Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Februari 2018

Menggagas Pesantren Masa Depan

Oleh Muhamad Nurdin

Pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan Islam. Pada awal perkembangannya. sulit melakukan respon terhadap gebyar-gebyar perubahan sosial yang berlangsung begitu cepat. Pesantren tempat dan sekaligus merupakan miniatur pendidikan Islam di Indonesia, dalam sejarahnya lahir dan berbasis di pedesaan, jauh dari gebyar dan hiruk pikuk perkotaan, terseok-seok di daerah pinggiran yang kelam.

Bangunan-bangunan tua nun jauh di pedalaman, para kyai dan santri yang hanya melangkah perlahan-lahan menapaki jalan di alam desa yang hening dan kelam bahkan nyaris diam.

Menggagas Pesantren Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)
Menggagas Pesantren Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)

Menggagas Pesantren Masa Depan

Beruntung, pesantren menyadari perlunya perubahan, maka pada awal abad ke-20, pesantren memperkenalkan sistem klasikal yang disebut madrasah. Sistem ini dilengkapi dengan pengetahuan umum, walaupun masih sangat terbatas sebagai jawaban positip atas terjadinya perubahan-perubahan akibat politik etis kolonial.

Kalau saja rentang sejarah berlanjut, dan pesantren tanpa menyadari perubahan, barangkali kita hanya dapat menyaksikan gedung-gedung tua yang reot, reproduksi keulamaan dan keintelektualan Islam hanya akan berjalan tersendat-sendat.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dan ketika telah begitu banyak fakta yang di produksi sejarah, maka berbagai bentuk pengandaian tinggalah sebuah pengandaian. Tapi dengan pengandaian seperti ini, kita akan merenung sejenak, betapa pentingnya perubahan atau modernisasi itu. Dengan metode klasikal atau sistem madrasah. Pesantren moderen, telah membuka kran tradisi dan mengalirkan anak santri “keatas” terlepas dari kenangan masa lampau yang kumuh dan jumud.

Dari rahim pesantren, lahirlah sejumlah nama, sebut saja, KH. Abdurrahman Wahid, ? KH. Hasyim Muzadi, Dr. Nurcholish Madjid, Dr. Komarudin Hidayat, Lukman Hakim Saefuddin, Said Aqil Siroj, Quraish Shihab, Nazaruddin Umar, dan masih banyak yang lainnya. ? Mereka dinilai tangguh dan mampu mengembangkan dirinya dalam bidang ilmu agama Islam, juga memiliki kepekaan terhadap masalah sosial dan lingkungan. Itulah beberapa alumni pesantren yang mendapat legitimasi dari masyarakat sebagai ulama atau cendekiawan.?

Jauh sebelum itu, dari pesantren telah lahir juga tokoh-tokoh yang memainkan peran penting dalam khazanah intelektualisme Islam. Dalam sejarah intelektualisme pesantren, kita pernah mendengar tokoh bersarung, tapi intelektualnya tidak sarungan, bahkan merambah membahana semesta alam jagat mayapada keilmuan di seantero bumi. Sebut saja misalnya, Syekh Nawawi al-Bantany, Syekh Mahfudz al-Tirmasy, Sykeh Yasin al-Fadany, dan lain sebagainya.

Pesantren peka zaman

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kini, pesantren tidak hanya tumbuh di alam pedesaan, tapi juga sudah jauh merambah ke kota-kota besar. Bahkan, dulu anak-anak pesantren kudis dan korengan, sekarang mereka menjadi santri yang wangi, dengan semprotan parfum merek terkenal, clive christians, carons poivre, bulgari, dan lainnya. Belajarnya tidak hanya berkutat dengan kitab kuningan, yang khas pesantren. Tapi juga belajar Bahasa Inggris, kewirausahaan, dan ilmu-ilmu yang bersifat ke-dunia-wian. Ini penting mengingat zaman sudah berubah.

Di dalam pembabakan perkembangan pendidikan di Indonesia, lahirnya Undang-Undang No. 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional, dipandang sebagai saat simbolik yang mengukuhkan bahwa lembaga keagamaan seperti pesantren, sedang memasuki era baru dalam strategi pengembangan secara nasional.?

Dengan masuknya lembaga pesantren dalam Undang-undang Sisdiknas, jelas ini merupakan langkah maju. Karena sudah terbukti dalam sejarah segala zaman, pesantren tetap eksis di tengah-tengah masyarakatnya, dari tahun ke tahun pesantren terus bertumbuh. Ini menandakan pesantren sudah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Disinilah pesantren berperan sebagai ”Center of excellence” pusat keunggulan. Karena pesantren memiliki keunggulan ? komperatif, yaitu penekanan yang signifikan pada pendidikan agama dan akhlak (moralitas). Inilah yang menjadi daya tarik para orang tua memasukan anaknya pada pesantren.

Untuk merespon dinamika zaman yang terus melaju dengan kencangnya, maka sangat dibutuhkan pesantren yang melongok pada desa global (gobal village), atau pesantren yang peka zaman. Artinya, bahwa pesantren dituntut untuk melayani masyarakat pengguna pendidikan. Hal tersebut dilakukan dengan tidak menghilangkan identitas dan ciri khas pesantren sebagai institusi pendidikan Islam yang bernuansa religius.?

Minimal, ada tiga hal yang harus dilakukan pesantren agar menjadi lembaga pendidikan Islam yang peka zaman. Pertama, pengembangan kurikulum pesantren. Dalam kurikulum tersebut pesantren tidak hanya bergelut dengan kitab kuningan semata, tetapi juga mengajarkan ilmu yang dibutuhkan oleh masyarakat, supaya bisa berdaya saing.?

Kedua, manajemen pengelola. Para pengelola tidak berdasarkan kekeluargaan semata, tapi dipilih sesuai dengan kualitas keilmuan. Pengelola dilakukan perperiodik, bisa tiga tahun atau lima tahun sekali dipilih oleh dewan pesantren.?

Tujuannya yaitu, untuk mengevaluasi dan menilai efektivitas kebijaksanaan pesantren, program, pelaksanaannya serta mutu lulusannya. diharapkan juga dapat menghasilkan suatu laporan yang membeberkan kelemahan-kelemahan, kekuatan-kekuatan dan prestasi pesantren serta memberikan rekomendasi untuk menyususn rencana strategis pengembangan pesantren pada masa yang akan datang.

Ketiga, kepemimpinan pesantren. Dalam menggapai keberhasilan pesantren peka zaman, dibutuhkan sosok pemimpin yang handal. ? Sehingga memiliki peran dan fungsi yang sangat potensial untuk menggerakan, menata, dan mengelola pesantren bersama para kiai atau ustadz ? yang lainnya, dengan asas saling bekerja sama dan saling bahu membahu untuk memanjukan pesantren.?

Dengan kepemimpinan seperti itu, setidaknya dapat mengangkat citra, kualitas, dan gairah baru sebuah pesantren masa depan.

Zaman memang sudah berubah, para penghuninya pun sudah berubah. Akankah kita melihat lagi era keemasan, dimana pesantren yang telah mencetak para ulama sekelas Syekh Nawawi al-Bantany atau Syekh Yasin al-Fadany? Kita tunggu saja ledakan tradisi pemikiran intelektualisme pesantren di masa datang, tentunya harus dibarengi dengan kerja keras yang dahsyat. Mampuhkah itu?

Penulis adalah Ketua ISNU Kuningan, Kepala Seksi Penyelenggara Syariah Kemenag Kuningan, dan penulis beberapa buku yang diterbitkan secara nasional.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Halaqoh, Pesantren, Lomba Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 15 Februari 2018

Koleksi Al-Quran di Masjid Al-Fairus Pekalongan

Pekalongan, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Bagi para pemudik Lebara yang melewati Kota Pekalongan, Jawa Tengah, mungkin Anda sempat melihat bangunan masjid megah di sebelah utara Jl Dr Sutomo, tepatnya persis sebelum melewati terminal. Atau bahkan Anda justru sudah singgah di masjid tersebu, yakni Masjid Al-Fairus.

Masjid Al-Fairus menjadi salah satu tempat persinggahan favorit para pemudik. Selain menyediakan area istirahat yang luas dan nyaman, para pengunjung juga dapat melihat aneka koleksi Al-Quran dari berbagai negara, yang diletakkan di salah satu sudut bangunan.

Koleksi Al-Quran di Masjid Al-Fairus Pekalongan (Sumber Gambar : Nu Online)
Koleksi Al-Quran di Masjid Al-Fairus Pekalongan (Sumber Gambar : Nu Online)

Koleksi Al-Quran di Masjid Al-Fairus Pekalongan

Pondok Pesantren An-Nur Slawi berkesempatan melihat berbagai koleksi tersebut saat kami menyambangi tempat ibadah yang diresmikan pada tahun 2005 itu, Senin (11/7) lalu. Koleksi Al-Quran dengan beragam ukuran tersebut, dipajang rapi di dalam sebuah almari kaca.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Letak almari yang ditempatkan di luar masjid sehingga para pengunjung dapat leluasa untuk melihatnya. Pada rak paling bawah, terdapat tulisan : “Kumpulan Al-Qur’an Cetakan dari Terbesar di dunia sampai Terkecil”.

H Abdullah Machrus, Ketua Yayasan Al Fairus, menjelaskan aneka koleksi Al-Quran tersebut merupakan koleksi pribadi miliknya, yang kemudian dihibahkan kepada Yayasan Al-Fairus.

Dipaparkan dia, saat ini, koleksi Al Quran cetak di Masjid Al Fairus ada sekitar 45 buah. “Yang terbesar yang dari Indonesia, sedangkan Al-Quran cetak terkecil dapat dari negara Suriah. Setiap berpergian ke luar negeri, saya selalu menyempatkan diri ke toko buku untuk membeli Al Quran di negara tersebut,” ungkap dia.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selain melihat koleksi Al-Quran, para pengunjung di Masjid Al-Fairus juga dapat membeli oleh-oleh khas Pekalongan yang dijual di kios-kios yang terletak di sekitar kompleks masjid. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pesantren Pondok Pesantren An-Nur Slawi

HUT RI Ke-70, Santri Pandanaran Gelar Mujahadah dan Tahlil

Sleman, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Untuk memperingati HUT Ke-70 RI, santri Hufadz Pesantren Pandanaran mengisi momen spesial ini dengan Mujahadah dan tahlil bersama serta pembacaan Maulid ad-Dibai, Ahad (16/08). Kegiatan ini diselenggarakan bada Maghrib di Pesantren setempat.

Danang Tri Atmojo, salah satu santri Pandanaran mengatakan, bahwa acara ini diselenggarakan untuk memperingati HUT RI. Selain itu, yang tidak kalah penting adalah dalam rangka mendoakan para Pahlawan dan syuhada bangsa ini yang telah gugur demi kemerdekaan Republik Indonesia.

HUT RI Ke-70, Santri Pandanaran Gelar Mujahadah dan Tahlil (Sumber Gambar : Nu Online)
HUT RI Ke-70, Santri Pandanaran Gelar Mujahadah dan Tahlil (Sumber Gambar : Nu Online)

HUT RI Ke-70, Santri Pandanaran Gelar Mujahadah dan Tahlil

"Acara memperingati HUT ke-70 RI ini, memang dikemas dengan Mujahadah dan tahlil bersama, serta pembacaan Maulid ad-Dibai. Hal demikian dilakukan sebagai bentuk ekspresi kami sebagai santri, untuk memperingati momen HUT bangsa dan negara ini," tutur Danang.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Untuk membangkitkan rasa nasionalisme, para santri dengan penuh semangat, menggelorakan syiir Hubbul Wathon karya KH Wahab Chasbulloh ditengah-tengah pembacaan Maulid ad-Dibai.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Syiir karya KH Wahab Chasbulloh ini memang sengaja kami selipkan ditengah-tengah pembacaan Maulid ad-Dibai. Hal demikian kami maksudkan supaya ada sinergi antara rasa cinta kepada Allah, Nabi Muhammad, dan Tanah Air Indonesia," ungkap salah satu Mahasiswa STAI Sunan Pandanaran ini. (Anwar Kurniawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pesantren, AlaSantri Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 07 Februari 2018

Muskerwil Jatman Lampung Rumuskan Sejumlah Program

Pringsewu, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Idarah Wustha (Pimpinan Wilayah) Jamiyyah Ahlith Thariqah Al-Mutabarah An-Nahdliyah (Jatman) Provinsi Lampung menggelar Musyawarah Kerja Wilayah Ke-1 di? Pondok Pesantren Sunan Jatiagung, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Pringsewu, Lampung asuhan Habib Yahya bin Hamid Assegaf, 9-10 Januari 2016.

Muskerwil Jatman Lampung Rumuskan Sejumlah Program (Sumber Gambar : Nu Online)
Muskerwil Jatman Lampung Rumuskan Sejumlah Program (Sumber Gambar : Nu Online)

Muskerwil Jatman Lampung Rumuskan Sejumlah Program

Muskerwil kali ini dihadiri seluruh pengurus Idarah Syubiyah (Pimpinan Cabang) Jatman se-Provinsi Lampung, pengurus PWNU Lampung, pengurus PCNU Pringsewu, dan utusan sejumlah badan otonom NU.

"Musyawarah ini adalah forum tertinggi organisasi thariqah setelah kongres yang wajib dilakukan minimal satu kali dalam setahun, dan merupakan perintah organisasi yang tertuang dalam AD/ART Bab 20 Pasal 10 Peraturan Organisasi Thariqah," kata KH. Abdul Mukti, Mudir Aam Idarah Aliyah (Ketua Umum Pimpinan Pusat) Jatman dalam sambutannya sekaligus membuka Muskerwil tersebut.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Muskerwil ini membahas sejumlah agenda, antara lain membentuk sejumlah Idarah Syubiyah di tingkat kabupaten, optimalisasi cabang-cabang yang ada, pembuatan kartu tanda anggota (KTA) Thariqah, meningkatkan kerja sama dengan pemerintah, dan melakukan hubungan secara intensif dengan para masayyikh.

Penyelenggaraan sidang komisi dibagi menjadi 5 Komisi, yakni Komisi A, B, C, D dan E dan bertempat di beberapa Pesantren yang ada Kecamatan Ambarawa. Sidang Komisi A diselenggarakan di Pesantren Sunan Jatiagung, Komisi B di Pesantren Miftahul Huda (Yasmida) Ambarawa, Komisi C di Pesantren Tahfidzul Quran Matlaul Huda Ambarawa, Komisi D di Pesantren Sunan Jatiagung, dan Komisi E di Masjid Nurul Huda Tanjunganom.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Komisi A berisi kegiatan bahtsul masail, Komisi B membahas tentang keorganisasian, Komisi C membahas bidang ekonomi, Komisi D membahas tentang pemberdayaan Muslimat Thariqiyah, dan Komisi E membahas tentang program-program Matan (Mahasiswa Ahli Thariqah Al Mutabaroh An-Nahdliyyah).

Agenda Sidang Pleno Penyampaian dan Penetapan Hasil Sidang Komisi-Komisi tersebut yang dipimpin oleh Syeh Mufassirin (Abah Anom).

Sesuai jadwal, rencananya kegiatan tersebut ditutup hari ini, Ahad (10/1), dengan Pengajian Akbar yang akan diisi oleh Al Habib Hasan bin Agil Al Babud dari Purworejo, Jawa Tengah. Rais Aam Idarah Aliyah Jatman Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya dijadwalkan menutup forum yang berlangsung dua hari ini. (Henudin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pesantren, Sholawat Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 04 Februari 2018

Gus Sholah Apresiasi Langkah Panglima TNI Kunjungi Makam Presiden

Jombang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Langkah Panglima TNI Gatot Nurmantyo mengembangkan tradisi ziarah ke makam para mantan Panglima Tertinggi TNI mendapat apresiasi dari KH Sholahudin Wahid (Gus Sholah). Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang ini menyebut Gatot Nurmantyo menguasai sejarah dengan baik.

Hal itu diungkapkan Gus Sholah usai menerima kunjungan rombongan ziarah dalam rangka HUT Ke-71 TNI di Pesantren Tebuireng, Selasa (27/9) siang. Sebelum berziarah, Gatot dan Gus Sholah sempat berbincang sekitar 20 menit di Dalem Kasepuhan Tebuireng.

Gus Sholah Apresiasi Langkah Panglima TNI Kunjungi Makam Presiden (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Sholah Apresiasi Langkah Panglima TNI Kunjungi Makam Presiden (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Sholah Apresiasi Langkah Panglima TNI Kunjungi Makam Presiden

"Panglima dan saya berbincang-bincang tentang Resolusi Jihad. Ternyata beliau menguasai sejarah dengan baik," ujar adik kandung KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini.

Pada kesempatan ini, Gus Sholah juga menginformasikan kepada Gatot bahwa di Tebuireng sedang dibangun Museum Islam Hasyim Asyari. Pembangunan museum itu dimaksudkan untuk memberi informasi kepada masyarakat tentang proses masuknya Islam ke Nusantara dengan damai dan menggunakan pendekatan budaya, tanpa kekuatan militer.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Saya juga memberi informasi bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) didirikan oleh militer, polisi, pedagang, rakyat biasa, santri dan ulama. Ini untuk membantah pendapat bahwa negara berdasar Pancasila adalah negara yang bertentangan dengan Islam atau negara thaghut," tegas Gus Sholah.

Sebagaimana diberitakan, menjelang peringatan hari ulang tahun (HUT) Ke-71 TNI, Panglima TNI Gatot Nurmantyo mengajak seluruh Panglima Komando Utama (Pangkotama) untuk berziarah ke makam para mantan presiden dan panglima tinggi TNI.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Di Jawa Timur, Gatot mengajak rombongan berziarah ke makam Presiden Soekarno di Blitar dan KH Abdurrahman Wahid di Tebuireng Jombang, Selasa. Seluruh kepala staf dari ketiga kesatuan juga tampak mendampingi kunjungan tersebut.

Pria kelahiran 13 Maret 1960 ini? menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan hasil diskusi dengan seluruh kepala staf. Tujuannya, agar prajurit TNI senantiasa mengenang sejarah perjuangan kemerdekaan dan meneladani sikap para pahlawan.

Dengan mengingat sejarah, Gatot Nurmantyo berharap prajurit TNI dapat mencontoh kegigihan para pahlawan dalam menghadapi situasi yang semakin sulit. Dengan tradisi ziarah, mantan KSAD ini berharap TNI dan kalangan pesantren dapat bergandengan tangan untuk menghadapi tantangan pembangunan.

"Pantang menyerah, komitmen, penuh dedikasi dan yang paling penting berjuang dengan ikhlas, tanpa kepentingan apapun," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Tokoh, Halaqoh, Pesantren Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 03 Februari 2018

Hasyim Lebih Senang Khofifah Urus Muslimat NU

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi menyatakan lebih senang jika Khofifah Indar Parawansa berkonsentrasi membesarkan Muslimat NU, organisasi yang beranggotakan kaum ibu NU, daripada mengurus politik.

"Khofifah sebaiknya mengurus Muslimat saja, tak perlu memikirkan PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) atau PPP (Partai Persatuan Pembangunan)," kata Hasyim di kantor PBNU, Jakarta, Rabu.

Hasyim Lebih Senang Khofifah Urus Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasyim Lebih Senang Khofifah Urus Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasyim Lebih Senang Khofifah Urus Muslimat NU

Hasyim mengemukakan hal itu ketika diminta pendapatnya menyangkut upaya Ketua Umum PPP Suryadharma Ali mengajak Khofifah yang merupakan Ketua Umum Pucuk Pimpinan Muslimat NU kembali ke PPP, partai yang pernah mengantarkan Khofifah sebagai anggota DPR pada 1992-1998.

Saat acara gerak jalan santai di Jombang, Jawa Timur, Minggu (4/3), yang digelar untuk memperingati hari lahir GP Ansor dan Muslimat NU, Suryadharma Ali kembali "merayu" Khofifah agar balik ke PPP menyusul Ketua Umum GP Ansor Saifullah Yusuf.

Pada kesempatan itu, Suryadharma menyatakan dengan masuknya Saifullah Yusuf di jajaran Majelis Pertimbangan Partai PPP, maka partai berlambang Ka’bah itu tak bisa lagi dicap sebagai "partai orang tua". "Kalau anak muda didampingi ibu-ibu kan lebih adem," kata Surya saat itu.

Saat diminta tanggapannya mengenai "rayuan" Suryadharma, Khofifah yang saat ini masih tercatat sebagai anggota DPR RI dari PKB menyatakan hingga saat ini belum berpikir soal partai karena ingin lebih berkonsentrasi membesarkan Muslimat NU.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Namun, jawaban Khofifah tersebut di dalam penilaian Hasyim Muzadi belum memberikan jaminan bahwa mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan di era Presiden Abdurrahman Wahid (GUs Dur) itu sungguh-sungguh tak akan "menduakan" Muslimat NU dengan partai politik.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Kalau memang seperti itu (tak memikirkan partai, red) kenapa ada acara gerak jalan (yang menghadirkan Ketua Umum PPP) segala," kata Hasyim. (ant/mad)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pesantren, RMI NU, Nasional Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 27 Januari 2018

Baanar Pamekasan Ikuti Pelatihan Satgas Antinarkoba

Pamekasan, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Sebanyak sepuluh aktivis Badan Ansor Anti Narkoba (Baanar) Kabupaten Pamekasan mengikuti pelatihan kader Satuan Tugas P4GN di kantor Badan Narkotika Kabupaten (BNK) setempat, Jalan Kabupaten Nomor 07 Pamekasan, Senin (19/12). Kesepuluh orang tersebut berasal dari pengurus Baanar kabupaten dan sebagian Baanar kecamatan.

Selain aktivis Baanar, peserta pelatihan tersebut juga berasal dari Forum Pimpinan Daerah (Forpimda) dan Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kabupaten Pamekasan. Mereka menerima materi pencegahan, penanggulangan, dan penindakan atas peredaran narkoba dari BNl Provinsi Jawa Timur.

Baanar Pamekasan Ikuti Pelatihan Satgas Antinarkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Baanar Pamekasan Ikuti Pelatihan Satgas Antinarkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Baanar Pamekasan Ikuti Pelatihan Satgas Antinarkoba

Kepala Baanar Kabupaten Pamekasan Ra Hasam Almandury menegaskan, pihaknya berhasil memasukkan sepuluh aktivis Baanar sebagai peserta berkat teken kontrak dengan BNK Pamekasan yang sudah dilakukan beberapa bulan lalu. Pasalnya, peserta pelatihan tersebut tidak sembarang orang.

"Baanar Kabupaten Pamekasan mengutus kader-kader Ansor pilihan yang nanti bergerak dalam menyikapi persoalan narkoba. Masalah narkoba kian akut di Madura, khususnya di Kabupaten Pamekasan," paparnya.

Karena itu, pihaknya menekankan kepada aktivis Baanar yang jadi peserta untuk betul-betul serius mengikuti pelatihan. Usai pelatihan, diharapkan ilmu yang telah didapatkan dapat disalurkan pada para aktivis Baanar di 13 kabupaten yang ada di Pamekasan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pelatihan Satgas P4GN berlangsung dua hari sampai Selasa (20/12) siang. Di hari pertama, para peserta tampak tidak melewatkan setiap materi yang diberikan BNK Jawa Timur. Mereka berkomitmen untuk ikut materi sampai tuntas hingga penutupan. (Hairul Anam/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Amalan, Internasional, Pesantren Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 24 Januari 2018

Mendes PDTT Eko Terjun Langsung Pantau Kebakaran di Kantornya

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Eko Putro Sandjojo, memantau langsung lokasi kebakaran yang terjadi di lantai tiga Gedung Transmigrasi, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) Senin (28/8) pagi. Menteri Eko menerbangkan drone atau pesawat kamera tanpa awak dan masuk langsung ke lokasi.

Mendes PDTT Eko Terjun Langsung Pantau Kebakaran di Kantornya (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendes PDTT Eko Terjun Langsung Pantau Kebakaran di Kantornya (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendes PDTT Eko Terjun Langsung Pantau Kebakaran di Kantornya

Menteri Eko mulai menerbangkan drone sekitar pukul 10 saat asap mulai berkurang. Drone tersebut diterbangkan tepat di depan jendela ruangan yang terbakar, yakni di lantai tiga. Setelahnya, ia juga memantau kondisi lantai empat Gedung Transmigrasi yang terkena dampak kebakaran.

Setelah menerbangkan drone, Menteri Eko juga langsung mendatangi lokasi kebakaran. Dipandu sejumlah petugas pemadam kebakaran Suku Dinas Jakarta Selatan, Menteri Eko masuk ke dalam ruangan menggunakan alat pengaman pernafasan atau breathing apparatus. Sekitar 30 menit dirinya mengecek lokasi tersebut.

"Yang saya lihat tidak ada berkas yang terbakar. Penanganannya tadi cepat. Saya tidak ingin mengambil kesimpulan apa penyebab utamanya," ungkapnya saat dirinya kembali turun. 

Menteri Eko akan mengevaluasi perawatan gedung perkantorannya. Dirinya pun meminta pihak kepolisian untuk segera mengusut peristiwa yang terjadi di kantornya. Selain itu, Menteri Eko juga mengapresiasi kecepatan petugas Damkar yang mengendalikan keadaan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Saya berterima kasih kepada petugas Damkar yang dengan cepat melokalisir kebakaran sehingga api tidak cepat merembet ke ruangan dan gedung lainnya. Saya juga minta polisi segera turun untuk mengusut peristiwa ini," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Biro Humas dan Kerjasama, Fajar Tri Suprapto, menjelaskan, asap mulai mengepul sejak pukul 9 pagi tadi. Dengan sigap, petugas keamanan kementerian langsung mengevakuasi karyawan ke tempat yang lebih aman.

"Awal mula berasal dari lantai tiga, kemudian naik ke lantai empat. Berawal dari panel listrik dan AC," ujar Fajar.

Lokasi yang terbakar, lanjut Fajar, adalah Gedung A, salah satu ruangan di Direktorat Jenderal Penyiapan Kawasan dan Pembangunan Permukiman Transmigrasi (Ditjen PKP2Trans). Untuk sementara kegiatan di Ditjen PKP2Trans dialihkan ke ruangan lain. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Saat ini lokasi sudah kembali kondusif. Karyawan lain sudah kembali bekerja. Pembersihan masih terus dilakukan untuk memastikan lokasi yang terbakar dalam kondisi aman sepenuhnya," sambungnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pendidikan, Tegal, Pesantren Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 16 Januari 2018

Perawatan Gigi dengan Ortodonti Baik Dilakukan Sejak Dini

Sidoarjo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Umumnya, orang berpikir bahwa perawatan gigi dengan ortodonti (kawat gigi) hanyalah untuk remaja atau orang dewasa. Padahal waktu yang paling baik untuk memulai perawatan ortodonti/kawat gigi ketika anak usia 9 tahun. American Association of Orthodontists (AAO) merekomendasikan pada anak-anak usia 7 tahun  sudah memulai kontrol ke dokter gigi ortodontis (dokter gigi spesialis ortodonti/kawat gigi).

Dokter gigi Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Hajar Sidoarjo, Jawa Timur, drg Irvanda Mulyaningsih menyatakan, dokter gigi spesialis ortodonti akan mendeteksi kelainan pada susunan gigi dan bentuk rahang sedini mungkin sehingga dapat menentukan waktu yang tepat untuk memulai perawatan kawat gigi, apakah perlu segera ataukah menunggu hingga geligi permanen tumbuh semua.

Perawatan Gigi dengan Ortodonti Baik Dilakukan Sejak Dini (Sumber Gambar : Nu Online)
Perawatan Gigi dengan Ortodonti Baik Dilakukan Sejak Dini (Sumber Gambar : Nu Online)

Perawatan Gigi dengan Ortodonti Baik Dilakukan Sejak Dini

"Perawatan kawat gigi apabila dimulai pada waktu yang tepat atau sedini mungkin akan mempermudah perawatan dan menghasilkan prognosa yang lebih bagus, dikarenakan di usia yang masih anak-anak masih terdapat pertumbuhan dan perkembangan tulang. Sehingga diharapkan dapat memanipulasi perawatan melalui alat ortho lepasan, alat fungsional dan cekat," kata drg Irvanda, Sabtu (12/12).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurut Irvanda, Gigi sulung yang tanggal sebelum waktunya biasanya akan menyebabkan ruangan yang ditinggalkannya mengalami penyempitan, sehingga benih gigi tetap yang ada di bawahnya akan kesulitan untuk erupsi dan cenderung untuk erupsi di luar lengkung gigi yang seharusnya dan berakhir pada geligi permanen yang berdesakan.

Normalnya gigi sulung tanggal akibat desakan gigi tetap yang ada di bawahnya. Gigi sulung dapat tanggal sebelum waktunya akibat berlubang yang mengharuskannya untuk dicabut, trauma, dan lain sebagainya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Untuk mencegah hal tersebut, dokter gigi orthodontis dapat membuatkan alat ortho beruoa space regainer. Space regainer merupakan alat yang digunakan untuk melebarkan kembali ruangan yang telah menyempit sehingga gigi tetap dapat erupsi dengan baik pada tempat seharusnya," jelasnya.

Setelah anak mempunyai gigi, lanjut Irvanda, maka harus dijaga agar gigi ini tetap sehat sampai pada saatnya akan digantikan oleh gigi permanen. Kebersihan mulut pun harus dijaga, harus diajarkan cara-cara menggosok gigi yang benar, tiga kali sehari setiap selesai makan dan menjelang tidur. 

Secara teratur anak dapat diperiksakan ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali untuk melihat keadaan gigi-giginya. Jika terdapat karies harus segera ditambal. Dilakukan tindakan preventif agar gigi-giginya tidak mudah terserang karies, sehingga dapat mencegah kehilangan gigi terlalu awal (premature loss), ataupun mencegah terlambat dicabut sehingga gigi permanen penggantinya telah tumbuh (persistensi).

Jika gigi susu harus dicabut jauh sebelum waktu tanggalnya, harus dibuatkan space maintainer (alat ortho lepasan) untuk menjaga agar ruangan bekas pencabutan  tadi tidak menutup.

"Kebiasaan menghisap ibu jari (thumb sucking), menggigit bibir (lips biting), meletakkan lidah diantara gigi (tongue biting), mendorong lidah pada gigi-gigi depannya (tongue thrusting), cara berbicara yang salah, cara penelanan yang salah, adalah merupakan kebiasaan jelek yang apabila dilakukan dalam waktu cukup lama dan dilakukan pada masa pertumbuhan aktif, akan mengakibatkan timbulnya anomali pada gigi-giginya," ujar dokter yang bertugas di rumah sakit NU ini.

Lebih lanjut Irvanda mengatakan, tindakan menghilangkan kebiasaan jelek sedini mungkin merupakan suatu tindakan preventif terhadap timbulnya maloklusi. Anak yang mempunyai tonsil yang membesar akan mengalami gangguan dalam pernafasannya sehingga anak tersebut akan bernafas melalui mulutnya. Kebiasaan ini juga akan menimbulkan kelainan pada lengkung rahang dan giginya.

Perawatan ortodonti anak lebih bertujuan untuk mencegah terjadinya keparahan di masa dewasa, bisa karena posisi gigi yang salah atau adanya kebiasaan buruk pada anak seperti menghisap jempol, pola penelanan yang salah, pola pengucapan yang salah, dan lain-lain.

"Pada pasien usia 8 atau 9 tahun yang memiliki keluhan gigi bagian depan yang berjejal. Bila tidak segera dirawat susunan gigi yang tidak teratur tersebut akan bertambah parah nantinya. Kondisi ini dapat dihindari dengan perawatan serial ekstraksi, yang merupakan perawatan dengan cara mencabut gigi sulung secara berkala pada saat-saat tertentu sesuai dengan keperluan. Hal itu perlu diperhatikan bagi para orangtua," pungkas Irvanda. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pesantren, Hadits Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 07 Januari 2018

Pekik Merdeka Bermakna Syukur dan Dzikir

Solo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Setiap momentum peringatan HUT Kemerdekaan Indonesia, seruan kata “Merdeka!” sering diucapkan dalam setiap kesempatan. Kata ini pula yang menjadi semacam mantra semangat, bagi para pejuang dan pahlawan bangsa untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Kata tersebut memiliki makna luas. Menurut Pengasuh Majelis Ar-Raudhah Solo, Habib Noval bin Muhammad Al-Idrus, merdeka! ini tidak hanya menjadi seruan pemberi semangat semata. Tetapi lebih dari itu, bermakna syukur kepada Allah swt. atas karunia kemerdekaan.

Pekik Merdeka Bermakna Syukur dan Dzikir (Sumber Gambar : Nu Online)
Pekik Merdeka Bermakna Syukur dan Dzikir (Sumber Gambar : Nu Online)

Pekik Merdeka Bermakna Syukur dan Dzikir

“Ucapan Merdeka!? itu bersyukur. Meskipun wujudnya kata merdeka! tapi Allah tahu itu merupakan salah satu wujud syukur,” terang dia, belum lama ini (9/8), dalam sebuah pengajian akbar di Kota Solo.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Hal tersebut, lanjut Habib Noval, didasarkan pada perintah Allah di dalam surah ad-Duha ayat 11: Fa amma bini’mati robbika fahaddist, agar kita bersyukur atas ni’mat yang diberikan-Nya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ditambahkan, selain bermakna syukur, kata merdeka! juga dapat bermakna zikir. “Jadi njenengan teriak merdeka! itu zikir, Allahuakbar itu ya dzikir. Dzikir itu bermacam-macam,” ungkapnya. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Hikmah, Pesantren, Kajian Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 04 Januari 2018

LAZISNU Yogya Santuni Tukang Becak

Yogyakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), memberikan bingkisan lebaran para tukang becak pada Jum’at (2/8). Bingkisan tersebut berasal dari H. Jusuf Kalla yang disalurkan melalui LAZISNU.

Pemberian bantuan yang dominan diberikan kepada Abang Becak ini dilaksanakan di Kantor PW NU DIY, Jln Mt Haryono. Pelaksanaan pemberian bantuan berjalan dengan lancar, tanpa adanya antrian panjang.

LAZISNU Yogya Santuni Tukang Becak (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Yogya Santuni Tukang Becak (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Yogya Santuni Tukang Becak

Ketua Lazisnu DIY Drs. H Sahroini Jamil mengatakan, paket lebaran dari Jusuf Kalla sebanyak 600 paket. Masing-masing cabang Lazisnu PCNU mendapatkan 75. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Sisanya adalah 200 paket yang kemudian kita bagikan kepada abang becak. Dan yang 25 paket kita bagikan kaum dhuafa yang tinggal di dekat kantor Lazisnu yaitu Sodagaran,” ungkapnya.

Tahun ini, kata dia, syiar NU diarahkan ke kaum dhuafa, yaitu dengan memberikan bantuan kepada Abang Becak. Sehingga ketika Abang Becak lewat kantor PWNU yang megah ini, mereka merasa memiliki, terutama memiliki NU. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

H Sahroini Jamil juga menerangkan bahwa pagar mangkuk itu lebih baik dari pada pagar tembok. “Itulah kenapa kita memberikan bantuan kepada Abang Becak” tambahnya.

Pemberian bantuan ini diapresiasi oleh para abang becak. Mereka senang diberikan paket bantuan ini. “Dengan adanya bantuan ini, sangat membantu bagi keluarga kami, terutama menjelang lebaran,” ungkap Mugi Raharjo, abang becak dari Bantul salah satu penerima bantuan.

Redaktur    : Abdullah Alawi 

Kontributor: Nur Sholikhin

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Hikmah, Pemurnian Aqidah, Pesantren Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 29 Desember 2017

Soal Rohingya, MUI Keluarkan Tujuh Maklumat

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi



Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis menilai, apa yang terjadi di Rohingya adalah tragedi kemanusiaan.?

Soal Rohingya, MUI Keluarkan Tujuh Maklumat (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Rohingya, MUI Keluarkan Tujuh Maklumat (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Rohingya, MUI Keluarkan Tujuh Maklumat

Maka dari itu, Ketua Komisi Dakwah MUI tersebut mengeluarkan tujuh tuntutan. Pertama, kembalikan keamanan di daerah Rakhine dan menghormati hak-hak masyarakat terutama penduduk yang beragama Islam.

"Kedua, hentikan segala bentuk tindak kekerasan yang dilakukan oleh pemerintah dan militer Myanmar terhadap penduduk dan umat Islam di Rakhine dan di daerah lainnya di Myanmar," kata Kiai Cholil kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi melalui pesan tertulis, Ahad (3/9).

Ketiga, lindungi seluruh penduduk yang ada di Myanmar dan hak-haknya, baik yang Muslim maupun non-Muslim.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Keempat, berikan akses kepada lembaga kemanusiaan internasional dan dari Indonesia untuk masuk ke wilayah Rakhine guna memberikan bantuan dan pertolongan kepada masyarakat yang telah menjadi korban kekerasan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"(Kelima) Hendaklah PBB melakukan tindakan tegas terhadap aksi brutal dan pelanggaran HAM berat terhadap etnis Rohngya," tegasnya.

Keenam, ASEAN harus melakukan terobosan untuk menyelesaikan krisis di Myanmar. Sehingga perbuatan genosida yang terjadi di sana bisa dihentikan.

"Terakhir, Indonesia segera mengambil tindakan tegas untuk perwakilan Myanmar yang berada di Indonesia (Bubes Myanmar untuk Indonesia) jika (Pemerintah Myanmar) tetap melakukan tindakan kekerasan dan pengusiran terhadap etnis Rohingya," tutupnya. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pesantren, Tegal Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 24 Desember 2017

PMII Bandung Gelar Aksi Seribu Lilin dan Doa Bersama untuk Rohingya

Bandung, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Dalam rangka peduli kemanusiaan PMII Kabupaten Bandung menggelar aksi seribu lilin dan doa bersama bagi korban Rohingya Myanmar di Sekretariat Kowarcam Pramuka Cabang Kabupaten Bandung Jalan Raa Wiranata Kusumah Nomor 19, Baleendah, Kabupaten Bandung, Ahad (10/9).

Acara dihadiri oleh seluruh pengurus komisariat dan rayon di bawah naungan PMII Kabupaten Bandung.

PMII Bandung Gelar Aksi Seribu Lilin dan Doa Bersama untuk Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Bandung Gelar Aksi Seribu Lilin dan Doa Bersama untuk Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Bandung Gelar Aksi Seribu Lilin dan Doa Bersama untuk Rohingya

Hamdani Haliman mengatakan aksi ini sebagai bentuk kepedulian aktivis PMII kepada warga Muslim Rohingya di Myanmar.

"Kami mengutuk tindakan kekerasan pemerintah Myanmar dalam melakukan peristiwa kemanusiaan di sana," ujarnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Hamdani berharap semoga aksi ini mempunyai dampak yang besar kepada elemen masyarakat.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Kita berharap dengan aksi dan doa bersama ini bisa menyelesaikan persoalan bagi masyarakat Muslim Rohingya," pungkasnya.

Rangkaian acara ini dimulai dengan refleksi orasi dari ketua cabang dan beberapa kader di bawah naungan PMII Kabupaten Bandung. Acara lalu dilanjutkan dengan beberapa pembacaan puisi, penampilan musik, dan diakhiri dengan doa bersama. (Rangga/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pesantren, Khutbah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 16 Desember 2017

Menjadi Santri

Puji syukur kepada Yang Maha Kuasa yang membuatku pernah menjadi santri. Terima kasih kepada temanku, si Unung, yang mengiming-imingiku menjadi santri. Terima kasih juga kepada ibu bapakku yang menyebabkan aku menjadi santri. Tidak lama aku menjadi santri, cuma dua tahun.

Perlu aku bersyukur sebab sekarang merasakan beruntungnya menjadi santri. Aku bersyukur dalam sejarah hidupku pernah mengalami kehidupan pesantren. Terasa banyak gunanya. Dan tentu saja punya kisah yang tak dimiliki anak-anak kota yang tak mengenal pesantren.

Menjadi Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Menjadi Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Menjadi Santri

Kuakui, sebelumnya sering malu kalau orang lain mengetahuiku pernah jadi santri. Kadang sering mangkir pernah jadi santri. Tapi belakangan malah bangga. Aku bangga sebab punya pengalaman hidup yang lebih dari anak-anak kota pada umumnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari pesantren memang tak sebarapa banyak bertambah ilmuku. Soalnya aku nyantri cuma dua tahun. Sementara santri lain bisa sampai belasan tahun.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Waktu Belanda dikalahkan Jepang, sekolah-sekolah tutup. Anak-anak menganggur. Si Unung, teman sebangku di sekolah, ikut kakaknya nyantri di pesantren P. Ketika pulang, ia menceritakannya dengan menarik. Katanya, mengaji di pesantren lebih cepat ketimbang ngaji di Ajengan Enoh, di Kampung. (Aku dan si Unung mengaji di Ajengan Enoh).

Lalu timbul keinginanku menjadi santri. Semakin bertambah setelah mendengar ceramah Ajengan Ma’mun ketika Rajaban.*

“Sekarang kebanyakan manusia memburu harta dunia seolah-olah akan hidup selamanya. Padahal maut tak diketahui kapan datangnya, bisa besok, bisa nanti, tak ada yang tahu. Saudara-saudara, ilmu itu cahaya, al-ilmu nurun. Orang tak berilmu ibarat di dunia gelap tak tahu jalan yang harus ditempuh. Itulah sebabnya menuntut ilmu itu wajib bagi setiap mukmin. Tholabul ilmi faridlotun ‘ala kulli muslimin wa muslimatin...” begitu kata Ajengan Ma’mun.

Niatku semakin bulat untuk ke pesantren. Ibuku tak kurang sepuluh kali mengucapkan alhamdulillah ketika aku mengatakannya. Ia kemudian bercerita ke hampir setiap orang kampung. Lalu para orang tua ingin juga memiliki anak sepertiku, menjadi santri.

Aku lupa tanggal persisnya mulai menjadi santri. Tapi tak akan lupa harinya, Rabu. Sebab itu perhitungan kakekku. Menurut dia, mencari ilmu harus dimulai hari Rabu. Aku lupa alasannya, tapi katanya Rabu hari terbaik mulai tholabul ilmi.

Tidak seperti Yogaswara dalam Mantri Jero**, ia berangkat ke pesantren sendirian. Keberangkatanku seperti calon haji yang akan pergi ke Makkah. Seperti Purnama Alam*** pergi ke Pesantren Gurangsarak. Berduyun-duyun pengantar. Kedua pamanku mengapit di kiri kananku, ibu, bapak, dan kakek. Beriringan Mang Ihin dan si Uha, tukang kebun dan anaknya. Keduanya memikul perbekalanku dan oleh-oleh buat ajengan.

Ajengan menyambut hormat kedatangan rombonganku. Apalagi kepada kakek, ia sangat hormat sekali. Sebab kakekkulah yang dulu menikahkannya.

Aku menjadi santri istimewa di pesanten itu. Sampai ditawari, mau tinggal di rumah ajengan atau mau di kobong****. Aku memilih di kobong supaya banyak teman. Kalau di rumah ajengan, takut ketahuan aku tak pintar. Di kobong, aku diberi tempat yang enak. Tak jauh dari jendela. Tempat tidur di atas ranjang. Kopor disimpan di atas.

Malam pertama di pesantren aku merasa takut. Mungkin karena belum ada yang kenal. Dan ternyata susah kenal dengan mereka.

Santri yang tidur di bawah ranjangku sepertinya sedang sakit. Dia berselimut terus. Ketika orang lain ke masjid, dia masih saja berselimut. Selepas Isya kuberi paha ayam dan nasi timbel. Betapa gembira menerimanya.

Santri yang tidur di sebalah kiriku, dari tampangnya saja tampak songong. Di hadapanku, ia membaca Safinah keras-keras. Tambah menyebalkan ketika ia bertanya dengan bahasa Arab, “Man ismuka?”

Sespertinya dia menyangka aku tak mengerti sama sekali bahasa Arab. Padahal yang seperti itu aku pernah belajar kepada Ajengan Suganda. Aku menjawab pertanyaan dengan menyebutkan namaku, ia tidak songong lagi.

“Kamu pernah ngaji ya?” tanya teman yang tiduran di bawahku, sementara giginya menggerus tulang.

“Belum,” kataku.

Nah, dengan merekalah aku pertama kali kenal. Pertama si Atok, yang tidur di bawahku. Kedua si Aceng, yang songong, di sampingku, yang bertanya dengan bahasa Arab.

Ketika mulai ngaji, aku diperkanalkan ajengan. Para santri, ini Den Anu, putranya juragan Anu, putunya juragan Hatib, di B.

Mulai saat itulah aku hidup di pesantren.? ? ?

Cerpen ini diterjemahkan dari bahasa Sunda ke bahasa Indonesia oleh Abdullah Alawi dari kumpulan cerpen otobiografi Dongeng Enteng ti Pesantren. Kumpulan cerpen tersebut diterbitkan tahun 1961 dan memperoleh hadiah dari LBBS di tahun yang sama. Menurut Adun Subarsa, kumpulan cerpen tersebut digolongkan ke dalam kesusastraan Sunda modern sesudah perang. Nama pengarangnya Rahmatullah Ading Afandie sering disingkat RAF. Ia lahir di Ciamis 1929 M. Pada zaman Jepang pernah nyantri di pesantren Miftahul Huda Ciamis. Tahun 1976, ia muncul dengan sinetron Si Kabayan di TVRI, tapi dihentikan karena dianggap terlalu tajam mengkritik. Ketika TVRI cabang Bandung dibuka, RAF muncul lagi dengan sinetron Inohong di Bojongrangkong.. * peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW

** novel karya Memed Sastrahadiprawira

* ** wawacan karya sastrawan R. Suriedireja

**** kamar-kamar di pesantren Sunda, gutekan di Jawa

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Meme Islam, Pesantren Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 03 Desember 2017

Mahasiswa Unisnu Manfaatkan Sampah untuk Seni Kreatif

Jepara, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Mahasiswa Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara yang tergabung dalam Sanggar Seni Eling PMII Cabang Jepara mempunyai kegiatan yang lumayan unik, yakni menggelar kegiatan bertajuk Pelatihan Seni Kreatif dari Sampah.?

Mahasiswa Unisnu Manfaatkan Sampah untuk Seni Kreatif (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Unisnu Manfaatkan Sampah untuk Seni Kreatif (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Unisnu Manfaatkan Sampah untuk Seni Kreatif

Kegiatan yang dipusatkan di Kampus Unisnu, Jalan Taman Siswa (Pekeng) Tahunan Jepara, Ahad (20/3) ini diikuti sekitar 20 peserta. Mereka terdiri dari mahasiswa dan masyarakat umum.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kegiatan kreatif ini menjadi rangkaian menyambut Harlah Sanggar Seni Eling ke-14 yang bekerjasama dengan Kampung Pintar Jepara.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurut ketua panitia, Khusnul Khamidiyah dalam pelatihan ini peserta membuat kerajinan dari bahan koran, kardus, kantong plastik dan botol plastik. Bahan-bahan bekas ini kemudian dibuat pot dan tas dari koran. Rangkaian bunga dari koran, kardus dan plastik. Sedangkan botol plastik untuk miniatur minion.?

“Karena hanya ditempuh dalam 2 jam karya yang baru bisa dibuat ialah pot bunga dan bunga,” paparnya.?

Pihaknya mengagendakan kegiatan ini dijalankan rutin sepekan sekali. Sehingga nantinya akan menghasilakan berbagai produk. Namun, lanjut Khusnul, pada pertemuan pertama ini baru tahap dasar melipat untuk pembuatan tas. Pada tahap ini latihan dengan menggunakan kertas origami dan kardus bekas. Pertemuan berikutnya sudah menggunakan bahan dari plastik.?

Beragam produk yang dihasilkan nantinya akan dipamerkan dalam Pagelaran Seni Budaya 2016 yang dihelat pada 15-16 April mendatang. “Hasil produk yang dibuat juga akan dipamerkan bersamaan dengan kegiatan yang diikuti Kampung Pintar Jepara,” katanya menambahkan.

?

Penanggung jawab kegiatan, Dziyaul Anwar menegaskan bahwa permasalahan sampah tidak sekadar tugas petugas kebersihan. Namun keberadaan sampah menjadi tugas bersama.?

“Bagaimana kita mampu menjaga kebersihan lingkungan kita sendiri. Dengan begitu berarti secara tidak langsung kita telah menyumbang kebersihan untuk kota kita,” pungkasnya. (Syaiful Mustaqim/Zunus)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pesantren, IMNU Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 02 Desember 2017

Upaya Meraih Rahmat Allah swt

Dalam konteks kekinian rahmat Allah dapat saja berada dalam amal yang sungguh sepele. Mungkin saja rahmat itu terletak dalam diri anak-anak jalanan yang mengulurkan tangan ke hadapan kita, atau di dalam diri pengamen yang menyanyikan lagu sumbang tak jelas suara dan nadanya. Dan juga mungkin sekali rahmat itu terletak dalam amal kita dalam memberi selembar kertas koran sebagai alas shalat jum’at. wal hasil sekecil apapaun amal itu tidak boleh kita sepelekan.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ? . Materi khotbah kali ini merupakan penjabaran dari istilah rahmat dalam ayat Az-Zumar 53 yang berbunyi:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Upaya Meraih Rahmat Allah swt (Sumber Gambar : Nu Online)
Upaya Meraih Rahmat Allah swt (Sumber Gambar : Nu Online)

Upaya Meraih Rahmat Allah swt

.

?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Bahwasannya kita semua dilarang untuk merasa putus asa atas rahmat Allah swt. Bagaimana kita akan putus asa kalau kita sendiri tidak memahami rahmat itu sendiri. Oleh karena itulah tema khotbah kali ini akan lebih banyak membicarakan hal tersebut.

? Sebuah kisah yang berdasarkan pada hadist Rasulullah saw dari cerita Malaikat Jibril “sungguh dahulu pernah ada seorang hamba (‘abid) yang tinggal seorang diri di sebuah gunung paling tinggi di dunia. Begitu tingginya gunung itu, sehingga aku (jibril) sering melaluinya ketika hendak turun dari langit melaksanakan titah dari Yang Maha Kuasa. Gunung itu tidak begitu luas, tetapi cukup lengkap persediaan bahan makanan dan buah-buahan juga air terjun yang menyegarkan. Hal itu mempermudah ‘abid menjaga perut dari kekosongan dan memudahkannya berwudhu sehinga ia selalu dalam keadaan suci.

Di atas gunung yang sangat indah itu, ‘abid hidup selama lima ratus tahun. Ia tidak punya kegiatan, selain beribadah, bermunajat, dan berdo’a, tidak pernah terlintas dibenaknya untuk berbuat dosa dan mendurhkai-Nya. Salah satu do’a yang dikabulkan Allah swt adalah permohonannya setiap saat untuk mati dalam keadaan sujud. Demikianlah, akhirnya ‘abid meninggal dunia dalam usia limaratus tahun.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Setelah kematiannya Allah swt berkata kepadanya ‘wahai hambaku karena rahmat-Ku, kau akan segera aku masukkan ke dalam surga’. ? Mendengar pernyataan tersebut si ‘abid berubah mukanya, terkesan tidak terima. Karena ia merasa bahwa amal-ibadahnnya selama lima ratus tahun tanpa dosa lah yang menyebabkannya layak masuk ke surga. Bukan semata karena rahmat-Nya. Demikian protes ‘abid kepada Allah swt.

Mafhum apa yang dimaksud oleh si ’abid. Maka segeralah Allah menugaskan seorang malaikat untuk menghitung dan menimbang seluruh amal-ibadahnya selama lima ratus tahun tanpa dosa yang diandalkannya sebagai modal meraih sorga. Kemudian ditimbangnya amal tersebut dibandingkan dengan rahmat pemberian-Nya. Ternyata rahmat Allah swt yang diberikan kepada ‘abid yang terdapat dalam mata (termasuk di dalamnya kemampuan melihat) saja jauh lebih berat nilainya dibandingkan dengan ibadahnya selama lima ratus tahun. Belum nikmat anggota badan yang lain, otak, kaki, tangan, dan seterusnya.

Maka sesuai dengan protes yang diajukannya, Allahpun memerintahkan malaikat untuk menyeret si ‘abid ke dalam neraka. Karena nilai amal-ibadahnya jauh lebih ringan dari pada rahmat yang terdapat pada mata. Ketika itulah si ‘abid baru sadar ternyata kebergantungannya pada amal tidak dapat menyelamatkannya. Segera ia meminta ampunan dan mengakui akan segala kesalahan dan kesombongannya. Ia terlalu mengandalkan amal ibadahanya dan mengabaikan rahmat-Nya. ?

Akhirnya Allah mengampuninya dan sekali lagi menanyakan kepada si ‘abid “apakah engkau masuk surga ini karena amalmu?’ si ‘abid menjawab “tidak ya Allah Tuhanku, sungguh ini semua karena rahmat-Mu”.

Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah

Cerita di atas membuktikan betapa hidup manusia ini sangat tergantung pada rahmat Allah swt sebagai pengatur alam jagad raya. Ia-lah yang menentukan semuanya. Ia berhak melakukan apapun kepada makhluk-Nya. Sebagai Sang Pencipta, sebagai Sang Maha Kuasa, Dia bebas menyiksa dan mengganjar siapa saja yang Ia mau. Tidak ada yang dapat membatasi gerak-Nya. Ketundukan atau kedurhakaan kita kepada-Nya tidaklah mampu menggeser kekuasaannya walau sedikitpun. Oleh karena itulah hidup semua makhluk ini sungguh-sungguh tergantung paa rahmatnya, bukan pada kesalehan amal ibadah kita.

Oleh karena itulah kita diajari sebuah do’a yang sangat masyhur:

? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ?

Irhamna ya Allah, lianna rahmataka arja lana min jami’i a’mlina. Waghfir lana ya Allah, lianna maghfiratakan ausa’u lana min dzunubina.

Ya Allah kasihanilah kami, karena rahmat-Mu lebih kami harapkan dari pada semua amal kami. Dan ampunilah kami, karena pengampuanan-Mu lebih luas dari pada dosa-dosa kami.?

Begitulah hendaknya, manusia sebagai hamba yang lemah tidak dibenarkan terlalu merasa aman dengan amal ibadah yang telah kita kerjakan. Karena hal itu tidak serta merta mampu menyelamatkan diri kita. Karena keselamatan dan pertolongan itu terkandung dalam rahmat-Nya.

Dengan kata lain, sungguh merugi jika manusia merasa nyaman dengan tumpukan dan penjumlahan amal yang telah dilakukannya, dengan harapan amal-ibadah itu akan menyelamatkannya dari api neraka. Sebuah kisah masyhur dari kitab Nashaihul Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani tentang al-Ghazali. Diceritakan bahwa Imam Ghazali tampak dalam mimpi, maka ia ditanya “apa yang Allah lakukan kepadamu?” lalu ia menjawab “Allah membiarkanku di hadapan-Nya, kemudian Allah berkata, Kenapa Engkau dihadapkan kepada-Ku, apa yang engkau bawa? Maka aku (al-Ghazali) menyebutkan segala amal-ibadahku. Tapi Allah menjawab “sesungguhnya Aku tidak menerima semua amal-ibadahmu, kecuali satu amal pada suatau hari ketika kamu membiarkan sesekor lalat hinggap di atas tintamu dan meminum tinta itu dari ujung penamu, serta engkau membiarkannya karena kasihan kepada lalat itu”. Kemudia Allah berkata “wahai malaikat, bawalah hambaku ini ke surga”.

Fragmen Al-Ghazali ini menunjukkan kepada kita bahwa posisi rahmat Allah itu sangat rahasia. Ia bisa terdapat bentangan amal kita yang tidak kita ketahui persisnya. Beratus-ratus kitab karya al-Ghazali, bertahun-tahun ibadahnya, tetapi rahmatnya malah terdapat di tinta pada ujung penanya? Bukankah secara logika ratusan karya itu lebih bernilai? Tidak demikian. Rahmat-Nya tidak dapat dikalkulasi, diprediksi dan diperinci karena rahmat itu adalah hak prerogatif milik-Nya.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Oleh karena itulah tidak dibenarkan bagi kita untuk menilai rendah sebuah amal ibadah. Walaupun itu sekedar menghindarkan duri dari tengah jalan. Karena bisa saja amal itu yang dirahmati Allah swt. Kita tidak boleh meremehkan amal walau sekecil apapun siapa tahu itulah yang akan menyelamatkan kiat di akhirat nanti Bukankah Sayyidina Umar masuk surga karena sekedar menyelamatkan burung emprit yang dibelinya dari seorang anak kecil yang menyiksa burung itu? cerita ini kemudian diabadikan dengan sebutan kitab úsfuriyah. Begitu sebaliknya. Kita tidak dibenarkan pula menyombongkan amal ibadah walau sebesar apapun amal tersebut. Karena belum tentu amal itu mengandung rahmat-Nya.

Jama’ah Jum’ah yang Disayangi Allah

Dalam konteks kekinian rahmat Allah dapat saja berada dalam amal yang sungguh sepele. Mungkin saja rahmat itu terletak dalam diri anak-anak jalanan yang mengulurkan tangan ke hadapan kita, atau di dalam diri pengamen yang menyanyikan lagu sumbang tak jelas suara dan nadanya. Dan juga mungkin sekali rahmat itu terletak dalam amal kita dalam memberi selembar kertas koran sebagai alas shalat jum’at. wal hasil sekecil apapaun amal itu tidak boleh kita sepelekan.

Hal ini tentunya akan mengajak kita memandang fenomena akan lebih hati-hati dan tidak mudah syu’ud dhann. Janganlah kita mudah buruk sangka dan memandang remeh kepada pekerjaan orang lain. Tukang sayur yang mangkal setiap pagi, tukang loper koran, tukang ojek dan tukang-tukang lain yang sering kita nikmati jasanya tanpa kita kenal profilenya dengan dekat, bahkan seringkali kita jadikan kambing hitam, bisa jadi pekerjaan merekalah yang mengandung rahmat Allah swt dibandingkan pekerjaan kita.

Akhirul kalam, bahwasannya manusia tidak boleh berputus asa untuk terus memburu rahmat Allah, karena sesungguhnya rahmat itu amat luasnya, hanya kebanyakan manusia tidak memahami hikmah dibalik itu semua.

Demikianlah khotbah jum’ah kali ini semoga membawa banyak man’faat. Minimal meyakinkan pada diri kita agar tidak mudah memandang remeh pada amal-amal kecil dan juga amal-amal orang lain.? ?

? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ??

Khutbah II

? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

(Redaktur: Ulil H). ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ahlussunnah, Pesantren Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 01 Desember 2017

Lomba Khitobah Gali Potensi Generasi NU di Bidang Dakwah

Jepara, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) kecamatan Bangsri Jepara bekerja sama dengan Ikatan Daiyah Muda Bangsri (Ikdamuba) menggelar Lomba Pidato Takmir Masjid-Musholla se-kecamatan Bangsri tahun 2016 yang dipusatkan di Gedung MWCNU Bangsri, Jepara, Jawa Tengah, Rabu (16/11).?

Kegiatan yang diikuti 22 peserta itu mengangkat tema “Dengan Semangat Berdakwah ala Aswaja, Kita Teruskan Perjuangan Rasulullah Muhammad untuk Persatuan Umat”.?

Lomba Khitobah Gali Potensi Generasi NU di Bidang Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)
Lomba Khitobah Gali Potensi Generasi NU di Bidang Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)

Lomba Khitobah Gali Potensi Generasi NU di Bidang Dakwah

Lomba yang diikuti oleh utusan masjid dan musholla se-kecamatan Bangsri itu untuk kategori umum dengan syarat minimal usia 15 tahun.?

Dalam kegiatan yang dirawuhi KH Taufiqul Hakim pengasuh pesantren Darul Falah Amsilati Bangsri, Kiai M. Ihsan Ketua MWCNU Bangsri, KH Hayatun Abdullah Hadziq Ketua PCNU Jepara menyatakan rasa bangga dengan semaraknya kegiatan-kegiatan NU. Menurut Gus Yatun hal itu sebagai jembatan kaderisasi Ulama di masa yang akan datang.?

Sementara itu, salah satu panitia, Ali Burhan memaparkan kegiatan dilaksanakan untuk menggali potensi generasi muda NU khususnya dalam bidang dakwah.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Di samping itu kata Burhan untuk pemberdayaan takmir masjid dan musholla se-kecamatan Bangsri. Tujuan lain, tambahnya sosialisasi kitab Al-Jannah, An-Nar dan Hujjatun Nafiah karya KH. Taufiqul Hakim.?

“Sehingga materi pidato adalah ke-Aswaja-an dengan referensi dari salah satu kitab tersebut,” tambahnya.?

Kegiatan tersebut merupakan program tahunan dari LDNU Bangsri sebagai satu langkah konkrit pemberdayaan takmir masjid dan musholla.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Untuk pengumuman juara rencananya akan diumumkan dalam Jepara Bershalawat yang akan dilaksanakan di lapangan Bangsri Jepara. (Syaiful Mustaqim/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pesantren, Ahlussunnah, AlaNu Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 28 November 2017

Habib Syech: Ingin Hidup Mudah, Jangan Punya Musuh

Bantul, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf mengatakan, jika ingin hidup menjadi mudah, maka jangan sampai mempunyai musuh. Orang yang memiliki musuh, hidupnya akan berat dan susah.

Hal tersebut disampaikannya di sela-sela senandung shalawat bersama para Jamaah, Selasa (08/10), dalam acara Habib Syech Bershalawat, yang diadakan oleh Akademi Kebidanan Yogyakarta, di lapangan Akbid Yogyakarta, Jl. Paris km.6, Sewon, Bantul, DI Yogyakarta.

Habib Syech: Ingin Hidup Mudah, Jangan Punya Musuh (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Syech: Ingin Hidup Mudah, Jangan Punya Musuh (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Syech: Ingin Hidup Mudah, Jangan Punya Musuh

Habib Syech melanjutkan dengan menyitir salah satu ayat Al-Qur’an yang berbunyi Quu anfusakum wa ahliikum naara, yang artinya jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. Hal tersebut dimaksudkan Habib Syech untuk menanggapi permasalahan Negeri yang dipenuhi dengan korupsi oleh para wakil rakyat.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurut Habib Syech, jika ada pejabat yang melakukan korupsi, yang paling menderita dan menjadi korban adalah keluarga; anak dan istri. Oleh karenanya, Habib Syech menghimbau para Jamaah agar senantiasa menjaga diri sendiri dan keluarga dari jeratan api neraka.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Jika ingin menjadi orang yang baik, kita juga harus berusaha, dan selain menjadi orang yang baik, kita juga harus menjadi bangsa yang baik,” imbuhnya.

Allah, lanjutnya, tidak menyuruh untuk berkorban sesuatu yang berat pada diri kita, melainkan yang sedikit saja yang ada pada diri kita. Terlebih berkorban untuk bangsa. “Secara sederhana, yakni dengan cara bersyukur, baik gaji sedikit maupun gaji banyak,” tandas Habib Syech.

Didepan sekitar lima ribuan jamaah yang memadati lapangan, malam itu Habib Syech menutup dengan memberikan pesan, “Ada siang, ada malam, ada orang yang korupsi, juga ada orang baik, itu semua agar kita tau mana yang baik, dan mana yang tidak baik,” pungkasnya. (Dwi Khoirotun Nisa’/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Meme Islam, Pesantren Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 18 November 2017

Doa Tobat Nabi Adam

Dalam menafsirkan QS. al-Baqarah ayat 38:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Doa Tobat Nabi Adam (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa Tobat Nabi Adam (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa Tobat Nabi Adam

Jalaluddin as-Suyuthi dalam kitab ad-Durul Mantsûr fît Tafsîril Ma’tsûr mengutip sejumlah riwayat tentang kisah pertobatan Nabi Adam. Ketika diusir dari surga dan jatuh ke bumi, beliau mendatangi Ka’bah dan shalat dua rakaat, kemudian berdoa, dalam untaian doa yang indah:

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Ya Allah, sungguh Engkau tahu apa yang tersembunyi dan tampak dariku, karena itu terimalah penyesalanku. Engkau tahu kebutuhanku, maka kabulkanlah permintaanku. Engkau tahu apa yang ada dalam diriku, maka ampunilah dosaku. Ya Allah sungguh aku memohon kepada-Mu iman yang menyentuh kalbuku dan keyakinan yang benar sehingga aku tahu bahwa tidak akan menimpaku kecuali telah Engkau tetapkan atasku. Ya Allah berikanlah rasa rela terhadap apa yang Engkau bagi untuk diriku.”

Allah kemudian menjawab doa Nabi Adam:

“Hai Adam, Aku telah terima taubatmu dan telah Aku ampuni dosamu. Tidak ada seorang pun di antara keturunanmu yang berdoa dengan doa sepertimu kecuali Aku ampuni dosa-dosanya, Aku angkat kesedihan dan kesulitannya, Aku cabut kefakiran dari dirinya, Aku niagakan dia melebihi perniagaan semua saudagar, Aku tundukkan dunia di hadapannya meskipun dia tidak menghendakinya.”

Doa Nabi Adam yang indah dijawab oleh Allah dengan jawaban yang lebih indah. Jalaluddin as-Suyuthi juga mengutip riwayat bahwa sebelum memanjatkan doa, Nabi Adam tawassul dengan nama Muhammad. Beliau bermunajat: “Ya Allah, jika Aku memohon kepada-Mu dengan nama Muhammad, apakah Engkau sudi mengampuni dosaku?” Allah menjawab, “Siapa Muhammad?”. Adam berkata, “Maha Suci Engkau, ketika Engkau ciptakan aku, aku tengadahkan wajahku menghadap arasy-Mu dan di sana tertulis kalimat ? ? ? ? ? ? ?, maka Aku tahu bahwa tidak ada seorang pun yang lebih tinggi derajatnya di sisi-Mu kecuali dia yang namanya bersanding dengan nama-Mu.” Allah menjawab, “Hai Adam, dia adalah nabi terakhir dari keturunanmu. Jika bukan karena dia, aku tidak akan menciptakanmu (? ? ? ? ?).

Dalam kitab ini juga disebutkan sebuah riwayat dari Ibn Abbas yang bertanya kepada Rasulullah tentang kalimat-kalimat pertobatan yang diterima Adam dari Allah. Rasulullah menjawab: “Dia (Adam) memohon kepada Allah dengan menyebut nama Muhammad, Ali, Fathimah, Hasan dan Husain, kemudian diterimalah tobatnya.” (Ad-Durul Mantsûr fît Tafsîril Ma’tsûr, 2000 (Beirut: Darul Kutub ‘Ilmiyyah), h. 119)

Anda boleh percaya boleh tidak. Saya hanya menyampaikan apa yang tertulis kitab ini. Riwayat ini tidak terlalu populer, apalagi di kalangan sekelompok orang yang gampang menuduh siapa pun yang mencintai Ahlul Bait sebagai Rafidhi (Syiah Rafidhah), hingga Imam Syafi’i dalam petikan diwannya yang terkenal pernah berujar:

?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ??

“Jika mencintai keluarga Muhammad berarti Rafidhi, biarlah jin dan manusia bersaksi bahwa aku ini Rafidhi.”

Wallahu a’lam. (M. Kholid Syeirazi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pesantren, Hikmah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 03 November 2017

Jejak Gus Dur di Sulewesi Selatan

Oleh Drs KH Abdurrahman

--Selama menjadi Ketua Umum PBNU selama 15 tahun, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) banyak mengunjungi daerah, termasuk di wilayah Sulawesi Selatan. Pada akhir tahun 1985, Gus Dur diundang berceramah oleh Rektor IKIP Makassar, Gubernur Prof. Dr. H. A. Amiruddin.

Waktu itu, Gus Dur berangkat ke IKIP dan dijamu sarapan pagi. Di meja makan, sambil menunggu penjemput dari IKIP, terjadi diskusi antara Gus Dur dengan Gubernur H. A. Amiruddin terkait berbagai hal yang dihadapi bangsa Indonesia. Setelah penjemput dari IKIP datang, Gubernur mengantar Gus Dur ke bawah dijemput oleh Wagub HZB Palaguna. Gubernur A. Ahmad Amiruddin meminta HZB Palaguna mendampingi Gus Dur di IKIP, sambil berkata “Dampingi, dia orang pintar”.

Jejak Gus Dur di Sulewesi Selatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jejak Gus Dur di Sulewesi Selatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jejak Gus Dur di Sulewesi Selatan

Di atas mobil dalam perjalanan menuju IKIP, Gus Dur bertanya, “Tema apa yang akan saya bawakan dalam ceramaah nanti ?”.“Transformasi sosial menuju masa depan Indonesia”, jawab saya. Sampai di IKIP, Gus Dur dijemput oleh Rektor IKIP Prof. Dr. HP. Parawangsah dirumah jabatan. Setelah minum teh, Gus Dur diantar ke gedung Serba Guna IKIP, disambut oleh Civitas Akademika IKIP dan ratusan mahasiswa yang memenuhi aula gedung Serba Guna.

Setelah pidato penyambutan Rektor IKIP, Gus Dur dipersilakan ke mimbar. Pada awal ceramahnya, mahasiswa menyambut dengan suara “Uuuuuuh”, tetapi pada pertengahan ceramahnya, hadirin mulai diam dan tenang. Menjelang akhir ceramahnya, hampir setiap kalimatnya disambut dengan tepuk tangan yang meriah, dan menutup ceramahnya disambut dengan tepuk tangan yang panjang sambil hadirin berdiri mengantarkan Gus Dur meninggalkan tempat upacara.

Gus Dur Ziarah Makam di Wajo

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Akhir Januari 1989 pukul 08.00 pagi, menaiki mobil mini bus DPRD Sulsel, kami berangkat ke Wajo untuk berziarah ke makam Sayyid Jamaluddin al Akbari al Husaini yang wafat pada tahun 1310 dimakamkan berdampingan dengan Raja Tosora Lamaddusila di Tosora (situs purbakala),? Sayyid Jamaluddin adalah nenek para wali songo di Jawa. Menurut Gus Dur, ia mendapat pesan dari neneknya Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari, supaya menziarahi 27 makam? Wali? di Indonesia.

Sekitar pukul 11.00 kami tiba disuatu desa sekitar 4 Km sebelum sampai ke lokasi makam, jembatan desa terputus yang tidak bisa dilalui kendaraan. Gus Dur mengatakan, “Rupanya Almarhum belum berkenan diziarahi.” Gus Dur berceritera bahwa juga pernah ada makam seorang Wali di Semarang, 5 kali baru bisa tembus mencapai makam wali tersebut. Akhirnya, Gus Dur meminta kepada yang hadir untuk mendoakan di sini saja sambil menunjuk jembatan yang putus.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kami yang mengantar Gus Dur, antara lain Sayyid Abu Bakar Alatas, Idris Nashir, Muhamad Abduh, Pengurus Cabang NU Wajo berkumpul ditengah persawaahan duduk melingkar sambil berdoa dan mengirimkan bacaan Al Fatihah. Doa dipimpin oleh Sayyid Abu Bakar Alatas. Gus Dur berjanji akan datang lagi secara incognito (tidak resmi). Belakangan saya ketahui telah datang? secara diam-diam dan berdua dengan Habib Abubakar Alatas, Gus Dur telah menziarahi beberapa makam wali di Sulsel seperti makam Syech Yusuf al Khalawatiyah al Makassari di Gowa, Makam Syekh Jamaluddin al Akbari al Husaini di Tosora Kabupaten Wajo, makam Syekh Datok Ri Bandang dan Makam Pangerang Diponegoro di Makassar, makam Tuan Bojodi Kajuara Bone, makam Kareng Lolo Bayo Sanrabone Takalar.?

Pada suatu waktu saya menemui Gus Dur di kantor PBNU Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, menyampaikan niat saya untuk menyelenggarakan Haul dan tahlilan untuk almarhum Sayyid Jamaluddin Al Akbari al Huseini dan Syech Yusuf Al Halwati di Gowa. Gus Dur mendukung dan bersedia mencarikan sponsor. Niat untuk mengadakan Haul dan tahlilan ini kemudian saya konsultasikan pada M. Parawansyah, Sekretaris Provinsi Sulsel di Kantor Gubernur.

Dari almarhum KHS Jamaluddin Puang Ramma, saya mendapat informasi bahwa 42 orang ulama dan kiai dari Jawa Timur setelah memperoleh informasi dari Gus Dur, dengan mencharter pesawat terbang Fokker 28 mereka ke Makassar menginap di Syahid Hotel datang memui beliau di jalan Baji Bicara 7 Makassar. Mereka semua mengaku sebagai keturunan Sayyid Jamaluddin al Akbari al Huseini nenek para Wali Songo di Jawa. Mereka bermaksud menziarahi makam beliau di Tosora.

?

Drs. KH. Abdurrahman adalah Ketua PWNU Sulsel 1986 – 1990 dan 1990 – 1995. Ia dikenal dengan nama Abdurrahman ‘Bola Dunia”, karena memiliki rumah dengan pagar Bola Dunia sebagaimana Lambang Nahdlatul Ulama. (Andy Muhammad Idris/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pesantren, AlaSantri Pondok Pesantren An-Nur Slawi