Sabtu, 30 Agustus 2014

Final Liga Santri, Mencari Siapa Lebih Sabar dan Disiplin?

Final Liga Santri Nusantara 2016 digelar sore ini di stdion Maguwoharjo Sleman, Yogyakarta Ahad (30/10). Final ini mempertemukan antara kesebelasan Pondok Pesantren Walisongo dari Sragen, Jawa Tengah dan Nur Iman Mlangi, Yogyakarta.?

Dua kesebelasan lolos ke final setelah menjalani pertandingan estafet sejak seminggu lalu. Bahkan Nur Iman sempat bermain dua kali dalam sehari. Laga yang sangat menguras stamina tentunya.

Final Liga Santri, Mencari Siapa Lebih Sabar dan Disiplin? (Sumber Gambar : Nu Online)
Final Liga Santri, Mencari Siapa Lebih Sabar dan Disiplin? (Sumber Gambar : Nu Online)

Final Liga Santri, Mencari Siapa Lebih Sabar dan Disiplin?

Sementara Walisongo kemarin di stadion Sultan Agung, Bantul telah menjalani pertandingan berat melawan finalis tahun kemarin Al-Asy’ariyah dengan skor 1-0.?

Dua tim sama-sama kelelahan.?

Sementara dari materi pemain, kedua tim relatif seimbang. Di lini belakang sama-sama kuat, tengah, dan depan juga memiliki kualitas hampir sama. Cuma bagian belakang Nur Iman pintar menjebak off side penyerang lawan.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Eko Setiawan, pelatih dari Nur Iman menyebut resepnya bertanding di final adalah tidak menghamburkan tenaga yang tidak perlu. Senada dengan Walisongo, manjernya, Mustawa, mengaku strategi permainannya tidak akan berubah dengan permainan sebelumnya. Timnya fokus mengembalikan stamina.?

Siapa yang bersabar menunggu atau menciptakan peluang dan memanfaatkan sebaik-baiknya, dialah yang akan jadi juara. Juga disiplin dan fokus ke permainan.?

Kunci kemenangan Walisongo dari Al-Asya’riyah kemarin adalah mereka disiplin dan sabar. Sementara Nur Iman tampil tergesa. (Abdullah Alawi) ? ?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Quote, Fragmen, Berita Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 21 Agustus 2014

Memasuki Pasar Bebas, Warga NU Diimbau Antisipasi Monopoli oleh Tenaga Asing

Jombang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Meski sudah terhitung sebulan lebih mulai diberlakukannya kesepakatan sistem pasar bebas atau yang biasa disebut dengan istilah MEA (Masyarakat Ekomomi Asean), namun belum ada perubahan yang mencolok terkait perkembangan jumlah tenaga kerja asing di wilayah Kabupaten Jombang.

Memasuki Pasar Bebas, Warga NU Diimbau Antisipasi Monopoli oleh Tenaga Asing (Sumber Gambar : Nu Online)
Memasuki Pasar Bebas, Warga NU Diimbau Antisipasi Monopoli oleh Tenaga Asing (Sumber Gambar : Nu Online)

Memasuki Pasar Bebas, Warga NU Diimbau Antisipasi Monopoli oleh Tenaga Asing

Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Jombang, Heru Widjajanto mengungkapkan, di Jombang saat ini tercatat ada 84 tenaga kerja asing yang tersebar di 14 perusahaan. Dalam catatan Heru, kebanyakan mereka sudah di Jombang sejak tahun 2015 lalu. Namun hingga pada tahun 2016 ini, saat diberlakukannya sistem pasar bebas tersebut, tenaga kerja yang masuk hanya tiga orang. “Pada sektor yang sebelumnya dikhawatirkan banyak pihak tenaga kerja asing, namun semuanya masih berjalan normal,” katanya, Senin (8/2).

Sementara itu, Wakil Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang saat dihubungi menyatakan, meskipun keberadaan tenaga asing masih sangat minim di Jombang, namun warga NU hendaknya bisa mengantisipasi terhadap kekhawatiran adanya monopoli objek pemasaran dan kerjasama yang dibangun oleh tenaga asing nanti.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rijal, sapaan akrabnya menginginkan optimalisasi peran Baitul Mal wat Tamwil Nahdlatul Ulama (BMT NU) Jombang di sejumlah kecamatan segera berdiri sebagai penyeimbang laju perkembangan MEA. “Kita memang sedang menguatkan sisi ekonomi warga nahdliyin di semua kecamatan Kabupaten Jombang melalui pendirian BMT-NU di MWC-MWC, dan insya Allah tahun ini sudah banyak BMT NU yang berdiri,” ujarnya.

Di tempat terpisah, Sekretaris Komisi D DPRD Jombang Miftahul Huda menuturkan bahwa jauh hari sebelumnya, DPRD Jombang telah memastikan kesiapan pemerintah dalam menghadapi imbas diberlakukannya kesepakatan MEA. Program dan penganggaran di masing-masing Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) telah tersingkronisasi untuk mengantisipasi MEA.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Yang jelas Pemkab siap menghadapi MEA dengan menyiapkan langkah-langkahnya melalui SKPD terkait, termasuk penganggaranya. Misalnya, Dana Desa (DD) untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat, penambahan modal terhadap UMKM dengan bunga ringan dan sebagainya,” jelasnya.

Huda menambahkan, sesuai dengan tupoksinya, DPRD akan tetap memantau perkembangan MEA di wilayah Kabupaten Jombang ke depan. “Bila kemudian hari ternyata muncul perubahan situasi, tentu akan ada langkah-langkah yang akan kita rumuskan bersama dengan Pemerintah,” katanya. (Syamsul Arifin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 15 Agustus 2014

Hari Pahlawan, Penonton “Sang Kiai” Membludak

Bojonegoro, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Bertepatan dengan Hari Pahlawan, 10 November 2013, ribuan warga berbondong-bondong ke Islamic Center, Bojonegoro. Mereka ingin melihat cerita perjuangan KH Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama bersama para santri melawan penjajah.

 

Hari Pahlawan, Penonton “Sang Kiai” Membludak (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Pahlawan, Penonton “Sang Kiai” Membludak (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Pahlawan, Penonton “Sang Kiai” Membludak

Mulai pagi, ratusan warga bergerombol di masjid Islamic Center dan depan loket. Mereka para orang tua, dewasa, juga anak-anak dan para siswa.

 

"Memang hari ini sangat meriah, sore dan malam Senin puncaknya," kata Sekretaris Panitia Pemutaran Film Sang Kiai, Ahmad Taufiq.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

 

Magister Komunikasi Universitas DR Soetomo (Unitomo) Surabaya tersebut menambahkan, sejak awal pemutaran seminggu lau, sampai hari ini sudah lebih dari 7 ribuan. Panitia menargetkan hingga penutupan nanti malam 10.000 penonton melihat pemutaran film fenomenal itu.

 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Apalagi, hari ini bertepatan dengan momentum Hari Pahlawan. Nafas film yang menceritakan tentang perjuangan santri untuk merebut kemerdekaan," tambahnya.

 

Sementara itu salah seorang penonton, Muhaimin mengatakan, film Sang Kiai sangat luar biasa. Sehingga, bagi yang belum menonton pasti merugi. Selain setting film perjuangan yang cocok untuk generasi sekarang, juga film baru itu mengingatkan peran santri ketika waktu itu.

 

"Kaum sarungan bukan hanya bisa mengaji, tetapi juga turut merebut kemerdekaan. Hal itu yang perlu diketahui oleh anak-anak ataupun pemuda kekinian," lanjutnya. (Nidhom/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi AlaSantri Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 10 Agustus 2014

Abu Hafsin: NU Sudah Ada Sejak Zaman Wali Songo

Pekalongan, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Secara kelembagaan Nahdlatul Ulama memang lahir pada tahun 1926. Akan tetapi secara kultur sesungguhnya ia ada sejak zaman Wali Songo. Para wali berpaham  Ahlussunah wal Jamaah dan tetap mengakomodasi budaya-budaya lokal.

Meski para ulama Wali Songo terdiri dari para sufi, namun dalam kegiatan ibadah kesehariannya menggunakan metode fiqih sehingga dakwahnya mudah diterima di tengah masyarakat.

Abu Hafsin: NU Sudah Ada Sejak Zaman Wali Songo (Sumber Gambar : Nu Online)
Abu Hafsin: NU Sudah Ada Sejak Zaman Wali Songo (Sumber Gambar : Nu Online)

Abu Hafsin: NU Sudah Ada Sejak Zaman Wali Songo

Hal tersebut dikatakan Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah H Abu Hafsin Umar saat memberikan pengarahan kepada jajaran pengurus baru Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Pekalongan Selatan dan Pekalongan Barat di Gedung Aswaja Pekalongan Ahad (2/2).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dikatakan, amaliyah (perilaku keberagamaan) Wali Songo terus berkembang hingga pada puncaknya, para ulama yang dimotori Hadratus Syekh KH Hasyim Asyari mendeklarasikan nama “Nahdlatul Ulama” sebagai organisasi pada 31 Januari 1926.

"NU secara kultur sesungguhnya telah ada sejak zaman Wali Songo, sehingga Islam yang berkembang saat ini di Indonesia, ya Islam ala Nahdlatul Ulama," ujar Kang Abu, panggilan akrabnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dirinya mengajak kepada segenap jajaran pengurus MWC NU yang baru saja dilantik untuk tidak ragu mengembangkan Islam yang rahmatan lil alamin, karena Islam yang demikian merupakan Islam ala Nahdlatul Ulama yang harus kita pupuk dan sirami agar tetap tumbuh dan berkembang dengan baik.

Sementara itu, Ketua Pengurus Cabang NU (PCNU) Kota Pekalongan H Ahmad Rofiq meminta kepada pengurus baru untuk segera merealisasikan program-programnya dan bersinergi dengan PCNU, khususnya dalam penanganan aset aset NU.

Dikatakan, NU ingin menyelamatkan aset-aset miliknya yang berjumlah cukup banyak dan saat ini masih dikuasai secara perorangan. “Kita tidak ingin terulang kembali aset yang diwakafkan oleh orang NU untuk NU kemudian yang menguasai dan menikmati lembaga/organisasi lain,” ujarnya.

Tentu ini bukan pekerjaan yang mudah, akan tetapi harus dimulai dengan segera, sehingga upaya penyelamatan asset-aset NU di Kota Pekalongan yang saat ini masih dikuasai dan diatasnamakan persorangan bisa kembali ke NU.

Rofiq berpesan, para pengurus harus mengingat betul sumpah dan janji yang baru saja diucapkan. Karena apa yang telah diucapkan merupakan janji untuk berkhidmah di NU selama lima tahun. Menurut dia, pengurus yang tidak menjalankan roda organisasi berarti telah melanggar sumpah atau janji.

Acara yang dirangkai dalam format pelantikan dan raker bersama dihadiri oleh PWNU Jawa Tengah, jajaran PCNU Kota Pekalongan, Ranting NU se-MWC NU Pekalongan Selatan dan Barat, serta tamu undangan dari badan otonom kedua  MWCNU itu. (Abdul Muiz/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pertandingan, AlaNu Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 07 Agustus 2014

Gus Syaikhul: Ketua Baru Harus Jadi Pengayom

Sidoarjo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Wakil Ketua PP GP Ansor, H Syaikhul Islam menyatakan, Kongres GP Ansor XV yang akan diadakan di pondok pesantren Pandanaran, Yogyakarta pada 25-27 November 2015 mendatang, dapat melahirkan sosok pemimpin yang bisa mengayomi seluruh kader Ansor di mana pun berada.

"Ketua GP Ansor harus paham seluk beluk Ansor. Karena periode sekarang merupakan periode emas. Jadi, ketua GP Ansor nanti harus melanjutkan pondasi yang sudah ditanamkan oleh Nusron Wahid dan jangan sampai putus di tengah jalan," tegas Gus Syaikhul sapaan akrab H Syaikhul Islam saat dikonfirmasi via ponselnya, Ahad (8/11).

Gus Syaikhul: Ketua Baru Harus Jadi Pengayom (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Syaikhul: Ketua Baru Harus Jadi Pengayom (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Syaikhul: Ketua Baru Harus Jadi Pengayom

Putra pemangkau pondok pesantren Bumi Sholawat Sidoarjo ini menegaskan, sosok Ketua GP Ansor merupakan sosok pengayom yang bisa diterima semua pihak. Karena Ansor ini majemuk. Dirinya juga meminta kepada ketua terpilih, agar tidak terpengaruh oleh kepentingan tertentu.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Saya berpesan untuk Kongres nanti, tunjukkan bahwa Ansor ini organisasi kader. Sehingga tidak bisa dibeli dan ditunggangi kepentingan tertentu," ucap Gus Syaikhul yang juga anggota DPR RI Komisi VII membidangi energi, sumber daya mineral, ristek dan dikti. (Moh Kholidun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Aswaja, Cerita, Bahtsul Masail Pondok Pesantren An-Nur Slawi