Tampilkan postingan dengan label Olahraga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Olahraga. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Februari 2018

Kemnaker Luncurkan Layanan PES Inklusif di Kawasan Industri

Cikarang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) meluncurkan layanan  Public Employment Services Inclusion (PES Inklusif) untuk memfasilitasi kebutuhan para pencari kerja dan perusahaan pemberi kerja sehingga dapat memaksimalkan jumlah tawaran kesempatan kerja yang tersedia bagi pencari kerja.

"Saat ini PES Inklusif masih dalam tahap uji coba dan berlokasi di Kawasan Industri MM 2100 Cikarang, Bekasi, tepatnya di Bonded Center. Kita berharap ke depannya bisa didirikan juga di kawasan-kawasan industri lainnya," kata Direktur Penempatan Tenaga Kerja Dalam Negeri Kemnaker Nurahman saat melakukan peresmian pada Rabu (18/10).

Kemnaker Luncurkan Layanan PES Inklusif di Kawasan Industri (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemnaker Luncurkan Layanan PES Inklusif di Kawasan Industri (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemnaker Luncurkan Layanan PES Inklusif di Kawasan Industri

PES Inklusif merupakan institusi pasar tenaga kerja utama yang secara langsung bertanggungjawab kepada pemerintah dan dibentuk untuk memfasilitasi integrasi pasar kerja, pencari kerja, dan pemberi kerja.

"Tujuan PES Inklusif adalah untuk memberikan instrumen komunikasi dan inklusif antara pemberi kerja dengan pencari kerja, jadi perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan bisa melapor ke PES Inklusif untuk mendapat publikasi" jelas Nurahman.

Oleh karena itu, tambahnya, PES Inklusif  didirikan dan  berlokasi di kawasan industri.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Kami memilih kawasan industri sebagai lokasi PES Inklusif supaya lebih mendekatkan fungsi pelayanan antara perusahaan yang membutuhkan dengan pencari kerja," tutur Nurahman.

Nurahman mengatakan, layanan penempatan tenaga kerja harus diorganisir untuk memastikan rekrutmen dan penempatan tenaga kerja yang efektif.

"Tugas penting dari layanan penempatan tenaga kerja adalah untuk memfasilitasi organisasi pasar kerja sebaik mungkin, bekerjasama dengan badan publik, masyarakat, dan swasta," ujar Nurahman.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Nurahman berharap, melalui PES Inklusif kedepannya pelayanan terhadap para pencari kerja baik dari masyarakat umum maupun penyandang disabilitas akan lebih baik.

"PES Inklusif merupakan bagian dari inovasi pelayanan penempatan tenaga kerja yang dilakukan oleh Kemnaker. Jadi melalui layanan ini, informasi pasar kerja tidak hanya tersedia bagi masyarakat umum, akan tetapi juga bagi penyandang disabilitas. Harapannya, para penyandang disabilitas akan mendapat akses yang lebih luas terhadap pasar kerja," ujar Nurahman.

Hal tersebut sesuai dengan amanat UU No.8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas dimana perusahaan swasta wajib memperkerjakan para penyandang disabilitas dengan kuota minimal 1% dari total karyawan. Sedangkan instansi pemerintah dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) diminta untuk memenuhi kuota difabel sebesar 2%.

Selain layanan PES Insklusif ini, kata  Nurahman, perusahaan juga bisa mempublish lowongan pekerjaan secara online melalui www.infokerja.kemnaker.go.id

Uji coba PES Inklusif akan dilaksanakan sampai akhir November 2017. Kegiatan ini terlaksana atas kerjasama Kemnaker dengan Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Bekasi dan Asosiasi HRD Pengusaha Kawasan Industri Jababeka. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Olahraga, Kajian Sunnah, Jadwal Kajian Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 13 Februari 2018

Hasyim: Masyarakat Tak Percaya Pemerintah Bisa Jaga Keselamatan Nuklir

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi menjelaskan penolakan para ulama di Jepara tentang rencana PLTN Muria sebenarnya berakar dari kekhawatiran karena mereka belum percaya pemerintah bisa memastikan keselamatan proyek tersebut.

“Wong gardu listrik saja njebluk (meledak.red), lalu bagaimana nantinya kalau ada kebocoran nuklir, ini yang dikhawatirkan oleh masyarakat Jepara,” tuturnya di PBNU, Senin (3/9).

Hasyim: Masyarakat Tak Percaya Pemerintah Bisa Jaga Keselamatan Nuklir (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasyim: Masyarakat Tak Percaya Pemerintah Bisa Jaga Keselamatan Nuklir (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasyim: Masyarakat Tak Percaya Pemerintah Bisa Jaga Keselamatan Nuklir

Dikatakannya bahwa nuklir sendiri sifatnya adalah netral, tidak bisa dihukumi halal atau haram, tergantung pada penggunaannya. Disinilah para ulama di Jepara dalam forum Bahtsul Masa’il pada tanggal 1-2 September 2007 memutuskan bahwa aspek mudharatnya lebih besar daripada manfaat yang akan diperoleh.

Penolakan masyarakat Jepara ini mendapat respon dari sejumlah LSM dan industri yang ada di Jepara dan sekitarnya yang mengkhawatirkan hal yang sama dan bergerak untuk melakukan perlawanan. “Lihat saja, gayanya demo kan bukan gaya NU, tetapi gaya LSM,” paparnya.

Meskipun demikian, Kiai Hasyim berpendapat bahwa energi nuklir tetap diperlukan di Indonesia sepanjang untuk tujuan damai dan sebagai energi alternatif. Sumber energi ini jauh lebih murah dibandingkan dengan energi lainnya.

“Kalau masyarakat Jepara menolak, jangan dipaksakan disitu, nanti terus diriwuki (diganggu.red)), cari saja tempat lain yang masyarakatnya mau menerima,” tandasnya. (mkf)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Quote, Olahraga Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 09 Februari 2018

Pelaku Teror Lakukan Empat Hal Ini di Media Sosial

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Direktur Penegakan Hukum Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Toriq Triono menjelaskan, ada empat hal yang dilakukan oleh teroris di media sosial. Pertama, propaganda. Toriq mengatakan, para teroris melakukan propaganda-propaganda dengan dalih jihad untuk merekrut anggota baru.?

“Mereka melakukan propaganda di media sosial,” kata Toriq saat memberikan sambutan dalam acara Seminar Dampak Media Sosial Terhadap Terorisme di Auditorium Lantai 3 Gedung IASTH Universitas Indonesia Jakarta, Kamis (4/5).

Pelaku Teror Lakukan Empat Hal Ini di Media Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelaku Teror Lakukan Empat Hal Ini di Media Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelaku Teror Lakukan Empat Hal Ini di Media Sosial

Kedua, pendanaan. Ia menyatakan, salah satu cara para teroris untuk menggalang dana adalah lewat media sosial. Menurutnya, mereka bisa melakukannya secara langsung dengan menghubungi yang bersangkutan ataupun lewat situs-situs lembaga sosial yang mereka bentuk.

“Ajakan langsung untuk seumbanga, toko online, dan donasi-donasi sosial,” ucapnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Ketiga, pelatihan. Mereka menyediakan buku, video, klip, dan tutorial untuk melakukan aksi-aksi teror,” lanjutnya.

Para teroris, imbuh Toriq, benar-benar memanfaatkan media sosial sebagai media untuk melatih kader-kadernya. Konten-konten yang mereka tawarkan juga sangat menarik.

Keempat, perencanaan. Toriq menuturkan, media sosial juga digunakan oleh teroris untuk merencanakan aksi-aksi mereka secara matang. “Bagaimana metode yang tepat untuk melakukan seranga-serangan,” ungkapnya.?

Namun demikian, ia mengungkapkan, banyak pelaku teror yang dibekuk oleh aparat sebelum mereka sempat melakukan aksi teror. “Banyak seperti itu,” tegasnya.

Oleh karena itu, ia mengajak kepada semua elemen masyarakat untuk bersama-bersama menangkal dan menanggulangi terorisme. Karena menurutnya, jika pemerintah saja yang bergerak maka itu kurang efektif.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Tugas mencegah dan menanggulangi terorisme tidak cukup dilakukan oleh pemerintah, kita semua harus ikut andil,” tukasnya. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pemurnian Aqidah, Makam, Olahraga Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 28 Januari 2018

Sejumlah Lembaga Kemanusiaan Sepakati Mekanisme Baku Pengerahan SDM dan Bantuan Kemanusiaan

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Sejumlah lembaga kemanusiaan berkumpul di Gedung PBNU, Jakarta, pada akhir pekan lalu. Mereka merumuskan model kerja yang terkoordinasi dalam penanganan darurat bencana. Rumusan ini diharapkan dapat mengantarkan mereka dalam penanganan bencana yang efektif dan efisien.

Lembaga yang terkumpul dalam Humanitarian Forum Indonesia (HFI) dan Platform Nasional untuk Pengurangan Risiko Bencana (Planas PRB) menyelenggarakan workshop pembuatan “Joint Protocol” untuk lembaga kemanusiaan guna mempererat koordinasi. Pertemuan yang berlangsung di Gedung PBNU Jalan Kramat Raya 164 Jakarta Pusat pada Kamis-Jumat (10-11/3) ini dihadiri perwakilan anggota HFI yang berjumlah 30 orang.

Sejumlah Lembaga Kemanusiaan Sepakati Mekanisme Baku Pengerahan SDM dan Bantuan Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejumlah Lembaga Kemanusiaan Sepakati Mekanisme Baku Pengerahan SDM dan Bantuan Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejumlah Lembaga Kemanusiaan Sepakati Mekanisme Baku Pengerahan SDM dan Bantuan Kemanusiaan

Mereka yang hadir antara lain utusan dari Muhammadiyah Disaster Management Centre, Dompet Dhuafa, KARINA, Yayasan Tanggul Bencana Indonesia, Yakkum Emergency Unit, Wahana Visi Indonesia, Perkumpulan Peningkatan Keberdayaan Masyarakat, PKPU, Church World Services Indonesia, Habitat for Humanity Indonesia, Rebana Indonesia, Unit Pengurangan Risiko Bencana PGI, Rumah Zakat dan PP Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim NU (LPBINU).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Direktur Eksekutif HFI Surya Rahman Muhammad mengatakan, tujuan pertemuan ini adalah untuk merumuskan adanya suatu mekanisme dalam membangun koordinasi untuk penanganan darurat, mengidentifikasi dan menutup gap koordinasi yang ada dalam penanganan darurat oleh lembaga kemanusiaan dan adanya rujukan bagi lembaga kemanusiaan nasional dalam pelaksanaan kegiatan tanggap darurat bencana.

Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB Tri Budiarto dalam workshop ini mengatakan, dalam pelaksanaan kegiatan kemanusiaan khususnya penanganan darurat bencana dibutuhkan strong leadership karena kegiatan tersebut dilaksanakan oleh multipihak bahkan dari luar negeri. Selain itu, dibutuhkan komunikasi dan koordinasi yang baik agar kegiatan kemanusiaan dapat dilakukan dengan efektif. Karena itu, pertemuan ini diharapkan dapat merumuskan sebuah mekanisme bersama yang ringkas dan operasional sehingga mudah dipahami dan dilaksanakan.

Sedangkan perwakilan PP LPBI NU M Wahib berharap workshop ini tidak hanya menghasilkan dokumen bersama yang mudah dilaksanakan sehingga dokumen ini nantinya menjadi acuan bersama. Dokumen ini diharapkan mampu menjadi media bagi upaya peningkatan kapasitas para pihak sehingga kegiatan kemanusiaan khususnya penanganan darurat bencana dapat dilaksanakan dengan cepat, tepat, dan efektif. (Red Alhafiz K)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Olahraga, Kajian Islam Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 26 Januari 2018

PCI NU Sudan Lepas Delegasi Pertemuan Sufi di Indonesia

Khartoum, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. PCI NU Sudan melepas keberangkatan Sheikh Umar Sheikh Idris Hadroh, (mantan Dirjen Dakwah Islamiyah Sudan) dan Sheikh Muhammad Sulaiman Muhammad Ali (Dirjen Dakwah Islamiyah Sudan), anggota Majlis Tasisi Pertemuan Sufi International yang diselenggarakan oleh Jamiyyah Ahlu Thariqah al Mutabarah An Nahdliyyah (Jatman). 

Mereka bertolak dari Khartoum menuju Jakarta dengan Etihad Airways, hari Sabtu, 12 Januari 2013 dan tiba di Jakarta hari Ahad, 13 Januari 2003. 

PCI NU Sudan Lepas Delegasi Pertemuan Sufi di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
PCI NU Sudan Lepas Delegasi Pertemuan Sufi di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

PCI NU Sudan Lepas Delegasi Pertemuan Sufi di Indonesia

Sheikh Umar sangat senang sekali dan antusias untuk bisa memberikan peran dalam kesuksesan pertemuan Sufi International nanti. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Saya sangat mendukung acara ini dan nanti semua tokoh-tokoh sufi terkenal Sudan juga dapat memberikan sumbangsih yang besar dalam suara sufi di mata dunia," ujar Sheikh Umar disela-sela perbincangannya dengan Mirwan Akhmad Taufiq Rais Syuriyah dan Zulham Qudsi Katib PCI NU Sudan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Saya setiap malam, saat sahur, Wallahi, selalu mendoakan semua umat Islam dan khususnya Indonesia dan Sudan, Wallahi," tambahnya dengan serius sebelum melangkah masuk ke bandara.

Seminggu sebelum keberangkatan Sheikh Umar dan Sheikh Muhammad Sulaiman berkunjung ke pusat-pusat thariqoh di Sudan, diantaranya Ummurikhi tempat tumbuhnya Thoriqoh Sammaniah di Sudan dan juga menghadiri peresmian masjid Sheikh Al Jeili, tempat berkumpulanya para Thoriqoh yang bersumber dari Thoriqoh Qodiriyah.

"Semua warga Sudan itu NU, sebab Sudan negara warna hijau, warga sufinya semua memakai pakaian hijau," ujar Rais Syuriyah dalam perjalanan pulang.

Doa warga NU semoga sheikh Umar dengan Sheikh Muhammad selamat sampai tujuan dan dapat bergabung dengan para masyaik di Indonesia. Dan semoga Thoriqoh-thoriqoh di seluruh dunia dapat menyuarakan Islam Rahmatan lil alamin dalam menjaga nilai-nilai kemanusian dan perdamaian dunia. 

  

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Olahraga Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 25 Januari 2018

Oleh Nabi Hajar Aswad Jadi Saksi Semangat Nasionalisme dan Persatuan

Subang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Sejak muda Nabi Muhammad SAW sudah memiliki semangat nasionalisme dan persatuan, sebagaimana sudah masyhur dalam catatan sejarah yang mengisahkan tentang keberhasilan Nabi Muhammad dalam menyatukan berbagai kabilah yang merasa hanya kabilahnya yang paling benar, di luar kabilahnya adalah salah. ?

Oleh Nabi Hajar Aswad Jadi Saksi Semangat Nasionalisme dan Persatuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Oleh Nabi Hajar Aswad Jadi Saksi Semangat Nasionalisme dan Persatuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Oleh Nabi Hajar Aswad Jadi Saksi Semangat Nasionalisme dan Persatuan

Demikian disampaikan Yosep Yusdiana, Koordinator Majelis Dzikir Hubbul Wathon Jawa Barat dalam kegiatan Pengajian Syahriahan Gabungan MWCNU Binong dan Tambak Dahan di Masjid Jami Al-Mukhlishin, Desa Citrajaya, Binong, Subang, Jawa Barat, Rabu (23/8)

"Ketika terjadi perdebatan antar kabilah mengenai siapa yang berhak meletakan hajar aswad di Kabah, Nabi Muhammad memberikan solusi yaitu dengan menaruh hajar aswad di atas sajadah lalu diangkat oleh perwakilan dari setiap kabilah," ujarnya di hadapan ribuan Nahdliyin.

Ditambahkannya, dalam perjalanan sejarah di Indonesia pun hampir mirip demikian, para ulama telah megurungkan keinginannya untuk menjadikan Indonesia sebagai negara teokrasi karena melihat keragaman yang ada di Indonesia dan sepakat menjadikan Pancasila sebagai dasar negara demi persatuan di Indonesia.

"Jika memaksakan menjadikan negara teokrasi Indonesia akan terpecah menjadi beberap negara," tandasnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sementara itu, dalam kegiatan yang dihadiri jajaran pejabat Forum Kecamatan Binong dan Tambak Dahan tersebut, Suhaendi selaku Camat Binong memberikan apresiasi kepada masyarakat Binong dan Tambak Dahan yang mayoritas berprofesi sebagai petani, karena walaupun sawah mereka mengalami puso alias tidak panen namun memiliki semangat dan antusias yang tinggi dalam pengajian.

"Puso kali ini harus dijadikan sebagai bahan pelajaran supaya ke depan kita bisa mempunyai pola yang baik dalam menanam padi dan juga bisa mengantisipasi serangan hama," pungkasnya. (Aiz Luthfi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Olahraga, Aswaja, Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

KH. Nuril Huda: Kita Diserang dari Dua Sisi

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Di saat para da’i dituntut untuk terus memberikan tausiyah moral keagamaan kepada umat, mereka juga harus berhadapan dengan dua model pemahaman keagamaan yang bertolak belakang, yang satu terlalu bebas dan yang satu lagi sangat kaku.

Demikian Ketua Umum Pengurus Pusat Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (PP LDNU) KH. Nuril Huda saat berbicara di hadapan para ketua majelis taklim se-DKI Jakarta di auditorium gedung PBNU, Jakarta, Rabu (26/7).

KH. Nuril Huda: Kita Diserang dari Dua Sisi (Sumber Gambar : Nu Online)
KH. Nuril Huda: Kita Diserang dari Dua Sisi (Sumber Gambar : Nu Online)

KH. Nuril Huda: Kita Diserang dari Dua Sisi

Para da’i diminta untuk terus memberikan pemahaman keagamaan yang benar, menjadi ummatan wasathon, tidak terlalu ke kiri dan tidak terlalu ke kanan.

“Kita sekarang diserang dari dua sisi. Satu dari Barat yang sekuler, bebas, dan hanya mengutamakan akal pikirannya saja. Satu lagi yang berfaham Wahabi, dari Timur Tengah yang terlalu ekstrem. Tentu saja, mereka tidak secara terang-terangan,” kata Kiai Nuril.

Dikatakannya, yang terpenting bagi para da’i adalah mengupayakan persatuan umat, dan tidak mudah dipecah belah. Hal ini mungkin dilakukan jika para da’i mendakwahkan Islam ala ahlussunnah wal jamaah, mengamalkan ajaran nabi dan teladan para pengikutnya, dalam pengertian tidak terpaku pada teks namun masih mengacu kepada teladan para salafus salih yang berusaha menerjemahkan ajaran Nabi.

“Memang ini sulit tapi kita harus tetap bersemangat seperti semangatnya pasukan Perang Badar yang mampu menghancurkan musuh meskipun dalam keadaan puasa dan dalam jumlah yang lebih sedikit,” kata Kiai Nuril sembari bercerita tentang ihwal diciptaannya Sholawat Badar oleh KH. Ali Mansyur dari Tuban, Jawa Timur, pada masa awal-awal kemerdekaan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Acara silaturrahmi PP LDNU dengan ketua-ketua majelis taklim se-DKI Jakarta itu akan diteruskan dengan istighotsah rutin bulanan di halaman gedung PBNU nanti malam yang dipimpin oleh KH. Hasyim Muzadi dan Habib Muhammad Luthfi bin Ali Yahya. (nam)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Olahraga, Ahlussunnah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 14 Januari 2018

Bolehkah Pemerintah Beli Paksa Lahan Warga Untuk Pembangunan Tol?

Jombang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Hasil musyawarah bahtsul masail Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang memutuskan, pemerintah boleh membeli secara paksa lahan milik masyarakat untuk digunakan pembangunan tol. Keputusan ini berangkat dari kemandegan pembangunan infrastruktur yang dilakukan pemerintah di beberapa daerah karena terkendala pembebasan lahan.

Ketua PCNU Jombang Dr KH Isrofil Amar menuturkan, forum Musyawarah Kerja NU Jombang yang digelar di Pesantren Darul Ulum Rejoso Peterongan, Ahad (8/5) kemarin memang memperbolehkan pemerintah membeli secara paksa lahan milik warga untuk pembebasan lahan tol.

Bolehkah Pemerintah Beli Paksa Lahan Warga Untuk Pembangunan Tol? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bolehkah Pemerintah Beli Paksa Lahan Warga Untuk Pembangunan Tol? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bolehkah Pemerintah Beli Paksa Lahan Warga Untuk Pembangunan Tol?

"Cara itu bisa dilakukan, jika harga yang ditawarkan pemerintah sudah sesuai dengan harga pasar. Hanya saja pemilik lahan belum mau untuk melepaskan," ujarnya ditemui di Jombang, Senin (9/5).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Artinya, lanjut KH Isrofil, harga yang tentukan pemerintah diketahui memang sesuai dengan harga yang ada di masyarakat tanpa merugikan pemilik lahan. "Jika sudah sesuai, namun pemilik masih belum mau melepasnya, pemerintah bisa membeli secara paksa. Karena tol itu juga untuk kepentingan umum," imbuhnya.

Putusan ini juga ditegaskan Rais Syuriyah KH Nasir Abdul Fatah. Menurutnya, putusan ini lahir menyikapi kemandegan banyak proyek infrastruktur yang dilakukan pemerintah akibat terkendala pembebasan lahan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Permasalahan ini lalu diangkat di Komisi Bahtsul Masail. "Ada beberapa pertimbangan yang juga masuk dalam pembahasan di antaranya, pada dasarnya pembebasan lahan untuk jalan tol harus ikut prinsip jual-beli, yakni saling ridho antara pemilik lahan dan pembeli," tegasnya.

Di samping itu, karena keberadaan pembangunan jalan tol itu dibutuhkan untuk kemaslahatan umat, negara bisa memaksa untuk pembebasan lahan tersebut. "Ini juga terkait kewajiban warga taat kepada pemimpin," jelas KH Nasir. (Muslim Abdurrahman/Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Olahraga Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 13 Januari 2018

Pelajar NU Raudlatus Shibyan Ngaji Safinatun Naja

Kudus, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pelajar Madrasah Tsanawiyah NU Raudlatus Shibyan (MtsNU RS) Desa Peganjaran Bae mengadakan pengajian kitab Safinatun Naja di masjid desa Peganjaran Bae. Pada tahun ini, pengajian diasuh Ketua PCNU Kudus KH Chusnan MS.

Menurut salah seorang guru MtsNU RS Syaifudin Najib, pengajian kitab ini merupakan program tahunan madrasah. Tujuannya supaya anak didik bisa mengaji bersama kiai untuk mendalami ilmu fikih. Disamping itu, mengenalkan kitab para ulama NU dan anak bisa menggunakan isi kandungan kitab mengenai amalan ibadah warga NU.

Pelajar NU Raudlatus Shibyan Ngaji Safinatun Naja (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Raudlatus Shibyan Ngaji Safinatun Naja (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Raudlatus Shibyan Ngaji Safinatun Naja

“Anak diidik bisa mengamalalkan isi kitab tentang ibadah dan muammalah termasuk hukum halal-haram dan sah-tdak sah sebuah ibadah sehingga bisa dipraktikkan sehari-hari,” katanya kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi Sabtu (27/7).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ia menjelaskan, pengajian ini juga sebagai pembelajaran baca tulis Arab untuk anak sehingga mampu memaknai per-mufrodatnya dengan Arab pegon.Makanya, kitab yang digunakan dengan kitab kuning yang belum ada makna (terjemahan) Jawa gandul.

Pengajian kitab ini, terang Najib, dilaksanakan sebelum jam pelajaran dimulai tepatnya pukul 07.00 – 08.00. Usai pengajian, peserta anak melaksanakan shalat dhuha bersama-sama.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Biasanya pengajian dilaksanakan di aula madrasah.Tetapi tahun ini dipindah di masjid karena semakin banyak siswa sekaligus juga supaya bisa ber-i’tikaf bersama,” ujarnya lagi.

Najib menambahkan pengajian kitab Safinatun Najah ini sudah berlangsung sejak 20 Juli hingga 30 Juli mendatang. Kegiatan dilanjutkan pesantren Ramadhan mulai 31 Juli – 2 Agustus berupa pengajian nuzulul Qur’an, santunan yatim, dan fakir miskin.

“Khusus kegiatan pesantren Ramadhan ini madrasah bekerja sama dengan pihak sponsor suport popie, Telkomsel dan sate ayam Cak Dul,” jelasnya.

Redaktur    : Abdullah Alawi 

Kontributor:Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Doa, Olahraga Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 12 Januari 2018

Jaranan

Pelepah pisangku patah, cemetinya juga sudah pecah. ‘’Hya..hya..hya…,’’ sesekali kami teriak riang.

Pohon-pohon pisang yang tumbuh di sekitar rumah memudahkan anak-anak mendapat barang semacam itu. Mereka bebas tertawa, gembira, lalu bercanda sembari berjoget memukul udara. ‘’Hya..pltar..pltar!’’ kembali terdengar teriakan diiringi suara cambuk yang kami mainkan.

Jaranan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jaranan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jaranan

Masa kecilku yang indah, Lerang Gunung Slamet saat itu masih pertengahan musim penghujan. Tanah terjal serta bebatuan kering kerap meluncur ke bawah dengan sendirinya secara tiba-tiba. Bergulingan lalu menghantam dataran dimana anak-anak seusia kami sedang asyik bermain.

Awas Rozak! ada batu meluncur ke arahamu, seru Subekhi mengingatkanku sewaktu kami asyik bermain. Waktu itu, kami masih duduk di bangku SD kelas empat. Tiap pulang sekolah, kami menyempatkan untuk bermain apa saja sebelum akhirnya bapak ibu kami mencari

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

kesana-kemari.

Bekhi ibumu datang tuh, kamu pasti dimarahi nanti, kataku memberi tahu kedatangan seorang wanita setengah baya yang ternyata ibunya Subekhi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Anwar yang sedari tadi hanya terdiam tiba-tiba menyarankan agar Bekhi cepat-cepat sembunyi. Dia pun menyelinap di antara puluhan pohon pisang. Sembari bersungut, Bekhi tampak sekali terganggu dengan kedatangan ibunya.

Kalian pasti main jaranan lagi ya! Dimana Subekhi sudah jam dua siang kok belum sampai rumah?” tanya Bu Jamilah kepada kami berdua.

Kembali Anwar menjawab spontan, Dia mengatakan kalau Subekhi mendapat tugas khusus dari guru kesenian di sekolah, sehingga tidak bisa pulang bersama mereka. Anwar juga menjelaskan kalau Bekhi merupakan salah satu siswa yang bakal mewakili sekolah pada kejuaraan

seni di tingkat kecamatan.

Alasan! Pokoknya saya tidak mau kalau kegiatan berjoget sambil makan beling dianggap sebagai seni, apalagi Bekhi yang melakukan, titik! katanya sambil beranjak pergi meninggalkan kami.

Aku dan Anwar hanya bisa saling pandang sembari tersenyum kecil. Kami berdua sama-sama heran, sebab sampai sebesar itu ketidaksukaan ibunya Si Bekhi pada yang namanya jaranan. Terlihat Anwar membisu sembari memukul-mukulkan pelepah pisangnya pada sebuah batu.

Sebentar kemudian Bekhi keluar dari pesembunyian. Dia berjingkat sesekali tampak menoleh kesana-kemari. Itulah Rozak, ibuku melarang keras permainan jaranan ini, katanya mengeluh.

Bahkan, lanjut Bekhi, demi menjauhkannya dari kesenian tradisional jaranan, ibunya berencana memindah sekolah Bekhi ke Jakarta. Kebetulan di sana terdapat saudara misan bapaknya.

Apa?! Kamu mau dipindah ke Jakarta? lantas mau jadi apa…?! teriak Anwar kaget.

Iya, aku sendiri tidak tahu kenapa sampai seperti itu, jawab Bekhi menunduk.

‘’Memang apa sih yang dilihat ibumu dari jaranan?’’

‘’Syirik katanya,’’ jawab Rozak tertunduk.

***

Hari itu, lidahku kembali merasakan nikmatnya secangkir kopi buatan ibuku. Setelah seharian bergelut dengan lumpur sawah. Usai membersihkan mata cangkul, kusandarkan tubuh pada tiang gubuk. Hembusan angin segar mulai merayu, akalku membayangkan masa lalu. Masa dimana anak-anak kampung masih suka bermain jaranan. Dan sekarang, hampir tidak pernah lagi

dijumpai permainan itu. Anak-anak kampung lebih memilih playstation.

Bekhi, nama yang cukup lekat dalam ingatan. Teman sejawat sejak kecil itu hampir 15 tahun lebih tak lagi bertemu. Kabarnya, Bekhi sudah selesai kuliah di salah satu peguruan tinggi ternama di Jakarta. Tidak tahu lagi apa sekarang pekerjaannya, atau apakah masih ingat sewaktu sering bermain jaranan di areal perkebunan, lalu sekonyong-konyong ibunya dating sambil memainkan telunjuk, mengomel.

Pukul empat sore aku bergegas meninggalkan sawah, sebelumnya kututup kembali aliran air dari anak sungai induk. Kebiasaan masyarakat desa semacam ini tidak bisa dirubah, setiap kali mereka hendak meninggalkan area persawahan, kebiasaan yang tak bisa dihilangkan

adalah mengecek kembali saluran air. Maklum sungai kecil sepanjang persawahan merupakan ruh tanaman padi ratusan petani di desa kami. Mereka benar-benar merawatnya termasuk dalam hal pemakaian yang dilakukan secara bergilir.

Kalau tidak begitu bisa terjadi perang sabit Dik Rozak, kata Pak Udi, tetangga sekampung yang

memiliki petak sawah di ujung sebelah timur desa kami. Pak Udi yang ramah, santun, memang menjadi panutan para petani di desa. Dia tergolong petani sukses, dengan kemahirannya bercocok tanam kami banyak belajar dari caranya mengolah lahan pertanian. Selain itu, Pak

Udi juga tak segan membagi pengetahuannya kepada kami. Sehingga masalah sekecil apa pun terutama yang berkaitan dengan pertanian kami bicarakan dengannya. Termasuk masalah irigasi.

Tumben jam segini baru pulang dik, tadi ada yang mencari kamu tuh. Kebetulan ibumu juga lagi ikut pengajian di kantor desa, kata Pak Udi yang sore itu sedang duduk di teras rumahnya sembari menikmati secangkir kopi.

Iya Pak Udi, aliran airnya kecil jadi mesti menunggu berjam-jam, kataku.

Maklumlah Dik, mendekati musim kemarau seperti ini air mulai sulit didapat jadi harus bersabar memang, tambah Pak Udi.

Kira-kira Bapak kenal siapa yang mencariku barusan.

Itu lho ..., Si Subekhi teman masa kecilmu dulu, anaknya Bu Jamilah yang sekarang sekolah di Jakarta, jawab Pak Udi.

Sambil mengucapkan terima kasih aku segera menuju ke rumah yang hanya berjarak sepuluh meter dari rumah Pak Udi. Mendengar nama Bekhi disebut kembali bayang-bayang masa lalu melintas. Bergegas aku membersihkan badan kemudian beranjak ke rumah Bekhi. Ternyata Bekhi sedang tidak berada di rumah, Bu Jamilah mengatakan kalau anaknya sedang keluar bersama Anwar . Tidak salah lagi mereka pasti sedang berada di lereng. Aku berguman sambil berlari kecil menuju lereng yang dahulu kerap menjadi tempat kami bermain jaranan.

Dugaanku benar, suara tawa mereka terdengar jelas sewaktu aku hampir sampai ke tempat tersebut. Bahkan, kali ini bukan jaranan yang mereka mainkan melainkan membakar setumpuk kayu yang menimbulkan asap pekat.Sementara tampak dua ekor ayam telanjang kaku di atas

perapian yang mereka buat.

Wah jaranan sekarang tak lagi makan beling ternyata, tetapi ayam, kataku di sambut tawa lebar kedua sahabatkku. Kami pun saling berangkulan. Bekhi tampak jauh berbeda, dia kini terlihat gagah tidak lagi ingusan seperti waktu main jaranan dulu, 15 tahun lalu. Penampilannya pun cukup nyentrik dengan rambut gondrong, celana jeans ketat serta t-shirt hitam. Sedikit cambang tumbuh di bawah dagunya menandakan Bekhi pamuda yang keras keinginan seperti masa

kecilnya dahulu.

Bekhi bagaimana kabarnya di Jakarta, masih ingat jaranan yang sering kita mainkan tidak? tanyaku mengajaknya bernostalgia.

Yah, jaranan di Jakarta jauh berbeda dengan yang ada di desa kita. Di sana tidak hanya beling yang dimakan, melainkan kayu glondongan, pajak, uang rakyat, bahkan seisi laut dan tambang minyak pun dilahap.

Kata-kata Bekhi membuat kami berdua bingung. Kami bahkan sangsi apakah ini Bekhi teman kami. Lantas mengapa jawabannya ngelantur tidak karuan. Apakah ini pula bukti ketidaksukaan ibunya bila melihat kami bermain jaranan. Mungkin khawatir nanti melahap kayu gelondongan, blandar atau tiang rumah kami yang terancam habis dimakan. Ataukah Bekhi hanya bercanda?

Tidak, sejak kecil Bekhi jarang bercanda. Bahkan dia kerap menangis bila kami bertiga mengajaknya bercanda, ini pasti mengandung makna. Maklum, Aku dan Anwar hanya lulusan sekolah dasar di desa sehingga sulit memahami perkataan mahasiswa semacam Bekhi. Tak terasa

mata kami berdua tertuju pada dua ekor ayam yang sudah mulai kaku mengering diranggas bara.

Apakah ini pertanda kita juga akan melakukan hal yang sama, sebab saat ini di depan kita tergolek dua ekor ayam siap disantap. Mungkin besok kita panggang kambing, kemudian kerbau, lalu gajah, lalu seisi laut, dan memakannya dengan kayu-kayu jati di sekeliling kita ini, ujar Anwar menduga.

Bekhi tidak merespon, dia justru mencukil sayap ayam yang sudah kelihatan gosong. Sejenak kemudian dioleskan ke mangkuk berisi bumbu kecap yang sudah disiapkan lantas dilahapnya.

Kalau begitu kita tidak usah lagi main jaranan, anak-anak kecil di desa ini juga dikasih tahu kalau bermain jaranan itu berbahaya karena kusen-kusen rumah penduduk terancam dimakan, tutur Rozak menambahi.

Lho, kenapa anak-anak mesti dilarang, justru itu kebudayaan yang menjadi kebanggaan desa ini. Aku lihat sekarang justru jarang jaranan dimainkan, kata Bekhi yang lagi-lagi membuat kami kebingungan.

Lantas bagaimana dengan pohon-pohon jati di kampung kita, kusen-kusen rumah penduduk, iuran desa tiap pekan yang ditarik Pak Udi. Bukankah itu akan habis dimakan mengingat jaranan sekarang bukan hanya makan beling, sergahku sedikit khawatir.

Memang, lanjut Bekhi, mereka justru tak bisa memakan beling. Bahkan bukan pelepah pisang yang dijadikan tunggangan melainkan partai politik, lembaga pemerintah, kantor-kantor dinas, bahkan instansi sosial seperti lembaga swadaya. Cemetinya pun bukan lagi utas tali yang dipilin kemudian menimbulkan bunyi nyaring saat dimainkan. Melainkan jabatan, kedudukan, kekuasaan, dan ambisi.

Wah apalagi itu, tanya Anwar.

Sudahlah, beruntung masyarakat di sini tidak banyak yang memahami hal ini. Coba kalau mereka semua tahu tentu ramai-ramai berangkat ke Jakarta menuntut para penguasa karena telah menyalahkagunakan kesenian jaranan yang menjadi kebanggaan kita, kata Bekhi.

Meski samar, kami sedikit mengerti maksud pembicaraan Bekhi. Sebuah pelajaran berharga telah dia berikan kepada dua anak desa. Ternyata, sikap kemaruk sudah mewabah kepada para pemimpin di negeri ini. Bahkan, tanpa merasa salah dan dosa jaranan yang kerap kami

mainkan diwaktu senggang ikut terlibat di dalamnya.

Bekhi kamu tahu tidak, dua minggu lalu Pak Lurah beli mobil, kalau tidak salah mereknya Kijang Inova, itu lho kijang yang agak lancip depannya.

Perkataan Rozak kembali terdengar sewaktu kami sedang asyik menikmati ayam bakar usai mendengar cerita Bekhi.

Oh iya, uangnya dari mana? timpal Bekhi terlihat cukup bersemangat.

Dia jual seluruh tanah bengkok, sebagian hasil penjualan kayu jati dari dua bukit yang kini dijadikan persil, jawab Rozak dengan mulut penuh daging ayam.

Bahaya, penyakit itu sudah sampai juga ke desa kita, tutur Bekhi tampak kecewa.

INYONG MAULANA, terlahir dengan nama Maulana di Desa Karang Sawah, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah pada 09 Februari 1976, sekarang tinggal di Surabaya. Pernah menjadi Reporter Harian Umum Republika (Kalam JawaTimur) pada 2002-2004 dan sekarang bekerja sebagai Redaktur di HARIAN BANGSA dan Kontributor Pondok Pesantren An-Nur Slawi Surabaya.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Quote, Olahraga Pondok Pesantren An-Nur Slawi

NU Care-LAZISNU Adakan Sunatan Massal di Pesantren Darul Hikmah Lombok

Mataram, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Gelaran Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar Alim Ulama (Munas Konbes) NU turut dimeriahkan dengan sunatan massal oleh Care-LAZISNU, Rabu (22/11). Terdapat sedikitnya 50 anak-anak menjadi peserta sunatan yang bekerjasama dengan PT Sumber Alfaria Trijaya (Alfamart).

“Ini bagian kerja sama setelah acara sunatan di Jakarta sukses. Di sini menggabungkan dengan Munas NU yang sudah kami koordinasikan dengan panitia Munas, hal. berbagi kebahagian," kata Direktur NU Care-LAZISNU Syamsul Huda, di lokasi kegiatan Pesantren Darul Hikmah Pagutan,

Sunatan massal juga sebagai upaya NU Care-LAZISNU mengajak anak-anak bergembira.

NU Care-LAZISNU Adakan Sunatan Massal di Pesantren Darul Hikmah Lombok (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Care-LAZISNU Adakan Sunatan Massal di Pesantren Darul Hikmah Lombok (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Care-LAZISNU Adakan Sunatan Massal di Pesantren Darul Hikmah Lombok





Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Dengan menunaikan sunatan keinginan mereka dalam menunaikan sebagai umat Islam terpenuhi.



Pondok Pesantren An-Nur Slawi



Peserta sunatan juga diberikan uang tunai dan sepeda.





Pengasuh Pesantren Darul Hikmah, TGH Abdul Hamid menyampaikan pihanya beryukur dengan pelaksanaan sunatan yagn bisa melibatkan masyarakat di Lombok.





"Semoga dapat dilakukan di kesempatan lainnya," harapnya.

Deputi Branch Manager Alfamart, Ahmad Saeful mengatakan sunatan masal merupakan salah satu bentuk penyaluran donasi bantuan pelanggan Alfamart periode Oktober 2017.





“Ini juga sebagai bukti bahwa Alfamart selalu dekat dengan masyarakat,” tambah Saeful.



Budiono orangtua, dari Riski Setiono (5 tahun); menyampaikan terima kasih dan sangat bersyukur anaknya bisa menjadi peserta sunatan tersebut.

"Alhamdulillah, anak saya juga senang karena dapat hadiah sepeda," kata Budiono. 





Senada, Slamet orangtua Teguh Muhamad Agus Setiawan (5,5 tahun), mengungkapkan rasa syukurnya.





"Karena anak saya juga sudah waktunya disunat," kata Slamet. (Kendi Setiawan). Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Aswaja, Olahraga Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 12 Desember 2017

Apakah Boleh Berdzikir Tanpa Menghitungnya?

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Berdzikir merupakan salah satu amalan yang diperintahkan dalam agama. Di Indonesia sendiri banyak bermunculan majelis-majelis dzikir sebagai ruang penguat spiritual dan ukhuwah? (persaudaraan) secara berjamaah.

Apakah Boleh Berdzikir Tanpa Menghitungnya? (Sumber Gambar : Nu Online)
Apakah Boleh Berdzikir Tanpa Menghitungnya? (Sumber Gambar : Nu Online)

Apakah Boleh Berdzikir Tanpa Menghitungnya?

Kalimat dzikir secara kuantitatif sering ditetapkan jumlahhnya. Lalu, apakah boleh seseorang berdzikir tanpa menghitungnya?

Pertanyaan itu terlontar ketika seorang bernama Doni Irawan bertanya kepada Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang KH Ahmad Mustof Bisri (Gus Mus) dalam sebuah interaksi di media sosial twitter pada Sabtu (29/7) lalu.

“Mohon bimbingan pak kiai..apakah berzdikir harus dihitung dan hitungan ganjil..apa boleh kita berdzikir tanpa menghitungnya,” tanya Doni Irawan (@doni9548) kepada Gus Mus.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu menerangkan bahwa pada prinsipnya, dzikir ialah mengingat dan atau menyebut nama Allah sebanyak-banyaknya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Berdzikir ialah mengingat dan atau menyebut. Yang dituntut adalah berdzikir sebanyak-banyaknya (dzikran katsiirã); tidak harus dihitung,” ujar Gus Mus.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sebelumnya, Gus Mus memberikan taushiyah singkat bertajuk #TweetJumat yang rutin ditulisnya. Gus Mus mengatakan bahwa banyak berdzikir sangat dipujikan dalam agama dan tidak terlalu sulit melakukannya.

“Banyak berdzikir sangat dipujikan dalam agama dan tidak terlalu sulit melakukannya. Nah, sebagai orang beragama, seberapa banyakkah kita sempat berdzikir?” tulis Gus Mus dalam pada Jumat (28/7) lalu. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pemurnian Aqidah, PonPes, Olahraga Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 04 Desember 2017

Bahtsul Masail Muslimat: Pemerkosa Bisa Dihukum Mati

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Maraknya kasus kejahatan seksual terhadap perempuan dan anak-anak menjadi perhatian khusus bathsul masail dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Muslimat NU di Asrama Haji Pondok Gede, Sabtu (31/5). Sejumlah pakar hukum Islam pada forum tersebut membolehkan penerapan hukuman mati bagi para pelaku kekerasan seksual atau pemerkosa.

Dewan Pakar Muslimat NU, Bidang Hukum Islam, Prof Huzaemah T Yanggo mendefinisikan pemerkosaan sebagai pemaksaan hubungan seksual terhadap perempuan atau tanpa kehendak yang disadari oleh pihak perempuan.

Bahtsul Masail Muslimat: Pemerkosa Bisa Dihukum Mati (Sumber Gambar : Nu Online)
Bahtsul Masail Muslimat: Pemerkosa Bisa Dihukum Mati (Sumber Gambar : Nu Online)

Bahtsul Masail Muslimat: Pemerkosa Bisa Dihukum Mati

“Dalam hukum Islam, perkosaan dipandang sebaagai salah satu kejahatan seksual sadistis. Pelakunya berdosa dan harus dihukum berat, yaitu di-had (dicambuk atau dirajam hingga mati) sesuai hukuman bagi pelaku zina, ditambah hukum ta’zir, yaitu hukuman tambahan yang ditetapkan oleh hakim, tergantung pada jenis kejahatan yang dilakukan,” papar Huzaemah, seraya mengutip Al-Qur’an, ayat 33 dari surat an-Nur.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

TKW Terzalimi

Huzaemah juga menyoroti ketidakadilan hukum di Saudi Arabia, yang menimpa banyak tenaga kerja wanita (TKW). Para korban pemerkosaan, katanya, malah dihukum had oleh Hakim, atau bahkan dihukum qisas atau pancung, ketika si korban membela diri, mempertahankan kehormatannya hingga terpaksa harus membunuh sang peemerkosa.

Menurut Huzaemah, TKW yang membunuh majikannya karena mempertahankan diri dari perkosaan atau tindak kekerasan lain, seharusnya dibebaskan dari hukuman. Asalkan dia dapat mendatangkan saksi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Seharusnya majikannya itu yang dikenai hukum had. Namun terkadang, perkosaan yang diderita TKW tidak ada saksinya, maka hal itu bisa dibuktikan dengan pemeriksaan dokter ahli yang independen dan didampingi penasehat hukum,” tandasnya.

Pemaksaan Perbuatan Zina

Sementara, Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ali Mustofa Ya’qub mempunyai definisi tentang pemerkosaan yang berbeda dengan Huzaemah. Menurut Mustofa, pemerkosaan adalah pemaksaan perbuatan zina.

“Jika menggunakan definisi ibu Huzaemah, nanti seorang suami yang karena sesuatu hal, memaksa istrinya berhubungan seksual, bisa disebut pemerkosa juga. Tapi jika didefinisikan sebagai pemaksaan perbuatan zina, maka bisa dikenai dua hukuman, yakni pemaksaan dan hukuman zina,” paparnya.

Mengenai hukuman bagi pemerkosa, menurut Mustofa, bisa dikenakan hukuman mati, dengan dasar bahwa hukuman bagi pezina saja bisa dicambuk atau dirajam, maka ketika perzinahan tersebut dilakukan dengan paksaan bisa dihukum lebih berat.

“Dalam ushul fiqh ada bab ikrah (pemaksaan). Yang dibahas pada bab ini, justru tentang hukum bagi si korban yang dipaksa. Bahwa pembebasan hukuman berlaku karena ikrah. Sementara hukuman bagi pelaku tidak ada had, tetapi ta’zir. Ta’zir ini boleh lebih berat dari had, hal ini berdaasarkan pendapat Syekh Abdul Qadir Audah,” ungkapnya.

Melihat banyaknya kejahatan seksual yang marak terjadi di Indonesia, menurut Mustofa, seharusnya ditetapkan istilah darurat zina. “Kenapa istilah yang digunakan darurat kejahatan seksual, kenapa tidak darurat zina saja. Dengan diksi ini bisa diberlakukan bagi semua pelaku. Terlebih pelaku pemerkosaan terhadap anak-anak. Ini harus dihukum berat,” ujarnya.

Sementara terkait penanganan terhadap anak korban kekerasan, Sekretaris Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Erlinda mengajak Muslimat NU untuk mengajukan revisi Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002, tentang Perlindungan Anak. Terutama dalam tiga isu, tentang perlindungan hak anak; pemenuhan hak dan peran tanggung jawab, serta; peningkatan sanksi hukum pidana tindak kekerasan bagi pelaku dewasa, minimal 20 tahun dan maksimal seumur hidup.

“Kita juga harus meningkatkan penanganan, rehabilitasi dan pendampingan anak korban? dan anak pelaku kekerasan, serta mendorong partisipasi dan kewaspadaan aktif masyarakat terhadap perlindungan anak,” ujarnya. (Abdel Malik/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pemurnian Aqidah, Makam, Olahraga Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 03 Desember 2017

Wagub Jabar Apresiasi Kiprah NU Care-Lazisnu

Sukabumi, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Wakil Gubernur Jawa Barat Dedy Mizwar mengapresiasi pengelolaan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) yang melayani warga Desa Nanggerang Kecamatan Cicurug, Sukabumi. Dedy menyampaikan hal ini dalam menjawab pertanyaan Pondok Pesantren An-Nur Slawi sesaat setelah membuka Workshop ‘Asistensi Manajemen ZIS’ di Pondok Pesantren Global Insani Mandiri (GIM), Sukabumi, Jumat (3/2) pagi.

“Ada hal menarik dari pengelolaan ZIS di Sukabumi ini yang dimulai dari tingkat desa. Betul-betul peran dan fungsi ZIS ini sangat luar biasa. Apabila ada warga yang mengalami kesulitan, pengurus sudah dekat dengan masyarakat, sehingga dapat mengatasi kesulitan warganya” kata Dedy.

Wagub Jabar Apresiasi Kiprah NU Care-Lazisnu (Sumber Gambar : Nu Online)
Wagub Jabar Apresiasi Kiprah NU Care-Lazisnu (Sumber Gambar : Nu Online)

Wagub Jabar Apresiasi Kiprah NU Care-Lazisnu

Menurut Wagub, sisi positif dari pengelolaan ZIS di Cicurug adalah sampai tahap pemanfaatan yang tepat sasaran.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Kalau ini terus dikembangan dengan penuh kesadaran, generasi yang akan datang hanya memakan apa yang menjadi haknya,” lanjut Wagub.

Sisi baik lainnya adalah ukhuwah (persatuan) yang juga digerakkan. Ukhuwah tersebut dijalankan dengan sesama umat Islam maupun umat Islam dengan non-Islam. Ukhuwah juga akan membentuk toleransi yang nyata dan semakin meningkatkan kualitas.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ketiga, adalah pada pemberdayaan ekonomi masyarakat. Dalam pemanfaatan ZIS untuk persoalan ekonomi, ada data di masyarakat siapa yang membutuhkan dan perlu dibantu. Bantuan hendaknya dalam pengembangan ekonomi (modal usaha), sehingga generasi muda juga terdorong menjadi entrepreneur. Keutamaan menjadi pengusaha juga ditegaskan dalam ajaran agama Islam.

Sebelumnya, Wagup menegaskan zakat merupakan satu dari lima pondasi utama bangunan keislaman, sehingga hal tersebut menjadikan zakat sebagi instrumen penting dalam membagun tatanan kehidupan yang kokoh. Berbagi, kepedulian, dan solidaritas di antara sesama merupakan pelajaran penting yang terkandung dari disyariatkannya zakat.

Selain membuka workshop, Wagub juga melakukan peluncuran buku Membumikan Sedekah; Belajar dari Cicurug Sukabumi. Buku yang ditulis secara kolaboratif oleh Direktur NU Care-Lazisnu Syamsul Huda, Direktur Fundraising NU Care-Lazisnu Nur Rohman, dan Amin Santosa ini mengupas tata kelola ZIS di Sukabumi sejak awal pendirian hingga kiprah yang dijalankan sampai saat ini. (Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Olahraga, Pahlawan, Kajian Islam Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 29 November 2017

Ulama yang Sederhana dan Menyukai Kholwat

Secara umum masyarakat di Aceh lebih mengenal Teungku Haji Syihabuddin Syah dengan nama Abu Keumala, nama tersebut merupakan nama panggilan beliau sewaktu mengaji di Labuhan Haji. Selain sebagai ulama, Abu Keumala juga di kenal sebagai orator ulung di masanya. Keunikan pidato Abu Keumala adalah apa saja yang dilihat atau yang sedang terjadi, bisa beliau ciptakan sebagai perbandingan dalam berpidato, terutama yang menyangkut tentang masalah ketauhidan.

Abu Keumala merupakan pencerah di bidang Tauhid Sehingga beliau juga di gelar sebagai Ulama Tauhid. Disamping mengadakan pengajian dan ceramah, Abu Keumala juga aktif menulis, di antara buku karangan beliau yang terkenal adalah Risalah Makrifah.



Ulama yang Sederhana dan Menyukai Kholwat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama yang Sederhana dan Menyukai Kholwat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama yang Sederhana dan Menyukai Kholwat

Asal usul

Seuneuddon merupakan salah satu kecamatan di pesisir Aceh Utara, daerah ini telah banyak melahirkan ulama–ulama besar, tapi kebanyakan ulama tersebut tidak bermukim di Seuneuddon. Di antara ulama besar  yang tidak bermukim di Seuneuddon tersebut adalah: Teungku Muhammad (Abu Seuriget) Pimpinan Dayah Darul Muarif Langsa, Teungku Muhammad Amin pendiri dayah Malikussaleh Panton Labu (mulai tahun 1965–1975), Teungku Ibrahim Bardan (Abu Panton) pimpinan Dayah Malikussaleh di Panton Labu (mulai tahun 1975 hingga sekarang), Teungku Karimuddin (Abu Alue Bilie) pimpinan dayah Babussalam Panteu Breuh, Kemudian Teungku Syihabuddin Syah atau yang lebih terkenal dengan panggilan Abu Keumala juga berasal dari Seuneuddon, tepatnya di desa Tanjong Pineung, beliau lahir sekitar tahun 1928.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ketinggian ilmu agama Teungku Syihabuddin Syah karena beliau merupakan murid ulama–ulama besar di Aceh. Semenjak remaja Teungku Syihabuddin Syah sudah belajar di dayah Keumala Kabupaten Pidie kemudian di dayah Labuhan Haji, Aceh Selatan yang dipimpin oleh ulama besar Teungku Haji Muhammad Waly Al-Khalidi (Abuya Muda Waly). Karena lama belajar di dayah Keumala , maka Teungku Syihabuddin Syah dikenal dengan panggilan Teungku Keumala atau Abu Keumala.

Mungkin panggilan seperti ini agak sedikit tidak lazim, karena biasanya seorang ulama dipanggil berdasarkan nama kampung asal atau tempat di mana beliau menetap, bukan dimana tempat beliau mengaji. Teungku Syihabuddin Syah menikah pada tahun 1957 dengan salah seorang putri yang merupakan  cucu gurunya di Keumala, dari perkawinan tersebut beliau dianugrahi Sembilan orang anak.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Bermukim di Medan. Ketika  Konflik bersenjata di Aceh tahun 1953, beliau memperlihatkan sikap tidak menyetujuinya. Karena itu beliau pindah ke Medan. Seorang pemuka masyarakat, Haji Manyak Meureudu, mewakafkan sebidang tanah 25 x 25 meter yang diatasnya ada bangunan sederhana terletak dipasar II jalan Sei Wampu, Kampung Babura, Medan Baru. Di tempat ini ditampung 30 orang pelajar Aceh yang menuntut ilmu di berbagai peguruan tinggi di Medan. Di tempat itu juga Ustadz Syihabuddin memberi pelajaran agama, baik bagi penghuni asrama maupun bagi kaum muslimin di sekitar  tempat itu. Di tempat itu juga Ustadz Syihabuddin memberi pelajaran agama kepada keluarga – keluarga tokoh – tokoh masyarakat Aceh di Medan.

Pertikaian antara dua etnis di Medan pada tahun 1956, menyebabkan Asrama Pelajar di Pasar II Jalan Sei Wampu Kampung Babura Medan Baru, diserbu oleh sekitar 36 orang tidak dikenal. Asrama tersebut di porak–porandakan, kemudian dibakar. Penghuninya Teungku Syihabuddin Syah yang mengajar di tempat itu di pukul dengan broti di  kepalanya hingga tidak berdaya namun beliau dapat di selamatkan ke rumah sakit.

Hancurnya asrama yang selama itu di huni oleh 30 orang pelajar dan mahasiswa  yang juga tempat pengajian bagi masyarakat yang ada di sekitar tempat itu, maka menjadi masalah bagi pemuka – pemuka masyarakat Aceh di Medan. Mereka mencari jalan untuk menampung pelajar dan mahasiswa yang asramanya tidak ada lagi juga tempat pengajian telah porak–poranda.

Pendirian Sekolah Islam

Masalah asrama pelajar/mahasiswa Aceh sekaligus tempat pengajian berhasil diatasi pada tahun 1956 itu juga. Hal itu berkat jasa baik Tuanku Hasyim S.H. atas nama Yayasan Sosial Medan mewakafkan sebidang tanah ukuran 9,5 x 17 meter. Di atas tanah itu ada bangunan tua yang dapat digunakan. Tanah itu terletak di pasar Melintang, sekarang Jalan Darussalam 24 Medan. Nama jalan itu diusulkan oleh Teungku Syihabuddin Syah kepada Wali Kota Medan dan di terima baik oleh Wali Kota, Haji Muda Siregar (tahun 1957).

Karena digunakan untuk kegiatan pendidikan agama, maka pada tahun 1960 tempat itu diberi nama Asrama  Madrasah Pesantren Miftahussalam. Kemudin dibuka SRI (Sekolah Rendah Islam), SMI (Sekolah Menengah Islam), SMIA (Sekolah Menengah Islam Atas), yang langsung dipimpin oleh  Teungku Syihabuddin Syah dan Teungku Abdussalam Abdullah. Nama tingkat pendidikan itu kemudian berubah menjadi Diniyah, Tsanawiyah, dan Aliyah.

Untuk memperkokoh perhatian kaum muslimin terhadap Miftahussalamah, Teungku Syihabuddin Syah mengajar orang–orang tua murid untuk mengikuti majelis pengajian yang diberi nama Safinatussalamah (kapal penyelamat), sedangkan yang menjadi guru adalah beliau sendiri. Pengajian itu berkembang dengan pesat di kota Medan. Pada waktu yang bergiliran Teungku Syihabuddin Syah memberi pengajian yang berjumlah sekitar 11 tempatdi Kota Medan dengan menggunakan kendaraan VW Combi yang di setir oleh beliau sendiri.

Nama komplek Asrama Madrasah Pesantren itu oleh Teungku Syihabuddin Syah diganti pada tahun 1977 menjadi Pendidikan Islam Miftahussalam. Lancarnya pembangunan komplek Miftahussalam itu atas dasar wakaf kaum muslimin, sehingga berhasil membuka  SLTP dan SMU Darussalam. Tenaga pengajarnya adalah para sarjana dari berbagai disiplin ilmu yang menjadi penghuni asrama.

Pendidikan Islam Miftahussalam telah berbadan hukum , yang Ketua Umumnya adalah Teungku Syihabuddin Syah, maka sekarang sudah lengkap tingkat pendidikan agama, dan juga SLTP dan SMU. Komplek Miftahussalam pada tahun 2004 menampung sekitar 1500 siswa dan siswi yang belajar pagi dan sore. Siswi SLTP dan SMU semua berjilbab dan pada waktu shalat Ashar seluruh siswa yang belajar sore shalat berjamaah di Mesjid Taqarrub. Di komplek Mesjid Taqarrub juga dibuka TK Al-Qur’an.

Ketika Asrama dan Pesantren Miftahussalam masih merupakan bangunan yang sangat sederhana, Abu Keumala mempunyai ruangan sendiri sekaligus tempat tinggalnya. Selama beberapa tahun di tempat itu beliau melakukan Khulwah di setiap bulan Ramadhan. Selama Khulwah beliau tidak berbicara dengan siapapun, komunikasi dilakukan dengan surat menyurat.

Akhir hayat

Sebelum meninggal kesehatan beliau terus menurun. Mula–mula gangguan mata hingga tidak dapat membaca kitab, walaupun telah berobat ke dokter ahli mata di Medan, tidak juga membawa hasil. Juga di bawa berobat ke Penang namun tidak ada perobahan. Kemudian datang lagi gangguan penyakit gula. Begitu pun beliau tetap berusaha menjadi imam seperti dalam bulan Ramadhan. Juga beliau memberi kuliah agama, walaupun porsinya tidak seperti sebelumnya.

"Seorang demi seorang  benteng agama meninggalkan kita. Kita bersedih bukan karena kepergian beliau, tetapi karena hilangnya benteng agama, mujahid Islam yang telah banyak jasanya kepada masyarakat". Demikian dikatakan oleh Al-Ustadz Drs Haji Halim Harahap, mewakili para khatib Masjid Taqarrub Jalan Darussalam 26 ABC Medan, ketika melepas jenazah Al – Ustadz Teungku Haji Syihabuddin Syah atau Abu Keumala sebelum di berangkatkan ke tempat persemayaman terakhir di komplek perkuburan Mesjid Raya Al-Mansur jalan Sisingamangaraja, Medan.

Abu Keumala meninggal di rumah kediamannya di jalan Karya Bhakti Gang Rukun No: 2 Medan, setelah menderita sakit semenjak bulan April 2004. Beliau meninggal hari Jumat, 9 Juli 2004. Upacara pelepasan jenazah dilangsungkan di Mesjid Taqarrub, mesjid yang beliau bangun bersama kaum muslimin, baik yang ada di Medan maupun yang berada di luar Kota Medan.

Masjid tempat beliau mengucurkan ilmu agama, baik dalam pengajian baik dalam pengajian ibu–ibu dan bapak-bapal. Kuliah agama di berikan di mesjid itu terutama di bulan Ramadhan selesai Shalat Tarawih, kemudian kuliah Shubuh baik di bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan.

Pada acara pelepasan juga ikut berbicara Prof Dr Haji Aslim Sihotang yang menguraikan tingginya ilmu yang di miliki oleh Almarhum Al–Ustadz Teungku Haji Syihabuddin Syah atau Abu Keumala. Ia menganjurkan supaya kitab yang ditulis olh Almarhum pada tahun 1983 yang 4 jilid berjudul Risalah Makrifah agar di cetak, yang pelaksanaannya dapat dilakukan oleh murid – muridnya. (Tgk Zulfahmi MR; staff pengajar di Dayah Raudhatul Maarif Cot Trueng – Muara Batu – Aceh Utara, Tulisan ini Merupakan nukilan dari buku : Biografi Ulama - Ulama Aceh Abad XX Jilid III).Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Bahtsul Masail, Meme Islam, Olahraga Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 28 November 2017

PCNU Bojonegoro Pilih Rais Syuriyah Baru

Bojonegoro, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pasca Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur KH Misbah Syakur wafat, posisinya kosong sebelum diadakan pelantikan. Namun setelah diadakan rapat tertutup pengurus harian Syuriyah PCNU Bojonegoro di Kantor PCNU, jalan Ahmad Yani Bojonegoro, Sabtu (14/9), KH Maimun SyafiI terpilih sebagai Rais Syuriyah 2013-2018.

Usai rapat Katib PCNU BOjonegoro sekaligus pemimpin rapat dan notulensi KH Moh Shofiyullah menerangkan pertemuan di sore itu terkait dengan pengisian posisi kosong, yakni Rais Syuriyah PCNU Bojonegoro sepeninggal KH Misbah Syakur yang wafat beberapa waktu lalu. Rapat terbatas itu menghadirkan Wakil Rais Syuriyah KH Makmur Soelaiman, KH Munaamul Khoir, KH M Saifuddin Zuhri, KH Abdul Muhaimin Rifai, KH Masyhuri, KH Asfiror Ridlwan, KH M Ghufron Umar, dan Kiai Muhammad Harsono. 

PCNU Bojonegoro Pilih Rais Syuriyah Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Bojonegoro Pilih Rais Syuriyah Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Bojonegoro Pilih Rais Syuriyah Baru

Dari Katib Syuriyah, mereka yang hadir Wakil Katib Kiai Asyrofi, KH M Jauharul Maarif, Agus Sholahuddin, KH Muhammadun, KH Famudji, KH M Zuhri, H Syaroni, dan H Habrun Hasan. Rapat ini juga dihadiri Ketua Tanfidziyah terpilih 2013-2018 H Cholid Ubed.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Setelah ditawarkan proses pemilihan yang dilakukan secara demokrasi, berdasarkan AD/ART organisasi NU, disepakati voting tertutup. "Hasil kesepakatan rapat yang sesuai AD/ART ini terpilih KH Maimun Syafi sebagai Rais Syuriyah PCNU Bojonegoro 2013-2018, yang sebelumnya menduduki Mustasyar," ujar KH Shofiyullah kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurut pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Rosyid Dander Bojonegoro itu, langkah selanjutnya yang akan dilakukan, mengajukan permohonan Surat Keputusan (SK) dan sekaligus membahas persiapan pelantikan.

Pasalnya pembahasan terkait pelantikan akan dibahas bersama dan tentunya membentuk kepanitiaan. "Rencananya pelantikan akan dilaksanakan setelah musim haji," terangnya. Namun kegiatan akan berjalan sesuai bidangnya masing-masing seperti halnya Aswaja Center yang terus mengadakan kegiatan.

Sementara dalam kesempatan terpisah, Cholid Ubed mengatakan jika pertemuan itu merupakan wilayah syuriyah untuk memilih rais pengganti. "Siapapun yang terpilih sebagai Rais Syuriyah atau Owner PCNU Bojonegoro, kita mengikuti," jelasnya.

Terpilihnya KH. Maimun Syafii sudah sesuai AD/ART dan sesuai kesepakatan seluruh pengurus yang mengikuti rapat. "Langkah selanjutnya keputusan ini akan dikirim ke PWNU Jatim untuk dilantik," ungkapnya.

Setelah pelantikan nanti, seluruh pengurus PCNU akan segera melaksanakan agenda program kerja yang dibuat dan kegiatan-kegiatan lainnya. (M Yazid/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pendidikan, Olahraga Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 27 November 2017

Haul Gus Dur tak Semata Diperingati

Jombang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Hampir semua orang sepakat bahwa Gus Dur atau KH Abdurrahman Wahid adalah sosok yang layak ditauladani. Tidak semata dalam gagasan, juga dalam tataran perilaku atau tindakan.

Yang mendesak untuk segera dilakukan adalah menampilkan kiprah dan dedikasinya dalam keseharian. Apalagi dalam waktu dekat, Jombang akan menyelenggarakan pemilihan kepala daerah.

Haul Gus Dur tak Semata Diperingati (Sumber Gambar : Nu Online)
Haul Gus Dur tak Semata Diperingati (Sumber Gambar : Nu Online)

Haul Gus Dur tak Semata Diperingati

Ini di antara benang merah yang disampaikan sejumlah narasumber pada kegiatan "Meneguhkan Spirit Perjuangan Gus Dur: Refleksi Kritis Menjelang Transisi Kepemimpinan Jombang" (4/1).?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Acara yang diselenggarakan di kantor PC Lakpesdam NU Jombang ini menghadirkan Ahmad Athoillah (Ketua PC ISNU Jombang), Pendeta Sutrisno (GKI Jombang) serta Aan Anshori (GusDurian Jombang).

Dalam paparannya, Gus Athok -sapaan Ketua PC ISNU Jombang- menmandaskan sebenarnya banyak gagasan Gus Dur yang masih relevan dengan kondisi kekinian.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Yang sangat terasa adalah bagaimana seorang Gus Dur mampu menjadi payung bagi semua golongan," katanya. Sosok dengan komitmen seperti ini yang sangat dibutuhkan sebagai pemimpin masa depan.?

"Mereka yang berkeinginan dan mampu menyapa berbagai lapisan masyarakat, tentu akhirnya dapat dengan mudah menyerap aspirasi masyarakat," lanjutnya. Namun demikian, yang juga penting adalah bagaimana merealisasikan janji-janji dan komitmen politik tersebut manakala telah terpilih sebagai orang pertama di kota santri ini.

Karena sudah jamak terjadi, beberapa pemimpin yang demikian terbuka dengan masyarakat, namun melakukan itu hanya saat masa kampanye.?

"Namun setelah terpilih, sangat jarang yang mau mempertahankan dalam masa kepemimpinannya," katanya prihatin.?

Pada acara yang berlangsung sejak jam 20.00 hingga tengah malam ini, beberapa peserta juga menyampaikan berbagai keprihatinan seputar kesungguhan dan keberpihakan para pemimpin. Yang lebih mengemukan adalah rendahnya komitmen mereka dalam mengayomi dan melindungi masyarakat.?

"Memang tidak mudah mencari pemimpin yang bisa memuaskan semua pihak," kata Pendeta Sutrisno. "Namun diantara yang telah siap untuk maju, pasti akan ada yang lebih baik," lanjutnya.

Karena itu, pada kesempatan ini semua peserta sepakat bahwa momentum memperingati tiga tahun wafatnya Gus Dur, hendaknya tidak semata diperingati. Yang mendesak adalah melakukan penyadaran khususnya kepada diri sendiri terhadap pentingnya sosok yang rela mengayomi dan melindungi kepentingan orang banyak.?

"Tanpa itu, peringatan Gus Dur hanya berhenti pada seremonial tanpa ada pengaruh dalam realita," kata Aan Anshori.

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Saifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Berita, Olahraga, Kyai Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 25 November 2017

Sekolah Lima Hari Tetap Dijalankan Mendikbud, Ini Penolakan PBNU

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi?

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy memastikan program sekolah lima hari akan terus berjalan sambil menunggu Peraturan Presiden (Perpres) untuk menguatkan kebijakan tersebut. Ia beralasan karena aturan tentang kebijakan itu belum dicabut.?

"(Aturannya) kan itu belum dicabut, jalan terus," kata Muhadjir di Labschool UNJ, Jalan Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (6/7) yang dilaporkan sebuah berita online.

Sekolah Lima Hari Tetap Dijalankan Mendikbud, Ini Penolakan PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekolah Lima Hari Tetap Dijalankan Mendikbud, Ini Penolakan PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekolah Lima Hari Tetap Dijalankan Mendikbud, Ini Penolakan PBNU

Menanggapi hal itu, Rais ‘Aam PBNU mengatakan, kebijakan Sekolah Lima Hari itu yang diterbitkan Peraturan Menteri (Permen) No. 23 itu menadapatka penolakan dari masyarakat terutama NU.?

“Tentu saya sebagai Rais ‘Aam PBNU mendukung penolakan itu. Karena itu, maka saya sudah bertemu Presiden bahwasanya isi Permen itu harus ditata ulang karena isisnya itu ditolak oleh masyarakat,” katanya di gedung PBNU, Jakarta, Kamis (6/7).?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurut dia, ia meminta kepada Presiden agar Permen itu diganti dengan Peraturan Presiden (Perpres) yang di dalamnya tidak ada lagi tentang Sekolah Lima Hari, tetapi penguatan pendidikan karakter. Kemudian di situ juga dicantumkan penguatan pendidikan Madrasah Diniyah.?

Disitu dikuatkan, bukan hanya dilindungi, tapi dikuatkan,” tegasnya.?

Untuk menyusun Perpres itu, lanjutnya, Presiden melibatkan dua menteri yang lain, yaitu Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri, juga NU, MUI, Muhammadiyah.?

“Jadi sebenarnya dengan begitu, maka masalah Pemen itu sudah otomatis gugur hanya nanti pengaturan akan dilakukan melalui Perpres. Jadi Sekolah Lima Hari itu sudah tidak ada lagi menurut kesepakatan tadi, nunggu nanti Perpresnya seperti apa. Sekarang ini status quo, tidak boleh. Isinya nanti tergantung Perpres. Permen itu sudah harus diganti Perpres, nanti isinya itu belum tentu seperti Permen itu,” jelasnya. ?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Karena itulah, tidak benar jika Permen itu mau dilaksanakan sekarang. Mendikbud harus menunggu Perpres dulu. Itu yang harus dilakukan.?

“Saya minta tidak ada tindakan apa-apa sebelum ada Perpres itu. Jika menteri itu tetap melaksanakan, NU akan tetap menyampaikan protes kepada Presiden, menolak pemberlakuan itu sebelum ada Perpres. NU harus aktif, membuat surat pada Presiden,” pungkasnya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Amalan, Olahraga Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 24 November 2017

GP Ansor Subang Minta Pengelola Pantai Pondok Bali Perbaiki Manajemen

Subang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Ketua GP Ansor Kabupaten Subang Asep Alamsyah Heridinata angkat bicara soal kondisi Pantai Pondok Bali di Ujung Legonkulon Pantai Utara Kabupaten Subang. Kendati kondisi infrastruktur jalannya sudah bagus, menurut Asep, pengelolaan manajemennya tampak tidak dilakukan secara profesional. Akibatnya salah satu objek wisata andalan Kabupaten Subang ini dibiarkan terbengkalai.

Asep Alamsyah meminta pemegang kebijakan setempat memperbaiki pengelolaan objek wisata Pantai Pondok Bali.

GP Ansor Subang Minta Pengelola Pantai Pondok Bali Perbaiki Manajemen (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Subang Minta Pengelola Pantai Pondok Bali Perbaiki Manajemen (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Subang Minta Pengelola Pantai Pondok Bali Perbaiki Manajemen

“Coba kalau dilakukan secara profesional, mungkin Pantai Pondok Bali ini akan terlihat lebih elok, cantik, dan memiliki sistem keamanan yang standard sehingga pengunjung merasa nyaman,” ujar Asep saat

dihubungi, Senin (26/12).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Asep menegaskan, saat ini sistem pengelolaan Pantai Pondok Bali tidak jelas sehingga tidak ada jaminan keamanan di sana. “Hal ini dimaksudkan agar kejadian seperti kemarin yang memakan korban jiwa tidak terulang lagi,” kata Asep.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ia juga meminta agar tiket masuk yang sebesar Rp.10.000 tersebut harus ada jaminan asuransi jiwa. “Sehingga kalau ada pengunjung yang mengalami kecelakaan bisa mendapatkan santunan dari asuransi tersebut,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan tokoh pemuda pantura lainnya, Ketua Karang Taruna Pamanukan Asep Maulana. Ia berharap agar Pantai Pondok Bali itu dijadikan salah satu kawasan penghasil Pendapatan Asli Daerah (PAD) andalan di Kabupaten Subang.

“Dengan pengelolaan manajemen yang profesional, saya yakin pengunjung akan semakin nyaman dan akan menjadi salah satu sumber PAD andalan di Kabupaten Subang,” pungkasnya. (Ade Mahmudin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Tegal, Olahraga, Meme Islam Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 22 November 2017

Hubungan Simbiosis Pesantren dan Sekolah Formal

Oleh Muhammah Jauhari Sofi

Perkembangan dunia pesantren dalam merespon tantangan multi-dimensional di era globalisasi berlangsung begitu cepat dan mudah diamati, terutama setelah era reformasi. Beberapa pesantren masih mempertahankan tradisi salafi dan di saat yang sama membentuk unit-unit pendidikan formal baru, seperti Madrasah Ibtidaiyyah (SD), Madrasah Tsanawiyyah (SMP) dan Madrasah Aliyah (SMA).

Hubungan Simbiosis Pesantren dan Sekolah Formal (Sumber Gambar : Nu Online)
Hubungan Simbiosis Pesantren dan Sekolah Formal (Sumber Gambar : Nu Online)

Hubungan Simbiosis Pesantren dan Sekolah Formal

Unit-unit pendidikan baru tersebut menyajikan perpaduan antara pengkajian kitab-kitab salaf dan materi pelajaran umum (modern). Pengembangan ini dimaksudkan agar para lulusan pesantren salaf dapat melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi dan berkualitas serta mampu bersaing secara kompetitif dalam intelektualisme pada bidang-bidang studi umum.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Meski demikian, sekolah formal di lingkungan pesantren ini tetap dilaksanakan tanpa meninggalkan aspek-aspek positif sistem pendidikan Islam salafi sebagai ciri khas pesantren (Dhofier: 1982). Pendidikan formal di sekolah dan nilai-nilai kepesantrenan berfungsi saling melapisi dalam membentuk kepribadian para siswa.

Tuntutan untuk memadukan antara yang salafi (tradisional) dan yang khalafi (modern) secara otomatis akan membawa tantangan tersendiri bagi dunia pesantren. Beberapa faktor seperti perkembangan sains-teknologi, penyebaran arus informasi serta perjumpaan budaya baru dapat menggiring kecenderungan masyarakat akademik di sekolah, termasuk para santri di dalamnya, untuk berfikir rasional dan inklusif.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Civitas akademika di sekolah formal akan dihadapkan pada pilihan-pilihan baru yang menarik dan cukup menggoda untuk diikuti. Terlebih lagi, pilihan-pilihan baru tersebut seringkali dikemas dengan istilah yang mengandung nuansa propaganda yang meskipun dalam taraf tertentu masih bisa dibenarkan, seperti efisiensi, kemajuan, pencerahan, pembaharuan, dan sebagainya.

Pelan tapi pasti, hal ini bisa berdampak pada perubahan-perubahan yang menyangkut pola pikir dan pola hidup para santri yang mengikuti pendidikan di sekolah formal. Para santri ini secara perlahan akan bersikap progresif dan pragmatis sebagai respons atas tuntutan zaman. Gejala ini mesti direspon dengan baik oleh pihak sekolah.



Pendampingan di Sekolah


Perjumpaan aspek salafi dengan khalafi sebagaimana dijelaskan di atas perlu mendapatkan pendampingan yang baik dari pihak sekolah. Kebutuhan untuk mengikuti perkembangan zaman melalui ilmu-ilmu umum dan di saat yang sama menjaga identitas kepesantrenan juga perlu mendapatkan perhatian yang proporsional.

Bagi sekolah formal, keberadaan pesantren dapat menjadi nilai lebih dalam rangka menawarkan alternatif model pendidikan yang sesuai kebutuhan zaman. Hal ini karena ukuran yang digunakan masyarakat dalam menilai lembaga pendidikan saat ini tidak lagi terpaku hanya pada keberhasilan dalam ilmu-ilmu umum atau modern, tetapi juga pada aspek moral dan spiritual.

Komitmen untuk menyertakan ciri khas pesantren dalam proses pembelajaran di sekolah akan turut menambah harga tawar sekolah di tengah masyarakat. Dalam hal ini, sekolah membekali para siswa agar lebih siap menghadapi dan mengantisipasi tantangan global yang beragam. Oleh karenanya, sekolah perlu merawat identitas kepesantrenan di lingkungannya.

Identitas ini dapat ditunjukkan dengan cara, misalnya, memasukkan kajian kitab kuning ke dalam mata pelajaran di sekolah. Tentu materi kitab yang dipilih harus disesuaikan dengan tingkat kemampuan peserta didik. Kitab kuning seperti Ta’lim Muta’allim (akhlak) dan Fathul Qarib (fiqih) dapat digunakan sebagai preferensi, disamping kitab lain sesuai kesepakatan pengelola sekolah.

Selanjutnya, nilai-nilai kepesantrenan seperti sopan santun, kebersahajaan, kemandirian, kedisiplinan, dan istiqomah juga perlu ditonjolkan dalam keseharian di lingkungan sekolah. Sebagaimana maklum, nilai-nilai luhur tersebut terlihat jelas dalam denyut nadi aktivitas sehari-hari para santri.

Kehadiran nuansa pesantren di lingkungan sekolah ini dapat ditemukan, misalnya, di Madrasah Aliyah (MA) Fathul Huda yang bernaung di bawah Pondok Pesantren Fathul Huda, Karanggawang Demak. Tidak hanya kajian kitab kuning, sekolah ini juga menyelenggarakan kegiatan lain berciri pesantren, seperti tadarrus harian, khataman al-Quran dan istighotsah secara berkala oleh semua warga sekolah.

Keberhasilan sekolah formal dalam memadukan modernitas pendidikan dengan tradisi pesantren akan dapat memperkuat pembangunan peradaban Indonesia modern yang berakhlakul karimah. Melalui sekolah formal, tradisi pesantren yang pernah menjadi ujung tombak pembangunan peradaban Melayu Nusantara kini perlu tampil lagi dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia di masa sekarang dan mendatang.

Akhirnya, sekolah formal berbasis pesantren harus juga berani meneguhkan kembali maqolah khas dunia pesantren dengan format baru: al-akhdzu bil Jadidil ashlah wal muhafadhah ‘ala al-qadim ash-shalih, yaitu mengadopsi budaya baru yang terbaik atau memberi kemaslahatan dengan tetap menjaga tradisi lama yang luhur.

* Penulis adalah alumnus Pesantren Fathul Huda, Karanggawang Demak



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Olahraga, Halaqoh, Pahlawan Pondok Pesantren An-Nur Slawi