Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Februari 2018

10 Butir Deklarasi Islamabad tentang Peran Ulama dan Ekstremisme

Islamabad, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Para tokoh Muslim yang menjadi pembicara dalam acara seminar internasional dengan tema "The Role of Religious Leadership in Fight against Terrorism and Rejection of Sectarianismdi International Islamic University (IIU) Islamabad, Pakistan, beberpa waktu lalu sepakat bahwa para pemuka agama memainkan peran yang sangat penting dalam menangkal aksi terorisme dan ekstremisme. Mereka juga menekankan perlunya suatu formula pendekatan yang komprehensif dan jelas dalam menghadapi aksi kekerasan yang berpotensi menghilangkan perdamaian dan stabilitas dunia.

Seminar yang diselenggarakan di Auditorium kampus IIUI Faisal Masjid itu dibuka oleh Sekretaris Jenderal Muslim World League/Rabithah al-‘Alam al-Islami (MWL) Prof. Dr. Abdullah Bin Abdul Mohsin At-Turki. Seminar ini juga menghadirkan tokoh politik Raja Zafar ul haq, Kepala Dewan Senator Pakistan Maulana Sami ul Haq, Ketua Majelis al-Fikr al-Islami Abu Saad Muhammad bin Saad Al-Doussri, Direktur Maktabatu Da’wah Dr. Muhamad Abduh Atean, Dirjen Rabita al-‘Aalam al-Islami Pakistan, Ketua Utusan Universitas al-Azhar Mesir, cendikiawan dari Turki, para diplomat asing, kalangan media dan jajaran staf pengajar serta mahasiswa IIUI.

10 Butir Deklarasi Islamabad tentang Peran Ulama dan Ekstremisme (Sumber Gambar : Nu Online)
10 Butir Deklarasi Islamabad tentang Peran Ulama dan Ekstremisme (Sumber Gambar : Nu Online)

10 Butir Deklarasi Islamabad tentang Peran Ulama dan Ekstremisme

Dalam pemaparannya, Raja Zafar ul Haq mengatakan bahwa umat Islam saat ini masih mengalami ketidakadilan global dan ia menyerukan pentingnya upaya sinergis dalam melakukan perlindungan terhadap sesuatu yang menjadi kepentingan dan identitas umat Islam. Selanjutnya ia juga menyampaikan tentang masih banyaknya kalangan yang belum mengerti hakikat Islam sehingga selalu mengasosiasikannya dengan segala aksi kekerasan yang terjadi.

Selanjutnya Sekjend MLW, Prof. Dr. Abdul Muhsin at-Turki menekankan pentingnya peran yang dimainkan oleh lembaga pendidian seperti IIUI dalam mengangkat tema seminar seperti ini guna memberikan potret wajah Islam yang sebenarnya. “MWL mendukung upaya IIUI atas apa yang menjadi tujuan seminar, karena misi MWL adalah juga untuk menyebarkan paham Islam yang wasathiyah, tawazun, i’tidal, kepada dunia dan menolak segala bentuk kekerasan, ektremisme dan terorisme,” sambut at-Turki. ?

Sementara itu lebih khusus Prof. Dr. Ahmad Yousif Al-Draiweesh selaku Presiden IIUI mengajak seluruh elemen umat Islam untuk melakukan usaha bersama dalam menyusun strategi yang komprehensif guna membangun citra positif negara-negara Islam di tengah maraknya berbagai propaganda negatif terhadap Islam. “Dunia perlu diperkenalkan tentang ajaran Islam yang sesungguhnya,” pungkas Al-Draiweesh.

Lebih lanjut ia menyampaikan "Umat Islam, agama dan nilai budayanya mengalami tunduhan yang tidak adil, sementara tindakan konkret untuk mengubah persepsi negatif tersebut tidak pernah serius dilakukan, ajakan bekerjasama di level internasional guna membangun perdamaian dan stabilitas global juga kerap diabaikan."

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Untuk maksud inilah menurut Al-Draiweesh seminar ini digelar yaitu dalam rangka mewujudkan urgensi penguatan interaksi antar sesama cendekiawan muslim dan masyarakat luas dalam membangun saluran komunikasi dan dialog untuk membahas topik terkait terorisme dan ekstremisme. Selain itu hal penting lainnya yang dibahas adalah perlunya pembaharuan metodologi pengajaran yang disesuaikan dengan view of point Islam dan mencari cara yang tepat untuk memberdayakan lembaga-lembaga pendidikan yang berkembang dalam masyarakat Islam.

Seminar ini mengeluarkan “Deklarasi Islamabad” yang isinya dibacakan langsung oleh Presiden IIUI Prof Dr. Ahmed Yousif A. Al-Draiweesh, yaitu sebagai berikut:

?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

“Deklarasi Islamabad”

Dikeluarkan dalam acara seminar "Peran Pemuka Agama dalam Menangkal Terorisme dan Sektarianisme."

Dilaksanakan di kampus International Islamic University (IIU) - Islamabad, tanggal 24 November 2015.

Dunia Islam saat ini tengah mengalami gelombang aksi terorisme dalam segala bentuk dan manifestasinya serta dengan berbagai dalih pembenarannya.

Sebagai rasa tanggung jawab Universitas Islam Internasional untuk menjadi garda terdepan dalam menghadapi berbagai tantangan yang dihadapi oleh Islam dan penyimpangan paham yang dianut oleh umatnya baik yang berada di Timur maupun Barat dari aksi terorisme, International Islamic University (IIU) - Islamabad menggelar seminar Internasional bertemakan (Peran Pemuka Agama dalam Menangkal Terorisme dan Sektarianisme), kerjasama antara lembaga Muslim League Word/Rabithah al-‘Alam al-Islami (MLW) selaku lembaga yang memiliki perhatian terkait problematika umat Islam yang dipimpin oleh Prof. Dr. Abdullah bin Abdul Mohsin Al Turki, dan IIUI di bawah kepemimpinan Presiden Prof. Dr. Ahmed Yousuf A. Al-Draiweesh dan Rektor Prof. Dr. Masoon Yasinzai, bertempat di kampus lama IIUI Faisal Masjid - Islamabad.

Seminar ini dihadiri oleh sejumlah tokoh agama terkemuka dunia, para ilmuan, stakeholders, decision makers, pemikir dan kalangan media.

Seminar ini telah membahas berbagai topik penelitian dan mengeluarkan beberapa poin pernyataan sebagai berikut:

Pertama, para peserta seminar mengapresiasi upaya IIUI yang diprakarsai oleh Lembaga Dialog Muhammad Iqbal (underbow IIUI), dalam pelaksanaan seminar ini karena urgensinya dalam menghadapi situasi sulit yang dialami oleh umat Islam saat ini, dan upayanya dalam menghadirkan para ilmuwan, pemikir terkemuka serta memberikan kesempatan kepada mereka untuk berdiskusi secara terbuka.

Kedua, seminar menyambut hangat kehadiran Prof. Dr. Abdullah bin Abdul Mohsin At-Turki, Sekjen MLW dan partisipasi aktifnya dalam memberikan arahan seminar sehingga membantu keberhasilan seminar dalam pencapaian tujuannya, sebagaimana seminar juga memberikan penghargaan kepada Presiden Republik Islam Pakistan, Mr. Mamnoon Hussain yang juga selaku pemimpin tertinggi IIUI atas dukungan, supervisi dan perhatiannya terhadap seminar ini.

Ketiga, seminar menekankan bahwa aksi terorisme adalah suatu fenomena yang tidak terkait dengan Islam baik sedikit ataupun banyak. Karena ia bertentangan dengan ajaran Islam yang benar yang menyerukan kepada kasih sayang, penuh kebijaksanaan, petuah yang baik, ajakan bertoleransi, berdialog, hidup berdampingan secara damai, sikap santun dan ahlak mulia.

Keempat, seminar telah mengkaji beberapa faktor penyebab terjadinya aksi terorisme di tingkat global, di antaranya yaitu: ketidakadilan dan standar ganda dalam penanganan isu-isu yang terkait dunia Islam, ketidakadilan dan ketidakmampuan dalam melindungi kalangan yang tertindas, ketidakpedulian terhadap pemberlakukan politik tirani, embargo, pemiskinan, pembunuhan tanpa adanya proses pengadilan yang seharusnya, panatisme paham/mazhab tanpa mengindahkan ajaran Islam yang memandang manusia secara sama; dimana tidak terdapat keutamaan bangsa arab atas bangsa lainnya kecuali karena faktor ketakwaan, dimana hal tersebut juga bertentangan dengan konsep ukhuwah islamiyyah yang merupakan landasan dalam menyebarkan ajaran Islam ke seluruh alam semesta hingga menjamah Selatan Perancis selama 200 tahun, dan selama kurun waktu tersebut tidak pernah terdengar dalam catatan sejarah adanya tindakan permusuhan, terorisme dan penumpahan darah, justru yang tampak adalah suatu role of model dari tumbuhnya sikap kasih sayang dan toleransi antara para pemeluk agama dan sesama anak manusia.

Kelima, seminar menyimpulkan bahwa di antara efek negatif dari aksi terorisme adalah merebaknya tragedi pembantaian, konflik bersenjata dan tindakan kekerasan bahkan antar kelompok umat Islam sehingga melemahkan kekuatan umat Islam sendiri dan membuka pintu para musuh Islam untuk menodai Islam, termasuk munculnya fenomena Islamophobia yang melanda dunia Barat adalah sebagai akibat dari aksi terorisme yang memberikan image negatif bagi muslim minoritas yang berada di negara barat.

Keenam, seminar memberikan peringatan bahwa musuh-musuh Islam baik di Timur dan di Barat tengah berupaya memanfaatkan tindakan ekstrem yang dilakukan oleh individu lalu dituduhkan kepada sekelompok golongan umat Islam secara tidak benar untuk melancarkan makar dan merusak umat Islam serta menebarkan sikap saling benci di dalamnya sehingga kesatuan umat Islam menjadi tercerai berai.

Sehubungan dengan hal tersebut, untuk menghindari bahaya negatif dari terorisme, seminar memberikan suatu rekomendasi sebagai berikut:

Bahwa para pemuka/pemimpin agama yang memiliki kekuatan dalam menggerakkan massa atau memiliki pengaruh, kiranya harus melakukan beberapa peran berikut:

Menolak segala aksi terorisme baik dari sisi pemahaman, wasilah dan tujuan, serta menganggapnya sebagai suatu tindakan yang di luar ajaran Islam. Menolak setiap seruan untuk bersikap fanatik dan sektarian yang dapat menyulut terjadinya konflik pemikiran dan muaranya berakibat kepada munculnya konflik senjata, saling bunuh, saling benci dan bukan saling pemahaman, toleransi dan kooperatif. Mengadopsi metode dakwah yang baru dan didasarkan pada manhaj Islam ? ? ? ? } ? ? ? ? ? ? ?}.artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An Nahl : 125) Memfokuskan pada tujuan utama Islam yaitu terwujudnya persatuan dan solidaritas antar umat Islam, sesuai firman-Nya: {? ? ? ? ? ?} “dan perpegang teguhlah kalian pada tali Allah dan janganlah kalian bercerai berai,” (Q.S Ali-Imran: 103),” dan meyakini bahwa kebesaran Islam hakikatnya adalah karena kemampuannya dalam menghilangkan rasa benci dan permusuhan di antara pihak-pihak yang tengah bertikai dan menggantikannya dengan bersemainya sikap toleransi, lemah lembut, saling menolong, cinta dan persaudaraan serta nilai inilah yang sesunguhnya menjadi kekuatan dan keagungan Islam serta magnet bagi orang-orang untuk memeluk Islam secara berbondong-bondong. Para pemuka agama kiranya dapat memulai dari dirinya untuk meninggalkan sikap kebencian, fanatik, segala hal yang dapat menyulut atau memprovokasi aksi terorisme, dan menyerukan kepada kesatuan kata/kalimatun sawa, berpartisipasi aktif dalam pertemuan secara berkala dan terorganisir untuk menyebarkan pemahaman Islam yang benar, serta membentengi kaum pemuda muslim dari penyimpangan pemikiran dan perang kebudayaan. Terkait dengan hal ini, IIUI sebagaimana biasa selalu menyambut baik setiap usaha mulia pihak manapun yang ditujukan untuk melayani kepentingan Islam dan umatnya. Seminar menyerukan kepada para penguasa/pemimpin negara Islam untuk sesegera mungkin mengambil inisiatif menyatukan kembali umat dan menghilangkan perbedaan politik yang telah melemahkan kekuatan internal umat dan berkonsentrasi untuk mengatasi problema keterbelakangan, kemiskinan, kebodohan, penyakit dan upaya memajukan bangsa. Seminar memberikan apresiasi atas peran Kerajaan Arab Saudi melalui Raja Salman bin Abdul Aziz yang telah mendirikan Institut Internasional untuk Kontra-Terorisme dibawah pengawasan PBB. Dan IIUI menekankankan komitmennya untuk bekerjasama dengan Institut tersebut dengan menyediakan para ahli untuk kesuksesan misinya. Seminar juga menekankan pentingnya distribusi dan akselerasi hasil seminar kepada para pemimpin media di seluruh dunia muslim untuk kiranya dapat menggunakan metode penyebaran kebencian, provokasi, dan konflik sektarian sehingga media tidak menjadi instrumen penyulut aksi terorisme. Seminar menekankan pentingnya kerja sama antara universitas, civitas akademi, lembaga keagamaan, dan organisasi massa lainnya untuk memerangi terorisme, ekstremisme, takfir dan pengrusakan dengan cara melakukan pertemuan, seminar dan berbagai acara ilmiah lainnya. Seminar merekomendasikan untuk dibentuknya sebuah komite khusus untuk menindaklanjuti implementasi dari deklarasi ini, lalu mensosialisasikannya secara luas serta menerjemahkannya ke dalam berbagai bahasa dunia. ?

Diterjemahkan oleh:

Muladi Mughni, Aktifis PCI-NU Pakistan dan Mahasiswa program S3 IIUI). ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kajian, PonPes, Nahdlatul Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 22 Januari 2018

Wahabi Menyusup di Kurikulum Madrasah Kemenag

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Guru Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Demak, Jawa Tengah, menyampaikan keberatan atas penyusupan materi wahabi dalam Kurikulum 2013 yang diterbitkan oleh Kementerian Agama (Kemenag). Salah satu keberatan disampaikan terkait adanya kalimat yang menyebutkan makam wali yang diziarahi umat Islam sebagai berhala.

Wahabi Menyusup di Kurikulum Madrasah Kemenag (Sumber Gambar : Nu Online)
Wahabi Menyusup di Kurikulum Madrasah Kemenag (Sumber Gambar : Nu Online)

Wahabi Menyusup di Kurikulum Madrasah Kemenag

Kalimat itu terdapat dalam buku pedoman untuk guru SKI Kelas VII MTs (Kurikulum 2013) yang diterbitkan oleh Kemenag RI Tahun 2014. BAB I tentang Kearifan Nabi Muhammad SAW, pada buku pedoman itu memerintahkan guru untuk meminta peserta didik agar mendiskusikan tentang perbandingan antara kondisi kepercayaan Mekkah dengan kondisi kepercayaan sekarang.

Lalu disebutkan bahwa “Masih ada yang menyembah berhala, memercayai benda-benda, dan selalu meminta kepada benda-benda.” Berikutnya pada poin lain disebutkan bahwa “Berhala sekarang adalah kuburan para Wali,”.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kepala MTs Irsyaduth Thullab, Tedunan, Wedung, Demak, Faiq Aminuddin dalam suratnya kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi mengatakan, pemberian contoh yang menyebutkan berhala sekarang adalah makam atau kuburan para wali tentu tidak sesuai dengan ajaran yang dianut oleh warga NU.

“Tidak tepatlah bila buku ini dijadikan sebagai buku pegangan semua guru MTs se-Indonesia karena ada banyak MTs yang berada di bawah naungan LP Maarif NU. Sungguh sangat disayangkan adanya kalimat yang menyatakan bahwa kuburan wali adalah berhala. Maka sudah seharusnya buku ini perlu segera dikaji ulang dan direvisi,” katanya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pandangan negatif mengenai makam wali ini mengingatkan masyarakat mengenai adanya upaya kelompok wahabi di Saudi Arabia untuk membongkar makam Nabi Muhammad SAW. Sumber Pondok Pesantren An-Nur Slawi dari lingkungan pejabat kementerian agama mengungkapkan, selain pernyataan negatif mengenai makam wali tersebut penyusupan materi wahabi sebetulnya lebih banyak lagi.

“Misalnya ada pembahasan mengenai menjenguk orang sakit, gambar yang ditampilkan adalah foto Abu Bakar Ba’asyir. Lalu pada bagian lain disebutkan bahwa sumber hukum Islam hanya Al-Qur’an dan Hadits, tidak menyebutkan adanya Ijma dan Qiyas. Dua contoh ini untungnya sudah diedit, nah yang soal makam wali itu yang lolos sensor,” kata sumber yang tidak mau disebutkan namanya.

Ditambahkan, penyusupan materi wahabi dalam kurikulum madrasah itu masih sangat mungkin ditemukan. “Sekarang baru empat minggu pelajaran dimulai, dan buku itu baru mulai digunakan tahun ajaran ini. Di bagian lain mungkin ditemukan lagi,” tambahnya. (Alhafiz Kurniawan/Anam)

Foto: Guru SKI di MTs Irsyaduth Thullab, Tedunan, Demak, menunjukkan buku Kemenag yang disusupi ajaran wahabi.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Nahdlatul, Fragmen, Khutbah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kukuhkan NU Candiretno, Ketua PCNU Pringsewu Ajak Jaga Soliditas Organisasi

Pringsewu, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Bertepatan dengan momentum Hari Lahir Nabi Muhammad SAW, Jajaran Pengurus Ranting NU Desa Candiretno secara resmi dikukuhkan oleh Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu H Taufiqurrahim, Ahad (12/12).

Dalam kesempatan tersebut Mas Taufik, begitu ia biasa disapa mengajak seluruh pengurus yang dikukuhkan agar bersatu dan bergandengan tangan dalam mengawal dan menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.

Kukuhkan NU Candiretno, Ketua PCNU Pringsewu Ajak Jaga Soliditas Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kukuhkan NU Candiretno, Ketua PCNU Pringsewu Ajak Jaga Soliditas Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kukuhkan NU Candiretno, Ketua PCNU Pringsewu Ajak Jaga Soliditas Organisasi

"Mari bergandeng erat menjaga dan mengembangkan Ahlussunnah Wal Jamaah khususnya di desa Candiretno. Waspada terhadap berkembangnya aliran-aliran yang sekarang ini sudah bermacam-macam dan cenderung keras," katanya pada kegiatan yang dilaksanakan di Komplek Masjid Al Munawarah Candiretno.

Mas Taufik menekankan pentingnya perjuangan sampai akhir hayat dalam membela Aswaja. "Mari berjuang sampai berakhirnya nafas, jangan lepas dari ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah dengan aktif berorganisasi di NU sebagai Jamiyyah yang konsisten menjaga amaliyah aswaja," katanya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ia mengingatkan para pengurus dengan pesan Khadrotu Syeikh Hasyim Asyari untuk berjuang bersama NU. "Rais Akbar NU mengingatkan bahwa Siapa yang mengurus NU, saya anggap santriku, siapa yang menjadi santriku saya doakan khusnul khotimah beserta keluarganya," katanya.

Jajaran pengurus Ranting NU Candiretno yang dilantik terdiri dari 18 orang yang dinahkodai oleh Rais Syuriyah KH. Shoghiron dan Ketua Tanfidziyyah Anas Maruf. Pelantikan tersebut dibarengkan dengan kegiatan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan dihadiri oleh warga NU Candiretno. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ulama, Nahdlatul Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 17 Januari 2018

Kalau Tidak Kita Bina, Anak NU Dibina Orang Lain

Pringsewu,Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ketua PCNU Pringsewu, Lampung H Taufiqurrohim mengingatkan warga NU untuk memberikan pendidikan terbaik kepada anak-anak, khususnya pendidikan Ahlussunnah wal-Jamaah An Nahdliyyah.

Hal ini disampaikannya saat memberi pengarahan dalam rangka penguatan organisas dan sosialisasi Lembaga Amal Zakat Infaq dan Shadaqah (LAZISNU) di depan seluruh Pengurus Syuriyah MWCNU dan Ranting NU se-Kecamatan Banyumas, Senin (27/6).

Kalau Tidak Kita Bina, Anak NU Dibina Orang Lain (Sumber Gambar : Nu Online)
Kalau Tidak Kita Bina, Anak NU Dibina Orang Lain (Sumber Gambar : Nu Online)

Kalau Tidak Kita Bina, Anak NU Dibina Orang Lain

Ia mengingatkan bahwa kiprah dan kepedulian pengurus NU di semua tingkatan terhadap hal ini akan berpengaruh kepada eksistensi NU di masa yang akan datang.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Jangan sampai besok terjadi anak pengurus NU melarang orang lain yang akan tahlilan, yasinan dalam rangka mendoakan orang tuanya sendiri. Bina anak kita, kalau tidak, akan dibina orang lain," ingatnya.

Saat ini, menurutnya, paham-paham Islam baru bermunculan dan menyasar para generasi muda khususnya di wilayah perkotaan. Para pemuda yang masih mencari identitas diri dan cenderung labil ini sangat mudah terpengaruh pemikirannya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Jika tidak didasari dengan pemahaman Islam Ahlusunnah wal Jamaah An-Nahdliyyah yang kuat dari keluarga, bukan tidak mungkin sekembalinya dari kota mereka akan menyalah-nyalahkan amalan orang tuanya," katanya.

Apalagi menurutnya perkembangan teknologi yang sangat pesat sekarang ini memberikan kemudahan untuk mengakses berbagai macam informasi.

"Ada kecenderungan sekarang banyak orang, khususnya anak muda, tidak mau belajar agama lewat guru dan kiai. Mereka lebih percaya kepada mbah Google yang silsilah keilmuannya tidak jelas," tuturnya.

Sehingga hal ini patut menjadi perhatian seluruh pengurus dan warga NU agar waspada dan mengarahkan para generasi muda untuk belajar ilmu agama kepada guru dan kiai secara mendalam dan sekaligus mengharap barakah keilmuannya. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi AlaNu, Nahdlatul, Berita Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 05 Januari 2018

Wejangan Mbah Idris tentang Wahabi

Oleh Ahmad Nur Kholis

--Awal tahun 2009 silam saya mengikuti acara pengajian Almaghfurlah KH Idris Marzuki Lirboyo. Acara dilaksanakan di Pondok Pesantren Al-Fattah Singosari, asuhan KH Ja’far Shadiq atau biasa disapa Gus Ja’far. Acara ini digelar oleh alumni dan masyarakat umum dalam rangka turba persiapan peringatan Harlah satu Abad lirboyo. Turut dalam acara ini Almukarram KH Abdullah Kafabih Mahrus.

Dalam kesempatan itu, selain diisi dengan pemberian ijazah “Dala’ilul Khairat” oleh KH Idris, juga ada mau’idzah hasanah oleh beliau, kepada semua yang hadir. Dalam ceramahnya ini KH Idris menjelaskan tentang pentingnya pendidikan pesantren bagi generasi masa depan.

Wejangan Mbah Idris tentang Wahabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Wejangan Mbah Idris tentang Wahabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Wejangan Mbah Idris tentang Wahabi

Disamping itu, Putra dari KH Marzuki Dahlan ini juga menerangkan tentang isi dari sebuah kitab kecil yang seingat saya dibawanya. Tapi waktu itu saya tidak tahu nama kitab tersebut karena pendengaran saya kurang teliti. Tapi yang jelas telinga saya mendengar bahwa kitab yang diterangkan ini ditulis oleh Muhammad bin Abdul Wahab pendiri Wahabi.

Dalam kitab itu seingat saya KH Idris menjelaskan tentang klarifikasi Muhammad bin Abdul Wahab bahwa jika ada yang mengatakan bahwa dirinya telah membid’ahkan tawassul maka itu adala kebohongan yang besar. KH Idris membacakan kitab kalimat “Buhtanun Adhim” dalam kitab itu.

Saat ini, setelah Al-Mukarrom KH Idris telah berpulang tahulah saya nama kitab itu. Dalam sebuah buku yang diterbitkan Lembaga Takmir Masjid (LTM) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) berjudul “Tradisi Amaliah NU dan Dalil-dalilnya” disebutkan:

“Sesungguhnya Sulaiman bin Suhaim telah menyandarkan pendapat-pendapat yang tidak saya katakan, diantaranya adalah: saya mengkafirkan orang-orang yang bertawassul terhadap orang Shalih, dan saya katanya, mengkafirkan Syaikh Al-Bushairy, dan telah membakar Kitab Dalailul Khairat. Jawaban saya atas tuduhan di atas adalah, bawa itu merupakan kebohongan yang besar.”

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pendapat ini dikutip dari kitab Muhammad bin Abdul Wahab yang berjudul: “Al-Muwajjahah li Ahlil Qashim.”

Dalam buku terbitan PBNU itu juga dikutip tentang keterangan Muhammad bin Abdul Wahab saat ditanya tentang shalat Istisqa’. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab menjawab tidak masalah dalam shalat istisqa’ diselingi tawasul kepada orang shalih. Pendapat ini dikutip dari kitab Rasail Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Subhanallah......

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Warta, Nahdlatul Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 04 Januari 2018

NU Sumedang Gelar Penyuluhan Hukum Tindak Pidana Ringan

Sumedang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Pengurus Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBHNU) Kabupaten Sumedang memberikan penyuluhan hukum berkaitan dengan penyalahgunaan narkotika, HIV/AIDS, dan sosialisasi undang-undang tindak pidana ringan (tipiring). Mereka bertujuan untuk menggugah kesadaran hukum terutama di kalangan pelajar di Sumedang.

Acara yang bertempat di Gedung Islamic Center Sumedang ini dihadiri seribu pelajar yang mewakili sekolah-sekolah setingkat SMA yang ada di Sumedang.

NU Sumedang Gelar Penyuluhan Hukum Tindak Pidana Ringan (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Sumedang Gelar Penyuluhan Hukum Tindak Pidana Ringan (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Sumedang Gelar Penyuluhan Hukum Tindak Pidana Ringan

Ketua LPBHNU Sumedang Jandri Ginting sebagai penggagas kegiatan ini mengatakan bahwa penyuluhan ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Harlah Ke-93 NU. Sasaran dari kegiatan penyuluhan ini adalah pelajar. Para pelajar biasanya ingin mencoba dan menikmati hal-hal baru.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Para pelajar sekarang dijadikan objek pemasaran narkoba. Sebab itu NU tertantang untuk mengingatkan bahaya narkoba kepada kaum pelajar dengan cara mengadakan kegiatan ini.

“Para pelajar sekarang banyak yang terjerat pidana ringan. Hal itu mungkin disebabkan karena ketidaktahuan mereka tentang undang-undang tindak pidana ringan (tipiring). Dalam kesempatan penyuluhan ini disosialisasikan juga tentang undang-undang tipiring,” tandas Jandri.

Kegiatan ini dibuka oleh Ketua NU Sumedang H Sadulloh dan Sekda Kabupaten Sumedang H Zaenal Alimin.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

H Sadulloh mengatakan bahwa NU Sumedang siap memerangi narkoba. Ketika seseorang mengonsumsi narkoba, akan muncul kejahatan-kejahatan lain yang diakibatkan oleh narkoba tersebut.

“Gara-gara orang mengonsumsi narkoba, orang tersebut bisa membunuh, mencuri, memerkosa, dan berbuat kejahatan lainnya. Karena itu stop narkoba dari sekarang,” kata H Sadulloh.

Sementara Zainal Alimin berpesan agar berhati dengan pikiran karena pikiran bisa menjadikan perkataan. Perkatan bisa memunculkan perbuatan yang membuatnya menjadi terbiasa. “Mari berpikir positif dan jauhi narkoba supaya nasib kita menjadi orang-orang yang baik.” (Ayi Abdul Kohar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Santri, Nahdlatul, Meme Islam Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 26 Desember 2017

Bahtsul Masail NU Memberi Warna Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Purwakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Forum Bahtsul Masail atau pembahasan sebuah persoalan yang mendasarkan pada kitab-kitab rujukan ulama klasik atau kitab kuning menjadi tradisi Nahdlatul Ulama (NU) sejak lama. Bahkan, Bahtsul Masail yang membahas berbagai permasalah kehidupan telah mewarnai jalannya kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bahtsul Masail NU Memberi Warna Kehidupan Berbangsa dan Bernegara (Sumber Gambar : Nu Online)
Bahtsul Masail NU Memberi Warna Kehidupan Berbangsa dan Bernegara (Sumber Gambar : Nu Online)

Bahtsul Masail NU Memberi Warna Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Hal itu disampaikan oleh Koordinator Bahtsul Masail Musyarawarah Nasional dan Konferensi Besar NU 2017 KH Mujib Qulyubi saat memberikan sambutan pembukaan Pra Munas dan Konbes NU di Pesantren Al-Muhajirin 3 Purwakarta, Jawa Barat, Jumat (10/11).

Dalam kegiatan yang dihadiri oleh Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi ini, Kiai Mujib menjelaskan ketika NU menggelar Bahtsul Masail pada Muktamar NU tahun 1936 di Banjarmasin. NU secara tegas merumuskan bentuk negara yang mengakomodasi kehidupan bersama, yaitu negara bangsa.

“Bukan negara Islam maupun negara sekuler tetapi negara yang berdasarkan nilai-nilai agama,” ujar Kiai Mujib.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pra Munas yang mengambil tema Mencari Jalan Keluar Kesenjangan Ekonomi dan Radikalisme Agama ini, Wakil Rektor UNU Indonesia ini juga menjelaskan, tradisi Bahtsul Masail menunjukkan bahwa NU mendasarkan diri pada metodologi pengambilan hukum Islam yang tidak instan.

“Saat ini tidak sedikit yang menyampaikan sesuatu yang seolah benar padahal itu adalah sebuah kebatilan. Misal jargon kembali pada Al-Qur’an dan Sunnah. Ternyata mereka memahaminya hanya dari terjemahan,” ungkapnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Proses pengambilan hukum hanya bersandar dari terjemahan Al-Qur’an dan Sunnah tidak hanya berdampak pada kesempitan dalam berpikir, tetapi juga menjauhkan diri antara guru dengan muridnya, santri dengan kiainya, dan ulama dengan umatnya.

Bahtsul Masail Pra Munas dan Konbes ini meliputi Bahtsul Masail Waqi’iyah (problem tekini), Bahtsul Masail Maudluiyah (tematik), dan Bahtsul Masail Qonuniyah (perundang-undangan).

Dalam kesempatan pembukaan ini, hadir Ketua SC Munas dan Konbes NU KH Mustofa Aqil Siroj,Rais Syuriyah PWNU Jawa Barat KH Abun Bunyamin, Ketua PWNU Jawa Barat KH Hasan Nuri Hidayatullah, Ketua Lakpesdam PBNU Rumadi Ahmad, Ketua PP ISNU Ali Masykur Musa, Wakil Ketua LBM PBNU KH Abdul Moqsith Ghazali, dan tokoh-tokoh lainnya. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Nahdlatul Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 25 Desember 2017

KMNU UGM Gelar Pelatihan Kepemimpinan

Bantul, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Melibatkan Lakpesdam NU Yogyakarta, sejumlah pengurus Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) UGM mengadakan pelatihan kepemimpinan bagi kader muda NU di kampus bersangkutan. Selama dua hari, Jumat-Sabtu (30-31/5), peserta mendiskusikan sejumlah aspek kepemimpinan dan materi ke-NUan di pesantren Lintang Songo Piyungan Bantul.

Ketua KMNU UGM Puguh berharap, “Pelatihan ini dapat meningkatkan potensi kader muda NU di UGM selain mendorong dakwah Aswaja NU di kampus UGM secara lebih maksimal.”

KMNU UGM Gelar Pelatihan Kepemimpinan (Sumber Gambar : Nu Online)
KMNU UGM Gelar Pelatihan Kepemimpinan (Sumber Gambar : Nu Online)

KMNU UGM Gelar Pelatihan Kepemimpinan

Sebagai kader muda NU, kata Puguh, peserta diharapkan dapat menunjukkan eksistensinya di tengah maraknya berbagai aliran Islam yang berkembang di UGM.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ketua Lakpesdam NU Yogyakarta Abdul Ghoffar menyebutkan jumlah mahasiswa NU di UGM berdasarkan data statistik mencapai lebih dari 40%. “Jumlah dosen-dosen NU juga banyak di berbagai fakultas di UGM”, kata Ghoffar.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ia menekankan pentingnya dakwah Aswaja NU di kampus. “Kader muda NU harus tampil dalam bidang keagamaan. Sementara aktivis aliran lain di UGM, tidak berbanding lurus dengan pemahaman agama mereka. Kader muda NU jauh lebih unggul dalam pemahaman agama”, kata Ghoffar.

Dakwah ke-NUan di kampus umum merupakan sebuah jihad, kata pengasuh pesantren Lintang Songo KH Heri Kuswanto. Karenanya, kader muda NU harus mengisi segala aspek kehidupan dengan hal-hal positif selagi muda. (Ahmad Musyaddad/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Khutbah, Nahdlatul Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 15 Desember 2017

Kader Muda NU Nganjuk Sosialisasikan 4 Pilar Kebangsaan

Nganjuk, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Salah satu sumbangsih kader muda NU Nganjuk terhadap aksi-aksi dan gerakan-gerakan massif akhir-akhir ini yang mencoba merongrong kedaulatan NKRI baik dari dalam maupun dari luar adalah melakukan penanaman nilai-nilai nasionalisme sejak dini kepada para pelajar.?

Kader Muda NU Nganjuk Sosialisasikan 4 Pilar Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Muda NU Nganjuk Sosialisasikan 4 Pilar Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Muda NU Nganjuk Sosialisasikan 4 Pilar Kebangsaan

Agenda ini dikemas secara menarik dengan sistem Olimpiade 4 Pilar Kebangsaan Tingkat SMA, MA dan SMA se-Karisidenan Kediri serta Seminar Wawasan Kebangsaan pada Ahad, 26 November 2016 di Aula STAI Miftahul Ula Kertosono atas prakarsa kader-kader muda NU dari DPC Gemasaba Nganjuk, DKC CBP IPNU Nganjuk dan BEM STAIM Kertosono Nganjuk.?

Hadir sebagai narasumber Hj. Aisyah Lilia Agustini, DPRD Provinsi Jawa Timur dan H. Ulum Basthomi, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Nganjuk selaku narasumber.

Antusiasme ratusan peserta dari berbagai SMA, MA dan SMK cukup tinggi.?

Wahyu Irvana selaku Komandan CBP IPNU pada sambutannya menghimbau kepada seluruh peserta acara untuk tetap menjunjung tinggi nasionalisme dan cinta tanah air, karena sebagai santri NU, mencintai tanah air adalah sebagian dari iman.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Melalui agenda semacam ini, panitia berharap kaum muda tidak mudah terprovokasi oleh kelompok-kelompok anti-NKRI dan radikal. Acara ditutup dengan pembagian tropi dan hadiah kepada pemenang olimpiade. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pondok Pesantren, Nahdlatul Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 11 Desember 2017

Sedekah untuk Kepentingan Politik jadi Pembahasan

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Berbagai cara dilakukan dalam praktek money politic, tak terkecuali dalam kemasan sedekah dan zakat. Nahdlatul Ulama (NU) sebagai civil society berbasis massa Islam terbesar di Indonesia menyampaikan keprihatinan mendalam, dan berencana mengeluarkan fatwa atas tindakan tersebut. ?

Money politic dalam Islam disebut riswah (suap), yang dalam prakteknya bisa berbentuk sedekah dan zakat yang belakangan ini marak terjadi di tengah masyarakat, maupun pemberian uang secara langsung dan tak langsung, komitmen pada sebuah janji, ataupun cara-cara lain yang bertujuan mempengaruhi pilihan dalam sebuah pesta demokrasi, baik pemilihan presiden, kepala daerah, dan legislatif.

Sedekah untuk Kepentingan Politik jadi Pembahasan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sedekah untuk Kepentingan Politik jadi Pembahasan (Sumber Gambar : Nu Online)

Sedekah untuk Kepentingan Politik jadi Pembahasan

"Riswah(suap) dalam politik sama halnya dengan melakukan korupsi yang merupakan perbuatan keji dan diharamkan oleh agama," tegas Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj di Jakarta, Senin (10/9).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Wacana fatwa halal atau haram sedekah untuk kepentingan politik itu sendiri akan dibahas dan dipertegas dalam forum bahtsul masail diniyah waqiiyyah Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU di Pondok Pesantren Kempek, Cirebon, Jawa Barat, 15-17 September mendatang.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dalam keterangannya Kiai Said yang juga menjabat sebagai Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia (UI), mengutip sebuah ayat Al Quran yang menyebutkan pelaku korupsi layak mendapatkan hukuman seberat-beratnya. Mulai dari dipotong kedua tangan dan kakinya, hingga dimusnahkan dari muka bumi.

"Korupsi masuk dalam kategori perbuatan fasad, perbuatan yang merusak tatanan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Hukuman untuk pelakunya adalah dipotong kedua tangan dan kakinya, atau dimusnahkan dari muka bumi," urai Kang Said, demikian Kiai Said disapa dalam kesehariannya.

Praktek riswah politik juga dinilai menjadikan demokrasi di Indonesia tidak ideal, karena kandidat yang terpilih pada umumnya hanya bermodalkan materi, tanpa adanya kemampuan untuk menjadi seorang pemimpin. Dengan catatan tersebut politikus yang melakukannya, baik dalam Pemilu presiden, kepala daerah, maupun legislatif, NU menegaskan tidak sepatutnya masyarakat memilih.

"Pemilu langsung adalah produk di era reformasi. Dengan maraknya politik uang, di sinilah tugas kita semua untuk bersama-sama bersikap dewasa dan mendewasakan masyarakat, jangan memilih pemimpin hanya karena adanya uang," tandas Kiai Said.

?

Munas Alim Ulama dan Konbes NU akan membahas sejumlah hal yang dikelompokkan menjadi tiga, yaitu masail diniyah maudluiyah yang berkenaan dengan rujukan dasar seperti konsep negara, hukum bentuk negara, kekayaan negara, pengalihan kekayaan negara, dan warga negara.

Berikutnya masail diniyah qanuniyah yang berkaitan dengan perundang-undangan. Beberapa UU yang akan dibahas dari segi Islam adalah korelasi UU BI, UU Penanaman Modal Asing, UU Air, UU Migas dan UUD 1945 dengan kesejahteraan rakyat.

Selanjutnya masail diniyah waqi`iyah atau isu-isu faktual, seperti hukum pilkada langsung, hukuman mati bagi koruptor, hukum pajak, hukum anak di luar nikah, hukum ekonomi rakyat, dan hukum pematokan keuntungan saham BUMN.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis ? : Nabil Haroen

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Quote, Nahdlatul Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 07 Desember 2017

PBNU: Pembuatan Film Mbah Hasyim Asy’ari Harus Hati-Hati

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Terkait dengan rencana mengangkat sosok KH Hasyim Asy’ari ke layar lebar, PBNU menyatakan bahwa hal itu perlu untuk ditinjau kembali. Karena sosok Mbah Hasyim sangat erat kaitannya dengan Nahdlatul Ulama dan harus melalui proses yang tidak sederhana.

“Kepada pihak-pihak yang sudah berinisiatif membuat film KH Hasyim Asy’ari diharap untuk tidak mengambil langkah sendiri. Keinginan untuk mengangkat sejarah Mbah Hasyim merupakan keinginan dan dambaan seluruh warga NU. Dan untuk itu PBNU akan melakukan rapat dan musyawarah dengan pihak keluarga untuk mewujudkan keinginan itu,” tegas Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi di Jakarta (2/11).

PBNU: Pembuatan Film Mbah Hasyim Asy’ari Harus Hati-Hati (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Pembuatan Film Mbah Hasyim Asy’ari Harus Hati-Hati (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Pembuatan Film Mbah Hasyim Asy’ari Harus Hati-Hati

KH Hasyim Asy’ari sangat melekat erat dan tidak bisa dilepaskan dari NU. Sosoknya sebagai Rais Akbar NU dan Pahlawan Nasional memang layak diapresiasi. Namun untuk mewujudkannya dalam sebuah karya layar lebar tentu tidak mudah. “Karena banyak pihak yang terkait dengan Mbah Hasyim, tentunya harus didalami dan diproses dengan teliti dan seksama. Jadi tidak asal buat saja,” ujarnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

PBNU menghargai niatan pihak yang ingin membuat film dengan mengangkat atau menokohkan KH Hasyim Asy’ari di dalamnya. Namun Kang Said menyatakan bahwa prosesnya harus dibicarakan terlebih dahulu dengan keluarga. “Demi menjaga keotentikan cerita atau perjalanan sejarah Mbah Hasyim, tentu harus berhati-hati,” pesan Kang Said. (bil)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Nahdlatul Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 04 Desember 2017

GP Ansor Cibogo Ingatkan Bahaya Radikalisme dan Hoax

Subang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas kader, Pengurus Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Cibogo menggelar kegiatan Pelatihan Kader Dasar (PKD). Kegiatan yang diikuti 40 orang peserta tersebut dilaksanakan di Majelis Talim Sirojul Rodulan Desa Cinangsi, Kecamatan Cibogo, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Sabtu-Ahad (28-29/1).

Dalam sambutan pembukaan kegiatan PKD, Rachmat, Ketua PAC GP Ansor Cibogo mengatakan bahwa saat ini radikalisme tumbuh subur di Indonesia. Menurutnya, untuk melawannya tidak perlu dengan cara yang sama.

GP Ansor Cibogo Ingatkan Bahaya Radikalisme dan Hoax (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Cibogo Ingatkan Bahaya Radikalisme dan Hoax (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Cibogo Ingatkan Bahaya Radikalisme dan Hoax

"Solusi paling arif telah dicontohkan oleh ulama NU, yakni dakwah dengan amar maruf bil maruf nahyi (‘an) munkar bi maruf; mengajak dengan cara yang baik dan mencegah juga dengan cara yang baik," paparnya

Kegiatan PKD ini, kata Rachmat, sebagai sarana penguatan internal, sebab serangan apa pun yang ditujukan kepada NU ataupun GP Ansor tidak akan berhasil ketika NU dan GP Ansornya telah kuat. GP Ansor, tambahnya, harus bisa tetap fokus dalam mengawal ulama, bangsa dan NKRI.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selain itu, Rachmat pun mengingatkan kepada para peserta tentang bahaya hoax yang kian marak di media sosial. Fenomena ini baginya bisa berdampak pada rusaknya keutuhan ukhuwah islamiyah (persaudaraan keislaman), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan kemanusiaan).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Jika mendapat informasi yang heboh jangan langsung di-share, cari dulu klarifikasinya melalui pihak yang bersangkutan atau bisa dicari di Google kebenarannya karena berita heboh pasti akan mendapat rating tinggi," ujarnya

Kegiatan PKD GP Ansor Cibogo ini dibuka oleh Beni Rudiono, Ketua DPRD Kabupaten Subang dan dihadiri oleh Pejabat Kemenag Subang,PCNU Subang, PC GP Ansor Subang, Muslimat NU Subang, pengurus MWC NU Cibogo, serta beberapa jajaran Muspika Kecamatan Cibogo. (Aiz Luthfi/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pendidikan, Nahdlatul, Syariah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 01 Desember 2017

23 Mahasiswi Afganistan Belajar di Perguruan Tinggi NU

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jumat (25/10), menyambut dan memberikan pembekalan kepada 23 calon mahasiswi Afganistan yang akan belajar di salah satu perguruan tinggi NU. Mereka akan mendapatkan beasiswa penuh dari PBNU untuk belajar di Fakultas Ekonomi, Farmasi, FISIP dan Ilmu Hukum.

23 Mahasiswi Afganistan Belajar di Perguruan Tinggi NU (Sumber Gambar : Nu Online)
23 Mahasiswi Afganistan Belajar di Perguruan Tinggi NU (Sumber Gambar : Nu Online)

23 Mahasiswi Afganistan Belajar di Perguruan Tinggi NU

“Selamat datang di Indonesia. Ini adalah negara kalian juga. Selamat datang di kantor PBNU. NU adalah organisasi Islam yang mengembangkan ajaran ahlussunnah wal jamaah, sama seperti Afganistan,” kata Sekjen PBNU H Marsudi Syuhud saat menyambut para calon mahasiswi di kantor PBNU sambil memberikan motivasi kepada para calon mahasiswi.

23 calon mahasiswi dari Afganistan berusia 19-23 tahun yang merupakan perwakilan dari beberapa wilayah di Afganistan. Mereka akan menempuh pendidikan di Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang selama empat tahun. Namun sebelumnya mereka akan mengikuti matrikulasi bahasa Indonesia selama satu tahun.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Mereka tiba di bandara internasional Soekarno-Hatta sejak Selasa (21/10) kemarin. Mereka beristirahat dan dikenalkan tentang NU dan budaya dan bahasa Indonesia. Selama tiga hari mereka telah lancar mengatakan “Apa kabar”.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Salah seorang perwakilan calon mahasiswa, Masauda Monica mengatakan, dia dan teman-temannya seperti bermimpi bisa datang ke Indonesia dan belajar di perguruan tinggi NU.

“Mimpi kami sudah menjadi kenyataan. Kami akan belajar dengan keras. Kami berharap bisa membawa banyak ilmu ke Afganistan,” kata Masauda dalam bahasa daerah Afganistan yang diterjemahkan oleh seorang penerjemah. Sebagian mahasiswi masih menggunakan bahasa lokal, dan tidak bisa berkomunikasi dengan bahasa Arab atau Inggris.

Masauda bercerita, pada awalnya, saat tiba di bandara mereka ragu dan takut belajar di Indonesia. Namun setelah tiga hari mendapat pengarahan dari para tokoh NU, mereka kembali bersemangat dan ingin segera belajar.

Ufi Ulfiyah dari pengurus pusat Lakpesdam NU yang mendampingi para calon mahasiswi bercerita, sebagian mereka masih tercengang dengan Indonesia, terutama terkait kebebasan kaum perempuan saat berada di luar rumah.

“Di Afganistan kalau kita keluar ke warung kita diawasi dari kaki sampai kepala. Tapi di sini kita lihat banyak perempuan-perempuan bebas di jalan-jalan raya,” kata Ufi menirukan mereka.

Para calon mahasiswa Afganistan juga sempat tegang saat berada di kendaraan dari bandara Soekarno-Hatta. “Waktu itu jalan raya dalam kondisi macet. Mereka mengira sedang ada bom atau keributan,” kata Ufi.

Usai menerima pembekalan dari PBNU para calon mahasiswa juga sempat diajak mengunjungi beberapa ruangan di kantor PBNU seperti ruang redaksi Pondok Pesantren An-Nur Slawi di lantai 5 dan Pojok Gus Dur di lantai dasar.

Selain Sekjen PBNU, para calon mahasiswa juga disambut langsung oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan Wakil Ketua Umum PBNU KH As’ad Said Ali, Wakil Sekjen PBNU Abdul Munim DZ dan Enceng Shobirin, dan Adnan Anwar, serta Ketua PP LAZISNU KH Masyhuri Malik dan Wakil Ketua PP Lakpesdam Lilis Nurul Husna.

Sabtu (26/10) besok para calon mahasiswa akan langsung berangkat ke Unwahas Semarang. Mereka akan tinggal di asrama dan berbaur dengan mahasiswi NU lainnya. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pertandingan, Nahdlatul, Doa Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 20 November 2017

Mau Tahu Buah Manis Tahajud?

Sembahyang malam memiliki keutamaan sendiri di sisi Allah SWT. Saking pentingnya, Allah meminta kekasih-Nya Nabi Muhammad SAW meluangkan waktu malam untuk melakukan sembahyang. Allah menjanjikan kedudukan mulia bagi mereka yang melakukan sembahyang malam.

Syekh Ahmad bin Syekh Hijazi Al-Fasyani dalam kitab Al-Majalisus Saniyah fil Kalam alal ‘Arba’in Nawawiyah menceritakan pengalaman menarik dari sahabat Tsabit RA. Berikut ini keterangannya.

Mau Tahu Buah Manis Tahajud? (Sumber Gambar : Nu Online)
Mau Tahu Buah Manis Tahajud? (Sumber Gambar : Nu Online)

Mau Tahu Buah Manis Tahajud?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. Sahabat Tsabit RA bercerita bahwa bapaknya dulu termasuk orang yang kuat mengamalkan tahajud di kegelapan malam. Tsabit RA mengatakan bahwa ia dalam mimpi melihat wanita cantik yang eloknya tidak seperti wanita cantik lainnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Siapa kamu?” tanya Tsabit.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ia menjawab, “Aku bidadari, hamba Allah.”

“Kawinkan aku denganmu,” Tsabit memintanya.

“Lamar aku lewat sisi Tuhanmu. Tebuslah maharku,” jawabnya.

“Apa maharmu?”

“Lamakan tahajud,” jawab bidadari itu.

Memang sembahyang malam itu sebagaimana ibadah lainnya cukup diniatkan untuk Allah SWT. Tetapi apa salahnya kalau Allah menganugerahkan sesuatu kepada hamba-Nya. Terlepas dari ganjaran bidadari atau ganjaran lainnya, sembahyang malam memiliki tempat istimewa di sisi-Nya.

Nabi Muhammad SAW sendiri kerap melakukan sembahyang malam bahkan hingga telapak kakinya pecah-pecah. Hal ini patut menjadi teladan bagi umatnya. Allah sendiri menyimpan anugerah rahasia untuk mereka yang melakukan sembahyang malam. Di keheningan malam ini juga pengetahuan-pengetahuan yang masih menjadi rahasia tersingkap. Kebuntuan dan simpulan-simpulan dapat terurai di saat banyak orang terlelap. Wallahu A’lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Nahdlatul, Syariah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 01 November 2017

Halaqoh Kiai Muda, GP Ansor Malang Angkat Islam Sebagai Rahmat

Malang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Sejumlah pengurus pesantren menghadiri acara Halaqoh Kiai Muda IV yang diselenggarakan PC GP Ansor Malang di Aula STAI Raden Rahmat Kepanjen Malang, Jawa Timur, Ahad (24/11). Halaqah ini mengangkat tema “Sinergi Menguatkan Islam Rahmatan Lil Alamin”.

Halaqoh Kiai Muda, GP Ansor Malang Angkat Islam Sebagai Rahmat (Sumber Gambar : Nu Online)
Halaqoh Kiai Muda, GP Ansor Malang Angkat Islam Sebagai Rahmat (Sumber Gambar : Nu Online)

Halaqoh Kiai Muda, GP Ansor Malang Angkat Islam Sebagai Rahmat

Tampak hadir dalam halaqah ini sejumlah tokoh pesantren. Mereka yang hadir antara lain pengasuh Pesantren Assidiqiyah Jakarta KH Noor Iskandar dan pengasuh Pesantren An-Nur Malang Gus Fahrur.

Kiai Noor Iskandar mengatakan, rahmatan lil alamin berarti kasih sayang bagi semesta alam. Maksudnya, kehadiran Islam di tengah kehidupan masyarakat mampu mewujudkan kedamaian dan kasih sayang bagi manusia maupun alam.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Pesan kerahmatan dalam Islam benar-benar tersebar dalam teks-teks Islam, baik Alquran maupun hadist,” tegas Kiai Noor Iskandar.

Ketua pelaksana halaqoh Husnul Syadad menyampaikan, penguatan Islam rahmatan lil alamin dibahas agar peserta dapat memperkaya wawasan yang nantinya bisa diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari. Dengan demikian terciptalah masyarakat yang damai dan rukun.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Husnul menambahkan, agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW diperuntukkan bagi seluruh umat manusia pada umumnya dan melintas batas ruang dan waktu. Karenanya, Islam dikenal sebagai agama universal. Islam ditujukan untuk semua ras manusia tanpa kecuali. (Abdul Basyit/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Nahdlatul, Nasional, Kajian Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 22 Oktober 2017

PBNU: Lima Hari Sekolah Harus Dibatalkan

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menilai kebijakan full day school dalam bentuk lima hari sekolah lebih banyak mengandung mudarat dibandingkan maslahat. Kebijakan lima hari sekolah terbukti membuat energi masyarakat tersedot dan sibuk dengan perdebatan dan kegaduhan dalam menyikapinya.

Hal itu disampiakan oleh Sekjen PBNU HA Helmy Faishal Zaini sesaat setalah megomentari hasil survei yang dilakukan oleh Majalah Tempo. Dalam rilis survey indicator Majalah Tempo tersebut, dari 6889 responden sebanyak 4.827 (69 persen) responden menyatakan bahwa kebijakan full day school dalam bentuk lima hari sekolah tidak tepat dilakukan.

PBNU: Lima Hari Sekolah Harus Dibatalkan (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Lima Hari Sekolah Harus Dibatalkan (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Lima Hari Sekolah Harus Dibatalkan

“Fungsi pemerintah itu mengambil kebijakan dalam banyak hal yang basisnya adalah kemslahatan dan aspirasi dari masyarakat. Khusus soal masalah pendidikan ini, kan kondisi sudah tertata dengan baik, jangan malah membuat kebijakan yang berpotensi menimbulkan kagaduhan,” papar Helmy.

Lebih jauh, mantan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal Kabinet Indonesia Bersatu II itu mengatakan bahwa kebijakan soal lima hari sekolah bukan ditolak oleh kalangan masyarakat pesantren saja, banyak kalangan di luar pesantren yang tidak sepakat dengan kebijakan tersebut.?

“Akan ada banyak perubahan mendasar jika kebijakan ini dipaksakan. Sebabnya Tanya masyarakat yang terdampak sangat luas. Kebijakan itu harus semaksimal mungkin menghindari mudarat. Dan full day school ini terbukti lebih banyak melahirkan mudarat. Maka sikap PBNU tegas, kebijakan full day school harus dibatalkan,” tegas Helmy. (Fariz Alniezar/Fathoni)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Halaqoh, Nahdlatul Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 11 Oktober 2017

Muslimat NU Kudus Sekolahkan Anak Asuh Hingga Perguruan Tinggi

Kudus, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Panti Asuhan Darul Hadlonah yang dikelola PC Muslimat NU Kudus, Jawa Tengah, berusaha mengentaskan anak yatim dari kebodohan dan keterbelakangan. Di samping sebagai anak asuh, para yatim juga disekolahkan mulai tingkat dasar hingga perguruan tinggi.

Ketua PC Muslimat NU Kudus Hj Chumaidah menjelaskan, pihak panti asuhan selalu berusaha memberi perhatian dengan cara mengasuh dan mendidik anak yatim supaya menjadi pribadi muslim atau muslimah yang berakhlakul karimah dan memiliki kemandirian.

Muslimat NU Kudus Sekolahkan Anak Asuh Hingga Perguruan Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Kudus Sekolahkan Anak Asuh Hingga Perguruan Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Kudus Sekolahkan Anak Asuh Hingga Perguruan Tinggi

"Mereka kita sekolahkan mulai tingkat dasar sampai kuliah di perguruan Tinggi. Bahkan kemarin ada yang sudah lulus dan diwisuda pada PT di Kudus. Upaya ini mencetak mereka sebagai generasi anak yang berkualitas cerdas, pintar dan mandiri,” katanya usai menerima kunjungan PT Pos Indonesia di Panti Asuhan Darul Hadhonah, Jl Pramuka Kudus, Ahad (12/1)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pada tahun ini, jelas Hj Chumaidah, panti asuhan mengasuh 42 anak dari berbagai daerah di Jawa tengah dan Jawa Timur. Selain bersekolah, para anak asuh diberi bekal berbagai ketrampilan, seperti menyablon, membuat usaha roti, dan Bordir.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Kita juga membimbing amalan-amalan Aswaja seperti shalat jamaah, tahlilan, baca al-Barzanji, mengaji dan amalan ubudiyah lainnya pada malam hari,” terang Chumaidah yang didampingi pengasuh panti asuhan, H Syafi’i.

Panti Asuhan yang berdiri pada tahun 1981 ini mengalami kemajuan yang pesat. Gedung panti asuhan dibangun cukup megah dengan dua lantai dan masing-masing untuk ruangan kantor dan asrama.

“Kita berjuang keras untuk kemajuan panti asuhan, tidak hanya bangunan fisiknya melainkan juga mengasuh anak yatim dengan cara yang baik,” ujarnya.

Untuk menciptakan suasana nyaman bagi anak, pihaknya mendorong kepada para pengasuh bisa berperan menjadi orang tua yakni memperhatikan, mengasuh dan mendidik.

“Kita juga membangun pikiran anak-anak supaya mempunyai cita-cita masa depan,” imbuh Chumaidah yang juga seorang daiah ini.

Hingga saat ini, Panti Asuhan Darul Hadlonah sudah banyak melahirkan alumni-alumni yang sukses berkecimpung sesuai kompetensi dan kemampuannya. “Meskipun sudah mentas dari panti, para alumni didampingi dan diarahkan terkait masalah pekerjaan,” tandas Chumaidah.

Di akhir perbincangannya, Chumaidah merasa bangga dan bersyukur atas perjuangan Muslimat membesarkan anak-anak Yatim. Termasuk juga kepercayaan masyarakat yang telah memberi perhatian dan membantu keberlangsungan panti asuhan ini.

Saat menerima kunjungan PT Pos Indonesia ahad (12/1) kemarin, Panti Asuhan darul Hadhonah menerima santunan uang tunai sebesar Rp 10 juta. Penyerahan dilakukan oleh kepala PT Pos Perwakilan Kudus kepada Hj Chumaidah yang didampingi sejumlah anak yatim dan pengasuh Panti Asuhan Darul Hadhonah (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Hadits, Budaya, Nahdlatul Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 08 Oktober 2017

Gubernur Bali Apresiasi Peran NU di Pulau Dewata

Denpasar, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Gubernur Provinsi Bali I Made Mangku Pastika memuji Nahdlatul Ulama sebagai ormas Islam yang konsisten memupuk keharmonisan di Tanah Bali. NU dinilai telah berkontribusi banyak menciptakan kehidupan sosial yang rukun dan damai pada masyarakat Pulau Dewata ini.

Pastika berpandangan, gelombang modernisasi dan globalisasi telah membawa kecenderungan baru dalam kebudayaan dan keagamaan masyarakat. Kecenderungan ini dalam beberapa segi berdampak negatif, seperti munculnya paham-paham keagamaan yang dapat mengoyak ketentraman masyarakat.

Gubernur Bali Apresiasi Peran NU di Pulau Dewata (Sumber Gambar : Nu Online)
Gubernur Bali Apresiasi Peran NU di Pulau Dewata (Sumber Gambar : Nu Online)

Gubernur Bali Apresiasi Peran NU di Pulau Dewata

Gubernur Bali menyatakan hal tersebut lewat sambutan yang dibacakan Kakesbang Bali I Gede Suwartama, Senin (9/7) pagi, pada acara Rapimnas LTMNU Region VIII PWNU Bali di Denpasar.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“NU telah berperan aktif dalam menciptakan kehidupan yang harmonis di Provinsi Bali,” katanya. Gubernur berharap, hubungan harmonis NU secara internal dan NU dengan lembaga-lembaga lain di Bali dapat terus ditingkatkan. Ia juga menyerahkan bantuan kepada PWNU Bali sebagai ungkapan terimakasih atas kiprah NU selama ini.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dalam kesempatan itu juga, Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Fairid Mas’udi menyatakan, benih kedamaian sudah ditanamkan NU sejak sebelum republik ini berdiri. Di antara ajaran pokok NU dalam hal kenegaraan adalah keadilan sosial dan permusyawaratan. Lima butir Pancasila secara konseptual sudah selaras dengan nilai-nilai Islami.

Menurut Masdar, para pendiri NU telah banyak meneladankan sikap-sikap yang bijak dalam hubungan sosial-kenegaraan. Terkait gejala ekstrimisme yang dikembangkan kelompok keagaman tertentu, ia menolak bahwa itu timbul dari ajaran agama.

“Sebenarnya itu limbah dari interaksi mereka dengan dunia global,” tuturnya.

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Nahdlatul, Ahlussunnah, Halaqoh Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 02 Oktober 2017

IPNU-IPPNU Rembang Agendakan Road Show Tangkal Radikalisme

Rembang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Ahad (10/4) pagi melaksanakan rapat bulanan yang bertempat di Desa Glebek Kecamatan Sulang, Rembang.

IPNU-IPPNU Rembang Agendakan Road Show Tangkal Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Rembang Agendakan Road Show Tangkal Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Rembang Agendakan Road Show Tangkal Radikalisme

Beberapa agenda tercetus dalam rapat tersebut, salah satunya agenda road show ke beberapa Komisariat yang ada di bawah naungan PC IPNU-IPPNU Rembang. Road show ini bertujuan untuk mengenalkan kader IPNU-IPPNU tentang dunia internet dan sosialisasi pencegahan radikalisme via internet.

Ketua PC IPNU Rembang Ahmad Humam mengatakan, tujuan road show ini adalah sebagai upaya sosialisasi organisasi dan pengenalan website kepada para kader IPNU-IPPNU. Lebih lanjut ia mengatakan, road show ini diberi tema Road Show Blogger.

"Selain upaya pengenalan internet, kami juga akan mensosialisasikan penangkalan radikalisme via internet," tambahnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rapat bulanan yang memang menjadi agenda rutinitas pelajar NU Rembang ini selalu dilakukan sebagai upaya koordinasi dan konsolidasi terkait kegiatan yang akan berlangsung. Selain road show ke beberapa Komisariat, pihaknya juga mengagendakan pawai akbar.

"Memang benar, pawai akbar tersebut sebagai upaya napak tilas pahlawan kita RA Kartini yang memang tanggal 22 April ini bertepatan dengan hari peringatan RA Kartini," terang Humam.

Beberapa Komisariat yang rencananya akan didatangi dalam acara road show tersebut yakni, MA Mualimin Mualimat Rembang, SMA dan SMK Wali Songo Kaliori, SMK Annuroniyah Sulang, MA Ar-Rohman Bulu, SMK NU Pamotan, MA YSPIS Sedan, serta MA Al-Azar Sale. "Dalam waktu dekat kami akan komunikasi dengan semua pihak terkait untuk mensukseskan acara ini," tutupnya.

Rencananya acara road show tersebut akan dilaksanakan pada 27 April hingga 3 Mei 2016 mendatang. Pihaknya juga akan bekerja sama dengan Komunitas Blogger Rembang yang notabene sebagai komunitas blogger yang ada di Kabupaten Rembang. (Aan Ainun Najib/Mukafi Niam)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pondok Pesantren, Nahdlatul Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 09 September 2017

Puluhan Banser Solo Ikuti Prosesi “Suwukan”

Solo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Bak para pemain profesional, dengan penuh percaya diri sedikitnya 80 personel Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kota Surakarta memeragakan sejumlah adegan ekstrem. Mereka memecahkan batu bata di kepala dengan martil, memakan silet dan lain sebagainya. Mereka tengah menjalani prosesi “suwukan” (pengisian tenaga dalam).

Di kalangan NU dan pesantren, tradisi suwukan ini lazim dilakukan sebagai salah satu alat untuk menambah kekebalan diri. Prosesi suwukan dipimpin oleh seorang kiai yang menguasai ilmu tersebut.

Puluhan Banser Solo Ikuti Prosesi “Suwukan” (Sumber Gambar : Nu Online)
Puluhan Banser Solo Ikuti Prosesi “Suwukan” (Sumber Gambar : Nu Online)

Puluhan Banser Solo Ikuti Prosesi “Suwukan”

Menurut Ketua GP Ansor Kota Surakarta Muhammad Anwar, “Suwukan ini kita adakan untuk menambah kepercayaan diri anggota Banser dalam menghadapi segala kemungkinan yang terjadi dalam situasi saat ini,” terang Anwar saat ditemui Pondok Pesantren An-Nur Slawi, Rabu (28/1).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Anwar menambahkan para personel Banser yang memeragakan sejumlah atraksi ekstrem ini, tidak bermaksud untuk pamer kekuatan. “Demo kekebalan tidak bermaksud pamer kekuatan, tapi sekadar melestarikan permainan yang selama ini memang telah lazim dan selalu ditradisikan secara turun temurun di lingkungan pesantren,” ujar Anwar.

Lebih lanjut diterangkan, kegiatan suwukan ini akan diadakan rutin setiap pertemuan koordinasi Ansor dan Banser Soloraya. “Insyallah, kita juga akan menyelenggarakan acara suwukan massal,” pungkasnya. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ulama, Nahdlatul, AlaNu Pondok Pesantren An-Nur Slawi