Rabu, 16 Agustus 2017

Ini Usia Potensial Seseorang Tertarik Kelompok Teroris

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Pol Hamidin menyatakan bahwa usia-usia anak muda menjadi sangat rentan untuk gabung dengan organisasi terorisme dan radikalisme. Mereka yang bergabung dengan kelompok teror lebih dominan adalah mereka yang berusia remaja menuju dewasa.

“Berdasarkan usia, orang Indonesia yang rentan jadi teroris adalah usia 21 sampai 30 tahun dengan persentase 47 persen. Sementara berdasarkan tingkat pendidikan adalah anak-anak SMA dengan persentase 63 persen (dari penelitian yang dilakukan),” kata Hamidin dalam pertemuan internasional yang diinisiasi NU, International Summit of Moderate Islamic Leaders di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Senin (9/5) siang.

Ini Usia Potensial Seseorang Tertarik Kelompok Teroris (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Usia Potensial Seseorang Tertarik Kelompok Teroris (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Usia Potensial Seseorang Tertarik Kelompok Teroris

Ia menjelaskan bahwa ada beberapa alasan mengapa para anak muda tersebut bisa bergabung dan menjadi seorang teroris. “Bisa karena mencari identitas, membutuhkan rasa kebersamaan, ingin memperbaiki apa yang dianggap sebagai ketidakadilan, serta mencari sensasi dan heroik,” paparnya.

Namun demikian, ia menganggap bahwa Indonesia adalah negara yang mampu mengidentifikasi aksi-aksi dan jaringan terorisme sehingga gerakan-gerakan radikal tersebut tidak meluas. Ia mengatakan bahwa sampai saat ini ada seribu lebih teroris yang sudah ditangkap dan direhabilitasi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sementara itu, Katib Aam Nahdlatul Ulama (NU) KH Yahya Cholil Staquf mengatakan bahwa jumlah teroris yang tertangkap tentu tidak akan mengurangi jumlah teroris yang ada.

“Malah semakin bertambah,” tegas Gus Yahya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ia meyakini bahwa hal tersebut terjadi karena dua hal. Pertama, strategi yang digunakan untuk menaggulangi terorisme selama ini mengandung kelemahan-kelemahan. “Di antaranya adalah pengingkaran bahwa di dalam terorisme ini ada elemen-elemen Islam yang mempengaruhi dan membuat mereka seperti itu,” katanya.

Kedua, para teroris menggunakan strategi yang canggih, massif, dan belum tertandingi sehingga mereka beraksi tanpa ada hadangan seperti tanpa ada halangan yang berarti.

“Gelombang yang tertarik terhadap terorisme tidak berkurang. Kita harus membangun strategi yang sama kuatnya untuk menghadapi terorisme,” tandasnya. (Muchlishon Rochmat/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Fragmen, AlaNu, Daerah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar