Minggu, 21 Februari 2016

Kunjungi Pesantren, Kak Seto Ingatkan Guru Cara Mendidik Anak

Majalengka, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Dengarkan suara anak, pahami keinginannya, dan beri kesempatan anak dalam memberikan pendapat. Jangan sampai guru menjadi sentral ilmu dan tidak memberikan ruang ketidakbebasan berpendapat.

Demikian disampaikan psikolog anak, Seto Mulyadi atau akrab disapa Kak Seto saat silaturahmi ke guru-guru di Pondok Pesantren al-Mizan Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat.

Kunjungi Pesantren, Kak Seto Ingatkan Guru Cara Mendidik Anak (Sumber Gambar : Nu Online)
Kunjungi Pesantren, Kak Seto Ingatkan Guru Cara Mendidik Anak (Sumber Gambar : Nu Online)

Kunjungi Pesantren, Kak Seto Ingatkan Guru Cara Mendidik Anak

“Jangan sekali-kali sekolah membunuh karakter siswa karena dengan keotoriteran guru dalam mengajar, akan tetapi beri kesempatan anak-anak mengungkapkan pendapatnya. Guru seharusnya menjadi seorang fasilisator bukan berinsiatif dalam belajar mengajar,” tuturnya, Rabu (4/11).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kak Seto melanjutkan, suasana belajar-mengajar yang menyenangkan juga akan membuat siswa betah di kelas dan guru bisa fokus pada materi dan target pembelajaran. “Banyaknya metode penghafal pada materi belajar akan tetapi siswa tidak memahami pada suatu permasalahan yang dihadapi. Seharusnya guru bisa membuat ruang kelas yang menyenangkan,” jelas mantan ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak ini.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sementara itu, Ketua Yayasan al-Mizan H.Asep Zaenal Aripin mengatakan, kegiatan ini patut disyukuri karena dengan banyaknya agenda Kak Seto masih bisa menghadiri acara yang sederhana ini.

“Kita masih bisa share dengan beliau banyak pengalaman dalam menghadapi kasus anak,” jelas pria lulusan UIN Yogyakarta ini. (Tata Irawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pendidikan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Irak Hancur Tanpa AS adalah Bohong Besar

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Keberadaan pasukan Amerika Serikat (AS) dan negara sekutunya di Irak dinilai tidak menguntungkan karena tidak mampu menciptakan keamanan dan perdamaian. Campur tangan negara adidaya tersebut justru menambah panjang kerumitan masalah yang dihadapi Irak, terutama pertikaian antara kelompok Syiah dan Sunni.

“Adalah bohong besar kalau AS keluar dari Irak, maka Irak akan hancur,” ujar Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi mengutip pernyataan Dubes Irak untuk Indonesia Falih Abdul Kadir Al Hayali usai bertemu dengannya di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Rabu (7/3)

Irak Hancur Tanpa AS adalah Bohong Besar (Sumber Gambar : Nu Online)
Irak Hancur Tanpa AS adalah Bohong Besar (Sumber Gambar : Nu Online)

Irak Hancur Tanpa AS adalah Bohong Besar

Menurut Hasyim, sebagaimana diungkapkan Falih Abdul, pertikaian antara kelompok Syiah dan Sunni di negeri 1001 Malam itu merupakan hasil rekayasa AS. Bersama negara-negara sekutunya, AS telah ‘memanfaatkan’ perbedaan-perbedaan paham antarsekte yang ada di Irak menjadi pemicu konflik.

“Kata Dubes (Falih Abdul Kadir Al Hayali-Red), memang ada perbedaan antara Syiah dan Sunni. Tapi perbedaan itu kemudian ‘diproses’ sehingga menjadi perang dan permusuhan. Yang memroses itu tentu Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya,” terang Hasyim yang juga Presiden World Conference on Religion for Peace.

Pertentangan antara Syiah dan Sunni di Irak yang kemudian berbuntut pada kekerasan, menurut Hasyim, baru terjadi belakangan, utamanya setelah AS mengagresi Irak sekaligus menumbangkan kekuasaan Saddam Hussein. Sebelumnya, dua kelompook tersebut hidup berdampingan dan saling menghormati. “Selama berabad-abad, kata Dubes, Sunni dan Syiah hidup damai dan berdampingan,” tandasnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Diungkapkan Hasyim, AS yang campur tangan terlalu jauh benar-benar telah merepotkan Irak sendiri untuk membangun kembali negaranya yang hancur akibat perang. Demikian pula dalam upaya pembentukan pemerintahan baru pasca-eksekusi mati Saddam Husein, menurutnya, Irak justru akan lebih nyaman jika tanpa intervensi pihak asing, terutama AS.

“Mereka (bangsa Irak) merasa yakin, pemerintahannya bisa berjalan dengan baik kalau tidak diintervensi oleh AS dan lain-lainnya. Mereka telah merasa direpotin oleh AS,” ungkap Sekretaris Jenderal International Conference of Islamic Scholars itu.

Dalam kesempatan itu, Hasyim mengungkapkan, intervensi AS terhadap Irak pada dasarnya tidak masalah jika hal itu dilakukan dalam upaya peredaan konflik. Namun, katanya, yang terjadi justru sebaliknya. AS justru selalu menciptakan ruang permusuhan di antara kelompok-kelompok Islam.

Demikian pula peran media massa dalam pemberitaan tentang kondisi Irak yang dinilai terlalu berlebihan. Padahal, katanya, kondisinya tidak seheboh yang diberitakan. “Dubesnya bilang sendiri sama saya, kondisi di Irak tidak sehebat yang diberitakan di media massa,” ujarnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sambut Positif Pertemuan Internsional

Sebagai upaya meredakan berbagai konflik antar-aliran di Timur Tengah, Hasyim mengungkapkan gagasan tentang rencana mempertemukan tokoh-tokoh Islam dunia dalam konferensi ulama-ulama besar terbatas Timur Tengah dan Asia Tenggara di Jakarta dalam waktu dekat. “Dubes menyambut positif gagasan itu,” pungkasnya. (rif)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi RMI NU, Humor Islam Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 05 Februari 2016

Manfaatkan Kamus Istilah Keagamaan untuk Hindari Kekeliruan Pahami Agama

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi



Di Indonesia terdapat enam agama yang diakui oleh negara, yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Masing-masing agama tentu memiliki istilah keagamaan yang sifatnya spesifik. Untuk menghindari kesalahan pemaknaan terhadap istilah-istilah keagamaan tersebut Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan LKK) membuat sebuah Kamus Istilah Keagamaan (KIK).

KIK pada dasarnya merupakan sebuah buku besar yang memuat entri pilihan yang disusun secara alfabetik menyangkut aspek keyakinan, hukum, etika, moral, dan sosial kemasyarakatan yang dipraktekkan dalam agama di Indonesia, khususnya Islam, Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Budha, dan Konghucu.?

Manfaatkan Kamus Istilah Keagamaan untuk Hindari Kekeliruan Pahami Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Manfaatkan Kamus Istilah Keagamaan untuk Hindari Kekeliruan Pahami Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Manfaatkan Kamus Istilah Keagamaan untuk Hindari Kekeliruan Pahami Agama

Dalam laporan yang disusun Puslitbang LKK (2015), penyusunan KIK bertujuan melindungi keyakinan umat beragama dari kekeliruan dalam memahami ajaran agama dan lebih mendorong terwujudnya kerukunan antar umat beragama di Indonesia.?

Puslitbang LKK berharap kehadiran KIK diharapkan dapat, pertama menghindarkan kesalahpahaman atau salah pengertian masyarakat terhadap istilah keagamaan setiap agama. Kedua, memperkuat jalinan persaudaraan dan perekat kerukunan antara umat beragama. Ketiga, mendidik masyarakat untuk menghargai adanya perbedaan dalam hal keyakinan beragama, dan keempat sebagai bahan rujukan dalam penulisan buku, baik buku pelajaran pada lembaga-lembaga pendidikan maupun buku bacaan umum.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Proses penyusunan KIK yang berlangsung selama empat tahun ini, berhasil menyelesaikan sebuah produk yang memuat 9.134 entri meliputi peristilahan dalam agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khonghucu dengan berketebalan 623 halaman, yang bisa dimanfaatkan sebagai rujukan akedemik dan umum pemeluk agama di Indonesia. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Cerita, AlaNu, Nasional Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi