Tampilkan postingan dengan label AlaNu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AlaNu. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Februari 2018

Santri Bertanya, Haramkah Sepak Bola? Ini Jawaban Ajengan

Soal sepak bola, pernah ada santri langsung bertanya kepada ajengan (istilah untuk kiai di Sunda) bagaimana hukumnya, halal apa haram? Sebab ada yang meriwayatkan bahwa olahraga tersebut berasal dari kisah memilukan, yaitu ditendangnya kepala Sayidina Hasan dan Husen, cucu Nabi Muhammad SAW.?

Pertanyaan tersebut dikisahkan pada buku “Dongen Enteng ti Pasantren” karya Rahmatullah Ading Affandi sering disingkat RAF. Buku tersebut menggambarkan pesantren pada zaman Jepang, ditulis tahun 1960-an.?

Buku merupakan otobiografi pengarangnya selama ia nyantri pada masa kanak-kanak pengarang. Salah satu fragmennya, menceritakan sosok ajengannya yang senang bermain sepak bola bersama santri. Ajengan turun ke lapangan dengan memakai sarung yang digulung lebih atas dari biasanya sehingga kelihatan celana sontognya, celana yang panjangnya sampai ke betis, biasa digunakan di pesantren-pesantren Sunda. ?

Santri Bertanya, Haramkah Sepak Bola? Ini Jawaban Ajengan (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Bertanya, Haramkah Sepak Bola? Ini Jawaban Ajengan (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Bertanya, Haramkah Sepak Bola? Ini Jawaban Ajengan

Tak hanya olahraga, ajengan pada kisah tersebut bahkan meminati kesenian, yaitu menonton tunil (sandiwara) yang diperankan santri dan tembang Sunda.?

RAF menceritakan jawaban ajengan ketika ditanya hukum bermain sepak bola oleh seorang santri tersebut.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Kungsi aya santri nanya, ‘Ajengan yaktos ari maen-bal haram? Pedah eta wartosna kapungkur nu disepakanana teh mastaka sayidina Hasan-Husen.’ Mani nyakakak Ajengan gumujengna. Saurna, ‘Heueuh haram soteh lamun balna ku sirah jalma, ari balna ku kulit mah, naha make haram... Bisa jadi haram maen-bal teh, lamun sakira matak poho kana ibadah, atawa matak ruksak awak. Jeung ari matak ruksak awak mah, ulah boro maen-bal, dalah dahar oge haram.’” (halaman 45).?





Mendengar pertanyaan hukum sepak bola, ajengan tergelak. Menurutnya, haram jika bermain sepak bola dengan kepala manusia. Sementara bermain sepak bola dengan bola terbuat dari kulit, kenapa haram? Sepak bola menjadi haram jika meninggalkan shalat, menyebabkan lupa kepada ibadah atau menyebabkan rusaknya badan. Jika menyebabkan sakit, jangankan bermain bola, barang halal saja tidak boleh.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi





“Saur Ajengan keneh, ari maen-bal teh saenyana mah, ngalatih lahir jeung batin. Lahirna atuh badan jadi sehat, batinna atuh pikiran jadi cageur. Kapan dina maen-bal teh urang kudu nahan napsu. Ulah hayang nyilakakeun batur, ulah hayang males lamun kasepak ku batur. Pokona mah teu meunang goreng hate.

Masih menurut ajengan, bermain sepak bola adalah upaya melatih lahir dan batin. Lahirnya adalah badan menjadi sehat, sementara dari sisi batin, pikiran juga sehat. Pada saat bermain sepak bola kita harus menahan nafsu.?

RAF mengomentari pikiran ajengan. Menurutnya, apa yang dikatakan ajengan seperti perkataan ahli-ahli olahraga modern. Hanya berbeda kalimat dan cara menyampaikan sementara maksudnya adalah "mens sana in corpore sano" (jiwa yang sehat berada pada badan yang sehat).

"Dongeng Enteng ti Pesantren" adalah kumpulan cerpen tersebut diterbitkan tahun 1961 dan memperoleh hadiah dari LBBS di tahun yang sama. Menurut Adun Subarsa, kumpulan cerpen otobiografis tersebut digolongkan ke dalam kesusastraan Sunda modern sesudah perang. Nama pengarangnya Rahmatullah Ading Afandie sering disingkat RAF.

Ia lahir di Ciamis 1929 M. Pada zaman Jepang pernah nyantri di pesantren Miftahul Huda Ciamis. Tahun 1976, ia muncul dengan sinetron Si Kabayan di TVRI, tapi dihentikan karena dianggap terlalu tajam. Ketika TVRI cabang Bandung dibuka, RAF muncul lagi dengan sinetron Inohong di Bojongrangkong. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi AlaNu Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 04 Februari 2018

Kapolri, Kiai Said, dan Arifin Ilham Istighotsah Bersama Doakan Bangsa

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi



Dalam rangka memanjatkan doa agar situasi Indonesia tetap kondusif dan damai, Kapolri Tito Karnavian, Kiai Said Aqil Siroj, Ustadz Arifin Ilham, para ulama Banten, dan masyarakat menggelar istighotsah di Masjid Al-Bantani Serang Banten, Jum’at (25/11).?

Kapolri, Kiai Said, dan Arifin Ilham Istighotsah Bersama Doakan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Kapolri, Kiai Said, dan Arifin Ilham Istighotsah Bersama Doakan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Kapolri, Kiai Said, dan Arifin Ilham Istighotsah Bersama Doakan Bangsa

Dzikir bersama yang berlangsung sekitar 1.5 jam ini dipimpin oleh Ustadz Arifin Ilham sedangkan Kiai Said memberikan tausiyah.?

Kiai Said menjelaskan, dzikir ini untuk mendoakan bangsa dengan membangun kondisi spiritualnya. “Disamping membangun kekuatan fisik-lahir dengan kekuatan polisi dan tentara, juga sangat penting membangun kekuatan spiritual,” ujarnya.

“Kalau dari 5 ribu yang dzikir, jika yang dikabulkan doanya hanya 100 orang saja, sudah luar biasa. Dari 1.5 jam dzikir, 10 menit saja yang dikabulkan, sudah luar biasa,” imbuhnya.?

Kiai Said juga menjelaskan, pada peringatan Hari Santri 22 Oktober 2016 lalu, NU juga menggelar pembacaan 1 Miliar Shalawat Nariyah sebagai upaya untuk mendoakan bangsa.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ia menegaskan, jangan hanya karena masalah kecil, karena masalah Ahok, bangsa Indonesia terpecah belah sebagaimana yang terjadi di Timur Tengah.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Himbauan saya kepada warga NU, tidak usah ikut demo. Lebih baik kerja, ngajar, kuliah, dagang, ngantor dan lainnya. Kita harus produktif membangun bangsa ini, tidak perlu demonstrasi,” tegasnya. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi AlaNu Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 03 Februari 2018

KH Sanusi Baco Lepas Kontingen Peserta Kongres Muslimat NU Sulsel

Makassar, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan Anregurutta KH M Sanusi Baco resmi melepas kontingen Muslimat NU sebanyak 244 orang untuk mengikuti Kongres Ke-17 Muslimat NU di Auditorium KH Muhyiddin Zain UIM, Selasa (22/11). Peserta akan mengikuti rangkaian kongres yang akan dilaksanakan Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, 24-27 November 2016.

Ketua Muslimat NU Sulawesi Selatan Majdah Agus Arifin Numang meminta restu kepada Rais Syuriyah dan Ketua PWNU Sulsel yang akan berangkat kongres Muslimat NU di Jakarta. Majdah Agus Arifin meminta doa kepada keduanya agar rombongan pulang dengan selamat.

KH Sanusi Baco Lepas Kontingen Peserta Kongres Muslimat NU Sulsel (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Sanusi Baco Lepas Kontingen Peserta Kongres Muslimat NU Sulsel (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Sanusi Baco Lepas Kontingen Peserta Kongres Muslimat NU Sulsel

"Untuk utusan resmi PW Muslimat NU Sulsel sebanyak 66 orang, karena melihat kondisi kongres yang akan kedatangan tokoh-tokoh nasional dan tentunya akan menjadi daya tarik serta peserta akan mendapatkan banyak pengalaman dan wawasan, sehingga banyak cabang yang mengutus lebih dari jumlah peserta yang resmi, yakni 3 orang."

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Keberadaan Muslimat NU Sulsel sangat diperhitungkan dikancah nasional, sehingga beberapa rumusan atau gagasan akan kami bawa ke kongres, tentunya untuk kemajuan Muslimat di masa yang akan datang, ujarnya.

Ketua PWNU Sulsel Iskandar Idy menyatakan kagum atas eksistensi Muslimat NU di Sulsel. Program laskar antinarkoba begitu intens dikumandangkan di setiap pelantikan, tentunya sebagai bentuk pertanggungjawaban Muslimat kepada masyarakat.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Iskandar Idy berkelakar bahwasanya, keberadaan Muslimat NU Sulsel mengalahkan eksistensi bapak-bapak yang ada di NU.

Anregurutta KH M Sanusi Baco berterima kasih atas kontribusi Muslimat NU dalam pengembangan NU di Sulawesi Selatan. Kehadiran Muslimat tentunya mampu mewarnai corak beragama di Sulawesi Selatan. (Andy Muhammad Idris/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Budaya, AlaNu, Jadwal Kajian Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 29 Januari 2018

IPNU-IPPNU Welahan Fokus Gerakkan Ranting

Jepara, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pengurus baru PAC IPNU-IPPNU Welahan kabupaten Jepara selama dua tahun ke depan, akan menghidupkan kembali kepengurusan di tingkat ranting. Setelah dilantik di Masjid Sidiq Al-Hasan desa Sidigede kecamatan Welahan, Sabtu (8/11), mereka menyatakan akan mengerahkan tenaga dan pikirannya untuk ranting yang menjadi tanggung jawab anak cabang.

IPNU-IPPNU Welahan Fokus Gerakkan Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Welahan Fokus Gerakkan Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Welahan Fokus Gerakkan Ranting

Menurut Ketua IPNU Welahan Fahruddin, saat ini dua ranting yang menyatakan siap menghidupkan lagi organisasi pelajar NU ini. Keduanya ialah aktivis pelajar NU di desa Kedung Sari Mulyo dan Welahan.

“Dua ranting ini dalam waktu dekat akan ada kepengurusannya lagi,” terangnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari 15 kecamatan yang ada di Welahan, hanya 4 ranting yang aktif seperti desa Teluk Wetan, Brantak Sekarjati, Kalipucang Wetan, dan Sidigede. Minimnya ranting yang aktif dikarenakan masyarakat menganggap IPNU-IPPNU masih dihubung-hubungkan dengan partai politik tertentu.

Berdasar dinamika ini, alumnus pesantren Al-Falah Darus Salam desa Sidigede ini terus melakukan pendekatan. Utamanya menemui pengurus NU di ranting agar menghidupkan maupun mendirikan IPNU-IPPNU.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Bagi dia, IPNU-IPPNU merupakan kegiatan yang sangat positif. “Aktif di IPNU-IPPNU merupakan sarana agar tidak terjerumus ke lembah nista,” tegasnya saat ditemui di Gedung NU Jepara, Senin (10/11). (Syaiful Mustaqim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi AlaNu, Khutbah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 26 Januari 2018

Pramuka Madrasah Modal Kuat Membangun Karakter Bangsa

Bangka Tengah, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Karakter atau identitas bangsa harus diperkuat seiring derasnya arus modernisasi yang berpotensi menggerus. Pramuka sebagai salah satu penanaman karakter bangsa harus mengambil peran terdepan untuk menyiapkan generasi bangsa yang unggul.

Langkah ini dilakukan oleh Kementerian Agama dengan menggelar Perkemahan Pramuka Madrasah Nasional (PPMN) ke-3 di Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, 14-20 Mei 2017.?

Pramuka Madrasah Modal Kuat Membangun Karakter Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Pramuka Madrasah Modal Kuat Membangun Karakter Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Pramuka Madrasah Modal Kuat Membangun Karakter Bangsa

Dalam upacara pembukaan PPMN tersebut, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag Kamaruddin Amin mengutarakan, kegiatan perkemahan ini merupakan instrumen strategis bagi pengarusutamaan karakter bangsa.?

Siswa madrasah dengan ciri khas pendidikan Islamnya makin lengkap jika diperkuat oleh wawasan kebangsaan. Sebab itu menurut Kamaruddin, perkemahan ini merupakan langkah memperkuat sumber daya manusia yang unggul untuk kepentingan bangsa dan negara.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Karena tatanan pembangunan bangsa bukan hanya dari aspek fisik, tetapi juga membangun manusianya. Dalam hal PPMN salah satu dukungan mewujudkan program Nawa Cita pemerintah," ujar Kamaruddin, Selasa (16/5) di Bumi Perkemahan Selawang Segantang Koba, Bangka Tengah.

Dia melaporkan, perkemahan ini diikuti oleh 34 kontingen dariprovinsi-provinsi di Indonesia, yang tiap kontingen mengutus 20 orang yang terdiri dari 7 penegak putra, 7 penegak putri, 1 pengurus OSIS putra, 1 perngurus OSIS putri, 1 pembina putra, 1 pembina putri dan 2 orang Pimpinan Kontingen Daerah (Pinkonda).

Selain aktivitas kepramukaan, kegiatan bertema Pramuka Madrasah Kreatif, Terampil dan Berkarakter ini juga mengadakan talkshow wawasan kebangsaan, lomba bercerita tentang jasa pahlawan Islam Indonesia, Pionering Aplikatif Budaya Nusantara, lomba pembuatan film cinta tanah air, pemencahan Rekor MURI tentang Pantun Melayu Talibun, Karnaval Budaya, Outing Kebangsaan, Ikrar Pramuka Madrasah Cinta NKRI, dan Bakti Sosial.

Hadir dalam upacara pembukaan PPMN III ini di antaranya, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka Adiyaksa Dault, Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Erzaldi Rosman Djohan, para Kepala Kanwil Kemenag seluruh Indonesia, dan ribuan pramuka madrasah yang memadati Bumi Perkemahan Selawang Segantang Koba, Bangka Tengah.? (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi AlaNu Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 25 Januari 2018

Blangkon, Ciri Khas Jamaah KBIH Arafah Jepara

Jepara, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pengasuh pesantren Hasyim Asyari Bangsri Jepara KH Nuruddin Amin (Gus Nung) membawa sedikitnya 125 jamaah haji asal Jepara. Salah satu ciri khas dari Jamaah Haji Nusantara KBIH Arafah Bangsri Jepara untuk jamaah laki-laki yang berjumlah 58 orang ialah blangkon.

Gus Nung menyatakan bahwa jamaah haji tidak melulu menggunakan kopiah haji. Menurutnya, jamaah haji tetapi boleh mengenakan blangkon sebagai tutup kepala.

Blangkon, Ciri Khas Jamaah KBIH Arafah Jepara (Sumber Gambar : Nu Online)
Blangkon, Ciri Khas Jamaah KBIH Arafah Jepara (Sumber Gambar : Nu Online)

Blangkon, Ciri Khas Jamaah KBIH Arafah Jepara

“Wong kaji ora kudu nganggo kopiah putih tapi ugo oleh nganggo blangkon,” kata Gus Nung.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sementara 67 jamaah putri belum mengenakan ciri khusus.

Sejak dipublikasikan di jejaring sosial fesbuk, penanda khusus ini banyak menuai apresiasi dari pelbagai kalangan netizen.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dipilihnya blangkon sebagai identitas bukan tanpa alasan. Menurut Gus Nung, blangkon memiliki ciri yang sangat spesifik dan tiada duanya. Saat dihubungi via jejaring sosial suami Hj Hindun Anisah ini menjawab bahwa blangkon dari segi bentuknya sudah mirip dengan sorban hanya saja motifnya kain batik.

“Blangkon ini ciri khas Keraton Mataram Ngayogyokarto Hadiningrat. Kerajaan ini merupakan salah satu kerajaan Islam Jawa yang ada di tanah Nusantara,” tutur Ketua KBIH Arafah.

Sejak digulirkan ide menarik ini, puluhan jamaah memberi respon yang positif. Tujuannya selain memudahkan untuk mengidentifikasi teman di tanah haramain juga mereka nyaman memakainya setiap ada aktivitas maupun jamaah rutin di masjid.

Identitas blangkon masih terinspirasi dari Islam Nusantara yang dikonseptualisasikan Muktamar Ke-33 NU. Dengan memakai blangkon pihaknya ingin menunjukkan corak keislaman yang spesifik di salah satu bagian Indonesia yang diidentifikasi sebagai Islam Nusantara.

“Makanya kami sengaja mempraktikkan pengamalan Islam Nusantara dengan wujud memakai blangkon,” terangnya, Kamis (27/8) lalu.

Tutup kepala ini dikenakan ketika berangkat ke masjid serta kegiatan-kegiatan KBIH di tanah suci kecuali saat sedang ihram. Misalnya saat Arbain, ziarah ke Jabal Uhud, Ziarah ke Masjid Quba, Jannatul Baqi Al-Ghorqod, Ziarah Madinah serta aktivitas ibadah yang lain.

Tahun ini KBIH Arafah berangkat dari 24 Agustus hingga 4 Oktober 2015. KBIH ini menempati Kloter 12 SOC (sebelumnya kloter 13) dari Jepara. Maju satu kloter akibat akumulasi jamaah yang belum keluar visa hajinya. (Syaiful Mustaqim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi AlaNu, Kiai Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 24 Januari 2018

Antusias Warga Berkartanu Sangat Tinggi

Jombang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Tertib administrasi dan pendataan warga nahdliyin lewat kepemilikan Kartu Tanda Anggota NU (Kartanu) sudah selayaknya jadi perhatian utama. Apalagi perhatian dan respon warga di beberapa daerah juga sangat membanggakan.

Antusias Warga Berkartanu Sangat Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)
Antusias Warga Berkartanu Sangat Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)

Antusias Warga Berkartanu Sangat Tinggi

Panitia Kartanu di Jombang cukup optimis bahwa program ini akan berlangsung sukses. Apalagi saat melakukan sejumlah sosialisasi di berbagai Majelis Wakil Cabang (MWC), hampir semuanya menanggapinya dengan serius. "Ada juga yang masih mempertanyakan dan mengajukan berbagai pertanyaan," kata Ahmad Syifa yang juga Wakil Ketua Kartanu di Jombang.

Namun apa yang disampaikan dan dipertanyakan sejumlah pengurus MWC adalah sebuah hal yang wajar. "Pertanyaan dan keraguan dari MWCNU itu mewakili sejumlah tanya dari beberapa warga," katanya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Di antara yang dipertanyakan adalah soal keuntungan atau benefid yang nantinya akan diterima warga saat mereka memiliki kartu identitas tersebut. "Kira-kira apakah yang akan kami terima kalau kemudian memiliki kartu ini?" kata salah seorang pengurus ranting saat sosialisasi di MWCNU Sumobito beberapa waktu lalu.

Ahmad Syifa menyampaikan bahwa ada beberapa keuntungan yang bisa diraih bagi pemegang Kartanu. Diantaranya adalah sejumlah keringanan biaya saat menggunakan fasilitas sejumlah rumah sakit di Jombang. Yakni Rumah Sakit Unipdu Medika Peterongan, Rumah Sakit Nahdlatul Ulama serta Rumah Sakit Ibu dan Anak Muslimat Jombang.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Namun hal itu hendaknya jangan dijadikan faktor utama dalam mensukseskan program Kartanu. "Yang terpenting adalah mensukseskan amanah organisasi," kata Afandi, Wakil Sekretaris Kartanu.

Antusiasme para nahdliyin di kota santri untuk mengikuti program Kartanu terus menggeliat. Dalam beberapa bulan kedepan tim Kartanu akan terus bergerak untuk melaksankan pemotretan. Untuk bulan Maret ini adalah untuk daerah MWC Jombang, MWC Peterongan, MWC Sumobito dan MWC Kesamben.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syaifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi AlaNu, IMNU, Nusantara Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 20 Januari 2018

PMII Bahas Pemerataan Pembangunan di Muspimnas

Ambon, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Musyawarah Pimpinan Nasional (Muspimnas) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) tahun ini diselenggarakan di Universitas Pattimura, Ambon, Maluku, Rabu (18/11). Aktivis PMII dari pelbagai cabang mencoba mengevaluasi soal distribusi pembangunan yang dijalankan pemerintah.

Pembukaan musyawarah ini dihadiri ratusan pimpinan cabang dari seluruh kota dan kabupaten serta delegasi pengurus wilayah dari tiap provinsi. Tampak hadir salah satu pendiri PMII KH Nuril Huda. Sementara Muspimnas PMII dibuka oleh perwakilan Gubernur Maluku, Rabu jam 15:00 Wita.

PMII Bahas Pemerataan Pembangunan di Muspimnas (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Bahas Pemerataan Pembangunan di Muspimnas (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Bahas Pemerataan Pembangunan di Muspimnas

Musyawarah ini mengambil tajuk "Pemerataan Pembangunan untuk Kedaulatan NKRI". Menurut Ketum PB PMII Aminudin Maruf, PMII sengaja memilih Maluku sebagai tuan rumah Muspimnas kali ini.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Ini merupakan bentuk dorongan kepada pemerintah supaya pembangunan negara tidak hanya terpusat di pulau Jawa. Di Pulau Jawa, pembangunan sudah penuh sehingga pembangunan hari ini harus merata," sambut Amin.

Sedikitnya tiga menteri dijadwalkan akan menghadiri kegiatan tersebut.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Mereka antara lain Menteri Desa Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Marwan Jafar, Mensos Khofifah Indah Parawansa serta Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi," kata Ketua Panitia Muspimnas PMII 2015 Kaka Hanifa di Ambon, Selasa (17/11). (Muhafidz/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Daerah, AlaNu Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 17 Januari 2018

Persoalannya adalah Derajat

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Hilal atau bulan dianggap terlihat dan keesokan harinya ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah apabila memenuhi salah satu dari dua syarat. Pertama, ketika matahari terbenam, ketinggian bulan di atas ufuk tidak kurang daripada 20 dan jarak lengkung bulan-matahari (sudut elongasi) tidak kurang daripada 30. Kedua, ketika bulan terbenam, umur bulan tidak kurang daripada 8 jam selepas ijtima’/konjungsi berlaku.

“Ketentuan ini berdasarkan taqwim standard empat negara asean, yang ditetapkan berdasarkan musyawarah menteri-menteri agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) pada tahun 1992,” kata Ketua Umum Pengurus Pusat Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) KH Ghozali Masroeri, di Jakarta, Selasa (17/10).

Persoalannya adalah Derajat (Sumber Gambar : Nu Online)
Persoalannya adalah Derajat (Sumber Gambar : Nu Online)

Persoalannya adalah Derajat

Perbedaan yang muncul dikalangan organisasi-organisasi Islam adalah seputar penentuan dua derajat sebagai syarat. Muhammadiyah misalnya berpendapat bawa satu menit saja, sudah dikatakan bulan telah muncul. Makanya, tahun ini Muhammadiyah telah mengumumkan Idul Fitri 1427 H jatuh pada 23 Oktober 2006 (puasa hanya 29 hari).

Tinggi hilal di Indonesia, menurut umumnya metode ilmu hisab antara –00 30’ sampai 10. Tinggi hilal di Jakarta pada waktu itu, menurut limabelas metode hisab (ada sekitar 20 metode hisab di Indonesia: Red): antara 00 12’ – 00 58’ 32”; Hasil hisab LFNU: 00 54’.

Ketetapan dua derajat sebagai persyaratan imkanur rukyat (visibilitas pengamatan) disepakati oleh NU, kata Kiai Ghazali, karena memang benar-benar berdasarkan penelitian para ahli ilmu pengetahuan. Dikatakan bahwa sangat mustahil melihat bulan dengan mata kepala dalam kondisi 1 derajat.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Masalahnya, Muhammadiyah tidak mau menerima persyaratan rukyatul hilal (melihat bulan) sebagaimana disabdakan Nabi Muhammad SAW, hanya memakai hisab alias terlalu mengunggulkan ilmu pengetahuan, padahal sudah dianggap tidak valid oleh banyak kalangan.

Sementara itu di indonesia bagian timur bulan malah belum berada belum di atas ufuk. “Kalau 1 Syawal itu tanggal 23 berarti puasa di Merauke sana kurang 1 hari,” kata Kiai Ghazali.

“Gara-gara Muhammadiyah tetap begitu tadi ada yang mengusulkan pada saya, untuk menyampaikan bahwa tidak boleh ormas Islam mengumumkan sebelum pemerintah. Tapi kukan Muhammadiyah kalau nggak begitu,” pungkasnya. (nam)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi AlaNu Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kalau Tidak Kita Bina, Anak NU Dibina Orang Lain

Pringsewu,Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ketua PCNU Pringsewu, Lampung H Taufiqurrohim mengingatkan warga NU untuk memberikan pendidikan terbaik kepada anak-anak, khususnya pendidikan Ahlussunnah wal-Jamaah An Nahdliyyah.

Hal ini disampaikannya saat memberi pengarahan dalam rangka penguatan organisas dan sosialisasi Lembaga Amal Zakat Infaq dan Shadaqah (LAZISNU) di depan seluruh Pengurus Syuriyah MWCNU dan Ranting NU se-Kecamatan Banyumas, Senin (27/6).

Kalau Tidak Kita Bina, Anak NU Dibina Orang Lain (Sumber Gambar : Nu Online)
Kalau Tidak Kita Bina, Anak NU Dibina Orang Lain (Sumber Gambar : Nu Online)

Kalau Tidak Kita Bina, Anak NU Dibina Orang Lain

Ia mengingatkan bahwa kiprah dan kepedulian pengurus NU di semua tingkatan terhadap hal ini akan berpengaruh kepada eksistensi NU di masa yang akan datang.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Jangan sampai besok terjadi anak pengurus NU melarang orang lain yang akan tahlilan, yasinan dalam rangka mendoakan orang tuanya sendiri. Bina anak kita, kalau tidak, akan dibina orang lain," ingatnya.

Saat ini, menurutnya, paham-paham Islam baru bermunculan dan menyasar para generasi muda khususnya di wilayah perkotaan. Para pemuda yang masih mencari identitas diri dan cenderung labil ini sangat mudah terpengaruh pemikirannya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Jika tidak didasari dengan pemahaman Islam Ahlusunnah wal Jamaah An-Nahdliyyah yang kuat dari keluarga, bukan tidak mungkin sekembalinya dari kota mereka akan menyalah-nyalahkan amalan orang tuanya," katanya.

Apalagi menurutnya perkembangan teknologi yang sangat pesat sekarang ini memberikan kemudahan untuk mengakses berbagai macam informasi.

"Ada kecenderungan sekarang banyak orang, khususnya anak muda, tidak mau belajar agama lewat guru dan kiai. Mereka lebih percaya kepada mbah Google yang silsilah keilmuannya tidak jelas," tuturnya.

Sehingga hal ini patut menjadi perhatian seluruh pengurus dan warga NU agar waspada dan mengarahkan para generasi muda untuk belajar ilmu agama kepada guru dan kiai secara mendalam dan sekaligus mengharap barakah keilmuannya. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi AlaNu, Nahdlatul, Berita Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 15 Januari 2018

Penerima Beasiswa Diingatkan Kontribusinya pada PBNU

Rabat, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Kedatangan kader-kader NU ke Maroko angkatan ketiga mendapatkan sambutan hangat dari Kedutaan Besar Republik Indonesia KBRI Rabat. Mereka bertemu dengan Duta Besar Republik Indoneaia untuk Kerajaan Maroko H. Tosari Widjaja di KBRI Rabat, Jum’at (10/10).?

Penerima Beasiswa Diingatkan Kontribusinya pada PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Penerima Beasiswa Diingatkan Kontribusinya pada PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Penerima Beasiswa Diingatkan Kontribusinya pada PBNU

Dubes dalam pertemuan tersebut salah satunya mengingatkan, para penerima beasiswa tersebut harus bisa memberikan kontribusi nyata kepada PBNU yang telah mengirim mereka menuju negeri Maroko.?

Pertemuan itu didampingi oleh Pensosbud KBRI Rabat Muhammad Hartantyo, ketua Tanfidziyah PCINU Maroko, Kusnadi dan ketua PPI Maroko, Afif Husen. Pada kesempatan itu Tosari Widjaja mengingatkan bahwa tujuan mereka ke Maroko bukan hanya sekedar belajar ditempat yang jauh dari rumah tapi kedatangannya membawa amanah yang sangat besar. Mereka harus belajar bersungguh-sungguh sehingga bisa selesai tepat waktu dan ketika pulang nanti bisa mengabdikan ilmunya ditengah masyarakat.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Mengingat masyarakat Maroko mayoritas berkomunikasi menggunakan bahasa Arab dan Perancis hal ini sangat membantu memperlancar bahasa Arab dan Perancis.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Oleh karena itu usahakan tinggal dengan orang Maroko dan perbanyak teman dari negara-negara lain supaya bisa menguasai bahasa asing dengan mudah," ujarnya.

Usai bertemu dengan Dubes RI mereka langsung mengikuti orientasi mahasiswa/i baru yang diadakan oleh PCINU Maroko. (red: mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Lomba, AlaNu, Kajian Islam Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 07 Januari 2018

Lagi, LD PBNU Bimbing Dua Mualaf Ikrarkan Syahadat

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) untuk ke sekian kalinya membimbing Non-Muslim mengikrarkan dua kalimat syahadat. Kali ini dua orang perempuan bernama Tjindrawati (54) dan Tan Ke Moy (65) memilih NU sebagai tempat ikrarnya menjadi Muslimah pada Jumat (13/10) di Kantor LD PBNU Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat.

Lagi, LD PBNU Bimbing Dua Mualaf Ikrarkan Syahadat (Sumber Gambar : Nu Online)
Lagi, LD PBNU Bimbing Dua Mualaf Ikrarkan Syahadat (Sumber Gambar : Nu Online)

Lagi, LD PBNU Bimbing Dua Mualaf Ikrarkan Syahadat

Seusai dibimbing salah satu Pengurus LD PBNU, KH Nur Hasyim Ilyas, Tjindrawati mengungkapkan kebahagiaannya setelah resmi menjadi Muslimah. Perempuan yang saat ini tinggal di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan itu ingin meneruskan perjuangan suaminya yang juga bergama Islam.

“Senang sekali, soalnya suami saya yang sudah meninggal juga seorang Muslim. Saya bertekad semaksimal mungkin belajar Islam secara mendalam ke depannya,” ujar Tjindrawati diamini Tan Ke Moy.

Tjindrawati saat ini bekerja sebagai wiraswasta di daerah Glodok Jakarta Barat ini mengaku harus berkompromi dengan keluarga terlebih dahulu sebelum ikrar syahadat. Ia merupakan satu-satunya yang beragama Islam di dalam keluarganya yang sekarang sebagian besar beragama Buddha.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Pada akhirnya mereka mengizinkan dan diserahkan ke diri pribadi masing-masing,” ungkap ibu satu anak ini.

Setelah resmi menjadi mualaf, Tjindrawati bertekad menjalankan ajaran Islam dengan sebaik-baiknya, baik shalat lima waktu, puasa, dan lain-lain.

“Kami memilih NU untuk mengikrarkan syahadat karena kami mengetahui NU mempunyai pandangan keagamaan yang baik,” terang perempuan kelahiran Padang, Sumatera Barat ini. 

Sementara itu, KH Nur Hasyim Ilyas mengatakan, dengan menjadi Mualaf, kedua perempuan yang dibimbingnya itu didorong menyesuaikan dengan ajaran-ajaran Islam, baik soal cara berpakaian, makanan, dan menunaikan kewajiban-kewajiban ibadah.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Belajar bertahap, tidak harus sekaligus 100 persen berubah. Cari guru yang tepat dalam membimbing dan belajar agama Islam,” ujar Kiai Nur Hasyim sesaat setelah membimbing mengikrarkan dua kalimat syahadat. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi AlaNu Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 03 Januari 2018

Ini Pasal Tatib Muktamar Paling Alot Dibahas

Jombang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Sidang Pleno Pembacaan Tata Tertib Muktamar ke-33 NU di Jombang berlangsung sangat lama. Beberapa kali terjadi ketegangan. Beberapa kali dibacakan shalawat badar. Beberapa kali sidang diskorsing.

Sidang dimulai Ahad (3/8) pagi, dan hingga tengah malam baru menyelesaikan 18 pasal dari 23 pasal yang dibahas. Sidang dihentikan pada saat pembahasan pasal 19. Pasal ini terkait sistem Ahlul Halli wal Aqdi untuk pemilihan Rais Aam PBNU.?

Ini Pasal Tatib Muktamar Paling Alot Dibahas (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Pasal Tatib Muktamar Paling Alot Dibahas (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Pasal Tatib Muktamar Paling Alot Dibahas

Pasal 19 yang berbunyi. "Pemilihan Rais Aam dilakukan secara musyawarah mufakat melalui sistem Ahlul Halli wal Aqdi." “Ini pasal yang kita tunggu-tunggu,” kata Ketua Sidang Pleno H Slamet Effendy Yusuf saat memulai pembahasan pasal 19.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pantauan dari ruang sidang, para pimpinan sidang nampak harus memimpin muktamirin dengan ekstra sabar dan adil karena begitu pasal tersebut dibacakan ratusan interupsi dari para muktamirin bermunculan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Slamet Efendi akhirnya harus mendata terlebih dahulu para peserta yang akan menyampaikan aspirasinya. Sekitar 131 peserta terdata mulai diberikan kesempatan satu persatu untuk bertanya ataupun memberikan usulan.

Namun belum genap 10 peserta menyampaikan keinginan, keadaan sudah tidak kondusif lagi. Hal ini dikarenakan beberapa isi yang disampaikan cenderung menyudutkan pihak pihak tertentu dan mengakibatkan respon emosional. Ditambah lagi dengan beberapa peserta yang menyampaikannya dengan nada tinggi. Hal inilah yang membuat suasana menghangat sehingga sidang harus diskors beberapa kali.?

Terakhir, sidang diskors tengah malam tanpa ada pemberitahuan kapan akan dilanjutkan lagi. Informasi yang diterima Pondok Pesantren An-Nur Slawi, sidang baru akan dimulai pukul 13.00 siang ini.

Menanggapi kondisi ini Rais Syuriyah PCNU Pringsewu KH Ridwan Syueb mengajak kepada muktamirin yang akan menyampaikan pendapat untuk mengedepankan akhlak mulia yang diwujudkan dengan perkataan yang lembut.

"Berkatalah dengan santun, lembut dan jangan bernada tinggi dalam menyampaikan pendapat," ajaknya. "Sebenarnya apa yang disampaikan memiliki muatan yang bagus, namun cara penyampaiannya yang perlu diperbaiki," tambahnya.?

Sementara Katib Syuriyah PCNU Tanggamus Lampung H. Syamsul Hadi mengatakan bahwa perbedaan pendapat adalah hal yang biasa. Hal ini menunjukkan bahwa Pengurus NU memiliki pola pikir yang kritis dalam menyikapi sesuatu.?

"Inilah ciri khas NU. Dan jangan heran, dinamika seperti ini akan selesai dengan baik karena para kyailah yang akan memberikan kesejukan dalam penyelesaiannya," jelas Samsul yang juga menjadi Wakil Bupati Tanggamus. (Muhammad Faizin/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pondok Pesantren, AlaNu, Doa Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 21 Desember 2017

Bupati Batang Harapkan IPNU-IPPNU Fokus Kaderisasi

Batang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Bupati Batang Yoyok Riyo Sudibyo mendukung sepenuhnya program kaderisasi PC IPNU-IPPNU Batang yang tengah berjalan. Saat pelantikan di pendopo kabupaten Batang, Ahad (4/5), Yoyok menekankan pentingnya makna kaderisasi demi keberlanjutan organisasi pelajar mewarnai perjalanan Indonesia ke depan.

Dalam sambutannya di pelantikan PC IPNU-IPPNU Batang masa khidmat 2014-2016, Yoyok menyatakan bangga pada generasi muda IPNU-IPPNU yang masih peduli dan mau memikirkan Batang.

Bupati Batang Harapkan IPNU-IPPNU Fokus Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Batang Harapkan IPNU-IPPNU Fokus Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Batang Harapkan IPNU-IPPNU Fokus Kaderisasi

“Saya berharap IPNU-IPPNU Batang memiliki visi yang jelas. Jangan dulu terjun ke politik karena kalian masih memiliki tugas untuk mengawal adik-adik pelajar generasi pemimpin bangsa ke depan,” ujar Yoyok.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Yoyok juga menyatakan pihaknya membuka akses seluas-luasnya kepada IPNU IPPNU untuk mensinergikan program kerjanya dengan program kerja di lingkungan pemkab Batang. Menurutnya, sinergi penting dilakukan agar pelajar NU Batang terlibat langsung di tengah pembangunan masyarakat Batang.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Saya juga titip pada Sekjend PP IPNU M Nahdhi dan para senior IPNU agar menjaga kader-kader potensial di Batang. Junior perlu pengarahan demi kemajuan mereka dan kemajuan Batang,” pesan Yoyok.

Sebelum naik memberi sambutan Bupati Batang menerima kenang-kenangan novel berjudul “Asa Anak Desa” karya penulis asal Batang Slamet Tuhari. Slamet kini dipercaya sebagai Wakil Sekjend PP IPNU. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pemurnian Aqidah, AlaNu Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 19 Desember 2017

Mengenal Toleransi di SMA Ananda Bekasi

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pada tahun 2016, Balitbang Diklat Kemenag melakukan penelitian terhadap SMA Ananda Bekasi.

Penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui proses layanan pendidikan agama di sekolah terhadap siswa tanpa diskriminatif; sikap yayasan penyelenggara pendidikan terhadap layanan agama terhadap siswa tanpa diskriminatif di sekolah.

Mengenal Toleransi di SMA Ananda Bekasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengenal Toleransi di SMA Ananda Bekasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengenal Toleransi di SMA Ananda Bekasi

Selain itu juga untuk mengetahui sikap dan kebijakan pemerintah/pemerintah daerah terkait penyelenggaran pendidikan agama tanpa diskriminatif di sekolah, serta menemukan pola atau bentuk penyelenggaraan pendidikan agama kepada siswa tanpa diskriminatif di sekolah.

Dari penelitian tersebut ditemuan bahwa Sekolah SMA Ananda adalah sekolah yang diprakarsai oleh tokoh-tokoh Buddha Bekasi, namun dalam perjalanan SMA tersebut tidak bercorak ciri khas agama Buddha.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

SMA Ananda memberikan pelayanan pendidikan agama siswa sesuai dengan agama siswa masing-masing dan mempunyai guru agama sesuai dengan agama masing-masing siswa.

Di SMA Ananda sangat terasa harmonisasi dan budaya sekolah yang cukup menyejukkan, tidak ada hambatan atau problem yang serius, dan senantiasa melakukan peningkatan mutu pembelajaran. Sarana-prasarana dan aktivitas yang tersedia dapat meningkatkan mutu dan kualitas Pendidikan Agama.

Regulasi negara sangat diperlukan untuk menata pendidikan agama di sekolah, mulai pengangkatan guru agama, meningkatkan sarana-prasarana, media pembelajaran, diklat guru agama, restrukturisasi penyuluh agama, harmonisasi hubungan Kementrian Agama dan Kementian Pendidikan dan yang lainnya.

Penelitian juga merekomendasikan kepada Kementerian Agama hendaknya memberi perhatian yang serius agar memberi pengangkatan guru agama sebagai PNS, memberi bantuan sarana dan prasarana, memberikan diklat kepada guru agama, serta membangun harmonisasi dengan Kementerian Pendidikan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rekomendasi berikutnya penyuluh agama harus terstruktur sampai ke bawah, dan memberi bantuan kesejahteraan guru agama.

Adapun rekomendasi untuk sekolah SMA Ananda sendiri adalah meningkatkan jumlah buku pengayaan pelajaran, penalaran, dan pendalaman semua agama; menyiapkan tempat ibadah yang memadai untuk semua agama.

Sebagai sekolah permbauran, hendaknya masyarakat publik ikut memberdayakan dan meningkatkan partisipasi untuk kemajuan SMA Ananda. Sekolah juga sebaiknya melahirkan karya tulis atau menumbuhkan budaya menulis siswa terutama untuk menyampaikan pemikiran siswa tentang masyarakat yang taat agama dan berakhlak mulia. (Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Fragmen, AlaNu, Pahlawan,Attijani Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 13 Desember 2017

Fakta Jawaban KH Sholeh Darat atas Kegelisahan Kartini

Oleh M. Rikza Chamami

Kisah tentang bagaimana KH Muhammad Sholeh bin Umar Assamarani (Mbah Sholeh Darat) melukiskan sosok Raden Ajeng Kartini dalam Kitab Tafsir Faidlur Rahmanmasih selalu menjadi pertanyaan. Apakah itu hanya sebuah sejarah lisan yang tidak dapat dibuktikan? Ternyata fakta ini mulai nyata dan dapat dilacak dari karya Mbah Sholeh Darat.

?

Orang seperti Kartini dengan segala kemewahan hidup butuh pencerahan agama. Apalagi keluarga Kartini dikenal sebagai keluarga santri-priyayi yang tekun dalam beragama dan dedikasi kuat dalam menjalankan roda pemerintahan. Itu semua demi rakyat Bumiputra (demikian Kartini selalu menyebut Indonesia dengan istilah Bumiputra).

Fakta Jawaban KH Sholeh Darat atas Kegelisahan Kartini (Sumber Gambar : Nu Online)
Fakta Jawaban KH Sholeh Darat atas Kegelisahan Kartini (Sumber Gambar : Nu Online)

Fakta Jawaban KH Sholeh Darat atas Kegelisahan Kartini

Alhasil, ketika Kartini belajar al-Qur’an terasa hampa, karena ia hanya belajar mengeja dan membaca. Isi kandungan al-Qur’an tidak dapat diserap. Ia mengibaratkan bahwa belajar al-Qur’an dengan model demikian akan menjadikan orang Islam tidak mengetahui mutiara hikmah al-Qur’an. Ketika ia meminta guru ngajinya mengartikan al-Qur’an justeru Kartini dimarahi. Kartini mulai gelisah dan sangat gelisah.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ia berontak akan belum sempurnanya Islam yang dipeluknya jika ia belum tahu isi al-Qur’an. Bahasa asing seperti Belanda, Prancis dan Inggris saja ia lahap dengan baik, maka bahasa agamanya, yakni Arab juga ia berusaha pelajari. Namun Kartini tidak menemukan guru bahasa Arab atau guru tafsir. Itulah Kartini, seorang perempuan muda yang tidak kenal lelah belajar bermasyarakat dan beragama.

Maka saat Kartini masih berumur 20 tahun sudah mengungkapkan kegelisahan itu dalam suratnya kepada Stella EH Zeehandelaar tertanggal 6 November 1899: “Al-Qur’an terlalu suci untuk diterjemahkan dalam bahasa apapun juga. Disini orang juga tidak tahu Bahasa Arab. Disini orang diajari membaca al-Qur’an, tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Saya menganggap itu pekerjaan gila; mengajari orang membaca tanpa mengajarkan makna yang dibacanya”.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Begitu dahsyatnya Kartini melakukan kritik kuat terhadap pembelajaran agama di akhir abad 19 itu. Dan itu menjadi bukti bahwa Kartini sangat peduli terhadap kuatnya minat untuk belajar isi agama yang terkandung dalam al-Qur’an. Dan saat itu belum ada tafsir al-Qur’an yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Melayu atau Jawa. Wajar, jika Kartini menjadi penasaran!

Kartini masih melanjutkan kalimat dalam surat itu: “Sama halnya seperti kamu mengajar saya membaca buku bahasa Inggris yang harus hapal seluruhnya, tanpa kamu terangkan maknanya kepada saya. Kalau saya mau mengenal dan memahami agama saya, maka saya harus pergi ke negeri Arab untuk mempelajari bahasanya disana. Walaupun tidak saleh, kan boleh juga jadi orang baik hati. Bukankah demikian Stella?”

Kalimat itu jelas menandakan tak berdayanya seorang Kartini akan bahasa Arab. Ia dibuat pusing oleh bahasa Arab dan dibuat penasaran oleh agamanya yang berbahasa Arab. Maka ia rindu dengan negeri Arab untuk belajar kesana. Dan itu sangat tidak mungkin, sebab harapannya ke Belanda yang ia kuasai bahasanya saja gagal dan digantikan Agus Salim. Maka ia menanti kehadiran orang Jawa yang pernah di negeri Arab agar bisa menjelaskan isi al-Qur’an.

Siapakah dia? Mbah Sholeh Daratlah yang mampu membuka wawasan Islam Kartini. Al-Qur’an yang demikian suci dibuka maknanya sehingga Kartini memahaminya. Mengenai waktu kapan Kartini bertemu Mbah Sholeh Darat, penulis lebih sepakat memilih pertemuan itu sudah jauh hari sebelum 1901 (dua tahun pernikahan Kartini). Sebagaimana pendapat Moesa Mahfudz yang dikutip Abdullah Salim bahwa pertemuan Kartini itu diperkirakan 1901. Tapi kemungkinan besar itu pertemuan yang kesekian kalinya.

Sebab surat Kartini di usianya 20 tahun (1899) sudah paham tentang ajaran al-Qur’an dengan tidak bolehnya orang Belanda menyalahkan ayahnya yang melakukan poligami. Bahkan Kartini mengutip ajaran Islam tidak melarang beristri empat. Ini menunjukkan sebelum surat itu ditulis, Kartini sudah pernah belajar tentang kandungan al-Qur’an surat an-Nisa ayat 3: “...Fankihu ma thaba lakum minan nisa’ matsna watsulatsa wa ruba’...; Maka nikahilah wanita-wanita yang kamu senangi, dua, tiga atau empat”.

Tafsir Faidlur Rahman fi Tarjamati Tafsir Kalam Malikid Dayyan jilid satu itu ditulis selama sebelas bulan oleh Mbah Sholeh Darat (20 Rajab 1309 H/19 Februari 1892 sampai 19 Jumadal Ula 1310 H/9 Desember 1892 M). Jilid pertama ini berjumlah 503 halaman dengan bahasan surat al-Fatihah dan surat al-Baqarah. Kemudian kitab tafsir itu dicetak oleh percetakan HM Amin Singapura pada 27 Rabiul Akhir 1311 H/7 November 1893. Oleh Amirul Ulum ditegaskan bahwa pertemuan Kartini dan Mbah Sholeh Darat sudah pernah dilakukan sebelum 1892, tepat sebelum Kartini dipingit.

Seorang suami dari buyut Mbah Sholeh Darat bernama Agus Tiyanto (sering menyebut namanya Abu Malikus Salih Dzahir) menjelaskan bahwa sumber data Kartini pernah nyantri dengan Mbah Sholeh Darat ini awalnya ditemukan oleh Moesa Machfudz (dosen sejarah UGM) berdasarkan catatan pribadi murid Kyai Sholeh Darat yaitu KH. Mashum Demak. Dan itu dimuat dalam Majalah Gema Yogyakarta Nomor 3 tahun 1978.

Adapun tokoh-tokoh generasi awalyang melacak dan meneliti riwayat Mbah Soleh Darat pertama adalah HM. Ali Cholil (cucu Kyai Soleh Darat), kemudian dilanjutkan Abdullah Salim (Universitas Sultan Agung), Danuwiyoto (Dosen IAIN Sunan Kalijogo) dan Muchoyyar (IAIN Walisongo). Yang menulis buku tentang Mbah Sholeh Darat pertama adalah Abdullah Salim dalam tulisan Arab Pegon dan dilanjutkan Agus Tiyanto dengan kemudian adanya revisi tambahan dan editing dari Muhammad Ikhwan.

Agus Tiyanto menambahkan? bahwa yang menarik dari RA Kartini adalah tiga hal: Pertama, Kartini telah mendapat pencerahan (ilmu hikmah) dalam memahami ilmu agama berkat bimbingan seorang ulama (kyai). Kedua, Kartini yang dinyatakan pejuang sejati kesetaraan gender, tetapi pada akhirnya menerima juga ketika suaminya berpoligami. Disitulah rahasia kuat Kartini. Dan ketiga, Kartini adalah generasi pejuang yang lahir dengan garis ayah dari kaum ningrat (terikat dengan adat budaya Jawa) dan dari garis Ibu yang dari ulama-ulama dalam tradisi kaum santri.

Yang perlu dibuka dan dikaji kali ini adalah bagaimana Mbah Sholeh Darat menyinggung atau mengisyaratkan seorang Kartini sebagai seorang muridnya? Apakah ada cacatan tentang itu? Coba kita simak pembukaan Kitab Tafsir Faudlur Rahma karya Mbah Sholeh Darat dalam bahasa Jawa dan ditulis dengan pegon ini:

Alhamdulillah amarana fi amrin hakim, wa nahana ‘anit ta’jil fi amrit ta’lim. Wassalatu wassalamu ‘ala syafi’il anam, sayyidina Muhammadin wa ‘ala ‘alihi washahbihi hidayatal ummah wal malikik ‘allam. Amma ba’du. Mekaten nyuwun marang Syaikhana mu’allif iki tafsir setengahe ikhwan kita fiddin kang supoyo iki tafsir kasebaro luwih disik senadyan mung sak surat, sebab kerono yakine hajate ba’dlul ikhwan mahu lan liyan-liyane hajat ngaweruhi iki tafsir. Maka ora kerso Syaikhana nuruti penuwune ba’dlul ikhwan mahu sebab mengkono iku ora muwafiq karo ‘azate ulama’ yang mutaqaddimin. Jalaran ulama mutaqaddimin iku ora kerso nyebar karangane yen durung rampung sarto piyambake taseh jumeneng. Sak wuse semunu saking bangete kajenge karepe kang nyuwun mahu, maka nuli istakharah Syaikhana nyuwun idzin apa kalilan disebar disik opo ora. Maka nuli diparingi isyarati idzin nyebarake tafsir marang wong akeh. Mulane iki juz awal disebar luwih disik sedurunge rampung liya-liyane. Mugo-mugo kang keri bisoho rampung. Kejobo soko iku iki ta’jil iku ora klebu hadits: “Al’ajalah minasy syaithan” alhadits. Sanadyan nulaya tatapan karo ‘adate ulama mutaqaddimin kerono wus ono idzin mahu kerono hikmah ing njeruni iki ta’jil. Iyo iku inggal-inggal weruhe muslimin kang raghibe yang ora jahade mung ilmune hikmah kang kasebut ono ing iki tafsir mugo-mugo iki ta’jil kalebu ta’jil sababi. Lamun ora dita’jil maka yekti suwe ora weruhe wong akeh mung ilmune hikmah lan asrar kang kasebut ana ing iki tafsir ing hale sak iki kito kabeh wus kewajibane ngaweruhi ilmune hikmah “lan asrore Qur’an”. Iyo bener wus tafsir olehe mahami tafsir liyane iki jalaran tembung Arab serto maneh lamuno olehe nyebar iki tafsir iki ngenteni rampung kabeh, maka yekni isih luas banget lan durung karuwan menangi rampung jalaran umur kito durung karuan menangi rampunge soko rampunge kabeh. Dadi kito mati sakdurunge weruh isine tafsir iki. Mugo-mugo kito keparingan weruh isine kabeh sarto amal alhashil ta’jil iki iku ora haram, ora mekruh, ora khilaful aula malah luwih becik lan luwih agung fadlilahe. Sebab kerono gegawe wasilah marang barang kang luweh gede? iyo iku weruhe wong akih marang ilmu lan hikmah lan asrar. Ing hale asrar iku asrare Ratu kang agung lan maneh iki ta’jil iku ta’jil ata wal hikam”.

Kalimat pembuka ini menjadi fakta tekstual dari Mbah Sholeh Darat terhadap kegelisahan Kartini dalam hal memahami rahasia al-Qur’an. Mbah Sholeh Darat menegaskan bahwa permintaan untuk menerbitkan bagian dari seluruh tafsir ini permintaan sebagian teman-temannya. Bukan hanya itu, tapi ditegaskan ikhwan kito fiddin (teman yang seagama). Ini menegaskan bahwa permintaan itu bukan dari Belanda yang beda agama. Dan Mbah Sholeh Darat sadar, bahwa tradisi ulama pendahulu itu kalau membuat karya tidak akan dipublikasikan sebelum selesai. Maka langkah spiritual dilakukan dengan istikharah dan isyaratnya boleh mempercepat penyebaran tafsir itu.

Alasan kuat yang menjadikan percepatan penerbitan tafsir itu adalah karena umat sudah sangat membutuhkan. Sedangkan sebagian besar orang Jawa tidak bisa berbahasa Arab. Ungkapan ini sama dengan ungkapan Kartini dalam surat pada Stella. Jadi sangat wajar kalau dialektika karya Kartini direspon cepat oleh Mbah Sholeh Darat. Dan ada yang luar biasa dari ungkapan Mbah Sholeh Darat dalam mengukur usianya. Seakan sudah ada tanda bahwa beliau akan berpamitan pada umat, maka tafsir yang jilid pertama dipercepat.

Sudah tidak ada yang bisa meragukan lagi pertemuan Kartini dengan Mbah Sholeh Darat dalam konteks masa hidup dan karya-karyanya. Ini seakan menjadi bukti nyata “dialog” antara dua tokoh dalam goresan tintanya masing-masing. Kartini melukiskan dalam surat-suratnya. Dan Mbah Sholeh Darat menulis dalammuqaddimah/pembukaan kitab tafsirnya. Apalagi Mbah Sholeh menuliskan kata “Ratu” dalam pembukaan tafsirnya. Kata “Ratu” itu bisa memaksudkan bahwa yang dimaksudkan dua hal: Allah atau “Ratu” itu adalah pemerintah dan keluarga (termasuk Kartini).

Maka KH Dr Imam Taufiq MAg, ahli tafsir UIN Walisongo yang juga Pengasuh Pondok Pesatren Darul Falah Besongo Semarang menyebutkan tegas saat menyampaikan Kajian Tafsir Faidlurrahman di Masjid Agung Kauman Semarang (17 April 2016): “Tradisi penerbitan ulama klasik tidak menyebarkan karangan sebelum selesai. Percepatan penerbitan karena tingginya permintaan dan kebutuhan tafsir al-Qur’an dengan bahasa lokal. Dan desakan Kartini atas penerbitan tafsir lokal kepada KH Sholeh Darat dalam pengajian pamannya, Bupati Demak Ario Hadiningrat”.

Inilah salah satu fakta yang terungkap dari karya Mbah Sholeh Darat yang menegaskan bahwa salah satu yang meminta Mbah Sholeh Darat membuat tafsir berbahasa Jawa adalah Kartini. Dan Kartini juga terpengaruh dengan isi rahasia al-Qur’an yang ditulis oleh Mbah Sholeh Darat. Sehingga Kartini menjadi orang yang berjiwa santriwati dengan status sosialnya sebagai keluarga ningrat (pejabat negara).

Masih ada lagi kisah menarik tentang kisah Kartini dan Mbah Sholeh Darat. Bagaimana Mbah Sholeh Darat menyadari bahwa Kartini akan menikah dini? Dan bagaimana Mbah Sholeh tahu bahwa dirinya akan wafat dalam waktu selesainya menghadiahkan Kitab Tafsir pada Kartini? Nantikan kisah berikutnya.

Bersambung...

M. Rikza Chamami, dosen UIN Walisongo Semarang



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Makam, AlaNu Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 09 Desember 2017

Korban Aksi Terorisme Ini Keluhkan Wartawan dalam Liputan Serangan Bom

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Vivi Normasari, salah satu korban pengeboman Hotel JW Marriott tahun 2003 silam mengeluhkan sikap wartawan. Menurutnya para wartawan seperti tidak punya hati nurani saat korban pengeboman dalam keadaan luka parah dan meminta tolong wartawan hanya sibuk mengambil gambar atau merekam video.

Vivi menceritakan hal tersebut dalam Short Course “Penguatan Perspektif Korban dalam Peliputan Isu Terorisme bagi Insan Media” di Hotel Ibis Budget, Menteng Jakarta Pusat, Rabu (25/5).

Korban Aksi Terorisme Ini Keluhkan Wartawan dalam Liputan Serangan Bom (Sumber Gambar : Nu Online)
Korban Aksi Terorisme Ini Keluhkan Wartawan dalam Liputan Serangan Bom (Sumber Gambar : Nu Online)

Korban Aksi Terorisme Ini Keluhkan Wartawan dalam Liputan Serangan Bom

Diceritakan Vivi, akibat peristiwa JW Marriott, ia menghadapi situasi hilangnya rasa percaya diri. Sebelum pengeboman JW Marriott, ia sedang menyiapkan rencana pernikahannya. Ia juga sebagai karyawan sebuah bank. 

Peristiwa pengeboman Hotel JW Marriott menyebabkan Vivi harus menjalani masa sulit. Vivi mengalami luka di beberapa bagian tubuhnya, rasa takut menghadapi pernikahan, termasuk kehilangan pekerjaan. Vivi pun harus menjalani fisioterapi untuk menyembuhkan luka fisiknya dan memulihkan trauma psikologis melalui Bimbingan dan Konseling.

Luka batin dan trauma yang dialami Vivi akhirnya perlahan mencair. Bersama Aliansi Indonesia Damai (AIDA), kini Vivi menjadi salah satu agen perdamaian yang salah satu kegiatannya mengampanyekan pesan damai ke sekolah-sekolah menengah di Indonesia.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kepada masyarakat, Vivi menyampaikan pesan moral, dampak tragedi bom sangat mengubah kehidupa seseorang; aksi kekerasan di belahan bumi mana pun tidak dapat ditolerir baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kehidupan beragama yang kita anut. 

“Kita hidup tidak sendirian, oleh karena itu kepedulian terhadap sesama menjadi penting,” tandasnya. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi AlaNu, Kyai, Pahlawan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 07 Desember 2017

Buku “Agama NU untuk NKRI” Dibedah di Bandung

Bandung, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Buku "Agama NU untuk NKRI" karya Ahmad Baso di bedah di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Darul Falah, Bandung, Kamis (6/3) kemarin. Penulisnya hadir di hadapan lebih dari tiga ratus mahasiswa dan pelajar Darul Falah.

Ahmad Baso, Wakil Ketua PP Lakpesdam NU, adalah salah satu penulis tentang NU dan Pesantren yang paling rajin. Selain “Agama NU untuk NKRI” sudah banyak buku yang diterbitkan, antara lain “NU Studies” dan “Pesantren Studies” yang terdiri dari beberapa jilid.

Buku “Agama NU untuk NKRI” Dibedah di Bandung (Sumber Gambar : Nu Online)
Buku “Agama NU untuk NKRI” Dibedah di Bandung (Sumber Gambar : Nu Online)

Buku “Agama NU untuk NKRI” Dibedah di Bandung

Bedah buku “Agama NU untuk NKRI” merupakan rangkaian dari kegiatan pelantikan Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia STAI Darul Falah (PK PMII STAIDAF) masa khidmat 2014-2015yang dilaksanakan di aula utama Pondok Pesantren Darul Falah Cihampelas Kabupaten Bandung Barat.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selain di Bandung, dalam akun facebooknya, Ahmad Baso mengatakan, buku “Agama NU untuk NKRI” dibedah di banyak tempat. Ia sendiri sedang bersemangat untuk berkeliling ke berbagai daerah. Setelah sebelumnya di Semarang, selama bulan Maret ini ia akan mengadakan roadshow ke Samarinda, Sumenep, Yogyakarta, dan Cirebon.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sementara itu di Bandung, usai bedah buku dan pelantikan, Dede Muhammad, ketua PK PMII STAI Darul Falah yang baru dilantik mengatakan akan terus berusaha menjalankan komitmen pergerakan dalam mengokohkan pergerakan mahasiswa serta mahasiswi khususnya dilingkungan kampus STAI Darul Falah.

KH Aa Maulana ZA, Rais Suriyah PCNU Kabupaten Bandung Barat dalam tausyiahnya mengenalkan faham dan ajaran Ahlussunnah wal jama’ah. Menurutnya, NU menjadi salah satu organisasi yang banyak berperan dalam menjaga eksistensi aswaja sebagai faham yang paling moderat dalam menyikapi perbedaan. (Rifqi Iyall/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ahlussunnah, AlaNu Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 04 Desember 2017

Presiden Dijadwalkan Silaturahmi ke Buntet Pesantren

Cirebon, Pondok Pesantren An-Nur Slawi



Presiden Republik Indonesia Joko Widodo dijadwalkan silaturahmi ke Pondok Buntet Pesantren Cirebon esok, Kamis (13/4).

Presiden Dijadwalkan Silaturahmi ke Buntet Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Presiden Dijadwalkan Silaturahmi ke Buntet Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Presiden Dijadwalkan Silaturahmi ke Buntet Pesantren

Hal tersebut disampaikan secara resmi oleh Ketua Tim Media Buntet Pesantren Ahmad Rofahan di Grup Facebook Info Buntet Pesantren, “Presiden Republik Indonesia H. Joko Widodo, insya Allah akan hadir di Pondok Buntet Pesantren, besok, Kamis 13 April 2017 pukul 09.00.”

Menurutnya, Presiden Jokowi akan silaturahmi dengan para kiai dan berdialog dengan para santri.

“Selain akan bertemu dengan para kiai, Jokowi juga diagendakan akan berdialog dengan para santri,” tulisnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dalam kunjungan keduanya ke Pondok Pesantren Buntet (sebelumnya pada saat masih berstatus calon presiden), Presiden Joko Widodo juga akan menghadiri peletakan batu pertama pembangunan gedung Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Buntet Pesantren Cirebon. Hal ini disampaikan secara resmi oleh akun instagram Buntet Pesantren melalui foto persiapannya.

“Bapak Presiden dijadwalkan besok pagi melakukan peletakan batu pertama STIT Buntet Pesantren,” tulis @Buntetpesantren, Rabu (12/4/2017).

Ketua STIT Buntet Pesantren Fahad A. Sadat juga mengunggah beberapa foto saat ia Pasukan Pengaman Presiden (Paspampres) melakukan gladi resik.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Gladi resik dengan Paspampres dan yang terkait, mdh2an lancar dan sukses,” tulisnya. (M Syakir Niamillah/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi AlaNu, Ulama Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 01 Desember 2017

Lomba Khitobah Gali Potensi Generasi NU di Bidang Dakwah

Jepara, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) kecamatan Bangsri Jepara bekerja sama dengan Ikatan Daiyah Muda Bangsri (Ikdamuba) menggelar Lomba Pidato Takmir Masjid-Musholla se-kecamatan Bangsri tahun 2016 yang dipusatkan di Gedung MWCNU Bangsri, Jepara, Jawa Tengah, Rabu (16/11).?

Kegiatan yang diikuti 22 peserta itu mengangkat tema “Dengan Semangat Berdakwah ala Aswaja, Kita Teruskan Perjuangan Rasulullah Muhammad untuk Persatuan Umat”.?

Lomba Khitobah Gali Potensi Generasi NU di Bidang Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)
Lomba Khitobah Gali Potensi Generasi NU di Bidang Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)

Lomba Khitobah Gali Potensi Generasi NU di Bidang Dakwah

Lomba yang diikuti oleh utusan masjid dan musholla se-kecamatan Bangsri itu untuk kategori umum dengan syarat minimal usia 15 tahun.?

Dalam kegiatan yang dirawuhi KH Taufiqul Hakim pengasuh pesantren Darul Falah Amsilati Bangsri, Kiai M. Ihsan Ketua MWCNU Bangsri, KH Hayatun Abdullah Hadziq Ketua PCNU Jepara menyatakan rasa bangga dengan semaraknya kegiatan-kegiatan NU. Menurut Gus Yatun hal itu sebagai jembatan kaderisasi Ulama di masa yang akan datang.?

Sementara itu, salah satu panitia, Ali Burhan memaparkan kegiatan dilaksanakan untuk menggali potensi generasi muda NU khususnya dalam bidang dakwah.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Di samping itu kata Burhan untuk pemberdayaan takmir masjid dan musholla se-kecamatan Bangsri. Tujuan lain, tambahnya sosialisasi kitab Al-Jannah, An-Nar dan Hujjatun Nafiah karya KH. Taufiqul Hakim.?

“Sehingga materi pidato adalah ke-Aswaja-an dengan referensi dari salah satu kitab tersebut,” tambahnya.?

Kegiatan tersebut merupakan program tahunan dari LDNU Bangsri sebagai satu langkah konkrit pemberdayaan takmir masjid dan musholla.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Untuk pengumuman juara rencananya akan diumumkan dalam Jepara Bershalawat yang akan dilaksanakan di lapangan Bangsri Jepara. (Syaiful Mustaqim/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pesantren, Ahlussunnah, AlaNu Pondok Pesantren An-Nur Slawi