Rabu, 27 Januari 2016

Shalat Gerhana Menurut KH Sholeh Darat Assamarani

Masyarakat Indonesia sudah bersiap-siap menanti hadirnya momen spesial pada Rabu Pon, 9 Maret 2016, yaitu gerhana matahari total. Tentunya sebagai umat Islam, hadirnya gerhana itu menjadi tanda kebesaran Allah dan bagi kalangan ahli falak dan astronomi, ini menjadi titik riset yang sangat menarik.

Salah satu hal penting di luar hingar-bingar menanti hadirnya gerhana matahari total ini adalah kembali menilik karya ulama Nusantara asal Jepara dan besar di Semarang dalam menyambut gerhana.

Shalat Gerhana Menurut KH Sholeh Darat Assamarani (Sumber Gambar : Nu Online)
Shalat Gerhana Menurut KH Sholeh Darat Assamarani (Sumber Gambar : Nu Online)

Shalat Gerhana Menurut KH Sholeh Darat Assamarani

Ialah KH Muhammad Sholeh bin Umar Assamarani (dikenal dengan KH Sholeh Darat) yang turut memberikan penjelasan amalan shalat gerhana. Bab khusus mengenai shalat gerhana ditulis dalam Kitab Majmuatu al Syariah al Kafiyati lil Awam halaman 84-85 Fashlun fi al Kusufaini.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

KH Sholeh Darat menegaskan bahwa shalat dua gerhana (bulan dan matahari) hukumnya sunnah muakkad.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Adapun yang diperintahkan untuk mengikuti shalat gerhana adalah laki-laki dan wanita, boleh munfarid (sendiri) atau berjamaah. Dan KH Sholeh Darat menyampaikan bahwa shalat gerhana lebih utama dilakukan dengan berjamaah.

Bacaan dalam shalat gerhana bulan dilakukan dengan jahr (keras) dan jika gerhana matahari dengan pelan-pelan. Jumlah rakaat shalat gerhana paling sedikit dua rakaat salam sebagaimana shalat rawatib.

Adapun tata cara shalat gerhana berbeda dengan shalat pada umumnya. Pada rakaat pertama dibuka dengan niat, doa iftitah, al Fatihah, surat, ruku, berdiri itidal, tidak langsung sujud tapi membaca al-Fatihah, surat, ruku, itidal dan dilanjutkan sujud dua kali.

Pada rakaat kedua juga sama dengan rakaat pertama dengan dua kali al Fatihah, surat, ruku dan itidal disambung sujud dua kali serta tahiyyat akhir dengan ditutup salam.

Dan untuk kesempurnaan shalat gerhana, maka bacaan surat, menurut KH Sholeh Darat memakai yang panjang. Setelah itu juga rukunya dibuat panjang sekira sama dengan bacaan 200 ayat.

Bacaan berdiri itidal dijelaskan oleh KH? Sholeh Darat dengan mengucapkan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Perbedaan waktu ruku pada rakaat pertama dan rakaat kedua oleh KH Sholeh Darat dibuat berbeda. Pada rakaat pertama dua kali ruku diharapkan sama dengan membaca 200 ayat (pertama) dan 150 ayat (kedua).

Adapun ruku yang rakaat kedua bacaan ruku dibuat panjang sekira sama dengan bacaan 100 ayat (pertama) dan 50 ayat (kedua).

Dalam menjalankan sujud selama shalat gerhana juga diharapkan dengan sujud yang panjang/lama.

Ketika shalat dilaksanakan secara berjamaah, maka dilaksanakan khutbah dua kali setelah shalat gerhana. Adapun materi khutbah yang disarankan KH Sholeh Darat kepada khatib adalah dengan menyampaikan taubat dan shadaqah.

Demikian sepintas mengenai isi kitab karya KH? Sholeh Darat yang membahas mengenai shalat gerhana. Wallahu alam.



(M Rikza Chamami,? dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, pernah aktif di organisasi pelajar NU sampi ke tingkat pusat, yaitu menjadi Pjs Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi News, Doa, Jadwal Kajian Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 21 Januari 2016

Ini Tantangan Mempromosikan Islam Nusantara menurut Pakar Radikalisme Eropa

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Islam Nusantara yang menjadi tema besar kegiatan International Summit of The moderate Islamic Leaders menarik perhatian para ulama, narasumber internasional, dan pemimpin dunia Islam yang hadir dalam forum yang digelar Senin-Rabu (9-11/5) di JCC Senayan Jakarta. Salah satunya oleh Dr Nico Prucha, salah satu narasumber forum.?

Ini Tantangan Mempromosikan Islam Nusantara menurut Pakar Radikalisme Eropa (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Tantangan Mempromosikan Islam Nusantara menurut Pakar Radikalisme Eropa (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Tantangan Mempromosikan Islam Nusantara menurut Pakar Radikalisme Eropa

Dosen muda Universitas Wina Austria tersebut berpendapat bahwa Islam Nusantara adalah prinsip yang mengedepankan pluralitas. Ia memiliki anggapan bahwa untuk mempromosikan Islam Nusantara ke penjuru dunia itu susah-susah gampang. Mudahnya adalah karena Barat membutuhkan pemahaman yang berbeda tentang Islam, dan itulah yang akan menyadarkan mereka bahwa ISIS hanya sebagian kecil saja daripada Islam.

Adapun sulitnya, lanjut Pakar Radikalisme dari Department of War Studies ICSR (The International Center of The Study Radicalisation and Political Violence) yang berbasis di London itu, adalah karena Barat kurang percaya dan bertindak rasis terhadap Islam. Oleh karenanya, pria yang fasih berbahasa Arab tersebut melihat bahwa itulah tantangan-tantangan yang harus NU hadapi untuk mempromosikan dan menyebarkan Islam yang moderat, Islam Nusantara.

Menurutnya, strategi untuk mempromosikan Islam Nusantara adalah dengan mengakui bahwa Islam memiliki masalah sebagaimana fenomena ISIS yang mencuplik dalil-dalil dari Al-Quran, Hadis, dan Fiqih sebagai dasar pergerakan mereka.?

“Dan juga lebih aktif lagi menyuarakan tentang Islam Nusantara kepada dunia,” tutur Nico.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ia mencontohkan bahwa praktik-praktik toleransi dan pluralisme yang terjadi di Indonesia seharusnya menjadi pelajaran bagi Barat bahwa Islam itu adalah agama yang cinta damai dan bisa hidup harmonis meski dalam perbedaan. ?

“Muslim Indonesia yang rela untuk menjaga Borobudur dan memahami umat Budddha. Ini lah seharusnya yang menjadi rujukan orang-orang kita, pemerintahan-pemerintaham kita,” harap Nico.

Ia menilai bahwa untuk mengahalau gerakan-gerakan ekstrimisme tidak lah cukup dengan menggunakan kekuatan, harus ada pendekatan budaya, pendidikan, dan praktik-praktik toleransi yang terus digulirkan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Menghadapi ISIS tidak cukup dengan kekuatan senjata berat saja,” tandasnya. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Tegal Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 02 Januari 2016

Pesantren: Ruh Pendidikan Sepanjang Hayat

Oleh Fathoni Ahmad

Matahari tidak pernah berhenti menyinari alam semesta meskipun mendung. Jika pun alam bergerak menggelap, itu hanya tertutup mendung dan awan. Namun pada hakikatnya, matahari tetap bersinar. Semangat ini tidak pernah pudar bagi Pendidikan Islam untuk selalu menyinari dunia dengan mencetak manusia berakhlak mulia nan cerdas dari generasi ke generasi.

Pesantren: Ruh Pendidikan Sepanjang Hayat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren: Ruh Pendidikan Sepanjang Hayat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren: Ruh Pendidikan Sepanjang Hayat

Pendidikan Islam berupaya mengangkat perjuangan para santri dan siswa madrasah untuk selalu memumpuk mimpi agar terus bersinar meskipun berbagai hambatan kerap kali datang. Ini membuktikan, selain memiliki kecerdasan akal dan nurani, generasi pendidikan Islam juga mempunyai mental kokoh untuk bergelut dengan perubahan zaman yang makin tak terbendung kemajuannya.

Potensi yang ada pada diri setiap santri dan siswa madrasah harus mampu menyinari diri di setiap usaha yang dibangun sehingga mimpi dapat mudah terwujud. Dalam hal ini, filosofi matahari yang tak pernah berhenti bersinar harus menjadi palu godam ampuh bagi generasi pendidikan Islam untuk meraih mimpi dan cita-cita setinggi langit demi mengabdi pada negeri.

Historisitas bangsa Indonesia tidak terlepas dari jasa menawan para generasi pendidikan Islam, terutama pesantren. Karena lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia ini terbukti mampu mencetak tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia, sebut saja Pangeran Diponegoro, RA Kartini, KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Abdul Wahid Hasyim, HOS Tjokroaminoto, Buya Hamka hingga tokoh fenomenal KH Abdurrahman Wahid atau yang lebih dikenal dengan Gus Dur.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Tokoh-tokoh tersebut tidak hanya para pemikir, tetapi juga penggerak perubahan di tengah masyarakat. Pandangan mereka mampu menembus batas tebalnya zaman yang kerap tidak pernah terpikirkan oleh orang pada umumnya. Di titik inilah membumikan mimpi mempunyai peran penting untuk mengikuti jejak para founding fathers dalam menuntun zaman ke arah yang lebih harmonis sekaligus humanis.

Para tokoh pendidikan Islam tidak hanya menginspirasi perjuangan para anak bangsa untuk meraih mimpi, tetapi juga menunjukkan bahwa pemerintah turut memiliki peran besar melalui berbagai layanan pendidikan dalam bentuk beasiswa yang dapat diakses oleh anak-anak negeri hingga meraih pendidikan setinggi-tingginya. Fasilitas pemerintah ini membutuhkan kerja keras dan cerdas dari para generasi muda untuk bisa mengaksesnya.

Cukuplah para pejuang dan generasi emas yang lahir dari pendidikan Islam dapat membumikan mimpi anak bangsa. Modal berharga yang amat dibutuhkan untuk membumikan mimpi tidaklah mudah, namun juga tidak sulit. Karena semangat dan kemauan yang tinggi untuk maju sangat diperlukan oleh generasi muda dalam rangka menyinari potensi menjadi kebanggaan negeri.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pesantren: life long education? . Pola pendidikan pesantren tidak terbatas waktu, karena ia memahami sekaligus menerapkan prinsip thuluz zaman (berkelanjutan). Dalam teori pendidikan modern, konsep ini dikenal dengan pendidikan sepanjang hayat (life long education). Konsep ini mempunyai makna bahwa pendidikan tidak sebatas yang ada di kelas, memahami materi pelajaran, dan mampu melahap soal-soal ujian.?

Namun, pendidikan sepanjang hayat membuat anak didik tidak pernah berhenti belajar di mana pun ia berada dan kapan pun dia melihat peristiwa sebagai dasar pembangun rasionalitas-ilmiahnya. Anak didik mungkin dengan gampang memahami bahwa satu ditambah satu sama dengan dua. Tetapi, apakah mereka mengerti makna dari perhitungan ilmiah tersebut? Bagaimana guru atau pendidik agar fakta ilmiah tersebut bermakna (meaningful) bagi peserta didik?

Di titik itulah rasionalitas ilmiah harus dibangun dengan moral kokoh melalui pendidikan bermakna. Mereka harus dipahamkan bahwa dua merupakan hasil dari penjumlahan satu ditambah satu, tidak kurang atau pun lebih. Artinya, generasi bangsa perlu dididik kejujuran sehingga tidak mudah terpengaruh perilaku korup yang sering menambah atau mengurangi jumlah. Tentu ini karakter sederhana yang perlu terus menerus dievaluasi kepada anak didik, meskipun pada praktiknya banyak pendidik yang menemukan kesusahan.

Lalu, apa korelasinya dengan prinsip thuluz zaman-nya pesantren? Penulis ingin menyampaikan bahwa pendidikan pesantren tidak sebatas memahami kitab dan berbagai literatur klasik, tetapi juga mampu memberi makna dan mempraktikannya di tengah kehidupan masyarakat yang plural. Dalam hal ini, pesantren sering kali disebut sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang mampu mendidik santri akan keberagaman bangsanya sehingga muncul sikap toleransi tinggi dan nasionalisme yang kokoh.

Pesantren juga tidak memposisikan dirinya sebagai lembaga pendidikan menara gading, artinya tertutup bagi masyarakat dan jauh dari hiruk-pikuk kehidupan mereka. Pesantren membangun koloni dengan tradisi dan budaya masyarakat, tidak soliter sehingga lulusan pesantren tidak akan mudah tercerabut dari akar sosial masyarakatnya. Karakter ini diperlukan dalam dunia pembangunan karena sudah barang tentu lulusan pesantren akan dengan mudah membangun masyarakatnya sebab memiliki ikatan sosial yang kuat.

Itu bukti bahwa pendidikan pesantren mampu menciptakan generasi pembelajar sepanjang hayat sebagai buah dari konsep thuluz zaman. Belajar dari pesantren, dunia pendidikan Indonesia hendaknya tidak lepas dari akar tradisi dan budaya masyarakatnya. ? Ini penting untuk mewujudkan generasi yang mampu memberikan solusi konkret terhadap setiap persoalan yang melilit masyarakat. Tidak dengan konsep dan teori yang terlalu mengawang-awang. Apalagi dengan ceramah kosong yang hanya berisi hujatan dan larangan terhadap tradisi dan budaya yang jelas-jelas menciptakan harmoni di tengah kehidupan masyarakat.

Pesantren dan pendidikan Islam pada umumnya memandang bahwa sasaran ilmu agama tidak lain adalah masyarakat sehingga pemahaman agama harusnya tidak bersifat tertutup (eksklusif) melainkan harus terbuka atau inklusif terhadap segala yang berkembang di tengah masyarakat. Eksklusivisme hanya akan membuat agama Islam sebagai rahmat dengan mudah akan tertolak oleh masyarakat. Sehingga alih-alih membuat masyarakat sadar akan limpahan rahmat Tuhannya, yang terjadi justru bersikap apatis terhadap agamanya. Ini poin penting agar lembaga pendidikan sebagai pencetak generasi masa depan agar tidak menjauhkan diri dari akar sosial masyarakatnya.***

Penulis adalah Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta.?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Habib, Pesantren, Nasional Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 01 Januari 2016

Arifin Ilham Pimpin Dzikir Akbar di Probolinggo

Probolinggo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pemerintah Kabupaten Probolinggo, Senin (26/8) menggelar halal bihalal dan dzikir akbar bersama Ustadz Moh. Arifin Ilham selaku Pimpinan Majelis Adz-Dzikro, Jakarta Pusat. Kegiatan dipusatkan di Alun-alun Kota Kraksaan.

Acara ini digelar dengan tujuan untuk melanggengkan tradisi halal bihalal Bupati dan Wakil Bupati Probolinggo dengan seluruh elemen masyarakat Kabupaten Probolinggo yang biasanya dilakukan berkeliling ke 24 kecamatan. Halal bihalal dan dzikir akbar ini diawali dengan pembacaan kitab suci Alqur’an.

Arifin Ilham Pimpin Dzikir Akbar di Probolinggo (Sumber Gambar : Nu Online)
Arifin Ilham Pimpin Dzikir Akbar di Probolinggo (Sumber Gambar : Nu Online)

Arifin Ilham Pimpin Dzikir Akbar di Probolinggo

Halal bihalal dan dzikir akbar yang diikuti oleh ribuan jama’ah ini dihadiri oleh Bupati Probolinggo Hj. P. Tantriana, SE didampingi suaminya selaku Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo dan Kota Kraksaan Drs. H. Hasan Aminuddin, M.Si, Wakil Bupati Drs. H.A. Timbul Prihanjoko, jajaran Forum Pimpinan Daerah (Forpimda), Sekretaris Daerah H. Moch. Nawi serta Kepala SKPD dan Camat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Probolinggo.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Tampak pula Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Probolinggo KH. Moch. Syaiful Hadi, Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Kraksaan H. Nasrullah Ahmad Suja’i beserta segenap pengurus lembaga, lajnah dan badan otonom.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Bupati Probolinggo Hj. P. Tantriana Sari, SE dalam sambutannya menuturkan bahwa halal bihalal dan dzikir akbar ini baru pertama kali dilakukan. Sebab tahun sebelumnya, Bupati dan Wakil Bupati Probolinggo yang keliling mendatangi 24 kecamatan melakukan halal bihalal.

“Agar bisa tampil beda, makanya dikemas berbeda. Tidak hanya halal bihalal, namun sekaligus dzikir akbar bersama KH. Moh. Arifin Ilham,” ujar Bupati Tantri di hadapan ratusan jama’ah yang saat itu menggunakan pakaian serba putih.

Dalam kesempatan tersebut Bupati Tantri mengucapkan mohon maaf lahir dan batin. Katanya, sebagai manusia biasa, dirinya tidak akan lepas dari salah dan khilaf dalam berinteraksi dan melaksanakan tugas sebagai pelayan masyarakat.

“Mohon doa pula agar kami dalam melayani masyarakat diberikan kekuatan dan kemampuan sehingga lima tahun ke depan mampu menjadi pelayan masyarakat yang khusnul hotimah menuju Kabupaten Probolinggo yang baldatun toyyibatun warobbun ghofur,” jelas Bupati Tantri.

Sementara Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo dan Kota Kraksaan Drs. H. Hasan Aminuddin, M.Si dalam sambutan singkatnya meminta untuk terus memelihara budaya yang ada di Indonesia yang tidak bertentangan dengan syariat Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja, red). Yakni budaya halal bihalal. “Mari kita pelihara budaya yang hanya ada di Republik Indonesia ini berupa halal bihalal,” ajaknya singkat.

Sedangkan Ustadz Moh Arifin Ilham diawal ceramahnya mengingatkan bahwa manusia hidup di dunia ini hanyalah sesaat. “Sebentar lagi kita akan menemui ajal. Jangan sia-siakan kesempatan ini, perbanyak berdo’a, ibadah kepada Allah SWT,” katanya.

Lebih lanjut ustadz kondang itu mengajak jama’ah untuk menundukkan kepala dan menengadahkan kedua tangan untuk berdo’a, meminta ampunan atas dosa-dosa yang telah diperbuat selama ini. “Mari kita tundukkan kepala, kita tengadahkan kedua tangan memohon ampunan kepada Allah SWT atas semua dosa yang telah kita perbuat,” ajaknya.

Sejenak kemudian, ribuan jama’ah yang memenuhi halaman tengah Alun-alun Kota Kraksaan terlihat hening, khusyuk sambil mengamini doa-doa yang dipanjatkan oleh Ustadz Ilham Arifin.

Diakhir ceramahnya, ia juga mengajak umat muslim di Kabupaten Probolinggo untuk membiasakan sedekah, biasakan menjaga wudlu’ dan memperbanyak istighfar. “Dengan bersedekah rezeki kita akan mudah,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Humor Islam, Berita, Amalan Pondok Pesantren An-Nur Slawi