Sabtu, 30 April 2016

Melalui MIVO, ASWAJA TV Kini Hadir di Seluruh Dunia

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Aswaja TV sebagai salah satu channel dakwah Nahdliyin telah berhasil mengudarakan tayangannya hingga ke seluruh dunia. Melalui saluran live streaming channel Mico, Aswaja TV telah diakses oleh lebih dari seratus negara dengan kunjungan mencapai 45 juta perbulan. Indonesia menempati peringkat pertama dengan 27 persen dari seluruh kunjungan atau sekitar 12 juta pengunjung.

Melalui MIVO, ASWAJA TV Kini Hadir di Seluruh Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Melalui MIVO, ASWAJA TV Kini Hadir di Seluruh Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Melalui MIVO, ASWAJA TV Kini Hadir di Seluruh Dunia

Dukungan server di di beberapa negara serta teknologi yang dimiliki MIVO memungkinkannya menyiarkan live streaming Aswaja TV dengan kualitas gambar terbaik melalui Master Control Room TV. Selain Aswaja TV, Mivo juga menyiarkan menyiarkan 40 saluran TV lain dari berbagai negara seperti United Arab Emirates, Jerman, India dan lain-lain.

General Manager Program Aswaja TV, Syaifullah Amin menuturkan, dengan kehadiran MIVO di lebih dari seratus negara berarti siaran dakwah Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyyah dapat terpancar semakin luas dan menembus berbagai kalangan yang semakin beragam. Selain itu Aswaja TV juga dapat turut serta dalam mengenalkan dakwah dan ajaran Aswaja serta budaya masyarakat Islam Indonesia kepada seluruh dunia.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Siaran dakwah di Aswaja TV kini bukan hanya dapat dinikmati oleh masyarakat pedesaan Asia Tenggara dengan parabola dan kaum professional di depan komputer berjaringan internet di kota-kota besar Indonesia, tetapi juga dapat disaksikan oleh masyarakat dunia yang lebih luas,” ungkapnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dalam kesempatan konferensi pers di bilangan Kemang Jakarta Selatan, Selasa (7/4) Founder MIV O, Budi menjelaskan,  Aswaja TV menjadi channel yang menyediakan materi dakwah Islam bersama dengan channel-channel lain yang beragam untuk dinikmati masyarakat dunia yang semakin luas.

“Selain Aswaja TV, saluran TV yang tersedia di Mivo sangatlah beragam. Mivo tidak hanya menyiarkan konten berita, religi dan hiburan, tetapi juga menyiarkan konten kesehatan,” tutur Budi.

Menurut Budi, dengan fasilitas internet yang semakin mudah dan cepat, masyarakat dapat menonton siaran televisi di manapun dan kapan pun. Masyarakat dapat mengikuti siaran kesehatan dan dakwah di tanpa mengganggu kesibukannya sehari-hari karena MIVO kini dapat diakses melalui gadget dan smartphone.

“Kesempatan menikmati tayangan televisi melalui smartphone ini kami persembahkan seiring bergesernya kebiasaan masyarakat. Mulanya mereka menonton melalui perangkat televisi, kemudia bergeser ke desktop dan kini ke gadget yang hanya segenggaman tangan,” tandas Budi. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Anti Hoax, News, Sejarah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 29 April 2016

NU-nisasi Orpol?

Oleh KH MA Sahal Mahfudh. Politik itu kenyal, seperti permen karet. Dikunyah terus tak pernah habis. Terkadang rasanya sudah habis, tapi orang masih terus mengunyahnya. Bagi orang yang telah terbiasa mengunyah permen karet, mungkin ia kecanduan dengan kebiasaan yang melekat itu. Rasanya tidak sreg bila pada forum apa saja atau pada kesibukan apa saja, tanpa mengunyah permen karet, dus mengaitkan aktivitas apa saja dengan politik.

NU-nisasi Orpol? (Sumber Gambar : Nu Online)
NU-nisasi Orpol? (Sumber Gambar : Nu Online)

NU-nisasi Orpol?

Dalarn proses hidupnya, manusia rnemang tidak lepas dari pengaruh watak politis. Telah menjadi sunnatullah barang kali, setiap kelompok manusia ada yang dikuasai dan ada yang menguasai, ada yang diperintah dan memerintah, serta ada yang dipengaruhi dan mempengaruhi. Itulah konteks politik.

Secara naluriah manusia selalu ingin menguasai, memerintah dan mempengaruhi. Meskipun pada tingkat-tingkat tertentu, sesuai dengan potensi dan otoritas yang dimiliki. Di sini kiranya dapat dibuktikan adanya adagium, politik merupakan kebutuhan hidup menurut naluri manusiawi. Masyarakat yang hidup dalam suatu negara yang berbentuk apa pun, tentu merasa sebagai makhluk yang berbangsa dan bernegara. Perasaan itu biasanya berkembang menjadi pengertian atau kesadaran kkritis. Dengan demikian mereka sudah terlibat langsung atau tidak, disadari atau tidak berada pada masalah politik. Hanya saja, karena keterbatasan tertentu, di antara mereka ada yang masuk pada golongan kaum elite politik dan ada yang hanya sebagai kaum awam politik. Kelompok kedua inilah yang terbanyak dari masyarakat Indonesia, termasuk warga NU.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kelompok kedua ini, kelihatan acuh tak acuh dan tidak punya perhatian terhadap masalah politik, kecuali secara temporer karena pengaruh dari panutan mereka yang masuk pada kelompok pertama. Pada momentum tertentu mereka ikut melakukan aktivitas politik dengan memberikan dukungan atau menolak atas wawasan politik tertentu. Umumnya mereka tidak bisa membedakan antara kultur politik dan struktur politik, apalagi pengetahuan soal infrastruktur dan suprastruktur politik. Meskipun kenyataannya mereka sudah terlibat, sekurang-kurangnya dalam kultur politik, yakni keseluruhan tata nilai, keyakinan, persepsi dan sikap yang mempengaruhi mereka dalam suatu sistem atau kegiatan politik.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

***

Warga Nahdlatul Ulama (NU) yang sebagian besar awam politik beserta ulamanya telah terlibat langsung atau tidak langsung dalam sejarah pembentukan negara dan bangsa Indonesia. Ketika zaman kolonial Belanda, NU dengan para ulama dan pesantrennya telah mampu menanamkan semangat wathaniyah (nasionalisme) dan kebencian terhadap penjajahan. Semangat itu berpengaruh luas pada masyarakat untuk merebut kemerdekaan Indonesia dan mempertahankannya. Ini merupakan tindakan politik secara kultural yang kemudian disebut peranan politik dalam sejarah bangsa.

Peranan kesejarahan tersebut sebenarnya juga merupakan khittah perjuangannya serta usahanya untuk mencapai tujuan organisasi, yaitu berlakunya syariat Islam ala Ahli al-Sunnah wa al-Jamaah di bumi Nusantara ini. Sikap dan kebijakan para ulama NU seperti itu, bukan tanpa alasan. Justru karena wawasan historis dan wawasan masa depan itulah, para ulama NU sadar akan sejarah yang telah, sedang dan akan berjalan.

Sejarah telah memberikan pelajaran kepada ulama NU, bahwa masuknya Islam di Indonesia sejak awal hingga zaman Wali Songo, tidak melalui jalan politik struktural, namun lewat usaha dan kegiatan yang seiring dengan proses transformasi kultural. Strategi itu menguntungkan, karena tidak menimbulkan perdebatan konflik batin maupun fisik bagi masyarakat sasaran.

Transformasi budaya ini masih terus berproses dan akan terus berproses sejalan dengan perkembangan kehidupan manusia. Bagi NU, ini sebuah tuntutan yang mendorong orrnas Islam terbesar itu, untuk melakukan kegiatan sosial kemasyarakatan yang berpengaruh langsung atau tidak langsung dalam menumbuhkan dan membentuk budaya bernilai Islam.

Adanya indikasi tumbuhnya antusiasme keagamaan Islam di seluruh Indonesia saat ini, merupakan titik cahaya yang akan memberikan terobosan bagi NU untuk memperoleh kesempatan mengisi nilai budaya secara Islami. Tujuan NU bisa terwujud melalui kulturisasi politik tanpa harus menimbulkan ketegangan-ketegangan.

Inilah sebenarnya yang ingin dicapai oleh para ulama NU dengan keputusan strateigisnya, kembali ke Khittah 26. Khittah 26 telah berkali-kali diuji dengan keluar-masuknya NU pada kegiatan po1itik struktural. Ternyata ia masih tetap merupakan garis lurus vertikal mau pun horisontal yang patut menjadi landasan perjuangan NU dan tetap mempunyai relevansi kuat. Khitah 26 akan selalu mampu menarik NU ke tengah-tengah pergumulan sejarah bangsa yang masih panjang. Dengan demikian keberadaan di tengah bangsa Indonesia ini, justru bagai pupuk yang sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas kehidupan dan keberagamaan demi kemajuan optimal bagi bangsa ini.

Di sinilah letak dasar ukuran umum dan wajar yang selalu dipegang oleh para ulama NU sejak berdirinya sampai sekarang. Pada dasar ukuran ini pula terletak kesimpulan, Khittah 26 sejak lahir belum pernah "minus". Khittah 26 cukup sarat dengan berbagai nilai yang kuat relevansinya di segala zaman. Tidak pernah dan tidak akan ada istilah "Khittah Minus".

Nahdlatul Ulama dalam sejarahnya sejak lahir tahun 1926 mengalami perubahan kecil atau besar, internal atau eksternal; mulai dengan bergabung ke MIAI, Masyumi, kemudian jadi partai politik dan berfusi ke dalam PPP. Akhirnya kembali menemukan jatidirinya yang asli, menjadi jamiyah diniyah ijtimaiyah mahdloh (organisasi masyarakat keagamaan murni) yang secara organisatoris tidak mengkaitkan dirinya dengan organisasi politik mana pun.

***

Perubahan tersebut secara umum banyak dipengarahi oleh faktor eksternal dan secara kbusus diletakkan pada strategi yang dipertimbangkan sesuai dengan zamannya. Para ulama NU baik yang terlibat langsung dalam struktur organisasi NU maupun yang di luar struktur, terutama para ulama pengasuh pesantren memberikan kesepakatan bulat atas kembalinya NU pada khittahnya.

Mereka memang punya kepekaan sosial yang tinggi -meskipun bukan tergolong elite politik. Justru identitas mereka adalah faqih fi mashalih al-khalqi. Kepekaan sosial dan pengalaman empirik mereka pada saat NU secara langsung atau tidak langsung terlibat pada politik praktis, mendorong mereka untuk menelaah kembali secara lebih terinci sosok NU menurut esensinya dalam konteks perjuangan keagamaan Islam di Indonesia, dari satu masa ke masa yang lain. Setelah Muktamar NU ke-25 di Surabaya tahun 1975, tepatnya dalam Konferensi besar (Konbes) pada tanggal 5-8 Mei 1975 di Jakarta, dikeluarkan “Pernyataan Pemantapan Kedudukan dan Fungsi Jamiyah Nahdlatul Ulama".

Ada tiga pokok isi dari pernyataan itu yang sangat penting bagi umat NU khususnya dan bangsa serta negara Indonesia umumnya. Pertama memantapkan kedudukan dan fungsi jamiyah NU sebagai organisasi yang menitikberatkan perjuangannya selaku organisasi umat yang berdasarkan ‘aqidah, syariah dan thariqah Islam Ahlu al-Sunnah wa al-Jamaah dan bergerak di bidang dakwah, pendidikan, sosial, ekonomi dan budaya, untuk kesejahteraan umat dalam rangka pembangunan bangsa dan manusia Indonesia seutuhnya.

Kedua, dalam masa pembangunan nasional sekarang ini, NU akan meningkatkan darma baktinya secara persuasif dan edukatif, untuk menciptakan stabilitas dan persatuan nasional, meningkatkan kesadaran dan moral bangsa, serta mendidik hidup berkonstitusi dan berdemokrasi.

Ketiga, jamiyah NU akan berpartisipasi dalam pembangunan nasional, baik material maupun spiritual untuk mencapai cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana terkandung dalam Pembukaan UUD 1945, serta ikut membina ketahanan nasional. Pernyataan tersebut dikeluarkan atas pertimbangan pertama dalam konsiderannya, bahwa NU mengembalikan kedudukan dan fungsinya seperti ketika dibentuk pada tanggal 16 Rajab 1344 H atau 30 Januari 1926 M.

Proses perubahan yang terakhir itu cukup panjang. Dari Muktamar 1971, Konbes 1975, Munas 1983 dan Muktamar 1984. Tigabelas tahun berproses. Suatu kurun waktu cukup panjang yang tentu saja sarat dengan berbagai masalah dan liku-liku konstelasi sosial-. Bahkan bersamaan dengan akhir proses perubahan itu, dengan tekad bulat tanpa didorong oleh perundang-undangan, NU telah menyatakan menerima Pancasila sebagai satu-satunya asas organisasi.

Terlihat di sini, kemampuan NU memadukan antara falsafah negara sebagai buah pikiran manusia yang kemudian menjadi dasar pengikat pada komunitas nasional di dalam berbangsa dan bernegara dengan doktrin keagamaan Islarn sebagai wahyu Allah yang kemudian menjadi dasar pengikat dalam komunitas keberagamaan. Suatu perpaduan yang amat penting artinya bagi bangunan stabilitas di suatu negara.

Perpaduan itu telah dapat dibuktikan oleh NU sendiri secara implementatif dengan rumusan Khittah 26 yang telah ditemukan kembali sebagai ciri intrinsik, yang tidak bisa lepas dari ujud dirinya. Bila ciri itu dilepas -dengan menambah atau mengurangi rumusan khittah- berarti NU kehilangan wujud diri yang sesungguhnya.

Para ulama sebagai penerus dan pewaris para pendiri NU, tidak akan merelakan hal itu terjadi. NU dengan rumusan Khittah 26 seperti itu, telah membebaskan warganya dalam menyalurkan aspirasi politik untuk rnenegakkan kepemimpinan (nashbu al-imamah) lewat salah satu Orpol.

***

Pembahasan soal ini sebenarnya merupakan pendidikan bagi eksekutif (birokrat) untuk menumbuhkan kesadaran hidup berkonstitusi dan berdemokrasi. Sekaligus juga sebagai upaya mengubah sedikit demi sedikit watak paternalistik mereka dalam hal berpolitik, sehingga akan makin dewasa dan obyektif dalam menyalurkan aspirasi rakyat banyak.

Kemandirian berpolitik seperti itu akan menumbuhkan sikap kritis dan dinamis untuk mengembangkan aspirasi rakyat atau paling tidak menyadarinya. Bisa jadi aspirasi agama, ekonomi, pendidikan dan budaya, akan mudah dicerna apabila melalui pendidikan politik secara kultural.

Tampak NU ingin mendidik warganya secara kultural untuk menjadi insan politik yang kritis dan dinamis tanpa harus menunggu perintah panutannya, tanpa harus terikat oleh petunjuk seseorang dan tanpa adanya ketergantungan pada arahan seseorang. Kedewasaan seperti ini akan menuntut kemauan dan kemampuan Orpol mana pun untuk menyerap aspirasi warga NU yang beraneka ragam, tidak saja aspirasi keagamaannya.

Orpol harus bersikap dan berperilaku aspiratif dan akomodatif terhadap kebutuhan warga NU. Bila aspirasi semacam itu bisa disalurkan dan dipenuhi, kiranya warga NU dengan ke-NU-annya tidak akan memerlukan lagi suatu wadah khusus yang dikelola sendiri atau dengan kata lain "Orpolisasi NU". Karena semua aspirasi warga NU telah dapat ditampung dan diupayakan realisasinya oleh Orpol tertentu, yang berarti dengan kata lain adalah "NU-nisasi Orpol".

Meskipun ada isu yang menginginkan memparpolkan NU pasca Pemilu 1987, namun Munas Alim Ulama NU dan Konbes NU pada tanggal 15 s/d 18 November 1987, berlangsung mulus tanpa gejolak dan ketegangan. Sejumlah 25 utusan wilayah ketika diberi kesempatan mengutarakan uneg-uneg dalam forum Munas dan Konbes, tidak satupun yang merespon isu tersebut. Bahkan seluruhnya melaporkan segi-segi posisif penerapan Khittah 26.

Keinginan memparpolkan NU memang punya alasan, mengingat warga NU ketika menjelang Pemilu mengalami kebingungan. Kebingungan itu menjadi indikator belum mapannya wawasan politik praktis warga NU, walaupun sudah cukup lama menjadi anggota Partai Politik NU dan kemudian menjadi penyangga PPP.

Namun perlu diingat, kebingungan itu muncul bukan lantaran NU kembali kepada Khittah 26. Sama sekali bukan karena rumusan Khittah 26 itu sendiri. Kebingungan itu terjadi akibat belum meratanya sosialisasi Khittah. Persepsi mereka tentang Khittah tidak sepenuhnya sesuai dengan yang sebenarnya. Sementara sikap beberapa pimpinan dan ulama NU mengabaikan prinsip tawassuth yang telah digariskan oleh Khittah 26.

Kebingungan seperti itu juga wajar, sebagai akibat dari masa transisi yang kebetulan didukung oleh watak paternalistik warga NU. Bagaikan burung perkutut yang telah cukup lama terperangkap dalam kurungan dan diloloh terus oleh pemiliknya, ketika dilepas dari kurungan untuk mencari makan sendin dan bebas bergabung dengan sejenisnya, maka dalam beberapa waktu ia pasti mengalami kebingungan. Tetapi itu tak akan berjalan lama. Ia akan segera mampu terbang bebas, sesuai dengan alam aslinya dan khittahnya.

Walaupun tidak ada istilah mayoritas minoritas, namun kenyataan menunjukkan bahwa penduduk Indonesia yang terbanyak adalah muslim. Sekitar 75% sampai 80% di antaranya berada di pedesaan. Sebagian besar warga NU pun ada di pedesaan. Penduduk pedesaan itu pada umumnya masih berada di bawah pengaruh para ulama NU yang notabene tidak tergolong kaum elite politik.

Penelitian di lapangan menunjukkan, para ulama NU di pedesaan merasa lebih tenang dengan kembalinya NU kepada Khittah 26, ketimbang masa-masa sebelumnya. Para kiai itu makin mudah berkonsentrasi dan terbuka dalam memikirkan kemaslahatan warganya. Hampir semua bentuk aktivitas di masyarakat sekarang, warga NU terlibat di dalamnya. Di sinilah NU mempunyai banyak kesempatan mempengaruhi mereka untuk dakwah dan menanamkan nilai-nilai Aswaja, seiring dengan proses transformasi kultural.

***

Dari sisi lain timbulnya ide Orpolisasi NU merupakan perbedaan pendapat yang wajar. Dinamika semacam itu diperlukan sepanjang masih menyangkut kepentingan umat dan warga NU sendiri, bukan untuk memenuhi interes pribadi atau kelompok tertentu. Segi positif yang muncul, NU membebaskan warganya mau pun pimpinannya untuk berpendapat dan saling menghargai. Namun perbedaan itu tidak berarti adanya pertentangan internal, apalagi perpecahan.

Tradisi yang masih kental di kalangan ulama NU adalah sikap "sepakat dalam khilaf”, sehingga tak akan mengganggu jalannya roda organisasi. Kedewasaan berorganisasi dan berdemokrasi di dalam NU akan terlihat dari sisi ini. Tetapi perbedaan itu hanya membawa faedah, jika dapat diarahkan untuk membuat demokrasi menjadi "proses belajar dan memecahkan masalah." Ikhtilaf itu memang rahmat.

*) Diambil dari KH MA Sahal Mahfudh, Nuansa Fiqih Sosial, 2004 (Yogyakarta: LKiS). Tulisan ini pernah dimuat majalah Aula edisi No.10 Tahun IX, Desember 1987. Judul asli "Orpolisasi NU atau NU-nisasi Orpol?"

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Makam, Nahdlatul, Sejarah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

GP Ansor Kota Bandung Cegah Kontaminasi Ideologi Remaja

Bandung, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Gerakan Pemuda Ansor Kota Bandung berupaya mencegah kontaminasi ideologi kalangan remaja Ahlussunah wal-Jamaah yang akan memasuki jenjang perguruan tinggi.

Upaya itu dibungkus dengan pesantren kila (Sanlat) dan bimbingan belajar (bimbel) pasca-Ujian Nasional (BPUN) 2013 di Gedung PCNU Kota bandung Jl. Yuda no.03, Kebon Kalapa, Kota Bandung, Ahad (5/5) dimulai pukul 13.00 WIB.

GP Ansor Kota Bandung Cegah Kontaminasi Ideologi Remaja (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Kota Bandung Cegah Kontaminasi Ideologi Remaja (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Kota Bandung Cegah Kontaminasi Ideologi Remaja

Ketua pelaksana, Ujang Miftahudin, mengatakan, kegiatan ini sebagai upaya membantu generasi muda dalam melanjutkan ke jenjang perkuliahan dan juga sebagai upaya untuk menjegah kontaminasi ideologi yang dewasa ini terjadi di kalangan remaja, “Seperti dalam temanya, “Subbanul yaum rijalul ghod”, pemuda hari ini adalah generasi penerus masa yang akan datang,” katanya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ketua GP Ansor Kota Bandung, Aa Abdul Rozak, menegaskan, Dengan ideologi Ahlussunnah wal-Jama’ah diharapkan dapat membackup generasi muda sebagai penerus bangsa untuk meminimalisir gerakan-gerakan konfrontatif yang mencoreng agama Islam.

Dengan Kegiatan ini, GP Ansor Kota Bandung berupaya untuk merealisasikan slogan, Almuhaafadhoh ‘alal qodiim ash-shaalih wal ahdu bil jadiidil ashlah, (menjaga nilai-nilai lama yang baik dan membuat inovasi yang lebih baik) dengan gerakan realistis dan relevan sehingga dapat diterima hal layak.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kegiatan yang berjalan sebulan dan gratis tersebut disambut baik peserta yang datang dari berbagai sekolah menengah atas, “Agenda ini sangat baik dan sangat membantu bagi saya untuk belajar dalam menuju jenjang perkuliahan, selain mendapatkan pengetahuan umum, saya mendapatkan pengetahuan agama. Alangkah lebih baik untuk tetap dipertahankan” ujar Ahmad Rusmana, salah seorang peserta BPUN.

Kegiatan tersebut dihadiri Ustadz Wahyu Afif Al-Ghofiqi, perwakilan dari PCNU Kota Bandung yang juga Dewan Penasihat PC GP Ansor Kota Bandung. Dari PW GP Ansor Jawa Barat diwakili Johan Jauhari Anwar, sekaligus Manager Provinsi BPUN 2013. Kemudian dari Manager Pusat diwakili Muhammad Sofyan Fauzi, yang juga Supervisor dari Yayasan Mata Air.

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pertandingan, Cerita Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 25 April 2016

Selain Aktif Berorganisasi, Pelajar NU Didorong Terus Berprestasi

Ponorogo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Siapa yang tak ingin menjadi pelajar berprestasi namun juga pandai dalam berorganisasi. Jawabannya pasti mereka memimpikan keduanya. Sebab pelajar yang aktif dalam organisasi akan lebih unggul dari segi wawasan dan akademis?

Selain Aktif Berorganisasi, Pelajar NU Didorong Terus Berprestasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Selain Aktif Berorganisasi, Pelajar NU Didorong Terus Berprestasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Selain Aktif Berorganisasi, Pelajar NU Didorong Terus Berprestasi

Hal inilah yang menjadi dasar puluhan pelajar NU dan perwakilan pengurus OSIS dari sekolah di Kecamatan Badegan, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, mengikuti training motivasi belajar bertema ‘Berorganisasi tetap Berprestasi’ yang digelar oleh Pimpinan Ranting (PR) IPNU-IPPNU Desa Karangjoho, Kecamatan Badegan, Ponorogo, Jawa Timur akhir pekan lalu.

Ketua IPNU Karangjoho, Dimas Saputra mengatakan, para pelajar yang terjun dalam sebuah organisasi tidak boleh mengesampingkan tugas utamanya sebagai seorang pelajar, yakni mempelajari dan mendalami berbagai disiplin ilmu di sekolah. ”Kami sengaja menggelar kegiatan semacam ini, dengan tujuan memberikan motivasi kepada pelajar, bahwa dalam kita berorganisasi bukanlah menjadi penghalang untuk tetap berprestasi,” katanya di balai desa Karangjoho.

Dimas mengajak kepada anggota IPNU-IPPNU untuk pandai membagi waktu belajar dengan waktu berorganisasi. Jangan sampai prestasi belajar di sekolah tertinggal jauh karena terlalu sibuk berorganisasi. ”Mari kita pegang prinsip belajar diutamakan, organisasi dinomersatukan, akademis oke, organisasi oke,” ujarnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sementara itu, Ali Fahruddin pembina IPNU-IPPNU Karangjoho sangat mengapresiasi kegiatan motivasi belajar semacam ini. Kesadaran pelajar NU untuk terus berprestasi harus dipupuk sejak dini. Agar kelak kader-kader NU dapat lebih berperan dalam membangun bangsa dan negaranya.?

“Apalagi di era seperti sekarang ini, pelajar NU haruslah bisa menjadi contoh, sebagai kalangan pelajar yang memang terpelajar, bukan malah menjadi pelajar yang kurang belajar,” tandasnya.

Materi motivasi belajar ini disampaikan oleh Qurrota A’yun, lulusan terbaik jurusan matematika Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). A’yun memberikan kiat-kiat khusus agar para pelajar memiliki motivasi berprestasi yang tinggi. Kiat ini berdasarkan pengalaman pribadinya yang pernah berkecimpung dalam kepenguruasan IPPNU Ponorogo hingga dapat mengantarkanya mengikuti pertukaran pelajar di Korea Selatan.

Berdasarkan pengalaman inilah diharapkan para pelajar NU Ponorogo dapat terinspirasi dan bisa termotivasi untuk giat belajar dan giat berorganisasi. (Zaenal Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ahlussunnah,Attijani Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 24 April 2016

PBNU: Pemerintah RI Wajib Terima Imigran Rohingya Sebagai Langkah Darurat

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F Masudi mengusulkan Pemerintah RI untuk sementara menampung ratusan imigran etnis Rohingya. Sebagai langkah darurat, pemerintah RI perlu mengambil upaya ini sambil mendorong langkah-langkah diplomatis ke depan.

“Pertama sekali yang perlu diingat bahwa peristiwa ini merupakan tragedi kemanusiaan. Indonesia sendiri menganut asas Kemanusiaan yang Adil dan Beradab,” kata Kiai Masdar kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi di Jakarta, Jumat (15/5) sore.

PBNU: Pemerintah RI Wajib Terima Imigran Rohingya Sebagai Langkah Darurat (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Pemerintah RI Wajib Terima Imigran Rohingya Sebagai Langkah Darurat (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Pemerintah RI Wajib Terima Imigran Rohingya Sebagai Langkah Darurat

Pemerintah RI, menurut Kiai Masdar, seharusnya berperan aktif bersama Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Masalah Pengungsi (UNHCR) guna menyudahi persoalan diskriminasi pengungsi etnis Rohingya hingga ke akar-akarnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pemerintah RI juga bisa memanfaatkan jaringan negara ASEAN untuk terlibat aktif mengatasi tragedi kemanusiaan yang menimpa ribuan etnis Rohingya.

Kita perlu mendesak otoritas setempat untuk mengembalikan hak-hak kemanusiaan mereka, tandas Masdar.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sebagaimana dilansir sejumlah media, sejumlah kapal mengangkut ratusan imigran etnis Rohingya. Sementara sejumlah negara di Asia Tenggara menghalau kapal yang mengangkut etnis Rohingya masuk ke wilayah mereka.

Otoritas Malaysia dan Thailand sendiri menjauhkan kapal-kapal imigran yang mencoba merapat ke perairan mereka. Karena itu, banyak dari penumpang itu menderita kelaparan. Kondisi mereka semakin melemah.

Pada pekan lalu, beberapa kapal imigran mendarat di Aceh. Banyak dari mereka terdiri atas perempuan dan anak-anak yang kondisi fisiknya lemah. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Meme Islam, News Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 22 April 2016

Tak Ada Ketentuan Penerapan Opsional dalam Permendikbud Lima Hari Sekolah

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Kepada awak media Presiden Joko Widodo menyatakan, tidak ada keharusan bagi seluruh sekolah di Indonesia menerapkan program lima hari kegiatan belajar-mengajar dalam sepekan atau yang biasa disebut full day school (FDS). Bahkan informasi pembatalan oleh Presiden sudah diumumkan pada 19 Juni lalu.

Lantas, mengapa kebijakan tersebut tetap diberlakukan di berbagai daerah? (Baca: Gara-gara FDS, Santri di Sejumlah Daerah Pamit Keluar dari Pesantren)

Tak Ada Ketentuan Penerapan Opsional dalam Permendikbud Lima Hari Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tak Ada Ketentuan Penerapan Opsional dalam Permendikbud Lima Hari Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tak Ada Ketentuan Penerapan Opsional dalam Permendikbud Lima Hari Sekolah

Menurut pengamat pendidikan, Darmaningtyas, statemen saja tak cukup untuk menghentikan Permendikbud, tanpa kepastian hukum yang jelas dan tertulis.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Lisan boleh dikatakan begitu, Pak. Tapi selama Peraturan Menteri (Permen) No 23/2017 yang mengatur FDS tidak dicabut/revisi, kebijakan itu akan jalan terus. Daerah-daerah memaksakan melaksanakannya, apalagi bila pelaksanaan program tersebut masuk ke dalam? indikator penilaian sekolah,” katanya saat dihubungi Pondok Pesantren An-Nur Slawi via WhatsApp, Jumat (11/8).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Jadi kebijakan publik, tidak bisa abu-abu, tapi harus jelas hitam putihnya. Pasal 9 Permen (Permendikbud Nomor 23/2017) tersebut juga tidak memberikan opsi bagi daerah/sekolah untuk melaksanakan atau tidak, tapi pelaksanaannya bertahap, artinya secara nasional tapi tidak dalam waktu yang bersamaan mulainya,” tambahnya.

Bagi Darmangtyas, pemberlakuan secara nasional itu menjadi inti kritik terhadap FDS. Kebijakan ini tak selaras dengan komitmen komitmen Presiden Joko Widodo yang “memberi ruang kepada daerah” karena kebijakan tersebut bersifat sentralistis, yang mengabaikan karakter geografis, insfrastruktur dan sarana transportasi, ekonomis, sosial, dan budaya sekolah di Indonesia.

(Baca juga: Soal FDS, Darmaningtyas: Masak Presiden Didorong Langgar Visi Misinya Sendiri?)



“Mengingat Indonesia ini amat luas dan beragam, serta janji Presiden Jokowi dalam kampanye dulu untuk menjamin keragaman dan budaya lokal dalam kebijakan pendidikan, maka kembalikan persoalan teknis: enam atau lima hari sekolah itu ke otonomi sekolah sesuai dengan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah), bukan ditarik oleh Mendikbud,” tulis Darmangtyas dalam blogpribadinya. (Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Budaya Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 07 April 2016

Fatayat NU Nilai Pernyataan Trump Bentuk Provokasi Amerika

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Ketua Umum Pengurus Pusat Fatayat NU Anggia Ermarini mengatakan penetapan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel yang diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai bagian dari provokasi Amerika Serikat.

"Penentuan itu sepihak banget dan menodai kesepakatan internasional," kata Anggia menanggapi pertanyaan wartawan seusai Maulid Kebangsaan di Halaman Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya Jakarta Pusat, Sabtu (16/12).

Fatayat NU Nilai Pernyataan Trump Bentuk Provokasi Amerika (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Nilai Pernyataan Trump Bentuk Provokasi Amerika (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Nilai Pernyataan Trump Bentuk Provokasi Amerika

Ia meyakini penentuan itu juga dikecam banyak negara.

"Nggak hanya MUI, nggak hanya NU, nggak hanya Indonesia, tetapi seluruh dunia marah dengan pernyataam tersebut," ujar Anggia.

Menurut Anggia, persoalan tersebut bukanlah persoalan antara Yahudi dan Islam, tetapi masalah kemanusian.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Presiden Jokowi sendiri mengatakan ini bagian dari penjajahan dan tidak boleh dilakukan," tegasnya.

Dikatakan Anggia, terkait persoalan Palestina, Fatayat NU telah bertemu dengan pemimpin lintas agama. Fatayat NU sebagai organisasi perempuan terbesar juga siap mengkonsolidir berbagai organisasi sosial kemasyarakatan di dunia untuk bersama melakukan aksi global.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Anggia meminta masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi atas isu atau berita yang tidak bertanggungjawab. Dia juga menyerukan kepada seluruh jajaran Fatayat NU untuk terus memberi dukungan kepada negara dan rakyat Palestina melalui doa dan dukungan moral lainnya.

Pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini pihaknya mengajak agar dengan semangat kelahiran Rasul dapat berkaca dan meneladani sifat dan perbuatan Rasulullah Muhammad SAW, termasuk membela kemanusiaan.

"Rasulullah sangat mengayomi semua masyarakat. Jadi peringatan ini untuk kembali kepada teladan itu," tandasnya. (Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Internasional, Lomba, Meme Islam Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 06 April 2016

Gerakan Hijau PKB Lebih Bersifat Kultural

Kuta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Ketua Umum Dewan Syura PKB KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menegaskan, gerakan hijau yang dilakukan partainya murni untuk penyelamatan lingkungan, bukan gerakan politik untuk "menyerang" pemerintah.

"Jadi lebih berupa gerakan kultural. Berbeda dengan Partai Hijau yang ada di Barat yang politis, ingin jatuhkan presiden," kata Gus Dur saat berbicara dalam Deklarasi Hijau Menyelamatkan Lingkungan Bersama Gus Dur di Kuta, Bali, Selasa.

Sebelumnya, Senin (26/2), di tempat yang sama PKB mendeklarasikan diri sebagai "Partai Hijau" yakni partai yang menaruh kepedulian lebih pada upaya penyelamatan lingkungan hidup.

Gerakan Hijau PKB Lebih Bersifat Kultural (Sumber Gambar : Nu Online)
Gerakan Hijau PKB Lebih Bersifat Kultural (Sumber Gambar : Nu Online)

Gerakan Hijau PKB Lebih Bersifat Kultural

Lebih lanjut Gus Dur mengatakan, sebagai partai politik sulit bagi PKB mengelakkan tudingan bahwa yang dilakukannya tidak ditujukan untuk tujuan politis. Namun PKB harus membuktikan bahwa tidak semua yang dilakukan partai itu bertujuan politis.

Mantan presiden itu mengakui bahwa batasan antara gerakan kultural dan gerakan politik sangat samar, namun bukan berarti tidak bisa dibedakan. "Memang agak membingungkan, ketika LSM menyoroti kasus pencemaran di Buyat, itu kultural atau politis. Kalau untuk membela hak rakyat itu kultural, tapi kalau larinya mau menjatuhkan presiden tentu politis," katanya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Oleh karena itu, Gus Dur menekankan tiga hal sebagai rambu-rambu yang harus diperhatikan PKB dalam memasuki masalah lingkungan. Pertama, PKB mesti menggali nilai-nilai budaya dan tradisi lokal yang terkait dengan pemeliharaan lingkungan. Kedua, tidak mempolitisasi isu lingkungan. Ketiga, memperhatikan kondisi Indonesia yang saat ini masih serba transisional.

Pada kesempatan itu juga dilakukan penandatanganan Deklarasi Hijau oleh pengurus DPP dan DPW PKB, tokoh masyarakat, tokoh agama dan lain-lain. Ada enam poin di dalam deklarasi tersebut, diantaranya adalah meminta pemerintah memutus kontrak karya dengan perusahaan tambang migas dan non migas di hutan dan kawasan lindung.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Berikutnya meminta pemerintah memberlakukan jeda tebang hutan (moratorium logging) hingga 20 tahun yang diikuti dengan restorasi kawasan hutan, serta mengkaji dan mencabut semua peraturan yang berpotensi merusak lingkungan dan sumber daya alam. (ant/mad)       



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Khutbah, Kajian Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 01 April 2016

LP Marif NU Mathalibul Huda Juara Debat Jateng

Jepara, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Madrasah Aliyah Mathalibul Huda Mlonggo Jepara berhasil menjuarai Lomba Debat Bahasa Indonesia se-Jawa Tengah yang dilaksanakan Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Negeri Semarang (Unnes), akhir November kemarin.

Kontingen madrasah di bawah naungan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Jepara mengirimkan tiga peserta atas nama Nailal Hevi Rismiya (XII IPS 1), Dian Agung Saputra (XI IPA) dan Cholis Nurmania Laily (XI IPA).

LP Marif NU Mathalibul Huda Juara Debat Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)
LP Marif NU Mathalibul Huda Juara Debat Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)

LP Marif NU Mathalibul Huda Juara Debat Jateng

Ketiga kontingen itu berhasil meyakinkan dewan juri setuju dengan mosi/ pernyataan, peremajaan alat transportasi di Jakarta memberikan dampak positif terhadap lingkungan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurut Nailal didampingi Agus dan Laily timnya setuju dengan pernyataan itu. Jika peremajaan dilakukan dikemukakannya masyarakat mulai meninggalkan mobil pribadi sehingga bisa mengurangi dampak polusi.

Kedua, ditambahkannya hal itu bisa mengurangi pencemaran air yang diakibatkan oleh perumahan kumuh yang dihuni masyarakat ekonomi bawah. Sehingga dengan angkutan massal ekonomi masyarakat kecil akan tertolong.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jawaban itu yang membuat MA Mathalibul Huda unggul disusul SMAN 1 Rembang sebagai juara 2 dan juara 3 diraih MA Muallimat Kudus.

Kepala madrasah, H Sugiwanto yang diwakili pendamping lomba Ibnu Afif mengucapkan syukur atas prestasi tersebut. Hal itu, menurut Afif tidak lepas dari doa restu seluruh elemen madrasah. Juga karena di madrasahnya setiap kegiatan class meeting sering dilaksanakan lomba debat.

“Hal itu merupakan wahana mereka untuk berlatih sehingga saat lomba sudah ada persiapan sebelumnya,” paparnya.

Dalam lomba yang sama, lanjut Afif anak didiknya juga pernah menyabet Juara III Parade Cinta Tanah Air (PCTA) tahun 2013 Se-Jawa Tengah dan 2012 menyabet Juara I debat bahasa Inggris di STIENU (kini UNISNU) dan IAIN Walisongo Semarang.

Dengan prestasi-prestasi tersebut ia berharap dapat memotivasi 600 siswa yang lain sehingga bisa saling berlomba-lomba dalam prestasi akademik maupun akademik. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Nahdlatul Ulama, Kajian Sunnah, Syariah Pondok Pesantren An-Nur Slawi