Senin, 17 Desember 2007

KH Ubaidillah-KH Hayatun Nahkoda Baru NU Jepara

Jepara, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. KH Ubaidillah Nur Umar dan KH Hayatun Abdullah Hadziq terpilih menjadi Rais Syuriyah dan Ketua Tanfidiyah PCNU Jepara masa khidmah 2015-2020, dalam Konferensi Cabang NU (Konfercab) ke-31 NU yang berlangsung di aula Gedung NU Jepara lantai 2, Ahad (15/11) dini hari.

Kiai Ubaidillah dipercaya sebagai Rais Syuriyah setelah proses pemilihan menggunakan sistem Ahlul Halli wal Adqi (AHWA). Mulanya muncul 24 kandidat AHWA. Kemudian dikerucutkan menjadi 5 kiai.

KH Ubaidillah-KH Hayatun Nahkoda Baru NU Jepara (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Ubaidillah-KH Hayatun Nahkoda Baru NU Jepara (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Ubaidillah-KH Hayatun Nahkoda Baru NU Jepara

Pada proses pemilihan anggota AHWA sudah muncul 5 besar, antara lain KH Ubaidillah Nur Umar (14), KH Kamil Ahmad (10), KH Makmun Abdullah Hadziq (9), KH Mahfudz Sidiq (6), dan KH Nur Hasan (4).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Karena ada dua kiai yang berhalangan hadir, yakni Kiai Mahfud Sidiq dan Kiai Nur Hasan, sesuai dengan keputusan musyawarah dianggap batal, maka dilakukan pemilihan tahap kedua untuk mengisi posisi AHWA yang masih kosong.

Pada sidang pemilihan yang diketuai H Mukhlisin dan wakil ketua Iman Fadlilah kembali mengerucut dua nama KH Nor Rohman Fauzan dan KH Nafiudin Hamdan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Setelah terpilih 5 nama Ahwa KH Ubaid, KH Kamil, KH Makmun, KH Nor Rohman dan KH Nafiudin. Kelima kiai ini menggelar rapat terbatas dan memutuskan KH Ubaidillah Nur Umar sebagai Rais Syuriyah.

Dalam sidang pemilihan Ketua Tanfidiyah, KH Hayatun Abdullah memperoleh suara 10, disusul KH Asyhari Syamsuri dengan 5 suara dan Shodiq Abdillah 1 suara.

“Sesuai Pasal 27 ayat 4 Tatib Konfercab menyatakan calon yang memperoleh separo plus 1, 9 dinyatakan aklamasi dan tidak ada lagi pemilihan untuk kedua kalinya. Sehingga KH Hayatun terpilih secara aklamasi,” terang Mukhlisin, Wakil Ketua PWNU Jawa Tengah.

Terpisah, KH Asyhari Syamsuri, ketua demisioner PCNU Jepara saat ditemui Pondok Pesantren An-Nur Slawi usai pemilihan, memberikan dukungan kepada ketua PCNU terpilih. “Semoga 5 tahun ke depan kepemimpinan KH Ubaidilllah dan KH Hayatun lebih baik dari yang sekarang,” katanya.

Sedangkan KH Hayatun, ketua terpilih menyatakan tanfidiyah merupakan pelaksana NU. Dalam kinerjanya pengasuh pesantren Hadziqiyah Jepara ini tidak ingin mendahului dawuh Syuriyah.

Pihaknya berkomitmen bersih dari aktivitas politik praktis menjelang pesta demokrasi 2017.

Kegiatan yang berlangsung selama sehari ini diikuti 16 MWCNU dan ratusan ranting se-Kabupaten Jepara. H. Slamet Effendy Yusuf didaulat untuk membuka konfercab yang ditandai dengan pemukulan kentongan. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Santri Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 04 Desember 2007

Usai Kaderisasi, Anggota GP Ansor Terjun ke Masyarakat

Subang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor kembali menggelar Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD). Kali ini, kaderisasi jenjang pertama organisasi pemuda NU tersebut digelar di wilayah Subang selatan, meliputi Kecamatan Jalancagak, Cisalak, Kasomalang, Tanjungsiang, Ciater, Sagalaherang dan Serangpanjang. Namun ada juga peserta dari delegasi Subang tengah meliputi Kecamatan Subang dan Cibogo.

Kegiatan PKD tersebut digelar selama dua hari, Sabtu-Ahad (30-31/7/2016) yang dipusatkan di Pondok Pesantren Az-Zahra Kampung Cibatu,? Desa/KecamatanTanjungsiang. Sebanyak kurang lebih 50 orang terlibat dalam kegiatan yang menjadi ajang kaderisasi di GP Ansor tersebut.

Usai Kaderisasi, Anggota GP Ansor Terjun ke Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Usai Kaderisasi, Anggota GP Ansor Terjun ke Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Usai Kaderisasi, Anggota GP Ansor Terjun ke Masyarakat

Ketua Panitia Pelaksana, Gilang Fajar Alfina menegaskan, dalam pelaksanaan rekrutmen anggota GP Ansor tersebut dilakukan beberapa instrumen penting dalam mengikuti kegiatan PKD di antaranya dilakukan screening atau proses penyaringan terlebih dahulu untuk memastikan layak dan tidaknya mengikuti PKD.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Ini penting dilakukan karena konsep kaderisasi di GP Ansor tidak sembarangan. Merekalah yang akan mengemban amanah organisasi jika sudah pulang ke daerahnya masing-masing," ujar Gilang.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Para peserta tersebut, kata Gilang, telah dibekali dengan berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan konsep kepemimpinan dan menggali potensi diri untuk kemudian diimplementasikan dalam kiprahnya di tengah-tengah masyarakat. "Karena mereka akan menjadi penggerak motor organisasi GP Ansor untuk berkiprah di daerahnya masing-masing," kata Gilang yang merupakan Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Tanjungsiang.

Ia berharap, sebagaimana tema yang diusung, "Meneguhkan Ideologi Islam Ahlussunnah wal Jama’ah, Generasi Muda Siap Memimpin", kader-kader GP Ansor bisa meneruskan estafet kepemimpinan di Kabupaten Subang dengan berbasis ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai pondasinya.

Sementara itu, Ketua Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Subang Asep Alamsyah Heridinata menegaskan, kegiatan kaderisasi di GP Ansor ini rutin digelar setiap tahunnya. "Saat ini sudah memasuki tahun ketiga kita laksanakan PKD dan Diklatsar setelah bulan-bulan kemarin kita gelar di Subang bagian barat," kata Asep.

Dengan demikian, lanjut Asep, kader-kader GP Ansor dan Banser sudah terjun ke akar rumput hingga seluruh kecamatan di Kabupaten Subang. "Karena ini komitmen kami akan membentuk kepengurusan GP Ansor di tingkat ranting (desa, red)," pungkasnya. (Ade Mahmudin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Internasional, Amalan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 09 November 2007

Inilah Beberapa Hasil Pertandingan di Laga Pembuka LSN 2016

Yogyakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pesantren Nur Iman (Yogyakarta) berhasil unggul telak 3-0 atas wakil Sulawesi I Pesantren DDI Kaballanggang pada laga perdana seri nasional grup D Liga Santri Nusantara di Stadion Triadi, Yogyakarta, Senin (24/10).

Tiga gol Nur Iman masing-masing dicetak Yuda di menit 5, Tata Albarik menit ke-29 dan A Pambudi pada menit 36.

Inilah Beberapa Hasil Pertandingan di Laga Pembuka LSN 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Beberapa Hasil Pertandingan di Laga Pembuka LSN 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Beberapa Hasil Pertandingan di Laga Pembuka LSN 2016

Kemenangan ini mengantarkan Nur Iman memimpin sementara grup D dengan raihan tiga poin. Mereka unggul dengan selisih gol atas PP Daruttabin FC dari Jatim II yang dilaga sebelumnya menang tipis 1-0 atas tim Hidayatussalikin perwakilan Sulawesi I.

Sementara itu pada penyisihan grup A LSN 2016, Pesantren Assulami (NTB I) sukses manaklukkan wakil Kalimantan III Nahdlatul Athfal dengan skor 2-0 di stadion AAU Tribun, Senin (24/10).

Dua gol kemenangan Assulami dicetak Rosy Ridho di menit 42 dan satu gol lainnya di cetak Henzilam di menit 70.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Di grup yang sama, Pesantren Salafiyah Al Falah (Jabar II) juga menang dengan skor 2-0 atas Pesantren Al Falah (Kalimantan II) di Lapangan AAU Non Tribun. Kemenangan ini membawa Salafiyah Al Falah bersaing ketat dengan Assulami yang masing-masing memperoleh tiga poin di laga perdana.

Pada pertandingan selanjutnya, PP Assulami akan menghadapi Al Falah di lapangan Dwi Windu. Sedangkan Nahdlatul Atfal yang harus berjuang memetik poin ? akan menghadapi Salafiyah Al Falah di Lapangan Baturetno.

Kedua pertandingan tersebut akan berlangsung pada hari Selasa (25/10) pukul 07.00 WIB. (Red-Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Tokoh Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 29 Oktober 2007

Kasatkornas Pimpin Upacara Penutupan Diklatsar Terpadu Banser NU Jaksel

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Kepala Satuan Koordinasi Nasional Banser H Alfa Isnaeni menutup Diklat Terpadu Dasar (DTD) Angkatan I Satkorcab Banser pada 25-27 Agustus 2017 yang diadakan oleh GP Ansor Jakarta Selatan. Ia menyampaikan terima kasih atas kesediaan peserta dalam mengikuti pendidikan dan pelatihan dasar secara utuh.

“Terima kasih kepada para sahabat semua yang dengan rela mengikuti diklat dasar terpadu selama tiga hari,  hingga terakhir ini,” kata Alfa saat menjadi inspektur upacara penutupan DTD Banser Jakarta Selatan, Ahad (27/8) pagi.

Kasatkornas Pimpin Upacara Penutupan Diklatsar Terpadu Banser NU Jaksel (Sumber Gambar : Nu Online)
Kasatkornas Pimpin Upacara Penutupan Diklatsar Terpadu Banser NU Jaksel (Sumber Gambar : Nu Online)

Kasatkornas Pimpin Upacara Penutupan Diklatsar Terpadu Banser NU Jaksel

Dalam amanat upacara ia mengingatkan peserta yang sebelumnya dibaiat sebagai anggota Banser untuk meluruskan niat dalam mengikuti pendidikan dan pelatihan dasar ini.

“Niat adalah jantung dari gerakan kita semua. Oleh karena itu kita harus memasang niat dengan benar. Jaga ulama kita dan bela negara kita. Ini yang selalu saya ulang-ulang tanpa jemu di setiap kesempatan bersama sahabat di setiap daerah. Kalau kita lupa, mari kita perbaharui niat,” kata Alfa di arena upacara, di lapangan kompleks Pesantren Ciganjur.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ia kemudian membimbing seratus lebih peserta untuk mengikrarkan ketulusan sebagai anggota Banser. “Ikuti saya, ‘Saya masuk Banser lillâhi ta‘alâ, karena Allah ta‘ala, bukan karena ada apa-apanya,” kata Alfa diikuti peserta upacara penutupan.

Ia meminta peserta untuk tetap menjalin koordinasi dengan kepengursan Ansor dan Banser di daerah masing-masing setelah pendidikan dan pelatihan selesai. Peserta DTD Angkatan I Banser Jakarta Selatan terdiri atas 112 orang. Pendidikan dan Pelatihan Terpadu Dasar Banser ini berlokasi di Yayasan KH A Wahid Hasyim, Ciganjur, Jakarta Selatan. Peserta terdiri atas kalangan laki-laki dan perempuan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selain dari Jakarta Selatan, sebagian peserta berasal dari luar Jakarta Selatan, yaitu Jakarta Utara, Tangerang, Depok, Bogor. Sebagian peserta adalah kalangan santri laki-laki dan perempuan yang diutus oleh pengasuh pesantrennya. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi News, Warta Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 08 Oktober 2007

Mursyid Abdul Ghoni Atau Mbah Ahmad Sadjadi

Semenjak kecil, almarhum KH Abdul Ghoni gemar mengembara untuk menimba ilmu di berbagai pesantren di tanah Jawa. Riwayat pendidikannya dimulai di madrasah diniyyah ibtida’iyyah Tegal Sari Sala. 

Kemudian beliau melanjutkan ke jenjang lebih tinggi, yakni di Madrasah Tsanawaiyyah dan Aliyyah Mamba’ul Ulum Sala, dan lulus tahun 1939. Selain pendidikan formal, beliau yang haus ilmu, memperdalam ilmu agama dengan nyantrik ke beberapa pondok pesantren. Di antaranya di Jawa Timur beliau pernah ngaji di Pesantren Termas Pacitan (tahun 1940) yang diasuh Raden Sayyid Hasan dan Kiai Hamid bin Abdullah, Pesantren Mojosari Nganjuk yang dipimpin Kiai Zainuddin, dan Pesantren Tebu Ireng Jombang. Di pesantren yang disebut terakhir tadi, Mbah Sadjadi mengkhususkan untuk mengkhatamkan kitab hadist Shohih Bukhori.

Mursyid Abdul Ghoni Atau Mbah Ahmad Sadjadi (Sumber Gambar : Nu Online)
Mursyid Abdul Ghoni Atau Mbah Ahmad Sadjadi (Sumber Gambar : Nu Online)

Mursyid Abdul Ghoni Atau Mbah Ahmad Sadjadi

Di Jawa Tengah, ia pernah nyantri di Pesantren Lasem asuhan Mbah Kiai Ma’sum, Pesantren Watucongol Muntilan asuhan Kiai Dalhar, dan Pesantren Bustanul Usyaqil Qur’an Demak asuhan Kiai Raden Muhammad bin Mahfudz at-Tirmizi. Di pesantren ini, ia berhasil menghafalkan Al-Qur’an selama 3 tahun (1941-1944). Ia juga pernah nyantri di Serang Banten di bawah bimbingan Kiai Haji Syam’un.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Tak heran jika akhirnya Kiai Abdul Ghoni, atau yang lebih akrab disapa Mbah Sadjadi ini menjadi ulama yang sangat luas ilmunya. Ia menguasai berbagai macam keilmuan, seorang hafidul qur’an, ahli tafsir, ahli hadist, dan juga seorang ahli fiqih. Kiai Sadjadi menguasai ilmu perbandingan fiqih 4 mazhab.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Aktif berdakwah dan berorganisasi

Kiai Sadjadi sejak 1977 berada di lingkungan masjid M Tohir, Yosoroto Laweyan Solo. Dua tahun kemudian ia dipercaya untuk tinggal di masjid Yosoroto. Dan sejak itulah, para tamu dari thariqah asy-Syadziliyyah banyak yang berkunjung ke masjid. Setiap hari, puluhan orang bertamu ke Yosoroto.

Menurut cerita dari KH Adib Zain, Sekretaris Jendral JATMAN, salah satu pengganti mursyid thoriqoh asy-Syadziliyyah, usai KHR Ma’ruf Mangun Wiyoto wafat, diantaranya adalah Mbah Sadjadi yang di usia lanjutnya dikenal dengan sebutan KH Abdul Ghoni. 

Ijazah Mbah Sadjadi diperoleh dari Kiai Ma’ruf dan Kiai Ahmad Abdul Haq, pengasuh Pondok pesantren Watucongol Muntilan.

Saat mengemban amanah di masjid Yosoroto, kiai yang juga dikenal sayang dengan anak-anak dan selalu berusaha shalat berjama’ah ini, mengadakan banyak kegiatan keagamaan, di antaranya adalah sema’an Al-Qur’an yang diselingi dengan penjelasan ayat yang dibaca, rutin setiap malam Rabu. Dan, khusus pada malam Rabu terakhir diselingi dengan pembacaan shalawat Burdah karya Imam Bushiri.

Mbah Sulaeman Tanon Sragen, salah satu santri Kiai Umar Al-Muayyad bercerita, ketika masih mondok di Al-Muayyad beliau sering disuruh untuk sema’an di masjid Yosoroto. Menurutnya, banyak kitab yang telah diserap dari lisan sang kiai, di antaranya tafsir Jalalain, Riyadus Shalihin dan lainnya.

Selain mengajar di Yosoroto, Kiai Sadjadi juga mengajar santri-santri Al-Muayyad. Kitab yang diajarkannya adalah tentang perbandingan madzhab “Al-Mizanul Kubro” karya Syekh Abil Mawahib bin Ahmad bin Aly al-Anshory. Sedangkan di Masjid Tegalsari Solo beliau mengajarkan Tafsir Jalalain, matan ghoyah wat taqrib dan Jawahirul Bukhori.

Tidak hanya itu, ternyata Kiai Sadjadi juga seorang dosen di Universitas Nahdlatul Ulama Surakarta sejak 1947-1987. Pernah bergabung dalam Laskar Sabilillah Kota Surakarta (1946), juga pernah menjabat sebagai anggota DPRD Kota Surakarta dari fraksi NU (1964-1965) dan menjabat mustasyar NU Kota Surakarta (1987). Sampai akhir hayat pada tahun 1987, beliau terus mengabdi untuk masyarakat.

Sabtu Pon 21 Maret 1987 bertepatan dengan 22 Rajab 1407 H sekitar pukul 19.00 WIB. Beliau pergi dalam usia 68 tahun. Kepergiannya membawa duka bagi keluarga, sahabat, para ulama dan santri-santri beliau. Kiai Sadjadi meninggalkan seorang istri, Nyai Hj. Chammah Sadjadi, 5 putra dan 3 putri.

Ada beberapa kesaksian menarik saat prosesi pemakaman beliau. Sebagaimana dikisahkan Ibu Nyai Hj. Baidhowi Syamsuri (istri KH Baidhowi Syamsuri, pengasuh Pondok Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo) dan juga KH Abdul Karim Ahmad yang menyaksikan kepergian beliau. Saat keranda beliau diangkat oleh para santri dan keluarga secara silih berganti, keranda terasa ringan.

Orang-orang yang membawa keranda Kiai Sadjadi seakan berlari-lari sambil bershalawat burdah, “Karena ringannya keranda almarhum, yang mengangkat tak bisa menahan kakinya untuk berlari.” Kata KH Abdul Karim. Menurut Kiai yang akrab disapa Gus Karim, itu merupakan pertanda bahwa almarhum sudah tidak sabar ingin bertemu Allah swt, “Para Malaikat penyambut almarhum juga sudah tak sabar menunggu pecinta shalawat itu.” (Ajie Najmuddin, disarikan dari tulisan A. Himawan asy-Syirbany di Tabloid TAJAM Jamuro)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Budaya Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 03 September 2007

IPNU-IPPNU Rembang Giat Lakukan Kaderisasi

Rembang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dalam beberapa bulan terakhir, pelajar yang tergabung dalam Pimpinan Cabang (PC)? Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Rembang, Jawa Tengah giat melakukan kaderisasi.

Ketua PC IPNU Rembang Ahmad Humam mengatakan, dalam beberapa bulan terakhir pihaknya berhasil melakukan re-organisasi kader yang telah habis masa khidmahnya di beberapa Pimpinan Anak Cabang (PAC) dan Pimpinan Ranting (PR).

IPNU-IPPNU Rembang Giat Lakukan Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Rembang Giat Lakukan Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Rembang Giat Lakukan Kaderisasi

Salah satu PAC yang giat melakukan kaderisasi di ranting-ranting adalah Kecamatan Sumber, setelah vakum dalam 3 tahun terakhir. "Kegiatan tersebut dilakukan secara berlanjut, bahkan dalam beberapa hari terakhir mereka telah melakukan pembentukan ranting di 6 desa," jelasnya saat dijumpai di rumahnya, Desa Kabongan Kidul, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang, Selasa (16/2).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

PAC IPNU-IPPNU Kecamatan Sumber juga berhasil membentuk ranting baru yang selama ini belum pernah terbentuk, pihaknya berhasil merekrut kader baru dengan jumlah yang cukup banyak.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Dalam pembentukan ranting baru di Kecamatan Sumber, kita juga berhasil merekrut kader baru dengan jumlah yang cukup banyak. Di Desa Sambong Kecamatan Sumber misalnya, kita berhasil membentuk ranting baru dengan jumlah kader hingga 60 orang," pungkasnya.

Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Rembang sendiri telah merencanakan beberapa kegiatan kaderisasi dan pelatihan. Di antaranya adalah melakukan re-organisasi di PAC IPNU-IPPNU Kecamatan Pamotan dan Gunem pada akhir bulan ini, serta kegiatan Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) pada awal bulan depan. (Aan Ainun Najib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ulama, Nusantara Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 08 Agustus 2007

Tujuh Kesepakatan Nuklir Iran Disetujui

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Iran menyetujui tujuh kesepakatan soal aktivitas nuklir dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Salah satunya mencakup kecemasan Barat atas kemungkinan dimensi militer dalam program nuklir Teheran.

Berdasarkan perjanjian, Ahad dengan IAEA, Teheran sepakat akan memberikan informasi soal detonator atau pemicu perangkat nuklir. Teheran juga menjanjikan informasi terbaru akan rencana pembentukan reaktor air berat. Iran nantinya mengizinkan pengawas IAEA mengakses tambang uranium serta fasilitas konsentrat uranium. Demikian dilaporkan oleh wall street journal.

Tujuh Kesepakatan Nuklir Iran Disetujui (Sumber Gambar : Nu Online)
Tujuh Kesepakatan Nuklir Iran Disetujui (Sumber Gambar : Nu Online)

Tujuh Kesepakatan Nuklir Iran Disetujui

Kesepakatan soal detonator merupakan langkah pertama Iran mengatasi kecurigaan Barat. Amerika Serikat (AS) dan sekutunya selama ini menuding Iran merancang program nuklir untuk kepentingan militer. Janji Iran ini relatif sederhana, namun menurut diplomat Barat langkah seperti ini sudah memadai dalam tahap perundingan seperti sekarang.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Bagaimanapun, beberapa hal yang menjadi sumber kecemasan Barat tetap terlarang bagi pengamat Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Contohnya Iran belum memperbarui akses bagi IAEA, badan otonomi di bawah PBB, ke situs militer di Prachin. Di tempat itu, aktivitas Iran dicurigai melibatkan bahan peledak yang sensitif.

Pejabat senior AS menyatakan masih ada sejumlah persoalan yang harus segera diselesaikan Iran, mengingat kemungkinan dimensi militer dalam program nuklirnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Iran dan para pakar dari PBB meraih kesepakatan dalam negosiasi dua hari di Teheran. Kesepakatan ini diharapkan dapat mendorong perkembangan menyusul perjanjian sebelumnya pada 11 November.

Iran berjanji akan menempuh tujuh kesepakatan pada 15 Mei. Perundingan dengan IAEA diharapkan dapat membuktikan program nuklir masa lalu dan terkini Iran—seperti ditegaskan Teheran—dipergunakan untuk tujuan sipil.

Iran mengizinkan pengawas IAEA mengakses tambang uranium Saghand di Yazd, juga fasilitas konsentrat uranium di Ardakan.

Iran menjanjikan informasi terbaru atas desain reaktor plutonium Arak, juga merancang landasan untuk pemeriksaan IAEA terhadap reaktor air berat itu.

Teheran juga menjanjikan informasi akan Pusat Laser Lashkar Ab’ad. IAEA menduga Pusat Laser mampu memproduksi sejumlah kecil uranium yang diperkaya—jumlah yang bisa digunakan untuk merancang senjata nuklir.

Informasi lain yang bakal disediakan Iran termasuk impor sehubungan nuklir serta ekstraksi uranium.

Secara signifikan Iran menyetujui untuk menyediakan informasi berikut penjelasan yang memungkinkan IAEA menilai pekerjaan detonator Exploding Bridge Wire. Dalam sebuah laporan IAEA bertanggal November 2011, detonator ini disebut sebagai salah satu kemungkinan proyek nuklir Iran yang berkaitan dengan militer. (mukafi niam)

Foto: EPA

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Nusantara Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 12 Juli 2007

Ini Metode KH Ali Mustafa Yakub Memahami Sunah Rasulullah SAW

Tepat satu Januari 2016, Prof Dr KH Ali Mustafa Yakub mencetak ulang bukunya berjudul Ath-Thuruqus Shahihah fi Fahmis Sunnatin Nabawiyyah. Bertepatan dengan 20 Rabiul Awwal 1437 H, pendiri Ma’had Aly Darus Sunnah Ciputat ini meluncurkan buku cetakan kedua. Buku ini memuat metode yang digunakan oleh para ulama di dalam memahami sejumlah kemusykilan yang terdapat di dalam hadits-hadits Rasulullah SAW.

Selain teori, pakar hadits Indonesia ini menyebut sejumlah contoh yang berkaitan dengan metode yang ditawarkan. Buku ini memuat 239 halaman. Karya berbahasa Arab ini diterbitkan oleh Maktabah Darus Sunnah-Yayasan Wakaf Darus Sunnah Ciputat.

Ini Metode KH Ali Mustafa Yakub Memahami Sunah Rasulullah SAW (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Metode KH Ali Mustafa Yakub Memahami Sunah Rasulullah SAW (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Metode KH Ali Mustafa Yakub Memahami Sunah Rasulullah SAW

Dalam pendahuluan, Kiai Ali menyebutkan bahwa bukunya ini dibagi ke dalam tiga pembahasan. Pada pembahasan pertama, ia mengupas masalah kebahasaan dan pemaknaan sebuah kata seperti majaz, illat hadits, teori takwil di kalangan ulama, tradisi Arab di dalam hadits, posisi geografis, kondisi sosial, dan sababul wurud.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sementara pada bab kedua, buku ini memuat sejumlah riwayat hadits yang berbicara satu tema dengan sudut pandang berbeda. Sehingga tampak terjadi kontradiksi antara satu dan lain riwayat. Kiai Ali mencoba menawarkan metode pemecahan problematika hadits seperti ini pada bab kedua.

Sedangkan pada pembahasan ketiga, buku ini lebih jauh mengangkat masalah (yang tampaknya) kontradiksi antara hadits dan Al-Quran, hadits dan hadits, serta antara hadits dan nalar. Di bab ini lagi-lagi Kiai Ali mengangkat masalah dan mencoba menawarkan metode pemecahannya.

Dalam pendahuluan Kiai Ali mengatakan, kajian hadits Nabi Muhammad SAW sangat penting karena hadits (sunah-Pen) merupakan sumber kedua (setelah Al-Quran) bagi hukum Islam. Kajian hadits umumnya terbatas pada tiga tema pokok. Pertama, pembahasan terkait musthalah hadits. Dari kajian ini umat Islam dapat mempertahankan posisi hadits dari serangan kelompok pengingkar sunah dan kalangan orientalis. Kedua, pembahasan terkait takhrij hadits, kritik matan dan sanad hadits. Ketiga, pembahasan terkait cara memahami hadits.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Lebih lanjut Kiai Ali mengatakan, tanpa menguasai tiga pokok masalah di dalam kajian hadits makna dari hadits sebagai sumber hukum Islam tidak akan bisa dipahami. Kiai Ali sendiri menemukan kekeliruan sebagian orang yang hidup di zaman ini dalam memahami hadits Rasulullah SAW karena mereka tidak mengetahui (dan mengamalkan) metode memahami hadits Rasulullah SAW. “Lebih jauh dari itu, ketidaktahuan atas metode itu menyebabkan sebagian orang ‘tersesat’ dan ‘menyesatkan’.”

Walhasil, orang sekarang menurutnya sangat membutuhkan teori dan metode di dalam memahami hadits agar tidak jatuh dalam pemahaman yang keliru.

Buku ini memuat kutipan-kutipan pandangan sejumlah ulama. Secara jujur, Kiai Ali mengakui bahwa teori dan pemahaman akan hadits tanpa penyebutan referensi di buku ini merupakan pandangan pribadinya.

Menariknya, buku ini mengangkat contoh-contoh hadits Rasulullah SAW yang kerap dipahami secara keliru oleh sebagian orang sekarang. Sebut saja hadits perihal sorban, jubah, jenggot, tasyabbuh (meniru) dengan kalangan non-Muslim, hukuman mati untuk mereka yang murtad, batasan antara agama dan tradisi Arab, siksaan untuk ahli kubur karena tangisan keluarganya yang masih hidup, dan sejumlah tema menarik lainnya.

Buku ini diakhiri dengan deretan referensi yang digunakan Kiai Ali dalam menulis buku ini dan biografi singkat Penulis yang tidak lain alumni Pesantren Tebuireng Kabupaten Jombang. Sebelum penutup, Kiai Ali dalam beberapa kesimpulannya menyebutkan bahwa upaya memahami hadits tidak boleh berpatokan pada sebuah riwayat, tetapi harus melihat seluruh riwayat hadits dengan tema yang sama atau berkaitan.

Dalam upaya memahami hadits seseorang juga harus mempertimbangkan aspek geografis, kondisi sosial, dan tradisi Arab ketika hadits diucapkan Rasululah SAW. Karenanya, “Pemahaman hadits yang bersandar hanya pada satu riwayat atau tanpa memerhatikan illat (‘sebab’ hukum) di hadits kerap mengakibatkan kesalahpahaman terhadap hadits tersebut bahkan mengakibatkan ‘tersesat’ dan ‘menyesatkan’ di dalam urusan agama.” (Alhafiz Kurniawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 05 Juni 2007

Santri Al-Muayyad Tingkatkan Kapasitas Manajemen

Solo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Puluhan santri Al-Muayyad Mangkuyudan Surakarta yang terpilih menjadi anggota Ikatan Pelajar Madrasah Al-Muayyad (IPMA), mengikuti Latihan Ketrampilan Manajemen Pelajar (LKMP) yang diadakan di komplek pesantren Al-Muayyad, Kamis-Ahad (19-22/12).

Santri Al-Muayyad Tingkatkan Kapasitas Manajemen (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Al-Muayyad Tingkatkan Kapasitas Manajemen (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Al-Muayyad Tingkatkan Kapasitas Manajemen

Kegiatan yang diadakan setiap tahun itu bertujuan untuk menempa dan membekali calon pengurus IPMA yang baru untuk masa bakti 2014.

LKMP diselenggarakan Yayasan Lembaga Pendidikan Al-Muayyad bekerjasama dengan Keluarga Alumni Ma’had Al-Muayyad (Kamal). Kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan jiwa kepemimpinan dalam diri santri.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Wati salah seorang mantan ketua IPMA madrasah diniyah menjelaskan, setiap calon anggota IPMA wajib mengikuti LKMP. Karena, calon anggota IPMA akan diberikan bekal kepemimpinan di antaranya mengenai karakter pemimpin, cara-cara berkomunikasi yang benar sebagai layaknya seorang pemimpin, proses manajemen konflik, dinamika kelompok, serta yang paling utama berlatih untuk selalu disiplin.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

IPMA merupakan organisasi siswa intrasekolah di lingkungan Pondok Pesantren Al-Muayyad. “Kepengurusan IPMA mencakup tingkat pusat, cabang SMP, cabang aliyah dan cabang SMA, dan cabang madrasah diniyah,” ujar Wati, Kamis (19/12). (Ahmad Rosyidi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Aswaja, Cerita Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 07 April 2007

Gara-gara FDS, Santri di Sejumlah Daerah Pamit Keluar dari Pesantren

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Meski sempat diumumkan ada pembatalan oleh Presiden Joko Widodo, kebijakan Lima Hari Sekolah atau full day school (FDS) yang diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Peraturan Mendikbud Nomor 23 tahun 2017 nyatanya masih berjalan di beberapa daerah.

Hal ini pula yang dikeluhkan Ketua Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) KH Abdul Ghaffar Rozin. Ia mengaku mendapat laporan dari pesantren dan madrasah diniyah di beberapa daerah tentang dampak nyata dari kebijakan tersebut.

Gara-gara FDS, Santri di Sejumlah Daerah Pamit Keluar dari Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Gara-gara FDS, Santri di Sejumlah Daerah Pamit Keluar dari Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Gara-gara FDS, Santri di Sejumlah Daerah Pamit Keluar dari Pesantren

“Sudah banyak santri yang pamit pada kiainya karena harus menanggung beban penambahan jam pelajaran di sekolah sampai sore. Laporan yang saya terima antara lain dari Purwokerto, Banyumas, Sragen, ini yang Jawa Tengah. Yang dari Jawa Timur, ada Lumajang dan daerah lainnya,” katanya selepas menghadiri Focus Group Discussion "Pengembangan Kurikulum Madrasah dan Regulasi Kurikulum" yang digelar Kementerian Agama di Jakarta, Jumat (4/8) petang.

Tak sedikit pelajar di sekolah formal merangkap pula status sebagai santri di sebuah pesantren atau madrasah diniyah demi mendapatkan tambahan wawasan agama. Dalam hal ini mereka harus berbagi waktu, pagi sampai siang di sekolah dan selebihnya di pesantren atau madrasah diniyah. Kebijakan FDS membuat jadwal kedua lembaga yang terpisah ini bertabrakan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Akhirnya harus milih salah satu, dan pelajar biasanya milih sekolah karena hasilnya dianggap lebih ‘konkret’, dapat ijazah formal,” paparnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pengurus RMINU lainnya Abdul Waidl menambahkan, klarifikasi Mendikbud Muhadjir Effendy bahwa kebijakan Lima Hari Sekolah tak sampai membuat siswa pulang sore susah dibayangkan. Dengan beban kerja guru delapan jam, skema jadwal sekolah tetap akan memulangkan muridnya pada sore hari.

Ia juga mengatakan, pembatalan kebijakan Lima Hari Sekolah oleh Presiden yang rencananya digantikan Peraturan Presiden (Perpres) tak memiliki kekuatan hukum apa-apa selama tidak ada pernyataan resmi secara tertulis.



Problem Sarana


Terkait kebijakan Lima Hari Sekolah ini, permasalahan lain juga diungkapkan Ketua Pengurus Pusat Lembaga Pendidikan Ma’arif NU H Arifin Junaidi di forum diskusi terbatas itu. Menurutnya, murid pulang sore adalah masalah bagi sekolah-sekolah yang tidak mempunyai sarana ruang yang cukup.

“Masih banyak sekali, tidak hanya di desa, di kota-kota juga banyak, ruang kelas harus dipakai secara bergantian. Pagi SMP, siangnya SMA.? Pagi tsanawiyah, siangnya aliyah, dan seterusnya,” katanya.

Karena itu ia tidak setuju dengan pernyataan sejumlah kalangan yang mengatakan bahwa kebijakan Lima Hari Sekolah adalah bias orang perkotaan. Sebab, menurutnya, selain sekolah-sekolah di desa, berbagai persoalan FDS juga dialami oleh sekolah-sekolah yang berada di kota. (Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Daerah, Habib, Hadits Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 14 Februari 2007

Kemendesa Target Entaskan 5000 Desa Tertinggal dan Ciptakan 2000 Desa Mandiri

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Dana desa yang akan dicarikan oleh pemerintah pusat diharapkan bisa membantu mencapai target dari RPJMN 2015-2019 sesuai dengan Perpers No 2 tahun 2015 yakni berkurangnya jumlah desa tertinggal sedikitnya 5000 desa atau meningkatnya jumlah desa mandiri sedikitnya 2000 desa.

Kemendesa Target Entaskan 5000 Desa Tertinggal dan Ciptakan 2000 Desa Mandiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemendesa Target Entaskan 5000 Desa Tertinggal dan Ciptakan 2000 Desa Mandiri (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemendesa Target Entaskan 5000 Desa Tertinggal dan Ciptakan 2000 Desa Mandiri

Menurut Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Marwan Jafar seusai dengan arahan Presiden RI, kementerian baru yang dipimpinnya diinstruksikan untuk fokus pada pembangunan desa-desa tertinggal.?

"Khususnya pada desa-desa terutama di 1138 desa di kawasan perbatasan dan melakukan pendampingan desa sesuai dengan amanah Undang-Undang Nomor 6 tahun 2014," ujar Menteri Desa Marwan di Jakarta, lewat rilis yang diterima Pondok Pesantren An-Nur Slawi, Selasa (5/5).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Oleh karena itu, Marwan berharap bahwa pencairan dana desa nantinya ? bisa segera digunakan untuk mengembangkan potensi desa yang ada dan menciptakan desa-desa mandiri di Indonesia. "Untuk pencairan dana desa, selain harus ada RPJMDes, dan RKPDes, juga harus ada Peraturan Bupati (Perbup) yang mengatur penggunaan dana desa untuk kegiatan yang tidak prioritas," ujarnya.

Selain 1138 desa di daerah perbatasan, lokus prioritas pembangunan desa, menurut Marwan, kedepannya akan diprioritaskan untuk 39.086 desa tertinggal dan 17.268 desa sangat tertinggal.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Ada beberapa indikator yang akan digunakan oleh Kementerian untuk mengukur seberapa jauh desa tersebut sudah lepas dari ketertinggalan," tandasnya.

Menurutnya, ada tiga indikator desa yang akan digunakan oleh kementerian untuk bisa mengentaskan 5000 desa tertinggal dan membangun 2000 desa mandiri di Indonesia.?

"Ada Desa Swadaya yang termasuk bagian dari desa tertinggal, desa-desa di kawasan perbatasan dan pulau terluar. Ada Desa Swakarya, yaitu desa berkembang yang mampu bertahan dari goncangan ekonomi, dan terakhir ada Desa Swasembada yaitu desa mandiri yang memiliki ketahanan pangan, dan mampu bertahan dari goncangan ekonomi serta mampu mendukung perekonomian kawasan lainnya," tutupnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Khutbah Pondok Pesantren An-Nur Slawi