Saat pengambilan gambar, tidak kurang membutuhkan waktu satu bulan. “Para kru produksi film semuanya menginap di lingkungan pondok sini atau di rumah-rumah warga,” kata Afthom Baidhowi.
Pria yang menjadi guru ini menceritakan bahwa warga Kapurejo sangat antusias saat mendukung proses shooting. Masyarakat dilibatkan sebagai peran figuran, terutama yang menceritakan kisah aktivitas masyarakat. “Tidak cuma melihat, masyarakat juga dijadikan semacam artis dadakan dalam film itu,” kata pria yang masih termasuk keluarga pengasuh Pondok Kapurejo itu.
Hampir semua adegan dalam film Sang Kiai diambil lokasinya di Kapurejo. “Mulai masjid, rumah pengasuh, kamar santri, dapur, kandang sapi sampai tempat penjemuran padi di sana,” katanya sambil menunjuk ke arah barat.
| Berkunjung ke Lokasi Shooting Film Sang Kiai (Sumber Gambar : Nu Online) |
Berkunjung ke Lokasi Shooting Film Sang Kiai
Guru Fiqih ini mengaku bangga karena film yang terkenal itu lokasi pengambilan gambarnya di Kapurejo. “Orang-orang sekarang banyak mengenal Kapurejo lewat film itu,” ujarnya.Sebagai rasa bangga itu, sekarang film yang disutradarai Rako Prijanto itu diputar di desa-desa sekitar. “Lewat film layar tancap mas, nonton bareng-bareng,” ujarnya dengan bangga.
Pondok Pesantren An-Nur Slawi
Hal senada juga disampaikan Mujiono. Guru MA Hasan Muchyi Kapurejo ini dengan semangat menuturkan bahwa pengambilan gambar film Sang Kiai merupakan sejarah tersendiri bagi desanya.Film yang disutradaai Gope T. Samtani itu, menurutnya, membuat ramai di semua penjuru desa Kapurejo selama sebulan lebih. “Tidak hanya siang, shooting kadang juga dilakukan sore dan malam hari,” ujarnya.
Pria berkumis ini menceritakan warga desa Kapurejo senang karena bisa melihat langsung artis terkenal yang terlibat. Mulai Ikranagara, Christine Hakim dan Agus Kuncoro. Termasuk artis muda pendatang baru seperti Dimas Aditya, Royhan Hidayat, Adipati Dolken, Meriza Febriani Batubara, Ernestan Samudra dan Dayat Simbaia.
Mujiono dengan gamblang menceritakan bahwa banyak properti yang didatangkan dari luar desa. Mulai meubel, pedati, truk sampai kostum pemain. “Saya juga heran, dari mana saja para kru kok bisa mendatangkan barang-barang antic dan kuno seperti itu,” ujarnya. Di sekitar Kapurejo, lanjutnya, barang-barang itu seolah sudah tidak bisa dijumpai lagi.
Lain lagi yang dikisahkan Aminatus Solikah. Santriwati yang baru dua tahun tinggal di Pondok Kapurejo ini mengaku senang karena pondoknya dijadikan lokasi shooting. “Meski selama hamper sebulan tempat mengajinya dipindah ke rumah-rumah penduduk,” akunya.
Pondok Pesantren An-Nur Slawi
Santriwati yang berasal dari Kepung ini setia mengikuti proses shooting yang dilakukan. Bersama teman-temannya, dia juga memperoleh beberapa fotonya dengan beberapa bintang film itu. “Meski harus berdesak-desakan dulu dengan para penonton yang lain,” ujarnya.Mukani, warga NU, tinggal di Cukir Jombang. Artikel ditulis setelah melakukan kunjungan ke lokasi selama tiga hari, 4-6 Pebruari 2014.
Dari Nu Online: nu.or.id
Pondok Pesantren An-Nur Slawi Internasional, Daerah, Halaqoh Pondok Pesantren An-Nur Slawi