Jumat, 24 April 2009

Ansor Subang Sosialisasi Pilkada untuk Pemilih Pemula

Subang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Gerakan Pemuda Ansor Cabang Kabupaten Subang bekerjasama dengan Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kabupaten Subang menggelar sosialisasi Pemilihan Kepala Daerah di Auditorium Pamanukan, Subang. (19/12/2012).

Ansor Subang Sosialisasi Pilkada untuk Pemilih Pemula (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Subang Sosialisasi Pilkada untuk Pemilih Pemula (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Subang Sosialisasi Pilkada untuk Pemilih Pemula

Acara tersebut dihadiri oleh ratusan pemuda dan pelajar dari berbagai sekolah tingkat SLTA di Kabupaten Subang. Tampil sebagai narasumber Ketua KPUD Kabupaten Subang, Kaka Suminta. Menurut Ketua GP Ansor Kabupaten Subang, Asep Alamsyah Heridinata, target dari sosialisasi Pilkada ini ditujukan kepada pemilih pemula.

“Sengaja kami undang dari kalangan pelajar dan pemuda karena, mereka mayoritas sebagai pemilih pemula. Dengan sosialisasi ini, diharapkan mereka mampu menjalankan amanah undang-undang dalam menentukan hak pilihnya sebagai warga negara,” papar Asep.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Masih menurut Asep, sebagai pelajaran yang sangat berharga adalah dengan banyaknya surat suara yang tidak sah pada pemilu maupun pilkada tahun-tahun sebelumnya. Hal ini diindikasikan tingkat pemahaman masyarakat terutama pemilih pemula terhadap tata cara pemilihan masih belum maksimal.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Kita belajar dari pengalaman, dari yang sudah-sudah berapa banyak surat suara yang tidak sah. Itu diakibatkan dari tingkat pemahaman dalam menentukan hak pilihnya masih jauh dari harapan. Untuk itu, kami mencoba meminimalisir hal-hal tersebut agar dalam pilkada Jabar yang akan digelar tahun 2013 mendatang bisa dilaksanakan dengan baik,” lanjutnya.

Senada dengan Asep, Ketua KPUD Kabupaten Subang, Kaka Suminta mengatakan sosialisasi kepada kalangan pelajar itu ditekankan pada pentingnya menggunakan hak pilih guna menentukan masa depan pemimpin di Jawa Barat untuk jangka waktu lima tahun ke depan.

“Masa depan Jawa Barat ada di tangan mereka dalam jangka lima tahun ke depan. tentunya, dengan menggunakan hak pilihnya secara baik dan benar, hal tersebut bisa memberikan kontribusi yang positif untuk masa depan Jawa Barat nanti,” pungkas Kaka.

Redaktur ? : Mukafi Niam

Kontributor: Ade Mahmudien

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Nasional, News Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 10 April 2009

Membendung Radikalisme di Kampus

Oleh Wasid Mansyur

--Semua perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta hari-hari ini mulai kedatangan mahasiswa baru. Berbagai agenda awal rutinan menanti bagi mereka yang terdaftar, misalnya orientasi kemahasiswaan dalam rangka mengenalkan berbagai aktivitas kampus dari kegiatan kependidikan hingga kegiatan organisasi internal  kemahasiswaan.

Kehadiran mahasiswa menjadi petanda bahwa pendidikan tinggi ini masih dipandang salah satu lembaga penting dalam rangka melahirkan kader-kader masa depan sesuai dengan bidang-bidang yang digelutinya, meskipun tidak sedikit di antara anak bangsa itu tidak bisa mengikutinya akibat terjerat problem kemiskinan. Tidak ada harapan dari mereka, kecuali agar mampu memberikan kontribusi bagus bagi keberlangsungan dunia pendidikan di kampusnya masing-masing, sekaligus dari mereka muncul komitmen untuk terus terlibat dalam perbaikan apapun di negeri ini.

Namun, harapan itu mengalami beragam tantangan, khususnya berkaitan dengan perubahan cara berpikir mahasiswa yang berbeda bila dibandingkan ketika masih di tingkat Sekolah Menengah Atas atau Madrasah Aliyah. Dalam kondisi transisi pola pikir ini, mahasiswa mudah disusupi ideologi radikal oleh kelompok tertentu dengan ragam bentuknya, dari pendekatan personal hingga penyebaran pamflet yang berisi ajakan penegakan Syari’ah Islam dan Khilafah Islamiyah, termasuk menolak sistem demokrasi yang dipandang sesat.

Membendung Radikalisme di Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)
Membendung Radikalisme di Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)

Membendung Radikalisme di Kampus

Tak anyal, penulis dalam salah satu kesempatan di Pusat Ma’had Al-Jami’ah UIN Sunan Ampel, melihat keresahan tergambarkan dari para wali mahasiswa agar anak-anak mereka bebas dari segala bentuk radikalisasi. Ketakutan para wali ini cukup beralasan sebab tindakan kelompok radikal dengan nama apapun cukup meresahkan bukan saja dalam konteks keyakinan yang cenderung memaksakan dan memandang yang lain salah, tapi sering kali tindakannya bertentangan dengan spirit nilai-nilai berbangsa yang dibangun di atas pondasi kedamaian dalam perbedaan.

Maka, tidak heran beberapa kampus menjadi incaran, dan tidak sedikit berbagai tindakan radikal dan teror telah melibatkan mahasiswa dari kampus tertentu. Pertanyaannya, siapa yang bertanggungjawab?, padahal kampus adalah arena persemaian terdidik yang mengedepankan tradisi ilmiah, rasional dan pembibitan karakter berkepedulian pada sesama sebagai mana tersirat dalam nilai-nilai Tri Darma Perguruan Tinggi.

 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Perlunya Smart Movement. Munculnya ajakan jihad yang dilangsir media youtobe oleh kelompok radikal yang tergabung dalam Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) baru-baru ini memantik keprihatinan banyak pihak, apalagi ajakan jihad ini dilakukan oleh pemuda Indonesia. Memang, ISIS adalah gerakan lokal, tapi bila ajakannya dibiarkan tidak mustahil mahasiswa dan pemuda lainnya akan tertarik dengan model gerakannya, yang otomatis akan menjadi bom waktu bagi keutuhan NKRI.

Untuk itu, dalam konteks kampus perlu gerakan cerdas (smart movement) dalam membendung radikalisasi dengan jenis dan nama apapun, termasuk ISIS. Pertama, perlunya terus mengembangkan dan menebarkan nalar teologis yang lebih menyejukkan di kampus, apalagi dalam kampus-kampus umum yang notabenenya nuansa materi keagamaan lebih sedikit dari pada materi umum.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Bisa dibayangkan, bila kampus tidak melakukan filterisasi ideologi radikal atas materi keagamaan yang diajarkan. Setidaknya, pembibitan baru kelompok radikal akan bermunculan, bahkan kampus tertentu akan menjadi sarang radikalisme. Oleh karenanya, munculnya pesantren mahasiswa (ma’had al-Jami’ah) selama ini di berbagai kampus diakui adalah salah satu alternatif dari langkah membendung radikalisme, di samping peran para pengajar dan civitas kampus dalam memberikan keteladanan untuk menyuburkan teologi toleran dan moderat tidak kalah pentingnya.

Sementara kedua, harus ada orientasi jelas dari keorganisasi keagamaan, baik internal maupun eksternal. Artinya, organisasi kemahasiswaan harus semestinya bebas dari paham radikal dan berideologi keindonesiaan sebab mereka termasuk salah satu stakeholder komunitas kampus. Karenanya, sinergitas pimpinan kampus dengan organisasi mahasiswa menjadi penting agar komitmen pimpinan kampus memerangi radikalisme benar-benar direspon secara baik di level mahasiswa.

Dengan begitu, maka perlu kegiatan atau training apapun dilakukan secara masif agar tercipta dalam diri mahasiswa untuk selalu berkreasi dan berinovasi dalam menatap kehidupan, misalnya training kepemimpinan atau kewirausahaan serta kepenulisan. Pasalnya, pandangan sempit yang dialami para mahasiswa tertentu dalam memaknai hidup acap kali membuat mereka tergoda dalam mengambil jalan pintas untuk melakukan perubahan hidup, apalagi dengan “iming-iming” mendapat kebahagian abadi di Surga melalui semangat jihad.

Akhirnya, gerakan cerdas membendung radikalisme ini tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Harus ada kerja sama semua civitas akademik kampus,  sekaligus menjadikan radikalisme sebagai musuh bersama. Dengan cara-cara seperti ini, kita berharap radikalisme betul-betul tidak ada di kampus manapun, lebih-lebih di kampus umum karena memang kita hidup di Indonesia dengan nilai-nilai keragaman yang harus dipertahankan melalui sikap saling menghormati dan terus menyuburkan semangat gotong-royong.

 

Wasid Mansyur, Pengurus Pusat Ma’had al-Jami’ah UIN Sunan Ampel Surabaya, Aktivis Lembaga Dakwah NU Jawa Timur

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Lomba, Habib Pondok Pesantren An-Nur Slawi