Tampilkan postingan dengan label Tegal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tegal. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Februari 2018

Jelang Pileg, Warga NU Diimbau Jaga Kerukunan

Rembang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Menjelang pemilihan legislatif 2014, warga NU diimbau untuk tetap menjaga kerukunan. Hal tersebut disampaikan Wakil Bupati Rembang H Abdul Hafidz dalam peringatan haul Syaikh Rozzak Saifullah dan Syaikh Absdul Rahman bin Ali Imron di Desa Mojorembun, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Jumat (14/2) sore.

Menurut dia, jelang Pileg, pertikaian antarwarga rentan terjadi karena berbeda pilihan politik. Abdul Hafidz juga mengajak, masyarakat tetap menentukan pilihan meski tidak menerima uang saku saat hendak mencoblos.

Jelang Pileg, Warga NU Diimbau Jaga Kerukunan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Pileg, Warga NU Diimbau Jaga Kerukunan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Pileg, Warga NU Diimbau Jaga Kerukunan

Hafidz juga mengajak masyarakat untuk menghindari politik uang, untuk menentukan pemimpin agar lebih netral. Jika tidak bisa, Hafidz menganjurkan mereka bisa saja merima uang tetapi pilihan tetap sesuai hati nurani. Pasalnya, memberikan amanah kepada pemimpin yang tidak amanah, kata pengurus Nahdlatul Ulama itu, merupakan perbuatan dosa.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Alangkah lebih mulianya masyarakat jika tidak mau menerima money politic, yang sering menggoyangkan pilihan di saat pemilihan legeslatif,” kata Hafidz.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Di sela pengajian yang dihadiri ribuan warga Mojorembun dan sekitarnya itu, wakil bupati rembang juga mengaku prihatin atas rusaknya jalan sepanjang Kaliori hingga menuju arah Kecamatan Sumber, Rembang.

Hafidz ikut merasakan kerusakan jalan yang sudah terjadi sejak tahun 2013 lalu itu, hingga kini belum ada penanganan lagi. Tetapi, hafidz dihadapan para hadirin berjanji akan membangun jalan yang rusak, akhir bulan Juli, jalan yang rusak di Kaliori sudah terselesaikan. Pihaknya telah menyiapkan anggaran tujuh miliar untuk mengatasi hal ini. (Ahmad Asmu’i/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi PonPes, Berita, Tegal Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 24 Januari 2018

Mendes PDTT Eko Terjun Langsung Pantau Kebakaran di Kantornya

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Eko Putro Sandjojo, memantau langsung lokasi kebakaran yang terjadi di lantai tiga Gedung Transmigrasi, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) Senin (28/8) pagi. Menteri Eko menerbangkan drone atau pesawat kamera tanpa awak dan masuk langsung ke lokasi.

Mendes PDTT Eko Terjun Langsung Pantau Kebakaran di Kantornya (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendes PDTT Eko Terjun Langsung Pantau Kebakaran di Kantornya (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendes PDTT Eko Terjun Langsung Pantau Kebakaran di Kantornya

Menteri Eko mulai menerbangkan drone sekitar pukul 10 saat asap mulai berkurang. Drone tersebut diterbangkan tepat di depan jendela ruangan yang terbakar, yakni di lantai tiga. Setelahnya, ia juga memantau kondisi lantai empat Gedung Transmigrasi yang terkena dampak kebakaran.

Setelah menerbangkan drone, Menteri Eko juga langsung mendatangi lokasi kebakaran. Dipandu sejumlah petugas pemadam kebakaran Suku Dinas Jakarta Selatan, Menteri Eko masuk ke dalam ruangan menggunakan alat pengaman pernafasan atau breathing apparatus. Sekitar 30 menit dirinya mengecek lokasi tersebut.

"Yang saya lihat tidak ada berkas yang terbakar. Penanganannya tadi cepat. Saya tidak ingin mengambil kesimpulan apa penyebab utamanya," ungkapnya saat dirinya kembali turun. 

Menteri Eko akan mengevaluasi perawatan gedung perkantorannya. Dirinya pun meminta pihak kepolisian untuk segera mengusut peristiwa yang terjadi di kantornya. Selain itu, Menteri Eko juga mengapresiasi kecepatan petugas Damkar yang mengendalikan keadaan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Saya berterima kasih kepada petugas Damkar yang dengan cepat melokalisir kebakaran sehingga api tidak cepat merembet ke ruangan dan gedung lainnya. Saya juga minta polisi segera turun untuk mengusut peristiwa ini," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Biro Humas dan Kerjasama, Fajar Tri Suprapto, menjelaskan, asap mulai mengepul sejak pukul 9 pagi tadi. Dengan sigap, petugas keamanan kementerian langsung mengevakuasi karyawan ke tempat yang lebih aman.

"Awal mula berasal dari lantai tiga, kemudian naik ke lantai empat. Berawal dari panel listrik dan AC," ujar Fajar.

Lokasi yang terbakar, lanjut Fajar, adalah Gedung A, salah satu ruangan di Direktorat Jenderal Penyiapan Kawasan dan Pembangunan Permukiman Transmigrasi (Ditjen PKP2Trans). Untuk sementara kegiatan di Ditjen PKP2Trans dialihkan ke ruangan lain. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Saat ini lokasi sudah kembali kondusif. Karyawan lain sudah kembali bekerja. Pembersihan masih terus dilakukan untuk memastikan lokasi yang terbakar dalam kondisi aman sepenuhnya," sambungnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pendidikan, Tegal, Pesantren Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 13 Januari 2018

Konsep Ramah Lingkungan di Tanaman Polybag

Bantul, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Lahan terbatas sama sekali bukan alasan untuk berani berkreasi atau berkarya. Tampak dalam foto, Pengasuh Pondok Pesantren Alimdad, KH M Habib A Syakur, sedang berusaha meluruskan batang tanaman lombok dan terong di media tanam polybag di terik sinar matahari.

Konsep Ramah Lingkungan di Tanaman Polybag (Sumber Gambar : Nu Online)
Konsep Ramah Lingkungan di Tanaman Polybag (Sumber Gambar : Nu Online)

Konsep Ramah Lingkungan di Tanaman Polybag

Beberapa puluh polybag berisi tanaman lombok dan terong memang sengaja ditata sedemikian rupa oleh Habib di pekarangan kediamannya, yang masih masuk dalam kawasan komplek Pondok Pesantren Al-Imdad Bantul. Dalam keterangannya, Habib menyebutkan bahwa ia telah menyiapkan sekira 500 polybag untuk kedua jenis tanaman tersebut.

"Sejatinya, saya juga ingin mempersiapkan beberapa ratus polybag lagi untuk berbagai jenis tanaman lain, seperti tomat, timun, dan kacang panjang. Tapi, saya kira hal ini akan saya lakukan secara berjenjang dahulu," ujar Habib.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Media tanam polybag yang dirawat oleh Habib ini terdiri dari campuran tanah dengan pupuk kandang dan kompos yang keduanya merupakan hasil dari pengolahan limbah di Pondok Limbah yang dimiliki PP Al-Imdad Bantul. Hal ini adalah ejawantah dari visi pesantren Al-Imdad sendiri, yaitu SANTRI SALIH--Santun, Agamis, Nasionalis, Terampil, Ramah, Inovatif dan SAdar LIngkungan Hidup.

"Saya gak punya pengetahuan apa-apa tentang tanaman polybag ini, tapi saya beranikan diri untuk mencobanya, sebab berdasarkan teori dan pengalaman sebagian orang, hal semacam ini mungkin saja dilakukan," jawab Habib saat ditanya perihal pengalamannya menekuni tanaman polybag ini.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Habib lantas memungkasi, "Kalau usaha saya berhasil, ini akan meringankan anggaran belanja untuk makan santri dan kalaupun gagal, saya kira tak jadi masalah. Sebab, dalam prosesnya saja, saya sudah terhibur dengan merawatnya."(Yusuf Anas/Anam) Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Tegal, Pahlawan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 07 Januari 2018

Guru Maarif NU Lampung Tengah Diminta Jaga Profesionalitas dan Tradisi Ke-NUan

Lampung Tengah, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Sesuai amanat Muktamar Ke-33 NU di Jombang, Lembaga Pendidikan Maarif NU dituntut untuk terus berbenah. Dengan memerhatikan materi keaswajaan, LP Ma’arif NU diharapkan dapat membentuk cara hidup beragama pelajar sesuai nilai-nilai ke-NUan.

Demikian disampaikan Wakil Ketua LP Maarif NU Lampung Tengah Muhyidin Thohir di hadapan ratusan dewan guru dan staf tatausaha dalam agenda rapat koordinasi dan pembinaan awal tahun pelajaran 2016/2017 di Majelis Wakil Cabang (MWC) LP Maarif NU Kotagajah, Lampung Tengah, di lantai dua Aula MA Maarif 9 Kotagajah, Sabtu (16/7).

Guru Maarif  NU Lampung Tengah Diminta Jaga Profesionalitas dan Tradisi Ke-NUan (Sumber Gambar : Nu Online)
Guru Maarif NU Lampung Tengah Diminta Jaga Profesionalitas dan Tradisi Ke-NUan (Sumber Gambar : Nu Online)

Guru Maarif NU Lampung Tengah Diminta Jaga Profesionalitas dan Tradisi Ke-NUan

"Oleh karena itu saya berharap atas nama LP Maarif NU Lampung Tengah, guru-guru yang ada di tiga unit lembaga pendidikan ini harus bersikap profesional. Yang tak kalah pentingnya adalah tetap menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyyah," tambah Muhyiddin yang kini diamanahi sebagai instruktur kaderisasi nasional PP GP Ansor.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pria yang pernah memimpin GP Ansor Lampung Tengah ini berharap MWC LP Maarif NU Kotagajah menjadi barometer dan Maarif percontohan dari 28 kecamatan se-Lampung Tengah. Ia juga menaruh harapan kepada LP Maarif NU Lampung Tengah menjadi LP Maarif percontohan dari 15 Kabupaten/Kota LP Maarif NU yang ada di Provinsi Lampung.

Saat ini sekolah dan madrasah yang berada di bawah binaan LP Maarif NU Lampung Tengah tersebar di dua puluh delapan kecamatan. Lembaga pendidikannya terdiri atas 31 TK Maarif, 29 RA Maarif, 27 MTs Maarif, 11 SMP Maarif, 5 SMA Maarif, 17 MA Maarif, dan 5 SMK Maarif.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rapat kordinasi dan pembinaan MWC LP Maarif NU Kotagajah ini dihadiri beberapa tokoh NU Lamteng. Mereka adalah Wakil Ketua PCNU Lampung Tengah H Ali Mustofa, Dosen IAIM NU Metro Lampung Usman Gatri, Ketua MWC LP Maarif NU Kotagajah KH M Baedlowi, Ketua PAC Muslimat NU Kotagajah Sunarti, Ketua GP Ansor Kotagajah Ahmad Syamsul Hidayat, Ketua Fatayat NU Kotagajah Siti Maysaroh.

Saat ini MWC LP Maarif NU Kotagajah Lampung Tengah telah memiliki tiga unit pendidikan formal. Pertama, MTs Maarif 02 Kotagajah dengan 48 dewan guru dan Kepala Sekolah H Subroto. Kedua, MA Maarif 9 Kotagajah dengan 51 dewan guru dan Kepala Sekolah Laila Rahmawati. Ketiga, SMK Maarif 5 Kotagajah dengan dan Kepala Sekolah H Moch Sofyan. (Akhmad Syarief Kurniawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kajian, Tegal Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 06 Januari 2018

Ribuan Warga Cirebon Peringati Malam Nuzulul Quran

Cirebon, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Ribuan warga Cirebon dan sekitarnya mengikuti tabligh akbar dalam rangka memperingati malam Nuzulul Qur’an di Masjid Raya At-Taqwa Kotamadya Cirebon, Kamis (25/7) malam.

Ribuan Warga Cirebon Peringati Malam Nuzulul Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Warga Cirebon Peringati Malam Nuzulul Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Warga Cirebon Peringati Malam Nuzulul Quran

Acara yang semula direncanakan akan menghadirkan taushiyah dari KH Habib Luthfi Bin Yahya, Pimpinan Jam’iyyah Tarekat NU ini terselenggara berkat kerjasama Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) At-Taqwa Kota Cirebon dan PT. Berkah Pikiran Rakyat.

Ahmad Yani, ketua umum At-Taqwa Center dalam sambutannya mengungkapkan bahwa selain untuk mendapatkan berkah dan keutamaan dari Allah Swt, acara ini juga merupakan respon DKM At-Taqwa atas antusiasme masyarakat dalam acara serupa yang digelar tahun lalu saat ? menghadirkan KH Said Aqil Siroj, Ketua Umum PBNU sebagai penceramah.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Untuk itu kami bersama masyarakat ingin sekali ? untuk kembali memanfaatkan malam yang baik ini guna mengaji dan mendapatkan pencerahan dari para ulama,” Ungkap Ahmad Yani.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selain itu, Nazrudin Azis, wakil walikota Cirebon yang berkesempatan hadir mengatakan dalam sambutannya bahwa kedekatan warga masyarakat Cirebon dengan para ulama harus tetap dipertahankan berdasarkan sebutannya yang terkenal sebagai kota wali. ?

“Peringatan seperti ini menjadi penting guna mendapatkan berkah bulan Ramadan, serta melestarikan kedekatan Cirebon sebagai kota wali dengan para alim ulama,” Tambah Azis.

Peringatan malam Nuzulul Qur’an ini pertama-tama dimulai dengan sambutan-sambutan, pembacaan shalawat, Maulid, serta mahallul qiyam, kemudian dilanjutkan dengan penyampaian ceramah agama.

Pada mulanya acara yang juga memperingati hari ulang tahun yang ke 16 Harian Kabar Cirebon dari Grup Pikiran Rakyat ini akan diisi dengan penyampaian ceramah oleh KH Habib Luthfi Bin Yahya, namun panitia menerima konfirmasi bahwa Habib Luthfi berhalangan hadir dikarenakan terjebak macet di jalur alternatif Tol Pejagan, Tegal saat menuju ke arah Cirebon, namun hal tersebut tampaknya tidak menyurutkan antusias jamaah saat penyampaian taushiyah digantikan oleh KH Luthfi Fuad Hasyim, salah satu pengasuh Pesantren Buntet, Cirebon.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Sobih Adnan

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Tegal, Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 29 Desember 2017

Soal Rohingya, MUI Keluarkan Tujuh Maklumat

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi



Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis menilai, apa yang terjadi di Rohingya adalah tragedi kemanusiaan.?

Soal Rohingya, MUI Keluarkan Tujuh Maklumat (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Rohingya, MUI Keluarkan Tujuh Maklumat (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Rohingya, MUI Keluarkan Tujuh Maklumat

Maka dari itu, Ketua Komisi Dakwah MUI tersebut mengeluarkan tujuh tuntutan. Pertama, kembalikan keamanan di daerah Rakhine dan menghormati hak-hak masyarakat terutama penduduk yang beragama Islam.

"Kedua, hentikan segala bentuk tindak kekerasan yang dilakukan oleh pemerintah dan militer Myanmar terhadap penduduk dan umat Islam di Rakhine dan di daerah lainnya di Myanmar," kata Kiai Cholil kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi melalui pesan tertulis, Ahad (3/9).

Ketiga, lindungi seluruh penduduk yang ada di Myanmar dan hak-haknya, baik yang Muslim maupun non-Muslim.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Keempat, berikan akses kepada lembaga kemanusiaan internasional dan dari Indonesia untuk masuk ke wilayah Rakhine guna memberikan bantuan dan pertolongan kepada masyarakat yang telah menjadi korban kekerasan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"(Kelima) Hendaklah PBB melakukan tindakan tegas terhadap aksi brutal dan pelanggaran HAM berat terhadap etnis Rohngya," tegasnya.

Keenam, ASEAN harus melakukan terobosan untuk menyelesaikan krisis di Myanmar. Sehingga perbuatan genosida yang terjadi di sana bisa dihentikan.

"Terakhir, Indonesia segera mengambil tindakan tegas untuk perwakilan Myanmar yang berada di Indonesia (Bubes Myanmar untuk Indonesia) jika (Pemerintah Myanmar) tetap melakukan tindakan kekerasan dan pengusiran terhadap etnis Rohingya," tutupnya. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pesantren, Tegal Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 27 Desember 2017

Kisah Wallaili Wannahar Ditulis dalam Hitungan Hari

Yogyakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Novel Layla karya Candra Malik dibedah di Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum Yogyakarta, Ahad (7/5). Selain penulis, hadir sebagai pembicara Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia – New Zealand, Nadirsyah Hosen dan Rektor UNU Yogyakarta, Purwo Santoso.

Candra Malik mengaku menyelesaikan naskah novel ini hanya dalam waktu empat hari dan berbekal hp android. Lebih lanjut ia menjelaskan lahirnya novel ini merupakan ikhtiar untuk mengajak kalangan pesantren untuk menulis sastra. “Saat ini dunia pesantren mulai krisis sastrawan,” kata Wakil Ketua Lesbumi PBNU ini.

Kisah Wallaili Wannahar Ditulis dalam Hitungan Hari (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Wallaili Wannahar Ditulis dalam Hitungan Hari (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Wallaili Wannahar Ditulis dalam Hitungan Hari

Novel Layla menceritakan kisah hidup Wallaili Wannahar yang berubah ketika diterima sebagai murid oleh Abah Suradira, seorang mursyid yang mengajarkannya ilmu tasawuf. Di tengah-tengah proses belajarnya, Lail menghadapi dilema. Lail  jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Layla.“Seseorang akan diuji pada titik kekuatannya paling tinggi. Titik kekuatan Lail adalah cinta. Disini Allah menguji Lail dalam bentuk perempuan bernama Layla. Kemudian Lail pun menjadi limbung.“ papar Gus Nadir.

Novel ini menawarkan kisah cinta yang tidak biasa. “Ketika membaca novel tersebut, seperti silih berganti membaca antara sajak dan puisi, ada kenikmatan tersendiri yang saya rasakan. Gus candra, berani keluar dari zona nyaman. Ngajinya beliau dalam hal sufisme dikomunikasikan keluar dalam bentuk sastra. Sastra itu mengasah budi, Tasawuf juga mengasah budi,” kata Purwo menyampaikan salah satu keunggulan novel Layla.

Bedah buku yang berlangsung cukup lama ini diikuti oleh sekitar 500 peserta dari berbagai kalangan pesantren, pemerhati budaya dan masyarakat umum. Bedah buku ini berlangsung cukup meriah diselingi dengan guyonan sehingga diskusi berlangsung dengan menarik. Acara yang diprakarsai oleh PP. Ali Maksum Krapyak bekerjasama dengan penerbit Bentang ini juga membagikan beberapa buku secara gratis. (Zulfa/Zunus)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Tegal, Pendidikan, Kajian Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 22 Desember 2017

PMII Keluarkan Petisi Politik Untuk Caleg Terpilih

Purworejo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Ratusan kader dari region PMII Danyang Sumbing yang meliputi cabang Purworejo, Wonosobo, Temanggung, dan Magelang menggelar aksi damai di depan kantor DPRD Purworejo, Kamis (17/4) malam. Mereka mengajukan empat poin petisi yang ditujukan untuk para caleg terpilih dalam pileg beberapa pekan lalu.

Koordinator aksi Muhammad Arifin mengatakan, aksi damai di depan gedung DPRD ini dilandasi atas keprihatinan mahasiswa terhadap maraknya politik uang yang terjadi pada pileg beberapa waktu lalu.

PMII Keluarkan Petisi Politik Untuk Caleg Terpilih (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Keluarkan Petisi Politik Untuk Caleg Terpilih (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Keluarkan Petisi Politik Untuk Caleg Terpilih

“Hampir seluruh caleg kemarin menggunakan uang untuk membeli suara agar menang,” kata Arifin yang memandu ratusan kader PMII berkumpul di trotoar jalan protokol depan gedung DPRD.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Keadaan itu, menurutnya, sangat memprihatinkan. Karena, politik transaksional rawan membuka keran kejahatan korupsi. Jika keadaan ini dibiarkan tanpa pengawalan aktifis mahasiswa, kami khawatir rakyat akan semakin sengsara.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Empat poin petisi berisi tuntutan DPRD untuk bekerja maksimal bagi masyarakat, tuntutan agar produk-produk DPRD harus prorakyat, menentang segala bentuk kejahatan korupsi, kolusi, dan nepotisme, dan komitmen PMII untuk mengawal anggota dewan lima tahun ke depan,  terus Arifin.

Petisi yang telah ditandatangani empat ketua pimpinan cabang PMII itu akan diserahkan kepada anggota dewan periode 2014-2019 usai mereka dilantik.

Tepat di depan plang DPRD, mereka membentuk barisan melingkar di mana di tengah barisan dinyalakan 54 buah lilin dan tumpeng sebagai penanda 54 tahun PMII.

Sementara itu, Ketua PC PMII Wonosobo Saman dalam orasinya mengatakan, komitmen PMII untuk mengawal birokrasi tersebut merupakan roh perjuangan dan komitmen pergerakan sebagai wujud kesetiaan terhadap rakyat.

“Refleksi 54 perjalanan PMII yang harus selalu dibenamkan dalam benak kader pergerakan adalah semangat menemani rakyat tertindas karena kesewenang-wenangan para penguasa. Semangat itu yang harus senantiasa membara dalam benak kita,” tandas Saman.

Aksi damai ini ditutup dengan doa untuk anggota dewan yang baru terpilih. (Lukman Hakim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Tegal Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 21 Desember 2017

Pengajuan Beasiswa PBNU ke Timur Tengah Dibuka Lagi

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Dalam rangka menyongsong tahun ajaran baru untuk 2008/1428 H, beberapa negara Timur Tangah kembali menawarkan beasiswa melalui Biro Urusan Kerjasama Beasiswa PBNU untuk Timur Tengah.

Ulil Absar dari Biro Kerjasama Beasiswa menjelaskan untuk sementara terdapat tiga negara yang siap memberikan beasiswa kepada nahdliyyin yang mencakup Marokko, Libya dan Lebanon.

Pengajuan Beasiswa PBNU ke Timur Tengah Dibuka Lagi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengajuan Beasiswa PBNU ke Timur Tengah Dibuka Lagi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengajuan Beasiswa PBNU ke Timur Tengah Dibuka Lagi

Dijelaskannya Pemerintah Marokko memberikan jatah 10 kursi kepada warga NU untuk segala jurusan sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. “Program ini tidak dibatasi jenjangnya, bisa ngambil beasiswa untuk tingkat sarjana sampai dengan tingkat doktor,” tuturnya, Selasa.

Bagi yang berminat, Ulil menjelaskan bahwa pendaftaran harus segara dilakukan karena batas akhirnya adalah 30 Juli mendatang dan bagi yang diterima, mereka akan diberangkatkan pada bulan Oktober mendatang. Diantara universitas yang bersedia menerima mahasiswa dari Indonesia adalah Universitas Qurawiyyin dan Universitas Al Khomis.

Untuk Libya, disediakan jatah beasiswa bagi kader NU sebanyak 5 orang untuk program S1 di Jamiyyah ad Dakwah dengan jurusan Adab Lughoh, Da’wah dan Syariah. Batas akhir pendaftaran juga ditutup pada tanggal 30 Juli mendatang.

Untuk Libya, kerjasama beasiswa ini sudah berlangsung selama beberapa tahun dan sekarang sudah tumbuh komunitas nahdliyyin di Tripoli Libya yang siap mengembangkan NU disana.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi untuk mengikuti program ke Libya diantaranya adalah sudah memiliki ijazah, daftar nilai dengan nilai bahasa Arab minimal 8 akte kelahiran, rekomendasi dari PCNU setempat, photo 4X6 sebanyak 10 lembar dan passport.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Akademi Dakwah dan Studi Keislaman Beirut Lebanon juga memberikan kesempatan beasiswa bagi lima pelajar RI tingkat S1 dengan program studi Islamic Studies dengan beberapa persyaratan.

Mereka yang ingin berangkat ke Beirut harus memiliki kemampuan Bahasa Arab yang baik, berijazah SMA atau Madrasah Aliyah dengan kategori nilai “baik sekali” dengan umur tidak melebihi 23 tahun, foto kopi passport dan foto sebanyak 8 lembar dan harus sudah dikirimkan ke Akademi Dakwah selambat-lambatnya 30 Juli 2007.

Bagi yang diterima di Akademi Dakwah di Lebanon, mereka akan memperoleh fasilitas berupa biaya perkuliahan selama 4 tahun, buku, asrama dan makan dengan pengecualian biaya transportasi dari dank e Indonesia, bea visa dan administrasi tinggal serta uang saku.

Ulil menjelaskan informasi lebih lanjut dapat menghubungi kantor Biro Urusan Kerjasama Beasiswa PBNU untuk Timur Tengah di ruang 205 gedung PBNU Jl Kramat Raya 164 Jakarta Pusat atau menghubungi Ulil dengan no kontak 08121902011 atau Dawam Sukardi di no kontak 08561023524. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi AlaSantri, Quote, Tegal Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 19 Desember 2017

Menteri Khofifah Ingatkan Akademisi Tidak Apatis dan Apolitis

Kendari, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengingatkan civitas akademika perguruan tinggi agar tidak bersikap apatis dan apolitis terhadap kondisi bangsa. Sebaliknya, harus turut berpartisipasi penuh sebagai penggerak dan pengawal pembangunan bangsa.?

Hal tersebut disampaikan Khofifah dalam kuliah umum di Insititut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari, Sulawesi Tenggara, Jumat (14/4). Kuliah umum yang mengangkat tema "Urgensi Peran Perguruan Tinggi Islam dalam Menanggulangi Masalah-Masalah Sosial" tersebut diikuti ratusan mahasiswa dan dosen pengajar.?

Menteri Khofifah Ingatkan Akademisi Tidak Apatis dan Apolitis (Sumber Gambar : Nu Online)
Menteri Khofifah Ingatkan Akademisi Tidak Apatis dan Apolitis (Sumber Gambar : Nu Online)

Menteri Khofifah Ingatkan Akademisi Tidak Apatis dan Apolitis

"Kebanyakan civitas akademika utamanya mahasiswa mengambil jarak dengan partai politik, kurang peduli dengan kondisi kekinian bangsa dan eksklusif," ujarnya.?

Menurut Khofifah, saat ini juga ditemukan gaya hidup hedonis dan konsumtif di kalangan mahasiswa. Inilah yang membuat masih adanya sebagian mahasiswa di negeri ini yang kurang progresif, tidak kritis, bahkan ada yang tidak memiliki orientasi jelas, tidak memiliki kepedulian sosial, dan lain sebagainya.?

Padahal, sebagai linkage actor yang memiliki energi besar, mahasiswa harus mampu mengagregasi kepentingan rakyat. Khofifah mengajak mahasiswa agar selain menuntut ilmu dan mendapatkan prestasi akademik setinggi-tingginya juga memiliki peran yang signifikan dalam membangun bangsa ini.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Peduli sosial tidak cukup kalau tidak berbekal ilmu, juga sebaliknya. Jadi keduanya harus berjalan beriringan, karena menangani kemiskinan juga membutuhkan pendekatan multidisiplin ilmu," imbuhnya.?

Sementara itu terkait desa mandiri, Khofifah mengatakan kerjasama yang dilakukan dengan perguruan tinggi diimplementasikan saat mahasiswa melaksanakan kuliah kerja nyata.?

Nantinya mahasiswa melakukan berbagai program kegiatan untuk mengatasi berbagai persoalan sosial kemasyarakatan. Hal ini sangat penting, mengingat mereka tidak sekadar membangun desa dan menjadikannya mandiri namun turut membangun negeri.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Diungkapkan, daya saing desa perlu ditingkatkan, mengingat pasar akan mengalami aliran bebas barang, jasa, investasi dan tenaga kerja terdidik dari dan ke masing-masing negara. Oleh karena itu, peran perguruan tinggi harus ditingkatkan guna mengantisipasi pasar bebas.?

Khofifah mengatakan, mahasiswa bisa ikut membantu pemerintah antara lain melalui kemitraan dengan Kementerian Sosial dalam melakukan penyisiran terhadap masyarakat miskin di desa tempatnya KKN. Dengan demikian, tidak ada masyarakat miskin yang tercecer yang tidak memperoleh bantuan sosial sebagaimana amanat nawacita.

Namun, Ia berharap KKN di satu titik desa bisa dilaksanakan secara terus menerus. Minimal dua sampai tiga tahun hingga desa tersebut menjadi desa mandiri dan berdaya .

Penyisiran secara terus menerus ini, kata dia, akan semakin mempercepat penanganan kemiskinan di daerah tersebut. Khofifah menambahkan desa menjadi sasaran utama karena angka kemiskinan di desa dua kali lipat lebih tinggi daripada di kota. Aksesibilitas terhadap layanan publik pun sangat minim.?

"Prosentase penduduk miskin di desa mencapai 13,96 persen, sementara di Kota hanya 7,73 persen. Artinya jumlah penduduk miskin di desa dua kali lipat lebih banyak," terangnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Tegal, Kyai, Ubudiyah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Komitmen Berantas HIV/AIDS, NU Boyolali Raih Penghargaan

Boyolali, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Boyolali bersama empat PCNU lainnya, meraih penghargaan dari PWNU Jawa Tengah, atas komitmen dan keaktifan mereka dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS.

Penyerahan penghargaan diberikan pada sebuah sesi dalam kegiatan pertemuan yang diselenggarakan LKNU Jateng di Semarang selama dua hari (22-23/6).

Komitmen Berantas HIV/AIDS, NU Boyolali Raih Penghargaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Komitmen Berantas HIV/AIDS, NU Boyolali Raih Penghargaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Komitmen Berantas HIV/AIDS, NU Boyolali Raih Penghargaan

Andy Setyo Wibowo, Aktivis Forum Nadhliyin Peduli HIV/AIDS (FNPHA) Institute, ? yang hadir dan menerima penghargaan tersebut menjelaskan, selama ini NU Boyolali telah menyelenggarakan berbagai kegiatan dan program terkait pencegahan dan pemberantasan HIV/AIDS.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Ini wujud komitmen kami untuk melakukan advokasi pelayanan publik, khususnya kepada ODHA,” terangnya kepada Ie, Rabu (24/6).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Untuk melaksanakan program-program yang ada, FNPHA bekerjasama dengan berbagai pihak antara lain dari pemerintah, KPA, para pelajar hingga para kiai di kampung.

“Kita lakukan sosialiasi hasil bahtsul masail NU terkait HIV/AIDS dengan melibatkan para kiai di kampung,” ujar Andy yang juga aktif di PC IPNU Boyolali.

Atas penghargaan ini, pihaknya berharap dapat lebih memperkuat semangat dan peran NU Boyolali dalam melakukan pencegahan dan pemberantasan HIV/AIDS.

Dijelaskan Andy, angka persebaran HIV/AIDS di Boyolali cukup mengkhawatirkan. “Dari data terakhir yang kami peroleh, sebanyak 154 orang telah terinfeksi, dan 59 orang meninggal dunia akibat penyakit ini,” ungkap dia. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi PonPes, Tegal Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 24 November 2017

GP Ansor Subang Minta Pengelola Pantai Pondok Bali Perbaiki Manajemen

Subang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Ketua GP Ansor Kabupaten Subang Asep Alamsyah Heridinata angkat bicara soal kondisi Pantai Pondok Bali di Ujung Legonkulon Pantai Utara Kabupaten Subang. Kendati kondisi infrastruktur jalannya sudah bagus, menurut Asep, pengelolaan manajemennya tampak tidak dilakukan secara profesional. Akibatnya salah satu objek wisata andalan Kabupaten Subang ini dibiarkan terbengkalai.

Asep Alamsyah meminta pemegang kebijakan setempat memperbaiki pengelolaan objek wisata Pantai Pondok Bali.

GP Ansor Subang Minta Pengelola Pantai Pondok Bali Perbaiki Manajemen (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Subang Minta Pengelola Pantai Pondok Bali Perbaiki Manajemen (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Subang Minta Pengelola Pantai Pondok Bali Perbaiki Manajemen

“Coba kalau dilakukan secara profesional, mungkin Pantai Pondok Bali ini akan terlihat lebih elok, cantik, dan memiliki sistem keamanan yang standard sehingga pengunjung merasa nyaman,” ujar Asep saat

dihubungi, Senin (26/12).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Asep menegaskan, saat ini sistem pengelolaan Pantai Pondok Bali tidak jelas sehingga tidak ada jaminan keamanan di sana. “Hal ini dimaksudkan agar kejadian seperti kemarin yang memakan korban jiwa tidak terulang lagi,” kata Asep.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ia juga meminta agar tiket masuk yang sebesar Rp.10.000 tersebut harus ada jaminan asuransi jiwa. “Sehingga kalau ada pengunjung yang mengalami kecelakaan bisa mendapatkan santunan dari asuransi tersebut,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan tokoh pemuda pantura lainnya, Ketua Karang Taruna Pamanukan Asep Maulana. Ia berharap agar Pantai Pondok Bali itu dijadikan salah satu kawasan penghasil Pendapatan Asli Daerah (PAD) andalan di Kabupaten Subang.

“Dengan pengelolaan manajemen yang profesional, saya yakin pengunjung akan semakin nyaman dan akan menjadi salah satu sumber PAD andalan di Kabupaten Subang,” pungkasnya. (Ade Mahmudin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Tegal, Olahraga, Meme Islam Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 10 Oktober 2017

Keluarga Besar NU Nganjuk Bentuk Posko Bencana di Dusun Sumber Bendo

Nganjuk, Pondok Pesantren An-Nur Slawi?



Pengurus Cabang Nadlatul Ulama Kabupaten Nganjuk menginstruksikan kepada lembaga dan banom NU untuk mendirikan posko NU Peduli Bencana dimulai sejak Selasa (11/4). Posko dikoordinatori LAZISNU Nganjuk, LPBHI NU serta Banser.?

Keluarga Besar NU Nganjuk Bentuk Posko Bencana di Dusun Sumber Bendo (Sumber Gambar : Nu Online)
Keluarga Besar NU Nganjuk Bentuk Posko Bencana di Dusun Sumber Bendo (Sumber Gambar : Nu Online)

Keluarga Besar NU Nganjuk Bentuk Posko Bencana di Dusun Sumber Bendo

Posko NU Peduli Bencana didirikan guna menyalurkan bantuan dari warga NU untuk keluarga korban bencana. Sebagaimana diketahui, hujan mengguyur Dusun SumberBendo, Desa Ngetos, Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk. Hujan menyebabkan bencana longsor yang menewaskan lima korban, yaitu Paidi (55), ? Kodri (15), Doni (23), Dwi (17) dan Bayu (14). Longsor tersebut juga merusak area persawahan dan perkebunan masyarakat setempat.?

Pada Rabu (19/4), posko NU berakhir karena penanganan bencana beralih status menjadi pemulihan. Hal itu ditandai dengan istighatsah dan penyaluran bantuan kepada korban yang di gelar di Masjid Dusun Sumberbendo. Kegiatan dipandu Sekretaris PC.LAZISNU Nganjuk Moch.Masyhuri, sementara pembacaan istighatsah dipimpin Rais Syuriah PC NU Nganjuk KH Ali Musthofa Said.?

Sekretaris PCNU Nganjuk KH Moh. Hasyim Afandi atas nama NU menyampaikan turut bela sungkawa atas musibah yang menimpa masyarakat Ngetos dan khususnya keluarga korban bancana longsor. Serta mengapresiasi seluruh lembaga dan banom NU Nganjuk yang telah bekerja keras membantu proses penanganan bencana.?

Ia berharap sinergi lembaga dan banom NU akan terus terjadi di dalam berbagai kegaiatan NUguna menghadirkan NU sebagai solusi terhadap berbagai kondisi serta permasalahan masyarakat, dan Nadhliyin khususnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kegiatan tersebut dilanjutkan dengan pemberian bantuan kepada keluarga korban yang dipandu Direktur LAZISNU Nganjuk Subhan Shofwan Hadi bersama pengurus PC Maarif NU Nganjuk Aziz Kabul Budiono. Bantuan yang diberikan berupa uang dan logistik.?

Secara rinci, Subhan menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah menyalurkan bantuan dan bekerja keras di Posko NU Peduli Bencana yaitu Fatayat NU, Muslimat NU, LP Maarif NU, Ansor, Pagar Nusa, Banser, SMK Al Busthomi Mojosari, Pesantren Miftahul Ula Nglawak, Yayasan Al Hidayah Cengkok, Yayasan Darul Falah Pandanarum, MI Al Huda Bakalan, alumni SMPN 4 Nganjuk, FKDT Nganjuk, Gus Mujib Sekarputih.

Sesepuh Dusun Sumberbendo, Kiai Rohmad, mewakili keluarga korban mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas bantuan dan doa PCNU Nganjuk. Hal senada disampaikan Koordinator Dapur Umum Poskomando BPBD Nganjuk Masruhin.

Meski Posko NU Peduli Bencana Nganjuk telah berakhir, tapi Banser Ngetos pimpinan Abuddan Ganjar Nugroho akan membantu masa transisi pemulihan pasca bencana.? (Lj/Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kajian, Tegal, Doa Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 07 Agustus 2017

Merumuskan Gus Dur Muda

Gagasan dan pemikiran Ketua Umum PBNU 1984-1999 KH Abdurrahman Wahid yang dituangkan dalam bentuk tulisan sejak tahun 1970-an tak habis digali. Pemikirannya masih tetap relevan hingga sekarang. Tak heran, beraragam buku dengan berbagai pendekatan telah terbit. Beragam diskusi dan seminar tak habis-habis digulirkan.

Sebagai salah satu upaya untuk memperkenalkan dan melanjutkan gagasan kiai yang biasa disapa Gus Dur, salah seorang santrinya di Pondok Pesantren Ciganjur Jakarta, Syaiful Arif, merumuskan kegiatan bertajuk “Kursus Pemikiran Gus Dur”. Kursus tersebut menggali detail-detail gagasan Gus Dur.  

Merumuskan Gus Dur Muda (Sumber Gambar : Nu Online)
Merumuskan Gus Dur Muda (Sumber Gambar : Nu Online)

Merumuskan Gus Dur Muda

Dalam kursus tersebut, lebih menekankan gagasan Gus Dur saat muda. Syaiful Arif menyebutnya Gus Dur Muda, yaitu antara 1970 hingga 1999 (ketika Gus Dur jadi Presiden RI keempat). Dalam istilah lain disebut Gus Dur teoritis.  

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Untuk mengetahui lebih jauh tentang kursus pemikiran Gus Dur Abdullah Alawi dari Pondok Pesantren An-Nur Slawi mewawancarai anaka muda kelahiran Kudus, Jawa tengah, 1981. Syaiful Arif termasuk anak muda NU yang cukup produktif dalam menulis buku. Berikut petikan wawancaranya. 

Asal mula muncul ide kursus pemikiran Gus Dur?

Gus Dur kan sudah wafat, kalau tidak diterusin pemikirannya kan sayang. Selama ini kan gerakan-gerakan Gus Durian itu hanya menenmpatkan Gus Dur sebagai pribadi, bukan sebagai pemikiran.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kenapa bisa berkesimpulan seperti itu?

Karena di dalam gerakan gerakan Gus Durian selama ini, penggalian pemikiran itu kayaknya kurang belum maksimal. Menempatkan Gus Dur sebagai pribadi, ya bagus, karena memang Gus Dur pribadi. Artinya, yang kita diskusikan, kita ingat, yang ingin kita teruskan itu kan perjuangannya sebagai pribadi. Tapi kan di dalam pribadi Gus Dur itu, ada Gus Dur praktis, ada Gus Dur teoritis.

Gus Dur praktis itu, Gus Dur di dalam praktik politik dan praktik perjuangannya, baik di PKB, di negara, maupun di NU. Nah, tetapi praktik Gus Dur, praktik perjuangannya dilandasi oleh Gus Dur yang teoritis. Artinya dilandasi oleh pemikiran. Nah, saya lihat selama ini, -ya ini mungkin pembagian wilayah kerja aja ya, teman-teman yang memang masuk di dalam praktik Gus Dur, saya memilih di ruang-ruang teoritisnya. Itu yang pertama. 

Yang kedua, jelas sekali selama ini kan Gus Dur itu pemikir. Kalau tidak kita tidak dijaga pemikirannya melalui diskusi-diskusi yang intens, ya warisan itu akan jadi warisan “berdebu” di dalam buku-bukunya yang mungkin hanya sekilas sekali ditengok dan dibaca. Padahal kan kalau pemikiran terhenti pada teks, dia hanya terhenti pada teks. Bukan menjadi pemikiran. Menjadi pemikiran itu kan ketika diperbincangkan. Dari perbincangan itu bisa kemudian ditindaklanjuti, bisa dikritisi, bisa menjadi inspirasi. Jadi, aku kebetulan pernah nyantri dengan beliau, ya merasa beban moral. Makanya kemudian yang kupilih kan kursus. Kursus ini kan artinya satu langkah menuju, kita bedakan antara diskusi dengan kursus ya. Diskusi kan tidak ada silabus, hanya sekadar berbagi informasi. Tapi kalau kursus itu ada silabus, dan metodenya juga metode klasikal. Artinya di situ tidak hanya ada pembicara, tetapi ada tutor, pengajar. 

Nah, kalau seseorang sudah memastikan diri sudah siap untuk menjadi pengajar atau tutor di dalam kursus itu kan dia punya konsekuensi kan, ya dia harus menguasai betul, detail dari pemikiran Gus Dur karena kan sebelum kursus ini aku menawarkan sama teman-teman Gus Durian ya.

Metode kursus kan mengkelaskan Gus Dur karena selama ini kan pemikiran Gus Dur hanya terserak-serak, bercerai-berai di opini di koran. Kemudian aku memiliah Gus Dur muda dan Gus Dur tua. 

Bagiamana penjelasannya?

Gus Dur muda itu Gus Dur dari tahun 1970 sampai pertengahan 90. Gus Dur tua itu Gus Dur sejak menjadi presiden sampai wafat. Nah, Gus Dur muda, yaitu Gus Dur yang pemikirannya layak menjadi diskursus intelektual karena tulisan-tulisannya tidak hanya dalam bentuk opini di koran, tapi di makalah-makalah panjang. Baik dalam jurnal seperti Prisma, jurnal Pesantren, maupun makalah-makalah seminar, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Nah, dengan tulisan-tulisan panjang itu kan kita bisa merumuskan pemikiran Gus Dur sebagai wacana intelektual dan materi-materi akademis. Nah, kursus pemikiran Gus Dur itu masuk di ruang itu. Jadi, menempatkan Gus Dur dalam wacana intelektual dan khususnya materi-materi akademis. 

Kenapa disebut kursus?

Karena kan ya memang sampai saat ini belum ada kurikulum pemikiran Gus Dur. Karena itu aku kemudian merumuskan materi, silabus pemikiran Gus Dur yang aku harapkan sistematis dan menjadi satu langkah menuju yang akademis, atau akademisasi Gus Dur. 

Sementara Gus Dur tua itu kan sejak menjadi presiden sampai lengser, itu kan Gus Dur yang tulisan-tulisannya hanya dipercikkan di koran. Gus Dur yang sudah sepuh itu, ya Gus Dur yang sudah  praktis. Tulisan-tulisan di koran adalah refleksi dari peristiwa-peristiwa aktual atau penggalian kembali memori pemikiran yang masih ada dalam endapan di pemikiran beliau. Selama ini banyak orang menempatkan Gus Dur hanya di dalam Gus Dur di era tua. Mereka tidak masuk di dalam pemikiran Gus Dur di era muda. 

Gus Dur muda? 

Itu terkait materi. Gus Dur muda itu Gus Dur yang terinspirasi dari teologi pembabasan Amerika Latin. Dari situ Gus Dur kemudian mengolah tradisi Islam, khusunya tradisi Islam pesantren dan NU, untuk menghadapi developmentalisme Orde Baru . Gus Dur muda itu kan Gus Dur era Orde Baru. Dalam era Orde Baru itu, Gus Dur yang masih muda, merumuskan tradisi; mengolah tradisi intelektual Islam tradisional pesantren dan NU dalam wacana-wacana teologi pembebasan untuk menghadapi developmentalisme dan modernisasi. Jadi, kalau developmentalisme itu kan wacana ekonomi politik, kalau modernisasi kan wacana kebudayaan. Nah, Gus Dur mencoba mengolah tradisi-tradisi Islam pesantren dan NU untuk menanggapi modenisasi dan developmentalisme.

Nah, salah satu hasil prodak pemikirannya seperti Islam sebagai etika sosial. Islam sebagai etika sosial itu kan jarang dilihat banyak orang karena selama ini orang melihat pemikiran Islam Gus Dur itu kan hanya dua, pribumisasi Islam dan pluralisme agama. Padahal ketika aku telusuri di dalam teks-teks Gus Dur muda itu ada dua pemikiran lain yang selama ini belum dibaca orang. Yang pertama, Islam sebagai etika sosial dan kedua, negara kesejahteraan Islam.

Bagaimana penjelasannya kedua-duanya? 

Nah, itu kemudian aku jadikan materi ya. Islam sebagai etika sosial. Di kursus itu kan, pemikiran Islam Gus Dur; kalau kita pinjam istilah Marx, ya itu kan basis struktur, ada struktur ada suprastruktur. Ada lantai, ada tiang, ada dinding ada langit-langit, ada atap. Nah, pribumisasi Islam itu, lantai dari pemikiran Gus Dur karena ia mempertemukan Islam dan budaya. Nah, budaya itu kemudian menjadi landasan dari masyarakat dan landasan dari negara. Nah, prbumisasi Islam sebagai basis struktur dari pemikiran Islam Gus Dur itu kemudian menopang struktur pemikiran Islam Gus Dur, yakni Islam sebagai etika sosial. Kenapa? Karena Islam sebagai etika sosial adalah pemikiran Islam Gus Dur yang menempatkan Islam sebagai etika masyarakat; akhlak sosial. Jadi Gus Dur itu selalu memaknai akhlak sebagai etika sosial. Beliau tidak pernah menafsiri di luar konteks itu, umpamanya akhlak adalah pribadi. Itu nggak pernah, beliau. Jadi, akhlak itu pasti dalam kurung etika sosial.

Etika sosial itu bagaiamana?

Etika sosial itu sederhana, Gus Dur mencoba menggali kemudian merumuskkan prinsip-prinsip etis kehiidupan sosial. Prinsip-prinsip etis kehidupan sosial itu sebenarnya letakanya di dalam kewajiban masyarakat untuk menciptakan sturktur masyarakat yang berkeadilan. Struktur masyarakat yang berkeadilan itu merupakan wujud wujud etis masyarakat yang didukung oleh prinsip-prinsip keislaman. Gus Dur menarik dalam hal ini. Beliau punya gagasan tentang rukun sosial. Di Islam itu kan ada rukan Islam ada rukun iman. Rukun iman itu teologis, rukun Islam itu, katakanlah amal ya dari iman. Kata Gus Dur di dalam rukun Islam itu ada dimensi sosial ada zakat, ada haji ada shalat (ketika berjamaah). 

Artinya, amal-amal ritual itu sebenarnya bersifat sosial. Artinya memiliki keberpihakan terhadap pensejahteraan masyarakat. Namun sayangnya, banyak sekali umat Islam yang hanya memahaminya dalam kerangka ritual individual. Akhirnya, rukun sosial itu tidak ada dampak sosialnya. Nah, Gus Dur menggagas kita perlu sebuah rukun sosial, atau rukun tetangga, kata Gus Dur. Rukun sosial itu menjembatani antara rukun Islam dengan rukun iman. Artinya, kita harus menjadikan kepedulian sosial itu sebagai bagian dari rukun Islam dan rukun iman, menjadi bagian dari teologi. 

Jadi, Gus Dur menggagas teologi sosial. Nah, ini Islam sebagai etika sosial. Ini struktur. Struktur sosial dari basis yang ditopang pribumisasi Islam. Kenapa? Karena, tanpa pribumisasi Islam, Islam tidak akan menjadi etika sosial. Kenapa? Karena pribumisasi Islam-lah yang kemudian meleraikan ketegangan antara Islam dan budaya. Nah, ketidakmampuan meleraikan Islam dan budaya akan menyebabakan islamisasi budaya atau purifikasi budaya lokal yang kemudian menjadi trade mark dari gerakan-gerakan Arabis. Nah, gerakan-gerakan Arabis itu, kata Gus Dur, terjebak di dalam perjuangan Islam yang simbolik. Kenapa? Karena tujuan mereka hanya menerapkan simbol-simbol Islam di dalam budaya lokal. (Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Tegal, Aswaja, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 24 Juli 2017

Stand Majalah Bangkit PWNU DIY di Muktamar Ramai Pengunjung

Jombang, Pondok Pesantren An-Nur SlawiDi ajang Muktamar ke-33 NU di Jombang, 1-5 Agustus, Majalah Bangkit PWNU DIY membuka stand di kompleks Pesantren Tebuireng dan di sekitar alun-alun Jombang. Stand tersebut menjajakan merchandise khas muktamar yakni kaos dan poster ibroh Rais Aám. Sejak dibuka sabtu sore, stand Majalah Bangkit tersebut ramai pengunjung. “Kami sampai kuwalahan melayani pengunjung yang sejak stand kami buka, tak putus-putus. Sampai-sampai, kaos khas muktamar laris manis dan habis malam itu juga,” ujar Muhlisin penjaga stand di Tebuireng, Ahad (02/08)Selain kaos, poster ibroh Rais A’am khas Majalah Bangkit juga laris manis. Poster ibroh yang paling digemari adalah poster ibrohnya KH Hasyim Asyári yang berbunyi, “Siapa yang mengurus NU, saya anggap santriku, siapa yang menjadi santriku saya doakan khusnul khotimah beserta keluarganya.“Begitu stand kami buka, beberapa jam kemudian Poster ibroh KH Hasyim Asy’ari langsung ludes dibeli para pengunjung. Hari ini, rencananya tim dari Jogja akan mengirimkan lagi kaos dan poster ibroh Rais Aám,” tambahnya.? Ditemui terpisah, senada dengan Muhlisin, Yayan penjaga stand di Alun-alun Jombang juga mengungkapkan hal yang sama. “Ini di luar dugaan. Para pengujung begitu antusias membeli merchandise yang kami jajakan. Kaos dan poster ibroh Rais Aam khas Majalah Bangkit ludes diserbu pengujung dan habis malam itu juga,” ujarnya. Menurut Pimpinan Redaksi Majalah Bangkit PWNU DIY, Muhammadun, larisnya merchandise yang dijajakan di stand Majalah Bangkit dikarenakan merchandise tersebut berkaitan langsung dengan muktamar. “Kaos muktamar dan Ibroh Rais Aám yang kami jual berkaitan langsung dengan muktamar. Bukan hanya kaos biasa saja. Selain itu, desain-desain baju kami juga beda dengan yang lain. Jadi wajar kalau antusiasme pengunjung begitu besar. (Nur Rokhim/Mukafi Niam)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Tegal, Ubudiyah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Stand Majalah Bangkit PWNU DIY di Muktamar Ramai Pengunjung (Sumber Gambar : Nu Online)
Stand Majalah Bangkit PWNU DIY di Muktamar Ramai Pengunjung (Sumber Gambar : Nu Online)

Stand Majalah Bangkit PWNU DIY di Muktamar Ramai Pengunjung

Jumat, 12 Mei 2017

Tuan Guru Turmudzi, Nusa Tenggara Barat

Tuan Guru H Turmudzi merupakan salah satu Mustasyar PBNU periode 2010-2015. Ulama yang akrab dipanggil datuk ini merupakan mursyid tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah, pengasuh pesantren Qomarul Huda, Bagu, Pringgarata, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.

Lahir pada 1 April 1936 dari keluarga Perwangse (bangsawan) suku Sasak. Gelar “Lalu” di depan namanya menunjukkan kebangsawanannya. Ayahnya Tuan Guru Haji Lalu (TGHL) Badarudin, seorang ulama yang berpengaruh, telah merintis pengembangan pesantren dari mengajar di pesantren (langgar) di rumahnya. Dari langgar kecil itu kemudian jadi pesantren, madrasah dan perguruan tinggi di NTB.

Tuan Guru Turmudzi, Nusa Tenggara Barat (Sumber Gambar : Nu Online)
Tuan Guru Turmudzi, Nusa Tenggara Barat (Sumber Gambar : Nu Online)

Tuan Guru Turmudzi, Nusa Tenggara Barat

Tuan Guru Turmudzi memperoleh pendidikan agama dari orang tuanya. Kemudian Sekolah Rakyat pada tahun 1944. Melanjutkan ke Madrasah Mu’alimin Darul Qur’an di Bengkel, Lombok, yang diasuh oleh TGH SOleh Chambali dari 1948-1952. Ia kemudian berangkat di Makkah dan tinggal 10 tahun. Pada 1962 kembali ke tanah air dan mulai merintis pendirian Madrasah Diniyah dan Madrasah Ibtidaiyah (Qomarul Huda) 1962. Mendirikan Pesantren Qomarul Huda (1963), Madrasah Tsanawiyah (1968), Madrasah aliyah (1984).

aPada 1999, PBNU menyelanggarakan Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar di pesantren tersebut. Pada saat itu dikemukakan keinginan untuk mendirikan Perguruan Tinggi Qomarul Huda. Atas inisiatif KH Abdurrahman Wahid (Ketum PBNU waktu itu), Pesantren Qomarul Huda bekerja sama dengan Sekolah TInggi Agama Islam Ibrahimy, Jawa TImur, dan pada 1999 berdirilah STAI Ibrahimy di pesantren tersebut.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selain sebagai pengasuh pesantren, ia berkiprah di NU mulai dari pengurus Ranting Bagu, Syuriyah MWC Kecamatan Pringgarata, Wakil Rais Syuriyah PCNU Lombok Tengah, Wakil Rais SYuriyah PWNU NTB, Rais Syuriyah PWNU NTB sekaligus Mustasyar PBNU sekarang.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sebagai ulama Sasak ia mampu menunjuukan dirinya sebagai sosok ulama yang sangat berpengaruh, istiqomah, dalam tugas keulamaannya dan tetap berpenampilan bersahaja. TGH Turmudzi menulis Zadul Ma’ad yang berisi wirid dan doa-doa untuk diamalkan oleh para santri dan masyarakat luas (2009). (Ensiklopedi NU)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Lomba, Tegal, Warta Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 09 Maret 2017

Kemendag Gelar Pasar Murah di 300 Pesantren

Jombang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi?

Kementerian Perdagangan (Kemendag) memfasilitasi penyelenggaraan Pasar Murah Ramadan 2017 di Pondok Pesantren (Ponpes) Mambaul Maarif, Denanyar, Jombang, Rabu (14/06). Sebanyak 500 paket disediakan bagi warga sekitar pesantren.?

Staf Khusus Menteri Perdagangan Bidang Hubungan Antar Lembaga dan Peningkatan Sarana Perdagangan, Eva Yuliana mengatakan pasar murah yang digelar Kemendag pada tahun 2017 ini ditempatkan di 300 pesantren seluruh Indonesia. Dengan jumlah paket di setiap Ponpes sebanyak 500 sembako.?

“Kita pilih pesantren karena pesantren adalah salah satu pintu masyarakat yang menjadi agen dari semuanya. Agen kultur, dan juga agen pendidikan” katanya ditemui disela sela kegiatan yang di gelar di halaman Pesantren Mambaul Maarif Denanyar Jombang.

Kemendag Gelar Pasar Murah di 300 Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemendag Gelar Pasar Murah di 300 Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemendag Gelar Pasar Murah di 300 Pesantren

Diakatakannya, pasar murah ini sebagai bentuk penyediaan bahan pokok menjelang lebaran bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah oleh Kemendag. Dalam kegiatan pasar murah ini, Eva Yuliana mengatakan pihaknya menggandeng perusahan swasta turut serta dalam ? pasar murah Ramadhan yang digelar tahun ini.?

“ Kita menggandeng beberapa pelaku usaha swasta untuk ikut berperan dalam pasar murah ini. Kami ingin sampaikan bahwa pemerintah dan swasta hadir di tengah-tengah masyarakat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat jelang lebaran,” kata Eva Yuliana disela sela kegiatan.

Masih menurut Eva, satu paket sembako senilai Rp 100 ribu, sementara dalam pasar murah ini dijual seharga Rp 50 ribu. Adapun isi setiap paket sembako yakni beras 2 kilogram, gula pasir 2 kilogram, minyak goreng 2 liter, tepung terigu 2 kilogram, dan sirup satu botol.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Biar lebih bertambah manfaatnya, maka hasil penjualannya disedekahkan ke Ponpes tempat kegiatan di laksanakan. Kalau disini kita berikan kepada Ponpes Mamba’ul Ma’arif,” tambah perempuan berjilbab ini menandaskan.

Salah seorang warga pemanfaat kegiatan ini, Rubiah (60), mengaku bersyukur bisa mendapatkan kebutuhan pokok harga murah. Rubiah menilai, harga yang disediakan Kemendag lebih murah separoh dari harga pasaran.

“Alhamdulillah, sebentar lagi lebaran pas ada sembako murah. Kalau begini terus ya enak, kita ringan belinya, sangat membantu kita,” ujarnya. (Muslim Abdurrahman)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Tegal Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 01 September 2016

Amandemen UUD 45 Mengacaukan

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi
Undang Undang Dasar (UUD) 1945 hasil amandemen yang kini sedang disosialisasikan oleh MPR dan pemerintah, dinilai mengacaukan karena tidak serasi dengan mukadimah dan kehilangan roh UUD 1945 itu sendiri.

"Kita tidak anti amandemen, tapi anti amandemen yang kebablasan, yang menyimpang dari semangat dan jatidiri UUD 1945, yang bertentangan antara pembukaan dan batang tubuhnya, serta filosofi struktur dan sistem kenegaraannya," kata pengamat hukum H.Amin Aryoso SH di Jakarta, Senin (11/4).

Ia mengkhawatirkan, amandemen UUD 1945 yang kebablasan itu bisa mengacaukan tatanan dan berefek negatif bagi masyarakat bangsa Indonesia, yang seharusnya tetap berpegang teguh pada UUD 1945. Menurut Amin Aryoso, UUD 1945 asli yang kemudian diubah menjadi UUD 2002, merupakan hasil amandemen yang dilakukan anggota Majelis Perwakilan Rakyat (MPR) tanpa memperoleh mandat dari rakyat.

UUD yang semula dibuat oleh badan konstituante, diamandemen oleh MPR tanpa mandat dari rakyat, karena parpol-parpol sebelum pemilu tidak ada yang mengusulkan perubahan UUD 1945. Tetapi setelah MPR terbentuk, tanpa mandat dari rakyat tiba-tiba mereka mengubah UUD 1945. Ia juga menjelaskan, di MPR sendiri banyak anggota majelis yang menentang adanya amandemen tersebut, tercatat sekitar 207 dari 500 anggota Majelis.
? ? ?
Kalau memang mau mengubah UUD 1945, amandemen mestinya dilakukan berdasarkan mandat rakyat melalui hasil referendum, dan isinya tidak menyimpang dari jiwa aslinya, melainkan justru makin bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan rakyat. Amin Aryoso menilai, UUD 1945 amandemen jelas bertentangan dengan idealisme, bentuk dan struktur Pembukaan UUD 1945, yang merupakan roh dari UUD itu sendiri. "Jadi, UUD 1945 amandemen jelas kebablasan," tegasnya.
? ? ?
Dalam kenyataannya sekarang, ia merujuk pada praktek-praktek yang merugikan rakyat, yang tidak menempatkan rakyat pada obyek pembangunan, seperti yang dikehendaki oleh jiwa UUD 1945. Amin juga mempertanyakan kemungkinan adanya skenario asing, termasuk LSM-LSM asing dan lokal yang menunggangi di balik amandemen UUD 1945.?

Sementara itu, di tempat terpisah mantan Direktur Badan Intelijen Strategis (BAIS) Ian Santoso Perdana kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi beberapa waktu lalu mengatakan, kondisi bangsa yang sedang carut marut ini, titik mulanya disebabkan oleh amandemen UUD 45 yang dipaksakan, padahal itu merupakan jantung dari sebuah ideologi bangsa, jika itu di rubah, bangsa ini kehilangan semangat dan ruh nasionalisme.? Hal ini bisa dilihat dari perkembangan politik Indonesia sekarang ini.?

Meskipun demikian, kata Ian Amandemen boleh-boleh saja di rubah tapi bukan di batang tubuh, tapi di aturan peralihan saja, karena ruh UUD 45 ada di pembukaan dan batang tubuh. "Tetapi ketika itu (zaman MPR di ketuai Amin Rais) langsung menyetujui Amandemen tanpa melalui persetujuan rakyat," ungkap Ian yang sempat mengikuti rapat mewakili TNI AL bersama ketua MPR ketika itu masih dipimpin Amin Rais yang membahas soal amandeman. (Cih)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Tegal Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Amandemen UUD 45 Mengacaukan (Sumber Gambar : Nu Online)
Amandemen UUD 45 Mengacaukan (Sumber Gambar : Nu Online)

Amandemen UUD 45 Mengacaukan

Kamis, 21 Juli 2016

Khofifah Minta Muslimat NU Tingkatkan Peran

Pamekasan, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Khofifah Indar Parawansa mengingatkan kepada warga Muslimat NU untuk memperhatikan pendidikan, kesehatan, sosial, dan dakwah. Sekurang-kurangnya, di lingkungan sekitar Muslimat NU. Sebab, katanya, kebesaran NU akan terus berkembang kalau ditopang oleh kiprah anggotanya.

Pernyataan Khofifah disampaikan dalam ceramahnya di hadapan ribuan warga Muslimat NU dan undangan yang hadir di halaman kantor Muslimat NU Jalan R Abd Aziz, Pamekasan, Jawa Timur, Rabu (25/4) lalu.

Menurut dia, sebagai Ketua Umum PP Muslimat NU, dirinya pantas menyampaikan hal tersebut kepada anggota Muslimat. Ini agar Muslimat lebih punya peran di masyarakat sekitarnya. Sehingga, Muslimat NU dapat membangun jaringan, merambah kader, dan keutuhan semakin besar ditopang oleh akar yang kuat.

Khofifah Minta Muslimat NU Tingkatkan Peran (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah Minta Muslimat NU Tingkatkan Peran (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah Minta Muslimat NU Tingkatkan Peran

Peran Muslimat NU diharapkan lebih terlihat dalam membantu perkembangan bangsa Indonesia. “Saya yakin, Muslimat NU Pamekasan juga turun tangan dalam mengatasi buta huruf,” ujarnya.

Dalam Harlah Muslimat NU ke-61 ini, Khofifah menceritakan betapa NU di Herzegovina mendapat tempat. Dia mencontohkan, pada saat dialog dengan seorang Syeikh Tamim di Herzegovina, Khofifah mengaku mendapat pujian karena NU dinilai telah memopulerkan teologi Asy’ariyah di Indonesia.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Bahkan, kenangnya, secara berkelakar mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan di era Presiden KH Abdurrahman Wahid itu diminta membuka Pengurus Cabang Muslimat NU di Herzegovina. “Apa yang saya sampaikan hanya cerita, sekadar menjelaskan NU itu besar,” katanya.

Menurut anggota DPR RI ini, kebesaran NU yang di dalamnya terdapat Muslimat NU, tidak berkembang pesat tanpa disertai kiprah. Karenanya, ada beberapa hal yang dapat dilakukan Muslimat NU dalam jangka pendek, menengah, dan jangka panjang, agar NU lebih berkeringat.

Contoh paling sederhana, katanya, Muslimat NU dapat turun ke desa-desa mengadakan bakti sosial. Di antaranya, sebentuk khitanan masal karena NU memiliki poliklinik. Khitanan ini memang sepintas sesuatu yang kecil, tetapi silaturahim antarmanusia yang dibangun Muslimat NU melalui media yang sederhana itu, amat bermakna.

Hal lain yang penting dilakukan Muslimat NU, membantu pemerintah dalam menuntaskan buta aksara. Meski tidak hafal berapa jumlah penderita tuna aksara di Indonesia, namun di Pamekasan diyakini Khofifah masih ada warga yang tuna aksara. Muslimat NU sebagai satu lembaga yang tersebar dari kota, kecamatan, desa, dan dusun-dusun, dapat memanfaatkan jaringan sebagai bentuk partisipasi kepada masyarakat.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selain itu, Muslimat NU dapat memberdayakan ekonomi yang dimulai dari internalnya dan dapat menjangkau luas bila kelak lembaga ekonominya sudah mapan. “Percayalah, mulailah dari hal-hal yang kecil untuk sesuatu yang besar sekalipun,” ujarnya.

Hadir bersama Khofifah, antara lain Ny Sholahuddin Wahid, Hj Ully Soraya, pengurus PW Muslimat NU Jatim, PC Muslimat NU se-Madura, dan berbagai undangan. Hadir juga beberapa orang tokoh PKB, PKNU, perguruan tinggi, LSM, dan pihak terkait di lingkungan Pemkab Pamekasan. (gpa/sbh)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Tegal, Ulama Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 21 Januari 2016

Ini Tantangan Mempromosikan Islam Nusantara menurut Pakar Radikalisme Eropa

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Islam Nusantara yang menjadi tema besar kegiatan International Summit of The moderate Islamic Leaders menarik perhatian para ulama, narasumber internasional, dan pemimpin dunia Islam yang hadir dalam forum yang digelar Senin-Rabu (9-11/5) di JCC Senayan Jakarta. Salah satunya oleh Dr Nico Prucha, salah satu narasumber forum.?

Ini Tantangan Mempromosikan Islam Nusantara menurut Pakar Radikalisme Eropa (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Tantangan Mempromosikan Islam Nusantara menurut Pakar Radikalisme Eropa (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Tantangan Mempromosikan Islam Nusantara menurut Pakar Radikalisme Eropa

Dosen muda Universitas Wina Austria tersebut berpendapat bahwa Islam Nusantara adalah prinsip yang mengedepankan pluralitas. Ia memiliki anggapan bahwa untuk mempromosikan Islam Nusantara ke penjuru dunia itu susah-susah gampang. Mudahnya adalah karena Barat membutuhkan pemahaman yang berbeda tentang Islam, dan itulah yang akan menyadarkan mereka bahwa ISIS hanya sebagian kecil saja daripada Islam.

Adapun sulitnya, lanjut Pakar Radikalisme dari Department of War Studies ICSR (The International Center of The Study Radicalisation and Political Violence) yang berbasis di London itu, adalah karena Barat kurang percaya dan bertindak rasis terhadap Islam. Oleh karenanya, pria yang fasih berbahasa Arab tersebut melihat bahwa itulah tantangan-tantangan yang harus NU hadapi untuk mempromosikan dan menyebarkan Islam yang moderat, Islam Nusantara.

Menurutnya, strategi untuk mempromosikan Islam Nusantara adalah dengan mengakui bahwa Islam memiliki masalah sebagaimana fenomena ISIS yang mencuplik dalil-dalil dari Al-Quran, Hadis, dan Fiqih sebagai dasar pergerakan mereka.?

“Dan juga lebih aktif lagi menyuarakan tentang Islam Nusantara kepada dunia,” tutur Nico.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ia mencontohkan bahwa praktik-praktik toleransi dan pluralisme yang terjadi di Indonesia seharusnya menjadi pelajaran bagi Barat bahwa Islam itu adalah agama yang cinta damai dan bisa hidup harmonis meski dalam perbedaan. ?

“Muslim Indonesia yang rela untuk menjaga Borobudur dan memahami umat Budddha. Ini lah seharusnya yang menjadi rujukan orang-orang kita, pemerintahan-pemerintaham kita,” harap Nico.

Ia menilai bahwa untuk mengahalau gerakan-gerakan ekstrimisme tidak lah cukup dengan menggunakan kekuatan, harus ada pendekatan budaya, pendidikan, dan praktik-praktik toleransi yang terus digulirkan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Menghadapi ISIS tidak cukup dengan kekuatan senjata berat saja,” tandasnya. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Tegal Pondok Pesantren An-Nur Slawi