Tampilkan postingan dengan label Fragmen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fragmen. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Februari 2018

Memahami Keberagaman dari Cara Ibu-ibu Belanja di Pasar

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, perbedaan itu adalah ketetapan Allah. Untuk itu, tugas manusia adalah bukan untuk menyeragamkan yang beda, tetapi bagaimana mereka menyikapi perbedaan tersebut dengan bijaksana dan saling menghormati.

“Perbedaan itu sunnatullah dan itu tidak perlu dipertentangkan. Yang kita lakukan adalah bagaimana menyikapi keberagaman itu, bukan menyeragamkannya,” kata Lukman saat memberikan materi kepada peserta Pelatihan Dai-Daiyah Kader NU 2017 di Gedung PBNU, Senin (29/5).

Lukman menguraikan, banyak orang yang tidak arif dan bijaksana dalam menyikapi perbedaan dikarena mereka kurang memiliki wawasan yang cukup, terutama dalam melihat perbedaan yang ada. Menurut dia, kalau seandainya Allah menghendaki manusia itu seragam, maka itu mudah saja.?

Memahami Keberagaman dari Cara Ibu-ibu Belanja di Pasar (Sumber Gambar : Nu Online)
Memahami Keberagaman dari Cara Ibu-ibu Belanja di Pasar (Sumber Gambar : Nu Online)

Memahami Keberagaman dari Cara Ibu-ibu Belanja di Pasar

Ia mengaku mendapatkan laporan bahwa saat ini tidak sedikit rumah-rumah ibadah yang dijadikan sebagai tempat untuk mempertentangkan perbedaan-perbedaan yang ada. Baginya, perbedaan itu tidak perlu dihadap-hadapkan karena itu adalah pilihan-pilihan.?

Terkait hal itu, ia memberikan contoh bahwa saat ibu-ibu pergi ke pasar untuk membeli sayuran, maka ia tidak harus mempertentangkan mana yang lebih baik antara sayur yang satu dengan yang lainnya.

“Kan tidak harus diperhadapkan bahwa bayam itu lebih baik dari kangkung, tergantung dari sudut mana. Kadar nutrisinya saja sudah beda, vitamin yang dikandungnya saja sudah beda, rasanya pun juga beda. Masing-masing punya kelebihan,” ungkapnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ia mengaku sadar, setiap agama memiliki keyakinan bahwa agamanya lah yang paling benar. Alumni Universitas As-Syafiiyah itu menyesalkan pemeluk agama tertentu yang ingin menunjukkan kebenaran agamanya dengan menjelek-jelekkan agama orang lain karena itu akan meat mbupemeluk agama lain melakukan hal sama.

“Untuk mengatakan istri saya cantik, tidak perlu mengatakan istri lain itu jelek. Itu akan mengusik yang lainnya,” kata Lukman mencotohkan.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Agama itu benar menurut pemeluknya masing-masing,” tukasnya. (Muchlishon Rochmat/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Santri, Meme Islam, Fragmen Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 11 Februari 2018

Begini Cara Menjaga “Kualitas” Calon Bayi Kita

Malang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Pengasuh Pondok Pesantren Sabilur Rosyad Malang, KH Marzuki Mustamar menyampaikan, calon bayi yang dikandung oleh ibu dari sang ayah tentu akan berbeda kualitasnya dengan orang tuanya. Karena itu jangan sampai para orang tua mengurangi kualitas calon bayi tersebut.

“Agar kualitasnya tidak berkurang, marilah kita menjaga makanan kita dari hal-hal yang syubhat apalagi haram. Bibit yang bagus dengan perawatan yang baik insyaallah akan menjadi baik,” demikian disampaikan KH Marzuki Mustamar dalam satu acara resepsi pernikahan Agus Habibullah dan Ning Aminah di Malang, Ahad (28/2) kemarin.

Begini Cara Menjaga “Kualitas” Calon Bayi Kita (Sumber Gambar : Nu Online)
Begini Cara Menjaga “Kualitas” Calon Bayi Kita (Sumber Gambar : Nu Online)

Begini Cara Menjaga “Kualitas” Calon Bayi Kita

Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur itu melanjutkan taushiyahnya. Setelah menjaga diri dari hal-hal yang syubhat, para calon orang tua juga harus memilih “bibit” yang baik atau pasangan yang baik agar kebaikan itu bisa menjadi penuh seutuhnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Lalu setelah anak terlahir ke dunia, para orang tua harus menyiapkan lingkungan yang baik untuk menjadi tempat berkembangnya akhlak.

Salah satu cara menyiapkan lingkungan yang baik yang disarankan oleh KH Marzuki adalah memondokkan atau memasukkan anak ke pondok pesantren. Di pondok pesantren, anak-anak akan berada di lingkungan yang paling baik.

“Di sana seorang anak akan dididik dengan guru-guru yang ikhlas dan tanpa pamrih. Semuanya juga muslim dan shalih,” demikian KH Marzuki Musytamar. (Abu Husam/Anam)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Fragmen, Cerita Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 08 Februari 2018

LDNU Gelar Istighotsah Kubro

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pengurus Pusat Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) mengundang kaum muslimin dan muslimat untuk mengikuti acara istighotsah kubro dalam rangka menyambut Peringatan Hari Lahir (Harlah) Ke-82 Nahdlatul Ulama (NU) di halaman gedung PBNU, Jl Kramat Raya 164 Jakarta Pusat, malam ini, Rabu (30/11).

Sejumlah ulama dijadwalkan hadir memimpin istighotsah antara lain KH Maghfur Usman, KH Saifuddin Amtsir, KH Syukron Makmun, KH Nur Muhammad Iskandar SQ, KH Zakki Mubarok, KH Zainuddin Mashum, KH Maktub Efendi, KH Ahmad Djauhari, dan KH Abu Naim Khofifi.

LDNU Gelar Istighotsah Kubro (Sumber Gambar : Nu Online)
LDNU Gelar Istighotsah Kubro (Sumber Gambar : Nu Online)

LDNU Gelar Istighotsah Kubro

Acara diawali dengan khatmil Quran usai shalat Magrib di Mushalla Gedung PBNU, langsung dilanjutkan dengan acara inti istighatsah kubra usai jamaah shalat shalat Isya. Taushiyah peringatan Harlah Ke-82 NU akan disampaikan langsung oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ketua Pengurus Pusat LDNU KH A Nuril Huda mengatakan, acara istighotsah kali ini sangat istimewa dengan isthighatsah yang biasa dilakukan setiap malam Kamis akhir bulan. Istighatsah malam ini bertepatan dengan malam kelahiran jamiyyah Nahdlatul Ulama, 31 Januari.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Maka dalam peringatan Harlah ini kita berdoa semoga amaliyah para pendiri NU diterima oleh Allah SWT dan segala kesalahan beliau-beliau kalau pun ada semoga diampuni. Juga kita berdoa semoga para penerus perjuangan organisasi NU diberi kekuatan untuk menjalankan amanat dari para pendiri.

Dikatakan Kiai Nuril, di usia ke-82 NU telah menghadapi berbagai masa yang penuh ujian dan tantangan. "Kita berharap, sekalipun situasinya berbeda-beda semoga para penerus organisasi NU diberi kekuatan untuk bisa membela Islam Ahlussunnah wal Jamaah secara tulus dan ihlas," ungkapnya. (nam)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Fragmen Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 27 Januari 2018

Alumni Pesantren Turut Mencerdaskan Anak Bangsa Bersama Pemerintah

Surabaya, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Sekitar dua puluh lima ribu santri berkumpul di Masjid Al-Akbar Surabaya. Tercatat sekitar 450 bus terparkir di area Masjid. Para santri yang didampingi orang tuanya mengikuti acara Maulid Nabi Muhammad SAW dan Istighotsah Kubro ke 8 TPQ An-Nahdliyah dan madrasah diniyah se-Cabang Pondok Langitan Tuban.

Acara dihadiri Wakil Gubenur Jawa Timur H Saifullah Yusuf, KH Sholeh Qosim, KH Agoes Ali Masyhuri, KH Abdullah Faqih, KH Muhammad Ali Marzuqi, KH Munif Marzuqi, dan segenap Pengasuh Pesantren Langitan Tuban.

Alumni Pesantren Turut Mencerdaskan Anak Bangsa Bersama Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)
Alumni Pesantren Turut Mencerdaskan Anak Bangsa Bersama Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)

Alumni Pesantren Turut Mencerdaskan Anak Bangsa Bersama Pemerintah

Wakil Gubenur Jawa Timur mengapresiasi peran alumni Pesantren Langitan Kabupaten Tuban. Selama ini, ribuan alumni Pesantren Langitan dinilai sukses menjadi tokoh dan teladan bagi masyarakat di berbagai bidang.

"Saya gembira dan senang sekali. Alumni Pesantren Langitan telah berkiprah di tempat masing-masing. Mereka menjadi tokoh, panutan dan guru. Semuanya itu diakui keilmuannya," kata Saifullah Yusuf di Masjid Al-Akbar, Surabaya (19/12).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Alumni Pesantren Langitan yang tersebar di seluruh Jawa Timur dan provinsi lain merupakan aset bangsa. Mereka bersama pemerintah telah berkontribusi meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) terutama di usia dini.

"Pada usia satu sampai delapan tahun menentukan perkembangan anak. Untuk itu, perlu ditanamkan pendidikan karakter," ujarnya.

Menurut Ketua PBNU ini, terkadang alasan pertama menjadi seorang santri ingin mencari ilmu pengetahuan dan ilmu agama. Ketika santri ingin mencari keberkahan, maka ia harus hormat dan takzhim kepada muassis atau gurunya.

"Kesuksesan alumni menjadi tolok ukur dari seorang santri yang akan menimba ilmu di sebuah pesantren, kondisi inilah yang akhirnya diikuti oleh santri lainnya untuk terus belajar dan mengembangkan diri di pesantren," pungkas Gus Ipul.

Para tamu undangan dan para santri disambut langsung oleh Direktur Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya Endro Siswantoro. Endro menyampaikan terima kasih pada Pesantren Langitan yang telah memercayakan Masjid Nasional Al-Akbar sebagai tempat penyelenggaraan Peringatan Maulid Nabi dan Istighatsah Kubro ke-8.

"Masjid Nasional Al-Akbar merupakan masjid terbesar kedua se-Indonesia, setelah Masjid Istiqlal Jakarta. Kami senang sekali apabila acara seperti ini dilaksanakan kembali di Masjid Nasional Al-Akbar," kata Endro. (Rofi’I Boenawi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Fragmen, Makam, Berita Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 25 Januari 2018

Sosiolog: Polemik Pesantren Radikal Seharusnya Tak Terjadi

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Guru Besar Sosiologi Agama UIN Syarif Hidayatullah Profesor Bambang Pranowo mengatakan polemik terkait pesantren radikal seharusnya tidak terjadi.

"Pondok pesantren di Indonesia hampir 50 ribu, sedangkan yang terlibat terorisme mungkin belasan. Itu sangat kecil. Apa yang terjadi kemarin itu sebenarnya soal bahasa dan pengemasan saja," kata dia di Jakarta, Selasa.

Sosiolog: Polemik Pesantren Radikal Seharusnya Tak Terjadi (Sumber Gambar : Nu Online)
Sosiolog: Polemik Pesantren Radikal Seharusnya Tak Terjadi (Sumber Gambar : Nu Online)

Sosiolog: Polemik Pesantren Radikal Seharusnya Tak Terjadi

Bambang mengemukakan itu menanggapi polemik yang dipicu pernyataan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Saud Usman Nasution pada tanggal 2 Februari lalu soal 19 pesantren terindikasi paham radikal.

"Sebenarnya ini psikologis saja. Kalau pernyataan terkait radikalisme ini keluar dari Kementerian Agama, reaksinya biasa saja. Beda kalau lembaga lain seperti BNPT," katanya.

Menurut Bambang, pernyataan Kepala BNPT itu seharusnya dipahami sebagai bagian dari pencegahan terorisme. Sebagai lembaga negara yang bertugas melakukan pencegahan terorisme, BNPT memang harus melakukan program pencegahan di segala lini masyarakat.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Apalagi, lanjut Bambang, Kepala BNPT hanya menyebut segelintir orang santri dan guru yang terindikasi radikalisme itu.?

"Ini tidak usah dimasalahkan lagi karena tugas pencegahan terorisme kedepan sangat berat," kata dia.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ke depan, kata Bambang, soft approach di dalam pencegahan terorisme harus lebih ditingkatkan.?

Untuk itu, BNPT harus lebih erat bergandengan tangan dengan NU dan Muhammadiyah sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia, selain ormas lokal yang bertebaran di seluruh Indonesia.

Ketua Rabithah Mahad Islamiyah atau Asosiasi Pesantren NU Abdul Ghofarrozin Sahal Mahfud mengatakan dari puluhan ribu pesantren di Indonesia hampir semuanya berbasis kultural dan kedaerahan, hanya 19 pesantren yang terindikasi radikalisme.

"Pesantren selalu berhasil untuk berdampingan dengan budaya dan masyarakat setempat. Jadi, kalau ada pesantren terindikasi radikalisme, itu jelas telah menyalahi tujuan dan hakikat keberadaan pesantren," katanya. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ubudiyah, Fragmen Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 22 Januari 2018

Wahabi Menyusup di Kurikulum Madrasah Kemenag

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Guru Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Demak, Jawa Tengah, menyampaikan keberatan atas penyusupan materi wahabi dalam Kurikulum 2013 yang diterbitkan oleh Kementerian Agama (Kemenag). Salah satu keberatan disampaikan terkait adanya kalimat yang menyebutkan makam wali yang diziarahi umat Islam sebagai berhala.

Wahabi Menyusup di Kurikulum Madrasah Kemenag (Sumber Gambar : Nu Online)
Wahabi Menyusup di Kurikulum Madrasah Kemenag (Sumber Gambar : Nu Online)

Wahabi Menyusup di Kurikulum Madrasah Kemenag

Kalimat itu terdapat dalam buku pedoman untuk guru SKI Kelas VII MTs (Kurikulum 2013) yang diterbitkan oleh Kemenag RI Tahun 2014. BAB I tentang Kearifan Nabi Muhammad SAW, pada buku pedoman itu memerintahkan guru untuk meminta peserta didik agar mendiskusikan tentang perbandingan antara kondisi kepercayaan Mekkah dengan kondisi kepercayaan sekarang.

Lalu disebutkan bahwa “Masih ada yang menyembah berhala, memercayai benda-benda, dan selalu meminta kepada benda-benda.” Berikutnya pada poin lain disebutkan bahwa “Berhala sekarang adalah kuburan para Wali,”.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kepala MTs Irsyaduth Thullab, Tedunan, Wedung, Demak, Faiq Aminuddin dalam suratnya kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi mengatakan, pemberian contoh yang menyebutkan berhala sekarang adalah makam atau kuburan para wali tentu tidak sesuai dengan ajaran yang dianut oleh warga NU.

“Tidak tepatlah bila buku ini dijadikan sebagai buku pegangan semua guru MTs se-Indonesia karena ada banyak MTs yang berada di bawah naungan LP Maarif NU. Sungguh sangat disayangkan adanya kalimat yang menyatakan bahwa kuburan wali adalah berhala. Maka sudah seharusnya buku ini perlu segera dikaji ulang dan direvisi,” katanya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pandangan negatif mengenai makam wali ini mengingatkan masyarakat mengenai adanya upaya kelompok wahabi di Saudi Arabia untuk membongkar makam Nabi Muhammad SAW. Sumber Pondok Pesantren An-Nur Slawi dari lingkungan pejabat kementerian agama mengungkapkan, selain pernyataan negatif mengenai makam wali tersebut penyusupan materi wahabi sebetulnya lebih banyak lagi.

“Misalnya ada pembahasan mengenai menjenguk orang sakit, gambar yang ditampilkan adalah foto Abu Bakar Ba’asyir. Lalu pada bagian lain disebutkan bahwa sumber hukum Islam hanya Al-Qur’an dan Hadits, tidak menyebutkan adanya Ijma dan Qiyas. Dua contoh ini untungnya sudah diedit, nah yang soal makam wali itu yang lolos sensor,” kata sumber yang tidak mau disebutkan namanya.

Ditambahkan, penyusupan materi wahabi dalam kurikulum madrasah itu masih sangat mungkin ditemukan. “Sekarang baru empat minggu pelajaran dimulai, dan buku itu baru mulai digunakan tahun ajaran ini. Di bagian lain mungkin ditemukan lagi,” tambahnya. (Alhafiz Kurniawan/Anam)

Foto: Guru SKI di MTs Irsyaduth Thullab, Tedunan, Demak, menunjukkan buku Kemenag yang disusupi ajaran wahabi.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Nahdlatul, Fragmen, Khutbah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 15 Januari 2018

Kang Said Minta Nahdliyin Rajin Ngaji

Boyolali, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Ketua Umum PBNU, Dr. KH Said Aqil Siroj datang ke Kabupaten Boyolali untuk menghadiri pelantikan PCNU Kabupaten Boyolali periode 2012-2017 di Pendapa Pemkab Boyolali, beberapa waktu lalu.

Dalam kesempatan tersebut Kiai Said berpesan kepada umat Islam, khususnya warga NU, agar dalam menjalankan ajaran agama, tidak merasa menjadi pihak yang paling benar.

Kang Said Minta Nahdliyin Rajin Ngaji (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said Minta Nahdliyin Rajin Ngaji (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said Minta Nahdliyin Rajin Ngaji

“Kita juga mesti rajin memperkaya diri dengan ilmu, membaca hadist, kitab, dan pendapat para ulama,” Kata Kiai Said. Hadir dalam acara tersebut Ketua PWNU Jateng Mohammad Adnan, Wakil Bupati Boyolali Agus Purmanto dan beberapa pejabat Muspida Boyolali, pengurus MWC NU di Boyolali, pengurus NU se Solo Raya, tokoh masyarakat, dan para pengasuh pondok pesantren di Boyolali.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pada acara tersebut, H Masruri yang terpilih dalam Konfercab PCNU Boyolali Oktober bulan lalu, dilantik sebagai ketua tanfidziyah. Sedangkan ? KH Abdul Hamid memimpin Syuriyah. Semua pengurus berjumlah 46 orang.

Usai dilantik, dalam sambutannya Masruri menjelaskan beberapa hal penting yang mesti dijaga dalam kepengurusannya. Pertama, umat NU mesti menjalankan Islam dengan luwes.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Mesti rukun, apabila ada pandangan yang berbeda jangan dijelek-jelekkan,” kata Masruri.

Kedua, untuk selalu mendukung 4 pilar kebangsaan. Menurutnya hal tersebut akan lebih digalakkan di daerah. Terakhir, penegasan untuk tidak berpolitik praktis. “Fokus NU saat ini untuk pembangunan, pendidikan, dan sosial,” tegasnya.

Redaktur ? ? : Hamzah Sahal

Kontributor : Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Berita, Fragmen Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 28 Desember 2017

Jelang Rakernas, Pengurus KMNU Diimbau Kompak dan Siaga

Pringsewu, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Mantan Ketua KMNU Universitas Lampung periode 2016 Ahmad Saroji berharap kepada kepengurusan baru periode 2017 untuk menjaga kekompakan dalam berdakwah di tengah arus modernisasi yang sangat mempengaruhi para generasi muda khususnya para mahasiswa. Ia juga menyatakan kesiapan segenap jajaran panitia Rakernas KMNU 2016 yang akan digelar di Lampung selama 3 hari mulai 1-3 April 2016.

"Kami siap menyambut kedatangan sahabat-sahabat KMNU di Agenda Rakernas 2016 di Bumi Ruwai Jurai Lampung," kata Saroji yang sekarang diamanahi sebagai MPO KMNU Universitas Lampung, Jumat (25/3).

Jelang Rakernas, Pengurus KMNU Diimbau Kompak dan Siaga (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Rakernas, Pengurus KMNU Diimbau Kompak dan Siaga (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Rakernas, Pengurus KMNU Diimbau Kompak dan Siaga

Menurutnya, ladang dakwah sekarang ini sangat luas dan sangat kompleks. "Di sana nanti pasti ada tangisan, hambatan, badai yang akan menerjang."

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dalam menghadapi semua itu, ia berharap para kader muda Mahasiswa NU harus tetap tenang dan selalu menjaga soliditas organisasi. Dalam mengemban dakwah hendaknya menanamkan prinsip untuk tidak menebar kebencian dan tidak mencari musuh dalam berdakwah.

"Tidak ada lawan dalam berdakwah. Lawanmu adalah nafsu dan dirimu sendiri. Jaga kebersamaan," ujar Saroji.

Ia mengajak seluruh pengurus KMNU untuk senantiasa menjunjung tinggi akhlaq masing-masing sekaligus menjadi contoh bagi organisasi dakwah lainnya yang sekarang menjamur di berbagai kampus perguruan tinggi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Selamat berkhidmat untuk umat dan mengabdi pada negeri. Selamat atas dilantiknya Pengurus KMNU 2016," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Fragmen, Kyai Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 24 Desember 2017

Bupati Sidoarjo Apresiasi Perkembangan Pesat RSI Siti Hajar

Sidoarjo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi 

Bupati Sidoarjo, H Saiful Ilah memberikan apresiasi kepada jajaran pengurus Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Hajar Sidoarjo baik Direksi maupun BPMNU atas usahanya dalam mengembangkan Rumah Sakit sampai maju dan berkembang pesat. Hal ini ditegaskan bupati usai menerima kunjungan direksi dan jajaran RSI Siti Hajar di rumah Dinas Bupati Sidoarjo.



Bupati Sidoarjo Apresiasi Perkembangan Pesat RSI Siti Hajar (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Sidoarjo Apresiasi Perkembangan Pesat RSI Siti Hajar (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Sidoarjo Apresiasi Perkembangan Pesat RSI Siti Hajar



"Kami sangat mengapresiasi atas perkembangan RSI Siti Hajar yang semakin pesat. Pemkab Sidoarjo sangat memperhatikan tentang pelayanan kesehatan dari segi anggarannya. Semoga RSI Siti Hajar bisa memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi dalam memberikan pelayanan kepada pasien," kata Abah Ipul, panggilan akrabnya, Kamis (28/9).

Abah Ipul menjelaskan, pihaknya turut andil dalam sejarah berdirinya RSI Siti Hajar Sidoarjo, yang awalnya bernama BKIA (Balai Kesehatan Ibu dan Anak). Salah satu dokter RSI Siti Hajar yang dikenalnya dan sangat akrab sejak awal pendirian RSI Siti Hajar yakni dokter Moersintowarti.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Sidoarjo mendapatkan penghargaan dari Menteri PAN RB atas Kinerja pelayanan, perijinan terbaik se-Indonesia. Saya juga berharap RSI Siti Hajar bisa membuat layanan cathlab untuk pusat jantung dan saraf, yang didukung oleh dokter spesialis yang kompeten, agar pasien tidak usah jauh-jauh berobat ke luar negeri," harapnya.

Menanggapi hal itu, Direktur RSI Siti Hajar, H Hidayatullah menegaskan, RSI Siti Hajar Sidoarjo terus berupaya memberikan pelayanan terbaik kepada para pasien. Terbukti beberapa waktu yang lalu, RSI Siti Hajar meraih kategori terbaik di bidang kesehatan dalam NU Award. Selain itu, pihak Rumah Sakit juga berupaya menjadikan Rumah Sakit sebagai rumah sehat yang bisa dinikmati tak hanya keluarga pasien, melainkan masyarakat Sidoarjo secara umum.

"Kami juga terus berupaya memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Hal ini bisa diketahui dengan adanya peningkatan beberapa bangunan seperti menambah ruang cuci darah (hemodialisa) di lantai dua Darul Royan, ruang pertemuan Darun Naim RSI Siti Hajar Sidoarjo, di lantai tiga yang mempunyai ukuran sekitar 8x30 meter persegi, videotron dan masih banyak lagi yang lainnya," ujar dokter spesialis saraf itu. (Moh Kholidun/Kendi Setiawan)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pertandingan, Fragmen, Hikmah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 19 Desember 2017

Mengenal Toleransi di SMA Ananda Bekasi

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pada tahun 2016, Balitbang Diklat Kemenag melakukan penelitian terhadap SMA Ananda Bekasi.

Penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui proses layanan pendidikan agama di sekolah terhadap siswa tanpa diskriminatif; sikap yayasan penyelenggara pendidikan terhadap layanan agama terhadap siswa tanpa diskriminatif di sekolah.

Mengenal Toleransi di SMA Ananda Bekasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengenal Toleransi di SMA Ananda Bekasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengenal Toleransi di SMA Ananda Bekasi

Selain itu juga untuk mengetahui sikap dan kebijakan pemerintah/pemerintah daerah terkait penyelenggaran pendidikan agama tanpa diskriminatif di sekolah, serta menemukan pola atau bentuk penyelenggaraan pendidikan agama kepada siswa tanpa diskriminatif di sekolah.

Dari penelitian tersebut ditemuan bahwa Sekolah SMA Ananda adalah sekolah yang diprakarsai oleh tokoh-tokoh Buddha Bekasi, namun dalam perjalanan SMA tersebut tidak bercorak ciri khas agama Buddha.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

SMA Ananda memberikan pelayanan pendidikan agama siswa sesuai dengan agama siswa masing-masing dan mempunyai guru agama sesuai dengan agama masing-masing siswa.

Di SMA Ananda sangat terasa harmonisasi dan budaya sekolah yang cukup menyejukkan, tidak ada hambatan atau problem yang serius, dan senantiasa melakukan peningkatan mutu pembelajaran. Sarana-prasarana dan aktivitas yang tersedia dapat meningkatkan mutu dan kualitas Pendidikan Agama.

Regulasi negara sangat diperlukan untuk menata pendidikan agama di sekolah, mulai pengangkatan guru agama, meningkatkan sarana-prasarana, media pembelajaran, diklat guru agama, restrukturisasi penyuluh agama, harmonisasi hubungan Kementrian Agama dan Kementian Pendidikan dan yang lainnya.

Penelitian juga merekomendasikan kepada Kementerian Agama hendaknya memberi perhatian yang serius agar memberi pengangkatan guru agama sebagai PNS, memberi bantuan sarana dan prasarana, memberikan diklat kepada guru agama, serta membangun harmonisasi dengan Kementerian Pendidikan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rekomendasi berikutnya penyuluh agama harus terstruktur sampai ke bawah, dan memberi bantuan kesejahteraan guru agama.

Adapun rekomendasi untuk sekolah SMA Ananda sendiri adalah meningkatkan jumlah buku pengayaan pelajaran, penalaran, dan pendalaman semua agama; menyiapkan tempat ibadah yang memadai untuk semua agama.

Sebagai sekolah permbauran, hendaknya masyarakat publik ikut memberdayakan dan meningkatkan partisipasi untuk kemajuan SMA Ananda. Sekolah juga sebaiknya melahirkan karya tulis atau menumbuhkan budaya menulis siswa terutama untuk menyampaikan pemikiran siswa tentang masyarakat yang taat agama dan berakhlak mulia. (Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Fragmen, AlaNu, Pahlawan,Attijani Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 07 Desember 2017

Kapolda Jatim: Silaturahmi dengan Kalangan Ulama itu Penting

Jombang,Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Kapolda Jatim Irjen Polisi Anas Yusuf menjalin silaturahmi dengan kalangan pesantren di Jombang. Salah satu pesantren yang dikunjungi adalah Pesantren Tebuireng pimpinan KH Sholahudin Wahid yang juga adik kandung KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Dalam kunjungan pertamanya ini, Anas Yusuf mengatakan pentingnya menjalin komunikasi dan silaturahmi dengan kalangan ulama pesantren. Hal ini dalam rangka menciptakan kondusivitas wilayah Jawa Timur yang cukup luas. "Kita butuh silaturahmi dan masukan dari para kiai, ulama diantaranya adalah pengasuh Ponpes Tebuireng, KH Salahuddin Wahid," ujarnya.

Kapolda Jatim: Silaturahmi dengan Kalangan Ulama itu Penting (Sumber Gambar : Nu Online)
Kapolda Jatim: Silaturahmi dengan Kalangan Ulama itu Penting (Sumber Gambar : Nu Online)

Kapolda Jatim: Silaturahmi dengan Kalangan Ulama itu Penting

Kunjungan Irjen Anas Yusuf ditemani Wakapolres Jombang Kompol Sumardji serta sejumlah perwira dari Polda Jatim. Kedatangan orang nomor satu dijajaran Polisi Jawa Timur ini langsung disambut Gus Sholah bersama KH Abdurrahman Ustman, KH Irfan Yusuf.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Usai melakukan pertemuan di ndalem kasepuhan, Kapolda yang baru menjabat beberapa bulan ini melakukan ziarah ke Makam Gus Dur dan Makam pendiri NU, KH Hsyim Asyari yang berada di komplek Pesantren Tebuireng.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dalam kesempatan itu, Kapolda juga menyampaikan pentingnya menciptakan dan menjaga stabilitas keamanan daerah. Karenanya Anas berharap tidak ada bentrokan di masyarakat, khususnya antar-perguruan silat di Jawa Timur pada saat perayaan bulan Suro. "Kita berharap dalam peringatan bulan Suro tidak ada bentrokan di masyarakat, khususnya antar perguruan silat," katanya.

Anas mengakui dibeberapa daerah di Jatim yang memiliki basis perguruan pencak silat berpotensi adanya bentrokan. Karenannya pihaknya terus melakukan pendekataan persuasif dengan semua pihak yang terlibat.

"Kita sudah sejak satu bulan lalu menjalin komunikasi dengan tokoh tokoh silat, termasuk yang di Madiun. Insya Allah tidak ada hal itu (bentrokan), kami optimis perayaan akan aman," tandasnya seraya mengatakan selain Madiun, daerah yang juga berpotensi ada bentrokan antar-perguruan pencak silat adalah Ponorogo.

Dikatakannya, dua wilayah yang selama ini rawan terjadinya bentrokan antar pesilat butuh dilakukan pendekatan. "Untuk mengantisipasi dan menjaga keamanaan dalam perayaan bulan Suro ini kita menerjunkan 3000 personel BKO dari Polda Jatim," pungkas Kapolda mengatakan. (Muslim Abdurrahman/Abdullah Alawi)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Nusantara, Fragmen, Pahlawan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 02 Desember 2017

Bicara Filantropi, Lazisnu Gelar Pertemuan Bareng Lembaga dan Banom NU

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi?

Untuk menumbuhkan semangat filantropi dalam keluarga besar NU, Lembaga Zakat Infak dan Sedekah Nahdlatul Ulama (Lazisnu) menginisiasi pertemuan dengan lembaga dan badan otonom NU. Pertemuan yang bertema Ngopi Bareng Lembaga dan Banom NU atau Ngobrol Filantropi akan diiadakan di Hotel Bluesky, Jakarta Pusat, Rabu (28/12) besok.

"Ngopi bareng lembaga dan banom NU akan menjadi pertemuan antara lembaga-lembaga dan badan otonom NU. Kami akan membahas dan membangun sinergitas serta kebersamaan," ujar Wakil Ketua Lazisnu Ahyad Alfidai saat dihubungi Pondok Pesantren An-Nur Slawi, Selasa (27/12) siang.

Bicara Filantropi, Lazisnu Gelar Pertemuan Bareng Lembaga dan Banom NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Bicara Filantropi, Lazisnu Gelar Pertemuan Bareng Lembaga dan Banom NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Bicara Filantropi, Lazisnu Gelar Pertemuan Bareng Lembaga dan Banom NU

Ahyad menyebutkan kegiatan mengambil tema Penguatan Filantropi Islam Nusantara.

Hal itu menjadi penting terkait adanya isu dana zakat dari lembaga zakat dan negara dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk membangun penguatan radikalisme. Hal ini jelas bertentangan dengan prinsip NU dalam bernegara yang menjunjung NKRI.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pertemuan ini diharapakan dapat menumbuhkan semangat berbagi dari seluruh keluarga besar NU.

Direktur Fundraising NU Care Lazisnu Nur Rohman mengatakan, potensi NU untuk mengembangkan semangat filantropi teramat besar karena sejak awal NU dibangun dengan semangat kebersamaan dan kedermawanan.

"Potensi filantropi NU sangat besar. Ini sebagai upaya NU untuk menjawab tantangan yang datang. Saat ini ada upaya yang sistematis agar NU hilang dari muka bumi. Untuk itu kita perlu menghidupkan lagi embrio-embrio NU termasuk semangat kedermawanan ini," kata Rohman.

Menurut Rohman, bila semangat kebersamaan dan kedermawanan dapat diwujudkan, maka akan menjadi kekuatan yang besar bagi NU. Sebaliknya, apabila semangat kebersamaan dan kedermawanan tersebut sudah hilang, maka akan menjadi kekhawatiran kita bersama. (Kendi Setiawan/Alhafiz K)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Fragmen, Kiai, Amalan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 30 November 2017

Tanpa Resolusi Jihad NU, Indonesia Kembali Dikuasai Penjajah

Jombang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Jombang KH Isrofil Amar melalui amanat Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menegaskan, peran kiai dan santri merupakan bagian penting dalam sejarah pembangunan bangsa dan negara Indonesia.

Fatwa Resolusi Jihad NU yang dikemukakan KH Hasyim Asyari, 22 Oktober 1945, menyerukan perlawanan terhadap Belanda yang hendak kembali menguasai Indonesia setelah sukses mengalahkan Jepang dalam perang dunia II, menjadi cikal bakal kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) hingga saat ini.

Tanpa Resolusi Jihad NU, Indonesia Kembali Dikuasai Penjajah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tanpa Resolusi Jihad NU, Indonesia Kembali Dikuasai Penjajah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tanpa Resolusi Jihad NU, Indonesia Kembali Dikuasai Penjajah

Karenanya, Kiai Isrofil mengungkapkan, tanpa adanya fatwa resolusi jihad tersebut, niscaya Indonesia saat itu kembali terjajah dan dikuasai.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Sejarah telah mencatat bahwa santri mewakafkan dirinya untuk kemerdekaan Indonesia. Mereka dengan caranya masing-masing membangun kekuatan untuk melawan penjajah," katanya saat perayaan HSN di alun-alun Jombang, Sabtu (22/10).

Dikeluarkannya fatwa resolusi jihad itu sebelum terjadinya peristiwa perang antara arek Surabaya melawan tentara Inggris tanggal 10 November 1945 yang saat ini ditetapkan sebagai hari pahlawan. Semangat perjuangan mereka dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari usaha para kiai dan santri sebelumnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Untuk itu, mengenang jasa para ulama, dan penghormatan kepada mereka merupakan keharusan untuk kita semua, hal itu juga sudah termaktub dalam keputusan Presiden yang menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional (HSN)," pungkasnya. (Syamsul Arifin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Halaqoh, Fragmen Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 27 November 2017

Ketimpangan Anggaran untuk Pendidikan Islam adalah Kedzaliman

Subang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Masih minimnya anggaran pemerintah yang dialokasikan kepada pesantren dan madrasah merupakan bentuk kedzaliman terhadap lembaga pendidikan Islam. Padahal, Pendidikan Islam dengan berbagai bentuk lembaga pendidikannya mampu mendukung pemerintah, baik sebagai benteng moral maupun pencetak para generasi cerdas berakhlak mulia.

Ketimpangan Anggaran untuk Pendidikan Islam adalah Kedzaliman (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketimpangan Anggaran untuk Pendidikan Islam adalah Kedzaliman (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketimpangan Anggaran untuk Pendidikan Islam adalah Kedzaliman

Hal ini diungkapkan oleh KH Maman Imanulhaq usai mengikuti kegiatan Dzikir Akbar Asmaul Husna di Pesantren Attawazun, Kalijati, Subang, Ahad (14/2/2016).

"Keadilan anggaran menjadi prioritas saya sebagai wakil rakyat, sebagai orang NU yang dititipkan di PKB, saya ingin mengatakan bahwa saat ini terjadi kedzaliman anggaran," tegas Anggota Fraksi PKB DPR RI ini.

Alasan yang ia kemukakan adalah karena anggaran pemerintah lebih banyak dialokasikan untuk sekolah-sekolah umum dibandingkan untuk pesantren dan lembaga pendidikan Islam lain.

"Hal ini sudah menjadi bagian dari rapat, Fraksi PKB akan terus memperjuangkan agar pesantren, madrasah dan lembaga pendidikan Islam lainnya bisa mendapatkan haknya," tambahnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dalam waktu dekat, tambah dia, pihaknya akan memanggil Kepala Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional) dan Menteri Agama untuk meminta penjelasan tentang anggaran pendidikan Islam.?

Ketimpangan anggaran pendidikan

Dari pemerintah pusat, anggaran pendidikan diberikan kepada Kemdikbud dan Kemenag. Untuk Kemenag langsung didistribusikan ke Kemenag Provinsi dan Kemenag Kabpuaten/Kota. Kemudian ditransformasikan dalam bentuk Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk madrasah dan pendidikan keagamaan.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pendidikan di lingkungan Kemenag ini hanya mendapat suntikan dana dari para orang tua murid. Jadi penerimaan madrasah dan pendidikan keagamaan hanya diperoleh dari pusat dan orang tua murid.

Berbeda dengan pendidikan di lingkungan Kemdikbud. Selain mendapat penerimaan dana dari pusat yang jumlahnya lebih besar dibanding Kemenag, pendidikan umum juga mendapat suntikan dana pembantuan dari Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota. Kontribusi inilah yang tidak didapatkan oleh madrasah dan pendidikan keagamaan di lingkungan Kemenag sehingga ketimpangan anggaran negara jelas terlihat. (Aiz Luthfi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Fragmen Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 20 November 2017

PMII Surabaya: Buruh dan Pengusaha Harus Saling Empati

Surabaya, Pondok Pesantren An-Nur Slawi?

Dalam rangka menyambut Hari Buruh se-dunia yang jatuh pada 1 Mei, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Surabaya menggelar refleksi membahas masa depan buruh. Dua isu utama yang disoroti adalah upah kerja yang layak dan kepastian status kerja.

Koordinator Aliansi Buruh Jawa Timur, Jamaluddin mengatakan nasib buruh hingga saat ini masih memperihatinkan. Pemerintah yang diharapkan hadir melindungi ? buruh dengan merancang kebijakan sesuai amanah Undang-Undang dan Pancasila justru absen dan tidak menunjukkan sikap yang tegas.

“Bahwa pesan Bung Karno agar jangan sampai pribumi jadi budak di negeri sendiri masih sangat relevan hingga hari ini. Nuansa kapitalistik masih sangat kuat, sementara buruh harus terus bekerja tanpa diperhatikan hak-haknya,” jelasnya dihadapan ratusan peserta, Jumat (30/4).

PMII Surabaya: Buruh dan Pengusaha Harus Saling Empati (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Surabaya: Buruh dan Pengusaha Harus Saling Empati (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Surabaya: Buruh dan Pengusaha Harus Saling Empati

Lebih lanjut, dirinya mendapat informasi bahwa Raperda terkait buruh masih dalam pembahasan. Padahal, Gubernur Jawa Timur Soekarwo telah berjanji akan tuntas pada awal 2016. “Dengan janji Gubernur itu, buruh di Jatim berharap Perda sudah disahkan sebelum May Day 2016, sehingga bisa jadi kado bagi kaum buruh yang merayakan hari buruh internasional,” ujarnya.

Selain itu, kata dia, banyak naskah akademis yang berisi aspirasi dan tuntutan buruh yang tidak diakomodir oleh Disnakertransduk Jatim. Di antaranya soal upah layak yaitu pekerja yang masa kerjanya di atas 1 tahun dan berkeluarga diberi tambahan 5 persen dari UMK.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ia mengungkapkan pihaknya bersama para buruh di Jatim akan menggelar aksi besar-besaran pada May Day,? Ahad (1/5). Sekitar 10 ribu buruh dari berbagai daerah di Jatim akan ikut menggelar aksi agar tuntutannya disetujui oleh gubernur. “Yang jelas besok (hari ini) kami bersama puluhan ribu buruh se- Jatim akan menggelar aksi besar-besaran,” ujar pria yang akrab disapa Jamal ini.

Ketua PMII Surabaya, Ali Syaifuddin menyatakan Raperda yang nantinya akan disahkan harus berlandaskan Undang-Undang dan Pancasila. Artinya, ada aspek saling menguntungkan antara buruh dan pengusaha agar kemaslahatan dapat dirasakan seluruh pihak. Dirinya mengakui, sesuai fakta hak-hak buruh belum sepenuhnya terpenuhi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Konsep hubungan industrial dalam kacamata akademik sebetulnya bisa menjawab persoalan dewasa ini. Bahwa ada nilai saling menghargai, empati dan kekeluargaan dalam aktivitas industri. Kepentingan seluruh pihak dapat diakomodir tanpa ada yang merasa dirugikan,” jelasnya.

Ke depan, sambungnya, dirinya mendorong Gubernur Jawa Timur untuk merumuskan desain kebijakan dengan berkaca pada konsep hubungan industrial yang harmonis. Peran pemerintah dibutuhkan agar angka Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) tidak terus meningkat dan iklim investasi semakin baik.

Selain Aliansi Buruh Jawa Timur hadir pula anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Agatha Retnosari, Wasekjen Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Jamil dan Perwakilan Pengusaha Muslim, Musonnef. Acara yang mengusung tema “Membangun Hubungan Industrial Yang Harmonis Dalam Rangka Menjaga Iklim Investasi Simbiosis Mutualisme” dihadiri 100 peserta terdiri dari aktivis mahasiswa, akademisi dan pengamat buruh. (Luqman Hakim El Baqeer/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Fragmen Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 19 November 2017

Jelang Adipura, Banser NU Garut Turut Perindah Jalan

Garut, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Menjelang moment penilaian Piala Adipura yang semakin dekat, Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama (Banser NU), Garut, Jawa Barat melakukan aksi sosial. Aksi dilakukan dengan mengecat trotoar di sepanjang Jalan Ahmad Yani dan Kawasan Pengkolan.

Ketua Banser NU Garut, Yudi Cahyadi mengatakan, hal tersebut dilakukan sebagai bentuk perhatian akan keindahan Kota Garut. Menurutnya untuk meraih Piala Adipura perlu kesadaran masyarakat dalam memelihara kebersihan dan keindahan lingkungan.

Jelang Adipura, Banser NU Garut Turut Perindah Jalan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Adipura, Banser NU Garut Turut Perindah Jalan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Adipura, Banser NU Garut Turut Perindah Jalan

Karena itu, Banser NU ingin memperlihatkan kepada masyarakat bahwa Kota merupakan milik bersama yang harus dijaga. "Kita mau menunjukan bahwa Kota ini harus dipelihara terlebih mendekati Adipura," katanya saat dijumpai di Kawasan Pengkolan, Selasa (12/04).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jajaran Banser NU Garut berinisatif untuk melakukan pembenahan Kawasan Pengkolan agar telihat lebih tertata dengan rapi. Apalagi selama ini Kawasan Pengkolan yang menjadi pusat kota. "Kami melakukan bakti sosial di Pengkolan ini mengingat Adipura sebentar lagi akan diselenggarakan jadi kita berinisatif untuk berkontribusi," katanya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kawasan pengkolan sendiri menurut Yudi masih terlihat kumuh dan kotor. "Dengan perdikat pusat kota Kawasan Pengkolan seharusnya di tata lebih baik, namun sekarang nampaknya lebih kumuh," katanya.

Untuk pendaanaan aksi sosial diambil dari iuran setiap anggota dan beberapa donatur yang secara sukarela menyisihkan sedikit rezekinya untuk berkontribusi membenahi Kota Garut. (M Nur El Badhi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Fragmen, Santri, Pertandingan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 17 November 2017

Refleksi Sumpah Pemuda dalam Bingkai Islam Nusantara

Oleh Mahrus eL-Mawa

Salah satu elan vital sumpah pemuda itu pengakuan akan keragaman etnis di Indonesia. Kalau dahulu, anak-anak muda dari berbagai etnis itu berjuang meraih kemerdekaan untuk bangsanya, maka saat ini pemuda dari beragam etnis itu mengisi kemerdekaan RI dengan tetap menjunjung tinggi nilai keragaman dalam masyarakat yang multikultural. Salah satu nilai itu tertanam dalam pendidikan Islam program magister STAINU Jakarta dengan jargon kajian Islam Nusantara.

Dalam catatanku, belum pernah ada di kampus-kampus Indonesia ini, ada program magister yang spesifik nama program studinya dengan Islam Nusantara dalam kurun lima tahun terakhir ini, kecuali di Program Pasca STAINU Jakarta. Hanya saja, karena dalam nomenklatur birokrasi belum tercatat, maka dialihkan ke prodi yang berdekatan; sejarah kebudayaan Islam (SKI).

Refleksi Sumpah Pemuda dalam Bingkai Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Refleksi Sumpah Pemuda dalam Bingkai Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Refleksi Sumpah Pemuda dalam Bingkai Islam Nusantara

Satu hal yang menarik dari prodi magister STAINU ini, bukan hanya kajian atau diskursusnya, tapi juga para mahasiswanya juga berasal dari berbagai etnis bangsa Indonesia. Disadari atau tidak, program magister STAINU telah melakukan itu, bahkan mahasiswa dari negeri jiran, seperti Thailand juga sudah ada yang lulus dari program ini. Luar biasa, bukan? Seharian kemarin, saya kebagian menguji tesis mahasiswa STAINU asal Papua Barat.

Tentu saja, menjadi salah seorang penguji tesis dari mahasiswa asli Papua bagi saya merupakan "sesuatu banget". Selama ini, saya kenal orang Papua itu hanya berdasar "katanya", terlebih tentang Papua Muslim/Muslimah. Mendalami Islam masuk di Papua juga hal menarik sebagai suatu kajian sejarah dan kawasan. Apalagi mengkaji budaya Papua terkait dengan Islam dan kearifan lokal di suatu etnis Papua, sungguh kita akan merasakan hal luar biasa akan khazanah Islam di Indonesia ini.

Dua orang Papua, Muslim dan Muslimah yang saya uji tesisnya itu kini keduanya menunggu hari-hari untuk merengkuh legalitas magister humaniora dari UNU Indonesia/STAINU Jakarta. Saya tanya kepada salah satunya, dan mengaku ingin menjadi dosen saat pulang kampung nanti, syukur bila diterima sebagai PNS/ASN.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jika para mahasiswa magister STAINU/Unusia berasal dari semua wilayah di Indonesia, seperti etnis Papua ini, tentu sangat keren. Sebelum kedua teman papua ini, mahasiswi asal madura juga lulus pada sidang tesisnya. Sebulan sebelum ini saya juga diberi kesempatan menguji mahasiswa dari etnis Lombok (NTB), Mataram, orang Cirebon, dan seterusnya. Di sinilah saya kira pantas jika prodi magister STAINU Jakarta ini menyebut prodi-nya dengan prodi Islam Nusantara. Sebab, bukan hanya wacana Islam Nusantara yang disampaikan dan dikaji selama kuliah, tetapi juga para pesertanya memang berasal dari berbagai etnis, warga bangsa, dan seterusnya.

Sungguh pendidikan magister di STANU Jakarta itu benar-benar telah mengejawantahkan nilai-nilai Sumpah Pemuda di era global dan kompetitif ini. Perbedaan etnis harus menjadi perekat untuk mengisi pendidikan Islam di Negara Kesatuan Republik Indonesia, bukan sebaliknya. semoga program tersebut terus bertahan dalam visi misinya dan selalu maju untuk menghadapi tantangan zaman yang serba keras dan kompetitif dalam berbagai bidang, khususnya keilmuan Islam di Indonesia.

Penulis adalah Wakil Ketua PP LP Maarif NU, Koordinator Diklat Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) Jakarta.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Fragmen, IMNU, Bahtsul Masail Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 11 November 2017

40 Jamaah Umrah Asal Papua Dapat Bonus Keliling Jakarta

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Sebanyak 40 jamaah asal Kabupaten Sorong, Papua Barat, melakukan perjalanan umrah melalui PT ASBIHU Tour and Travel, operator Asosisi Bimbingan Haji dan Umrah Nahdlatul Ulama (ASBIHU NU) pada Kamis (2/2) malam. 40 ? jamaah tersebut tiba di Jakarta sehari sebelumnya.?

“Karena penerbangan dari Jakarta memerlukan kesiapan, saudara-saudara kita tiba Rabu kemarin di Jakarta,” terang Direktur PT ASBIHU Tour and Travel, KH Hafidz Taftazani.

Jeda waktu sehari tersebut dimanfaatkan PT ASBIHU untuk mengantar jamaah berkunjung ke sejumlah lokasi di Jakarta. Pada Kamis pagi mereka dibawa berkeliling ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta Timur. Siangnya mereka mengunjungi kantor PT ASBIHU, lalu mengadakan silaturahim ke kantor PBNU.?

40 Jamaah Umrah Asal Papua Dapat Bonus Keliling Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
40 Jamaah Umrah Asal Papua Dapat Bonus Keliling Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

40 Jamaah Umrah Asal Papua Dapat Bonus Keliling Jakarta

Mereka juga melakukan shalat duhur dan ashar berjamaah di Masjid Annahdlah PBNU, sekaligus mendengarkan tausiyah pembekalan dari Katib Syuriah PBNU KH Mujib Qulyubi.

Dari PBNU jamaah lalu diajak mengunjungi Monumen Nasional (Monas) dan Masjid Istiqlal.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Kalau orang-orang dari Bogor ke Jakarta merasa belum lengkap kalau belum mengunjungi Monas. Maka saudara-saudara dari Papua yang datang dari jauh, juga dikasih bonus ke Monas,” seloroh Kiai Hafidz.

Kegiatan jamaah selama di Jakarta termasuk penginapan, dibiayai oleh PBNU melalui PT ASBIHU Tour and Travel. Hal tersebut, menurut Kiai Hafid dilakukan sebagai komitmen ASBIHU dan PBNU untuk memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada para jamaah.

Kiai Hafidz sangat mengapresiasi semangat para jamaah asal Sorong tersebut dalam melakukan ibadah umrah melalui PT ASBIHU Tour and Travel. Mereka yang berada di wilayah timur, jauh dari pusat pemerintahan Indonesia, juga tergerak hatinya untuk menjadi tamu Allah di tanah suci. (KendiSetiawan/Zunus)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Fragmen, Warta Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 01 November 2017

Pemenang Sayembara Penulisan IPPNU

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Setelah sebulan pemeriksaan semua karya cerpen dan puisi, panitia sayembara penulisan kreatif IPPNU 2012, menerima hasil putusan dewan juri. Dengan demikian panitia mengumumkan tiga pemenang dan sejumlah karya pilihan.

Pemenang Sayembara Penulisan IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemenang Sayembara Penulisan IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemenang Sayembara Penulisan IPPNU

Dewan Juri menyeleksi 20 karya puisi dan 10 cerpen pilihan dari 256 karya. Melewati beberapa tahapan dan penyeleksian ketat, dewan juri akhirnya menetapkan nama-nama di bawah ini sebagai karya pilihan.

Karya Puisi

1.  Juara I, Laili Salimah, PP. Nurul Jadid Probolinggo, ‘Ibu Sungai-Sungai, Rivera’.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

2.  Juara II, Eka Nusa Pertiwi, Institute Seni Indonesia Yogyakarta, ‘Dongeng dan Kamar di Waktu Hujan’.

3.  Juara III, Nurul Farida Wajdi, Universitas Negeri Yogyakarta, ‘Alif dan Ummi’.

4.  Esih Sukaesih, IAIN SMH Banten, ‘Mencari Serpihan Hati’.

5.  Nita Larasati, SMAN 38 Jakarta, ‘Merindukan Senyum Sang Kartini’.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

6.  Naili Halimah, PP. Ma‘ahidul Irfan Magelang, ‘Siapa Aku’.

7.  Naili Halimah, PP. Ma‘ahidul Irfan Magelang, ‘Biru’.

8.  Zulaehatus Sofiyah, MAN Tambakberas Jombang, ‘Zona Cinta Tuhan’.

9.  Nissa Thoyyiba Oktavia, Universitas Indonesia, ‘Gelap Tanpa Terang’.

10. Mukti Hening Pratiwi, Universitas 11 Maret Surakarta, ‘Si Penyunggi Kain Ulos Usang (Perempuan Irian)’.

11. Badri Yunardi, IAIN SMH Banten, ‘Mak, Aku Ingin Sekolah!’.

12. Indriyanti Agustina Putri, SMAN I Bojonegoro, ‘Kami Gadis Abad 21’.

13. Laili Salimah, PP. Nurul Jadid Probolinggo, ‘Gedung Asing Ini dan Perempuan Berpuluh Peluh’.

14. Laili Salimah, PP. Nurul Jadid Probolinggo, ‘Kilabret Yang Terbalik’.

15. Yuyun Wahyu Ningsih, BSI Depok, ‘Rindu Benang Raja’.

16. Rudy Faishol, SMA Islam Sultan Agung II Jepara, ‘Wanita Tua Peminta-minta’.

17. Milla Nurfadlilah, MAN Model Bojonegoro, ‘Pungguk’.

18. Via Amalia, UNNES Semarang, ‘Bukan Untukku’.

19. Via Amalia, UNNES Semarang, ‘Misteri Hidup’.

20. Alfiatun, PC IPPNU Probolinggo, ‘Pena Tua’.

Karya Cerpen

1.  Juara I, Naili Halimah, PP. Ma‘ahidul Irfan Magelang, ‘Pesan Bunda’.

2.  Juara II, Hesti Wahyu Damayanti, SMAN I Batang, ‘Di Balik Jendela Kamarku’.

3.  Juara III, Slamet, STAIN Purwokerto, ‘Bukan Ilmu Laduni’.

4.  Fajar Tri Anggono, PP. Ma’ahidul Irfan Magelang, ‘Olahraga Malam Maimun’.

5.  Nur Sholekhatun Nisa, PP. Al-Istiqomah Buntet Cirebon, ‘Perempuan Pemimpi’.

6.  Mu‘awanah, Institute Agama Islam Imam Ghozali, ‘Wangi Turi di Pintu Fajar’.

7.  Riana Sari, Universitas Indraprasta PGRI, ‘Perempuan Hebat’.

8.  Nurul Farida Wajdi, Universitas Negeri Yogyakarta, ‘Merdeka’.

9.  Yopi Evi Wijayanti, Kenari Senen Jakarta Pusat, ‘Dengan Apa Ku Membalas Ibu’.

10. Niken Larasati, Sengon Jombang, ‘Surat Dari Jeddah’.

Ketum PP IPPNU Margaret Aliyatul Maimunah, mengucapkan selamat bagi pemenang. “Semoga kemenangan dalam lomba ini mendorongmereka lebih baik dalam berkarya,” katanya saat dikonfirmasi Pondok Pesantren An-Nur Slawi per telepon, Selasa (2/10) siang.

Sedangkan bagi mereka yang belum masuk nominasi, Margaret berpesan agar tidak berputus asa. Mereka harus terus mengasah kemampuan menulisnya.

Terima kasih bagi segala pihak yang telah membantu terselenggaranya acara sayembara penulisan ini. Kami ucapkan terima kasih kepada terutama panitia penyelenggara dan dewan juri, tutup Margaret.

“Sayembara ini akan kita adakan rutin tahunan. Sayembara seperti ini dapat menggugah bakat penulisan kaum pelajar. Kita juga berterima kasih pada semua peserta yang telah mendaftarkan karyanya dalam sayembara ini,” kata Rien Zumaroh, panitia sayembara penulisan kreatif PP IPPNU kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi di Kantor Pondok Pesantren An-Nur Slawi, lantai lima gedung PBNU, jalan Kramat Raya nomor 164, Jakarta Pusat, Selasa (2/10) siang. 

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis   : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Hikmah, Fragmen Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 25 September 2017

Gerakan Ecobrick NU Disosialisasikan di Jepara

Jepara, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) bersama Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Kabupaten Jepara mengadakan Pelatihan Training of Trainers Ecobricks di Gedung NU Jepara, Jumat (9/12).

Ecobricks merupakan penanggulangan sampah plastik dengan memanfaatkan botol bekas minuman yang terbuat dari plastik dengan memasukkan sampah-sampah plastik ke dalamnya. Inovasi ini dinilai mampu mengurangi sampah yang sukar terurai itu secara signifikan.

Gerakan Ecobrick NU Disosialisasikan di Jepara (Sumber Gambar : Nu Online)
Gerakan Ecobrick NU Disosialisasikan di Jepara (Sumber Gambar : Nu Online)

Gerakan Ecobrick NU Disosialisasikan di Jepara

Acara yang dimulai pada pukul 08.00 WIB sampai 14.00 WIB ini diikuti 40 peserta dari beberapa unsur badan otonom dan lembaga NU yang meliputi GP Ansor, IPNU, IPPNU, LP Ma’arif NU, dan Fatayat NU dari Jepara, Kudus, Pati dan Demak.

Ketua PC LPBINU Jepara Dedi Irawan mengatakan, kader NU harus ikut peduli dengan lingkungan. Menurutnya, dengan lingkungan yang baik maka tentu kehidupan dapat tertata dengan baik.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Fitria Aryani, Direktur Bank Sampah Nusantara LPBINU mengatakan, kegiatan ini bisa menjadi ajang sosialisasi penyelematan dan kepedulian terhadap lingkungan. Sampah plastik yang berserakan di mana-mana bisa dimanfaatkan dan berguna untuk banyak hal.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Masyarakat menjadi tahu bahwa plastik bisa diolah menjadi barang layak pakai dan dapat mencegah dari dampak perubahan iklim,” kata Fitria Aryani. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Fragmen, Nusantara Pondok Pesantren An-Nur Slawi