Selasa, 13 November 2012

Dicatut, Rais Syuriyah NU Sumenep Tak Merasa Restui Pendirian FPI

Sumenep, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Keluarga KH Ahmad Basyir, Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Latee, Guluk-Guluk, Sumenep, memberikan klarifikasi terkait beredarnya cupilkan gambar (screen capture) status Facebook milik Ibrahim Muzammil yang menyebut Kiai Basyir memberi doa dan restu kepada DPW FPI Sumenep.

“Setelah saya matur kepada KH Ahmad Basyir apakah dalam beberapa bulan terakhir ada seseorang yang sowan untuk semacam minta izin, mohon restu atau sambungan doa untuk mendirikan FPI di Sumenep, jawaban beliau sama sekali tidak ingat. Tidak merasa,” tulis Kiai Ainul Yaqin, putra Kiai Basyir di akun Facebook Acing Muhammad Ainul Yaqin, Jumat (20/1).

Dicatut, Rais Syuriyah NU Sumenep Tak Merasa Restui Pendirian FPI (Sumber Gambar : Nu Online)
Dicatut, Rais Syuriyah NU Sumenep Tak Merasa Restui Pendirian FPI (Sumber Gambar : Nu Online)

Dicatut, Rais Syuriyah NU Sumenep Tak Merasa Restui Pendirian FPI

Apabila ada unsur pengurus Front Pembela Islam (FPI) yang merasa telah sowan kepada Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep itu terkait hal dimaksud tapi merasa disanggah, sebaiknya yang bersangkutan sowan lagi.

“Sebaiknya yang bersangkutan sowan lagi kepada beliau dengan disaksikan keluarga beliau dan pengasuh PP Annuqayah lainnya karena beliau dikaitkan dengan FPI dengan kapasitas beliau sebagai pengasuh PP Annuqayah,” pintanya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Hal tersebut menjadi penting agar upaya dakwah yang sesungguhnya menjadi tanggung jawab setiap muslim, dengan batas kemampuan dan pilihan jalan dakwah yang tidak mesti sama, tidak justru menjadi akar fitnah yg pasti hanya akan memecah belah,” pungkasnya.

Beberapa waktu lalu, beredar spanduk berisi penolakan terhadap Front Pembela Islam (FPI) di Kabupaten Sumenep. Spanduk tersebut tersebar di titik strategis seperti di depan Pasar Anom, di pertigaan Hotel Safari, dan di sejumlah sudut kota.

Dalam spanduk yang disebarkan Kesatuan Aksi Muda Sumenep (Kamus) itu tertulis “FPI Biang Kegaduhan Masyarakat. Tolak FPI di Sumenep!”

Menanggapi beredarnya spanduk penolakan FPI di Jalan Trunojoyo Kecamatan Kota Sumenep, Bidang Perizinan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PMPTSP) Sumenep, Fajarussalam menyatakan spanduk tersebut tidak berizin. (M Kamil Akhyari/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Habib, Lomba Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 30 Oktober 2012

30 Grup Rebana Meriahkan Festival Simtudduror Ansor Batang

Batang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Menyongsong peringatan hari lahir (Harlah) ke-81 Gerakan Pemuda Ansor yang jatuh pada 24 April mendatang, Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Batang menggelar Festival Simtudduror di halaman Masjid Agung An Nur Desa Wonobodro, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang, Jawa Tengah.

Festival tersebut diikuti sedikitnya 30 grup rebana yang terbagi dalam dua kategori, yaitu remaja dan dewasa. Mereka yang berlomba mengumandangkan kasidah dan shalawat dengan iringan musik rebana ini merupakan delegasi dari Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor se-Kabupaten Batang.

30 Grup Rebana Meriahkan Festival Simtudduror Ansor Batang (Sumber Gambar : Nu Online)
30 Grup Rebana Meriahkan Festival Simtudduror Ansor Batang (Sumber Gambar : Nu Online)

30 Grup Rebana Meriahkan Festival Simtudduror Ansor Batang

“Kegiatan Festival Simtudduror pada tahun 2015 ini merupakan rankaian ketiga. Puncak Harlah insyallah dilaksanakan pada tanggal 19 April 2015 di lapangan Desa Wonobodro dengan menghadirkan Habib Syeikh dari Solo,” ujar Ketua GP Ansor Kabupaten Batang, Umar Abdul Jabar.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Festival berlangsung Sabtu (28/3), mulai 08.00 hingga 16.00 waktu setempat dengan dihadiri ribuan pengunjung. Setiap grup mengumandangkan lagu wajib dan pilihan yang ditentukan panitia, yaitu Mars GP Ansor dan Syubbanul Wathan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Alhamdulilah kegiatan festival rebana ini berjalan dengan baik. Dengan kegiatan ini diharapkan mampu menjadi bagian dari syiar Islam dan penggalian potensi seni di kalangan remaja. Kami sangat bersyukur kegiatan ini mendapatkan apresiasi dan antusias yang sangat luar biasa dari  ribuan pengunjung yang hadir,” tutur ketua panitia, Mahfudz Syaifudin.  

Grup dari PAC Warungasem berhasil tampil sebagai juara 1 kategori dewasa, disusul juara 2 dan 3 dari PAC Blado dan Pecalungan. Sementara Juara 1 kategori remaja diraih delegasi PAC Bawang, disusul Wonobodro (Blado), dan Wonotunggal. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Daerah, Khutbah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 27 Oktober 2012

Pondok Pesantren Dinilai Paling Tepat untuk Pendidikan Anak

Banyumas,Pondok Pesantren An-Nur Slawi?

Munculnya polemik tentang sistem pendidikan nasional akhirnya menimbulkan banyak perdebatan. Pendidikan pondok pesantren dinilai menjadi model pendidikan yang tepat untuk anak-anak sekarang. ? Pendidikan pondok pesantren tidak hanya mengutamakan kemampuan intelektual tapi juga kemampuan spiritual.?

"Di pesantren itu tidak hanya soal otak, tapi juga soal hati," kata KH Khariri Shofa, Rais Syuriah PCNU Banyumas saat memberikan ceramahnya dalam acara Haflah Akhirusanah Pondok Pesantren Al Huda Pulasari Kracak Kecamatan Ajibarang Banyumas , Selasa (4/7) Malam.

Di pesantren santri dididik untuk untuk beriman, memiliki kualitas keimanan yang lebih kepada Allah SWT. Selain itu, santri juga dididik adab dan sopan santun serta mendalami ilmu sosial masyarakat. " Pondok pesantren itu tempat pendidikan yang paling lengkap, dan hanya berada di Indonesia," lanjutnya.?

Pondok Pesantren Dinilai Paling Tepat untuk Pendidikan Anak (Sumber Gambar : Nu Online)
Pondok Pesantren Dinilai Paling Tepat untuk Pendidikan Anak (Sumber Gambar : Nu Online)

Pondok Pesantren Dinilai Paling Tepat untuk Pendidikan Anak

Menanamkan keimanan yang kuat bagi anak-anak sangat penting karena iman yang kuat bisa menjadi penyaring untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.?

"Kalau imannya kuat hidup akan tenang, tidak semrawut, dimanapun berada hidupnya menjadi lebih hati-hati," jelas Kiai Khariri dihadapan ratusan orang yang hadir di halaman Pondok Pesantren setempat.

"Dan disitulah, pentingnya pendidikan pondok pesantren," tegas pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Purwokerto itu.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Acara pengajian tersebut merupakan acara puncak dari serangkaian acara haflah akhirusanah pondok pesantren. Sebelumnya juga digelar acara pawai taaruf dan khataman Al –Qur’an dan Juz Ama yang diikuti oleh 75 santri.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Tampak hadir dalam acara tersebut, Ketua MWC NU Ajibarang, GP Ansor Ajibarang, wali santri, serta warga masyarakat setempat. (Kifayatul Ahyar/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pendidikan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 26 Oktober 2012

PBNU Minta Pemerintah Tegas Lindungi Minoritas

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj meminta pemerintah tegas dalam melindungi kelompok minoritas. Sejumlah persoalan keagamaan selama tahun 2013 masih terus bermunculan, yang mengganggu keharmonisan hubungan antar agama.

PBNU Minta Pemerintah Tegas Lindungi Minoritas (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Minta Pemerintah Tegas Lindungi Minoritas (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Minta Pemerintah Tegas Lindungi Minoritas

Pada Natal 2013 ini, Jemaat Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin Bogor dan Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Filadelfia Bekasi menggelar misa Natal di depan Istana Negara, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta karena gereja karena masih adanya masalah terhadap keberadaan gereja mereka. Demikian pula, umat Islam yang menjadi minoritas di beberapa daerah juga mengalami kesulitan membangun masjid. Sementara umat diantara umat Islam sendiri menghadapi persoalan dengan aliran Syiah dan Ahmadiyah.

“PBNU berharap terjadinya hubungan keagamaan yang beradab dan toleran,” katanya di gedung PBNU, Kamis (26/12).?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurut Kiai Said, jika umat Islam mampu menghargai dan melindungi minoritas, maka umat Islam sendiri akan mendapatkan simpati.

“Islam bukan sekedar soal akidah dan syariah, tetapi juga ada budaya, moral dan etika,” paparnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Tetapi jika umat Islam sendiri bersikap jumud, menggunakan cara-cara kekerasan, maka yang timbul adalah sikap antipati.?

Ia menegaskan, dalam Al-Qur’an sendiri diperintahkan agar agama, nyawa dan martabat manusia dilindungi karena hal itu merupakan sesuatu yang suci, siapapun mereka. Jika kekerasan dilakukan oleh umat Islam, maka sama dengan mengotori kesucian umat Islam sendiri. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi RMI NU Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 11 Oktober 2012

Hasyim Muzadi: Urus NU dengan Baik, Tanggung Jawab, dan Ikhlas

Probolinggo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pelantikan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Probolinggo hasil Konferensi Cabang (Konfercab) akhirnya resmi dilantik, Ahad (1/3) siang. Jajaran pengurus Syuriyah dan Tanfidziyah dilantik oleh Sekretaris PWNU Jawa Timur Akhmad Muzakki.

Hasyim Muzadi: Urus NU dengan Baik, Tanggung Jawab, dan Ikhlas (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasyim Muzadi: Urus NU dengan Baik, Tanggung Jawab, dan Ikhlas (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasyim Muzadi: Urus NU dengan Baik, Tanggung Jawab, dan Ikhlas

Pelantikan yang dilangsungkan di Pendopo Kabupaten Probolinggo ini terasa sangat istimewa karena dihadiri oleh Rais Syuriyah PBNU KH Hasyim Muzadi. Turut mendampingi Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H Hasan Aminuddin, M.Si dan Wakil Bupati Probolinggo H Ahmad Timbul Prihanjoko, jajaran Forkopimda, Kepala SKPD dan Camat se-Kabupaten Probolinggo.

Dalam sambutannya KH Hasyim Muzadi meminta para pengurus NU untuk bisa dan mau mengurus NU dengan baik, penuh tanggung jawab dan ikhlas. Karena saat ini banyak yang menggunakan NU sebagai kepentingan pribadi dan golongannya. Padahal NU bertujuan untuk kemaslahatan seluruh umat manusia.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Pengurus NU harus mau untuk mengurus NU dengan baik. Sebab banyak yang berebut jabatan di NU tetapi malah menjadi politis. Mohon untuk memegang amanah yang sudah diberikan dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab,” ungkapnya.

Sementara Sekretaris PWNU Jawa Timur Akhmad Muzakki dalam sambutannya meminta supaya para pengurus NU selalu waspada terhadap aliran-aliran yang ingin membenturkan NU dengan warga NU itu sendiri.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Hal senada juga disampaikan oleh Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H Hasan Aminuddin. Anggota Komisi VIII DPR RI ini meminta supaya NU lebih rasional terhadap warganya, berintegrasi dengan pemerintah daerah untuk menjaga dan menumbuhkembangkan amaliyah Nahdliyah.

“NU sebagai jami’yah harus kembali menjadikan wadah kebangsaan yang tetap mempertahankan tradisi keumatan dan berpegang teguh kepada aqidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja),” ungkapnya.

Kegiatan ini disaksikan oleh PCNU se-Tapal Kuda, MWCNU dan Ranting NU se-Kabupaten Probolinggo, Gerakan Pemuda Ansor, Muslimat, Fatayat, IPNU-IPPNU se Kabupaten Probolinggo.

Dalam Konfercab PCNU Kabupaten Probolinggo yang digelar Oktober 2014 kemarin, KH Jamaluddin Al Hariri dipercaya sebagai Rais Syuriyah dan KH Abdul Hadi sebagai Ketua Tanfidziyah untuk lima tahun mendatang. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kajian, Syariah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 04 Oktober 2012

Alumni Liga Santri Sukses Bela Timnas Indonesia di Ajang Internasional

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Hasil menakjubkan yang diperoleh timnas sepakbola Indonesia pada saat pertandingan melawan Filipina, Kamis (7/9) membuat bangga warga Indonesia. Berakhir dengan skor 9-0, pertadingan itu membuat nama merah putih harum di Stadion Thuwunna, Yangon, Myanmar.

Skor ini merupakan hasil yang fantastis sepanjang sejarah piala AFF U-18. Bermain dengan penuh semangat, tim asuhan Indra Sjafri ini mampu mewarnai pertandingan di lapangan dengan hujan gol. Namun, di balik kesuksesan Garuda muda itu ternyata ada sosok santri yang berperan menjadi kunci suksesnya tim merah putih.

Alumni Liga Santri Sukses Bela Timnas Indonesia di Ajang Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Alumni Liga Santri Sukses Bela Timnas Indonesia di Ajang Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Alumni Liga Santri Sukses Bela Timnas Indonesia di Ajang Internasional

Santri bernama Muhammad Rafli Nursalim yang berhasil mencetak gol kedelapan untuk Indonesia di laga AFF Indonesia kontra Filipina. Pengalaman sebagai top skor di ajang LSN tahun 2016 mengantarkan Rafli sukses menjebol gawang Filipina di menit ke-90. Rafli berhasil menjadi eksekutor penalti, hadiah wasit atas kesalahan kiper Filipina yang akhirnya diganjar kartu merah.

Tak hanya berhasil menyumbang gol, seperti yang dilansir kompas.com. Santri Al-Asyariyah Tangerang ini berhasil menjadi kunci dari 2 gol yang dihasilkan rekannya Feby Eka dan Resky Fandi. Hal ini tentu saja membanggakan kaum santri Indonesia. Di samping kesuksesan Rafli dalam memosisikan dirinya sebagai striker timnas Indonesia dengan notebene santri, ia juga membuktikan bahwa LSN berhasil mencapai tujuannya yaitu melahirkan pemain bola profesional yang dapat mengusung nama baik Indonesia di ajang sepakbola nasional dan internasional.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Santri Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo Kabupaten Grobogan Aldi Rizki Khoiruddin berharap semoga dengan adanya kabar seperti ini para santri yang sekarang tengah berjuang di ajang LSN 2017 dapat terinspirasi dari sosok Rafli. “Semangat mengembangkan bakat olahraga sepakbola, serta berjuang mengharumkan nama pesantren dan nama Indonesia ke depannya,” kata Aldi. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pondok Pesantren, AlaSantri, Warta Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 12 Agustus 2012

Nyolong Ikan Allah

Di dunia ini masih saja tumbuh orang-orang yang hanya berpikiran harfiah, melulu melihat teks, tanpa melihat konteksnya. 

Suatu kali orang macam begini masuk ke sebuah pesantren. Ia pun nyolong ikan paling besar dari kolam di pesantren itu.

“Orang masuk pesantren nyumbang semen nyumbang apa. Kamu malah nyolong ikan,” kata Kiai.

Nyolong Ikan Allah (Sumber Gambar : Nu Online)
Nyolong Ikan Allah (Sumber Gambar : Nu Online)

Nyolong Ikan Allah

“Mohon maaf Kiai, ini ikan siapa?” tanya orang tersebut.

Tentu dijawab oleh kiai, “Ikan saya.”

Dengan tenangnya, orang itu menjawab bahwa segala yang ada di bumi dan langit itu milik Allah dengan mengutip Al-Quran Surat al-Baqarah ayat 284, lillâhi mâ fis samâwati wa mâ fil ardl.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kiai diam. Tidak menyanggah pernyataan orang tersebut. “Iya, saya tahu itu milik Allah. Tapi ya, jangan yang gede juga," batin Kiai.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Orang itu pun berlalu. Belum jauh, Kiai mengambil batu dan melemparkannya ke orang tersebut.

“Pletak,” batu itu mengenai kepalanya.

Ia pun mengelus-elus kepalanya. Lalu bergegas kembali dengan langkah cepat.

“Kenapa Kiai? Gak setuju nih ikan Allah saya ambil?” tanyanya.

“Setuju. Silakan kamu ambil.”

Orang tersebut meminta alasan kenapa Kiai melemparnya dengan batu. Tapi Kiai membantah. Ia merasa tidak melempar.

“Saya nggak melempar kok,” tegasnya.

“Di sini tidak ada orang lagi, kecuali kita berdua, kiai,” sanggahnya.

“Baca Qurannya, Surat al-Anfal ayat 17, wa mâ ramita idz ramaita wa lâkinna Allâha ramâ. Dan engkau tidak melempar saat engkau melempar kecuali Allah yang melemparnya,” katanya. (Syakir NF)

*Diceritakan oleh Ketua LDNU KH Maman Imanul Haq saat mengisi Rapimnas IPNU di Bandung, Minggu (19/11). 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi IMNU, Doa, Olahraga Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 22 Juli 2012

Lakpesdam Klaten: Golput Bisa Memunculkan Masalah Baru

Klaten, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Memilih calon wakil rakyat dan pemimpin dalam Pemilu, merupakan hak bagi seorang warga. Namun, terkadang seorang warga justru memilih untuk tidak menggunakan hak pilihnya alias golput.

Lakpesdam Klaten: Golput Bisa Memunculkan Masalah Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam Klaten: Golput Bisa Memunculkan Masalah Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakpesdam Klaten: Golput Bisa Memunculkan Masalah Baru

Fenomena golput ini, menurut Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Kabupaten Klaten, Syamsul Bakri, bukanlah sebuah jalan yang tepat untuk ditempuh.

“Alih-alih sebagai pemecah masalah, golput ini justru dapat menjadi masalah baru,” terang Syamsul saat menjadi narasumber diskusi yang diselenggarakan Lembaga Kajian Pemikiran Islam Darul Afkar (Elkapida), di Unwidha Klaten, Jawa Tengah, Kamis (28/3).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurut Syamsul, sebagian masyarakat memilih golput karena apatis dengan dunia politik dan gerah dengan ulah para politikus busuk. “Sekalipun demikian, mestinya masyarakat tetap memilih,” ujarnya.

Diibaratkan olehnya pemilu ini seperti menu makanan. “Hidangan politik ini, seluruh menunya mungkin tidak menarik dan bahkan mengandung racun. Tapi, mari kita makan yang bakterinya paling sedikit,” tutur pengasuh Pesantren Darul Afkar itu. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Hikmah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 10 Juli 2012

Rusia Tak Merasa Perlu "Pilkada"

Washington, Pondok Pesantren An-Nur Slawi
Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan negaranya tidak memerlukan proses pemilihan kepala daerah (Pilkada) agar dikatakan sebagai negara demokratis."Prinsip penunjukan kepala-kepala derah bukanlah tanda kurangnya demokrasi," kata Presiden Putin dalam wawancara dengan televisi CBS dalam program "60 Menit"-nya, hari Sabtu.
  
Putin menyampaikan sikapnya tersebut menjawab pertanyaan mengenai prinsip yang diterapkan Moskow dalam memilih para kepala daerah. Putin mengatakan adalah salah jika cara-cara penunjukan seorang kepala daerah dikatakan tidak demokratis karena buktinya India, negara demokratis terbesar di dunia, ternyata memakai sistem penunjukan untuk para gubernur negara-negara bagiannya. "India disebut-sebut sebagai demokrasi terbesar dunia, tapi gubernur-gubernurnya selalu (orang-orang) yang ditunjuk oleh Pemerintah Pusat, dan tak seorangpun yang mempertentangkan bahwa India bukan negara demokrasi," kata Putin.
  
Wawancara CBS dengan Putin menyangkut demokratisasi Rusia itu terjadi pada saat Moskow dan Washington semakin memperlihatkan sikap bertentangan dalam hal ini. Presiden George W. Bush berulangkali mengatakan perlunya Rusia semakin mendemokrasikan diri.
 
Kesempatan wawancara itu digunakan Putin untuk secara tajam mengingatkan AS agar jangan mengajari Rusia soal demokrasi, atau memaksakan demokratisasi. "Amerika harus melihat dulu kekurangan-kekurangannya sendiri dalam berdemokrasi, sebelum mengkritik Rusia." "AS juga jangan coba-coba untuk mengekspor demokrasinya, sebagaimana yang sedang diupayakannya terhadap Irak," kata Putin yang menegaskan ia akan terus melakukan penunjukkan kepala-kepala daerah secara langsung, dan itu juga tetap demokrasi dari titik pandang Rusia.
  
Pemimpin Rusia itu bahkan menyampaikan apa-apa yang dipandangnya sebagai kekurangan dalam sistem demokrasi di AS sendiri, termasuk apa yang disebut sistem pemilihan umum. "Di Amerika Serikat, anda mula-mula memilih sejumlah pemilih dan kemudian mereka melakukan voting untuk menentukan kandidat-kandidat presiden. Di Rusia, Presiden dipilih langsung oleh seluruh rakyat, itu malah mungkin justru lebih demokratis," kata Putin.
 
Sebagai bukti, Putin mengingatkan empat tahun lalu terjadi masalah dengan pemilihan presiden di AS di mana akhirnya seorang presiden diputuskan oleh pengadilan, yang artinya melibatkan sistem hukum ke dalam proses tersebut. "Tapi kami tak akan mengendus-endus sistem demokrasi anda karena terserah rakyat Amerika saja," kata Putin yang juga mengungkit kembali proses yang ditempuh AS (di PBB) yang dikatakannya tidak demokratis karena memaksakan kehendak dan berangkat sendiri untuk memerangi Irak.

CBS, mengutip Putin, menyimpulkan bahwa demokrasi tidak bisa diekspor ke tempat-tempat lain karena (demokrasi) haruslah produk dari perkembangan urusan dalam negeri suatu masyarakat tertentu sendiri. (cbs/atr/cih)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Nusantara, Meme Islam, Budaya Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rusia Tak Merasa Perlu Pilkada (Sumber Gambar : Nu Online)
Rusia Tak Merasa Perlu Pilkada (Sumber Gambar : Nu Online)

Rusia Tak Merasa Perlu "Pilkada"

Minggu, 01 Juli 2012

Politik Identitas vs Politik Kesejahteraan

Oleh Amin Mudzakkir

Salah satu masalah terbesar yang dihadapi oleh para pemimpin daerah di era pasca-Soeharto adalah ketidakmampuan mereka dalam menegosiasikan “politik identitas” dan “politik kesejahteraan” secara baik. Politik identitas mengacu pada agama, etnisitas, bahasa, sejarah, dan isu-isu yang bersifat primordial lainnya, sementara politik kesejahteraan meliputi pembangunan ekonomi, penyediaan fasilitas umum, pembukaan akses pekerjaan yang layak, dan hal-hal yang terkait dengan penataan kehidupan publik umumnya. Sebagian besar pemimpin daerah lebih tertarik untuk mengurusi yang pertama, tetapi mengabaikan yang terakhir.?

Politik Identitas vs Politik Kesejahteraan (Sumber Gambar : Nu Online)
Politik Identitas vs Politik Kesejahteraan (Sumber Gambar : Nu Online)

Politik Identitas vs Politik Kesejahteraan

Tentu saja jika ditelusuri lebih jauh, kecenderungan untuk mengutamakan politik identitas daripada politik kesejahteraan tidak dimulai hanya sejak Soeharto dan rezim Orde Barunya jatuh dari kekuasaan pada 1998. Hal ini juga bukan fenomena yang khas Indonesia, sebab terjadi juga di tempat lainnya. Dengan ungkapan lain, hal ini merupakan fenomena global yang dimulai setidaknya sejak awal tahun 1980-an ketika globalisasi secara perlahan tapi pasti menjadi kata kunci dalam tata bahasa politik dunia. Fenomena ini bersamaan dengan menguatanya paham neoliberal dalam berbagai konstelasi kebijakan negara di mana peranan pasar membesar daripada sebelumnya.

Kembali ke Indonesia, politik identitas telah diperagakan oleh Soeharto sendiri setidaknya sejak awal 1990-an. Berbeda dengan Soeharto sebelumnya yang lebih mengesankan diri sebagai seorang yang netral dalam beragama, sejak 1990-an Soeharto mematutkan dirinya menjadi seorang Muslim yang saleh. Selain naik haji ke Tanah Suci, dia juga mendukung terbentuknya organisasi-organisasi berbasis Islam, seperti Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI). Pada tataran pemerintahan, dia juga menunjuk beberapa menteri yang dikenal luas mempunyai ikatan dengan organisasi-organisasi (mahasiswa) Islam. Maka istilah “ijo royo-royo” pun muncul mengacu pada komposisi kabinet yang dianggap sangat bernuansa Islam.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Tetapi rupanya perubahan tidak hanya terjadi pada diri Soeharto, melainkan juga berlangsung masif di masyarakat. Islamisasi tidak lagi merupakan konsep, tetapi telah menjadi praktik sosial. Lagi-lagi hal ini adalah fenomena global yang terjadi di mana-mana. Kepercayaan bahwa sekularisasi adalah jalan yang mesti ditempuh dalam modernisasi tidak lagi bisa dipertahankan. Agama, khususnya Islam, merangkak dari ruang privat ke ruang publik dalam berbagai bentuk mulai dari revolusi politik seperti terjadi Iran hingga perubahan gaya hidup. Di Indonesia, perubahan gaya hidup ini dimanifestasikan misalnya dalam praktik penggunaan jilbab yang sangat pesat sejak akhir dekade 1990-an.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ketika Soeharto akhirnya dipaksa mundur dari jabatan kepresidenan pada 1998, kondisi struktural dan kultural yang memungkinkan menguatnya politik identitas telah tersedia. Maka tidak heran setelah itu berbagai aspirasi berbasis identitas muncul ke permukaan mulai dari tuntutan masyarakat adat, jatah perempuan di parlemen, hingga pembuatan peraturan daerah “syariah”. Hal terakhir ini marak di berbagai kota mengiringi proses “pemekaran” daerah dan terus berlanjut mengikuti hiruk pikuk pemilihan kepala daerah langsung (pilkada) sejak 2004.?

Momen pilkada adalah ajang bagi penguatan politik identitas, khususnya agama, yang paling kasat mata. Para kandidat berlomba menampilkan diri sebagai Muslim yang saleh dengan menjanjikan pembuatan berbagai kebijakan dan inisiatif yang diklaim sebagai identitas Islam. Tidak jarang usaha tersebut berhasil. Mungkin masyarakat terpesona oleh penampilan para kandidat itu, mungkin juga karena memang tidak ada calon lainnya.?

Lebih lanjut, politik identitas keagamaan di daerah-daerah tersebut dipadatkan dalam konstruksi “kota santri”. Dengan mengaitkan diri pada peristiwa-peristiwa tertentu di masa lalu yang dikombinasikan dengan keberadaan pondok pesantren serta ribuan santrinya di masa sekarang, kontruksi kota santri seolah mendapat pembenarannya. Hal ini bisa dijumpai, misalnya, di Tasikmalaya, Situbondo, Jombang, dan beberapa daerah lainnya. Oleh para pemimpin daerah, konstruksi ini diolah sedemikian rupa menjadi semacam alat ukur keberhasilan kepemimpinannya. Lalu dibuatlah tugu, nama jalan, gedung, atau peraturan yang diidentikan dengan identitas kesantrian. Jika telah berhasil menyediakan hal-hal tersebut, biasanya segera muncul klaim bahwa pemimpin bersangkutan telah berhasil membangun daerahnya.?

Politik identitas, secara moral, tidak sepenuhnya keliru. Ia merupakan bagian dari aspirasi demokratis dan kebutuhan hak asasi manusia. Namun mengutamakan hal itu tetapi mengabaikan aspek politik kesejahteraan yang justru jauh lebih urgen adalah kesalahan. Kenyataan menunjukkan demikian. Di daerah-daerah di mana para pemimpinnya gemar menonjolkan politik identitas, politik kesejahteraan yang sesungguhnya merupakan inti dari politik itu sendiri karena mencakup pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat justru terabaikan.?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Humor Islam, Ahlussunnah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 26 Juni 2012

Bagaimana Kalau Lupa Semalam Mimpi Basah?

? ? ? ? ?

Ada yang ingin saya tanyakan pak ustadz. Apabila seorang lelaki yang sudah baligh pada malam harinya mengalami mimpi basah ketika tidur, namun ketika bangun pagi dia tidak tahu kalau malamnya mengalami mimpi basah, dan dia langsung saja mengambil wudlu untuk melaksanakan shalat subuh. Kemudian ketika siang hari dia baru tahu kalau malamnya mengalami mimpi basah karena ada bekas di celana atau sarungnya, apakah shalat subuhnya sah atau perlu diqadha? Dan jika harus diqadha, kapan waktunya? Demikian pertanyaan saya.

? ? ? ? ?

Kholil Lurrohman Blora, Jawa Tengah

Bagaimana Kalau Lupa Semalam Mimpi Basah? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Kalau Lupa Semalam Mimpi Basah? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana Kalau Lupa Semalam Mimpi Basah?

?

Jawaban:

Wa’alaikum salam ? warahmatullah wa barakatuh.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sdr Kholil yang terhormat,

Kasus? yang anda sampaikan ini sering terjadi dan dialami oleh masyarakat, mengingat mimpi basah merupakan salah satu tanda akil baligh seseorang. Dengan status akil baligh, ketentuan-ketentuan hukum yang bersifat syar’i akan berlaku pada dirinya termasuk dalam hal ini adalah kewajiban shalat fardlu (lima waktu).

Diantara syarat-syarat shalat adalah suci dari hadats kecil dan hadats besar sebagaimana tercantum dalam kitab-kitab fiqih, dengan demikian shalat yang dilakukan dalam keadaan belum/tidak suci dari hadas kecil maupun besar hukumnya tidak sah. Adapun mengenai qadha shalat subuh sebagaimana pertanyaan saudara maka secara otomatis diharuskan, mengingat adanya syarat shalat yang belum terpenuhi meskipun si pelaku baru mengetahuinya setelah menjalankan shalat. Hal ini tentunya sebagai bentuk kehati-hatian dari kita. Adapun rujukan yang kami gunakan mengacu pada kitab Bughyah al-Mustarsyidin bab syarat-syarat shalat. Dalam kitab tersebut dinyatakan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Artinya: seseorang telah melakukan shalat dan terdapat rukun-rukun atau sayarat-syarat yang tidak terpenuhi kemudian ia mengetahuinya, maka ia harus mengqadhanya.

Adapun mengenai waktu qadhanya dianjurkan sesegera mungkin setelah mengetahui bahwa shalat yang dilakukan tidak terpenuhi salah satu syarat atau rukunnya, terntunya setelah kita mandi besar, karena menunda-nunda perbuatan baik akan mengurangi keberkahan waktu yang telah diberikan oleh Allah kepada kita.?

Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang peduli dan? memelihara shalat kita dengan memenuhi syarat-syarat maupun rukun-rukun yang terdapat didalamnya. Amin.? ?

Maftuhan

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kyai, Fragmen, Tokoh Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 09 Juni 2012

Ulama Se-Jawa Tengah dan DIY Deklarasikan Forum Peduli Bangsa

Demak, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Para pengasuh pondok pesantren dan ulama se-Jawa Tengah dan DIY mengadakan silaturrahim di Ponpes Futuhiyyah Mranggen Demak, Jawa Tengah pada Sabtu (28/2) untuk mendeklarasikan Forum Peduli Bangsa yang bertajuk ‘Membangun Kemandirian Pengasuh Pondok Pesantren dan Pesantrennya’.

Ulama Se-Jawa Tengah dan DIY Deklarasikan Forum Peduli Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Se-Jawa Tengah dan DIY Deklarasikan Forum Peduli Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Se-Jawa Tengah dan DIY Deklarasikan Forum Peduli Bangsa

Kegiatan yang dihadiri oleh kiai, ulama, dan para cendekiawan ini membahas persoalan bangsa terutama dalam membangun ekonomi umat. Tak kurang dari 60 ulama se-Jawa Tengah dan DIY memadati Aula Yayasan Ponpes Futuhiyyah Mranggen.

Hadir sebagai tamu kehormatan yaitu, KH Mahfudz Shobari (Pacet, Mojokerto), Habib Ja’far bin Muhammad Assegaf (Jepara), Prof Dr Imam Suprayogo (Mantan rektor UIN Malang), Prof Dr KH Abdul Hadi Muthohar, MA., KH Zaim Ahmad Ma’shum (Lasem), dan KH Muhammad Asyiq (Ketua MUI Demak).

Tepat pukul. 10.00 WIB, acara silaturahmi ini dibuka oleh pengasuh Ponpes Futuhiyyah, KH Muhammad Hanif Muslih. ? Melalui sambutan singkatnya, Kiai Muslih menyampaikan, bahwa pembentukan Forum Peduli Bangsa ini sangat penting karena di Jawa Timur sudah banyak dibentuk dan hasilnya sangat bermanfaat sekali terutama pondok pesantren dalam meningkatkan potensi ekonomi pesantrennya.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Untuk itulah, kita mengundang para kiai dan ibu Nyai agar dapat belajar langsung kepada KH Mahfudz Shobari yang dikenal sebagai wirausahawan sukses agar nantinya dapat dikembangkan dalam memberdayakan ekonomi pesantren,” urainya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sementara itu, KH Mahfudz Shobari, pendiri dan pengasuh Ponpes Riyadlul Jannah, Pacet Mojokerto memaparkan, kita ini adalah negeri yang mempunyai poteni kekayaan alam yang melimpah ruah, sebut saja emas, batu bara, minyak, gas alam, timah, tembaga, nikel, semen, kelapa sawit, mutiara, ikan, kayu dan lain-lain.

“Akan tetapi sekarang ini potensi kekayaan alam tersebut banyak dikuasai oleh negara asing. Kita ingin santri dapat mengelola kekayaan tersebut sehingga ? menjadi penguasaha yang mandiri. Itulah salah satu tujuan dari dibentuknya Forum Peduli Bangsa ini,” ungkapnya.

Sementara itu, Prof Dr Imam Suprayoga mengatakan, pembicaraan tentang kewirausahaan ? ternyata semakin banyak terdengar di mana-mana. Mungkin orang ? semakin ? sadar, bahwa untuk menjadikan orang bisa hidup mandiri, cara terbaik adalah memilih berwirausaha.?

“Di pesantren sendiri banyak sekali potensi wirausaha yang dapat dikembangkan,” jelasnya.

KH Zaim Ahmad Ma’shum yang juga ketua Majlis Permusyawarahan Pengasuh Pesantren se Indonesia (MP3I) mengungkapkan seperti yang dikatakan oleh Simbah KH Ali Ma’shum bahwa diakhir zaman para kiai haruslah kaya ilmu dan materi karena masyarakat hanya akan mendengar mereka yang kaya.

“Kecenderungan seperti yang dikatakan oleh Simbah KH Ali Ma’shum sekarang ini sudah mulai menggejala, untuk itulah penguatan dan pemberdayaan ekonomi pesantren harus terus digalakkan,” ujarnya. (Zabidy/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kiai Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 22 Mei 2012

Islam Indonesia Kelak Akan Kaku dan Keras?

Tangerang Selatan, Pondok Pesantren An-Nur Slawi



Islam Indonesia dikenal dengan Islam yang ramah, moderat, dan adaptif terhadap tradisi masyarakat setempat. Namun, dalam beberapa tahun terakhir muncul gerakan-gerakan yang ingin menghilangkan wajah daripada Islam Indonesia tersebut.?

Jika Islam Indonesia begitu ‘luwes’ dan ‘fleksibel’, paham keislaman yang diimpor dari luar tersebut begitu kaku dan keras. Sedikit-sedikit haram dan bid’ah. Lalu yang menjadi pertanyaan, apakah wajah Islam Indonesia itu terlalu besar untuk gagal? Sehingga pola keberagamaannya tetap ramah dan moderat, tidak kaku dan keras?

Islam Indonesia Kelak Akan Kaku dan Keras? (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Indonesia Kelak Akan Kaku dan Keras? (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Indonesia Kelak Akan Kaku dan Keras?

Direktur Eksekutif Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Saiful Umam membenarkan, untuk saat ini Islam Indonesia memang terlalu besar untuk gagal dan pola keberagamaanya berubah menjadi keras dan kaku.?

“Saat ini, Islam Nusantara is too big to fail iya benar. Karena mayoritas masyarakat Muslim Indonesia masih mengamalkan Islam yang ramah, moderat, dan adaptif terhadap tradisi setempat,” kata Saiful di Kantor PPIM Ciputat Tangerang Selatan, Senin (21/8) malam.

Tetapi, lanjut Saiful, kalau tren konservatif Islam tidak diantisipasi, maka bisa saja lima puluh sampai seratus tahun yang akan datang wajah Islam Indonesia akan menjadi kaku dan keras. Hal itu bisa dilihat dari fakta-fakta lapangan yang ada yaitu semakin maraknya tren-tren seperti itu.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Misalnya pola keberagamaan ala Saudi dibiarkan bebas sehingga membid’ah-bid’ahkan yang lainnya, maka model Islam Indonesia seperti saat ini akan berubah,” jelasnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ia menyebutkan, model Islam yang kaku dan keras itu mungkin cocok di Arab, tetapi model Islam seperti itu tidak cocok jika diterapkan di Indonesia.

Oleh karena itu, ia meminta kepada semua pihak untuk saling mengingatkan dan menjaga model Islam Indonesia yang sangat menghormati budaya setempat sepanjang budaya tersebut tidak dilarang di dalam ajaran Islam.

“Maka saya baik secara pribadi maupun secara institusi merasa perlu untuk mengingatkan masyarakat Indonesia secara umum, NU, Muhammadiyah, untuk bekerjasama dan melakukan upaya-upaya yang lebih konstruktif dalam mengimbangi dakwah Islam model kaku seperti itu,” pungkasnya. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kajian Sunnah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 20 April 2012

Kang Said: Soal Surga dan Neraka itu Sudah Selesai

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengimbau kepada para 

dai atau penceramah untuk mengedepankan sikap tasamuh atau toleran dalam berdakwah dengan 

tidak menghujat atau menghakimi kelompok lain.

Kang Said: Soal Surga dan Neraka itu Sudah Selesai (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Soal Surga dan Neraka itu Sudah Selesai (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Soal Surga dan Neraka itu Sudah Selesai

“Dalam berdakwah utamakan kepentingan, keutuhan dan kebesaran tanah air,” kata Kang Said 

dalam semiloka Mengatasi Problem Kerukunan dalam Berdakwah di Jakarta, Rabu (28/11).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pada tahun 1914, jauh-jauh hari sebelum kemerdekaan Indonesia, Rais Akbar Nahdlatul Ulama KH 

Hasyim Asy’ari sudah mengenalkan istilah ukhuwah wathoniyah, persaudaraan sebangsa. Ini juga 

dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW saat membangun masyarakat Madinah.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Cinta tanah air itu dalam rangka mengamalkan ajaran Islam. Perjuangan Nabi di Madinah itu 

dilandasi semangat membangun tanah air. Nabi membangun masyarakat yang mutamaddin, yang 

lintas kelompok, suku dan agama,” tambahnya.

Kang Said menambahkan, dalam berdakwah untuk membangun tanah air, para dai jangan hanya 

berkisah tentang surga dan neraka, tentang pahala dan dosa. Menurutnya, dakwah yang terbaik 

adalah mengajak masyarakat untuk membangun masyarakat yang beradab.

“Soal surga dan neraka itu sudah selesai. Mewujudkan masyarakat yang sejahtera, atau 

masyarakat yang sehat itulah ajaran Islam. Dan dalam rangka mewujudkan itu, kita gunakan 

ilmu pengetahuan. Semua pengetahuan itu dari Allah yang menjadi bekal kita meweujudkan 

masyarakat yang beradab, yang mutamaddin,” tambahnya.

Semiloka Mengatasi Problem Kerukunan dalam Berdakwah itu diselenggarakan oleh Pengurus Pusat 

Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) bekerjasama dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Kehidupan Keagamaan Kementerian Agama Republik Indonesia.

Menurut ketua panitia yang juga wakil sekretaris PP LDNU, H Syaifullah Amin, semiloka ini diikuti oleh lima puluh peserta yang terdiri dari unsur-unsur perwakilan lintas agama dan perwakilan-perwakilan ormas Islam. 

Hadir sebagai narasumber semiloka ini adalah Kapuslitbang Kehidupan Keagamaan Nur Kholis Setiawan, KH Asad Said Ali Wakil Ketua Umum PBNU, KH Zakky Mubarok (Ketua PP LDNU) Prof. Yudian Wahyudi, Ph.D, Fathuri SR Manager Penelitian dan Kajian PP Lakpesdam NU, Bhikku Dhammasubo dari unsur agama Budha dan pdt. Martin Tjen dari unsur agama Kristen.

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Anti Hoax, PonPes, Ulama Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 25 Maret 2012

Kualitas Festival Film Purbalingga 2014 Menurun

Purbalingga, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Malam puncak penganugerahan Festival Film Purbalingga (FFP) 2014 dikejutkan dengan tidak ada pemenang Kompetisi Fiksi SMA Banyumas Raya. Pasalnya dewan program tidak merekomendasi film-film kategori fiksi SMA tahun ini untuk dinilai dewan juri.

Kualitas Festival Film Purbalingga 2014 Menurun (Sumber Gambar : Nu Online)
Kualitas Festival Film Purbalingga 2014 Menurun (Sumber Gambar : Nu Online)

Kualitas Festival Film Purbalingga 2014 Menurun

Direktur Program FFP 2014 Dimas Jayasrana menganggap, kualitas film-film kompetisi fiksi SMA yang masuk ke meja penyelenggara jauh dibanding tahun-tahun sebelumnya.“Dengan pertimbangan menjaga kualitas FFP, dengan berat hati, kami hanya memutar beberapa film fiksi SMA, namun tidak untuk dinilai dewan juri,” ungkapnya pada penganugerahan FFP 2014 di Sabtu, 31 Mei 2014 di Aula Hotel Kencana Purbalingga.

 

Pada Kompetisi Fiksi SMP, film bertajuk “Tuyul” sutradara Eko Junianto produksi Sawah Artha, film SMP 4 Karangmoncol Purbalingga dianugerahi Film Fiksi SMP Terbaik menyingkirkan tiga film lain yaitu “Cincin” dari SMP 5 Purwokerto, “Bolaku” dari SMP 5 Purwokerto, dan “Bakul Dawet” dari MTs Ma’arif Mandiraja Banjarnegara.

 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurut salah satu juri fiksi Anita Pithaloka, film “Tuyul” sedikit beda dengan tiga film lain, mampu menyuguhkan drama satire yang ringkas dengan bahasa gambar yang padat dan tidak banyak dialog. “Meski masih terdapat kecerobohan dalam pembentukan frame gambar pada film,” tutur direktur program dan musik sebuah stasiun radio.

 

Sementara “Dhewek be Islam” dari MA Minat Kesugihan Cilacap menyabet Film Dokumenter SMA Terbaik mengungguli dokumenter “Penderes dan Pengidep” dari SMA Kutasari Purbalingga, “Angguk” dari SMA Bukateja Purbalingga, “Segelas The Pahit” dari SMA Rembang Purbalingga, “Besalen” dari SMK Dr. Soetomo Cilacap, dan “Tetesan Rupiah” dari SMK Muhammadiyah Majenang Cilacap.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

 

Di kategori Film Fiksi SMA Favorit Penonton diraih “Duren” dari SMA 2 Purbalingga dan “Penderes dan Pengidep” dari SMA Kutasari Purbalingga sebagai Film Dokumenter SMA Favorit Penonton.

 

Penganugerahan lain, festival film yang berlangsung 3-31 Mei 2014 ini, berupa Penghargaan Lintang Kemukus yaitu penghargaan yang diberikan kepada individu maupun kelompok yang secara nyata berkontribusi atas kesenian dan kebudayaan tradisi di Banyumas Raya dalam berbagai aktivitasnya. Lintang Kemukus dianugerahkan kepada Maryoto (61 tahun), seniman Angguk asal Purbalingga yang juga pimpinan grup kesenian “Sri Rahayu”.

 

Direktur FFP Bowo Leksono mengatakan, berakhirnya festival tahun ini bukan berarti akhir dari proses. “Namun justru awal untuk kembali berproses agar terus merangsang kualitas karya-karya film terutama pelajar Banyumas Raya,” ujarnya. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kyai, Quote, Pesantren Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 11 Maret 2012

Tanggapan atas Tulisan KH Ali Mustafa Yaqub soal Wahabi-NU

Oleh Nur Khalik Ridwan

Tulisan KH. Prof. Dr. Ali Mustafa Yaqub berjudul Titik temu NU-Wahabi, yang dimuat di sebuah Harian di Jakarta, menggugah pikiran al-Faqir, yang benar-benar mengharap pertolongan Allah ini. Penulisnya sangat dikenal di kalangan para pengkaji ilmu hadits, karena beliau ini adalah guru besar di bidang hadits. Al-Faqir, yang menanggapi tulisan ini, termasuk orang yang mengoleksi buku-buku dan membaca tulisan-tulisannya. Bahkan kadang-kadang, al-Faqir menggunakannya sebagai referensi ngisi pengajian, khutbah jum’at, dan kultum, terutama ketika mengutip hadits, meskipun tidak seluruhnya al-Faqir setujui.

Dengan tanpa mengurangi rasa hormat al-Faqir kepadanya, sebagai seorang yang pernah membaca buku-bukunya, dan karenanya secara tidak langsung al-Faqir memandangnya sebagai guru, tulisan ini bermaksud menanggapi tulisan guru kita ini. Awalnya al-Faqir tidak ingin menanggapinya. Akan tetapi pikiran dan refleksi al-Faqir terganggu terus menerus, karena tulisan itu langsung mengemukakan hal penting bagi bangunan besar gerakan NU, nilai, tradisi, pejuang, dan simbol mua’sis-nya, Hadhratusy Syaikh Hasyim Asy’ari, guru besar kami semua (di samping Mbah Wahab dan Gus Dur), baik secara langsung lewat karya-karyanya, lewat jam`iyah NU, atau secara ghaibi.

Tanggapan atas Tulisan KH Ali Mustafa Yaqub soal Wahabi-NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Tanggapan atas Tulisan KH Ali Mustafa Yaqub soal Wahabi-NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Tanggapan atas Tulisan KH Ali Mustafa Yaqub soal Wahabi-NU

1

Guru kita ini menggunakan istilah “Wahhabi”, dan karenanya setuju menggunakan dan melihat mereka, paling tidak, menggunakan perspektif para lawan-lawan Wahhabi. Kalau guru kita ini telah menyelami dan berempati dengan mereka, tentu istilah yang sering dikenal di kalangan mereka adalah pengikut as-salafush ash-shalih, al-firqah an-najihah, dan al-muwahhidun. Dengan menggunakan kata Wahhabi, guru kita ini secara sadar atau tidak, telah menggunakan perspektif lawan-lawan Wahhabi, dalam menyebut kelompok ini.

Akan tetapi melihat keseluruhan isinya, tidak menggambarkan itu. Tentu al-Faqir tidak mungkin menyebutkan bahwa ini adalah ketidaktahuan guru kita ini, sebab dia sendiri sangat yakin mengatakan: “Untuk menilai Wahhabi kita haruslah membaca kitab-kitab yang menjadi rujukan paham Wahhabi.” Dan, bisa diduga guru kita ini telah melahap banyak kitab-kitab paham Wahhabi. Hanya saja, penggunaan istilah Wahhabi oleh guru kita ini yang sebenarnya digunakan lawan-lawan Wahhabi; dan substansi isi tulisannya yang sangat empatik terhadap Wahhabi serta menihilkan aspek letak perbedaan mendasarnya dengan NU, menimbulkan kemusykilan tersendiri bagi al-Faqir.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

2

Guru kita ini gelisah karena banyak orang NU tidak merujuk langsung dari rujukan asli Wahhabi, sehingga banyak yang salah faham. Secara tidak langsung, umat Nahdliyin dan tokoh-tokohnya telah diperingatkan, tentang rujukan-rujukan asli Wahhabi oleh guru kita ini dengan 3 tokoh, yaitu Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim al-Jauziyah, dan Muhammad bin Abdul Wahhab. Murid yang faqir ini melihat bahwa penyataan ini? ada kesilapannya.

Pertama, menghubungkan Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dengan Wahhabi, tidak seratus persen benar. Muhammad bin Abdul Wahhab sang pendiri Wahhabi, memang lahir dari kalangan madzhab Hanbali, tetapi dia sendiri merasa independen dengan tokoh-tokoh madzhab Hanbali, bahkan dengan madzhab Hanbali sendiri. Hal ini merujuk pernyataannya sendiri, yaitu:

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Aku tidak menyeru kepada madzhab sufi, madzhab ahli fiqh, ahli kalam, atau imam dari para imam yang mereka ini sangat dimuliakan, seperti Ibnu Qayyim, adz-Dzahabi, Ibnu Katsir. Sebaliknya, aku hanya menyeru agar orang berpaling hanya kepada Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku menyeru kepada sunnah Rasulullah …” (Muhammad bin `Abdul Wahhab, Mu’allafât, jilid VI, dalam kitab “ar-Rasâ’il asy-Syakhsyiyah”, hlm 252).

Kutipan dari pendiri Wahhabi ini menjelaskan bahwa Wahhabi tidak menyeru umat Islam untuk mengikuti tokoh-tokoh sebelumnya. Akan tetapi haruslah dipahami bahwa pandangan yang cocok dan sesuai dengan versi pendiri Wahhabi dari imam-imam lain (seperti Ibnu Taimiyah) bisa diambil, sedangkan yang tidak cocok, tidak diambil. Dalam praktiknya, Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim, dikutip-kutip, tetapi sekadar yang cocok dan sesuai dengan pandangan Wahhabi saja.

Contohnya, ditunjukkan oleh buku Risâlatu at-Tahdzîr min Firâq azh-Zhalâl, bahwa Ibnu Taimiyah menyarankan bagi orang-orang yang terkena semacam kelumpuhan (al-khadar) pada kaki, hendaklah mengucapkan: "Ya Muhammad...” Pernyataan Ibnu Taimiyah ini ada dalam karyanya berjudul al-Kalim ath-Thayyib (terbitan al-Maktab al-Islami, cetakan ke-5 tahun 1405 H/1985 M). Hanya saja, pernyataannya ini juga menyalahi apa yang ia tulis sendiri dalam karyanya at-Tawassul wa al-Wasîlah. Nah, Muhammad bin Abdul Wahhab mengambil faham dalam mengharamkan tawassul dari kitab at-Tawassul wa al-Wasîlah dan tidak menyetujui apa yang ditulis Ibnu Taimiyah dalam kitab al-Kalim ath-Thayyib.

Oleh karena itu, kalau menghubungkan Wahhabi dengan Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim, tidaklah seratus persen benar, mengingat kutipan pendiri Wahhabi tadi yang menegaskan dirinya independen, meskipun di sana-sini keduanya memang sering dikutip (termasuk dalam rumusan trilogi tauhidnya).

Kedua, kesilapan yang lain dalam soal ini adalah pandangan guru kita ini yang mengatakan bahwa yang otentik untuk memahami pandangan Wahhabi adalah dari 3 tokoh di atas, dan al-Faqir telah menunjukkan otentik dari kutipan pendiri Wahhabi sendiri, bahwa itu adalah keliru, karena pendiri Wahhabi mengatakan dirinya independen dari tokoh-tokoh lain, meskipun kadang-kadang dia mengutip tokoh-tokoh lain.

Kesilapan dalam soal ini, justru terletak pada keengganan guru kita ini untuk merujuk Wahhabi pada tokoh-tokoh penerus Wahhabi-Arab Saudi, dari mulai pengganti Muhammad bin Abdul Wahhab sampai sekarang ini, dan ini tidak kalah otentiknya. Di antara mereka ini adalah tokoh-tokoh generasi penerus pendiri Wahhabi sampai nama Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh, marja’ Wahhabi dari jalur pendiri Wahhabi terakhir yang paling dihormati; dan kemudian tokoh-tokoh di luar Alu Syaikh, semacam Abdul Aziz bin Baz, Ibnu Utsaimin, dan lain-lain. Tanpa memahami ini, Wahhabi hanya akan dianggap statis, sementara akhlak, perilaku, dan kejahatan-kejahatannya di seluruh dunia Islam yang berhubungan dengan anasir-anasir Wahhabi, dengan sendirinya dianggap bukan bagian dari Wahhabi.

Ketiga, kesilapan lain, menurut al-Faqir adalah, kalau Wahhabi hanya dirujukan pada kitab-kitab pendirinya, tanpa menghiraukan pada praktik, perilaku, dan akhlak komunitas mereka, yang dalam sejarahnya telah begitu terang banyak dijelaskan kekejamannya oleh banyak buku, akan menemukan kegagalan mendasar dalam memotret Wahhabi. Karena mengira Wahhabi itu statis dan hanya bersumber dari Muhammad bin Abdul Wahhab, meskipun harus diakui orang ini adalah pendirinya.

Kalau dibatasi saja mempertahankan versi rujukan Wahhabi dari pendirinya semata, konsekuensinya juga harus menerima kejahatan-kejahatan, penyerangan-penyerangan Wahhabi kepada muslim lain, yang dicap oleh Wahhabi sebagai bid’ah dan musyrik, bahkan pada saat pendirinya saat itu masih hidup. Pada saat itu, mereka sudah melakukan penyerangan dan penghancuran-penghancuran sebagai jalan dakwahnya. Apakah ini juga terpikirkan dari guru kita ini, yang menganggap? Wahhabi memiliki titik temu dengan NU, al-Faqir tidak tahu, dan dengan begitu penyamaan Wahhabi dan NU begitu saja, sangat menggetirkan jiwa.

3

Guru kita ini menyebutkan bahwa untuk memahami NU, harus membaca khususnya karya Imam Muhammad Hasyim Asy`ari. Selintas lalu tampak benar pernyataan ini. Akan tetapi bagi mereka yang mendalaminya, akan menemukan hal lain, yaitu rujukan NU tentu saja bukan hanya karya Hadhratusy Syaikh Hasyim Asy`ari, karena mu’assis NU itu juga banyak, meskipun di antara para mu’asis ini, Hadhratusy Syaikh dipandang sebagai imam agung dan qutub-nya. Pandangan Hadhratusy Syaikh dalam kasus hukum kentongan berbeda dengan guru lain yang sudah terkenal, menunjukan keragaman itu.

Rujukan NU juga bersumber dari AD NU dan Bahtsul Masail yang dikeluarkan NU yang terus menerus berkembang, dan ini yang menjadi pedoman organisasi dan orang yang merasa menjadi bagian dari organisasi NU. Hasil-hasil Bahtsul Masail ini, juga menjadi salah satu yang harus dikaji kalau ingin memahami NU. Bahwa tentu saja memahami karya-karya Hadhratusy Syaikh Hasyim Asy`ari penting, tentu al-Faqir setuju. Tetapi sangat jelas, bahwa hidup seseorang ? dan jam`iyah semacam NU, lebih luas dari sekadar karya pendirinya, sehingga dari sudut dan jalur lain haruslah dibaca. Bahkan memahami Hadhratusy Syaikh saja, karya-karyanya saja tidaklah cukup. Hadhratusy Syaikh lebih besar dari sekadar karya-karya tulisnya.

4

Guru kita ini telah membandingkan Hadhratusy Syaikh dengan Ibnu Taimiyah, dan menemukan ada 20 persamaan, meskipun belum disebutkan persamaan itu, meskipun guru kita ini belum menyebutkan perbedaannya. Mungkin saja, guru kita ini akan menyebutkannya di kemudian hari. Hanya saja, di sini, al-Faqir ingin menambahkan bahwa Hadhratusy Syaikh memandang Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahhab, termasuk orang yang mengharamkan apa yang menjadi kesepakatan kaum muslimin, dalam kitab Risalah Aswaja demikian:

Golongan tradisi yang tetap eksis berpegang teguh pada doktrin ajaran yang diinginkan salafush sholih, bermadzhab kepada satu madzhab tertentu, berpegang pada kitab-kitab mu’tabarah yang beredar, mencintai ahlil bait, para wali, dan orang-orang sholih, berharap berkah mereka baik yang masih hidup maupun yang telah wafat, melakukan ritus ibadah seperti ziarah kubur, mentalqin mayit, shadaqah untuk mayit, dan meyakini adanya syafaat atau pertolongan, kemanfaatan doa, mengerjaan tawasul, dan lain-lain.

Sebagin dari masyarakat kita terdapat kelompok yang mengikuti pendapat Muhammad Abduh dan Rasyid Ridho yang menyepakati bid’ahnya? beberapa hal di atas, sebagaimana juga dikemukakan oleh Abdul Wahhab an-Najdi dan Ahmad bin Taimiyah dan dua muridnya, yani Ibnu Qayyim dan Ibnu Abdil Hadi. Kelompok kedua ini secara tegas mengharamkan apa yang menjadi kesepakatan? kaum muslimin sebagai bentuk ibadah sunnah, yakni pergi menziarahi makam Rasulullah. Firqah ini secara terus menerus melakukan penentangan keras terhadap kaum muslimin atas rutinitas yang mereka lakukan (pasal II, kitab Risalah Aswaja).

Pandangan Hadhratusy Syaikh terhadap Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahhab, sudah terang benderang seperti di atas. Mustahillah guru kita ini, yang katanya telah mempelajari kitab-kitab pendiri Wahhabi dan Hadhratusy Syaikh Hasyim Asy`ari, sampai tersilap soal ini. Kalau ini bisa diterima, yaitu bahwa guru kita ini telah membaca kitab-kitab Hadhratusy Syaikh, maka bagaimanakah kiranya dia sampai gegabah menunjukan persoalan perbedaan Hadhratusy Syaikh dengan wahhbi dan pendiri Wahhabi hanya kecil saja, kalau Hadhratusy Syaikh saja mengatakan demikian tentang Ibnu Taimiyah.

5

Guru kita ini merujuk Protocol Zionis No. 7, bahwa kaum Zinois berupaya menciptakan konflik dengan menciptakan permusuhan dan pertentangan. Anggap saja betul dan tidak perlu didebat, maka semata Zionis yang berupaya menciptakan konflik permusuhan dan pertentangan di dunia muslim, sungguh al-Faqir tidak sefaham. Dalam dunia modern ini, begitu luas sebab dan kelompok orang berkontestasi dalam sistem sosial, menyebabkan ada konflik dan pertentangan dalam sebuah kasus. Kalau semua konflik dan pertentangan dirujukan pada Zionis, tentulah tidak bijak, karena itu akan menghapus sama sekali kebodohan internal, keangkuhan, ego, dan kepentingan kelompok sebagai bagian dari penyebab konflik dan pertarungan, dan diganti semata menyalahkan kelompok lain atau orang lain.

Mereka yang mempelajari kelompok-kelompok klandestin di seluruh dunia saja, yang menyebabkan konflik, pertarungangan, penguasaan dan sejenisnya, telah diungkap dalam berbagai buku, banyak sekali, dan akan lebih bijak menjadi pertimbangan daripada sekadar menyalahkan Zionis semata. Kalau al-Faqir lebih setuju memandang kelemahan umat Islam ke dalam,? baik dari sudut pemahaman kelompok-kelompok Islam, tanpa melupakan sebab-sebab eksternal. Lha wong sejak zaman sahabat Nabi sudah ada konflik dan pertarungan yang begitu keras di kalangan Islam sendiri, kan tidak bisa itu dihubungkan dengan Zionis, bukan.

6

Guru kita ini menyebutkan bahwa perbedaan NU dan Wahhabi hanya kecil saja. Hal ini menurut al-Faqir kurang pas, karena dua sudut: pertama, menarik kesimpulan titik temu NU dan Wahhabi dengan mendasarkan pada tulisan-tulisan dari dua tokoh semata, kuranglah pas. Kalaupun dianggap memang ada persamaannya, harusnya disebut titik temu antara Hadhratusy Syaikh Hasyim Asy`ari dan Muhammad bin Abdul Wahhab. Tidak sampai pada taraf mengangkatnya menjadi “titik temu NU-Wahhabi”, karena kata ini akan berbeda dengan kata “titik temu Hadhratusy Syaikh Hasyim Asy`ari dan Muhammad bin Abdul Wahhab”. Akan tetapi karena guru kita ini sudah terlanjur menariknya dari kedua tokoh itu menjadi titik temu antara NU-Wahhabi, terjadilah kerancua itu.

Kedua, perbedaan Wahhabi dengan NU sangat prinsipil, bukan perbedaan kecil dan sambil lalu. Kalau perbedaannya hanya kecil, tidaklah sampai Hadhratsuy Syaikh Hasyim Asy`ari memperingatkan seperti di atas, kaitannya dengan Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahhab. Kalau perbedaannya hanya kecil dan sambil lalu saja antara mayoritas Aswaja dan Wahhabi, tidaklah mungkin pejuang-pejuang Aswaja dari generasi ke generasi di seluruh dunia muslim, menyusun kitab berjilid-jilid untuk menunjukkan hakikat dan sejatinya Wahhabi.

Pertimbangan lain dapat disebutkan: banyak orang NU dan tokoh NU sendiri di mana-mana front bahu membahu menbentengi Aswaja dari arus besar Wahhabi sejak awal berdiri NU. Sampai-sampai para mu’asis NU harus mengirim Komite Hijaz ke Arab Saudi. Nah, di tengah konteks itu menganggap perbedaan NU-Wahhabi sangat kecil, sangat kurang bijak.

Tulisan guru kita ini, dipahami dari jurusan mafhum yang lain, bisa dimaknai bahwa kerja-kerja dari para pejuang NU itu tidak didasarkan pada perbedaan fundamental dan pemahaman yang benar tentang Wahhabi dan NU. Al-Faqir harus menitikkkan air mata ketika menulis ini, karena langsung ingat Hadhratusy Syaikh Hasyim Asy`ari yang bekerja keras membentengi Aswaja dari arus Wahhabi, Romo Kiai Saleh Lateng yang menjadi ketua Lajnatun Nashihin yang bertugas mengenalkan NU ke berbagai daerah, dan Mbah Wahhab Chasbulloh yang meladeni perdebatan-perdebatan di berbagai tempat dengan orang-orang yang terpengaruh ajaran Wahhabi. Mungkinkah mereka tidak memahami Wahhabi secara otentik?

7

Perbedaan penting antara Wahhabi dan NU, di antaranya al-Faqir hanya menyebutkan dalam tulisan ini sebagian saja, yaitu:

Pertama, dakwah Wahhabi mengabsyahkan dan mencontohkan kekerasan dan pembunuhan-pembunuhan terhadap sesama muslim, dibuktikan dengan dibunuhnya para ulama sunni dari empat madzhab, tokoh sufi, dan mereka yang tidak sejalan dengan pikiran Wahhabi pada awal pendirian Wahhabi; dan saat ini unsur-unsur Wahhabi juga terlibat di banyak pergolakan-kekisruhan di seluruh dunia muslim. Sejarah soal ini bisa dilacak dari kitab-kitab sejarah yang mendokumentasikannya, baik dari mereka yang membela korban-korban, maupun dari para algojo Wahhabi. Mustahil guru kita ini tersilap dalam soal ini. Al-Faqir, melihat pembunuhan sesama muslim dan mengabsyahkannya adalah fundamental, harus dipertimbangkan untuk melihat Wahhabi.

Dalam soal ini, sejarawan Wahhabi, Ibnu Bisyr mengakui dengan terus terang bahwa: “Syaikh (maksudnya Muhammad bin Abdul Wahhab) memerintahkan untuk melakukan jihad terhadap siapa saja yang mengingkari tauhid (versi pendiri Wahhabi) (Ibnu Bisyr, `Unwân al-Majd fî Târîkh Najd (Riyadh: Daratul Malik Abdul Aziz, 1982, I: 48). Dalam praktiknya, jihad kaum Wahhabi dulu itu, adalah untuk memerangi orang-orang Islam di kalangan berbagai madzhab yang menolak mereka, memberontak pada pemerintahan Islam. Anehnya Wahhabi bisa bergandengan dengan Amerika dalam penemuan minyak dan Inggris dalam pendirian Arab Saudi. Di sisi lain, Wahhabi membunuhi sesama kaum muslimin, yang telah dianggapnya musyrik, pelaku bid’ah, dan sejenisnya, yang sejatinya adalah para pengikut madzhab empat, kalangan sufi, dan para pecinta ahlul bait Nabi. Di sini pentingnya melihat Wahhabi juga dari sudut korban, bukan dari pernyataan kitab pendirinya saja.

Kedua, akhlak pendiri Wahhabi sangat sombong sekali, dan ini berbeda dengan Hadhratusy Syaikh Hasyim Asy`ari yang sangat santun dan toleran; juga berbeda dengan khazanah nilai-nilai NU yang tawasuth, tawazun, dan tasamuh. Pendiri Wahhabi menganggap Islam yang dibawakannya, pada saat itu, adalah hal baru yang sebelumnya tidak diajarkan oleh para gurunya. Al-Faqir batasi saja dari kata-kata pendiri Wahhabi demikian: “Demi Allah yang tidak ada ilah kecuali Dia, sungguh saya telah mencari ilmu dan orang yang mengenali saya meyakini bahwa saya memiliki pengetahuan, dan saya saat itu tidak? mengetahui makna la ilaha illallah, dan saya tidak mengetahui agama Islam sebelum kebaikan yang Allah karuniakan ini; dan begitu juga guru-guru saya, tidak seorang pun di antara mereka mengetahui hal itu (Muhammad bin `Abdul Wahhab, Mu’allafât, jilid VII, dalam kitab “Rasâ’il asy-Syakhsyiyah”, risalah ke-28, hlm. 186-187 dan seterusnya).

Bagi al-Faqir, kesombongan terhadap para guru yang mengajari dan memberi ilmu adalah fundamental yang harus dipertimbangkan dari pendiri Wahhabi, dan secara umum bagi gerakan Wahhabi. Bagi orang NU, hubungan guru-murid adalah fundamental, dibawa sampai mati, karena tidak ada yang disebut mantan guru. Pendiri Wahhabi, dengan gamblang, dengan kesombongannya, menyebutkan tidak ada seorang pun dan bahkan guru-gurunya yang tahu Islam dan makna la ilaha illalah sebelum ia mendakwahkan Islam.

Ketiga, Wahhabi menganggap Asy`ariyah sebagai tidak beriman, padahal NU adalah pengikut Asy`ariyah, dan juga mengakui Maturidiyah sebagai bangunan teologi Sunni. Dalam kitab at-Tauhîd alldzî huwa haqqullah ‘alâ al-‘abîd karangan pendiri Wahhabi, dua kali soal Asy`ariyah disinggung: dalam bab 16, disebutkan keharusan “penetapan sifat-sifat Allah adalah berbeda dengan sekte Asy`ariyah yang meniadakan sifat-sifat bagi Allah”; dalam bab 2 tentang fadhlu at-tauhîd dikemukakan keharusan “penetapan sifat-sifat Allah berbeda halnya dengan sekte Asy`ariyah yang meniadakan sifat-sifat Allah.” (Muhammad bin `Abdul Wahhab, Mu’allafât, Jilid I, juz 1, dalam kitab “Kitâb at-Tauhîd alladzî huwa Haqqullâh `alâ al-`Abîd”,? bab 15, komentar 20).

Bagi Wahhabi, kelompok Asy`ariyah ini dianggap melakukan ta’thîl, tidak menetapkan sifat Allah, meniadakan sifat Allah, karena melakukan ta’wil dalam beberapa ayat sifat. Padahal menurut pendiri Wahhabi: “Barang siapa mengingkari sesuatu dari asma dan sifat, maka dia tidak beriman” (Dikutip dari al-Fatâwa wa al-Masâ’il (hlm. 44), dalam Ahmad bin Abdul Karim Najib dalam, Fashlu al-Khithâb fi Bayâni ‘Aqîdati asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb kamâ Waradat fî Kutubihi, wa Rasâ’ilihi wa Fatawâhu, hlm. 16.). Ini belum lagi bila penulis kutipkan dari Wahhabi-Wahhabi kontemporer, akan lebih banyak, dan ini tidak diperlukan lagi.

Keempat, orang-orang NU dan jam`iyah NU mengakui? tarekat dan mengamalkannya. Kalau kita lihat pandangan guru-guru Wahhabi soal ini, justru menganggap tarekat tidak bersumber dari Islam. Kalau al-Faqir membatasi dari kutipan Muhammad bin Abdul Wahhab, dia memang hanya? mengatakan: “Faktor yang menyebabkan manusia menjadi kafir dan meninggalkan agama adalah sikap berlebih-lebihan kepada orang saleh” (Muhammad bin `Abdul Wahhab, Mu’allafât, Jilid I, juz 1, dalam kitab “Kitâb at-Tauhîd alladzî huwa Haqqullâh `alâ al-`Abîd”,? bab 18.).? Pendiri Wahhabi juga mengatakan: “Mengetahuai bahwa awal mula sebab terjadinya kesyirikan? di muka bumi ini adalah adanya cara pandang yang salah dalam menyikapi orang-orang saleh” (Ibid., bab 18 komentar 2). Di bagian lain, pendiri Wahhabi menganggap Ibnu Arabi, Fakhru ar-Razi, Ibnu al-Farid, dan lain-lain sebagai telah kafir.?

Sementara NU menerima tarekat, dan Hadhratusy Syaikh Hasyim Asy`ari sendiri tidak mengakafirkan syaikh-syaikh besar di kalangan sufi, tetapi kalau ada kata-kata yang ganjil, menurutnya sebaiknya dita’wilkan, sebagaimana beliau menyebutkan dengan mengutip al-Allamah al-Amir di dalam kitab Hasyiyah Imam Abdi as-Salam, berkata: “Ucapan dengan interpretasi di atas, merupakan kufur yang shorih, karena tidaklah mungkin terjadi yang namanya hulul dan ittihad. Bila hal tersebut benar terjadi pada diri para pembesar wali maka kejadian itu harus dita’wili dengan sesuatu yang cocok dengan kondisi dan derajat kewalian mereka. Sebagaimana faham Wahdatul Wujud yang mereka anut. Seperti ucapan mereka? tidak ada di dalam jubah ini kecuali Allah. Mereka menghendakinya dengan makna bahwa “apa saja yang ada di dalam jubah bahkan apapun yang wujud di dalam seluruh alam ini, tidaklah ia terwujud kecuali atas kehendak Allah.” (dalam kitab Risalah Aswaja, pasal II)

Kelima, Wahhabi berakidah tasybih, menyerupakan Allah dengan makhluknya, yang bersumber dari penolakannya atas ta’wil dalam beberapa ayat sifat, dan pada saat yang sama tidak melakukan tafwidh, sehingga membaca ayat-ayat yang mengindikasikan jisim apa adanya. Sementara NU tidak berakidah tajsim.

Keenam, taqlid menurut Wahhabi bagian dari kekufuran, sementara NU tidak menganggap itu, dan bahkan menerima adanya taqlid. Pendiri Wahhabi sendiri mengatakan itu dengan jelas, memasukkannya sebagai bagian dari persoalan jahiliyah sebagai awal dan akhir kekufuran, yaitu: “Bahwasanya agama mereka ditetapakan atas dasar-dasar yang teragung, yaitu taqlid. Dan taqlid ini adalah kaidah terbesar dari semua kekufuran, awal dan akhirnya” (Muhammad bin `Abdul Wahhab, Mu’allafât, jilid I, juz 1, hlm. 336). Pada kesempatan lain, pendiri Wahhabi, juga mengatakan: “Yang keenam dari persoalan jahiliyah adalah berhujjah dengan mutaqaddimin.” Sementara NU itu bermadzhab dengan mengambil pendapat-pendapat dari imam madzhab, terutama Imam an-Nawawi dan Imam ar-Rafi`i di kalangan madzhab Syafi’i.

Yang lain-lain, bisa didaftar lebih banyak lagi perbedaan NU dan Wahhabi. Akan tetapi 6 hal di atas cukup untuk menunjukkan perbedaan dengan Wahhabi itu menyangkut soal-soal penting. Bahwa kemudian guru kita menggap hal-hal seperti itu tidak prinsip, itu urusan lain.

8

Masalah sumber pendasaran tentang Wahhabi, dari tulisan guru kita ini, tampak otentik kalau didasarkan pada sumber asli dari pendirinya (meskipun kemudian dilebarkan kepada Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim). Sungguh? al-Faqir tersentuh, karena seakan-akan mereka yang merujuk apada sumber selain pendirinya, dianggap kurang otentik. Padahal sumber untuk memahami Wahhabi tentu saja, bisa jadi dari lawan debat, dan yang penting justru harus ditemukan sumber dari korban-korban kejahatan dan kekejaman Wahhabi.

Sumber-sumber di luar karya pendiri Wahhabi akan menjadi pembanding yang sangat penting. Di situlah kemudian pentingnya mengoposisikan dan mencari singgungannya, dan melihatnya bahwa kalau ternyata terjadi pertentangan, justru sumber dari korban-korban itu penting untuk didengar. Dalam hal ini, lawan-lawan dan orang-orang yang dimusyrikkan oleh Wahhabi, menjadi sasaran kekerasan dan tindak kejahatannya. Jadi, membaca karya pendirinya memang penting, tetapi tidak boleh berhenti di sini. Jangan alpa pula menelisik relasi-relasi dan sumber-sumber lain dari para korban dan yang membela korban, juga penting.

9

Menurut guru kita ini, titik temu NU dan Wahhabi ada pada tiga poin: pertama, sumber syariat Islam, yaitu al-Qur’an, hadits, ijma, dan qiyas. Guru kita menegaskan, hadits shahih digunakan untuk mendasari dalam beragama, kendatipun tidak mutawatir dan hanya ahad. Al-Faqir tidak akan mendebat soal ini, karena memang betul, kalau merujuk pada praktik Wahhabi di Arab Saudi. Akan tetapi soal hadits yang dhaif untuk fadhail a’mal orang-orang Wahhabi tidak mau menerimanya, sementara kalangan NU menerimanya dalam praktik.

Kedua, konsekuensi pengakuan atas ijma, Wahhabi mengakui dan mempraktikkan adzan jumatnya dua kali dan shalat tarawihnya 20 rekaat. al-Faqir setuju ada persamaan soal ini. Hanya saja, persoalan ini tidak prinsipil, karena ini adalah furu’. Sehingga persamaan yang ditariknya sebagai persamaan fundamental, tidak mengena.

Ketiga, keduanya sama-sama menganut madzhab: Wahhabi menganut madzhab Hanbali dan NU menganut salah satu dari empat madzhab, yaitu Syafi`i, Maliki, Hanafi, dan Hanbali. Al-Faqir setuju ini, kalau merujuk pada praktik Wahhabi kolektif di Arab Saudi soal hukum, tetapi juga harus diingat, Hanbali-nya Wahhabi telah menimbulkan percekcokan di kalangan madzhab Hanbali sendiri, dan oleh sebagian imam yang juga menjadi panutan, dianggap penyimpangan dari madzhab Hanbali. Sementara kalau merujuk pada pendiri Wahhabi sendiri, justru dia mengatakan tidak bermadzhab kepada siapa saja, sehingga oleh para penerusnya disebut bermadzhab “Islam tidak bermadzhab”. Pernyataan pendiri Wahhabi soal ini sudah jelas, al-Faqir telah mengutipnya di atas. Sementara, pandangan soal teologi Wahhabi banyak yang menyalahi salafush sholih, meskipun mereka mengklaim pengikut madzhab Salafush Sholih.

10

Peringatan guru kita ini patut direnungkan, yaitu Wahhabi dan NU adalah dua keluarga besar umat Islam yang harus saling mendukung; dan agar kita tidak menjadi relawan gratis Zionis untuk melaksanakan agenda Zionisme. Al-Faqir sangat setuju, ada upaya-upaya menuju jalan baik sesama umat Islam untuk membangun masa depan umat. Hanya saja, melihat substansi isi dan realitas Wahhabi di dunia muslim dan realitas di kalangan NU sendiri, himbauan ini bermata dua.

Dengan menunjukkan persamaannya saja, dan mengatakan yang baik-baik saja, tanpa melihat jerohan isinya Wahhabi dalam sepanjang sejarahnya, adalah naïf: satu sisi justru tampak membenarkan perilaku-perilaku Wahhabi meskipun tidak dikatakan, tetapi di sisi lain mengerem arus pembendungan arus Wahhabi dari kalangan NU. Apalagi di berbagai front dan medan, para pejuang NU harus berjibaku meladeni serangan-serangan dan tuduhan bid’ah, syirik, dan sejenisnya dari kalangan Wahhabi, maka himbauan dari guru kita ini, bagi al-Faqir, sangat menggetirkan, apalagi dilakukan seorang tokoh yang duduk di jajaran elit PBNU. Apalagi terus kemudian dibumbui dengan weden-weden relawan Zionis, bertambah-tambahlah getirnya al-Faqir ini, karena bagi pejuang-pejuang NU yang ada di berbagai front dan medan yang terus memertahankan diri dari serangan-serangan Wahhabi itu, konsekuensinya akan dianggap sebagai relawan Zionis kalau terus meladeninya, ? nau`dzubillah min dzalik.

Al-Faqir menyarankan kepada guru kita ini, kalau memang berniat baik untuk mengubah Wahhabi dan NU menuju kebaikan:

Pertama, tunjukkanlah di mana letak-letak kejahatan dan kebiadaban Wahhabi, apa kontribusi Wahhabi bagi kekacauan di dunia muslim, dan mintalah ia untuk berubah, dan juga di manakah letak sumbangsih Wahhabi yang harus dipertahankan bagi peradaban muslim; dan di mana letak kelemahan tokoh-tokoh dan kiai NU, kelemahan tradisinya, dan mintalah untuk bisa berubah dan bisa diubah, tetapi juga ungkapkan pula di mana letak sumbangsih NU bagi peradaban modern umat Islam di dunia, yang harus dipertahankan.

Kedua, kalau guru kita punya niat baik yang demikian, maka guru kita ini juga harus melakukan langkah-langkah kongkret, jangan semata bombastis, harus berani merajut kebajikan dunia muslim, dengan membenahi NU dan Wahhabi, lalu juga kelompok-kelompok lain di dalam Islam, dan dicarilah titik temuanya. Jangan hanya Wahhabi saja yang ingin direhabilitasi ke dalam NU, karena dunia muslim masih ada banyak kelompok. ? Kalau niat baik itu hanya untuk Wahhabi saja, al-Faqir khawatir guru kita ini dianggap oleh orang-orang NU di berbagai front yang sedang berhadapan dengan serangan-serangan Wahhabi, sebagai mengamputasi.

Kalau memang ada niat baik merajut kebersamaan sesama kaum muslimin di seluruh dunia, al-Faqir mengusulkan titik temunya perlu berangkat dari pandangan semesta lalu mengerucut pada kemusliman minimal, yaitu: sama-sama manusia (yang ilang kamanungsane diminta untuk menggali akar-akar kesatuan manusia dan hakikat manusia); sama-sama khalifah Allah, yang harus merawat bumi dengan jalan sebaik-baiknya dan seimbang; sama-sama min ahlil qiblah; sama-sama telah syahadah, sembahyang, puasa, zakat, dan haji.

Tanpa ada kemauan melakukan dua hal itu, al-Faqir sangat khawatir, bahwa maksud baik yang diinginkan guru kita ini untuk mempersatukan umat Islam, lagi-lagi akan difahami oleh orang-orang NU di berbagai front, justru sebagai modus membiarkan kekejaman dan kejahatan-kejahatan kaum Wahhabi atas tradisi-tradisi NU tanpa diminta untuk menghentikannya, sementara orang NU harus mengghentikan pembentengannya dari serangan-serangan kaum Wahhabi, dan para pejuang NU di berbagai front itu harus disebut sebagai relawan gratis Zionis, yang telah dikerangkakan oleh guru kita ini.

Dengan tanpa mengurangi rasa hormat al-Faqir kepada guru kita ini, yang notabene adalah imam besar di sebuah masjid yang besar, dan penulis hanya seorang? imam kecil di sebuah musholla yang kecil, semoga tulisan ini memberi manfaat kepada segenap warga NU. Tanggapan ini al-Faqir buat, karena semata-mata ingin mencari ridha Allah, dan bertabaruk kepada guru besar kita semua: Kanjeng Nabi Muhammad, para wali, Hadhratusy Syaikh Hasyim Asy`ari, Mbah Wahab Chasbullah, Gus Dur, dan semua pejuang Aswaja di kalangan NU, agar Islam dan NU kehadirannya selalu bermanfaat bagi umat manusia. Wallah Maqshudi wa mathlubi. Amin.

?

Yogyakarta, 16 Feberuari 2015

*) Penulis adalah Imam Tahlil di sebuah Kampung di Yogyakarta, seorang Haddadi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kajian Sunnah, Nahdlatul Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 25 Februari 2012

Pengelanaan dan Karya Kiai Ihsan Jampes

Syahdan, tidak lama dari mimpinya yang monumental itu, untuk pertama kali dalam hidupnya, Bakri keluar dari pesantren ayahnya untuk melanglang buana mencari ilmu dari satu pesantren ke pesantren lain.

Beberapa pesantren yang sempat disinggahi Kiai Ihsan kecil adalah Pesantren Bendo Pare Kediri asuhan KH. Khozin (paman Bakri sendiri), Pondok Pesantren Jamseran Solo, Pondok Pesantren asuhan KH. Dahlan Semarang, Pondok Pesantren Mangkang Semarang, Pondok Pesantren Punduh Magelang, Pondok Pesantren Gondanglegi Nganjuk, dan Pondok Pesantren Bangkalan Madura asuhan KH. Kholil, sang ‘Guru Para Ulama’.

Dari rihlah ‘ilmiah-nya, ada satu kebiasaan yang sering dilakukan Bakri, yakni ia tidak pernah menghabiskan banyak waktu di pesantren-pesantren tersebut. Misalnya, untuk belajar Alfiah Ibnu Malik yang berisi seribu bait tentang rumus dan teori Gramatika Arab (Nahwu dan Sharf) Bakri belajar dari KH. Kholil Bangkalan dan hanya menghabiskan waktu dua bulan; belajar ilmu falak (astronomi) kepada KH. Dahlan Semarang dan hanya tinggal di pesantrennya selama 20 hari; sedangkan di Pesantren Jamsaran Kediri ia hanya tinggal selama satu bulan. Namun demikian, ia selalu berhasil menguasai dan ‘memboyong’ ilmu para gurunya tersebut dengan kemampuan di atas rata-rata.

Pengelanaan dan Karya Kiai Ihsan Jampes (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengelanaan dan Karya Kiai Ihsan Jampes (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengelanaan dan Karya Kiai Ihsan Jampes

Keunikan lainnya yang dapat disimak yaitu di setiap pesantren yang ia singgahi, Bakri selalu ‘menyamar’. Ia tidak mau dikenal sebagai ‘gus’ (sebutan anak kiai); tidak ingin diketahui identitas aslinya sebagai putra kiai tersohor, KH. Dahlan Jampes. Bahkan, setiap kali kedoknya terbuka sehingga santri-santri tahu bahwa ia adalah gus dari Jampes, dengan serta merta ia akan segera pergi, ‘menghilang’ dari pesantren tersebut untuk pindah pesantren lain. Alih-alih kebiasaan atau tradisi di dunia pesantren yang sering kali mengelu-elukan dan memanjakan para gus, anak kiai, seringkali “memabukkan” dan membius para gus, mereka kebal hukum dan peraturan pesantren, dan berujung pada ketidak seriusan belajar. Dan tradisi itulah yang hendak dihindari oleh Bakri, lantaran di mata Bakri tradisi itu tidak kondusif dalam proses belajar dan sering kali membentuk karakteristik feodal yang tidak baik.? ? ?

Pada tahun 1932, setelah selesai melalui tour ilmiyah itu, Bakri inobatkan menjadi pengasuh atau pemimpin Pondok Pesantren Jampes, Kediri. Sejak saat itulah Bakri terkenal sebagai pengasuh Pesantren Jampes. Ada banyak perkembangan yang signifikan di Pesantren Jampes setelah Syekh Ihsan diangkat sebagai pengasuh. Secara kuantitas, misalnya, jumlah santri terus bertambah dengan pesat dari tahun ke tahun, semula sekitar 150 santri menjadi sekitar 1000 santri lebih, sehingga Pesantren Jampes harus diperluas hingga memerlukan 1,5 hektar tanah. Secara kualitas, materi pelajaran juga semakin terkonsep dan terjadwal dengan didirikannya Madrasah Diniyah Mafatihul Huda pada 1942.

Sebagai seorang kiai, Syekh Ihsan mengerahkan seluruh perhatian, pikiran dan segenap tenaganya untuk ‘diabdikan’ kepada santri dan pesantren. Hari-harinya hanya dipenuhi aktivitas spiritual dan intelektual; mengajar santri (ngaji), shalat jama’ah, shalat malam, muthola’ah (mengkaji) kitab, ataupun menulis kitab. Meskipun seluruh waktunya didesikannya untuk santri, Syekh Ihsan tidak melupakan masyarakat umum. Syekh Ihsan dikenal memiliki ilmu hikmah dan menguasai ketabiban. Hampir setiap hari, di sela-sela kesibukannya mengajar santri, Syekh Ihsan masih sempat menerima tamu dari berbagai daerah dan kalangan yang meminta bantuannya. Keilmuan hikmah yang dimilikinya ini berkat penguasaannya yang baik terhadap kitab-kitab hikmah seperti Syamsul-Ma’arif karya al-Buni, Mamba’ Ushul al-Hikmah, Kitab al-Aufaq karya Imam al-Ghazali, dan lain-lain. Bahkan keilmuan hikmah ini ia integrasikan dan kolaborasikan dengan ilmu falak yang telah difahaminya secara mendalam.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pada masa revolusi fisik 1945, Syekh Ihsan juga memiliki andil penting dalam perjuangan bangsa. Pesantren Jampes selalu menjadi tempat transit para pejuang dan gerilyawan republik yang hendak menyerang Belanda. Di Pesantren Jampes, mereka meminta doa restu Syekh Ihsan sebelum melanjutkan perjalanan. Bahkan, beberapa kali Syekh Ihsan turut mengirim santri-santrinya untuk ikut berjuang di garis depan. Jika desa-desa di sekitar pesantren menjadi ajang pertempuran, penduduk yang mengungsi akan memilih Pesantren? Jampes sebagai lokasi teraman, sementara Syekh Ihsan membuka gerbang pesantrennya lebar-lebar.

Sumbangan Syekh Ihsan yang sangat besar adalah karya-karya yang ditinggalkannya bagi masyarakat muslim Indonesia, bahkan umat Islam seluruh dunia. Sudah banyak pakar yang mengakui dan mengagumi kedalaman karya-karya Syekh Ihsan, khususnya karya magnum opus-nya, kitab yang berjudul Sirojut-Tholibin, kitab syarah (penjelasan) dari kitab Minhajul-‘Abidin karya Imam al-Ghazali, terbit pertama kali pada 1932 setebal sekitar 800 halaman. Kitab ini mengulas tasawuf. Syekh Ihsan mendapatkan penghargaan dan legitimasi ilmiyahnya di mata dunia Islam, ketika kitab tersebut diterbitkan oleh sebuah penerbit besar di Mesir, Musthafa al-Bab al-Halab, sebuah penerbit yang berorientasi menerbitkan kitab-kitab kuning (turats), yang sampai saat ini masih eksis. Di antara kitab tasawuf yang ditulis syekh Ihsan adalah kitab Manahijul-Imdad , sebuah syarah (penjelasan) dari kitab Irsyadul-‘Ibad karya Syekh Zainudin al-Malibari, terbit pertama kalinya pada tahun 1940 setebal sekitar 1088 halaman, mengulas tasawuf secara luas dan mendalam.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sebelum menulis tentang tasawuf, syekh Ihsan berkelana mengelilingi tanah Jawa. Sebuah perjalanan apostolik sebagaimana tradisi para sufi darwis. Dalam perjalanan apostoliknya, ia menjumpai dan berdialog sekaligus menimba ilmu secara singkat dari hampir seluruh ulama tasawuf, mursid tharekat, dan para kiai yang terkenal keilmuan dan kezuhudannya. Bahkan, ia pun menjumpai para tokoh kejawen, pengikut kepercayaan, dan mengajak mendiskusikan secara mendalam persoalan filsafat, spiritual, dan pandangan-pandangan spiritual.

Lebih menakjubkan lagi, ia pun menjumpai para dukun dari berbagai jenisnya, lantaran para dukun dianggap memiliki pandangan dunianya sendiri yang harus diselami. Dari pengalaman perjalanan spiritualnya yang telah menggondol segudang informasi dan ilmu itu menjadi salah satu modal dalam mengkonsepsikan pandangan tasawufnya yang dielaborasikan dengan mengikutsertakan pengalaman pribadi, eksperimentasi spiritual, ritual, pandangan pewayangan, dan pentakwilan atas segenap teks normatif Islam, al-Quran dan hadits.?

Pada saat-saat menulis karya-karyanya tersebut, syekh Ikhsan dengan tekun menuliskannya yang tak kenal lelah, tak kenal waktu, bergadang, malam yang hening dilaluinya dengan ditemani segelas kopi dan berbatang-batang rokok. Karena memiliki kebiasaan meminum kopi dan menghisap rokok, akhirnya menginspirasikan lahirnya sebuah kitab yang ditulisnya dengan judul kitab Irsyadul-Ikhwan fi Bayani Hukmi Syurbil-Qohwah wad-Dukhon. Kitab ini diadaptasi dari kitab kumpulan syair-syair atau puisi dari kitab Tadzkiratul-Ikhwan fi Bayanil-Qahwah wad-Dukhan karya KH. Ahmad Dahlan Semarang, yang kemudian diberi penjelasan (syarh), tebalnya 50 halaman. Buku ini berbicara tentang polemik hukum merokok dan minum kopi.

Disamping dikenal sebagai pakar tasawuf, syekh Ihsan juga merupakan ulama dan masuk dalam deretan nama pakar ilmu falak (astronomi). Salah satu karya akademik di bidang ini adalah kitab Tashrihl-‘Ibarot, syarah (penjelasan) dari kitab Natijatul-Miqot karya KH. Ahmad Dahlan Semarang, terbit pertama kali pada 1930, setebal 48 halaman.

Seorang sufi yang juga penuh karya akademiknya ini akhirnya pada Senin, 25 Dzul-Hijjah 1371 H. atau September 1952, dipanggil oleh Allah SWT. Usianya yang baru melewati setengan abad ini, 51 tahun, meninggalkan ribuan santri, seorang istri dan delapan putra-puteri. Kuburannya hingga saat ini ramai dikunjungi oleh para peziarah, khususnya dari warga NU.

Tak ada warisan yang terlalu berarti dibandingkan dengan ilmu yang telah dia tebarkan, baik ilmu yang kemudian tersimpan dalam korpus kitab-kitab karyanya yang ‘abadi’ maupun yang terrekam dan tersimpan di dalam hati para murid-muridnya. Beberapa murid Syekh Ihsan yang mewarisi dan meneruskan perjuangannya dalam berdakwah melalui pesantren adalah Kiai Soim pengasuh pesantren di Tanggir Tuban, KH. Zubaidi di Mantenan Blitar, KH. Mustholih di Kesugihan Cilacap, KH. Busyairi di Sampang Madura, K. Hambali di Plumbon Cirebon, K. Khazin di Tegal, dan lain-lain.

Setahun yang lalu, penulis berziarah kemakamnya dan ke pesantren peninggalannya yang bersahaja dengan disambut oleh KH. Busyro, pengasuh pesantren peninggalan sang sufi kita. Kami berbincang-bincang di rumah KH. Busyro seputar karya-karya sang sufi. Beliau bercerita bahwa sejatinya Gus Dur, panggilan akrab mendiang KH. Abdurrahman Wahid, pernah ingin memperjuangkan salah satu naskah sang sufi yang belum sempat tersebar ke penjuru dunia Islam, yaitu kitab Manahijul -Imdad. Gus Dur meng-copy manuskrip (makhthuthat) kitab tersebut dan diserahkan ke Syekh Sayyed al-Maliki, dengan harapan mendapatkan tashih atau tahqiq dan diterbitkan di Arab. Akan tetapi dalam penantian yang panjang, kitab tidak kunjung diterbitkan. Akhirnya atas dasar inisiatif KH. Busyro sekeluarga, kitab tersebut telah diterbitkan oleh keluarga kiai Ihsan dengan dicetak cukup sederhana dan dalam jumlah terbatas. Tanpa disangka dan diduga, kitab tersebut dalam waktu singkat ludes dipasaran. Karena, rupa-rupanya para kiai dan santri betul-betul menanti-nantikan karya syekh Ihsan itu. Akhirnya ketika sudah ada di depan mata, mereka memburu dan berebut untuk mendapatkannya. Penulis sendiri pada waktu keliling pesantren salaf, tidak mendapatkan kitab tersebut. Dan penulis sempat mensarankan pada KH. Busyro agar kitab tersebut dicetak kembali.

Karya-karya syekh Ihsan sebagian besar telah dikaji dan dibaca oleh para kiai dan santri di pesantren salaf-tradisional. Khususnya kitab magnum opusnya, yaitu Sirojut-Tholibin. Bahkan sebagian kiai Lirboyo-Kediri membacanya setiap tahun sebagai ritual pengajian sehari-hari. Tidak diragukan lagi jika paradigma sufistiknya yang bernuansa Ghazalian yang mengusung perkawinan tasawuf dan syari’ah telah berpengaruh besar terhadap paradigma nalar sufisme kaum santri yang berbasis NU (Nahdlatul Ulama).

?

Mukti Ali

Program Officer Manuskrip Nusantara & Peneliti Rumah Kitab

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Cerita, Pemurnian Aqidah, Nahdlatul Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 02 Februari 2012

IPPNU DKI Tolak Anggapan Anak Emas

Palembang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pimpinan Wilayah IPPNU DKI Jakarta menampik anggapan pengurus IPPNU di daerah-daerah bahwa Pengurus Pusat Ikatan Pelajar Putri NU mengistimewakan PW IPPNU DKI Jakarta. PW IPPNU menilai kepemimpinan PP IPPNU memperlakukan PW IPPNU DKI Jakarta setara dengan IPPNU daerah lainnya.

“Kami ini independen dalam segala hal. Bahkan untuk kegiatan dan pengembangan program, kami bergerak sendiri,” kata utusan PW IPPNU DKI Jakarta saat LPJ PP IPPNU berlangsung di halaman parkir Asrama Haji Pondok Gede, jalan Kolonel H. Barlian KM.9, Kota Palembang, Ahad, (2/12) siang.

IPPNU DKI Tolak Anggapan Anak Emas (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU DKI Tolak Anggapan Anak Emas (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU DKI Tolak Anggapan Anak Emas

Utusan PW IPPNU DKI Jakarta merasa perlu menyampaikan hal demikian. Utusan DKI Jakarta mencoba meluruskan persoalan dugaan tidak berdasar tersebut di hadapan sidang LPJ. Hal itu diungkapkan ketika sejumlah utusan pengurus daerah IPPNU melontarkan kekecewaannya terhadap PP IPPNU.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Kehadiran sekretariat PP IPPNU di ibu kota Jakarta, bukan berarti memberikan akses istimewa bagi PW IPPNU DKI Jakarta,” tambahnya.

Utusan PW IPPNU DKI Jakarta menunjuk sebuah contoh. Dalam mengadakan Makesta, masa kesetiaan anggota sebagai proses kaderisasi awal, PW IPPNU DKI menggelarnya secara mandiri tanpa bantuan PP IPPNU.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dengan suara lantang, utusan PW IPPNU DKI Jakarta mengimbau semua peserta sidang LPJ untuk menghapus kecemburuan tidak beralasan. Menurutnya, kemandirian pengurus IPPNU daerah perlu dipertegas kembali.

Sidang LPJ sedikitnya dihadiri oleh semua jajaran PP IPPNU. Mereka duduk di atas panggung menghadapi semua pengurus wilayah dan cabang IPPNU se-Indonesia. Sementara ruang sidang dibatasi oleh tali panjang mengulur. Ruang sidang LPJ yang terbuka disterilkan dari pengunjung yang tidak mengenakan penanda peserta.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis   : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi AlaNu, Santri, RMI NU Pondok Pesantren An-Nur Slawi