Minggu, 27 Desember 2015

31.108 Shalawat Nariyah Berkumandang di Masjid An-Nahdlah PBNU

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Masjid An-Nahdlah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) turut menyukseskan 1 miliar shalawat Nariyah, Jumat (21/10) Di masjid yang terletak di lantai dasar Gedung PBNU ini, Shalawat Nariyah dibaca oleh ratusan orang dari berbagai kalangan, baik santri maupun masyarakat.

Sekretaris Panitia H. Ali Shobirin menerangkan bahwa Nariyahan di PBNU dibaca sebanyak 4.444 dikali 7 paket. “Sehingga total 31.108 shalawat nariyah. Jumlah ini juga belum menghitung jamaah yang mampu membacanya hingga dua kali paket, jadi totalnya bisa lebih dari itu,” jelas Ali Shobirin.

31.108 Shalawat Nariyah Berkumandang di Masjid An-Nahdlah PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
31.108 Shalawat Nariyah Berkumandang di Masjid An-Nahdlah PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

31.108 Shalawat Nariyah Berkumandang di Masjid An-Nahdlah PBNU

Ketua PBNU KH Abdul Manan Ghani dalam sambutannya setelah membaca shalawat nariyah secara berjamaah mengungkapkan, shalawat merupakan salah satu upaya untuk menjaga dan melestarikan aset amaliyah NU.

“Jika shalawat nariyah ini dibaca secara rutin oleh seseorang, maka Allah akan menjauhkan manusia dari kefakiran,” jelasnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sebab itu menurutnya, mengapa NU perlu menggelar shalawat nariyah hingga 1 miliar, karena NU berharap Indonesia selalu dinaungi oleh kemakmuran, keadilan, kesejahteraan, kedamaian.

Pembacaan shalawat nariyah di Masjid An-Nahdlah PBNU dihadiri oleh Ketua PBNU H Sulthonul Huda, Ketua Lembaga Dakwah PBNU KH Maman Imanulhaq, Ketua LTN PBNU H Juri Ardiantoro, dan sejumlah pengurus lembaga dan banom NU. Sebelumnya, kegiatan didahului dengan Khotmil Qur’an.

Pembacaan Shalawat Nariyah 1 miliar serentak dibaca oleh warga NU dan masyarakat di seluruh Indonesia pada Jumat (21/10) bakda isya menyambut peringatan Hari Santri Nasional 2016. Selain itu, pembacaan serentak shalawat nariyah juga dilakukan di kantor-kantor NU dari tingkat pusat hingga ke desa.

Termasuk di musholla, masjid, majelis taklim, dan sekolah-sekolah yang berafiliasi dengan NU serta di pondok-pondok pesantren di seluruh Indonesia. Pembacaan shalawat nariyah juga dilakukan di 24 negara di mana PCINU berada. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kiai, Budaya, News Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 22 Desember 2015

IPNU dan IPPNU Dukuhwaru Rekrut Ratusan Kader Baru

Tegal, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Dukuhwaru Kabupaten Tegal merekrut 140 pelajar melalui Masa Kesetiaan Anggota (Makesta). Kegiatan berlangsung Sabtu-Ahad (4-5/11) di Aula Kantor Desa Pedagangan, Kecamatan Dukuhwaru.

Ketua Panitia Makesta Reza Pahlevi mengatakan, makesta bertujuan memberikan pengenalan organisasi kepada calon anggota serta membangkitkan kader muda untuk mencintai organisasi IPNU IPPNU di masing-masing desa.

IPNU dan IPPNU Dukuhwaru Rekrut Ratusan Kader Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU dan IPPNU Dukuhwaru Rekrut Ratusan Kader Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU dan IPPNU Dukuhwaru Rekrut Ratusan Kader Baru

Pasalnya, selama ini rata-rata pengurus ranting yang ada merupakan pengurus yang masih baru semua.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Makesta diikuti 140 calon anggota IPNU IPPNU utusan ranting dan komisariat se-Kecamatan Dukuhwaru," katanya.

Makesta mengusung tema Membangkitkan jiwa kader IPNU IPPNU dengan semangat Nasionalisme yang Berakhlakul Karimah dalam Kehidupan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Makesta diharapkan melahirkan kader organisasi yang militan dan punya loyalitas tinggi terhadap organisasi," tandasnya.

Ketua IPNU Dukuhwaru Tobiin mengatakan, Makesta digelar sebagai implementasi program PAC IPNU dan IPPNU Kecamatan Dukuhwaru.

"Yang paling penting minimnya kader IPNU IPPNU Dukuhwaru. Oleh karenanya, dengan Makesta diharapkan akan lahir kader IPNU-IPPNU yang andal, tahan mental, dan siap meneruskan estafet perjuangan organisasi," katanya.

Ia berharap Makesta mampu mencetak kader IPNU dan IPPNU yang berwawasan keagamaan dan kebangsaan disertai dengan penalaran organisasi yang tinggi sehingga mampu menggerakan organisasi NU di tingkat ranting.

"Saya berharap lahir kader yang mampu menggerakan NU di tingkat ranting sehingga eksistensi organisasi akan berjalan," katanya.

Wakil Ketua IPPNU Kecamatan Dukuhwaru Sabit Rizkiatun menjelaskan, Makesta yang merupakan implementasi program kerja masa kepengurusannya merupakan sarana mengenalkan organisasi NU, ahlussunah waljamaah (Aswaja) kepada calon anggota IPNU dan IPPNU sehingga akan lahir kader pemimpin yang berakhlakul karimah.

"Melalui Makesta diharapkan lahir kader pemimpin yang loyalitas, berakhlakul karimah dan siap memperjuangkan NU," pungkasnya.

Sejumlah materi yang disajikan dalam pengkaderan Makesta di antaranya keorganisasian, ke-IPNU-IPPNUan, ke-NUan, Aswaja, dan publik speaking. (Hasan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Syariah,Attijani Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 25 November 2015

LKSB Sebut Kekayaan Budaya Indonesia Modal Membangun Bangsa

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Selain sumber daya alam yang melimpah, kekayaan tradisi dan budaya Indonesia menjadikan bangsa majemuk ini dipandang unik oleh sejumlah negara di dunia. Bahkan tak sedikit keunikan bangsa Indonesia untuk dijadikan fokus studi dan penelitian oleh para peneliti mancanegara.

LKSB Sebut Kekayaan Budaya Indonesia Modal Membangun Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
LKSB Sebut Kekayaan Budaya Indonesia Modal Membangun Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

LKSB Sebut Kekayaan Budaya Indonesia Modal Membangun Bangsa

Hal inilah yang dipandang oleh Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB) sebagai modal strategis membangun manusia Indonesia. Pembahasan tersebut mengemuka ketika LKSB menggelar diskusi refleksi 72 tahun Indonesia merdeka, Senin (28/8) di Gedung PBNU Jakarta.

Mendatangkan sejumlah narasumber dan aktivis pergerakan, Direktur Eksekutif LKSB Abdul Ghopur mengungkapkan, saat ini tidak sedikit generasi muda yang tak kenal dengan identitas budayanya. Bahkan banyak yang terlena oleh perkembangan teknologi digital sehingga menggerus kearifan lokal.

“Ternyata sekarang sebagian masyarakat bangsa ini mulai lemah dan tercerabut dari akar kultur dan naturnya sebagai bangsa Indonesia (Nusantara). Mulai tak mengenali Pancasila sebagai falsafah atau pandangan hidup berbangsa dan bernegara,” ujar Ghopur yang dalam diskusi kali ini mengambil tema Membangun Manusia Indonesia yang Adil dan Beradab.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Mengingat falsafah agung Pancasila, forum LKSB juga menyayangkan ketika ada sejumlah kelompok yang anti-Pancasila. Di sisi lain, perlakuan tidak adil juga kerap dialami oleh kelompok tertentu yang berusaha mempertahankan tanah adat tempat tinggalnya salama bertahun-tahun, namun justru tergusur karena kepentingan korporasi dan politik.

“Di sinilah kita bersama mencoba menjawab secara komprehensif seluruh persoalan bangsa. Kita ingin menjelaskan betapa pentingnya Pancasila menjadi kompas dalam perjalanan berbangsa dan bernegara yang kian mengalami dekadensi moral dan distorsi bangsa,” jelas intelektual muda NU ini.

Ia menegaskan, begitu pentingnya Pancasila dihadirkan kembali dalam ruang publik yang belakangan sarat kontaminasi oleh kepentingan kelompok, nilai, maupun ideologi-ideologi privat.

Hadir memberikan pengarahan Bendahara Umum PBNU Bina Suhendra. Di antara narasumber yang hadir ialah Ketua Umum Pengurus Besar Korps PMII Putri (Kopri) Septi Rahmawati, Ketua Umum GMNI Chrisman Damanik, Pengurus Pusat GMKI Korneles Galanjinjinay, Social Entrepreneur Moses Latuihamalo, dan Candra (GEMA Perhimpunan Indonesia-Tionghoa). (Fathoni)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Bahtsul Masail Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 20 November 2015

PBNU-BNN Nyatakan Darurat Narkotika

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pengurus harian PBNU menerima kunjungan rombongan Badan Nasional Narkotika (BNN) di Gedung PBNU, Jakarta, Rabu (21/10) sore. Mereka memperkuat kerja sama kedua pihak yang selama ini terjalin di tengah kondisi darurat narkotika.

PBNU-BNN Nyatakan Darurat Narkotika (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU-BNN Nyatakan Darurat Narkotika (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU-BNN Nyatakan Darurat Narkotika

“Kita punya 13.000 sekolah Ma’arif. Hampir bisa dipastikan pelajarnya tidak menggunakan narkotika. Tidak melakukan penyalahgunaan saja itu sudah merupakan pencegahan luar biasa,” kata Kang Said di hadapan para rombongan BNN.

Sementara Kepala BNN Budi Waseso menyampaikan bahwa pihaknya sudah melakukan kerja sama pencegahan penyalahgunaan narkotika dengan banom-banom NU seperti IPNU, IPPNU, Fatayat NU. Kini, Budi menambahkan, BNN tengah menjajaki kerja bareng dengan Lembaga Dakwah NU dan GP Ansor.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Narkotika di Indonesia ini sudah di titik darurat. Para Bandar tidak segan-segan melebarkan segmen pasar mereka kepada pelajar TK,” kata Budi yang didampingi rombongannya.

Mereka juga tengah menyiapkan kerja-kerja pencegahan berbasis keluarga selain pelajar, santri, dan para dai. “Kita juga bahkan menyasar tempat hiburan. Kita sudah ketemu Ahok untuk mewajibkan tempat hiburan ‘Bersih Narkotika’,” ujar Budi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kedua pihak berencana menindaklanjuti kerja-kerja pencegahan berbasis keluarga dan berbasis masjid. Pertemuan diakhiri dengan pertukaran cendera antara kedua pihak. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ahlussunnah, Budaya, Kyai Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 16 Oktober 2015

Alissa Wahid: KMNU Harus Lanjutkan Perjuangan Para Ulama

Yogyakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Saat ini bangsa Indonesia butuh kebangkitan mahasiswa, karena dunia ini berubah terus dan semakin lama semakin cepat berubahnya. Dunia saat ini sudah menjadi desa global (global village), apa yang terjadi di sudut dunia, kita tahu. Pertukaran kultur mudah terjadi sehingga terjadi tarik-menarik ? tentang siapa yang dipengaruhi dan siapa yang mempengaruhi. Oleh karen itu, KMNU harus melanjutkan perjuangan yang telah dibangun oleh para ulama.

Demikian dikatakan Alissa Wahid dalam Musyawarah Nasional (Munas) Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) se-Indonesia yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, Yogyakarta, Jum’at, (23/1).?

Alissa Wahid: KMNU Harus Lanjutkan Perjuangan Para Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)
Alissa Wahid: KMNU Harus Lanjutkan Perjuangan Para Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)

Alissa Wahid: KMNU Harus Lanjutkan Perjuangan Para Ulama

Dalam kesempatan tersebut Alissa mengatakan, saat ini banyak gerakan ‘Islam anyaran’ yang mempengaruhi gerakan Islam di Indonesia. Islam anyaran, ucap Alissa mengutip kata-kata Gus Mus, adalah kelompok Islam yang tidak ikut berinfestasi membentuk Negara Indonesia.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Islam anyaran ini berbeda dengan NU yang sudah terlibat dalam perjuangan bangsa selama ini,” tutur Alissa.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Alissa melanjutkan, dari dulu ulama NU bersentuhan dengan masyarakat bawah, tidak berdiri di menara gading. Cara seperti, tambah putri sulung Gus Dur ini, merupakan warisan terbesar dari Walisongo. Hasilnya, lanjut Alissa, jumlah umat Islam di Indonesia saat ini lebih banyak daripada jumlah seluruh umat Islam di Timur Tengah.?

“Hal ini karena pendekatan yang dilakukan ulama adalah pendekatan kultural,” terangnya.

Menurutnya, ulama juga menentukan status negara Indonesia sebagai dar al-salam (negara damai), mengingat kondisi Negara ini beragam. Kalau bicara Indonesia, urai Alissa, maka disana ada ras melayu dan lain-lain. “Ndak ada yang tunggal dan kondisi inilah yang disikapi ulama dengan memberi status dar al-salam,” ujar Kakak dari Yenny, Inayah dan Anita Wahid ini.

Seminar dengan tema ‘Sinergi Mahasiswa Nahdlatul Ulama Melalui Nilai Spiritual dan Intelektual Mewujudkan Islam Yang Rahmatan Lil Alamin’ ini merupakan salah satu rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) KMNU yang dilaksanakan selama tiga hari, Jum’at-Ahad, (23-25/1). (Anas/Fathoni) ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi AlaSantri, Syariah, Ubudiyah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 07 Oktober 2015

Segenap Warga NTT Blokir Kemungkinan Migrasi Anggota ISIS

Kupang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Kabid Humas Polda NTT AKBP Okto G Riwu meminta warga NTT untuk berjaga dari kemungkinan masuknya anggota organisasi terlarang ISIS ke wilayah Nusa Tenggara Timur. Polda NTT siap menindaklanjuti laporan pemuka agama, aktivis pemuda, unsur mahasiswa, perangkat desa hingga RT perihal gerakan mencurigakan di daerah masing-masing.

“Polda NTT dan Polres Kupang berharap masyarakat, tokoh agama, dan tokoh masyarakat bersama-sama membantu mengatasi perkembangan organisasi ini. Jika ditemukan wadah ini berada di NTT, segera laporkan ke pihak keamanan setempat agar bisa diantisipasi,” kata Okto G Riwu kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi di Kupang, Rabu (6/8).

Segenap Warga NTT Blokir Kemungkinan Migrasi Anggota ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)
Segenap Warga NTT Blokir Kemungkinan Migrasi Anggota ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)

Segenap Warga NTT Blokir Kemungkinan Migrasi Anggota ISIS

Tokoh agama Islam dan ormas Islam, menurut Okto, dapat memperingatkan masyarakat melalui khutbah Jumat dan komunitasnya. Peringatan ini dimaksudkan untuk mengantisipasi dan menangkal berkembangnya pengikut ISIS.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Presiden dan Kapolri sudah menyatakan ISIS sebagai paham terlarang. Karenanya, siapa saja yang mengikuti paham ini dinyatakan salah. Isis merupakan bagian organisasi terlarang dan radikal. “Jangan sampai masyarakat terpropaganda dengan aliran sesat seperti itu. Paham ? ekstrem ISIS mengajarkan bahwa orang yang berbeda dengan pemikiran ISIS itu adalah musuh.”

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sementara Satuan Polres Kupang Kota tengah melakukan upaya-upaya pencegahan. Mereka malkukan pemantauan di setiap gerbang masuk dan gerbang keluar. Sejumlah pemantauan ditempatkan di pelabuhan maupun di bandara Eltari Kupang.

Ketua RT 26 RW 7 kelurahan Kayu Putih Mahmud Yunus mengimbau rekan-rekan ketua RT lainnya di Kota Kupang agar tetap memantau para pendatang baru. “Setiap RT perlu mengetahui persis pendatang baru agar ruang gerak berikut aktivitas mereka bisa terpantau,” tegas Yunus. (Ajhar Jowe/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Lomba Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 06 Oktober 2015

Ansor Subang Adakan Maulid Nabi

Subang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Umat Islam diminta jangan mudah terprovokasi. Hal ini ditegaskan oleh Wakil Ketua Gerakan Pemuda Ansor Kab. Subang, K Muhammad Taufiq yang juga menjadi tuan rumah peringatan Maulid Nabi di Pesantren Miftahul Ulum Al-Musri, Tanjungsiang, Ahad (17/02/2013) pukul 13.00.

Ansor Subang Adakan Maulid Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Subang Adakan Maulid Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Subang Adakan Maulid Nabi

Menurut Taufiq, di saat memasuki bulan Rabiul Awal dimana Nabi Muhammad Saw dilahirkan, banyak umat Islam memperingatinya dengan menggelar acara maulidan sebagai bentuk kecintaannya kepada Sang pembawa Rahmat tersebut. Namun tidak sedikit umat Islam yang tidak begitu suka dengan acara maulidan, karena dianggapnya bidah.

"Hati-hati, sekarang ini banyak ummat Islam yang ngaku cinta kepada Nabi, tapi malah menganggapnya bidah. Kita jangan mudah terprovokasi. Biarkan saja mereka mau bilang apa. Yang penting kita tetap yakin bahwa Maulid Nabi merupakan amalan yang baik," tegas Pengasuh Pesantren Miftahul Ulum Al-Musri tersebut.

Masih menurutnya, tujuan lain diadakannya Maulid Nabi sebagai akses dimana ukhuwah islamiyah dipererat.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Dengan acara ini diharapkan menjadi akses mempererat jalinan silaturrahmi sesama ummat Islam. Jadi jika memang itu baik, kenapa juga masih dianggap salah," lanjutnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sementara Ketua GP Ansor Subang Asep Alamsyah memaparkan bahwa ini adalah sebagai bukti penegasan eksistensi GP Ansor hari ini dalam mengawal Islam menuju Rahmatan lil Alamin.

"GP Ansor hari ini membuktikan eksistensinya dan kesolidan pengurus-pengurusnya, bahwa bukan hanya di Subang pantura saja kita lakukan gerakan, tapi di wilayah Subang selatan pun harus lebih progresif lagi dalam mengawal Islam Ahlussunnah wal jamaah," pungkasnya.

Selain dihadiri oleh ribuan Nahdliyien, acara ini dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan Kab. Subang H Kusdinar, Camat Tanjungsiang, ratusan kader GP Ansor dan Barisan Ansor Serba Guna (Banser) KecamatanTanjungsiang. Acara diisi oleh dua dai kondang, yakni KH Entang Mustafa dari Garut, dan KH Subhan Baihaqi yang juga sebagai Pimpinan Majlis Shalawat dan Dzikir Nurul Jadid Radar Cirebon Televisi.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Ade Mahmudien

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Amalan, Pesantren Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 28 September 2015

Film Indonesia Terjebak Simbol Dangkal!

Jakarta Pondok Pesantren An-Nur Slawi,. Film-film yang dianggap Islami sekarang, menurut Wakil Rais Aam PBNU KH A. Mustofa Bisri, sebenarnya terjebak dalam simbol agama yang dangkal. Hal itu dia tegaskan selepas Musyawarah Film Nasional dengan tema Posisi Indonesia dalam Film Nasional, yang berlangsung di PBNU belum lama ini.?

KH A Mustofa Bisri mencontohkan film-film Islami yang pernah ada, “Dulu ketika Pak Usmar Ismail bikin film, tak ada idiom sorban, sajadah, tasbih. Kalau film sekarang, supaya cinta itu tampak Islami, jadi cinta bertasbih, cinta bersorban, yang gitu-gitulah. Ada subhanallah, istighfar segala macam begitu. Film-film Usmar Ismail nggak ada. Kenapa? Karena dia mengerti "inti" dari agama Islam itu apa,” tegasnya.

Film Indonesia Terjebak Simbol Dangkal! (Sumber Gambar : Nu Online)
Film Indonesia Terjebak Simbol Dangkal! (Sumber Gambar : Nu Online)

Film Indonesia Terjebak Simbol Dangkal!

Kiai yang akrab disapa Gus Mus ini berpendapat, film Islam itu harus bertema yang universal."Islam yang sejak zaman Nabi Ibrohim; atau orang sekarang mengatakan Islam yang universal tentang kemanusiaan, tentang kasih sayang. Itu malah tidak naik dalam film-film kita sekarang. Dulu itu ada cinta kepada tanah air, kasih sayang terhadap sesama manusia, pasrah kepada Tuhan; yang esensial semacam itu yang bisa dirasakan penonton,” tambahnya.

Jadi, lanjut penulis kumpulan cerpen Lukisan Kaligrafi? ini, film sekarang terjebak pada simbol-simbol yang dangkal, “Simbol itu pun nggak bener. Misalnya yang pake sorban, itu nggak jelas, itu sorban model mana? Arab nggak, India nggak, Indonesia nggak. Kenapa nggak pake udeng-udeng aja?” ungkapnya sambil tertawa.

Orang salah mengambil kesimpulan tentang simbol agama, tambah putra pengarang Tafsir Al-Quran bahasa Jawa: Al-Ibriz ini, “Mereka menganggap sorban, sajadah, jubah itu simbol agama dari Rosulullah. Tidak! Itu penghormatan Rosulullah kepada budaya setempat. Karena yang pake sorban, jubah, itu tidak hanya Rosulullah, Abu Jahal juga pake. Itu penghormatan Rosulullah terhadap budaya setempat!”

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Jadi,” sambung kiai yang pelukis ini, “kalau kita mau ittiba (mengikuti, red) Rasul dalam hal pakaian, ya begini, (Gus Mus menunjuk pada pakaian batik coklatnya). Kalau Kanjeng Nabi pakai pakaiannya orang Arab, meskipun sama dengan Abu Jahal, dia menghormati budaya setempat. Saya memakai pakaian orang Indonesia."

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuth Thalibin, Rembang, Jawa tengah ini juga menambahkan, pembuat film bernuansa agama harus mengerti moral agama sehingga menghasilkan film yang mencerahkan penonton. Film yang bagus itu, selepas menontonnya, penonton tercerahkan, ”Penonton berpikir, apakah saya hamba yang baik atau bukan,” pungkasnya.

?

Penulis ? ? ? : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Lomba Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 13 September 2015

Belajar dari Muslimat "Romli" dan Muslimat Resmi

Oleh: Nurun Nisa’

Sekitar sebulan yang lalu, saya mendapat kesempatan bersama mengikuti presentasi Ibu Sri Mulyati (ISM) di sebuah konferensi internasional yang diselenggarakan Kemenag (Kementerian Agama) RI. Saya tidak sendirian: seorang teman lainnya bahkan mengunggah foto sumringah bersama ISM di media sosial. Perasaannya bersumber dari presentasi yang ia lakukan satu panel dengan ibu pengurus Muslimat NU ini sembari membayangkan ibunya di kampung yang juga seorang pengurus banom NU ini.

Saya sendiri merasa senang bukan kepalang karena beruntung bisa menjadi pendengar. Dengan kemampuan berbahasa yang terbatas, saya dapat mengikuti kegiatan ini dengan lancar karena banyak teman berbaik hati membantu menerjemahkan di saat menemui kesulitan. Presentasi ISM di konferensi ini bertema demokrasi dan pesantren—tentang bagaimana pesantren merespon pilkada yang begitu dinamis sembari mengelola perbedaan dalam pesantren yang sama dinamisnya. Hasil penelitian ISM menyatakan pesantren berhasil mengelola perbedaan pilihan politik terutama karena masyarakat pesantren biasa memperlihatkan dan menghormati perbedaan sekaligus.

Belajar dari Muslimat Romli dan Muslimat Resmi (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar dari Muslimat Romli dan Muslimat Resmi (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar dari Muslimat "Romli" dan Muslimat Resmi

ISM, bagi penulis, merupakan prototype perempuan aktivitas NU masa kini. ISM hidup dalam alam pikir NU dan bergaul dengan banyak kalangan sekaligus. Jika sempat memperhatikan, kita semua akan tahu bahwa bahasa Perancis ISM sama baiknya dengan bahasa Inggris—sebaik bahasa Arab di mana ISM menekuni tasawuf. Saya membayangkan demikianlah sesungguhnya citra seorang Muslimat: sangat NU dan sangat kosmpolit sekaligus. Ke-NU-an yang lekat dengan tradisionalisme tidak memagari pengalaman dan pengetahuan, bahkan seorang Nahdliyyin bisa menggerakkan perubahan dengan [menggunakan] tradisi. Ia pencerminan dari yang disebut Mitsuo Nakamura sebagai tradisionalis yang radikal.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

****

Muslimat sejak kelahirannya di tahun 1946 didesain sebagai kepanjangan tangan NU dalam bidang pengelolaan isu perempuan. Studi Makrus Ali (2016) menunjukkan bahwa gerakan perempuan NU merupakan gerakan yang dinamis yang dipengaruhi oleh dinamika internal dan eksternal NU. Karenanya tidak mengherankan jika pada satu masa ia berubah-ubah atau bahkan kontradiktif. Muslimat NU sendiri tidak terlepas dari dinamika ini, setidaknya dengan perbandingan kebijakan organisasi NU di masa lalu dan masa kini.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pada tahun 1950, mengutip Ali, pemerintah membuat draft UU Perkawinan yang akhirnya disahkan pada tahun 1974. Guna rencana ini, pemerintah membentuk Komisi NTR (Nikah, Talak, Rujuk) yang beranggotakan antara lain Soejatin Kartowirjono (Perwari), Nani Soewondo (Perwari), dan Mahmudah Mawardi (Muslimat NU). Di tengah-tengah proses ini, pemerintah menerbitkan peraturan yang justru melonggarkan poligami bernama Keputusan Presiden No. 19 Th. 1952. Peraturan ini segera mendapat respon keras dari mayoritas gerakan perempuan karena dianggap mendukung poligami di mana pemerintah memberikan tunjangan bagi pegawai sipil secara berlebih supaya bisa dibagi kepada beberapa istri.? Sebaliknya, Muslimat NU bersama dengan Muslimat Masyumi, dan GPII menolak. Mahmudah melalui Fraksi NU, di mana ia juga menjadi pengurus Muslimat, menolak isu poligami dikeluarkan dari draft RUU Perkawinan karena hal ini berarti memisahkan secara diametral hukum agama dan perkawinan.? Hal ini berpotensi menjadi pernikahan yang tidak sesuai dengan paham agama padahal pernikahan adalah bagian terpenting dari agama. Tema ini seharusnya dimasukkan dalam peraturan ini mengingat ini akan menjadi peraturan yang melindungi hak-hak perempuan dalam perkawinan. Kedua kelompok ini tarik-ulur sehingga baru disahkan di masa Orde Baru. Kini kita bisa menyaksikan wajah lain Muslimat NU menyusul munculnya wacana revisi UU Perkawinan.? ? ? ? ? ? ? ?

Muslimat NU pada tahun 2014 misalnya mengusulkan kenaikan usia minimal pernikahan perempuan yang hanya 16 tahun sebagaimana ditulis Tempo.co. Usia ini setidaknya usia lulus SMP—Muslimat mengusulkan setidaknya ini dinaikan menjadi usia lulus SMA. Usia ini bukan saja menyangkut angka melainkan menyangkut AKI (Angka Kematian Ibu) yang tinggi. Kementerian Kesehatan mencatat bahwa salah satu penyebab tingginya AKI yakni sebanyak 45% pasangan menikah di bawah isu 19 tahun. Selain itu, kesetaraan hak laki-laki dan perempuan perlu diperbaiki: pada salah satu klausul, laki-laki diperbolehkan untuk menikah lagi jika istrinya mandul namun tidak ada klausul jika suami menderita impotensi. Semua ini, seperti dituturkan Ketua Umum Muslimat NU, perlu dilihat sebagai persoalan dalam kerangka membangun ketahanan keluarga.

Sikap ini merupakan sikap progresif jika kita membandingkannya dengan kelompok Islam lain yang menyegerakan nikah ketimbang berzina. Jadi, urusan menikah secara diametral dihubungkan dengan zina—seolah-olah jika tidak menikah maka akan berzina. Kelompok Islam yang lain bahkan tidak berurusan dengan AKI yang tinggi sebab ibu yang meninggal karena melahirkan akan dikaitkan dengan dua soal: sudah takdir dan status syahid. ?

Saat ini, sepanjang pengetahuan penulis, Muslimat kini lebih banyak fokus pada isu-isu kesehatan dan isu lain yang langsung berdampak pada masyarakat. Muslimat misalnya bekerja sama dengan Direktorat Promkes (Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat) Departemen Kesehatan RI dalam program Germas (Gerakan Masyarakat untuk Hidup Sehat) di beberapa daerah yang menjadi titik gerakan di seluruh Indonesia. Di banyak kabupaten, YKMNU (Yayasan Kesejahteraan Muslimat NU) bekerja sama dengan BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) melakukan pemeriksaan kesehatan bagi perempuan agar terhindar dari kanker serviks, di samping Laskar Narkoba. Gerakan yang dibentuk melalui kerja sama dengan BNN (Badan Narkotika Nasional), termasuk di Jawa Tengah, guna memerangi penyalahgunaan narkoba yang kini beredar hingga di pelosok desa.? ? ? ?

****

Ibu saya (Ibu) bukan aktivis Muslimat sebagaimana ISM. Meski demikian, menurut pengamatan saya, Ibu menangkap semangat dari kaum Muslimat sebagaimana Ibu mewarisi semangat dari para leluhurnya. Di lingkungan saya sendiri banyak kerabat dan tetangga dekat yang menjadi anggota resmi Muslimat NU—jumlahnya ratusan bahkan. Sesekali Ibu ikut karena Ibu diundang oleh kerabat yang tempatnya mendapat giliran untuk dijadikan sebagai bagian dari pertemuan rutin—biasanya disebut Muslimatan. Ibu tidak banyak waktu untuk mengikuti aktivitas rutin ini. Nampaknya Ibu cocok digelari muslimat romli dan mereka sebagai muslimat resmi. Muslimat NU sendiri merupakan organisasi terbesar perkumpulan perempuan di kampung saya. Para ibu ini dengan caranya sendiri bisa menegoisasi di tengah harapan masyarakat yang tinggi akan pengabdian masyarakat di ruang domestic dan keinginan untuk terlibat aktivitas luar.

Aktivitas luar ini, bagi penulis, melampaui semangat aktualisasi diri—ia merupakan dorongan untuk mengabdi kepada umat dan masyarakat. Dalam ukuran yang paling sederhana, mereka mengadakan santunan anak yatim tiap 10 Muharram, yang artinya bisa dimaknai membantu para ibu rumah tangga yang kini menjadi kepala keluarga sepeninggal suami. Kita bisa berdebat soal menyediakan ikan atau pancing guna membantu mereka yang membutuhkan. Namun, kita juga tidak bisa menafikan bahwa ikan pun bermanfaat bagi mereka dalam peristiwa santunan. Sebagian dari mereka bahkan menjadi penggerak Posyandu—mereka menghubungi ibu-ibu yang memiliki anak balita untuk imunisasi dan urusan lain yang sejenis. Akses kesehatan yang setara bagi anak-anak dan perempuan merupakan salah satu agenda feminis paling penting, di samping akses pendidikan.

Ibu sendiri berbagi peran dengan Bapak yang lebih banyak sibuk di luar. Meski peran di luar terlihat lebih besar di keluarga kami, Ibu tidak mengecilkan peran tiap orang—bagi Ibu, yang domestic sama baiknya dengan yang di luar karena keduanya berkontribusi dengan cara yang berbeda. Ibu tak ragu membebaskan anak perempuannya, semua anak perempuannya, berkelana tanpa harus membebaninya dengan beragam harapan masyarakat yang terkadang tidak terlalu cocok diterapkan. Anak perempuannya pun tidak wajib menjadi seperti dirinya.? ?

Di sisi lain, Ibu mendorong setiap anaknya, yang laki-laki dan perempuan, untuk belajar sebanyak-banyaknya dan sejauh-jauhnya sekaligus mengingatkan tentang perlunya peduli kepada orang lain. Ibu mengingatkannya dengan gaya sederhana: “Ayo kita tengok anak paman yang sakit”, “Ayo ke rumah bulek yang sedang hajatan”, “Ayo bantu adikmu bikin tikar kertas”. Kami saat itu sedang sibuk belajar untuk UTS (Ujian Tengah Semester) atau mengerjakan tugas belajar lain yang wajib. Di belantara Jakarta saya baru menyadari bahwa ini bukan urusan menjenguk orang sakit belaka atau menyambangi rumah bulek yang hajatan, namun ini tentang menyediakan waktu untuk orang lain yang memerlukan di tengah keinginan kita yang mendominasi atau dalam ungkapan yang lebih heorik: ini tentang bersama mereka yang membutuhkan. Saya lalu mendadak teringat pesan ISM di akhir konferensi: “Belajar yang sebaik-baiknya namun jangan lupa mengabdi kepada masyarakat”. Mengabdi kepada masyarakat memungkinkan kita untuk melihat problem masyarakat secara

nyata dan kemudian memperjuangkan mereka atau berkontribusi menyelesaikan masalah mereka bersama-sama.

Perjumpaan dengan para ibu Muslimat dengan banyak wajah ini—yang anggota dan yang mengikuti nilai sebagaimana anggotanya, yang romli dan yang resmi—membuat saya sadar akan pentingnya menimbang yang lain bernama mereka yang sedang kesusahan, menderita, dan membutuhkan. Dari Ibu dan ISM saya memahami hal ini: belajar dan mengabdi sama pentingnya. Ia bukan perkara ma la yudraku kulluhu, la yutraku ba’dhuhu. Belajar dan mengabdi harus-harus sama-sama dan ditunaikan dengan sama baiknya. Belajar adalah tentang kami sendiri dan mengabdi adalah tentang mereka yang membutuhkan. Terima kasih Ibu, terima kasih ISM. Terima kasih Muslimat NU. Wallahu A’lam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ulama, Pertandingan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 06 September 2015

Ratusan Santri Nurul Yaqin Lepas Dua Alumninya Belajar ke Yaman

Padangpariaman, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Kepala sekretariat pesantren Nurul Yaqin kecamatan Pakandangan kabupaten Padangpariaman M Asyraful Anam Tuanku Bagindo  memimpin ratusan  santri melepas keberangkatan dua santri alumninya untuk melanjutkan pendidikan ke University Al-Ahqaff, Yaman, Senin (20/10).

Pelepasan ini dihadiri juga oleh pimpinan pesantren, dewan guru, dan staf tata usaha pesantren Nurul Yaqin. 

Ratusan Santri Nurul Yaqin Lepas Dua Alumninya Belajar ke Yaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Santri Nurul Yaqin Lepas Dua Alumninya Belajar ke Yaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Ratusan Santri Nurul Yaqin Lepas Dua Alumninya Belajar ke Yaman

Masing-masing alumni yang akan berangkat ialah Rismandianto Tuanku Parmato Marajo Nan Alim dan Irvan Eko Juanda Tuanku Malin Palito Nan Sati.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rismandianto yang lahir pada 1989 di Aripan, Solok, masuk Nurul Yaqin tahun 2002. Selepas menamatkan pendidikannya pada 2008, ia mengajar di pesantren Nurul Yaqin. Sementara Irvan Eko lahir pada 1993 di Sungai Tarab kabupaten Tanah Datar.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurut Risman, ia akan mengikuti perkuliahan jurusan Syariah wal Qanun (hukum tata negara) pada Fakultas Syariah University Al-Ahqaff.

Sebelumnya, mereka mengikuti tes di Palembang pada 1 Mei 2014. Mereka mengetahui nama mereka lolos pada pemberitahuan kelulusan pada 10 Juni 2014.

"Insya Allah Kamis ini (23/10) kita berangkat ke Yaman dari Jakarta bersama calon mahasiswa lainnya. Kami dikumpulkan di pesantren As-Shiddiqiyah II Tangerang. Informasi yang kami terima, hanya 2 orang dari Padangpariaman," kata Risman. (Armaidi Tanjung/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kajian Islam Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 31 Agustus 2015

NU Jakbar Agendakan Ngaji Rutin Kitab Hadratussyaikh

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Administrasi Jakarta Barat berkomitmen akan membedah kitab karya Hadratussyaikh Muhammad Hasyim Asy’ari. Karya pendiri NU ini di antaranya terhimpun dalam “Irsyâdus Sârî” yang berisi belasan kitab.

Rais Syuriah PCNU KH Abdurrahman Shoheh menyatakan komitmen tersebut seusai dilantik Katib Aam PBNU KH Malik Madani pada akhir pecan lalu (16/5) di Pondok Pesantren Al Itqon, Jakarta. Ia mengagendakan, program bedah kitab kuning itu bakal digelar setiap malam Kamis untuk seluruh pengurus NU, badan otonom, serta masyarakat secara luas.

NU Jakbar Agendakan Ngaji Rutin Kitab Hadratussyaikh (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Jakbar Agendakan Ngaji Rutin Kitab Hadratussyaikh (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Jakbar Agendakan Ngaji Rutin Kitab Hadratussyaikh

Dalam kepengurusan periode 2014-2019 ini, PCNU Jakbar juga bertekad melestarikan ajaran Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja), di samping terus bekerja untuk kemaslahatan orang banyak.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Prosesi pengukuhan dirangkai dengan peringatan Isra’ dan Mi’raj sekaligus Milad ke-23 Pesantren Al Itqon. Hadirin yang berseragam batik NU, baliho dan bendera NU, membuat acara terasa kian meriah.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dalam kesempatan tersebut, Katib Aam PBNU KH Malik Madani menyatakan bahwa NU tidak mengajarkan kekerasan, apalagi terorisme. Artinya selalu mengedepankan Islam rahmatan lil ‘alamin yang membawa kasih saying dan kesejahteraan bagi seluruh alam semesta. Ia juga mengingatkan kepada pengurus NU agar tidak terseret arus politik praktis. (Hazami/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 30 Agustus 2015

Gusdurian Yogyakarta Adakan Tadarus Gus Dur di 7 Pesantren dan 2 Masjid

Yogyakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Seperti tahun sebelumnya, Gusdurian Yogyakarta mengadakan kegiatan Tadarus Gus Dur di sejumlah pesantren dan masjid di daerah Yogyakarta. Tadarus Gus Dur adalah kegiatan belajar nilai, pemikiran, dan keteladanan Gus Dur selama bulan Ramadhan.?

“Tahun ini Gusdurian Yogya mengajak beberapa organisasi untuk bekerja sama dalam pelaksanaan acara. Di antara organisasi tersebut yaitu PMII Sleman, IPNU-IPPNU Kota Yogyakarta, dan Takmir Masjid Jendral Sudirman (MJS) Yogyakarta,” terang Gusdurian Yogya dalam keterangan tertulisnya.

Gusdurian Yogyakarta Adakan Tadarus Gus Dur di 7 Pesantren dan 2 Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Gusdurian Yogyakarta Adakan Tadarus Gus Dur di 7 Pesantren dan 2 Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Gusdurian Yogyakarta Adakan Tadarus Gus Dur di 7 Pesantren dan 2 Masjid

Tujuan diadakannya Tadarus Gus Dur adalah memberi pemahaman terhadap para santri dan jamaah umum tentang nilai, pemikiran, dan keteladanan Gus Dur yang telah diwariskan pada generasi setelahnya. Dalam Tadarus Gus Dur kali ini, peserta diajak belajar tentang perjalanan intelektual Gus Dur dan biografinya. Kemudian peserta juga diajak menyelami relasi antara Gus Dur, NU dan pesantren, juga peran strategis Gus Dur dengan keislaman di Indonesia.

Safari Tadarus Gus Dur ini berlangsung mulai tanggal 11-19 Juni 2016. Sedangkan terkait pondok yang dijadikan lokasi tadarus, Gusdurian Yogya dan organisasi yang diajak kerja sama menggandeng tujuh pesantren dan dua masjid di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Tujuh pesantren tersebut ialah Pondok Pesantren Sunni Darussalam (Maguwo-Sleman), Pesantren As-Salafiyah (Mlangi-Sleman), Pesantren Al-Imdad (Pajangan-Bantul), Pesantren Pandanaran (Ngaglik-Sleman), Pesantren Nurul Ummahat (Kotagede-Jogja), Pesantren Al-Barokah (Tegalrejo-Jogja), dan Pesantren Aswaja Nusantara (Mlangi-Sleman). Sedangkan dua masjid lainnya adalah Masjid Jendral Sudirman (Demangan-Sleman) dan Yayasan Kodama (Krapyak).

Pada dasarnya, penyelenggaraan Tadarus Gus Dur ini memiliki sasaran prioritas para santri dan jamaah di masing-masing pesantren dan masjid. Namun demikian, tidak ada pembatasan jika ada peserta dari luar yang ingin bergabung. (Mohamamd Pandu/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Nahdlatul, Syariah, Pesantren Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 22 Agustus 2015

Inskonstitusionalisme Full Day School

Oleh Muhtar Said

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia tetap bersikeras menerapkan sekolah satu hari penuh, para siswa “dipaksa” berada di lingkungan sekolah dari pagi hingga sore. Bagi banyak kalangan, langkah Menteri Pendidikan ini adalah langkah mengambil kebijakan sepihak, karena ada beberapa pihak yang dirugikan selain memforsir tenaga dan pikiran siswa langkah tersebut juga bisa mematikan lembaga pendidikan yang dibangun oleh masyarakat.

Inskonstitusionalisme Full Day School (Sumber Gambar : Nu Online)
Inskonstitusionalisme Full Day School (Sumber Gambar : Nu Online)

Inskonstitusionalisme Full Day School

Madrasah Diniyah (Madin) merupakan lembaga pendidikan yang terkena dampaknya karena madrasah ini biasanya dimulai pada jam 15.30, sedangkan Full Day School (FDS) berakhir pada jam 15.00. waktu istirahat selama 30 menit tidak akan bisa “menggugah” para siswa untuk belajar di Madin karena para siswa pasti sudah merasa kelelahan karena pikiran dan tenaganya sudah terkuras sebelumnya, akhirnya para siswa tidak bisa merasakan pendidikan agama yang diajarkan di Madin, padahal sudah terbukti, banyak tokoh nasional yang lahir karena dididik di Madin.

Madin merupakan lembaga pendidikan berbasis agama yang didirikan oleh masyarakat, gotong royong menjadi cirikhas utama pengelolaannya. Sehingga penerapan FDS juga akan mematikan nilai-nilai gotong royong itu sendiri, padahal gotong royong merupakan nilai yang harus dipertahankan.

Madin tidak bisa dipisahkan dalam dunia pendidikan di Indonesia karena dilindungi oleh Undang-Undang, yakni di Pasal 30 ayat (4) UU No 20 tahun 2003. Sebagai pendidikan keagamaan yang diselenggarakan oleh masyarakat, juga ada pelestarian nilai gotong royng dalam pengelolaanya, sebuah nilai asli Indonesia yang memang harus dipertahakan.

Mengacu pada dasar-dasar di atas maka bisa ditarik benarng merahnya, pemberlakukan FDS yang akan diterapkan oleh Menteri Pendidikan ini, selain akan merusak nilai-nilai gotong royong yang selama ini dilaksanakan oleh masyarakat melalui Madin, juga bisa dikategorikan sebagai kebijakan yang inskonstitusional karena tidak selaras dengan norma-norma hukum yang telah ada.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sebagai negara hukum, tentu pemerintah Indonesia tidak boleh melangkah tanpa ada dasar hukum yang melatar belakanginya karena setiap tindakan pemerintah (bestur handeling) harus berpijakan pada hukum yang sudah ada kalau tindakannya tidak berdasarkan hukum maka bisa dinamakan telah melakukan maladministrasi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Bertentangan dengan Undang-undang

Dalam Pasal 1 huruf (1) Undang-Undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional sudah jelas dituliskan “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.

Bunyi pasal di atas bisa dilihat dengan seksama, ada kata “dan” dalam definisi pendidikan. Hal itu menandakan, adanya satu kesatuan, proses pendidikan harus mencakup wilayah spiritual keagamaan. Anehnya, di Permendikbud No 23/2017 wilayah pendidikan agama ditempatkan pada wilayah ekstrakuler, wilayah yang tidak diwajibkan karena ekstrakulikuler merupakan kegiatan pilihan.

Sudah jelas Permendikbud tersebut menilai pendidikan keagamaan merupakan wilayah yang tidak wajib, sehingga siswa boleh memilih atau tidak. Apabila langkah tersebut terus dijalankan maka ini akan berakibat fatal karena bertentangan dengan Pasal 1 huruf (1) Undang-Undang No 20 tahun 2003.

Segala bentuk tindakan yang dilakukan oleh pemerintah (bestur handelling) tidak boleh mengandung unsur ketidakmanfaatan. Dalam melakukan memberlakukan kebijakannya ini Menteri pendidikan tidak menaati Asas Umum Pemerintahan yang Baik (AUPB) karena kebijakannya tidak mencerminkan asas kemanfaatan, seperti yang tertuang dalam Pasal 10 ayat 1 UU No 30 tahun 2014 tentang Adminitrasi Pemerintahan.

Kebijakan yang tidak bermanfaat

Dalam melakukan tindakannya, pemerintah (dalam hal ini Menteri Pendidikan) harus memperhatikan ksecara seimbang antara kepentingan individu dengan kepentingan individu lainnya, kepentingan individu dengan masyarakat, kepentingan kelompok masyarakat satu dan kepentingan kelompok masyarakat lainnya.

Perlu diketahui, menurut data Kementrian Agama ada 76.566 Madin yang dikelola oleh kelompok masyarakat dengan peserta didik mencapai 6.000.062. Jumlah Madin dan muridnya itu bisa hilang karena adanya kebijakan FDS. Hal ini jelas akan memancing keributan di kalangan masyarakat. Sehingga bukan kemanfaatan yang didapat tetapi kekisruhan akibat kebijakan FDS.

Menteri Pendidikan merupakan pejabat tata usaha negara yang mendapatkan kewenangan delegasi oleh Presiden untuk mengelola pendidikan. Sebagai pejabat tata usaha negara dia harus cermat dalam membuat keputusan atau kebijakan karena kalau tindakannya tidak cermat akan bisa berdampak hukum terhadap dirinya sendiri.

Terbukti, Menteri Pendidikan tidak cermat dalam membuat kebijakan FDS karena melanggar asas utama dalam pengambilan kebijakan yakni AUPB. Berdasarkan analisis diatas Menteri Pendidikan telah melanggar asas kepastian hukum karena tidak mengindahkan peraturan perundang-undangan dan asas kemanfaatan (kebijakan malah membuat suasana gaduh dan potensi ricuh).

Ketika Menteri Pendidikan tidak menghormati asas-asas tersebut maka kebijakan yang dia keluarkan bisa disebut sebagai kebijakan yang inskonstitusional. Untuk itu Menteri Pendidikan harus sesegara mungkin mencabut Permendikbud No 23/2017.

Penulis adalah Dosen Ilmu Hukum Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Santri, Pahlawan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 16 Agustus 2015

Mahasiswa RI di Yaman Diajak Kembangkan Semangat Entrepreneurship

Tarim, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Sebagai upaya menanamkan jiwa entrepreneurship di kalangan pelajar dan ? mahasiswa Indonesia di Yaman, Dewan Pengurus Wilayah Hadramaut Persatuan Pelajar Indonesia di Yaman (DPW PPI Yaman) bekerjasama dengan Asosiasi Mahasiswa Indonesia Al-Ahgaff (AMI Al-Ahgaff) dan Pengurus Cabang Istimewa Nahdhatul Ulama Yaman (PCI NU Yaman) menggelar acara kuliah umum bertajuk “Pemberdayaan Ekonomi Pesantren, Menuju Pesantren Mandiri dan Bermartabat” pada Rabu, (17/04).

Acara yang bertempat di Auditorium Fakultas Syari’ah Universitas Al-Ahgaff, Tarim, Hadhramaut, Yaman ini menghadirkan KH Mahfudz Syaubari MA, pengasuh pesantren Riyadhul Jannah, Mojokerto, Jawa Timur sekaligus sosok kiai yang sukses dalam mengembangkan usahanya.?

Mahasiswa RI di Yaman Diajak Kembangkan Semangat Entrepreneurship (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa RI di Yaman Diajak Kembangkan Semangat Entrepreneurship (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa RI di Yaman Diajak Kembangkan Semangat Entrepreneurship

Kedatangannya ke Tarim yang kesekian kalinya ini dalam rangka ziarah. ?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dalam paparannya, alumnus program pasca sarjana Universitas King Abdul Aziz Saudi Arabia ini menuturkan bahwa pesantren selayaknya memiliki kader-kader yang berjiwa mandiri. Karena pesantren merupakan salah satu tempat tumpuan masyarakat.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Kini saatnya pesantren tampil sebagai jawaban atas permasalahan ekonomi Indonesia” tambahnya.

“Bedakan antara kasal (rasa malas) dan tawakkal (sikap pasrah sepenuhnya kepada Allah SWT)!”, imbuhnya memotivasi ratusan pelajar Indonesia dari berbagai lembaga pendidikan yang ada di kota Tarim yang hadir malam itu. Selain itu, ia juga me-wanti-wanti para audien yang mayoritas dari kalangan pesantren tersebut agar bisa membedakan antara thalab al-halal (mencari rezeki yang halal) dan hub al-mal (cinta harta dunia).

Di pamungkas acara, ia mengatakan, “Semua pelajar Indonesia yang belajar di luar negeri ketika sudah kembali ke tanah air, hal pertama yang harus dilakukan adalah meng-Indonesiakan diri dahulu.”

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Amaludin?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi PonPes, Quote, Tokoh Pondok Pesantren An-Nur Slawi

LKNU Karanganyar Gelar Khitan Massal dan Donor Darah

Karanganyar, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Kabupaten Karanganyar menggelar aksi sosial sunatan massal dan donor darah di Masjid Muhajirin, Perum Josroyo Indah Jaten, Kabupaten Karanganyar, Ahad (22/1). Aksi sosial ini melibatkan anak-anak kecil setempat sebagai peserta.

Ketua LKNU Karanganyar dr Yaqub Iskandar mengatakan, kegiatan sosial ini merupakan rangkaian dari maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan oleh takmir masjid Muhajirin.

LKNU Karanganyar Gelar Khitan Massal dan Donor Darah (Sumber Gambar : Nu Online)
LKNU Karanganyar Gelar Khitan Massal dan Donor Darah (Sumber Gambar : Nu Online)

LKNU Karanganyar Gelar Khitan Massal dan Donor Darah

"Sunatan masal ini diikuti anak-anak warga sekitar, namun jumlah tidak sesuai target yang direncanakan, mungkin karena waktu yang mendadak dan kegiatan sunatan massal sudah akif sekolah" kata Yaqub kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi saat dihubungi usai kegiatan.

dr Yaqub menambahkan, kegiatan sosial ini pertama kali yang dilakukan oleh LKNU Karanganyar sebagai media dakwah agar lembaga ini dapat dikenal oleh warga Karanganyar.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Semoga ini menjadi awal langkah LKNU untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat NU khususnya dan masyarakat pada umumnya," harap Direktur Unit Donor Darah (UDD) PMI Karanganyar tersebut. (Ahmad Rosyidi/Alhafiz K)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Quote, Daerah, Warta Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 10 Agustus 2015

Didatangi Jokowi, Kiai Said Harapkan Jakarta Bebas Korupsi

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bagaikan sebuah magnet yang terus mengundang kedatangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta. Kali ini calon dari PDIP, Joko Widodo, yang datang dan diminta bisa menuntaskan masalah korupsi di Ibukota.

Didatangi Jokowi, Kiai Said Harapkan Jakarta Bebas Korupsi (Sumber Gambar : Nu Online)
Didatangi Jokowi, Kiai Said Harapkan Jakarta Bebas Korupsi (Sumber Gambar : Nu Online)

Didatangi Jokowi, Kiai Said Harapkan Jakarta Bebas Korupsi

Joko Widodo atau yang akrab disapa Jokowi datang dengan didampingi oleh Sekretaris DPD PDIP DKI Jakarta, Prasetyo. Datang dengan tidak mengenakan pakaian motif kotak-kotak yang menjadi ciri khasnya, Jokowi dengan tegas menyatakan kedatangannya untuk meminta dukungan dan doa restu Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. 

"Ingkang sepindah kulo sowan bade silaturahmi, lan ingkan kaping pindo nggih nyuwun tambahe pangestu kalian dukungan saking NU (Yang pertama saya sowan untuk silaturahmi, dan yang kedua untuk meminta doa restu dan tambahan dukungan dari NU)," ungkap Jokowi di hadapan Kiai Said dan Bendahara Umum PBNU H Bina Suhendra, Jumat (27/4). 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Atas permintaan doa restu tersebut Kiai Said mengatakan hanya bisa mendoakan, agar apa yang menjadi tujuan Jokowi bisa tercapai. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Nggih, niate sae mugi-mugi diparingi gampang urusane (Ya, niatnya bagus semoga bisa diberikan kemudahan jalannya)," jawab Kiai Said. 

Kiai Said juga menyampaikan permintaan kepada Jokowi, agar apabila terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta memprioritaskan masalah korupsi untuk dituntaskan dengan segera. 

"Anggaran DKI Jakarta itu setahun mencapai Rp.36 trilyun, tapi kenyataannya banjir masih terjadi dimana-mana. Tolong, jika nanti Pak Jokowi terpilih bisa menggunakan anggaran itu dengan benar," urai Kiai Said. 

Kiai Said mewakili Nahdliyin, khususnya yang tinggal di DKI Jakarta,  juga meminta agar masalah-masalah klasik di Ibukota bisa dituntaskan oleh Jokowi apabila nantinya terpilih, antara lain kemacetan, banjir serta masalah keamanan dan ketentraman. 

Sebelum Jokowi, dua calon gubernur dan wakil gubernur yang akan bertarung tanggal 11 Juli mendatang juga sudah terlebih dahulu sowan ke PBNU.  Keduanya adalah calon dari Golkar, Alex Nurdin - Nono Sampono dan jagoan PKS, Hidayat Nur Wachid dan Didik J Rachbini.  

Penulis: Emha Nabil Haroen

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Habib Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 27 Juli 2015

Pesantren Merupakan Kekuatan Ulama

Probolinggo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Kraksaan Kabupaten Probolinggo KH Munir Kholili mengungkapkan bahwa pesantren merupakan salah satu kekuatan agama. Kekuatan ulama NU berada pada maju dan tidaknya pesantren.

Kiai Munir Kholili menyampaikan hal itu ketika menghadiri haflatul imtihan Pondok Pesantren Ar-Rofi’iyyah di Kelurahan Semampir, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Selasa (15/12) malam.

Pesantren Merupakan Kekuatan Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Merupakan Kekuatan Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Merupakan Kekuatan Ulama

“Kekuatan ulama di pesantren ini banyak dibantu oleh para santri dan wali santri. Jika masyarakat mau menaruh anaknya di pesantren, maka pesantren akan maju dan ulama akan semakin kuat,” katanya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurut Kiai Munir, di dalam lingkungan pesantren santri tidak hanya diajarkan ilmu agama dan pengetahuan saja, tetapi bagaimana santri memiliki akhlak yang baik sehingga bisa diterapkan di tengah-tengah masyarakat ketika sudah kembali kepada lingkungannya.

“Mudah-mudahan para santri bisa menyerap ilmu yang diajarkan di pondok pesantren . Ilmu yang diberikan barokah dan bermanfaat bagi masyarakat. Oleh karena itu, santri harus sungguh menuntut ilmu di pesantren,” tegasnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kiai Munir berharap supaya momentum haflatul imtihan ini bisa menjadi dongkrak kemajuan pesantren. Sebab kegiatan ini adalah salah satu bukti jika pesantren itu benar-benar eksis dan mendapatkan kepercayaan dari masyarakat.

“Semoga ke depan keberadaan pesantren di Kabupaten Probolinggo bisa terus berkembang dan maju. Baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Sehingga kekuatan ulama ini bisa terus dijaga dengan baik,” harapnya. (Syamsul Akbar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Fragmen, Santri Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 30 Juni 2015

Ini Harapan GP Ansor Sidoarjo pada Kongres XV

Sidoarjo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Kongres Gerakan Pemuda Ansor XV yang akan digelar pada 25-27 November 2015 di Pondok Pesantren Pandanaran Yogyakarta mendatang, diharapkan mampu mencetak kader yang militan, sehingga mampu menjalankan serta mengamalkan ajaran Aswaja An-Nahdliyah.

Demikian ungkapan Ketua PC GP Ansor Sidoarjo, Slamet Budiono saat dihubungi Pondok Pesantren An-Nur Slawi, Selasa (3/11). "Semoga dengan adanya kongres itu nanti mampu menjaga keutuhan NKRI melalui sistem pengaderan yang telah tertuang di PD/PRT dan PO," ungkap Slamet.

Ini Harapan GP Ansor Sidoarjo pada Kongres XV (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Harapan GP Ansor Sidoarjo pada Kongres XV (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Harapan GP Ansor Sidoarjo pada Kongres XV

Slamet menyatakan bahwa ke depan para aktivis sekaligus warga Nahdliyin bisa memahami sistem pengaderan keorganisasian Ansor. Tanpa melalui pengaderan yang terstruktur, menurutnya, akan mengurangi militansi dalam berorganisasi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Slamet berharap, semua kegiatan atau program unggulan GP Ansor di semua tingkatan terutama jamiyah shalawat dan dzikir Rijalul Ansor yang sudah diatur pelaksanaannya, supaya ditambah dengan halaqoh.

"PC GP Ansor Sidoarjo berharap dalam kongres nantinya, agar melibatkan keluarga pondok pesantren menjadi pengurus GP Ansor di semua tingkatan. Mari berjuang bersama dengan keluarga pondok pesantren untuk dakwah Islamiyah. Sehingga ponpes tidak terkesan eksklusif bagi masyarakat yang sulit berkomunikasi dengan pihak pesantren," harapnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sekretaris GP Ansor Sidorjo, H Rizza Ali Faizin berharap pelaksanaan kongres tidak hanya menjadi ajang pemilihan ketua umum baru. Akan tetapi mampu memilih dan menjadikan pemimpin yang banyak menghasilkan perubahan.

"Semoga kongres nantinya berjalan lancar, kondusif dan sukses sehingga tidak sampai mengakibatkan kegaduhan. Saya juga berharap bagi Ketum yang terpilih nanti mampu memprioritaskan program kemandirian ekonomi, mampu mengawal paham Aswajah An-Nahdliyah serta eksistensi Ansor untuk bangsa dan negara," kata Rizza. (Moh Kholidun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi AlaNu Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 20 Juni 2015

Jangan Tinggalkan Etika Nabi Saat Bermedia Sosial

Way Kanan, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Nabi Muhammad SAW diutus Allah SWT untuk menyempurnakan akhlak. Sebagai pengikut Rasullulah, pantaskah meninggalkan atau menanggalkan akhlak saat berinteraksi, menyampaikan pendapat, dalam keseharian hingga di media sosial (medsos)?

"Akhlak maupun etika merupakan misi utama Nabi Muhammad SAW. Dan itu tidak hanya etika dalam perbuatan, tapi juga etika dalam berbicara. Bahkan etika dalam menjaga pandangan mata maupun hati kita," ujar Ketua Pimpinan Ranting Ansor Way Tawar, Pakuan Ratu, Way Kanan, Lampung, Miftalif Albar, di Way Kanan, Sabtu (26/11).

Jangan Tinggalkan Etika Nabi Saat Bermedia Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Tinggalkan Etika Nabi Saat Bermedia Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Tinggalkan Etika Nabi Saat Bermedia Sosial

Berbicara mengenai akhlak dan etika dalam mengeluarkan pendapat di media sosial, katanya, hal itu tetap masuk pada aturan yang berlaku dalam Islam, bahkan undang-undangpun mengatur hal itu.

"Dalam Al-Quran, Allah menegaskan bahwa ucapan seseorang menjadi cermin keimanannya. Seorang yang imannya baik, maka akan berkata hal-hal yang baik pula, begitu juga sebaliknya," ujar Miftah lagi.

Dengan demikian, kata dia menyikapi media sosial yang ramai ujaran kebencian hingga hujatan, seseorang yang mengaku dirinya Muslim namun tidak bisa menjaga lisannya, maka bisa dipastikan keimanannya sangat lemah.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Dan sangat jelas bahwa hal itu sangat jauh dari etika yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW," tuturnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Alumni PKL III PW GP Ansor Lampung itu menyayangkan, banyak orang mengaku sebagai penolong agama Allah atau pembela agama Allah, namun ucapan maupun perbuatannya sangat jauh dari ajaran Islam.

"Bisakah dikatakan seorang itu penolong jika ia mencelakakan? Bisakah disebut pembela jika ia menjerumuskan? Islam telah tegas mengajarkan, dosa besar seorang yang berkata tidak sesuai dengan perbuatannya," pungkasnya. (Hamengku Rayyan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Daerah, Ahlussunnah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 09 Juni 2015

Para Pecinta Gus Dur Ramai-ramai Gelar Haul

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Para pecinta Gus Dur ramai-ramai menggelar haul tokoh yang sangat dikaguminya ini. Tak hanya di Jakarta, peringatan haul ke-4 KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) juga digelar di daerah bahkan di luar negeri. 

Para Pecinta Gus Dur Ramai-ramai Gelar Haul (Sumber Gambar : Nu Online)
Para Pecinta Gus Dur Ramai-ramai Gelar Haul (Sumber Gambar : Nu Online)

Para Pecinta Gus Dur Ramai-ramai Gelar Haul

Kemarin, Senin (30/12), ratusan pecinta Gus Dur di Karawang, Jawa Barat, menggelar peringatan serupa di gedung Charles Bussines Center, Karawang. 

Acara yang dimulai sekitar pukul 13.00 tersebut dihadiri beberapa tokoh lintas agama seperti Kristen, Konghucu, dan Islam Abangan. Hadir juga perwakilan pesantren, ormas, dan OKP NU setempat. Diawali  tahlil dan doa bersama, acara dilanjutkan dengan diskusi bersama para tokoh lintas agama. Mereka menyampaikan tesmimoni masing-masing tentang jasa-jasa dan perjuangan Gus Dur, terutama bagi kelompok-kelompok minoritas seperti mereka. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Acara ditutup dengan pemberian cinderamata buku “Bukti-bukti Gus Dur itu Wali” terbitan ReneBook bekerjasama dengan Pondok Pesantren An-Nur Slawi kepada para panelis diskusi. Juga dibagikan doorprise buku tersebut untuk peserta yang bisa menjawab pertanyaan dari panitia. 

PCINU Turki juga memperingati haul Gus Dur sekaligus seb-i arus Maulana Jalaludin Rumi, yaitu malam dimana Rumi didaulat menjadi pengantin dengan sang kekasih sejatinya Allah anggal 17 Desember 1273 Maulana Jalaludin Rumi meninggal dunia. Dia meminta untuk tidak menangisi kematiannya setelah dia meninggal nanti. Karena Rumi berpikir mati adalah malam pengantin, malam yang penuh kebahagiaan.

Dalam acara yang digelar Ahad (29/12) tersebut dilakukan kajian yang menghadirkan 2 narasumber, Ahmad Faiz Irsyad (rais syuriyah PCINU Turki) dan yang kedua Syafiq Hasyim (rais syuriyah PCINU Jerman).

Dalam kajian ini narasumber menyampaikan berbagai hal tentang kearifan dua tokoh, Rumi dan Gusdur. Dalam semua aspeknya baik humanitas, cinta, toleransi, kosmopolitan. 

Kajian yang disiarkan langsung oleh radio PCINU Turki ini berlangsung menarik terbukti dengan banyaknya pertanyaan dari pendengar di Indonesia, Turki dan Jerman.

Sementara itu di Malang haul Gus Dur dilaksanakan tidak hanya oleh warga Nahdliyin saja, tapi juga dari berbagai agama, yang diselenggarakan pada Senin (30/12) Hall Kelenteng Eng An Kiong.

Acara dilaksanakan oleh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kota Malang bekerja sama dengan berbagai organisasi yang bergiat di bidang perdamaian seperti Majlis Ahlut Thariqah Al-Mutabarah Annahdliyah (Matan), Committe for Interfaith Tolerance Indonesia (Cinta Indonesia), Forum Kerukunan Ummat Beragama (FKUB), dan Gusdurian Muda Kota Malang.

Acara diawali dengan doa, sambutan panitia, apresiasi seni lintas agama, sambutan perwakilan Walikota Malang, barongsai, karawitan, dan teatrikal musik. Tak lama setelah itu, acara utama dilanjutkan yaitu Testimoni tentang Gus Dur dan Perdamaian dari berbagai pemuka agama yang disampaikan oleh Bunsu Anton Priyono dari agama Kong Hu Cu, pemuka agama Hindu, Ida Bagus Bajre, Romo Yudho Asmoro dari Penghayat Kepercayaan, Romo Eko Putranto (Katolik), Pdt. Yohannes Hariono (Kristen), H. M. Syafiq (Islam), Haryono (Buddha), dan Romo Yudho Asmoro (Penghayat Kepercayaan). 

Putri keempat Gus Dur, Inayah Wulandari Wahid, memungkasi acara dengan menyampaikan beberapa semangat perjuangan Gus Dur agar bisa dilanjutkan oleh pemuda dan mahasiswa yang berteguh pikiran dan tindakan untuk menguatkan NKRI.

Ribuan warga Nahdliyin Kota Solo juga memperingati Haul KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang ke-4 di kompleks halaman Kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Solo, Sabtu (28/12) malam. Acara ini bersamaan dengan diadakannya kegiatan pengajian Rijalul Ansor.

“Acara pengajian Rijalul Ansor, biasanya kita adakan pada pekan ke 3. Kali ini kita barengkan dengan peringatan Haul Gus Dur,” terang Ketua GP Ansor Solo, Muhammad Anwar. (aji najmuddin/diana manzila/agus/hari pebrian/mukafi niam) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Fragmen, Berita, Sunnah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 29 Mei 2015

Seribu Santri Pesantren Darul Mukhlasin Peringati Hari Santri Nasional

Probolinggo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Sedikitnya 1000 orang santri dan alumni Pesantren Darul Mukhlasin di Desa Tegalsiwalan Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo memperingati Hari Santri Nasional (HSN), Sabtu (22/10). Kegiatan perdana ini dipimpin langsung oleh Pengasuh Pesantren Darul Mukhlasin KH Mahfud Basya dan diikuti oleh jajaran pengurus dan guru pesantren.

Dengan khidmat mereka memperingati momentum pengakuan keberadaan dan eksistensi santri tersebut.

Seribu Santri Pesantren Darul Mukhlasin Peringati Hari Santri Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Seribu Santri Pesantren Darul Mukhlasin Peringati Hari Santri Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Seribu Santri Pesantren Darul Mukhlasin Peringati Hari Santri Nasional

Dalam sambutannya KH Mahfud Basya menyampaikan sekaligus mengingatkan sejarah perjuangan para pahlawan ulama dan santri NU. Menurutnya, santri sekarang bukan berjihad seperti dulu perang melawan penjajah. Santri hari ini jihadnya adalah memerangi kebodohohan dan memerangi kemiskinan.

“Santri harus sejahtera dunia dan akhirat. Yang paling penting lagi santri tidak boleh melupakan khittah pesantren. Sebab antara pesantren dan santri tidak dapat dipisahkan,” katanya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sementara Ketua Majelis Alumni Santri Pesantren Darul Mukhlasin Kosim menegaskan bahwa upacara ini adalah bukti kebangkitan para santri. Santri juga harus di depan dan bukan dinomorduakan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Santri harus paham tentang isi Resolusi Jihad NU, karena berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia, tidak lepas dari perjuangan para muassis NU yang telah berkorban harta dan nyawa dalam memperjuangkan bangsa Indonesia,” ungkapnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Nahdlatul, Doa Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 18 Mei 2015

Yang tak Terkena Bencana harus Berkurban

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Salah satu esensi dari Idul Qur’ban adalah mengorbankan diri atas harta yang paling dicintainya. Dalam suasana bencana yang terjadi di mana-mana ini, masyarakat yang tidak terkena bencana diharapkan mengorbankan sebagian hartanya untuk membantu yang sedang terkena musibah.

Hal ini disampaikan oleh ustadz Bukhori Muslim dalam khutbah Idul Adha yang diselenggarakan di halaman Gedung PBNU, Rabu (17/10).

Yang tak Terkena Bencana harus Berkurban (Sumber Gambar : Nu Online)
Yang tak Terkena Bencana harus Berkurban (Sumber Gambar : Nu Online)

Yang tak Terkena Bencana harus Berkurban

Ia menjelaskan, esensi Kurban telah dimulai sejak zaman Nabi Adam ketika dua orang anaknya, Kobil dan Habil diminta mengorbankan sebagian hartanya untuk Allah. Pada saat itu, Kobil menyerahkan ternaknya yang paling baik sementara Habil menyerahkan sayur dan buah yang buruk. Allah menerima kurban Kobil karena keikhlasannya dalam menyerahkan harta yang paling berharga.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Wakil ketua LDNU ini juga menjelaskan, kurban binatang memiliki arti bahwa manusia diminta menghilangkan sifat-sifat kebinatangan seperti serakah, sombong, angkuh dan tidak peduli.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jika tidak mampu berkurban hewan ternak sebagaimana disyariatkan, umat Islam tetap dapat membantu saudaranya dengan berinfak atau sedekah. “Mereka yang dekat dengan Allah akan terus melakukan ibadah-ibadah sosial sesuai dengan kemampuannya untuk membantu sesama,” paparnya.

Takbir

Pada kesempatan tersebut, Bukhori juga menyampaikan keprihatinannya atas maraknya penggunaan kalimat takbir, Allahu Akbar, yang digunakan tidak pada tempatnya seperti dalam demonstrasi atau bahkan dalam kerusuhan.

“Takbir adalah kalimat mulia yang hanya pantas diucapkan pada waktu-waktu mulia,” terangnya.

Masyarakat dari sekitar gedung PBNU memenuhi tempat pelaksanaan sholat Idul Adha ini. Secara rutin, halaman PBNU menjadi tempat sholat Idul Fitri dan Idul Adha.

Seusai pelaksanaan sholat ini, juga akan dipotong hewan Kurban berupa tiga ekor sapi dan satu kambing yang akan dibagikan pada masyarakat disekitar gedung PBNU. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Quote Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 16 Mei 2015

Kepemimpinan Harus Ditopang Moral dan Spiritual

Jember, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Kepemimpinan itu bukan sekedar ilmu  tapi juga seni. Sehingga untuk memahaminya secara holistik dan komprehensip, tak cukup hanya membutuhkan akal tapi juga memerlukan hati. Demikian diungkapkan Wakil Sekretaris PCNU Jember, Moch. Eksan saat menjadi narasumber dalam acara Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) IPNU-IPPNU di aula Madrasah Ibtidaiyah An-Nidhom, Gladak Pakem, Sumbersari, Jember,  Jawa Timur, Ahad (4/9).

Menurutnya, akal dan hati dibutuhkan untuk menjadi "pembimbing" pemimpin dalam menjalankan tugasnya yang cukup berat hingga mencapai tujuan yang diinginkan bersama. "Tujuannya sejalan dengan misi kekahlifahan manusia di muka bumi, yaitu memakmurkan, bukan membuat kerusakan atau apalagi pertumpahan darah," ujarnya.

Kepemimpinan Harus Ditopang Moral dan Spiritual (Sumber Gambar : Nu Online)
Kepemimpinan Harus Ditopang Moral dan Spiritual (Sumber Gambar : Nu Online)

Kepemimpinan Harus Ditopang Moral dan Spiritual

Anggota DPRD Jawa Timur dari Partai NasDem itu menambahkan, pondasi kepemimpinan adalah moralitas dan spritualitas dalam mengelola bisnis dan investasi, mengelola umat dan mengatur negara serta membangun peradaban dunia. Tanpa moral dan spritualitas, kepemimpinan tak lebih dari sekadar ilmu dan seni mengelola siasat semata.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Kepemimpinan harus ditopang oleh moral dan spiritual. Inilah yang sangat menentukan berhasil tidaknya seorang pemimpin, apakah itu pemimpin perusahaan, lebih-lebih pemimpin negara," jelasnya.

Dikatakan Moch. Eksan, kepemimpinan merupakan persoalan besar dalam pandangan agama apapun. Sebab, kepemimpinan dibangun atas dasar keiinginan untuk meraih kesejahteraan dan kemakmuran rakyat yang sebesar-besarnya. Oleh karena itu, dibutuhkan pemimpin yang adil, dan itu merupakan produk dari moralitas dan spritualitas yang bersangkutan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Karenanya, pemimpin yang adil itu adalah pilar pertama dari empat pilar dunia. Yaitu ulama yang berilmu, pengusaha yang dermawan dan fakir miskin yang berdoa," jelasnya.

Sebelumnya, di tempat yang sama,  dilakukan pelantikan Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT) IAIN Jember. Untuk periode ini, Ketua PKTP IPNU IAIN Jember dijabat oleh Mahmud Azhari, Sekretaris dipercayakan kepada Najib Said Abdillah. Sedangkan Ketua PKTP IPPNU IAIN Jember dipegang oleh Ulun Niati dibantu Sekretaris Faria Nur Azizah. (aryudi a razaq/abdullah alawi)

 



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi RMI NU Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 02 Mei 2015

Kemenag Brebes Santuni Yatim Piatu

Brebes,Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Brebes memberikan santunan kepada ratusan anak yatim piatu penghuni panti asuhan. Pemberian santunan sebagai bentuk kepedulian kepada anak-anak yatim.

“Kami ingin saling berbagai dan ingin meminta doa dari anak yatim,” tutur Kepala Kemenag Kab Brebes Drs H Imam Hidayat MPdI di sela pemberian santunan, di aula Kantor Kemenag Brebes, Selasa (15/7/14).

Kemenag Brebes Santuni Yatim Piatu (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenag Brebes Santuni Yatim Piatu (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenag Brebes Santuni Yatim Piatu

Menurut Imam, doa anak yatim sangat makbul. Untuk itu, dia berharap dari mereka agar segenap keluarga besar Kemenag Brebes mendapatkan perlindungan dari Allah SWT, bisa bekerja dengan baik dan benar, mendapatkan rezeki yang melimpah dan halal. “Kami hanya berharap doa dari anak-anak yatim ini,” kata Imam.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sebelumnya, para anak yatim diajak berbuka puasa bersama dan shalat maghrib berjamaah, mereka juga diajak berdiskusi dan menyampaikan taushiyah Ramadhan serta menjawab berbagai pertanyaan dari Kepala Kemenag, Kasubag TU dan para Kepala Seksi. “Bagi yang bertanya dan berani tampil kami beri hadiah,” tutur H Makmur MPdI selaku panitia penyelenggara.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Santunan diberikan kepada 100 anak yatim menghuni panti asuhan Putra Muslimat Kauman Brebes, panti asuhan Muhammadiyah Pasarbatang dan panti asuhan Darul Nadlonal Gamprit Brebes. “Meskipun besarnya santunan kecil, tapi mudah-mudahan bernilai tinggi sebagai bentuk kepedulian kami,” tambah Makmur.

Ahmad, salah seorang penghuni panti merasa gembira mendapatkan santunan dari Kemenag. Karena perhatian dari instansi menjelang hari raya dan tahun pelajaran baru sangat meringankan beban dirinya. “Ya, Alhamdulillah bisa buat beli buku baru,” tuturnya.

Selain pemberian santunan, Kemenag juga memberikan bantuan Al-Qur’an, ruku, sarung, mukena untuk 34 masjid di 17 kecamatan se-Kabupaten Brebes. Pemberian bantuan diserahkan pada saat Safari Ramadhan bersama Bupati Brebes dan Forkompinda. “Minimal, di masjid tersebut tersedia Al-Qur’an, sarung dan mukena untuk memfasilitasi para musafir yang hendak beribadah shalat,” terangnya. (wasdiun/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Aswaja, Meme Islam, Olahraga Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 20 April 2015

Senangnya Warga OKUT Ketemu Banser di Baksos ATS Pelajar NU

Martapura, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Sejumlah warga Ogan Komering Ulu Timur (OKUT), Sumatera Selatan mengaku senang bertemu Banser di acara Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) setempat yang menggelar bakti sosial penyembuhan alternatif penyakit medis dan nonmedis Aji Tapak Sesontengan (ATS), Ahad (1/10).

Srianah, warga Trimoharjo, Semendawai Suku III, bertahun-tahun mengidap penyakit vertigo dan maag. Dua tahun terakhir, perempuan berusia 41 tahun itu tiga kali keluar masuk rumah sakit.

Senangnya Warga OKUT Ketemu Banser di Baksos ATS Pelajar NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Senangnya Warga OKUT Ketemu Banser di Baksos ATS Pelajar NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Senangnya Warga OKUT Ketemu Banser di Baksos ATS Pelajar NU

"Badan enteng dan pusing di kepala berkurang drastis," ujar Srianah menanggapi terapi beberapa menit ATS oleh Pelaksana Tugas Kepala Satuan Khusus Banser Husada Lampung, Gatot Arifianto.

Selain itu, Srianah juga sudah bisa sedikit demi sedikit melepas kaca mata minus yang 12 tahun terakhir sama sekali tidak bisa dilepasnya.

Tanggapan serupa juga disampaikan Masudah, warga Darirejo, Belitang III, yang menderita penyakit kanker kolorektal atau kanker usus besar yang secara medis merupakan pertumbuhan sel kanker pada usus, anus dan usus buntu.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Ada benjolan pada usus berdasarkan pemeriksaan dokter. Setiap magrib perut sering sakit dan usus seperti diremas, badan tidak nyaman, nafas sesak, kepala dan kaki kiri sering sakit. Alhamdulillah diterapi tiga kali perut sudah nyaman, termasuk bagian tubuh sakit lainnya. Sekarang untuk mengatasi pekerjaan rumah tidak terlampau sakit seperti biasanya, rasa sakit pada benjolan sekarang juga berkurang jauh," kata dia lagi.

Bekerjasama dengan Gusdurian Lampung dan Tim Swarna Raya Yayasan ATS Global Indonesia, IPNU OKUT menggelar baksos di Yayasan Pondok Pesantren Mafatihul Huda, Comal, Yosowinangun, Belitang Madang Raya, asuhan Kiai Syaiful Anam.

Dalam kegiatan baksos dihadiri 56 masyarakat itu, Gatot didampingi? sejumlah kader Ansor yang juga praktisi ATS dari Sumatera Selatan. Supriyanto dari OKI Selatan dan Ririz, dari Musi Banyuasin.

"Setelah aktivasi ATS, saya jarang memberi obat atau menyuntik pasien dengan beragam penyakit," ujar Supriyanto, kader Ansor Cahaya Mas, Ogan Komering Ilir (OKI) yang berprofesi sebagai mantri di Puskesmas di daerah itu. (Syuhud Tsaqafi/Fathoni)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Meme Islam, Berita, Quote Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 09 April 2015

Menkopolhukam Minta NU Kawal Tiga Hal Ini

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Luhut Binsar Panjaitan, menemui Ketua PBNU KH Said Aqil Siroj di ruangannya lantai 3 Gedung PBNU, Senin sore (29/2).

Luhut meminta PBNU untuk mendorong kiai-kiai NU dan nahliyyin dari pusat hingga daerah sampai ranting untuk mengawal tiga hal penting demi bangsa ini. Ketiga hal tersebut adalah terorisme atau radikalisme agama, narkoba, dan dana desa.

Menkopolhukam Minta NU Kawal Tiga Hal Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Menkopolhukam Minta NU Kawal Tiga Hal Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Menkopolhukam Minta NU Kawal Tiga Hal Ini

“Kita ingin menggandeng NU yang memiliki jaringan yang sangat luas ini untuk ikut mengawal, berpartisipasi, dan terlibat langsung program-program terkait dengan terorisme, narkoba, dan pendampingan dana desa,” papar Luhut.

Apa yang sudah dibicarakan tersebut, jelas Luhut, jangan hanya mentok pada wacana dan pembicaraan. Ia berharap apa yang dibahas tersebut bisa terlaksana karena ia ingin mendisiplinkan bangsa Indonesia dari paham-paham yang berusaha menggerogoti kesatuan Indonesia.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Kita ingin itu masuk program pemerintah. Jadi tidak hanya sekedar omong-omong saja. Kan ujung-ujungnya harus ada program. Kita pengen kerja cepet, tapi juga benar,” jelas mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI era Gus Dur tersebut.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kiai Said menyambut hangat tawaran dan permintaan Menkopulhukam tersebut. Ia mengaku siap dan bersedia untuk menggerakkan seluruh warga NU untuk ikut serta dalam menangkal radikalisme dan terorisme, perang melawan narkoba, dan mendampingi dana desa.

Menurut dia, contoh bibit-bibit radikalisme agama ada juga pada khotbah-khotbah Jumat atau ceramah cenderung provokatif. Dan anehnya, kadang khotbah semacam itu ada di institusi pemerintahan dan perusahaan-perusahaan.

“Kalau di daerah-daerah itu bisa kita handle lah. Tapi kadang masalahnya kan khotbah-khotbah yang ada di institusi pemerintahan dan perusahaan,” kata Kiai Said.

Lebih lanjut, pengasuh pesantren As Tsaqofah tersebut memaparkan bahwa banyak program-program islami di televisi diisi oleh kelompok-kelompok yang tidak moderat. Menanggapi hal tersebut, Luhut sangat setuju dengan Kiai Said.

Sampai saat ini, ada beberapa program Menkopolhukam dan PBNU yang sudah terlaksana di antaranya adalah santri bela negara, apel ke-bhinneka-an di lapangan Banteng, dan kampanye pemusnahan narkoba. (Ahmad Muchlishon/Abdullah Alawi)? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Tokoh Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 06 April 2015

Keraton Surakarta Gelar Slametan Mapag Suro

Solo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Menjelang pergantian tahun Hijriah dan Saka, Keraton Kasunanan Surakarta menggelar prosesi Slametan Mapag Suro, Senin (20/10). Acara yang dihadiri sejumlah tokoh dari lintas agama tersebut dipusatkan di Titik Nol Kota Solo, Tugu Pemandengan.

“Kami ingin mengambil spirit dari titik nol ini agar ke depan bisa menghasilkan masyarakat yang lebih baik,” terang Budayawan Ronggojati yang turut dalam acara tersebut.

Keraton Surakarta Gelar Slametan Mapag Suro (Sumber Gambar : Nu Online)
Keraton Surakarta Gelar Slametan Mapag Suro (Sumber Gambar : Nu Online)

Keraton Surakarta Gelar Slametan Mapag Suro

Prosesi slametan diawali dengan pembacaan doa dan Sholawat Sultan Agungan yang dibaca tujuh ulama keraton. Dilanjut dengan pembacaan Kidungan Dhandanggula yang berisi permohonan meminta keselamatan. Acara ditutup dengan pemotongan tumpeng berwarna merah, putih, kuning dan hitam.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Kami mencoba menghayati bulan (penanggalan,-red) yang diciptakan Sultan Agung pada 1633 silam. Bulan ini perpaduan Saka dan Hijriah. Dari situ kami memaknai Sultan Agung sejak zaman dahulu sudah mengajarkan nilai keberagaman dalam kebudayaan,” ungkap budayawan Suprapto Suryodarmo.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Suprapto menambahkan atas semangat ini pula, panitia berinisiatif untuk mengadakan rangkaian kegiatan yang diberi nama Sura Bulan Kebudayaan. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Syariah, Kiai Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 19 Maret 2015

Harlah ke-22 RSI NU Demak Luncurkan Kartu Sehat

Demak, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Rumah Sakit Islam NU Demak yang menjadi kebanggaan warga NU Demak dalam meningkatkan khidmahnya pada umat di kabupaten Demak membuat terobosan baru dengan membikin program kartu sehat.

Harlah  ke-22 RSI NU Demak Luncurkan Kartu Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)
Harlah ke-22 RSI NU Demak Luncurkan Kartu Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)

Harlah ke-22 RSI NU Demak Luncurkan Kartu Sehat

Peluncuran kartu sehat berlangsung hari ini Sabtu 26/1 di halaman RS tersebut dalam acara maulidurrasul, istighotsah dan pengajian dalam rangka memperingati hari lahirnya yang ke 22 dengan penyerahan secara simbolis kartu sehat kepada musytasar NU KH Zainal Arifin Maksum, Rais Syuriyah KH Alawy Mas’udi, Tanfidziyah KH Muhlas yang diserahkan langsung oleh Ketua Tanfidziyah KH Musadad Syarif yang didampingi oleh direktur Dr.H Abdul Aziz dan beberapa pengurus yayasan Hasyim As’ari.

Dalam sambutannya ketua NU Demak KH Musadad Syarif mengatakan sebagai organisasi yang berkhidmat pada umat melalui RSI NU akan selalu mengevaluasi dan meningkatkan pelayanan serta mengembangkan RS sesuai kebutuhan masyarakat khususnya warga Demak.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Peningkatan pelayanan terhadap pasien mutlak dibutuhkan dan ditingkatkan secara profesional, karena yang masuk ke rumah sakit ini warganya sendiri,” kata Musadad.

Sedangkan direktur RS Dr HAbdul Azis mengatakan pengembangan RS dan peningkatan kualitas baik peralatan medis dan tenaga medis harus singkron sesuai dengan kebutuhan masyarakat, dia yang juga selaku direktur baru melihat kebutuhan umat langsung tanggap dengan membuat kartu sehat yang sementara diperuntukkan pengurus dari Cabang, MWC hingga Ranting sebagai uji coba awal yang tentunya setelah koordinasi dengan pengurus cabang NU,

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Ini sebagai khidmah kami pada warga NU di kabupaten Demak, karena ini merupakan satu satunya Rumah Sakit kebanggaan warga NU Demak,” kata Dr Aziz.

Selain program kartu sehat Dr Aziz menambahkan ada program capaian di tahun 2013 untuk membangun dengan menambah ruang HND (High Nursing Dependency) dan ICU (intensive care Unit) disamping itu juga akan menambah dokter specialis tetap dua orang diantaranya specialist bedah tulang (orthopedy)

“Kami mohon do’a restu karena tahun 2013 ini kami merencanakan dua ruang dan peralatan medis yaitu HND (High Nursing Dependency) dan ICU (Intensive Care Unit) serta dua dokter spesialis termasuk bedah tulang,” tambah Dr Aziz.

Acara tersebut selain dihadiri oleh direksi RS juga dihadiri oleh Bupati Demak H Dachirin Sa’id, Ketua Jatman Jateng KH Zaini Mawardi, ketua MUI KH Moh Asyiq serta  pengutus NU dari pengurus Cabang dan banomnya, MWC dan Pengurus Ranting  se Kabupaten Demak.



Redaktur   : Mukafi Niam

Kontributor: A Shiddiq Sugiarto

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ahlussunnah Pondok Pesantren An-Nur Slawi