Tampilkan postingan dengan label Kyai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kyai. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Maret 2018

Depati Amir dan Dakwah Islam Ramah di Tanah Pengasingan Kupang

Kupang merupakan wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) yang cukup jauh dari jangkauan sejarah. Jarang sekali kisah-kisah yang dipublikasikan mengenai kondisi apa saja yang terjadi di wilayah tersebut. Pada masa Belanda, yang tampak dari tempat tersebut adalah sebagai tempat pembuangan orang yang dianggapnya sebagai pemberontak.

Dengan kondisi perbedaan budaya dan agama, seakan-akan Belanda memang berencana untuk mengobrak-abrik psikis orang-orang Muslim kriminal yang diasingkan di tempat tersebut.

Depati Amir (1805-1885) merupakan tokoh lokal Muslim dari Bangka Belitung yang memiliki peran besar dalam melakukan resistensi terhadap hegemoni Belanda. Karena pergerakannya yang dianggap membahayakan eksistensi kolonial, ia diasingkan di daerah Air Mata, Kupang.

Depati Amir dan Dakwah Islam Ramah di Tanah Pengasingan Kupang (Sumber Gambar : Nu Online)
Depati Amir dan Dakwah Islam Ramah di Tanah Pengasingan Kupang (Sumber Gambar : Nu Online)

Depati Amir dan Dakwah Islam Ramah di Tanah Pengasingan Kupang

Ketika eksploitasi dan monopoli timah di wilayah Bangka dilakukan oleh Belanda secara besar-besaran, ia menjadi garda terdepan dalam melakukan perlawanan untuk menuntut kesejahteraan rakyat Bangka yang direbut oleh penjajah. 

Ketika strategi perlawanan yang ia lakukan akhirnya dicurigai oleh Belanda, ia pun menjadi buronan yang dianggap menghalang-halangi misi monopolinya. Selama dua tahun ia berjuang, hingga titik yang paling akhir, kekuatannya pun menurun dan perjuangannya pun berakhir di suatu hutan di Mendo Timur pada tahun 1851.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ia ditangkap dan menjadi tawanan pemerintah Belanda. Dengan penangkapan tersebut, ia pun dijatuhi hukuman dengan diasingkan bersama keluarganya ke Kampung Air Mata, Kupang, wilayah yang begitu jauh dari Bangka, yang mana tempat tersebut merupakan tempat pembuangan para pemberontak dalam penilaian Belanda.

Sejak diasingkan ke Kupang, terputuslah hubungannya dengan Pulau Bangka, baik dakwah Islamnya, maupun hubungan dengan kerabat lainnya. Jika di Bangka ia lebih aktif dalam mengangkat senjata, sejak di Kupang ia lebih banyak melakukan kegiatan-kegiatan sosial, seperti pembangunan jalan, renovasi rumah warga, sampai perbaikan jembatan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Bahkan kegiatan-kegiatan kemasyarakatan juga diserahkan kepada penduduknya, sedangkan pemerintah kolonial yang berada di sana hanya mengawasi. Meskipun begitu, masyarakat yang ada di sana adalah bekas para pemberontak, sehingga harus terus diawasi.

 

Kebiasaan Depati Amir yang gemar bergaul dengan orang lain, tidaklah menyulitkanya dalam menghadapi keadaan yang baru ketika diasingkan di Kupang. Apalagi di sana ia berdampingan dengan orang-orang yang bernasib sama. Bersama dengan warga, ia segera melibatkan diri dan melakukan pembangunan di kampung pembuangannya mata air.

 

Ia terus berlibat dalam penanaman nilai-nilai spiritual di kampung tersebut. Tak heran, meskipun di kampung kanan kirinya adalah para pemeluk Katolik, di kampung tersebut justru Islam berkembang dengan baik. Terbangunnya masjid Air Mata menjadi tempat terlaksananya kegiatan-kegiatan keagamaan. (Dien Madjid, dkk, Masa Internir Depati Amir di Kupang 1851-1869)

Ia juga terus membina hubungan baik dengan suku-suku bangsa pribumi yang kebanyakan beragama Katolik, terus menunjukkan bahwa dirinya adalah Muslim dengan prinsip rahmatan lil alamin yang mampu berinteraksi dengan antar suku maupun ras sehingga mampu mewujudkan dakwah Islam ramah di tanah pengasingan. 

Di pengasingannya, ia juga  mendapat kepercayaan pemerintah kolonial dalam melakukan program vaksinasi massal yang diadakan Belanda untuk masyarakat Kupang. Penunjukan ini dilakukan karena kewibawaan Depati Amir terhadap masyarakat supaya tergerak dalam menciptakan kehidupan yang sehat. 

Sebagai orang Melayu, ia juga memperkenalkan kebudayaannya pada masyarakat Air Mata. Budaya tersebut dengan sendirinya berkembang seiring dengan perkembangan Islam di sana. Ditambah lagi banyaknya orang Melayu yang menikah dengan penduduk setempat, sehingga budaya hibrid antar Melayu dan Kupang melalui pernikahan-pernikahan tersebut menimbulkan bentuk budaya yang endemik. 

Hal lain mengenai hubungan dengan antar suku bahkan antar umat beragama, ia membina hubungan baik dengan orang-orang non-Muslim. Dalam catatan Belanda dikemukakan bahwa Depati Amir adalah figur yang memiliki toleransi yang tinggi.

Ia tidak hanya mementingkan segolongan agama semata, namun juga mengajak secara bersama umat agama lain, atau suku bangsa lain dalam upaya berjuang melawan Belanda, seperti kasus sebelumnya ketika ia berjuang bersama para buruh Cina di Bangka melawan pemerintah kolonial. 

Mencermati keadaan yang kini rentan dengan krisis toleransi antargolongan, maka wacana kesejarahan yang bertema memperteguh integritas bangsa berbasis keragaman perlu dihadirkan. Agar masyarakat lebih bijak dalam menghadapi hal-hal yang sebenarnya terus diulang-ulang dari dulu hingga masa sekarang.

Keteladanan Depati Amir dalam memposisikan diri sebagai umat Islam yang toleran, perlu dicontoh agar kita semua terus menjalani kehidupan yang rukun dalam bingkai keberagaman bangsa yang berbeda-beda. Putra dari tokoh bernama Depati Bahrin ini meninggal di tanah pengasingan Kupang pada 1885 dalam usia 80 tahun. (Nuri Farikhatin)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kyai Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 11 Maret 2018

Khutbah Idul Fitri: Tiga Manifestasi Syukur Sambut Hari Kemenangan

Khutbah I

? ? ×9 ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Khutbah Idul Fitri: Tiga Manifestasi Syukur Sambut Hari Kemenangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Khutbah Idul Fitri: Tiga Manifestasi Syukur Sambut Hari Kemenangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Khutbah Idul Fitri: Tiga Manifestasi Syukur Sambut Hari Kemenangan

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ?.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? :

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? : 30)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

? ? ? ?

Di pagi nan cerah ini, di bawah terik sinar matahari dari ufuk timur pada hari pertama bulan syawal ini, marilah kita selalu meningkatkan taqwa kita kepada Allah ta’ala dengan berusaha menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Sidang Idul Fitri hafidhakumullâh,

Setelah kita membakar dosa-dosa selama Ramadhan penuh, kita berpuasa, beribadah malam, tadarus Al-Qur’an, sedekah, zakat, menyantuni yatim-piatu, shalat berjamaah, i’tikaf dan lain sebagainya, tibalah saatnya kita sekarang meraih kemenangan besar, sebuah kemenangan berperang dengan hawa nafsu dan menghajarnya selama satu bulan penuh. Tentu, capaian ini semata karena anugerah dari Allah SWT.

Tidak semua muslimin yang mampu berpuasa lalu mereka diberi pertolongan Allah bisa menjalankan puasa. Tidak semua muslimin yang mampu zakat, lalu mereka diberi taufiq bisa menunaikan zakat, begitu pula shalat jamaah, sedekah dan lain sebagainya. Artinya, bagi siapa saja yang bisa menjalankan ibadah, itu hanya pemberian anugerah Allah SWT. Atas dasar anugerah inilah, di pagi ini kita layak bergembira menyambutnya. Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Katakan wahai Muhammad, dengan anugerah Allah dan rahmatNya, dengan itu, maka bergembiralah. Hal itu lebih baik dari pada apa saja yang telah mereka kumpulkan.

Bergembira di sini tidak boleh diartikan dengan sembarangan. Luapan ekspresi kegembiraan itu harus tidak bertentangan dengan norma syari’at. Kita tidak boleh mengungkapkan kegembiraan dengan pesta miras, bersalaman, bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahram, rekreasi di tempat maksiat, dan lain sebagainya. Namun kita harus mengisinya dengan aneka macam kegiatan positif, seperti mengumandangkan takbir, tahmid, tahlil, silaturahim, bermaaf-maafan, dan lain sebagainya.

Hadirin…

Jika kita kaji secara mendalam tentang rangkaian ayat Al-Qur’an yang mewajibkan puasa di bulan Ramadhan sebagaimana yang telah kita laksanakan, setidaknya menurut Syekh Sulaiman bin Umar dalam kitab Al-Futuhat Al-Ilahiyyah menyebutkan, ada tiga poin yang dapat kita ambil pelajaran, yaitu:

?

1. ? ?

2. ? ? ? ? ?

3. ? ?

Poin Pertama, kalimat ? ?

Alhamdulillah, dengan taufiq dan inayah Allah kita dapat menyelasaikannya dengan baik. Kita sudah berusaha sekuat tenaga. Adapun diterima atau tidak, mari kita serahkan kepada Allah ta’ala. Secara syari’at kita telah berusaha menyelesaikan misi mulia ini dengan komplet.

Poin kedua ? ? ? ? ? ? ? ?

Potongan ayat ini Allah memerintahkan kita semua senantiasa menggemakan takbir seusai puasa Ramadhan dan hal ini telah kita laksanakan semalam. Takbir di sini jangan hanya diartikan terkhusus pada orang yang mengikuti takbir keliling atau yang memakai loadspeaker di masjid-masjid, surau-surau, namun siapa saja dan di mana saja.

Perintah takbir di sini dilanjutkan dengan struktur kalimat berikutnya ? ? ? yang mempunyai arti ? ? ? ? ? maksudnya karena Allah ta’ala memberikan hidayah kepadamu terhadap tanda-tanda agamamu (Islam).

Poin Ketiga,? ?) ? ? ?)

Merupakan sasaran akhir diwajibkannya puasa sebagai bungarampainya yaitu bersyukur ? ? . Menurut ulama ahli bahasa, di mana ada fiil mudlari’ didahului kata ? maka mempunyai tujuan ? berarti syukur kepada Allah hukumnya wajib yang dalam hal ini kita laksanakan dengan membayar zakat fitrah.

Sidang shalat Idul Fitri yang berbahagia,

Sebagai manifestasi rasa syukur kepada Allah, kita perlu mengaplikasikannya dengan tiga rukun syukur sebagai berikut:

1. Syukur bil janan, syukur dengan hati. Merasa berterima kasih atas beragam nikmat besar yang telah kita terima dari Allah ta’ala.

2. Syukur bil lisan, syukur dengan lisan, kita ungkapan kegemberiaan kita dengan mengucap hamdalah, takbir, tahmid dan perkataan-perkataan baik yang lain.

3. Syukur bil arkan, syukur dengan anggota badan, kita tunaikan shalat Idul Fitri, kita buat ibadah badaniyah yang lain, silaturahim, bersedekah dan lain sebagainya.

Jangan kita artikan, untuk mengungkapkan rasa syukur di hari raya harus dengan bentuk menyajikan makanan yang serbalezat, pakaian dan kendaraan yang mewah.

Ada sebuah kisah. Di hari raya seperti ini, dahulu kala, ada masyarakat yang datang sowan ke kediaman amirul mukminin semasa kekhalifahan umawiyah, mereka ingin menyampaikan tahni’ah, ucapan selamat hari raya kepada Umar bin Abdul Aziz. Setelah orang-orang tua pulang, giliran anak-anak remaja masuk ke rumah sang khalifah, di antara mereka yang duduk, justru terdapat putra khalifah yang memakai pakaian yang lama, lusuh, sedangkan tampak kontras tampak pada anak-anak rakyat jelata justru memakai pakaian yang serbabaru.

Tiba-tiba Umar bin Abdul Aziz menangis tersedu-sedu, lalu anaknya datang mendekat. “Ayah, apa gerangan yang membuat engkau menunduk dan menangis begini?”

Umar menyahut, “Tak ada masalah, ananda. Aku hanya kawatir hatimu runtuh karena pakaianmu lusuh, pakaian lama, sedangkan pakaian anak rakyat jelata saja berpakaian yang serbabaru.”

Kemudian dengan sigap, putra Umar menjawab, “Ayah, hati runtuh hanya layak kepada orang yang kenal kepada Allah namun ia mendurhakainya, bermaksiat kepadanya, ia menyakiti hati ibundanya, ia menyakiti hati ayahnya. Adapun bagiku, demi Allah bahwa id hanya dimiliki bagi orang yang taat, patuh atas segala perintah Allah ta’ala”.

Dikatakan,

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

“Hari ini bagi kami adalah hari raya, besok bagi kami adalah hari raya, setiap hari di mana kita tak bermaksiat kepada Allah merupakan hari raya.”

Sidang hari raya yang mulia,

Setelah kita terbebas, kembali fitrah pada hari yang fitri ini, kita masih berhenti pada haqqullah. Baru urusan kita kepada Allah yang beres. Masih ada yang perlu kita perhatikan yang juga tak kalah penting. Yaitu berkaitan dengan haqqul adamiy, hak kepada sesama. Kita sebagai makhluk sosial pasti tak akan luput melakukan dosa kepada sesama, baik secara sengaja atau tak sengaja. Di hari raya ini, di momen penting di mana kita semua yang jauh-jauh semua kumpul pulang, marilah kita gunakan untuk momentum saling bermaaf-maafan dan silaturahim. Sehingga, jika kesempatan ini kita gunakan dengan sebaik-baiknya, maka kita akan terbebas dalam sisi dua arah, arah vertikal kepada Allah ta’ala dan hubungan horizontal kepada sesama manusia.

Mari kita mengingat kembali jasa-jasa ibu-bapak kita yang tak ternilai berapa banyaknya, namun apa balasan kita? Balasan sebesar apapun tak akan bisa menyamai jasa-jasanya kepada kita.

Jika mereka sudah tak lagi ada di dunia, mari kita doakan bersama, Jika mereka masih ada di dunia, di pagi ini mari kita bersimpuh mencium tangan mereka, sungkem kepada mereka. Mari kita akui kekurangan kita di hadapannya, sehingga kita mendapat ridhanya. Dengan ridhanya, kita akan mendapat ridha allah ta’ala.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Ridhanya Allah bergantung pada ridha kedua orang tua, dan benci Allah juga bergantung kepada benci kedua orang tua.”

Mari kita perbaiki hubungan kita kepada saudara, tetangga, handai taulan dan sebagianya.

Ya Allah, kami semua adalah orang yang rapuh, maka kuatkan kami

Tak ada yang bisa menguatkan kami kecuali hanya Engkau Ya Allah, Tuhan kami.

Ya Allah, kami termasuk orang yang selalu berputus asa terhadap rahmat-Mu, berikanlah keyakinan yang tangguh pada hati kami. Tak ada keyakinan sejati kecuali dari-Mu ya Allah.

Ya Allah, kami telah tersesat dari jalan lurus yang Engkau kehendaki, berilah hidayah kepada kami. Tak ada yang dapat memberi petunjuk kepada kami kecuali hanya Engkau ya Allah.

Ya Allah, kami telah tenggelam dalam lautan kemaksiatan, durhaka kepada-Mu, ampunilah kami. Tak ada yang dapat mengampuni kami kecuali hanya Engkau.

Ya Allah, kami telah menyakiti orang tua kami, di pagi ini, kami bersimpuh kepada-Mu Ya Allah, ampuni kami, ampuni dosa kedua orang tua kami, ampuni dosa guru-guru kami, ampuni dosa-dosa saudara kami, ampuni dosa tetangga kami, ampuni dosa putra-putri kami, anak-didik kami, ampuni tamu-tamu yang datang ke rumah kami, ampuni dosa orang yang meminta doa kepada kami.

Jadikan kami dan mereka semua termasuk hamba-Mu yang kembali fitrah, termasuk orang-orang yang beruntung.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ?.

Khutbah II



? ?×5 ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?



Ahmad Mundzir
Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kyai, Halaqoh Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 15 Februari 2018

Gus Yahya: Gus Kelik Itu Nyleneh, Tapi Banyak yang Suka

Yogyakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Katib Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mengucapkan belasungkawa atas wafat Gus Kelik. Menurutnya, yang kehilangan Gus Kelik itu bukan hanya keluarga Krapyak, tetapi juga PBNU. Karena, Gus Kelik adalah salah seorang yang menjaga husnuz zhan banyak orang terhadap NU. Berkat Gus Kelik itu, hingga hari ini banyak orang masih percaya terhadap NU.

Demikian disampaikan Gus dalam acara tahlil sembilan hari wafatnya Gus Kelik di halaman Pesantren Ali Maksum, Krapyak, Yogyakarta, Rabu (10/8) malam.

Gus Yahya: Gus Kelik Itu Nyleneh, Tapi Banyak yang Suka (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Yahya: Gus Kelik Itu Nyleneh, Tapi Banyak yang Suka (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Yahya: Gus Kelik Itu Nyleneh, Tapi Banyak yang Suka

“Ketika Gus Kelik wafat, orang-orang banyak saling berdebat sendiri-sendiri tentang persoalan, Gus Kelik itu wali atau bukan. Ada yang yakin kalau Gus Kelik itu wali. Karena berkat khoriqul adah, tidak seperti orang pada umumnya. Kalau khoriqul adah ya wali. Ada yang bantah lagi, wali kok kayak gitu?” ujar Gus Yahya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kalau Gus Kelik, lanjut Gus Yahya itu sudah tidak saya pikir lagi, entah wali entah tidak. Tidak saya pikir.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Hanya yang saya ingat itu, coba ingat njenengan-njenengan yang bergaul dengan Gus Kelik ketika hidup, kok tidak ada orang yang benci terhadapnya. Itu kok tidak ada. Padahal orang itu, sebaik apa pun itu, di mana-mana ada saja yang benci. Tidak ada orang senyleneh Gus Kelik, tapi banyak yang suka,” ujar Gus Yahya yang disambut gelak tawa para hadirin.

Coba yang hadir ini, lanjut Gus Yahya, bawalah mobil lalu beli bensin setengah liter di penjual eceran. Pasti njenengan dimarah-marahi sama penjualnya.

Lha kalau Gus Kelik ini, nggak itu. Gus Kelik bawa mobil, beli bensin setengah liter di penjual eceran, ya dikasih. Penjualnya juga tidak marah. Itu kejadian benar, di Mangkuyudan,” cerita Gus Yahya yang sekali lagi disambut tawa para hadirin.

Malahan, kata Gus Yahya, yang kelihatan dengan sangat, banyak orang yang suka terhadap Gus Kelik. Lha orang segini banyaknya yang hadir ini, kan pada suka sama Gus Kelik. Ini kelihatan dengan sangat. Maka, saya yakin bahwa Gus Kelik itu bagian dari orang-orang saleh.

“Allah itu sudah janji, kalau ada hambanya yang saleh, maka Ia akan memberikan mahabbah kepadanya. Gus Kelik itu tidak usah mencari-cari cara, otomatis orang-orang itu pada suka. Kalau yang lainnya kan pada tebar pesona semuanya. Ada yang pencitraan. Gus Kelik itu tidak pernah seperti itu. Tidak pernah berpura-pura baik dengan orang itu tidak pernah,” ungkap Gus Yahya.

Apa pernah Gus Kelik itu, lanjut Gus Yahya, membagi-bagikan buku kepada tukang becak? Tidak pernah. Nyisir rambut saja tidak pernah. Lha kayak gitu kok banyak orang yang suka. Ya entah bagaimana, kok bisa suka itu entah bagaimana.

“Kalau dipikir-pikir, sukanya sama Gus Kelik itu apanya juga tidak jelas kok. Tapi kok yang suka dengan Gus Kelik banyak,” tandas Gus Yahya. (Nur Rokhim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kyai, Kiai, Halaqoh Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 13 Februari 2018

Peringatan Imam Syafi’i untuk yang Gemar Copy-Paste di Medsos

Anda pengguna media sosial? Jika iya tentu Anda merasakan betul berbagai kemudahan yang disediakan perangkat dunia maya ini, mulai dari saling mengirim pesan jarak jauh, mempublikasikan tulisan dan foto secara kilat, hingga bertatap wajah dengan orang-orang di lintas negara.

Kemudahan-kemudahan tersebut di satu sisi menggambarkan betapa gampangnya manusia masa kini belajar dan menjalin silaturahim tanpa kendala jarak. Namun di sisi lain bisa menjadi jebakan bagi para penggunanya untuk semakin ringan berbuat mubazir bahkan merusak. Dengan bahasa lain, medsos membuka kemudahan bagi berbuat baik tapi sekaligus juga berbuat buruk.

Peringatan Imam Syafi’i untuk yang Gemar Copy-Paste di Medsos (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringatan Imam Syafi’i untuk yang Gemar Copy-Paste di Medsos (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringatan Imam Syafi’i untuk yang Gemar Copy-Paste di Medsos

Salah satu pemandangan yang dihasilkan media sosial adalah banjirnya informasi hingga pada taraf yang amat liar. Informasi dengan mudah diterima seseorang lalu dibagikan kembali, diterima orang lain lalu didistribusikan lagi, dan seterusnya. Facebook, grup-grup Whatsapp, Twitter, Instagram, BBM, Line, atau sejenisnya pun disesaki pesan berantai yang entah benar atau salah, entah faktual atau bohong. Celakanya bila kabar itu ternyata salah/bohong dan ada pihak yang dirugikan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Fenomena copy-paste atau pendistribusian berita seperti ini pernah disinggung oleh Imam Syafi’i, bapak ushul fiqih dalam ilmu-ilmu keislaman. Ia menyebut kegiatan menyebarkan informasi yang belum diketahui benar-tidaknya sebagai al-kadzib al-khafiy (kebohongan tak terlihat/samar). Sebagaimana tertuang dalam kitab Ar-Risâlah:

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Sesungguhnya kebohongan yang juga dilarang adalah kebohongan tak terlihat, yakni menceritakan kabar dari orang yang tak jelas kejujurannya.”

Dalam Iryadul Ibad ila Sabilir Rasyad, Abdul Aziz al-Malibari yang juga mengutip perkataan Imam Syafii memaparkan redaksi kalimat secara lebih terang:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Di antara jenis kebohongan adalah kebohongan yang samar. Yakni ketika seseorang menyebar informasi dari orang yang tak diketahui apakah ia bohong atau tidak.”

Imam Syafi’i menjelaskan hal itu saat mengomentari hadits hadditsû ‘annî walâ takdzibû ‘alayya (ceritakanlah dariku dan jangan berbohong atasku). Periwayatan hadits bagi Imam Syafi’i tak boleh main-main. Bisa kita analogikan, begitu pula dengan periwayatan atau penyebaran informasi di media sosial. Tak selayaknya seseorang asal copy-paste, retweet, regram, atau share informasi dari orang lain tanpa melakukan terlebih dahulu verifikasi dan klarifikasi (tabayyun).

Disebut “kebohongan samar” karena aktivitas tersebut dilakukan seperti tanpa kesalahan. Karena bukan produsen informasi, melainkan sekadar penyebar, seseorang merasa enjoy saja melakukan copy-paste, apalagi informasi tersebut belum tentu salah atau bohong. Padahal, justru di sinilah tantangan terberatnya. Karena belum jelas bohong atau salah, informasi tersebut juga sekaligus belum jelas kebenaran dan kejujurannya.

Di tengah keraguan semacam itu, pengguna media sosial wajib melakukan cek kebenaran. Jika tidak, pilihan terbaik adalah menyimpan informasi itu untuk diri sendiri, bila tidak ingin jatuh dalam tindakan haram al-kadzib al-khafiy. Kita juga mesti ingat bahwa dunia maya tidak sama dengan dunia imajiner atau khayalan. Media sosial sebagai salah satu unsur dari dunia maya memiliki dampak nyata bagi kehidupan manusia, entah merugikan atau menguntungkan.

Alhasil, jika penyebaran informasi yang meragukan saja bagi Imam Syafi’i masuk katergori bohong (samar), penyebaran informasi palsu (hoax) tentu lebih parah. Orang mesti memikirkan dengan cermat dan memeriksanya secara pasti setiap informasi yang ia peroleh sebelum buru-buru menyebarkannya. Itulah bentuk ikhtiar positif manusia sebelum kelak mempertanggungjawabkan apa pun yang muncul dari anggota badannya, termasuk jari-jarinya. Wallâhu a’lam. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kyai, RMI NU Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 09 Februari 2018

PWNU NTT Amati Pergeseran Nilai Generasi Muda di Era Media Sosial

Kupang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Nusa Tenggara Timur (NTT) Jamal Ahmad menilai dinamika hari ini melalui media sosial. Menurutnya, digital media berdampak pada pergeseran nilai budaya yang sangat signifikan.

"Saya menilai pergeseran etika hari ini dengan adanya digital media yang mempengaruhi sendi-sendi etika pada generasi muda," kata Ketua PWNU NTT Jamal Ahmad di Sekretariat PWNU NTT Jalan W.CH Oematan Nomor 21/22 Kelurahan Kelapa Lima, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang.

PWNU NTT Amati Pergeseran Nilai Generasi Muda di Era Media Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU NTT Amati Pergeseran Nilai Generasi Muda di Era Media Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU NTT Amati Pergeseran Nilai Generasi Muda di Era Media Sosial

Menurut Jamal, pengurus harian PWNU NTT bersama pengurus PCNU akan segera bersikap untuk melakukan langkah-langkah antisipasi dampak negatif era digital media terhadap generasi muda penerus umat dan penerus bangsa.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Wakil Ketua PWNU NTT H Ali Rosidin menambahkan, langkah paling konkret PWNU NTT dan seluruh cabang melakukan gerakan-gerakan untuk memnghidupkan banom dan lembaga-lembaga NU.

"Kita jangan mati suri sehingga kita ambil gaung di luarnya,” katanya.

Jika lembaga atau banom lemah dalam pelaksanaan program-program organisasi, maka segera melakukan koordinasi serta komunikasi seluruh tingkatan banom maupun lembaga, imbau H Ali yang kini diamanahi sebagai imam Masjid Nurul Hidayah Kelapa Lima Kota Kupang. (Ajhar Jowe/Alhafiz K)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kyai Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 19 Januari 2018

Rampak Gendang Meriahkan Konferwil GP Ansor Jawa Barat

Sumedang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Rampak Gendang dari Paguyuban Pasundan ikut memeriahkan kegiatan pembukaan Konferwil GP Ansor Jawa Barat, Selasa (14/5). Para muktamirin yang hadir di Aula Islamic Centre Kabupaten Sumedang nampak antusias menyaksikan penampilan kesenian tradisional Jawa Barat tersebut.

Ketua Pimpinan Wilayah GP Ansor Jawa Barat Hendrik Kurniawan mengatakan, penampilan rampak gendang merupakan bentuk aplikasi dari tema yang diusung dalam Konferwil GP Ansor, Teguh pada Tradisi, Berbakti pada Negeri.

Rampak Gendang Meriahkan Konferwil GP Ansor Jawa Barat (Sumber Gambar : Nu Online)
Rampak Gendang Meriahkan Konferwil GP Ansor Jawa Barat (Sumber Gambar : Nu Online)

Rampak Gendang Meriahkan Konferwil GP Ansor Jawa Barat

Tradisi dalam sebuah bangsa atau negeri ibarat satu sisi mata uang dan sudah menjadi sejarah yang tidak bisa dipisahkan. Rampak gendang mewakili kesenian tradisi yang ada di Jawa Barat. Dalam tradisi itu ada kekompakan, gotong royong, kasih sayang, dan kecintaan. Dari tradisi itulah maka akan muncul semangat untuk membangun negeri. Teguh pada tradisi disini bukan menyoal budaya kedaerahan saja, tapi termasuk juga tentang tradisi keagamaan. Khususnya tradisi ubudiah yang suka dilakukan oleh warga NU.

“Berbakti kepada negeri bagi GP Ansor bukan hanya isapan jempol belaka. Menurut sejarah GP Ansor ikut dalam memperjuangkan kemerdekaan NKRI. Kemerdekaan NKRI ini bagi GP Ansor bukan dikasih, tapi direbut dari para penjajah. Oleh karena itu bagi GP Ansor, NKRI harga mati,” lanjut Hendrik.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

GP Ansor Jawa Barat selama ini mempunyai tiga buah komitmen. Pertama komitmen terhadap Islam Ahlusunnah wal Jamaah, kedua komitmen terhadap Jamiyyah NU, dan ketiga komitmen terhadap NKRI.

“Di tanah air NKRI ini kita bersujud, makan, dan minum. Siapa saja yang akan mengganggu tanah air ini maka GP Ansor siap melawan. Semoga dengan semangat menjaga tradisi, Negeri Indonesia akan semakin kuat. Dan GP Ansor akan terus mengawal dan mengisi keduanya,” tutup Hendrik. (Ayi Abdul Kohar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kyai Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 15 Januari 2018

NU Siap Jadi Garda Terdepan Perangi Radikalisme

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi



Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) siap menjadi garda terdepan dalam mencegah dan memerangi ancaman radikalisme di Indonesia.

NU Siap Jadi Garda Terdepan Perangi Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Siap Jadi Garda Terdepan Perangi Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Siap Jadi Garda Terdepan Perangi Radikalisme

Namun demikian, PBNU juga berharap langkah tegas dan sistematis negara dalam mengajak masyarakat mencegah dan memerangi paham-paham yang mengarah pada tindakan teror dengan mengatasnamakan agama.

Hal itu disampaikan oleh Ketua PBNU Nusron Wahid dalam acara Dialog Deradikalisasi-Bahaya Radikalisme Agama di Indonesia, di Pendopo Bupati Karanganyar,Jawa Tengah, Sabtu.

"Radikalisme adalah persoalan serius. Ini ancaman yang merusak kebangsaan dan mencoreng agama Islam yang seharusnya dipahami dan diamalkan sebagai rahmatan lil alamin," kata Nusron, dalam keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Acara tersebut digelar dalam rangka Silaturahim ulama se-Eks Karesidenan Surakarta serta pelantikan pengurus cabang NU dan GP Ansor Cabang Kabupaten Karanganyar Periode 2015-2020, di Pendopo Bupati Karanganyar.

Menurut Nusron, saat ini generasi muda banyak yang mulai diracuni dengan paham keagamaan yang radikal, dimana mereka berkeyakinan bahwa membunuh adalah bagian dari jihad. Mereka juga sangat merusak kebhinekaan bangsa ini karena begitu mudah mengkafirkan orang-orang yang tidak sepaham atau sealiran.

Oleh karena itu, penting bagi pemerintah membuat langkah tegas dalam mencegah dan memerangi paham radikalisme.

"Sekarang Presiden Jokowi terus menggencarkan upaya deradikalisasi, Menko Polhukam Pak Luhut juga terus menggalang kelompok-kelompok masyarakat agar berperan aktif dalam bahu membahu dan menyampaikan informasi kepada pihak berwenang yang sifatnya menjadi ancaman dan dicurigai bisa mengarah tindakan teror," ungkap mantan ketua umum GP Ansor ini.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Anti-Islam

Dalam kesempatan sama, Wakil Rais ‘Aam KH Miftahul Akhyar mengungkapkan, mereka yang mengatasnamakan Islam tetapi melakukan perusakan dan tindakan teror sejatinya telah berlaku anti-Islam.

Sementara itu, Menko Polhukam Luhut Pandjaitan dalam sambutannya menyatakan, PBNU dan Ansor sebagai kekuatan besar Islam di Indonesia harus terus-menerus mengupayakan bahwa Islam harus menonjolkan perdamaian.

Terkait ancaman terorisme dan paham radikalis seperti ISIS, Luhut menyebut sejumlah tokoh yang patut diwaspadai lantaran terafiliasi gerakan pro negara Islam Irak-Suriah. Tokoh yang dimaksud Luhut adalah pendiri Jamaah Ansharul Tauhid (JAT) Abu Bakar Baasyir dan pendiri Katibah Al Iman, Abu Husna, yang keluar dari penjara Agustus 2015. Namun untuk Baasyir, sekarang lebih condong ke kelompok Al Qaeda.

Mengingat bahayanya ancaman tersebut, Luhut berharap semua pihak ikut mengambil langkah pencegahan teror. Kalau masyarakat, lurah, camat, kepala desa saling memberi informasi, apalagi bekerja sama dengan intelijen, maka aksi radikalisme dan terorisme akan bisa secepatnya dicegah. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Nusantara, Aswaja, Kyai Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 05 Januari 2018

LKNU Pusatkan Pelatihan Kader PHBS di Tiga Pesantren

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pengurus Pusat Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) dalam rangka program pemberdayaan pesantren dan santri sehat melakukan pelatihan kader Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan kader pos kesehatan pesantren (poskestren) di tiga kabupaten/kota yaitu Tasikmalaya, Cianjur dan Kota Depok.  

LKNU Pusatkan Pelatihan Kader PHBS di Tiga Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
LKNU Pusatkan Pelatihan Kader PHBS di Tiga Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

LKNU Pusatkan Pelatihan Kader PHBS di Tiga Pesantren

Pelatihan pertama diselenggarakan di Pesantren Matlabus Sa’adah Cigalontang Tasikmalaya yang berlangsung pada 10–13 Juni 2014, yang kemudian dilanjutkan pada tanggal 17–20 Juni 2014 di Kab. Cianjur (Pesantren Al-Musyarrofah Ciwalen Cianjur), dan pada tanggal 23-26 Juni 2014 di Kota Depok (Pesantren Ar-Ridho Cilodong Kota Depok).

Pada pelatihan kader ini, masing-masing kabupaten/kota diikuti oleh 60 peserta dari 10 pesantren (masing-masing mengutus 6 peserta; 4 santri/santriwati, dan 2 ustadz/ustadzah). 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Di Tasikmalaya, pelatihan ini mendapat respons positif dari PCNU Kab. Tasikmalaya dan memberikan kerjasama yang baik serta dukungan yang kuat terhadap program yang digulirkan dari PP LKNU ini. 

Di Cianjur, sebagai lanjutan dari pelatihan ini, ketua LKNU PCNU Cianjur akan mengadakan lomba Pesantren Bersih dan Sehat. Hal ini diungkap sendiri oleh Ketua LKNU PCNU Cianjur dihadapan para peserta pada sambutan acara penutupan kegiatan pelatihan kader PHBS dan kader poskestren.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Di Kota Depok, pelatihan ini akan ditindaklanjuti oleh Dinkes Kota Depok yang akan bekerjasama dengan LKNU PCNU Kota Depok. Dan sebagai contoh keberadaan poskestren ini, di Kota Depok ditunjuk poskestren percontohannya, yaitu di PP. Qotrunnada Cipayung Depok. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Daerah, Kyai, Aswaja Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 04 Januari 2018

Di Balik Logo Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2017

Oleh Zamzami Almakki

Kebutuhan akan identitas visual hari ini semakin terasa. Tak lagi pada perusahan, produk, lembaga ataupun perseorangan, sebuah gelaran acara tahunan seperti HUT RI pun perlu ditandai dengan rangkaian angka yang bisa dibedakan rupanya pada setiap tahunnya. Begitu pula dengan gelaran acara Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Kongres Besar Nahdlatul Ulama yang akan dilaksanakan pada tanggal 23-25 November 2017 di Lombok.



Di Balik Logo Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Balik Logo Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Balik Logo Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2017

Dari brief yang disampaikan, diketahui bahwa event ini mengusung tema Memperkokoh Nilai Kebangsaan melalui Gerakan Deradikalisasi dan Penguatan Ekonomi Warga? ini akan dihadiri oleh alim ulama serta para pengurus pusat serta wilayah Nahdlatul Ulama.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Persoalan logo merupakan persoalan lampau, Adams dan Morioka (2004) menengarainya semenjak peradaban-peradaban tertua seperti Mesopotamia dan Mesir dalam menandai atau kepemilikan akan sesuatu.?

Dalam perancangan logo Munas Konbes NU 2017 terdapat dua proses dalam pembentukannya. Pada proses awal pembentukan logo, konsep yang diusung adalah letterforms yang metaforis. Ide dasar dalam konsep tersebut adalah ide tentang keberadaan alim ulama. Alim ulama secara umum diartikan sebagai orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya.

Lazimnya, penanda yang berkaitan dengan ilmu adalah buku dan pena, seperti halnya yang redundan bermunculan pada logo lembaga-lembaga pendidikan dan pengajaran. Dalam hal ini, yang dibicarakan bukanlah ilmunya, tapi subyek yang memiliki ilmu, sehingga apabila meminjam cara pikir yang serupa, penanda yang memungkinkan adalah orang yang memegang buku atau tangan yang memegang pena di atas buku.

Namun, logo memiliki kode-kode/aturan yang berbeda dari ilustrasi dan pictogram, seperti halnya yang terjadi pada logo Apple versi pertama yang dibuat oleh Roy Wayne (1975, Newton under his apple tree)? dan ketiadaannya sendok garpu untuk logo restoran, sehingga hal tersebut kecil kemungkinannya menjadi dasar penciptaan logo. Alim ulama atau orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya, seringkali dikiaskan bagaikan penerang atau pelita, karena ilmu disamakan kedudukannya sebagai cahaya (nur).?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Penanda-penanda untuk penerang atau pelita atau benda bercahaya teramat banyak tersedia: dari matahari, bohlam lampu hingga lilin. Namun, sebagaimana yang tertera di konsep yakni letterforms yang metaforis, maka dicarilah huruf yang dapat mereprepresentasikan alim ulama yang berarti penerang atau pelita,? yakni ‘ain yang diserupakan dengan lentera.

‘Ain mewakili alim ulama dan bentuk lentera sebagai kendaraan (vehicle) dalam mengantarkan makna (tenor) orang yang berilmu yang mengamalkan keilmuanya yang seringkali diibaratkan pelita yang menerangi kegelapan. Komposisi logogram yang dihasilkan menghasilkan komposisi simetris dan warna hijau mengguyur seluruh logo, agar menjadi kesatuan (unity) saat disandingkan dengan logo NU yang dibuat oleh KH. Ridwan Abdullah (1884-1962).?



Pada proses kedua dari pembentukan logo, konsep dan perancangan sebelumnya mengalami perkembangan. Berpijak pada hasil diskusi atas hasil perancangan, perlu adanya penambahan konteks yakni ke-Indonesia-an dan tempat berlangsungnya acara. Pada konteks ke-Indonesia-an, merujuk pada perancangan logo Munas Konbes 2012 Cirebon, yakni warna merah putih. Konteks tempat berlangsungnya acara yakni di Lombok ditampilkan tidak melalui penanda yang umumnya digunakan yakni ornamen/ragam hias, melainkan berasal dari julukan Lombok sebagai Pulau Seribu Masjid, sehingga ornamen dapat dijadikan elemen hias pada berbagai aplikasi logo.? ?



Dari proses perancangan yang telah dilakukan, dapat dipetik pelajaran bahwa bentuk apa pun yang muncul dari konsep perancangan, pada akhirnya logo dibagun atas kesepakatan/konvensi. Sebagai sebuah kesepakatan, yang menyapakati bukan hanya antara perancang logo dan pemakai logo dalam hal ini panitia Munas Konbes NU 2017, tapi pada akhirnya juga peserta dan warga Nahdlatul Ulama.

? ?

Perancangan logo Munas Konbes NU 2017 merupakan kesempatan kedua kalinya bagi saya ikut andil dalam event yang dilaksanakan oleh Nahdlatul Ulama. Kesempatan pertama merupakan sayembara desian logo Muktamar ke-33, dan kesempatan kedua ini melalui keberadaan Komunitas Desain Pondok Pesantren An-Nur Slawi atau biasa disingkat KoDe Pondok Pesantren An-Nur Slawi.?

*Penulis adalah santri dan dosen Desain Komunikasi Visual Universitas Multimedai Nusantara; pembuat logo Munas Konbes NU 2017

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kyai Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 01 Januari 2018

PMII Kabupaten Bandung Kerja Bakti Pascabanjir

Bandung, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Bandung menggelar kerja bakti lingkungan di Kampung Cigeban, RT 05 RW 20, Desa Bojongsari, Kecamatan Bojongsoang Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat (10/3).

Bekerja sama dengan komunitas Leweng Sunda, para aktivis PMII membersihkan sisa-sisa akibat banjir yang melanda kawasan tersebut beberapa hari yang lalu. Aksi mereka juga dibantu oleh masyarakat setempat.

PMII Kabupaten Bandung Kerja Bakti Pascabanjir (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Kabupaten Bandung Kerja Bakti Pascabanjir (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Kabupaten Bandung Kerja Bakti Pascabanjir

Berdasarkan informasi dari warga setempat, sekitar 100 rumah di kawasan RW 20, tepatnya RT 4, RT 5, dan RT 3, terkena dampak musibah ini.

Ketua PC PMII Kabupaten Bandung Hamdani Haliman mengatakan, keikutsertaannya dalam bakti sosial tersebut sebagai bentuk peran dan kepedulian kader PMII terhadap masyarakat.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Kerja bakti lingkungan bersama masyarakat merupakan penegasan kembali kader PMII khususnya di wilayah Kabupaten Bandung terutama yang akhir-akhir ini tertimpa banjir, maka di situlah peran kita ikut berpartisipasi kepada masyarakat," ujar Hamdani.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Untuk itu, lanjut Hamdani, ke depan peran PMII Kabupaten Bandung akan konsisten melakukan kerja nyata bersama berbagai elemen komunitas maupun masyarakat di kawasan Kabupaten Bandung.

"Karena ini sesuai dengan semangat gerak kami bersama-sama ikut andil berkontribusi untuk masyarakat," jelasnya.

Sementara, Aam Cakrawala selaku Deputi Lingkungan Komunitas Leweng Sunda mengatakan, sudah menjadi keharusan komunitas yang dibinanya itu ikut andil dalam lingkungan dan kebersihan.

"Fokus kami ke lingkungan dengan ikut andil dalam pemulihan, kebersihan dan penyadaran terhadap masyarakat dengan kerjasama terutama setelah kejadian banjir ini," ujar Aam.

Dengan adanya kegiatan kerja bakti tersebut, lanjut Aam, sebagai penyelamatan serta penyadaran lingkungan di kawasan reboisasi khususnya di Kabupaten Bandung. (Ade Mahmudin/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kyai Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 28 Desember 2017

Jelang Rakernas, Pengurus KMNU Diimbau Kompak dan Siaga

Pringsewu, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Mantan Ketua KMNU Universitas Lampung periode 2016 Ahmad Saroji berharap kepada kepengurusan baru periode 2017 untuk menjaga kekompakan dalam berdakwah di tengah arus modernisasi yang sangat mempengaruhi para generasi muda khususnya para mahasiswa. Ia juga menyatakan kesiapan segenap jajaran panitia Rakernas KMNU 2016 yang akan digelar di Lampung selama 3 hari mulai 1-3 April 2016.

"Kami siap menyambut kedatangan sahabat-sahabat KMNU di Agenda Rakernas 2016 di Bumi Ruwai Jurai Lampung," kata Saroji yang sekarang diamanahi sebagai MPO KMNU Universitas Lampung, Jumat (25/3).

Jelang Rakernas, Pengurus KMNU Diimbau Kompak dan Siaga (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Rakernas, Pengurus KMNU Diimbau Kompak dan Siaga (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Rakernas, Pengurus KMNU Diimbau Kompak dan Siaga

Menurutnya, ladang dakwah sekarang ini sangat luas dan sangat kompleks. "Di sana nanti pasti ada tangisan, hambatan, badai yang akan menerjang."

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dalam menghadapi semua itu, ia berharap para kader muda Mahasiswa NU harus tetap tenang dan selalu menjaga soliditas organisasi. Dalam mengemban dakwah hendaknya menanamkan prinsip untuk tidak menebar kebencian dan tidak mencari musuh dalam berdakwah.

"Tidak ada lawan dalam berdakwah. Lawanmu adalah nafsu dan dirimu sendiri. Jaga kebersamaan," ujar Saroji.

Ia mengajak seluruh pengurus KMNU untuk senantiasa menjunjung tinggi akhlaq masing-masing sekaligus menjadi contoh bagi organisasi dakwah lainnya yang sekarang menjamur di berbagai kampus perguruan tinggi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Selamat berkhidmat untuk umat dan mengabdi pada negeri. Selamat atas dilantiknya Pengurus KMNU 2016," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Fragmen, Kyai Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 26 Desember 2017

Gus Mus Menyindir Dirinya Sendiri

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi?

Mustasyar PBNU KH Ahmad Mustofa Bisri mengingatkan kepada orang yang diikuti banyak orang awam, semestinya berhati-hati bertindak dan berbicara di hadapan publik. Kiai yang akrab disapa Gus Mus itu menyebutkan hal itu adalah sindirian untuk dirinya sendiri.?

Gus Mus Menyindir Dirinya Sendiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus Menyindir Dirinya Sendiri (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus Menyindir Dirinya Sendiri

“Kataku, suatu ketika, menyindir diriku: ‘Mereka yang memiliki potensi dikuti oleh orang banyak (orang awam), sudah semestinya lebih berhati-hati dalam bertindak, termasuk dalam berbicara di hadapan publik’,” ungkapnya melalui akun Facebook pribadinya, Jumat (21/7).?

Status itu, ketika dibuka Pondok Pesantren An-Nur Slawi telah dikomentari sekitar 114 akun lain, 441 dibagikan dan 9 ribu yang menyukai.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Akun Timur Suprabana ? mengomentari status tersebut: eyangKakung Ahmad Mustofa Bisri...mestinya sindiran panjenengan terhadap panjenengan menjadi PERINGATAN halus bagi siapapun... karena siapapun memiliki potensi dikuti oleh orang banyak (orang awam). dan tentu saja juga menjadi PERINGATAN bagi saya... ? maturNuwun... insyaallah TIDAK akan saya lupakan..

Akun Ernawaty mengomentari: Leres sanget, Gusyai.. ini peringatan halus bagi saya pribadi atau siapapun terutama publik figur agar tdk berbicara sembarangan.. Matur nuwun, Gus..

Serta komentar beragam dari akun-akun lain yang mendukung status kiai yang dikenal sebagai pelukis dan penyair kelahiran Rembang, Jawa Tengah tersebut. (Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kajian Islam, Kyai Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 21 Desember 2017

Perkuat Silaturahim, Pelajar NU Desa Mangunsuman “Nobar”

Ponorogo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi 

Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kelurahan Mangunsuman Menggelar nonton bareng (Nobar) di Madrasah Ibtidaiyah Lembaga Pendidikan Ma’arif Mangunsuman Terpadu I Siman, Ponorogo, Jawa Tmur, pada Sabtu  (13/6).

Perkuat Silaturahim, Pelajar NU Desa Mangunsuman “Nobar” (Sumber Gambar : Nu Online)
Perkuat Silaturahim, Pelajar NU Desa Mangunsuman “Nobar” (Sumber Gambar : Nu Online)

Perkuat Silaturahim, Pelajar NU Desa Mangunsuman “Nobar”

Film yang ditonton pada kegiatan yang dikemas dengan buka puasa bersama itu adalah “Tanah Surga Katanya”.

Menurut salah seorang panitia, kegiatan tersebut bertujuan untuk menanamkan jiwa kebangsaan,serta menjalin ukhwah islamiyah dan memepererat jalinan silaturahim antar sesama pengurus dan anggota IPNU IPPNU.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Hadir pada kesempatan tersebut Ketua Pimpinan Anak Cabang IPNU Siman, Andriyan Bimeko dan Ketua PAC IPPNU Siman, Hastin Sulis. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Adriyan mengatakan, sebagai bentuk apresiasi terhadap pergolakan bangsa saat ini, maka kader IPNU dan IPPNU harus berpikir kritis dalam membentengi kader dari faham di luar NU yang sengaja merongrong kesatuan bangsa Indonesia,

“Semoga acara ini dapat merealisasikan tujuan pengkaderan yang di programkan oleh NU,” tuturnya.

Kegiatan tersebut diikuti sekitar 80 pelajar NU. Tampak hadir di tengah-tengah mereka Ketua NU Ranting Mangunsuman H. Nasron G K. 

Redaktur     : Abdullah Alawi 

Kontributor : Alfath Aslihudin

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kyai, Aswaja, Makam Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 19 Desember 2017

Menteri Khofifah Ingatkan Akademisi Tidak Apatis dan Apolitis

Kendari, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengingatkan civitas akademika perguruan tinggi agar tidak bersikap apatis dan apolitis terhadap kondisi bangsa. Sebaliknya, harus turut berpartisipasi penuh sebagai penggerak dan pengawal pembangunan bangsa.?

Hal tersebut disampaikan Khofifah dalam kuliah umum di Insititut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari, Sulawesi Tenggara, Jumat (14/4). Kuliah umum yang mengangkat tema "Urgensi Peran Perguruan Tinggi Islam dalam Menanggulangi Masalah-Masalah Sosial" tersebut diikuti ratusan mahasiswa dan dosen pengajar.?

Menteri Khofifah Ingatkan Akademisi Tidak Apatis dan Apolitis (Sumber Gambar : Nu Online)
Menteri Khofifah Ingatkan Akademisi Tidak Apatis dan Apolitis (Sumber Gambar : Nu Online)

Menteri Khofifah Ingatkan Akademisi Tidak Apatis dan Apolitis

"Kebanyakan civitas akademika utamanya mahasiswa mengambil jarak dengan partai politik, kurang peduli dengan kondisi kekinian bangsa dan eksklusif," ujarnya.?

Menurut Khofifah, saat ini juga ditemukan gaya hidup hedonis dan konsumtif di kalangan mahasiswa. Inilah yang membuat masih adanya sebagian mahasiswa di negeri ini yang kurang progresif, tidak kritis, bahkan ada yang tidak memiliki orientasi jelas, tidak memiliki kepedulian sosial, dan lain sebagainya.?

Padahal, sebagai linkage actor yang memiliki energi besar, mahasiswa harus mampu mengagregasi kepentingan rakyat. Khofifah mengajak mahasiswa agar selain menuntut ilmu dan mendapatkan prestasi akademik setinggi-tingginya juga memiliki peran yang signifikan dalam membangun bangsa ini.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Peduli sosial tidak cukup kalau tidak berbekal ilmu, juga sebaliknya. Jadi keduanya harus berjalan beriringan, karena menangani kemiskinan juga membutuhkan pendekatan multidisiplin ilmu," imbuhnya.?

Sementara itu terkait desa mandiri, Khofifah mengatakan kerjasama yang dilakukan dengan perguruan tinggi diimplementasikan saat mahasiswa melaksanakan kuliah kerja nyata.?

Nantinya mahasiswa melakukan berbagai program kegiatan untuk mengatasi berbagai persoalan sosial kemasyarakatan. Hal ini sangat penting, mengingat mereka tidak sekadar membangun desa dan menjadikannya mandiri namun turut membangun negeri.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Diungkapkan, daya saing desa perlu ditingkatkan, mengingat pasar akan mengalami aliran bebas barang, jasa, investasi dan tenaga kerja terdidik dari dan ke masing-masing negara. Oleh karena itu, peran perguruan tinggi harus ditingkatkan guna mengantisipasi pasar bebas.?

Khofifah mengatakan, mahasiswa bisa ikut membantu pemerintah antara lain melalui kemitraan dengan Kementerian Sosial dalam melakukan penyisiran terhadap masyarakat miskin di desa tempatnya KKN. Dengan demikian, tidak ada masyarakat miskin yang tercecer yang tidak memperoleh bantuan sosial sebagaimana amanat nawacita.

Namun, Ia berharap KKN di satu titik desa bisa dilaksanakan secara terus menerus. Minimal dua sampai tiga tahun hingga desa tersebut menjadi desa mandiri dan berdaya .

Penyisiran secara terus menerus ini, kata dia, akan semakin mempercepat penanganan kemiskinan di daerah tersebut. Khofifah menambahkan desa menjadi sasaran utama karena angka kemiskinan di desa dua kali lipat lebih tinggi daripada di kota. Aksesibilitas terhadap layanan publik pun sangat minim.?

"Prosentase penduduk miskin di desa mencapai 13,96 persen, sementara di Kota hanya 7,73 persen. Artinya jumlah penduduk miskin di desa dua kali lipat lebih banyak," terangnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Tegal, Kyai, Ubudiyah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 09 Desember 2017

Tiongkok Dukung Sikap Myanmar atas Rohingya

Naypyitaw, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Dalam tiga minggu terakhir, krisis kemanusiaan terjadi di negara bagian Rakhine, Myanmar. Berbeda dari sebagian kalangan yang mengecam tindak kekerasan atas etnis Rohingya, pemerintah Tiongkok memilih sepakat dengan apa yang dilakukan Myanmar.

Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi mengatakan, pihaknya memahami dan mendukung upaya Myanmar untuk menjaga stabilitas nasional. Komentar Wang ini dilontarkan di New York dalam sebuah pertemuan dengan Sekjen PBB Antonio Guterres.

Tiongkok Dukung Sikap Myanmar atas Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiongkok Dukung Sikap Myanmar atas Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiongkok Dukung Sikap Myanmar atas Rohingya

Pernyataan ini dirilis secara resmi Kementerian Luar Negeri Tiongkok pada Selasa (18/9), sebagaimana dilansir AP.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Wang menyatakan hal tersebut di tengah lonjakan kekerasan di Myanmar, dengan lebih dari 400 ribu Muslim Rohingya melarikan diri dari desa-desa mereka menuju Bangladesh demi rasa aman. Pemerintah Myanmar melakukan apa yang disebutnya "operasi pembersihan" setelah serangan mematikan gerilyawan Rohingya 25 Agustus lalu.

Tiongkok berharap perang segera berakhir dan berjanji akan mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Bangladesh.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi



Kritik dari Aktivis HAM


Sementara itu pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi membela diri atas berbagai tuduhan miring yang ditujukan kepadanya. Selasa kemarin, ia mengatakan bahwa mayoritas umat Islam masih tinggal di zona konflik dan lebih dari 50 persen desa mereka dalam kondisi utuh.

Dia mengatakan, pemerintah Myanmar sedang bekerja untuk memulihkan keadaan ke situasi normal.



(Baca juga: Suu Kyi Tolak Undangan Sidang PBB soal Rohingya)


Klaim peraih nobel perdamaian ini mengundang kritik dari para aktivis Hak Asasi Manusia internasional. Direktur regional Amnesti International James Gomez menuduh Suu Kyi mencampuradukkan informasi dengan ketidakbenaran. Suu Kyi juga dianggap keliru karena menyalahkan korban.

Bangladesh sebagai negara tetangga Myanmar hingga kini terus kebanjiran pengungsi dari negara berpenduduk mayoritas Buddha tersebut. Tragedi juga sempat memperpanas hubungan diplomatik kedua negara menyusul tuduhan adanya pelanggaran kawasan udara oleh pesawat Myanmar seminggu belakangan. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kyai Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Korban Aksi Terorisme Ini Keluhkan Wartawan dalam Liputan Serangan Bom

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Vivi Normasari, salah satu korban pengeboman Hotel JW Marriott tahun 2003 silam mengeluhkan sikap wartawan. Menurutnya para wartawan seperti tidak punya hati nurani saat korban pengeboman dalam keadaan luka parah dan meminta tolong wartawan hanya sibuk mengambil gambar atau merekam video.

Vivi menceritakan hal tersebut dalam Short Course “Penguatan Perspektif Korban dalam Peliputan Isu Terorisme bagi Insan Media” di Hotel Ibis Budget, Menteng Jakarta Pusat, Rabu (25/5).

Korban Aksi Terorisme Ini Keluhkan Wartawan dalam Liputan Serangan Bom (Sumber Gambar : Nu Online)
Korban Aksi Terorisme Ini Keluhkan Wartawan dalam Liputan Serangan Bom (Sumber Gambar : Nu Online)

Korban Aksi Terorisme Ini Keluhkan Wartawan dalam Liputan Serangan Bom

Diceritakan Vivi, akibat peristiwa JW Marriott, ia menghadapi situasi hilangnya rasa percaya diri. Sebelum pengeboman JW Marriott, ia sedang menyiapkan rencana pernikahannya. Ia juga sebagai karyawan sebuah bank. 

Peristiwa pengeboman Hotel JW Marriott menyebabkan Vivi harus menjalani masa sulit. Vivi mengalami luka di beberapa bagian tubuhnya, rasa takut menghadapi pernikahan, termasuk kehilangan pekerjaan. Vivi pun harus menjalani fisioterapi untuk menyembuhkan luka fisiknya dan memulihkan trauma psikologis melalui Bimbingan dan Konseling.

Luka batin dan trauma yang dialami Vivi akhirnya perlahan mencair. Bersama Aliansi Indonesia Damai (AIDA), kini Vivi menjadi salah satu agen perdamaian yang salah satu kegiatannya mengampanyekan pesan damai ke sekolah-sekolah menengah di Indonesia.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kepada masyarakat, Vivi menyampaikan pesan moral, dampak tragedi bom sangat mengubah kehidupa seseorang; aksi kekerasan di belahan bumi mana pun tidak dapat ditolerir baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kehidupan beragama yang kita anut. 

“Kita hidup tidak sendirian, oleh karena itu kepedulian terhadap sesama menjadi penting,” tandasnya. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi AlaNu, Kyai, Pahlawan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 27 November 2017

Pembangunan Fisik Perlu Diimbangi Pembangunan Mental

Purworejo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Maraknya pembangunan fisik dan infrastruktur yang dewasa ini gencar dilakukan pemerintah, mesti diimbangi dengan pembangunan mental, spiritual, karakter dan moral, agar tak terjadi ketimpangan sosial.

Demikian diungkapkan Pengasuh Pesantren Putri Al-Azhar, Karangsari, Purwodadi KH Mutammimul Masholeh Azhar usai mengisi Pelatihan Fasilitator (LATFAS) Pimpinan Cabang IPNU-PPNU Purworejo, Sabtu (25/3).

Pembangunan Fisik Perlu Diimbangi Pembangunan Mental (Sumber Gambar : Nu Online)
Pembangunan Fisik Perlu Diimbangi Pembangunan Mental (Sumber Gambar : Nu Online)

Pembangunan Fisik Perlu Diimbangi Pembangunan Mental

"Contoh riil, pembangunan bandara di Kulon Progo yang dekat dengan kawasan ini, tentu akan meningkatkan perekonomian masyarakat. Tanah yang sedianya Rp.100.000 per-meter kini ada yang mencapai Rp. 3.000.000. Dan tentu ini akan menggeliatkan ekonomi, budaya, baik dari sektor wisata, kuliner, hiburan, dan pertukaran budaya asing yang tentu tak semuanya positif," terangnya kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Untuk mengimbangi hal itu, kata pria yang akrab disapa Gus Tamim ini, perlu adanya pembinaan moral-keagamaan secara massif oleh tokoh agama dan masyarakat. Jika tidak, nilai-nilai religius-spiritual akan kalah.

Mengikapi hal ini, pihaknya secara pribadi akan melakukan beberapa gerakan riil di tengah masyarakat.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Mohon doanya, Insyaallah dalam waktu dekat kita akan membangun gedung aula untuk pembinaan mental pemuda. Juga, sekolah yang berbasis pesantren (boarding school)," imbuhnya.

Gus Tamim berharap, nantinya lembaga pendidikan dan pembinaan pemuda yang ia bangun dapat menjadi penyeimbang dalam ranah sosial-kemasyarakatan dan keagamaan.

"Sementara, dalam waktu dekat ini kita akan bangun secara mandiri, tanpa bantuan dari pemerintah," pungkas owner At-Tamimi travel, sebuah biro jasa pemberangkatan Haji dan Umroh. (Ahmad Naufa/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ahlussunnah, Tokoh, Kyai Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Haul Gus Dur tak Semata Diperingati

Jombang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Hampir semua orang sepakat bahwa Gus Dur atau KH Abdurrahman Wahid adalah sosok yang layak ditauladani. Tidak semata dalam gagasan, juga dalam tataran perilaku atau tindakan.

Yang mendesak untuk segera dilakukan adalah menampilkan kiprah dan dedikasinya dalam keseharian. Apalagi dalam waktu dekat, Jombang akan menyelenggarakan pemilihan kepala daerah.

Haul Gus Dur tak Semata Diperingati (Sumber Gambar : Nu Online)
Haul Gus Dur tak Semata Diperingati (Sumber Gambar : Nu Online)

Haul Gus Dur tak Semata Diperingati

Ini di antara benang merah yang disampaikan sejumlah narasumber pada kegiatan "Meneguhkan Spirit Perjuangan Gus Dur: Refleksi Kritis Menjelang Transisi Kepemimpinan Jombang" (4/1).?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Acara yang diselenggarakan di kantor PC Lakpesdam NU Jombang ini menghadirkan Ahmad Athoillah (Ketua PC ISNU Jombang), Pendeta Sutrisno (GKI Jombang) serta Aan Anshori (GusDurian Jombang).

Dalam paparannya, Gus Athok -sapaan Ketua PC ISNU Jombang- menmandaskan sebenarnya banyak gagasan Gus Dur yang masih relevan dengan kondisi kekinian.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Yang sangat terasa adalah bagaimana seorang Gus Dur mampu menjadi payung bagi semua golongan," katanya. Sosok dengan komitmen seperti ini yang sangat dibutuhkan sebagai pemimpin masa depan.?

"Mereka yang berkeinginan dan mampu menyapa berbagai lapisan masyarakat, tentu akhirnya dapat dengan mudah menyerap aspirasi masyarakat," lanjutnya. Namun demikian, yang juga penting adalah bagaimana merealisasikan janji-janji dan komitmen politik tersebut manakala telah terpilih sebagai orang pertama di kota santri ini.

Karena sudah jamak terjadi, beberapa pemimpin yang demikian terbuka dengan masyarakat, namun melakukan itu hanya saat masa kampanye.?

"Namun setelah terpilih, sangat jarang yang mau mempertahankan dalam masa kepemimpinannya," katanya prihatin.?

Pada acara yang berlangsung sejak jam 20.00 hingga tengah malam ini, beberapa peserta juga menyampaikan berbagai keprihatinan seputar kesungguhan dan keberpihakan para pemimpin. Yang lebih mengemukan adalah rendahnya komitmen mereka dalam mengayomi dan melindungi masyarakat.?

"Memang tidak mudah mencari pemimpin yang bisa memuaskan semua pihak," kata Pendeta Sutrisno. "Namun diantara yang telah siap untuk maju, pasti akan ada yang lebih baik," lanjutnya.

Karena itu, pada kesempatan ini semua peserta sepakat bahwa momentum memperingati tiga tahun wafatnya Gus Dur, hendaknya tidak semata diperingati. Yang mendesak adalah melakukan penyadaran khususnya kepada diri sendiri terhadap pentingnya sosok yang rela mengayomi dan melindungi kepentingan orang banyak.?

"Tanpa itu, peringatan Gus Dur hanya berhenti pada seremonial tanpa ada pengaruh dalam realita," kata Aan Anshori.

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Saifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Berita, Olahraga, Kyai Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 25 November 2017

9 Pelajaran Berharga dari Mbah Liem

Oleh Ali Mahbub

--Pelajaran-pelajaran KH Muslim Rifa’i Imampuro atau Mbah Liem (alm) yang disampaikan di sini saya kutip dari tulisan yang ada di kalender Yayasan Pondok Pesantren Al muttaqien Pancasila Sakti yang menurut saya sangat-sangat penting dan saya anggap sebuah pelajaran penting dari Mbah Liem.

Saya berharap dan berdo’a semoga saya dan saudara semua pun bisa meneladani pelajaran-pelajaran tersebut, selain dari kutipan tulisan di kalender saya juga menulis pelajaran-pelajaran Mbah Lim dari sumber lain.

9 Pelajaran Berharga dari Mbah Liem (Sumber Gambar : Nu Online)
9 Pelajaran Berharga dari Mbah Liem (Sumber Gambar : Nu Online)

9 Pelajaran Berharga dari Mbah Liem

Mbah Liem dalam cerita para santri baik dari santri 5 atau yang disebut Mbah Lim sebagai Pendowo Limo maupun dari cerita santri senior yang lain seperti? KH Muhaimin Yogyakarta dan dari apa yang sedikit saya saksikan sejak tahun 2008 akhir hingga wafatnya beliau. Mbah Liem memang tidak pernah membacakan sebuah Kitab kepada para santrinya melainkan beliau langsung mengajarkan dengan ilmu hal atau memberi contoh langsung.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ajaran-ajaran Mbah Liem tersebut yaitu:

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

1. “Nguwongke Uwong, Gawe Legane Uwong.” Mbah Liem selalu menghargai dan menerima setiap orang dengan segala potensi dan niat baiknya. Kalau pun kita tidak membutuhkan, mungkin manfa’atnya bisa dirasakan keluarga, tetangga atau msyarakat kita. Contohnya setiap kali ada tamu, baik pejabat maupun tokoh yang lain, Mbah Liem selalu menyambut dengan hangat siapapun orangnya dan Mbah Lim tidak lupa memberikan ruang interaksi untuk mendekatkan pejabat/tokoh dengan masyarakat.

2. “3 T“: Titi – Tatak – Tutuk. Mbah Liem mengajarkan sa’at melaksanakan setiap tugas dalam hidup, haruslah Titi (cermat, teliti dan selektif), Tatak (legowo, sabar), sehingga Tutuk (sampai, selesai dengan hasil yang memuaskan)

3. “3 K “: Kuli – Kiai – Komando. Setiap santri haruslah mampu memerankan diri sebagai Kuli (siap bekerja keras), Kiai (siap mengamalkan ilmu dan berdo’a), Komando (siap menjadi pemimpin yang piwai mengambil keputusan, bijak serta berwibawa)

4. “Kita harus Tegak, Tegas dan Tegar selama benar “? setiap melaksanakan kebenaran kita harus Tegak ( penuh keyakinan, tidak goyah oleh pengaruh apapun), Tegar ( tak kenal kompromi terhadap pelanggaran aturan ), Tegar ( Ikhlas, Sabar )

5. “3 R “: Rampung bangunane – Rame jama’ahe – Rukun masyarakate “. Dalam mendirikan sarana apapun ada 3 hal yang harus diupayakan yakni “ Rampung bangunane “ (bisa terwujud ), Rame jama’ahe ( berfungsi dan dibutuhkan para pemangku kepentingan ), Rukun masyarakate ( menjadi sumber kedamaian dan perekat persatuan )

6. “Aja Mung Benteng Ulama, ning Nahnu Anshorullah, Masyriq-maghrib “ di samping peranya sebagai Benteng Ulama, Banser seharusnya mampu menjalankan peran yang lebih luas di seluruh permukaan bumi, dalam bingkai “ Nahnu Anshorulloh”.

No? 1 – 6 penulis kutip dari kalender.

7.? ? ? “ 3 S “:? Sholat – Sinau – Sungkem. Maksudnya? “ Sholat “ Seorang santri harus tekun beribadah, prihatin dan berdoa.? “ Sinau “ santri harus belajar terus menerus. “ Sungkem “santri harus mempunyai akhlak yang mulia, tau sopan santun, tawadhu’ pada Kyai/Guru.

8.? ? “ 2 B “ Berhasil – Berkah . dalam mencapai cita – cita/usaha? harus mempunyai komitmen yang kuat agar tercapai yang di inginkan,”? Berkah “setiap cita – cita/ usaha harus di mulai dengan niat ibadah(niat baik) agar mendapat keberkahan dari Allah SWT.

No 7 – 8 sumber dari Umi Hasanah Santri pertama MA Al Muttaqien Pancasila Sakti)

9. “ Dadi uwong ki ojo gur mangan terus tapi yo Ngising barang” (Jadi orang itu jangan hanya makan aja tapi ya buang air besar juga). Kita tidak boleh hanya melulu mencari harta terus tapi kita juga harus rajin bersedekah. (sumber dari Umi Hasanah dari Hj Siti Choiriyah putri pertama Mbah Liem.

Selanjutnya saya tulis juga tiga kebiasaan Mbah Liem.

1. Setiap bertemu dengan orang lain, di manapun selalu mendo’akan dengan uluk salam “Assalamu’alaikum!“

2. Dalam perjalanan setiap kali bertemu dengan Makam dan Sungai, beliau selalu membaca Fatehah kepada Ahli kubur dan Fatehah kepada Nabiyullah Khidzir AS.

3. Jika berpapasan dengan Pelajar/Mahasiswa, beliau selalu mendo’akn “Sholeh, Sholehah Penerus”

Selain itu saya mendengar pemaparan pak Haji Danun (santri/sopir mbah Lime) setiap mau berangkat perjalanan silaturrahmi ke manapun Mbah Liem selalu berkata “ niate silaturrahmi, ngubengi RI untuk mendo’akan NKRI Pancasila agar AMD Aman, Makmur, Damai. dan di dalam mobil Mbah Liem selalu mengajak Dzikir, Sholawat di sepanjang perjalanan. ?

Subhanallah semoga kita bisa meneladani ajaran beliau. Alfaatihah....

Ali Mahbub, mengajar bahasa Arab dan ke-NU-an di MA Al Muttaqien Pancasila Sakti

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kyai, News Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 10 November 2017

Pelajar NU Pati Tumbuhkan Semangat Cinta Alam

Pati, Pondok Pesantren An-Nur Slawi?

Puluhan pelajar IPNU Pati dan mahasiswa tergabung dalam Forum Pupupala (Pelajar IPNU-IPPNU Pecinta Alam) Pati mendaki Gunung Slamet, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, baru-baru ini.

Ketua Forum Pupupala Pati, Moh. Syamsul Arifin yang juga sebagai sekretaris PAC GP Ansor Kecamatan Sukolilo, mengatakan kegiatan pendakian Gunung Slamet merupakan cara yang terbaik untuk merenungkan makna kepedulian terhadap lingkungan. Menjaga dan melestarikan alam dengan melihat keindahannya.?

Pelajar NU Pati Tumbuhkan Semangat Cinta Alam (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Pati Tumbuhkan Semangat Cinta Alam (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Pati Tumbuhkan Semangat Cinta Alam

Menurut dia, berada di alam terbuka merasa lebih menyatukan diri dengan alam sekaligus mempererat persaudaraan dengan sesama komunitas pecinta alam lainnya. Termasuk juga dengan komunitas alam beberapa mahasiswa yang ikut dalam pendakian tersebut.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Bagi kami ini yang terbaik untuk menanamkan jiwa kecintaan alam dengan cara menjaga kelestarian alam dan mempererat tali persaudaraan," katanya.

Pendakian yang berlangsung kurang lebih tiga hari itu memberikan kebersamaan dalam menajaga dan melihat keindahan alam. Selanjutnya para pecinta alam melakukan kegiatan "Sapu Gunung" yaitu membersihkan berbagai jenis sampah yang ada di sekitar lokasi bekas kawah Gunung Slamet.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Redaktur ? ? : Abdullah Alawi?

Kontributor : Muhammad Mubarok?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Warta, Makam, Kyai Pondok Pesantren An-Nur Slawi