Tampilkan postingan dengan label Ubudiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ubudiyah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Maret 2018

KH Suharbillah, Guru Besar Pencak Silat Pagar Nusa Tutup Usia

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Inna lilllahi wa inna ilaihi raji’un, kabar duka bagi warga Nahdlatul Ulama, khususnya para pendekar dan pecinta pencak silat NU Paga Nusa, karena salah seorang guru besarnya, KH Suharbillah tutup usia di Sedayu, Gresik, Jawa Timur.

KH Suharbillah, Guru Besar Pencak Silat Pagar Nusa Tutup Usia (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Suharbillah, Guru Besar Pencak Silat Pagar Nusa Tutup Usia (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Suharbillah, Guru Besar Pencak Silat Pagar Nusa Tutup Usia

Kabar yang diterima Pondok Pesantren An-Nur Slawi, KH Suharbillah wafat pada Senin, 25 Agustus sekitar pukul 20.00. “Ya, benar tadi jam 8 malam,” kata salah seorang pengurus Pimpinan Pusat Pencak Silat NU Pagar Nusa, Muad, melalui telpon seluler, Senin (25/8).

KH Suharbillah pernah menjabat Ketua Umum Pagar Nusa periode kedua setelah kepemimpinan Gus Maksum Jauhari.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Semoga amal dan jasanya, khususnya pada pencak silat, bernilai ibadah di sisi Allah SWT. Semoga segala kekhilafanya diampuni-Nya. Psementara keluarga, para pendekar silat bisa meneladani kebaikannya. Amin... (Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ubudiyah, Kajian Islam Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 22 Februari 2018

Waktu Indonesia NU

Suatu kali Prof Machasin yang saat itu jadi Rais Syuriyah mendapat undangan rapat PBNU. Sesuai jadwal, dosen yang birokrat ini datang tepat waktu: 14.00 waktu Indonesia Barat (WIB).

Begitu masuk ruang rapat, ia celingukan. Toleh sana, toleh sini. Setengah kaget, karena hampir seluruh kursi masih kosong. Prof Machasin pun menunggu cukup lama.

Waktu Indonesia NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Waktu Indonesia NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Waktu Indonesia NU

"Ini bagaimana. Katanya jam dua. Ini kan sudah jam tiga!?" tanyanya kepada peserta rapat yang sudah hadir.

Sahabatnya itu tertawa, "Hahaha..."

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Kok ketawa?" Prof Machasin heran.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Sampean orang NU baru ya? Haha..."

Prof Machasin cuma nyengir, sambil membetulkan kopiahnya yang makin miring.

Pejabat Kemenag yang rajin ini rupanya belum paham betul bahwa di NU—entah sejak kapan—ada kaidah tak tertulis: waktu Indonesia terbagi menjadi empat (bukan tiga), yakni WIT, WITA, WIB, dan WI-NU. Selisih masing-masing minimal satu jam!

(Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ubudiyah, PonPes, Bahtsul Masail Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 13 Februari 2018

Hasyim Minta PKB Anam Patuhi Putusan MA

Probolinggo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulam (PBNU), KH Hasyim Muzadi, meminta kepada semua pendukung Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) kubu Muktamar Surabaya pimpinan Choirul Anam memenuhi putusan Mahkamah Agung (MA) yang memenangkan PKB versi muktamar Semarang, karena putusan itu sudah berkekuatan hukum tetap.

"Mereka (PKB Anam) harus mematuhi keputusan hukum yang sudah berkekuatan hukum tetap, siapapun itu," kata Hasyim ketika kepada wartawan usai menghadiri Muswil PPP Jatim di Pondok Pesantren Nurul Qadim Kali Kajar, Probolinggo, Jawa Timur, Sabtu (9/9).

Hasyim Minta PKB Anam Patuhi Putusan MA (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasyim Minta PKB Anam Patuhi Putusan MA (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasyim Minta PKB Anam Patuhi Putusan MA

Hasyim menegaskan, upaya PK (Peninjauan Kembali) yang akan dilakukan PKB kubu muktamar Surabaya dikhawatirkan akan menemui jalan buntu. "Bisa saja mereka menggugat lagi. Tapi, ujung-ujungnya paling juga nggak akan jauh berbeda dari keputusan sebelumnya yang dimenangkan kubu Muhaimin Iskandar. Indikasi ini bisa dilihat dari sikap para pejabat pemerintah yang sudah melaksanakan putusan MA itu," katanya.

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikam, Malang, Jawa Timur ini, kekecewaan terhadap putusan MA adalah hal yang wajar, namun seyogyanya kekecewaan itu tidak dilakukan dengan pengajuan PK tetapi dikompromikan saja.

Meski demikian, Hasyim menegaskan bahwa PBNU belum berencana untuk turun tangan menyelesaikan kemelut PKB kendati PBNU memiliki komisi politik.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pada kesempatan itu, Hasyim juga menanggapi tentang sikap sejumlah kiai di berbagai daerah terhadap KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang dianggap sering melontarkan pernyataan kontroversial. "Gus Dur itu kan pemikirannya sangat liberal misalnya soal RUU APP, Al Quran dan hadist. Nah, banyak kiai di desa yang sulit mencerna pemikiran Gus Dur itu," katanya.

Menurut Hasyim, teguran para kiai itu sudah disampaikan PBNU kepada Gus Dur dan pihaknya hanya diminta menyampaikan. "Kami sudah menyampaikan teguran kiai ke Gus Dur, soal sampai sekarang belum ada reaksi dari Gus Dur, ya terserah beliau," katanya. (ant/sam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Bahtsul Masail, Ubudiyah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 09 Februari 2018

Cermin Spiritualitas Gus Dur

Oleh Fuad Al-Athor?

Sekira pertengahan tahun 1999 ketika hendak berangkat ke Jawa untuk kembali bergelut dengan kewajiban menimba ilmu pengetahuan, penulis melintasi kerumunan massa di samping sebuah pasar kecamatan. Ternyata sedang berlangsung perhelatan kampanye terbuka dan kebetulan dilaksanakan oleh? Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).?

Dalam salah satu orasi politiknya, seorang juru kampanye yang penulis pikir adalah seorang kiai menyampaikan agitasinya. Bapak-ibu sekalian, ikutlah Gus Dur. Sebab beliau ini orang alim, kealimannya terbukti bahwa beliau pernah mulang (ngajar) kitab Al-Hikam (kitab yang berisi tentang ilmu-ilmu hikmah ketasawwufan). Ketahuilah bahwa tidak sembarang orang mampu mengajarkan kitab tersebut. Hanya orang yang keilmuannya sudah tingkat tinggi yang berani mengajarkan isi kitab tersebut!?

Cermin Spiritualitas Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Cermin Spiritualitas Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Cermin Spiritualitas Gus Dur

Kira-kira demikianlah, argumentasi yang sampai sekarang masih bersarang di ingatan kami yang menjadi semacam rambu-rambu penunjuk arah ketika mencoba membincang sisi spiritual tokoh satu ini, Gus Dur. Rambu berikutnya adalah quote paling misterius dari beliau sendiri yang berbunyi, Guru spiritualitas saya adalah realitas dan Guru realitas saya adalah spiritualitas.?

Dua dilalah ini saja sudah cukup kemudian untuk, pada ratusan lembar-lembar kisah, dijadikan bingkai atas banyak hal dan peristiwa yang dianggap sebagai penanda spiritualitas beliau. Mulai dari keajaibannya dalam praktek, sadar dalam tidur, berkomunikasi dengan para arwah, memiliki prediksi-prediksi yang akhirnya kejadian dan banyak lagi lainnya. Ujungnya, beliau diyakini sebagai seorang waliyullah, seorang kekasih-Nya.?

Kembali ke petikan Guru spiritualitas saya adalah realitas dan guru realitas saya adalah spiritualitas, yang minim penjelasan sehingga memosisikannya sebagai teks yang terbuka terhadap tafsir. Inilah sedikit coret-coretan penulis dalam mencoba memberi catatan kaki pada teks tersebut. Tentu saja, upaya ini dimaksudkan untuk bercermin pada orang-orang Alim yang dalam bahasa santrinya adalah tabarrukan.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pendekatan yang paling memungkinkan untuk mengungkap makna dari quote tersebut adalah pendekatan maqomat/state atau kondisi spiritual yang beliau sendiri alami. Yang dalam hal ini menjelaskan, pertama; bahwa spiritualitas atau perjalanan keintiman rohani beliau pada keilahian seiring dan semakin dikuatkan dengan internalisasi tajalli beliau terhadap keesaan Tuhannya melalui realitas-realitas harian. Apakah ini mungkin? Sangat mungkin, sebab dalam dunia spiritual islam/mistik islam seseorang dimungkinkan untuk mengalami penyingkapan rohani dan mengalami musyahadah/penyaksian.?

Jika demikian, maka beliau dipastikan telah memetik mutiara dari lelaku mistik topo ngrame atau berada dalam kondisi asketis meskipun dalam kondisi bersosialisasi,solitude in the crowd di mana dalam keberlangsungan aktivitas jasadiyahnya berlangsung pula aktivitas rohaniyah secara simultan. Sehingga dalam aktivisme juga ada spiritualisme dan sebaliknya. Dari sini pula kita bisa melihat keholistikan (islam yang kaffah) praktek keagamaan Gus Dur. Tidak ada dualisme dalam melihat Realitas, ia spiritual juga real (sekuler) pada saat yang bersamaan. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran: Orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan jual beli dari mengingati Allah. (24:37). Rasulullah SAW, mengisyaratkan dalam Haditsnya tentang hal ini: Padaku terdapat dua sisi. Satu sisiku menghadap ke arah Pencipta ku dan satu sisi lagi menghadap ke arah makhluk ciptaan.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Keadaan ini yang menyebabkan seseorang tidak bisa lagi menghindar dari melihat Tuhannya dalam detik demi detik kehidupannya. Sehingga di hatinya kesadaran tauhid-nya mencapai kulminasi yang memungkinkan ia untuk menerima pelajaran-Nya dari makhluk apapun yang dilihatnya. Namun, keadaan ini tidak kemudian menjatuhkan seseorang pada posisi phanteistik. Orang sekaliber beliau mesti telah melewati perdebatan dalam dunia sufi tentang pandangan wahdatul wujud dan wahdatus syuhud. Hal ini dijelaskan oleh hal kedua, yang dapat diungkap dari frase kedua dari quote beliau tersebut ; bahwa dalam melampaui perdebatan teologis tentang posisi pengungkapan tajalliyat tersebut diekspresikan secara unik (dan sesuai jamannya) dengan spiritualitas yang bertindak. Inilah yang, hemat penulis, lebih mendekati dalam pemaknaan dari Guru realitas ku adalah spiritual.

Di sinilah letak krusialitas, -kegentingan, dari spiritualitas beliau yang tidak saja membawa kita pada kekayaan khazanah keilmuan mistik dalam tradisi islam akan tetapi juga dalam hal memajukan amaliah-amaliahnya nun jauh melampaui kungkungan simbol-simbol keagamaan, masuk pada dimensi-dimensi yang tampaknya sekuler dan hanya produk pemikiran manusia. Spiritualitas yang bergerak, yang jika meminjam istilah Immanuel kant, merupakan categorical imperative (suatu kewajiban umum yang universal) yang bersumber dari samudra kesadaran spiritual beliau, langsung dihadap-hadapkan dengan kenyataan kondisi umat islam dalam posisi struktural dan kulturalnya.?

Tugas pengabdian (ubudiyah) kemudian mendapatkan ruang praktik di mana pun, sebab Tuhan hadir pada setiap momen dan tempat yang tak terhingga. Tidak terbatas pada teks, institusi dan ritual keagamaan saja. Bagi mereka yang telah mencapai maqom kedekatan, Tuhan dapat ditemui di mana saja, bahkan, jika meminjam istilahnya Bung Karno, Tuhan bersemayam di gubuk-gubuk orang-orang lemah. Inilah universalitasnya. Sehingga, dengan kesadaran keabdiannya pula yang merasa rendah di sisi-Nya menggerakkannya untuk melakukan pembelaan sebagai kewajiban yang bersandar pada Adab-adab yang contohkan dalam Sunnah Nabi SAW. Jadi bukan dengan acting sebagai wakil-Nya melakukan pembelaan atas Tuhan seraya menyembunyikan rasa superior egonya dan menunjukkan ketidak-tahuannya posisi keabdiannya terhadap Allah SWT. Kemudian melabrak realitas apapun yang menurutnya keburukan tanpa mampu melihat kehadiran Tuhan di? dalamnya yang juga menuntut penyikapan yang berdasar pada Adab-adab Rasulillah SAW.

Itulah mengapa gagasan dan perjuangan beliau selalu mengedepankan universalitas ketimbang partikularitas. Keadaan/maqom rohaninya yang mengizinkannya melihat universalitas kebenaran, pada gilirannya akan menyediakan konsep-konsep yang kuat sekaligus ketepatan meletakkannya dalam kekhususan ruang dan waktu dengan dukungan pemahaman yang jernih terhadap struktur dan situasi sosial yang ada.

Konsekuensi dari kematangan rohaniah di atas menjembatani dua entitas yang spiritual dan yang sekuler, bahkan bisa dikatakan menyatukannya dalam apa yang dikenal dalam khazanah sufisme sebagai dawamul ubudiyah kelanggengan pengabdian. Di sini ada keterhubungan, keterikatan secara rohaniah terhadap ke-Ilahian yang bermanifestasi dalam: kekuatannya mengartikulasi nilai-nilai dasar agama dan kelenturan atau pembaharuan-pembaharuan penerapan fiqh. Dengan kata lain, kesadaran ini merangkum dari yang non-historis dan yang historis sekaligus. Sehingga bukan suatu yang aneh jika ada kaidah fiqhyah yang berbunyi ? ? ? ? ? ? ? yang mengandung semangat untuk melanggengkan sesuatu yang memang bersifat tetap dan tidak boleh berubah dan di sisi lain mengharuskan pada kesiapan-kesiapan upaya pembaharuan pada tataran yang selalu berubah atau historis.

Sebagaimana yang digariskan dalam tuntunan ulama-ulama salafus salihin mengenai manusia unggulan yang harus memiliki tiga keutamaan; 1). Kedekatan pada Hadirat Ilahi Subhanahu wa Taala dan di samping itu, 2). Berpegang teguh pada Aqidah yang sahih menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah dan, 3). Melazimkan diri beramal menuruti Sunnah Nabawiyah Sallallahu alaihi wa sallam. Tiga nilai inilah yang selalu menopang segenap sikap, perkataan, gerak dan aktivitas dari seorang yang digembleng dalam metode mistik Sunny yang melahirkan karakter kebijaksanaan, keluwesan dan moderatisme dari sosok seperti Gus Dur.

Dalam konteks yang lebih luas, melihat sosok Gus Dur tak ubahnya melihat sebutir mutiara berkilauan yang membawa penulis pada pertanyaan-pertanyaan bagaimana teknik pemotongan dan pemolesannya. Sebab yang kita saksikan adalah mutiara yang sudah jadi. Rasa penasaran ini tentu harus dikembalikan pada seperangkat metode pendidikan spiritual yang tersedia dalam islam khususnya dalam lingkungan islam tradisionalis, Nahdlatul Ulama.

Keberadaan dimensi sufistik dalam islam tradisional memberikan suatu prosedur standar dalam pembentukan pemikiran dan sikap yang memengaruhi secara dominan dalam tokoh-tokohnya. Inilah yang tidak tersedia dalam golongan yang sejak semula menolak sisi pendidikan mistik islam dan hanya bergantung pada teks ayat-ayat suci semata. Pada golongan ini, miskin akan metode tashfiyatul qolbi (pemurnian hati) yang memungkinkan terciptanya keterhubungan, kedekatan, keintiman dan gnostik, juga kurang akan praktek-praktek tazkiyatun nafsi (penyucian jiwa) yang akan menghantar pada peringai-peringai mulia; bijaksana, moderat, universalis dan berguna.



Dapat kita lihat perbedaan nyata antara keduanya jika kita melihat bagaimana kehidupan keberagamaan belakangan ini. Terbukti keluwesan, kebijaksanaan dan kebergunaan dari agama dari mereka yang sepaham dengan Gus Dur (berpaham aswaja) dibanding dengan trend-trend pemahaman keagamaan baru yang cenderung anti sosial. Bagi mereka yang setidaknya mengerti kedudukan nafs (ego) dari proses tazkiyatun nafsi tentu memiliki kesadaran bahwa meneriakkan takbir bukanlah untuk memperlihatkan kotornya nafs yang penuh dengan amarah, tapi untuk meninggikan nama-Nya dengan menaburkan kebajikan-kebajikan.

Akhirnya, demi mengingat ujaran sang juru kampanye di atas, marilah kita mengikuti, ittiba pada beliau sebagai washilah kita untuk berusaha menjadi lebih baik, lebih bisa berkontribusi bagi kemaslahatan bersama dengan meneruskan tarekat perjuangannya menciptakan kebaikan di bumi Nusantara ini.

?

Santri Pondok Pesantren Kasepuhan Qoshrul Arifin Atas Angin, Darmacaang, Cikoneng, Ciamis/Katib JATMAN DKI Jakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ubudiyah, Jadwal Kajian, Ahlussunnah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 06 Februari 2018

Putin Tuding AS atas Pemboikotan para Pemantau Barat

Saint Petersburg, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Presiden Vladimir Putin, Senin (26/11), menuding pemerintahan Amerika Serikat (AS) berada di balik pemboikotan para pemantau Barat terhadap pemilu Rusia, dengan mengatakan tujuannya adalah untuk mendiskreditkan jalannya pemungutan suara.



Putin Tuding AS atas Pemboikotan para Pemantau Barat (Sumber Gambar : Nu Online)
Putin Tuding AS atas Pemboikotan para Pemantau Barat (Sumber Gambar : Nu Online)

Putin Tuding AS atas Pemboikotan para Pemantau Barat

Kepada wartawan, Putin mengungkapkan bahwa keputusan para pemantau OSCE itu "dibuat atas rekomendasi Departemen Luar Negeri Amerika Serikat. Kami akan memperhitungkan ini dalam hubungan antarnegara."

"Tujuan itu adalah untuk mendiskreditkan pemilu, tetapi mereka tidak akan mencapai tujuan mereka," katanya seperti dilansir sumber AFP.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Pemilu akan diselenggarakan sesuai dengan kerangka undang-undang yang ada," terangnya.

Pernyataan itu diucapkannya pada pekan terakhir kampanye sebelum pemilihan anggota parlemen, Minggu, yang dinilainya di Rusia sebagai satu referendum atas prestasi Putin selama menjabat sebagai presiden.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Organisasi Keamanan dan Kerjasama Eropa (OSCE) sebelumnya mengumumkan bahwa pihaknya tidak akan mengirim para pemantaunya untuk mengawasi pemungutan suara karena ada keterlambatan dalam memberikan undangan dan dokumen perjalanan.

Majelis tinggi parlemen, Senin, menyatakan, 2 Maret 2008 sebagai tanggal pemilihan presiden di mana Putin tidak dapat ikut bertarung untuk periode berikutnya. (dar)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Sejarah, Ubudiyah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 25 Januari 2018

Sosiolog: Polemik Pesantren Radikal Seharusnya Tak Terjadi

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Guru Besar Sosiologi Agama UIN Syarif Hidayatullah Profesor Bambang Pranowo mengatakan polemik terkait pesantren radikal seharusnya tidak terjadi.

"Pondok pesantren di Indonesia hampir 50 ribu, sedangkan yang terlibat terorisme mungkin belasan. Itu sangat kecil. Apa yang terjadi kemarin itu sebenarnya soal bahasa dan pengemasan saja," kata dia di Jakarta, Selasa.

Sosiolog: Polemik Pesantren Radikal Seharusnya Tak Terjadi (Sumber Gambar : Nu Online)
Sosiolog: Polemik Pesantren Radikal Seharusnya Tak Terjadi (Sumber Gambar : Nu Online)

Sosiolog: Polemik Pesantren Radikal Seharusnya Tak Terjadi

Bambang mengemukakan itu menanggapi polemik yang dipicu pernyataan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Saud Usman Nasution pada tanggal 2 Februari lalu soal 19 pesantren terindikasi paham radikal.

"Sebenarnya ini psikologis saja. Kalau pernyataan terkait radikalisme ini keluar dari Kementerian Agama, reaksinya biasa saja. Beda kalau lembaga lain seperti BNPT," katanya.

Menurut Bambang, pernyataan Kepala BNPT itu seharusnya dipahami sebagai bagian dari pencegahan terorisme. Sebagai lembaga negara yang bertugas melakukan pencegahan terorisme, BNPT memang harus melakukan program pencegahan di segala lini masyarakat.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Apalagi, lanjut Bambang, Kepala BNPT hanya menyebut segelintir orang santri dan guru yang terindikasi radikalisme itu.?

"Ini tidak usah dimasalahkan lagi karena tugas pencegahan terorisme kedepan sangat berat," kata dia.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ke depan, kata Bambang, soft approach di dalam pencegahan terorisme harus lebih ditingkatkan.?

Untuk itu, BNPT harus lebih erat bergandengan tangan dengan NU dan Muhammadiyah sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia, selain ormas lokal yang bertebaran di seluruh Indonesia.

Ketua Rabithah Mahad Islamiyah atau Asosiasi Pesantren NU Abdul Ghofarrozin Sahal Mahfud mengatakan dari puluhan ribu pesantren di Indonesia hampir semuanya berbasis kultural dan kedaerahan, hanya 19 pesantren yang terindikasi radikalisme.

"Pesantren selalu berhasil untuk berdampingan dengan budaya dan masyarakat setempat. Jadi, kalau ada pesantren terindikasi radikalisme, itu jelas telah menyalahi tujuan dan hakikat keberadaan pesantren," katanya. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ubudiyah, Fragmen Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pesantren Al-Hikam Terima Kunjungan Universitas Ma Chung

Malang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pesantren Mahasiswa Al-Hikam menerima tamu kunjungan dari mahasiswa Universitas Ma Chung Malang, Sabtu pagi (27/4). Mereka berkunjung ke Pesantren Al-Hikam untuk memperdalam pelajaran agama yang ada di perkuliahan mereka.

“Karena alokasi waktu kami dalam mempelajari agama hanya dua sks, maka kami perlu memperdalam sendiri. Salah satunya dengan kunjungan seperti ini, “ ungkap Radit, mahasiswa semester 2 jurusan akuntansi Universitas Ma Chung.

Pesantren Al-Hikam Terima Kunjungan Universitas Ma Chung (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Al-Hikam Terima Kunjungan Universitas Ma Chung (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Al-Hikam Terima Kunjungan Universitas Ma Chung

Dalam sambutannya, Ust. M. Nafi’ menjelaskan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan tradisional. “Istilah ‘tradisional’ jangan sampai dipandang negatif, karena tidak semua yang bersifat tradisional negatif,” jelas Ust. M. Nafi’. Dengan adanya pesantren, terutama untuk mahasiswa, agar para santri yang juga berstatus mahasiswa dapat memiliki keimanan kepada Tuhan (Allah) yang kokoh.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurutnya, pesantren adalah lembaga pendidikan agama, dan pandangan agama menganggap bahwa anggota masyarakat baik premitif, modern, post- modern, itu manusia yang pada dasarnya sama. Manusia manapun dari Kalipare sampai California secara natural dia ingin hidup sejahtera secara ekonomi. Secara sosial dia ingin dihargai dalam interaksi sosial.?

“Itu sudah menjadi kebutuhan dasar manusia. Dan kebutuhan paling dasar adalah menyembah kepada tuhan. Dia tidak boleh menjadi hamba kecuali hamba tuhannya,” ungkap wakil Pengasuh Persantren Al-Hikam ini.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Arah kehidupan yang serba material menjadi tantangan semua agama dan ini fakta konkrit,” lanjutnya. Dari kesimpulannya, titik temu semua agama yaitu mengajarkan humanisme, tentunya Humanisme yang religius. Nilai kemanusiaan yang didasarkan pada ajaran agama.?

Sesi dialog pun dimulai, penasaran tentang kehidupan di pesantren pun dipertanyakan. Bagaimana aktivitas sehari-sehari para santri, kendala apa yang ada dalam pelaksanaan kegiatan dan bagaimana solusinya?

Ust. Muzammil menyatakan, aktivitas santri dimulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. “Bahkan ada yang bangun tidur, lalu tidur lagi,” guyonnya diiringi tawa hadirin. Kegiatan yang wajib adalah dirasah/mengaji setelah shalat berjamaah shubuh dan magrib. Terlepas dari itu, adalah waktu untuk belajar di kampus masing-masing.?

Kendala umumnya berasal dari faktor santrinya sendiri, mungkin karena jenuh atau banyak tugas. “Namun itu bisa diatasi oleh keistiqomahan para ustadz untuk selalu memberikan motivasi, dukungan agar selalu semangat beraktivitas,” papar Sekretaris Yayasan Al-Hikam ini.?

Ada juga yang menanyakan mengenai seperti apa progam kemasyarakatan para santri secara detail. ? Ust. M Nurcholiq menanggapi, bahwa para santri langsung terjun ke dalam satu desa untuk melaksanakan progam kemasyarakatan sekitar satu bulan. Lalu disana, mereka dituntut melaksanakan keilmuannya yang telah didapat dari pesantren sehingga mereka dapat mempersiapkan kehidupan nyata di masyarakat nanti.?

“Karena persoalan di masyarakat itu kompleks, ada teorinya namun tidak ada prakteknya di masyarakat bahkan sebaliknya. Maka para santri perlu memahami hal ini, dengan langsung terjun ke lapangan,” ungkap ? Kepala Bagian Akademik STAIMA Al-Hikam ini.?

Pada akhirnya, salah satu mahasiswa Universitas Machung berkesimpulan bahwa ada kesamaan nilai ajaran antara apa yang lama diajarkan kepadanya dengan kehidupan di dunia pesantren.

“Kehidupan dan nilai ajaran di pesantren kurang lebih sama seperti saat saya lama bersekolah di lingkungan Katholik, yaitu belajar menjadi hamba tuhan yang taat dan menjadi manusia baik dalam berhubungan dengan masyarakat,” simpul Radit, mahasiswa akuntansi Univ. Ma Chung.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Sabiq Al-Aulia Zulfa

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ubudiyah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 24 Januari 2018

LTNNU Terbitkan Buku Mengapa Harus NU?

Boyolali, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Untuk melengkapi referensi bacaan tentang ke-NUan bagi warga NU, Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Boyolali menerbitkan beberapa buku. Di antara buku yang sudah diterbitkan berjudul Mengapa Harus NU?.

LTNNU Terbitkan Buku Mengapa Harus NU? (Sumber Gambar : Nu Online)
LTNNU Terbitkan Buku Mengapa Harus NU? (Sumber Gambar : Nu Online)

LTNNU Terbitkan Buku Mengapa Harus NU?

Saat ditemui Pondok Pesantren An-Nur Slawi di sela acara bedah buku "Mengapa Harus NU?", Jumat (21/3) lalu di Teras, Ketua LTNNU Boyolali Darsim Ermaya Imam Fajarudin menerangkan, buku ini berisi banyak hal mendasar tentang ke-NUan.

“Dimulai dari apa itu NU? Bagaimana sejarah berdirinya? Apa saja kontribusi NU terhadap agama, bangsa, dan negara?” kata pria yang akrab disapa Imam.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurut Imam, dengan mengetahui hal-hal tersebut warga NU diharapkan semakin memahami bahwa NU itu luar biasa. “Dari sini mereka akan menyadari Mengapa Harus NU?, bukan yang lain,” ujarnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Buku Mengapa Harus NU ini disusun tim penulis dari NU Boyolali. Mereka adalah Katib Syuriyah PCNU Boyolali Kiai Joko Parwoto, Ketua LTNNU Boyolali Imam Fajarudin, Makmun Nuryanto, dan seorang pengurus cabang NU Boyolali KH Ahmad Charir.

Imam menambahkan, buku setebal 300 halaman ini dapat dipesan langsung ke pengurus LTNNU Boyolali. Hasil dari penjualan buku ini akan dimasukkan ke kas PCNU Boyolali. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ubudiyah, Anti Hoax, Sunnah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 21 Januari 2018

Isra’ dan Mi’raj, Warga NU Sudan Diminta Fokus pada Profesi

Khartoum, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama’ Sudan menggelar pengajian akbar dalam rangka memperingati Hari Besar Islam? isra’ dan mi’raj di Aula Haji Agus Salim KBRI, Khartoum, Sudan, Jumat (6/5) sore. Para hadirin yang berjumlah lebih dari seratus orang ini diminta untuk menjalankan kewajibannya masing-masing di Sudan.

Pengajian ini berbarengan dengan pelantikan pengurus baru PCINU dan Muslimat NU Sudan masa khidmah 2016-2017.

Isra’ dan Mi’raj, Warga NU Sudan Diminta Fokus pada Profesi (Sumber Gambar : Nu Online)
Isra’ dan Mi’raj, Warga NU Sudan Diminta Fokus pada Profesi (Sumber Gambar : Nu Online)

Isra’ dan Mi’raj, Warga NU Sudan Diminta Fokus pada Profesi

Kepengurusan NU Sudan ke depan akan dipimpin Kiai Ribut Nur Huda sebagai Rais Syuriyah, Azim Aufaq sebagai Ketua NU Sudan, dan Faridhatunnisa sebagai Ketua Muslimat NU Sudan masa khidmah 2016-2017.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kiai Mirwan Akhmad Attaufiq yang diminta mengisi taushiyah mengajak para hadirin untuk selalu ingat dengan tugas masing-masing. “Jika ia seorang pelajar, kewajibannya adalah belajar. Jika ia seorang pekerja, kewajibannya adalah bekerja.”

Kiai Mirwan juga mengingatkan warga Indonesia di Sudan untuk selalu melaksanakan tugas utama, shalat lima waktu.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Acara ini dihadiri oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Sudan, para staf KBRI Khartoum Sudan, para pekerja asal Indonesia, organisasi kekeluargaan di Sudan, para mahasiswa dan seluruh anggota PCINU Sudan.

Turut hadir Mustasyar PCINU Sudan Syeikh Sulaiman Muhammad Ali dan Mustasyar Muslimat NU Sudan Prof Syati Hasanat.

Panitia Lembaga Dakwah berterima kasih kepada seluruh pihak-pihak yang membantu terlaksananya acara ini. Pertemuan ini ditutup dengan do’a bersama yang dipimpin oleh Ustadz Sidik Ismanto. ?

Alhamdulillah acara ini berjalan lancar dengan dihadiri oleh lebih dari 150 hadirin,” kata Abdul Ghofur. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi IMNU, Humor Islam, Ubudiyah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 16 Januari 2018

Munas NU 2015 Finalkan Draf Muktamar dan Ahlul Halli wal Aqdi

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pengurus harian Syuriyah PBNU bersama Syuriyah PWNU se-Indonesia akan menyempurnakan draf bahtsul masail dan materi Ahlul Halli wal Aqdi. Di Munas NU 2015 yang diselenggarakan pada Ahad-Senin, 14-15 Juni 2015 di Jakarta ini, peserta forum diharapkan memberi masukan untuk pematangan Ahlul Halli wal Aqdi.

“Di forum ini, kita akan mengulang kembali bahan-bahan materi Muktamar. Kita juga akan menampung usulan-usulan PWNU perihal Ahlul Halli wal Aqdi untuk dimasukkan ke dalam draf. Bukan lagi sosialisasi, tetapi kita sudah menetapkan Ahlul Halli,” kata Ketua Panitia Muktamar Ke-33 NU H Imam Aziz pada rapat harian Tanfidziyah PBNU, di Jakarta, Rabu (10/6) sore.

Munas NU 2015 Finalkan Draf Muktamar dan Ahlul Halli wal Aqdi (Sumber Gambar : Nu Online)
Munas NU 2015 Finalkan Draf Muktamar dan Ahlul Halli wal Aqdi (Sumber Gambar : Nu Online)

Munas NU 2015 Finalkan Draf Muktamar dan Ahlul Halli wal Aqdi

Forum Munas NU akhir pekan ini tidak lagi bersifat sosialisasi konsep dan penerapan AHWA. Menurut Imam, PBNU sudah berkali-kali mengadakan kegiatan pra muktamar.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Jadi sudah tidak ada penolakan karena memang rapat pleno PBNU di Wonosobo dan Munas NU di Jakarta terakhir kemarin itu, mengamanahkan PBNU bersama PWNU untuk memerinci mekanisme AHWA itu,” jelas Imam yang juga Ketua PBNU.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pihak panitia Munas NU sudah mempersiapkan tempat bermalam peserta. Peserta Munas NU 2015 ini terdiri atas pengurus syuriyah PBNU dan PWNU se-Indonesia. Rencananya sidang forum ini akan dipimpin oleh Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F Masudi dengan sekretaris forum Katib Syuriyah PBNU KH Yahya Cholil Staquf.

“Kegiatan Munas NU 2015 ini hanya ditangani oleh Syuriyah PBNU,” kata Ketua PBNU H Maksum Mahfudz.

Kegiatan Munas NU 2015 ini akan diawali dengan istighotsah akbar dengan 25.000 nahdliyin di masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Ahad (14/6) siang. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Internasional, Ubudiyah, Ahlussunnah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 04 Januari 2018

IPPNU Bersyukur Penghapusan Sistem RSBI

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Ikatan Pelajar Putri ? NU mendukung putusan MK terkait Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dan Sekolah Berstandar Internasional (SBI) yang diputuskan Selasa (8/1) kemarin.

IPPNU Bersyukur Penghapusan Sistem RSBI (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Bersyukur Penghapusan Sistem RSBI (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU Bersyukur Penghapusan Sistem RSBI

Hal tersebut disampaikan Ketua Umum PP IPPNU Farida Farichah pada Pondok Pesantren An-Nur Slawi per telepon, Rabu (9/1) pagi. Pelajar Putri NU menyatakan kesepakatan yang sama dengan dengan Mahkamah Konstitusi dalam penghapusan RSBI dan SBI yang diatur dalam UU nomor 20 tahun 2003, pasal 50 ayat 3.

“Pencabutan pasal 50 ayat 3 terkait sistem pendidikan nasional dalam menyelenggarakan RSBI dan SBI, sudah benar. Karena, penyelenggaraan tersebut sangat tidak tepat dengan kondisi dunia pendidikan hari ini,” kata Farida.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Farida menilai bahwa RSBI dan SBI tidak memberikan dampak yang signifikan dalam memperbaiki kualitas pelajar Indonesia. Karenanya, Hasil keputusan yang dilakukan terhadap uji materi UU nomor 20 tahun 2003, menjadi sangat bijak dalam konteks kekinian masalah pendidikan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ikatan Pelajar Putri NU menilai bahwa UU tersebut tidak sejalan dengan semangat UUD 1945 yang menjamin seluruh anak Indonesia untuk mendapatkan layanan pendidikan tanpa pembedaan dan diskriminasi. Sementara UU yang mengatur RSBI dan SBI membuat jarak bagi penyelenggaraan pendidikan di tengah masyarakat.

Farida menambahkan bahwa pengesahan UU yang mengatur RSBI dan SBI juga merupakan bukti kepicikan anggota dewan perwakilan rakyat dalam merumuskan UU. Dengan kata lain, kinerja dewan perwakilan rakyat menimbang kasus UU yang mengatur RSBI dan SBI, belum berpihak kepada rakyat banyak dan UUD 1945.

Kita juga berharap ke depan agar anggota dewan lebih cermat dalam merumuskan dan mengesahkan UU karena putusan mereka terkait dengan kepentingan banyak orang, tandas Farida.?

?

Redaktur : Hamzah Sahal

Penulis ? ? : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ubudiyah, Pondok Pesantren Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 01 Januari 2018

Stroke Warnai Kisah Penciptaan Kasidah Burdah

Oleh Diana Manzila



Al-Burdah adalah kata yang diambil dari bahasa Arab yang berarti jaket belang (bisa hitam dan putih, atau yang lain). Maknanya sama dengan ? ? ? yang memiliki arti sama secara harfiah, ? ? ? ? semisal jaket biasa yang digunakan kebanyakan orang. Korelasi kasidah burdah yang ternama dengan makna burdah bermakna jaket memiliki kisah tersendiri.?

Konon, pada masa Rasul, ada penyair “sakti” bernama ? ? ? ? ? (wafat pada 662 M). Penyair tersebut dalam tiap rajutan kata yang dikemas dapat menjadi sihir tersendiri bagi pembaca atau pendengarnya.?

Stroke Warnai Kisah Penciptaan Kasidah Burdah (Sumber Gambar : Nu Online)
Stroke Warnai Kisah Penciptaan Kasidah Burdah (Sumber Gambar : Nu Online)

Stroke Warnai Kisah Penciptaan Kasidah Burdah

Pujangga satu ini adalah seorang penyair ternama pada masanya. Namun sayang seribu sayang, sebelum masuk Islam, untaian syairnya tertuju pada olok-olok pada ? ? , yakni nabi Muhammad. Jelas saja, kala itu aktris bagi bangsa arab atau orang terpandang kala itu menjadi buah bibir. ? Ada tiga golongan yang saat itu menjadi sorotan; ? ? ? (pujangga), ? ? (tukang sihir), dan ? ? ? (dukun).?

Syair-syair luar biasa karya Ka’ab, membombardir hati para pembenci Nabi untuk lebih membenci beliau. Kala rentetan kata ia lontarkan, masyarakat setempat langsung hafal dan membacanya. Bahkan anak kecil pun ikut memeriahkan olok-olok pada Muhammad.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Hal itu membuat resah segenap sahabat dekat Rasul. Mereka kemudian menemukan ide jitu untuk membumihanguskan penyair tersohor tersebut. Ide tersebut ternyata diamini Rasul. Setelah diadakan musyawarah singkat, para sahabat berlomba untuk bisa melenyapkan penyair ulung yang kerap menjelek-jelekkan utusan tuhan di depan khalayak.

Suatu ketika, saat Muhammad, pemuda padang pasir berkumpul dengan sahabatnya, datang seorang misterius bercadar hitam berlutut di hadapan beliau seraya berkata;

“Hai Muhammad, aku dengar ada penyair yang memprovokasi masyarakat untuk membencimu?” tanyanya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Benar,” jawab singkat Nabi.

“Dan lagi, kauhalalkan sahabat-sahabatmu untuk membunuhnya?” ujarnya lagi.

“Ya,” lanjut beliau.

“Bagaimana jika sang pujangga bersimpuh padamu dan bertobat atas perbuatan nistanya?”

“Aku akan memaafkannya,” jawab Nabi lugas.

Hening sesaat, lelaki dibalik cadar tiba-tiba membuka cadar dan mempersilahkan Nabi untuk bertindak apa saja terhadap dirinya. Seketika itu banyak sahabat berebut ingin membunuh Ka’ab, tapi sebelum hal itu terjadi, Ka’ab mengajukan permintaan pada Nabi. Permintaannya adalah, sebelum dirinya menjadi bangkai, ingin membacakan puisi di hadapan Nabi.

Puisi tersebut berisi 63 bait, yang secara keseluruhan memuji sagala sifat-sifat Nabi. Belum selesai Ka’ab mengeksplore segala kekagumannya, Nabi memintanya berhenti dan menyematkan burdah sebagai bentuk hadiah kepadanya. Puisi pertama berkisah Nabi tersebut bernama Banaat Su’ad yang dibaca secara spontanitas oleh sang penyair ulung Ka’ab bin Zuhair.

Sampai pada keempat kholifah, burdah tersebut di jadikan jubah kebesaran tiap pemimpin umat Islam. Hingga pada masa Bani Umayyah, jubah tersebut diburu oleh petinggi Islam pada masanya hingga proses pembelian terhadap Ahlul Bait Ka’ab bin Zuhair.?

Sekarang, jubah fenomenal tersebut berada di museum Topkavi (Konstantinopel, Istambul, Turki). ?

Kilas Sejarah?

Kehidupan dunia tidak lebih dari perpindahan parodi antara digelar dan dinalar. Laju sang detik tidak pernah berdiam barang berulang. Demikian pula kehidupan sang puitis negara bernama ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, tidak lain pengarang terbaik dunia yang dikenal dengan nama Imam Busyiri. Sejatinya nama tersebut diambil dari kota di mana sang cendekia itu berdomisili.

Mahakarya agung Imam Busyiri yang popular dengan nama“Burdah” memiliki cerita unik. Puisi ini sejatinya bernama" ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? Begitu banyak barisan kata indah teruntai dari ucap dan cakap sang pujangga, seringkali sang Busyiri dipanggil menteri bahkan kepala negara untuk bersyair di istana. Ia diminta merangkai huruf dan menulis untuk memuji tindak tanduk dengan seronai kata. Lama pekerjaan itu ia lakoni. Berjalan kesana ke mari sembari berpusi. Siapa yang tidak mengenalnya kala itu. Namanya tersohor di semua penjuru negeri.?

Ada setitik jenuh dalam hati sang pujangga ternama ini. Ia mulai gunda-gulana dengan segala aktivitas bersyairnya. Di puncak rasa sedihnya, ia menemukan secercah cahaya dan hatinya berkata, ”Bagaimana bisa saya salama ini merangkai untaian kata dengan mudahnya pada seseorang petinggi negara. Padahal terkadang aku manipulasi isi dan teras kata-kataku. Sedangkan hampir tidak pernah aku memuji Sang Musthofa (Nabi Muhammad), perangai seseorang yang Tuhannya pun berkata mulia.”

Pikirannya membuat ia diterpa resah yang berkepanjangan. Resah hingga ia terkulai lemah dan jatuh sakit. Sakitnya ini, tercatat dalam sejarah adalah sakit ? (stroke). Dalam diam sakit yang melanda, hati yang gundah-gulana, nestapa yang tidak bermuara, ia bergumam syair tentang sang junjungan Nabi akhir zaman.?

Hingga suatu malam sang Rasul datang bertandang, menyematkan “burdah” pada tubuhnya. Sang pecinta Muhammad pun bangkit dari sakit yang memasungnya dari berbagai aktivitas selama ini. Ia sembuh total keesokan harinya.?





*Tulisan ini dibuat saat penulis mengikuti kajian Burdah di Sekolah Tinggi Filsafat Al-Farabi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ubudiyah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 22 Desember 2017

Demi Kemanusiaan, Banser Jaga Keamanan Natal dan Tahun Baru

Madiun, Pondok Pesantren An-Nur Slawi 

Anggota Gerakan Pemuda Ansor dan Banser di wilayah Kabupaten Madiun diterjunkan ke wilayah-wilayah dianggap rawan konflik sejak Ahad (24/12). Ketua GP Ansor madiun Khotamul Anam mengatakan, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, wilayah Madiun selalu kondusif bagi umat Kristen dalam merayakan Natal dan tahun baru. 

“Kita tidak inggin kejadian yang di luar praduga itu muncul di permukaan,” katanya. 

Demi Kemanusiaan, Banser Jaga Keamanan Natal dan Tahun Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Demi Kemanusiaan, Banser Jaga Keamanan Natal dan Tahun Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Demi Kemanusiaan, Banser Jaga Keamanan Natal dan Tahun Baru

Karena itulah, GP Ansor Madiun mengimbau anggotanya di wilayah kecamatan masing-masing untuk waspada di setiap titik-titik keramaiaan. Tiap titik keramaian di 15 kecamatan itu harus ada anggota Banser.  

“Kita sudah imbau kepada seluruh jajaran di wilayah kecamatan masing- masing agar stand by menjaga keamanan dan memastikan kondusivitas yang nyaman untuk Hari Natal ini,” jelasnya.  

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurut dia, menjaga keamanan bukan hanya tanggung jawab Kepolisian dan TNI, tapi Banser sebagai garda depan Nahdlatul Ulama harus lebih sigap dan tanggap terhadap situasi yang berkembang di wilayahnya masing-masing. 

“Tidah hanya waktu, tenaga dan materi kita korbankan, tapi juga nyawa yang sewaktu-waktu harus kita siapkan di medan. Niatkan ini sabagai pengorbanan atas nama Kemanusiaan. Maka seyoganya kita sebagai kader yang memiliki jiwa sosial tinggi, harus terjun dan mengamankan NKRI,” pungkasnya.

Hal serupa dilakukan GP Ansor Tangerang. Menurut Ketua GP Ansor Kabupaten Tangeran, Khoirun Huda, menerjunkan pasukan pengamanan pada Natal dan Tahun Baru sebagai upaya cipta kondisi bagi masyarakat.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Ini merupakan program rutin Banser Kabupaten Tangerang,” katanya dalam upacara Gelar Pasukan sekaligus Penutupan Diklat Terpadu Dasar (DTD) Banser yang diselenggarakan di pondok pesantren Miftahul Jannah, Cikupa 22 sampai 24 Desember 2017.

Huda Menyampaikan bahwa ini bentuk komitmen Banser sebagai garda terdepan dan benteng NKRI. 

"Setiap tahun kami menyiapkan puluhan bahkan ratusan personel Banser untuk membantu aparat kepolisian dalam menciptakan keamanan menjelang Natal dan tahun baru," ucapnya. 

Disinggung tentang maraknya hujatan terhadap Banser yang sering menjaga gereja,  Huda menjelaskan, hal itu dilakukan oleh orang-orang atau kelompok yang tidak paham terhadap visi misi dan tugas Banser.

"Mereka pasti tidak paham tentang visi misi, tugas dan tanggung jawab Banser. Hal yang kami lakukan ini pada hakikatnya adalah dalam menjaga negara, menjaga Indonesia," tegasnya. 

Huda menyampaikan, pada Natal tahun ini, Banser menjaga keamanan di gereja ST. Gregorius, ST. Odelia Citra Raya,  GKI Panongan dan GKJ Pasar Kemis. (Hend Sulaksono/Abdullah Alawi) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Daerah, Aswaja, Ubudiyah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 21 Desember 2017

Kenalkan Organisasi, Pelajar NU Kota Tangerang Keluar-Masuk Sekolah

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pengurus Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) mulai mengadakan sosialisasi tentang IPNU dan IPPNU ke sejumlah sekolah umum di Kota Tangerang. Mereka masuk antara lain ke SMKN 8 Kota Tangerang. Mereka juga membagikan Media Pelajar dan Santri (MAJAS), buletin dakwah dwi mingguan terbitan pelajar NU kota Tangerang.

Guru Agama dan juga pembina Rohis SMKN 8 kota Tangerang M Sudarto menyambut baik kehadiran IPNU-IPPNU ke sekolahnya.

Kenalkan Organisasi, Pelajar NU Kota Tangerang Keluar-Masuk Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kenalkan Organisasi, Pelajar NU Kota Tangerang Keluar-Masuk Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kenalkan Organisasi, Pelajar NU Kota Tangerang Keluar-Masuk Sekolah

“Saya selaku guru agama dan pembina rohis merasa bangga dengan hadirnya IPNU dan IPPNU ke sekolah-sekolah untuk menyosialisasikan kegiatan-kegiatannya yang bermanfaat terutama hadirnya buletin MAJAS untuk pelajar dan santri” ujar Sudarto, Ahad (11/1).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sosialisasi ini merupakan agenda mingguan IPNU dan IPPNU kota Tangerang. Para pelajar sekolah yang didatangi diperkenalkan apa itu IPNU dan IPPNU. Mereka juga diajak menonton film dokumenter, motivasi belajar dan berorganisasi, dan spiritualitas keislaman.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kegiatan sosialisasi ini berlangsung sekali sepekan. Pengurus IPNU-IPPNU kota Tangerang menargetkan kunjungan mereka ke seluruh sekolah-sekolah di kota Tangerang.

“Kegiatan sosialisasi IPNU dan IPPNU ke sekolah merupakan salah satu cara memperkenalkan organisasi pelajar NU kepada para siswa sekolah umum, agar mereka mengetahui kegiatan IPNU dan IPPNU yang bermanfaat bagi pelajar dan sosialisasi buletin MAJAS untuk mereka,” kata pengurus IPNU kota Tangerang Zulbiyadi Fadlan, (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ubudiyah, Quote Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 19 Desember 2017

Menteri Khofifah Ingatkan Akademisi Tidak Apatis dan Apolitis

Kendari, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengingatkan civitas akademika perguruan tinggi agar tidak bersikap apatis dan apolitis terhadap kondisi bangsa. Sebaliknya, harus turut berpartisipasi penuh sebagai penggerak dan pengawal pembangunan bangsa.?

Hal tersebut disampaikan Khofifah dalam kuliah umum di Insititut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari, Sulawesi Tenggara, Jumat (14/4). Kuliah umum yang mengangkat tema "Urgensi Peran Perguruan Tinggi Islam dalam Menanggulangi Masalah-Masalah Sosial" tersebut diikuti ratusan mahasiswa dan dosen pengajar.?

Menteri Khofifah Ingatkan Akademisi Tidak Apatis dan Apolitis (Sumber Gambar : Nu Online)
Menteri Khofifah Ingatkan Akademisi Tidak Apatis dan Apolitis (Sumber Gambar : Nu Online)

Menteri Khofifah Ingatkan Akademisi Tidak Apatis dan Apolitis

"Kebanyakan civitas akademika utamanya mahasiswa mengambil jarak dengan partai politik, kurang peduli dengan kondisi kekinian bangsa dan eksklusif," ujarnya.?

Menurut Khofifah, saat ini juga ditemukan gaya hidup hedonis dan konsumtif di kalangan mahasiswa. Inilah yang membuat masih adanya sebagian mahasiswa di negeri ini yang kurang progresif, tidak kritis, bahkan ada yang tidak memiliki orientasi jelas, tidak memiliki kepedulian sosial, dan lain sebagainya.?

Padahal, sebagai linkage actor yang memiliki energi besar, mahasiswa harus mampu mengagregasi kepentingan rakyat. Khofifah mengajak mahasiswa agar selain menuntut ilmu dan mendapatkan prestasi akademik setinggi-tingginya juga memiliki peran yang signifikan dalam membangun bangsa ini.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Peduli sosial tidak cukup kalau tidak berbekal ilmu, juga sebaliknya. Jadi keduanya harus berjalan beriringan, karena menangani kemiskinan juga membutuhkan pendekatan multidisiplin ilmu," imbuhnya.?

Sementara itu terkait desa mandiri, Khofifah mengatakan kerjasama yang dilakukan dengan perguruan tinggi diimplementasikan saat mahasiswa melaksanakan kuliah kerja nyata.?

Nantinya mahasiswa melakukan berbagai program kegiatan untuk mengatasi berbagai persoalan sosial kemasyarakatan. Hal ini sangat penting, mengingat mereka tidak sekadar membangun desa dan menjadikannya mandiri namun turut membangun negeri.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Diungkapkan, daya saing desa perlu ditingkatkan, mengingat pasar akan mengalami aliran bebas barang, jasa, investasi dan tenaga kerja terdidik dari dan ke masing-masing negara. Oleh karena itu, peran perguruan tinggi harus ditingkatkan guna mengantisipasi pasar bebas.?

Khofifah mengatakan, mahasiswa bisa ikut membantu pemerintah antara lain melalui kemitraan dengan Kementerian Sosial dalam melakukan penyisiran terhadap masyarakat miskin di desa tempatnya KKN. Dengan demikian, tidak ada masyarakat miskin yang tercecer yang tidak memperoleh bantuan sosial sebagaimana amanat nawacita.

Namun, Ia berharap KKN di satu titik desa bisa dilaksanakan secara terus menerus. Minimal dua sampai tiga tahun hingga desa tersebut menjadi desa mandiri dan berdaya .

Penyisiran secara terus menerus ini, kata dia, akan semakin mempercepat penanganan kemiskinan di daerah tersebut. Khofifah menambahkan desa menjadi sasaran utama karena angka kemiskinan di desa dua kali lipat lebih tinggi daripada di kota. Aksesibilitas terhadap layanan publik pun sangat minim.?

"Prosentase penduduk miskin di desa mencapai 13,96 persen, sementara di Kota hanya 7,73 persen. Artinya jumlah penduduk miskin di desa dua kali lipat lebih banyak," terangnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Tegal, Kyai, Ubudiyah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 16 Desember 2017

Kisah Santri Putri yang Akhirnya Jadi Kiai

Di kantor PWNU Jawa Timur, sewaktu masih di Jalan Darmo 96 Surabaya, Kiai Imron Hamzah ketamuan wartawan yang menanyakan masalah mahram bagi kaum "khuntsa" ketika mereka menunaikan ibadah haji.

Kiai Imron menjelaskan bahwa untuk menetapkannya, lihatlah kecenderungan sehari harinya. "Kalau dalam kesehariannya itu lebih dominan perilaku laki-lakinya, maka dia dihitung laki-laki."

"Kalau dalam kesehariannya lebih dominan perilaku perempuan, maka dihitung perempuan."

Kisah Santri Putri yang Akhirnya Jadi Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Santri Putri yang Akhirnya Jadi Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Santri Putri yang Akhirnya Jadi Kiai

Persoalan terjadi ketika ada orang yang "angin-anginan" yang disebut "khuntsa musykil". ? Pagi kelihatan perilaku laki-laki, lha kok sorenya berperilaku perempuan. Namanya saja "musykil" jelas sulit menentukannya.

Terkait "khuntsa musykil" ternyata Kiai Imron punya cerita.

Pada masa Kiai Imron nyantri di Peterongan, Jombang Kiai Imron mendapat kebebasan dari Kiai Romli Tamim untuk bisa keluar masuk ndalem. Hal itu karena hubungan baik Kiai Hamzah (Abahnya Kiai Imron) dengan Kiai Romli.

Di pesantren putri, Kiai Imron mendapati seorang santri yang badannya gempal dan suaranya menunjukkan maskulinitas. Tapi dia dimasukkan santri putri karena perilakunya yang menunjukkan feminin.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Setelah beberapa tahun berlalu, di Bandara Juanda Kiai Imron ditemui seseorang yang dipanggil kiai oleh para santrinya. Sang kiai tersebut menerangkan bahwa ia adalah santri putri di Pesantren Peterongan. Sontak Kiai Imron kaget, dan beliau bertasbih.

Kenyataan itu memberikan penegasan bagi Kiai Imron bahwa kecenderungan "khuntsa" itu memang bisa berubah-ubah. Sehingga seorang santri putri pada akhirnya bisa menjelma jadi kiai. (Muhammad Nuh)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ubudiyah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 12 Desember 2017

Haruskah Shalat Menghadap Persis ke Ka’bah?

Jumhur atau mayoritas ulama bersepakat bahwa menghadap kiblat adalah salah satu syarat sahnya umat Islam dalam menunaikan sembahyang. Artinya, mengabaikan urusan ini berpotensi merusak keabsahan shalat secara keseluruhan. Sebagaimana pula mengabaikan menutup aurat masuknya waktu shalat, atau kesucian dari hadats kecil dan besar.

Namun demikian, pertanyaannya adalah apakah istilah “menghadap kiblat” di sini dimaknai menghadap persis ke bangunan fisik Ka’bah (‘ainul ka’bah) atau sekadar arahnya (jihatul ka’bah)?

Haruskah Shalat Menghadap Persis ke Ka’bah? (Sumber Gambar : Nu Online)
Haruskah Shalat Menghadap Persis ke Ka’bah? (Sumber Gambar : Nu Online)

Haruskah Shalat Menghadap Persis ke Ka’bah?

Menghadap persis ke bangunan fisik Ka’bah tentu mudah bagi orang-orang yang berada di Masjidil Haram dan sekitarnya. Tapi tidak demikian bagi orang-orang yang berada di luar Arab Saudi. Butuh pengetahuan khusus atau peralatan tertentu untuk bisa pada kesimpulan telah benar-benar persis menghadap bangunan Ka’bah.

Kecuali Imam Sayfi’i, mayoritas madzhab fiqih berpandangan bahwa umat Islam cukup menghadap arah kiblat (jihah)—tidak harus persis ke bangunan Ka’bah. Namun, ulama dari kalangan madzhab Syafi’i, Abdurrahman Ba’alawi, dalam Bughyah al-Mustarsyidin berpendapat boleh sekadar menghadap arah Ka’bah (jihatul ka’bah) bila seseorang tidak mengetahui tanda-tanda letak geografis persis Ka’bah.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Cukup menghadap arah (Ka’bah ke barat saja, misalnya) adalah saat tidak mengetahui tanda-tanda keberadaan bentuk fisik Ka’bah (a’inul Ka’bah). Orang yang mampu mengetahui Ka’bah bila diandaikan bisa dihasilkan dengan berijtihad, maka ia tidak cukup menghadap arah saja secara pasti (tanpa khilafiyah). Tidak ada yang mendorong ulama yang membolehkan menghadap ke arah Ka’bah melainkan mereka memandang bahwa menghadap Ka’bah dengan berijtihad itu sulit dilakukan. (Abdurrahman Ba’alawi, Bughyah al-Mustarsyidin [Mesir: Musthafa al-Halabi, 1371 H/1952 M)], h. 39-40)

Kesimpulan ini juga pernah dilontarkan dalam keputusan Muktamar ke-9 Nahdlatul Ulama di Banyuwangi pada tahun 1934. Dengan demikian, ada toleransi bagi mereka yang memiliki keterbatasan pengetahuan untuk sampai pada arah persis ke bangunan Ka’bah. Ia cukup menentukan posisi menghadap arah kiblat yang diyakini sambil berniat menghadap kiblat (mustaqbilal qiblati) ketika memulai shalat.

Dalam konteks zaman sekarang, perkembangan teknologi sangat membantu untuk menentukan arah kiblat, bahkan pada titik koordinat keberadaan Ka’bah yang akurat. Berbagai fasilitas seperti GPS, kompas, theodolit, dan sejumlah aplikasi di android seyogianya dimanfaatkan untuk usaha pencarian posisi kiblat yang tepat. Dengan berbagai kemudahan ini, keterbatasan pengetahuan untuk mengetahui posisi Ka’bah bisa diminimalisasi. Wallahu a’lam. (Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ubudiyah, Humor Islam Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 10 Desember 2017

Tarian Soreng Banser Ramaikan Konferwil GP Ansor DIY

Yogyakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Ada yang berbeda pada acara pembukaan Konferwil Ke-XV GP Ansor DIY yang diselenggarakan di Asrama Haji, Ahad (19/2). Di akhir acara pembukaan, para peserta Konferwil disuguhi pertunjukan tarian soreng Banser dari Padepokan Wargo Budoyo Magelang.

Tarian yang dilakukan oleh sekitar 20-an orang terdiri atas orang dewasa, remaja, dan anak-anak itu ikut meramaikan acara pembukaan Konferwil Ke-XV tahun ini.

Tarian Soreng Banser Ramaikan Konferwil GP Ansor DIY (Sumber Gambar : Nu Online)
Tarian Soreng Banser Ramaikan Konferwil GP Ansor DIY (Sumber Gambar : Nu Online)

Tarian Soreng Banser Ramaikan Konferwil GP Ansor DIY

Pimpinan Padepokan Wargo Budoyo Riyadi mengatakan, tarian soreng Banser diciptakan untuk menjelaskan bahwa Banser itu kultural dan merakyat.

“Jadi Banser itu kultural. Kalau di tempat saya, Banser itu bukan hanya milik NU saja, tapi sudah seperti milik orang banyak. Milik semua orang. Kalau ada acara apa saja, pasti Banser datang mengamankan,” tegas Riyadi saat ditemui Pondok Pesantren An-Nur Slawi usai anggotanya tampil di panggung Konferwil.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ia mengatakan, sebagian besar anggota Padepokan Wargo Budoyo merupakan anggota Banser. Padepokan itu didirikan oleh Riyadi pada tahun 2000.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Sejak didirikan, anggota padepokan ini sudah tampil di berbagai daerah, di Jakarta, Lombok, Surabaya dan kampus-kampus. Bahkan di istana juga pernah. Tapi kalau yang tarian soreng Banser ini baru tampil dua kali karena baru dikonsep,” tandas Riyadi. (Nur Rokhim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ubudiyah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 02 Desember 2017

Banser Tangerang Pasang Badan Demi Kebinekaan

Tangerang,Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Ketua Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Tangerang Khoirun Huda mengatkaan, GP Anosr akan selalu pasang badan demi kukuhnya kebinekaan di Indonesia. Ia menyampaikan hal itu pada pembukaan Diklat Terpadu Dasar (DTD) yang? berlangsung di Pondok Pesantren Tarbiyatul Mubtadiin, Ds Pasir Nangka Tigaraksa.

Banser Tangerang Pasang Badan Demi Kebinekaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Tangerang Pasang Badan Demi Kebinekaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Tangerang Pasang Badan Demi Kebinekaan

Menurut Huda GP Ansor dan Banser adalah garda terdepan Nahdlatul Ulama (NU)? yang telah? memberikan andil besar dalam memperjuangkan kemerdekaan dan mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia .

"Kita tidak rela ketika ada pihak-pihak yang ingin memecah belah bangsa karena buat kami NKRI Harga mati," ucapnya melalui siaran pers yang diterima Pondok Pesantren An-Nur Slawi Rabu malam (14/12).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Huda juga menjelasakan bahwa ia melihat dinamika sosial politik akhir-akhir ini cukup panas, ada yang? mencoba memudarkan semangat kebinekaan bangsa. Menurutnya kehinekaan adalah? sunatullah, jadi tidak boleh ada upaya pemaksaan dan apalagi penyeragaman kultur, sosial, budaya atau agama.

Huda menambahkan bahwa dalam Islam dengan sangat jelas disampaikan bahwa Tuhan menciptakan umta manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa adalah untuk saling kenal-mengenal bukan untuk saling mendholimi atau bahkan meniadakan yang lain.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Ketika ada yang mengancam kebhinekaan kita, maka? Ansor dan Banser wajib? tampil di depan demi terjaganya kebhinekaan."

Pelatihan yang berlangsung selama tiga hari tersebut diikuti oleh setidaknya 208 peserta dari berbagai daerah di tangerang. Materi pembelajaran yang disampaikan diantaranya Aswaja dan Keindonesiaan, Deteksi Dini dan Antisipasi gerakan Radikalisme, Gerak Olah Bathin dan materi Proxy War dan Ketahanan Nasional. (Red: Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Halaqoh, Budaya, Ubudiyah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 28 November 2017

Kudeta di Pilpres 2014 Jika SBY Tak Keluarkan Perpu

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Kepercayaan masyarakat terhdap penegakan hukum di Indonsia mulai pudar setelah putusan Mahkamah Konstitusi (MK) dalam judicial review UU Pilpres. MK dituding sebagai penyebab ketidakpastian hukum dalam berpolitik serta merusak tatanan demokrasi.

Kudeta di Pilpres 2014 Jika SBY Tak Keluarkan Perpu (Sumber Gambar : Nu Online)
Kudeta di Pilpres 2014 Jika SBY Tak Keluarkan Perpu (Sumber Gambar : Nu Online)

Kudeta di Pilpres 2014 Jika SBY Tak Keluarkan Perpu

“Lembaga pengadilan tertinggi tersebut disarankan melakukan perombakan total,” ungkap pengamat politik Universitas Indonesia (UI), Arbi Sanit pada diskusi, salah satu rangkaian Harlah PMII ke-54 yang digelar Pengurus Besar PMII, di gedung PBNU, Jakarta, Senin (10/3).

Persoalan lain, tambahnya, adalah pergeseran ikon koalisi dan tidak sehatnya dinamika politik 2014 ini ketimbang pemilu sebelumnya. Partai Demokrat yang sudah hancur lebur koalisinya tentu tidak lagi akan menjadi straegis. Sehingga langkah-langkah yang tidak etis bisa saja dilakukan oleh partai besutan SBY ini.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Guru Besar politik itu juga menerangkan bagaimana Golkar sudah mengintip-intip mencari koalisi termasuk terus berusaha menghancurkan Partai Demokrat. Caranya adalah dengan menghembuskan isu Kasus Bank Century.

"Padahal BLBI jauh lebih banyak, tapi Century yang digembar-gemborkan. Inilah permainan Golkar, termasuk bagaimana Prabowo mengancam dan akan melawan Jokowi. "Baru saja Jokowi mau dicalonkan PDIP, sudah dilawan," ungkapnya, pada diskusi bertema "Mungkinkah Kudeta Konstitusional 2014".

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Arbi juga mengungkapkan sekarang kondisi bangsa dibayangi krisis ekonomi, tidak ada kepastian politik. Menurutnya, kondisi ini sangat berbahaya dan bisa mengarah ke kudeta di Pilpres 2014 nanti.

Pembicara lain Erfandi, mengungkapkan bahwa potensi kudeta di pemilu 2014 kemungkinan akan terjadi karena Mahkamah Konstitusi (MK) pada 23 Januari 2014 telah mencabut pasal 3 ayat 5 UU Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden.

Atas dicabutnya dasar hukum penyelenggaraan pilpres ini, tambah dia, maka berdampak terhadap hilangnya dasar hukum pilpres 2014 karena baru akan diberlakukan di pemilu 2019. Ungkapnya

Tenaga ahli komisi IV DPR RI ini menambhakan bahwa dalam kondisi darurat seperti ini seharusnya SBY selaku presiden harus turun tangan membuat Perpu sebagai langkah strategis dalam mengisi kekosongan hukum.

“Bukan justru mendiamkan persoalan yang menimbulkan ketidakpastian ini. karena ini ibarat api dalam sekam yang tinggal menunggu waktu akan terjadi kebakaran politik di Indonesia.”

Ada tiga kelompok yang berpotensi untuk melakukan kudeta dengan menggunakan kekosongan hukum di pilpres 2014 nanti. Satu adalah kelompok yang kalah dalam Pilres, atau juga bisa dari status quo dalam hal ini Presiden SBY terhadap kelompok yang memenangkan pemilihan presiden nanti.

“Dimana dalam kondisi tidak legitimetnya keberadaan presiden ini maka kemungkinan TNI tidak lagi mematuhi dekrit yang akan dikeluarkan oleh presiden seperti eranya Abdurrahman Wahid,” tutupnya. (Red: Abdullah Alawi)

.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pertandingan, Ubudiyah, Berita,Attijani Pondok Pesantren An-Nur Slawi