Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Maret 2018

Hukum Menyembelih Kurban di Malam Hari

Hiruk pikuk suasana Idul Adha biasanya terasa kental dirasakan oleh pengurus masjid atau lembaga penerima dan penyalur hewan kurban. Karena biasanya hewan yang disembelih sangat banyak sehingga mereka harus kerja ekstra hingga larut malam. Apalagi waktu pelaksanaan penyembelihan kurban yang terbatas hanya tanggal 10 Dzulhijjah dan hari tasyriq (11,12,13 Dzulhijjah).

Lalu sahkah kurban yang disembelih pada malam hari? Mengingat, ada sebuah hadits riwayat al-al-Baihaqi yang melarang untuk menyembelih di malam hari dari Hasan al-Bashri.

Hukum Menyembelih Kurban di Malam Hari (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Menyembelih Kurban di Malam Hari (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Menyembelih Kurban di Malam Hari

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Artinya “Rasulullah Saw. melarang untuk memotong malam hari, memanen malam hari dan menyembelih malam hari. Hal itu terjadi karena payahnya keadaan manusia sehingga Nabi melarangnya kemudian memberikan keringanan.”

Menurut Imam an-Nawawi dalam kitab al-Majmu bahwa hadits di atas tidak berimbas pada ketidakabsahan kurban. Menurut Imam an-Nawawi penyembelihan hewan kurban pada malam hari tetap sah, hanya saja hukumnya makruh.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Para pengikut Imam as-Syafi’i bersepakat bahwa sah/boleh menyembelih pada masa seperti saat ini baik siang hari maupun malam hari. Tetapi menurut kami )madhab syafii) menyembelih di malam hari hukumnya makruh jika hewan yang disembelih adalah bukan hewan kurban. Namun jika yang disembelih adalah hewan kurban maka hukumnya sangat makruh.”

Pendapat Syafiiyah ini juga didukung oleh beberapa pendapat ulama lain, seperti Abu Hanifah, Ishaq, Abu Tsaur dan Jumhur Ulama. Berbeda halnya dengan Imam Malik yang tidak memperbolehkan (tidak sah) untuk menyembelih hewan kurban di malam hari.

Penyebab dimakruhkannya menyembelih di malam hari menurut syafiiyah, karena bisa jadi terjadi kesalahan yang dilakukan penyembelih/jagal ketika menyembelih kurban.

Namun syafiiyah mengecualikan kemakruhan menyembelih pada malam hari jika ada hajat.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

“Ulama’ Syafiiyah mengecualikan kemakruhan menyembelih pada malam hari apabila terdapat hajat seperti terlampau sibuk di siang hari sehingga tidak sempat menyembelih, atau ada kemaslahatan jika disembelih malam hari. Seperti mudah hadirnya orang-orang fakir pada malam hari. (al-Mausuah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, J. 2, h. 1551). Wallahu A’lam. (M Alvin Nur Choironi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Sejarah, Nasional Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 26 Februari 2018

Menag Berharap Metode Al-Azhar Bisa Berkembang di Indonesia

Malang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang menggelar sidang senat terbuka dalam rangka penganugerahan doktor Honoris Causa (HC) kepada Grand Syekh Al-Azhar Prof Dr Ahmad Mohammad Ahmad al-Tayyeb, Rabu (24/2). Gelar kehormatan ini diberikan UIN sebagai apresiasi atas jasa Grand Syekh dalam pengembangan pendidikan Islam, khususnya di Al-Azhar.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin berharap metode pendidikan dakwah di Universitas Al-Azhar yang moderat dan toleran bisa dikembangkan pada lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia. Harapan itu disuarakan Menag saat memberikan sambutan di hadapan 500 civitas akademika UIN Maliki Malang dan tamu undangan pada acara penganugerahan doktor kehormatan kepada Syekh Ahmad ath-Tayyeb di UIN Malang, Rabu (24/02) sebagaimana dikutip dari laman kemenag.go.id.

Menag Berharap Metode Al-Azhar Bisa Berkembang di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag Berharap Metode Al-Azhar Bisa Berkembang di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag Berharap Metode Al-Azhar Bisa Berkembang di Indonesia

Menag menilai, Grand Syekh Al-Azhar yang juga Ketua Majelis Hukama al-Muslimin adalah sosok ulama par-excellence dan intelektual Muslim dunia penebar kedamaian. Sikap demikian itu ditunjukkan selama masa transisi politik di Mesir, di mana Syekh Ahmad ath-Tayyeb mengedepankan ishlah dan berusaha memediasi pihak-pihak yang berkonflik agar bersatu kembali demi kejayaan Mesir dan Islam. Hal ini dikatakan Menag, sesuai pernyataan Grand Syeikh pada saat terjadi konflik di Mesir. Ia mengatakan, “Perbedaan merupakan sebuah keniscayaan dan saya himbau agar anda semua membuka pintu untuk perdamaian demi persatuan bangsa Mesir!”

“Sosok Syekh Ahmad ath-Thayyib boleh jadi tidak membutuhkan penganugerahan Dr HC, karena reputasinya sudah diakui dunia internasional. Kita justru yang berkepentingan menganugerahkan gelar kehormatan,” tambahnya. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selain itu, metode pendidikan dakwah Al-Azhar yang moderat dan toleran juga relevan dengan konteks Indonesia sebagai negara yang majemuk dan plural. Apalagi. Al-Azhar merupakan ikon institusi keislaman dunia dan namanya harum di kalangan Muslim Indonesia. 

“Studi di Al-Azhar asy-Syarif ibarat ‘menimba air’ dari sumber aslinya,” papar Menag.

“Al-Azhar secara konsisten mengembangkan faham sunni dan mengamalkannya dalam tindakan keberagamaan. Syekh Ahmad al-Tayyeb sebagai ulama moderat dan selalu menyerukan pentingnya ukhuwwah dan perdamaian,” tambahnya.

Menag berharap, kehadiran Grand Syekh Al-Azhar ke Indonesia selain memperkuat hubungan bilateral antara dua negara, juga menjadi simbol kedekatan masyarakat Muslim Mesir dan Indonesia, serta bisa memperkuat kajian Islam di Indonesia. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dikatakan Menag,  awal kemunculan Perguruan Tinggi Islam di Indonesia pada tahun 1960-an juga mengacu pada model kajian Islam Al-Azhar. Saat sejumlah IAIN bertransformasi menjadi UIN (Universitas Islam Negeri), gagasan integrasi ilmu yang dikembangkan sedikit banyak juga diinspirasi oleh modernisasi pendidikan tinggi di Universitas Al-Azhar. 

Selain itu, hubungan Mesir dan Indonesia juga memiliki sejarah yang panjang. Para ulama dari kedua negara pernah terjalin jaringan intelektual yang intensif dalam hubungan guru-murid sejak abad ke-19. Bahkan, Mesir adalah negara pertama yang mengakui kedaulatan Indonesia pada tahun 1945, di saat negara-negara Eropa mengingkari kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia. 

Surat Keputusan Rektor tentang Penganugerahan Doktor Honoris Causa Bidang Pendidikan Islam kepada Grand Syeikh Prof Dr Ahmad Mohammad Ahmad al-Tayyeb dibacakan Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Maliki Malang Muhammad Zainuddin. Sementara itu, Rektor UIN  Malang Mudjia Raharja dalam sambutannya menyampaikan bahwa Grand Syeikh Al-Azhar merupakan sosok yang menginspirasi dalam tugas mengembangkan dan merawat cendekiawan muslim. Selain itu, Syekh Ath-Tahyeb juga merupakan ulama besar yang disegani, intelektual Muslim yang diakui dunia, serta tokoh yang selalu menyerukan kebenaran dan menebarkan kedamaian dunia. 

“Al-Azhar menjadi rujukan kami dalam mengembangkan UIN Malang, suatu saat nanti UIN Malang akan menjadi seperti Universitas Al-Azhar, yang mengembangkan ajaran Islam Rahmatan lil Alamin,” tutup Mudjia Raharja. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Sejarah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 08 Februari 2018

Penjelasan Shalawat Nariyah (2)

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Sebagian kalangan membaca menuding Shalawat Nariyah sebagai perbuatan bid’ah karena bukan dari Rasulullah langsung. Menanggapi tudingan itu Dewan Pakar Aswaja NU Center Jatim KH Ma’ruf Khozin mengatakan, Syaikh Ibn Qayyim al-Jauziyah, murid Syaikh Ibn Taimiyah telah meriwayatkan beberapa redaksi shalawat Nabi yang disusun oleh para sahabat dan ulama salaf.

Hal itu, menurutnya kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi Rabu (28/9) terdapat dalam kitabnya Jala’ al-Afham fi al-Shalat wa al-Salam ‘ala Khair al-Anam. Antara lain shalawat yang disusun oleh Abdullah bin Mas’ud:

Penjelasan Shalawat Nariyah (2) (Sumber Gambar : Nu Online)
Penjelasan Shalawat Nariyah (2) (Sumber Gambar : Nu Online)

Penjelasan Shalawat Nariyah (2)

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Ya Allah, jadikanlah shalawat-Mu, rahmat-Mu dan berkah-Mu kepada junjungan para Rasul, imam orang-orang bertakwa, penutup seluruh Nabi, Muhammad, hamba-Mu, utusan-Mu, Imam kebaikan, penuntuk kebaikan, Rasul yang membawa rahmat. Ya Allah, tempatkan ia di tempat terpuji yang dikelilingi oleh orang-orang awal dan akhir” (Jala’ al-Afham 36)

Shalawat ‘Alqamah al-Nakha’i, seorang tabi’in:

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

“Semoga Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada Muhammad. Salam kepadamu wahai Nabi, juga rahmat Allah dan berkah Allah” (Jala’ al-Afham 75)

Shalawat Imam Syafi’i sebagai berikut:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

“Semoga Allah memberi shalawat kepada Muhammad sebanyak hitungan orang-orang yang dzikir dan sebanyak hitungan orang-orang yang lalai mengingatnya” (Jala’ al-Afham 230)

Demikian, kata Kiai Ma’ruf, beberapa redaksi shalawat Nabi yang disusun oleh para sahabat dan ulama salaf yang diriwayatkan oleh Syaikh Ibn al-Qayyim dalam kitabnya Jala’ al-Afham fi al-Shalat wa al-Salam ‘ala Khair al-Anam.

“Hal tersebut kemudian dilanjutkan para ulama untuk menyusun beragam redaksi shalawat, sehingga lahirlah Shalawat Nariyah, Thibbul Qulub, Al-Fatih, Al-Munjiyat dan lain-lain,” pungkasnya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Sejarah, Sholawat, Khutbah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 06 Februari 2018

Putin Tuding AS atas Pemboikotan para Pemantau Barat

Saint Petersburg, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Presiden Vladimir Putin, Senin (26/11), menuding pemerintahan Amerika Serikat (AS) berada di balik pemboikotan para pemantau Barat terhadap pemilu Rusia, dengan mengatakan tujuannya adalah untuk mendiskreditkan jalannya pemungutan suara.



Putin Tuding AS atas Pemboikotan para Pemantau Barat (Sumber Gambar : Nu Online)
Putin Tuding AS atas Pemboikotan para Pemantau Barat (Sumber Gambar : Nu Online)

Putin Tuding AS atas Pemboikotan para Pemantau Barat

Kepada wartawan, Putin mengungkapkan bahwa keputusan para pemantau OSCE itu "dibuat atas rekomendasi Departemen Luar Negeri Amerika Serikat. Kami akan memperhitungkan ini dalam hubungan antarnegara."

"Tujuan itu adalah untuk mendiskreditkan pemilu, tetapi mereka tidak akan mencapai tujuan mereka," katanya seperti dilansir sumber AFP.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Pemilu akan diselenggarakan sesuai dengan kerangka undang-undang yang ada," terangnya.

Pernyataan itu diucapkannya pada pekan terakhir kampanye sebelum pemilihan anggota parlemen, Minggu, yang dinilainya di Rusia sebagai satu referendum atas prestasi Putin selama menjabat sebagai presiden.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Organisasi Keamanan dan Kerjasama Eropa (OSCE) sebelumnya mengumumkan bahwa pihaknya tidak akan mengirim para pemantaunya untuk mengawasi pemungutan suara karena ada keterlambatan dalam memberikan undangan dan dokumen perjalanan.

Majelis tinggi parlemen, Senin, menyatakan, 2 Maret 2008 sebagai tanggal pemilihan presiden di mana Putin tidak dapat ikut bertarung untuk periode berikutnya. (dar)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Sejarah, Ubudiyah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 21 Januari 2018

Pesantren Garda Depan Penjaga Keutuhan Bangsa

Makassar, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Sekretaris Gerakan Pemuda Ansor Kota Makassar, Sulawesi Selatan Ahmad Ahsanul Fadhil menegaskan Pesantren adalah instrumen startegis mencegah radikalisme di Indonesia. Karena Lembaga pendidikan Islam klasik dan tertua di Indonesia tersebut senantiasa mengajarkan Islam ramah.

Pesantren Garda Depan Penjaga Keutuhan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Garda Depan Penjaga Keutuhan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Garda Depan Penjaga Keutuhan Bangsa

"Pesantren adalah Lembaga yang sangat strategis untuk menebar ajaran Islam rahmatan lil alamin, mencegah munculnya paham radikal yang merongrong kedaulatan NKRI dan menjadi garda terdepan dalam menjaga keutuhan bangsa," ujar Ahsanul dalam Dialog Kebangsaan yang diselenggarakan oleh PMII STIE Tri Dharma Nusantara bekerjasama dengan IKA-MDIA Bontoala Makassar.

Senada dengan Ahsan, Sekretaris KNPI Kota Makassar, Irwan Ade Saputra mengamini apa disampaikan Ahsan dalam Forum Dialog tersebut. Dia menerangkan, posisi Santri sebagai bagian dari pemuda sangat strategis untuk melakukan gerakan mengawal keutuhan NKRI, dengan pemahaman keagamaan yang ramah.

“Paham Islam tersebut diharapkan mampu memberikan pencerahan terhadap pemuda yang tidak mengenyam pendidikan di Pesantren hingga paham bahwa Agama dan NKRI bukan hal yang harus dipertentangkan,” ungkap Ade dalam diskusi di ruang redaksi Tribun Timur, Ahad (30/10).

Pendiri Sekolah Kebangsaan, Arqam Azikin yang juga hadir sebagai Panelis meminta Pemuda dan Pesantren berbagi peran namun tetap saling mensupport dalam menjaga NKRI.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurutnya, sejarah Pemuda dan Pesantren adalah sejarah yang tak terpisahkan dari Sejarah Bangsa. Keduanya memiliki peran penting dalam memerdekakan Indonesia.

"Saya berani mengatakan andai bukan KH Hasyim Asyari bersama kalangan pesantren lain dan bangsa Indonesia secara umum, maka tidak akan lahir gerakan yang mampu memerdekakan Indonesia,” tegas Arqam. (Rahman/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pondok Pesantren, Ahlussunnah, Sejarah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 14 Januari 2018

Pesantren Terus Pacu Etos Berwirausaha

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Fungsi pesantren sebagai area kaderisasi ulama, dakwah Islam, dan penjaga moralitas umat, kini terus tumbuh seiring dengan kebutuhan zaman. Pertumbuhan itu mengarah kepada peran aktifnya untuk mengembangkan masyarakat di sektor ekonomi melalui penguatan etos berwirausaha.

Pesantren Terus Pacu Etos Berwirausaha (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Terus Pacu Etos Berwirausaha (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Terus Pacu Etos Berwirausaha

Kenyataan ini seperti terlihat di Pesantren Al-Huda, Turalak, Baregbeg, Ciamis, Jawa Barat. Kurangnya alternatif usaha masyararakat Baregbeg yang selama ini banyak menggantungkan hidup pada hasil budidaya ikan air tawar, menggugah sang pengasuh, KH. Deden Abdul Aziz, berinisiatif merintis Koperasi Pesantren SMK Pesantren Al-Huda di bidang perkayuan dan pertukangan.

Selama tiga hari (9-12 Maret), Pesantren Al-Huda melatih 30 kader muda dari dalam dan luar pesantren untuk produktif secara mandiri di bidang perkayuan dan pertukangan. Kegiatan difasilitasi oleh Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) bekerjasama dengan Corporate Social Responbility (CSR) Bank Mandiri.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Entepreneur harus bervisi besar. Setelah itu buat perencanaan, laksanakan, dan evaluasi. Semua orang kalau mau bisnis apa saja, harus melakukan empat hal ini,” tegas wirausahawan sukses Aunur Rofiq saat mengisi materi Penguatan Etos Kewirausahaan.

RMI berkomitmen akan terus memfasilitasi dan mengembangkan semangat kewirausahaan ini ke pesantren-pesantren lain di Indonesia. Pengembangan akan disesuaikan dengan sumberdaya yang secara khas dimiliki masing-masing pesantren dan lingkungannya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Seperti telah dijadwalkan, pelatihan serupa akan dilaksanakan di Pesantren Al-Ikhlas, Boyolali, Jawa Tengah, dengan segmen pelatihan Penggemukan Sapi pada 27-30 Maret 2012. Sementara di Pesantren Kempek Cirebon, Jawa Barat, dengan segmen pelatihan Usaha Kecil Menengah di sekitar pesantren, rencananya akan terealisasi pada bulan April mendatang.

“Nabi Muhammad SAW itu saudagar yang kaya raya. Karena itu umat Islam tidak boleh miskin karena panutannya adalah seorang yang sukses. Tentu modal penting beliau adalah sidiq (jujur),” tandas Sekretaris RMI Miftah Faqih.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis   : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Sejarah, Nusantara Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 03 Januari 2018

Dubes Rusia untuk Turki Tewas Ditembak dari Jarak Dekat

Ankara, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Duta Besar Rusia untuk Turki, Andrey Karlov ditembak pria tak dikenal. Karlov dikabarkan meninggal dunia karena mengalami luka yang cukup serius. Dia ditembak dari jarak yang cukup dekat karena penembak persis ada di belakang sang Dubes.

Dubes Rusia untuk Turki Tewas Ditembak dari Jarak Dekat (Sumber Gambar : Nu Online)
Dubes Rusia untuk Turki Tewas Ditembak dari Jarak Dekat (Sumber Gambar : Nu Online)

Dubes Rusia untuk Turki Tewas Ditembak dari Jarak Dekat

Seperti diberitakan Detik, seorang pria tak dikenal melakukan penyerangan saat Karlov menghadiri pembukaan pameran fotografi di Ibu Kota Turki, Ankara, Senin (19/12/2016). Karlov sempat berpidato sebelum ditembak oleh pria tersebut.

Kantor berita setempat, seperti dilansir Reuters, Selasa (20/12) menyatakan, penyerang langsung dilumpuhkan oleh pihak keamanan. Pasukan khusus Turki pun saat ini juga telah mengepung gedung tempat peristiwa terjadi.

Tiga orang lainnya dikabarkan juga terluka akibat kejadian ini. Kepada Reuters, seorang saksi mengatakan suara tembakan muncul selama beberapa waktu setelah serangan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jurnalis Surat Kabar Hurriyet seperti dikutip Reuters mengatakan, penyerang meneriakkan slogan-slogan Islam saat melakukan aksinya. Hingga saat ini masih belum jelas siapa penyerang Dubes Rusia itu.

Pada sebuah foto yang viral di Twitter, terlihat gambar seorang pria memakai setelan resmi tengah memegang pistol. Ia berdiri dekat dengan podium di galeri yang banyak tergantung gambar di dindingnya. Terlihat juga empat orang, termasuk Dubes Rusia, tergeletak di lantai.

Serangan terhadap Karlov disebut-sebut muncul terkait konflik Suriah di Turki. Hubungan Rusia dan Turki telah cukup lama penuh konflik karena kedua negara itu mendukung sisi yang berlawanan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Wali Kota Ankara menegaskan penembakan Karlov dilakukan untuk merusak hubungan Turki-Rusia. Ketegangan meningkat dalam beberapa pekan terakhir, menyusul pasukan Suriah yang didukung Rusia tengah berusaha menguasai bagian timur Kota Aleppo. Hal tersebut memicu aliran pengungsi.?

Tak begitu jelas siapa yang melakukan serangan, namun ISIS diketahui telah aktif di Turki dan beberapa kali mengakui telah melakukan sejumlah serangan bom.?

Seperti dilansir dari CNN, Senin (20/12/2016), terdapat sebuah gambar yang diambil sebelum penyerang meletuskan tembakannya hingga peristiwa terjadi. Sebuah foto memperlihatkan Karlov masih berdiri di atas podium untuk berpidato, sementara penembak berdiri tepat di belakangnya.



Foto CNN? lain menunjukkan, sang pelaku yang disebut sebagai seorang polisi Turki itu tengah menodongkan pistolnya. Dia berpakaian resmi hitam-hitam, dengan padanan jas serta celana dan dasi serasi. Pada foto yang sama terlihat Karlov terbaring di lantai tak jauh dari pelaku. Tiga orang lain juga disebut tergeletak di sebelah Karlov. (Detik/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Sejarah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 28 Desember 2017

Khofifah: Seabad Muslimat NU Siapkan Desa Aswaja

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi?



Hj. Khofifah Indar Parawansa mengatkan, hasil Kongres ke-17 di Asrama haji Pondok Gede, Jakarta, Muslimat NU menjelng usi seabad tengah menyiapkan rencana besar yaitu menciptakan Desa Aswaja di Indonesia.?

Khofifah: Seabad Muslimat NU Siapkan Desa Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah: Seabad Muslimat NU Siapkan Desa Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah: Seabad Muslimat NU Siapkan Desa Aswaja

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat NU terpilih periode 2016-2021 tersebut menjelaskan, anggota-anggota Muslimat NU di wiayah masing-masing, melalui Desa Aswaja mendorong terciptanya warga yang memiliki toleransi dalam keberagaman, bersifat moderat membangun keseimbangan, terciptanta rasa keadilan.?

Grand desain tersebut, kata Mensos RI itu pada pidato penutupan Kongres Sabtu (26/11), secara detail telah menjadi bagian keputusan dari Kongres Muslimat NU yang harus dijalankan kepengurusan yang akan datang.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Di Komisi Rekomendasi, Kongres juga mengamanatkan terlarangnya ujaran kebencian di publik. Sementara di Komisi Bahtsul Masail mengharamkan tindakan lesbian, gay, biseksual, trensgender (LGBT).?

“Selamat kembali masing-masing kepada seluruh Pimpinan Anak Cabang, ke Pimpinan Anak Ranting, siap, Bu?” tanya Khofifah. Ribuan pengurus Muslimat se-indonesia dan beberapa cabang luar negeri serentak menjawab siap.?

Menurut Khofifah, Muslimat NU besar karena anak Ranting, Anak Cabang, serta keterampilan manajemen Pimpinan Cabang dan Pimpinan Wilayah.?

Hadir pada penutupan tersebut Wakil Presiden RI H Jusuf Kalla, Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin, dan lain-lain. (Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Sejarah, Hadits Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 19 Desember 2017

Risau Kiai Mastuhu

Kiai mastuhu sedang risau. Menantu satu-satunya, Basyar, adalah biang keladi kerisauan kiai sepuh itu. Dulu, saat mula-mula Basyar dan orang tuanya datang melamar Laila, Kiai Mastuhu seperti sudah melihat ngalamat.

Ngalamat itu seperti sebuah tanda-tanda yang hanya ditemukan dan diperoleh orang seperti Kiai Mastuhu, yang memiliki tradisi ritual dan spiritual cukup mumpuni.

Tapi Kiai Mastuhu tidak mau disebut sebagai orang tua konservatif, seperti ditudingkan beberapa orang yang sok pintar belakangan ini. Apalagi, posisi sebagai seorang kiai, pastilah tuduhan orang terhadap dirinya sebagai orang konvservatif kian kencang. Karena itulah, atas persetujuan istrinya juga, Kiai Mastuhu merestui pernikahan Basyar-Laila. 

Risau Kiai Mastuhu (Sumber Gambar : Nu Online)
Risau Kiai Mastuhu (Sumber Gambar : Nu Online)

Risau Kiai Mastuhu

Sejak dulu, sebenarnya kiai sepuh dari sebuah pesantren terkenal itu kurang suka dengan anak-anak dari kampus. Basyar saat itu sudah lulus dari jurusan politik.

“Untuk apa belajar politik?” tanya Kiai Mastuhu saat itu. Bibirnya tersenyum tipis.

“Agar kita mengerti politik, Kiai! Politiklah yang mengatur negara ini. Tanpa memahami politik dengan segala seluk-beluknya, kita pasti akan jadi pecundang!” tegas Basyar. 

Gayanya sebagai orang kampus boleh juga. Dahinya beberapa kali bergerak-gerak, menandakan ia seorang pemikir. Memang demikian halnya. Basyar dikenal cukup cerdas. Selain berkemampuan akademik cukup tinggi, Basyar juga sangat populer di kalangan mahasiswa. Berbagai jabatan orgLailasi pernah dipegangnya. Tak heranlah, terdapat sebuah anekdot di kampusnya, bahwa hanya orang kurang pergaulan yang tidak mengenal Basyar. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Rakyat kita masih menderita. Itu gara-gara mereka tidak paham politik. Akibatnya, rakyat mudah ditipu!”

Basyar masih tetap menggebu-gebu. Kiai Mastuhu masih tetap tersenyum, sembari sesekali menggelengkan kepalanya. 

“Tapi politik itu kotor, Nak?”

“Tergantung orangnya. Sebagai orang beragama, kita tidak boleh menjauhi politik. Agama kita mengatur semuanya, termasuk politik.”

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kiai Mastuhu tersenyum simpul. Kepalanya mengangguk pelan-pelan. Lalu pamit ingin masuk kamarnya dulu. Itu dulu. 

Jadilah Basyar menikahi Ning Laila. Pernikahan itu disambut hangat, bahkan gegap gempita dari seluruh kota. Hampir semua media menjadikannya berita. Tayangan infotainment pun tak luput mengangkat momentum pernikahan Basyar-Laila, sembari menambahkan beberapa bumbu gosip. Konon, menurut presenter infotainment itu, Basyar terkenal sebagai don juan di kampus. Tapi, Ning Laila memberikan konfirmasinya. Ning Laila tidak percaya isu itu, dan menganggapnya sebagai fitnah semata.

Seluruh warga pesantren ikut bergembira. Apalagi, baru setahun menjadi keluarga pesantren, Basyar telah berhasil mendatangkan seorang menteri dalam acara haul Kiai Daldiri, kakek Laila. Menteri itu pulang dengan meninggalkan dana milyaran. 

“Ini dana titipan, Kiai. Mudah-mudahan dapat menambah kekurangan pembangunan madrasah,” ujar sang menteri sambil membungkukkan tubuh, lalu mencium tangan Kiai Mastuhu. Dengan alasan ditunggu sebuah acara, sang menteri segera berpamitan. 

Kiai Mastuhu hanya dapat diam. Beliau tak berkutik atas situasi ini. Hati kecilnya ingin menolak. Tapi, madrasah memang sedang membutuhkan dana besar. Sementara, untuk menarik dana dari wali santri, dirinya sungguh tidak tega. Pesantren adalah simbol pendidikan murah bagi rakyat. Bagaimana nasib rakyat di desa-desa bila pesantren pun ikut menaikkan biaya pendidikan? Karena itulah Kiai Mastuhu tidak mampu menolak dana titipan dari sang menteri.

Keberhasilan Basyar mendatangkan seorang menteri ke pesantren, dilanjutkan dengan berbagai kejutan lain. Basyar ditunjuk dan diangkat sebagai seorang anggota Komisi Pemilihan Bupati (KPB) di kota ini. Santri-santri kian bangga dengan menantu kiai mereka. Dalam hati mereka, telah tertanam cita-cita untuk mengikuti jejak Basyar. Dalam mimpinya, para santri mulai membayangkan diri menjadi menteri, presiden, atau anggota KPB, seperti Basyar. 

Belakangan, Basyar juga diminta menjadi pengurus inti di parpol besar. Meski setingkat kabupaten, posisi Basyar semakin menggelembungkan pundi-pundi uangnya. Sudah menjadi rahasia umum, bila politisi itu uangnya banyak.

“Dari mana uang untuk membuat pelatihan kewirausahaan, bantuan bencana alam, sumbangan fakir miskin, kiriman air bersih, atau menyekolahkan guru? Pasti dari dana taktis!” seletuk Kang Irham. 

Apalagi, KPB pun mulai diusik oleh media dan kelompok kritis di kota ini. Seluruh anggota KPB diduga terlibat penyalahgunaan dana taktis, dan mark-up anggaran pilkada. Basyar memang cerdik. Dia segera menyanggupi permintaan sebuah parpol untuk menjadi pengurus inti. 

Seluruh keluarga pesantren masih percaya, Basyar tidak berperilaku busuk. Basyar adalah orang kampus yang mengerti etika dan moral. Dia tidak akan mempertaruhkan kehormatan hanya untuk mengemplang uang negara. Seluruh warga pesantren percaya, juga jamaah pengajian di pesantren. Kecuali Kiai Mastuhu. Hatinya mulai resah, gundah-gulana. Risau jiwanya terlihat dari perubahan perilaku Kiai Mastuhu akhir-akhir ini.

Kiai Mastuhu semakin jarang membalah kitab. Jamaah ibu-ibu dan bapak-bapak dari sekitar pesantren diserahkan kepada Ustadz Munif. Hari-hari Kiai Mastuhu habis di ruang pribadi. Beliau keluar saat mengimami shalat. Selesai shalat, beliau berdzikir dan wiridan berlama-lama. Tidak seperti biasa. Meski wiridan lama, sehabis shalat shubuh Kiai Mastuhu menyempatkan diri berjalan-jalan keliling pondok. Sekarang, jangankan berjalan keliling pondok, Kiai mastuhu masih di ruang imam hingga matahari menyembul dari ufuk timur. Tak berselang lama, beliau mendirikan shalat dhuha.

Beberapa jamaah dan santri pun mulai ikut-ikutan gelisah. Tapi tidak seorang pun berani bertanya. Para santri kecil tidak terpengaruh dengan situasi tersebut. Hanya santri remaja yang mulai kasak-kusuk. Santriwati dewasa mulai ngrumpi sembari mencuci baju. 

Tujuh hari setelah perubahan, Kiai Mastuhu meminta seluruh warga pesantren berkumpul di halaman pesantren. Demikian halnya dengan para jama’ah dari sekitar pesantren. Para santri, cantrik, jamaah pengajian, semua kaget bercampur heran. Untuk apa Kiai Mastuhu mengumpulkan mereka? Tidak ada jadual mujahadan, atau khaul dalam waktu dekat, apalagi hari ini. Tapi mereka dikumpulkan bersama-sama.

Setelah agak lama menahan nafas dan keingintahuan, seluruh yang hadir di halaman pesantren tampak lega dan sumringah. Kiai Mastuhu muncul dihadapan mereka dengan dituntun Kang Irham. Kiai Mastuhu berbasa-basi sebentar, sembali beberapa kali melepaskan batuk. Air mukanya tampak tegang. Tapi, Kiai Mastuhu tampak berusaha tersenyum. 

“Mungkin kalian terkejut atau heran dengan perubahan pada diri saya akhir-akhir ini. Saya sendiri memang sedang risau juga. Tapi, ngalamat itu masih samar-samar, meski mulai jelas. Mudah-mudahan, petang ini, setelah kalian sampai di kamar dan rumah masing-masing, ngalamat itu telah tampak jelas. Saya hanya dapat berpesan, kalian jangan terkejut apalagi marah-marah. Yang terjadi adalah karena kesalahan kita sendiri. Jalan sejarah kita yang membuatnya, bukan orang lain. Apapun yang terjadi, meskipun pahit, kita harus siap menghadapinya!”

Sejenak kemudian, Kiai Mastuhu sudah uluk salam, lalu kembali ke ruang pribadinya. Para jama’ah terhenyak di tempatnya masing-masing. Mereka masih terbingung dengan ucapan Kiai Mastuhu. Tidak seperti biasanya Kiai Mastuhu menyampaikan sesuatu hal sangat kurang jelas seperti saat ini. Apa yang dimaksudkan beliau dengan ngalamat? Apa pula yang disebutnya sebagai tanda-tanda? 

Dengan membawa pertanyaan di benak masing-masing, seluruh yang hadir di halaman pesantren, pulang ke tempat masing-masing. Tapi, sesampai di tempat masing-masing, mereka memang dihadapkan pada sebuah berita menarik. Televisi dan radio petang itu mengungkapkan, seorang tokoh parpol ditangkap Komisi Anti Korupsi. Petang itu, seluruh tubuh warga pesantren berkeringat, karena suasana pesantren tiba-tiba pBasyar. Bukan kemarau, tapi suhu pBasyar gara-gara penangkapan Basyar Komisi Anti Korupsi. Pikir warga pesantren: apakah ini ngalamat yang disebutkan Kiai Mastuhu?

M. Thobroni, adalah seorang peziarah. Pernah mengais pengalaman hidup di berbagai komunitas agama, budaya dan politik. Kini mengabdikan diri sebagai pendidik di Tarakan dan sekitarnya, kawasan perbatasan utara Indonesia yang berbatasan dengan Malaysia, Brunei dan Filipina.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Sejarah, Syariah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 10 Desember 2017

NU Berupaya Ciptakan Kedaulatan dan Pemerataan Ekonomi Indonesia

Medan, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Persoalan utama isu perekenomian adalah bagaimana mengalokasikan sumber-sumber daya ekonomi. Hal ini dalam rangka menciptakan kedaulatan dan pemerataan ekonomi seperti yang menjadi cita-cita kita bersama untuk menghilangkan kesenjangan. Itulah yang menjadi upaya NU selama ini.

NU Berupaya Ciptakan Kedaulatan dan Pemerataan Ekonomi Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Berupaya Ciptakan Kedaulatan dan Pemerataan Ekonomi Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Berupaya Ciptakan Kedaulatan dan Pemerataan Ekonomi Indonesia

Demikian disampaikan oleh H Masduki Baidlowi bersama Tim Rekomendasi Muktamar ke-33 NU terkait kegiatan Pra-Muktamar NU yang berlangsung di Pesantren al-Akbar al-Kautsar, Jl Pelajar Timur No 264 Medan, Sumatera Utara, Sabtu (16/6).

Dalam kegiatan yang bertema ‘Kedaulatan dan Pemerataan Ekonomi (Konsep dan Perundang-Undangan)’ ini, Masduki menerangkan bahwa Indonesia mempunyai syarat untuk menjadi bangsa besar yang maju, sejahtera, dan bermartabat.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Selain sumber daya alam yang melimpah, Indonesia dihuni sekitar 145 juta penduduk yang mayoritas berusia produktif, menyumbang total PDB sebesar Rp 10, 542.7 triliun pada 2014,” jelas Wakil Sekjen PBNU ini.

Dia melanjutkan, Indonesia dengan segenap potensinya diprediksi akan menjadi The Next Economic Superpowers pada 2030. Pada saat itu, lanjutnya, PDB Indonesia akan menembus 9,3 triliun Dollar Amerika yang akan menjadikannya ke peringkat 5 dunia. Indonesia akan bangkit bersama kekuatan ekonomi Asia lainnya seperti Tiongkok, India, dan Korea Selatan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Guna menyongsong kebangkitan ini, jalan baru harus ditempuh dari legacy lama yang di-khittah-kan para founding fathers, yakni pembangunan dari kita, oleh kita, dan untuk seluruh bangsa Indonesia,” tegasnya.

Syarat awal yang harus ditempuh, menurutnya, adalah meluruskan kiblat pembangunan dengan kembali ke khittah ekonomi konstitusi.?

“NU sebagai pemegang saham Republik dan sebagai komponen bangsa yang ikut mendirikan dan mempertahankan NKRI menyampaikan keprihatinan keberlangsungan pembangunan di Indonesia melalui berbagai koreksi demi kemaslahatan umat dan bangsa,” tandasnya.

Dalam kegiatan Pra-Muktamar di Medan ini, NU mengadakan seminar dengan menghadirkan para narasumber kompeten di bidang ekonomi pada Ahad (17/5). Narasumber tersebut diantaranya, Marwan Ja’far (Menteri Desa PDTT), Rizal Ramli (mantan Menteri Perekonomian), Ahmad Erani Yustika (Guru Besar Ekonomi Bisnis Universitas Brawijaya), Bambang Prijambodo (Staf Ahli Menteri Bappenas), M Arfin Hamid (Ahli Ekonomi Syariah), dan Ritha F Dalimunte. (Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Sejarah, Syariah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 06 Desember 2017

Gus Dur Usul Subang Jadi Ibu Kota RI

Subang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Hiruk-pikuk kota Jakarta yang identik dengan kemacetan serta banjir di musim hujan, membuat KH Abdurrahman Wahid yang biasa disapa Gus Dur berpikiran untuk memindahkan Ibu Kota Republik Indonesia ke kabupaten Subang. Pikirannya ini kerap dilontarkan pada sejumlah kesempatan.

Demikian disampaikan aktivis PKB Subang Bambang Herlambang kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi di Kalijati, Subang, Selasa (9/12).

Gus Dur Usul Subang Jadi Ibu Kota RI (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Usul Subang Jadi Ibu Kota RI (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Usul Subang Jadi Ibu Kota RI

"Sejak tahun 2000-an Gus Dur sudah bilang supaya Subang jadi Ibukota," kata salah seorang tim pendiri PKB Subang.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ketika pelantikan DPC PKB Subang 2008, Ketua Umum DPP PKB H Muhaimin Iskandar dalam sambutannya mengulangi kembali keinginan Gus Dur agar Ibukota pindah ke Subang.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Waktu pelantikan Pak Sofyan yang kini mantan Ketua DPC PKB Subang, Cak Imin bilang, ‘Gus Dur itu selalu bilang Subang akan jadi Ibukota’, saya sendiri tidak paham kenapa Gus Dur selalu bilang seperti itu, ada apa dengan Subang," tambah Bambang meniru Cak Imin.

Tokoh nasional seperti Gus Dur, kata Bambang, dalam kunjungan ke daerah biasanya dalam satu tahun hanya sekali. Namun, Gus Dur mengunjungi Subang hingga dua kali dalam satu tahun.

Sebelum pemilu 2004, Gus Dur ke Subang hingga dua kali hanya jeda dua pekan. Juni ke pesantren Kiai Usfuri di Compreng, Julinya ke almarhum Ajengan O’om di pesantren Pagelaran Cisalak.

“Pokoknya kalau diundang ke Subang asal jadwalnya tidak bentrok, Gus Dur pasti datang," kata mantan aktivis GP Ansor Subang itu. (Aiz Luthfi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Sejarah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

LPBINU Fasilitasi Penyusunan Sistem Peringatan Bencana Dini di Wajo

Wajo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) memfasilitasi penyusunan sistem peringatan dini tingkat kabupaten dan desa/kelurahan di Wajo, Sulawesi Selatan pada Jumat-Senin (28-31/7) dalam bentuk workshop dan FGD yang diikuti oleh stakeholder terkait tingkat kabupaten dan desa/kelurahan.

Kegiatan ini dilaksanakan selama 4 (empat) hari, diawali dengan workshop yang diikuti oleh stakeholder tingkat kabupaten, ditindaklanjuti dengan FGD yang diikuti oleh stakeholder tingkat desa/kelurahan. 

LPBINU Fasilitasi Penyusunan Sistem Peringatan Bencana Dini di Wajo (Sumber Gambar : Nu Online)
LPBINU Fasilitasi Penyusunan Sistem Peringatan Bencana Dini di Wajo (Sumber Gambar : Nu Online)

LPBINU Fasilitasi Penyusunan Sistem Peringatan Bencana Dini di Wajo

Rangkaian kegiatan tersebut menghasilkan dokumen Standar Operational Procedure (SOP) Peringatan Dini di Kabupaten Wajo. Sementara di tingkat desa/kelurahan, sistem peringatan dini desa/kelurahan. 

Selain itu, di sini juga dihasilkan peta dan jalur evakuasi untuk Kelurahan Salomenraleng, Kelurahan Laelo, dan Desa Pallimae yang merupakan pilot project dari Program Slogan-Steady yang sedang dilaksanakan oleh LPBINU di Sulawesi Selatan. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Hadir dalam kegiatan tersebut Ansyar (Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Sulawesi Selatan; Siswanto (BMKG Wilayah IV Makassar); dan Leonardy Sambo (Konsultan DFAT Sulawesi Selatan) sebagai narasumber.

Kegiatan Workshop Penyusunan Sistem Peringatan Dini di Kabupaten Wajo dibuka oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Sulawesi Selatan. Dalam sambutannya, Ansyar menyampaikan bahwa Sulawesi Selatan termasuk urutan 26 dari sekitar 36 provinsi yang rawan bencana. 

“Diproyeksikan sekitar 18 miliar kerugian jika terjadi bencana. Sedangkan di Wajo, banjir merupakan ancaman yang paling tinggi,” ujar Ansyar.

Ansyar juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada LPBI NU atas support yang telah yang diberikan dalam bentuk pelaksanaan program Slogan-Steady yang telah berlangsung selama satu tahun untuk meningkatkan kapasitas dan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana. 

Di akhir sambutannya, Ansyar menekankan bahwa bencana tidak hanya tanggung jawab pemerintah tetapi tanggung jawab kita bersama. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sementara itu, Deputi Program Manager Slogan-Steady LPBINU, Rurid, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pasca pelaksanaan kegiatan ini, LPBI NU akan memfasilitasi pemasangan alat peringatan dini banjir di 3 (tiga) desa/kelurahan yang menjadi target program. 

Penanggulangan bencana tidak hanya cukup dengan niat baik tetapi ada alat-alat yang memang dibutuhkan untuk mendeteksi bencana tersebut. Kita harus meluruskan strategi bagaimana membuat sistem sesuai kebutuhan dan persoalan yang ada. Kita tidak ingin bencana datang tetapi kita baru membuat persiapan. 

Lebih lanjut, Rurid mengatakan bahwa semua pihak mempunyai tanggung jawab untuk menyebarluaskan informasi dan kesadaran kepada masyarakat. Informasi adalah hak semua masyarakat tanpa kecuali. 

Orang-orang dengan kebutuhan khusus juga harus menerima informasi. Jadi harus ada orang khusus yang bisa menyampaikan kepada mereka. Orang yang terganggu dalam melihat, mendengar dan susah berjalan harus dibuatkan sistem yang baik bagaimana cara mengevakuasi mereka. Kapan kemudian kelompok-kelompok rentan harus siaga?

Inilah yang menjadi alasan mengapa kita menyusun sIstem. Tidak sekedar memasang alat agar sirine berbunyi, tetapi kita harus menyesuaikan dengan alat atau hal yang mudah diakses oleh semua pihak di masyarakat. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Hadits, Sejarah, Lomba Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 02 Desember 2017

PCNU Subang Rekatkan Persatuan Kebangsaan

Subang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Subang menggelar pertemuan Halal Bihalal di pesantren At-Tawazun, Kalijati, Subang, Rabu (13/8). Pertemuan yang dihadiri ratusan warga ini, melibatkan sejumlah komponen warga mulai dari jajaran perangkat kabupaten, Kemenag Jabar, jajaran Muspida, dan elemen pemuda di kabupaten Subang.

Tampak hadir dalam pertemuan ini Bupati Subang Ojang Sohandi, Wakil Bupati Imas Aryumningsih, Kepala Kankemenag Jabar Ahmad Bukhori.

PCNU Subang Rekatkan Persatuan Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Subang Rekatkan Persatuan Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Subang Rekatkan Persatuan Kebangsaan

Ketua PCNU Subang KH Musyfiq Amrullah mengatakan, Halal Bihalal cukup mengakar bagi masyarakat Indonesia, terlebih lagi Nahdliyin. Halal Bihalal menjadi sebuah mmomentum penting untuk meneguhkan simpul-simpul masyarakat.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Kendati hari ini ada isu-isu yang bertentangan dengan kaidah agama dan ideologi kebangsaan, NU tetap konsisten mengawal cita-cita kemerdekaan Republik Indonesia. Bagi kami, siapapun yang merongrong keutuhan NKRI, secara otomatis layak dijadikan musuh bersama,” kata Kiai Musyfiq.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sementara Ojang menyatakan apresiasinya atas pertemuan kebangsaan yang digagas PCNU Subang. Menurut dia, solidaritas dan persaudaraan kebangsaan yang dimiliki NU merupakan bagian dari implementasi kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

“Karenanya, semua elemen masyarakat dari kalangan ulama, umaro, orang kaya, dan orang miskin, merupakan satu kesatuan di tengah-tengah kehidupan bangsa Indonesia yang majemuk ini,” kata Ojang.

Tampil sebagai penyampai taushiyah dalam pertemuan ini ialah Ketua Asosiasi Bina Haji dan Umroh Nahdlatul Ulama KH Manarul Hidayat. (Ade Mahmudin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Sejarah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 27 November 2017

Ada Malpraktek, Banser Batang Tuntut Perbaikan Layanan RSUD

Batang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kabupaten Batang, Jawa Tengah, melakukan aksi solidaritas atas meninggalnya salah satu anggota mereka, Aminudin (30), warga Desa Karangtengah, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang.

Ada Malpraktek, Banser Batang Tuntut Perbaikan Layanan RSUD (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada Malpraktek, Banser Batang Tuntut Perbaikan Layanan RSUD (Sumber Gambar : Nu Online)

Ada Malpraktek, Banser Batang Tuntut Perbaikan Layanan RSUD

Aminudin diduga menjadi korban kelalaian atau malpraktek saat dirawat di RSUD Batang. , Senin (13/4), organisasi semiotonom Gerakan Pemuda Ansor ini mendatangi DPRD Kabupaten Batang dan menyampaikan keluhan mereka atas pelayanan RSUD Batang yang dinilai tidak memihak rakyat kecil.

Ketua GP Ansor Kabupaten Batang Umar Abdul Jabar menjelaskan, RSUD seharusnya  memberikan jaminan kesehatan kepada masyarakat tanpa memandang apakah masyarakat tersebut mampu atau tidak. Tapi RSUD Batang malah berlaku sebaliknya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Memang Aminudin mendapatkan perlakuan yang tidak sesuai prosedur, penanganan yang diberikan terkesan lamban dan yang bersangkutan dibiarkan begitu saja tanpa ada kejelasan meskipun sudah dirawat selama 11 hari,” tutur Umar didampingi anggota Banser M Huda.

Saat masuk ke RSUD, korban ditangani bukan oleh dokter spesialis bedah atau tulang, melainkan oleh KOAS atau dokter magang. Padahal, korban mengalami luka cukup parah dan patah tulang akibat terkena alat pemotong rumput. Namun ketika di IGD RSUD, korban hanya dijahit luka tanpa memperhatikan patah tulang yang dialami.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Kami cuma ingin menuntut agar pihak RSUD memperbaiki sistem pelayanan, meminta Bupati Batang untuk mengevaluasi secara menyeluruh terhadap organisasi, sumber daya manusia dan kinerja RSUD serta meminta DPRD untuk menindaklanjuti dengan membentuk Pansus,” ujarnya.

Amat Dasari selaku kakak kandung korban menjelaskan, selama di rumah sakit, korban juga terkesan mendapat perawatan ala kadarnya, bahkan sempat tidak mendapatkan kunjungan dari dokter spesialis selama 3 hari.

Pihak rumah sakit juga sempat menyatakan akan melakukan amputasi terhadap kaki korban. Pada tanggal 30 Maret keluarga dipanggil perawat bahwa keputusan dari RSUD dan dokter sudah final, yakni akan melakukan amputasi dan keluarga diminta tanda tangan surat persetujuan.

“Setelah 11 hari dirawat, yakni tanggal 31 Maret, kondisi korban menurun hingga dipindahkan ke ICU. Kemudian dokter menyatakan jika korban sudah membaik setelah mendapatkan perawatan di ICU. Dan informasi yang diperoleh, korban terkena tetanus,” terangnya.

Amat mengatakan, selama di IGD saat pertama kali masuk, keluarga tidak melihat jika korban disuntik antitetanus, begitu juga selama menjalani perawatan. Akibat kejadian tersebut, Rabu (1/4), korban semakin kritis dan kemudian dirujuk ke RS Siti Khotijah Pekalongan. Namun setelah mendapatkan perawatan, korban akhirnya meninggal dunia.

Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Batang Edi Siswanto yang menemui perwakilan GP Ansor, Banser dan juga keluarga korban menyatakan bahwa pihaknya akan segera melakukan kroscek terkait kasus ini. Selain itu, dengan adanya laporan semacam ini, pihaknya akan membuat pansus untuk menindaklanjuti kasus ini.

“Kami merasa prihatin dengan adanya kejadian semacam ini, untuk itu akan segera kami tindaklanjuti dengan membentuk pansus dan kami akan melakukan kroscek ke RSUD serta memanggil pihak RSUD untuk mengkonfirmasi hal ini,” tegas Edi.

Anggota Komisi B Yuswanto menambahkan, laporan ini akan segera ditindaklanjuti dengan akan melaksanakan rapat kerja, jangan sampai nantinya ada kasus lain yang terjadi. “Kami akan segera melakukan rapat kerja dengan pihak RSUD dan tidak akan menunda lama. Kami tidak ingin masyarakat tidak percaya lagi pada pemerintah, khususnya bidang kesehatan,” imbuhnya. (Muhammad Imron/Mahbib)

Foto: Banser saat berkunjung ke DPRD

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Hikmah, Sejarah,Attijani Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 21 November 2017

Internasionalisasi Moderasi Islam: Dari Islam Nusantara untuk Peradaban Dunia

Oleh Ribut Nur Huda*



Dewasa ini dunia menghadapi konflik perang saudara atas nama ras dan bahkan agama. Akibatnya tidak hanya mengganggu stabilitas negara yang bersangkutan tetapi juga negara di sekitarnya atau negara yang terlibat di dalamnya. Contoh dalam hal ini adalah konflik Suriah, Yaman, Palestina, Mesir, Sudan dan negara-negara Muslim lain yang bisa dikatakan belum aman. Tidak bisa dipungkiri bahwa sebab utama adalah dangkalnya pemahaman tentang Islam atau agama yang dianutnya. Kedangkalan ini kemudian menjadi doktrin untuk melakukan kekerasan atas nama agama walaupun sebenarnya hanya alibi kepentingan politik.?

Idealitas berkata lain tentang Islam sebagai risalah penyelamatan. Islam dengan makna menyelamatkan didukung oleh realitas sejarah pada masa Nabi Saw berdakwah di Makkah dan Madinah. ? Prestasi Piagam Madinah adalah bukti nyata bahwa Islam tidak hanya membawa misi dakwah tetapi juga misi kemanusiaan . Islam tidak cukup dipandang hanya sebagai agama syari’ah, tetapi juga agama peradaban.?

Internasionalisasi Moderasi Islam: Dari Islam Nusantara untuk Peradaban Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Internasionalisasi Moderasi Islam: Dari Islam Nusantara untuk Peradaban Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Internasionalisasi Moderasi Islam: Dari Islam Nusantara untuk Peradaban Dunia

Doktrin Islam tidak disampaikan dengan paksaan apalagi kekerasan. Perbedaan pendapat, cara berfikir dan pandangan politik adalah sarana menguatkan ghadhab atau emosi bersaing dan membangun kesadaran sosial untuk kemaslahatan bersama baik dalam berbangsa dan beragama. Sejarah mencatat adanya gerakan ideologis yang mengarahkan sudut pandang kebenaran di pihak tertentu karena kecenderungan sektarian justru kontra-produktif dan merusak masyarakat. Kelompok ini sudah ada sejak zaman Nabi Saw dengan sebutan Khawarij sebagai representasi fanatisme pemimpin kabilah yang dikikis sedikit-demi sedikit ? oleh para pengikut Nabi Saw melalui hubungan kesefahaman tentang wujud inklusi sosial. ?

Kader-kader Nabi Saw yang berilmu dan bijak merupakan didikan para pewaris Nabi Saw. Mereka ? memberikan kontribusi terwujudnya masyarakat yang berperadaban. Istilah local wisdom (kebijaksanaan lokal) sebagai prinsip dakwah dengan cara ? "bertahap" dan "tidak menyakiti" bukan prinsip oposisi biner (perlawanan) seperti “benar-salah” atau “hitam-putih” sudah ada rujukan sejarahnya. Ini menjadi prinsip dalam dakwah yang tercermin dalam konteks Indonesia berupa institusi yang memiliki metodologi dalam mengkontekstualisasikan wahyu yang absolut kepada realitas yang relatif. Institusi ini mampu mengakomodir budaya lokal dengan prinsip moderasi pada aqidah, syariah maupun tasawuf. Institusi ini di Indonesia dikenal dengan Nahdlatul Ulama (NU) dan memiliki cabang di luar negeri untuk misi pengkaderan dan dakwah ‘internasionalisasi moderasi Islam’.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Setelah adanya model nation-state atau negara bangsa, ada kesamaan antara Pancasila sebagai landasan konstitusional negara dengan Piagam Madinah pada masa Nabi Saw. Ketika itu prinsip negara mampu mengakomodir Maqoshidus Syari’ah sebagai konsep universal bagi agama-agama. Menurut hasil konsensus para ulama, Indonesia bukan negara Islam dan juga bukan negara sekuler melainkan negara damai (darussalam) atau negara Muslim. Darussalam mendapat dukungan normatif dan proaktif dari Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi Islam terbesar tanpa mengenyampingkan organisasi lain.?

Prinsip moderasi ini, menjelaskan kedudukan NU secara syari’at sebagai organisasi, secara hakekat sebagai komunitas (kekeluargaan) dan secara ma’rifat adalah Islam itu sendiri. Organisasi sosial-keagamaan ini berkomitmen dengan misi para pendirinya yaitu menjaga pesan otentik wahyu melalui transmisi keilmuan yang jelas dan transformasi sosial yang massif ke akar rumput dan kuat ke menara gading. Sikap terhadap politik dan budaya adalah penghapusan kasta-kasta dan budaya-budaya sebelum Islam yang tidak sesuai dengan landasan normatif dan dakwah. Sebab landasan normatif aqidah dan fiqih masih dapat menampung budaya lokal. Disamping itu, aqidah Asy’ari tidak eksklusif dalam melihat madzhab kalam. Selagi masih berpayung di bawah payung Islam dengan mengucapkan syahadat, shalat menghadap kiblat dan meyakini adanya rukun Islam dan iman maka mereka adalah sesama Muslim. Berbeda dengan kelompok lain yang dengan mudah bagi seorang peneliti menemukan benturan antara penalaran dengan nash Al-Qur’an dan Sunnah seperti madzhab Mu’tazilah dan madzhab yang lain.?

Organisasi sosial-keagamaan ini dalam misi Internasional adalah menyebarkan faham Sunni yang secara definitif dinegasikan dengan Syiah. Sunni dilihat segi kaku dan lenturnya dalam akidah dan dakwahnya dibedakan dengan Sunni purifikatif dan Sunni metodologis. Sunni purifikatif bisa dilihat pada fenomena keberagamaan di Saudi Arabia yang kemudian disebut Wahabi. Adapun Sunni metodologis bisa dilihat di Indonesia dengan pola bermadzhab NU yang menurut beberapa negara seperti Mesir dan Sudan disebut sufi. Kelompok ini adalah kelompok mayoritas yang terbiasa mencari status hukum secara qouli melalui kitab-kitab turats (kitab kuning) dan tamanhuj (menggunakan metodologi imam madzhab) sebagai alternatif. Tidak bisa dipungkiri adanya negara seperti Mesir yang lebih terpolakan untuk tamanhuj. Ini sebuah kenyataan bahwa moderasi dalam ajaran sunni menentukan kemurnian ajaran Nabi tanpa mengebiri wujud inklusi sosial yang berwatak dinamis dan relatif.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Di ranah pengkaderan, NU sangat ketat mengenai geneologi keilmuan dengan institusi berbasis “talaqqi”. Ilmu sebagai bagian dari agama dibedakan dengan sakralisasi pemikiran. Pemahaman yang terwariskan menjaga keseimbangan antara akurasi teks dengan sumbernya, metode dengan objek pembahasannya dan wilayah pengetahuan dengan batas kemampuan manusia. Berbeda dengan pemikiran yang terkadang keluar dari kebutuhan dan kemampuan akal untuk mengejar keinginan-keinginan relatif dan bahkan spekulatif. Ini bukti bahwa NU memiliki disiplin ilmiah menurut perspektif Islam . Tiga kriteria dikuatkan oleh tradisi ilmu jarh wa ta’dil yang tidak ada dalam tradisi Barat ketika mengkaji Islam kecuali kalangan orientalis yang tertarik untuk mengkaji Timur dengan kaca mata miopiknya, tafsir manipulatifnya atau prinsip “ilmu untuk ilmu” yang kejujurannya masih perlu dipertimbangkan.

Bertolak dari landasan pemikiran di atas, Lakpesdam NU Cabang Istimewa Sudan merancang program penguatan metodologi penelitian dan turast warisan ulama klasik. Merujuk kitab-kitab ulama klasik bukan karena anti dengan metodologi melainkan bentuk kehati-hatian dan konsekuensi penyambung transmisi keilmuan generasi sebelumnya. Sebagaimana rumusan para ulama PBNU ketika ada permasalahan fiqih yang baru dan belum ditemukan status hukumnya di kitab kuning langkah yang diambil adalah menggunakan metode ilhaqi dan menerapkan metodologi sesuai rumusan tim LBM PBNU khususnya Lembaga Bahtsul Masa’il maudlu’iyah PBNU yang menjadi rujukan di level nasional.?

Rumusan tersebut didukung oleh kajian yang ketat dan berat oleh karya-karya ulama Nusantara seperti KH Sahal Mahfudz dengan fiqih sosialnya atau ulama-ulama Timur Tengah seperti Syekh Wahbah Zuhaily dan Sykeh Ali Jum’ah. Rumusan-rumusan yang dihasilkan tidak hanya menjelaskan sikap moderat dan produktif di bidang sosial-keagamaan. Khazanah Nusantara dalam hal ini terpakai menjadi bahan rumusan metodologi sesuai objek pembahasan tanpa terjebak pada sikap yang kontra-produktif atau menyia-nyiakan waktu.?

Melihat sisi sejarahnya, sunni di Indonesia memiliki kesamaan dengan Sunni di Sudan. Persamaan yang ada adalah Islam berkembang sebagai ajaran bukan ideologi. Pijakannya adalah kemaslahatan melalui rekonsiliasi Maqashidus Syari’ah dengan ideologi negara sebagai tuntutan kondisi . Misalnya fenomena ? konstitusi negara Indonesia yang hukum positifnya banyak memakai warisan Belanda namun tidak bertentangan dengan prinsip Islam. Sudan yang hukum positifnya diwarisi dari Inggris menunjukkan sekulerisasi Inggris pada zaman penjajahannya tidak cukup berhasil dengan adanya majma fiqh, majma zakat dan majma’ sufi walaupun secara institusional dan birokrasi ada keterpengaruhan. Termasuk realita yang tidak bisa dipungkiri yaitu terbaginya kelompok sufi menjadi dua kelompok yaitu sufi dengan semangat institusional dan sufi dengan semangat ikhwan khususnya di kalangan pemerintahan.?

Konsep penelitian dan metodologi adalah penting dikembangkan di negara-negara Muslim agar tidak tersilaukan oleh kemajuan Barat yang seolah memilki peradaban dengan segala disiplin keilmuan dan ? merasa superior untuk menjadi standar bagi peradaban lain. Padahal Indonesia yang dibangun oleh dua peradaban sekaligus; Islam dan Barat ingin menjadi negara inspirator. Ini merupakan peluang promosi di dunia Internasional oleh Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi massa Islam arus utama (mainstream). Promosi bisa dimulai dari Pengurus Cabang Istimewa NU di Sudan atau di negara lain yang memiliki kesamaan kultural yaitu tasawuf untuk melakukan studi komparatif di bidang metodologi istinbath hukum antara lembaga nasional Sudan dengan lembaga nasional Indonesia.

Hal yang perlu ditawarkan adalah kontruk Islam Nusantara dengan penduduk Islam terbesar di dunia. Warna itu bisa dilihat pada kekayaan tradisi seperti tradisi halal bihalal, selametan, kupatan dan sebagainya kemudian diinteraksikan secara produktif. Produksi budaya ini merupakan akumulasi pengalaman para pendiri bangsa yang terwariskan. Pengalaman asketis yang diwariskan Walisongo, eskapis khas Gus Dur dengan “gitu aja kok repot”, rasionalisme induktif KH Sahal Mahfudh telah menjadi bahan bagi ? konstruk Islam Nusantara yang tidak sinkretik namun memiliki hubungan dialektik antara agama dengan budaya dan bukan penundukan-subordinatif.?

Akan sangat memprihatinkan jika ada negara dengan penduduk Muslim terbesar mudah terprovokasi untuk melakukan tindak kekerasan nama agama. Sudah semestinya institusi pendidikan maupun organisasi mampu membawa semangat rekonsiliasi antara berbagai pihak. Sehingga perlu bagi kaum muda bangsa Indonesia untuk belajar dari sejarah bangsanya sendiri sekaligus mendakwahkan ke negara lain. Perlu bagi NU dengan cabang-cabang istimewanya di luar negeri ingin menjalin interaksi ilmiah, mensosialisasikan karya dengan bahasa asing dan kerja sama di bidang sosial-keagamaan. Tujuan eksternal dari sosialisasi ini adalah menghilangkan citra buruk tentang Islam yang menguasai kesadaran kolektif masyarakat Barat. Sedangkan tujuan internalnya adalah membentuk intelektual muda NU yang memiliki karya intelektual dengan metodologi penelitian yang mapan dan kesadaran kolektif tentang moderasi Islam.?

Penelitian ini fokus pada studi komparatif antara metodologi istinbath hukum NU di Indonesia dengan Majma Fiqh Sudan sebagai langkah internasionalisasi moderasi Islam. Disamping berupaya menemukan titik-titik persamaan antara keduannya dalam upaya rekonsiliasi antara agama dan budaya, juga untuk memberi kontribusi dalam melestarikan peradaban Islam. Tantangan yang bisa dikatakan sama adalah tantangan de-NU-isasi di Indonesia dan ? tantangan radikalisasi di negara Sudan. Melalui pengurus cabang Istimewa di luar negeri, NU menjalankan peran deradikalisasi. Langkahnya adalah melakukan dialog dengan negara tempat pembekalan untuk ambil bagian dalam proyek internasionalisasi moderasi Islam. Pesantren yang menjadi pondasi ajaran NU ditemukan di Sudan dengan sebutan khalwah. Namun Gerakan Ayo Mondok belum ada di Sudan. Solusi yang ditawarkan adalah menghidupkan majlis talaqqi dan seminar internasional untuk menjalin interaksi produktif menuju kesepahaman.?

Adapun aspek yang dikembangkan adalah aspek manhaj atau metodologi dua negara yang memiliki pandangan dunia dan sistem pengetahuan yang dalam tahap hipotesis dikatakan sama. Penggunaan metodologi Islam dalam penelitian ini adalah karena konsistensi dan akurasinya berbeda dengan model Barat sebagaimana berikut :

1. Barat menyepakati adanya konstruk pemikiran namun tetap memunculkan perbedaan epistemologi di kalangan mereka. Perbedaan itu terjadi antara tawaran Hegel dengan tawaran Karl Marx. Keduanya sepakat akan kebutuhan terhadap konstruksi pemikiran namun kerangka metodologinya berbeda baik menyangkut “bagaimana”, “apa” dan “ke mana”.?

2. Kontruksi pemikiran dan metodologi Barat nampak sebagai fenomena baru. Kebaruan ini merefleksikan perjalanan sejarah Barat itu sendiri. Interaksi pemikiran dunia mereka selalu baru dan berkembang sampai tidak bisa dipilah mana yang secara prinsip ? “tetap” dan mana yang “berubah”.?

3. Konstruksi pemikiran dan metodologi Barat merupakan refleksi dari karakteristik masyarakat Barat yang sangat kompleks. Ini merupakan salah satu unsur problematik dalam metodologi Barat.?

Dari sini muncul pertanyaan mendasar mengapa harus menggunakan metodologi Islam, maka perlu dipertimbangan faktor-faktor berikut :

1. Umat Islam meyakini bahwa Islam memiliki pandangan komprehensif tentang kehidupan. Ini dalam sistem teologis merupakan bagian dari “al ma’lum min al din bi al dharurah”; artinya perkara yang tidak ada alasan bagi seorang Muslim untuk tidak mengetahuinya.?

2. Umat Islam memberikan kontribusi dalam persoalan metodologi. Ini sudah dibuktikan oleh sejarah kodifikasi ilmu di berbagai bidang.?

3. Keberlangsungan umat Islam dalam menjaga identitas ke-islam-an tidak berhenti di ? dunia teori melainkan dibuktikan dalam kehidupan nyata dengan kerangka metodologinya.?

* Aktivis PCINU Sudah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi News, Syariah, Sejarah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 07 November 2017

Laksanakan Amanat Mukamar, PBNU Dorong Mabadiku Wujudkan Kesejahteraan Ekonomi

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi?



Ketua PBNU bidang ekonomi H. Eman Suryaman mengatakan, keberadaan Mabadiku merupakan bagian implementasi dari hasil muktamar NU ke-33 di Jombang yang harus segera direalisasikan.?

Ia menyampaikan hal itu saat membuka Rapat Kerja Pengurus Koperasi Mabadiku Bintang Sembilan di lantai 5, Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Sabtu (19/8).

Laksanakan Amanat Mukamar, PBNU Dorong Mabadiku Wujudkan Kesejahteraan Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)
Laksanakan Amanat Mukamar, PBNU Dorong Mabadiku Wujudkan Kesejahteraan Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)

Laksanakan Amanat Mukamar, PBNU Dorong Mabadiku Wujudkan Kesejahteraan Ekonomi

Menurutnya, pada Muktamar ke-33 NU di Jombang ini menghasilkan tiga poin, yakni bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Bidang pendidikan dan kesehatan akan terwujud apabila bidang peningkatan ekonominya bisa diimplementasikan di berbagai bidang.

Ia menceritakan, dulu, para kiai NU sebelum mendirikan Nahdlatut Ulama, yang didirikan terlebih dahulu adalah Nahdlatul Tujjar, kesejahteraan ekonomi umat.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Ini kami sampaikan demikian ini untuk semangat kita semua. Bahwa kita sangat penting sekali mensejahterakan umat. Kalau umat sudah sejahtera, tidak lagi nanti terombang-ambing dengan yang akan merugikan kita ini, (merugikan) bangsa Indonesia, " katanya.?

Ia berharap, semua pengurus Mabadiku dapat bersinergi dengan baik, bahkan bila perlu bekerja sama dengan pihak lain agar Mabadiku dapat berkembang dengan cepat.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pada acara tersebut, juga dilakukan nota kesepahaman (MOU) antara Koperasi Mabadiku Bintang Sembilan dengan delapan mitra, yakni PT Hydro, PT Japfa Confeed Indonesia Tbk, Fakultas Peternakan Brawijaya Malang, PT FX Indonesia, PT Mukti Mitra Abadi, PT Berkah Manunggal Sejati, PT Cipta Indo Buana, UNU Cirebon. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kyai, Sejarah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 21 Oktober 2017

Jokowi: Alhamdulillah Kita Islam Nusantara

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pada acara "Istighotsah Menyambut Ramadhan1436 H dan Pembukaan Munas alim Ulama", Presiden Joko Widodo menyampaikan kebanggaannya terhadap karakter keberislaman yang berkembang di Tanah Air.

Jokowi: Alhamdulillah Kita Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Jokowi: Alhamdulillah Kita Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Jokowi: Alhamdulillah Kita Islam Nusantara

Hal itu Jokowi sampaikan menyusul kegelisahannya terhadap kekisruhan dan kegoncangan politik di negeri-negeri Muslim di Timur Tengah.

"Di Suriah, di Irak (goncang). Alhamdulillah kita Islam Nusantara. Islam yg santun, Islam yang penuh tata krama, Islam yang penuh toleransi," katanya di hadapan puluhan ribu jamaah yang menyesaki Masjid Istiqlal, Jakarta, Ahad (14/6) sore.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Mantan Walikota Solo ini mengaku sering menyampaikan pada forum-forum internasional tentang kebesaran jumlah penduduk Muslim dibanding negara-negara lain di dunia. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Kenapa saya sampaikan itu? Karena itu adalah kekuatan kita," ujarnya disambut riuh tepuk tangan.

Mengenai penetapan Hari Santri Nasional, Jokowi menegaskan akan mengikuti saran PBNU yang menetapkan hari santri pada 22 Oktober. "Jika sudah melalui musyawarah dan proses yang matang, saya minta kepada Menteri Agama agar secepatnya diproses sehingga cepat masuk ke meja saya untuk langsung saya tandatangani ketetapan hari santri tersebut," jelas Jokowi. 

Jokowi dalam kesempatan itu juga membuka secara resmi Munas Alim Ulama NU 2015. Ia berharap NU terus melanjutkan jejak sejarah para pendahulunya tentang komitmen terhadap Pancasila dan pembangunan nasional.

Majelis akbar tersebut dihadiri para pejabat negara, perwakilan Pemda DKI, para kiai, dan warga NU dari segenap badan otonom NU, baik yang datang dari Jawa Barat maupun Jabodetabek. (Mahbib/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Sejarah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 12 Oktober 2017

Fatwa NU Wajibkan Masyarakat Tolak Eksploitasi Alam Indonesia

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Forum bahtsul masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengeluarkan fatwa wajib bagi masyarakat untuk melakukan gerakan amar ma’ruf dan nahi munkar atas aktivitas eksploitasi sumber daya alam Indonesia. Para kiai mengajak masyarakat berjihad menolak perusakan alam akibat eksploitasi baik oleh perusahaan negara maupun korporasi swasta.

Fatwa ini diputuskan para kiai dalam sidang bahtsul masail PBNU di pesantren Al-Manar Azhari, Limo, Depok, Sabtu-Ahad (9-10/5).

Fatwa NU Wajibkan Masyarakat Tolak Eksploitasi Alam Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatwa NU Wajibkan Masyarakat Tolak Eksploitasi Alam Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatwa NU Wajibkan Masyarakat Tolak Eksploitasi Alam Indonesia

Fatwa NU ini mencoba menjawab pertanyaan bagaimana seharusnya sikap masyarakat yang melihat perusakan alam akibat penambangan. Para kiai setelah membahas dari pelbagai sisi menegaskan bahwa masyarakat tidak boleh bersikap diam. Warga diharuskan secara syar’i melakukan gerakan advokasi atas hak kelestarian alam.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Sikap yang dilakukan oleh masyarakat adalah wajib amar ma’ruf nahi munkar sesuai kemampuannya,” kata Rais Syuriyah PBNU KH A Ishomuddin membacakan putusan sidang komisi bahtsul masail diniyah waqi’iyah.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurut para kiai, eksploitasi oleh BUMN maupun korporasi lebih mempertimbangkan aspek profit tanpa melihat kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya. Mereka prihatin melihat banyak kubangan raksasa di bekas penambangan yang diterlantarkan begitu saja akibat aktivitas eksploitasi yang mengejar keuntungan.

Belum lagi kasus lumpur yang mengusir secara paksa warga sejumlah kecamatan di Sidoarjo untuk keluar dari tempat kelahiran dan kediaman mereka. Sementara manusia sendiri tidak bisa memperbaiki alam yang sudah rusak.

Pelaku eksploitasi tidak lagi memikirkan kerusakan alam, rusaknya tatanan musim, pancaroba berkepanjangan, pencemaran air dan udara, musnahnya segala biota, flora, dan fauna yang hidup nyaman di alam Indonesia.

Para kiai tidak bisa menerima cara berpikir pelaku eksploitasi yang menganggap kerusakan alam itu sebagai konsekuensi yang wajar-wajar saja dari sebuah pertumbuhan ekonomi.

Legal ataupun tidak legal, masyarakat wajib melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar. Pasalnya, aktivitas legal yang dijalankan oleh BUMN ataupun korporasi bukan berarti tidak memiliki dampak kerusakan alam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Nahdlatul Ulama, Sejarah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 21 September 2017

Akrab dengan Tuhan

Entah karena apa, pertemuan Gus Dur dan dengan Kiai Hasyim Muzadi berlangsung kaku, tak seperti sebelum-sebelumnya.

Untuk menyegarkan suasana, Pak Syairozi (saat itu Ketua PW LP Maarif NU Jatim) mulai memancing ger-geran. Ia menceritakan kisah mengenai "pujian" sebelum shalat subuh yang biasanya dibaca di langgar-nya KH. Imron Hamzah (Rais Syuriah PWNU Jatim era 1990-an), yang khas dan unik.



Akrab dengan Tuhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Akrab dengan Tuhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Akrab dengan Tuhan

Kalau biasanya di langgar atau masjid orang NU sebelum subuh dibacakan pujian "La Ilaha Illa Anta, Ya Hayyu Ya Qoyyum", tapi di langgar-nya Kiai Imron Hamzah pujiannya malah berbunyi, "La Ilaha Illa Ente, Ya Hayyu Ya Qoyyum".

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Mendengar kisah dari Pak Syairozi, kedua tokoh NU itu langsung tergelak. "Wah, ternyata di sana warga NU sangat akrab dengan Tuhan. Buktinya, Tuhan saja dipanggil Ente!" celetuk Gus Dur.

Pancingan berhasil, suasana kembali cair. (Muhammad Nuh)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pesantren, Sejarah, Ahlussunnah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 15 September 2017

Pesan KH Marzuqi Mustamar Terkait Kepengurusan NU

Jombang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Saat tampil sebagai narasumber terakhir pada seminar kepahlawanan nasional KH A Wahab Chasbullah, KH Marzuqi Mustamar memberikan rambu-rambu terkait kepengurusan NU.? Baginya, rentang sejarah panjang pendirian NU hendaknya dapat dijadikan pelajaran berarti bagi perjalanan NU di masa mendatang.

Pesan KH Marzuqi Mustamar Terkait Kepengurusan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesan KH Marzuqi Mustamar Terkait Kepengurusan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesan KH Marzuqi Mustamar Terkait Kepengurusan NU

"Pertama kali pendirian NU yang antara lain dipelopori KH A Wajhab Chasbullah adalah mewaspadai gerakan Wahabi," kata Wakil Rais PWNU Jatim ini, Ahad (17/5). Keberadaan Komite Hijaz yang dipimpin langsung Mbah Wahab untuk menghadap penguasa baru Saudi Arabia adalah fakta bahwa gerakan wahabi menjadi salah satu alasan berdirinya NU, lanjutnya.

Karena itu Kiai Marzuqi berharap bahwa siapa saja yang akan terlibat dalam kepengurusan NU, khususnya hasil Muktamar NU mendatang adalah mewaspadai dengan seksama kelompok Wahabi. "Pengurus NU ke depan, harus punya kepekaan akan bahaya Wahabi," tandas dosen di UIN Malik Ibrahim Malang ini.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pesan kedua yang disampaikan mantan Ketua PCNU Kota Malang ini adalah agar diupayakan, para pengurus NU di semua tingkatan berasal dari kalangan pondok pesantren salaf dan nasab ulama salaf. "Karena para pendukung dan pejuang NU saat masa awal adalah para santri dan kiai dari pesantren salaf," terangnya. Bahkan tidak ada catatan dalam sejarah bahwa pendukung NU adalah dari kalangan pesantren modern, lanjutnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sedangkan pesan ketiga adalah para pengurus NU masa depan adalah mereka yang tidak terlalu dekat dengan persoalan politik praktis. "Silakan kita memiliki banyak pilihan politik," katanya. Namun dengan jumlah jamaah yang demikian besar, maka membawa warga apalagi jamiyah NU kepada politik praktis sangat berbahaya.

Apa yang telah dilakukan oleh KH A Wahab Chasbullah sangat tepat dan benar. "NU selama ini sudah benar," katanya. Demikian juga adalah pilihan yang tepat kalau kemudian yang dipilih adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI. "NU yang benar, pilihan bentuk negara yang tepat sehingga mampu mengayomi warga adalah warisan paling berharga dari kiprah Mbah Wahab," pungkasnya.

Pj Rais Aam PBNU KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) dan Ketua Lesbumi Sastro Ngatawi sedianya turut mengisi acara seminar kali ini, namun berhalangan hadir karena sedang ada acara pra-muktamar NU zona Sumatera. (Syaifullah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Anti Hoax, Sejarah, Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren An-Nur Slawi