Sabtu, 30 Desember 2017

Dilantik, PCINU Sudan Langsung Gelar Musyawarah Kerja

Khartoum, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Sudan dan badan otonom Pimpinan Cabang Istimewa Muslimat Nahdlatul Ulama (PCIMNU) Sudan masa khidmah 2017-2018 resmi dilantik pada hari Sabtu (06/05) di aula H. Agus Salim KBRI Khartoum Sudan.

Pembawa acara membuka acara dengan surat Alfatihah, kemudian pembacaan lantunan ayat suci Al-Qur’an dibacakan oleh qori’ Ust. Misbakhul Ula. Dilanjutkan dengan acara menyanyikan lagu Indonesia Raya dan tembang Yalal Wathon yang dipimpin oleh petugas acara yaitu Ust. Muhammad Abdul Malik Mubarok.

Dilantik, PCINU Sudan Langsung Gelar Musyawarah Kerja (Sumber Gambar : Nu Online)
Dilantik, PCINU Sudan Langsung Gelar Musyawarah Kerja (Sumber Gambar : Nu Online)

Dilantik, PCINU Sudan Langsung Gelar Musyawarah Kerja

Selanjutnya prosesi pelantikan pengurus. Pertama, Dewan Syuriyah dilantik oleh Syekh Prof Dr Said Salman (Rektor Holy Quran and Islamic Science University dan Mustasyar PCINU Sudan). Kemudian Jajaran pengurus harian Tanfidziyah dilantik oleh Rais Syuriyah Ust. Ribut Nur Huda. Setelah itu pengurus lembaga dilantik oleh Ketua Tanfidziyah Ust. Muhammad Luqman Hambali. Sedangkan pelantikan badan otonom PCI Muslimat NU Sudan dilantik oleh Ust. Mohammad Rojikhi (Katib PCINU Sudan).

Selanjutnya diteruskan dengan acara serah terima jabatan Rais Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah yang disertai dua orang saksi yang diwakili oleh Dubes dan Rektor Holy Quran and Islamic Science University. Adapun serah terima jabatan Ketua Muslimat disertai dua orang saksi yang diwakili oleh Rais Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah.

Setelah sesi pelantikan ada beberapa sambutan menarik dari tokoh-tokoh, seperti Burhanuddin Badruzzaman selaku Duta Besar RI, Ust. Ribut Nur Huda selaku Rais Syuriyah PCINU Sudan dan Prof Dr Said Salman selaku Mustasyar PCINU Sudan.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Nahdlatul Ulama adalah organisasi masyarakat Islam terbesar di dunia, yang bergerak di berbagai bidang demi kemajuan bangsa dan negara. Kita harus senantiasa berkhidmah dan terus mengawal NU ini demi tercapainya cita-cita negara yang berkemajuan,” ujar Prof Said dengan lantang.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rais Syuriyah dalam sambutannya memberikan semangat dan menanamkan jiwa yang ikhlas dalam berkhidmah. Begitu juga Dubes RI yang mengaku mengapresiasi penuh atas peran Nahdlatul Ulama baik di Sudan maupun di dunia.

Semua rentetan acara berjalan dengan lancar dan ditutup dengan doa oleh H Muhammad Afifullah Rifa’i, untuk kemudian dilanjutkan dengan musyawarah kerja untuk membahas agenda yang akan dijalankan setahun ke depan, yang diikuti oleh seluruh jajaran pengurus PCINU Sudan.?

Musyawarah Kerja

Sidang musyawarah kerja (musker) PCINU Sudan dipimpin langsung oleh Ketua Tanfidziyah dan wakilnya serta sekretaris yang bertugas menjadi notulis. Mulai dari pengurus harian tanfidziyah dan pengurus lembaga-lembaganya mempresentasikan satu per satu program kerja yang dicanangkan untuk satu periode ke depan.

Di periode ini, ditetapkan sistem caturwulan untuk pembagian waktu. Yaitu satu tahun ke depan dibagi menjadi tiga caturwulan dalam melaksanakan program kerja dan dalam setiap empat bulan sekali itu pengurus mengevaluasi dan mempersiapkan program kerjanya untuk ke depannya.

Lakpesdam dengan klub bahasa Arabnya Kaukabul Fushoha masih jalan dalam mengembangkan sumber daya manusia serta tetap menghidupkan kajian-kajian dan bahtsul masa’il khas pondok pesantren serta berinovasi pada kegiatan lainnya.

Lembaga Dakwah tetap istiqomah berdakwah di pengajian Al Hijrah yang bekerja sama dengan KBRI Khartoum dalam membina warga negara Indonesia di Sudan dan menambah kegiatan ziarah ke wali-wali di negeri dua Nil ini.

Lesbumi berencana menghidupkan jiwa seni dan berkarya lewat teater, seni tari, kesenian alat musik dan kesenian islamik lainnya yang dikemas dalam acara-acara menarik dan kreatif budaya Nusantara di tanah Sudan.

Lembaga Kaderisasi akan mengupayakan tingkat kualitas dan kuantitas anggota NU khususnya mahasiswa yang akan datang ke Sudan serta penguatan jati diri Nahdliyin Sudan pada umumnya.

Lembaga Pengkajian Qur’an fokus pada kegiatan warga NU yang hendak menghafalkan Al-Qur’an dan yang telah menghafalkannya serta kegiatan yang mengkaji ilmu-ilmu tentang Al-Qur’an.

LTN juga mencetak hasil karya PCINU Sudan baik itu informasi ataupun ilmu pengetahuan dan mensiarkannya dalam beberapa media. Diantaranya majalah cetak Tathwirul Afkar, majalah dinding, buletin dan beberapa media sosial elektronik. Red: Mukafi Niam?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Nusantara, Hadits, Humor Islam Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Lakpesdam NU Lampung Gelar Workshop Penguatan Kelembagaan

Bandar lampung, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pengurus Wilayah lembaga kajian dan pengembangan sumber daya manusia (Lakpesdam) Nahdlatul Ulama Propinsi Lampung mengadakan workshop penguatan kelembagaan di kantor Dinas Pendidikan Propinsi Lampung, belum lama ini.

Workshop ini bertema "Revitalisasi Peran dan Penguatan Karakter Kelembagaan dan Lakpesdam dalam Rangka Penanggulangan Kemiskinan dan Kelompok Marginal di Propinsi Lampung."

Lakpesdam NU Lampung Gelar Workshop Penguatan Kelembagaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam NU Lampung Gelar Workshop Penguatan Kelembagaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakpesdam NU Lampung Gelar Workshop Penguatan Kelembagaan

Kegiatan ini di buka secara resmi oleh Walikota Bandar Lampung HERMAN H.N. Dalam pengarahanya, walikota berpesan agar NU, dalam hal ini Lakpesdam NU, dapat berkontribusi langsung dalam upaya penanggulangan kemiskinan dengan upaya-upaya pemberdayaan masyarakat sesuai dengan potensi dan kebutuhan masyarakat lapisan bawah.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"NU sudah banyak berperan bahkan sebelum kemerdekaan sehingga melahirkan kader-kader pejuang tidak hanya untuk umat, tapi juga bangsa dan negara kita," ujarnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Walikota juga berharap Lakpesdam NU sebagai lembaga yang berkonsentrasi pada penberdayaan umat dapat secara cerdas dan produktif berupaya mengentaskan kemiskinan dan mampu meningkatkan ketahanan ekonomi warganya.

Acara pembukaan ini juga di hadiri langsung beberapa jajaran Pengurus besar NU, PP Lakpesdam NU, KH Ngaliman Marzuki selaku Pengurus Wilayah NU Propinsi Lampung, anggota DPRD Prov. Lampung serta para peserta workshop dari masing-masing utusan PCNU dan PC Lakpesdam NU se-Provinsi Lampung.

Setelah istirahat siang sekitar pukul 13.00 WIB, acara dilanjutkan dengan diskusi panel, hari pertama dengan narasumber Drs. H. Herman H.N,M.M (Walikota Bandar Lampung), Drs.H.Munzir.A.Syukri, MM (Wk. ket. Komisi III DPRD lampung), Rivan Novendra Salim (Ketum BPD HIPMI lampung) yang mengusung tema: "Penanggulangan kemiskinan dalam Perspektif Pemerintah, Pelaku Usaha dan Ulama."

Workshop yang di hadiri sekitar 50 peserta ini berlangsung hangat dan interaktif karena masing-masing peserta sesuai dengan daerahnya mempresentasikan dinamika NU dan problematikanya dalam sesi dialog dengan para narasumber.

Sementara di hari kedua, workshop menghadirkan sejumlah pemateri, yaitu DR. H. M. Mukri,M.A (Rektor IAIN Raden Intan Bandar Lampung dan mantan ket. GP.Ansor Lampung), K.H. Abrori Akwan (Sesepuh NU lampung/mustasyar PWNU Lampung) dan K.H. Sujadi Saddad yang saat ini menjabat sebagai Bupati Kab.Pringsewu dan masih aktif mengemban amanah sebagai Mustasyar NU di dua kabupaten Pringsewu dan Tanggamus. Ketiga narasumber ini lebih menekankan tentang NU masa Depan dan masa Depan NU.

Sementara Kiai Abror menekankan pentingnya nilai-nilai khidmah dalam melayani umat. "Pengurus Wilayah (NU) harus tahu pojoknya Lampung. Begitu juga pengurus cabang (harus) hapal dan mau blusukan dengan daerahnya sampai ranting," terangnya.

Sedangkan DR. H. M. Mukri, M.A mengungkapkan kebanggaanya karena distribusi kader NU saat ini merata dan hampir masuk di semua lini dan profesi.

"Bahkan Mendiknas kita ini NU tulen Lho, namanya Muhammad NU (M.Nuh, read), ya kan?" candanyanya yang dsambut tawa peserta workshop. 

Sesi terakhir yang dimoderatori DR. M.Syukur, M.Ag, ini makin gayeng dan interaktif saat Bupati pringsewu KH Sujadi Saddad menceritakan suka dukanya saat dulu menjadi aktivis NU, khususnya Lakpesdam NU, yang menurutnya, adalah lembaga penggemblengan agar kader NU tahan banting dalam berkhidmat melayani umat yang tentu saja butuh pengorbanan.

Pihaknya menyampaikan apresiasinya terkait terbitnya media lokal di lingkungan NU yang saat ini baru dari PCNU Pringsewu melalui LTN NU, yaitu Buletin Aswaja.

"Inilah salah satu bentuk pelayanan melalui media informasi untuk Nahdliyyin," katanya seraya menunjukkan ke peserta sebuah bulletin mini dengan dominasi warna hijau.

Workshop selama dua hari ini akhirnya ditutup secara resmi oleh Wakil Walikota Bandar lampung.

Redaktur : Sudarto Murtaufiq

Kontributor : Muhammad Faizin

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Quote Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 29 Desember 2017

Pilih Pakaian Jelang Lebaran? Perhatikan Hal Berikut

Surabaya, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Hal melekat dan tidak dapat dipisahkan dari Ramadhan adalah berbelanja. Termasuk pakaian baru dan makanan untuk persiapan hari raya Idul Fitri. Namun ada sejumlah saran dari perancang busana muslimah ini kepada muslimin dan muslimat saat memilih pakaian untuk hari raya.

Pilih Pakaian Jelang Lebaran? Perhatikan Hal Berikut (Sumber Gambar : Nu Online)
Pilih Pakaian Jelang Lebaran? Perhatikan Hal Berikut (Sumber Gambar : Nu Online)

Pilih Pakaian Jelang Lebaran? Perhatikan Hal Berikut

"Unsur pertama yang tidak dapat ditawar adalah harus menutup aurat," kata Ana Farhasy kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi, Kamis (25/6). Pemilik Majmal Boutique di Malang dan Surabaya ini menandaskan, bahwa hingga kini masih marak pakaian yang terkesan islami namun belum bisa dikategorikan menutup aurat.

Mbak Ana, sapaan akrabnya kemudian memberikan penjelasan soal penggunaan kerudung yang asal-asalan. "Demikian juga pakaian minimalis yang terkadang mempertontonkan sebagian aurat perempuan," terangnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pertimbangan lain yang harus menjadi perhatian adalah  pakaian muslim, khususnya bagi perempuan atau muslimah adalah simpel dan elegan. "Ini juga seperti tagline butik yang kami miliki," katanya sembari berpromosi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Secara rinci, desainer baju muslimah ini menyarankan saat memilih pakaian untuk lebaran agar memastikan bahan yang nyaman dan dingin. "Karena saat lebaran nanti kondisi cuaca diperkirakan panas," terang alumnus pesantren di Bangil, Jawa Timur ini. Hal tersebut, lanjutnya, ditambah dengan mobilitas saat silaturahim ke sanak saudara yang pastinya ada peningkatan cukup tinggi dibanding hari sebelumnya.

Juri sejumlah kegiatan fashion show ini sangat tidak sepakat dengan pandangan bahwa untuk memilih baju lebaran harus mahal. "Modelnya simpel saja tapi tetap nyaman dipandang," terangnya. Bahkan ia menyarankan jangan sampai berpenampilan dengan pakaian glamor, baik dari sisi rancangan dan aksesoris yang dikenakan.

Untuk pilihan warna, pegiat majlis taklim bagi kalangan ibu dan remaja putri ini juga menyarankan memilih yang sejuk. "Hindari warna hitam dan gelap lantaran tidak bisa menyerap keringat," pungkas ibu satu anak ini. (Syaifullah/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Hadits, Pertandingan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Belajar Hakikat Harta dari Tukang Parkir

Seharusnya kita sudah menyadari, bahwa segala sesuatu yang kita miliki hanyalah titipan belaka. Pada hakikatnya kita tak punya apa-apa. Karena, segalanya milik Allah SWT. Jika anda yang saat ini baru menyadari, maka turunkan tensi kesombongan anda perlahan. Karena kesombongan itu penyakit yang berbahaya yang bisa menyebabkan orang “sulit” masuk surga.

Saya tidak akan terlalu dalam membahas masuk surga atau neraka, karena masuk surga atau neraka pada hakikatnya tidak ada yang tahu kecuali Allah SWT. Dan itu merupakan hak prerogatif Allah SWT. Meskipun kita ketahui, garis-garis, jalan agar bisa sampai kepada Tuhan.

Belajar Hakikat Harta dari Tukang Parkir (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar Hakikat Harta dari Tukang Parkir (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar Hakikat Harta dari Tukang Parkir

Hal mendasar yang ingin saya ungkapkan sebenarnya adalah bahwa segala sesuatu yang kita miliki tak lain hanyalah titipan dari Allah. Mobil, motor, jam tangan, HP android itu sebenarnya ujian dan titipan dari Allah SWT. Allah mempercayai kita. Artinya kita sebagai user harus bisa memaksimalkan apa yang telah diberikan oleh Allah.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Coba cermati. Pernahkan anda terkena jerawat? Okey, sekarang jika kulit itu milik anda, aturlah agar wajah anda tidak timbul jerawat. Tentu, kita tidak bisa mengatur. Dari contoh sederhana tersebut tentu kita bisa menyadari bahwa kita tidak bisa menguasai diri kita (dalam segi fisik).

Sebagai analogi yang paling pas untuk menganggap bahwa apa yang telah diberikan oleh Allah SWT adalah titipan, sebagaimana di lakukan oleh tukang parkir. Dalam parkirannya, tukang parkir menerima ratusan motor dan puluhan mobil tergantung luas parkiran. Namun, tukang parkir tidak merasa bangga dan tidak merasa sombong meski di dalam parkirannya terdapat ratusan motor dan mobil. Kenapa? Karena tukang parkir tahu bahwa motor dan mobil yang ada di tempat parkirannya adalah titipan dari orang lain.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Begitulah kiranya kita memandang harta atau segala hal yang kita miliki. Memandang bahwa apa yang di berikan oleh Allah SWT merupakan hanya sebuah titipan. Sehingga kita selalu bersyukur terhadap nikmat yang Allah SWT berikan dan bersabar jika apa yang kita miliki diambil oleh Allah SWT.



Kamas Wahyu Amboro, Mahasiswa Jurusan Tasawuf Psikoterapi UIN SGD Bandung



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Berita Pondok Pesantren An-Nur Slawi

GP Ansor Aceh: SBY Tak Tahu Balas Budi

Banda Aceh, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dinilai tak pandai membalas kebaikan masyarakat Aceh yang sudah memilihnya pada Pemilu Presiden 2009 lalu. Buktinya hingga saat ini, Pemerintah Pusat masih masih menunda-nunda pengesahan sejumlah regulasi yang berhubungan dengan upaya percepatan pembangunan Aceh.

"RPP Migas belum disahkan. Keberadaan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi terjadi tolak-tarik. Begitu juga masalah bendera dan lambang Aceh dibiarkan begitu saja. SBY nggak mau ambil sikap. Ini kan jelas bentuk tidak tahu balas budi," jelas Ketua Gerakan Pemuda Ansor Aceh, Samsul B Ibrahim di Banda Aceh, Ahad (4/8).

GP Ansor Aceh: SBY Tak Tahu Balas Budi (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Aceh: SBY Tak Tahu Balas Budi (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Aceh: SBY Tak Tahu Balas Budi

SBY sambung Samsul memang dikenal sebagai sosok presiden yang tak berani membuat kebijakan cepat. Hanya saja, persoalan pemenuhan hak-hak Aceh sebagai daerah otonomi terkesan diulur-ulur dengan sengaja. Padahal perjanjian damai antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah Pusat sudah dilakukan sejak 2005. Selama delapan tahun itu, Samsul melihat SBY belum melakukan apapun untuk Aceh.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ironisnya, minimnya respon SBY sebagai sosok presiden pilihan warga Aceh pada 2009 kemarin justru menciptakan friksi-friksi sosial di tengah-tengah masyarakat. Ketiadaan RPP Migas merupakan masalah dasar yang menyebabkan mandeknya upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Padahal diyakininya, kontribusi Migas dalam upaya percepatan pembangunan sangat strategis.

Dalam kasus lambang dan bendera Aceh, fenomena yang sama juga ditunjukkan SBY. Secara tidak langsung, SBY mempraktekkan faham divide at impera sehingga masyarakat Aceh terpecah dalam dua kubu.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Ada kubu pendukung bendera dan ada pula kubu penentang. Nah, SBY diam aja dia. Harusnya sadar donk kita di Aceh ini udah berdarah-darah gara-gara bendera. Ya dia kan presidennya. Kalau tolak, ya bilang ditolak. Kalau dukung, ya sahkan aja," pinta Samsul tegas.

Selain mengecam perilaku SBY yang dinilai tak tahu berbalas budi terhadap kebaikan masyarakat Aceh, GP Ansor sebut Samsul juga menyesali keberadaan representasi Aceh baik yang berada di DPR RI maupun di DPD RI. Pihaknya menilai, Anggota DPR RI dan DPD RI yang dipilih melalui Pemilu 2009 lalu tak mampu menyokong agenda-agenda pembangunan yang disuarakan oleh Pemerintah Aceh di Jakarta. Anggota DPR RI dan DPD RI asal Aceh tak memiliki nilai tawar dihadapan presiden.?

Harusnya, anggota DPR RI dan DPD RI asal Aceh bisa menekan Presiden SBY untuk membuat kebijakan yang tepat dan merakyat. "Jangan cuma jual muka di media massa. Harus jelas donk prestasinya untuk masyarakat Aceh. Kalau memang tak punya prestasi, kami minta masyarakat tak lagi memilih mereka dalam Pemilu 2014 ini. Biar aja mereka jadi pengangguran," ungkap Samsul kecewa.

Di lain hal, Samsul menilai Anggota DPR RI asal Aceh yang menaungi Partai Demokrat mestinya bisa mengambil peran yang lebih besar. Mereka harusnya bisa memperjuangkan Aceh baik di internal Demokrat sendiri, di meja legislasi dan anggaran, hingga di meja Presiden SBY sendiri sebagai kepala negara. "Ini mungkin memang dosa kita karena memilih Demokrat dan SBY yang plin-plan setiap tahun. Nasib Aceh memang selalu dibohongi," tukas Samsul menutup pembicaraan.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Hikmah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rektor UIN Yogya: Pelajaran Agama Lahirkan Muslim Pancasilais

Yogyakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi



Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta masa bakti 2016-2020, Yudian Wahyudi, mengatakan, jika mata pelajaran agama dijadikan materi Ujian Nasional, cita-cita melahirkan muslim Pancasilais menjadi niscaya.

Yudian melempar ide tersebut saat menjadi narasumber pada lokakarya Finalisasi Draf Peraturan Menteri Agama (PMA) tentang Penilaian Buku Pendidikan Agama dan Keagamaan (Tadqiq al-Kutub) pada jenjang pendidikan dasar, menengah dan tinggi yang diinisiasi Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi (LKKMO) Balitbang Diklat Kemenag, Ahad (27/8) malam.

Rektor UIN Yogya: Pelajaran Agama Lahirkan Muslim Pancasilais (Sumber Gambar : Nu Online)
Rektor UIN Yogya: Pelajaran Agama Lahirkan Muslim Pancasilais (Sumber Gambar : Nu Online)

Rektor UIN Yogya: Pelajaran Agama Lahirkan Muslim Pancasilais

 

Kegiatan ini dijadwalkan selama tiga hari, Minggu-Selasa, 27-29 Agustus 2017 di Hotel Harper Jl. Pangeran Mangkubumi, Yogyakarta. Acara dibuka resmi Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Abdurrahman Mas’ud, Minggu (27/8) malam.

Menurut Kiai Yudian, setidaknya ada empat ranah yang harus disepakati seluruh pendidik. Pertama, pelajaran akidah dan ibadah diajarkan oleh guru seagama untuk murid seagama. “Itu berlaku bagi enam agama resmi di Indonesia,” tandas Doktor (PhD) lulusan McGill University Kanada ini.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kedua, lanjut dia, pelajaran fiqih muamalah juga diajarkan oleh guru seagama untuk murid seagama. Ketiga, pelajaran agama pada poin pertama dan kedua digunakan untuk membaca aneka kebutuhan nasional.

“Misal, bagaimana Pancasila versi Islam. Bagaimana pula versi Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Contoh lain bagaimana agama-agama ini melihat persoalan mulai narkoba, radikalisme, korupsi, disintegrasi, hingga human trafficking dan HAM,” urai Pengasuh Pesantren Nawesea Yogyakarta ini.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

 

Untuk poin keempat, dosen pertama dari Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang berhasil menembus Harvard Law School di Amerika Serikat ini mencoba menawarkan kebutuhan-kebutuhan nasional yang telah diurai berdasar kaca mata agama tersebut dibaca pakai Pancasila.

“Logika ini mungkin hanya untuk anak SMA atau kampus. Tentu, membacanya dengan segala peraturan turunan mulai UU, Perpres dan lain sebagainya. Jika ini mampu dilakukan, saya kira tentu dahsyat output-nya,” tegas Kiai Yudian.

Lokakarya yang diikuti 50 orang tersebut menghadirkan sejumlah pejabat dan akademisi di lingkungan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, antara lain Rektor Prof KH Yudian Wahyudi PhD, Wakil Rektor I, Wakil Rektor III, Guru Besar Bidang Politik Islam Kontemporer Prof Noorhaidi Hasan PhD, serta para peneliti. (Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi RMI NU, Bahtsul Masail, Sholawat Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Soal Rohingya, MUI Keluarkan Tujuh Maklumat

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi



Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis menilai, apa yang terjadi di Rohingya adalah tragedi kemanusiaan.?

Soal Rohingya, MUI Keluarkan Tujuh Maklumat (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Rohingya, MUI Keluarkan Tujuh Maklumat (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Rohingya, MUI Keluarkan Tujuh Maklumat

Maka dari itu, Ketua Komisi Dakwah MUI tersebut mengeluarkan tujuh tuntutan. Pertama, kembalikan keamanan di daerah Rakhine dan menghormati hak-hak masyarakat terutama penduduk yang beragama Islam.

"Kedua, hentikan segala bentuk tindak kekerasan yang dilakukan oleh pemerintah dan militer Myanmar terhadap penduduk dan umat Islam di Rakhine dan di daerah lainnya di Myanmar," kata Kiai Cholil kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi melalui pesan tertulis, Ahad (3/9).

Ketiga, lindungi seluruh penduduk yang ada di Myanmar dan hak-haknya, baik yang Muslim maupun non-Muslim.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Keempat, berikan akses kepada lembaga kemanusiaan internasional dan dari Indonesia untuk masuk ke wilayah Rakhine guna memberikan bantuan dan pertolongan kepada masyarakat yang telah menjadi korban kekerasan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"(Kelima) Hendaklah PBB melakukan tindakan tegas terhadap aksi brutal dan pelanggaran HAM berat terhadap etnis Rohngya," tegasnya.

Keenam, ASEAN harus melakukan terobosan untuk menyelesaikan krisis di Myanmar. Sehingga perbuatan genosida yang terjadi di sana bisa dihentikan.

"Terakhir, Indonesia segera mengambil tindakan tegas untuk perwakilan Myanmar yang berada di Indonesia (Bubes Myanmar untuk Indonesia) jika (Pemerintah Myanmar) tetap melakukan tindakan kekerasan dan pengusiran terhadap etnis Rohingya," tutupnya. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pesantren, Tegal Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pelajar NU Sidoarjo Gelar Pelatihan Administrasi Organisasi

Sidoarjo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Sidoarjo menggelar pelatihan administrasi dan peluncuran website di SMP Negeri 2 Sidoarjo, Ahad (29/11). Sedikitnya 80 peserta dari 18 PAC IPNU-IPPNU dan 2 komisariat peguruan tinggi IPNU-IPPNU se-Sidoarjo diberikan materi tentang cara menulis surat yang benar.

Pelajar NU Sidoarjo Gelar Pelatihan Administrasi Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Sidoarjo Gelar Pelatihan Administrasi Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Sidoarjo Gelar Pelatihan Administrasi Organisasi

"Peserta kami berikan materi surat menyurat dan mekanisme pengajuan surat pengesahan yang disampaikan oleh sekretaris IPNU-IPPNU Sidoarjo Choirudin Abdillah serta Nella Ismalinda. Pelatihan ini untuk meningkatkan kualitas organisasi agar tertib administrasi, mengikuti perkembengan zaman serta melek IT," kata Ketua IPNU Sidoarjo M Syaikhul Maarif.

Menurut Maarif, selama ini PAC maupun PKPT jika membuat surat sudah benar. Memang ada sedikit yang masih kurang tapi tinggal dibenahi. Dengan diadakannya pelatihan administritasi ini untuk meningkatkan kualitas organisasi agar tertib administrasi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Pelatihan ini sekaligus meluncurkan website. Setiap PAC dari 18 kecamatan dan 2 PKPT IPNU-IPPNU se-Sidoarjo kami buatkan website secara gratis. Hal ini untuk memantau dan memberikan informasi yang akan dibagi di website tersebut," ucap Maarif.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

M Andri Irawan salah satu peserta dari PAC IPNU Krian mengaku sangat senang bisa mengikuti kegiatan tersebut. Andri mengatakan, pelatihan itu sangat bagus karena secara administrasi bisa tertib.

"Sebelum ada pelatihan ini kami masih sering salah dalam membuat surat seperti kop surat, nomor surat dan lain-lain. Ilmu yang kami dapat ini nantinya akan kami sampaikan ke tingkat ranting," tegas Andri. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Doa Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 28 Desember 2017

Khofifah: Seabad Muslimat NU Siapkan Desa Aswaja

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi?



Hj. Khofifah Indar Parawansa mengatkan, hasil Kongres ke-17 di Asrama haji Pondok Gede, Jakarta, Muslimat NU menjelng usi seabad tengah menyiapkan rencana besar yaitu menciptakan Desa Aswaja di Indonesia.?

Khofifah: Seabad Muslimat NU Siapkan Desa Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah: Seabad Muslimat NU Siapkan Desa Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah: Seabad Muslimat NU Siapkan Desa Aswaja

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat NU terpilih periode 2016-2021 tersebut menjelaskan, anggota-anggota Muslimat NU di wiayah masing-masing, melalui Desa Aswaja mendorong terciptanya warga yang memiliki toleransi dalam keberagaman, bersifat moderat membangun keseimbangan, terciptanta rasa keadilan.?

Grand desain tersebut, kata Mensos RI itu pada pidato penutupan Kongres Sabtu (26/11), secara detail telah menjadi bagian keputusan dari Kongres Muslimat NU yang harus dijalankan kepengurusan yang akan datang.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Di Komisi Rekomendasi, Kongres juga mengamanatkan terlarangnya ujaran kebencian di publik. Sementara di Komisi Bahtsul Masail mengharamkan tindakan lesbian, gay, biseksual, trensgender (LGBT).?

“Selamat kembali masing-masing kepada seluruh Pimpinan Anak Cabang, ke Pimpinan Anak Ranting, siap, Bu?” tanya Khofifah. Ribuan pengurus Muslimat se-indonesia dan beberapa cabang luar negeri serentak menjawab siap.?

Menurut Khofifah, Muslimat NU besar karena anak Ranting, Anak Cabang, serta keterampilan manajemen Pimpinan Cabang dan Pimpinan Wilayah.?

Hadir pada penutupan tersebut Wakil Presiden RI H Jusuf Kalla, Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin, dan lain-lain. (Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Sejarah, Hadits Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jelang Rakernas, Pengurus KMNU Diimbau Kompak dan Siaga

Pringsewu, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Mantan Ketua KMNU Universitas Lampung periode 2016 Ahmad Saroji berharap kepada kepengurusan baru periode 2017 untuk menjaga kekompakan dalam berdakwah di tengah arus modernisasi yang sangat mempengaruhi para generasi muda khususnya para mahasiswa. Ia juga menyatakan kesiapan segenap jajaran panitia Rakernas KMNU 2016 yang akan digelar di Lampung selama 3 hari mulai 1-3 April 2016.

"Kami siap menyambut kedatangan sahabat-sahabat KMNU di Agenda Rakernas 2016 di Bumi Ruwai Jurai Lampung," kata Saroji yang sekarang diamanahi sebagai MPO KMNU Universitas Lampung, Jumat (25/3).

Jelang Rakernas, Pengurus KMNU Diimbau Kompak dan Siaga (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Rakernas, Pengurus KMNU Diimbau Kompak dan Siaga (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Rakernas, Pengurus KMNU Diimbau Kompak dan Siaga

Menurutnya, ladang dakwah sekarang ini sangat luas dan sangat kompleks. "Di sana nanti pasti ada tangisan, hambatan, badai yang akan menerjang."

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dalam menghadapi semua itu, ia berharap para kader muda Mahasiswa NU harus tetap tenang dan selalu menjaga soliditas organisasi. Dalam mengemban dakwah hendaknya menanamkan prinsip untuk tidak menebar kebencian dan tidak mencari musuh dalam berdakwah.

"Tidak ada lawan dalam berdakwah. Lawanmu adalah nafsu dan dirimu sendiri. Jaga kebersamaan," ujar Saroji.

Ia mengajak seluruh pengurus KMNU untuk senantiasa menjunjung tinggi akhlaq masing-masing sekaligus menjadi contoh bagi organisasi dakwah lainnya yang sekarang menjamur di berbagai kampus perguruan tinggi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Selamat berkhidmat untuk umat dan mengabdi pada negeri. Selamat atas dilantiknya Pengurus KMNU 2016," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Fragmen, Kyai Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 27 Desember 2017

Kisah Wallaili Wannahar Ditulis dalam Hitungan Hari

Yogyakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Novel Layla karya Candra Malik dibedah di Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum Yogyakarta, Ahad (7/5). Selain penulis, hadir sebagai pembicara Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia – New Zealand, Nadirsyah Hosen dan Rektor UNU Yogyakarta, Purwo Santoso.

Candra Malik mengaku menyelesaikan naskah novel ini hanya dalam waktu empat hari dan berbekal hp android. Lebih lanjut ia menjelaskan lahirnya novel ini merupakan ikhtiar untuk mengajak kalangan pesantren untuk menulis sastra. “Saat ini dunia pesantren mulai krisis sastrawan,” kata Wakil Ketua Lesbumi PBNU ini.

Kisah Wallaili Wannahar Ditulis dalam Hitungan Hari (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Wallaili Wannahar Ditulis dalam Hitungan Hari (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Wallaili Wannahar Ditulis dalam Hitungan Hari

Novel Layla menceritakan kisah hidup Wallaili Wannahar yang berubah ketika diterima sebagai murid oleh Abah Suradira, seorang mursyid yang mengajarkannya ilmu tasawuf. Di tengah-tengah proses belajarnya, Lail menghadapi dilema. Lail  jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Layla.“Seseorang akan diuji pada titik kekuatannya paling tinggi. Titik kekuatan Lail adalah cinta. Disini Allah menguji Lail dalam bentuk perempuan bernama Layla. Kemudian Lail pun menjadi limbung.“ papar Gus Nadir.

Novel ini menawarkan kisah cinta yang tidak biasa. “Ketika membaca novel tersebut, seperti silih berganti membaca antara sajak dan puisi, ada kenikmatan tersendiri yang saya rasakan. Gus candra, berani keluar dari zona nyaman. Ngajinya beliau dalam hal sufisme dikomunikasikan keluar dalam bentuk sastra. Sastra itu mengasah budi, Tasawuf juga mengasah budi,” kata Purwo menyampaikan salah satu keunggulan novel Layla.

Bedah buku yang berlangsung cukup lama ini diikuti oleh sekitar 500 peserta dari berbagai kalangan pesantren, pemerhati budaya dan masyarakat umum. Bedah buku ini berlangsung cukup meriah diselingi dengan guyonan sehingga diskusi berlangsung dengan menarik. Acara yang diprakarsai oleh PP. Ali Maksum Krapyak bekerjasama dengan penerbit Bentang ini juga membagikan beberapa buku secara gratis. (Zulfa/Zunus)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Tegal, Pendidikan, Kajian Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Iran Haramkan Chatting Cowok-Cewek bukan Muhrim

London, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pemimpin keagamaan Iran mengharamkan chatting online antara laki-laki dan perempuan yang tidak punya hubungan keluarga.

Iran Haramkan Chatting Cowok-Cewek bukan Muhrim (Sumber Gambar : Nu Online)
Iran Haramkan Chatting Cowok-Cewek bukan Muhrim (Sumber Gambar : Nu Online)

Iran Haramkan Chatting Cowok-Cewek bukan Muhrim

Ayatollah Ali Khamenei lewat situsnya menerbitkan fatwa larangan chatting online tersebut.

Khamenei juga menyebut chating online sebagai kelakuan tidak bermoral.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Fatwa tersebut diterbitkan menyusul larangan penggunaan WeChat, aplikasi di smartphone untuk berkirim pesan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Facebook dan Twitter serta jejaring lainnya sudah dilarang di Iran.

Khamenei ditanya tentang chatting online antar lelaki dan perempuan dan dia menjawab sebagaimana dikutip Dailymail:  "Mengingat perilaku tak bermoral yang sering terjadi, maka hal tersebut tidak diperbolehkan."

Di sisi lain, meskipun ada larangan, banyak pejabat Teheran memiliki akun baik Facebook maupun Twitter.

Salah satunya adalah Presiden Hassan Rowhani yang memiliki 163 ribu follower di Twitter.

Banyak warga Iran "mengakali" larangan itu dengan menggunakan proxy server agar tetap bisa mengakses jejaring sosial. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pahlawan, Kiai, Internasional Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Fatayat NU harus Mampu Membawa Diri

Brebes, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Keberadaan Fatayat NU harus mampu membawa diri, jangan sampai di bawa ke sesuatu yang bersifat sementara. Artinya, bersikap netral dalam sikap politik ataupun pengabdian pada masyarakat. Tidak di bawa-bawa ke mana yang disukai oleh pemimpinnya, sehingga akan menjadi organisasi yang bermartabat dengan pelayanan yang prima dan tidak memihak.

“Mengelola Fatayat itu, harus dengan sinar keikhlasan dengan mampu mambawa diri,” demikian pesan Ketua Pemimpin Wilayah (PW) bidang Pendidikan dan Pengkaderan Fatayat NU Jawa Tengah  Hj Muta’alimah saat membuka Konferensi Cabang (Konfercab) Fatayat NU Brebes di Hotel Dedy Jaya Brebes, Ahad (16/12).

Fatayat NU harus Mampu Membawa Diri (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU harus Mampu Membawa Diri (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU harus Mampu Membawa Diri

Tidak berarti, kata Muta’alimah, Fatayat menghindar dari berbagai partai politik tetapi justru harus mampu bekerja sama. Kader-kader Fatayat bertebaran diberbagai partai politik juga menempati posisi pekerjaan diberbagai sektor. Sehingga kerjasama antar lembaga harus terus dibangun sesuai dengan koridor dan tidak melenceng dari Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Kerja sama itu bukan kenikmatan yang di bagi bersama-sama, tetapi membangun sinergi untuk menggolkan visi dan misi organisasi,” terangnya.

Selain itu, lanjutnya, untuk mengelola Fatayat harus dipegang oleh orang-orang yang memiliki kompetensi dalam berorganisasi. Sebab berorganisasi itu memerlukan sentuhan tangan-tangan trampil yang ikhlas dan rela berkorban. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Yang lebih utama, Muta’alimah menambahkan, dalam kiprahnya Fatayat harus berpegang teguh membantu NU dalam pengembangan Islam ahlussunah wal jamaah. Dengan tetap menjaga keutuhan NKRI. 

“Kita harus waspada dengan aliran-aliran Islam di Indonesia yang melenceng dari ajaran ahlussunah wal jamaah dan berupaya memporakporandakan NKRI,” tandasnya.

Untuk itu, kuantitas keanggatoaan Fatayat diupayakan dengan peningkatan kualitas keanggotaanya pula. “Kami bersyukur, ternyata anggota Fatayat tidak ketinggalan dalam pengetahuan dalam berbagai disiplin ilmu,” pungkasnya.

Sejalan dengan itu, Ketua Pengurus Cabang (PC) NU Brebes H Athoillah meminta kepada Fatayat jangan seperti tukang parkir. Artinya, tidak merasa memiliki tetapi hanya merasa dititipi. Sebab kalau hanya merasa dititipi maka pengelolaannyapun tidak maksimal. 

“Merawat Fatayat itu harus dengan niatan, Fatayat itu hak milik sehingga di rawat dengan temen (sepenuh hati, red),” ajak Athoillah.

Termasuk, dengan merawat NU berarti menjalin kemitraan dengan pemerintah di daerahnya. “Tidak ada alasan, untuk tidak mendukung pemerintahan di daerah,” tegas Athoillah.  

Hanya saja, lanjut Atho, Fatayat harus mampu menjaga diri agar tidak terserang penyakit kurap (kurang disiplin), kudis (kurang disiplin) dan kutil (kurang terapkan ilmu). Semua penyakit itu, bersumber dari kuman (kurang iman). “Kalau sudah kurang iman, maka akan mudah tergoyahkan keteguhannya mempertahankan islam ahlussunah wal jamaah,” kata Athoillah mengingatkan.

Konferensi Cabang dibuka Bupati Brebes Hj Idza Priyanti. Dalam sambutannya mampu memberi kontribusi terhadap pemerintahan. Termasuk didalamnya menangani bidang pendidikan, kesehatan dan perekonomian kerakyatan. 

Ketua panitia penyelenggara Amaliyah menerangkan, kegiatan konfercab diikuti oleh 288 dari 16 Pimpinan Anak Cabang (PAC) dan Pimpinan Ranting (PR) se Kabupaten Brebes. “PAC Banjarharjo, tidak mengirimkan delegasinya tanpa alasan yang jelas,” kata Amaliyah. 

Redaktur     : Mukafi Niam

Kontributor: Wasdiun

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi RMI NU Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 26 Desember 2017

Sinoman, Sumber Dana Organisasi IPNU-IPPNU Karangmalang

Kudus, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Cara kreatif dilakukan para aktivis IPNU-IPPNU desa Karangmalang kecamatan Gebog, Kudus dalam mencari sumber dana organisasi. Mereka membentuk kelompok pramusaji, tenaga sinoman yang bertugas membantu penerima tamu maupun penyaji makanan dalam sebuah resepsi pernikahan.

Menurut koordinator sinoman Ahmad Zaki Mubarok, tenaga sinoman ini menjadi kegiatan sampingan para aktivis IPNU-IPPNU guna membantu masyarakat yang membutuhkan tenaga saat resepsi pernikahan ataupun ngunduh mantu.

Sinoman, Sumber Dana Organisasi IPNU-IPPNU Karangmalang (Sumber Gambar : Nu Online)
Sinoman, Sumber Dana Organisasi IPNU-IPPNU Karangmalang (Sumber Gambar : Nu Online)

Sinoman, Sumber Dana Organisasi IPNU-IPPNU Karangmalang

“Di samping mendekatkan IPNU-IPPNU dengan masyarakat, kegiatan ini alternatif bagi sumber pembiayaan organisasi karena akan masuk ke dalam kas,” katanya kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi, Sabtu (5/4).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kelompok sinoman ini, kata Zaki, berdiri sejak 2006 dengan jumlah anggota sekitar 20 orang. Awal mulanya, IPNU-IPPNU ingin mencari sumber dana mandiri organisasi tanpa ketergantungan kepada pihak lain.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Semula ingin membentuk event organizer namun kemampuan belum memungkinkan. Akhirnya, kita membentuk tenaga sinoman pernikahan,” kata Zaki, mahasiswa Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara.

Setiap diundang menjadi sinoman, IPNU-IPPNU memperoleh kas yang beragam berkisar  Rp 350.000-800.000 tergantung bentuk perhelatannya. “Uang hasil sinoman dibagi untuk personil yang ikut bertugas. Sisanya untuk kas organisasi termasuk untuk kebutuhan program bimbel anak-anak di desa tersebut,” imbuh Zaki.

“Jadi selain untuk organisasi, juga bermanfaat untuk masyarakat,” tutur Zaki. (Qomarul Adib/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Santri, News Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Buntet Pesantren, Berjuang untuk NKRI

Buntet, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Menag Lukman Hakim Saifuddin memandang kontribusi Pondok Buntet Pesantren bagi kemajuan Negera Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sangat besar. Hal ini disampaikan Menag saat memberikan sambutan pada Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren, Cirebon, Sabtu (09/04) malam.

Dari Buntet Pesantren, Berjuang untuk NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Dari Buntet Pesantren, Berjuang untuk NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Dari Buntet Pesantren, Berjuang untuk NKRI

Menurutnya, Pondok Buntet Pesantren dirintis oleh Kiai Muqoyyim bin Abdul Hadi, yang lebih dikenal dengan Mbah Muqayyim, pada tahun 1750 M. Karena kepeduliannya yang sangat tinggi terhadap masyarakat dan pondok pesantren, beliau rela meninggalkan jabatannya sebagai “mufti” di Kesultanan Kanoman Cirebon. ?

“Meninggalkan jabatan terhormat demi merintis pondok pesantren merupakan keputusan yang tidak semua orang mampu melakukannya. Subhanallah,” puji Menag seperti dikutip dari laman kemenag.go.id.

Dari pesantren Buntet ini juga, lahir sosok Kiai Muta’ad, Kiai Anwaruddin Kriyani yang lebih dikenal Ki Buyut Kriyan, Kiai Jamil, dan Kiai Abbas. Nama terakhir dikenal sebagai ? ulama yang berpandangan luas. Bersama Kiai Anas dan Kiai Akyas, Kiai Abbas mengembangkan Tarekat Tijaniyah dan mengantarkan ? Pesantren Buntet sebagai “kekuatan politis-tradisional” yang berkontribusi konkret dalam pembangunan bangsa.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kontribusi pendidikan Kiai Abbas bahkan tidak hanya di Tanah Air, tapi juga di Tanah Suci. Sembari nyantri, Kiai Abbas juga ikut mengajar di Makkah. Bahkan, dalam pandangan Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ary, Kiai Abbas memiliki banyak kelebihan.?

Sebagai pejuang bangsa, Kiai Abbas juga berkontribusi besar dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Ia adalah pimpinan rombongan pejuang Cirebon yang berangkat menuju Surabaya. Ketika Bung Tomo datang berkonsultasi kepada Hadratus Syaikh untuk meminta persetujuan dimulainya perlawanan rakyat terhadap Inggris, pendiri PBNU itu menyarankan agar perlawanan rakyat jangan dimulai sebelum Kiai Abbas datang ke Surabaya.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Kisah ini menunjukkan betapa Kiai Abbas dan santri-ulama Cirebon lainnya dipandang memiliki kekuatan yang luar biasa dalam pertempuran 10 Nopember 1945,” tutur Menag.

Dikatakan Menag, rekam jejak kiai pesantren Buntet ini memunculkan keyakinan ? bahwa NKRI dapat meraih kemerdekaannya berkat perjuangan ulama dan kiai pesantren. Mereka telah ? memperjuangkan jiwa dan raganya untuk ? keislaman dan keindonesiaan sekaligus. Mereka telah memperjuangkan keislamannya, tanpa mengorbankan keindonesiaan. Demikian juga sebaliknya, memperjuangkan keindonesiaan tanpa melupakan keislaman.?

“Islam-Indonesia adalah Islam kita. Islam yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur keindonesiaan dan menegakkan jati diri bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” pekik Menag.

Menurutnya, pelajaran dari kiai Buntet ini harus dilanjutkan, terutama dalam konteks menghadapi pemahaman dan gerakan keagamaan radikal yang mendegradasi karakteristik keagamaan khas Indonesia dan mengancam eksistensi NKRI.

Sebelumnya Ketua Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Buntet KH Nahduddin Royandi Abbas menyampaikan bahwa acara haul semacam ini sudah dilakukan sejak 600 tahun lalu. Keberadaan Pondok Buntet Pesantren yang berbaur dengan masyarakat, menjadikan masyarakat dengan pesantren menyatu. Masyarakat dan pesantren rukun dan saling bergaul, membaur layaknya keluarga besar yang membangun peradaban Islam di Buntet. Red. Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi PonPes, Ahlussunnah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Bahtsul Masail NU Memberi Warna Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Purwakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Forum Bahtsul Masail atau pembahasan sebuah persoalan yang mendasarkan pada kitab-kitab rujukan ulama klasik atau kitab kuning menjadi tradisi Nahdlatul Ulama (NU) sejak lama. Bahkan, Bahtsul Masail yang membahas berbagai permasalah kehidupan telah mewarnai jalannya kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bahtsul Masail NU Memberi Warna Kehidupan Berbangsa dan Bernegara (Sumber Gambar : Nu Online)
Bahtsul Masail NU Memberi Warna Kehidupan Berbangsa dan Bernegara (Sumber Gambar : Nu Online)

Bahtsul Masail NU Memberi Warna Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Hal itu disampaikan oleh Koordinator Bahtsul Masail Musyarawarah Nasional dan Konferensi Besar NU 2017 KH Mujib Qulyubi saat memberikan sambutan pembukaan Pra Munas dan Konbes NU di Pesantren Al-Muhajirin 3 Purwakarta, Jawa Barat, Jumat (10/11).

Dalam kegiatan yang dihadiri oleh Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi ini, Kiai Mujib menjelaskan ketika NU menggelar Bahtsul Masail pada Muktamar NU tahun 1936 di Banjarmasin. NU secara tegas merumuskan bentuk negara yang mengakomodasi kehidupan bersama, yaitu negara bangsa.

“Bukan negara Islam maupun negara sekuler tetapi negara yang berdasarkan nilai-nilai agama,” ujar Kiai Mujib.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pra Munas yang mengambil tema Mencari Jalan Keluar Kesenjangan Ekonomi dan Radikalisme Agama ini, Wakil Rektor UNU Indonesia ini juga menjelaskan, tradisi Bahtsul Masail menunjukkan bahwa NU mendasarkan diri pada metodologi pengambilan hukum Islam yang tidak instan.

“Saat ini tidak sedikit yang menyampaikan sesuatu yang seolah benar padahal itu adalah sebuah kebatilan. Misal jargon kembali pada Al-Qur’an dan Sunnah. Ternyata mereka memahaminya hanya dari terjemahan,” ungkapnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Proses pengambilan hukum hanya bersandar dari terjemahan Al-Qur’an dan Sunnah tidak hanya berdampak pada kesempitan dalam berpikir, tetapi juga menjauhkan diri antara guru dengan muridnya, santri dengan kiainya, dan ulama dengan umatnya.

Bahtsul Masail Pra Munas dan Konbes ini meliputi Bahtsul Masail Waqi’iyah (problem tekini), Bahtsul Masail Maudluiyah (tematik), dan Bahtsul Masail Qonuniyah (perundang-undangan).

Dalam kesempatan pembukaan ini, hadir Ketua SC Munas dan Konbes NU KH Mustofa Aqil Siroj,Rais Syuriyah PWNU Jawa Barat KH Abun Bunyamin, Ketua PWNU Jawa Barat KH Hasan Nuri Hidayatullah, Ketua Lakpesdam PBNU Rumadi Ahmad, Ketua PP ISNU Ali Masykur Musa, Wakil Ketua LBM PBNU KH Abdul Moqsith Ghazali, dan tokoh-tokoh lainnya. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Nahdlatul Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Gus Mus Menyindir Dirinya Sendiri

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi?

Mustasyar PBNU KH Ahmad Mustofa Bisri mengingatkan kepada orang yang diikuti banyak orang awam, semestinya berhati-hati bertindak dan berbicara di hadapan publik. Kiai yang akrab disapa Gus Mus itu menyebutkan hal itu adalah sindirian untuk dirinya sendiri.?

Gus Mus Menyindir Dirinya Sendiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus Menyindir Dirinya Sendiri (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus Menyindir Dirinya Sendiri

“Kataku, suatu ketika, menyindir diriku: ‘Mereka yang memiliki potensi dikuti oleh orang banyak (orang awam), sudah semestinya lebih berhati-hati dalam bertindak, termasuk dalam berbicara di hadapan publik’,” ungkapnya melalui akun Facebook pribadinya, Jumat (21/7).?

Status itu, ketika dibuka Pondok Pesantren An-Nur Slawi telah dikomentari sekitar 114 akun lain, 441 dibagikan dan 9 ribu yang menyukai.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Akun Timur Suprabana ? mengomentari status tersebut: eyangKakung Ahmad Mustofa Bisri...mestinya sindiran panjenengan terhadap panjenengan menjadi PERINGATAN halus bagi siapapun... karena siapapun memiliki potensi dikuti oleh orang banyak (orang awam). dan tentu saja juga menjadi PERINGATAN bagi saya... ? maturNuwun... insyaallah TIDAK akan saya lupakan..

Akun Ernawaty mengomentari: Leres sanget, Gusyai.. ini peringatan halus bagi saya pribadi atau siapapun terutama publik figur agar tdk berbicara sembarangan.. Matur nuwun, Gus..

Serta komentar beragam dari akun-akun lain yang mendukung status kiai yang dikenal sebagai pelukis dan penyair kelahiran Rembang, Jawa Tengah tersebut. (Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kajian Islam, Kyai Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 25 Desember 2017

KMNU UGM Gelar Pelatihan Kepemimpinan

Bantul, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Melibatkan Lakpesdam NU Yogyakarta, sejumlah pengurus Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) UGM mengadakan pelatihan kepemimpinan bagi kader muda NU di kampus bersangkutan. Selama dua hari, Jumat-Sabtu (30-31/5), peserta mendiskusikan sejumlah aspek kepemimpinan dan materi ke-NUan di pesantren Lintang Songo Piyungan Bantul.

Ketua KMNU UGM Puguh berharap, “Pelatihan ini dapat meningkatkan potensi kader muda NU di UGM selain mendorong dakwah Aswaja NU di kampus UGM secara lebih maksimal.”

KMNU UGM Gelar Pelatihan Kepemimpinan (Sumber Gambar : Nu Online)
KMNU UGM Gelar Pelatihan Kepemimpinan (Sumber Gambar : Nu Online)

KMNU UGM Gelar Pelatihan Kepemimpinan

Sebagai kader muda NU, kata Puguh, peserta diharapkan dapat menunjukkan eksistensinya di tengah maraknya berbagai aliran Islam yang berkembang di UGM.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ketua Lakpesdam NU Yogyakarta Abdul Ghoffar menyebutkan jumlah mahasiswa NU di UGM berdasarkan data statistik mencapai lebih dari 40%. “Jumlah dosen-dosen NU juga banyak di berbagai fakultas di UGM”, kata Ghoffar.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ia menekankan pentingnya dakwah Aswaja NU di kampus. “Kader muda NU harus tampil dalam bidang keagamaan. Sementara aktivis aliran lain di UGM, tidak berbanding lurus dengan pemahaman agama mereka. Kader muda NU jauh lebih unggul dalam pemahaman agama”, kata Ghoffar.

Dakwah ke-NUan di kampus umum merupakan sebuah jihad, kata pengasuh pesantren Lintang Songo KH Heri Kuswanto. Karenanya, kader muda NU harus mengisi segala aspek kehidupan dengan hal-hal positif selagi muda. (Ahmad Musyaddad/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Khutbah, Nahdlatul Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kesebelasan Quen Al-Falah Optimis Rebut Posisi Ketiga Sore Ini

Kediri, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Kesebelasan Quen Al-Falah (Qulah) optimis bisa merebut posisi ketiga dalam Liga Santri Nusantara (LSN) Jatim II di Stadion Brawijaya, Kota Kediri. Dalam babak penentuan peringkat tiga pertandingan akan mempertemukan Quen Al-Falah dan tim Pesantren Darul Ulum Rejoso Peterongan, Jombang, Rabu (31/8).

Insya Allah teman-teman mampu mengambil posisi III,” ungkap Sulkhan Abdul Kahfi, Kapten Tim Quen Al-Falah kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi usai bertanding dengan tim Darut Taibin Kabupaten Tulungagung.

Kesebelasan Quen Al-Falah Optimis Rebut Posisi Ketiga Sore Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Kesebelasan Quen Al-Falah Optimis Rebut Posisi Ketiga Sore Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Kesebelasan Quen Al-Falah Optimis Rebut Posisi Ketiga Sore Ini

Bagi Quen Al-Falah, di manapun posisi tidak menjadi masalah. “Namun,kalau bisa menempati posisi ketiga sudah lumayan. Kami ikut ini karena untuk silaturrami antarsantri pesantren melalui olahraga. Sehingga posisi tidak menjadi penentu. Cuma kalau dapat kenapa tidak,” katanya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Disinggung kalah dengan kesebelasan Darut Taibin (DaTa) Tulungagung saat semifinal? Ia mengatakan, timnya sudah berupaya maksimal. Bahkan sampai mengerahkan sporter ratusan orang. Namun, memang Darut Taibin memang lebih hebat permainannya. Sehingga timnya bisa dibekuk 3-0 tanpa balas.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“DaTa memang hebat. Kami keteteran ketemu tim Tulungagung itu. Selain itu stamina teman-teman sudah habis. DaTa memang layak lolos ke Final. Permainannya memang bagus. Pemainnya merata dan kompak,” tambahnya.

Sementara itu Tim Ponpes Darul Ulum tadi gegabah menghadapi tim Quen Al-Falah. Menurut Ajay Kapten kesebelasan, Quen Al-Falah bukan tim sembarangan. Mereka memiliki skill pemain yang merata. Umpan-umpannya akurat. Kalau dalam semifinal kalah dengan DaTa, itu soal keberuntungan saja. Terlepas itu memang DaTa permainannya bagus. Karena memiliki power dan speed yang bagus.

“Quen lumayan bagus. Cuma kalau sama DaTa, kalah mental. Untuk itu kami dan teman-taman dalam penetuan ranking nanti akan bermain lepas tanpa beban,” kata Ajay.

Sebagaimana di ketahui kesebelasan Quen Al-Falah dalam putaran semifinal dilibas tim DaTa Tulungagung dengan skor 3-0. Sedangkan Darul Ulum dikalahkan An-Nur 2 dengan skor 3-2 setelah adu penalti. Untuk itu kesebelasan DaTa dan An-Nur bisa lolos ke Final. Sedangkan Quen dan Darul Ulum akan berebut mempertahankan posisi ketiga dalam putaran LSN Region Jatim II di Kota Kediri. (Imam Kusnin Ahmad/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Anti Hoax Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menag: Pesantren Bisa Menjadi Destinasi Pendidikan Dunia

Jombang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi



Pesantren menjadi Kawah Candradimuka bagi bersemainya para ahli agama. Kajian kitab kuning yang menjadi bagian tidak terpisahkan selama ini, nantinya akan menjadi destinasi pendidikan tingkat dunia.

Penegasan sekaligus harapan ini disampaikan Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin ketika menghadiri wisuda ketiga Mahad Aly Hasyim Asyari Tebuireng Jombang sekaligus menyerahkan SK penetapan izin pendirian 13 Mahad Aly se-Indonesia, Senin (30/5).

Menag: Pesantren Bisa Menjadi Destinasi Pendidikan Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag: Pesantren Bisa Menjadi Destinasi Pendidikan Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag: Pesantren Bisa Menjadi Destinasi Pendidikan Dunia

Menurut putra mantan Menteri Agama, H Saifuddin Zuhri ini, pusat kajian keislaman dengan kitab kuning sebagai rujukan utama tidak lagi ada di negara-negara di kawasan Timur Tengah.?

"Indonesia juga bisa, dan tempatnya di pesantren," tegasnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Karenanya Menteri Agama mengajak pesantren untuk terus memperbaiki kualitas. "Alumni pesantren adalah mereka yang memiliki keahlian dalam agama Islam yang berbasis kitab kuning," ungkapnya.

Kajian keagamaan yang ada di pesantren, pada prinsipnya tidak untuk pesantren semata. "Juga mengembangkan keilmuan dan transformasi sosial dari jaman yang terus berubah," katanya. Kajian yang dilakukan pesantren dengan kitab kuningnya juga merupakan kebutuhan dari bangsa Indonesia, lanjutnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dengan sejumlah ikhtiar dan kekukuhan kajian yang telah dilakukan, Lukman Hakim berharap agar pesantren mampu melahirkan ulama kontemporer yang berorientasi pada kemaslahatan manusia.

Baginya, hal tersebut sangat strategis bagi Indonesia dan juga dunia. "Karenanya saya berharap pesantren nanti sebagai destinasi pendidikan dunia," kata Lukman yang disambut tepuk tangan hadirin.

Lukman Hakim menyadari bahwa harapan bahwa pesantren sebagai destinasi pendidikan dunia tersebut sangatlah tinggi dan ideal.?

"Paling tidak kita memiliki mimpi yang sama untuk mewujudkan hal tersebut," katanya. Dan sedikit demi sedikit, mimpi tersebut harus direalisasikan bersama.

Lahirnya alumni pesantren sebagai intelektual Muslim yang rahmatan lilalamin menurutnya dapat segera terwujud. "Ini demi kemaslahatan umat dan masa depan bangsa," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Khutbah, Kajian Sunnah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 24 Desember 2017

Menteri Hanif Letakkan Batu Pertama Kantor IKA-PMII Jombang

Jombang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri meletakkan batu pertama pembangunan kantor Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) serta PC PMII Jombang. Hal ini menandai mimpi besar warga PMII di kota santri ini memiliki gedung permanen segera terwujud. Peletakkkan batu pertama pada Selasa (28/3) lalu itu dilakukan di Dusun Klagen, Desa Kepuhkembeng, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.?

Sebelum meletakkan batu pertama, Menteri Hanif mengucapkan selamat atas dimulainya pembangunan kantor permanen tersebut. Ia berharap proses pembangunan gedung itu terus berjalan dengan lancar. “Alhamdulillah, semoga pembangunannya lancar, tentu ini untuk kebaikan organisasi kita dan masa depan bangsa,” ujarnya.

Menteri Hanif Letakkan Batu Pertama Kantor IKA-PMII Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)
Menteri Hanif Letakkan Batu Pertama Kantor IKA-PMII Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)

Menteri Hanif Letakkan Batu Pertama Kantor IKA-PMII Jombang

Pada kesempatan itu, pria yang juga Sekretaris Jenderal Pengurus Besar (PB) IKA PMII itu mengajak kader dan alumni PMII menjadi garda terdepan dalam menjaga nilai-nilai Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja). Pasalnya, dalam pandangan Hanif belakangan ini terdapat berbagai tantangan serius yang mencoba merusak nilai-nilai keislaman ala Asawaja tersebut.

"Keislaman kita ini sedang dichallenge (mendapat tantangan, red.). NU ini sedang dichallange, pada sisi yang lain juga di kalangan NU basis ideologinya agak menurun, ikatan solidaritas dan sosialnya agak menurun. Sekarang tradisi tahlil sudah mnjadi umum. Jadi, sekarang kita tidak punya pembeda lagi," bebernya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dalam kondisi demikian, komitmen mengawal ajaran keislaman serta meneguhkan ide-ide cerdas sangat diperlukan. "Kita harus hati-hati dan komitmen meneguhkan ide-ide kita. Kita harus jadi kader NU yang 24 karat, yang 18 karat disepuh lagi agar jadi 24 karat. Banyak masyarakat di daerah-daerah dari segi amaliah NU tapi segi jamiyah mereka tidak bisa mengidentifikasi diri sebagai NU,” jelasnya.?

Hadir pada acara itu, Ketua Tanfidiyah PCNU Jombang KH Isrofil Amar didampingi istrinya Ibu Nyai Fauziyah, Wakil Ketua DPRD Jombang Subaidi Mukhtar, para alumni PMII, kader PMII, Camat dan Kepala Desa setempat.

Sebelum acara ditutup dengan pembacaan doa oleh KH ISrofil Amar Ketua Tanfidiyah PCNU Jombang, Menteri Hanif memotong tumpeng syukuran yang diberikan kepada Ketua IKA-PMII Jombang. (Syamsul Arifin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Warta, Anti Hoax, Kajian Sunnah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

MUI: Baru Belajar Agama Lalu Berdakwah, Ini Masalah Dakwah di Indonesia

Palu, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis menerangkan, ada dua problematika dakwah yang harus dibenahi di Indonesia. Selain membesarkan masalah khilafiyah, dakwah lebih didominasi oleh mereka yang kurang mengerti masalah agama.

Masalah pertama adalah perpecahan antarumat Islam. Biasanya mereka cenderung terkotak-kotak oleh organisasi dan kelompoknya masing-masing. Bahkan, tidak jarang fanatisme mereka terhadap kelompoknya melebihi fanatisme kepada Islam.

MUI: Baru Belajar Agama Lalu Berdakwah, Ini Masalah Dakwah di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
MUI: Baru Belajar Agama Lalu Berdakwah, Ini Masalah Dakwah di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

MUI: Baru Belajar Agama Lalu Berdakwah, Ini Masalah Dakwah di Indonesia

"Tak kalah pentingnya adalah klaim yang  merasa dirinya yang paling sahih dalam mengartikan dan menjalankan ajaran Islam, bahkan cenderung menyalahkan kelompok yang lain. Padahal masalahnya hanya perbedaan furu‘iyah," jelas Kiai Cholil di Palu, Rabu (30/8).

Kedua adalah diamnya yang mengerti agama dan maraknya yang kurang mengerti agama dalam berdakwah. Bagi Kiai Cholil, tidak sedikit orang yang baru belajar tentang Islam lalu kemudian menjadi dai entah itu di televisi atau tempat lainnya. Sementara, orang yang belajar Islam puluhan tahun diam atau tidak dilibatkan dalam dakwah di media yang berfrekuensi publik.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Bahkan mereka kadang membawa aliran dan kepercayaan yang sesat," ucapnya.

Oleh sebab itu, menurutnya, itu yang seringkali merusak ajaran Islam dan menimbulkan kesalahpahaman terhadap ajaran Islam. (Muchlishon Rochmat/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Habib, Halaqoh, Ahlussunnah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Mensos Siapkan Santunan Kematian untuk Korban Longsor OKU Selatan

Surabaya, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menyampaikan ucapan duka cita mendalam kepada keluarga korban meninggal bencana longsor di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan, Provinsi Sumatera Selatan. 

"Pertama atas nama pemerintah kami menyampaikan duka cita mendalam atas musibah yang dialami saudara-saudara kita di Ogan Komering Ulu Selatan. Kepada keluarga korban semoga Allah Yang Maha Kuasa memberikan kekuatan, ketabahan dan kesabaran. Semoga para korban meninggal dunia mendapatkan tempat yang tenang di sisi Allah," kata Khofifah kepada wartawan di sela-sela kunjungan kerjanya ke Jawa Timur, Sabtu (11/11). 

Mensos Siapkan Santunan Kematian untuk Korban Longsor OKU Selatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mensos Siapkan Santunan Kematian untuk Korban Longsor OKU Selatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mensos Siapkan Santunan Kematian untuk Korban Longsor OKU Selatan

Kementerian Sosial, lanjutnya, telah menyiapkan santunan kepada ahli waris korban meninggal tanah longsor. Masing-masing ahli waris mendapat santunan sebesar Rp15 juta untuk korban meninggal dan maksimal Rp5 juta untuk korban luka-luka. 

"Insyaallah  hari Senin (13/11) saya akan kesana dan Insyaallah Senin mereka akan  menerima santunan," ujar Mensos.

Seperti diketahui pada Kamis (9/11) telah terjadi dua kejadian longsor di Kecamatan Sungai Are, Kabupaten OKU Selatan. Pertama, di Desa Cukohnau, pada pukul 17.00 WIB. Kedua, di Desa Sadau Jaya, pukul 20.00 WIB.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Longsor pertama di Desa Cukohnau, Kecamatan Sungai Are menimbun satu rumah yang menyebabkan satu orang meninggal atas nama Hatam bin Agusaman (70), satu luka berat (Zulkardi), dan satu orang luka ringan (istri Hatam).

Longsor kedua di Desa Sadau Jaya, Kecamatan Sungai Are, menimbun satu rumah berisi tujuh orang sehingga menewaskan lima orang dan dua orang luka-luka.

Korban meninggal adalah Riswandi bin Nawawi (40), Ausmita binti Toyib (35), Angga bin Riswandi (7), Rifki bin Riswandi (4), Alex bin Riswandi (9). Sementara korban luka adalah Iprianto bin Riswandi dan Juwita binti Riswandi. 

"Sehingga total korban terdampak akibat bencana longsor ini sebanyak 6 orang meninggal dan 4 luka akibat tertimbun tanah longsor," tutur Khofifah. (Red: Fathoni)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Nasional, Kajian Islam Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jelang Konfercab, IPNU Tegal Ziarahi Makam Ulama Setempat

Tegal, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Menjelang Konferensi Cabang (Konfercab) XIII Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kota Tegal, segenap pengurus IPNU setempat mengadakan ziarah ke makam sesepuh NU di Kota Tegal.

“Sebagai tanda bakti dan mengingat kembali sejarah perjuangan ulama Tegal, kami lakukan dengan cara ziarah,” tutur Ketua Panitia Konfercab Zahruddin di sela kegiatan di Makam Mbah Panggung, Tegal, Senin (26/1).

Jelang Konfercab, IPNU Tegal Ziarahi Makam Ulama Setempat (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Konfercab, IPNU Tegal Ziarahi Makam Ulama Setempat (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Konfercab, IPNU Tegal Ziarahi Makam Ulama Setempat

Menurut Zahrudin, ulama yang menjadi tujuan ziarah merupakan tokoh yang dahulu telah berjuang di wilayah Tegal. Dia berharap konfercab nanti akan melahirkan pemimpin seperti ulama yang telah diziarahi, yaitu benar-benar mengabdi pada agama dan bangsa.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ulama yang diziarahi pengurus cabang IPNU di antaranya, Habib Muhammad bin Tohir Al Haddad, Syech Abdurrahman Assegaf (Mbah Panggung), dan KH. Zaeni Nadzif.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Konfercab diagendakan pada tanggal 21-22 Maret 2015 di SMA Negeri 1 Kota Tegal. Panitia juga telah mempersiapkan rangkaian acara Pra-Konfercab, antara lain Lomba Karya Ilmiyah Remaja (KIR), Pildacil, Tata Rias Hijab, MTQ dan Futsal. “Insya Allah berbagai event lomba tersebut akan kami gelar mulai awal Februari,” terangnya.

Ketua IPNU Kota Tegal Aziz Putra meminta dukungan dan doa restu dari semua pihak demi suksesnya Konfercab XIII. “Kami mohon doa, masukan dan kritik dari Alumni dan PCNU demi suksesnya Konfercab yang ke XIII mendatang,” pintanya.

Diagendakan, Konfercab bakal ditutup dengan pengajian Peringatan Harlah IPNU-IPPNU dengan menghadirkan Group Hadroh Al Munshidin, Asuhan Al Habib Luthfi Bin Yahya dari Pekalongan. (Wasdiun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Berita, Habib, Pahlawan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Katib Syuriyah NU Jember: Generasi Qurani Aset Terbesar Orangtua

Jember, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Katib Syuriyah NU Jember, Harisudin menyatakan pentingnya generasi Qur’ani di tengah-tengah masyarakat. Menurut dosen Pascasarjana IAIN Jember tersebut, umat Islam perlu menyiapkan generasi Qur’ani, yaitu generasi anak-anak yang mencintai Al-Qur’an.?

“Kita ini diperintahkan untuk mendidik anak-anak kita dengan membaca Al-Qur’an (tilawatul qur’an). Membaca Al-Qur’an ini akan lebih cepat dilakukan jika anak-anak sudah mencintai Al-Qur’an. Karena kita dukung syiar Islam dalam bentuk apapun agar anak-anak kita menjadi senang dan cinta pada kitab suci Al-Qur’an ini,” kata Harisudin di hadapan peserta Haflatul Imtihan, TPQ al-Hamid Tanggul Wetan Jember, Sabtu, (28/5).

Katib Syuriyah NU Jember: Generasi Qurani Aset Terbesar Orangtua (Sumber Gambar : Nu Online)
Katib Syuriyah NU Jember: Generasi Qurani Aset Terbesar Orangtua (Sumber Gambar : Nu Online)

Katib Syuriyah NU Jember: Generasi Qurani Aset Terbesar Orangtua

Harisudin menekankan anak-anak yang bisa membaca Al-Qur’an ? akan menjadi aset orang tua. “Anak-anak ini adalah aset kita. Nanti kelak di hari kiamat, anak-anak ini akan menyelamatkan orangtuanya jika orangtuanya berada di neraka. Maka, kita sebagai orangtua, jangan pernah berhitung dengan pengeluaran untuk mendidik agama anak-anak tersebut. Jangan sampai modal untuk sekolah umum lebih mahal daripada modal untuk pendidikan agama anak,” tukas Harisudin yang juga Wakil Ketua PW LTN NU Jawa Timur tersebut.?

Harisudin juga mengingatkan kepada wali murid untuk terus mengarahkan anak-anaknya dalam proses belajar.

"Anak-anak kita harus dididik lebih tinggi. Jangan kalau sudah selesai belajar Al-Qur’an terus berhenti, tapi harus ditindaklanjuti dengan belajar agama Islam yang lain. Membaca Al-Qur’an harus diteruskan belajar ilmu tafsir, ilmu asbabun nuzul, ilmu balaghah, ilmu bayan, dan sebagainya. Karena itu, anak-anak kita ini harus terus belajar. Syukur-syukur diteruskan ke pondok pesantren, ” kata pengasuh Ponpes Darul Hikam Mangli Jember ini mengakhiri ceramahnya. (Anwari/Zunus)?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Warta, PonPes Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Benarkah Nikah Muda Anjuran Agama?

Oleh Hagie Wana



Beberapa waktu yang lalu, netizen ramai memperbincangkan pernikahan putra dai kondang Ustadz Arifin Ilham, Alvin, yang masih berusia 17 tahun. Hal tersebut ditanggapi beragam. Ada yang pro, namun tak sedikit pula yang kontra. Booming-nya pernikahan Alvin ini seakan menjadi “legitimasi” bagi pihak yang yang setuju akan gagasan nikah muda, terutama akun-akun yang berlabel dakwah/islami/muslim/muslimah bahwa pernikahan di usia muda adalah anjuran agama. Apalagi, Alvin adalah putra seorang ustadz kharismatik. Prosesi pernikahannya pun dihadiri dai-dai kenamaan. Oleh karena itu opini-opini mengenai nikah muda semakin ramai dikampanyekan melalui postingan di sosial media.

Benarkah Nikah Muda Anjuran Agama? (Sumber Gambar : Nu Online)
Benarkah Nikah Muda Anjuran Agama? (Sumber Gambar : Nu Online)

Benarkah Nikah Muda Anjuran Agama?

Rasulullah menganjurkan kepada pemuda agar menikah ketika “mampu”. Lalu kapankanh seseorang dikatakan mampu untuk menikah? Dalam kacamata agama, tidak ada petunjuk atau batasan khusus di usia berapa seseorang harus menikah. Jika merujuk pada makna hadits Nabi ini, adalah ketika mampu. Artinya agama memberikan kesempatan bagi seseorang untuk “menyesuaikan diri” (mampu dalam berbagai aspek) ketika hendak melangsungkan pernikahan guna kemashlahatan rumah tangganya kelak.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ada hal-hal menarik yang penulis amati pada postingan akun-akun berlabel islam/dakwah/syar’i dsb mengenai gagasan menikah muda.

Pertama, memberikan kesan seolah-olah menikah di usia semuda mungkin adalah dorongan agama, dengan dalih menghindari perzinaan/menyalurkan kebutuhan biologis secara sah. Padahal tidak semua yang menunda waktu pernikahan—meskipun sudah mampu—itu pasti akan terjerumus pada jurang perzinaan. Menunda waktu pernikahan tidak berarti melegalkan apalagi mendukung praktik pacaran. Apabila kita mempertimbangkan argumentasi ilmiah, secara biologis organ reproduksi wanita yang terlalu muda belum siap untuk mengandung janin. Yang dampaknya akan berbahaya bagi keselamatan sang ibu juga janin yang dikandungnya. Padahal, agama jelas-jelas melarang kita untuk menzalimi diri sendiri. Mungkin kita sering mendengar pada masa kakek nenek kita dahulu yaitu kebiasaan menikah di usia muda. Bahkan tradisi ini konon masih berlanjut di daerah-daerah pelosok. Hal ini dikarenakan tingkat pendidikan yang masih rendah ditambah sulitnya mengakses informasi mengenai permasalahan kesehatan terutama seputar organ reproduksi. Lantas, apakah kita yang hidup di zaman majunya ilmu pengetahuan akan kembali “mundur”?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kedua, untuk menikah, jangan menunggu mapan, agar bisa mapan bersama-sama. Argumen tersebut hemat penulis patut dikritisi. Pada titik ini, kita harus pandai menentukan sikap. Pernikahan adalah ibadah yang mulia. Ibadah (nikah) yang didasari dengan ilmu akan berbeda kualitasnya dengan ibadah yang gegabah. Mungkinkah sepasang muda-mudi yang belum mapan membangun rumah tangga? Akankah kebutuhan rumah tangga juga ikut dibebankan kepada orang tua? Berapa banyak kasus perceraian, tindakan kriminal, bahkan kasus bunuh diri yang faktor utamanya adalah desakan ekonomi? Alih-alih ingin mendidik keluarga hidup mandiri, jika tidak dibarengi dengan iman dan ilmu yang memadai, menikah sebelum mapan bisa menjadi bumerang bagi rumah tangga kita sendiri. Maka memapankan diri adalah upaya kita menghindari mudarat-mudarat yang akan terjadi kemudian.

Ketiga, anggapan bahwa mencari ilmu dan maisyah akan lebih giat setelah menikah, agaknya opini tersebut bertolak belakang dengan konstruksi sosial budaya kita. Ada qaidah sebagian santri yang berbunyi quthi‘al ilmu bi fakhidzaihรข (terputusnya ilmu akibat paha yang dua) maknanya semangat mencari ilmu akan mengendur jika sudah memikirikan wanita (apalagi dibebani kebutuhan akan mencari penghidupan). Adapula pepatah yang mengatakan “didiklah anakmu 100 tahun sebelum lahir”. Maknanya mempersiapkan generasi yang unggul harus dimulai dari orang tuanya terlebih dahulu. Karena terdapat perbedaan orientasi antara yang belum dengan sudah menikah, maka persiapan ilmu adalah hal penting untuk mewujudkan Al-ahli madrasatul ula (keluarga adalah lembaga pendidikan pertama)

Atau berbagai alasan lainnya yang cenderung imajinatif dengan bermodalkan testimoni pengalaman sebagian pihak yang sukses menikah di usia muda tapi menutup mata dari berbagai kosekuensi negatifnya. Mengapa akun-akun berlabel "islami" tersebut cenderung aktif mengajak anak muda menikah, dibanding memberikan pemahaman atau pembekalan yang konkret bagi para anak muda sebelum menikah?

Jika hal ini tidak diimbangi dengan pemahaman yang baik, kampanye atau ajakan untuk menikah muda yang kerap disuarakan di media sosial bisa berakibat fatal bagi keberlangsungan rumah tangga itu sendiri. Dalam perspektif komunikasi massa, secara teoritis media sosial (massa) memiliki fungsi sebagai saluran, informasi, hiburan, dan pendidikan. Namun fenomena saat ini menunjukkan media massa memiliki peran yang efektif di luar fungsinya itu. Efek media massa tidak saja memengaruhi sikap seseorang, tapi juga dapat memengaruhi perilaku. Bahkan pada tataran yang lebih jauh, efek media massa dapat memengaruhi sistem-sistem sosial maupun sistem budaya masyarakat.

Prosesi pernikahan Alvin kemarin, tidak bisa serta merta dijadikan tolok ukur untuk seseorang menikah di usia 17 tahun (apalagi kurang dari itu). Ada jutaan pemuda yang seusia dengan Alvin ketika memaksakan menikah justru akan menjadi madlarat. Pernikahan bukan ibadah coba-coba. Oleh karenanya, persiapan mewujudkan rumah tangga yang samawa tidak cukup hanya dengan meniru-niru atau terbawa postingan dari akun-akun bercorak islami. Agaknya, nderes kitab Uqudul Lujjain atau Qurratul ‘Uyun lebih syar’i dan lebih bermanfaat daripada sekadar melihat meme seputar ajakan menikah muda. Jika meminjam qaidah usul fiqh "dar-ul mafasid muqaddamun min jalbil mashalih (menghindari kerusakan lebih prioritas ketimbang menarik kemanfaatan)" maka mempersiapkan dengan matang apa yang akan menjadi bekal rumah tangganya kelak, lebih utama daripada beranda-andai akan bahagia ketika sudah berumah tangga. Karena, keberlangsungan dan masa depan rumah tangga kita, kita sendirilah yang akan menentukannya.

Kesimpulannya, betulkah menikah muda adalah dorongan agama? Atau hanya opini sebagian pihak yang dikontruksi melalui media sosial? Semoga kita semakin arif dan bijak dalam menyikapi dunia maya tanpa mengenyampingkan kehidupan nyata.

Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Komunikasi Fakultas Dakwah Dan Komunikasi UIN SGD Bandung



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kajian Islam Pondok Pesantren An-Nur Slawi

PMII Bandung Gelar Aksi Seribu Lilin dan Doa Bersama untuk Rohingya

Bandung, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Dalam rangka peduli kemanusiaan PMII Kabupaten Bandung menggelar aksi seribu lilin dan doa bersama bagi korban Rohingya Myanmar di Sekretariat Kowarcam Pramuka Cabang Kabupaten Bandung Jalan Raa Wiranata Kusumah Nomor 19, Baleendah, Kabupaten Bandung, Ahad (10/9).

Acara dihadiri oleh seluruh pengurus komisariat dan rayon di bawah naungan PMII Kabupaten Bandung.

PMII Bandung Gelar Aksi Seribu Lilin dan Doa Bersama untuk Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Bandung Gelar Aksi Seribu Lilin dan Doa Bersama untuk Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Bandung Gelar Aksi Seribu Lilin dan Doa Bersama untuk Rohingya

Hamdani Haliman mengatakan aksi ini sebagai bentuk kepedulian aktivis PMII kepada warga Muslim Rohingya di Myanmar.

"Kami mengutuk tindakan kekerasan pemerintah Myanmar dalam melakukan peristiwa kemanusiaan di sana," ujarnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Hamdani berharap semoga aksi ini mempunyai dampak yang besar kepada elemen masyarakat.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Kita berharap dengan aksi dan doa bersama ini bisa menyelesaikan persoalan bagi masyarakat Muslim Rohingya," pungkasnya.

Rangkaian acara ini dimulai dengan refleksi orasi dari ketua cabang dan beberapa kader di bawah naungan PMII Kabupaten Bandung. Acara lalu dilanjutkan dengan beberapa pembacaan puisi, penampilan musik, dan diakhiri dengan doa bersama. (Rangga/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pesantren, Khutbah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Bupati Sidoarjo Apresiasi Perkembangan Pesat RSI Siti Hajar

Sidoarjo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi 

Bupati Sidoarjo, H Saiful Ilah memberikan apresiasi kepada jajaran pengurus Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Hajar Sidoarjo baik Direksi maupun BPMNU atas usahanya dalam mengembangkan Rumah Sakit sampai maju dan berkembang pesat. Hal ini ditegaskan bupati usai menerima kunjungan direksi dan jajaran RSI Siti Hajar di rumah Dinas Bupati Sidoarjo.



Bupati Sidoarjo Apresiasi Perkembangan Pesat RSI Siti Hajar (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Sidoarjo Apresiasi Perkembangan Pesat RSI Siti Hajar (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Sidoarjo Apresiasi Perkembangan Pesat RSI Siti Hajar



"Kami sangat mengapresiasi atas perkembangan RSI Siti Hajar yang semakin pesat. Pemkab Sidoarjo sangat memperhatikan tentang pelayanan kesehatan dari segi anggarannya. Semoga RSI Siti Hajar bisa memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi dalam memberikan pelayanan kepada pasien," kata Abah Ipul, panggilan akrabnya, Kamis (28/9).

Abah Ipul menjelaskan, pihaknya turut andil dalam sejarah berdirinya RSI Siti Hajar Sidoarjo, yang awalnya bernama BKIA (Balai Kesehatan Ibu dan Anak). Salah satu dokter RSI Siti Hajar yang dikenalnya dan sangat akrab sejak awal pendirian RSI Siti Hajar yakni dokter Moersintowarti.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Sidoarjo mendapatkan penghargaan dari Menteri PAN RB atas Kinerja pelayanan, perijinan terbaik se-Indonesia. Saya juga berharap RSI Siti Hajar bisa membuat layanan cathlab untuk pusat jantung dan saraf, yang didukung oleh dokter spesialis yang kompeten, agar pasien tidak usah jauh-jauh berobat ke luar negeri," harapnya.

Menanggapi hal itu, Direktur RSI Siti Hajar, H Hidayatullah menegaskan, RSI Siti Hajar Sidoarjo terus berupaya memberikan pelayanan terbaik kepada para pasien. Terbukti beberapa waktu yang lalu, RSI Siti Hajar meraih kategori terbaik di bidang kesehatan dalam NU Award. Selain itu, pihak Rumah Sakit juga berupaya menjadikan Rumah Sakit sebagai rumah sehat yang bisa dinikmati tak hanya keluarga pasien, melainkan masyarakat Sidoarjo secara umum.

"Kami juga terus berupaya memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Hal ini bisa diketahui dengan adanya peningkatan beberapa bangunan seperti menambah ruang cuci darah (hemodialisa) di lantai dua Darul Royan, ruang pertemuan Darun Naim RSI Siti Hajar Sidoarjo, di lantai tiga yang mempunyai ukuran sekitar 8x30 meter persegi, videotron dan masih banyak lagi yang lainnya," ujar dokter spesialis saraf itu. (Moh Kholidun/Kendi Setiawan)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pertandingan, Fragmen, Hikmah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 23 Desember 2017

Saat Bupati Pringsewu Kupas Surat tentang Kiamat

Pringsewu, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Saat menyampaikan Kajian Tafsir Surat Al Qoriah pada Ngaji Ahad Pagi (5/11) di Gedung NU Pringsewu, Mustasyar PCNU Kabupaten Pringsewu KH Sujadi menjelaskan betapa dahsyatnya peristiwa hari kiamat; bumi berguncang, bebunyian menggelegar, raungan-raungan suara manusia terdengar di segala penjuru berusaha mencari keselamatan.

"Pada saat itu gunung seperti bulu yang tertiup angin; manusia seperti belalang yang diputus sayap dan kaki-kakinya. Manusia tidak tahu dirinya sendiri. Sampai-sampai seorang ibu yang sedang menyusui tidak sadar dan terpisah dari anaknya karena kebingungan yang luar biasa," jelasnya menggambarkan suasana kiamat yang menjadi inti surat tersebut.

Saat Bupati Pringsewu Kupas Surat tentang Kiamat (Sumber Gambar : Nu Online)
Saat Bupati Pringsewu Kupas Surat tentang Kiamat (Sumber Gambar : Nu Online)

Saat Bupati Pringsewu Kupas Surat tentang Kiamat

Pada saat itu lanjutnya, tidak ada lagi yang dibanggakan. Kekayaan, kepintaran, kekuatan, dan kelebihan fisik tidak akan menolong. Hanya amal perbuatan yang menentukan nasib manusia. 

"Nantinya akan ada timbangan amal. Jika amal baiknya lebih banyak maka surga tempatnya. Jika lebih sedikit maka nereka tempatnya. Jika seimbang maka akan diringankan hisabnya," kata ulama yang juga Bupati Pringsewu ini.

Lebih lanjut alumni Pondok Pesantren Al Asyariyyah Kalibeber Wonosobo yang akrab dipanggil Abah Sujadi ini menjelaskan luar biasanya kiaamat sampai Allah menegaskan 3 kali secara berulang-ulang kata Al Qoriah yang bermakna kiamat dalam surat tersebut. "Ini menunjukkan sesuatu yang harus diperhatikan oleh kita manusia," tegasnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Apa pun keputusan nantinya; apakah masuk surga ataupun neraka, adalah sesuatu yang terbaik bagi manusia akibat perbuatannya di dunia.

"Ketika harus masuk neraka selama seribu tahun maka bersyukurlah karena masih ada harapan masuk surga. Namun, ketika harus masuk neraka satu hari maka bersedihlah karena satu hari pada waktu itu sama dengan seribu tahun di dunia," jelasnya.

Oleh karenanya, ia mengajak untuk selalu berusaha melakukan amal perbuatan baik walaupun sedikit, dan meninggalkan perbuatan buruk walapun sedikit  juga.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Mengutip peribahasa Jawa, "Becik ketitik ala ketara, (Hal yang baik akan kelihatan, dan yang yang buruk akan tampak)" Abah Sujadi mengingatkan apa pun kebaikan dan keburukan yang dilakukan di dunia tidak akan luput dari perhitungan.

Untuk meringankan siksa yang didapatkan,  ia mengimbau agar senantiasa berdoa supaya dimudahkan hisab di yaumul akhir dengan doa Rabbi hasibni hisaban yasiira. Artinya, "Ya Tuhanku Hisablah aku dengan hisab yang ringan."

"Aja pelit-pelit shalawat (Jangan pelit bershalawat). Mudah-mudahan kita mendapatkan syafaat Nabi Muhammad SAW dan kita mendapatkan keringanan siksa hari akhir," pungkasnya menjelaskan manfaat shalawat. (Muhammad Faizin/Kendi Setiawan).

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Sholawat Pondok Pesantren An-Nur Slawi