan jatah 15 orang untuk beasiswa disana Marokko, tapi selama ini tidak berjalan lancar karena ada tumpang tindih dalam pengelolaannya. Depag menerima dan yang daftar sendiri juga diterima. Namun kebijakan ini sudah diperbaiki dengan kebijakan satu pintu melalui kedutaan Marokko di Indonesia tetapi difasilitasi oleh Depag.

Sayangnya, karena komunitas NU masih kecil, mereka belum melembaga seperti di Mesir dengan KMNU-nya. “Karena komunitas NU-nya terlalu kecil, kalau kita membentuk nanti malah menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan dari teman-teman yang berhaluan lain. Jadi kita tetap personal saja, tetapi sering mengadakan halaqah, umpamanya informasi tentang NU bisa kita baca dari Pondok Pesantren An-Nur Slawi, gusmus.net, atau gusdur.net,” paparnya. (mkf)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Lomba Pondok Pesantren An-Nur Slawi