Tampilkan postingan dengan label Syariah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syariah. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Februari 2018

Posisi Hadits dalam Hukum Islam

Hadits dalam hukum Islam dianggap sebagai mashdarun tsanin (sumber kedua) setelah Al-Quran. Ia berfungsi sebagai penjelas dan penyempurna ajaran-ajaran Islam yang disebutkan secara global dalam Al-Quran. Bisa dikatakan bahwa kebutuhan Al-Quran terhadap hadits sebenarnya jauh lebih besar ketimbang kebutuhan hadits terhadap Al-Quran.

Kendati demikian, seorang Muslim tidak dibenarkan untuk mengambil salah satu dan membuang yang lainnya karena keduanya ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan.

Posisi Hadits dalam Hukum Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Posisi Hadits dalam Hukum Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Posisi Hadits dalam Hukum Islam

Untuk mengeluarkan hukum Islam, pertama kali para ulama harus menelitinya di dalam Al-Quran. Kemudian setelah itu, baru mencari bandingan dan penjelasannya di dalam hadits-hadits Nabi karena pada dasarnya tidak satupun ayat yang ada dalam Al-Quran kecuali dijelaskan oleh hadits-hadits Nabi.

Dengan sinergi beberapa ayat dan hadits tersebut, seorang ulama bisa memutuskan hukum-hukum agama sesuai dengan persoalan yang dihadapi, tentunya dengan dukungan ilmu dan perangkat pengetahuan yang mumpuni terhadap kedua sumber tersebut.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurut Abdul Wahab Khallaf, seorang ahli hukum Islam berkebangsaan Mesir, hadits mempunyai paling tidak tiga fungsi utama dalam kaitannya dengan Al-Quran :

Pertama, hadits berfungsi sebagai penegas dan penguat segala hukum yang ada dalam Al-Quran seperti perintah shalat, puasa, zakat dan haji. Abdul Wahab Khallaf mengatakan,

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Adakalanya hadits berfungsi sebagai penegas dan penguat terhadap hukum yang ada dalam Al-Quran.”

Kedua, hadits juga berfungsi sebagai penjelas dan penafsir segala hukum yang bersifat global dalam Al-Quran, seperti menjelaskan tatacara shalat, puasa, zakat dan haji.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Adakalanya hadits berfungsi sebagai penjelas dan penafsir terhadap hukum global/umum yang disebutkan dalam Al-Quran.”

Ketiga, hadits juga berfungsi sebagai pembuat serta memproduksi hukum yang belum dijelaskan oleh Al-Quran seperti hukum mempoligami seorang perempuan sekaligus dengan bibinya, hukum memakan hewan yang bertaring, burung yang berkuku tajam dan lain sebagainya. Khallaf kembali mengatakan sebagai berikut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Adakalanya hadits berfungsi sebagai penetap dan pencipta hukum baru yang belum disebutkan oleh Al-Quran.”

Dengan demikian, karena begitu pentingnya posisi hadits dalam konsepsi hukum Islam, maka seseorang yang akan berkecimpung di dalamnya diharuskan untuk mengenal istilah dasar dalam ilmu hadits, menguasai kaidah-kaidah takhrij dan kajian sanadnya, serta mengetahui seluk beluk dan tatacara memahami redaksinya.

Pembacaan yang tidak paripurna serta serampangan terhadap hadits akan membuat seseorang keliru dan bahkan juga membuat keliru orang lain. Wallahu a’lam. (Yunal Isra)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Syariah, Budaya Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 25 Februari 2018

PBNU Desak Pemerintah Tegas Respon Klaim Saudi

Sebanyak 34 negara Islam dan negara berpenduduk mayoritas muslim dari Timur Tengah, Afrika, dan Asia dikabarkan bergabung dalam aliansi militer yang dibentuk Saudi Arabia. Koalisi tersebut dibentuk untuk membasmi terorisme dan ekstremisme yang dilakukan kelompok seperti ISIS.

Di luar 34 negara tersebut masih ada 10 negara lagi yang dinyatakan mendukung, salah satunya Indonesia. Menteri Luar Negeri Saudi Arabia Muhammad bin Salman dalam sebuah konferensi persnya menyatakan bahwa pemerintah Indonesia sudah menyatakan dukungan, namun di pihak lain, mendapati hal itu Retno Marsudi membantah dan menyatakan bahwa pemerintah Indonesia belum mengeluarkan pernyataan resmi.

PBNU Desak Pemerintah Tegas Respon Klaim Saudi (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Desak Pemerintah Tegas Respon Klaim Saudi (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Desak Pemerintah Tegas Respon Klaim Saudi

Sesungguhnya yang patut untuk dipersoalakan adalah mengapa yang dibentuk oleh pemerintah Saudi Arabia adalah aliansi militer bukan pusat atau center kajian penaggulangan terorisme?

Pertanyaan ini menemukan relevansinya dan dianggap penting mengingat kejahatan yang akan diperangi adalah terorisme, sebuah kejahatan yang terstruktur dan masif serta bersifat sublim.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Terorisme bukan persoalan angkat senjata, ia menebar teror dan ancaman. Dalam ungkapan lain berperang melawan terorisme adalah berperang yang mengharuskan kita menggunakan teknik peperangan tingkat tinggi (hybrid warfare).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Mendapati kerja-kerja terorisme yang sublim tersebut tentu saja sangat naïf jika yang kita lakukan adalah justru membentuk aliansi militer. Bisa dikatakan ia akan sia-sia belaka.

Lebih dari itu, jika dikaji lebih dalam untuk konteks saat ini pascabubarnya Pakta Warsawa, sesungguhnya tak ada aliansi militer yang efektif kecuali NATO yang berada di bawah PBB langsung.

Apa yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia dengan mengirimkan nota protes diplomatik harus sepenuhnya kita dukung. Sebab tercatat bererapa kali pemerintah Saudi Arabia melakukan kebijakan-kebijakan politik luar negeri yang bersifat serampangan dan cenderung gegabah dan main klaim belaka.

Mendapati hal di atas, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memberikan dukungan penuh kepada pemerintah untuk mengkaji lebih serius ihwal klaim dan pencatutan Indonesia dalam aliansi militer Islam tersebut.

Mengimbau kepada pemerintah untuk merespon tegas politik luar negeri Saudi Arabia yang cenderung merugikan bangsa Indonesia.

Terakhir, PBNU menyerukan kepada segenap umat Islam untuk tetap berwaspada akan isu-isu yang berpotensi memecah belah persatuan. Di luar itu umat Islam diimbau untuk terus menjaga harmoni dalam keberagaman.

Jakarta, 18 Desember 2015

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama

Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA? ? ? ? ? ? Dr. Ir. H.A. Helmy Faishal Zaini

Ketua Umum? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? Sekretaris Jenderal

?

?

?

*Foto:? Putra mahkota sekaligus Menteri Pertahanan Arab Saudi Mohammed bin Salma Selasa mengumumkan pembentukan 34 negara koalisi militer Islam untuk memerangi terorisme.?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Habib, Makam, Syariah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 10 Februari 2018

Danramil Wanasari Minta Pelajar NU Waspadai Paham Radikalisme

Brebes, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pelajar NU yang tergabung dalam Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) diminta untuk mewaspadai paham radikalime. Sebab, pasca reformasi yang ditandai dengan terbukanya kran demokratisasi telah menjadi lahan subur tumbuhnya kelompok radikal.

Hal tersebut disampaikan Danramil Wanasari Kapten Nediono pada Halaqoh Radikalisme dalam rangka pelantikan Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU-IPPNU Kecamatan Wanasari Brebes, di aula kantor kecamatan setempat, Ahad (8/1/17) lalu.

Danramil Wanasari Minta Pelajar NU Waspadai Paham Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Danramil Wanasari Minta Pelajar NU Waspadai Paham Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Danramil Wanasari Minta Pelajar NU Waspadai Paham Radikalisme

Menurut Nediono, fenomena radikalisme di kalangan umat Islam seringkali disandarkan dengan paham keagamaan, sekalipun pencetus radikalisme bisa lahir dari berbagai sumbu, seperti ekonomi, politik, sosial dan sebagainya.

Radikalisme yang berujung pada terorisme menjadi masalah penting bagi umat Islam Indonesia dewasa ini. “Pelajar NU jangan sampai tergiur apalagi sampai terseret ke paham yang membawa kemudaratan,” ujarnya.?

Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) Jakarta sungguh mengejutkan. Penelitian yang dilakukan antara Oktober 2010 hingga 2011 terhadap guru PAI dan siswa (SMP dan SMA) di Jabodetabek menunjukkan bahwa 49 % siswa setuju dengan aksi radikalisme demi agama.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Di sini, pelajar NU harus waspada, karena peran guru-guru PAI sangat strategis untuk menanamkan Islam yang radikalis atau yang moderat,” terangnya.?

Pelajar yang tidak memiliki latar belakang pendidikan agama (pesantren), sangat mudah terpengaruh model-model Islam harfiah yang diajarkan guru atau ustadz mereka. Oleh karena itu, pihak sekolah dan guru agama perlu menjalin kerja sama dengan ormas-ormas Islam yang dikenal mengajarkan Islam moderat. Hal ini penting supaya anak didik memiliki wawasan yang luas tentang paham keislaman.

“Tapi saya yakin, pelajar NU menjadi pelopor anti radikalisme dalam upaya mempertahankan NKRI, NKRI harga mati!,” teriak Nediono disambut pekik "merdeka" oleh hadirin.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ketua Panitia Pujiyono menjelaskan pelantikan PAC IPNU- IPPNU Wanasari masa khidmah 2016-2018 merupakan hasil dari Konferensi Anak Cabang di desa Tegalgandu 26-27 November 2017 silam.

Pelantikan merupakan seremonial sebuah organisasi sebelum menjalankan tugas sebagai pengurus. Dari kegiatan ini pengurus diambil sumpah dan janji sebagai pengurus agar bisa amanah selama berkhidmah. Acara dilanjutkan dengan Rapat Kerja Anak Cabang untuk menyusun program selama dua tahun.?

Ketua PAC IPNU Wanasari Edi Purwanto menambahkan, dalam kepengurusan memiliki program unggulan antara lain membentuk komisariat di berbagai sekolah baik dibawah naungan LP Maarif maupun sekolah umum.

“Sebagai organisasi berbasis pelajar, harus bisa bermanfaat untuk pelajar dan masyarakat sekitar, terutama dalam turut membentuk pribadi yang berakhlakul karimah,” tegasnya.

Camat Wanasari Nuruddin SH berharap sebagai organisasi pelajar, IPNU IPPNU diminta untuk berpegang teguh terhadap fatwa dan nasihat para alim ulama. Karena, melalui para alim ulamalah watak dan kepribadian Nabi Muhammad SAW diwariskan. "Kontribusi IPNU-IPPNU terhadap pembangunan daerah telah terbukti nyata,” pujinya.

?

Pengurus IPNU yang dilantik antara lain Ketua Edi Purwanto, Sekretaris M Abdul Heru, Bendahara Abdul Muis sedangkan pengurus IPPNU Ketua Lia Ulfiyanah, Sekretaris Siti Nur Janah dan Bendahara Fitria Nur Baeti. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Syariah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 09 Februari 2018

Dari Sejarah Wayang, Gus Mus Jelaskan Hakikat Dakwah

Rembang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Mengenai prinsip dan etika dakwah yang ramah dan beradab, KH Ahmad Mustofa Bisri mengutip simbolisasi yang ada di dunia pewayangan. Jamak diketahui, wayang adalah di antara seni budaya lokal yang digunakan Walisongo untuk media dakwah.

Meski ceritanya dari Mahabharata, wayang mampu dielaborasi oleh para Wali dengan memasukan banyak nilai-nilai kebijaksanaan Islam.

Dari Sejarah Wayang, Gus Mus Jelaskan Hakikat Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)
Dari Sejarah Wayang, Gus Mus Jelaskan Hakikat Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)

Dari Sejarah Wayang, Gus Mus Jelaskan Hakikat Dakwah

Di antaranya, kisah konflik antara Pandawa dan Kurawa. Jika dipahami dengan jernih, sebenarnya Pandawa dan Kurawa bukan simbol untuk menggambarkan secara berlawanan antara golongan yang baik dan buruk.

"Dari sudut pandang kemanusiaan, Pandawa adalah simbol dari golongan yang telah mencapai kebenaran, atau dalam istilah tasawuf, mereka sudah wushul ila al-Khaqq. Sedangkan Kurawa menyimbolkan golongan yang masih berproses atau mencari, bergerak dan menuju kebenaran," terang Gus Mus, sapaan akrab KH Ahmad Mustofa Bisri di hadapan rombongan Ekspedisi Islam Nusantara, Jumat (8/4).

Oleh karena itu, lanjut Gus Mus, seburuk-buruknya tindakan dan sikap orang lain yang tampak di mata kita, ia tidak bisa serta-merta dianggap musuh yang harus diperangi. Tetapi sebenarnya ia masih berpotensi untuk menjadi baik. Ia masih berproses dan bergerak mendekati kebaikan.

Gus Mus menguatkan pandangan ini dengan mendasarkannya pada sejarah Islam periode awal. Menurut pengasuh Pesantren Raudlatuh Tholibin Rembang ini, Khalid bin al-Walid semula adalah musuh Islam yang menentukan kemenangan pasukan musyrikin di perang Uhud. Juga Ikrimah bin Abi Jahal, Abi Sufyan, Hindun istri Abi Sufyan, dan Umar bin al-Khatthab. Mereka semula adalah orang-orang "kurawa" yang kemudian berubah menjadi pembela Islam.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menjadi tidak mengherankan jika dalam berdakwah dibutuhkan kebesaran jiwa, kesabaran, dan penghargaan yang tinggi terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Rombongan Ekspedisi Islam Nusantara berangkat dari Jakarta untuk keliling Jawa dalam rangka menelusuri jejak-jejak sejarah yang terkait dengan tradisi Islam Nusantara.

Sebelumnya, mereka sempat mengadakan sarasehan bertajuk Dialog Lintas Iman kemudian disambung dengan Deradikalisasi dan Anti Narkoba di pendopo rumah dinas Bupati di jalan Dr. Soetomo Rembang. Hadir saat itu, PCNU Rembang dan tokoh masyarakat dari berbagai kalangan. (Zunus)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Syariah, Kajian, Sunnah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 07 Februari 2018

Komunitas Pramuka Maarif NU Surabaya Dikukuhkan

Surabaya,Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Wakil Walikota Surabaya mengukuhkan Majelis Pembimbing dan Kepengurusan Satuan Komunitas Pramuka Maarif (Sakoma) Nahdlatul Ulama di gedung Museum NU Jalan Gayungsari Timur No 35 Surabaya, Sabtu (10/9). Kepengurusan Sakoma Surabaya masa khidmah 2016-2021 tersebut diketuai M Masad.

Komunitas Pramuka Maarif NU Surabaya Dikukuhkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Komunitas Pramuka Maarif NU Surabaya Dikukuhkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Komunitas Pramuka Maarif NU Surabaya Dikukuhkan

Tampak hadir dalam pengukuhan kepengurusan Sakoma yakni Ketua PCNU Surabaya Muhibin Zuhri. Selain itu pengukuhan kepengurusan Sakoma itu juga dihadiri ratusan anggota yang tergabung dalam Pramuka Sakoma seluruh Surabaya.

Dalam kesempatan tersebut Ketua PCNU Surabaya Achmad Muhibbin Zuhri juga berharap Ssakoma menjadi kekuatan penopang utama misi penanaman karakter relegius dan nilai-nilai kebangsaan pada calon pemimpin bangsa di masa mendatang.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Generasi Aswaja menebar kemanfaatan, toleran dan merahmati seperti harumnya bunga mawar, tetapi juga tegas dan siap dalam mengahadapi semua ancaman yang merongrong ideologi dan kedaulatan bangsa," tegasnya.

Majelis Pembimbing Sakoma,? HM Jalaluddin mengatakan, dibentuknya Sakoma ini tujuannya adalah pembinaan generasi muda di lingkungan pendidikan Maarif Nahdlatul Ulama. Lebih jauh adalah pembinaan generasi muda terutama di Surabaya agar perilakunya tidak meinyimpang dari sendi agama, nasionalis dan kebangsaan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Selain membangkitkan Pramuka kembali terhadap para pelajar, kami juga akan membentengi dengan patron Aswaja. Selain itu juga para Pramuka akan kami gerakkan dan bekali dengan menolak paham radikalisme yang saat ini sudah masuk ke sekolah dan kampus," ujar Jalaluddin.

Saat ini ada sekitar 250 sekolah dibawah Yayasan Maarif di Surabaya. Pembentukan Sakoma di Surabaya menurut Jalaluddin adalah ketiga setelah di Kabupaten Ponorogo dan Ngawi. Rencananya Sakoma akan terus dikembangkan di lingkungan sekolah-sekolah dibawah Yayasan Maarif Nahdlatul Ulama ini.

Sementara itu, Wakil Walikota Surabaya, Wisnu Sakti Buana menyambut baik adanya Sakoma, menurutnya, dengan Sakoma ini para generasi muda mendapat pendidikan di luar pendidikan formal yang positif. "Semoga dengan adanya Sakoma menambah nilai positif untuk para pelajar dan generasi muda di Surabaya," ujarnya. (Win/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Syariah, PonPes Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 27 Januari 2018

Pelajar NU Pati Tumbuhkan Semangat Cinta Alam

Pati, Pondok Pesantren An-Nur Slawi?

Puluhan pelajar IPNU Pati dan mahasiswa tergabung dalam Forum Pupupala (Pelajar IPNU-IPPNU Pecinta Alam) Pati mendaki Gunung Slamet, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, baru-baru ini.

Ketua Forum Pupupala Pati, Moh. Syamsul Arifin yang juga sebagai sekretaris PAC GP Ansor Kecamatan Sukolilo, mengatakan kegiatan pendakian Gunung Slamet merupakan cara yang terbaik untuk merenungkan makna kepedulian terhadap lingkungan. Menjaga dan melestarikan alam dengan melihat keindahannya.?

Pelajar NU Pati Tumbuhkan Semangat Cinta Alam (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Pati Tumbuhkan Semangat Cinta Alam (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Pati Tumbuhkan Semangat Cinta Alam

Menurut dia, berada di alam terbuka merasa lebih menyatukan diri dengan alam sekaligus mempererat persaudaraan dengan sesama komunitas pecinta alam lainnya. Termasuk juga dengan komunitas alam beberapa mahasiswa yang ikut dalam pendakian tersebut.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Bagi kami ini yang terbaik untuk menanamkan jiwa kecintaan alam dengan cara menjaga kelestarian alam dan mempererat tali persaudaraan," katanya.

Pendakian yang berlangsung kurang lebih tiga hari itu memberikan kebersamaan dalam menajaga dan melihat keindahan alam. Selanjutnya para pecinta alam melakukan kegiatan "Sapu Gunung" yaitu membersihkan berbagai jenis sampah yang ada di sekitar lokasi bekas kawah Gunung Slamet.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Redaktur ? ? : Abdullah Alawi?

Kontributor : Muhammad Mubarok?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Syariah, Anti Hoax Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 23 Januari 2018

Prihatin Merebaknya Minimarket, PMII Jepara Unjuk Rasa

Jepara, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jepara merasa prihatin merebaknya keberadaan minimarket yang berada di kabupaten Jepara. Mereka memadati kantor bupati dan DPRD setempat. Di sini mereka menyatakan tuntutannya.

Sesuai data yang diterima PMII dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jepara, ada 53 toko modern yang berizin. Sementara fakta di lapangan sesuai kajian PMII jumlah itu menggelembung menjadi 70an toko.

Prihatin Merebaknya Minimarket, PMII Jepara Unjuk Rasa (Sumber Gambar : Nu Online)
Prihatin Merebaknya Minimarket, PMII Jepara Unjuk Rasa (Sumber Gambar : Nu Online)

Prihatin Merebaknya Minimarket, PMII Jepara Unjuk Rasa

PMII menyayangkan pihak terkait tidak lantas mengambil tindakan. Padahal beberapa waktu lalu PMII sudah beraudiensi dengan pihak terkait agar segera menertibkan toko-toko yang izinnya sudah kedaluarsa dan yang disinyalir belum berizin.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Karena tidak mengindahkan audiensi ini, PMII Jepara memutuskan untuk unjuk rasa. Mereka menyampaikan aspirasi turun ke jalan. Sebanyak ratusan mahasiswa aktivis PMII Jepara melakukan long march dari Gedung NU Jepara jalan Pemuda 51 menuju kantor Bupati Jepara dan ke Kantor DPRD Jepara, Kamis (21/5) pagi.

Dari rilis yang diterima Pondok Pesantren An-Nur Slawi, PMII menuntut kepada Pemkab Jepara agar melakukan penertiban perizinan pasar modern yang menjamur di kabupaten Jepara. Sebab hal ini mengakibatkan keresahan pelaku pasar tradisional.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pihak PMII dari rilisnya juga mendorong Pemkab Jepara untuk memberikan perlindungan hukum terhadap pedagang kecil dan memberikan pembinaan serta pemberdayaan terhadap pasar tradisional untuk meningkatkan kenyamanan konsumen berbelanja di pasar tradisional.

Saat melewati depan Disperindag ternyata kantor terkait tutup. Beberapa pendemo mencoba merangsek ke dalam tetapi nihil.

Mereka kemudian ditemui oleh Setda Sholih, Kepala Satpol PP Tresno Santoso dan Kabid Perdagangan Disperindag Jepara Florentina Budi K.

Dalam kesempatan itu Sholih menyampaikan akan segera memperketat izin toko modern. Tetapi pihak Pemkab harus mempelajari ulang terkait adanya penggelembungan jumlah toko modern yang tidak sesuai dengan jumlah yang ada di data Disperindag.

Hal lain Florentina menambahkan bahwa pihak Disperindag Jepara ini tidak bisa semena-mena menutup toko modern yang dimaksud. Bisa saja toko modern yang beroperasi berdiri sebelum perda ini ada. Tresno Santoso, Kepala Satpol PP Jepara menjanjikan akan menutup toko yang tidak sesuai perda No. 03 tahun 2010, Senin (25/5) depan.

Di tempat lain, di depan kantor wakil rakyat, Ketua DPRD Jepara Dian Kristiandi meminta kepada PMII agar selalu mengingatkan jika DPRD tidak sesuai dengan koridornya.

Pihaknya berjanji akan segera melakukan revisi perda pasar modern tersebut. “Dalam dengar pendapat insya Allah akan melibatkan elemen masyarakat yakni PMII maupun pedagang pasar,” janjinya.

Sementara itu, Ainul Mahfudz Ketua PMII Cabang Jepara saat ditemui Pondok Pesantren An-Nur Slawi menegaskan pihaknya menanti janji-janji pejabat itu. “Jika janji-janji itu tidak ditetapi kami akan melakukan aksi yang besar lagi,” pungkasnya. (Syaiful Mustaqim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Syariah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 21 Januari 2018

Gus Mus: Jadikan Musibah Sebagai Pengingat Solidaritas Antar Sesama

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH A Mustofa Bisri ikut berduka dan menyampaikan belasungkawa yang dalam khususnya kepada keluarga korban Tsunami di Mentawai dan korban meletusnya Gunung Merapi. “Diiringi doa semoga korban-korban yang meninggal arwahnya diterima Allah dan ditempatkan di tempat yang layak,” ujar Gus Mus melalui pesan singkatnya kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi (27/10).

Ia juga mengajak warga NU untuk mendoakan korban-korban yang terluka semoga segera sembuh. “Semoga keluarga korban diberi kesabaran dan menerima cobaan ini dengan tabah dan ikhlas,” tambahnya.

Gus Mus: Jadikan Musibah Sebagai Pengingat Solidaritas Antar Sesama (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Jadikan Musibah Sebagai Pengingat Solidaritas Antar Sesama (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Jadikan Musibah Sebagai Pengingat Solidaritas Antar Sesama

Semenjak tsunami di Aceh beberapa tahun lalu, akhir-akhir ini musibah bencana alam terus menerus terjadi Indonesia. Dan pada hari yang bersamaan (26/10) terjadi musibah tsunami dan letusan gunung berapi. Gus Mus mengingatkan bahwa musibah-musibah itu adalah takdir Allah SWT. “Musibah yang menimpa saudara-saudara kita di Mentawai dan lereng Gunung Merapi seperti musibah-musibah lain di tempat-tempat lain di tanah air, adalah musibah kita semua yang sudah ditakdir Allah,” tegasnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Gus Mus juga mengajak masyarakat untuk bersama membantu para korban bencana alam di Mentawai dan Merapi sesuai dengan kadar kemampuan masing-masing. “Karena itu, kita –khususnya warga NU- perlu melakukan sesuatu seukur dengan kemampuan kita. Minimal dengan berdoa. Mari kita jadikan musibah-musibah ini pengingat bagi solidaritas kita antar sesama hamba Allah. Akhirnya, mari terus mendekatkan diri kepada Allah,” pungkas Gus Mus. (bil)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Internasional, Budaya, Syariah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 20 Januari 2018

Penguatan Jejaring IPPNU Melalui Sosmed Mutlak Dilakukan

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sekretaris Umum PP IPPNU Eva Rosdiana Dewi mengatakan pentingnya penggunaan media sosial untuk memperluas sarana pengenalan serta bagian dari eksistensi organisasi. 

Penguatan Jejaring IPPNU Melalui Sosmed Mutlak Dilakukan (Sumber Gambar : Nu Online)
Penguatan Jejaring IPPNU Melalui Sosmed Mutlak Dilakukan (Sumber Gambar : Nu Online)

Penguatan Jejaring IPPNU Melalui Sosmed Mutlak Dilakukan

Hal ini disampaikan ketika menerima kunjungan silaturahim Ranting Pagedangan, Kecamatan Adiwerna Kabupaten Tegal Jawa Tengah bertempat di Masjid An-Nahdlah tanggal, Kamis 5 Mei 2016. 

Dalam kesempatan tersebut Eva memberikan motivasi untuk semakin meningkatkan kualitas pribadi baik secara intelektual maupun penguatan kader secara kuantitas. 

Eva juga menegaskan, PP IPPNU siap mengawal pengkaderan dari tingkat ranting sampai tingkat wilayah/provinsi, terutama tentang peremajaan usia di IPPNU maksimal usia 30 tahun. Eva juga menegaskan bahwa IPPNU dari tingkat ranting harus tertib secara administrasi, baik secara surat-menyurat atau pendataan anggota (database) secara riil. (Afifah Marwa/Mukafi Niam)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Syariah, Daerah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 12 Januari 2018

Ansor-Polsek Bersama Layani Masyarakat

Semarang. Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Spanduk bertuliskan “Mari Kita Cegah Bersama; Narkoba, Miras, Perjudian dan Curanmor” terpasang memanjang di plataran tembok pintu masuk Terminal Terboyo Semarang. Spanduk imbauan ini dipasang oleh Gerakan Pemuda Ansor Genuk bersama Polsek Genuk, Rabu (5/6).

Kapolsek Genuk Kompol Hendry Yulianto mengatakan, kerja sama tersebut dimaksudkan untuk menjalin kebersamaan dan kepedulian untuk bersama-sama bergandeng tangan turut serta mencegah tindak kriminial pencurian montor dan memberantas penyakit masyarakat seperi narkoba, miras dan perjudian.

Ansor-Polsek Bersama Layani Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor-Polsek Bersama Layani Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor-Polsek Bersama Layani Masyarakat

Spanduk tersebut beragam macam tulisan. Selain yang tersebut di atas,  ada lagi tulisan “Miras: Menghancurkan Generasi Muda”, “Curanmor: Mari Kita Cegah Bersama”. Dana spanduk diperoleh dari iuran anggota Ansor dan Banser serta Polsek Genuk.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Sepatutnya Kepolisian memberikan apresiasi kepada Ansor atas kepedulian terhadap masyarakat. Sebagaimana Kepolisian juga memiliki tugas pokok, hal ini sesuai dengan Undang-Undang RI No 2 Tahun 2013 dalam pasal 13 yakni; Memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, Meneggakan Hukum dan Memberikan perlindungan dan pelayanan kepada masyarakat,” tutur Hendry

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dalam kegiatan kerja sama ini dipasang spanduk di 18 titik di wilayah Genuk yang dihadiri langsung oleh Ketua GP Ansor Genuk Muhammad Sodri dan jajaran pengurus Ansor dan Banser, sedangkan dari Polsek Genuk Kapolsek Genuk Kompol Hendry Yulianto dan beberapa rombongan seperti Kanit Reskrim AKP Suyono dan Kanit Lantas Polsek Genuk AKP Suyadi.

Menurut Muhammad Sodri, kerja sama Ansor dan Polsek Genuk sudah berlangsung lama dan dalam kegiatan ini sebagai bentuk wujud kepedulian terhadap fenomena perilaku menyimpang masyarakat seperti minuman keras, narkoba maupun perjudian yang sepatutnya kita berantas bersama. 

Bagi masyarakat yang mengetahui dan mendapati perilaku tersebut bisa menghubungi Polsek Genuk ke nomor telpon (024) 6581470 dan Ansor Genuk (024) 70284579.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Lukni Maulana

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Cerita, Budaya, Syariah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 03 Januari 2018

Volume dan Bahaya Sampah Mengancam Indonesia

Oleh Hijroatul Maghfiroh

Tanggal 21 Februari ditahbiskan sebagai Hari Peduli Sampah Nasional. Sebagai lembaga yang concern pada isu lingkungan, Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) akan merayakannya dengan berbagai kegiatan, diantaranya pendidikan tentang pentingnya mengelola sampah. Apa pentingnya peringatan peduli sampah dan mengelola sampah?

Volume dan Bahaya Sampah Mengancam Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Volume dan Bahaya Sampah Mengancam Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Volume dan Bahaya Sampah Mengancam Indonesia

Setiap hari kota-kota besar di Indonesia menghasilkan volume sampah yang menakjubkan, Jakarta misalnya, di kota megapolitan ini volume sampah mencapai 7000 ton/hari. Bahkan, di Bali pulau jutaan wisatawan menghasilkan sampah hingga 10.000 ton/hari. Di kota-kota kecil lainnya di Indonesia volume sampah sudah mencapai 2-3 ton/hari.?

Jika volume sampah terus bertambah tanpa dikelola dengan baik, maka bukan mustahil prediksi di tahun 2019 Indonesia akan menghasilkan sampah sebesar 67 juta ton sampah/tahun. Dengan jumlah sampah sefantastis itu, Indonesia akan menghadapi masalah-masalah pelik lingkungan, kesehatan dan bahkan masalah sosial lainnya yang ditimbulkan dari sampah.?

Jumlah volume sampah diatas tidak hanya dihasilkan oleh industri, pertokoan, pasar, tetapi juga dihasilkan oleh setiap individu masyarakat Indonesia. Setiap hari kita menghasilkan sampah hampir mencapai 1 kg/orang/hari, bisa dibayangkan jumlah tersebut dikalikan dengan jumlah penduduk Indonesia. Sebagai bagian dari warga negara, tentunya warga NU turut menyumbang volume sampah.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari jumlah penghasil sampah tersebut, Indonesia tercatat sebagai penghasil sampah plastik terbesar kedua di dunia setelah China. Konsekuensi lain Indonesia juga merupakan penyumbang sampah terbesar ke laut setelah China sebesar 1,29 juta ton/tahun.?

Semua tahu bahwa sampah plastik adalah sampah non-organik yang sangat susah terurai dan memiliki dampak buruk bagi lingkungan. Racun yang terkandung dalam sampah plastik akan membunuh hewan-hewan pengurai seperti cacing. Sampah plastik juga akan mengganggu kesuburan tanah karena menyumbat sirkulasi udara di dalam tanah.?

Sampah plastik yang terbuang di laut juga sangat mengganggu ekosistem laut. Hewan-hewan laut menganggap plastik adalah makanan kemudian memakannya dan meninggal karena tidak bisa dicerna. Tidak hanya menggagu ekosistem laut, tetapi sampah plastik juga menganggu operasi perahu-perahu nelayan yang menggunakan mesin, seketika mesin bisa mati ketika tersangkut sampah plastik.?

Dampak buruk sampah plastik yang dibuang sembarangan ke sungai bisa mengakibatkan pendangkalan sungai dan penyumbatan saluran-saluran air yang mengakibatkan banjir. Jadi sampah plastik tidak hanya mengganggu makhluk hidup tanah dan laut, tetapi juga merugikan petani dan nelayan yang sebagian besar adalah warga Nahdliyin, karena sampah plastik tersebut mengganggu kesuburan tanah untuk bertani, juga menganggu jumlah tangkapan ikan dan transportasi nelayan.

Sampah yang dihasilkan oleh masyarakat Indonesia termasuk warga Nahdliyin tentu bukan hanya sampah plastik saja.Banyak ragam sampah yang dihasilkan, dari yang organik yaitu sampahyang bisa terurai seperti sisa-sisa makanan, sayuran, buah-buahan, dan lain-lain. Juga sampah non-organik yang sulit terurai seperti botol minum, kertas, kardus, styrofoam, busa, kabel, dan lain sebagainya. Sampah-sampah tersebut berbaur menjadi satu begitu saja tanpa ada pemilahan.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kenyataan di lapangan 83% sampah di Indonesia tidak dikelola dengan baik, artinya tidak ada pemilahan sampah organik dan non-organik, apalagi pengelolaannya. Walhasil sampah-sampah tersebut bercampur menjadi satu, menumpuk, menggunung dan terjadilah proses pembusukan. Padahal proses pembusukan sampah tersebut tidak hanya akan mengganggu udara sekitar, tetapi juga mengandung gas methan yang sangat buruk menyumbang pemanasan global. ?

Selain membiarkan sampah menumpuk, cara tradisional lain yang sering dipraktikan oleh masyarakat Indonesia, termasuk warga NU di desa-desa adalah membakar sampah. Cara tersebut terlihat sangat sederhana, tetapi kenyataannya sangat berbahayabagi kesehatan manusiajuga bagi lingkungan sekitar.?

Pembakaran sampah menghasilkan zat Karbonmonoksida (CO) yang sangat mematikan apabila terhirup oleh manusia karena akan menghambat peredaran oksigen ke seluruh tubuh, akibatnya bisa fatal yaitu kematian. Ragam sampah seperti kabel, busa, plastik, styrofoam apabila dibakar juga akan menghasilkan zat-zat yang tidak kalah mematikannya tidak hanya bagi manusia tetapi juga bagi hewan dan tumbuhan.

Menelusuri problematika sampah yang kian hari kian besar dampaknya bagi masyarakat terutama masyarakat kecil, maka PBNU melalui Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) merasa bertanggung jawab untuk berkontribusi memberikan pendidikan dan pengetahuan bagi warga nahdliyin dan juga bangsa Indonesia dari kepungan dampak sampah.?

Karenanya, LPBINU sedang gencar memberikan sosialisasi dan praktik pengelolaan sampah yang benar dan juga menguntungkan melalui bank sampah di tingkat pesantren, masjid dan komunitas. Jika kesadaran warga NU dalam memilah sampah dan mengurangi produksi sampah sudah baik, maka tidak menutup kemungkinan masalah pengelolaan sampah di Indonesia dapat teratasi. Bagaimana pengelolaan sampah yang baik ala LPBINU, ikuti terus artikel berseri ini menyambut hari peduli sampah nasional.

Hijroatul Maghfiroh, Manajer Program Pengurus Pusat LPBINU.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Syariah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 19 Desember 2017

Risau Kiai Mastuhu

Kiai mastuhu sedang risau. Menantu satu-satunya, Basyar, adalah biang keladi kerisauan kiai sepuh itu. Dulu, saat mula-mula Basyar dan orang tuanya datang melamar Laila, Kiai Mastuhu seperti sudah melihat ngalamat.

Ngalamat itu seperti sebuah tanda-tanda yang hanya ditemukan dan diperoleh orang seperti Kiai Mastuhu, yang memiliki tradisi ritual dan spiritual cukup mumpuni.

Tapi Kiai Mastuhu tidak mau disebut sebagai orang tua konservatif, seperti ditudingkan beberapa orang yang sok pintar belakangan ini. Apalagi, posisi sebagai seorang kiai, pastilah tuduhan orang terhadap dirinya sebagai orang konvservatif kian kencang. Karena itulah, atas persetujuan istrinya juga, Kiai Mastuhu merestui pernikahan Basyar-Laila. 

Risau Kiai Mastuhu (Sumber Gambar : Nu Online)
Risau Kiai Mastuhu (Sumber Gambar : Nu Online)

Risau Kiai Mastuhu

Sejak dulu, sebenarnya kiai sepuh dari sebuah pesantren terkenal itu kurang suka dengan anak-anak dari kampus. Basyar saat itu sudah lulus dari jurusan politik.

“Untuk apa belajar politik?” tanya Kiai Mastuhu saat itu. Bibirnya tersenyum tipis.

“Agar kita mengerti politik, Kiai! Politiklah yang mengatur negara ini. Tanpa memahami politik dengan segala seluk-beluknya, kita pasti akan jadi pecundang!” tegas Basyar. 

Gayanya sebagai orang kampus boleh juga. Dahinya beberapa kali bergerak-gerak, menandakan ia seorang pemikir. Memang demikian halnya. Basyar dikenal cukup cerdas. Selain berkemampuan akademik cukup tinggi, Basyar juga sangat populer di kalangan mahasiswa. Berbagai jabatan orgLailasi pernah dipegangnya. Tak heranlah, terdapat sebuah anekdot di kampusnya, bahwa hanya orang kurang pergaulan yang tidak mengenal Basyar. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Rakyat kita masih menderita. Itu gara-gara mereka tidak paham politik. Akibatnya, rakyat mudah ditipu!”

Basyar masih tetap menggebu-gebu. Kiai Mastuhu masih tetap tersenyum, sembari sesekali menggelengkan kepalanya. 

“Tapi politik itu kotor, Nak?”

“Tergantung orangnya. Sebagai orang beragama, kita tidak boleh menjauhi politik. Agama kita mengatur semuanya, termasuk politik.”

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kiai Mastuhu tersenyum simpul. Kepalanya mengangguk pelan-pelan. Lalu pamit ingin masuk kamarnya dulu. Itu dulu. 

Jadilah Basyar menikahi Ning Laila. Pernikahan itu disambut hangat, bahkan gegap gempita dari seluruh kota. Hampir semua media menjadikannya berita. Tayangan infotainment pun tak luput mengangkat momentum pernikahan Basyar-Laila, sembari menambahkan beberapa bumbu gosip. Konon, menurut presenter infotainment itu, Basyar terkenal sebagai don juan di kampus. Tapi, Ning Laila memberikan konfirmasinya. Ning Laila tidak percaya isu itu, dan menganggapnya sebagai fitnah semata.

Seluruh warga pesantren ikut bergembira. Apalagi, baru setahun menjadi keluarga pesantren, Basyar telah berhasil mendatangkan seorang menteri dalam acara haul Kiai Daldiri, kakek Laila. Menteri itu pulang dengan meninggalkan dana milyaran. 

“Ini dana titipan, Kiai. Mudah-mudahan dapat menambah kekurangan pembangunan madrasah,” ujar sang menteri sambil membungkukkan tubuh, lalu mencium tangan Kiai Mastuhu. Dengan alasan ditunggu sebuah acara, sang menteri segera berpamitan. 

Kiai Mastuhu hanya dapat diam. Beliau tak berkutik atas situasi ini. Hati kecilnya ingin menolak. Tapi, madrasah memang sedang membutuhkan dana besar. Sementara, untuk menarik dana dari wali santri, dirinya sungguh tidak tega. Pesantren adalah simbol pendidikan murah bagi rakyat. Bagaimana nasib rakyat di desa-desa bila pesantren pun ikut menaikkan biaya pendidikan? Karena itulah Kiai Mastuhu tidak mampu menolak dana titipan dari sang menteri.

Keberhasilan Basyar mendatangkan seorang menteri ke pesantren, dilanjutkan dengan berbagai kejutan lain. Basyar ditunjuk dan diangkat sebagai seorang anggota Komisi Pemilihan Bupati (KPB) di kota ini. Santri-santri kian bangga dengan menantu kiai mereka. Dalam hati mereka, telah tertanam cita-cita untuk mengikuti jejak Basyar. Dalam mimpinya, para santri mulai membayangkan diri menjadi menteri, presiden, atau anggota KPB, seperti Basyar. 

Belakangan, Basyar juga diminta menjadi pengurus inti di parpol besar. Meski setingkat kabupaten, posisi Basyar semakin menggelembungkan pundi-pundi uangnya. Sudah menjadi rahasia umum, bila politisi itu uangnya banyak.

“Dari mana uang untuk membuat pelatihan kewirausahaan, bantuan bencana alam, sumbangan fakir miskin, kiriman air bersih, atau menyekolahkan guru? Pasti dari dana taktis!” seletuk Kang Irham. 

Apalagi, KPB pun mulai diusik oleh media dan kelompok kritis di kota ini. Seluruh anggota KPB diduga terlibat penyalahgunaan dana taktis, dan mark-up anggaran pilkada. Basyar memang cerdik. Dia segera menyanggupi permintaan sebuah parpol untuk menjadi pengurus inti. 

Seluruh keluarga pesantren masih percaya, Basyar tidak berperilaku busuk. Basyar adalah orang kampus yang mengerti etika dan moral. Dia tidak akan mempertaruhkan kehormatan hanya untuk mengemplang uang negara. Seluruh warga pesantren percaya, juga jamaah pengajian di pesantren. Kecuali Kiai Mastuhu. Hatinya mulai resah, gundah-gulana. Risau jiwanya terlihat dari perubahan perilaku Kiai Mastuhu akhir-akhir ini.

Kiai Mastuhu semakin jarang membalah kitab. Jamaah ibu-ibu dan bapak-bapak dari sekitar pesantren diserahkan kepada Ustadz Munif. Hari-hari Kiai Mastuhu habis di ruang pribadi. Beliau keluar saat mengimami shalat. Selesai shalat, beliau berdzikir dan wiridan berlama-lama. Tidak seperti biasa. Meski wiridan lama, sehabis shalat shubuh Kiai Mastuhu menyempatkan diri berjalan-jalan keliling pondok. Sekarang, jangankan berjalan keliling pondok, Kiai mastuhu masih di ruang imam hingga matahari menyembul dari ufuk timur. Tak berselang lama, beliau mendirikan shalat dhuha.

Beberapa jamaah dan santri pun mulai ikut-ikutan gelisah. Tapi tidak seorang pun berani bertanya. Para santri kecil tidak terpengaruh dengan situasi tersebut. Hanya santri remaja yang mulai kasak-kusuk. Santriwati dewasa mulai ngrumpi sembari mencuci baju. 

Tujuh hari setelah perubahan, Kiai Mastuhu meminta seluruh warga pesantren berkumpul di halaman pesantren. Demikian halnya dengan para jama’ah dari sekitar pesantren. Para santri, cantrik, jamaah pengajian, semua kaget bercampur heran. Untuk apa Kiai Mastuhu mengumpulkan mereka? Tidak ada jadual mujahadan, atau khaul dalam waktu dekat, apalagi hari ini. Tapi mereka dikumpulkan bersama-sama.

Setelah agak lama menahan nafas dan keingintahuan, seluruh yang hadir di halaman pesantren tampak lega dan sumringah. Kiai Mastuhu muncul dihadapan mereka dengan dituntun Kang Irham. Kiai Mastuhu berbasa-basi sebentar, sembali beberapa kali melepaskan batuk. Air mukanya tampak tegang. Tapi, Kiai Mastuhu tampak berusaha tersenyum. 

“Mungkin kalian terkejut atau heran dengan perubahan pada diri saya akhir-akhir ini. Saya sendiri memang sedang risau juga. Tapi, ngalamat itu masih samar-samar, meski mulai jelas. Mudah-mudahan, petang ini, setelah kalian sampai di kamar dan rumah masing-masing, ngalamat itu telah tampak jelas. Saya hanya dapat berpesan, kalian jangan terkejut apalagi marah-marah. Yang terjadi adalah karena kesalahan kita sendiri. Jalan sejarah kita yang membuatnya, bukan orang lain. Apapun yang terjadi, meskipun pahit, kita harus siap menghadapinya!”

Sejenak kemudian, Kiai Mastuhu sudah uluk salam, lalu kembali ke ruang pribadinya. Para jama’ah terhenyak di tempatnya masing-masing. Mereka masih terbingung dengan ucapan Kiai Mastuhu. Tidak seperti biasanya Kiai Mastuhu menyampaikan sesuatu hal sangat kurang jelas seperti saat ini. Apa yang dimaksudkan beliau dengan ngalamat? Apa pula yang disebutnya sebagai tanda-tanda? 

Dengan membawa pertanyaan di benak masing-masing, seluruh yang hadir di halaman pesantren, pulang ke tempat masing-masing. Tapi, sesampai di tempat masing-masing, mereka memang dihadapkan pada sebuah berita menarik. Televisi dan radio petang itu mengungkapkan, seorang tokoh parpol ditangkap Komisi Anti Korupsi. Petang itu, seluruh tubuh warga pesantren berkeringat, karena suasana pesantren tiba-tiba pBasyar. Bukan kemarau, tapi suhu pBasyar gara-gara penangkapan Basyar Komisi Anti Korupsi. Pikir warga pesantren: apakah ini ngalamat yang disebutkan Kiai Mastuhu?

M. Thobroni, adalah seorang peziarah. Pernah mengais pengalaman hidup di berbagai komunitas agama, budaya dan politik. Kini mengabdikan diri sebagai pendidik di Tarakan dan sekitarnya, kawasan perbatasan utara Indonesia yang berbatasan dengan Malaysia, Brunei dan Filipina.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Sejarah, Syariah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 16 Desember 2017

Kagumi KH Wahab Chasbullah, Asad Ali Siap Jadi Penggerak NU

Jombang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Calon Ketua Umum PBNU KH Asad Ali mengungkapkan kekagumannya kepada salah seorang tokoh pendiri Nahdlatul Ulama KH Wahab Chasbullah. Ia menyatakan siap menjadi penggerak NU sebagaimana Mbah Wahab.

Hal itu disampaikannya dalam acara peluncuran buku “KH Abdul Wahab Chasbullah, Hidup dan Perjuangannya,” karya Drs Choirul Anam di Pondok Pesantren Tambak Beras Jombang, Senin (3/8) malam.

Kagumi KH Wahab Chasbullah, Asad Ali Siap Jadi Penggerak NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kagumi KH Wahab Chasbullah, Asad Ali Siap Jadi Penggerak NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kagumi KH Wahab Chasbullah, Asad Ali Siap Jadi Penggerak NU

"10 tahun sebelum NU lahir Mbah Wahab sudah mendirikan Nahdlatul Wathon, atau sekolah kemangsaan. Jauh sebelum Indonesia merdeka beliau sudah berfikir nasionalisme dan kebangsaan yang dijiwai oleh agama Islam," katanya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

As’ad mengatakan, Mbah Wahab adalah sosok penggerak, meski demikian ia tidak mendahului kehendak ulama. “Waktu itu beliau mengusulkan untuk mendirikan NU, tapi Mbah Hasyim mengatakan mau akan istikhoroh dulu. Kiai Wahab pun manut,” katanya

Asad melanjutkan, salah satu peninggalan penting dari Mbah Wahab adalah mars Yahlal Wathon. Tahun 1916 mars ini wajib dinyanyikan sebelum sekolah di Nahdlatul Wathon. "Salah satu syair yang paling penting adalah Wala takun minal hirman, jangan kalian menjadi bangsa terjajah," katanya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurut Asad, setelah mendapat petunjuk dari KH Maimun Zubair, ia meminta para musisi muda NU untuk menggubah lagu Ahlal Wathon seperti yang saat ini populer. "Mars Ahlal Wathon ini kita jadikan lagu wajib setiap kaderisasi PBNU. Lagu ini bisa menggerakkan kita. Apa gunanya berorganisasi kalau tidak bergerak," katanya.

Putra Kiai Wahab Chasbullah, KH Hasib Wahab dalam kesempatan itu menyatakan rasa syukurnya, satu lagi buku tentang Kiai Wahab telah diterbitkan.

"Mbah Wahab mungkin tidak mau ditulis, bahkan tidak mau mendapat gelar pahlawan nasional. Tapi buku semacam ini penting untuk mengenalkan para tokoh sesepuh dan pejuang kepada generasi berikutnya. Buku ini sangat berharga yang akan dikenang sampai nanti," katanya.

Choirul Anam mengatakan, buku KH Wahab Chasbullah: Hidup dan Perjuangannya setebal 400-an halaman itu ditulis saat dirinya dalam kondisi sakit. Beberapa bagian dari isi buku belum selesai dan baru akan dimuat dalam edisi berikutnya.

Dalam kesempatan itu Asad Said Ali meminta ratusan Nahdliyin yang hadir berdoa untuk kesehatannya. "Insyaallah setiap karya baru yang dilahirkan oleh Cak Anam akan menjadi obat bagi para penulisnya," katanya. (A. Khoirul Anam)

Foto: H As’ad Said Ali bersama penulis buku Choirul Anam dan Gus Hasib putra Kiai Wahab Chasbullah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Syariah, News, Pendidikan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 15 Desember 2017

Majalah AULA Buka Bersama Agen dan Anak Yatim

Surabaya, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Ruangan Salsabila kantor PWNU Jawa Timur tiba-tiba penuh sesak oleh ratusan anak yatin piatu. Mereka datang dari sejumlah panti asuhan wilayah di Surabaya dan Sidoarjo. Kehadiran anak-anak yang tidak memiliki ayah maupun ibu ini sebagai matarangkai kegiatan buka bersama yang diselengarakan Majalah PWNU Jatim AULA.

Majalah AULA Buka Bersama Agen dan Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Majalah AULA Buka Bersama Agen dan Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Majalah AULA Buka Bersama Agen dan Anak Yatim

Sebelumnya, pagi hari kegiatan diawali dengan khatmil Qur’an. “Ada lima penghafal al-Qur’an dari PW Jam’iyatul Qurra wal Huffadz NU Jawa Timur,” kata Mohammad Rofi’e (28/7) yang didaulat untuk mensukseskan kegiatan tersebut.   

Usai shalat Dhuhur, kegiatan dilanjutkan dialog pimpinan majalah AULA dengan sejumlah agen di Jawa Timur. Dalam pengantarnya, Afif Amrullah menandaskan bahwa pertemuan agen dengan perusahaan idealnya dilaksanakan secara ajeg. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Ini penting agar semua pihak saling mengakui kekurangan maupun kelebihan yang dimiliki,” tandas Redaktur Pelaksana Majalah AULA ini.

Ada empat narasumber yang dihadirkan pada kesempatan tersebut. Pertama adalah H Abdul Wahid Asa selaku pimpinan umum, Habib Wijaya yang dalam keseharian sebagai pemimpin perusahaan serta Muhammad Subhan, pemimpin redaksi. Demikian juga pendiri majalah yakni H Sholeh Hayat SH.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

H Abdul Wahid Asa memaparkan secara singkat bagaimana awal majalah ini isa terbit dengan subsidi dari PWNU Jawa Timur. “Awalnya majalah ini mendapatkan suntikan dana berupa seluruh biaya cetak,” kenangnya.

Namun seiring dengan respon dari para pembaca dan pelangan akhirnya majalah mampu membiayai sendiri ongkos cetak dan distribusi. “Bahkan majalah AULA sudah bisa memberikan donasi untuk PWNU Jawa Timur,” terangnya.

Bagi Pak Wahid, sapaan akrabnya, berjibaku di media NU memang harus tahan banting, termasuk untuk ikhlash dengan bayaran yang tidak seberapa. “Memang bukan untuk mencari penghidupan,” katanya. “Di AULA malah harus mengabdi,” lanjutnya.

Demikian juga mantan Wakil Ketua PWNU Jatim ini menemukan mitra yang tangguh dan mukhlish di bagian pemasaran yakni agen. “Mereka sama seperti kami yang tidak terlalu mempersoalkan keuntungan saat mengedarkan maupun memasarkan AULA,” ungkapnya.

Karena itu, semangat seperti ini hendaknya terus digelorakan demi khidmat kepada NU. 

Tidak mudah memang memiliki media cetak yang mampu eksis dalam rentang waktu demikian lama. Tentu banyak faktor yang membuat bisa bertahan. Yang utama adalah peran para agen dan tentunya doa dari berbagai kalangan.

Pada kesempatan ini juga diserahkan sejumlah penghargaan dan souvenir kepada agen yang telah memiliki komitmen membesarkan majalah yang telah berusia 36 tahun ini.  Kegiatan ditutup dengan buka bersama dan shalat Magrib berjamaah.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Sholawat, Syariah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 14 Desember 2017

Surat Penerapan FDS SMPN 1 Blitar Ini Bantah Pernyataan Jokowi dan Muhadjir

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Penerapan kebijakan lima hari sekolah (five day school) di sejumlah kabupaten dan kota berdasarkan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 bukan isapan jempol. Hal ini disoroti di tengah Perpres yang sedang digodok Istana untuk menggantikan Permendikbud tersebut namun tetap diterapkan di sekolah.

Surat Penerapan FDS SMPN 1 Blitar Ini Bantah Pernyataan Jokowi dan Muhadjir (Sumber Gambar : Nu Online)
Surat Penerapan FDS SMPN 1 Blitar Ini Bantah Pernyataan Jokowi dan Muhadjir (Sumber Gambar : Nu Online)

Surat Penerapan FDS SMPN 1 Blitar Ini Bantah Pernyataan Jokowi dan Muhadjir

Berdasarkan penelusuran Pondok Pesantren An-Nur Slawi, hal itu terlihat ketika Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Blitar, Jawa Timur mengedarkan surat pemberitahuan penerapan lima hari sekolah kepada orang tua/wali murid.

Surat pemberitahuan penerapan lima hari sekolah tersebut mendasarkan diri pada Surat Keputusan Walikota Blitar No. 188/217/HK/410.010.2/2017 tanggal 22 Mei 2017 tentang Pelaksanaan Pendidikan Lima Hari di Kota Blitar dan Permendikbud No. 23 Tahun 2017 tanggal 12 Juni 2017 tentang Hari Sekolah.

Dalam surat tertanggal 15 Juli 2017 yang ditandatangani Kepala SMPN 1 Blitar, Kateman tersebut dijelaskan bahwa lima hari sekolah mulai berlaku di SMPN 1 Blitar pada tahun pelajaran 2017/2018 dengan jam masuk sekolah pukul 07.00 WIB sampai dengan 15.00 WIB sebagai standar pelayanan minimal.

Praktik yang terjadi di lapangan tersebut mendapat sorotan tajam jika mengingat pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam video wawancara yang didampingi Mendikbud Muhadjir Effendy.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dalam kesempatan tersebut, Jokowi menyatakan bahwa tidak ada keharusan untuk menerapkan lima hari sekolah. Namun kenyataanya Pemerintah Kota Blitar dan Dinas Pendidikannya mengeluarkan surat keputusan dan surat edaran pemberitahuan pelaksanaan lima hari sekolah.

“Perlu saya sampaikan, perlu saya tegaskan lagi bahwa tidak ada keharusan untuk lima hari sekolah. Jadi tidak ada keharusan full day school, supaya diketahui. Dan yang selama ini enam hari silakan lanjutkan tidak perlu berubah sampai lima hari. Dan untuk yang lima hari kalau itu diinginkan oleh semua pihak ya silakan diteruskan. (Maksudnya) kalau diinginkan masyarakat, diinginkan oleh ulama, silakan. Jadi Perpres sedang kami godok dengan Pak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nanti selesai akan kita umumkan,” ujar Jokowi dalam video berdurasi 48 detik tersebut.

Terkait dengan jam masuk sekolah yang jelas disebutkan dalam surat pemberitahuan lima hari sekolah SMPN 1 Blitar yaitu mulai pukul 07.00-15.00 WIB juga perlu mendapat perhatian ketika Mendikbud Muhadjir Effendy justru menjelaskan dalam pernyataan klarifikasinya bahwa untuk SMP selesai pukul 13.20 WIB ketika lima hari sekolah diterapkan.

“Kemendikbud sudah membuat model jadwal lima hari sekolah. Perhari hanya menambah sekitar 1 jam 20 menit dibanding 6 hari sekolah. Berarti untuk SD sudah selesai jam 12.10 sedang untuk SMP sekitar jam 13.20. Jadi dalam kaitannya dengan Madrasah Diniyah (Madin) siswa tetap bisa belajar di Madin sebagaimana biasa,” kata Muhadjir dalam klarifikasi tertulisnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Soal penerapan lima hari sekolah di beberapa daerah tersebut diamini oleh Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) HA. Helmy Faishal Zaini. Dia mengungkap sejumlah data yang masuk ke PBNU mengenai sejumlah daerah yang menerapkan lima hari sekolah yang tadinya enam hari sekolah dengan mendasarkan diri pada Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017.

“Kami sudah menerima laporan contoh di salah satu sekolah itu yang tadinya sudah enam hari tiba-tiba dari dinas kirim surat soal ketentuan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 itu tentang pelaksanaan sekolah lima hari dan sekolah itu mengubah kebiasaannya,” ujar Helmy Faishal, Senin (14/8) saat dikonfirmasi Pondok Pesantren An-Nur Slawi.

Ditanya soal data jumlah kabupaten dan kota yang sudah menerapkan lima hari sekolah, Helmy mengungkap bahwa berdasarkan data yang masuk ke dirinya, di Jawa Tengah ada sekitar 15 kabupaten/kota yang sudah menerapkan lima hari sekolah.

“Ada laporan yang masuk ke saya dari Jawa Tengah dan Jawa Timur yang sudah menerapkan lima hari sekolah sejak Permendikbud Nomor 23 tahun 2017, kemudian datang surat kawat dari dinas ke sekolah-sekolah untuk menerapkan,” jelas Helmy. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Syariah, Habib Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 10 Desember 2017

NU Berupaya Ciptakan Kedaulatan dan Pemerataan Ekonomi Indonesia

Medan, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Persoalan utama isu perekenomian adalah bagaimana mengalokasikan sumber-sumber daya ekonomi. Hal ini dalam rangka menciptakan kedaulatan dan pemerataan ekonomi seperti yang menjadi cita-cita kita bersama untuk menghilangkan kesenjangan. Itulah yang menjadi upaya NU selama ini.

NU Berupaya Ciptakan Kedaulatan dan Pemerataan Ekonomi Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Berupaya Ciptakan Kedaulatan dan Pemerataan Ekonomi Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Berupaya Ciptakan Kedaulatan dan Pemerataan Ekonomi Indonesia

Demikian disampaikan oleh H Masduki Baidlowi bersama Tim Rekomendasi Muktamar ke-33 NU terkait kegiatan Pra-Muktamar NU yang berlangsung di Pesantren al-Akbar al-Kautsar, Jl Pelajar Timur No 264 Medan, Sumatera Utara, Sabtu (16/6).

Dalam kegiatan yang bertema ‘Kedaulatan dan Pemerataan Ekonomi (Konsep dan Perundang-Undangan)’ ini, Masduki menerangkan bahwa Indonesia mempunyai syarat untuk menjadi bangsa besar yang maju, sejahtera, dan bermartabat.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Selain sumber daya alam yang melimpah, Indonesia dihuni sekitar 145 juta penduduk yang mayoritas berusia produktif, menyumbang total PDB sebesar Rp 10, 542.7 triliun pada 2014,” jelas Wakil Sekjen PBNU ini.

Dia melanjutkan, Indonesia dengan segenap potensinya diprediksi akan menjadi The Next Economic Superpowers pada 2030. Pada saat itu, lanjutnya, PDB Indonesia akan menembus 9,3 triliun Dollar Amerika yang akan menjadikannya ke peringkat 5 dunia. Indonesia akan bangkit bersama kekuatan ekonomi Asia lainnya seperti Tiongkok, India, dan Korea Selatan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Guna menyongsong kebangkitan ini, jalan baru harus ditempuh dari legacy lama yang di-khittah-kan para founding fathers, yakni pembangunan dari kita, oleh kita, dan untuk seluruh bangsa Indonesia,” tegasnya.

Syarat awal yang harus ditempuh, menurutnya, adalah meluruskan kiblat pembangunan dengan kembali ke khittah ekonomi konstitusi.?

“NU sebagai pemegang saham Republik dan sebagai komponen bangsa yang ikut mendirikan dan mempertahankan NKRI menyampaikan keprihatinan keberlangsungan pembangunan di Indonesia melalui berbagai koreksi demi kemaslahatan umat dan bangsa,” tandasnya.

Dalam kegiatan Pra-Muktamar di Medan ini, NU mengadakan seminar dengan menghadirkan para narasumber kompeten di bidang ekonomi pada Ahad (17/5). Narasumber tersebut diantaranya, Marwan Ja’far (Menteri Desa PDTT), Rizal Ramli (mantan Menteri Perekonomian), Ahmad Erani Yustika (Guru Besar Ekonomi Bisnis Universitas Brawijaya), Bambang Prijambodo (Staf Ahli Menteri Bappenas), M Arfin Hamid (Ahli Ekonomi Syariah), dan Ritha F Dalimunte. (Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Sejarah, Syariah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 09 Desember 2017

Rais Aam PBNU: Tidak Benar Nusron Wahid Dipecat

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rais ‘Aam PBNU KH Ma’ruf Amin meluruskan rumor yang menyatakan bahwa Nusron Wahid dipecat sebagai ketua PBNU. Menurutnya, PBNU tak pernah memecat mantan ketua umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor itu.

“Tidak benar itu bahwa dia dipecat. Bahwa dia memang terkena aturan organisasi karena rangkap jabatan di partai politik itu memang benar,” katanya di Jakarta, Rabu (26/10).

Rais Aam PBNU: Tidak Benar Nusron Wahid Dipecat (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Aam PBNU: Tidak Benar Nusron Wahid Dipecat (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Aam PBNU: Tidak Benar Nusron Wahid Dipecat

Nusron mengundurkan diri secara otomatis dari kepengurusan NU sejak ia kembali aktif di Golkar sebagai Koordinator Bidang Pemenangan Pemilu pada Mei 2016. Pengunduran diri ini adalah konsekuensi logis dari AD/ART dan Peraturan Organisasi Nahdlatul Ulama yang melarang pengurus NU merangkap jabatan di partai politik.

Saat dikonfirmasi, Nusron mengatakan sudah mengajukan pengunduran diri secara resmi pada bulan Juli lalu, sehari setelah dilantik jadi pengurus DPP Golkar, dan PBNU menghormati pilihannya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Terkait polemik pilkada DKI Jakarta, Kiai Ma’ruf juga membenarkan Nusron telah meminta maaf dan mengklarifikasi sikap dan pikirannya belakangan ini dengan berkunjung ke kediamannya, Selasa (25/10). Nusron, katanya, tidak bermaksud menghina ulama ataupun Islam.

(Baca: Nusron Wahid Bertabayun kepada Kiai Ma’ruf)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Perbedaan pendapat itu biasa. Yang saya tekankan adalah jangan keluar dari jalur NU,” ujarnya selepas membuka acara Expert Focus Group Discussion “Penguatan Kapasitas dan Jejaring Kerja Media Islam dalam Program Deradikalisasi Agama” yang digelar Lembaga Ta’lif wan Nasyr NU (LTNNU) bekerja sama dengan Yayasan Tifa, siang itu.

Kiai Ma’ruf mengimbau kepada seluruh Nahdliyin untuk tidak mudah terprovokasi dengan upaya orang atau kelompok tertentu yang berusaha memecah belah NU di tengah tingginya suhu politik menjelang musim pemilihan kepala daerah. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi News, Sholawat, Syariah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 04 Desember 2017

GP Ansor Cibogo Ingatkan Bahaya Radikalisme dan Hoax

Subang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas kader, Pengurus Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Cibogo menggelar kegiatan Pelatihan Kader Dasar (PKD). Kegiatan yang diikuti 40 orang peserta tersebut dilaksanakan di Majelis Talim Sirojul Rodulan Desa Cinangsi, Kecamatan Cibogo, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Sabtu-Ahad (28-29/1).

Dalam sambutan pembukaan kegiatan PKD, Rachmat, Ketua PAC GP Ansor Cibogo mengatakan bahwa saat ini radikalisme tumbuh subur di Indonesia. Menurutnya, untuk melawannya tidak perlu dengan cara yang sama.

GP Ansor Cibogo Ingatkan Bahaya Radikalisme dan Hoax (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Cibogo Ingatkan Bahaya Radikalisme dan Hoax (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Cibogo Ingatkan Bahaya Radikalisme dan Hoax

"Solusi paling arif telah dicontohkan oleh ulama NU, yakni dakwah dengan amar maruf bil maruf nahyi (‘an) munkar bi maruf; mengajak dengan cara yang baik dan mencegah juga dengan cara yang baik," paparnya

Kegiatan PKD ini, kata Rachmat, sebagai sarana penguatan internal, sebab serangan apa pun yang ditujukan kepada NU ataupun GP Ansor tidak akan berhasil ketika NU dan GP Ansornya telah kuat. GP Ansor, tambahnya, harus bisa tetap fokus dalam mengawal ulama, bangsa dan NKRI.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selain itu, Rachmat pun mengingatkan kepada para peserta tentang bahaya hoax yang kian marak di media sosial. Fenomena ini baginya bisa berdampak pada rusaknya keutuhan ukhuwah islamiyah (persaudaraan keislaman), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan kemanusiaan).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Jika mendapat informasi yang heboh jangan langsung di-share, cari dulu klarifikasinya melalui pihak yang bersangkutan atau bisa dicari di Google kebenarannya karena berita heboh pasti akan mendapat rating tinggi," ujarnya

Kegiatan PKD GP Ansor Cibogo ini dibuka oleh Beni Rudiono, Ketua DPRD Kabupaten Subang dan dihadiri oleh Pejabat Kemenag Subang,PCNU Subang, PC GP Ansor Subang, Muslimat NU Subang, pengurus MWC NU Cibogo, serta beberapa jajaran Muspika Kecamatan Cibogo. (Aiz Luthfi/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pendidikan, Nahdlatul, Syariah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 21 November 2017

Internasionalisasi Moderasi Islam: Dari Islam Nusantara untuk Peradaban Dunia

Oleh Ribut Nur Huda*



Dewasa ini dunia menghadapi konflik perang saudara atas nama ras dan bahkan agama. Akibatnya tidak hanya mengganggu stabilitas negara yang bersangkutan tetapi juga negara di sekitarnya atau negara yang terlibat di dalamnya. Contoh dalam hal ini adalah konflik Suriah, Yaman, Palestina, Mesir, Sudan dan negara-negara Muslim lain yang bisa dikatakan belum aman. Tidak bisa dipungkiri bahwa sebab utama adalah dangkalnya pemahaman tentang Islam atau agama yang dianutnya. Kedangkalan ini kemudian menjadi doktrin untuk melakukan kekerasan atas nama agama walaupun sebenarnya hanya alibi kepentingan politik.?

Idealitas berkata lain tentang Islam sebagai risalah penyelamatan. Islam dengan makna menyelamatkan didukung oleh realitas sejarah pada masa Nabi Saw berdakwah di Makkah dan Madinah. ? Prestasi Piagam Madinah adalah bukti nyata bahwa Islam tidak hanya membawa misi dakwah tetapi juga misi kemanusiaan . Islam tidak cukup dipandang hanya sebagai agama syari’ah, tetapi juga agama peradaban.?

Internasionalisasi Moderasi Islam: Dari Islam Nusantara untuk Peradaban Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Internasionalisasi Moderasi Islam: Dari Islam Nusantara untuk Peradaban Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Internasionalisasi Moderasi Islam: Dari Islam Nusantara untuk Peradaban Dunia

Doktrin Islam tidak disampaikan dengan paksaan apalagi kekerasan. Perbedaan pendapat, cara berfikir dan pandangan politik adalah sarana menguatkan ghadhab atau emosi bersaing dan membangun kesadaran sosial untuk kemaslahatan bersama baik dalam berbangsa dan beragama. Sejarah mencatat adanya gerakan ideologis yang mengarahkan sudut pandang kebenaran di pihak tertentu karena kecenderungan sektarian justru kontra-produktif dan merusak masyarakat. Kelompok ini sudah ada sejak zaman Nabi Saw dengan sebutan Khawarij sebagai representasi fanatisme pemimpin kabilah yang dikikis sedikit-demi sedikit ? oleh para pengikut Nabi Saw melalui hubungan kesefahaman tentang wujud inklusi sosial. ?

Kader-kader Nabi Saw yang berilmu dan bijak merupakan didikan para pewaris Nabi Saw. Mereka ? memberikan kontribusi terwujudnya masyarakat yang berperadaban. Istilah local wisdom (kebijaksanaan lokal) sebagai prinsip dakwah dengan cara ? "bertahap" dan "tidak menyakiti" bukan prinsip oposisi biner (perlawanan) seperti “benar-salah” atau “hitam-putih” sudah ada rujukan sejarahnya. Ini menjadi prinsip dalam dakwah yang tercermin dalam konteks Indonesia berupa institusi yang memiliki metodologi dalam mengkontekstualisasikan wahyu yang absolut kepada realitas yang relatif. Institusi ini mampu mengakomodir budaya lokal dengan prinsip moderasi pada aqidah, syariah maupun tasawuf. Institusi ini di Indonesia dikenal dengan Nahdlatul Ulama (NU) dan memiliki cabang di luar negeri untuk misi pengkaderan dan dakwah ‘internasionalisasi moderasi Islam’.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Setelah adanya model nation-state atau negara bangsa, ada kesamaan antara Pancasila sebagai landasan konstitusional negara dengan Piagam Madinah pada masa Nabi Saw. Ketika itu prinsip negara mampu mengakomodir Maqoshidus Syari’ah sebagai konsep universal bagi agama-agama. Menurut hasil konsensus para ulama, Indonesia bukan negara Islam dan juga bukan negara sekuler melainkan negara damai (darussalam) atau negara Muslim. Darussalam mendapat dukungan normatif dan proaktif dari Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi Islam terbesar tanpa mengenyampingkan organisasi lain.?

Prinsip moderasi ini, menjelaskan kedudukan NU secara syari’at sebagai organisasi, secara hakekat sebagai komunitas (kekeluargaan) dan secara ma’rifat adalah Islam itu sendiri. Organisasi sosial-keagamaan ini berkomitmen dengan misi para pendirinya yaitu menjaga pesan otentik wahyu melalui transmisi keilmuan yang jelas dan transformasi sosial yang massif ke akar rumput dan kuat ke menara gading. Sikap terhadap politik dan budaya adalah penghapusan kasta-kasta dan budaya-budaya sebelum Islam yang tidak sesuai dengan landasan normatif dan dakwah. Sebab landasan normatif aqidah dan fiqih masih dapat menampung budaya lokal. Disamping itu, aqidah Asy’ari tidak eksklusif dalam melihat madzhab kalam. Selagi masih berpayung di bawah payung Islam dengan mengucapkan syahadat, shalat menghadap kiblat dan meyakini adanya rukun Islam dan iman maka mereka adalah sesama Muslim. Berbeda dengan kelompok lain yang dengan mudah bagi seorang peneliti menemukan benturan antara penalaran dengan nash Al-Qur’an dan Sunnah seperti madzhab Mu’tazilah dan madzhab yang lain.?

Organisasi sosial-keagamaan ini dalam misi Internasional adalah menyebarkan faham Sunni yang secara definitif dinegasikan dengan Syiah. Sunni dilihat segi kaku dan lenturnya dalam akidah dan dakwahnya dibedakan dengan Sunni purifikatif dan Sunni metodologis. Sunni purifikatif bisa dilihat pada fenomena keberagamaan di Saudi Arabia yang kemudian disebut Wahabi. Adapun Sunni metodologis bisa dilihat di Indonesia dengan pola bermadzhab NU yang menurut beberapa negara seperti Mesir dan Sudan disebut sufi. Kelompok ini adalah kelompok mayoritas yang terbiasa mencari status hukum secara qouli melalui kitab-kitab turats (kitab kuning) dan tamanhuj (menggunakan metodologi imam madzhab) sebagai alternatif. Tidak bisa dipungkiri adanya negara seperti Mesir yang lebih terpolakan untuk tamanhuj. Ini sebuah kenyataan bahwa moderasi dalam ajaran sunni menentukan kemurnian ajaran Nabi tanpa mengebiri wujud inklusi sosial yang berwatak dinamis dan relatif.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Di ranah pengkaderan, NU sangat ketat mengenai geneologi keilmuan dengan institusi berbasis “talaqqi”. Ilmu sebagai bagian dari agama dibedakan dengan sakralisasi pemikiran. Pemahaman yang terwariskan menjaga keseimbangan antara akurasi teks dengan sumbernya, metode dengan objek pembahasannya dan wilayah pengetahuan dengan batas kemampuan manusia. Berbeda dengan pemikiran yang terkadang keluar dari kebutuhan dan kemampuan akal untuk mengejar keinginan-keinginan relatif dan bahkan spekulatif. Ini bukti bahwa NU memiliki disiplin ilmiah menurut perspektif Islam . Tiga kriteria dikuatkan oleh tradisi ilmu jarh wa ta’dil yang tidak ada dalam tradisi Barat ketika mengkaji Islam kecuali kalangan orientalis yang tertarik untuk mengkaji Timur dengan kaca mata miopiknya, tafsir manipulatifnya atau prinsip “ilmu untuk ilmu” yang kejujurannya masih perlu dipertimbangkan.

Bertolak dari landasan pemikiran di atas, Lakpesdam NU Cabang Istimewa Sudan merancang program penguatan metodologi penelitian dan turast warisan ulama klasik. Merujuk kitab-kitab ulama klasik bukan karena anti dengan metodologi melainkan bentuk kehati-hatian dan konsekuensi penyambung transmisi keilmuan generasi sebelumnya. Sebagaimana rumusan para ulama PBNU ketika ada permasalahan fiqih yang baru dan belum ditemukan status hukumnya di kitab kuning langkah yang diambil adalah menggunakan metode ilhaqi dan menerapkan metodologi sesuai rumusan tim LBM PBNU khususnya Lembaga Bahtsul Masa’il maudlu’iyah PBNU yang menjadi rujukan di level nasional.?

Rumusan tersebut didukung oleh kajian yang ketat dan berat oleh karya-karya ulama Nusantara seperti KH Sahal Mahfudz dengan fiqih sosialnya atau ulama-ulama Timur Tengah seperti Syekh Wahbah Zuhaily dan Sykeh Ali Jum’ah. Rumusan-rumusan yang dihasilkan tidak hanya menjelaskan sikap moderat dan produktif di bidang sosial-keagamaan. Khazanah Nusantara dalam hal ini terpakai menjadi bahan rumusan metodologi sesuai objek pembahasan tanpa terjebak pada sikap yang kontra-produktif atau menyia-nyiakan waktu.?

Melihat sisi sejarahnya, sunni di Indonesia memiliki kesamaan dengan Sunni di Sudan. Persamaan yang ada adalah Islam berkembang sebagai ajaran bukan ideologi. Pijakannya adalah kemaslahatan melalui rekonsiliasi Maqashidus Syari’ah dengan ideologi negara sebagai tuntutan kondisi . Misalnya fenomena ? konstitusi negara Indonesia yang hukum positifnya banyak memakai warisan Belanda namun tidak bertentangan dengan prinsip Islam. Sudan yang hukum positifnya diwarisi dari Inggris menunjukkan sekulerisasi Inggris pada zaman penjajahannya tidak cukup berhasil dengan adanya majma fiqh, majma zakat dan majma’ sufi walaupun secara institusional dan birokrasi ada keterpengaruhan. Termasuk realita yang tidak bisa dipungkiri yaitu terbaginya kelompok sufi menjadi dua kelompok yaitu sufi dengan semangat institusional dan sufi dengan semangat ikhwan khususnya di kalangan pemerintahan.?

Konsep penelitian dan metodologi adalah penting dikembangkan di negara-negara Muslim agar tidak tersilaukan oleh kemajuan Barat yang seolah memilki peradaban dengan segala disiplin keilmuan dan ? merasa superior untuk menjadi standar bagi peradaban lain. Padahal Indonesia yang dibangun oleh dua peradaban sekaligus; Islam dan Barat ingin menjadi negara inspirator. Ini merupakan peluang promosi di dunia Internasional oleh Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi massa Islam arus utama (mainstream). Promosi bisa dimulai dari Pengurus Cabang Istimewa NU di Sudan atau di negara lain yang memiliki kesamaan kultural yaitu tasawuf untuk melakukan studi komparatif di bidang metodologi istinbath hukum antara lembaga nasional Sudan dengan lembaga nasional Indonesia.

Hal yang perlu ditawarkan adalah kontruk Islam Nusantara dengan penduduk Islam terbesar di dunia. Warna itu bisa dilihat pada kekayaan tradisi seperti tradisi halal bihalal, selametan, kupatan dan sebagainya kemudian diinteraksikan secara produktif. Produksi budaya ini merupakan akumulasi pengalaman para pendiri bangsa yang terwariskan. Pengalaman asketis yang diwariskan Walisongo, eskapis khas Gus Dur dengan “gitu aja kok repot”, rasionalisme induktif KH Sahal Mahfudh telah menjadi bahan bagi ? konstruk Islam Nusantara yang tidak sinkretik namun memiliki hubungan dialektik antara agama dengan budaya dan bukan penundukan-subordinatif.?

Akan sangat memprihatinkan jika ada negara dengan penduduk Muslim terbesar mudah terprovokasi untuk melakukan tindak kekerasan nama agama. Sudah semestinya institusi pendidikan maupun organisasi mampu membawa semangat rekonsiliasi antara berbagai pihak. Sehingga perlu bagi kaum muda bangsa Indonesia untuk belajar dari sejarah bangsanya sendiri sekaligus mendakwahkan ke negara lain. Perlu bagi NU dengan cabang-cabang istimewanya di luar negeri ingin menjalin interaksi ilmiah, mensosialisasikan karya dengan bahasa asing dan kerja sama di bidang sosial-keagamaan. Tujuan eksternal dari sosialisasi ini adalah menghilangkan citra buruk tentang Islam yang menguasai kesadaran kolektif masyarakat Barat. Sedangkan tujuan internalnya adalah membentuk intelektual muda NU yang memiliki karya intelektual dengan metodologi penelitian yang mapan dan kesadaran kolektif tentang moderasi Islam.?

Penelitian ini fokus pada studi komparatif antara metodologi istinbath hukum NU di Indonesia dengan Majma Fiqh Sudan sebagai langkah internasionalisasi moderasi Islam. Disamping berupaya menemukan titik-titik persamaan antara keduannya dalam upaya rekonsiliasi antara agama dan budaya, juga untuk memberi kontribusi dalam melestarikan peradaban Islam. Tantangan yang bisa dikatakan sama adalah tantangan de-NU-isasi di Indonesia dan ? tantangan radikalisasi di negara Sudan. Melalui pengurus cabang Istimewa di luar negeri, NU menjalankan peran deradikalisasi. Langkahnya adalah melakukan dialog dengan negara tempat pembekalan untuk ambil bagian dalam proyek internasionalisasi moderasi Islam. Pesantren yang menjadi pondasi ajaran NU ditemukan di Sudan dengan sebutan khalwah. Namun Gerakan Ayo Mondok belum ada di Sudan. Solusi yang ditawarkan adalah menghidupkan majlis talaqqi dan seminar internasional untuk menjalin interaksi produktif menuju kesepahaman.?

Adapun aspek yang dikembangkan adalah aspek manhaj atau metodologi dua negara yang memiliki pandangan dunia dan sistem pengetahuan yang dalam tahap hipotesis dikatakan sama. Penggunaan metodologi Islam dalam penelitian ini adalah karena konsistensi dan akurasinya berbeda dengan model Barat sebagaimana berikut :

1. Barat menyepakati adanya konstruk pemikiran namun tetap memunculkan perbedaan epistemologi di kalangan mereka. Perbedaan itu terjadi antara tawaran Hegel dengan tawaran Karl Marx. Keduanya sepakat akan kebutuhan terhadap konstruksi pemikiran namun kerangka metodologinya berbeda baik menyangkut “bagaimana”, “apa” dan “ke mana”.?

2. Kontruksi pemikiran dan metodologi Barat nampak sebagai fenomena baru. Kebaruan ini merefleksikan perjalanan sejarah Barat itu sendiri. Interaksi pemikiran dunia mereka selalu baru dan berkembang sampai tidak bisa dipilah mana yang secara prinsip ? “tetap” dan mana yang “berubah”.?

3. Konstruksi pemikiran dan metodologi Barat merupakan refleksi dari karakteristik masyarakat Barat yang sangat kompleks. Ini merupakan salah satu unsur problematik dalam metodologi Barat.?

Dari sini muncul pertanyaan mendasar mengapa harus menggunakan metodologi Islam, maka perlu dipertimbangan faktor-faktor berikut :

1. Umat Islam meyakini bahwa Islam memiliki pandangan komprehensif tentang kehidupan. Ini dalam sistem teologis merupakan bagian dari “al ma’lum min al din bi al dharurah”; artinya perkara yang tidak ada alasan bagi seorang Muslim untuk tidak mengetahuinya.?

2. Umat Islam memberikan kontribusi dalam persoalan metodologi. Ini sudah dibuktikan oleh sejarah kodifikasi ilmu di berbagai bidang.?

3. Keberlangsungan umat Islam dalam menjaga identitas ke-islam-an tidak berhenti di ? dunia teori melainkan dibuktikan dalam kehidupan nyata dengan kerangka metodologinya.?

* Aktivis PCINU Sudah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi News, Syariah, Sejarah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 20 November 2017

Mau Tahu Buah Manis Tahajud?

Sembahyang malam memiliki keutamaan sendiri di sisi Allah SWT. Saking pentingnya, Allah meminta kekasih-Nya Nabi Muhammad SAW meluangkan waktu malam untuk melakukan sembahyang. Allah menjanjikan kedudukan mulia bagi mereka yang melakukan sembahyang malam.

Syekh Ahmad bin Syekh Hijazi Al-Fasyani dalam kitab Al-Majalisus Saniyah fil Kalam alal ‘Arba’in Nawawiyah menceritakan pengalaman menarik dari sahabat Tsabit RA. Berikut ini keterangannya.

Mau Tahu Buah Manis Tahajud? (Sumber Gambar : Nu Online)
Mau Tahu Buah Manis Tahajud? (Sumber Gambar : Nu Online)

Mau Tahu Buah Manis Tahajud?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. Sahabat Tsabit RA bercerita bahwa bapaknya dulu termasuk orang yang kuat mengamalkan tahajud di kegelapan malam. Tsabit RA mengatakan bahwa ia dalam mimpi melihat wanita cantik yang eloknya tidak seperti wanita cantik lainnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Siapa kamu?” tanya Tsabit.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ia menjawab, “Aku bidadari, hamba Allah.”

“Kawinkan aku denganmu,” Tsabit memintanya.

“Lamar aku lewat sisi Tuhanmu. Tebuslah maharku,” jawabnya.

“Apa maharmu?”

“Lamakan tahajud,” jawab bidadari itu.

Memang sembahyang malam itu sebagaimana ibadah lainnya cukup diniatkan untuk Allah SWT. Tetapi apa salahnya kalau Allah menganugerahkan sesuatu kepada hamba-Nya. Terlepas dari ganjaran bidadari atau ganjaran lainnya, sembahyang malam memiliki tempat istimewa di sisi-Nya.

Nabi Muhammad SAW sendiri kerap melakukan sembahyang malam bahkan hingga telapak kakinya pecah-pecah. Hal ini patut menjadi teladan bagi umatnya. Allah sendiri menyimpan anugerah rahasia untuk mereka yang melakukan sembahyang malam. Di keheningan malam ini juga pengetahuan-pengetahuan yang masih menjadi rahasia tersingkap. Kebuntuan dan simpulan-simpulan dapat terurai di saat banyak orang terlelap. Wallahu A’lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Nahdlatul, Syariah Pondok Pesantren An-Nur Slawi