Selasa, 27 Desember 2016

Mendorong Toleransi dan Menanggulangi Terorisme Melalui Media Sosial

Mataram, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Badan Nasional Peanggulangan Terorisme (BNPT) bekerjasama dengan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) NTB menggelar Workshop Metode dan Best Practice mengenai Countering Violent Extrimism (CVE), Rabu-Jumat (9-11/9) di Mataram, NTB.

CVE dikembangkan dalam Forum Global Terrorism Forum (GCFT) yang diikuti oleh santri dari berbagai daerah. Kegiatan ini berbasis pada pemanfaatan media sosial untuk mendorong toleransi dan penanggulangan terorisme.

Mendorong Toleransi dan Menanggulangi Terorisme Melalui Media Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendorong Toleransi dan Menanggulangi Terorisme Melalui Media Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendorong Toleransi dan Menanggulangi Terorisme Melalui Media Sosial

“Kami berharap melalui kegiatan ini, para santri dan aktivis media sosial dapat menerapkan pendekatan CVE melalui pemanfaatan media sosial dalam rangka penguatan toleransi, penanggulangan radikalisme dan terorisme di daerah,” jelas Direktur Kerjasama Regional Multilateral BNPT, Herry Sudrajat.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kapolda Nusa Tenggara Barat, Brigjen Pol Srijono dalam sambutannya menyampaikan, bahwa wilayah NTB termasuk dalam kategori merah. “Sebagian besar masyarakat menjadi korban radikalisme, karena NTB merupakan daerah yang masih sangat hijau sehingga menjadi sasaran strategis penyebaran paham radikalisme, terutama melalui media sosial,” ungkapnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sementara itu, Ketua FKPT NTB, H Mujid Tahir mengatakan, bahwa masyarakat di NTB menolak gerakan radikalisme dalam bentuk apapun. Tetapi, dia mengatakan, sebagian besar masyarakat masih bersikap pasif dalam menanggapi gerakan-gerakan yang mengarah pada radikalisme dan terorisme.

“Seluruh lapisan masyarakat di sini ada pada posisi moderat, yang terlibat dalam gerakan dan paham radikalisme sama sekali bukan dari kalangan pesantren,” terangnya.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun Pondok Pesantren An-Nur Slawi, CVE merupakan sebuah ? proses intervensi yang mencakup 4 alat yang sering digunakan oleh organisasi terorisme dalam mengembangkan organisasi dan melakukan aksinya dan juga 4 (empat) alat yang digunakan sebagai pendukung dalam operasional.

Pendekatan ini dimulai dengan pemberian inokulasi (semacam memberi obat atau vaksin, red) kepada para kader teroris, melakukan pencegahan, adanya keterlibatan dalam tindak kekerasan, dan rehabilitasi para pelaku terorisme yang ditangkap. Dengan kata lain CVE berbicara mengenai pencegahan dan deradikalisasi. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Halaqoh Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kurang Dikenal, Ini Jejak Sejarah Kerajaan Loloda di Maluku Utara

Ambon, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Arkeolog Wuri Handoko menilai Kerajaan Loloda di wilayah Maluku Utara kurang dikenal karena sedikitnya catatan dan referensi sejarah kerajaan kuno di Maluku Utara itu.

Kurang Dikenal, Ini Jejak Sejarah Kerajaan Loloda di Maluku Utara (Sumber Gambar : Nu Online)
Kurang Dikenal, Ini Jejak Sejarah Kerajaan Loloda di Maluku Utara (Sumber Gambar : Nu Online)

Kurang Dikenal, Ini Jejak Sejarah Kerajaan Loloda di Maluku Utara

"Karya-karya tulis mengenai perjalanan sejarah Loloda sejauh ini masih sangat sulit ditemukan, karena itu Loloda tidak banyak diketahui dan jarang disebutkan," katanya di Ambon, Selasa (25/7).

Ahli kepurbakalaan Islam dari Balai Arkeologi Maluku itu mengatakan Kerajaan Loloda adalah salah satu wilayah yang menjadi bagian dari kepulauan rempah-rempah, yang terletak di sebuah tanjung di Pulau Halmahera bagian barat dan bagian utara.

Dalam banyak referensi yang tersebar dan terpisah-pisah, Kerajaan Loloda kurang diketahui dibandingkan dengan empat kerajaan utama lainnya di Maluku Utara, yakni Ternate, Tidore, Bacan (Makian) dan Jailolo (Moti).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Oleh beberapa sumber, menurut dia, Loloda dianggap kerajaan yang sudah didirikan sejak abad ke-13 sebagai bekas kerajaan pertama, tertua serta terbesar di kawasan laut dan kepulauan Maluku bagian utara.

Beberapa sumber asing dan lokal yang keberadaannya sudah sangat langka, dikemukakannya menyebutkan setelah abad ke-17 kerajaan itu sudah hilang, sehingga sudah sangat jarang disebut-sebut dalam banyak referensi sejarah.

Dalam buku yang ditulis Leonard Y. Andaya pada 1993 tercatat bahwa pada masa lalu Kerajaan Loloda adalah sebuah wilayah yang cukup kuat dan mengakui kekuasaan Ternate sebagai wilayah pusat, sehingga Loloda adalah wilayah taklukan atau wilayah vassal dari Ternate.

Antonio Galvao, tentara yang yang pernah menjadi Gubernur Portugis di Maluku, dalam sebuah catatannya menuliskan bahwa Loloda adalah sebuah desa kecil yang kacau, dan masa lalunya hanya tinggal kenangan.

Pemerintah Hindia-Belanda pada tahun 1686 menyebut Loloda sebagai desa yang terletak di tepi sungai dengan air payau. Loloda merupakan kampung muslim, disitu raja dan ibunya tinggal dan lima desa Alifuru yang terletak di pedalaman.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Meskipun pernah dikenal sebagai kerajaan Islam, namun tidak terkonfigurasi ke dalam Motir Staten Verbond (persekutuan raja-raja Maluku) pada 1322-1343, dan Loloda juga tidak pernah terdengar sebagai kerajaan Islam dengan raja yang bergelar sultan.

Tahun 1908 terjadi perang Loloda yang berakibat pada kekalahan yang diderita oleh masyarakat Loloda. Kerajaan yang terletak di tepi Sungai Soasio atau sering dikenal juga Sungai Loloda kemudian ditinggalkan kosong begitu saja oleh penduduknya.

Mereka pindah dan menyebar menempati tempat-tempat baru, baik di sepanjang pesisir Pantai Loloda utara ataupun Loloda kepulauan.

"Tampaknya dalam berbagai penulisan sejarah Loloda memang banyak diabaikan. Kerajaan ini dianggap hilang tak berbekas sekitar tahun 1900-an akibat kalah bersaing dengan pihak kolonial," ucap Wuri.

Menurut dia, Loloda secara mitologis dan geohistoris adalah bagian dari kehadiran atau kemunculan raja dan kerajaan-kerajaan awal di Maluku.

Loloda memiliki luas wilayah yang mencakup hampir separuh Kepulauan Halmahera, bahkan bisa dikatakan seluruh pulau itu dahulunya adalah bagian dari miliknya, tetapi sejarah tentang itu sejauh ini masih sangat sulit ditemukan.

"Banyak ungkapan yang kemudian muncul mengenai Loloda sejauh ini, diindikasikan sebagai kata atau konsep yang terabaikan, tersingkirkan, hilang, dan terlupakan dalam sejarah Lokal Maluku Utara dan sejarah nasional Indonesia," ucapnya.

Berdasarkan letak geografisnya saat ini, Loloda berada di Pulau Halmahera di bagian utara dan Barat, yang secara umum terbagi menjadi Loloda Utara di Halmahera Utara dan Loloda Selatan di Halmahera Barat.

Tipologi geografis Loloda terdiri dari Loloda daratan, Loloda kepulauan, Loloda teluk, dan Loloda pegunungan.

Wilayah kerajaan Loloda, kata Wuri lagi, diperkirakan adalah wilayah Kecamatan Loloda di Kabupaten Halmahera Barat, Kecamatan Loloda Utara dan Loloda Kepulauan yang termasuk wilayah administratif Kabupaten Halmahera Utara.

"Banyak ungkapan yang kemudian muncul mengenai Loloda sejauh ini, diindikasikan sebagai kata atau konsep yang terabaikan, tersingkirkan, hilang, dan terlupakan dalam sejarah Lokal Maluku Utara dan sejarah nasional Indonesia," ujar Wuri Handoko. (Antara/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Nasional, Kiai, Nusantara Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 25 Desember 2016

Menteri Khofifah Rangkul Ulama Terkait Program Pengalihan Subsidi BBM

Depok,Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa merangkul para Ulama untuk mensosialisasikan program pengalihan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM). Terlebih lagi, pengurangan tersebut telah menimbulkan goncangan dan dampak bagi warga miskin. 

Menteri Khofifah Rangkul Ulama Terkait Program Pengalihan Subsidi BBM (Sumber Gambar : Nu Online)
Menteri Khofifah Rangkul Ulama Terkait Program Pengalihan Subsidi BBM (Sumber Gambar : Nu Online)

Menteri Khofifah Rangkul Ulama Terkait Program Pengalihan Subsidi BBM

Menurutnya, melalui Program Keluarga Harapan (PKH) diyakini menjadi penguat atas keberlanjutan mencapai kebutuhan dasar, seperti sekolah, ekonomi rumah tangga, serta layanan kesehatan. Terlebih lagi, di kalangan para Ulama biasa bersentuhan dan mengelola diniyah atau madrasah. Untuk itu, mereka bisa merespon dan memberikan data siswa di madrasah yang mungkin di lingkungannya tidak terdaftar formal dalam  pendidikan atau di bawah umur 18 tahun.  

"Tentunya, bisa  diintegrasikan melalui Kementerian Agama. Harapannya, supaya dapat Kartu Indonesia  Pintar supaya dapat dana operasional dan agar  dapat dana tunjangan fungsional. Kategori itu kan sudah ada di Mendibud dan Menag. Kita dari Kemensos hanya  approfal jumlahnya. Tapi, pendataannya di Dikbud dan Depag.  Kalau yayasan  langsung ke Kementerian Sosial atau mendapat rekomendasi dari Dinas Sosial tingkat 2,"ujarnya dalam  Rapat Kerja Nasional Jamiyyatul Qurro wal Huffazh Nahdlatul Ulama dan Peresmian Gedung Al-Quran Centre, Al-Hikam, Beji.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurutnya, pada  tahun 2015  alokasi untuk  KIP sebesar 16,5 juta. Dengan jumlah tersebut, dia mengungkapkan bahwa Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta anggaran agar dinaikkan menjadi 20 juta dengan asumsi cakupannya diperluas. Padahal, tahun 2014 sebanyak 11,5 juta dan tak terserap sebesar 4,5 juta.  

"Ini PR kita bagaimana agar bisa dipercepat. Saya mencontohkan, Menkumham saja  minta  untuk 160 ribu  narapidana agar mendapat Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan dapat 30 ribu.  Kalau dulu semuanya berbasis rumah tangga. Sekarang cakupannya luas  sampai anak drop out dan anak terlantar,"paparnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Mimpi Khofifah

Dirinya berimpi saat berada  di tim transisi, agar pendidikan Diniyah, Madrasah dan ustad bisa menjadi target. Terlebih lagi, peran dan posisinya sangat strategis. Yaitu mewujudkan Islam  Rahmatan lil Alamin (Islam rahmat bagi alam semesta).  

"Perannya agar bisa dirasakan sampai ke  Asia. Mestinya  ini kita tangkap dalam mewujudkan peradaban keemasan Islam Rahmatan lil Alami di Asia. Kalau teror bom, kan bukan dari  Islam. Sebagai catatan peradaban Islam tampak di Pesantren yang  menghadirkan Islam penuh damai," paparnya.

Dalam acara tersebut, selain para alim ulama juga  tampak hadir Menteri Agama RI Lukman Hakim Syaifudin juga menjadi narasumber. (aan humaidi/mukafi niam) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ulama Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 23 Desember 2016

Pemerintah Madinah: Layani Jemaah Haji dengan Senyuman!

Riyadh, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Bertindak sebagai Gubernur Madinah Pangeran Saud bin Khalid Al-Faisal menyeru kepada para pejabat setempat untuk melayani jemaah haji dengan senyum dan rasa bangga.

Seiring dengan inspeksinya terhadap fasilitas layanan jemaah haji, Saud mendesak mereka untuk meningkatkan pelayanan yang lebih memuaskan, demikian diberitakan Arab News, Rabu (9/8).

Pemerintah Madinah: Layani Jemaah Haji dengan Senyuman! (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemerintah Madinah: Layani Jemaah Haji dengan Senyuman! (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemerintah Madinah: Layani Jemaah Haji dengan Senyuman!

Ia disambut pejabat pemerintah setempat di Bandara Internasional Pangeran Mohammed bin Abdul Aziz. Pada kesempatan itu Saud diberi tahu tentang prosedur yang berlaku di kantor imigrasi dan pesawat terbang di sana.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selama kunjungannya ke National Guides Establishment, ia meluncurkan layanan baru untuk melacak jemaah haji yang hilang. Ia juga mengunjungi ruang kontrol operasi yang memantau pergerakan jemaah di Madinah.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Seperti diwartakan sebelumnya, Pangeran Khalid Al-Faisal, Penasihat Raja Arab Saudi, Gubernur wilayah Makkah dan Ketua Komite Haji Pusat, menyatakan pemerintah dan warga negaranya sangat antusias menyediakan semua potensi untuk melayani jemaah haji dan umrah untuk melakukan melakukan ritual mereka dengan mudah.

Seperti dilansir kantor berita Arab Saudi, SPA, pihaknya menolak semua tuduhan adanya politisasi haji sebagaimana ditudingkan negara-negara rivalnya. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kajian, AlaSantri Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 20 Desember 2016

PAC Ansor Sindangkerta Adakan PKD Angkatan Pertama

Bandung Barat, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pengurus PAC GP Ansor Sindangkerta melibatkan sebanyak sebelas ranting GP Ansor di kecamatan Sindangkerta dalam Pelatihan Kader Dasar (PKD), Sabtu (29/11). Kegiatan yang berlangsung hingga Ahad (30/11) malam ini merupakan bagian dari gerakan utama PCNU Bandung Barat dalam memasukkan jamaah ke dalam struktur NU.

PAC Ansor Sindangkerta Adakan PKD Angkatan Pertama (Sumber Gambar : Nu Online)
PAC Ansor Sindangkerta Adakan PKD Angkatan Pertama (Sumber Gambar : Nu Online)

PAC Ansor Sindangkerta Adakan PKD Angkatan Pertama

Ketua GP Ansor Sindangkerta Dida A Maulana mengapresiasi animo masyarakat dari setiap ranting desa untuk mengikuti kegiatan PKD ini. Di mana jumlah peserta yang hadir dalam kegiatan itu melebihi jumlah yang ditargetkan.

"Saya kaget dengan banyaknya peserta yang hadir. Namun ini menjadi kebanggaan karena menandakan betapa besarnya animo masyarakat untuk bergabung di Ansor," ujarnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ia pun menegaskan pentingnya para pemuda dan santri untuk bergabung di Ansor. Selain sebagai organisasi pemuda Islam yang sudah lama berdiri, GP Ansor merupakan wadah pengawalan yang mendukung kedaulatan NKRI.

“Ansor memiliki sejarah panjang dalam membela kedaulatan tanah air dari masa ke masa.”

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sementara itu, pengurus NU Bandung Barat KH Hilman Farid mengamanahkan semua peserta yang hadir agar tetap istiqomah setelah bergabung di Ansor. Karena pemimpin NU kelak akan sulit dimunculkan apabila tidak dikader melalui banom-banomnya.

"Inilah salah satu pijakan untuk membesarkan NU," ujarnya di hadapan para peserta. (Rifqi Iyall/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Cerita, Santri, RMI NU Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 16 Desember 2016

Sukses, Pesantren Ramadhan IPNU-IPPNU Hulu Sungai Utara

Hulu Sungai Utara, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Guna mengisi bulan suci, Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) dan Ikatan Pelajar NU (IPNU) Alabio Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan, menggelar pesantren Ramadhan, 13-15 Juli 2013.

Sukses, Pesantren Ramadhan IPNU-IPPNU Hulu Sungai Utara (Sumber Gambar : Nu Online)
Sukses, Pesantren Ramadhan IPNU-IPPNU Hulu Sungai Utara (Sumber Gambar : Nu Online)

Sukses, Pesantren Ramadhan IPNU-IPPNU Hulu Sungai Utara

Kegiatan Ramadhan yang diadakan di gedung PCNU Alabio HSU ini berlangsung sukses dengan peserta sebanyak 270 pelajar putra dan putri. Pesantren Ramadhan ini juga mendapat sambutan hangat dari pemerintah setempat. 

Wakil Bupati HSU Husairi Abdi saat membuka acara berharap, IPPNU-IPNU dapat menunjukkan kiprahnya di berbagai bidang dengan condong ke dunia pesantren yang menitikberatkan pengembangan wawasan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Turut hadir dalam kesempatan ini Ketua PCNU Kabupaten HSU, Wakil Ketua PW IPNU dan PW IPPNU Kalimantan Selatan, serta empat anggota DPRD untuk daerah pemilihan Alibio. 

Wakil Ketua PW IPPNU Kalsel Rusimah mengaku sangat bangga dengan kemajuan IPPNU Alabio yang selalu aktif menyalankan program kepelajaran. Usaha ini membuka peluang IPPNU Alabio mendapatkan penghargaan di ajang IPPNU Awards Provisi Kalsel nanti.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Awal Juli lalu, IPPNU Awards Provinsi Kalsel diluncurkan bersamaan dengan rapat kerja wilayah (Rakerwil) I IPPNU Kalsel. Dalam waktu dekat PW IPPNU beserta tim penilai akan berkunjung ke setiap PC IPPNU di Banua Anam, termasuk Alabio, untuk sosialisasi, konsolidasi, silaturahim dan safari Ramadhan.

 

Penulis : Mahbib Khoiron

Sumber: PW IPPNU Kalsel

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kajian Sunnah, Amalan, Pesantren Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 07 Desember 2016

NU Binong dan Tambakdahan Perkuat Aswaja Lewat Pengajian Syariahan

Subang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pengurus MWCNU Kecamatan Binong dan Tambakdahan komitmen menjaga dan menyebarkan ajaran ahlussunah wal jamaah dan Islam rahmatan lil alamin melalui pengajian gabungan setiap bulan dalam sebuah kegiatan bertajuk Pengajian Syahriahan, bulan ini pengajian tersebut digelar di Desa Rancaudik, Kecamatan Tambakdahan, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Rabu (26/7)

KH Saliman yang didaulat memberikan ceramah mengatakan bahwa saat ini paham radikalisme sudah ada di depan mata, untuk menangkal paham yang merusak nama baik Islam tersebut diantaranya dengan menguatkan peran masjid dan majelis talim sebagai media silaturahim dan thalabul ilmi sehingga dapat menguatkan aqidah dan menangkal radikalisme.

"Jika warga nahdliyin tetap istiqomah mengoptimalkan pengajian syahriahan, pengajian di majelis taklim dan masjid dioptimalkan, Insyaallah radikalisme dapat dihindari," jelas Ketua MUI Kecamatan Tambakdahan tersebut.

NU Binong dan Tambakdahan Perkuat Aswaja Lewat Pengajian Syariahan (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Binong dan Tambakdahan Perkuat Aswaja Lewat Pengajian Syariahan (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Binong dan Tambakdahan Perkuat Aswaja Lewat Pengajian Syariahan

Dalam kegiatan yang mengambil tema menguatkan aqidah islamiyah untuk menangkal paham radikalisme tersebut, Kiai Saliman menegaskan bahwa dakwah Islam yang efektif digunakan di bumi nusantara adalah dakwah yang ramah yang mengusung Islam rahmatan lilalamin.

"Wali Songo berhasil menyebarkan Islam di Nusantara dengan dakwah yang ramah," tambah Mustasyar MWCNU Tambakdahan itu

Selain itu, kata dia, dalam berdakwah mesti didukung oleh berbagai pihak dengan menguatkan peran masing-masing profesi, ustad fokus mengurus dan membimbing para jamaah dan santri dalam menuntut ilmu, orang kaya beramal dengan hartanya untuk kelancaran dan kemajuan pengajian dan orang yang tidak memiliki harta bisa membantu dengan tenaga dan kekuatan fisiknya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dalam kegiatan yang dihadiri ribuan jamaah tersebut, turut hadir Camat Tambakdahan, Kepala KUA Tambakdahan, ? Danramil serta Polsek Kecamatan Binong dan Tambakdahan. (Aiz Luthfi/Fathoni)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Internasional Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 02 Desember 2016

Ini Idola Pemimpin Habib Syeh

Brebes, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Menciptakan zaman yang baik, sangat sulit. Karena harus mampu melahirkan pemimpin yang mampu mendoakan rakyatnya dan rakyatnya pun mendoakan pemimpinnya. Pemimpin tersebut bisa membaur dengan rakyat dengan selalu mengadakan pengajian dan istighasah, shalawatan dan berbagai kegiatan keagamaan yang muaranya bisa mendatangkan kedamaian dunia akhirat.

Ini Idola Pemimpin Habib Syeh (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Idola Pemimpin Habib Syeh (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Idola Pemimpin Habib Syeh

Demikian disampaikan Habib Syeh Bin Abdul Qodir Assegaf dari Solo saat menyampaikan tausihyah pada Shalawatan dan Istighosah dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Perlindungan Masyarakat (Linmas) ke-52 tingkat Jawa Tengah di Islamic Center Brebes, Kamis malam (27/3).

Kita bosan dengan pemimpin-pemimpin yang tidak mau mendoakan rakyatnya, bahkan mencaplok hak-hak rakyat dengan melakukan korupsi. Koruptor itu maling, yang malang melintang dengan gaya sopan tetapi sesungguhnya sangat menyakitkan rakyat. Koruptor itu sesungguhnya maling tetapi bergaya mesam-mesem ditelevisi. “Jangan sampai, Jawa Tengah dihinggapi koruptor-koruptor baik kecil maupun besar,” kata Habib Syeh yang kental dengan shalawatnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Habib Syeh juga menyarankan agar gubernur ataupun bupati se-Jawa Tengah jangan menandatangani Peraturan Daerah (Perda) tentang Minuman Keras (miras). Pasalnya, hanya akan mendatangkan keuntungan bagi segelintir orang, yakni produsen miras, sementara rakyatnya menjadi jahat akibat minum-minuman setan. Indonesia tidak butuh orang-orang mendem (mabok) karena hanya merusak. “Jangan sampai pemimpin daerah menandatangani perda miras,” kata Syeh.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Habib Syeh dalam kesempatan tersebut melarang kepada kaum perempuan untuk menjadi TKW. Pasalnya lebih banyak mudlaratnya ketimbang manfaat yang didapat. Suami dan anak-anak menjadi terlantar yang berakibat tingginya angka perceraian dan broken home.

Menurut dia, tidak usah warga Indonesia menjadi TKW, karena negara ini lebih kaya dan terhormat. Indonesia makmur, tinggal bagaimana kita mampu mensyukurinya apa tidak. “Lebih baik berpenghasilan sedikit tetapi barokah ketimbang berpenghasilan banyak tetapi tidak barokah,” kata Habib.

Senada dengan Habib Syeh, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengajak kepada seluruh masyarakat Jateng untuk turut mengawasi kegiatan pembangunan di Jawa Tengah. Dirinya telah bertekad untuk meningkatkan perbaikan infrastruktur, maka jangan sampai pembangunannya tidak bermutu akibat dikorupsi. “Mari kita awasi bersama program pembangunan infrastruktur, agar berjalan dengan baik dan membawa kemaslahatan bagi rakyat,” ajak gubernur.

Dia juga berjanji akan menciptakan lapangan-lapangan kerja bagi generasi muda. Gubernur telah mendorong kepada para bupati dan walikota untuk meningkatkan UMKM dan produk-produk lokal yang bisa menyerap tenaga kerja.

Sementara Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE menyampaikan kegembiraannya kepada gubernur dan Habib Syeh dan Kepala Daerah se Jawa Tengah yang telah memberi suport dan mensukseskan pengajian dalam HUT Linmas. Dia melaporkan, kegiatan pengajian kerap digelar di Kabupaten Brebes untuk mendatangkan kedamaian lahir dan batin bagi masyarakat Kabupaten Brebes. Sehingga pembangunan Brebes bisa berjalan dengan sebaik-baiknya dan sukses.

Pengajian atas kerja sama dengan forum silaturahmi antar majelis taklim (Forsamat) kabupaten Brebes berlangsung meriah. Ketua Panitia KH Aminudin Afif memperkirakan pengunjung mencapai 25 ribu orang. Mereka datang dari berbagai kawasan yang tergabung dalam Syekher Mania. Terlihat dalam identitas jaket mereka, selain dari Brebes ada juga yang berasal dari Cirebon, Tegal, Slawi, Purbalingga. Pengunjung datang sejak Bada Ashar. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

    

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Internasional, Hikmah, Khutbah Pondok Pesantren An-Nur Slawi