Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Februari 2018

Jadi Primadona, BUMDes Harus Mampu Kembangkan Ekonomi Desa

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Di luar perkiraan, pembentukan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang dicanangkan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) telah jauh melebihi target. BUMDes yang telah terbentuk sebanyak 12.115 BUMDes, dari target yang ditetapkan sebanyak 5.000 BUMDes.

Meski demikian, Menteri Desa PDTT, Marwan Jafar mengakui, jumlah BUMDes harus diiringi dengan kualitas dan pengaruhnya terhadap perkembangan ekonomi desa. Untuk itu, Menteri Marwan kini fokus melakukan upaya untuk meningkatkan kualitas BUMDes.

Jadi Primadona, BUMDes Harus Mampu Kembangkan Ekonomi Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Jadi Primadona, BUMDes Harus Mampu Kembangkan Ekonomi Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Jadi Primadona, BUMDes Harus Mampu Kembangkan Ekonomi Desa

"Sekarang upaya kita, adalah memastikan bahwa BUMDes yang ada bisa hidup mapan. Agar, BUMDes memiliki dimensi keberlanjutan dalam jangka panjang," kata Marwan, di Jakarta, Rabu (15/6), dalam siaran pers yang diterima Pondok Pesantren An-Nur Slawi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menteri Marwan mengatakan, BUMDes adalah salah satu pilar demokrasi ekonomi, yang akan berkontribusi mendistribusikan usaha kecil di desa. Ia berharap, pengembangan BUMDes selanjutnya tidak hanya didorong oleh bantuan dari pemerintah. Namun juga bisa mandiri dan bekerja sama dengan lembaga keuangan baik perbankan maupun non perbankan.

"Bantuan dari pemerintah yan digunakan untuk pengembangan BUMDes bentuknya hanya stimulan. Selebihnya, desa harus bisa mandiri dan kreatif," ujarnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Di sisi lain, Jaenal Effendi, Pakar Ekonomi IPB mengakui, dana desa dan BUMDes saat ini telah menjadi primadona ekonomi perdesaan. Menurutnya, BUMDes sebagai perusahaan yang menaungi berbagai aktivitas ekonomi di desa, tidak hanya akan memberikan efek pada perkembangan ekonomi desa, namun juga berpengaruh pada perkembangan ekonomi nasional. "BUMDes dan dana desa sekarang ini memang sudah menjadi ikon," paparnya.

Jaelani mengatakan, tujuan berdirinya BUMDes adalah untuk menggerakkan ekonomi dengan baik. Bahkan jika BUMDes dikelola dengan maksimal, akan memberikan sumbangsih besar dalam menurunkan ketimpangan pengeluaran penduduk Indonesia yang diukur dengan gini ratio.

"BUMDes golnya agar bisa menggerakkan ekonomi dengan baik. Semua produk unggulan desa dapat diberdayakan melalui ini. Jika maksimal, gini ratio akan bisa teratasi mendekati garis diagonal," ujarnya. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi News, Jadwal Kajian, Kajian Sunnah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 08 Februari 2018

Universitas NU di Makassar Dipimpin Rektor Perempuan

Makassar, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Dr Ir Hj Majdah Muhyiddin Zein akhirnya terpilih sebagai rektor Universitas Islam Makassar (UIM). Pemegang kuasa Ketua Umum Yayasan Perguruan Tinggi Al-Gazali Makassar yang menaungi universitas ini, HM Aksa Mahmud resmi melantik rektor terpilih, Ahad (27/5) siang kemarin.

Pelantikan berlangsung hikmat di kampus milik Nahdlatul Ulama (NU) Sulsel ini. Turut hadir, Koordinator Kopertis Wilayah IX, Prof Dr Aminuddin Salle, SH MH, Mustasyara PBNU yang juga sesepuh NU Sul-Sel KH M Sanusi Baco, Lc, Ketua Tanfidziyah NU Sul-Sel KH M Zain Irwanto, Ketua Tanfidziyah NU Kota Makassar Dr H Abd Kadir Ahmad, MS dan civitas akademika UIM.

Demikian dikutip dari harian Fajar Makassar, Senin (28/5). Acara pelantikan diawali dengan pembacaan surat keputusan ketua yayasan. Setelahnya, dilanjutkan pernyataan dari rektor terpilih soal kesiapannya untuk mengembangkan UIM ke arah yang lebih baik. "Saya juga siap berpaya terus menambah jumlah mahasiswa UIM dari tahun ke tahun," katanya.

Universitas NU di Makassar Dipimpin Rektor Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Universitas NU di Makassar Dipimpin Rektor Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Universitas NU di Makassar Dipimpin Rektor Perempuan

Majdah juga berjanji tidak menggunakan jabatan untuk kepentingan politik. Hal ini diungkapkan atas kapasitas sebagai Istri ketua DPRD Sul-Sel Ir H Agus Airifin Numan yang juga calon wakil Gubernur Sul-Sel mendampingi H.Syahrul Yasin Limpo.

Sementara itu, Aksa Mahmud dalam sambutannya mengatakan, kampus UIM mencatat sejarah baru. Itu karena untuk pertama kalinya, kampus ini memiliki rektor perempuan. Hal itu menurut Aksa, tentu menjadi kebanggaan tersendiri.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Saya juga memandang pelantikan ini begitu istimewa. Sebab, sebelum dzuhur, saya melantik suaminya sebagai ketua Makassar Golg Club," ungkap Aksa.

Menurut Aksa, sangat jarang terjadi ada sepasang suami istri yang dilantik dalam sehari pada jabatan berbeda. Lebih istimewa lagi tambahnya, karena sepasang suami istri ini dilantik oleh orang yang sama.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Aksa berharap, hal itu bisa menjadi spirit untuk berbuat lebih baik. Sebab saat ini, masa depan UIM akan sangat ditentukan oleh kinerja dari rektornya.(bade)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ahlussunnah, Warta, News Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 15 Januari 2018

Ansor Banten Dukung Sikap Pemerintah soal Freeport

Serang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda (PW GP) Ansor Provinsi Banten mendukung pemerintah Indonesia dalam menghadapi PT Freeport Indonesia karena hal tersebut merupakan bentuk neokolonialisme baru yang sangat meruntuhkan kedaulatan negara kesatuan Republik Indonesia serta merugikan rakyat.

Demikian hal tersebut diungkapkan oleh Ketua GP Ansor Banten, Ahmad Nuri saat jumpa pers di Sekretariat GP Ansor Banten di Komplek Ciceri Permai Kota Serang, Sabtu (25/2/2017).

Ansor Banten Dukung Sikap Pemerintah soal Freeport (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Banten Dukung Sikap Pemerintah soal Freeport (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Banten Dukung Sikap Pemerintah soal Freeport

"PW GP Ansor Banten mendukung sepenuhnya upaya pemerintah untuk menjalankan amanat konstitusi yang juga diakui secara sah dan meyakinkan oleh hukum internasional terkait penguasaan maupun pengelolaan bumi, air, dan kekayaan alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat," kata Nuri.

Nuri menjelaskan, saat ini negara Indonesia sedang dihadapkan pada bentuk penjajahan baru yang dilakukan oleh perusahan asing bernama Freeport untuk menguasa sumber daya alam di Papua dan Bangsa Indonesia, sedang melakukan perlawanan terhadap neo-kolonilisme dengan melakukan divestasi saham perusahaan tersebut.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Sudah jelas dalam Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 menyebutkan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya ? dikuasai negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat," jelasnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selanjutanya, terang Nuri, ada regulasi yang dapat memberikan proteksi atas kehendak negara tersebut sebagaimana tertuang dalam PP No 1 Tahun 2017 yang mengubah Pasal 97 PP No 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara, terkait kewajiban pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) dan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) yang sahamnya dimiliki asing untuk melakukan divestasi sahamnya secara bertahap, sehingga, saham paling sedikit 51 persen dimiliki Indonesia.

"Kami juga mendesak Menteri ESDM agar tetap berani, konsisten dan teguh berpegang pada menjalankan amanat konstitusi seperti tegas dinyatakan dalam PP No. 1 Tahun 2017, termasuk tidak mudah tunduk pada desakan siapa pun, termasuk dari PTFI maupun pihak-pihak di belakang PTFI," terangnya.

Ia juga mengatakan, pihaknya siap bekerja sama dengan seluruh elemen bangsa untuk memastikan pelaksanaan penerapan PP No. 1 Tahun 2017 terhadap PTFI berjalan dengan baik, dengan secara khusus mempertimbangkan aspek lingkungan, hak asasi manusia, maupun perikehidupan yang layak, khususnya bagi masyarakat Papua.

"Semua anggota dan kader GP Ansor se-Banten sudah siaga satu dan siap membantu jika dibutuhkan negara, khususnya jika PTFI menempuh jalur arbitrase, kami juga siap turun ke jalan untuk mempertahankan tanah air dan mengusir Freeport dari Papua," pungkasnya. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Aswaja, News Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 07 Januari 2018

#Harlah89NU Jadi Trending Topic di Twitter

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Hari lahir ke-89 Nahdlatul Ulama yang jatuh pada hari ini, Sabtu (31/1), ramai diperbicangkan di media sosial, termasuk Twitter. Bahkan, pada pukul 12.00 WIB tampak kicauan ribuan nitizen di twitter berhasil membuat tagar #Harlah89NU masuk dalam daftar trending topic.

Kicauan para pengguna twitter tersebut umumnya berisi ucapan selamat, serta sejumlah harapan dan masukan untuk eksistensi NU ke depan. Sebagian juga turut memeriahkan akun mereka dengan foto-foto bersejarah NU atau kutipan-kutipan kata bijak ulama NU.

#Harlah89NU Jadi Trending Topic di Twitter (Sumber Gambar : Nu Online)
#Harlah89NU Jadi Trending Topic di Twitter (Sumber Gambar : Nu Online)

#Harlah89NU Jadi Trending Topic di Twitter

“Selamat Hari Lahir @nu_online ke-89. Mari wujudkan masyarakat yang sejahtera, berkeadilan, demokratis dan mandiri. #Harlah89NU,” kicau @Kemenag_RI, akun resmi Kementerian Agama RI.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ada pula? nitizen yang memuji NU, seperti yang dikicaukan @seblat. Ia mengaku tak pernah gabung dengan organisasi NU, tetapi tetap merasa NU. Selain faktor keturunan juga kenyamanan. “Dan yg asik, NU itu nggak ke arab2an, pdhl pd jago bahasa arab. Harlah ya bukan Milad #harlah89NU.”

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sejumlah doa dan kritik juga muncul dari para nitizen. Mereka berharap NU memberi perhatian lebih pada masyarakat di akar rumput, dan tak terlalu masuk ke dalam politik praktis.

“Anggota NU terbanyak dari masyarakat pinggir. Smg di #Harlah89NU ini mnjd momentum merawat basis terbawah. Ajak bicara mereka,” kicau @WahidRI.

Peringatan harlah ke-89 NU hari ini diperingati di halaman kantor PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat. Wakil Presiden RI H Muhammad Jusuf Kalla dijadwalkan hadir pada puncak acara yang berlanngsung pukul 19.30 WIB malam nanti. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kajian, Humor Islam, News Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 04 Januari 2018

Manaqib Kubro Syekh Abdul Qodir di Pesantren Futuhiyyah

Demak, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Sekitar lima ribu jamaah putri menghadiri Manaqib Kubro Syekh Abdul Qodir Al-Jailani yang digelar Jamiyyah Manaqib pesantren Futuhiyyah pimpinan Nyai Hj Saadah Muslih Abdurrahman, Ahad (1/2) siang. Jamaah yang hadir baik dari dalam dan luar kota berikut santriwati di sekitar pesantren Futuhiyyah Mranggen, Demak ini, larut dalam sholawat, tasbih, tahlil, dan doa.

Manaqib Kubro Syekh Abdul Qodir di Pesantren Futuhiyyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Manaqib Kubro Syekh Abdul Qodir di Pesantren Futuhiyyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Manaqib Kubro Syekh Abdul Qodir di Pesantren Futuhiyyah

Mereka dengan dominasi pakaian putih ini, memadati halaman pesantren Futuhiyyah Mranggen yang tak lagi mampu menampung luapan jamaah. Pada acara yang berlangsung rutin setahun sekali ini dibuka dengan lantunan ayat Al-Quran dan dimeriahkan oleh grup rebana Fatayat NU dari Kangkung, Mranggen.

Alhamdulillah, hampir semua santri dan alumni hadir di sini. Selain sebagai wujud cinta kita kepada Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, acara Manaqib Kubro ini juga bertujuan sebagai media berdo’a secara massal dan sebagai wahana silaturahmi antaralumni yang mengaji kepada Nyai Hj Sa’adah Muslih,” kata ketua pelaksana Manaqib Kubro Hj Nadliroh Muhibbin.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Manaqiban menggunakan kitab Manaqib Nurul Burhani, sebuah kitab terjemah dan syarah manaqib yang disusun KH Muslih Abdurrahman Al-Maraqy. Pembacaan manaqib dipimpin langsung oleh Nyai Hj Sa’adah Muslih yang diikuti secara seksama oleh para jamaah sampai selesai.

Adapun KH Muhammad Thobroni dalam taushiyahnya menegaskan banyaknya cara untuk meningkatkan keimanan. Salah satunya dengan berdzikir. Kiai Thobroni lalu menyebutkan faidah dari pembacaan tasbih, tahmid, dan tahlil.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Karena itu, perbanyaklah berdzikir, karena ikan yang berada di lautan selalu berdzikir, mulutnya selalu menyebut asma Allah, insangnya selalu berzikir ‘hu-hu-hu’, ekornya mengisyaratkan dzikir ‘Laa ilaaha illallah’,” kata Kiai dari Wonosobo ini. (Afrida dan Zabidy/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi News, Humor Islam, IMNU Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 26 Desember 2017

Sinoman, Sumber Dana Organisasi IPNU-IPPNU Karangmalang

Kudus, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Cara kreatif dilakukan para aktivis IPNU-IPPNU desa Karangmalang kecamatan Gebog, Kudus dalam mencari sumber dana organisasi. Mereka membentuk kelompok pramusaji, tenaga sinoman yang bertugas membantu penerima tamu maupun penyaji makanan dalam sebuah resepsi pernikahan.

Menurut koordinator sinoman Ahmad Zaki Mubarok, tenaga sinoman ini menjadi kegiatan sampingan para aktivis IPNU-IPPNU guna membantu masyarakat yang membutuhkan tenaga saat resepsi pernikahan ataupun ngunduh mantu.

Sinoman, Sumber Dana Organisasi IPNU-IPPNU Karangmalang (Sumber Gambar : Nu Online)
Sinoman, Sumber Dana Organisasi IPNU-IPPNU Karangmalang (Sumber Gambar : Nu Online)

Sinoman, Sumber Dana Organisasi IPNU-IPPNU Karangmalang

“Di samping mendekatkan IPNU-IPPNU dengan masyarakat, kegiatan ini alternatif bagi sumber pembiayaan organisasi karena akan masuk ke dalam kas,” katanya kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi, Sabtu (5/4).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kelompok sinoman ini, kata Zaki, berdiri sejak 2006 dengan jumlah anggota sekitar 20 orang. Awal mulanya, IPNU-IPPNU ingin mencari sumber dana mandiri organisasi tanpa ketergantungan kepada pihak lain.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Semula ingin membentuk event organizer namun kemampuan belum memungkinkan. Akhirnya, kita membentuk tenaga sinoman pernikahan,” kata Zaki, mahasiswa Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara.

Setiap diundang menjadi sinoman, IPNU-IPPNU memperoleh kas yang beragam berkisar  Rp 350.000-800.000 tergantung bentuk perhelatannya. “Uang hasil sinoman dibagi untuk personil yang ikut bertugas. Sisanya untuk kas organisasi termasuk untuk kebutuhan program bimbel anak-anak di desa tersebut,” imbuh Zaki.

“Jadi selain untuk organisasi, juga bermanfaat untuk masyarakat,” tutur Zaki. (Qomarul Adib/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Santri, News Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 20 Desember 2017

Prihatin Peredaran Narkoba di Jombang, Polisi Dekati Madrasah

Jombang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Akhir-akhir ini peredaran narkoba bahkan Napza atau narkotika, psikotropika, dan zat adiktif telah merambah banyak lapisan masyarakat termasuk pelajar. Di Jombang, pengguna bahan berbahaya ini terbilang tinggi. Mereka juga termasuk di dalamnya adalah kalangan pelajar.

"Data terakhir yang kami peroleh pada September 2015, pecandu narkoba menurut profesi pekerja swasta menempati posisi pertama dengan 53 orang," kata Kapolsek Jombang Kota AKP Yudiono, Selasa (10/2).

Prihatin Peredaran Narkoba di Jombang, Polisi Dekati Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)
Prihatin Peredaran Narkoba di Jombang, Polisi Dekati Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)

Prihatin Peredaran Narkoba di Jombang, Polisi Dekati Madrasah

Data ini disampaikan Yudiono saat melakukan kunjungan silaturahmi di Madrasah Aliyah Unggulan Wahab Hasbullah (MAU WH) di kawasan Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Angka berikutnya adalah mahasiswa dengan jumlah 20 orang, kemudian 15 pelajar, pengangguran 10 orang, serta 2 TNI, lanjutnya di hadapan para ustadz dan ratusan pelajar madrasah setempat.

Karena tingginya pelajar yang mengonsumsi obat berbahaya tersebut, Yudiono mengingatkan bahwa para siswa dan siswi adalah calon penerus bangsa. Karena itu sejumlah pertimbangan harus dilakukan agar tidak terjerumus pada kegiatan yang tidak menguntungkan di masa depan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Tahan semua keinginan semu seperti merokok dan berpacaran," terangnya. Karena perbuatan tersebut tidak akan membawa manfaat, lanjutnya.

Ia juga mengajak para pelajar di madrasah ini untuk bangga terhadap orang yang telah membesarkan dan mendidik dengan baik, yakni orang tua di rumah, kiai di pesantren, serta guru di madrasah.

"Banggakan lah almamater yakni madrasah, pondok serta orang tua," tegasnya.

Sukses, menurutnya, sangat bergantung pada diri sendiri, bukan orang lain. "Sukses ada di tangan diri kalian sendiri," ungkapnya.

Kepala MAU WH Ustadz Faizun yang menerima langsung Kapolsek Jombang Kota mengemukakan bahwa kegiatan seperti ini telah dilakukan beberapa kali. "Ini adalah tahun ketiga kita mengadakan kegiatan bekerja sama dengan jajaran TNI atau Polri," ungkap alumnus pascasarjana Universitas Islam Malang (Unisma) ini.

Ratusan siswa dan siswa MAU WH mengikuti dengan seksama kegiatan yang berlangsung di aula madrasah setempat sejak jam 9 pagi. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kajian Islam, Hadits, News Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 16 Desember 2017

Kagumi KH Wahab Chasbullah, Asad Ali Siap Jadi Penggerak NU

Jombang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Calon Ketua Umum PBNU KH Asad Ali mengungkapkan kekagumannya kepada salah seorang tokoh pendiri Nahdlatul Ulama KH Wahab Chasbullah. Ia menyatakan siap menjadi penggerak NU sebagaimana Mbah Wahab.

Hal itu disampaikannya dalam acara peluncuran buku “KH Abdul Wahab Chasbullah, Hidup dan Perjuangannya,” karya Drs Choirul Anam di Pondok Pesantren Tambak Beras Jombang, Senin (3/8) malam.

Kagumi KH Wahab Chasbullah, Asad Ali Siap Jadi Penggerak NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kagumi KH Wahab Chasbullah, Asad Ali Siap Jadi Penggerak NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kagumi KH Wahab Chasbullah, Asad Ali Siap Jadi Penggerak NU

"10 tahun sebelum NU lahir Mbah Wahab sudah mendirikan Nahdlatul Wathon, atau sekolah kemangsaan. Jauh sebelum Indonesia merdeka beliau sudah berfikir nasionalisme dan kebangsaan yang dijiwai oleh agama Islam," katanya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

As’ad mengatakan, Mbah Wahab adalah sosok penggerak, meski demikian ia tidak mendahului kehendak ulama. “Waktu itu beliau mengusulkan untuk mendirikan NU, tapi Mbah Hasyim mengatakan mau akan istikhoroh dulu. Kiai Wahab pun manut,” katanya

Asad melanjutkan, salah satu peninggalan penting dari Mbah Wahab adalah mars Yahlal Wathon. Tahun 1916 mars ini wajib dinyanyikan sebelum sekolah di Nahdlatul Wathon. "Salah satu syair yang paling penting adalah Wala takun minal hirman, jangan kalian menjadi bangsa terjajah," katanya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurut Asad, setelah mendapat petunjuk dari KH Maimun Zubair, ia meminta para musisi muda NU untuk menggubah lagu Ahlal Wathon seperti yang saat ini populer. "Mars Ahlal Wathon ini kita jadikan lagu wajib setiap kaderisasi PBNU. Lagu ini bisa menggerakkan kita. Apa gunanya berorganisasi kalau tidak bergerak," katanya.

Putra Kiai Wahab Chasbullah, KH Hasib Wahab dalam kesempatan itu menyatakan rasa syukurnya, satu lagi buku tentang Kiai Wahab telah diterbitkan.

"Mbah Wahab mungkin tidak mau ditulis, bahkan tidak mau mendapat gelar pahlawan nasional. Tapi buku semacam ini penting untuk mengenalkan para tokoh sesepuh dan pejuang kepada generasi berikutnya. Buku ini sangat berharga yang akan dikenang sampai nanti," katanya.

Choirul Anam mengatakan, buku KH Wahab Chasbullah: Hidup dan Perjuangannya setebal 400-an halaman itu ditulis saat dirinya dalam kondisi sakit. Beberapa bagian dari isi buku belum selesai dan baru akan dimuat dalam edisi berikutnya.

Dalam kesempatan itu Asad Said Ali meminta ratusan Nahdliyin yang hadir berdoa untuk kesehatannya. "Insyaallah setiap karya baru yang dilahirkan oleh Cak Anam akan menjadi obat bagi para penulisnya," katanya. (A. Khoirul Anam)

Foto: H As’ad Said Ali bersama penulis buku Choirul Anam dan Gus Hasib putra Kiai Wahab Chasbullah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Syariah, News, Pendidikan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 09 Desember 2017

Rais Aam PBNU: Tidak Benar Nusron Wahid Dipecat

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rais ‘Aam PBNU KH Ma’ruf Amin meluruskan rumor yang menyatakan bahwa Nusron Wahid dipecat sebagai ketua PBNU. Menurutnya, PBNU tak pernah memecat mantan ketua umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor itu.

“Tidak benar itu bahwa dia dipecat. Bahwa dia memang terkena aturan organisasi karena rangkap jabatan di partai politik itu memang benar,” katanya di Jakarta, Rabu (26/10).

Rais Aam PBNU: Tidak Benar Nusron Wahid Dipecat (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Aam PBNU: Tidak Benar Nusron Wahid Dipecat (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Aam PBNU: Tidak Benar Nusron Wahid Dipecat

Nusron mengundurkan diri secara otomatis dari kepengurusan NU sejak ia kembali aktif di Golkar sebagai Koordinator Bidang Pemenangan Pemilu pada Mei 2016. Pengunduran diri ini adalah konsekuensi logis dari AD/ART dan Peraturan Organisasi Nahdlatul Ulama yang melarang pengurus NU merangkap jabatan di partai politik.

Saat dikonfirmasi, Nusron mengatakan sudah mengajukan pengunduran diri secara resmi pada bulan Juli lalu, sehari setelah dilantik jadi pengurus DPP Golkar, dan PBNU menghormati pilihannya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Terkait polemik pilkada DKI Jakarta, Kiai Ma’ruf juga membenarkan Nusron telah meminta maaf dan mengklarifikasi sikap dan pikirannya belakangan ini dengan berkunjung ke kediamannya, Selasa (25/10). Nusron, katanya, tidak bermaksud menghina ulama ataupun Islam.

(Baca: Nusron Wahid Bertabayun kepada Kiai Ma’ruf)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Perbedaan pendapat itu biasa. Yang saya tekankan adalah jangan keluar dari jalur NU,” ujarnya selepas membuka acara Expert Focus Group Discussion “Penguatan Kapasitas dan Jejaring Kerja Media Islam dalam Program Deradikalisasi Agama” yang digelar Lembaga Ta’lif wan Nasyr NU (LTNNU) bekerja sama dengan Yayasan Tifa, siang itu.

Kiai Ma’ruf mengimbau kepada seluruh Nahdliyin untuk tidak mudah terprovokasi dengan upaya orang atau kelompok tertentu yang berusaha memecah belah NU di tengah tingginya suhu politik menjelang musim pemilihan kepala daerah. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi News, Sholawat, Syariah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 05 Desember 2017

Rafli, Sosok Rendah Hati Jebolan LSN

Jember, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Striker Tim Nasional Indonesia U-18 Muhammad Ralfi Mursalim ternyata sosok yang rendah hati. Jebolan Liga Santri Nusantara (LSN) itu mengaku dirinya bukan siapa-siapa. Menurutnya, masih banyak pemain lain dari LSN yang pantas masuk skuad tim nasional, namun belum hokinya. Banyak alumni LSN yang bertalenta, namun tidak terpantau oleh pemerintah.

"Sebetulnya bukan hanya saya yang dari pesantren, banyak juga pemain bintang lain, tapi belum rezekinya," tukas Rafli kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi di sela-sela Jumpa Pers di hotel Aston, Jember, Kamis (19/10).

Rafli, Sosok Rendah Hati Jebolan LSN (Sumber Gambar : Nu Online)
Rafli, Sosok Rendah Hati Jebolan LSN (Sumber Gambar : Nu Online)

Rafli, Sosok Rendah Hati Jebolan LSN

Rafli menambahkan, LSN cukup bagus meski perlu pembenahan di sana-sini. Sebagai ajang untuk menggali pemain-pemain bertalenta di pesantren, LSN cukup prospektif dan perlu didukung oleh semua pihak.

LSN di mata Rafli mempunyai kelebihan dibanding ajang lain, yaitu dukungan spritualitas dari kiai. Di tengah kompetisi yang sengit, masih ada doa dan petuah kiai yang bisa menyejukkan hati. Secara pribadi, ia merasa dukungan yang diberikan kiainya di Pondok Pesantren Al-Asyariyah, Banten cukup membesarkan jiwanya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Kiai mendukung olahraga. Kiai bilang, tidak lupa agama, dan tidak lupa sepakbola, dan olahraga lain juga boleh," ungkapnya.

Rafli bersama pemain PSSI U-19 akan menghadapi Persid Jember dalam laga uji coba di stadion Jember Sport Garden, Jember, Sabtu (21/10) sore.

Pelatih Indra Syafri membawa seluruh pemain terbaiknya dalam uji coba kali ini, termasuk bintang masa depan Indonesia, Egy Maulana Vikri, tandem Rafli di lini depan. (Aryudi A Razaq/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi News, Nasional Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 28 November 2017

PWNU Yogya Nilai Warga NU Ikuti Pemilu dengan Baik

Yogyakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Ketua PWNU Daerah Istimewa Yogyakarta Rochmat Wahab menilai warga Nahdliyin, khususnya di Yogyakarta, mengikuti pemilu legislatif dengan baik.

“Kita semua sudah berpartisipasi dengan baik sebagai warga negara,” katanya pada sambutan pengajian Ahad Wage di Aula PWNU DIY, Jl. Mt Haryono 40/42, pada Ahad (20/4).

PWNU Yogya Nilai Warga NU Ikuti Pemilu dengan Baik (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Yogya Nilai Warga NU Ikuti Pemilu dengan Baik (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Yogya Nilai Warga NU Ikuti Pemilu dengan Baik

Menurut dia, PWNU DIY memahami warga Nahdliyin yang sudah mengupayakan bagaimana bisa berpartisipasi dengan optimal. “Kita tidak berpolitik praktis, namun kita peduli dengan politik. Kita berusaha berpartisipasi secara optimal.”

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ia berharap pemimpin yang dipilih warga NU pada pemilu 9 April lalu menjadi wakil rakyat yang baik dan amanah.

Pengajian Ahad Wage (20/04) tidak hanya mengkaji masalah Ahlussunah Wal Jamaah, tapi juga masalah pemilu yang dihadiri oleh KPU dan Banwaslu. (Nur Sholikhin/Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Hadits, News Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 25 November 2017

9 Pelajaran Berharga dari Mbah Liem

Oleh Ali Mahbub

--Pelajaran-pelajaran KH Muslim Rifa’i Imampuro atau Mbah Liem (alm) yang disampaikan di sini saya kutip dari tulisan yang ada di kalender Yayasan Pondok Pesantren Al muttaqien Pancasila Sakti yang menurut saya sangat-sangat penting dan saya anggap sebuah pelajaran penting dari Mbah Liem.

Saya berharap dan berdo’a semoga saya dan saudara semua pun bisa meneladani pelajaran-pelajaran tersebut, selain dari kutipan tulisan di kalender saya juga menulis pelajaran-pelajaran Mbah Lim dari sumber lain.

9 Pelajaran Berharga dari Mbah Liem (Sumber Gambar : Nu Online)
9 Pelajaran Berharga dari Mbah Liem (Sumber Gambar : Nu Online)

9 Pelajaran Berharga dari Mbah Liem

Mbah Liem dalam cerita para santri baik dari santri 5 atau yang disebut Mbah Lim sebagai Pendowo Limo maupun dari cerita santri senior yang lain seperti? KH Muhaimin Yogyakarta dan dari apa yang sedikit saya saksikan sejak tahun 2008 akhir hingga wafatnya beliau. Mbah Liem memang tidak pernah membacakan sebuah Kitab kepada para santrinya melainkan beliau langsung mengajarkan dengan ilmu hal atau memberi contoh langsung.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ajaran-ajaran Mbah Liem tersebut yaitu:

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

1. “Nguwongke Uwong, Gawe Legane Uwong.” Mbah Liem selalu menghargai dan menerima setiap orang dengan segala potensi dan niat baiknya. Kalau pun kita tidak membutuhkan, mungkin manfa’atnya bisa dirasakan keluarga, tetangga atau msyarakat kita. Contohnya setiap kali ada tamu, baik pejabat maupun tokoh yang lain, Mbah Liem selalu menyambut dengan hangat siapapun orangnya dan Mbah Lim tidak lupa memberikan ruang interaksi untuk mendekatkan pejabat/tokoh dengan masyarakat.

2. “3 T“: Titi – Tatak – Tutuk. Mbah Liem mengajarkan sa’at melaksanakan setiap tugas dalam hidup, haruslah Titi (cermat, teliti dan selektif), Tatak (legowo, sabar), sehingga Tutuk (sampai, selesai dengan hasil yang memuaskan)

3. “3 K “: Kuli – Kiai – Komando. Setiap santri haruslah mampu memerankan diri sebagai Kuli (siap bekerja keras), Kiai (siap mengamalkan ilmu dan berdo’a), Komando (siap menjadi pemimpin yang piwai mengambil keputusan, bijak serta berwibawa)

4. “Kita harus Tegak, Tegas dan Tegar selama benar “? setiap melaksanakan kebenaran kita harus Tegak ( penuh keyakinan, tidak goyah oleh pengaruh apapun), Tegar ( tak kenal kompromi terhadap pelanggaran aturan ), Tegar ( Ikhlas, Sabar )

5. “3 R “: Rampung bangunane – Rame jama’ahe – Rukun masyarakate “. Dalam mendirikan sarana apapun ada 3 hal yang harus diupayakan yakni “ Rampung bangunane “ (bisa terwujud ), Rame jama’ahe ( berfungsi dan dibutuhkan para pemangku kepentingan ), Rukun masyarakate ( menjadi sumber kedamaian dan perekat persatuan )

6. “Aja Mung Benteng Ulama, ning Nahnu Anshorullah, Masyriq-maghrib “ di samping peranya sebagai Benteng Ulama, Banser seharusnya mampu menjalankan peran yang lebih luas di seluruh permukaan bumi, dalam bingkai “ Nahnu Anshorulloh”.

No? 1 – 6 penulis kutip dari kalender.

7.? ? ? “ 3 S “:? Sholat – Sinau – Sungkem. Maksudnya? “ Sholat “ Seorang santri harus tekun beribadah, prihatin dan berdoa.? “ Sinau “ santri harus belajar terus menerus. “ Sungkem “santri harus mempunyai akhlak yang mulia, tau sopan santun, tawadhu’ pada Kyai/Guru.

8.? ? “ 2 B “ Berhasil – Berkah . dalam mencapai cita – cita/usaha? harus mempunyai komitmen yang kuat agar tercapai yang di inginkan,”? Berkah “setiap cita – cita/ usaha harus di mulai dengan niat ibadah(niat baik) agar mendapat keberkahan dari Allah SWT.

No 7 – 8 sumber dari Umi Hasanah Santri pertama MA Al Muttaqien Pancasila Sakti)

9. “ Dadi uwong ki ojo gur mangan terus tapi yo Ngising barang” (Jadi orang itu jangan hanya makan aja tapi ya buang air besar juga). Kita tidak boleh hanya melulu mencari harta terus tapi kita juga harus rajin bersedekah. (sumber dari Umi Hasanah dari Hj Siti Choiriyah putri pertama Mbah Liem.

Selanjutnya saya tulis juga tiga kebiasaan Mbah Liem.

1. Setiap bertemu dengan orang lain, di manapun selalu mendo’akan dengan uluk salam “Assalamu’alaikum!“

2. Dalam perjalanan setiap kali bertemu dengan Makam dan Sungai, beliau selalu membaca Fatehah kepada Ahli kubur dan Fatehah kepada Nabiyullah Khidzir AS.

3. Jika berpapasan dengan Pelajar/Mahasiswa, beliau selalu mendo’akn “Sholeh, Sholehah Penerus”

Selain itu saya mendengar pemaparan pak Haji Danun (santri/sopir mbah Lime) setiap mau berangkat perjalanan silaturrahmi ke manapun Mbah Liem selalu berkata “ niate silaturrahmi, ngubengi RI untuk mendo’akan NKRI Pancasila agar AMD Aman, Makmur, Damai. dan di dalam mobil Mbah Liem selalu mengajak Dzikir, Sholawat di sepanjang perjalanan. ?

Subhanallah semoga kita bisa meneladani ajaran beliau. Alfaatihah....

Ali Mahbub, mengajar bahasa Arab dan ke-NU-an di MA Al Muttaqien Pancasila Sakti

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kyai, News Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 21 November 2017

Internasionalisasi Moderasi Islam: Dari Islam Nusantara untuk Peradaban Dunia

Oleh Ribut Nur Huda*



Dewasa ini dunia menghadapi konflik perang saudara atas nama ras dan bahkan agama. Akibatnya tidak hanya mengganggu stabilitas negara yang bersangkutan tetapi juga negara di sekitarnya atau negara yang terlibat di dalamnya. Contoh dalam hal ini adalah konflik Suriah, Yaman, Palestina, Mesir, Sudan dan negara-negara Muslim lain yang bisa dikatakan belum aman. Tidak bisa dipungkiri bahwa sebab utama adalah dangkalnya pemahaman tentang Islam atau agama yang dianutnya. Kedangkalan ini kemudian menjadi doktrin untuk melakukan kekerasan atas nama agama walaupun sebenarnya hanya alibi kepentingan politik.?

Idealitas berkata lain tentang Islam sebagai risalah penyelamatan. Islam dengan makna menyelamatkan didukung oleh realitas sejarah pada masa Nabi Saw berdakwah di Makkah dan Madinah. ? Prestasi Piagam Madinah adalah bukti nyata bahwa Islam tidak hanya membawa misi dakwah tetapi juga misi kemanusiaan . Islam tidak cukup dipandang hanya sebagai agama syari’ah, tetapi juga agama peradaban.?

Internasionalisasi Moderasi Islam: Dari Islam Nusantara untuk Peradaban Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Internasionalisasi Moderasi Islam: Dari Islam Nusantara untuk Peradaban Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Internasionalisasi Moderasi Islam: Dari Islam Nusantara untuk Peradaban Dunia

Doktrin Islam tidak disampaikan dengan paksaan apalagi kekerasan. Perbedaan pendapat, cara berfikir dan pandangan politik adalah sarana menguatkan ghadhab atau emosi bersaing dan membangun kesadaran sosial untuk kemaslahatan bersama baik dalam berbangsa dan beragama. Sejarah mencatat adanya gerakan ideologis yang mengarahkan sudut pandang kebenaran di pihak tertentu karena kecenderungan sektarian justru kontra-produktif dan merusak masyarakat. Kelompok ini sudah ada sejak zaman Nabi Saw dengan sebutan Khawarij sebagai representasi fanatisme pemimpin kabilah yang dikikis sedikit-demi sedikit ? oleh para pengikut Nabi Saw melalui hubungan kesefahaman tentang wujud inklusi sosial. ?

Kader-kader Nabi Saw yang berilmu dan bijak merupakan didikan para pewaris Nabi Saw. Mereka ? memberikan kontribusi terwujudnya masyarakat yang berperadaban. Istilah local wisdom (kebijaksanaan lokal) sebagai prinsip dakwah dengan cara ? "bertahap" dan "tidak menyakiti" bukan prinsip oposisi biner (perlawanan) seperti “benar-salah” atau “hitam-putih” sudah ada rujukan sejarahnya. Ini menjadi prinsip dalam dakwah yang tercermin dalam konteks Indonesia berupa institusi yang memiliki metodologi dalam mengkontekstualisasikan wahyu yang absolut kepada realitas yang relatif. Institusi ini mampu mengakomodir budaya lokal dengan prinsip moderasi pada aqidah, syariah maupun tasawuf. Institusi ini di Indonesia dikenal dengan Nahdlatul Ulama (NU) dan memiliki cabang di luar negeri untuk misi pengkaderan dan dakwah ‘internasionalisasi moderasi Islam’.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Setelah adanya model nation-state atau negara bangsa, ada kesamaan antara Pancasila sebagai landasan konstitusional negara dengan Piagam Madinah pada masa Nabi Saw. Ketika itu prinsip negara mampu mengakomodir Maqoshidus Syari’ah sebagai konsep universal bagi agama-agama. Menurut hasil konsensus para ulama, Indonesia bukan negara Islam dan juga bukan negara sekuler melainkan negara damai (darussalam) atau negara Muslim. Darussalam mendapat dukungan normatif dan proaktif dari Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi Islam terbesar tanpa mengenyampingkan organisasi lain.?

Prinsip moderasi ini, menjelaskan kedudukan NU secara syari’at sebagai organisasi, secara hakekat sebagai komunitas (kekeluargaan) dan secara ma’rifat adalah Islam itu sendiri. Organisasi sosial-keagamaan ini berkomitmen dengan misi para pendirinya yaitu menjaga pesan otentik wahyu melalui transmisi keilmuan yang jelas dan transformasi sosial yang massif ke akar rumput dan kuat ke menara gading. Sikap terhadap politik dan budaya adalah penghapusan kasta-kasta dan budaya-budaya sebelum Islam yang tidak sesuai dengan landasan normatif dan dakwah. Sebab landasan normatif aqidah dan fiqih masih dapat menampung budaya lokal. Disamping itu, aqidah Asy’ari tidak eksklusif dalam melihat madzhab kalam. Selagi masih berpayung di bawah payung Islam dengan mengucapkan syahadat, shalat menghadap kiblat dan meyakini adanya rukun Islam dan iman maka mereka adalah sesama Muslim. Berbeda dengan kelompok lain yang dengan mudah bagi seorang peneliti menemukan benturan antara penalaran dengan nash Al-Qur’an dan Sunnah seperti madzhab Mu’tazilah dan madzhab yang lain.?

Organisasi sosial-keagamaan ini dalam misi Internasional adalah menyebarkan faham Sunni yang secara definitif dinegasikan dengan Syiah. Sunni dilihat segi kaku dan lenturnya dalam akidah dan dakwahnya dibedakan dengan Sunni purifikatif dan Sunni metodologis. Sunni purifikatif bisa dilihat pada fenomena keberagamaan di Saudi Arabia yang kemudian disebut Wahabi. Adapun Sunni metodologis bisa dilihat di Indonesia dengan pola bermadzhab NU yang menurut beberapa negara seperti Mesir dan Sudan disebut sufi. Kelompok ini adalah kelompok mayoritas yang terbiasa mencari status hukum secara qouli melalui kitab-kitab turats (kitab kuning) dan tamanhuj (menggunakan metodologi imam madzhab) sebagai alternatif. Tidak bisa dipungkiri adanya negara seperti Mesir yang lebih terpolakan untuk tamanhuj. Ini sebuah kenyataan bahwa moderasi dalam ajaran sunni menentukan kemurnian ajaran Nabi tanpa mengebiri wujud inklusi sosial yang berwatak dinamis dan relatif.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Di ranah pengkaderan, NU sangat ketat mengenai geneologi keilmuan dengan institusi berbasis “talaqqi”. Ilmu sebagai bagian dari agama dibedakan dengan sakralisasi pemikiran. Pemahaman yang terwariskan menjaga keseimbangan antara akurasi teks dengan sumbernya, metode dengan objek pembahasannya dan wilayah pengetahuan dengan batas kemampuan manusia. Berbeda dengan pemikiran yang terkadang keluar dari kebutuhan dan kemampuan akal untuk mengejar keinginan-keinginan relatif dan bahkan spekulatif. Ini bukti bahwa NU memiliki disiplin ilmiah menurut perspektif Islam . Tiga kriteria dikuatkan oleh tradisi ilmu jarh wa ta’dil yang tidak ada dalam tradisi Barat ketika mengkaji Islam kecuali kalangan orientalis yang tertarik untuk mengkaji Timur dengan kaca mata miopiknya, tafsir manipulatifnya atau prinsip “ilmu untuk ilmu” yang kejujurannya masih perlu dipertimbangkan.

Bertolak dari landasan pemikiran di atas, Lakpesdam NU Cabang Istimewa Sudan merancang program penguatan metodologi penelitian dan turast warisan ulama klasik. Merujuk kitab-kitab ulama klasik bukan karena anti dengan metodologi melainkan bentuk kehati-hatian dan konsekuensi penyambung transmisi keilmuan generasi sebelumnya. Sebagaimana rumusan para ulama PBNU ketika ada permasalahan fiqih yang baru dan belum ditemukan status hukumnya di kitab kuning langkah yang diambil adalah menggunakan metode ilhaqi dan menerapkan metodologi sesuai rumusan tim LBM PBNU khususnya Lembaga Bahtsul Masa’il maudlu’iyah PBNU yang menjadi rujukan di level nasional.?

Rumusan tersebut didukung oleh kajian yang ketat dan berat oleh karya-karya ulama Nusantara seperti KH Sahal Mahfudz dengan fiqih sosialnya atau ulama-ulama Timur Tengah seperti Syekh Wahbah Zuhaily dan Sykeh Ali Jum’ah. Rumusan-rumusan yang dihasilkan tidak hanya menjelaskan sikap moderat dan produktif di bidang sosial-keagamaan. Khazanah Nusantara dalam hal ini terpakai menjadi bahan rumusan metodologi sesuai objek pembahasan tanpa terjebak pada sikap yang kontra-produktif atau menyia-nyiakan waktu.?

Melihat sisi sejarahnya, sunni di Indonesia memiliki kesamaan dengan Sunni di Sudan. Persamaan yang ada adalah Islam berkembang sebagai ajaran bukan ideologi. Pijakannya adalah kemaslahatan melalui rekonsiliasi Maqashidus Syari’ah dengan ideologi negara sebagai tuntutan kondisi . Misalnya fenomena ? konstitusi negara Indonesia yang hukum positifnya banyak memakai warisan Belanda namun tidak bertentangan dengan prinsip Islam. Sudan yang hukum positifnya diwarisi dari Inggris menunjukkan sekulerisasi Inggris pada zaman penjajahannya tidak cukup berhasil dengan adanya majma fiqh, majma zakat dan majma’ sufi walaupun secara institusional dan birokrasi ada keterpengaruhan. Termasuk realita yang tidak bisa dipungkiri yaitu terbaginya kelompok sufi menjadi dua kelompok yaitu sufi dengan semangat institusional dan sufi dengan semangat ikhwan khususnya di kalangan pemerintahan.?

Konsep penelitian dan metodologi adalah penting dikembangkan di negara-negara Muslim agar tidak tersilaukan oleh kemajuan Barat yang seolah memilki peradaban dengan segala disiplin keilmuan dan ? merasa superior untuk menjadi standar bagi peradaban lain. Padahal Indonesia yang dibangun oleh dua peradaban sekaligus; Islam dan Barat ingin menjadi negara inspirator. Ini merupakan peluang promosi di dunia Internasional oleh Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi massa Islam arus utama (mainstream). Promosi bisa dimulai dari Pengurus Cabang Istimewa NU di Sudan atau di negara lain yang memiliki kesamaan kultural yaitu tasawuf untuk melakukan studi komparatif di bidang metodologi istinbath hukum antara lembaga nasional Sudan dengan lembaga nasional Indonesia.

Hal yang perlu ditawarkan adalah kontruk Islam Nusantara dengan penduduk Islam terbesar di dunia. Warna itu bisa dilihat pada kekayaan tradisi seperti tradisi halal bihalal, selametan, kupatan dan sebagainya kemudian diinteraksikan secara produktif. Produksi budaya ini merupakan akumulasi pengalaman para pendiri bangsa yang terwariskan. Pengalaman asketis yang diwariskan Walisongo, eskapis khas Gus Dur dengan “gitu aja kok repot”, rasionalisme induktif KH Sahal Mahfudh telah menjadi bahan bagi ? konstruk Islam Nusantara yang tidak sinkretik namun memiliki hubungan dialektik antara agama dengan budaya dan bukan penundukan-subordinatif.?

Akan sangat memprihatinkan jika ada negara dengan penduduk Muslim terbesar mudah terprovokasi untuk melakukan tindak kekerasan nama agama. Sudah semestinya institusi pendidikan maupun organisasi mampu membawa semangat rekonsiliasi antara berbagai pihak. Sehingga perlu bagi kaum muda bangsa Indonesia untuk belajar dari sejarah bangsanya sendiri sekaligus mendakwahkan ke negara lain. Perlu bagi NU dengan cabang-cabang istimewanya di luar negeri ingin menjalin interaksi ilmiah, mensosialisasikan karya dengan bahasa asing dan kerja sama di bidang sosial-keagamaan. Tujuan eksternal dari sosialisasi ini adalah menghilangkan citra buruk tentang Islam yang menguasai kesadaran kolektif masyarakat Barat. Sedangkan tujuan internalnya adalah membentuk intelektual muda NU yang memiliki karya intelektual dengan metodologi penelitian yang mapan dan kesadaran kolektif tentang moderasi Islam.?

Penelitian ini fokus pada studi komparatif antara metodologi istinbath hukum NU di Indonesia dengan Majma Fiqh Sudan sebagai langkah internasionalisasi moderasi Islam. Disamping berupaya menemukan titik-titik persamaan antara keduannya dalam upaya rekonsiliasi antara agama dan budaya, juga untuk memberi kontribusi dalam melestarikan peradaban Islam. Tantangan yang bisa dikatakan sama adalah tantangan de-NU-isasi di Indonesia dan ? tantangan radikalisasi di negara Sudan. Melalui pengurus cabang Istimewa di luar negeri, NU menjalankan peran deradikalisasi. Langkahnya adalah melakukan dialog dengan negara tempat pembekalan untuk ambil bagian dalam proyek internasionalisasi moderasi Islam. Pesantren yang menjadi pondasi ajaran NU ditemukan di Sudan dengan sebutan khalwah. Namun Gerakan Ayo Mondok belum ada di Sudan. Solusi yang ditawarkan adalah menghidupkan majlis talaqqi dan seminar internasional untuk menjalin interaksi produktif menuju kesepahaman.?

Adapun aspek yang dikembangkan adalah aspek manhaj atau metodologi dua negara yang memiliki pandangan dunia dan sistem pengetahuan yang dalam tahap hipotesis dikatakan sama. Penggunaan metodologi Islam dalam penelitian ini adalah karena konsistensi dan akurasinya berbeda dengan model Barat sebagaimana berikut :

1. Barat menyepakati adanya konstruk pemikiran namun tetap memunculkan perbedaan epistemologi di kalangan mereka. Perbedaan itu terjadi antara tawaran Hegel dengan tawaran Karl Marx. Keduanya sepakat akan kebutuhan terhadap konstruksi pemikiran namun kerangka metodologinya berbeda baik menyangkut “bagaimana”, “apa” dan “ke mana”.?

2. Kontruksi pemikiran dan metodologi Barat nampak sebagai fenomena baru. Kebaruan ini merefleksikan perjalanan sejarah Barat itu sendiri. Interaksi pemikiran dunia mereka selalu baru dan berkembang sampai tidak bisa dipilah mana yang secara prinsip ? “tetap” dan mana yang “berubah”.?

3. Konstruksi pemikiran dan metodologi Barat merupakan refleksi dari karakteristik masyarakat Barat yang sangat kompleks. Ini merupakan salah satu unsur problematik dalam metodologi Barat.?

Dari sini muncul pertanyaan mendasar mengapa harus menggunakan metodologi Islam, maka perlu dipertimbangan faktor-faktor berikut :

1. Umat Islam meyakini bahwa Islam memiliki pandangan komprehensif tentang kehidupan. Ini dalam sistem teologis merupakan bagian dari “al ma’lum min al din bi al dharurah”; artinya perkara yang tidak ada alasan bagi seorang Muslim untuk tidak mengetahuinya.?

2. Umat Islam memberikan kontribusi dalam persoalan metodologi. Ini sudah dibuktikan oleh sejarah kodifikasi ilmu di berbagai bidang.?

3. Keberlangsungan umat Islam dalam menjaga identitas ke-islam-an tidak berhenti di ? dunia teori melainkan dibuktikan dalam kehidupan nyata dengan kerangka metodologinya.?

* Aktivis PCINU Sudah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi News, Syariah, Sejarah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 16 November 2017

Kisah Ahli Sedekah Plus Birrul Walidain

Oleh Rojaya?

Hari ini, seorang ahli Birrul Walidain dan sedekah mengajakku ngobrol berdua. Subhanallah, ceritanya membuat air mataku berkali-kali mengalir tak terbendung. Sejak kecil ayahnya telah tiada. Ia sembilan bersaudara hidup bersama Ibunya. Kecintaannya kepada Ibunya luar biasa. Di kantornya terpampang foto ibunya.?

Ketika membeli mobil baru, Ia minta Ibunyalah yang harus naik dulu. Diajaknya jalan-jalan. Bila ada pertemuan dengan keluarga, ia fokus mengurus keperluan Ibunya.

Kisah Ahli Sedekah Plus Birrul Walidain (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Ahli Sedekah Plus Birrul Walidain (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Ahli Sedekah Plus Birrul Walidain

Saat ibunya ingin umrah, ia bukan hanya membiayainya, namun juga mengurus segalanya. Kepada isterinya ia memberi pemahaman agar ia bisa fokus mengurus Ibunya yang sudah lanjut usia. Kepada ayah dan ibu isterinya juga baktinya luar biasa, sehingga isterinya bisa menerima.?

Saat umrah ibunya menggunakan kursi roda. Ia mendorong-dorong kursi roda ibunya. Saat ibu makan dan mandi, ia yang melayaninya. Menggosok gigi Ibunya pun ia yang mengurusnya. Ibunya seperti raja baginya.

Beliau PNS dan pengusaha, tapi cintanya pada ibunya mengalahkan segalanya. Saat ibunya sakit berat dan di rumah sakit seharinya 7 juta, ia tidak ragu menanggung biayanya seorang diri. Walaupun saudaranya juga ada yang jadi anggota dewan dua orang dan semua saudaranya sudah berhasil dan mapan. Ini karena cinta. Cinta itu tidak itung-itungan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ibunya pun sangat mencintainya. Dari 9 bersaudara (6 perempuan, 3 lelaki), ia walaupun lelaki menjadi anak kesayangan ibunya. Saat diajak umrah lagi oleh anaknya yang lain, ibu ini hanya mau umrah bersamanya.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Bila bertemu ibunya, ia bukan hanya cium tangan, cium pipi kanan kiri, juga cium keningnya. Saat ibunya akan wafat, dari 9 bersaudara, nama yang disebutnya adalah namanya.

Semangat sedekahnya tidak diragukan. Jutaan bahkan puluhan juta diberikan untuk yatim dan dhuafa secara rutin. Bersedekah sudah menjadi lifestyle-nya. Baginya sedekah adalah happy.

Ia pernah menyediakan uang untuk beli seekor sapi (untuk dia dan keluarga) buat kurban. Temannya datang menangis mengadukan masalah. Ia berikan uang tersebut buat temannya. Saat waktu kurban, Allah memberinya rezki sehingga tetap dapat berkurban seekor sapi.

Saat SMP ia mimpi bertemu Rasulullah. Hari ini dia datang padaku digerakkan Allah untuk mengajariku tentang birrul walidain dan sedekah secara praktis-empiris, dengan contoh nyata.

Ia ahli sedekah. Walau orangnya kelihatan biasa saja, tapi rumahnya banyak. Karir dan bisnisnya maju. Anak-anaknya berbakti. Subhanallah. Inilah contoh orang yang berbakti pada orang tuanya dan ahli sedekah. Terima kasih guruku, semoga aku dapat meneladani baktimu pada orang tua dan sedekahmu yang tanpa itung-itungan dan penuh keyakinan.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Hikmah, News, Internasional Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 11 November 2017

Peduli Masa Depan Bangsa dengan Melihat NU sebagai Tanggung Jawab

Bandung, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Kebesaran Nahdlatul Ulama (NU) tidak boleh membuat terlena orang NU. Sebab jumlah besar itu bukanlah semata kebanggaan, melainkan juga mengandung unsur beban berupa amanat. Para pengurus, kaum muda dan siapa saja yang peduli dengan masa depan bangsa, mesti melihat NU sebagai bagian dari tanggung jawab kebangsaan.

Demikian pandangan Ki Agus Zaenal Mubarok, salah satu Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat saat diskusi tentang Keislaman dan Keindonesia di Kantor Nuindo Institute, Bandung, Jawa Barat, Jumat (13/11).

Peduli Masa Depan Bangsa dengan Melihat NU sebagai Tanggung Jawab (Sumber Gambar : Nu Online)
Peduli Masa Depan Bangsa dengan Melihat NU sebagai Tanggung Jawab (Sumber Gambar : Nu Online)

Peduli Masa Depan Bangsa dengan Melihat NU sebagai Tanggung Jawab

“Selama ini orang NU bangga dengan jumlah secara kuantitas. Itu tidak masalah. Tetapi akan menjadi masalah mendasar ketika ditanya, untuk apa kebanggaan hanya karena jumlah? Bukankah tujuan NU itu bukan semata memperbesar jumlah jamaah dan bahkan tidak sekedar memperbesar jamiyah? Bagaimana dengan harakahnya, gerakannya? Apakah sudah memberikan dampak positif yang besar?” ujar Ki Agus yang juga Pengajar Hubungan Internasional Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

NU sebagai pemegang saham negara dan bangsa menurut Ki Agus harus selalu mengoreksi, mengevaluasi dan sadar tentang apa yang harus dilakukan terkait dalam kontribusi nasional. Sebab menurutnya, mengurus NU itu artinya tidak sekadar mengurus organisasi dengan berhenti pada pengkaderan. Tidak pula sekadar aktif masuk kantor. Menjadi NU menurut Ki Agus sebenarnya harus selalu ingat apa yang hendak dikontribusikan peranannya kepada bangsa, terutama kepada warga yang lemah.

"Karena itu menurut saya, kita harus rajin mengevaluasi diri. Sebab kenyataan di lapangan yang saya temui di Jawa Barat ini, jangankan warga NU, para pengurus sendiri belum memiliki semangat ke-NU-an sesuai dengan garis jamiyah NU agar terus berkontribusi kepada bangsa-negara. Semangat Muktamar yang mengusung Islam-Nusantara misalnya, harus cepat-cepat dipahami dan dijadikan pilar gerakan," ujarnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ki Agus yang selama ini bahu-membahu menawarkan gerakan baru kepada generasi muda NU di sekitar Kota Bandung melihat kenyataan banyak anak-anak muda NU yang kurang upgrading. Menurutnya masih banyak warga NU yang belum sadar politik tetapi melompat bermain politik. Belum ada kesadaran tentang citizenship tapi berani berakrobat menjadi politisi. 

Karena kebutuhan itu, ia bersama teman-teman intelektual lintas organisasi mendirikan sebuah Nuindo Institute (The National-Upgrade of Indonesia), sebuah lembaga yang dimaksudkan untuk pemberdayaan melalui upgrading pemikiran dan pola gerakan model baru.

"Di balik Nuindo Institute ada semangat kuat membangun paradigma dan kultur baru yang modern, ilmiah, dan punya komitmen sosial tinggi untuk nasionalisme dan demokrasi," ujarnya.

Ki Agus menambahkan, saat ini gerakan pemikiran keislaman dan keindonesiaan juga harus dibangun secara kuat di kalangan muda NU. Sebab tanpa bangunan pemikiran yang kokoh dan meluas, tidak akan tumbuh kultur semangat bergerak dalam tataran sosial. Karena itu menurutnya, antara gerakan pemikiran dan gerakan amal praktis tak bisa dipisahkan. Semuanya dibutuhkan dan semuanya harus senafas dalam semangat Islam Nusantara.

"Lain daripada itu, urusan kemandirian ekonomi juga bagian yang sangat mendasar bagi para aktivis muda. Banyak para pejabat atau politisi yang gagal membawa kepentingan warga melalui negara dan hanya terjebak membawa kepentingan keluarga. Ini akibat karena kelemahan ekonomi. Nuindo Institute bermaksud mengambil peran dalam mengatasi problem itu melalui sekolah politik," ujarnya. (Yus Makmun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi News, Khutbah, AlaNu Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 08 November 2017

Bangladesh Bangun Kamp Pengungsi Terbesar di Dunia, PBB: Berbahaya!

Coxs Bazar, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Seorang pejabat tinggi PBB mengatakan, rencana Bangladesh untuk membangun kamp pengungsi terbesar di dunia bagi 800.000 lebih Muslim Rohingya berbahaya karena kepadatan penduduk yang berlebihan dapat meningkatkan risiko penyakit mematikan bisa menyebar dengan cepat.

Pengungsi dari Myanmar yang melewati perbatasan Bangladesh terus mengalir. Hingga sekarang jumlahnya mencapai lebih dari setengah juta orang. Eksodus ini dipicu oleh tindakan keras tentara di Negara Bagian Rakhine, Myanmar. Operasi militer bersenjata memaksa penduduk setempat lari menyelamatkan diri sejak 25 Agustus lalu.

Bangladesh Bangun Kamp Pengungsi Terbesar di Dunia, PBB: Berbahaya! (Sumber Gambar : Nu Online)
Bangladesh Bangun Kamp Pengungsi Terbesar di Dunia, PBB: Berbahaya! (Sumber Gambar : Nu Online)

Bangladesh Bangun Kamp Pengungsi Terbesar di Dunia, PBB: Berbahaya!

(Baca: Hutan Bangladesh Ditebangi untuk Kamp Pengungsian Rohingya)

Sebagaimana dilansir AFP, Sabtu (7/10), Pemerintah Bangladesh bersikeras akan memperluas sebuah kamp pengungsian di Kutupalong di dekat kota perbatasan Coxs Bazar guna menampung semua orang Rohingya datang.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Namun demikian Robert Watkins, koordinator residen PBB di Dhaka, mengatakan Bangladesh seharusnya mencari lokasi baru untuk membangun lebih banyak kamp.

"Ketika Anda memusatkan terlalu banyak orang ke daerah yang sangat kecil, terutama orang-orang yang sangat rentan terhadap penyakit, itu berbahaya," kata Watkins kepada AFP.

Menurutnya, dalam suasana padat orang demikian, kemungkinan kuat terjadinya persebaran penyakit menular sangat tinggi dan prosesnya pun bisa amat cepat. Baginya, jauh lebih mudah mengelola orang berikut kesehatan dan keamanannya bila kamp tidak terkonsentrasi dalam satu tempat. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi News Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 29 Oktober 2017

"Ngunduh Mantu", NU Sawit Raih Dana 80 Juta

Boyolali, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, dalam rangka pembangunan gedung SD NU Terpadu (Boarding School), yang berlokasi di Desa Gombang, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Sawit. Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah menyelenggarakan acara ngunduh mantu, Ahad (8/1).

Konsep ngunduh mantu? adalah acara budaya lokal dalam penggalangan dana organisasi sehingga membuat masyarakat dari luar NU juga tertarik mengikutinya.

Ngunduh Mantu, NU Sawit Raih Dana 80 Juta (Sumber Gambar : Nu Online)
Ngunduh Mantu, NU Sawit Raih Dana 80 Juta (Sumber Gambar : Nu Online)

"Ngunduh Mantu", NU Sawit Raih Dana 80 Juta

Meski demikian, di Boyolali sendiri, konsep ngunduh mantu ini bukanlah yang pertama kali diselenggarakan. Acara serupa, juga pernah dilakukan pengurus MWCNU Musuk, saat membangun gedung NU setempat, beberapa tahun yang lalu.

Layaknya acara ngunduh mantu yang sesungguhnya, acara ngunduh mantu di NU Sawit pun dilaksanakan dari pagi hingga malam. Para tamu yang datang, silih berganti, mengalir seperti air, mulai pagi hingga malam. Layaknya acara ngunduh mantu mereka memasukkan amplop sumbangan ke dalam kotak yang telah disediakan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sebelumnya, panitia telah membagikan ulem (undangan) kepada calon tamu, yang di dalamnya telah tertera infaq minimal Rp. 50.000,- beserta jam undangan. Para tamu yang hadir, juga disuguhi penampilan 3 tim hadrah dan juga mendengarkan pengajian yang digilir selama 3 sesi.

“Pengajian dilaksanakan dalam 3 sesi, yaitu pagi pada pukul 09.00 - 12.00, siang pada pukul 13.00 - 15.00 dan malam pada pukul 19.30 sd 21.30. Pembicaranya pun ada 3, yakni Kiai Budi Santoso, Kiai Sujarwadi dan Rais Syuriah MWCNU Sawit, KH Joko Parwoto,” papar salah satu panitia yang juga Ketua PAC GP Ansor Sawit, Munshorif.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Di akhir acara, setelah dihitung dana yang masuk ke kotak, terkumpul kurang lebih Rp. 80 juta.

Ketua panitia, Inpurwanta, berharap meski perolehan dana sedekah jariah cukup besar, tapi masih jauh dari kebutuhan untuk pembangunan, yakni Rp. 120 juta.

”Hingga saat ini pembangunannya baru dapat 45% dan masih membutuhkan bantuan dana yang besar,” terang Inpur, yang juga Sekretaris MWCNU Kecamatan Sawit itu. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi News, Ubudiyah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 27 Oktober 2017

Ini Strategi Melawan Radikalisme

Yogyakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Upaya pencegahan faham radikalisme harus sejak dini ditanamkan kepada anak-anak, para pemuda dan keluarga. Pertama-tama kenali dulu seperti apa kelompok radikal itu beroperasi.

Ini Strategi Melawan Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Strategi Melawan Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Strategi Melawan Radikalisme

“Organisasi mereka itu rapi dan punya jaringan yang kuat. Karena itu harus dilawan dengan jaringan yang rapi juga,” kata Wakil Sekretaris PWNU DIY Joko Santosa dalam acara pelatihan remaja masjid dan karang taruna menanggulangi gerakan terorisme Jum’at (18/04).

Joko Santosa yang juga ketua panitia kegiatan membeberkan strategi untuk melawan faham radikalisme.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Strategi pertama adalah memperkuat semangat kebangsaan dan Pancasila.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kedua, memoderasi pemahaman keagamaan dengan toleran terhadap sesama.

Ketiga, memperkaya wawasan dengan kearifan lokal.

Keempat, mewaspadai gerak-gerik mereka yang dipandu dengan database individu, kelompok dan jaringan radikalisme yang akurat.

“Kalau yang terakhir ini, tugas Badan Nasional Penanggulangan Terorisme,” tandasnya.

Pelatihan remaja masjid mengulangi gerakan terorisme tersebut dilaksanakan di Wislam Bapenndan Jejeran Bantul DIY. Acara tersebut diikuti oleh 150 remaja masjid dan karang taruna yang memiliki background organisasi seperti Ansor, Banser, IPNU dan IPPNU.

Kegiatan tersebut akan diselenggarakan selama tiga hari berturut-turut, Kamis-Sabtu (17-19/4). (Nur Rokhim/Anam)

? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi News Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 26 September 2017

PBNU: Pengelolaan Keuangan Haji Harus Penuhi Tiga Prinsip

Yogyakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Ada tiga prinsip dasar yang harus diperhatikan dalam mengelola dana haji. Ketiga prinsip itu adalah: prinsip akad, prinsip tashorruf, dan prinsip masuliyyah (tanggung jawab). 

Ketiga prinsip tersebut adalah merupakan fondasi bagi tercapainya pengelolaan dana haji yang baik dan terpercaya. Hal itu disampaikan langsung oleh Sekjen PBNU HA Helmy Faishal Zaini pada acara Silaturami Tokoh Keuangan Syariah dan Badan Pengelola Keuangan Haji, Selasa (7/10) di Yogyakarta.

PBNU: Pengelolaan Keuangan Haji Harus Penuhi Tiga Prinsip (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Pengelolaan Keuangan Haji Harus Penuhi Tiga Prinsip (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Pengelolaan Keuangan Haji Harus Penuhi Tiga Prinsip

Di hadapan sejumlah tokoh keuangan syariah dan pengelola keungan haji, Helmy menyatakan bahwa ketiga prinsip tersebut merupakan tulang punggung tercapainya kualitas pengelolaan dana haji yang modern dan terbuka.

"Selain akad harus jelas dan juga harus akuntabel, pengelolaan dana haji juga penting memperhatikan prinsip tashorruf. Jika mau diinvestasikan atau dikembangkan maka harus tepat sasaran, seperti misalnya untuk meningkatkan kualitas ekonomi kelas menengah ke bawah guna memangkas kesenjangan ekonomi," ungkap Helmy.

Menurut pengamatannya, banyak lembaga keuangan mikro yang layak dikembangkan dan didukung. Ia mencontohkan BMT (Baitul Mal wa Tamwil) yang terus bergeliat dan berkembang di lingkungan pesantren dan juga NU.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Lembaga-lembaga seperti BMT ini sangat penting dan strategis untuk dijadikan model pengembangan ekonomi umat. Maka BPKH harus mengalokasikan skema pen-tashorruf-an kepada lembaga-lembaga ekonomi mikro seperti BMT ini," imbuh Helmy.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Hadir dalam acara tersebut antara lain Anggito Abimanyu, Muliaman Haddad, Mahfud MD, Anwar Abbas, dan anggota dewan Pengawas BPKH Marsudi Syuduh. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi News Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 12 September 2017

Bagaimana Agar NU Menjadi Lebih Baik?

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Pengurus dan warga NU harus mempunya impian besar. Dengan impian yang besar, masalah-masalah yang yang dihadapi akan terlihat kecil. Sebaliknya, jika memiliki impian kecil, masalah kecil pun akan terlihat besar. ?

Menurut KH Ahmad Bagja, bila menginginkan NU menjadi besar, jangan memikirkan sisi kurang baik dari NU. Namun pikirkan kebaikan yang ada pada NU.

Bagaimana Agar NU Menjadi Lebih Baik? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Agar NU Menjadi Lebih Baik? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana Agar NU Menjadi Lebih Baik?

“Harus kita syukuri juga kita menjadi orang NU. Kita harus memikirkan bagaimana menjadi orang NU yang baik dan berupaya menjadikan NU lebih baik lagi,” kata Sekretaris Jenderal PBNU zaman KH Abdurrahman Wahid ini pada sesi dialog antara PBNU dengan seluruh banom dan lembaga NU di Gedung PBNU Jakarta Pusat, Sabtu (18/6) malam.

Ia lalu mendorong hadirin terutama generasi muda untuk menjadikan IPNU, IPPNU, PMII, GP Ansor menjadi proses untuk mendidik dirinya. Demikian juga dengan menjadi anggota dan pengurus NU dijadikan proses mendidik diri masing-masing.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Maka kaderisasi itu adalah seluruh proses kita dalam berorganisasi di mana pun kita berada. Toalitas kita di situ itulah kaderisasi yang sebenarnya. Itu diwujudkan ketika misalnya menjadi panitia kita menjadi yang terbaik, mencapai yang terbaik,” terang ketua Umum PB PMII Periode 1977-1981.

Ia yakin kebaikan-kebaikan semacam itu memudahkan hidup. Energi kebaikan menjadi modal besar dan sekaligus sebagai kekuatan. “Kalau kita berpikir kita ini biasa saja, seribu kali kita mendengar nasihat atau dorongan orang untuk maju, kita akan biasa-biasa saja. Yang membuat kita luar biasa adalah diri kita sendiri,” tutur Kiai Bagja.

Salah satu modal terjadinya perubahan terbesar, menurut dia, disebabkan pola pikir. Dalam keinginan menjadikan NU lebih maju, bangunlah pola pikir untuk menjadikan NU yang baik. ?

“Setiap bangun tidur, langsung pikirkan bahwa NU akan menjadi baik dengan usaha-usaha kita. Bukan malah membiarkan diri kita dibayang-bayangi pemikiran NU tidak baik,” katanya seraya mengungkapkan bahwa kemajuan dan bertahannya NU bukanlah hal yang disukai banyak orang.

Yang diinginkan? NU, sambungnya, tetapi tidak diinginkan oleh musuh-musuh NU adalah bersatu dan kuatnya NU. “Oleh karenanya kitalah yang harus bersatu membangun NU,” tegasnya. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi News, Fragmen, Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren An-Nur Slawi