Sabtu, 29 April 2017

GP Ansor Pamekasan Dorong Pembersihan Reklame Rokok

Pamekasan, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Pamekasan mendorong pemerintah setempat untuk serius menyikapi persoalan reklame rokok yang hingga kini terabaikan. Pasalnya, itu merupakan amanah Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 109 Tahun 2012 yang melarang iklan rokok di jalan protokol.

Ketua GP Ansor Pamekasan Fathorrahman menegaskan, dalam pengamatannya PP tersebut tidak dijalankan sepenuhnya oleh Pemkab Pamekasan. Buktinya, masih terdapat beberapa reklame rokok yang merusak pemandangan di daerah jalan protokol.

GP Ansor Pamekasan Dorong Pembersihan Reklame Rokok (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Pamekasan Dorong Pembersihan Reklame Rokok (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Pamekasan Dorong Pembersihan Reklame Rokok

"Padahal dalam PP itu jalan protokol daerah perkotaan mesti bersih dari reklame rokok. Pemkab Pamekasan harus berani bertindak tegas terhadap perusahaan rokok yang mokong dan melabrak PP," kata Dosen Universitas Madura itu, Senin (8/2).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sementara itu, Kepala Seksi (Kasi) Penyidikan dan Penyelidikan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pamekasan Yusuf Wibiseno mengaku sudah mengantongi data tentang masa aktif perizinan setiap reklame rokok di jalan protokol. Tetapi terdapat beberapa reklame yang belum diturunkan lantaran belum habis masa kontraknya.

"Memang yang masa kontraknya berakhir di tanggal 31 Desember 2015 tidak diperpanjang lagi. Tapi yang belum habis masa kontraknya, kami tunggu sampai habis, baru diturunkan. Karena tidak boleh diperpanjang lagi," ungkapnya.

Pihaknya berterima kasih atas perhatian semua pihak, terutama GP Ansor Pamekasan yang perannya dirasa positif dalam mengontrol dan mendukung setiap program serta kebijakan Pemkab Pamekasan selama ini. (Hairul Anam/Alhafiz K)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi AlaSantri, Budaya Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 28 April 2017

Kembali Pimpin Muslimat Kaltim, Hj Aminah Prioritaskan Tiga Program

Samarinda, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Hajah Aminah kembali terpilih menjadi Ketua Pimpinan Wilayah Muslimat Nahdlatul Ulama Kalimantan Timur (Kaltim) pada Konferensi Wilayah akhir pekan lalu. Setelah terpilih, ia berjanji akan memprioritaskan tiga program.

Kembali Pimpin Muslimat Kaltim, Hj Aminah Prioritaskan Tiga Program (Sumber Gambar : Nu Online)
Kembali Pimpin Muslimat Kaltim, Hj Aminah Prioritaskan Tiga Program (Sumber Gambar : Nu Online)

Kembali Pimpin Muslimat Kaltim, Hj Aminah Prioritaskan Tiga Program

Program pertama, kata Aminah, Muslimat NU Kaltim akan memasukan pembelajaran Pendidikan Agama Islam 1 jam setiap hari dengan rincian 30 menit di awal pelajaran dan 30 sebelum mengakhiri pelajaran. “Hal itu khusus di lembaga pendidikan dibawah naungan muslimat NU,” katanya pada Konferwil yang berlangsung di Pendopo Lamin Etam, Samarinda pada Sabtu (27/2) tersebut.

Kedua, lanjut dia, Muslimat NU Kaltim akan memperluas sasaran dakwah, tidak hanya kepada anggota saja, melainkan kepada pihak-pihak lain.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sementara yang ketiga, meningkatkan jalinan kerja sama dengan lembaga-lembaga baik pemerintah maupun swasta.

PR Muslimat NU

Sebelumnya pada pembukaan Konferwil, Ketua Pimpinan Pusat Muslimat NU Hj. Khofifah Indar Parawansa yang turut hadir menekankan pentingnya fastabiqul khairat atau berlomba-lomba dalam kebaikan. Hal itu perlu dilakukan karena masih banyak pekerjaan rumah persoalan sosial di hadapan Muslimat.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Adanya prostitusi dan banyaknya lokalisasi dengan memperkerjakan anak perempuan yang masih sekolah di SMP dan juga penyalahgunaan narkoba di lingkungan anak-anak sekolah itu adalah PR Muslimat,” katanya.

Muslimat, kata Menteri Sosial RI ini, perlu membuat pemetaan sosial sehingga permasalahan itu dapat diselesaikan dengan mendidik anak-anak. Hal itu bisa dilakukan di keluarga yang suci hati, pikiran dan perilaku.

“PR buat muslimat NU agar dapat bekerja keras, kerja cerdas, bekerja dengan ikhlas dan kerjakan semua sampai tuntas,” pintanya.

Pada pembukaan konferensi juga Hj Aminah melantik10 Pimpinan Cabang Muslimat NU. Kemudian konferensi diikuti 9 Cabang dari Kaltim, dan 4 Cabang dari Kalimantan Utara.

Hadir pada kesempatan itu Gubernur Kaltim yang diwakili H. Bere Ali, Ketua PBNUH. Farid Wadjdy, Ketua PWNU Kaltim KH Muhammad Rasyid, Anggota DPR-RI yang juga Ketua Muslimat NU Balikpapan Hj. Kasriyah, dan pada pengurus PCNU Samarinda, Kutai Kartanegara, Bontang, Balikpapan, dan peserta konferensi. (Chairul Anwar/Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Lomba, Berita Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 27 April 2017

Ke PBNU, Mendagri Dukung Hari Santri Nasional

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Menteri Dalam Negeri RI Tjahyo Kumolo mendatangi kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di jalan kramat raya no 164 Jakarta Pusat Rabu (7/10). Kedatangannya disambut Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Sekretaris Jenderal PBNU H. A. Helmy Faishal Zaini serta pengurus lainnya.

?

Dalam pertemuan yang berlangsung di lantai 3 Gedung PBNU, Kiai Said? menceritakan bahwa NU dan 12 organisasi kemasyarakatan (Ormas) lain sudah mengkaji dan menyepakati bahwa hari santri lebih tepat pada tanggal 22 Oktober. ?

Ke PBNU, Mendagri Dukung Hari Santri Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Ke PBNU, Mendagri Dukung Hari Santri Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Ke PBNU, Mendagri Dukung Hari Santri Nasional

“Tanggal 22 Oktober ini jadi hal yang paling menonjolkan peran santri dalam perjuangan kemerdekaan. Pada tanggal tersebut keluar fatwa Resolusi Jihad Hadratussyaikh Hasyim Asyari dimana membela tanah air hukumnya fardlu ain dan yang membantu Belanda jadi kafir," jelas kiai yang akrab disapa Kang Said di depan Mendagri.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

?

Pada kesempatan itu, Kang Said meminta Mendagri ikut mengingatkan Presiden RI Joko Widodo mengenai penetapan Hari Santri Nasional.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Tjahyo dalam kesempatan itu mengaku senang bisa berkunjung ke PBNU dan bertemu dengan para kiai. Ia mendukung penetapan hari santri nasional dan berjanji membantu menyampaikannya ke Presiden RI Joko Widodo.

?

"Saya pertama kali berkunjung ke PBNU sebagai agenda kegiatan silaturahim kepada Organisasi Kemasyarakatan. Saya akan menyampaikan kepada Presiden RI Joko Widodo," ungkap mantan Sekjen DPP PDIP ini.? ? ?

?

Sebelum mengakhiri pertemuan, jajaran pengurus PBNU memberikan hasil-hasil Muktamar NU ke 33 di Jombang kepada Tjahyo. Sementara Tjahyo menyerahkan bantuan lima unit komputer yang secara simbolis komputer diterima Sekjen PBNU Helmy Faishal. (Syamsud Dhuh/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Nasional, Kyai, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 26 April 2017

Ikuti Kompetisi Blog "Muslim Anti Korupsi"

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Anda yang aktif mengelola web blog bisa ikut memberantas korupsi di Indonesia di ajang kompetisi yang diselenggarakan oleh Persaudaraan Profesional Muslim (PPM) Aswaja dengan tema “Muslim Anti Korupsi”. Kompetisi dimulai pada periode 5 Oktober sampai 5 Desember 2013.

Para bloger bisa menuliskan cerita, hikmah, pengalaman, harapan, taushiyah, atau pun ajakan untuk membudayakan aktivitas anti korupsi sebagai hal yang dilarang dalam Islam dan mempublikasikannya ke web blog masing-masing.

Ikuti Kompetisi Blog Muslim Anti Korupsi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ikuti Kompetisi Blog Muslim Anti Korupsi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ikuti Kompetisi Blog "Muslim Anti Korupsi"

“Dikarenakan korupsi sudah sangat mengakar dalam kehidupan masyarakat kita, maka tulisan blog tersebut dapat berisi hal-hal yang sepele ataupun gagasan besar untuk Indonesia,” kata Koordinator PPM Aswaja, Usmayadi kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi, Kamis (3/10).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Tulisan harus orisinal atau asli dan belum pernah di publikasikan di media manapun. Peserta bebas menggunakan platform blog seperti dari blogdetik, blogspot, wordpress, kompasiana, thumblr, islami.co, dan lain-lain.

Beberapa pegiat anti korupsi akan menjadi juri final di kompetisi ini, antara lain Alissa Wahid, Abdul Hamid Wahid, Agus Zainal Arifin, dan Savic Ali.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kompetisi terbuka untuk umum. Panitia menyiapkan hadiah untuk 6 (enam) bloger terbaik. Syarat dan ketentuan akan dipublikasikan lebih lanjut. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi PonPes, Nasional, Sejarah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 23 April 2017

Pesan Rasulullah SAW Terkait Etika Bertamu dan Terima Tamu

Mengunjungi rumah saudara, karib kerabat, dan teman termasuk perbuatan mulia. Karena melalui kunjungan tersebut hubungan persaudaraan dan persahabatan menjadi semakin kokoh dan akrab. Supaya kunjungan membuahkan hasil dan mendapatkan kebaikan, perlu diperhatikan etika pada saat bertamu.

Perhatikan waktu dan kondisi orang yang akan kita kunjungi. Misalnya, jangan bertamu pada waktu istirahat dan jam kerja, atau buatlah perjanjian terlebih dahulu supaya pihak yang dikunjungi tidak merasa keberatan.

Pesan Rasulullah SAW Terkait Etika Bertamu dan Terima Tamu (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesan Rasulullah SAW Terkait Etika Bertamu dan Terima Tamu (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesan Rasulullah SAW Terkait Etika Bertamu dan Terima Tamu

Begitu pula dengan orang yang dikunjungi, hormatilah setiap tamu yang mendatangi rumahnya. Layani mereka dengan cara yang baik, sopan, dan santun. Bila bekal di rumah kita mencukupi, jamulah mereka dengan makanan dan minuman.

Bila memungkinkan ajak mereka untuk menginap, barang sehari, dua hari, atau tiga hari. Sebab menjamu tamu termasuk perbuatan baik, sangat dianjurkan, bahkan dikaitkan dengan? kesempurnaan iman.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Hal ini sebagaimana yang dipahami dalam hadis riwayat Al-Bukhari yang termaktub dalam kitab Adabul Mufrad sebagai berikut.

? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Artinya, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tamu dengan menjamunya sehari semalam. Jamuan hak tamu hanya berjangka tiga hari. Lebih dari itu, jamuan bersifat sedekah. Tidak boleh bagi tamu untuk menginap di tempat tuan rumah sehingga menyusahkannya.”

Hadits ini menunjukkan perlunya perhatian dan pengertian tuan rumah dan tamu. Tuan rumah mesti melayani tamu dengan baik, bahkan dianjurkan mempersilakan mereka untuk menginap.

Sementara tamu juga diminta pengertiannya. Meskipun bertamu dianjurkan, jangan sampai membuat tuan rumah menjadi keberatan dan kesulitan. Adanya saling pengertian kedua belah pihak ini diharapkan dapat menjaga dengan baik hubungan antara keduanya dan membawa berkah bagi mereka. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi PonPes, Hadits, Hikmah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 22 April 2017

Hukum Menerima THR dari Non-Muslim

Assalamu ‘alaikum wr. wb. Pak ustadz, saya adalah seorang karyawan di sebuah perusahaan swasta di Jakarta, dan tinggal beserta anak-istri di sebuah rumah yang sederhana. Kami memiliki tetangga non-muslim yang berkecukupan dan sangat baik. Setiap menjelang lebaran tetangga saya yang non-muslim itu membagi-bagikan sarung, sirup, dan sembako bahkan uang kepada kami yang muslim.

Dia selalu bilang: “Ini THR dari kami, mohon diterima dengan baik meski seadanya”. Saya sering kali ragu untuk menerimanya karena yang memberikan adalah orang non-muslim. Yang ingin saya tanyakan adalah bagaimana hukumnya menerima THR dari orang non-muslim? Mohon kiranya pak ustadz memberikan penjelasan hukumnya. Atas penjelasannya saya ucapkan terimakasih. Dedy/Jakarta          

Jawaban

Hukum Menerima THR dari Non-Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Menerima THR dari Non-Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Menerima THR dari Non-Muslim

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Setelah mencermati pertanyaan di atas, kami berkesimpulan bahwa THR yang diberikan orang non-muslim tersebut pada dasarnya masuk dalam kategori hadiah. Karena pemberian tersebut tanpa konpensasi. Maka sebelum menjawab pertanyaan tersebut kami akan menjelaskan sedikit tentang hukum memberikan hadiah.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pada dasarnya hukum memberikan hadiah adalah sunnah, karena hadiah bisa memberikan efek positif. Yaitu menumbuhkan welas-asih dan menjauhkan permusuhan. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh al-Qurthubi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ?

“Hukum hadiah itu disunnahkan, dan hadiah itu bisa mewariskan kasih sayang dan menghilangkan permusuhan. Imam Malik telah meriwayatkan dari ‘Atha` bin Abdillah al-Khurasani, ia berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda, Hendaknya kalian saling bersalaman maka kedengkian akan sirna, dan hendaknya kalian saling memberi hadiah maka kalian akan saling menyayangi satu sama lainnya dan permusuhan akan sirna”.(Al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur`an, Kairo-Dar al-Kutub al-Mishriyyah, cet ke-2, 1384 H/1964 M, juz, 13, h. 199).

Sampai disini sebenarnya tidak ada persoalan. Namun kemudian muncul persoalan sebagaimana pertanyaan di atas. Yaitu, bagaimana jika yang memberikan hadiah adalah orang non-muslim?

Imam Bukhari pakar hadits terkemuka dan hadits riwayatnya diakui paling shahih di antara riwayat-riwayat ahli hadits yang lainya, dalam kitab Shahih-nya menulis bab khusus mengenai qabul al-hadiyah min al-musyrikink (kebolehan menerima hadiah dari non muslim).

Dalam bab ini Imam Bukhari menyuguhkan beberapa hadits yang menunjukkan kebolehan menerima hadiah dari non-muslim. Di antaranya adalah:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? --? ?

“Said berkata, dari Qatadah dari Anas ra, sesungguhnya Ukaidira Dumah pernah memberikan hadiah kepada Nabi saw”. (HR. Bukhari).

Hadits lain yang juga bisa dijadikan dasar hukum kebolehan menerima hadiah dari orang non-muslim adalah hadits riwayat at-Tirmidzi yang mengisahkan bahwa Salman al-Farisi pernah memberikan hadiah kepada Rasulullah saw berupa ruthab (kurma basah). Pada saat Salman al-Farisi memberikan hadiah tersebut, ia belum masuk Islam. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Zainuddin al-‘Iraqi:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Di dalam hadits tersebut mengandung pengertian kebolehan menerima hadiah dari orang kafir. Sebab, Salman al-Farisi ketika memberikan hadiah kepada Rasulullah saw belum masuk Islam. Ia masuk Islam setelah mengentahui tiga tanda kenabian yaitu penolakan Rasulullah saw terhadap shadaqah (zakat), memakan hadiah, dan khatam an-nubuwwah. Hanya saja Salman al-Farisi ra melihat khatam an-nubuwwah setelah Rasulullah saw menerima hadiahnya”. (Zainuddin al-‘Iraqi, Tharh at-Tatsrib fi Syrah at-Taqrib, Bairut-Mu`assah at-Tarikh al-‘Arabi, tt, juz, 4, h. 40).

Penjelasan singkat ini jika ditarik ke dalam kontesk pertanyaan di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa hukum menerima THR dari orang non-muslim adalah boleh sebagaimana bolehnya menerima hadiah dari orang non-muslim.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan, semoga bermanfaat. Dan saran kami adalah hargailah pemberian orang lain meski tidak seiman, hormati keyakinan orang lain, balasalah perbuatan baik orang lain dengan kebaikan pula. Karena, tiada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula. (Mahbub Ma’afi Ramdlan)         

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Internasional Pondok Pesantren An-Nur Slawi

TKI di Korea Minta PBNU Fasilitasi Pemenuhan Hak Beribadah

Daejeon, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Lebih dari 90 persen dari total 36 ribu Tenaga Kerja Indonesia (TKI) resmi yang bekerja di Korea Selatan mengaku kesulitan menunaikan peribadatan di sela bekerja. Untuk mendapatkan kembali haknya, mereka meminta Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memfasilitasi adanya perundingan.

TKI di Korea Minta PBNU Fasilitasi Pemenuhan Hak Beribadah (Sumber Gambar : Nu Online)
TKI di Korea Minta PBNU Fasilitasi Pemenuhan Hak Beribadah (Sumber Gambar : Nu Online)

TKI di Korea Minta PBNU Fasilitasi Pemenuhan Hak Beribadah

Ini terungkap dalam diskusi keagamaan antara TKI di Korea Selatan dengan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj di Mushala An Noor, Kota Daejeon, Korea, Ahad (28/9) malam waktu setempat. Dialog ini digelar dalam rangkaian pelantikan pengurus PCINU (Pengurus Cabang Istimewa NU) Korea Selatan.

"Yang mendapatkan kemudahan beribadah, seperti salat lima waktu dan jumatan, itu paling sekitar lima sampai sepuluh persen. Itupun mudah dalam artian bebas, tapi bosnya baik hati dan mengizinkan," Budi Haryanto, TKI yang bekerja di bidang konstruksi di Provinsi Gyeonghi Do.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Budi menjelaskan, larangan salat itu disampaikan dengan alasan mengganggu aktivitas kerja. "Di sini masjid memang jarang, jadi untuk ke masjid bisa memakan waktu sampai satu jam dari tempat kerja. Kami ingin jam istirahat bisa ditambah, tapi itu sangat jarang bisa dikabulkan," tambahnya.? ?

Sekretaris PCI NU Korea Selatan Ali Fahmi Prawira Negara, mengatakan pihaknya sudah menyampaikan aspirasi tersebut ke Kedutaan Besar Indonesia di Seoul, namun diakuinya hingga saat ini belum juga dikabulkan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"KBRI sudah menyampaikan ke HRD Korea, sudah mendiskusikannya, tapi sulit dikabulkan. Alasan mereka simpel, muslim lain yang juga sekolah dan bekerja di sini tidak pernah mempermasalahkan hak shalat," ungkap Fahmi seraya menjelaskan muslim lain yang juga bekerja di Korea antara lain berasal dari Pakistan, Banglades, Uzbekistan, Kazakstan, Nigeria, dan negara-negara lain.

Atas kesulitan tersebut, Fahmi mewakili TKI di Korea, khususnya yang tergabung dalam PCINU, meminta PBNU bisa memfasilitasi adanya perundingan untuk terpenuhinya hak beribadah. "Jadi kami mohon Pak Kiai (Said Aqil Siroj) bisa menyampaikannya ke Menakertrans, atau bahkan ke Pemerintah Indonesia secara langsung," tegasnya.

Menjawab permintaan tersebut, Kiai Said memyampaikan kesanggupannya. "Ini masukan bagus bagi saya, bagi kami di PBNU. Saya akan membawanya ke Jakarta dan berusaha keras agar hak beribadah TKI di Korea ini bisa terpenuhi," pungkas Kiai Said. (Red: Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Hadits, Halaqoh, Ubudiyah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 18 April 2017

Risalah Kemanusiaan Gus Dur

KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah berpesan agar di pusaranya dipahat sebuah tulisan, “Di Sini Dimakamkan seorang Humanis”. Artinya, dia ingin dikenang sebagai pejuang kemanusiaan. Dus, gelar tokoh humanis agaknya lebih tepat disematkan kepadanya. Sebab, humanisme Gus Dur benar-benar berangkat dari nilai-nilai Islam paling dalam, yang melampaui etnis, teritorial, hingga batas kenegaraan.

Sayangnya, hingga kini masih banyak pihak yang tak memahami Gus Dur dari sisi kemanusiaannya sehingga pemikirannya sering disalahtafsirkan. Buku berjudul “Humanisme Gus Dur: Pergumulan Islam dan Kemanusiaan” karya Syaiful Arif hendak memotret sisi paling subtil dari Gus Dur, yakni kemanusiaan.

Menurut Arif, buku ini memuat setidaknya tiga hal. Pertama, produk pemikiran Gus Dur. Berisi pemikiran lslam, meliputi pribumisasi lslam, lslam sebagai etika sosial, hubungan Islam dan negara, hubungan antar-agama, dan “negara kesejahteraan” lslam. Serta pemikiran demokrasi, kebudayaan, dan ke-NU-an.

Kedua, jalinan struktural pemikiran Gus Dur. Jalinan ini kemudian membentuk sistem pemikiran tersendiri. Nah, jalinan yang berisi prinsip dan tujuan itu secara mendasar mengacu pada pembelaan Gus Dur terhadap harkat tinggi kemanusiaan, yang pada satu titik ia dasarkan pada tradisi keislaman yang mendalam. Jadi, jika dirumuskan, corak atau “jenis kelamin” pemikiran Gus Dur ialah pertemuan antara keislaman dan kemanusiaan. (hlm. 61).

Risalah Kemanusiaan Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Risalah Kemanusiaan Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Risalah Kemanusiaan Gus Dur

Dalam hal ini, Gus Dur berangkat dari tradisi maqashid as-syariah (tujuan utama syariat) yang menetapkan perlindungan terhadap hak asasi manusia. Pemuliaan kemanusiaan dalam bentuk perlindungan terhadap HAM inilah yang Gus Dur sebut sebagai nilai-nilai universal lslam. Demi penegakan nilai-nilai universal tersebut, Gus Dur mensyaratkan sikap kosmopolitan, yakni keterbukaan pandangan lslam kepada peradaban lain. Artinya, untuk menegakkan universalisme lslam, dibutuhkan keberislaman yang modern. Sebab, persoalan kemanusiaan kontemporer hanya bisa ditangani oleh sarana dan sistem sosial-politik modern.

Ketiga, tujuan utama dari semua pemikiran Gus Dur, yakni humanisme lslam. Jika ditelusuri lebih mendalam, humanisme Islam Gus Dur merujuk pada humanisme komunitarian yang mengarah pada pembentukan struktur masyarakat yang adil. Setidaknya ada tiga pilar yang membentuk struktur tersebut: 1) demokrasi (syura); 2) keadilan (‘adalah); dan 3) persamaan di depan hukum (musawah). Gus Dur menyebut ini sebagai Weltanschauung (pandangan-dunia) Islam.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Apa yang telah dilakukan Gus Dur untuk memperjuangkan humanisme komunitarian ini? Pada ranah historis, Gus Dur sejak pertengahan tahun 1970-an hingga akhir 1980-an mengupayakan keadilan sosial vis-a-vis developmentalisme Orde Baru. Gus Dur bahkan sempat menjadi pemimpin redaksi jurnal Wawasan yang memuat pemikiran pembangunan alternatif sebagai counter discourse atas pembangunanisme negara. (hlm. 68). Salah satu hasil rumusan Gus Dur adalah sebuah makalah bertajuk Development by Developing Ourselves (makalah seminar The Study Days on ASEAN Development, Malaysia, 1979) yang menetapkan garis-garis pembebasan sosial-politik dari lslam. (hlm. 28)

Selain itu, menciptakan pemberdayaan masyarakat untuk mengimbangi top down development dari negara melalui LSM nirlaba dan nonpemerintah yang disebut Gus Dur sebagai Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M). Salah satu hasil konkrit usaha Gus Dur tersebut adalah lahirnya ribuan Bank Perkreditan Rakyat hasil kerjasama antara PBNU dengan Bank Summa, bernama BPR Nusumma. Sampai di sini, tak berlebihan jika penulis buku ini menahbiskan Gus Dur sebagai “pemimpin besar masyarakat sipil Islam” di Indonesia.

Dalam wilayah politik, Gus Dur mengkritik demokrasi negara. Gus Dur dalam sebuah wawancara di koran menyebut demokrasi negeri ini sebagai "Demokrasi Seolah-olah", yakni seolah-olah demokrasi, padahal tidak demokratis. Gus Dur juga menyebutnya sebagai “demokrasi institusional” yang terbatas pada instutusi negara. Negara melarang kegiatan demokrasi berbasis sipil dengan alasan telah ada lembaga-lembaga demokrasi, semacam DPR, MPR, dan pemerintah.

Bagi Gus Dur, demokrasi harus menjadi kualitas kehidupan politik. Pada tahun 1992, Gus Dur bahkan telah menggagas lahirnya Mahkamah Konstitusi yang menjadi jembatan antara masyarakat dengan negara. Tugasnya antara lain melakukan judicial review atas UU yang menindas rakyat. Pasalnya, negara seringkali menggunakan tafsir tunggal atas konstitusi. Hebatnya, ide brilian ini lahir di saat banyak kalangan belum memikirkannya sama sekali.

Dalam hal persamaan di hadapan hukum (musawah), ketika menjabat sebagai presiden, Gus Dur lebih banyak tergerak dalam proyek membela minoritas. Sebut saja misalnya, memulihkan hak politik anak cucu PKI yang diberangus rezim Orba. Selain itu, Gus Dur juga memberikan suaka budaya kepada minoritas Tionghoa yang selama ini tidak diakui negara. Dibukanya kran kebebasan melaksanakan perayaan Imlek (tahun baru China) tak ayal membuat warga keturunan Tiongkok menyematkan gelar Bapak Tionghoa kepada Gus Dur.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pada titik ini, Arif menolak gelar Bapak Pluralisme yang disematkan kepada Gus Dur oleh Presiden Yudhoyono. Pasalnya, pluralisme hanya merupakan salah satu “program” di bawah “bidang” persamaan hukum (al-musawah). Padahal selain “bidang persamaan hukum”, Gus Dur juga telah berjuang di “bidang” demokrasi politik dan keadilan sosial. Sementara itu, tiga “bidang perjuangan” ini berakar pada perjuangan kemanusiaan berbasis nilai-nilai lslam. Oleh karenanya, Gus Dur lebib tepat digelari “Bapak Kemanusiaan”, sebab gelar ini lebih luas dan mampu mewakili semua pemikiran dan perjuangan beliau.

Pertanyaannya kemudian, apa makna humanisme Islam menurut Gus Dur? Yakni nilai-nilai kemanusiaan yang berpijak dari nilai Islam. Setidaknya ada dua hal. Pertama, kemanusiaan yang ditetapkan oleh Allah (human dignity). Cara tuhan memuliakan manusia: 1) menjadikannya dalam bentuk yang paling sempurna, tidak terbatas fisik, namun juga psikis dan rohani; 2) mengangkat manusia sebagai wakil-Nya di muka bumi untuk mewujudkan kesejahteraan bagi sesama.

Perlindungan atas lima hak dasar manusia (ushul al-khamsah): 1) hak hidup (hifdz al-nafs); 2) hak beragama (hifdz al-din); 3) hak berpikir (hifdz al-aql); 4) hak kepemilikan (hifdz al-mal); dan 5) hak berkeluarga (hifdzu al-nasl). (hlm. 65). Dari sinilah dibutuhkan pendirian “negara kesejahteraan” lslam, bukan negara lslam. Jika yang terakhir merujuk pada pendirian negara berdasarkan formalisme syariat lslam, maka yang pertama merujuk pada negara yang bertujuan menegakkan tujuan utama syariat, yang bermuara pada kesejahteraan rakyat. “Negara kesejahteraan” lslam ini bisa berbentuk negara-bangsa modern, yang diterangi oleh nilai-nilai etis lslam. Pada titik ini, dibutuhkanlah struktur masyarakat yang demokratis, adil, yang menganut equality before the law.

Karya kedua Arif tentang Gus Dur ini (pada tahun 2009 dia menelorkan buku Gus Dur dan llmu Sosial Transformatif, Sebuah Biografi lntelektual) didedikasikan untuk mengabdi kepada Gus Dur, guru sejatinya yang ia tahbiskan sebagai inspirator utama. Semula, buku ini merupakan elaborasi dari makalah-makalah untuk bahan ajar di Kelas Pemikiran Gus Dur yang dihelat di The WAHID Institute. Ke depan, kata Arif, buku tersebut akan dijadikan sebagai referensi utama mata kuliah Pemikiran Gus Dur di Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta yang membuka program pascasarjana konsentrasi Islam Nusantara.

 

Judul       : Humanisme Gus Dur, Pergumulan Islam dan Kemanusiaan

Penulis    : Syaiful Arif

Penerbit   : Ar-Ruzz Media, Yogyakarta

Tahun      : Cetakan I, Oktober 2013

Tebal       : 342 hlm

Peresensi :  A Musthofa Asrori, Peneliti Ciganjur Centre Jakarta

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Budaya, Warta, RMI NU,Attijani Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 16 April 2017

Haji untuk Persatuan Umat Islam

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Dengan berkumpulnya seluruh umat Islam dari berbagai negara di dunia, haji memiliki potensi besar untuk mengetahui kondisi dan keadaan saudara muslim yang berada di negara lain.

Sayangnya, cita-cita tersebut belum tercapai, masing-masing negara muslim sibuk dengan urusannya sendiri tanpa peduli dengan urusan orang lain.

Haji untuk Persatuan Umat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Haji untuk Persatuan Umat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Haji untuk Persatuan Umat Islam

“Negara muslim kaya menikmati kekayaannya, membiarkan Palestina tertindas oleh Zionis Israel,” kata Ketua DPR RI Marzuki Ali ketika membuka Konferensi Internasional Haji dengan tema “Peran Haji dalam Memperkuat Kerjasama dan Persatuan Umat Islam” kerjasama PBNU dan Islamic Cultural Relations Organization (ICRO) Iran di Jakarta, 2-3 Oktober.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Marzuki menjelaskan, dalam berbagai pertemuan parlemen anggota OKI atau Asia, keprihatinan terhadap nasib Palestina selalu muncul. Sayangnya dukungan penuh dari negara di sekitar Pelestina belum terwujud.

“Bangsa yang seharusnya berada di lingkaran terdekat Palestina sulit menyatukan diri,” katanya. Indonesia, meskipun lokasinya jauh, secara konsisten dan kongkrit telah membela Palestina.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Haji, lanjutnya, mampu menyatukan seluruh umat manusia dibawah kebesaran tuhan, diluar upaya penyatuan dalam bentuk suku, bangsa, bahasa, negara dan lainnya yang berserakan di seluruh dunia. Sayangnya, potensi persatuan dunia ini belum bisa dimaksimalkan.

Dijelaskannya, sebagai negara muslim terbesar di dunia, Indonesia termasuk yang paling dominan dalam pengiriman jamaah haji karena memiliki proporsi sekitar 20 persen dari total jamaah haji. Pada masa lalu, jamaah haji Indonesia bahkan bisa mencapai 40 persen. Tak heran, bahasa melayu saat itu menjadi bahasa kedua setelah bahasa Arab karena banyaknya jamaaha haji dari nusantara.

Ia berharap agar makna haji baik bagi individu maupun sosial mampu diinternalisasi dalam diri jamaah haji. Jangan sampai haji sekedar wisata ke Makkah saja dan kehilangan makna ketika pulang kembali ke negaranya masing-masing.

Sementara itu Hujjatul Islam Qazi Asgar, wakil pemimpin tertinggi (Wali Fakih) dalam urussan haji Iran, berharap agar momentum haji dapat menjadi ajang pertemuan para ulama-ulama sedunia untuk membahas berbagai permasalahan yang melanda ummat.

Ia mencontohkan, ulama atau para amirul hajj dari seluruh dunia bisa membicarakan bagaimana membantu rakyat Pakistan yang saat ini baru saja terkena bencana banjir, atau bagaimana mensikapi pembakaran Al Qur’an yang terjadi di Amerika Serikat.

Terkait dengan hubungan antara Islam Indonesia dan Iran, ia menyatakan, muslim Indonesia menduduki tempat khusus bagi Iran karena terdapat kedekatan budaya diantara keduanya. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Berita, Ulama, Kiai Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 13 April 2017

Guru Ngaji Tak Pernah Minta Penghargaan

Jember, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Guru ngaji mempunyai peran penting dalam mencerdaskan spritualitas kehidupan bangsa. Karena itu, wajar jika Islam menempatkan orang yang mengajar dan belajar Al-Quran sebagai orang terbaik di antara manusia yang lain. Namun sayang, apresiasi terhadap guru ngaji masih sangat rendah. Tidak sebanding dengan manfaat dan kedudukan spritualitas dalam ajaran Islam.

Hal tersebut diungkapkan Wakil Sekretaris PCNU Jember, Ustadz Moch. Eksan saat bertaushiyah pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di masjid Miftahul Ulum, Desa Tamansari, Kecamatan Wuluhan, Jember, Jawa Timur, Ahad (25/12).

Menurut Ustadz? Eksan, guru ngaji atau kiai kampung, lebih-lebih yang bertebaran di? desa-desa, tidak menuntut honor atau penghargaan apa pun. Sebab, mereka melakukannya dengan ikhlas demi membebaskan masyarakat dari kebodohan, khususnya terhadap baca tulis Al-Quran.?

"Pemberian insentif guru ngaji di berbagai daerah harus dimaknai? sebagai support moral bagi ikhtiar untuk memberantas buta huruf Al-Quran, peningkatan pemahaman dan pelaksanaan al-Quran dalam kehidupan sehari-hari,” tukasnya.

Guru Ngaji Tak Pernah Minta Penghargaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Guru Ngaji Tak Pernah Minta Penghargaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Guru Ngaji Tak Pernah Minta Penghargaan

Ia menambahkan, membumikan Al-Quran merupakan tugas dan kewajiban semua pihak tanpa terkecuali, baik individu maupun pemerintah. Sebab, Al-Quran adalah telaga akhlaq dan ilmu bagi kehidupan manusia. Akhlaq dan ilmu ini wajib berjalan beriringan dalam diri manusia. Ilmu tanpa akhlaq, berbahaya. Akhlaq tanpa ilmu, tidak sempurna.

“Nabi Muhammad akhlaqnya terpuji, otaknya juga cerdas. Kenapa? Saat? Siti Aisyah (istri Nabi Muhammad SAW)? ditanya tentang akhlaq Nabi, beliau menjawab, akhlaquhul qur’an. Akhlaqnya Nabi Muhammad adalah al-Quran,” urai Ustdz Eksan.

Terkait dengan pembumian Al-Quran, politisi Partai NasDem itu menyatakan gembira atas kebijakan beberapa perguruan tinggi ternama di tanah air, seperti Universitas Airlangga, yang menerima calon mahasiswa penghafal Al-Quran tanpa tes dan diberikan beasiswa. Hal tersebut, katanya, tentu merupakan penghargaan sekaligus pengakuan bahwa kompetensi qur’ani berbanding lurus dengan kompetensi ilmu sekaligus kompetensi amali yang bersangkutan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Hafidzul qur’an bukan orang sembarangan. Dia mempunyai daya ingat yang pasti luar biasa. Sehingga kecerdasan intelektualnya juga tinggi,” jelasnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Peringatan Maulid Nabi yang dimeriahkan oleh penampilan? seni hadrah al-banjari tersebut, dihadiri oleh ratusan pengunjung yang memadati masjid dan halamannya.? (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Doa, Aswaja, Nasional Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 12 April 2017

Orang-Orang Tanpa Hisab di Hari Qiyamah

Pada prinsipnya setiap orang diperintahkan untuk berbuat baik. Karena setiap perbuatan akan diminta pertanggungan jawab di akhirat kelak. Sebuah kebaikan yang rutin atau wirid dalam arti yang luas, juga tidak akan lepas dari pemeriksaan (hisab). Apalagi perbuatan buruk atau perbuatan tidak baik, tentu hisab berlaku. Pemeriksaan juga berlaku untuk pendapatan dan belanja.

Dengan adanya pemeriksaan (hisab) di akhirat, masih juga banyak orang berani menerjang perbuatan yang dilarang. Apalagi kalau hisab ditiadakan? Banyak orang bisa jadi akan berbuat semaunya. Hanya kesepakatan, pengawasan, sanksi hukum positif, atau tingkat ketinggian peradaban yang bisa mencegah mereka. ini pun bersifat mungkin.

Orang-Orang Tanpa Hisab di Hari Qiyamah (Sumber Gambar : Nu Online)
Orang-Orang Tanpa Hisab di Hari Qiyamah (Sumber Gambar : Nu Online)

Orang-Orang Tanpa Hisab di Hari Qiyamah

Habib Abdullah bin Husein bin Thohir Ba’alawi dalam Is’adur Rofiq-nya menyebutkan sejumlah orang yang bernasib baik tanpa hisab di akhirat,

?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? "? ? ? ?"? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pengumuman, tersebut di dalam banyak hadits bahwa orang-orang berikut ini insya Allah tidak akan dihisab di hari Qiyamat. Mereka adalah orang yang diuji dalam bentuk kehilangan penglihatan atau ujian lainnya lalu bersabar hingga wafat, orang yang wafat di tengah jalan baik menuju Mekkah maupun sepulangnya, setiap orang penyayang lagi penyabar, perempuan yang ta’at kepada suaminya, orang yang berbakti kepada orang tuanya, orang yang berjalan untuk membantu orang lain yang sedang memiliki hajat, orang yang mendidik anak kecil mengucap “La ilaha Illallah”, orang yang wafat siang atau malam Jum’at, orang yang kena musibah pada fisiknya atau hartanya lalu bersabar, orang yang membaca surat Al-Qodar sebanyak 3 kali usai berwudhu, dan orang yang membuat sumur di tanah lapang secara ikhlas untuk kepentingan umum.

Untuk itu, umat Islam selain keimanan dan kepatuhan pada rukun Islam perlu mendidik diri sendiri untuk bisa melakukan perbuatan-perbuatan baik seperti di atas. Kalau pun tetap dihisab karena kekurangan syarat di dalam perbuatan baik itu, maka setidaknya kita tetap berbuat baik. Kalau bernasib baik, wafat di siang atau malam Jumat. Ini yang tidak bisa diusahakan. Ini bergantung semata pada nasib. Wallahu A’lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Budaya, Ahlussunnah, Berita Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 10 April 2017

PCNU Minta IPNU-IPPNU Kota Pekalongan Buka Komisariat di Sekolah Umum

Pekalongan, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan meminta kepada IPNU dan IPPNU untuk dapat memasuki sekolah-sekolah umum. Jika selama ini telah berhasil membentuk komisariat di madrasah atau sekolah di bawah lingkungan LP Maarif, maka saatnya sekolah sekolah umumnya menjadi program skala prioritas.

Hal tersebut ditegaskan Sekretaris PCNU Kota Pekalongan H Muhtarom saat memberikan sambutan pada pembukaan konferensi cabang IPNU dan IPPNU di Gedung Aswaja, Kamis (19/10).

PCNU Minta IPNU-IPPNU Kota Pekalongan Buka Komisariat di Sekolah Umum (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Minta IPNU-IPPNU Kota Pekalongan Buka Komisariat di Sekolah Umum (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Minta IPNU-IPPNU Kota Pekalongan Buka Komisariat di Sekolah Umum

Program prioritas IPNU dan IPPNU masuk ke sekolah sekolah umum menjadi sangat urgen mengingat perkembangan teknologi yang cukup pesat dan anak-anak sekolah harus diimbangi dengan pembentukan akhlakul karimah dan itu menjadi tugas kita.

"Anak-anak sekarang sangat beda ketika zaman saya masih muda, saat ini anak anak tidak bisa jauh dari yang namanya gadget, HP android, dan sejenisnya, padahal saya dulu mainannya cukup gelang karet, pecahan genteng, dan gasingan," ujarnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurut Tarom, tantangan IPNU dan IPPNU sekarang dan ke depan semakin berat dan berliku. Oleh karena itu, ia mengajak segenap kader IPNU dan IPPNU untuk tetap berpegang teguh pada ajaran Ahlus Sunnah wal Jamaah agar bisa selamat dunia dan akhirat.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sementara itu Ketua IPNU Kota Pekalongan Mohammad Saifullah berharap konfercab kali ini diharapkan dapat menghasilkan program-program yang dapat meningkatkan kualitas anggota dan pengurus yang terpilih nanti dapat menjalankan program dan yang terpenting ialah meningkatkan jumlah ranting dan komisariat dari yang sudah ada.

Menurut Saifullah, saat dirinya menjadi Ketua IPNU jumlah ranting IPNU yang semula ada 20 hingga akhir periode berhasil ditingkatkan menjadi 30 ranting dari 47 ranting yang ada. Kemudian jumlah komisariat yang semula ada 5 saat ini sudah berdiri 7 komisariat.

Ia berharap, pengurus IPNU dan IPPNU ke depan harus lebih giat dan semangat, apalagi saat ini IPNU IPPNU ditunjang dengan pendanaan yang cukup dari usaha penyediaan seragam batik IPNU-IPPNU dan KSPPS Minna Lana.

Pembukaan Konferensi Cabang IPNU dan IPPNU Kota Pekalongan ke-25 berlangsung cukup semarak. Acara yang dikemas dalam format gebyar sholawat juga diisi dengan tari-tarian sufi berlangsung sangat dinamis dan memukau ratusan pengunjung.

Tampak hadir dalam pembukaan, selain jajaran pengurus cabang NU, juga para ketua IPNU dan IPPNU periode sebelumnya, Ketua IPNU dan IPPNU Jawa Tengah juga tampak dalam pembukaan serta ratusan tamu undangan lainnya. (Abdul Muiz/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Daerah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 07 April 2017

Diguyur Hujan, Warga Tetap Antusias Hadiri “Ya Qowiyyu”

Klaten, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Meskipun diguyur hujan, puluhan ribu warga tetap antusias mengikuti acara perayaan “Ya qowiyyu” di Jatinom Kabupaten Klaten Jawa Tengah. Acara tersebut di gelar di Kompleks Masjid Ageng Gribig, Jum’at (20/12).

Tradisi Saparan Ya qowiyyu dimulai usai sholat Jumat, dengan mengarak dua gunungan apem lanang dan wadon yang sebelumnya sudah disemayamkan semalam di kompleks Masjid Besar Jatinom menuju oro-oro di kompleks pemakaman Ki Ageng Gribig.

Diguyur Hujan, Warga Tetap Antusias Hadiri “Ya Qowiyyu” (Sumber Gambar : Nu Online)
Diguyur Hujan, Warga Tetap Antusias Hadiri “Ya Qowiyyu” (Sumber Gambar : Nu Online)

Diguyur Hujan, Warga Tetap Antusias Hadiri “Ya Qowiyyu”

Sementara itu, meski hujan, di oro-oro sudah ditunggu puluhan ribu warga yang siap memperebutkan apem dalam Tradisi Yaqowiyu. Usai diberi doa oleh keturunan Ki Ageng Gribig, dua gunungan apem langsung ludes diperebutkan warga masyarakat yang sudah tidak sabar untuk mendapatkan apem.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Mereka percaya dengan memakan kue apem dalam tradisi ini bisa mendatangkan berkah dalam kehidupannya.

“Meski warga menganggap kue apem Yaa Qowiyyu bisa mendatangkan keberuntungan, sebenarnya inti dari tradisi sebaran apem adalah siapa yang mau berusaha, dia akan mendapatkan sesuatu hasil atau siapa yang mau berebut dia akan mendapatkan kue apem,” ujar salah satu Panitia Yaqowiyu Daryanto.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurut sejarah asal muasal kue apem itu dari Mekah yang dibawa Ki Ageng Gribig untuk oleh-oleh anak cucunya. Karena tidak cukup, maka Nyi Ageng Gribig membuat apem lagi sekaligus untuk dibagikan kepada penduduk Jatinom. Sejak itu orang daerah ini ikutan membuat apem untuk selamatan.

Adanya Upacara ini dinamakan Yaqowiyyu diambil dari doa Kyai Ageng Gribig sebagai penutup pengajian yang berbunyi : Ya qowiyu Yaa Aziz qowina wal muslimin, Ya qowiyyu warsuqna wal muslimin, yang artinya : Ya Tuhan berikanlah kekuatan kepada kita segenap kaum muslimin. (Rosyidi-Ajie/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Anti Hoax, Kyai, Habib Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 05 April 2017

Tasawuf Dinilai Lebih Relevan di Zaman Sekarang

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Tasawuf lebih relevan di zaman sekarang dibandingkan waktu-waktu yang lampau, demikian antara lain disampaikan Haidar Bagir dalam diskusi yang diselenggarakan menyusul kuliah umum dan peluncuran buku dengan tema ‘Sufism in the Modern World’, Jumat (26/2), di Gedung PBNU, Jakarta Pusat.

Pimpinan Penerbit Mizan itu mendasarkan apa yang disampaikannya pada kenyataan bahwa manusia di zaman sekarang dihadapkan berbagai persoalan yang bisa diatasi secara tepat dengan pendekatan tasawuf.

Tasawuf Dinilai Lebih Relevan di Zaman Sekarang (Sumber Gambar : Nu Online)
Tasawuf Dinilai Lebih Relevan di Zaman Sekarang (Sumber Gambar : Nu Online)

Tasawuf Dinilai Lebih Relevan di Zaman Sekarang

Dalam kesempatan yang sama Haidar juga menyampaikan bahwa dalam waktu mendatang, sangat mungkin dilakukan kerja sama penerbitan buku-buku karangan intelektual Nahdlatul Ulama dan lembaga-lembaga yang bernaung di bawahnya. Tujuannya agar pemikiran-pemikiran intelektual NU dapat dibaca kalangan luas, tidak hanya dalam bentuk disertasi-disertasi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Adapun buku yang diluncurkan adalah buku berjudul ‘Pergulatan Islam di Dunia Kontemporer’. Buku yang ditulis oleh Carl W Ernst setelah Peristiwa 11 September itu merupakan pengantar ringkas kepada Islam dan peradaban muslim bagi publik luas, berbasis pada semangat ilmiah, mengangkat isu-isu kunci tentang doktrin dan peradaban Islam sejak kelahiran hingga perkembangan mutahirnya.

Dalam acara yang terselenggara atas kerja sama Penerbit Mizan Lembaga Ta’lif wan Nasr (LTN) dan Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) ini juga dilakukan penyerahan buku secara simbolik dari pihak Mizan kepada Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) dan Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Indonesia. (Kendi Setiawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ubudiyah, Pertandingan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 04 April 2017

Ayolah Sahabatku

Oleh Eko Petruk?



Untuk Sahabat/Sahabati Pergerakan pada ulang tahun PMII ke-57

Ayolah Sahabatku!

Ayolah Sahabatku (Sumber Gambar : Nu Online)
Ayolah Sahabatku (Sumber Gambar : Nu Online)

Ayolah Sahabatku

Apa kamu sudah kenyang menikmati hidangan ulang tahun?

Apa kamu sudah senang bertukar hadiah?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Apa kamu sudah selesai memanjatkan doa?

Ayolah Sahabatku!

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Segera kita pamitan

Kita harus sadar bahwa waktu sudah memasuki senja

dan sebentar lagi malam

Aku tidak mau jika nanti kita gelagapan, lupa jalan pulang

dan aku tidak mau mendengar keluhmu kalau dalam perjalanan kakimu menginjak tai

atau terluka kena krikil, duri, beling, dan paku

Aku tidak mengada-ada

Kau tengoklah sendiri dengan matamu!

Waktu semakin senja!

Ayolah Sahabatku

Kita pulang sekarang!

Meskipun kamu yakin bahwa yang baik selalu berbiak

Kamu juga harus meyakini bahwa yang jahat pun lebih cepat berlipat

Aku tidak mau kita mati konyol malam ini, kena tenun Calon Arang dan para penerusnya

Karena besok pagi kita harus bersama-sama Bapak dan Ibu menjaga hasil bumi dari Hamaspaton yang tak henti membuat banyak petani merugi

Yogyakarta, 17 April 2017





Eko Petruk atau Eko Nurwahyudin lahir di Kebumen, 11 Januari 1996. Kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Rayon Ashram Bangsa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Hikmah, Humor Islam Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 02 April 2017

Hadapi MEA, PMII Ashram Bangsa Cetak Pemimpin Perempuan

Sleman, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Komunitas Perempuan Syariah dan Hukum (Kapash) Rayon Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Ashram Bangsa Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta kembali mengadakan Pelatihan Kepemimpinan Perempuan.

Hadapi MEA, PMII Ashram Bangsa Cetak Pemimpin Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadapi MEA, PMII Ashram Bangsa Cetak Pemimpin Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadapi MEA, PMII Ashram Bangsa Cetak Pemimpin Perempuan

Pelatihan tersebut mengangkat tema "Meningkatkan Peran Kepemimpinan Perempuan dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)". Bekerja sama dengan Lingkar Nusantara dan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), acara tersebut diikuti oleh puluhan kader perempuan Kapash dan beberapa delegasi dari sejumlah Rayon PMII di UIN Sunan Kalijaga. Acara berlangsung selama dua hari dan bertempat di Wisma Kaliurang KM. 23, Sleman, DI Yogyakarta.

"Memang sudah banyak perempuan yang menjadi pemimpin. Tapi menurut kami, perempuan yang menjadi pemimpin kurang banyak dibanding laki-laki. Seperti halnya dalam anggota DPR, perempuan hanya dikasih kursi 30 persen, tetapi itu tidak digunakan dengan maksimal. Tetap saja hanya laki-laki yang banyak,"  terang Ketua Komunitas Perempuan Syariah dan Hukum, Hanim Yusnia dalam sambutannya, Sabtu (19/12).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ke depan, kata Hanim, perempuan Kapash setidaknya berani berbicara di forum-forum. Ini sebagai langkah awal untuk selanjutnya perempuan benar-benar siap menjadi pemimpin. Jadi, lanjutnya, tidak laki-laki saja yang aktif di forum, perempuan juga.

Lebih jauh, Wiwin memaparkan bahwa peran perempuan dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sangat menenentukan dalam hal kemandirian ekonomi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Di dalam konsep Masyarakat Ekonomi ASEAN, ada konsep pemberdayaan ekonomi perempuan untuk meningkatkan lima perempuan di bidang ekonomi, karena dengan begitu maka tingkat kemiskinan akan berkurang, kemudian kemandirian perempuan akan tercipta," papar Wiwin yang pernah menjabat Ketua Rayon PMII Ashram Bangsa masa khidmah 1996-1997.

Oleh karenanya, jelas Wiwin, perempuan harus mempersiapkan dan mengasah segala potensi yang dimiliki. Sehingga keterlibatan perempuan di MEA mampu membawa perubahan ekonomi bangsa yang lebih baik.

Selain Wiwin, hadir juga sebagai pemateri Abdur Rohim dan Gina Lestari dari Rifka Anisa Yogyakrta, dan Listya Endang Artiani, Asisten Ahli Bidang Ekonomi Kementerian Luar Negeri (Kemenlu).

Acara yang juga melibatkan kader laki-laki Rayon PMII Ashram Bangsa dalam kepesertaannya itu ditutup dengan game-game menarik untuk menambah keakraban satu sama lain. (Acep Muhammad Maulana/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Sunnah, Berita, Hikmah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 01 April 2017

Peserta Perempuan Tak Mau Ketinggalan

Program pengenalan dan pemanfaatan perangkat lunak (software) kitab kuning yang dipelopori Nahdlatul Ulama (NU) Japan dan Situs Pesantren Virtual (http://www.pesantrenvirtual.com) bekerja sama dengan Pimpinan Wilayah (PW) Rabithah Maahid al-Islamiyah Jawa Timur (RMI) Jawa Timur, tampaknya semakin diminati kalangan pondok pesantren (ponpes) di Jawa Timur.

Ahad (8/4) lalu, kegiatan bertajuk "Halaqah Pemanfaatan Software Kitab Kuning dan Pengembangan Perpustakaan Digital di Pondok Pesantren" tersebut digelar di Ponpes Nurul Ikhlas, Sepande, Candi, Sidoarjo. Halaqah di pondok pesantren asuhan KH Mukhlas Kurdi yang juga Ketua PC RMI Sidoarjo ini merupakan halaqah ketiga yang digelar oleh PW RMI Jatim. Sebelumnya, dua kali halaqah telah digelar di Probolinggo (16/12/06) dan Tulungagung (17/3/07).

Majalah IPNU-IPPNU Kudus Siap Sapa Kembali Pembaca

Kudus, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, telah membentuk tim redaksi baru untuk Majalah Pilar pada semester pertama kepengurusan periode ini.

IPPNU-IPNU pimpinan Joni Prabowo dan Futuhal Hidayah menyusun tim baru di Rumah Makan Gentong Sehat Kudus, Rabu (21/1). Tim redaksi yang terdiri dari alumni lokakarya jurnalistik PC IPNU-IPPNU Kudus tahun 2013 ini akan melanjutkan penerbitan majalah yang sudah berlangsung pada kepengurusan sebelumnya. Dengan demikian, urusan keredaksian kali ini didominasi oleh para mahasiswa dan pelajar dengan pemimpin redaksi Abdul Muis.

Majalah IPNU-IPPNU Kudus Siap Sapa Kembali Pembaca (Sumber Gambar : Nu Online)
Majalah IPNU-IPPNU Kudus Siap Sapa Kembali Pembaca (Sumber Gambar : Nu Online)

Majalah IPNU-IPPNU Kudus Siap Sapa Kembali Pembaca

Tema Majalah Pilar yang terbit pada empat kali dalam satu periode mengacu pada lingkup pelajar dan santri. Edisi kelima kelak tidak hanya berisi seputar organisasi NU dan persoalan sosial, tapi juga mengangkat wacana fiqh seputar kehidupan para pelajar.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Beberapa rubrik yang telah disiapkan antara lain Salam Redaksi, Surat Pembaca, Joglo, Surat Pembaca, Sajian Khusus, Opini, Kolom, Fiqh, dan beberapa rubrik yang menampung kreaktifitas para pelajar dan santri, seperti Momen, Jalan-jalan, Resensi Film, Resensi Buku, Syair, Cerpen, Tips – Tips, Kartun, dan lain-lain.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ketua IPNU Kudus Joni Prabowo berharap, pada semester pertama ini tim redaksi Majalah Pilar yang baru ini mampu tamplil lebih baik dalam isi atau pendistribusian kepada para kader NU se Kabupaten Kudus, bahkan di luar Kabupaten Kudus.

“Sehingga Majalah Pilar ini menjadi majalah yang mampu bersaing dengan majalah-majalah yang sekarang ini beredar di kalangan pelajar yang memberikan contoh yang tidak baik bagi kader-kader NU,” tuturnya. (Dedi Hermanto/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ubudiyah, Makam Pondok Pesantren An-Nur Slawi