Sabtu, 30 September 2017

LTMNU Sumedang Gelar Pelatihan Muharrik Mesjid Ketiga

Sumedang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Lembaga Ta’mir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) Kabupaten Sumedang menggelar Pelatihan Muharrik Masjid III di Aula Mesjid Agung Sumedang pada Ahad (27/12). Kegiatan tersebut dihadiri 55 orang pengurus ta’mir masjid dari dua kecamatan, yaitu Sumedang Utara dan Sumedang Selatan.

Pelatihan dibuka Ketua PCNU Sumedang KH Sa’dulloh. Pada pidato pembukaan, ia mengintruksikan kepada seluruh peserta agar semua masjid NU dipasang simbol-simbol ke-NU-an seperti plang, stiker, kalender, dan lain-lain.

LTMNU Sumedang Gelar Pelatihan Muharrik Mesjid Ketiga (Sumber Gambar : Nu Online)
LTMNU Sumedang Gelar Pelatihan Muharrik Mesjid Ketiga (Sumber Gambar : Nu Online)

LTMNU Sumedang Gelar Pelatihan Muharrik Mesjid Ketiga

Hal itu, kata dia, bertujuan untuk menginventarisasi mana mesjid NU, mana yang bukan. Serta untuk menjaga masjid agar amaliah warga NU seperti qunut subuh, baca Barzanji, adzan 2 kali ketika shalat Jum’at, tahililan, shalawatan tetap berjalan dengan baik.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Materi yang disajikan pada pelatihan ini, pertama Ke-Aswaja-an dan Ke-NU-an, disampaikan oleh Ketua PCNU Sumedang. Dalam pemaparan materinya Sa’dulloh menjelaskan manhaj Ahlissunnah wal Jamaah ala Nahdlatul Ulama.

Dalam bidang aqidah atau teologi, kata dia, Nahdlatul Ulama mengikuti manhaj dan pemikiran Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi. Dalam Bidang Fiqih/Hukum Islam, Nahdlatul Ulama bermazhab secara qauli dan manhaji kepada salah satu Al-Madzahib Al-‘Arba’ah (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali). Dalam bidang Tasawuf,? Nahdlatul Ulama mengikuti Imam al Junaid al Baghdadi (w.297H.) dan Abu Hamid al Ghazali (450-505 H./1058-1111 M.).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Materi Kedua, tentang Muharrik Mesjid, disampaikan oleh Ketua LTM NU Sumedang Eman Sulaeman. Eman menjelaskan bahwa Muharrik (penggerak) Mesjid harus senantiasa melakukan pengawasan terhadap mesjid-mesjid Nahdlatul Ulama. “Jangan sampai paham yang di luar ajaran Ahlu sunah wal jama’ah bisa masuk di mesjid-mesjid NU,” katanya.

Sebagai ikhtiar dari hal yag tidak diinginkan, maka pimpinan LTM NU Sumedang akan memfasilitasi untuk meng-SK-an semua masajid yang ada di kabupaten Sumedang dibawah Naungan PCNU Sumedang.

“Ada sekitar 1300 mesjid target untuk di beri SK. Kemudian jika masih ada mesjid yang belum berbadan hukum, nantinya akan diurus hingga jelas legitimasi kepemilikan tanahnya,” terangnya.

Dalam pelatihan ini, hadir Ketua DKM Mesjid Agung Sumedang H. Doni Ahmad Munir. dalam sambutannya Doni berpesan agar mesjid-mesjid NU itu menjamin keamanan dan kenyamanan jama’ahnya. (Ayi Abdul Qohar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pendidikan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Bangun Kemandirian, Ansor Kajen Pekalongan Luncurkan Badan Usaha

Pekalongan, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Dalam rangka mewujudkan kemandirian ekonomi, Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, meluncurkan Badan Usaha Milik Ansor (BUMA) bernama "Sahabat Komputer".

Menurut Abdul Muid, salah seorang fungsionaris PAC GP Ansor Kajen, pemberdayaan ekonomi menjadi salah satu program prioritas di Gerakan Pemuda Ansor yang muaranya adalah terwujudnya kemandirian organisasi dan kader.

Bangun Kemandirian, Ansor Kajen Pekalongan Luncurkan Badan Usaha (Sumber Gambar : Nu Online)
Bangun Kemandirian, Ansor Kajen Pekalongan Luncurkan Badan Usaha (Sumber Gambar : Nu Online)

Bangun Kemandirian, Ansor Kajen Pekalongan Luncurkan Badan Usaha

Ia mengatakan, GP Ansor sangat peduli terhadap pengembangan ekonomi berbasis potensi kader dan kondisi lokal. NUMA “Sahabat Komputer” yang bergerak di bidang jasa servis dan pemeliharaan (maintenance) komputer.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Ke depan kami bercita-cita terwujud Pusat Bisnis Ansor sebagai pusat informasi, promosi sekaligus inkubasi bisnis Ansor" papar Doel Bae, sapaan akrab Abdul Muid.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

BUMA “Sahabat Komputer” yang diluncurkan Jumat (26/2) tersebut berlangsung di lokasi usaha Gedung Serbaguna MWCNU Kecamatan Kajen, Jalan Pahlawan Rowolaku, Kajen, Pekalongan. Prosesi peluncuran ditandai dengan pemotongan pita oleh Ketua MWCNU Kajen H. Saifuddin Zuhri, disaksikan Muspika Kecamatan Kajen, serta segenap pengurus badan otonom NU dan tokoh masyarakat setempat.

Abdul Muid menambahkan, untuk mendorong pemberdayaan ekonomi organisasi dan kader, GP Ansor Kajen telah melaksakan program-program riil, antara lain mendata potensi ekonomi kader, mendirikan pusat pelatihan Ansor berupa "LPK Nuansa Mandiri", memberikan pelatihan inkubasi bisnis dengan penekanan pada pelatihan teknis maupun kewirausahaan, juga memfasilitasi dan mendampingi kelompok usaha bersama di beberapa desa di Kecamatan Kajen.

"Harapannya ke depan organisasi dan kader Ansor semakin kuat, mandiri dan mampu bersaing di era global," tuturnya.

Peluncuran badan usaha ini merupakan rangkaian dari kegiatan Konferensi X PAC Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Kajen yang dilaksanakan selama satu hari penuh. Konferensi tersebut melangsungkan agenda pokok berupa evaluasi dan laporan perjalanan PAC Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Kajen masa khidmah 2013-2016, merumuskan pokok-pokok program dan kebijakan organisasi yang akan ditempuh PAC Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Kajen ke depan, serta memilih pengurus baru PAC GP Ansor Kecamatan Kajen Masa Khidmah 2016-2019. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pesantren Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Mocoan

Mocoan adalah tradisi pembacaan karya sastra keagamaan lama di kawasan Banyuwangi, Jawa Timur. Mocoan Banyuwangi, demikian sering kali disebut, merupakan pembacaan lontar Yusuf yang berisi riwayat Nabi Yusuf dari sejak kecil hingga dewasa bertahta di Mesir.

Mocoan digelar sebagai bagian dari acara ruwatan, bersih desa, atau petik laut, serta juga pada acara-acara ritual peralihan (tujuh bulanan, kelahiran, khitanan, pernikahan). Pembacaannya berlangsung semalam suntuk hingga lontar Yusuf itu khatam. 

Belakangan ini mocoan juga sering menjadi seni pertunjukan yang digelar di luar konteks ritualnya sehingga kebanyakan bentuknya telah dipadatkan dan dipersingkat.

Mocoan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mocoan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mocoan

Mocoan Banyuwangi, seperti banyak tradisi tutur lainnya di Nusantara, merupakan produk dari proses akulturasi atau silang budaya dari Islam dan kepercayaan serta kebudayaan lokal, dalam hal ini kebudayaan masyarakat Osing. Persilangan budaya ini bisa ditelisik dari wujud karya sastra yang dibaca, isi, bentuk, tembang, cara melagukan, bahasa yang dipakai, dan fungsinya dalam masyarakat. 

Yang disebut sebagai lontar Yusuf pada dasarnya adalah sebuah kitab beraksara Arab pegon dalam bahasa Jawa Madya. Kendati demikian, di dalamnya juga ditemukan banyak kosakata bahasa Osing. Kitab ini disalin dan turunkan dari generasi ke generasi. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sebutan “lontar” jelas mengingatkan pada lembaran daun lontar atau kulit ari pohon, media yang dulu digunakan untuk menerakan karya-karya sastra lama. Tradisi pembacaan lontar telah dikenal sejak zaman Hindu-Buddha. Rupanya meski media penulisannya telah berganti dari lontar menjadi kertas, sebutan “lontar” ini tetap lekat. 

Lontar Yusuf, atau lebih tepatnya, kitab Yusuf yang tertua di wilayah Banyuwangi disimpan oleh sebuah keluarga dalam bungkusan kain dan tidak boleh dibuka karena dipercaya bisa menimbulkan kebutaan (ngaweng). Dengan demikian yang dibaca dan beredar di kalangan seniman mocoan sekarang ini adalah berupa salinannya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Lontar Yusuf dituliskan dalam beberapa pupuh (bait), yang namanya mirip dengan tembang macapatan di Jawa. Ada yang terdiri empat pupuh, yaitu kasmaran, durma, pangkur, dan sinom, dan ada yang enam pupuh, yaitu kasmaran, durma, pangkur, kusumadiya, arum-arum, dan rancagan. Perbedaan jumlah pupuh ini terjadi karena proses penyalinan yang kadang-kadang berdasar pada hapalan dan perbedaan pertimbangan pengambilan kalimat yang diringkas. 

Kendati demikian, dalam mocoan Pacul Gowang terdapat tambahan beberapa pupuh, yaitu mijil, kesilir, andrian, delimoan, selobok, dan kedendha. Tetapi pupuh-pupuh tambahan ini dianggap bukan bagian dari lontar dan hanya berfungsi sebagai pupuh peralihan yang mengantarkan penyajian dari mocoan yang sifatnya religius menuju mocoan yang sifatnya sekuler (hiburan). 

Perbedaan jumlah salinan pupuh ini tidak mengakibatkan perbedaan dalam penyajian mocoan ketika mereka tampil bersama-sama. Kebanyakan mereka menghapal salinan beserta ding-dungnya, karena bagian ini selalu sama. Ding adalah konsep untuk menyebut kata-kata jawaban di akhir kalimat dalam setiap baris, sedangkan dung adalah konsep untuk menyebut kata jawaban di akhir pupuh.

Ding-dung memiliki kaitan dengan sahut-sahutan yang dilakukan seniman dalam menyajikan lontar. Satu pupuh bisa disajikan oleh seorang saja, tapi bisa juga bergantian. Seandainya disajikan oleh seorang saja, maka yang lain hanya akan ngedingi (menjawab). Ngedingi dilakukan dengan melihat kata akhir dalam kalimat, tetapi bisa juga setelah kata terakhir tersebut usai (endeg-endegan). 

Jika pembaca lain ingin mengganti baris selanjutnya, maka ia akan menyaup (menyahut) kata terakhir yang disajikan penyaji pertama. Biasanya saupan dilakukan dengan menunjukkan ketinggian nada yang berbeda dengan penyaji pertama. Jika sudah disaup, penyaji sebelumnya akan diam dan ganti menjadi tukang ngedingi atau bersiap menyaup bagian selanjutnya. Demikian seterusnya.

Meski tanpa berdasar pada susunan nada-nada instrumen, para etnomusikolog mengamati adanya kesan dua laras (tangga nada) yang dipakai, yaitu modus slendro dan pelog dalam vokal mocoan. Kesan slendro yang muncul beserta eluk-elukan dan gregel-nya dianggap memiliki kedekatan dengan slendro banyuwangen yang digunakan dalam gandrung Banyuwangi. Sedangkan kesan pelog yang lebih dekat ke pelog Jawa, bukan Bali, muncul dalam beberapa pupuh dan lebih banyak tampil sebagai varian penyajian. 

Meski disebut lontar Yusuf, sebenarnya isinya juga menghimpun riwayat nabi-nabi yang lain, seperti Sulaiman, Daud, Shaleh, dan Muhammad. Mocoan jelas merupakan suatu ikhtiar untuk mengambil barakah dari kemuliaan para nabi. Diyakini dengan pembacaan ini, harapan dan keinginan bisa terkabulkan. Meski arti bahasa lontar Yusuf ini tidak dimengerti, kesakralannya tetap diyakini. 

Oleh karena itu para pendengar mocoan kerap menitipkan benda-benda yang terkait dengan hajat mereka untuk diletakkan di bawah lontar yang akan dibaca agar terkabul harapan mereka, misalnya bedak dan sisir, ketika mereka ingin memiliki rupa yang menarik dan memesona sebagaimana Nabi Yusuf. (Sumber: Ensiklopedia NU)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Aswaja, Pesantren Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 29 September 2017

Akibat Banjir, Santri Tremas Pacitan Dikunjungi Presiden Jokowi

Pacitan, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan kerja ke Pacitan, Sabtu (9/12) sore. Kunjungannya ini dalam rangka meninjau lokasi terdampak musibah banjir. Salah satu tempat yang dikunjungi presiden Jokowi adalah Pesantren Tremas yang terletak di Kecamatan Arjosari.

Presiden Jokowi tiba di kompleks pesantren pukul 16.00 dengan mengendarai mobil Indonesia Satu. Kedatangan Jokowi dan rombongan disambut oleh pengasuh pesantren Tremas KH Fuad Habib Dimyathi dan ribuan santri. Saat memasuki pesantren, Jokowi disambut dengan lantunan shalawat Subbanul Wathan karya KH Wahab Hasbullah. Para santripun banyak yang berusaha mendekat dan bersalaman dengan Jokowi.

Akibat Banjir, Santri Tremas Pacitan Dikunjungi Presiden Jokowi (Sumber Gambar : Nu Online)
Akibat Banjir, Santri Tremas Pacitan Dikunjungi Presiden Jokowi (Sumber Gambar : Nu Online)

Akibat Banjir, Santri Tremas Pacitan Dikunjungi Presiden Jokowi

Di hadapan ribuan santri, Presiden Jokowi yang tampak mengenakan kemeja putih lengan panjang mengatakan, Indonesia adalah negara besar yang memiliki beragam suku, budaya dan agama. Namun keberagaman tersebut tak membuat Indonesia terpecah dan justru semakin menguatkan.

Presiden kelahiran Solo ini kembali mengajak kepada para santri untuk selalu menjaga ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wathaniyah.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Di era millenial ini, Presiden Jokowi mengingatkan para santri agar berlaku bijak dalam menggunakan media sosial.

"Kadang di situ (media sosial) banyak sekali ujaran kebencian, banyak sekali saling mencela, banyak sekali saling menjelekkan, saling menghujat. Nilai itu harus kita hindari karena itu bukan nilai-nilai islami," tuturnya.

Presiden Jokowi mengapresiasi kebijakan pesantren Tremas yang melarang santrinya untuk membawa HP dan menggunakan media sosial selama masih belajar di pesantren. Jokowi lalu mendorong para santri untuk semangat dan giat dalam mempelajari ilmu agama.

"Mari terus semangat belajar, belajar agar bisa berkompetisi dan bersaing dengan negara-negara lain," demikian pesan bapak dari 3 anak ini.

Pengasuh Pesantren Tremas KH Fuad Habib Dimyathi mengucapkan terima kasih kepada Presiden Jokowi yang telah berkenan hadir di pesantren Tremas untuk mengunjungi para santri. Menurut Kiai Fuad, Presiden Jokowi adalah Bapak dari seluruh warga Indonesia mulai dari Sabang hingga Merauke.

"Mari kita doakan bapak Presiden kita agar selalu diberikan kesehatan. Dan terima kasih atas semuanya. Terima kasih atas apa saja yang diberikan kepada kami, sebelum dan sesudahnya. Dan semuanya kami haturkan jazakumullah ahsanal jaza," kata Kiai Fuad.

Presiden Jokowi dan rombongan kemudian melanjutkan peninjauan lokasi terdampak banjir di Pesantren Al Fattah Kikil yang tertelak tidak jauh dari Pesantren Tremas. Sebelumnya Jokowi juga meninjau lokasi terdampak banjir di Kelurahan Ploso.

Pada musibah banjir yang terjadi Selasa lalu (28/11) Pesantren Tremas termasuk salah satu tempat yang terdampak banjir. Di pesantren dengan jumlah 2500 santri ini, ketinggian air mencapai satu meter setengah.

Musibah banjir dan tanah longsor di Pacitan menimbulkan kerugian dan kerusakan ekonomi cukup parah. Menurut hasil pendataan sementara oleh tim Pemkab Pacitan, musibah ini menyebabkan kerugian mencapai Rp 600 Miliar. Serta mengakibatkan 25 korban meninggal dunia. Terdiri dari enam korban banjir di 34 desa/kelurahan yang berada di enam kecamatan. Serta 19 korban jiwa terdampak tanah longsor di 176 titik yang tersebar di 68 desa di 12 Kecamatan. (Zaenal Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Khutbah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

M. Nuh: Kurikulum 2013 Songsong Generasi Emas

Jepara, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Menteri pendidikan dan kebudayaan, Prof Dr Ir H Mohammad Nuh, DEA mengungkapkan kurikulum pendidikan nasional 2013 adalah untuk menyongsong generasi emas 100 tahun kemerdekaan bangsa Indonesia.

M. Nuh: Kurikulum 2013 Songsong Generasi Emas (Sumber Gambar : Nu Online)
M. Nuh: Kurikulum 2013 Songsong Generasi Emas (Sumber Gambar : Nu Online)

M. Nuh: Kurikulum 2013 Songsong Generasi Emas

Demikian diungkapkannya dalam Sosialisasi Kurikulum 2013 oleh Mendikbud di kampus Yayasan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (Yaptinu) Jepara, Ahad (3/2).?

Pernyataan itu menurutnya cukup beralasan mengingat populasi pemuda di Indonesia mulai 2010-2035 meningkat tajam. Kelak anak-anak yang saat ini duduk di bangku PAUD, TK, SD dan SMP akan memimpin Indonesia. Populasi pemuda yang meningkat menurut Nuh perlu diakomodir agar mampu bersaing dengan negara-negara yang lain.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Data yang ia lansir dari beberapa lembaga Internasional semisal Pisa dan Timms cukup memprihatinkan. Siswa SD dan SMP untuk mapel MTK, IPA dan Bahasa kualitasnya rendah. Apalagi analisis reasoning malah belum bisa sama sekali. Ditambah dengan urusan data yang sudah kadung tidak terbiasa.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Karenanya Nuh menegaskan kurikulum 2013 yang sempat dipertentangkan bukan sekadar ganti menteri ganti kurikulum. Lebih dari itu, kedepan dari kurikulum terbaru ada logika berpikir, isi, proses, evaluasi yang siap mengahadapi tantangan zaman.

“Untuk isi kurikulum tidak semua dirombak tetapi menggunakan metode mempertahankan cara lama yang baik dan mengambil cara baru yang baik,” terangnya kepada kepala sekolah se-eks karisidenan Pati.?

Berkenaan dengan guru yang biasanya membuat silabus lanjutnya dibebaskan tetapi guru dituntut memanfaatkan waktu selama proses belajar-mengajar. “Saya tahu kalau panjenengan silabusnya hasil kopi paste. Kalau diterus-teruskan isinya ya cuma kopi paste,” jelasnya dengan disambut tawa. ?

Kurikulum 2013 papar Nuh tidak hanya dijalankan di sekolah-sekolah top saja. Melainkan sekolah-sekolah di pelosok pedesaan pun juga bisa melaksanakannya. Semisal dalam mapel Pendidikan Agama dan Budi Pekerja tam tatap muka (JTM) ditambah 2 jam menjadi 4 jam.?

Pada mapel agama memuat Islam rahmatan lil alamin. Dirinya prihatin tatkala mapel agama tidak memuat fiqhun nisa. Kalau santri ia yakin memperoleh materi tersebut. Kalo di sekolah umum ia pesimis. “Sopo seng tanggung karo arek-arek iki?” katanya dengan logat Jawa Timuran.?

Dalam mapel tersebut 3 nilai yang harus dikedepankan yakni kejujuran, kedisiplinan dan kebersihan.

“Saya mendambakan pemuda jujur layaknya Syekh Abdul Qadir Jailani saat berusia 18 tahun. Ia dititipi ibunya emas yang dibawa ke Baghdad. Di tengah perjalanan ia bertemu perampok. Saat ditanya barang bawaan dirinya mengaku yang dibawanya emas tetapi perampok tidak percaya. Setelah ditunjukkan emas tersebut si rampok menangis dan mencium syekh Abdul Qadir,” ceritanya.

Hal tersebut, menurut Nuh, contoh pendidikan kejujuran yang patut diteladani.?

Redaktur ? : A. Khoirul Anam

Kontributr: Syaiful Mustaqim

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Syariah, Lomba Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 27 September 2017

Semarak Maulid Nabi di Masjid Agung Solo

Solo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Menyambut datangnya bulan Maulud Nabi di tahun 1435 H ini, Pengurus Takmir Masjid Agung Surakarta memeriahkannya dengan menggelar berbagai kegiatan. Menurut Pengurus Masjid Agung Solo, Saiful Hadi, kegiatan sudah dimulai sejak awal pekan lalu (6/1) dan puncaknya akan digelar saat diadakan Grebeg Maulud, Senin (13/1) mendatang.

“Pada malam hari ini, diadakan Pengajian Jamuro (Jamaah Muji Rosul) Surakarta, mengawali kegiatan yang akan berlangsung selama 1 minggu ke depan,” terang Saiful saat memberikan sambutan acara pada pengajian Jamuro, beberapa waktu lalu (6/1).

Semarak Maulid Nabi di Masjid Agung Solo (Sumber Gambar : Nu Online)
Semarak Maulid Nabi di Masjid Agung Solo (Sumber Gambar : Nu Online)

Semarak Maulid Nabi di Masjid Agung Solo

Setelah itu, menurutnya akan diadakan berbagai rangkaian kegiatan, yang dalam hal ini juga melibatkan Keraton Surakarta.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Juga ada acara Festival hadrah, lomba dakwah, muazin, tilawah, hafalan, dan kaligrafi yang diikuti oleh anak-anak usia 10-20 tahun.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Tak hanya itu, di Masjid kebanggaan warga Kota Solo ini, selama bulan Maulud ini, juga diadakan pengajian dan pembacaan kitab maulid Al-Barzanji, yang dilaksakan setiap bakda Isya.(ajie najmuddin/mukafi niam)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pendidikan, Cerita Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Harlah NU di Tahun 1966

Peringatan hari ulang tahun organisasi menjadi marak baik sebagai bentuk konsolidasi maupun unjuk kekuatan dan sebagainya. Menariknya kemudian masing-masing membakukan istilah sendiri-sendiri NU misalnya menggunakan istilah peringatan Hari Lahir disingkat Harlah.

Istilah Harlah ini menjadi trade mark dan identitas ? NU serta segenap organisasi turunannya, Muslimat, Ansor, IPNU, PMII Fatayat dan sebagainya.

Harlah NU di Tahun 1966 (Sumber Gambar : Nu Online)
Harlah NU di Tahun 1966 (Sumber Gambar : Nu Online)

Harlah NU di Tahun 1966

Kemudian PNI menggunakan Istilah Ultah, istilah ini digunakan oleh organisasi onderbow serta tokohnya seperti Ultah Bung Karno, Ultah PDI dan sebagainya. PKI menggunakan istilah HUT. Sementara Masyumi, organisasi Islam modernis serta organisasi organisasi turunannya atau berorientasi sama seperti GPI, HMI termasuk Muhammadiyah dengan segala variannya ? menggunakan istilah Milad.

Harlah NU yang sangat fenomenal adalah Harlah ke-40 yang diselenggarakan pada 31 Januari 1966 di Gelora Bung Karno yang dihadiri oleh ratusan ribu warga nahdliyin dari seluruh Indonesia. Walaupun stadion tidak muat sehingga hadirin tumpah-ruah di jalanan, tetapi ? suasana tetap tertib.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Padahal saat setelah peristiwa G30S-PKI, tidak ada lagi kekuatan besar yang mampu mengomando rakyat, tetapi NU bisa. Saat itu NU menjadi stabilisator keamanan negara paling utama, bersama tentara, karena PKI sudah tidak berdaya, PNI sudah tercerai berai, sementara Masyumi sudah lama mati.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Harlah ini diketuai oleh seniman besar H Djamaluddin Malik dan H. Usmar Ismail, sehingga suasana dramatis dan teatrikal tercipta, sehingga melahirkan asa baru di tengah keputusasaan sosial politik akibat tragedi yang dipicu PKI. Saat itulah NU mengusulkan pembubaran PKI sebagai dalang bencana.?

Hanya NU yang masih mampu mengkomando rakyat dan menjaga ketertiban. Sebagai presiden yang lagi goyah, Bung Karno sangat terkesan oleh kekuatan NU dalam menjaga keamanan Negara. Arena ucapan terima kasih disampaikan kepada Rois Aam NU KH Wahab Chasbullah.

Sebagai rasa terimakasihnya itu ketika KH Saifuddin Zuhri minta tanah, maka Bung Karno memberikan tanah seluas delapan hektar di Tomang Slipi yang hendak digunakan sebagai Islamic Centre-nya NU. Dengan kekuatannya itu pula ketika terjadi pergantian rezim, NU tetap terlibat dalam mengelola negara.

Pelaksanaan Harlah NU dengan menggunakan kalender masihiyah dengan tonggak 31 Januari 1926 sekaligus dikukuhkan dalam istilah "Khittah NU 1926" itu telah diijma’i oleh para muassis NU yang masih hidup saat itu, antara lain KH Wahab Chasbullah, KH Bisri Sansoeri, KH Asnawi Kudus, KH Maksum Lasem dan lain sebagainya.

Karena bagi mereka menjadi NU adalah menjadi Indonesia, maka tidak masalah menggunakan penanggalan yang sudah mentradisi dalam masyarakat Indonesia, dengan tanpa menghilangkan rasa ? hormat pada ? kalender Hijriyah. Terbukti seluruh peringatan hari besar Islam tetap menggunakan kalender Hijriyah dan kalangan NU lah yang paling aktif dalam menyemarakkan hari-hari besar Islam tersebut. (Abdul Mun’im DZ)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Sunnah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 26 September 2017

PBNU: Pengelolaan Keuangan Haji Harus Penuhi Tiga Prinsip

Yogyakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Ada tiga prinsip dasar yang harus diperhatikan dalam mengelola dana haji. Ketiga prinsip itu adalah: prinsip akad, prinsip tashorruf, dan prinsip masuliyyah (tanggung jawab). 

Ketiga prinsip tersebut adalah merupakan fondasi bagi tercapainya pengelolaan dana haji yang baik dan terpercaya. Hal itu disampaikan langsung oleh Sekjen PBNU HA Helmy Faishal Zaini pada acara Silaturami Tokoh Keuangan Syariah dan Badan Pengelola Keuangan Haji, Selasa (7/10) di Yogyakarta.

PBNU: Pengelolaan Keuangan Haji Harus Penuhi Tiga Prinsip (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Pengelolaan Keuangan Haji Harus Penuhi Tiga Prinsip (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Pengelolaan Keuangan Haji Harus Penuhi Tiga Prinsip

Di hadapan sejumlah tokoh keuangan syariah dan pengelola keungan haji, Helmy menyatakan bahwa ketiga prinsip tersebut merupakan tulang punggung tercapainya kualitas pengelolaan dana haji yang modern dan terbuka.

"Selain akad harus jelas dan juga harus akuntabel, pengelolaan dana haji juga penting memperhatikan prinsip tashorruf. Jika mau diinvestasikan atau dikembangkan maka harus tepat sasaran, seperti misalnya untuk meningkatkan kualitas ekonomi kelas menengah ke bawah guna memangkas kesenjangan ekonomi," ungkap Helmy.

Menurut pengamatannya, banyak lembaga keuangan mikro yang layak dikembangkan dan didukung. Ia mencontohkan BMT (Baitul Mal wa Tamwil) yang terus bergeliat dan berkembang di lingkungan pesantren dan juga NU.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Lembaga-lembaga seperti BMT ini sangat penting dan strategis untuk dijadikan model pengembangan ekonomi umat. Maka BPKH harus mengalokasikan skema pen-tashorruf-an kepada lembaga-lembaga ekonomi mikro seperti BMT ini," imbuh Helmy.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Hadir dalam acara tersebut antara lain Anggito Abimanyu, Muliaman Haddad, Mahfud MD, Anwar Abbas, dan anggota dewan Pengawas BPKH Marsudi Syuduh. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi News Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Gus Yusuf: Mengaji Tanpa Riyadhah, Percuma

Magelang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Selain belajar, para santri di berbagai pesantren di Indonesia banyak diajarkan riyadhah atau riyalat/tirakat. Riyadhah merupakan olah batin, sebuah pendidikan karakter dalam mengendalikan hawa nafsu.

KH Yusuf Chudlori, salah satu pengasuh Pesantren API Tegalrejo Magelang Jawa Tengah saat ditemui Pondok Pesantren An-Nur Slawi di Magelang (2/9) menjelaskan satu kutipan dari Imam Al Ghazali yang mengibaratkan nafsu berkedudukan seperti kuda.

Gus Yusuf: Mengaji Tanpa Riyadhah, Percuma (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Yusuf: Mengaji Tanpa Riyadhah, Percuma (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Yusuf: Mengaji Tanpa Riyadhah, Percuma

"Nafsu itu seperti kuda liar. Kalau kamu bisa mengendalikan, kuda itu akan bisa kamu tuntun, kamu naikin. Sebaliknya, jika tidak bisa kamu kendalikan, kamu yang akan diseret kuda itu." kata putra KH Chudlori ini.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Nah, lanjut Gus Yusuf, kuda itu perlu dicambuk supaya bisa tunduk. Nafsu juga demikian. Ingin tidur ditahan supaya tetap terjaga, siang ingin makan, tidak diikuti. Jangan malah dibebaskan. Kalau bisa dikendalikan, ilmu yang akan menunggangi nafsu. Karena nafsu itu sesuatu yang telah digariskan oleh Allah. Ada ammarah, lawwamah. Dengan riyadlah itulah kita menuntun nafsu.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Di Pesantren Tegalrejo, tirakatan bagi para santri sangat terasa. Mulai dari puasa Senin-Kamis hingga ngrowot, yaitu riyadhah menghindari makan nasi dalam rentang waktu yang telah ditentukan, bisa setahun, tiga tahun dan seterusnya.

Menanggapi hal tersebut, pemilik akun instagram @yusuf_ch ini menyatakan, riyadlah yang demikian bukanlah hanya kebutuhan santri yang ia asuh, namun semua pesantren meski dalam praktiknya menggunakan cara yang beragam.

Gus Yusuf mencontohkan Pesantren di Sarang, Rembang. Di sana santri kesusahan mencari air, itu merupakan sebuah tirakat tersendiri. Atau pesantren KH Zainudin Mojosari Nganjuk yang justru melarang santrinya tirakat. Semua tirakat ditanggung kiainya. Namun lulusan pesantren sana jadi orang-orang hebat. Seperti KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Djazuli Usman Ploso dan KH Mahrus Ali Lirboyo. "Itu alumni sana semua," tandas kiai muda ini.

"Orang mengaji sepintar apa pun, jika tidak ada riyadlahnya, percuma ilmunya. Karena nanti ilmunya akan ditunggangi oleh hawa nafsu."

Gus Yusuf mencontohkan, kenapa banyak profesor, doktor, kemudian ngeshare hoaks. Itu karena mereka orang pintar yang dikuasai hawa nafsunya. Kebencian pada seseorang telah mengalahkan akal sehat mereka.

Dengan demikian, katanya, tirakat atau riyadhah merupakan hal yang sangat penting untuk melatih pengendalian hawa nafsu. Aneka macam bentuk tirakat tersebut dapat menjadi rujukan bahwa ragam khazanah corak warna pesantren di Indonesia sangat banyak. Masing-masing dari meraka memiliki maziyyah (keistimewaan) yang tidak saling kalah hebat. Kita tinggal pilih yang mana. (Ahmad Mundzir/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Internasional, Pertandingan, Daerah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 25 September 2017

Gerakan Ecobrick NU Disosialisasikan di Jepara

Jepara, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) bersama Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Kabupaten Jepara mengadakan Pelatihan Training of Trainers Ecobricks di Gedung NU Jepara, Jumat (9/12).

Ecobricks merupakan penanggulangan sampah plastik dengan memanfaatkan botol bekas minuman yang terbuat dari plastik dengan memasukkan sampah-sampah plastik ke dalamnya. Inovasi ini dinilai mampu mengurangi sampah yang sukar terurai itu secara signifikan.

Gerakan Ecobrick NU Disosialisasikan di Jepara (Sumber Gambar : Nu Online)
Gerakan Ecobrick NU Disosialisasikan di Jepara (Sumber Gambar : Nu Online)

Gerakan Ecobrick NU Disosialisasikan di Jepara

Acara yang dimulai pada pukul 08.00 WIB sampai 14.00 WIB ini diikuti 40 peserta dari beberapa unsur badan otonom dan lembaga NU yang meliputi GP Ansor, IPNU, IPPNU, LP Ma’arif NU, dan Fatayat NU dari Jepara, Kudus, Pati dan Demak.

Ketua PC LPBINU Jepara Dedi Irawan mengatakan, kader NU harus ikut peduli dengan lingkungan. Menurutnya, dengan lingkungan yang baik maka tentu kehidupan dapat tertata dengan baik.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Fitria Aryani, Direktur Bank Sampah Nusantara LPBINU mengatakan, kegiatan ini bisa menjadi ajang sosialisasi penyelematan dan kepedulian terhadap lingkungan. Sampah plastik yang berserakan di mana-mana bisa dimanfaatkan dan berguna untuk banyak hal.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Masyarakat menjadi tahu bahwa plastik bisa diolah menjadi barang layak pakai dan dapat mencegah dari dampak perubahan iklim,” kata Fitria Aryani. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Fragmen, Nusantara Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 23 September 2017

800 Tahun, Islam Tak Diterima Pribumi Secara Massal

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Jika menelusuri proses islamisasi di Nusantara, maka kita akan menemukan satu fakta mengejutkan. Pada rentang waktu 800 tahun, Islam tidak bisa diterima pribumi secara massal. Islam hanya dipeluk oleh orang-orang nonpribumi. Yang pribumi hanya satu dua orang saja, jumlahnya tidak banyak.

800 Tahun, Islam Tak Diterima Pribumi Secara Massal (Sumber Gambar : Nu Online)
800 Tahun, Islam Tak Diterima Pribumi Secara Massal (Sumber Gambar : Nu Online)

800 Tahun, Islam Tak Diterima Pribumi Secara Massal

Hal tersebut disampaikan Sejarawan NU KH Agus Sunyoto di hadapan para dosen STAINU Jakarta saat mempresentasikan temuannya pada rapat kurikulum Pascasarjana Islam Nusantara. Rapat tersebut digelar di ruang media center lantai 5 gedung PBNU, Selasa.

“Kalau kita berpijak pada catatan utusan Dinasti Tang, di Kerajaan Kalingga 674 M sudah ada saudagar dari Timur Tengah yang datang ke Jawa. Setelah itu, tidak pernah ada satu sumber pun yang menyatakan bahwa Islam diterima pribumi secara massal sampai tahun 1292 sebelum ada Kerajaan Majapahit,” ujar Agus mengawali presentasi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurut Agus, Marcopolo ketika pulang dari Tiongkok lewat laut, singgah di Pelabuhan Perlak, Aceh. Marcopolo mencatat penduduk di kota itu, persisnya di sekitar Selat Malaka, Aceh Timur, dihuni oleh sebagian etnis Tionghoa. Semuanya beragama Islam.

“Sementara penduduk setempat masih menyembah pohon, roh, dan batu. Bahkan, sebagian yang tinggal di pedalaman ada yang masih makan manusia. Artinya, Aceh belum Islam waktu itu. Itu kesaksian Marcopolo,” tuturnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Seratus tahun kemudian, lanjut Agus, Cheng Ho datang ke Nusantara saat perpindahan dari Dinasti Yuan ke Dinasti Ming. Pada tahun 1405, Cheng Ho mencatat Raja Mahapahit saat itu Wikramawardhana. Dia singgah di pelabuhan Tuban, yaitu pelabuhan besar milik Majapahit. Di situ dia menemukan etnis Tionghoa tinggal di sekitar pelabuhan. Mereka semuanya muslim.

Lebih lanjut Agus menceritakan, Cheng Ho kemudian singgah di pelabuhan Gresik. Ia pun kaget, ternyata ada 1000 keluarga Tionghoa yang semuanya muslim. Kemudian, di Surabaya juga ada seribuan keluarga Tionghoa beragama Islam.

“Itu terjadi pada 1405 ketika Cheng Ho pertama kali datang ke Nusantara. Dia sendiri bolak-balik ke Jawa hingga tujuh kali. Kunjungan terakhirnya pada 1433. Saat itu, Cheng Ho mengajak juru tulis bernama Ma Huan.

“Dalam catatan Ma Huan, di kota-kota pelabuhan di pantai utara Jawa dihuni tiga kelompok masyarakat. Pertama, etnis Tionghoa semua beragama Islam. Lalu, dari Barat, yaitu Arab dan Persia yang juga beragama Islam. Ketiga, pribumi. Masih menurut catatan Ma Huan, semua penduduk pribumi di sepanjang pantai utara Jawa semuanya kafir. Mereka menyembah roh, batu, dan pohon,” paparnya.

Dari fakta itulah, Agus Sunyoto beralasan Islam belum diterima warga pribumi secara massal. “Artinya, dari tahun 674 M sampai 1433, hampir 800 tahun, Islam tidak dianut pribumi,” simpulnya. (Ali Musthofa Asrori/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Hikmah, Meme Islam Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 22 September 2017

Lewat Online, NU Care Lazisnu Indramayu Permudah Layanan Zakat

Indramayu, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Untuk mempermudah dan memfasilitasi masyarakat dalam pembayaran zakat infak dan sedekah (ZIS) terus dilakukan NU Care Lazisnu Indramayu. Mereka menyediakan fasilitas online Go ZIS, tenaga lapangan 24 jam akan datang menjemut ZIS ke tempat muzaki, munfiq, atau mushoddik.

Ketua NU Care Lazisnu Indramayu Imron Rosidi mengatakan, petugas Go ZIS berkoordinasi dengan seluruh MWCNU setempat, baik dalam penggalian ZIS maupun penyalurannya.

Lewat Online, NU Care Lazisnu Indramayu Permudah Layanan Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Lewat Online, NU Care Lazisnu Indramayu Permudah Layanan Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Lewat Online, NU Care Lazisnu Indramayu Permudah Layanan Zakat

Layanan Go ZIS juga memudahkan bagi petugas. “Mereka lebih mudah mencari alamat donatur, meskipun tahap awal masih manual melalui telepon maupun sms,” kata Imron.

Selain dimudahkan dalam pendonasian, donatur yang databasenya telah tersimpan di sistem Go ZIS dapat dengan mudah mengetahui penggunaan ZIS-nya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Besaran donasi melalui Go ZIS tidak dibatasi. Artinya, pendonasian menyesuaikan niat dan kemampuan donatur dalam berzakat, infak, dan sedekah.

Imron menyebutkan, dengan layanan Go ZIS yang sudah diterapkan sejak tiga tahun ini, ada sejumlah donatur yang rutin setiap bulan menyalurkan ZIS ke NU Care Lazisnu Indramayu. (Kendi Setiawan/Alhafiz K)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kajian Sunnah, PonPes, Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

STISNU Tangerang Gandeng ADRI Tingkatkan Mutu Dosen

Serpong, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Untuk meningkatkan pelayanan perguruan tinggi, diperlukan peningkatan kualitas tenaga pendidik (dosen). Sebagai salah satu Perguruan Tinggi NU di Tangerang, Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang akan terus melakukan perbaikan dari berbagai aspek, termasuk kualitas dosen.?

Muhamad Qustulani, Wakil Ketua STISNU Nusantara menyampaikan, STISNU menggandeng organisasi Ahli dan Dosen Republik Indonesia (ADRI) untuk peningkatan kualitas. Hal ini dituangkan dalam nota kesepahaman dan kerja sama pembinaan dosen STISNU Nusantara.

STISNU Tangerang Gandeng ADRI Tingkatkan Mutu Dosen (Sumber Gambar : Nu Online)
STISNU Tangerang Gandeng ADRI Tingkatkan Mutu Dosen (Sumber Gambar : Nu Online)

STISNU Tangerang Gandeng ADRI Tingkatkan Mutu Dosen

“Saya berharap, ADRI membantu kami dalam meningkatkan mutu. Agar Tri Dharma perguruan tinggi tercapai secara maksimal,” ujarnya, Kamis (13/4) di Serpong.

Adapun kerja sama yang dilakukan adalah pembinaan dosen dalam pengembangan metodologi pembelajaran. Dosen juga diberikan pelatihan dalam penguatan mutu penelitian, pengabdian dan penulisan jurnal internasional.

Ahmad Fathoni Rodli, Ketua Umum ADRI mengungkapkan, pihaknya siap menjadi fasilitator dan membantu para dosen untuk meningkatkan mutu akademik individu, baik dari pengajaran, penelitian, pengabdian, dan penulisan jurnal ilmiah terindeks.

“Kita akan dorong para dosen untuk aktif dalam hal penelitian, khususnya menulis jurnal internasional. Saya berharap agar STISNU dan PTNU lainnya mampu bersaing dengan kampus lain,” terangnya. (Suhendra/Fathoni)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Aswaja Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 21 September 2017

Akrab dengan Tuhan

Entah karena apa, pertemuan Gus Dur dan dengan Kiai Hasyim Muzadi berlangsung kaku, tak seperti sebelum-sebelumnya.

Untuk menyegarkan suasana, Pak Syairozi (saat itu Ketua PW LP Maarif NU Jatim) mulai memancing ger-geran. Ia menceritakan kisah mengenai "pujian" sebelum shalat subuh yang biasanya dibaca di langgar-nya KH. Imron Hamzah (Rais Syuriah PWNU Jatim era 1990-an), yang khas dan unik.



Akrab dengan Tuhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Akrab dengan Tuhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Akrab dengan Tuhan

Kalau biasanya di langgar atau masjid orang NU sebelum subuh dibacakan pujian "La Ilaha Illa Anta, Ya Hayyu Ya Qoyyum", tapi di langgar-nya Kiai Imron Hamzah pujiannya malah berbunyi, "La Ilaha Illa Ente, Ya Hayyu Ya Qoyyum".

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Mendengar kisah dari Pak Syairozi, kedua tokoh NU itu langsung tergelak. "Wah, ternyata di sana warga NU sangat akrab dengan Tuhan. Buktinya, Tuhan saja dipanggil Ente!" celetuk Gus Dur.

Pancingan berhasil, suasana kembali cair. (Muhammad Nuh)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pesantren, Sejarah, Ahlussunnah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ketua MK: Idealkan Demokrasi tapi Tak Suka Perbedaan Pendapat

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly Asshiddiqie mengatakan, perilaku berdemokrasi bangsa Indonesia belum sesuai dengan demokrasi itu sendiri. Ia menilai, bangsa Indonesia belum bisa menerima adanya perbedaan pendapat sebagaimana syarat utama tegaknya demokrasi itu.

“Kita ini mengidealkan demokrasi, tapi kita nggak suka perbedaan pendapat,” kata Jimly saat menjadi narasumber pada Diskusi Interaktif di Kantor Pimpinan Pusat (PP) Gerakan Pemuda (GP) Ansor, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Sabtu (16/6).

Ketua MK: Idealkan Demokrasi tapi Tak Suka Perbedaan Pendapat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua MK: Idealkan Demokrasi tapi Tak Suka Perbedaan Pendapat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua MK: Idealkan Demokrasi tapi Tak Suka Perbedaan Pendapat

Diskusi bertajuk “Implementasi Reformasi Konstitusi terhadap Sistem Peraturan Perundang-undangan Indonesia” itu juga dihadiri Anggota DPR RI Lukman Hakim Saifuddin dan Ketua Umum PP GP Ansor yang juga mantan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal, Saifullah Yusuf.

Menurut Jimly, proses berdemokrasi yang belum mapan tersebut, salah satunya merupakan akibat masih adanya jarak yang cukup lebar antara hukum yang ada dengan dengan perilaku rakyat Indonesia sendiri. Pengetahuan dan kesadaran rakyat di negeri ini terhadap aturan hukum yang ada, belum sesuai.

Karena itu, tambahnya, agenda besar yang harus dilakukan oleh seluruh elemen bangsa, adalah pendidikan dan sosialisasi tentang peraturan perundang-undangan tersebut, utamanya atas Undang-undang Dasar (UUD) 1945 setelah empat kali diamandemen.

“Kalau peraturan perundang-undangan lain, seperti Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana, boleh diserahkan pada ahlinya; sarjana hukum atau pakar hukum. Tapi kalau UUD tidak bisa, karena itu berkaitan dengan kontrak sosial. Setiap individu rakyat Indonesia, berkepentingan dan berhak tahu,” terang Jimly.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dalam kesempatan itu juga, ia menjelaskan, terdapat perbedaan yang cukup berarti antara UUD 1945 hasil amandemen dengan UUD 1945 sebelum amandemen. Menurutnya, UUD 1945 hasil amandemen jauh lebih konkret dan terperinci serta mengatur semua kepentingan masyarakat.

“Kalau konstitusi yang dulu ‘kan terlalu indah untuk diterangkan dan dijelaskan, sulit untuk diterapkan. Konstitusi yang sekarang jauh lebih konkret,” jelasnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Meski demikian, ia kembali menegaskan, proses atas reformasi konstitusi tersebut belumlah selesai. Amandemen terhadap UUD 1945 baru saja selesai. Sementara, lanjutnya, hal yang lebih penting adalah bagaimana reformasi konstitusi tersebut dipahami dengan cara yang sama, terutama oleh para penyelenggara negara. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ahlussunnah, Hadits Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Lesbumi NU Kabupaten Bandung Dibentuk

Bandung, Pondok Pesantren An-Nur Slawi 



Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) NU Kabupaten Bandung resmi dibentuk di Pondok Pesantren Darul Ma’arif Cigondewah, Kecamatan Margaasih, Jumat sore (20/10). Pelantikan dilakukan Ketua PCNU Kabupaten Bandung KH Asep Jamaluddin.

Lesbumi NU Kabupaten Bandung Dibentuk (Sumber Gambar : Nu Online)
Lesbumi NU Kabupaten Bandung Dibentuk (Sumber Gambar : Nu Online)

Lesbumi NU Kabupaten Bandung Dibentuk

Kiai Asep mengungkapkan kebahagiaannya karena NU Kabupaten Bandung kini memiliki lembaga seni dan budaya. Pasalnya, menurut dia, selama ia aktif sepuluh tahun, ketika menjadi Katib Syuriyah NU, tidak pernah mendengar adanya Lesbumi. 

Menurut dia, Lesbumi sangat penting keberadaannya sebagai pelaksana misi dakwah melalui jalur kebudayaan. Karena NU, memperkuat dan mendakwahkan Islam dengan taktik melengkapi dan menyempurnakan apa yang sudah ada, dan tidak merusak tatanan yang ada. 

“Syekh waliyullah Sunan Kalijaga, mengkreasi wayang, diubah isi wayang itu menjadi isinya Islam. Kenapa NU membolehkan tahlilan, padahal asalnya bukan Islam, karena tahlilan kemudian isinya diganti la ilaha illah, subhanallah. Itu tidak bertolak belakang dengan syariat,” jelasanya. 

Menurut dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati ini, Rasulullah pun pernah memberi contoh dengan mengadopsi budaya jahiliyah yang baik, yaitu wali nikah dalam sebuah perkawinan. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selepas pelantikan, pengurus Lesbumi langsung mengadakan diskusi bertajuk “Lawung Budaya dan Tirakat Sastra” dengan tema “Dasar Pemikiran Islam Sunda dalam perahu Islam Nusantara”. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dua narasumber pada kegiatan itu adalah Ketua Lesbumi PBNU KH Agus Sunyoto dan Ketua Lakpesdam PWNU Jawa Barat Asep Salahuddin. Selepas itu diadakan pelatihan menulis dengan narasumber Iip D. Yahya dan Neneng Yant KH. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Olahraga Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 16 September 2017

Pesantren dalam Pusaran Tsunami Informasi

Derasnya arus informasi saat ini merupakan kelanjutan dari evolusi budaya komunikasi massa yang berlangsung sejak berabad-abad lalu. Jika sebelumnya media (baca Kitab Suci) merupakan hal sakral yang menerjemahkan ‘titah’ dan ‘firman’ Tuhan yang disampaikan melalui orang-orang terpercaya (Nabi dan Rasul), saat ini media menjadi alat propaganda, agitasi bahkan terkadang menjadi fitnah bagi orang atau kelompok tertentu.

Dalam sejarah Islam, kita mengenal hadits shahih dan dhaif, mungkin inilah era bertebarannya hadits-hadits dha’if. Bill Kovach menyebutnya dengan istilah tsunami informasi. Di mana informasi begitu mudah tersebar, tanpa saringan yang jelas, sebab media telah menjadi alat politik. Pertarungan ideologis juga berlangsung panas di ranah media. Masyarakat disuguhi beragam informasi yang datang dari berbagai arah.

Satu sisi, kondisi ini membuat masyarakat bebas memilih informasi yang diinginkan. Masyarakat juga leluasa menafsirkan dan menyebarkan sebuah kabar yang terkadang diragukan validitasnya. Masyarakat yang cerdas mungkin bisa menyaring dan memilah informasi yang tepat. Masyarakat yang paham dengan kondisi juga mengalami krisis kepercayaan terhadap media. Politisasi media memperbesar krisis kepercayaan tersebut.

Pesantren dalam Pusaran Tsunami Informasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren dalam Pusaran Tsunami Informasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren dalam Pusaran Tsunami Informasi

Di sisi lain, maraknya berita yang tak disaring secara serius bisa jadi membuat masyarakat terbodohi, atau bahkan menjadi acuan masyarakat kelas bawah untuk melakukan imitasi kriminalitas dan tindakan asusila yang banyak disuguhkan media.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kurangnya kepekaan dan niat baik para pemilik media dalam menyejahterakan para jurnalis, juga turut berperan melahirkan berita yang kurang mendidik, valid dan layak baca. Tak jarang hal itu membuat para jurnalis menggadaikan idealismenya, melanggar kode etik demi memenuhi kebutuhan hidup yang semakin meningkat.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Siapkah Pesantren Bertarung di Media?

Pesantren sebagai salah satu basis intelektual muslim di negeri ini tak bisa menghindari perang informasi ini. Dengan jutaan santri yang ada, pesantren juga menjadi pasar utama bagi para pelaku media. Minimnya santri yang bergelut di dunia jurnalistik, membuat kaum santri kemudian menjadi mudah diprovokasi, dan selalu dijadikan obyek penderita. Pesantren juga telah sejak lama menjadi magnet media, politik dan penelitian. Namun terkadang, berita tentang pesantren kerap ditulis secara serampangan oleh para penulis yang tak mengerti dunia pesantren.

Salah siapa jika beberapa waktu lalu, ada Majalah terkenal yang dengan gagahnya mengungkapkan bahwa kalangan pesantren paling bertanggungjawab terhadap peristiwa penumpasan Partai Komunis Indonesia. Salah siapa jika sejumlah koruptor di negeri ini diberi label politisi santri? Salah siapa jika ruang dakwah di media kini kian terbatas atau bahkan kadang harus dikombinasikan dengan ruang hiburan.

Beberapa waktu lalu, Wakil Ketua Umum PBNU As’ad Sa’id Ali mengungkapkan prediksi terjadinya perang terbuka antara kalangan pesantren, dalam hal ini kaum Nahdliyin, dengan kelompok lain yang kini disinyalir sedang mencari titik lemah pesantren. Awalnya saya menilai ungkapan mantan Wakil Ketua Badan Intelejen Negara itu sebagai pernyataan emosional menyikapi sejumlah serangan terhadap NU. Atau sebuah sikap phobia, yang bermula dari kepercayaan pada teori konspirasi.

 Tetapi setelah dikaji lebih lanjut, ternyata prediksi Pak As’ad itu bisa jadi benar adanya. Dilihat dari sejumlah berita yang menyudutkan pesantren, karya sastra atau sejumlah film yang seakan menguliti pesantren. Sebut saja misalnya berita tentang penjualan santri puteri di Karawang dan Garut kepada Bupati Garut, Aceng FIkri. Atau berita tentang Peristiwa 30 September PKI, yang dimuat Tempo secara eksklusif, dan isinya menjustifikasi bahwa kalangan pesantren bertanggung jawab pada pelanggaran Hak Asasi Manusia di era 60-an.

Sejumlah novel juga ada yang mengulas tentang cerita meiril, homoseksualitas dan lesbianism pesantren. Pun dengan sejumlah film, sebut saja misalnya Perempuan berkalung sorban, yang menempatkan puteri kiai sebagai pemberontak, atau sinetron pesantren Rock N Roll yang isinya justru jauh dari nilai pesantren. Satu sisi sejumlah berita, karya sastra dan film tersebut berhasil menggaungkan pesantren di khalayak masyarakat. Namun di sisi lain, tafsir kehidupan pesantren yang disuguhkan itu justru menyudutkan pesantren.

Mengapa hal ini terjadi, saya melihat karena kalangan pesantren abai terhadap perlunya penguasaan media. Media tak melulu Koran, Majalah atau Televisi, tetapi juga penguasaan media popular, semacam film, novel, atau bahkan media virtual dan media sosial, semacam Facebook dan Twitter.

Disadari atau tidak, media di negeri ini masih banyak dikuasai oleh pemodal yang minim kepedulian terhadap nilai moral dan agama. Kalau pun agama disuguhkan, biasanya dalam bentuk hiburan tontonan, bukan bersifat tuntunan.

Padahal sejatinya, kalangan pesantren memiliki sumberdaya mumpuni untuk ikut menyumbangkan ide dan gagasan demi melahirkan jurnalis handal, beretika dan berintegritas. Semangat pesantren yang terangkum dalam manhaj Ahlu Sunnah Wal Jamaah, adalah benteng terakhir bagi perbaikan bangsa ini, juga perbaikan arus informasi yang beredar.

Jurnalisme Persfektif Aswaja?

Jurnalis berpersfektif Ahlu Sunnah Wal Jamaah (Aswaja) tak berarti jurnalis hanya memberitakan seputar keislaman dan keaswajaan. Tetapi bagaimana seorang jurnalis dalam melakukan proses reportase dan pemberitaan berpegang teguh pada asas jurnalistik dan prinsip keaswajaan.

Aswaja dalam metodologi berfikirnya (Manhaj Al-fikr) berpegang pada prinsip tawasuth (moderat), tawazun (keseimbangan), dan itidal (keadilan). Setidaknya prinsip ini bisa mengantarkan pada sikap keberagaman yang non-tatharruf atau ekstrim kiri dan kanan.

Salah satu karakter Aswaja adalah selalu bisa beradaptasi dengan segala situasi dan kondisi. Maka mereka yang bermanhaj Aswaja selalu dinamis menghadapi setiap perkembangan zaman. Sikap Tawasuth Pesantren sering dimaknai sebagai prilaku oportunis, pragmatis, atau bahkan plin-plan oleh mereka yang tak mengerti pesantren. Simak saja Clifford Gertz dalam teori politik jawa terkenalnya, tentang Kaum Santri Abangan dan Priayi.

Padahal, sikap adaptif tak selalu berujung pada pragmatisme dan oportunisme. Sebab di internal pesantren, sikap Tawasuth bermakna fleksibel, tak jumud, tak kaku, tak eksklusif, dan juga tidak elitis, apa lagi ekstrim.

Jurnalis berpersfektif Aswaja ini dalam impian saya mungkin bisa menjadi alternatif solusi bagi carut-marut media yang kini lebih banyak berpihak pada pemilik modal, politisi atau kelompok ideologis tertentu.

Idealisme jurnalis yang diidamkan Bill Kovach atau yang dirumuskan Dewan Pers dalam Kode Etik Jurnalistik, rasanya hanya akan menjadi hafalan belaka. Sebab pada praktiknya, kini tak sedikit media mengabaikan nilai keberimbangan berita, Idealisme jurnalis terpasung oleh kepentingan politik atau kepentingan ekonomi pemilik media. Kini integritas jurnalis pun banyak dipertanyakan oleh masyarakat.

Jurnalisme Aswaja, atau jurnalisme yang digeluti para alumni pesantren diharapkan bisa menjadi jawaban atas kegalauan sejumlah kalangan terhadap dekadensi integritas jurnalis. Sebab kalangan santri, khususnya mereka yang menjiwai semangat keaswajaan, tentu akan bertindak sesuai doktrin pesantren, yang mengutamakan prinsip keadilan, kesetaraan, membela kaum lemah, dan sikap moderat.

Lebih menjanjikan lagi, ketika karakter santri yang rela sengsara demi meneguhkan prinsip kesantrian, serta terbiasa diajarkan untuk bertindak ikhlas lillahi ta’ala itu dimiliki oleh para jurnalis. Sebab di tengah godaan yang tinggi, para jurnalis saat ini sulit mempertahankan independensi dan idealismenya. Wallahu A’lam.

 

*Penulis adalah jurnalis di Harian Duta Masyarakat, Pengelola laman www.pmii.or.id dan Sekretaris Biro Ekonomi, Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII). Makalah pernah disampaikan dalam Seminar bertajuk Peran Media dalam Dakwah Islamiah, yang digelar dalam rangkaian Haul pendiri Pondok Pesantren Assalafie, Babakan Ciwaringin, Cirebon, dan Pelatihan Jurnalistik di PC PMII Sukabumi.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kajian, Ubudiyah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Lakmud Pelajar Garut Ciptakan Generasi Cerdas

Garut, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama Kabupaten (PC IPNU IPPNU) Garut kembali gelar Latihan Kader Muda (Lakmud).

Lakmud Pelajar Garut Ciptakan Generasi Cerdas (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakmud Pelajar Garut Ciptakan Generasi Cerdas (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakmud Pelajar Garut Ciptakan Generasi Cerdas

Pelaksanaan Lakmud yang kali ini merupakan angkatan ketiga berlangsung di Kecamatan Cibiuk dengan perolehan peserta yang teregistrasi sebanyak 38 IPNU dan 32 IPPNU. Lakmud ini bertemakan Transformasi Anggota Menuju Kader yang Militan dan Profesional. 

Ketua Pelaksana, Ahmad Zakaria menyampaikan laporan persiapan yang dilakukan menghadapi tantangan tidak mudah.

"Tapi alhamdulillah bisa terlaksanakan tepatnya selama 3 hari. Panitia tidak kenal lelah. Kami rela korbankan tenaga, pikiran, waktu, dan materi untuk menyukseskan acara ini," tutur Ahmad Zakaria dalam pembukaan Lakmud di kantor MWCNU Cibiuk (24/11).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Turut hadir pula Ketua PW IPNU Jawa Barat, Ziyad Ahmad.

"Garut ini sudah masuk di grade A. Pimpinan Cabang yang sudah sangat baik dalam berorganisasi dan sangat serius dalam pengkaderannya. Garut luar biasa sampai bisa terlaksana Lakmud yang ketiga. Apresiasi besar buat PC IPNU Garut," ungkap Ziyad Ahmad. 

Latihan Kader Muda kali ini diikuti oleh banyak peserta dari setiap zona baik Utara maupun Selatan, diantaranya PAC Malangbong, Selaawi, Limbangan, Cibiuk, Banyuresmi, Karangpawitan, Sukaresmi, Cisurupan, Singajaya, Pendeuy, dan Bungbulang, bahkan ada yang berasal dari Kabupaten Bandung Barat.

Peserta dari berbagai daerah tersebut merupakan wujud semangat mereka dalam ber-IPNU dan ber-IPPNU.

"Perlu diketahui bahwa NU tetap mengedepankan kesederhanaan, maka ini sudah cukup maksimal, cukup aja sudah segini apalagi sangat," kata Ketua PCNU Garut KH. Aceng Wahid.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ia berpesan IPNU IPPNU haruslah menjadi generasi NU yang cerdas, berwawasan, dan beradab. 

Lakmud juga diharapkan menjadi mesin penggerak kader-kader muda yang militan dan profesional.

"Tujuan Lakmud ini yang pertama untuk menerapkan teori yang telah dibekali yakni pengejawantahannya dalam kehidupan sehari-hari sesuai ajaran aswaja dan NU baik dalam amaliyah, fikr, ghirah, dan harakah-nya. Kedua sebagai wujud generasi agar berkompeten dalam masuk ke jenjang kepengurusan yang lebih atasnya," ujar Ketua IPNU Garut Ridwan Pamungkas. (Salim/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi AlaSantri, Halaqoh Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 15 September 2017

Qatar Gelar Konferensi Internasional, Dekatkan Sunni-Syiah

Doha, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Qatar mempelopori upaya mendekatkan berbagai madzhab atau aliran dalam Islam sehingga dapat mencegah terjadinya fitnah antaraliran.

Ibukota Qatar, Dhoha, akan menjadi tuan rumah Muktamar Internasional antar-berbarbagai madzhab Islam, dengan melibatkan 216 tokoh pemikir, ulama, pengamat dan menteri dari 44 negara dunia.

Qatar Gelar Konferensi Internasional, Dekatkan Sunni-Syiah (Sumber Gambar : Nu Online)
Qatar Gelar Konferensi Internasional, Dekatkan Sunni-Syiah (Sumber Gambar : Nu Online)

Qatar Gelar Konferensi Internasional, Dekatkan Sunni-Syiah

Muktamar itu akan digelar pada 20-22 Januari mendatang dengan tajuk “Mengambil Peran Mendekatkan Kesatuan Ilmiyah”. Muktamar ini diselenggarakan oleh Fakultas Syariah di Universitas Qatar bekerja sama dengan Universitas Al-Azhar Mesir dan Forum Internasional Pendekatan Madzhab yang berpusat di Teheran, Iran.

Rencananya, Wakil PM Qatar Abdullah bin Hamad Athiya akan membuka konferensi internasional yang akan dilaksanakan di Hotel Sheraton, Dhoha.

Dalam konferensi yang melibatkan para wakil madzhab atau aliran Islam besar, utamanya Sunni dan Syiah (Itsna Asyariyah dan Zaidiyah) dan Ibadhiyah, akan didiskusikan sarana paling penting untuk mempersempit perbedaan fikih dan mengecilkan kemungkinan konflik antara pendukung madzhab yang saat ini ada di berbagai belahan bumi Islam.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Akan berbicara dalam konferensi itu antara lain DR. Yusuf Al-Qaradhawi mewakili Ketua Persatuan Ulama Islam Internasional, Dr. Kamaluddin Ihsan Oglo mewakili Sekjen OKI, Syaikh Ayatollah Muhammad Ali Taskheri Sekjen Forum Internasional untuk Pendekatan Madzhab Islam, Dr. Abdul Aziz Taujiri Sekjen Organisasi Pendidikan, Ilmu dan Peradaban Islam, Dr. Mahmud Hamadi Zaqzuq Menteri Wakaf Mesir dan Dr. Ahmad Badrudin Hasun Mufti Suriah.

Menurut Dr Aisyah Manai, Dekan Fakultas Syariah Universitas Qatar yang sekaligus Ketua Panitia Konferensi ini, “Jurang perbedaan antara Sunni dan Syiah sekarang telah semakin lebar. Maka mendekatkan antara keduanya menjadi masalah yang menjadi latar belakang muktamar ini. Ini dilakukan untuk menghindari munculnya konflik antar aliran Islam.”

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ia menambahkan, bahwa konferensi ini tidak bertujuan merubah keyakinan yang dimiliki Sunni ataupun Syiah, tapi lebih fokus pada upaya membuka jaringan komunikasi dan dialog antara pemeluk berbagai aliran dalam Islam. (era)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pesantren Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pesan KH Marzuqi Mustamar Terkait Kepengurusan NU

Jombang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Saat tampil sebagai narasumber terakhir pada seminar kepahlawanan nasional KH A Wahab Chasbullah, KH Marzuqi Mustamar memberikan rambu-rambu terkait kepengurusan NU.? Baginya, rentang sejarah panjang pendirian NU hendaknya dapat dijadikan pelajaran berarti bagi perjalanan NU di masa mendatang.

Pesan KH Marzuqi Mustamar Terkait Kepengurusan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesan KH Marzuqi Mustamar Terkait Kepengurusan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesan KH Marzuqi Mustamar Terkait Kepengurusan NU

"Pertama kali pendirian NU yang antara lain dipelopori KH A Wajhab Chasbullah adalah mewaspadai gerakan Wahabi," kata Wakil Rais PWNU Jatim ini, Ahad (17/5). Keberadaan Komite Hijaz yang dipimpin langsung Mbah Wahab untuk menghadap penguasa baru Saudi Arabia adalah fakta bahwa gerakan wahabi menjadi salah satu alasan berdirinya NU, lanjutnya.

Karena itu Kiai Marzuqi berharap bahwa siapa saja yang akan terlibat dalam kepengurusan NU, khususnya hasil Muktamar NU mendatang adalah mewaspadai dengan seksama kelompok Wahabi. "Pengurus NU ke depan, harus punya kepekaan akan bahaya Wahabi," tandas dosen di UIN Malik Ibrahim Malang ini.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pesan kedua yang disampaikan mantan Ketua PCNU Kota Malang ini adalah agar diupayakan, para pengurus NU di semua tingkatan berasal dari kalangan pondok pesantren salaf dan nasab ulama salaf. "Karena para pendukung dan pejuang NU saat masa awal adalah para santri dan kiai dari pesantren salaf," terangnya. Bahkan tidak ada catatan dalam sejarah bahwa pendukung NU adalah dari kalangan pesantren modern, lanjutnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sedangkan pesan ketiga adalah para pengurus NU masa depan adalah mereka yang tidak terlalu dekat dengan persoalan politik praktis. "Silakan kita memiliki banyak pilihan politik," katanya. Namun dengan jumlah jamaah yang demikian besar, maka membawa warga apalagi jamiyah NU kepada politik praktis sangat berbahaya.

Apa yang telah dilakukan oleh KH A Wahab Chasbullah sangat tepat dan benar. "NU selama ini sudah benar," katanya. Demikian juga adalah pilihan yang tepat kalau kemudian yang dipilih adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI. "NU yang benar, pilihan bentuk negara yang tepat sehingga mampu mengayomi warga adalah warisan paling berharga dari kiprah Mbah Wahab," pungkasnya.

Pj Rais Aam PBNU KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) dan Ketua Lesbumi Sastro Ngatawi sedianya turut mengisi acara seminar kali ini, namun berhalangan hadir karena sedang ada acara pra-muktamar NU zona Sumatera. (Syaifullah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Anti Hoax, Sejarah, Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 13 September 2017

Ansor: Aswaja Islam yang Tak Gampang Sesat-Menyesatkan

Pasaman Barat, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Gerakan Pemuda Ansor akan senantiasa setia menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal ini sesuai dengan komitmen kebangsaan Ansor yang dibangun sejak kelahirannya.

Demikian diungkapkan instruktur Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Khairul Anwar, Ahad (25/10) dinihari pada Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) yang diselenggarakan PC GP Ansor Kabupaten Pasaman Barat. PKD perdana ini diikuti 40 peserta dan bertempat di Wonosari Jorong Bancah Kariang, Nagari Kinali, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat.

Ansor: Aswaja Islam yang Tak Gampang Sesat-Menyesatkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor: Aswaja Islam yang Tak Gampang Sesat-Menyesatkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor: Aswaja Islam yang Tak Gampang Sesat-Menyesatkan

Menurut Khairul Anwar, selain Ansor memiliki komitmen yang jelas dan tegas terhadap kebangsaan Indonesia, juga memiliki komitmen terhadap Islam Ahlussunnah wal Jamaah. "Ansor selalu menjaga Islam Ahlussunnah wal Jamaah dengan tradisinya yang sudah ada di tengah masyarakat. Bukan Islam yang dengan gampang sesat-menyesatkan kelompok yang tidak sepaham. Ansor mensyiarkan Islam yang mementingkan dialog, bukan Islam yang diwarnai dengan kekerasan," kata Khairul.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Khairul menambahkan, di tengah derasnya serbuan budaya, pemikiran dan paham yang ditayangkan televisi, harus ada gerakan untuk menjaga nilai-nilai kebangsaan. "Mereka yang aktif dan menjadi kader Ansor, adalah mereka yang memiliki komitmen untuk menjaga nilai-nilai kebangsaan tersebut," kata Khairul.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurut Khairul, dari semangat peserta PKD di Kabupaten Pasaman Barat, diyakini mampu untuk turut serta menjaga keutuhan NKRI dan Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor yang berada di Jakarta tidak mampu sendirian menjaga keutuhan NKRI dan Islam Aswaja ala NU tersebut. Sehingga perlu keterlibatan sahabat-sahabat di daerah-daerah untuk bergandengan tangan.

"Menjadi kader dan pengurus Ansor harus  menjadi perjuangan dan panggilan jiwa. Karena menjadi kader Ansor bukan untuk gagah-gagahan," kata Khairul.

Ketua PC Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Pasaman Barat Djafrinal Efendi menyebutkan, PKD bertujuan untuk konsolidasi organisasi, menanamkan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah, serta memenuhi tuntutan organisasi bahwa semua pengurus PC GP Ansor harus mengikuti PKD. PKD ini merupakan yang pertama dilakukan di Kabupaten Pasaman Barat, sejak pemekaran menjadi kabupaten sendiri yang terpisah dari Kabupaten Pasaman 11 tahun lalu.

"Minat generasi muda di Kabupaten Pasaman Barat menjadi kader Ansor cukup tinggi. Banyak yang minta untuk dapat diikutkan menjadi peserta PKD, namun panitia terpaksa membatasinya sesuai dengan kapasitas satu kali pelatihan," kata Djafrinal.

PKD berlangsung selama dua hari, Sabtu-Ahad (24-25/10/2015) dengan instruktur dari PP Gerakan Pemuda Ansor dan Pimpinan Wilayah Propinsi Sumatera Barat. (Armaidi Tanjung/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Anti Hoax, IMNU, Hikmah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 12 September 2017

Bagaimana Agar NU Menjadi Lebih Baik?

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Pengurus dan warga NU harus mempunya impian besar. Dengan impian yang besar, masalah-masalah yang yang dihadapi akan terlihat kecil. Sebaliknya, jika memiliki impian kecil, masalah kecil pun akan terlihat besar. ?

Menurut KH Ahmad Bagja, bila menginginkan NU menjadi besar, jangan memikirkan sisi kurang baik dari NU. Namun pikirkan kebaikan yang ada pada NU.

Bagaimana Agar NU Menjadi Lebih Baik? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Agar NU Menjadi Lebih Baik? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana Agar NU Menjadi Lebih Baik?

“Harus kita syukuri juga kita menjadi orang NU. Kita harus memikirkan bagaimana menjadi orang NU yang baik dan berupaya menjadikan NU lebih baik lagi,” kata Sekretaris Jenderal PBNU zaman KH Abdurrahman Wahid ini pada sesi dialog antara PBNU dengan seluruh banom dan lembaga NU di Gedung PBNU Jakarta Pusat, Sabtu (18/6) malam.

Ia lalu mendorong hadirin terutama generasi muda untuk menjadikan IPNU, IPPNU, PMII, GP Ansor menjadi proses untuk mendidik dirinya. Demikian juga dengan menjadi anggota dan pengurus NU dijadikan proses mendidik diri masing-masing.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Maka kaderisasi itu adalah seluruh proses kita dalam berorganisasi di mana pun kita berada. Toalitas kita di situ itulah kaderisasi yang sebenarnya. Itu diwujudkan ketika misalnya menjadi panitia kita menjadi yang terbaik, mencapai yang terbaik,” terang ketua Umum PB PMII Periode 1977-1981.

Ia yakin kebaikan-kebaikan semacam itu memudahkan hidup. Energi kebaikan menjadi modal besar dan sekaligus sebagai kekuatan. “Kalau kita berpikir kita ini biasa saja, seribu kali kita mendengar nasihat atau dorongan orang untuk maju, kita akan biasa-biasa saja. Yang membuat kita luar biasa adalah diri kita sendiri,” tutur Kiai Bagja.

Salah satu modal terjadinya perubahan terbesar, menurut dia, disebabkan pola pikir. Dalam keinginan menjadikan NU lebih maju, bangunlah pola pikir untuk menjadikan NU yang baik. ?

“Setiap bangun tidur, langsung pikirkan bahwa NU akan menjadi baik dengan usaha-usaha kita. Bukan malah membiarkan diri kita dibayang-bayangi pemikiran NU tidak baik,” katanya seraya mengungkapkan bahwa kemajuan dan bertahannya NU bukanlah hal yang disukai banyak orang.

Yang diinginkan? NU, sambungnya, tetapi tidak diinginkan oleh musuh-musuh NU adalah bersatu dan kuatnya NU. “Oleh karenanya kitalah yang harus bersatu membangun NU,” tegasnya. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi News, Fragmen, Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 10 September 2017

Akademisi Pertanyakan TNI di Urutsewu

Yogyakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Konflik tanah di pesisir Urutsewu, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, satu di? antara ratusan konflik agraria di Indonesia. Berdasarkan data lembaga HUMA, pada 2013 konflik berlangsung di 98 kota/kabupaten di 22 provinsi dengan luas area konflik mencapai 2.043.287 hektar.

Di Urtusewu konflik berlapis. Di lapis pertama, TNI AD mengklaim sepihak tanah warga yang sebagian besar Nahdliyin dengan alasan untuk latihan militer. Di lapis kedua, pada 2008 Kodam IV Diponegoro menyetujui PT Niagatama Cemerlang untuk menggunakan tanah (yang disebut) milik TNI AD sebagai area penambangan pasir besi.

Akademisi Pertanyakan TNI di Urutsewu (Sumber Gambar : Nu Online)
Akademisi Pertanyakan TNI di Urutsewu (Sumber Gambar : Nu Online)

Akademisi Pertanyakan TNI di Urutsewu

Laksmi Adriani Savitri, pengajar Pascasarjana Jurusan Antropologi UGM menyatakan, bahwa pada dasarnya hal ini menyalahi aturan. Laksmi, doktor antropologi agraria lulusan Jerman ini menyatakan bahwa “TNI sama sekali tidak punya kewenangan apapun untuk memberikan bentuk-bentuk izin atau hak atas tanah,” katanya melalui surat elektronik (3/4).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dengan demikian, dalam konteks Urutsewu, persetujuan yang diberikan oleh Kodam IV Diponegoro telah menyahihkan klaim bahwa tanah tersebut adalah milik tentara.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sebelumnya (1/4), ketika dihubung terpisah, Shohib Sifatar, staf pengajar Institut Pertanian Bogor, menyatakan, keterlibatan TNI dalam klaim atas tanah negara atau rakyat memiliki sejarah yang panjang di Indonesia.

Proses seperti ini, kata dia, berawal dari kebijakan nasionalisasi akhir 1957 sampai dengan awal 1958 yang dalam implementasi pada tahun-tahun berikutnya banyak dikendalikan TNI. Beberapa aset perusahaan asing yang dinasionalisasi kemudian dijadikan sebagai aset TNI, bahkan sebagian dijadikan aset perusahan swasta yang kepemilikannya didominasi anggota ataupun pensiunan TNI.

Model kedua menurut Shohib, yang sedang melanjutkan studi doktoral di Belanda ini, kedudukan para komandan militer pusat dan daerah sebagai Penguasa Darurat Militer dan Penguasa Darurat Sipil di pusat maupun daerah menyusul penetapan status negara dalam keadaan perang atau darurat pada 17 Desember 1957.

“Kedudukan ini telah memungkinkan para penguasa perang di pusat dan daerah untuk melahirkan beberapa kebijakan maupun keputusan administrasi yang berdampak pada peralihan status dan penguasaan tanah di beberapa tempat,” tambah Shohib.

Dalam konteks Urutsewu, Shohib melihat konflik tanah mencerminkan kontinuitas praktik bisnis militer yang dibungkus dengan dalih pertahanan. Menurut Shohib ada dua masalah dalam kasus ini. Pertama, tindakan praktik bisnis militer yang tidak boleh dilakukan TNI. Kedua, penentuan kawasan Urutsewu sebagai kawasan strategis dari segi pertahanan tidak boleh dilakukan secara sepihak oleh TNI.

“Dengan terjadinya tindak kekerasan oleh aparat TNI terhadap warga, maka “patut dipertanyakan bagaimana TNI yang mengklaim sebagai pelindung rakyat bisa berbuat demikian,” pungkas Shohib.

Dari kelompok ilmu kebumian, staf pengajar hidrogeologi (air tanah) Jurusan Teknik Geologi Universitas Diponegoro, Semarang, Thomas Triadi Putranto, meskipun menekankan persyaratan legal formal seperti dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), melihat bahwa ada beberapa dampak negatif penambangan pasir besi terhadap kondisi air tanah.

Doktor lulusan Universitas Aachen Jerman ini pada (28/3) menyatakan, pada dasarnya air tanah terdampak dalam dua level. Yang pertama dari segi kualitas air tanah.

Kegiatan penambangan bisa mengakibatkan penurunan kualitas air tanah seperti meningkatnya kadar besi, kadar asam, dan munculnya sumber pencemar dalam air tanah. Dari segi kuantitas air tanah, secara umum Thomas menyebutkan, penambangan dapat menyebabkan menurunnya kemampuan infiltrasi air tanah, penurunan muka air tanah akibat terpotongnya muka air tanah, serta peningkatan volume aliran permukaan sehingga mengakibatkan penurunan pengisian kembali batuan sarang air tanah. (Bosman Batubara/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Quote, Ulama Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 09 September 2017

Puluhan Banser Solo Ikuti Prosesi “Suwukan”

Solo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Bak para pemain profesional, dengan penuh percaya diri sedikitnya 80 personel Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kota Surakarta memeragakan sejumlah adegan ekstrem. Mereka memecahkan batu bata di kepala dengan martil, memakan silet dan lain sebagainya. Mereka tengah menjalani prosesi “suwukan” (pengisian tenaga dalam).

Di kalangan NU dan pesantren, tradisi suwukan ini lazim dilakukan sebagai salah satu alat untuk menambah kekebalan diri. Prosesi suwukan dipimpin oleh seorang kiai yang menguasai ilmu tersebut.

Puluhan Banser Solo Ikuti Prosesi “Suwukan” (Sumber Gambar : Nu Online)
Puluhan Banser Solo Ikuti Prosesi “Suwukan” (Sumber Gambar : Nu Online)

Puluhan Banser Solo Ikuti Prosesi “Suwukan”

Menurut Ketua GP Ansor Kota Surakarta Muhammad Anwar, “Suwukan ini kita adakan untuk menambah kepercayaan diri anggota Banser dalam menghadapi segala kemungkinan yang terjadi dalam situasi saat ini,” terang Anwar saat ditemui Pondok Pesantren An-Nur Slawi, Rabu (28/1).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Anwar menambahkan para personel Banser yang memeragakan sejumlah atraksi ekstrem ini, tidak bermaksud untuk pamer kekuatan. “Demo kekebalan tidak bermaksud pamer kekuatan, tapi sekadar melestarikan permainan yang selama ini memang telah lazim dan selalu ditradisikan secara turun temurun di lingkungan pesantren,” ujar Anwar.

Lebih lanjut diterangkan, kegiatan suwukan ini akan diadakan rutin setiap pertemuan koordinasi Ansor dan Banser Soloraya. “Insyallah, kita juga akan menyelenggarakan acara suwukan massal,” pungkasnya. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ulama, Nahdlatul, AlaNu Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Protes Rakyat Guncang Rezim di Tunisia

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Puluhan ribu warga Tunisia, Jumat lalu, meratapi kematian politisi oposisi sekuler Chokri Belaid dan menuntut lengsernya pemerintah Islamis yang didukung AS itu.

Pemogokan seharian penuh yang diorganisir oleh Serikat Pekerja Umum Tunisia (UGTT) itu telah menutup pabrik, bank, perkantoran, sekolah dan toko-toko di ibukota dan kota-kota lainnya. Tunis Air, perusahaan penerbangan milik negara, membatalkan semua jadwal penerbangannya. Tapi layanan bus teta berjalan.

Protes Rakyat Guncang Rezim di Tunisia (Sumber Gambar : Nu Online)
Protes Rakyat Guncang Rezim di Tunisia (Sumber Gambar : Nu Online)

Protes Rakyat Guncang Rezim di Tunisia

Ini adalah pemogokan bersama pertama kalinya di Tunisia sejak 35 tahun terakhir.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Belaid, 48 tahun, seorang anggota terkemuka dari Gerakan Patriots Demokratik beraliran kiri-liberal, salah satu dari 12 partai yang membentuk koalisi Front Rakyat, ditembak dan tewas hari Rabu, 6 Febuari, ketika ia meninggalkan rumahnya di distrik Jebel al-Jaloud dan menuju tempat kerjanya. 

Dia ditembak mati oleh seorang pembunuh yang melarikan diri mengendarai sepeda motor.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Tak ada yang diuntungkan dari pembunuhan ini. Namun janda Belaid menuduh pemerintah Partai Ennahda berkolusi dengan kaum sayap kanan Salafis untuk membunuh suaminya.

Selama ini Belaid adalah pengkritik tajam Ennahda, turunan dari organisasi Ikhwanul Muslimin. Partai Islamis ini dikritik karena dianggap mencuri revolusi. Mereka telah membiarkan kaum Salafis menyerang bioskop, teater, bar dan kelompok sekuler dalam beberapa bulan terakhir. Belaid pun tahu ia menjadi target ancaman pembunuhan berulang kali, dan telah meminta perlindungan kepolisian.

Lebih dari 50 ribu orang berkumpul di dekat rumah Belaid, Jumat lalu, dan berbaris ke pemakaman Jallaz, tempat Belaid dimakamkan. Slogan-slogan revolusioner dan antipemerintah diteriakkan. “Rakyat ingin revolusi baru” dan “Rakyat ingin rezim ini mundur,” teriak mereka.

Tak ketinggalan para pelayat juga membentangkan poster “Roti, Kebebasan dan Keadilan sosial," yang menyerupai slogan utama revolusi 2011 lalu. Di pemakaman, demonstran menyebut Rachid Ghannouchi, seorang pemimpin Ennahda, sebagai “pembunuh.” Demontrasi ini juga mendorong sentimen anti-Islam 

Yang menakutkan, seorang pejabat Ennahda segera muncul di televisi Al Jazeera dan menyalahkan kekerasan itu sebagai produk “tangan asing” dan menyatakan bahwa “ada aparat intelijen asing yang beroperasi di Tunisia.”

Dua helikopter meraung-raung di angkasa. Pemerintah mengerahkan tentara, bukan polisi keamanan yang seringkali dibenci, untuk membendung pawai besar. Namun, polisi menembakkan gas air mata pada pengunjuk rasa di pinggiran pawai dan terhadap demonstran yang berbaris menuju Kantor Kementerian Dalam Negeri. Seorang juru bicara kementerian mengatakan polisi menangkap 150 demonstran di Tunis.

Polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan pengunjuk rasa antipemerintah di kota Gafsa bagian selatan, pusat industri pertambangan penting Potas di kabupaten itu dan terhadap kubu pendukung Belaid. Di Sousse, pengunjuk rasa menuntut pengunduran diri gubernur provinsi tersebut.

Sekitar 10 ribu demonstran berbaris di Sidi Bouzid, kota selatan yang dikenal sebagai tempat kelahiran revolusi Tunisia. Di sanalah, pada Desember 2010, Mohamed Bouazizi membakar dirinya sebagai protes atas penyitaan gerobak sayurnya oleh polisi. Kematian Bouazizi ini memicu ledakan protes massal dan pemogokan oleh Serikat Pekerja (UGTT) yang pro-rezim dan menyebabkan diktator Zine al-Abidine Ben Ali  yang didukung AS melarikan diri pada bulan berikutnya.

Hanya seminggu kemudian, sebuah revolusi pecah di Mesir, yang menyebabkan jatuhnya Hosni Mubarak yang didukung AS dan Israel. Letusan protes saat ini di Tunisia, yang paling gegap gempita sejak peristiwa akhir 2010 dan awal 2011 lalu, terjadi hanya beberapa hari menjelang tahun kedua jatuhnya Mubarak.

Pembunuhan Belaid membuat negara itu terkaget-kaget. Peristiwa itu pun jadi pemicu ledakan kemarahan sosial yang terpendam lama setelah Partai Ennahda berkuasa. Sumber kemarahan itu tidak hanya tindakan represi pihak kepolisian dan kekerasan yang dilancarkan kaum Salafis terhadap lawan-lawannya. Lebih dari itu, kekerasan berasal dari pengangguran massal dan kemiskinan yang melilit rakyat dan akhirnya memicu perlawanan kelas pekerja dulu yang menggulingkan Ben Ali lebih dari dua tahun yang lalu.

Pertaruangan Politik

Sebagaimana diketahui pemerintahan Tunisia dibentuk oleh koalisi besar yang dipimpin oleh Partai Islam Ennahda untuk membentuk pemerintah mayoritas. Koalisi tersebut terdiri dari Ennahda, Kongres untuk Republik (CPR) dan Partai Ettakol. Ennahda menempatkan sekjen partai, Hamadi Jebali sebagai perdana menteri, sementara itu CPR yang merupakan pemenang pemilu kedua setelah Ennahda mendudukkan Moncef Marzouki sebagai Presiden Tunisia.

Rezim Islam di Tunisia, seperti rezim Mursi Ikhwanul Muslimin di Mesir, adalah sebuah rezim borjuis yang didukung oleh Washington. Pemerintah Ennahda mendukung perang yang dilancarkan AS-NATO untuk perubahan rezim di Libya. Saat ini negosiasi persyaratan pinjaman dari Dana Moneter Internasional (IMF) tengah berlangsung, yang mencakup langkah-langkah penghematan yang akan menyasar nasib para pekerja Tunisia.

Beberapa jam setelah berita pembunuhan Belaid, Rabu lalu, sebuah barikade terjun di Tunis dan massa menyerang kantor Ennahda di 12 kota. Pada Kamis, Perdana Menteri Hamadi Jebali, Sekretaris Jenderal Ennahda, mengumumkan di televisi nasional bahwa ia akan membubarkan pemerintahannya dan menggantinya dengan para teknokrat yang dianggap independen, yang akan memerintah sampai pemilu yang dijadwalkan Juni mendatang.

Pengumuman yang dimaksudkan untuk menenangkan kemarahan rakyat di atas, justeru menjadi pemicu. Ratusan pemuda menyerbu kantor polisi di pusat kota Tunis, melemparkan barang-barang furnitur dan aneka peralatan seadanya ke jalanan. Polisi menanggapinya dengan menembakkan gas air mata.

Di Gafsa, ratusan demonstran bersenjata batu dihadapi oleh polisi anti huru hara yang menembakkan gas air mata. Tentara juga dikerahkan untuk mengendalikan protes massa di Sidi Bouzid.

Krisis rezim Tunisia diperparah pada hari Kamis malam ketika usulan Perdana Menteri Jebali untuk memilih sendiri pejabat pemerintah teknokratis dan “non-partisan” ditolak oleh partainya sendiri. Partai Ennahda mengeluarkan pernyataan bahwa Tunisia membutuhkan suatu “politik pemerintah” berdasarkan hasil pemilihan umum 2011 Oktober.

Pada hari yang sama, empat kelompok oposisi: blok Front Rakyat dimana Belaid menjadi anggota, Partai An-Nidaa, Partai Al-Massar dan Partai Republik, mengumumkan bahwa mereka menarik diri dari majelis konstituante nasional dan menyerukan pemogokan umum. Namun Serikat Pekerja Umum Tunisia (UGTT), karena takut protes massal akan meningkat menjadi pergolakan baru yang lebih revolusioner, segera mendahului dengan mengumumkan pemogokan umum seharian penuh pada hari Jumat sebagai upaya untuk membendung gerakan tersebut.

Blok Front Rakyat dipimpin oleh Partai Pekerja Maois, dan diketuai oleh Hamma Hammami. Hammami dan partainya telah lama difungsikan untuk menghadang setiap gerakan politik independen dari kelas pekerja dan menjaga agar pekerja Tunisia terikat dengan faksi liberal dan sekuler dari kelas borjuasi. Mereka memainkan peran yang sama dalam krisis saat ini.

Salah satu dari empat kelompok oposisi borjuis dimana Front Rakyat bersekutu, yakni Partai Nidaa dipimpin oleh Beji Caid Essebsi, 86 tahun, adalah seorang pejabat lama di bawah rezim diktator Habib Bourguiba dan Ben Ali.

Pada hari Jumat, Perdana Menteri Jebali yang moderat mengulangi seruannya untuk mendirikan pemerintahan baru dalam bentuk yang agak berubah. Dia mengatakan tidak memerlukan persetujuan dari majelis konstituante dan dirinya yakin akan mendapat dukungan dari partainya karena ia tidak membubarkan pemerintah, tetapi hanya mengganti semua anggotanya. Tapi jika rencananya ini diblokir oleh partainya sendiri, ia mengindikasikan akan mengundurkan diri sebagai perdana menteri.

Namun pada Ahad lalu (10/2), Partai Republik (CPR) yang sekuler dimana Presiden Tunisia Moncef Marzouki berasal, telah menarik tiga menterinya karena tuntutan reshuffle cabinet pemerintah Islamis itu tidak dipenuhi. 

“Kami sudah bicara minggu lalu jika menteri luar negeri dan menteri keadilan tidak diganti, kami akan menarik diri dari pemerintah,” katanya. Rencana perombakan kabinet yang hendak diisi kaum teknokrat oleh PM Jebali telah memperdalam krisis politik Tunisia.

 

Redaktur     : Hamzah Sahal

Kontributor : Mh Nurul Huda

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi RMI NU Pondok Pesantren An-Nur Slawi