Tampilkan postingan dengan label Attijani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Attijani. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Desember 2017

Hari ini Haul Mbah Ali Maksum

Yogyakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Keluarga besar Pesantren Krapyak mengadakan acara haul ke-24 KH Ali Maksum. Sejak 19 Maret rangkaian acara sudah dilakukan, seperti majlis sesamaan Al-Quran. Acara puncaknya adalah malam ini, di halaman Pesantren Krapyak, Yogyakarta.

Menurut Humaidy As, salah satu pembimbing komplek Sakan di Pesantren Ali Maksum, acara haul ini menjadi sangat penting bagi santri Krapyak untuk mengenang perjuangan dan keteladanan KH Ali Maksum.

Hari ini Haul Mbah Ali Maksum (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari ini Haul Mbah Ali Maksum (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari ini Haul Mbah Ali Maksum

“Haul para kiai menjadi media refleksi santri untuk makin rajin dalam mengaji. KH Ali Maksum adalah inspirasi keteladanan santri, sehingga santri mendapatkan bekal untuk bermasyarakat dan bangsa” tegasnya.

Kiai Sederhana

KH Munawir AF, salah satu santri KH Ali Maksum, dalam akun facebooknya memberi kesaksian bahwa KH Ali Maksum terkenal dengan kesederhanannya, baik di kala dahar (makan), atau di kala berpakaian, sangat terasa sekali KH Ali Maksum dengan kesederhanaannya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Kalo makan ada tempe dan sambel, oke. Atau adanya nasi goreng ala Ibu Nyai Hasyimah dan krupuk, juga oke. Demikian juga kalau mengajar ke IAIN, pakaian yang licin strikan, oke. Suatu ketika tidak setrikan, juga oke.” kenangnya. ? “Sederhana, tetapi tetap berkesan anggun dan wibawa.” Lanjutnya.

Di samping itu, KH Ali Maksum juga dikenal sangat tawadlu’. Ia tidak mau dipanggil "Kiai", tetapi dipanggil "Pak".

Semua santrinya memanggil Pak Ali. Bukan itu saja, KH Ali Maksum juga sangat akrab dengan santrinya, sehingga santri merasa menjadi santri kesayangannya. Ini dibuktikan dengan hafalnya KH Ali Maksum dengan nama santrinya, padahal santrinya saat itu sekitar 2000.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Santri 2000, ya kenal nama sebanyak itu. Seblum mengaji, beliau mengabsen tanpa buku absen. Yang tidak kelihatan, itulah yang dipanggil.” Tegas KH Munawir AF.?

KH Ali Maksum adalah Rais ‘Aam PBNU periode 1982-1984. Ia menggantikan kedudukan KH Bisyri Syansuri yang wafat pada tanggal 19 Jumadil Akhir 1400 H (25 April 1980 M). ?

KH Ali Maksum dilahirkan di Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa tengah pada tanggal 2 Maret 1915 dari ayah KH Maksum (pendiri/pengasuh Pondok Pesantren Al-Hidayat Lasem) dan ibu Siti Nuriyah. Sejak kecil Ali belajar agama pada sang ayah. Pada usia 12 tahun setelah mempelajari beragam kitab termasuk menghafalkan Alfiyah Ibn Malik, Ali kecil dikirim sang ayah untuk belajar di Pesantren Termas, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur yang waktu itu diasuh oleh KH Dimyati dan dilanjutkan KH Hamid Dimyati.

?

Redaktur ? ? : Hamzah Sahal

Kontributor : Rokhim Bangkit, Supriyadi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Berita,Attijani Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Mengenal Toleransi di SMA Ananda Bekasi

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pada tahun 2016, Balitbang Diklat Kemenag melakukan penelitian terhadap SMA Ananda Bekasi.

Penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui proses layanan pendidikan agama di sekolah terhadap siswa tanpa diskriminatif; sikap yayasan penyelenggara pendidikan terhadap layanan agama terhadap siswa tanpa diskriminatif di sekolah.

Mengenal Toleransi di SMA Ananda Bekasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengenal Toleransi di SMA Ananda Bekasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengenal Toleransi di SMA Ananda Bekasi

Selain itu juga untuk mengetahui sikap dan kebijakan pemerintah/pemerintah daerah terkait penyelenggaran pendidikan agama tanpa diskriminatif di sekolah, serta menemukan pola atau bentuk penyelenggaraan pendidikan agama kepada siswa tanpa diskriminatif di sekolah.

Dari penelitian tersebut ditemuan bahwa Sekolah SMA Ananda adalah sekolah yang diprakarsai oleh tokoh-tokoh Buddha Bekasi, namun dalam perjalanan SMA tersebut tidak bercorak ciri khas agama Buddha.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

SMA Ananda memberikan pelayanan pendidikan agama siswa sesuai dengan agama siswa masing-masing dan mempunyai guru agama sesuai dengan agama masing-masing siswa.

Di SMA Ananda sangat terasa harmonisasi dan budaya sekolah yang cukup menyejukkan, tidak ada hambatan atau problem yang serius, dan senantiasa melakukan peningkatan mutu pembelajaran. Sarana-prasarana dan aktivitas yang tersedia dapat meningkatkan mutu dan kualitas Pendidikan Agama.

Regulasi negara sangat diperlukan untuk menata pendidikan agama di sekolah, mulai pengangkatan guru agama, meningkatkan sarana-prasarana, media pembelajaran, diklat guru agama, restrukturisasi penyuluh agama, harmonisasi hubungan Kementrian Agama dan Kementian Pendidikan dan yang lainnya.

Penelitian juga merekomendasikan kepada Kementerian Agama hendaknya memberi perhatian yang serius agar memberi pengangkatan guru agama sebagai PNS, memberi bantuan sarana dan prasarana, memberikan diklat kepada guru agama, serta membangun harmonisasi dengan Kementerian Pendidikan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rekomendasi berikutnya penyuluh agama harus terstruktur sampai ke bawah, dan memberi bantuan kesejahteraan guru agama.

Adapun rekomendasi untuk sekolah SMA Ananda sendiri adalah meningkatkan jumlah buku pengayaan pelajaran, penalaran, dan pendalaman semua agama; menyiapkan tempat ibadah yang memadai untuk semua agama.

Sebagai sekolah permbauran, hendaknya masyarakat publik ikut memberdayakan dan meningkatkan partisipasi untuk kemajuan SMA Ananda. Sekolah juga sebaiknya melahirkan karya tulis atau menumbuhkan budaya menulis siswa terutama untuk menyampaikan pemikiran siswa tentang masyarakat yang taat agama dan berakhlak mulia. (Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Fragmen, AlaNu, Pahlawan,Attijani Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 14 Desember 2017

Akan Blokir Al-Jazeera, Israel Dinilai Musuh Kebebasan Pers

Jerusalem, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Israel berencana melarang saluran informasi Qatar, Al-Jazeera beroperasi di negara tersebut atas tuduhan sebagai pemicu kekerasan. Dengan demikian, Israel mengikuti jejak sejumlah negara Arab yang telah menutup penyiar media itu di tengah perselisihan politik mereka dengan Qatar.

Seperti dilansir AP, Menteri Komunikasi Israel Ayoob Kara mengatakan bahwa dia berencana untuk mencabut izin pers wartawan Al-Jazeera, yang secara efektif mencegah mereka untuk bekerja di Israel. Kara mengatakan, dia telah meminta jaringan kabel dan satelit untuk memblokir transmisi Al Jazeera dan meminta undang-undang untuk melarang mereka sama sekali.

Akan Blokir Al-Jazeera, Israel Dinilai Musuh Kebebasan Pers (Sumber Gambar : Nu Online)
Akan Blokir Al-Jazeera, Israel Dinilai Musuh Kebebasan Pers (Sumber Gambar : Nu Online)

Akan Blokir Al-Jazeera, Israel Dinilai Musuh Kebebasan Pers

Al-Jazeera yang bermarkas di Doha dalam situsnya berbahasa Inggris mengutuk tindakan tersebut sebagai tindakan yang "tidak demokratis" dan menyatakan akan mengambil langkah hukum. Al-Jazeera akan terus beroperasi di Jalur Gaza dan Tepi Barat.

Kepala biro penyiar di Yerusalem Walid al-Omari mengatakan, kantornya belum diberitahu oleh pejabat Israel tentang tindakan yang mungkin dilakukan pemerintah Israel.

Al-Jazeera, sebuah jaringan satelit pan-Arab yang didanai oleh pemerintah Qatar, sudah menjadi sasaran negara-negara Arab yang sekarang mengisolasi Qatar sebagai bagian dari sengketa politik selama berbulan-bulan. Qatar dituduh mendukung kelompok ekstremis. Yordania dan Arab Saudi baru-baru ini menutup kantor-kantor lokal Al-Jazeera, sementara saluran dan situs afiliasinya telah diblokir di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Mesir dan Bahrain.

Pejabat Israel telah lama menuduh Al-Jazeera bersikap bias terhadap negara Yahudi tersebut. Menteri Pertahanan Avigdor Lieberman telah menyamakan liputannya dengan propaganda "Nazi Jerman".

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

The Foreign Press Association (Asosiasi Pers Asing), mewakili wartawan yang meliput wilayah Israel dan Palestina untuk organisasi berita internasional, tengah mencermati masalah ini dan sedang mempelajari tentang langkah-langkah yang bakal diambil.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

The Committee to Protect Journalists (Komite untuk Perlindungan Wartawan), sebuah kelompok advokasi yang berbasis di New York, mengkritik usulan Israel tersebut.?

"Menyensor Al-Jazeera atau menutup kantornya tidak akan membawa stabilitas ke kawasan itu. Justru tindakan tersebut akan menempatkan Israel secara jelas dalam deretan para musuh kebebasan pers yang paling parah di kawasan ini," kata Sherif Mansour, koordinator program Timur Tengah dan Afrika Utara komite itu.

Menurutnya, Israel harus meninggalkan rencana-rencana yang tidak demokratis ini dan mengizinkan Al-Jazeera beserta semua wartawan untuk melakukan kerja-kerja jurnalistik secara bebas di berbagai negara dan wilayah. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Budaya,Attijani Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 12 Desember 2017

MINU Kraksaan Uji Kepercayaan Warga NU

Kraksaan, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. MI Nahdlatul Ulama Kraksaan yang berada di bawah naungan LP Ma’arif NU Cabang Kota Kraksaan melakukan terobosan baru, yaitu dengan mempercepat penutupan pendaftaran siswa barunya dibandingkan madrasah dan sekolah yang ada di sekitarnya. 

MINU Kraksaan Uji Kepercayaan Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)
MINU Kraksaan Uji Kepercayaan Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)

MINU Kraksaan Uji Kepercayaan Warga NU

Hal ini dilakukan dalam rangka memperbaiki sistem pendidikan yang ada agar supaya lebih baik dari sebelumnya.

Pendaftaran Siswa baru di MI Nahdlatul Ulama Kraksaan dibuka sejak tanggal 15 April dan ditutup pada tanggal 27 April 2013. Sebagaimana diungkapkan oleh Ketua Yayasan MI Nahdlatul Ulama sekaligus Pimpinan LP Ma’arif NU cabang Kraksaan  Taufiq.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Pihak yayasan sengaja mempercepat penutupan pendaftaran siswa baru, dengan tujuan untuk mengukur tingkat kepercayaan warga Nahdliyin di Kota Kraksaan terhadap eksistensi MINU sebagai lembaga pendidikan milikinya NU, apakah warga care atau justru apatis dengan lembaga ini”. 

Pihak yayasan juga menginginkan hal yang sama “Ingin meningkatkan kualitas pembelajaran, yaitu dengan memperketat seleksi in put dan membatasi jumlah in put yang akan masuk, karena disesuaikan dengan kondisi ruang yang ada. Kegiatan ini sebagai upaya untuk mempermudah dan memaksimalkan perencanaan pembelajaran dalam waktu satu tahun ke depan”.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Lanjutnya, “MINU Kraksaan pada tahun ini lebih berorientasi pada pembenahan manajemen dan peningkatan kualitas, bukan lagi pada kuantitas. Terbukti, MINU pada tahun ini hanya akan menerima 90 siswa, yang akan diseleksi secara ketat, sehingga pihak lembaga akan mudah dalam memetakan kompetensi pada masing-masing siswa”.

Ust. Saifullah sebagai kepala MI Nahdlatul Ulama Kraksaan mengatakan pada tahun ini banyak dilakukan perubahan sistem manajemen, karena kita tidak mau kalah dengan lembaga pendidikan yang ada di sekitar kita.

"Kami ingin menunjukkan bahwa, warga Nahdiyin sebagai warga mayoritas di Kabupaten Probolinggo harus memiliki lembaga pendidikan yang unggul, jangan sampai keberadaannya kurang diakui oleh masyarakat. Jadi, sebagai wujud konkrit, maka harus dimulai dengan seleksi ketat in put yang akan masuk ke MINU ini. Kalau biasanya kita menutup pendaftaran siswa baru pada Bulan Juni seperti Madrasah dan sekolah lainnya pada umumnya, untuk kali ini kita ingin tampil beda, pendaftarannya sudah kita tutup bulan April lalu”. 

Alhamdulillah, walaupun hanya 12 hari masa pendaftarannya, ternyata sudah ada 78 pendaftar dan telah melakukan ujian test masuk dan penempatan kelas pada tanggal 28 April Bulan lalu. Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat cukup tinggi terhadap lembaga pendidikan di bawah naungan LP Ma’arif NU Kota Kraksaan. Sedangkan 12 kursi yang masih kosong akan diberikan kepada warga dan tokoh yang tidak mengetahui informasi ini, dengan prinsip seleksi ketat, dan paling akhir pada pertengahan Bulan Mei ini”. 

Redaktur   : Mukafi Niam

Kontributor: Hasan Baharun

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ulama, Tokoh,Attijani Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 04 Desember 2017

Datangi Rapimnas Pagar Nusa, BNPT: Radikalisme Dikembangkan dari Lapas

Semarang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Direktur Deradikalisasi Badan Nasional Penaggulangan Terorisme (BNPT) Prof Dr Irfan Idris MA memastikan radikalisme tidak muncul dari pesantren. Beberapa kasus menunjukkan bahwa radikalisme justru dikembangkan dari lembaga pemasyarakatan (lapas).

“Pernah ada seorang peneliti Barat yang menyamar menjadi pengajar bahasa Inggris. Ia meyimpulkan bahwa tidak ada ajaran radikalisme di pesantren. Dia bahkan tidak mau balik dan ingn terus hidup dalam suasana damai di pesantren,” katanya.

Datangi Rapimnas Pagar Nusa, BNPT: Radikalisme Dikembangkan dari Lapas (Sumber Gambar : Nu Online)
Datangi Rapimnas Pagar Nusa, BNPT: Radikalisme Dikembangkan dari Lapas (Sumber Gambar : Nu Online)

Datangi Rapimnas Pagar Nusa, BNPT: Radikalisme Dikembangkan dari Lapas

Irfan Idris dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Pencak Silat NU Pagar Nusa di Pondok Pesantren Azzuhri Ketileng Semarang, Jum’at (27/3), mengatakan, dalam kurikulum pesantren, apalagi telah terdaftar di Kementerian Agama, tidak satu pun ditemukan materi yang mengajarkan radikalisme dan terorisme.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dia menambahkan, justru radikalisme bisa muncul dan dikembangkan dari lapas. “Pertama karena di sana kurang SDM dan kedua over kapasitas,” katanya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurutnya, bahkan ada petugas lapas yang menjadi pengikut narapidana teroris. “Hari pertama dia memarah-marahi narapidana. Tapi berikutnya dia terus diceramahi tentang agama dan tentang jihad dan hari kedua dia jabat tangan, dia diceramahi lagi akhirnya hari ketiga dia cium tangan,” katanya.

Dikatakan, para teroris yang berada di lapas perlu penanganan ekstra. Jika tidak ditangani dengan tepat justru dari lapas itu mereka menyebarkan radikalisme.

“Misalnya di lapas itu hanya keluarga yang boleh menjenguk, tapi mereka boleh membawa handphone. Ini harus kita waspadai. Sekarang kita ada pemikiran para teroris itu dipindahkan semua tahannya ke tempat jang jauh,” katanya.

Dalam kesempatan itu ia menerangkan, 12 dari 16 warga Indonesia diduga telibat ISIS telah dipulangkan dari Suriah. BNPT akan melakukan pembinaan dengan berbagai pendekatan baik pendekatan agama, psikologi, maupun kewirausahaan.

“Kalau perlu kita memakai pendekatan hipnotrapis. Saya kira Pagar Nusa banyak yang ahli di bidang ini,” katanya.

Di hadapan para pimpinan Pagar Nusa yang hadir dari berbagai daerah di Indonesia, ia berharap para pendekar tidak hanya berlatih silat tetapi juga membekali diri dengan berbagai pengetahuan dan pendalaman keislaman.

“Kita juga perlu mengimunisasi nahdliyin dari serangan ideologi kelompok radikal. Jangan sampai kita didebat (oleh kelompok radikal) tidak bisa menjawab,” katanya. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pertandingan, Pahlawan,Attijani Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 28 November 2017

Doa Mengaji Ilmu

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Doa Mengaji Ilmu (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa Mengaji Ilmu (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa Mengaji Ilmu

Allâhummaftah lanâ wansyur ‘alainâ rahmataka yâ dzal jalâli wal ikrâm.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ya Tuhanku, bukakan lah ilmu-Mu bagi kami dan hamburkan lah rahmat-Mu di atas kami. Wahai Tuhan pemilik kebesaran dan keagungan. (Lihat Sayid Utsman bin Yahya, Maslakul Akhyar, Al-‘Aidrus, Jakarta) (Alhafiz K).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi AlaSantri, Daerah,Attijani Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kudeta di Pilpres 2014 Jika SBY Tak Keluarkan Perpu

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Kepercayaan masyarakat terhdap penegakan hukum di Indonsia mulai pudar setelah putusan Mahkamah Konstitusi (MK) dalam judicial review UU Pilpres. MK dituding sebagai penyebab ketidakpastian hukum dalam berpolitik serta merusak tatanan demokrasi.

Kudeta di Pilpres 2014 Jika SBY Tak Keluarkan Perpu (Sumber Gambar : Nu Online)
Kudeta di Pilpres 2014 Jika SBY Tak Keluarkan Perpu (Sumber Gambar : Nu Online)

Kudeta di Pilpres 2014 Jika SBY Tak Keluarkan Perpu

“Lembaga pengadilan tertinggi tersebut disarankan melakukan perombakan total,” ungkap pengamat politik Universitas Indonesia (UI), Arbi Sanit pada diskusi, salah satu rangkaian Harlah PMII ke-54 yang digelar Pengurus Besar PMII, di gedung PBNU, Jakarta, Senin (10/3).

Persoalan lain, tambahnya, adalah pergeseran ikon koalisi dan tidak sehatnya dinamika politik 2014 ini ketimbang pemilu sebelumnya. Partai Demokrat yang sudah hancur lebur koalisinya tentu tidak lagi akan menjadi straegis. Sehingga langkah-langkah yang tidak etis bisa saja dilakukan oleh partai besutan SBY ini.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Guru Besar politik itu juga menerangkan bagaimana Golkar sudah mengintip-intip mencari koalisi termasuk terus berusaha menghancurkan Partai Demokrat. Caranya adalah dengan menghembuskan isu Kasus Bank Century.

"Padahal BLBI jauh lebih banyak, tapi Century yang digembar-gemborkan. Inilah permainan Golkar, termasuk bagaimana Prabowo mengancam dan akan melawan Jokowi. "Baru saja Jokowi mau dicalonkan PDIP, sudah dilawan," ungkapnya, pada diskusi bertema "Mungkinkah Kudeta Konstitusional 2014".

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Arbi juga mengungkapkan sekarang kondisi bangsa dibayangi krisis ekonomi, tidak ada kepastian politik. Menurutnya, kondisi ini sangat berbahaya dan bisa mengarah ke kudeta di Pilpres 2014 nanti.

Pembicara lain Erfandi, mengungkapkan bahwa potensi kudeta di pemilu 2014 kemungkinan akan terjadi karena Mahkamah Konstitusi (MK) pada 23 Januari 2014 telah mencabut pasal 3 ayat 5 UU Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden.

Atas dicabutnya dasar hukum penyelenggaraan pilpres ini, tambah dia, maka berdampak terhadap hilangnya dasar hukum pilpres 2014 karena baru akan diberlakukan di pemilu 2019. Ungkapnya

Tenaga ahli komisi IV DPR RI ini menambhakan bahwa dalam kondisi darurat seperti ini seharusnya SBY selaku presiden harus turun tangan membuat Perpu sebagai langkah strategis dalam mengisi kekosongan hukum.

“Bukan justru mendiamkan persoalan yang menimbulkan ketidakpastian ini. karena ini ibarat api dalam sekam yang tinggal menunggu waktu akan terjadi kebakaran politik di Indonesia.”

Ada tiga kelompok yang berpotensi untuk melakukan kudeta dengan menggunakan kekosongan hukum di pilpres 2014 nanti. Satu adalah kelompok yang kalah dalam Pilres, atau juga bisa dari status quo dalam hal ini Presiden SBY terhadap kelompok yang memenangkan pemilihan presiden nanti.

“Dimana dalam kondisi tidak legitimetnya keberadaan presiden ini maka kemungkinan TNI tidak lagi mematuhi dekrit yang akan dikeluarkan oleh presiden seperti eranya Abdurrahman Wahid,” tutupnya. (Red: Abdullah Alawi)

.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pertandingan, Ubudiyah, Berita,Attijani Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 27 November 2017

Ada Malpraktek, Banser Batang Tuntut Perbaikan Layanan RSUD

Batang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kabupaten Batang, Jawa Tengah, melakukan aksi solidaritas atas meninggalnya salah satu anggota mereka, Aminudin (30), warga Desa Karangtengah, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang.

Ada Malpraktek, Banser Batang Tuntut Perbaikan Layanan RSUD (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada Malpraktek, Banser Batang Tuntut Perbaikan Layanan RSUD (Sumber Gambar : Nu Online)

Ada Malpraktek, Banser Batang Tuntut Perbaikan Layanan RSUD

Aminudin diduga menjadi korban kelalaian atau malpraktek saat dirawat di RSUD Batang. , Senin (13/4), organisasi semiotonom Gerakan Pemuda Ansor ini mendatangi DPRD Kabupaten Batang dan menyampaikan keluhan mereka atas pelayanan RSUD Batang yang dinilai tidak memihak rakyat kecil.

Ketua GP Ansor Kabupaten Batang Umar Abdul Jabar menjelaskan, RSUD seharusnya  memberikan jaminan kesehatan kepada masyarakat tanpa memandang apakah masyarakat tersebut mampu atau tidak. Tapi RSUD Batang malah berlaku sebaliknya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Memang Aminudin mendapatkan perlakuan yang tidak sesuai prosedur, penanganan yang diberikan terkesan lamban dan yang bersangkutan dibiarkan begitu saja tanpa ada kejelasan meskipun sudah dirawat selama 11 hari,” tutur Umar didampingi anggota Banser M Huda.

Saat masuk ke RSUD, korban ditangani bukan oleh dokter spesialis bedah atau tulang, melainkan oleh KOAS atau dokter magang. Padahal, korban mengalami luka cukup parah dan patah tulang akibat terkena alat pemotong rumput. Namun ketika di IGD RSUD, korban hanya dijahit luka tanpa memperhatikan patah tulang yang dialami.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Kami cuma ingin menuntut agar pihak RSUD memperbaiki sistem pelayanan, meminta Bupati Batang untuk mengevaluasi secara menyeluruh terhadap organisasi, sumber daya manusia dan kinerja RSUD serta meminta DPRD untuk menindaklanjuti dengan membentuk Pansus,” ujarnya.

Amat Dasari selaku kakak kandung korban menjelaskan, selama di rumah sakit, korban juga terkesan mendapat perawatan ala kadarnya, bahkan sempat tidak mendapatkan kunjungan dari dokter spesialis selama 3 hari.

Pihak rumah sakit juga sempat menyatakan akan melakukan amputasi terhadap kaki korban. Pada tanggal 30 Maret keluarga dipanggil perawat bahwa keputusan dari RSUD dan dokter sudah final, yakni akan melakukan amputasi dan keluarga diminta tanda tangan surat persetujuan.

“Setelah 11 hari dirawat, yakni tanggal 31 Maret, kondisi korban menurun hingga dipindahkan ke ICU. Kemudian dokter menyatakan jika korban sudah membaik setelah mendapatkan perawatan di ICU. Dan informasi yang diperoleh, korban terkena tetanus,” terangnya.

Amat mengatakan, selama di IGD saat pertama kali masuk, keluarga tidak melihat jika korban disuntik antitetanus, begitu juga selama menjalani perawatan. Akibat kejadian tersebut, Rabu (1/4), korban semakin kritis dan kemudian dirujuk ke RS Siti Khotijah Pekalongan. Namun setelah mendapatkan perawatan, korban akhirnya meninggal dunia.

Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Batang Edi Siswanto yang menemui perwakilan GP Ansor, Banser dan juga keluarga korban menyatakan bahwa pihaknya akan segera melakukan kroscek terkait kasus ini. Selain itu, dengan adanya laporan semacam ini, pihaknya akan membuat pansus untuk menindaklanjuti kasus ini.

“Kami merasa prihatin dengan adanya kejadian semacam ini, untuk itu akan segera kami tindaklanjuti dengan membentuk pansus dan kami akan melakukan kroscek ke RSUD serta memanggil pihak RSUD untuk mengkonfirmasi hal ini,” tegas Edi.

Anggota Komisi B Yuswanto menambahkan, laporan ini akan segera ditindaklanjuti dengan akan melaksanakan rapat kerja, jangan sampai nantinya ada kasus lain yang terjadi. “Kami akan segera melakukan rapat kerja dengan pihak RSUD dan tidak akan menunda lama. Kami tidak ingin masyarakat tidak percaya lagi pada pemerintah, khususnya bidang kesehatan,” imbuhnya. (Muhammad Imron/Mahbib)

Foto: Banser saat berkunjung ke DPRD

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Hikmah, Sejarah,Attijani Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 13 Agustus 2017

Maulid Nabi, PMII Unsuri Gelar Khataman Al-Quran

Sidoarjo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PK PMII) Universitas Sunan Giri (Unsuri) Waru Sidoarjo memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Mereka mengadakan khotmil Al-Quran, istighosah, dan doa bersama di masjid Agung Unsuri, Ahad (20/12).

Maulid Nabi, PMII Unsuri Gelar Khataman Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Maulid Nabi, PMII Unsuri Gelar Khataman Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Maulid Nabi, PMII Unsuri Gelar Khataman Al-Quran

"Dengan acara khotmil Al-Quran, istighosah dan doa bersama ini semoga seluruh kader PMII Unsuri serta masyarakat tidak beranggapan bahwa seorang aktivis hanya memegang megaphone atau demo di lapangan. Namun, PMII juga ditanamkan nilai-nilai ke-Islaman," kata Ketua PK PMII Unsuri Muhtadi.

Menurut Muhtadi, kader PMII harus mengimplementasikan nilai-nilai ke-Islaman, salah satunya dengan mengadakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Sehingga pemahaman dan persepsi yang ada dalam jiwa, sosok organistoris bisa berubah.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ketua panitia peringatan Maulid Dita Laraswati berharap melalui moment Maulid Nabi itu semua kader PMII Unsuri dapat mengikuti dan meneladani Rasulullah SAW.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Saya mewakili panitia berharap agar semua anggota, kader, pengurus mulai dari rayon hingga komisariat PMII Universitas Sunan Giri khususnya serta semua mahasiswa Unsuri bisa memahami tentang ajaran yang dibawa Rasulullah SAW sehingga dapat meneladani perilakunya. Hal ini sesuai dengan manhaj PMII yaitu Ahlusunnah wal jamaah (Aswaja)," pungkas Dita.

Acara yang diikuti sedikitnya 20 anggota dan pengurus PMII rayon dan komisariat itu berjalan lancar dan penuh khidmat. Nampak antusias dan semangat mereka dalam memuliakan Maulid Nabi Muhammad SAW ini. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi PonPes, Quote, Pondok Pesantren,Attijani Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 25 Juni 2017

Bagaimana M Said Budairy Menjadi NU?

SATU PAGI di pengujung April 2009. Said Budairy menerima tiga anakmuda di kediamannya, Jalan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Dia mengenakan baju koko tipis putih dan bersarung. Kopiah putih menutupi rambutnya yang menipis dan beruban. Tiga anakmuda ini generasi baru dari apa yang sudah ditapaki Budary lebih dari setengah abad silam. Satu anakmuda itu bernama Caswiyono Rusydie, satunya Fahsin M. Fa’al. Keduanya aktivis Ikatan Pelajar Putra Nahdlatul Ulama. Mereka datang guna mencari riwayat Kiai Tolchah Mansoer, salah seorang pendiri organisasi pelajar itu.

Ruang tamu kecil. Diisi satu set sofa buat lima orang. Warna kain sofa, biru muda, sudah terlihat kusam. Ada sobekan sepanjang jari kelingking di bagian sofa. Rumah Budairy tanpa halaman. Garasi cukup untuk satu mobil.



Bagaimana M Said Budairy Menjadi NU? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana M Said Budairy Menjadi NU? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana M Said Budairy Menjadi NU?

”Saya bingung tempat parkir kalau mau ngundang banyak orang ke sini,” katanya, datar. Dulu orang-orang teras NU belum punya mobil. Mereka biasa kumpul tanpa memikirkan tempat parkir.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

”Mas Said ada di antara sedikit tokoh NU yang tidak neko-neko. Tidak tengok kanan, tidak tengok kiri. Pokoknya beliau tidak mencari materi. Itu saya tahu betul,” kata Umar Wahid, seorang dokter yang dekat dengan Budairy sejak 1963.

”Anda lihat ndak, ada seorang tokoh nasional tinggal di gang kecil?!” kata Gus Umar – panggilan Umar Wahid merujuk rumah Budairy.

Ada dikenal “Kelompok G” dari generasi Budairy. Ini kelompok yang “menggerakkan, menyiapkan, dan merumuskan” kembali khittah NU 1926. Dari kelompok ini muncul “Majlis 24”, beranggotakan 24 orang antara lain Fahmi D. Saifuddin, Mahbub Djunaidi, Sahal Mahfudz, Mustofa Bisri, Abdurrahman Wahid, Tholchah Hasan dan Said Budairy.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Majlis 24 lantas mengerucut menjadi “Tim 7”. Gus Dur dan Zamroni dipilih ketua dan wakil ketua, Mahbub, Fahmi, Danial Tanjung dan Ahmad Bagdja sebagai anggota. Budairy sendiri ditunjuk sekretaris. Mereka inilah ujung tombak gerakan khitah yang terkenal hingga sekarang dalam sejarah utama perkembangan NU.

“Kelompok G” merujuk alamat rumah Budairy di Mampang. Ia kemudian berafiliasi dengan “Kelompok Situbondo”, dipimpin Kiai As’ad Syamsul Arifin. Mereka mengkritisi Kiai Idham Chalid, populer dengan “Kelompok Cipete”, merujuk pada daerah kediaman Chalid.

”Di Kelompok Cipete ada Kiai Ali Yafie, Kiai Musadad, Nuddin Lubis dan banyak lagi. Tapi saya tidak tahu siapa yang memunculkan kelompok-kelompok ini. Rasanya tiba-tiba saja muncul,” kata Chalid Mawardi, yang digolongkan Kelompok Cipete.

Arief Mudatsir Mandan mencatat, “Kelompok Situbondo” pernah mendatangi Idham Chalid dan memintanya mengundurkan diri dari ketua umum PBNU. Alasannya kesehatan. Empat kiai senior yang datang itu adalah Kiai As’ad Syamsul Arifin (Sukorejo, Situbondo), Kiai Ali Ma’shum (Krapyak, Yogyakarta), Kiai Machrus Aly (Lirboyo, Kediri) dan Kiai Masykur (Jakarta).

Dalam arena muktamar NU 1984 di Situbondo, “Kelompok G” meroket. Mereka berhasil menggolkan kredo, Khittah 26. Mereka berhasil pula mempensiunkan Idham Chalid, yang menjabat selama 28 tahun. Dari muktamar inilah, Abudrahman Wahid tampil sebagai ketua umum PBNU.

”Waktu kawan-kawan hendak memperkenalkan Gus Dur ke Soeharto, berangkatnya dari rumah Mas Said. Bahkan yang menyetrikakan baju Gus Dur itu istri Mas Said,” ujar Slamet Effendy Yusuf, junior Budairy di koran Pelita, harian resmi Partai Persatuan Pembangunan.

”Ya, pada waktu itu rumah ini jadi ramai, kaya’ mau hajatan gitu. Kadang tak mengenal waktu. Ada juga yang tidur di sini, ada yang di atas. Saya masak sendiri aja. Tapi kadang bu Fahmi atau Bu Nur ke sini, bawa makanan, ikut masak-masak,” ujar Hayatun Nufus, istri Budairy, mengenang. Yang dimaksud Bu Fahmi adalah Mariam Chairiah, istri Fahmi Saifuddin, sementara Bu Nur merujuk Shinta Nuriyah, istri Gu Dur.

”Yang ngambek itu Hisyam. Karena kamar dia yang selalu ditempati nginep para tamu,” ujar Nufus mengingat anak ketiganya.

”Mbah Lim itu yang sering datang malem-malem. Jam satu, jam tiga. Dia langsung tok-tok jendela bapak,” ujar Eliza Said, anak kedua pasangan Budairy-Nufus. Nama lengkap Mbah Liem adalah Muslim Rifa’i Imampuro, aktivis NU dari Klaten, kini berusia 87 tahun, dikenal kiai nyentrik tapi kharismatik.

Budairy salah satu orang yang memiliki peran penting dalam sejarah baru, tonggak baru dan jalan baru organisasi NU. Ukurannya antara lain gerakan kembali NU ke Khittah 26. Ini suatu gerakan yang memfokuskan NU sebagai organisasi sosial keagamaan. Dalam urusan politik, gerakan ini memilih agar NU keluar dari peta politik praktis menuju politik bebas aktif. Dengan kata lain, secara organisasi NU tetap bergeming dari ajang perebutan kekuasaan. Para ahli menilai Khittah 26 sebagai “kecerdasan NU” menghadapi Orde Baru yang makin kuat menjadi rezim otoritarianisme.

Dalam catatan A. Chalid Mawardi, Gus Dur berpendapat Khittah itu berarti “menarik diri dari aktivitas politik praktis”. Sementara Mahbub mengatakan “tetap berpolitik praktis, dengan catatan saling menghormati satu dengan lainnya”. Mahbub mengusulkan “Khittah plus,” tulis Mawardi.

Mahbub beralasan, massa NU besar, justru NU akan kuat jika bermain dalam arena politik. ”Mengapa dibawa-bawa ke Khittah, lepas dari kegiatan-kegiatan politik? Ini sama dengan menjadikan NU sebagai perkumpulan sepakbola,” tulis Tom Anwar menirukan Mahbub Djunaidi.

Di sinilah peran Said Budairy sebagai penengah, ”Anda bisa bayangkan sulitnya mengkoordinir orang kaya’ Gus Dur, Pak Fahmi, Pak Zamroni, Pak Mahbub,” ujar Muchit Muzadi, kini berusia lebih 80 tahun, menetap di Jember, Jawa Timur, sebagai mustasyar atau penasihat Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

Budairy cerita kumpul-kumpul di rumahnya bukan awal gerakan Khittah. Gerakan kecil-kecil sudah dimulai almarhum Fahmi Saifuddin dan kolega lain sejak muktamar di Semarang pada 1979. Anak-anak muda sudah gelisah dengan situasi NU. Gerakan kembali ke Khittah 26 sebetulnya juga muncul sejak Muktamar NU di Surabaya pada 1971. Namun, hal ini luput karena kerasnya rivalitas Idham Chalid dan Subhan ZE dalam perebutan posisi puncak PBNU.

Budairy mengingat, dalam satu tulisan mengenang almarhum Fahmi, bagaimana gedung PBNU yang kotor, porak-poranda, penuh dengan parkiran gerobak dorong di halaman. Generasi Budairy membandingkannya dengan memotret gedung dan universitas Muhammadiyah, yang telihat rapi dan tampak aktif. Tak ketinggalan rumahsakit Cikini milik umat Kristen Protestan dan rumahsakit St. Carolus milik umat Katholik. Ditentangnya foto-foto itu lalu dibawa ke kediaman para sesepuh NU. Mereka memperlihatkan foto-foto tersebut sambil menyampaikan keprihatinan. Mereka mengadu. Ternyata lumayan berhasil. Sempat ada tokoh NU yang meneteskan airmata.

”Kantor PBNU hanya ramai ketika menjelang Pemilu dan menentukan siapa yang akan jadi DPR. Selebihnya, kantor PBNU sepi. Ketika malam, kantor PBNU berisi gerobag-gerobag dorong,” tutur Budairy.



NAMA BUDAIRY
di depan Said adalah nama ayahnya. Budairy senior adalah anak dari Kiai Idris, murid dari Kiai Tohir. Kiai Tohir ayah Kiai Nachrowi, salah seorang yang membidani kelahiran Nahdlatul Ulama serta pendiri Pesantren Bungkuk di Singosari, sekira 7 kilometer timur laut dari kota Malang. Budairy menikah dengan Mutmainnah, anak Kiai Alwi Murtadho, anggota Badan Konstituante dari Partai NU.

Pada 12 Maret 1936 menjelang subuh, Mutmainnah melahirkan anak ketiganya. Ini satu-satunya anak Mutmainnah dan Budairy. Dua anak mereka meninggal sewaktu dilahirkan. Mungkin karena ini pula si bayi jadi rebutan kerabat untuk memberi sebuah nama. Kiai Alwi Murtadho memberi nama Muhtarom. Kiai Idris memberi nama Tohir.

Namun kemudian nama lain datang. Si bayi sering sakit-sakitan. Penyebabnya, nama Muhtarom dianggap terlalu berat, atau dalam tradisi Jawa disebut kaboten jeneng alias keberatan nama, memandang bagaimana orang-orang Jawa dulu, bahkan hingga kini, mempercayai keramatnya sebuah nama. Suatu hari ada seorang kiai datang dari Gentong, Pasuruan. Keluarga memintanya berkah. Dia mengganti nama menjadi Said: Muhammad Said Budairy.

Mutmainnah meninggal dalam usia 32 tahun selagi Budairy menyusui. Umurnya sekitar setahunan. Ada sketsa tak utuh dalam diri Budairy menggambarkan ibunya, ”Saya sendiri pernah mencoba merekonstruksi kenapa ibu meninggal. Saya pikir, pada waktu itu, antibiotik itu kan belum dikenal. Sehingga kesimpulan saya, ibu mengalami infeksi pada saluran melahirkan dan tidak terobati.”

Mutmainnah seorang da’iyah atau pendakwah. Seorang kolega ibunya menceritakan, Budairy kecil beberapa kali diajak ceramah, keluar-masuk kampung. ”Ketika pertama kali saya ke makam, dikasih tahu, ini makam ibumu,”? Budairy mengenang.?

”Suatu ketika saya lihat nisannya sudah mulai rapuh, saya ganti dengan nisan batu, sampai sekarang,” ujarnya lirih.

Budairy diasuh dan disusui neneknya, Afiati atau Riwati, istri Kiai Alwi Murtadho. Perpindahan asuhan dan susuan Afiati adalah wasiat Mutmainnah. Perpindahan ini menjadikan status Budairy dengan anak-anak Afiati tak hanya paman, tapi juga saudara sesusuan —dalam istilah fiqih disebut akhun bir rodlo’ah. Mereka yang berkerabat macam ini adalah A. Basori Alwi, Abdullah A. Murtadho, Anshar (meninggal saat bayi), dan Abdul Karim Alwi.

Sejak itu Budairy tak pernah jauh dari neneknya hingga usia SMA. Dia datang ke rumah bapaknya hanya seperlunya atau saat kena marah. Namun Afiati juga paling mengasihi. Kadang ini membuat iri anak-anak kandungnya sendiri.

Budairy kagum dengan kegigihan Afiati menjaga keberlangsungan ekonomi keluarga, ”Bu Afiati jualan beras, ketan, kacang kedelai. Saya merasakan beliau tambah berat ketika suaminya mengalami post-power syndrom.” Kekaguman ini diwujudkan Budairy dengan meniru apa yang dilakukan neneknya. Dia ikut berjibaku membantu kesembilan adik-adik tirinya.

”Mas Said itu ya kaya kakak saya sendiri. Jadi rasanya itu nggak ada bedanya. Dia itu baik kepada adik-adiknya. Kami diangkat sedikit demi sedikit. Ya, memang keluarga sederhana, jadi kemampuan ya biasa-biasa saja,” kata Sholihah.

Lepas Mutmainnah meninggal, ayah Said menikah lagi dengan Mughoyyah. Rumahnya di sebelah timur pasar Singosari. Mereka memiliki duabelas anak, tiga meninggal saat bayi. Budairy senior pernah sebagai legislator daerah mewakili Partai Nahdlatul Ulama. Dahulu jabatan politik sebatas jabatan sosial, tak cukup berpengaruh pada penghasilan. Biaya rapat lebih banyak patungan atau sukarela. Dia berdagang macam-macam, dari pakaian orang tua, kain jarit, sarung serta bertani. Karena persoalan ekonomi, hingga tutup usia pada usia 78 tahun, keinginannya naik haji tak tercapai. Sementara ibu tiri Budairy meninggal dalam usia 60 tahun.

Said Budairy menjalani pendidikan dasar hingga SMA di Malang —semuanya di sekolah modern, dari 1951 hingga 1957. Dia bukan satu-satunya generasi santri Malang yang menempuh sistem pendidikan modern. Di antara dia ada Tolchah Mansoer, ahli hukum tata negara dan pendiri Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama, ada Moensif Nachrowi, salah satu pendiri Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, Tolchah Hasan, mantan menteri agama kabinet Abdurahman Wahid, ada jurnalis Sinansari Ecip dan para kerabatnya seperti Karim A. Murtadho.

Di kota-kota lain di mana komunitas santri cukup menonjol, mencari santri berpendidikan modern pada awal kemerdekaan hingga tahun 60-an amatlah susah. Sebut saja wilayah Madura, Rembang, Jember, Jombong, Kediri, Tegal dan Cirebon.

Namun Budairy juga pernah mengaji di Kediri. Saat itu keluarganya mengungsi. Pada 1947, Malang sebagai kota terbesar kedua di Jawa Timur terpapar aksi polisional Belanda. Masa ini disebut revolusi fisik, atau “kevakuman kekuasaan” di mana situasi sosial dan pemerintahan penuh gejolak, jalan-jalan dikuasai para ‘laskar rakyat’. Pada 1947, agitasi dari kaum Republik, dengan perintah “bumi-hangus” demi menangkal pendudukan kembali tentara Sekutu, menjadikan situasi serba rawan dan sulit bagi warga Malang.

”Di Kediri, kami tinggal di rumah besar milik Pak Abu Suja. Dia orang kaya, rumahnya gede, memenuhi segala keperluan sehari-hari kami. Saya tidak tahu persis bagaimana orangtua saya kenal mereka,” kata Karim A. Murtadho, anak bungsu pasangan Alwi Murtadho dan Afiati.

”Kami lama ngungsi di Kediri, persisnya di Ngadisomo. Saya dan Said sempat ngaji. Ke tempat ngaji harus nyebrang sungai dan melewati kuburan. Berangkat menjelang maghrib dan pulang setelah isya. Kalau pulang takutnya minta ampun,” ujar Karim, yang berusia dua tahun lebih muda dari Budairy.

Setelah di Kediri, keluarga Alwi Murtadho mengungsi secara berturut-turut ke Tulungagung, Jombang, Pasuruan dan Surabaya. Mereka baru kembali ke Singosari pada 1949. Tahun 1949 pula, pada 27 Desember, ditandai penyerahan kekuasaan Republik Indonesia dari kerajaan Belanda.

Budairy tak begitu intens menggeluti pendidikan pesantren. Keluarganya sendiri tak keberatan dirinya sekolah umum. Dia mondok di Bungkuk Singosari milik Kyai Tohir. Kitab nahwu atau ilmu gramatikal bahasa Arab yang dipelajarinya baru Jurumiyah dan khatam menghapal kitab Imriti. Gurunya Kiai Nur Salim, mertua dari mantan menteri agama Kiai Masykur dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo.

Budairy, dalam usia 74 tahun, masih mengingat nama-nama gurunya semasa belajar di Malang: Sukarno, Ali Ahmad, Abdul Kohar – semuanya guru di Madrasah Ibtidayah Nahdlatul Ulama.

”Terus terang saja kemudian saya tidak intensif menekuni ilmu-ilmu keagamaan. Saya pake pegangan hidup pribadi saja. Selebihnya saya ngurus buku-buku yang latin-latin saja,” katanya.

”Cuma sekarang susah. Ada yang panggil saya kiai. Mungkin karena saya di MUI, diangggap kiai aja. Ditanya ini-itu.”

Sejak 1995, Said Budairy menjadi pengurus pusat Majelis Ulama Indonesia. Motivasinya, ”Saya ingin menyatukan suara umat Islam dalam berbagai hal.” MUI dikenal lembaga konservatif dalam mengambil kebijakan mengenai keberagamaan. Ini lembaga kepanjangan pemerintah. Melalui MUI, negara telah mencampuri urusan agama warganya.

Posisi Budairy terakhir sebagai ketua Komisi Informasi dan Komunikasi, yang tergolong baru, dibentuk dalam Musyawarah Nasional MUI ke-7 di Jakarta pada 2005. Dia yang mengusulkan komisi baru ini. Perannya, memantau program-program di televisi

”Teman saya di komisi ini ada tigabelas orang. Delapan aktif, dua tidak aktif, dua lainnya sudah mati,” katanya.

Munas MUI ini ini menjadi kontroversi. MUI mengeluarkan fatwa haram pada liberalisme, sekularisme dan jemaah Ahmadiyah. Ia juga mengharamkan pelanggaran terhadap hak kekayaan intelektual.

Fatwa haram pada Ahmadiyah membuat tekanan bertambah untuk negara agar melarang keyakinan ini. Efeknya, di daerah-daerah serta di Jakarta dan Bogor, jemaah Ahmadiyah menerima tindakan kekerasan, penutupan masjid dan kantor kegiatan secara paksa. Fatwa MUI juga mendapat protes dari kalangan moderat.

Budairy mengatakan orang yang “tidak menginginkan keberadaan MUI tidak paham bahwa negara memerlukannya.” Dia berpendapat, jika pemerintah memerlukan suara kaum Kristiani, cukup dengan menoleh ke Persekutuan Gereja Indonesia. Begitupun Konferensi Waligereja Indonesia untuk orang Katholik. Sementara ”Pemerintah tentu tidak bisa menengok NU saja, karena Muhammadiyah akan marah, dan sebaliknya. Belum ormas-ormas kecil lainnya. Di MUI semua terwakili,” katanya.

Dalam “Komisi Fatwa MUI,” ujar Budairy, ”tercakup pakar-pakar agama dari berbagai kelompok dalam Islam.” Dia bilang, perbedaan antar-kelompok yang ada di MUI ditolerir, ”misalnya penetapan awal Ramadhan. Keberadaan MUI juga untuk menghadapi dunia luar.”

Bagaimana pendapat dia tentang pluralisme? ”Pendapat saya sama dengan pendapat MUI,” jawabnya.

Citra MUI di luar, bagi kelompok yang kritis, terkesan kaku, tidak akomodatif. Namun hal ini tak serta-merta menempel dalam kehidupan pribadi Budairy dan keluarganya.

Pada 60-an, dia bertetangga dekat dengan keluarga Tionghoa. Saat itu keluarga Budairy menempati rumah di jalan Muhammad Ali di Tanah Tinggi, bilangan Senen, Jakarta Pusat. Lingkungan ini terkenal dengan kebakaran rutin setiba musim kemarau dan kebanjiran saat musim hujan. Wilayah ini juga dikenal basis Partai Komunis Indonesia. Dipa Nusantara Aidit, ketua central committee PKI, tinggal di dekat rumah kontrakan Budairy.

”Rumah kami berdampingan dengan Om Tjan. Saya di kiri, mereka sebelah kanan. Temboknya menempel,” cerita Hayatun Nufus, istri Budairy, tentang pasangan Om Tjan atau Tono Kuntoro dan Rahayu.

Eliza Said, anak kedua mereka, cerita ”Kalau aku dimarahi bapak, aku bawa pakaian untuk besok pagi, lalu pergi ke rumah Om Tjan. Tidur di sana.” Dia berteman dekat dengan? Ci Wawa, alias Cahyani, anak perempuan Om Tjan. Eliza diberi nama Tionghoa? “Mei Hwa”. ”Kalau ndak salah artinya bunga teratai,” katanya. Hisyam Said, adik Eliza, diberi nama “Sam Liong”, karena lahir pada tahun Naga.

Hisyam masih bayi sewaktu tinggal di Senen. Sementara Idham Said, anak sulung Budairy dan Nufus, dititipkan bersama kakek-nenek dari pihak ibu di Kepanjen, Malang. Keluarga Budairy tinggal di Senen cuma dua tahun hingga 1964, lantas pindah ke Tebet, Jakarta Selatan. Di sini anak bungsunya lahir, bernama Emila Said.

Nufus berkata, hingga sekarang keluarganya dan keluarga Om Tjan “masih saling silaturahim.” Saat tahun baru, mereka datangi keluarga Om Tjan, “mengucapkan Natal dan tahun baru.” Begitupun keluarga Om Tjan saat keluarga Budairy merayakan Lebaran –hari raya umat Islam. Keluarga Budairy juga menengok Om Tjan saat meninggal di rumah duka St. Carolus. ”Silaturahim dilanjutkan hingga antar-anak,” tutur Nufus.

Pada 1999, usai perubahan politik mengubah struktur pemerintahan Orde Baru, Budairy menjadi anggota Lembaga Sensor Film. Ini sebuah institusi pemerintah, mengatur macam-macam penyensoran sebuah film yang hendak diputar di bioskop. LSF dinilai kalangan seniman sebagai lembaga kontroversial. Debatnya kerap antara pembatasan kreatifitas dan moralitas.

Anggota LSF gabungan dari wakil pemerintah dan masyarakat termasuk seniman. Budairy mewakili Majelis Ulama Indonesia. Dia bertugas di satu komisi yang “memantau” apa yang disebut “tata nilai dan tata budaya masyarakat Indonesia” agar “… film Indonesia menuju perkembangan yang lebih baik” – singkat kata, memilih mana film yang layak diputar dan mana yang tidak, atau bagian-bagian scene mana dalam film tersebut yang harus dipotong sebelum tayang. Budairy menjalani aktivitas ini hingga tahun 2002.

Namun, sejak Maret 2001 hingga Maret 2003, dia juga diminta sebagai ombudsman majalah Pantau. Perannya antara lain memantau isu jurnalisme, merespon kritikan dan masukan, menganalisa peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan jurnalisme, penerbitan, penyiaran, dan periklanan.

Dia menulis tiap bulan antara 1,000-1,500 kata, untuk dimuat di majalah tersebut. Banyak isu ditulisnya, dari pornografi hingga politik, dari kode etik jurnalisme hingga soal keislaman, dari dunia periklanan hingga kelakuan wartawan.

Budairy tak ragu-ragu memuji atau mengkritik tajam kebijakan sebuah koran atau majalah, perilaku wartawan, hingga para pemiliknya. Misalnya, dia menggunakan catatan akhir tahun 2001 Dewan Pers untuk menegur Rakyat Merdeka, koran yang beroperasi di bawah jaringan Jawa Pos. Pada kesempatan yang sama, dia menyentil Goenawan Mohamad dan Dahlan Iskan, keduanya orang penting di jajaran PT Jawa Pos.

Bagaimana Budairy dipilih sebagai ombudsman?

”Pantau butuh orang tua, umurnya tidak kurang dari 50 tahun, bijaksana, independen, terbuka dengan ide-ide baru. Moderat, tidak agresif, tidak terlalu maju, tidak kuno juga. Punya wawasan jurnalisme yang memadai, juga paham soal kemasyarakatan,” kata Andreas Harsono, redaktur pelaksana Pantau.

”Akhirnya kami memilih Pak Said secara aklamasi. Nama macam Atmakusuma dan para jurnalis senior lainnya kita tinggalkan.”

Budairy menjalankan kedudukannya sebagai ombusdman dengan baik. Menurut Harsono, isi tulisannya bagus. Pekerjaan-pekerjaan teknisnya rapi. Dan sudah tentu, Budairy orang yang taat deadline.

”Tulisan Pak Said hanya masuk editor bahasa, dan itu pun tidak lama. Tulisannya tidak bermasalah. Ketikannya rapi. Kami tidak melihat dia salah ketik nama orang. Lebih rapi ketimbang Rosihan Anwar atau Ong Hok Ham,” ujar Harsono.

Saking lekatnya Budairy dengan jabatan ombudsman, para kolega Pantau memplesetkan ombudsman dengan “Om Said Budairy Man.”

Saya penasaran, apa kritik Harsono terhadap Budairy? Dia menjawab, ”Yang saya sesalkan Pak Said menerima jabatan dari pemerintah. Sebetulnya tidak salah. Tapi kurang tepat saja.”?

”Tapi untunglah, Pak Said jujur. Dia tidak menyembunyikan jabatannya itu pada publik. Dalam tulisan-tulisannya, dia memunculkan jabatan barunya.”

Memang, ketika Hamzah Haz menjadi wakil presiden, Budairy ditunjuk staf khusus bidang humas dan media massa, dari 2001 hingga 2004. Hamzah Haz dan Budairy adalah aktivis Partai Persatuan Pembangunan. Artinya, minimal pada 2001, Budairy memiliki empat posisi pekerjaan: Majelis Ulama Indonesia, Lembaga Sensor Film, ombudsman majalah Pantau, dan staf wakil presiden.

Pada musim pemilihan umum 2004, Budairy terdaftar sebagai calon legislatif PPP dari daerah pemilihan Malang. ”Saya dipaksa oleh bos yang adalah ketua umum PPP dan Wapres agar mencalonkan lagi. Saya mau asal Dapil Malang yang saya tahu tiap Pemilu tidak menghasilkan kursi buat PPP. Itu wilayahnya PKB dan PDIP,” ujar Budairy.

Ini satu yang berbeda dari diri Budairy. Dia tetap bertahan di PPP. Sementara banyak dari kolega generasinya beralih ke Partai Kebangkitan Bangsa, partai resmi Nahdlatul Ulama usai kejatuhan Orde Baru 1998. Ada kesan konservatif. Jalur politiknya melekat pada PPP, sebuah gabungan partai-partai Islam yang lahir pada 1973 akibat rezim penyederhanaan politik Orde Baru.

Sesungguhnya, pada 1970-an, Budairy masih ogah-ogahan terlibat politik. Jalurnya tetap dunia kewartawanan. Fahmi D. Saifuddin mendorong Budairy terjun politik. ”Menjadi NU tidak cukup dengan nulis berita,” kata Fahmi.

Jika Budairy ngobrol tentang NU, nama Fahmi Saifuddin paling sering disebut. Keduanya memang memiliki banyak kemiripan. Sama-sama punya perhatian besar pada NU, memiliki keprihatinan yang sama, sama-sama rela berperan di belakang panggung NU, telaten dan cermat dengan hal-hal teknis organisasi dan tak kalah populer: sama-sama rapi. Banyak orang menyebut keduanya sebagai “tukang” organisasi.

Arief Mudatsir Mandan, politisi senior Partai Persatuan Pembangunan, mengatakan, ”Senior yang paling sayang pada juniornya ya Mas Fahmi dan Mas Said itu. Keduanya melihat junior bukan sebagai pesuruh. Junior itu adalah orang yang punya potensi dan makanya harus diberi kesempatan.”

Keterlibatan Budairy? dengan Nahdlatul Ulama mulanya genetikal. ”Kakek dan bapak saya orang pergerakan,” ujar Budairy. Nahdlatul Ulama mengkadernya sejak anak-anak. Mula-mula di Athfal, organisasi kepanduan di bawah Gerakan Pemuda Anshor. Budairy lantas aktif dan salah satu pendiri Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama. Pada 1954, dia ketua untuk cabang kabupaten Malang. Pada 1959 hingga 1961 dia sekretaris perwakilan pimpinan pusat IPNU di Jakarta bersama Chalid Mawardi dan Shobih Ubaid.

”Saya heran juga bisa menjadi aktivis IPNU papan atas,” ujarnya, tertawa. ”Saya kan pendiam dan tidak bisa ceramah. Mungkin karena pada waktu itu tidak ada kader.”

Budairy mengenang dirinya “biasa-biasa saja” sewaktu SMA, tak menonjol dalam prestasi dan kegiatan. Namun sewaktu remaja, dia ingat pada dua kejadian. Saat muktamar pertama IPNU, digelar lima hari dari 28 Februari 1955, dia bertemu Presiden Sukarno serta tokoh utama NU antara lain Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Masykur dan Kiai Zainul Arifin. Kedua, saat dia mengenal gadis “yang paling cantik di Kepanjen.”

“Kalau sedang bulu tangkis dia nonton, saya bersemangat,” tuturnya.

Gadis itu Hayatun Nufus. Kulitnya bening. Budairy menyebut Nufus “fotogenik.” Nufus aktif dalam Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama. Budairy mengingat masa remajanya bersama Nufus ketika suatu siang Nufus datang ke rumah neneknya. Dia grogi. Afiati nenek yang rewel, segera membuka semua jendela dan pintu. ”Padahal waktu itu tidak ada apa-apa, hanya urusan organisasi. Mungkin untuk menghindari fitnah,” kata Budairy.

Mereka menikah pada 30 juni 1957. Nufus masih kelas 4 PGA atau kelas 1 SMA. Mereka tak langsung tinggal bersama. Budairy ke Jakarta, sementara Nufus tetap di Kepanjen. Dua tahun kemudian mereka baru menggelar resepsi pernikahan.

”Saya nikah siri dulu, mengikat dulu. Karena saya ingin memantapkan diri dengan karya dan berusaha untuk sekolah lagi,” kata Budairy.



SAID BUADIRY
ke Jakarta memenuhi panggilan M. Syifa dari Duta Masyarakat. Syifa – mertua Saifullah Yusuf – minta Budairy bergabung karena tertarik dengan tulisannya. Budairy beberapa kali menulis untuk Duta Teruna, rubrik anak-anak dan remaja yang diasuh Syifa. Rubrik ini muncul setiap Sabtu, memenuhi setengah halaman dari delapan halaman koran. Isinya puisi, cerita pendek, surat pembaca dan sedikit gambar. ”Kak Syifa” sendiri lantas kembali ke Jombang karena tak betah di Jakarta.

Budairy tinggal sementara di kantor Gerakan Pemuda Anshor, Jalan Pengangsaan Timur 46. Munasir Ali, Yusuf Hasyim, dan Abdullah A. Murtadho adalah orang yang menetap bersamanya. Mereka tidur di satu ruangan dari tiga ruangan kantor.

Awal kemunculan Duta Masyarakat bisa dirunut dari Muktamar NU ke-19 di Palembang. Muktamar yang berlangsung 28 April hingga 1 Mei 1952 itu mendesak NU memisahkan diri dari Partai Masyumi. Alasannya, “sudah banyak perbedaan-perbedaan perinsipil yang tidak bisa ditemukan lagi.” Dalam buku Dari Pesantren untuk Bangsa (Budairy menjadi editornya), muktamar ini tidak serta-merta melepaskan diri dari Partai Masyumi. Perundingan kedua partai agar tetap dalam satu wadah masih berlangsung hingga dua bulan setelah muktamar.

Barulah NU benar-benar keluar dari Partai Masyumi pada 31 Juli 1952. Ini ditandai dengan lima kiai yang melepaskan jabatan Majelis Syura DPP Masyumi dan tujuh anggota parlemen Partai Masyumi dari unsur NU (Idham Chalid menyebut delapan). Mereka lantas membentuk Fraksi NU. Sementara palu untuk meresmikan NU ikut pemilu baru diketuk pada Muktamar NU ke-20 di Surabaya, September 1954.

Duta Masyarakat, beralamat di jalan Menteng Raya nomor 24, terbit kali pertama pada 2 Januari 1954. Ia diterbitkan untuk menjadi semacam loud-speaker “Partai Nahdlatul Ulama dan kepentingan nasional”. Slogan koran ini, kata Chalid Mawardi, “Untuk Kerjasana Islam-Nasional”. Namun kemudian slogan koran berubah menjadi “Pembawa Amanat Penderitaan Ummat”.

Pemimpin umum dan pemimpin redaksi Duta Masyarakat pertama Kiai Saifuddin Zuhri. Di kotak redaksi ada Mohammad Hasan serta Mahbub Djunaidi. Formasi ini bertahan dari 3 Januari 1959 hingga 31 Mei 1961.

”Mohammad Hasan adalah seorang Tionghoa yang diislamkan Kiai Wahab Chasbullah,” kata Chalid Mawardi, kolega Budairy dari Duta Masyarakat. ”Nama aslinya Tan Kim Liong. Dialah yang banyak membantu keuangan dan percetakan.” Mulai 1 Juni 1961, ada tiga awak baru: Said Budairy, Mohammad Sjureich dan Sutardjo. Dalam Duta Masyarakat edisi 15 Juli 1961, Budairy menduduki wakil penanggung jawab redaksi.

Bila hari Ahad, Duta Masyarakat berganti nama Duta Minggu. Jargonnya pun diganti menjadi "Mengembangkan Kebudajaan Ilmu dan Agama". Nuansa baru itu mulai terbit pada 5 Februari 1961. Sejak itulah rubrik Duta Teruna – berslogan Tempat Persemaian Tunas2 Muda – di mana Budairy pengasuhnya, punya halaman yang lebih longgar, hampir sehalaman. Budairy menjadi pengasuh Duta Teruna sejak 3 Januari 1959.

Namun usai peristiwa Gerakan 30 September 1965, Duta Masyarakat menurunkan headline serem-serem. Misalnya, pada 1 Oktober 1965, judul beritanya: “Pasukan Tempur G 30 S ditawan.” Atau edisi 4 Oktober 1965: “Bubarkan PKI Dalang G-30-S.” Ia juga memuat seruan, ditulis besar-besar, “Bersihkan PWI Dari Oknum2 Subversip dan Kontra Revolusioner.” Edisi 6 Oktober 1965: “PKI Tak Punja Modal dlm Perdjuangan”. Dalam satu judul mengutip statemen Bung Karno:? “G-30-S Terkutuk”.

Edisi 8 Oktober 1965, giliran pernyataan Ketua Umum PBNU, Kiai Idham Chalid, dijadikan judul besar: ”Kita Tetap Kiri, dan Tidak Akan berbelok Ke Kanan.” Paragrap pertama tulisan ini memuat pernyataan Idham Chalid, kini berusia 88 tahun:

“Dengan dibubarkanja PKI, Revolusi kita tidak akan berbelok ke Kanan, melainkan total Revolusi jang kiri. Kiri dalam arti Pantja Sila, anti nekolim, anti kapitalisme dan anti segala rupa bentuk penindasan oleh manusia atas manusia dan oleh Bangsa atas Bangsa.”

Hampir semua tulisan-tulisan Duta Masyarakat yang terbit hari-hari itu fokus pada kekisruhan politik di Jakarta dan seluruh wilayah di Jawa. Tak ketinggalan tulisan fiksi, macam cerita bersambung “Kemelut di Demak” karangan M. Dharto Wahab, berakhir pada edisi 35, 18 Oktober 1965.

Pada dini hari 1 Oktober 1965, di Jakarta terjadi penculikan dan pembunuhan beberapa jenderal Angkatan Darat. Partai Komunis Indonesia dituduh militer sebagai satu-satunya dalang peristiwa tersebut. Kekerasan meluas di daerah-daerah. Jawa banjir darah! GP Ansor sebagai musuh dalam selimut agitasi Barisan Tani Indonesia ikut berperan dalam skala pembunuhan, yang didorong peran RPKAD atas pola perekrutan kelompok-kelompok lokal untuk melaksanakan serangan-serangan terhadap kaum komunis. Mayjen Soeharto menggantikan Sukarno, lewat apa yang disebut “kudeta merangkak”.

Bandul kehidupan politik berubah. Sekitar 40-an koran berhaluan kiri diberangus. Informasi disaring. Nyaris tiada media independen yang bertahan dari mesin “self-cencorship” Orde Baru. Ini menghampiri juga pada Duta Masyarakat, tempat Said Budairy bekerja.

Chalid Mawardi mengatakan Duta Masyarakat mulai krisis pada 1971. Sebabnya soal uang. Para penyumbang berhenti, para pengiklan enggan. ”Bukan tidak mungkin ada unsur intimidasi penguasa,” katanya.

Pemicunya, Pemilu 1971 yang disebut Mawardi sebagai “pemilu ugal-ugalan.” Dia menceritakan lehernya pernah ditodong pistol saat tengah berdoa! Ini terjadi di tengah kawalan Kapolsek dan Danramil. ”Coba ente bayangkan, Mas?” kata Mawardi kepada saya.

Dalam edisi 2 Agustus 1971, jabatan wakil penanggung jawab redaksi berpindah ke Harun Al-Rasyid. Pemimpin umumnya Yusuf Hasyim. Mahbub Djunaidi sebagai wakil. Budairy pindah sebagai anggota dewan redaksi.

Namun Chalid Mawardi tak ingat kapan persisnya Duta Masyarakat gulung tikar. Arsip koran di Perpustakaan Nasional, bilangan Salemba, tak menyimpan secara lengkap kliping harian ini.

Said Budairy lantas gabung di SK Pedoman. Ini bermula dari pertemuannya dengan Rosihan Anwar, pemilik koran itu. Rosihan cerita korannya “mau tutup saja, karena rugi terus.”

”Kemarin korannya Haji Mahbub Djunaidi tutup. Sekarang korannya Haji Rosihan Anwar mau tutup juga. Ya sudah, urusan koran kita serahkan pada Jakob Oetama saja,” ujar Budairy menyebut Oetama, pemilik harian Kompas.

Sindiran Budairy rupanya menyemangati Rosihan. Dia meminta Budairy menjadi pemimpin perusahaan Pedoman. Mulanya Said menolak karena merasa tak punya latar belakang usaha.

”Ah, asal mau belajar, seorang wartawan pasti bisa melakukan apa saja,” kata Rosihan.

Sejak 1973 dia pun bekerja di Pedoman. Namun ini bertahan cuma setahun. Pemerintahan Orde Baru membredel Pedoman, plus Indonesia Raya dan Abadi, karena dianggap terlibat menghasut aksi demonstrasi menentang kedatangan Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka ke Jakarta. Peristiwa ini dikenal sebagai “Malari” atau “malapetaka 15 Januari” 1974.

PADA 1 APRIL 1974, terbit sebuah koran bernama Harian Umum Pelita. Ini bukanlah koran umum. Pelita koran resmi Partai Persatuan Pembangunan. PPP merupakan hasil reduksi partai-partai Islam pada 1973 oleh Orde Baru.

Latarnya, pemilu 1971 di mana Orde Baru melakukan manipulasi. Ada protes. Protes dijawab dengan penggabungan partai-partai – sesuatu yang hampir mustahil sepuluh tahun sebelumnya. Partai Nahdlatul Ulama, hasil muktamar 1952, serta partai-partai Islam harus bergabung dengan PPP. Partai-partai berhaluan nasionalis bergabung menjadi Partai Demokrasi Indonesia.

Sementara corong pemerintahan Soeharto melalui Partai Golongan Karya. Slogan Pelita adalah “Kesatuan, Kedamaian dan Kebahagiaan Ummat”. Pemimpin umum Pelita adalah M. Syah Manaf. Barlianta Harahap memegang redaksi. Said Budairy dan Darussamin sebagai wakilnya. Alamat Pelita di Jalan Asemka nomor 29-30, kawasan Jakarta Kota.

Dalam sebuah tulisan “39 Tahun Bersahabat”, didedikasikan untuk Slamet Effendy Yusuf, juniornya di Pelita, Budairy mengungkapkan hingga tahun ketiga, Pelita tidak bisa berkembang, ”Meskipun dipaksakan, tirasnya tidak lebih dari belasan ribu saja.”

”Koran pemerintah, yang terus diguyur dana, bukan. Koran ummat, dalam arti bisa sepenuhnya melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, termasuk melakukan kritik terhadap kebijakan penguasa, menyajikan berita dan pendapat secara obyektif, juga tidak mungkin.”

Akhirnya, menjelang Pemilu 1977, Pelita banting setir. Blak-blakan memberitakan dan mengemukakan pendapat atas kecurangan-kecurangan penguasa dalam usaha memenangkan Golkar. Pelita memberitakan simulasi pencoblosan di Indramayu yang menyatakan 100 persen kemenangan Golkar hingga memuat mayat tokoh PPP yang dikeroyok orang tak dikenal. Pendek kata, koran ini menulis semua keganjilan-keganjilan peristiwa berkaitan Pemilu, tanpa tedeng aling-aling, yang digelar 2 Mei 1977.

Puncaknya, Pelita memuat peristiwa pembunuhan anggota komisaris PPP, Kiai Hasan Basri, di Brebes, Jawa Tengah. Ia mengungkapkan kronologis pembunuhan ini, dari rumah almarhum yang digedor-gedor hingga anaknya dibawa ke Koramil, lalu dipukuli. Tujuannya, menolak pernyataan pemerintah bahwa Kiai Hasan Basri tewas menjatuhkan diri ke sumur.

Berita ini disandingkan di bawah foto Soeharto yang sedang duduk, sambil senyam-senyum, saat berbicara dengan duta besar Brazil, Leonardo Elulio, yang pamitan dari Indonesia. Ia juga memuat foto besar Soeharto sedang berdiri saat menyambut kedatangan Fred D. Hartley, Presiden Union Oil Company dari California, AS. Di atas foto itu ada judul headline: “Sekitar 2,5 juta surat suara yang ‘tidak sah’ akan ditinjau kembali”. Tentulah, penampilan Pelita edisi 6 Mei 1977 ini bukan tanpa tujuan.

Dua hari kemudian, halaman pertama Pelita memasang foto-foto rumah yang dibakar di desa Asembagus Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur. Ini tempat tinggal tokoh PPP, Kiai As’ad Syamsul Arifin. Penulisan berita yang apa adanya ini membuat tiras Pelita melonjak tajam.

”Dengan menjadikan Pelita koran yang? melakukan kritik terbuka atas kecurangan-kecurangan penyelenggaraan Pemilu, tirasnya melonjak. Sempat mencapai 200.000 pada masa itu. Tiras tersebut dipertahankan, tapi toh merosot juga setelah usainya Pemilu,” tulis Budairy.

Akhirnya, Pelita menerima surat peringatan keras dari Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban. Budairy menyimpan baik-baik surat bertanggal 4 Juni 1977 ini. Isi surat menentang pemberitaan pembunuhan Kiai Hasan Basri serta pembakaran rumah di Situbondo. Pelita dianggap “memutar balikkan fakta, berlebihan, bersifat menghasut, dan mudah dapat menerbitkan keonaran di kalangan rakyat.” Surat ini ditandatangani Sudomo.

Budairy menulis, ”Koran tetap jalan stabil, tidak membesar, tapi juga tidak terus merosot.”

Lima tahun kemudian, Pelita tetap bandel memantau kembali Pemilu. Menjelang pemungutan suara, Menteri Penerangan Ali Murtopo mengumpulkan para pemimpin suratkabar. Budairy hadir mewakili Pelita. Murtopo minta agar suratkabar hanya menyiarkan hasil penghitungan suara dari Lembaga Pemilihan Umum, tidak dari sumber lain. ”Saya tidak bisa terima, tapi dalam suasana seperti itu dan berhadapan dengan Jendral Aspri Presiden dan Kepala Staf Operasi Khusus, saya tidak bisa buka mulut,” kata Budairy.

Sebagai legislator dari DPR-GR, yang ikut menyusun UU tentang Pemilu, Budairy “hafal betul” bahwa ketentuan penghitungan suara di Tempat Pemungutan Suara sifatnya terbuka untuk umum. Namun Pelita tak menghiraukan permintaan Ali Murtopo. Atas persetujuan Ketua Umum PPP, H.J. Naro, Pelita tetap memberitakan hasil pemungutan suara dari berbagai sumber, langsung dari TPS.

Sore hari, Budairy ditelepon dari Departemen Penerangan. Dia diminta datang pukul 7 petang. Dia bertemu Dirjen PPG, Sukarno SH, yang menyampaikan surat pembredelan harian Pelita. Sukarno beralasan dirinya bukan sendirian memutuskan. Ini vonis langsung, tak ada hak membela diri.

Budairy segera ke kantor redaksi, menyelenggarakan rapat dadakan dan menyampaikan kabar buruk tersebut. Kerja redaksi yang sudah separoh jalan terpaksa dihentikan sama sekali. Dia memberitahu Naro, dengan maksud mencari pembelaan, namun Naro cuma bilang, “mungkin karena Pelita dianggap sudah banyak melakukan pelanggaran.”

Namun, setelah melewati beberapa bulan tak terbit, ada rapat di kediaman Aspri Presiden Jendral Sudjono Humardani, yang dihadiri pemimpin umum dan pemimpin redaksi Pelita serta Menpen yang sudah ganti orang. Keputusannya, Pelita boleh terbit lagi tapi dengan pemimpin baru. Budairy “diangkat” menjadi staf ahli pemimpin umum, yang dalam praktiknya tak punya meja, tak jelas tugasnya dan tak digaji.

”Saya paham, sebetulnya saya dipecat. Saya digusur dari profesi saya sebagai wartawan. Saya tidak memperoleh hak apapun atas pemecatan berselubung pengangkatan itu,” katanya.

Ichwan Syam, wartawan senior Pelita setelah pemutihan itu, mengatakan,”Pelita era 80-an akhir, atau awal 90-an dipenuhi orang-orang Golkar. Ada Akbar Tanjung, ada Abdul Ghofur dan sebagainya. Pelita era oposisional tamat pasca Mas Said.”

”Bukan saja korannya dibredel, pribadi saya pun dibredel,” tulis Budairy.

Tapi Budairy terus maju jalan. Usai NU kembali ke gerakan khittah 1926, hasil muktamar Situbondo 1984, Budairy merintis terbitan lagi. Namanya Warta Nahdlatul Ulama. Bentuknya tabloid bulanan. Media ini diterbitkan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, berbasis di Jakarta. Mottonya, Media Komunikasi dan Silaturahim. Warta NU terbit pertama kali pada September 1985, delapan bulan setelah muktamar di Situbondo.

”Gagasan besar Warta NU ditorehkan oleh Gus Dur dan Mas Fahmi, tapi secara operasional digawangi oleh Pak Said, Slamet Effendy Yusuf, Ichwan Syam, dibantu anak-anak muda, antara lain saya sendiri, Ali Zawawi dan Arifin Junaidi,” kata Saifullah Ma’shum, redaktur pelaksana pertama bersama Arifin Junaidi.

Di Warta, Budairy duduk sebagai pemimpin umum, Slamet Effendy Yusuf sebagai pemimpin redaksi dan wakilnya Ichwan Syam. Mula-mula Warta diongkosi Asia Foundation melalui paket program kerjasama dengan Lakpesdam NU. Ia pertama kali dicetak 25 ribu eksemplar dan didistribusikan ke Jakarta dan sekitanya, Jawa Timur dan Jawa Tengah.

”Sebagai pemimpin umum jelas peran Pak Said sangat sentral. Apalagi kala itu Warta sedang dalam masa perintisan. Dalam setiap edisi, peran Pak Said sangat menonjol, bukan saja menyangkut aspek policy, ikut mencari sumber pendanaan, melainkan juga sampai hal-hal teknis dan redaksional,” ujar Saifullah kepada saya.

Memang, jika dirunut sedari kecil, tangan Budairy sudah akrab dengan tulis-menulis. Ini yang kelak membuatnya dikenal sebagai orang NU yang wartawan. Sewaktu SMA, dia pernah membantu Basori Alwi menerjemahkan kitab fikih Fathul Qorib. Lingkungan metropolis Malang juga membantu Budairy mengenal lebih awal media-media modern macam koran atau majalah.

”Saya kira Said memang kepincut dengan dunia tulis-menulis,” kata Asnawi Latief. Dia meduga Budairy dipengaruhi Mahbub Djunaidi, orang NU yang lebih dulu menjadi wartawan.

Budairy berkata Mahbub Djunaidi punya pengaruh, “Kaitannya dengan profesi, saya sangat terpengaruh oleh Mahbub Djunaidi.”

Di jajaran Persatuan Wartawan Indonesia Pusat, Budairy pernah menjabat ketua departemen pendidikan dan agama (1963-1967), wakil sekretaris jenderal (1967-1970), serta bendahara (1970-1973).

Namun, ada yang aneh di mana Budairy? tak pernah bekerja di “koran umum”. Kecuali di Harian Pedoman yang cuma setahun karena dibredel. Budairy selalu bekerja di koran-koran berbasis komunitasnya, yaitu Islam dan Nahdlatul Ulama. Saya pernah tanya kepada Budairy, kenapa misalnya dia tak bekerja di koran mainstream macam Kompas atau Tempo?

Dia menjawab, ”saya ingin selalu dekat dengan ulama. Saya lahir dan tumbuh di tengah-tengah ulama. Saya ingin mati bersama ulama.”

SEJATINYA SAID Budairy bukanlah model orang yang madep-lempeng untuk satu urusan. Kedatangannya di Jakarta tak hanya urusan jurnalistik, tapi juga Nahdlatul Ulama. Rupanya dia pegang betul nasihat sahabat karibnya, Fahmi D. Saifuddin, bahwa mengabdi untuk NU tak cukup menulis berita. NU harus didekati dan ditangani secara manusiawi dan organisasi.

Saat? pindah ke Jakarta, dia meneruskan jenjang organisasinya di Nahdlatul Ulama, yang sudah dirintisnya sejak di Malang. Dia menginisiasi perwakilan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama – waktu itu berpusat di Yogyakarta.

Dia salah seorang yang kencang menyampaikan pendapat organisasi pelajar ini harus dipisahkan dengan organisasi mahasiswa. Alasannya, ada kebutuhan berbeda antara pelajar dan mahasiswa. Di konferensi besar pertama IPNU, diselenggarakan di Kaliurang, Maret 1960, pendapat Budairy tentang organ baru untuk mahasiswa makin mengemuka. Sebulan kemudian diadakan pertemuan di komplek perguruan NU Wonokromo, Surabaya, guna meneruskan keputusan IPNU. Tigabelas anak muda dari berbagai kota hadir dalam pertemuan itu, termasuk Budairy dan Chalid Mawardi. Hasilnya, pendirian Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, yang resmi lahir 17 April 1960. Mereka juga memberikan mandat kepada Mahbub Djunaidi sebagai ketua umum PMII, Chalid Mawardi sebagai ketua I, dan Said Budairy sebagai sekretaris umum.

?

Budairy di PMII hingga 1963 lantas aktif dalam Gerakan Pemuda Anshor. ”Tapi Said tidak begitu aktif di Ansor. Dia konsentrasi di Duta Masyarakat. Posisinya persis kebalikan dengan saya. Saya di Duta Masyarakat tidak intens, tapi fokus di Anshor,” kata Chalid? Mawardi.

”Sewaktu Ansor rame-rame mengadakan penggemblengan di Lirboyo untuk jaga-jaga menghadapi situasi negara yang kacau, dia tidak mau ikut. Saya kira karena hati Said itu lembut. Dia tidak mau yang kasar-kasar. Pencak silat dan lain-lain tidak mau. Kalau saya kan orangnya pothokan, atos…” kata Mawardi, tertawa.

Pada 1963, saat berumur 27 tahun, Budary telah punya dua anak. Kehidupan organisasinya berjibun. Dia bekerja profesional sebagai wartawan Duta Masyarakat, tapi juga berkecimpung di PMII, GP Anshor serta PWI Pusat. Dia juga legislator dalam DPR-GR/MPRS dari Partai Nahdlatul Ulama yang dijalaninya hingga 1971.

Namun kehidupan Budairy bukan tanpa masalah. Saat dia tinggal Tanah Tinggi, Senen, awal 1960-an, dia pernah berpikir hendak boyongan ke Malang. Pasalnya, rumah kontrakan dan sekililingnya kebakaran. Dia menyelamatkan hanya beberapa buku, ditaruh di pinggir jalan. Rencananya dia dan keluarga mengungsi sementara ke rumah Mahbub Junaidi lantas kembali ke Kepanjen.

Kiai Saifuddin Zuhri membesarkan hatinya, ”Said tahu, berapa kali saya pindah rumah? Sepuluh kali! Baru sekarang punya rumah sendiri.”?

Menurut Hayatun Nufus, istri Budairy, sebelum tinggal di Tanah Tinggi, keluarganya? mengontrak rumah di daerah Dukuh Atas, Jakarta Pusat. Artinya, jika kantor GP Ansor dihitung (Budairy belum membawa keluarganya), mereka sudah menjalani rumah kontrakan ketiga kali.

Saat itu PWI membikin komplek wartawan di Tebet. Ada jatah rumah untuk Mahbub Djunaidi, ”Ngapain tingggal di komplek. Elu ambil aja Id, kalau mau.” Akhirnya keluarga Budairy tinggal di komplek Tebet.

Statusnya sebagai anggota dewan tak berpengaruh dalam mencukupi kebutuhan keluarga. Ini persis seperti kehidupan ayahnya di Malang, yang jualan di pasar Singosari meski juga pernah menjabat legislator daerah dari Partai NU. Gaji sebagai politisi habis tiga minggu. Ini tentu berbeda jauh dengan fasilitas para legislator Senayan sekarang. Hidup keluarga ini “kembang-kempis cukup lama.”

Untuk menyulamnya, Budairy pernah menjadi supir omprengan alias angkutan gelap. Ia berjalan setahunan. Ada mobil Fiat 1100 miliknya. Suatu saat Budairy tak membutuhkan mobil ini plus supirnya, bernama Sudibyo. Dia menjual Fiat dan diganti bemo. Dia minta Sudibyo ngompreng. Hasilnya bagi dua. Namun Sudibyo meninggal karena penyakit TBC. Bemo tergeletak menganggur. Budairy berinsiatif nyupir bemo dari Tebet ke Manggarai hingga bunderan Pancoran. ”Tiga sampai empat kali sudah cukup untuk makan besok,” katanya dengan mimik serius.

Almarhum Djamaludin Malik adalah orang yang sering membantunya. ”Saya pernah utang duit ke dia. Saya saur nggak mau. Dia sangat berjasa, bagi banyak aktivis NU seperti saya, juga para seniman yang kere-kere itu. Dia itu orang kaya yang dermawan.”

Dari Tebet, keluarga Budairy pindak ke Cawang, Jakarta Timur. Hisyam Said, anak ketiganya, mengenang rumah kontrakan di Cawang “tidak layak” dan “jauh dengan di Tebet.” Keluarga ini membuka jasa pembuatan kliping koran. Setiap pagi ada tumpukan koran baru di rumah. ”Kami pilah-pilah berdasarkan tema. Lalu diguntingin jadi kliping, terus dijual ke kantor-kantor,” ujarnya. Para pelanggannya antara lain dari Bank Indonesia, BCA, Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara dan Bank Exim. Idham Said, anak sulungnya, cerita dia ikut mengantarkan berbagai kliping koran ini kepada bank-bank tersebut. ”Jasa kliping ini masih berlanjut ketika tinggal di Mampang,” katanya.

Meski sempat punya pegawai, anak-anak Said mengaku jasa kliping tak menghasilkan untung banyak. Apalagi setelah pegawainya pergi lalu membuat usaha yang sama.

Keluarga dan para koleganya mengenal said Budairy tipe pekerja keras. Budairy juga tidak malu mengerjakan hal-hal yang remeh-temeh.

”Wah… Mas, saya yang muda saja malu, jangankan nyamain bapak, ngikutin aja kewalahan,” kata Hisyam Said kepada saya. Dia mengatakan bapaknya “cenderung keras kepala.”

Ichwan Syam menyimpan kenangan khusus tentang Budairy, ”Hanya Mas Said yang mengucapkan selamat datang di Jakarta kepada saya. Selamat berjuang. Jangan merasa besar tinggal di Jakarta, karena kota ini gudangnya orang besar. Jangan juga merasa jadi orang kecil di Jakarta, karena kota ini menyimpan banyak orang kecil.”

Nasihat ini mengena sekali dalam dirinya, “Tidak menggurui, indah didengar. Nasihat seperti itu tidak mungkin keluar kecuali dari orang yang memiliki kepribadian yang unggul seperti Mas Said.”

Sekitar akhir 1970-an, keluarga Budairy pindah ke Mampang, Jakarta Selatan. Ini bukan rumah dalam ukuran baik-baik. Hisyam Said mengumpamakan macam “rumah yang habis kena bom.” Tapi rumah ini hasil dibeli, bukan ngontrak lagi. Hingga kini, keluarga Budairy menempati rumah tersebut. Dari nasihat yang pernah dilontarkan Kiai Saifuddin Zuhri, rupanya nasib Budairy lebih beruntung. Kiai Saifuddin pindah-pindah kontrakan hingga sepuluh kali, sementara Budairy hanya lima kali. Rumah Mampang juga menjadi bagian sejarah Khittah NU pada 1984.

PADA 14 AGUSTUS 2009, ada peluncuran buku Dari Pesantren untuk Bangsa – sebuah buku biografi Kiai Muhammad Ilyas, salah satu tokoh Nahdlatul Ulama. Ia digelar di hotel Borobudur. Ada banyak aktivis dan tokoh NU yang datang. Dari anak muda seperti A. Khairul Anam, Asrori S Karni dan Rumadi, hingga yang sudah sepuh macam Kiai Mustofa Bisri, Kiai Chalid Mawardi dan Kiai Ali Yafie.

Said Budairy memberikan sambutan pembuka. Dia editor buku tersebut. Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni juga memberikan sambutan.

Seminggu kemudian, Budairy berangkat ke Singosari, Malang. Salah satu tujuannya menengok tanah yang jadi rencana areal kuburannya kelak. Areal ini masuk dalam komplek Pesantren Bungkuk, tempat makam Kiai Tohir dan Kiai Nachrowi serta para keluarganya – buyut Budairy.

”Makam ini tidak pernah sepi dari peziarah,” kata Moensif Nachrowi kepada saya sewaktu saya berkunjung. “Said, saya, Karim, dan beberapa orang lainnya direncanakan dikuburkan di sini,” katanya.

Nachrowi, kelahiran 1935, karib Budairy sejak kecil. Mereka sama-sama tumbuh sejak dari IPNU dan pendiri PMII.? ”Waktu Said datang ke sini, saya malah di Jakarta, tidak ketemu. Telepon-telepon saja,” ujarnya.

Saya menemui Said Budairy di rumahnya pada malam 25 Agustus 2009 atau hari kelima bulan puasa. Siang sebelumnya, Budairy periksa kesehatan kepada seorang dokter. Meski suaranya serak, seperti sedang batuk, malam itu raut mukanya tampak segar. Mungkin pengaruh baju koko lengan panjang, berwarna putih, serta kopiah putih yang dikenakannya.

Esok harinya, Budairy mengisi diskusi “reboan” di kantor Duta Masyarakat, Jalan Kramat 6, Jakarta Pusat. Dia menceritakan “kalender-kalender” penting dalam NU. Dari tahun 1973, saat restrukturisasi organisasi politik, hingga muktamar 1979 di Semarang, Munas 1983 dan muktamar setahun kemudian di Situbondo, hingga muktamar ke-30 di Kediri pada 1999 saat Abdurahman Wahid menjabat presiden keempat.

Pada akhir Agustus itu, Budairy juga menghadiri diskusi, kali ini di kantor PP Lakpesdam NU, Tebet, mendampingi MM Billah, koleganya saat aktif di Lakpesdam, duapuluh tahun lampau. Pada satu pertemuan, Budary terlihat kuyu, wajahnya tak segar. Dia juga tak antusias menyapa. ”Ada tukang ndandani pompa air. Kerjaannya sudah selesai. Sekarang dia ke sini untuk nagih,” katanya.

Kamar kerja Budairy di lantai dua. Kamar kecil. Penuh buku-buku. Dia bicara dengan penuh emosi, sebentar-sebentara tersenyum, tapi juga setelah itu matanya berkaca-kaca, sesekali bibirnya yang kering digigitnya. Tangannya memegang ujung meja kecil di hadapannya, seperti seseorang yang tengah pidato di depan banyak orang.

”Sudah saya wasiatkan kepada anak-anak, nanti kalau bapak nggak ada, satu yang saya minta, kalian harus tetap terhubung dan tetap berhubungan, dan saling menolong,” katanya, tiba-tiba.

Afiati, nenek yang menyusuinya, mendidik Budairy tentang pentingnya kebersamaan. Dia merasa berkewajiban meneruskan didikan ini kepada anak dan saudaranya. ”Sampai sekarang kan, saya juga mulai lebih intensif? untuk membangun supaya anak-anak dari isteri bapak yang kedua itu menyatu.” Dia tetap menjalin keluarga Sholihah dan adik-adiknya di kampung serta anak-anaknya serta keponakan Sholihah agar terus kontak. ”Saya susah payah dirikan klinik di Singosari agar anak-anak Jakarta rutin datang ke sana,” ujarnya tegas.

Budairy memiliki tanah warisan dari ayahnya. Tanah itulah yang dijadikan klinik umum. ”Luas tanah itu kira-kira 150 meter persegi. Kita buat klinik,” kata Hayatun Nufus, istri Budairy.

Emila Said, bungsu mereka, mengatakan kemauan ayahnya dalam mendirikan klinik itu “keras sekali.” Awalnya, anak-anak Budairy tak setuju. Mila beralasan, Budairy tak punya kenalan dokter di Malang, tidak mengerti bagaimana mendirikan usaha klinik serta tempatnya terlalu jauh. ”Tapi bapak jalan terus,” ujar Mila, yang memiliki dua klinik di Depok. Suaminya, Syahrizal, seorang dokter-cum-dosen.

”Akhirnya dia dengan malu-malu tanya ke saya, ‘Mil, gimana ngurus izin? Mil, gimana cari dokter? Mil, gimana beli obat?’ dan lain-lain,” tutur Mila.

”Mungkin sudah habis 150 juta lebih. Tapi, alhamdulillah, sudah diresmikan dan sudah berjalan lima bulan lebih. Meski nombok tiap bulan,” cerita Nufus kepada saya.

Suatu hari, Budairy jalan cari obat ke daerah Kota, Jakarta. Dia keluar-masuk toko obat Cina. Beberapa kali dia berjalan sempoyongan. Dia lantas menuju kantor Majelis Ulama Indonesia. Dia hendak memimpin satu rapat dari Komisi Informasi dan Komunikasi. Dalam perjalanan, dia bilang kepada saya, ”Kepala saya pusing. Tapi kalau di rumah terus lebih pusing.”

Kesehatan Budairy makin memburuk. Suatu malam, hidungnya mengeluarkan darah, mengalir hingga menetes ke baju koko putih yang dipakainya. Dia sempat periksa kesehatan ke rumahsakit Islam Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Syahrizal dan Emila Said mengatakan kepada saya, kesehatan Budairy sudah menurun drastis. Umurnya ditaksir bertahan “enam bulan, tapi bisa lebih cepat dari itu.”

”Tapi di tengah kesehatan yang menurun itulah, Pak Said ingin kesehatannya pulih kembali. Keinginan ini berbeda ketika awal-awal dia sakit. Cueknya minta ampun,” tutur Emila, bungsu Budairy.

Umar Wahid, yang berprofesi dokter, mengatakan dia mendengar Budairy sakit setelah Lebaran 2009. Dia segera menengok. Dia kaget. Kondisi koleganya sangat lemah, ”Tapi mukanya masih sumringah, bicaranya masih semangat, sempat melempar guyononan-guyonan.” Umar lantas memberitahu Abdurrahman Wahid usai pulang menjenguk. ”Mas Dur bilang, ’Ya kita hanya bisa berdoa’,” ujarnya.

Pada 23 November, dari bandara Soekarno-Hatta, Umar langsung mendatangi rumahsakit Islam tempat dirawat Budiary. Kondisinya turun drastis, nafasnya sesak. Betapapun Budairy tampak segar dan berbicara lancar. Lima hari kemudian, kesadaran Budairy menurun. Sulit bicara. Pembawaannya pun gelisah. Pada Senin, 30 November, Budairy sudah tak sadar. Umar Wahid dan keluarga Budairy mengelilingi tubuh yang koma itu. Hayatun Nufus memijat-mijat tubuh suaminya. Umar membimbing Budairy baca syahadat. Tiba-tiba nafas Budairy berhenti. Umar pegang nadinya dan tak berdenyut. Dia segera panggil dokter.

Siangnya, rumah sederhana Budairy di gang sempit bilangan Mampang dipenuhi banyak orang. Ada Arief Mudatsir Mandar, Asnawi Latief, Lukman Hakim Saifuddin. Ada Mustofa Zuhad, Ichwan Syam, Sinansari Ecip dan ratusan tokoh dari Nahdlatul Ulama, Partai Persatuan Pembangunan serta Majelis Ulama Indonesia. Ada para wartawan. Mereka berdiri mengitari jenazah yang dibopong enam orang. Jenazah dishalatkan di masjid dekat rumah.

Di jalan menuju masjid, selagi membopong jenazah, Arief Mudatsir Mandan bilang kepada saya, ”Mas Said itu banyak jasanya. Dia orang tua yang mau ngemong anak muda dengan tanpa jarak. Tapi dia sendiri tidak mau merepotkan orang. Beliau sakit, saya tidak tahu. Saya menyesal sekali tidak menjenguknya. Salah satu peninggalan Mas Said yang terasa adalah Lakpesdam itu. Jiwa kepemimpinan yang ikhlas, tanpa pamrih, ya di Lakpedam itu.”

Lakpesdam didirikan 7 April 1985 setelah muktamar NU ke-26 di Situbondo, yang membawa NU kembali ke khittah 1926. Dengan kata lain, Lakpesdam dianggap sebagai ‘anak kandung’ khittah. Lembaga ini bertujuan meningkatkan sumber daya manusia dan menggerakkan institusi-institusi sosial-kemasyarakatan NU.?

Di masjid, Asnawi Latif memberikan isyad, kesaksian, ”Saya kenal Said sejak kecil. Umur saya lebih muda dua bulan saja. Ya, saya sepantaran sama beliau. Saya bersaksi Said adalah orang baik. Semoga beliau husnul khotimah, semua amal baiknya diterima Allah subhanahu wata’ala. Mas Said, kalau umur saya sama dengan sampeyan, saya akan menyusulmu dua bulan lagi.”

Sore hari, jenazah dikebumikan di area pemakaman San Diego Hills, Krawang, Jawa Barat. Ini lain dari lahan persiapan yang sudah direncanakan Budairy sendiri di Singosari. Hujan lebat mengiringi prosesi pemakaman. Ratusan orang mengantarkan jenazah. Mereka basah kuyup. Tapi mereka mengikutinya dengan khusyuk.

Hisyam Said, anak ketiga, membopong ayahandanya di tengah guyuran hujan. Lantas dia mengumandangkan adzan dan ikomah. Suaranya gemetar. Beberapa minggu usai pemakaman, saya bertanya kepada Hisyam, ”Apa perasaan Anda saat membopong Pak Said?”

”Ketika saya bopong, tubuh Bapak belum kaku. Rasanya bapak masih hidup saja,” katanya, datar.

Saya teringat pertemuan dengan Budairy di rumahnya, ujung April 2009. Saat itu saya datang bersama dua kolega, masih muda-muda, Caswiyono Rusydie dan Fahsin M. Fa’al, yang menapaki organisasi yang didirikan Budairy: Ikatan Pelajar Putra Nahdlatul Ulama. Ini pertemuan perkenalan. Saya memperhatikan gerak tubuh Budairy yang pelan, bicara seadanya dan terkesan hati-hati. Cara senyumnya menampakkan seorang pendiam. Agak kikuk.

Belakangan Moensif Nachrowi, sahabatnya sejak kecil, mengatakan sifat pendiam "Pak Said" bagi yang belum kenal mengesankan sikap sombong, tapi sebetulnya dia banyak menampung. ”Kalau sudah disuruh bicara, nggak habis-habis. Suruh ngomong, suruh cerita, ketahuan dia banyak ilmunya,” katanya.

Umar Wahid bilang kepada saya bahwa dia memiliki kesan “Mas Said” seorang yang mampu menjadi pendengar yang baik. ”Kemampuan ini menurut saya luar biasa, karena berada di tengah-tengah orang NU yang hobinya berbicara.”

Ketika kami ijin pamit, Budairy beranjak, minta kami menunggu sebentar. Dia lantas kembali membawa sebuah buku, judulnya Musykilat dalam NU. Musykilat itu kurang lebih berarti problem, jadi Problem dalam NU. Dia juga memberi satu buku ukuran saku berisi profilnya yang ditulis Asrorun Niam Sholeh.

Di jalan menuju Lakpesdam, organisasi saya bekerja, saya berseloroh kepada kedua kolega itu, ”Masih muda kok disodori musykilat?!” Saya menangkap kesan bahwa Said Budairy, bahkan ketika kondisinya sakit-sakitan, masih terus menuntun anak muda macam saya. ©

(Ditulis oleh Hamzah Sahal, Litbang Pondok Pesantren An-Nur Slawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ubudiyah,Attijani Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 18 April 2017

Risalah Kemanusiaan Gus Dur

KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah berpesan agar di pusaranya dipahat sebuah tulisan, “Di Sini Dimakamkan seorang Humanis”. Artinya, dia ingin dikenang sebagai pejuang kemanusiaan. Dus, gelar tokoh humanis agaknya lebih tepat disematkan kepadanya. Sebab, humanisme Gus Dur benar-benar berangkat dari nilai-nilai Islam paling dalam, yang melampaui etnis, teritorial, hingga batas kenegaraan.

Sayangnya, hingga kini masih banyak pihak yang tak memahami Gus Dur dari sisi kemanusiaannya sehingga pemikirannya sering disalahtafsirkan. Buku berjudul “Humanisme Gus Dur: Pergumulan Islam dan Kemanusiaan” karya Syaiful Arif hendak memotret sisi paling subtil dari Gus Dur, yakni kemanusiaan.

Menurut Arif, buku ini memuat setidaknya tiga hal. Pertama, produk pemikiran Gus Dur. Berisi pemikiran lslam, meliputi pribumisasi lslam, lslam sebagai etika sosial, hubungan Islam dan negara, hubungan antar-agama, dan “negara kesejahteraan” lslam. Serta pemikiran demokrasi, kebudayaan, dan ke-NU-an.

Kedua, jalinan struktural pemikiran Gus Dur. Jalinan ini kemudian membentuk sistem pemikiran tersendiri. Nah, jalinan yang berisi prinsip dan tujuan itu secara mendasar mengacu pada pembelaan Gus Dur terhadap harkat tinggi kemanusiaan, yang pada satu titik ia dasarkan pada tradisi keislaman yang mendalam. Jadi, jika dirumuskan, corak atau “jenis kelamin” pemikiran Gus Dur ialah pertemuan antara keislaman dan kemanusiaan. (hlm. 61).

Risalah Kemanusiaan Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Risalah Kemanusiaan Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Risalah Kemanusiaan Gus Dur

Dalam hal ini, Gus Dur berangkat dari tradisi maqashid as-syariah (tujuan utama syariat) yang menetapkan perlindungan terhadap hak asasi manusia. Pemuliaan kemanusiaan dalam bentuk perlindungan terhadap HAM inilah yang Gus Dur sebut sebagai nilai-nilai universal lslam. Demi penegakan nilai-nilai universal tersebut, Gus Dur mensyaratkan sikap kosmopolitan, yakni keterbukaan pandangan lslam kepada peradaban lain. Artinya, untuk menegakkan universalisme lslam, dibutuhkan keberislaman yang modern. Sebab, persoalan kemanusiaan kontemporer hanya bisa ditangani oleh sarana dan sistem sosial-politik modern.

Ketiga, tujuan utama dari semua pemikiran Gus Dur, yakni humanisme lslam. Jika ditelusuri lebih mendalam, humanisme Islam Gus Dur merujuk pada humanisme komunitarian yang mengarah pada pembentukan struktur masyarakat yang adil. Setidaknya ada tiga pilar yang membentuk struktur tersebut: 1) demokrasi (syura); 2) keadilan (‘adalah); dan 3) persamaan di depan hukum (musawah). Gus Dur menyebut ini sebagai Weltanschauung (pandangan-dunia) Islam.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Apa yang telah dilakukan Gus Dur untuk memperjuangkan humanisme komunitarian ini? Pada ranah historis, Gus Dur sejak pertengahan tahun 1970-an hingga akhir 1980-an mengupayakan keadilan sosial vis-a-vis developmentalisme Orde Baru. Gus Dur bahkan sempat menjadi pemimpin redaksi jurnal Wawasan yang memuat pemikiran pembangunan alternatif sebagai counter discourse atas pembangunanisme negara. (hlm. 68). Salah satu hasil rumusan Gus Dur adalah sebuah makalah bertajuk Development by Developing Ourselves (makalah seminar The Study Days on ASEAN Development, Malaysia, 1979) yang menetapkan garis-garis pembebasan sosial-politik dari lslam. (hlm. 28)

Selain itu, menciptakan pemberdayaan masyarakat untuk mengimbangi top down development dari negara melalui LSM nirlaba dan nonpemerintah yang disebut Gus Dur sebagai Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M). Salah satu hasil konkrit usaha Gus Dur tersebut adalah lahirnya ribuan Bank Perkreditan Rakyat hasil kerjasama antara PBNU dengan Bank Summa, bernama BPR Nusumma. Sampai di sini, tak berlebihan jika penulis buku ini menahbiskan Gus Dur sebagai “pemimpin besar masyarakat sipil Islam” di Indonesia.

Dalam wilayah politik, Gus Dur mengkritik demokrasi negara. Gus Dur dalam sebuah wawancara di koran menyebut demokrasi negeri ini sebagai "Demokrasi Seolah-olah", yakni seolah-olah demokrasi, padahal tidak demokratis. Gus Dur juga menyebutnya sebagai “demokrasi institusional” yang terbatas pada instutusi negara. Negara melarang kegiatan demokrasi berbasis sipil dengan alasan telah ada lembaga-lembaga demokrasi, semacam DPR, MPR, dan pemerintah.

Bagi Gus Dur, demokrasi harus menjadi kualitas kehidupan politik. Pada tahun 1992, Gus Dur bahkan telah menggagas lahirnya Mahkamah Konstitusi yang menjadi jembatan antara masyarakat dengan negara. Tugasnya antara lain melakukan judicial review atas UU yang menindas rakyat. Pasalnya, negara seringkali menggunakan tafsir tunggal atas konstitusi. Hebatnya, ide brilian ini lahir di saat banyak kalangan belum memikirkannya sama sekali.

Dalam hal persamaan di hadapan hukum (musawah), ketika menjabat sebagai presiden, Gus Dur lebih banyak tergerak dalam proyek membela minoritas. Sebut saja misalnya, memulihkan hak politik anak cucu PKI yang diberangus rezim Orba. Selain itu, Gus Dur juga memberikan suaka budaya kepada minoritas Tionghoa yang selama ini tidak diakui negara. Dibukanya kran kebebasan melaksanakan perayaan Imlek (tahun baru China) tak ayal membuat warga keturunan Tiongkok menyematkan gelar Bapak Tionghoa kepada Gus Dur.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pada titik ini, Arif menolak gelar Bapak Pluralisme yang disematkan kepada Gus Dur oleh Presiden Yudhoyono. Pasalnya, pluralisme hanya merupakan salah satu “program” di bawah “bidang” persamaan hukum (al-musawah). Padahal selain “bidang persamaan hukum”, Gus Dur juga telah berjuang di “bidang” demokrasi politik dan keadilan sosial. Sementara itu, tiga “bidang perjuangan” ini berakar pada perjuangan kemanusiaan berbasis nilai-nilai lslam. Oleh karenanya, Gus Dur lebib tepat digelari “Bapak Kemanusiaan”, sebab gelar ini lebih luas dan mampu mewakili semua pemikiran dan perjuangan beliau.

Pertanyaannya kemudian, apa makna humanisme Islam menurut Gus Dur? Yakni nilai-nilai kemanusiaan yang berpijak dari nilai Islam. Setidaknya ada dua hal. Pertama, kemanusiaan yang ditetapkan oleh Allah (human dignity). Cara tuhan memuliakan manusia: 1) menjadikannya dalam bentuk yang paling sempurna, tidak terbatas fisik, namun juga psikis dan rohani; 2) mengangkat manusia sebagai wakil-Nya di muka bumi untuk mewujudkan kesejahteraan bagi sesama.

Perlindungan atas lima hak dasar manusia (ushul al-khamsah): 1) hak hidup (hifdz al-nafs); 2) hak beragama (hifdz al-din); 3) hak berpikir (hifdz al-aql); 4) hak kepemilikan (hifdz al-mal); dan 5) hak berkeluarga (hifdzu al-nasl). (hlm. 65). Dari sinilah dibutuhkan pendirian “negara kesejahteraan” lslam, bukan negara lslam. Jika yang terakhir merujuk pada pendirian negara berdasarkan formalisme syariat lslam, maka yang pertama merujuk pada negara yang bertujuan menegakkan tujuan utama syariat, yang bermuara pada kesejahteraan rakyat. “Negara kesejahteraan” lslam ini bisa berbentuk negara-bangsa modern, yang diterangi oleh nilai-nilai etis lslam. Pada titik ini, dibutuhkanlah struktur masyarakat yang demokratis, adil, yang menganut equality before the law.

Karya kedua Arif tentang Gus Dur ini (pada tahun 2009 dia menelorkan buku Gus Dur dan llmu Sosial Transformatif, Sebuah Biografi lntelektual) didedikasikan untuk mengabdi kepada Gus Dur, guru sejatinya yang ia tahbiskan sebagai inspirator utama. Semula, buku ini merupakan elaborasi dari makalah-makalah untuk bahan ajar di Kelas Pemikiran Gus Dur yang dihelat di The WAHID Institute. Ke depan, kata Arif, buku tersebut akan dijadikan sebagai referensi utama mata kuliah Pemikiran Gus Dur di Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta yang membuka program pascasarjana konsentrasi Islam Nusantara.

 

Judul       : Humanisme Gus Dur, Pergumulan Islam dan Kemanusiaan

Penulis    : Syaiful Arif

Penerbit   : Ar-Ruzz Media, Yogyakarta

Tahun      : Cetakan I, Oktober 2013

Tebal       : 342 hlm

Peresensi :  A Musthofa Asrori, Peneliti Ciganjur Centre Jakarta

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Budaya, Warta, RMI NU,Attijani Pondok Pesantren An-Nur Slawi