Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Februari 2018

PMII Minta Pemanfaatan Hasil Migas untuk Kesejahteraan Rakyat

Bojonegoro, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Bojonegoro merayakan Harlah ke-56 PMII dengan beberapa rangkaian kegiatan acara. Termasuk salah satunya pembukaan Harlah ditandai dengan seminar dengan tema Mewujudkan Industrialisasi Migas Yang Ramah Lingkungan Untuk Kesejahteraan Masyarakat Bojonegoro di Gedung Paripurna DPRD Bojonegoro, Ahad (3/4).

Dalam seminar tersebut dihadiri para narasumber, pakar NGO, Joko Purwanto, Kepala Dinas ESDM, Agus Supriyadi, dari BLH, Lalim dan Komisi A DPRD Bojonegoro, Anam Warsito. Serta dihadiri ketua Mabincab PMII Bojonegoro, Ahmad Sunjani Zaid, Direktur Idfos, Ahmad Taufiq dan berbagai tamu undangan dari berbagai kampus dan organisasi kepemudaan.?

PMII Minta Pemanfaatan Hasil Migas untuk Kesejahteraan Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Minta Pemanfaatan Hasil Migas untuk Kesejahteraan Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Minta Pemanfaatan Hasil Migas untuk Kesejahteraan Rakyat

Ketua Panitia, M Zainul Ihwan menjelaskan perhelatan rangkaian harlah ke-56 Tahun PMII ini akan ada sembilan kegiatan yang dipersembahkan PC PMII Bojonegoro untuk kader, agama bangsa dan negara. "PMII memberikan kontribusi pemikiran dan gerakanya untuk membela bangsa dan penegak agama," jelasnya.

Sementara itu, Ketua PC PMII Bojonegoro, Ahmad Syahid mengajak semua pihak untuk peduli lingkungan dan kondisi lokal di Bojonegoro. Pasalnya saat ini problem sosial semakin tinggi, bagaimana menyelaraskan itu adalah tugas kita sebagai pemuda negeri ini.

"Misalkan migas, maka harus ada sumbangsih nyata pengelolaan Migas untuk pembangunan SDM dan ekonomi yang berkelanjutan serta tidak boleh merusak lingkungan kita. Agar daerah ini tidak mendapat kutukan sumberdaya migas," terangnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Seluruh narasumber mengapresiasi kegiatan PC PMII, yang tidak hanya peduli sosial kemasyarakatan. Tetapi lingkungan dan dampak-dampak lainnya yang merugikan masyarakat. Sehingga pemerintah dan organisasi kepemudaan dapat bersinergi, dalam menyelesaikan persoalan yang terjadi.

Agus Supriyadi, selaku kepala dinas ESDM menyampaikan bahwa saat ini Pemerintah Daerah sudah penuh inovasi dalam mengelola migas, agar bisa mensejahterakan masyarakat Bojonegoro, baik dari sektor ? pendidikan, kesehatan, pertanian dan infra struktur.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Dengan adanya dana migas, Pemerintah mulai membenahi berbagai sektor di daerah ini. Sehingga Bojonegoro sudah tidak lagi kabupaten terbelakang di Jawa Timur," ungkapnya.

Narasumber dari BLH, Lalim mengungkapkan, industrialisasi tidak bisa dilepaskan dengan lingkungan. Sehingga ia selalu menuntut perusahaan, agar peduli lingkungan. Pasalnya lingkungan menjadi faktor utama dalam pelestarian sosial kemasyarakatan.

Berbeda dengan pakar NGO Bojonegoro, Joko Purwanto menyampaikan bahwa industri ekstraktif akan mewujudkan kesejahteraan masyarakat bila adanya transparansi dalam pengelolaan dan pengalokasian dananya.

"Selain transparansi menjadi syarat utama terwujudnya pemerintahan, transparansi juga akan membudayakan kejujuran mulai dari perencanaan, pengelolaan dan pengevaluasian program multi stake holder," tandasnya.?

Sedangkan Komisi A DPRD Bojonegoro, Anam Warsito mengatakan kelemahan mengelola migas dengan baik antara lain adalah kurang adanya sinkronisasi program pemerintah dengan prrusahaan bahkan dengan RKPJMD. "Adanya migas jangan membuat mental pejabat kita membangun gedung-gedung yang kurang pro poor. Pemerintah eksekutif harus tahu skala prioritas," pungkasnya. (M Yazid/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Amalan, Quote, Pendidikan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 27 Januari 2018

LAZISNU Boyolali Utamakan Bantuan Produktif

Boyolali, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Program NU’Preneur yang diadakan Lembaga Amil Zakat Infak dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kabupaten Boyolali Jawa Tengah diutamakan untuk memberikan bantuan modal usaha dalam bentuk bantuan produktif.

LAZISNU Boyolali Utamakan Bantuan Produktif (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Boyolali Utamakan Bantuan Produktif (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Boyolali Utamakan Bantuan Produktif

Bantuan dalam bentuk fisik seperti sepeda dan gerobak tersebut dirasa lebih tepat sasaran. “Kalau diberikan modal, takutnya nanti dipakai untuk yang lain,” kata Awang Yulias Supardi kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi, Selasa (24/3).

Maka dari itu, tambah salah satu pengurus LAZISNU Kabupaten Boyolali, ini bantuan modal kami berikan dalam bentuk fisik seperti alat masak, gerobak, sepeda dan lainnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pemberian bantuan tersebut juga disesuaikan dengan usaha yang dilakukan warga. “Semisal usaha bengkel kita berikan kompresor, penjual somay kita berikan sepeda atau gerobak,” ujar dia.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Awang yang juga pengurus PAC Ansor Banyudono menambahkan warga yang tidak mampu dapat mengajukan untuk mendapat bantuan dari LAZISNU Boyolali. “Tidak harus warga NU, tetapi pengajuan mesti mendapat rekomendasi dari MWC setempat,” paparnya.

Selain program NU’Preneur, LAZISNU Boyolali yang beralamat di Jl. Boyolali – Semarang km. 1, Winong, Boyolali tersebut juga memiliki program lain seperti NU Smart, NU Care, dan NU Skill. (Ajie Najmuddin/Abdullah ? Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pendidikan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 24 Januari 2018

Mendes PDTT Eko Terjun Langsung Pantau Kebakaran di Kantornya

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Eko Putro Sandjojo, memantau langsung lokasi kebakaran yang terjadi di lantai tiga Gedung Transmigrasi, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) Senin (28/8) pagi. Menteri Eko menerbangkan drone atau pesawat kamera tanpa awak dan masuk langsung ke lokasi.

Mendes PDTT Eko Terjun Langsung Pantau Kebakaran di Kantornya (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendes PDTT Eko Terjun Langsung Pantau Kebakaran di Kantornya (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendes PDTT Eko Terjun Langsung Pantau Kebakaran di Kantornya

Menteri Eko mulai menerbangkan drone sekitar pukul 10 saat asap mulai berkurang. Drone tersebut diterbangkan tepat di depan jendela ruangan yang terbakar, yakni di lantai tiga. Setelahnya, ia juga memantau kondisi lantai empat Gedung Transmigrasi yang terkena dampak kebakaran.

Setelah menerbangkan drone, Menteri Eko juga langsung mendatangi lokasi kebakaran. Dipandu sejumlah petugas pemadam kebakaran Suku Dinas Jakarta Selatan, Menteri Eko masuk ke dalam ruangan menggunakan alat pengaman pernafasan atau breathing apparatus. Sekitar 30 menit dirinya mengecek lokasi tersebut.

"Yang saya lihat tidak ada berkas yang terbakar. Penanganannya tadi cepat. Saya tidak ingin mengambil kesimpulan apa penyebab utamanya," ungkapnya saat dirinya kembali turun. 

Menteri Eko akan mengevaluasi perawatan gedung perkantorannya. Dirinya pun meminta pihak kepolisian untuk segera mengusut peristiwa yang terjadi di kantornya. Selain itu, Menteri Eko juga mengapresiasi kecepatan petugas Damkar yang mengendalikan keadaan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Saya berterima kasih kepada petugas Damkar yang dengan cepat melokalisir kebakaran sehingga api tidak cepat merembet ke ruangan dan gedung lainnya. Saya juga minta polisi segera turun untuk mengusut peristiwa ini," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Biro Humas dan Kerjasama, Fajar Tri Suprapto, menjelaskan, asap mulai mengepul sejak pukul 9 pagi tadi. Dengan sigap, petugas keamanan kementerian langsung mengevakuasi karyawan ke tempat yang lebih aman.

"Awal mula berasal dari lantai tiga, kemudian naik ke lantai empat. Berawal dari panel listrik dan AC," ujar Fajar.

Lokasi yang terbakar, lanjut Fajar, adalah Gedung A, salah satu ruangan di Direktorat Jenderal Penyiapan Kawasan dan Pembangunan Permukiman Transmigrasi (Ditjen PKP2Trans). Untuk sementara kegiatan di Ditjen PKP2Trans dialihkan ke ruangan lain. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Saat ini lokasi sudah kembali kondusif. Karyawan lain sudah kembali bekerja. Pembersihan masih terus dilakukan untuk memastikan lokasi yang terbakar dalam kondisi aman sepenuhnya," sambungnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pendidikan, Tegal, Pesantren Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 10 Januari 2018

Buya Leter, Sosok Pemegang Teguh Agama dengan Adat

Tidak banyak ulama yang mampu memahami pertautan agama dengan adat Minangkabau di Sumatera Barat. Di tengah mencuatnya Islam Nusantara yang mengakar dan tumbuh di tengah masyarakat Indonesia, di Sumatera Barat dikenal ungkapan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS SBK).?

Ungkapan ini menempatkan bagaimana adat Minangkabau yang sudah ada di tengah masyarakat Minangkabau dapat diselaraskan dengan nilai-nilai agama Islam. Adat yang sudah duluan ada di tengah masyarakat, tidak dipertentangkan dengan Islam. Namun bagaimana ? adat tersebut dapat dijiwai dengan nilai-nilai agama. Buya Leter adalah sosok pemegang teguh perpaduan tersebut.?

Buya Leter, Sosok Pemegang Teguh Agama dengan Adat (Sumber Gambar : Nu Online)
Buya Leter, Sosok Pemegang Teguh Agama dengan Adat (Sumber Gambar : Nu Online)

Buya Leter, Sosok Pemegang Teguh Agama dengan Adat

Sosok Awan PBNU Buya Drs. H. Tuanku Bagindo Mohammad Leter, yang masuk dalam daftar 39 ulama yang diusulkan sebagai calon anggota Ahlul Halli wal Aqdi merupakan ulama Minang yang mampu memadukan adat Minang dengan nilai-nilai Islam yang ada di Sumatera Barat. ? Buya Leter kelahiran Pakandangan 16 April 1934, diangkat menjadi tuanku di Surau (Pesantren) Mato Aia, Pakandangan, Kabupaten Padangpariaman, Sumatera Barat tahun 1971. Itu artinya ? Leter sudah diakui sebagai tamatan pesantren dan memiliki pengetahuan agama.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sebelumnya, Buya Leter sudah belajar di Madrasah MIT Pakandangan tahun 1948. Melanjutkan pendidikan ke SMP Persatuan Guru Indonesia Bukittinggi (1948) dan menamatkannya di SMP IPP Bukittinggi tahun 1953. Masuk Sekolah Guru dan Hakim Agama (SGHA) Negeri tahun 1956 di Yogyakarta. Dari sana, Leter menamatkan sarjana muda IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 1964 Fakultas Tarbiyah. Sedangkan sarjana lengkap diselesaikan tahun 1970 di tempat yang sama.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan dari kolonial Belanda, tahun 1947-1948 Leter bekerja di bengkel senjata Mobil Brigade (sekarang Brimob) di Bukittinggi. Dari sana, menjadi Tentara Pelajar (1948-1949) di Bukittinggi. Tamat SGHA, Leter diangkat menjadi PNS di Kabupaten Bengkalis, ditempatkan di Bagansiapi-api menjabat Kepala Sekolah Pendidikan Guru Agama Pertama (PGAP) Alwashliyah (1957-1961).

Ketika di Yogyakarta tahun 1954, Leter turut aktif dalam pendirian Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama bersama Prof.Dr. KH Chatibul Umam (sekarang salah seorang pengurus PBNU). Di tengah sibuk menyelesaikan kuliah tahun 1966, dipanggil mengikuti wajib militer untuk SEPACAD-AD di Bandung. Setelah mengikuit latihan 6 bulan, muncul kebimbingan antara ingin meneruskan karir militer, menyelesaikan sarjana lengkap IAIN dengan kembali ke PNS. Akhirnya, melalui SK Menteri Agama, 31 Agustus 1967 ditugaskan menjadi Penilik Pendidikan Agama di Kabupaten Padangpariaman. Hanya dua bulan kemudian, Bupati Padangpariaman Mohammad Noer memintanya jadi anggota DPRDGR Padangpariaman dari Partai Nahdlatul Ulama, terpilih menjadi Wakil Ketua I DPRDGR Padangpariaman hingga 1971.

Dari Padangpariaman, Leter pindah bertugas ke Departemen Agama Sumatera Barat. Sebagai ulama, dipercaya sebagai Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumbar (1975-1991). Tahun 1979 Leter diminta menjadi pengurus Golkar. Leter menolak karena semua orang tahu ia dari Partai NU dulunya.

"Kalau Buya tidak masuk, tidak ada ulama di Golkar. Siapa yang akan memberikan nasehat jika dibutuhkan. Jangan-jangan orang lain yang tidak jelas keulamaannya. Setelah berkonsultasi dan restu dari tokoh NU di Sumatera Barat, saya pun bersedia. Karena tujuannya juga untuk berdakwah, menegakkan Islam Ahlussunnah Waljamaah. Ternyata langsung ditempatkan di jajaran Wakil Ketua DPD Golkar Sumatera Barat," kenang Buya Leter, yang dua periode menjadi anggota DPRD Sumatera Barat, kepadaPondok Pesantren An-Nur Slawi Selasa (14/7/2015) di kediamannya, kawasan Ulakkarang Padang.

Setelah tidak di politik, aktifitas Leter tidak pernah sepi. Berdakwah ke berbagai masjid, surau, ? majelis taklim. Belum lagi berbagai pertemuan ilmiah, seminar, pelatihan, workshop dan diskusi. Sebagai Wakil Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) periode 2005-2010, Leter semakin memiliki ruang memadukan adat Minangkabau dengan agama Islam. Leter paham betul bagaimana perpaduan adat Minang ? dan Islam sebagaimana ? ungkapan ? Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS SBK). Dengan jejak rekam itu, nyaris tidak ada masyarakat di Sumatera Barat yang tak kenal dengan Buya Leter ini. Banyak tokoh nasional yang datang ke Sumatera Barat, Buya Leter turut mendampinginya.

Penulis buku, Tuntutan Rumah Tangga Muslim dan Keluarga Berencana ini, belakangan sering mengisi dakwah di Stasiun TVRI. "Materi yang disampaikan Buya Leter menarik, simpel dan mudah dipahami. Saya senang dan sering nonton," tutur Pengurus PP Lesbumi M. Dinal kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi ? beberapa waktu lalu di Jakarta.

Aktivitas organisasi yang dilalui ? Leter diantaranya, Sekretaris ? Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia Bukittinggi (1950-1952), Ketua Umum Persatuan Pelajar Sekolah Guru (PPSG) Daerah Istimewa Yogyakarta (1955-1957), Pengurus Cabang PII (Pelajar Islam Indonesia) Cabang Yogyakarta ? (1954-1956), Sekretaris Dewan Mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (1964-1966), Wakil Ketua Presiden MMI (Majelis Mahasiswa Indonesia) Yogyakarta (1965-1967), Ketua Koordinator Dema/Sema Universitas dan Perguruan Tinggi Islam ? DI. Yogykarta ( 1965 - 1967), Pengurus Ex. Tentara Pelajar/ Pelajar Pejuang Sumatera Tengah Komisaris Daerah Sumatera Barat (1980), Anggota LAKSUSDA Penanggulangan Bahaya Komunis Kodam III/ 17 Agustus (1981-1983), Wakil Ketua PKBI Prop. Sumatera Barat (1981-1989), Wakil Sekretaris Panitia MTQ tingkat Nasional ke XIII ? di Sumatera Barat (Padang) (1982-1983), Wakil Ketua PDK Kosgoro Prop. Sumatera Barat (1986-1991), Ketua Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Propinsi Sumatera Barat (1988-1993), Ketua Satkar Ulama Prop. Sumatera Barat ? (1994-1999), Wakil Ketua I PMI ? (Palang Merah Indonesia) Prop. Sumatera Barat ? (1994-sek.), Wakil Ketua LPTQ (Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran) Prop. Sumatera Barat ( 1999-sek.), Ketua Umum Ikatan Mubaligh Sumatera Barat (2002-sek.), Musytasar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Sumatera Barat (2003 – 2004), Wakil Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Sumatera Barat (2005 – 2010) dan sekarang Awan PBNU (2010-2015). (armaidi tanjung)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pendidikan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 27 Desember 2017

Kisah Wallaili Wannahar Ditulis dalam Hitungan Hari

Yogyakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Novel Layla karya Candra Malik dibedah di Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum Yogyakarta, Ahad (7/5). Selain penulis, hadir sebagai pembicara Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia – New Zealand, Nadirsyah Hosen dan Rektor UNU Yogyakarta, Purwo Santoso.

Candra Malik mengaku menyelesaikan naskah novel ini hanya dalam waktu empat hari dan berbekal hp android. Lebih lanjut ia menjelaskan lahirnya novel ini merupakan ikhtiar untuk mengajak kalangan pesantren untuk menulis sastra. “Saat ini dunia pesantren mulai krisis sastrawan,” kata Wakil Ketua Lesbumi PBNU ini.

Kisah Wallaili Wannahar Ditulis dalam Hitungan Hari (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Wallaili Wannahar Ditulis dalam Hitungan Hari (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Wallaili Wannahar Ditulis dalam Hitungan Hari

Novel Layla menceritakan kisah hidup Wallaili Wannahar yang berubah ketika diterima sebagai murid oleh Abah Suradira, seorang mursyid yang mengajarkannya ilmu tasawuf. Di tengah-tengah proses belajarnya, Lail menghadapi dilema. Lail  jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Layla.“Seseorang akan diuji pada titik kekuatannya paling tinggi. Titik kekuatan Lail adalah cinta. Disini Allah menguji Lail dalam bentuk perempuan bernama Layla. Kemudian Lail pun menjadi limbung.“ papar Gus Nadir.

Novel ini menawarkan kisah cinta yang tidak biasa. “Ketika membaca novel tersebut, seperti silih berganti membaca antara sajak dan puisi, ada kenikmatan tersendiri yang saya rasakan. Gus candra, berani keluar dari zona nyaman. Ngajinya beliau dalam hal sufisme dikomunikasikan keluar dalam bentuk sastra. Sastra itu mengasah budi, Tasawuf juga mengasah budi,” kata Purwo menyampaikan salah satu keunggulan novel Layla.

Bedah buku yang berlangsung cukup lama ini diikuti oleh sekitar 500 peserta dari berbagai kalangan pesantren, pemerhati budaya dan masyarakat umum. Bedah buku ini berlangsung cukup meriah diselingi dengan guyonan sehingga diskusi berlangsung dengan menarik. Acara yang diprakarsai oleh PP. Ali Maksum Krapyak bekerjasama dengan penerbit Bentang ini juga membagikan beberapa buku secara gratis. (Zulfa/Zunus)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Tegal, Pendidikan, Kajian Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 21 Desember 2017

500 Banser Sumut Gelar Apel Akbar

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Sebanyak lima ratus anggota Banser melangsungkan apel kesetiaan terhadap Pancasila di Lapangan Asrama Haji, Medan, Sumatera Utara. Mereka memperingati hari lahir Pancasila yang jatuh pada awal Juni.

Instruktur apel akbar ini adalah Ketua GP Ansor Sumut Mulia Banurea. Mereka melangsungkan apel Jumat (3/6) dengan tema Mewujudkan Kemandirian Bangsa Dalam Bingkai NKRI dan Pancasila.

500 Banser Sumut Gelar Apel Akbar (Sumber Gambar : Nu Online)
500 Banser Sumut Gelar Apel Akbar (Sumber Gambar : Nu Online)

500 Banser Sumut Gelar Apel Akbar

Sementara acara peringatan Harlah Ke-82 GP Ansor dihadiri tokoh NU Sumut Ir Husni Kamil Manik yang juga Ketua KPU RI.

“Pada kesempatan ini kita mengadakan pengukuhan majelis zikir dan shalawat Rijalul Ansor dan pengukuhan Koperasi Ansor Sejahtera di aula Jabal Nur, Asrama Haji Medan,” kata Ketua PP GP Ansor Hasan Basri Sagala yang hadir di lokasi acara.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Tampak hadir pada peringatan ini Gubernur Sumut Ir Tengku Ery Nuradi, Ketua PP GP Ansor Hasan Basri Sagala.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sebelumnya GP Ansor Sumut melangsungkan kaderisasi dengan instruktur Muhammad Adnan Anwar. Ia menyampaikan materi di LI 1 PW Ansor Sumut di Asrama Haji Medan, Rabu-Jumat (1-3/6). Sebanyak 62 peserta mengikuti pelatihan ini. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pendidikan, Doa, Nusantara Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 17 Desember 2017

Santri Harus Mampu Seimbangkan Urusan Dunia dan Akhirat

Kudus, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Hidup seorang santri harus mempertimbangkan dua hal, yakni kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Keseimbangan hidup untuk tetap berdaya guna di kehidupan dunia ini menjadi penting adanya, namun tetap pada jalur tidak melupakan bekal untuk kehidupan di akhirat.

Demikian salah satu pesan KH Fathur Rahman, pimpinan Ma’had Qudsiyyah Kudus Jawa Tengah dalam penutupan ngaji posonan Ma’had Qudsiyyah, pada Sabtu (25/6) malam .

Santri Harus Mampu Seimbangkan Urusan Dunia dan Akhirat (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Harus Mampu Seimbangkan Urusan Dunia dan Akhirat (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Harus Mampu Seimbangkan Urusan Dunia dan Akhirat

Kiai Fathur menjelaskan, untuk sukses di kehidupan dunia, santri harus profesional dan kreatif. “Tantangan kita semakin berat, perkembangan teknologi kian cepat. Santri harus mampu menguasai, jangan sampai ketinggalan,” katanya.

Ia berpesan santri jangan hanya fokus pada mapel kitab dan salafiyah saja, tetapi mengabaikan ilmu-ilmu yang bersifat duniawi. “Ora dadi pitakon kubur, kudu diilangi, ora oleh dadi alasan (slogan “tidak jadi pertanyaan di alam kubur” harus dihilangkan, tidak boleh jadi alasan meninggalkan pelajaran-pelajaran umum),” pesan beliau.

Di hadapan sekitar 150 santri yang ikut ngaji posonan di Ma’had Qudsiyyah, kiai dari Padurenan Gebog Kudus ini berpesan, semua ilmu harus dipelajari dan didalami. Tidak boleh membeda-bedakan ilmu dunia dan ilmu akhirat.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Untuk mampu menjadi profesional dan berhasil di dunia, kiai Fathur berpesan agar selalu serius dalam mencari ilmu dan tidak membeda-bedakan ilmu. Bekal untuk kehidupan di dunia harus dipersiapkan dengan ilmu dan keahlian. ?

Di sisi lain, Kiai Fathur juga berpesan jangan sampai melupakan kewajiban untuk kehidupan di akhirat. Tugas dan bekal untuk akhirat jangan sampai dilupakan. “Jangan sampai terbuai di dunia, sehingga melupkan kewajiban-kewajiban untuk bekal di akhirat,” ? katanya.

Ia menjelaskan, untuk bekal di akhirat, santri harus mulai sregep dan fokus pada shalat fardlu dan shalat-shalat yang disunnahkan. “Jangan sampai hanya melaksanakan shalat wajib saja, juga harus dimulai dengan rutin melaksanakan shalat sunnah seperti rawatib, witir, dan Dhuha,” jelasnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dengan menjalankan dan memperhatikan shalat wajib dan shalat sunnah, maka akan semakin mudah untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah sebagai bekal untuk kehidupan di akhirat nanti. (Muhammad Kharis/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pendidikan, Humor Islam, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 16 Desember 2017

Kagumi KH Wahab Chasbullah, Asad Ali Siap Jadi Penggerak NU

Jombang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Calon Ketua Umum PBNU KH Asad Ali mengungkapkan kekagumannya kepada salah seorang tokoh pendiri Nahdlatul Ulama KH Wahab Chasbullah. Ia menyatakan siap menjadi penggerak NU sebagaimana Mbah Wahab.

Hal itu disampaikannya dalam acara peluncuran buku “KH Abdul Wahab Chasbullah, Hidup dan Perjuangannya,” karya Drs Choirul Anam di Pondok Pesantren Tambak Beras Jombang, Senin (3/8) malam.

Kagumi KH Wahab Chasbullah, Asad Ali Siap Jadi Penggerak NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kagumi KH Wahab Chasbullah, Asad Ali Siap Jadi Penggerak NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kagumi KH Wahab Chasbullah, Asad Ali Siap Jadi Penggerak NU

"10 tahun sebelum NU lahir Mbah Wahab sudah mendirikan Nahdlatul Wathon, atau sekolah kemangsaan. Jauh sebelum Indonesia merdeka beliau sudah berfikir nasionalisme dan kebangsaan yang dijiwai oleh agama Islam," katanya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

As’ad mengatakan, Mbah Wahab adalah sosok penggerak, meski demikian ia tidak mendahului kehendak ulama. “Waktu itu beliau mengusulkan untuk mendirikan NU, tapi Mbah Hasyim mengatakan mau akan istikhoroh dulu. Kiai Wahab pun manut,” katanya

Asad melanjutkan, salah satu peninggalan penting dari Mbah Wahab adalah mars Yahlal Wathon. Tahun 1916 mars ini wajib dinyanyikan sebelum sekolah di Nahdlatul Wathon. "Salah satu syair yang paling penting adalah Wala takun minal hirman, jangan kalian menjadi bangsa terjajah," katanya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurut Asad, setelah mendapat petunjuk dari KH Maimun Zubair, ia meminta para musisi muda NU untuk menggubah lagu Ahlal Wathon seperti yang saat ini populer. "Mars Ahlal Wathon ini kita jadikan lagu wajib setiap kaderisasi PBNU. Lagu ini bisa menggerakkan kita. Apa gunanya berorganisasi kalau tidak bergerak," katanya.

Putra Kiai Wahab Chasbullah, KH Hasib Wahab dalam kesempatan itu menyatakan rasa syukurnya, satu lagi buku tentang Kiai Wahab telah diterbitkan.

"Mbah Wahab mungkin tidak mau ditulis, bahkan tidak mau mendapat gelar pahlawan nasional. Tapi buku semacam ini penting untuk mengenalkan para tokoh sesepuh dan pejuang kepada generasi berikutnya. Buku ini sangat berharga yang akan dikenang sampai nanti," katanya.

Choirul Anam mengatakan, buku KH Wahab Chasbullah: Hidup dan Perjuangannya setebal 400-an halaman itu ditulis saat dirinya dalam kondisi sakit. Beberapa bagian dari isi buku belum selesai dan baru akan dimuat dalam edisi berikutnya.

Dalam kesempatan itu Asad Said Ali meminta ratusan Nahdliyin yang hadir berdoa untuk kesehatannya. "Insyaallah setiap karya baru yang dilahirkan oleh Cak Anam akan menjadi obat bagi para penulisnya," katanya. (A. Khoirul Anam)

Foto: H As’ad Said Ali bersama penulis buku Choirul Anam dan Gus Hasib putra Kiai Wahab Chasbullah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Syariah, News, Pendidikan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kang Said: Hormati Kebhinnekaan, Jaga Keharmonisan

Pringsewu, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj yang lazim disapa Kang Said mengingatkan warga NU untuk selalu terdepan menjaga kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Menurutnya, warga NU terutama para pengurusnya harus mengedepankan nilai-nilai ke-Nuan di tengah masyarakat.

Demikian disampaikan Kang Said dalam acara khotmil kutub santri pondok pesantren Riyadlotut Tholibin Sidomukti Pringsewu, Sabtu (3/5) malam.

Kang Said: Hormati Kebhinnekaan, Jaga Keharmonisan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Hormati Kebhinnekaan, Jaga Keharmonisan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Hormati Kebhinnekaan, Jaga Keharmonisan

Kang Said mengatakan, semangat kebhinekaan itu merupakan karakter dasar Nahdlatul Ulama selama ini. “NU akan bermanfaat bagi umat Islam dan menjadi benteng bagi bangsa Indonesia serta benteng pertahanan Islam Ahlus sunnah wal jamaah manakala NU mampu memenuhi empat syarat.”

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Di hadapan segenap santri dan masyarakat Pringsewu, Kang Said menyebutkan empat syarat yang meliputi pengembangan kajian agama, semangat kebangsaan, peningkatan ketakwaan, dan semangat kemanusiaan.

Selain menghadiri khatmil kutub, Kang Said melanjutkan perjalanannya ke kecamatan Gading Rejo, Pringsewu untuk menyampaikan taushiyah pada harlah Muslimat NU, Ahad (4/5). (M Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Warta, Makam, Pendidikan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 12 Desember 2017

Puisi: Untuk Kiaiku

Untuk Kiaiku

"Kelawan Allah Kang Moho Suci

Kudu rangkulan rino lan wengi"

Syiir yang begitu indah

Puisi: Untuk Kiaiku (Sumber Gambar : Nu Online)
Puisi: Untuk Kiaiku (Sumber Gambar : Nu Online)

Puisi: Untuk Kiaiku

Dari toa masjid reyot

Di belakang gubug kecilku

Kala malam itu

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Diam merenung sunyi

Dalam sepertiga malam

Terbayang lelaki senja

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Yang sangat mencintaiku?

Seperti darah dagingnya sendiri

Oh kiaiku...

Dosakah aku

Ketika dalam sujudku

Tak kucantumkan namamu

Dalam doaku?

Oh kiaiku...

Dosakah aku

Tak pernah sekalipun aku berdoa

Disamping pusaramu

Peristirahatan terakhirmu

Oh kiaiku...

Semoga

Barakah ilmu

Sampai anak cucuku

Barakah akhlaq

Sampai anak cucuku

Al-Fatihah...

Yogyakarta, 19 Februari 2017

Faragus Adam, Kader PMII Ashram Bangsa.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pendidikan, Sunnah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 10 Desember 2017

Perjuangan Gus Dur Diteladani Semua Kalangan

Kudus, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pada masa hidupnya, sikap kontroversial guru bangsa KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memang mengundang rasa sinis beberapa kalangan. Namun sekarang, semuanya mengakui dan meneladani perjuangan Gus Dur.?

Demikian yang dirasakan seniman lawak asal Kota Kudus Hidayat Marhaban dalam mengenang sosok presiden keempat Gus Dur.

Perjuangan Gus Dur Diteladani Semua Kalangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Perjuangan Gus Dur Diteladani Semua Kalangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Perjuangan Gus Dur Diteladani Semua Kalangan

Ditemui Pondok Pesantren An-Nur Slawi usai acara Haul Gus Dur di Kudus, Ahad (13/12) lalu, Marhaban sangat mengagumi sosok presiden keempat ini. Menurutnya, meski memiliki sikap Kontroversial tetapi Gus Dur sangat dihormati dan disegani.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Kita sangat mengakui Gus Dur adalah tokoh yang tidak ada bandingannya. Banyak yang merasa gelo? (menyesal) tidak sejalan dengan perjuangannya,” kata Marhaban.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ia mengakui ? dirinya selalu meneladani perjuangan Gus Dur terutama pluralisme. Dalam setiap kesempatan melawak, lanjut Marhaban, selalu mengedepankan nilai-nilai pluralism yang dikembangkan Gus Dur.

“Ajaran pluralism beliau tidak main-main,karena sangat berarti bagi bangsa ini. Saya sering meniru dengan manggung melawak di kegiatan-kegiatan agama non Islam,” tandas Marhaban.

Pelawak yang kondang lewat kelompok “Kretek Group” ini membenarkan pernyataan Gus Dur tentang islam tidak perlu dibela tetapi dihayati dan diamalkan. Menurut Marhaban, Islam sudah menjadi agama yang benar jadi tidak perlu dibela.

“Kalau dibela berarti Islam itu seakan memiliki kesalahan.Padahal telah menjadi agama yang benar dan rohmatal lil alamin," tambahnya.

Saat ditanya kapan mengenal cucu KH Hasyim Asy’ari ini, Marhaban ? mengaku pada waktu Gus Dur menjadi ketua dewan kesenian Jakarta. (DKJ).

“Ketika saya di Jakarta , Saya pernah manggung satu paket dengan Gus dur yang masih sebagai ketua DKJ,” tuturnya.

Terkait pandangan Gus Dur terhadap kesenian, Marhaban menegaskan Gus dur memiliki prinsip kesenian adalah kedamaian. Barang siapa ? yang melakukan aktifitas kesenian harus membawa kedamaian.

“Semangat kesenian dan kebudayaan belaiau sangat tinggi. Pokoknya tidak ada duanya tokoh sehebat Gus Dur,” kata Marhaban berapi-api.

Di akhir perbincangan, Marhaban berpesan generasi yang memiliki kebenaran ? harus merapatkan barisan untuk merubah kesalahan yang terjadi dinegeri ini.?

“Pandangan dan perjuangan Gus Dur harus ditularkan pada generasi sekarang. Karena kita sangat krisis kepemimpinan seperti sosok Gus Dur,” pungkas Marhaban.

Redaktur ? ? : A.Khoirul Anam

Kontributor : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Daerah, Pendidikan, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 05 Desember 2017

Lindungi Korban Trafficking, Indonesia Butuh Instrumen Internasional

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Trafficking Ai Maryati mengatakan masalah pekerja migran Indonesia adalah terkait dokumentasi. Hal ini sama keadannya dengan para imigran luar negeri di Indonesia. 

Oleh karenanya KPAI mendorong agar Indonesia meratifikasi pekerja buruh migran dari luar negeri. Hal ini sebagai salah satu cara Indonesia untuk bisa berperan aktif di The ASEAN Convention Trafficking in Person especially Women and Children (ACTIP).

Lindungi Korban Trafficking, Indonesia Butuh Instrumen Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Lindungi Korban Trafficking, Indonesia Butuh Instrumen Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Lindungi Korban Trafficking, Indonesia Butuh Instrumen Internasional

"Selain itu, pemerintah bisa memaksimalkan pencegahan, penanganan, dan pemulihan serta advokasi kebijakan dalam bidang trafficking," kata Ai Maryati kepada wartawan, Kamis (5/10).

Berdasarkan data yang dihimpun, jumlah data trafficking anak pada 2016 mencapai 112 di ranah prostitusi online. Dengan adanya sejumlah kasus perdagangan manusia di Indonesia, dibutuhkan sebuah intrumen internasional dalam rangka melindungi korban trafficking.

Terkait dengan korban trafficking, lanjut Maryati, KPAI akan terus  memastikan apakah kepentingan korban bisa dilayani atau dijadikan agenda oleh pemerintah. Dalam hal ini tentu berharap pemerintah yang progresif melihat peluang bahwa agenda ACTIP ini menjadi peluang besar bagi terselenggaranya perlindungan korban di kawasan ASEAN. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Tentu ini memberikan dampak yang luar biasa karena Indonesia adalah sending migran worker terbesar,” ujarnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selain itu, KPAI meminta pemerintah melihat dampak ratifikasi karena di Indonesia juga menerima banyak  pekerja migran dari luar negeri yang datang ke Indonesia. 

Akan tetapi, ungkap dia, dengan ACTIP ini memberikan dukungan kepada seluruh negara yang terlibat dengan penerimaan dan pengiriman untuk memiliki komitmen perlindungan terhadap korban.

"Hal lainnya, KPAI tetap meminta kepada seluruh kementerian untuk memberikan telaah dan respon serta memberikan upaya-upaya untuk menjelaskan  manfaat ratifikasi ACTIP," pungkasnya.  (Nita Nurdiani Putri/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Halaqoh, Pendidikan, Aswaja Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 04 Desember 2017

GP Ansor Cibogo Ingatkan Bahaya Radikalisme dan Hoax

Subang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas kader, Pengurus Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Cibogo menggelar kegiatan Pelatihan Kader Dasar (PKD). Kegiatan yang diikuti 40 orang peserta tersebut dilaksanakan di Majelis Talim Sirojul Rodulan Desa Cinangsi, Kecamatan Cibogo, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Sabtu-Ahad (28-29/1).

Dalam sambutan pembukaan kegiatan PKD, Rachmat, Ketua PAC GP Ansor Cibogo mengatakan bahwa saat ini radikalisme tumbuh subur di Indonesia. Menurutnya, untuk melawannya tidak perlu dengan cara yang sama.

GP Ansor Cibogo Ingatkan Bahaya Radikalisme dan Hoax (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Cibogo Ingatkan Bahaya Radikalisme dan Hoax (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Cibogo Ingatkan Bahaya Radikalisme dan Hoax

"Solusi paling arif telah dicontohkan oleh ulama NU, yakni dakwah dengan amar maruf bil maruf nahyi (‘an) munkar bi maruf; mengajak dengan cara yang baik dan mencegah juga dengan cara yang baik," paparnya

Kegiatan PKD ini, kata Rachmat, sebagai sarana penguatan internal, sebab serangan apa pun yang ditujukan kepada NU ataupun GP Ansor tidak akan berhasil ketika NU dan GP Ansornya telah kuat. GP Ansor, tambahnya, harus bisa tetap fokus dalam mengawal ulama, bangsa dan NKRI.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selain itu, Rachmat pun mengingatkan kepada para peserta tentang bahaya hoax yang kian marak di media sosial. Fenomena ini baginya bisa berdampak pada rusaknya keutuhan ukhuwah islamiyah (persaudaraan keislaman), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan kemanusiaan).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Jika mendapat informasi yang heboh jangan langsung di-share, cari dulu klarifikasinya melalui pihak yang bersangkutan atau bisa dicari di Google kebenarannya karena berita heboh pasti akan mendapat rating tinggi," ujarnya

Kegiatan PKD GP Ansor Cibogo ini dibuka oleh Beni Rudiono, Ketua DPRD Kabupaten Subang dan dihadiri oleh Pejabat Kemenag Subang,PCNU Subang, PC GP Ansor Subang, Muslimat NU Subang, pengurus MWC NU Cibogo, serta beberapa jajaran Muspika Kecamatan Cibogo. (Aiz Luthfi/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pendidikan, Nahdlatul, Syariah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 02 Desember 2017

Makna Saleh dan Macam-macamnya

Oleh Cecep Zakarias El Bilad



Setiap manusia senang berbuat baik. Secara naluri, dorongan untuk beramal saleh atau berbagi kebaikan ini ada pada diri setiap insan, bahkan pada orang yang jahat sekalipun. Di samping, karena memang amal saleh juga dapat memberikan manfaat balik bagi pelakunya.

Makna Saleh dan Macam-macamnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Makna Saleh dan Macam-macamnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Makna Saleh dan Macam-macamnya

Dalam Islam, amal saleh adalah perintah agama. Allah menjanjikan balasan yang berlipat-lipat bagi setiap perbuatan baik. Nabi SAW bersabda, “Setiap kebaikan yang dilakukan manusia akan dilipatgandakan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat...” (HR. Bukhari-Muslim).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Makna Saleh

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Orang yang gemar beramal saleh disebut orang saleh. Di kalangan umat Islam, predikat saleh adalah idaman bagi setiap orang. Ketika ada seorang bayi lahir, doa yang selalu terucap dari lisan orangtua maupun karib-kerabat adalah “semoga menjadi anak yang saleh/salehah.” Apa dan siapa sebenarnya orang saleh itu?

Secara etimologis, kata saleh berasal dari bahasa Arab sh?li? yang berarti terhindar dari kerusakan atau keburukan. Amal saleh berarti amal/perbuatan yang tidak merusak atau mengandung unsur kerusakan. Maka orang saleh berarti orang yang terhindar dari kerusakan atau hal-hal yang bersifat buruk. Yang dimaksud di sini tentu saja perilaku dan kepribadiannya, yang mencakup kata, sikap, perbuatan, bahkan pikiran dan perasaannya.

Tak hanya itu, dalam kamus al-Mu’jam al-Was?th kata shalu?a sebagai akar kata sh?li? juga berarti bermanfaat. Dengan menggabungkan dua makna ini, maka orang saleh berarti orang yang perilaku dan kepribadiannya terhindar dari hal-hal yang merusak, dan di sisi lain membawa manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Dengan kualitas tersebut, ia menjadi sosok harapan dan teladan bagi orang-orang di sekitarnya.

Macam Kesalehan

Dalam Al-Qur’an kata sh?li? disebutkan sebanyak 124 kali dalam berbagai variasi makna, termasuk bentuk jamaknya sh?li?n/ sh?li?t. Satu di antaranya adalah Surat al-Anbiya (105), yang mengabarkan tentang keberadaan dan peran penting orang-orang saleh bagi kehidupan di muka bumi, “Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur bahwa bumi ini dititipkan kepada hamba-hamba-Ku yang saleh.

Tentang ayat ini, Syekh Mutawalli Sya’rawi dalam Tafs?r asy-Sya’r?w? menjelaskan, bahwa di setiap tempat di muka bumi ini terdapat orang saleh. Ia ditugaskan Allah untuk mengatur dan mengelola lingkungannya. Ia bisa siapapun, tidak harus seorang Muslim.

Menurut Syekh Sya’rawi, orang saleh itu ada dua macam, saleh duniawi dan saleh ukhrawi. Pertama, saleh duniawi adalah saleh dalam arti asal, yakni orang yang berkepribadian baik sehingga di manapun berada ia tidak merugikan tapi justru banyak memberi manfaat bagi orang-orang di sekitarnya. Namun kesalehan semacam ini hanya berdimensi etis, bahwa apa yang dilakukannya itu baik atau benar berdasarkan pertimbangan akal sehat. Kesalehan tersebut bersifat universal dan dapat diakui secara rasional oleh semua manusia.

Orang saleh jenis ini bisa kita temukan di tempat mana pun di muka bumi ini. Ia bisa seorang muslim, non-muslim bahkan ateis sekalipun; apapun profesi, jenis kelamin dan status sosialnya. Di lingkungannya, ia menciptakan keadilan, keteraturan, kedamaian, kemajuan dan kemakmuran. Namun ibarat bangunan, kesalehan tersebut berdiri tanpa fondasi relijius-spiritual sehingga hanya berdimensi duniawi.

Kedua, saleh ukhrawi, yakni kesalehan yang lahir dari keimanan. Kebaikan yang dilakukan sebagai ekspresi dari ketaatan kepada Tuhan. Artinya, seseorang berkepribadian atau melakukan kebaikan tidak sekedar karena tuntutan etika, tapi juga atas kesadaran penuh sebagai seorang hamba Allah untuk berbuat baik kepada sesama hamba dan ciptaan-Nya. Untuk itu dalam setiap tindakannya, ia juga selalu memperhatikan aturan-aturan dan hukum agama, seperti halal dan haram, atau wajib dan sunnah.

Garis pembeda antara saleh duniawi dan ukhrawi ini ialah keimanan, sehingga saleh ukhrawi ini hanya bisa dimiliki oleh seorang Muslim. Kebaikan yang dilakukan bisa saja serupa, namun berbeda nilainya. Kesalehan ukhrawi bernilai dunia sekaligus akherat. Contohnya ketika seorang Muslim menyingkirkan paku di jalan. Ia melakukannya bukan sekedar karena dorongan etis untuk berbuat baik pada sesama manusia, tapi juga karena tuntunan agama untuk mencegah keburukan menimpa orang lain.

Seorang Muslim yang saleh menyadari bahwa dirinya bukan hanya sebagai manusia, tapi juga sebagai hamba Allah. Ia sadar, sebagai manusia tentu memiliki kekurangan. Namun ia berusaha agar kekurangannya itu bisa diminimalisir dan tidak merugikan orang lain. Sebaliknya, dengan kemampuan dan kelebihan yang dimilikinya, ia berupaya memberi manfaat sebanyak-banyaknya bagi orang lain dan lingkungannya.

Ia pun sadar bahwa hidup ini hanya sementara. Baik-buruk perilakunya selama hidup di dunia akan dipertanggungjawabkannya di hadapan Allah SWT kelak di hari kiamat. Inilah orang saleh yang barangkali dimaksudkan Allah dalam firman-Nya, “Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka akan ditempatkan bersama dengan orang-orang yang Allah anugerahi nikmat, yaitu para Nabi, para shidd?q?n, para syuhada, dan orang-orang saleh. Mereka adalah sebaik-baik teman.” (QS. An-Nisa: 69).

Berdasarkan ayat ini, orang saleh adalah satu di antara empat golongan manusia yang dimuliakan Allah. Di dunia ia memiliki banyak teman, dan di akherat ia akan mendapat nikmat. Wajarlah, bila anak saleh/hah menjadi dambaan setiap orangtua kepada anak-anaknya. Di samping karena, seperti menurut Syekh asy-Sya’rawi, anak yang saleh dapat memberikan kedamaian batin serta dapat menjadi kebanggaan tersendiri bagi kedua orangtuanya.

Jadi, sejatinya menjadi saleh adalah pilihan bagi siapa saja orang beriman. Sebagai manusia, setiap kita tentu mempunyai kelemahan dan kekurangan, namun itu semua adalah sisi manusiawi untuk disadari dan dikoreksi. Selain itu, manusia juga dibekali Allah dengan berbagai kemampuan dan kelebihan. Semua itulah yang menjadi modal baginya untuk berbagi kebaikan sebanyak-banyaknya kepada orang lain dan lingkungan.

Akhirnya kembali kepada diri masing-masing, kapan mau menjadi saleh. Wall?hu a’lam.

Penulis adalah Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan – IAIN Palangka Raya



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Tokoh, Internasional, Pendidikan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 30 November 2017

Pesantren Lembaga Peneguhan Multikulturalisme

Solo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pembahasan Pondok Pesantren tidak bisa lepas dari peran yang dimainkan oleh kalangan sufi penyebar Islam di Nusantara. Dengan demikian ketika di sebut Pondok Pesantren maka yang dimaksud adalah pesantren salafiyah yang membangun multikultural dan toleransi.?

Kalangan sufi penyebar Islam di Jawa tidak mempersoalkan wadah atau simbol, tapi mereka lebih concern terhadap isi dan substansi, seperti istilah sembahyang dan puasa", ungkap KH. Abu Hafsin dalam acara Workshop Pemikiran Pendidikan di Pesantren yang digagas oleh RMI Jateng di Hotel the Alana Solo, Kamis, (8/9)

Pesantren Lembaga Peneguhan Multikulturalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Lembaga Peneguhan Multikulturalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Lembaga Peneguhan Multikulturalisme

Selain itu, model gerakan dakwah yg di lakukan oleh kaum sufi bersifat Inklusif. "Gerakan sufi dalam menyebarkan Islam melalui gerakan memasukan nilai-nilai Islami tanpa mengubah konstruksi luar," tegas Ketua PWNU Jateng itu.

Untuk itu, gerakan pesantren NU sekarang agar tetap eksis ada dua, yaitu dengan pendekatan kontekstual, transformasi dan inklusif. ajak Abu Hafsin kepada Peserta Workshop yang dihadiri oleh pengasuh Pesantren se-Jawa.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Yang kedua, pemegang pesantren harus berkepribadian menarik, menampilkan kesederhanaan, ulet dan konsisten antara perbuatan dan ucapan.

Dengan demikian, ia berharap agen pesantren, pengasuhnya untuk kembali menengok sejarah pesantren zaman dulu dan melakukan inovasi. (Ahmad Rosyidi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pendidikan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 28 November 2017

Ketua PWNU Jatim Ingatkan Pesan Hadratussyekh

Bondowoso, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ketua Pengurus Wilayah NU (PWNU) KH Hasan Mutawakkil ‘Alallah mengingatkan kepada seluruh pengurus NU di tingkat cabang, wakil cabang, hingga ranting untuk kembali menghayati dan mengamalkan surat Ali Imran ayat 103 yang juga dikutip pendiri NU KH Hadratussyekh Hasyim Asy’ari dalam kitabnya.

Ketua PWNU Jatim Ingatkan Pesan Hadratussyekh (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua PWNU Jatim Ingatkan Pesan Hadratussyekh (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua PWNU Jatim Ingatkan Pesan Hadratussyekh

"Bersatu padulah, kompaklah di dalam berbegang tegung terhadap tali Allah, agama Allah, dan jangan bercerai-berai," pintanya dalam acara halal bihalal dan pelantikan pengurus baru PCNU Bondowoso periode 2015-2021, Ahad (24/7) siang.

Ayat tersebut dinukil Hadratussyekh sebagai bagian dari materi Qanun Asasi li Jam’iyyati Nahdlatil Ulama atau undang-undang dasar NU. Menurut pengasuh Pesantren Zainul Hasan Genggong, Probolinggo ini, Qanun Asasi merupakan dokumen penting di balik berdirinya NU puluhan tahun lalu.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Mutawakkil mengimbau para pengurus untuk menata niat dalam mengabdi di NU. Ia berusaha meyakinkan kepada para pengurus bahwa akan ada banyak berkah yang datang ketika mengabdi di NU.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Saya yaqin haqqul yaqin karena Nahdlatul ulama adalah organisasi para aulia’, saya ulang-ulang ini, Nahdlatul ulama pemiliknya adalah para wali bahkan ruh perjuangan NU adalah nilai-nilai dakwah dan Islam Wali Songo," ungkapnya.

Mutawakkil mengatakan bahwa menjadi pengurus NU tidak mendapat bayaran apa-apa, melainkan doa para wali,? para pendiri NU. “Siapa yang berjuang menegakkan agama Allah melalui jamiyah Nahdlatul Ulam, mudah-mudahan barokah amal ibadahnya, barokah umurnya, barokah rezekinya, barokah keturunannya, mendapat dzurriyatan tauyibah dan mendapatkan husnul khatimah,” ujarnya.

Halal bihalal dan pelantikan berlangsung di di Pondok Pesantren Darus Falah Desa Ramban Kulon, Kecamatan Cermee, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, dengan mengambil tema "Meneguhkan Khidmah NU dan Islam Nusantara Demi Keutuhan NKRI”.

Turuh hadir dalam acara tersebut Bupati Bondowoso H Amin Said Husni, Wakil Bupati Bondowoso KH Salwa Arifin, Ketua DPRD H Ahmad Dafir, dan perwakilan dari Polres Bondowoso, Kodim 0822, Polsek Cermee, Danramil Cermee, Camat se-Kabupaten Bondowoso, utusan ormas, partai politik, serta ranting NU dan WMCNU se-Kabupaten Bondowoso. (Ade Nurwahyudi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Khutbah, Ulama, Pendidikan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

PCNU Bojonegoro Pilih Rais Syuriyah Baru

Bojonegoro, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pasca Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur KH Misbah Syakur wafat, posisinya kosong sebelum diadakan pelantikan. Namun setelah diadakan rapat tertutup pengurus harian Syuriyah PCNU Bojonegoro di Kantor PCNU, jalan Ahmad Yani Bojonegoro, Sabtu (14/9), KH Maimun SyafiI terpilih sebagai Rais Syuriyah 2013-2018.

Usai rapat Katib PCNU BOjonegoro sekaligus pemimpin rapat dan notulensi KH Moh Shofiyullah menerangkan pertemuan di sore itu terkait dengan pengisian posisi kosong, yakni Rais Syuriyah PCNU Bojonegoro sepeninggal KH Misbah Syakur yang wafat beberapa waktu lalu. Rapat terbatas itu menghadirkan Wakil Rais Syuriyah KH Makmur Soelaiman, KH Munaamul Khoir, KH M Saifuddin Zuhri, KH Abdul Muhaimin Rifai, KH Masyhuri, KH Asfiror Ridlwan, KH M Ghufron Umar, dan Kiai Muhammad Harsono. 

PCNU Bojonegoro Pilih Rais Syuriyah Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Bojonegoro Pilih Rais Syuriyah Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Bojonegoro Pilih Rais Syuriyah Baru

Dari Katib Syuriyah, mereka yang hadir Wakil Katib Kiai Asyrofi, KH M Jauharul Maarif, Agus Sholahuddin, KH Muhammadun, KH Famudji, KH M Zuhri, H Syaroni, dan H Habrun Hasan. Rapat ini juga dihadiri Ketua Tanfidziyah terpilih 2013-2018 H Cholid Ubed.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Setelah ditawarkan proses pemilihan yang dilakukan secara demokrasi, berdasarkan AD/ART organisasi NU, disepakati voting tertutup. "Hasil kesepakatan rapat yang sesuai AD/ART ini terpilih KH Maimun Syafi sebagai Rais Syuriyah PCNU Bojonegoro 2013-2018, yang sebelumnya menduduki Mustasyar," ujar KH Shofiyullah kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurut pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Rosyid Dander Bojonegoro itu, langkah selanjutnya yang akan dilakukan, mengajukan permohonan Surat Keputusan (SK) dan sekaligus membahas persiapan pelantikan.

Pasalnya pembahasan terkait pelantikan akan dibahas bersama dan tentunya membentuk kepanitiaan. "Rencananya pelantikan akan dilaksanakan setelah musim haji," terangnya. Namun kegiatan akan berjalan sesuai bidangnya masing-masing seperti halnya Aswaja Center yang terus mengadakan kegiatan.

Sementara dalam kesempatan terpisah, Cholid Ubed mengatakan jika pertemuan itu merupakan wilayah syuriyah untuk memilih rais pengganti. "Siapapun yang terpilih sebagai Rais Syuriyah atau Owner PCNU Bojonegoro, kita mengikuti," jelasnya.

Terpilihnya KH. Maimun Syafii sudah sesuai AD/ART dan sesuai kesepakatan seluruh pengurus yang mengikuti rapat. "Langkah selanjutnya keputusan ini akan dikirim ke PWNU Jatim untuk dilantik," ungkapnya.

Setelah pelantikan nanti, seluruh pengurus PCNU akan segera melaksanakan agenda program kerja yang dibuat dan kegiatan-kegiatan lainnya. (M Yazid/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pendidikan, Olahraga Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 20 November 2017

Tata Laksana Shalat Id Menurut Rasulullah

Tulisan ini akan menjabarkan tatacaa Rasulullah saw dalam mempersiapkan diri menuju shalat id. Karena hari idul fitri adalah hari istimewa, maka tatacaranyapun berbeda. sebagaimana perbedaan shalat idul fitri dengan shalat lainnya.

Hal pertama yang diterangkan oleh para ulama tentang uswah hasanah Rasulullah saw yang berhubungan dengan idul fitri adalah bahwa beliau menyempatkan diri makan terlebih dahulu sebelum shalat id.  Sebagaimana sabdanya

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?  

Hal ini menurut Ibnul Musayyab untuk membedakan antara pagi hari sebelumnya yang masih berpuasa dan hari idul fitri yang telah berbuka. Juga sebagai pembeda dengan idul adha, karena shalat idul adha sebaiknya tidak didahului makan terlebih dahulu. Begitu teksnya

Tata Laksana Shalat Id Menurut Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tata Laksana Shalat Id Menurut Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tata Laksana Shalat Id Menurut Rasulullah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Demikian pula Rasulullah saw berangkat menuju masjid dengan berjalan kaki. Artinya tidak naik kendaraan sebagaimana yang beliau lakukan ketika mengantar jenazah.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Imam Syafi’I menerangkan juga bahwa beliau selalu mengambil jalan pulang yang berbeda sekembali dari shalat id. Dan hendaklah sunnah Rasulullah saw yang seperti ini diikuti oeh semua orang.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Telah sampai kepada kita suatu berita bahwa Rasulullah saw kalau pagi-pagi berangkat shalat id melewati suatu jalan, dan apabila pulang melewati jalan yang lain. Dan saya senang yang seperti itu, begitu pula bagi pemimpin maupun orang umum.

Dan satu hal lagi yang terpenting, bahwa selama perjalanan dai rumah hingga tempat shalat Rasulullah saw tidak-hnti-hentinya, membaca bertakbir.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?  

Bahwasannya Nabi saw membaca takbir ketika keluar di hari raya idul fitri dari rumahnya hingga tempat shalat

(red. Ulil H)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pendidikan, PonPes, Santri Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 13 November 2017

Inilah Perwira TNI Didikan Hizbullah

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Para kiai dan santri terlibat di lapangan dalam membela tanah air yang akan diserang kembali oleh Belanda para perang kemerdekaan. Setelah perang usai, sebagian besar kelompok santri kembali ke pesantren untuk mengajar agama, tetapi ada beberapa yang akhirnya tetap aktif dalam dunia militer.?

Inilah Perwira TNI Didikan Hizbullah (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Perwira TNI Didikan Hizbullah (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Perwira TNI Didikan Hizbullah

Berikut nama-nama perwira TNI yang merupakan hasil didikan Hizbullah, salah satu kelompok pasukan perlawanan yang berasal dari kelompok santri seperti disampaikan oleh Wakil Ketua Umum PBNU H Slamet Effendy Yusuf.?

1. Mayor KH. Mustofa Kamil-Banten?

2. Mayor KH. Mawardi-Surakarta?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

3. Mayor KH. Zarkasi- Ponorogo?

4. Mayor KH. Mursyid-Pacitan?

5. Mayor KH. Sahid-Kediri?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

6. Mayor KH. Abdul Halim-Majalengka?

7. Mayor KH. Thohir Dasuki-Surakarta?

8. Mayor KH. Rajiun-Jakarta?

9. Mayor KH. Munasir Ali-Mojokerto?

10. Mayor KH. Wahib Wahab-Jombang?

11. Mayor KH. Hasyim Latif-Surabaya?

12. Mayor KH. Zainuddin-Besuki?

13. Mayor KH. Zein Thovib-Kediri?

Selain yang berasal dari Hizbullah, terdapat beberapa perwira TNI berlatar belakang santri ex-PETA. Berikut nama-namanya.?

1. Brigjen KH. Sulam Syamsun?

2. Brigjen KH. Zein Toyib?

3. Brigjen KH. M. Rowi?

4. Brigjen KH Abdul Manan Wijaya?

5. Brigjen KH Iskandar Sulaiman?

6. Brigjen KH. Abdullah Abbas?

Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pendidikan, Anti Hoax, AlaSantri Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 05 November 2017

Joyoboyo Pernah Berguru kepada Syekh Wasil

Kediri,Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Joyoboyo, raja Kediri yang legendaris karena dikaitkan dengan ramalan tentang masa depan negeri ini diperkirakan pernah berguru kepada seorang muslim di Iran, Syekh Sulaiman Syamsuddin atau yang lebih dikenal Syekh Wasil.

Tim Ekspedisi Islam Nusantara menemukan informasi tersebut ketika menjelajah Kota Kediri, Jawa Timur, 3 hari lalu. Tim ekspedisi berziarah kepada makam Syekh Wasil yang terletak di Setono Gedong, Kota Kediri.

Joyoboyo Pernah Berguru kepada Syekh Wasil (Sumber Gambar : Nu Online)
Joyoboyo Pernah Berguru kepada Syekh Wasil (Sumber Gambar : Nu Online)

Joyoboyo Pernah Berguru kepada Syekh Wasil

Menurut Mansur, salah seorang pengurus masjid Setono Gedong, bukti bahwa Joyoboyo pernah berguru kepada Syekh Wasil terdapat dalam prasasti dengan bahasa Kawi kuno. Prasasti yang kini berada di Museum Trowulan, Mojokerto, tersebut kemungkinan ditulis Joyoboyo sendiri.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Prasasti tersebut, kata dia, berdasarkan terjemahan Prof Adib Sutopo, menyebutkan bahwa Joyoboyo menemukan buku Musarar. Joyoboyo tak bisa menerjemahkan kitab tersebut yang ditulis dalam bahasa Arab. Kemudian meminta pertolongan kepada Syekh Wasil untuk menerjemahkannya.? ?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Karena membantu penerjemahan itu, Syekh Washil diberi tempat tersendiri yang kemudian disebut dengan Setono Gedong. Dengan demikian, kata Mansur, ada hubungan guru-murid antara Syekh Wasil dan Joyoboyo. Sehingga ada dugaan bahwa Joyoboyo telah menjadi muslim.

Tapi itu hanya dugaan, bisa juga Joyoboyo tetap memeluk agamanya, tapi karena kehausan ilmu, ia berguru spiritual kepada Syekh Wasil. “Buku sejarah kita juga mengatakan Hindu dan meninggalnya konon moksa,” katanya. ?

Syekh Wasil dan Joyoboyo diperkirakan hidup pada tahun 1200 Masehi. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ubudiyah, Pendidikan Pondok Pesantren An-Nur Slawi