Selasa, 16 September 2014

Bermula di Zaman Belanda, Mendidik Semua Usia

Awalnya sebuah langgar. Lalu pesantren. Dan tumbuh dalam puluhan lembaga pendidikan formal. Bak kupu-kupu. Begitulah metomorfosis Pondok Pesantren al-Ihya Ulumaddin yang terletak di Desa Kesugihan Kidul, Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

Pesantren al-Ihya’ Ulumaddin lahir dari semangat sang pendiri, KH Badawi Hanafi, untuk mengembangkan ilmu di tengah situasi pendidikan yang terpuruk akibat penjajahan Belanda. Bermodal langgar duwur (mushala panggung) warisan ayahandanya, Kiai Badawi membangun pesantren sederhana yang terdiri dari beberapa kamar saja, termasuk kamar Kiai Badawi.

Pesantren baru disahkan pemerintah yang berpusat di Banyumas pada 24 November 1925, atau sekitar dua bulan sebelum organisasi Nahdlatul Ulama lahir. Mula-mula, masyarakat mengenalnya sebagai ”Pesantren Kesugihan” hingga berubah nama menjadi ”Pendidikan dan Pengajaran Agama Islam” (PPAI) pada 1961.

Nama ”Pondok Pesantren al-Ihya’ Ulumaddin” diberikan pengasuh berikutnya, KH Mustolih Badawi, putra Kiai Badawi, pada 1983. Kini, Pesantren al-Ihya’ Ulumaddin melahirkan Yayasan Badan Amal Kesejahteraan Ittihadul Islamiyah (Yabakii) yang menaungi tak kurang dari 47 lembaga pendidikan formal dari jenjang kanak-kanak sampai perguruan tinggi.

Bermula di Zaman Belanda, Mendidik Semua Usia (Sumber Gambar : Nu Online)
Bermula di Zaman Belanda, Mendidik Semua Usia (Sumber Gambar : Nu Online)

Bermula di Zaman Belanda, Mendidik Semua Usia

”Yayasan tetap berada di bawah pesantren. Karena yang melahirkan memang pesantren,” kata KH Chasbulloh Badawi, pemimpin pesantren sekarang.

Seperti pesantren pada umumnya, Pesantren al-Ihya’ Ulumaddin mendidik para santrinya dengan berbagai disiplin keislaman, seperti gramatika Arab, fiqih, ushul fiqih, tafsir, hadits, akidah, tasawuf, tarekat, dan lain-lain. Dari sekitar 600 santri yang diasramakan (santri mukim), beberapa santri di antaranya secara khusus juga mengikuti program halafalan al-Qur’an (tahfidzul qur’an).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Hampir setiap santri mukim merupakan peserta didik madrasah atau sekolah di bawah pengelolaan Yabakii. Namun tidak semua dari mereka menjadi santri mukim. Yabakii merupakan wadah bagi jaringan lembaga pendidikan Pensantren al-Ihya’ Ulumaddin yang meliputi beragam jenis, antara lain, 6 Taman Kanak-kanak, 16 Madrasah Ibtidaiyah, 5 SMP, 6 MTs, 2 SMA, 4 MA, 1 SMK, 4 cabang perguruan tinggi bernama ”Institut Agama Islam Imam Ghozali” (IAIIG).

Menurut Kiai Chasbullah, meski pesantrennya telah merambah ke pendidikan formal, unsur nilai pesantren tak boleh terlewatkan. Komitmen ini berlaku pula untuk IAIIG yang tengah dirintis akan menjadi Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Imam Ghozali.

”Bagaimanapun Pesantren al-Ihya’ Ulumaddin dan perguruan tinggi adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Selain mahir di berbagai bidang pengetahuan, mahasiswa juga mengenal pendidikan dan nilai pesantren,” terangnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pesantren terbesar di Cilacap ini juga mengembangkan dua ajaran tarekat, yakni syadzilyah dan naqsabandiyah. Jamaah tarekat dari bermacam latar belakang menggelar kegiatan rutin setiap malam Jumat Kliwon di lingkungan pesantren. Selain itu, pemimpin pesantren aktif mengasuh pengajian Kliwonan setiap Kliwon menurut perhitungan kalender Jawa. Peserta kegiatan rutin sejak berdirinya pesantren ini berasal dari masyarakat umum, khususnya yang tinggal di Cilacap.

 

Penulis: Mahbib Khoiron

 

Foto: pintu gerbang Pesantren al-Ihya’ Ulumaddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Sunnah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 09 September 2014

Pesantren Siapkan Generasi Berakhlaq

Bantul, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pondok pesantren pesantren mempunyai tugas besar menyiapkan generasi masa depan bangsa yang berakhlaq. Santri yang berakhlaq menjadi tumpuan Indonesia masa depan.

Pesantren Siapkan Generasi Berakhlaq (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Siapkan Generasi Berakhlaq (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Siapkan Generasi Berakhlaq

Demikian dikatakan KH Ikhsanudin di Pesantren Binaul Ummah, Wonolelo Pleret Bantul, Selasa (26/3).

Menurut, Kiai Ikhsan, generasi pesantren harus berperan aktif. Akhlaq yang ditempa di pesantren itulah yang menjadi bekal utama dalam berperan di masyarakat. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Dengan akhlaq, generasi santri akan menjadi penentu Indonesia kita.” tegasnya. 

Selain itu, Kiai Ikhsan juga menjelaskan, pesantren juga bertugas mengembangkan ilmu-ilmu agama yang sesuai dengan ahlusunnah wal jamaah.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Keilmuan yang sesuai dengan ajaran ahlussunnah wal jama’ah sudah diwariskan para ulama dan kiai kita. Mari kita jaga dengan sebaik mungkin,” lanjutnya. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Rokhim Bangkit 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pondok Pesantren, Hikmah, Nahdlatul Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 05 September 2014

Kesalehan Ritual dan Kesalehan Digital

Oleh Iqbal Kholidi

Para cendikiawan Muslim telah lama membagi kesalehan ? menjadi dua jenis, yakni kesalehan personal dan kesalehan sosial. Kesalehan personal disebut juga kesalehan ritual, jenis kesalehan yang berkaitan erat dengan ritual ibadah yang berhubungan langsung dengan Allah SWT (ibadah mahdhah), sedangkan kesalehan sosial berkaitan dengan ibadah yang berhubungan dengan sesama umat manusia (muamalah).

Kesalehan Ritual dan Kesalehan Digital (Sumber Gambar : Nu Online)
Kesalehan Ritual dan Kesalehan Digital (Sumber Gambar : Nu Online)

Kesalehan Ritual dan Kesalehan Digital

Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Sholahuddin Wahid yang akrab dipanggil Gus Sholah menambahkan jenis kesalehan yang lain, yaitu kesalehan profesional. Kesalehan yang terkait dengan pekerjaan atau profesi kita. Banyak kita jumpai sebagian orang yang secara ritual keagamaan seperti shalat, puasa, haji bahkan ibadah yang sunnah sekalipun sangat rajin. Sebagian lagi seseorang memiliki kepedulian sosial yang tinggi seperti misalnya gemar menyantuni anak yatim, menyisihkan harta untuk fakir miskin, menjadi donatur panti asuhan atau lembaga kemanusiaan. Dan sebagian lagi ada yang orang memiliki kesalehan profesional.

Untuk mengetahui apa itu kesalehan profesional akan lebih mudah jika diberikan contoh, misalnya adalah seorang pengusaha yang memenuhi hak-hak buruhnya, tidak mengemplang pajak, tidak mempekerjakan anak di bawah umur, atau seorang pejabat pemerintahan yang amanah dan memposisikan dirinya sebagai sayyidul qoum khadimuhum; seorang ? pemimpin adalah pelayan bagi rakyatnya, taat kepada konstitusi bukan pada konstituen partai politiknya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jika ada seorang pejabat atau politisi yang dalam kesehariannya dikenal taat beribadah dari yang fardlu sampai yang sunnah, bahkan sering ke umrah tanah suci Makkah, dikenal pula sebagai sosok yang dermawan membantu sesama manusia, akan tetapi dalam kehidupan profesinya dia malah terjerat kasus suap, atau dana yang digunakan untuk kegiatan sosial adalah hasil korupsi, pertanda yang bersangkutan belum saleh secara profesional.

Saya ingin memperluas cakupan kesalehan, saya ingin kesalehan kita tidak hanya dalam kehidupan nyata saja tapi juga di dunia maya, saya menyebutnya kesalehan digital. Kesalehan digital artinya kesalehan yang berhubungan dengan dunia internet dengan segala pernak-perniknya, termasuk media sosial.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Di media sosial seseorang memiliki kecenderungan bebas berbuat apa saja, terkesan tanpa ada beban, seringkali terjadi antara kepribadian seseorang di kehidupan nyata dan di kehidupan maya seolah bertolak belakang. Di kehidupan nyata seseorang yang dikenal pendiam, santun dan tidak neko-neko namun di dunia maya dia menjadi agresif, frontal bahkan mengarah ke ujaran kebencian.

Sebagaimana di kehidupan nyata, di media sosial pun banyak beredar berita atau kabar yang belum jelas sumbernya kemudian jika kita tanpa memverifikasi kebenarannya ikut-ikutan menyebarkan, lebih berbahaya lagi jika isi berita tersebut muatannya kebencian, sentimen sektarian, ini artinya kita belum mengamalkan bentuk kesalehan digital.

Era digital menghadirkan informasi yang melimpah, orang bisa mendapatkan informasi dengan mudah dan instan, termasuk juga bagi mereka yang berhasrat mempelajari agama ada yang menjadikan internet menjadi rujukan. Tantangan yang kita hadapi di era digital ini adalah banyaknya situs-situs dan akun media sosial yang menyebarkan paham-paham radikal dengan agitasi yang mengusik kerukunan umat beragama. Pertumbuhan internet memang ibarat pedang bermata dua, bisa berdampak positif atau negatif, semuanya tergantung dari sudut pandang kita. Maka sudah saatnya bagi kita membumikan kesalehan digital.

Pakar media sosial Nukman Lutfie mengatakan tanpa kita sadari sebenarnya kita meninggalkan banyak jejak digital, ada "malaikat digital" yang mencatat jejak kita di dunia maya. Kesalehan kita di dunia nyata semestinya juga kita wujudkan di dunia maya. Apa yang kita ungkapkan di media sosial disadari atau tidak, bisa saja berpengaruh bagi orang lain. Ada pepatah Arab yang berbunyi: segala sesuatu yang jatuh pasti akan ada yang memungut.

Jika kita mengamalkan semua kesalehan ritual, sosial dan profesional dalam kehidupan sehari-hari termasuk di dunia maya kita mengamalkan kesalehan digital, berarti kita telah mengamalkan kesalehan secara kaffah.

?

Ilustrasi: now.avg.com

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Sholawat, Olahraga, Sejarah Pondok Pesantren An-Nur Slawi