Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Februari 2018

Kaidah-kaidah Ajaran Washatiyah yang Harus Dikembangkan

Bandar Lampung, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Lampung KH. Khairuddin Tahmid mengatakan bahwa paradigma Washatiyyah (moderatisme) yang dikembangkan oleh MUI sebagai payung besar ummat Islam adalah pemahaman ajaran Islam yang menggunakan beberapa kaidah.

Kaidah-kaidah Ajaran Washatiyah yang Harus Dikembangkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kaidah-kaidah Ajaran Washatiyah yang Harus Dikembangkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kaidah-kaidah Ajaran Washatiyah yang Harus Dikembangkan

Kaidah tersebut diantaranya adalah sikap santun yang dikedepankan dengan tidak melakukan tindakan kekerasan serta tidak radikal (layyinan laa fadzdzon wala gholiidzon). Kaidah selanjutnya adalah kesukarelaan dalam artian tidak melakukan tindakan pemaksaan dan juga tidak mengintimidasi golongan tertentu. (tathowwuiyyan laa ikraaha wala ijbaaron).

"Kaidah lainnya adalah mengedepankan toleransi yaitu tidak egois dan tidak fanatik (tasamuhiyyan walaa ananiyyan walaa taashubiyyan)," ungkap Kiai Khairuddin yang juga Wakil Rais Syuriyah PWNU Lampung, Senin (24/10) dikediamannya di Bandarlampung.

Sementara dalam membangun hubungan antar muslim dengan non muslim MUI menggunakan kaidah yang termaktub dalam surat Al Kafirun yaitu lakum dinukum waliyadin atau bagimu agamu dan bagiku agamaku.

Sedangkan dalam membangun hubungan sesama muslim MUI konsiten menggunakan kaidah lanaa mazhaban walakum mazhabukum atau bagiku madzhabku dan bagimu madhabmu.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Oleh karenanya Ia menghimbau kepada seluruh ummat Islam khususnya pengurus MUI untuk senantiasa menciptakan kesejukan dan kesantunan dalam mengekspresikan pemikirannya. Sehingga Pengurus MUI mampu menjadi pioner perdamaian sekaligus memberikan citra yang baik terhadap organisasi para ulama tersebut. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Daerah, Doa, Berita Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 08 Februari 2018

KH Maruf Amin: Paham Liberal Masih Ada di NU

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Maruf Amin mengeluhkan masih adanya paham liberal yang yang berkembang di kalangan NU, bahkan di dalam kepengurusan NU.

Bagi salah seorang Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat itu, keberadaan faham itu sudah terlalu dalam merusak keyakinan yang selama ini ada di NU. "Keberadaan mereka sudah sangat memprihatinkan, membahayakan," kata Kiai Maruf Amin kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi di rumahnya, Ahad (9/12).

Tidak hanya itu, menurut Ketua Dewan Mustasyar PKNU itu, akibat dari banyaknya orang berpaham liberal di dalam NU, status faham keagamaan yang dianut NU sendiri pun kini dipertanyakan.

KH Maruf Amin: Paham Liberal Masih Ada di NU (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Maruf Amin: Paham Liberal Masih Ada di NU (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Maruf Amin: Paham Liberal Masih Ada di NU

"Sekarang ini yang jelas Ahlussunnah wal Jamaah itu malah MUI. NU malah dipertanyakan statusnya," tegasnya setengah berkelakar.

NU yang selama ini identik sebagai simbol Ahlussunnah wal Jamaah, menurut Kiai Maruf, memang layak diragukan kemurniannya, "Sebab terlalu kuatnya arus paham liberal yang ada di dalamnya, sampai menjalar ke mana-mana," tuturnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Karenanya, anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) itu mengharapkan agar NU secepatnya kembali seperti saat pertama kali NU didirikan pada tahun 1926.

Caranya, dengan membersihkan kembali NU dari pemikiran-pemikiran liberal-sekuler dan dikembalikan pada paham Ahlussunnah wal Jamaah, sesuai jalan yang telah dirintis oleh para salafus shalih.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurut Kiai Maruf, sebenarnya jalan kembali itu sudah jelas ada, bernama Khittah Nahdlatul Ulama yang diputuskan di Muktamar Situbondo (1984) dan ditegaskan kembali dalam Muktamar Solo (2004). Hanya saja masih kurang sosialisasi, apalagi sampai prakteknya di lapangan.

"Kita hanya butuh penegasan, akar-akar liberal di NU itu harus segera dipotong, agar tidak berkembang biak menjalar ke tempat lain. Ini sudah pada tingkat bahaya," tegas kiai Maruf. (sbh)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Meme Islam, Halaqoh, Doa Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 02 Februari 2018

Jangan karena Perang Dalil, Kita Lewatkan Keistimewaan Bulan Rajab!

Pringsewu, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pada zaman sekarang ini, banyak orang yang selalu mempermasalahkan dan memperdebatkan dalil ketika datang waktu-waktu khusus untuk beribadah. Dengan modal beberapa hadits tanpa mengaji secara mendalam, kelompok ini dengan gencar melarang orang untuk menambah amaliyah ibadah.

Salah satu yang sedang hangat diperdebatkan sekarang ini adalah datangnya bulan Rajab. Fadhilah (keutamaan) bulan Rajab sering dinodai dengan perang dalil baik secara langsung maupun di dunia maya.

Jangan karena Perang Dalil, Kita Lewatkan Keistimewaan Bulan Rajab! (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan karena Perang Dalil, Kita Lewatkan Keistimewaan Bulan Rajab! (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan karena Perang Dalil, Kita Lewatkan Keistimewaan Bulan Rajab!

Untuk menguatkan dan memperdalam pemahaman tentang fadhilah, dalil dan amaliyah di bulan Rajab kepada warga NU khususnya di Kabupaten Pringsewu, pada Ahad (10/4) Ngaji Ahad Pagi atau Jihad Pagi yang rutin dilaksanakan di Gedung NU mengangkat permasalahan tersebut.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Katib Syuriyah PCNU Pringsewu Ustad Munawir yang menjadi pengisi materi tentang Fadhilah Bulan Rajab menyajikan dan menjelaskan banyak sekali dalil baik berupa hadits maupun penjelasan para ulama yang menyebutkan hal tersebut.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Kalau kita mau membuka hati dan terus belajar, kita akan mendapatkan dasar kuat untuk melakukan amaliyah di bulan Rajab," tegas Munawir yang akrab dipanggil Gus Nawir.

Ia mengibaratkan bahwa kelompok-kelompok yang sering mengganggu dan menghalangi orang beribadah tersebut seperti setan yang berwujud manusia. "Dengan cara ilmiah menggunakan akal, mereka menghasut orang-orang yang akan beribadah agar tidak melakukan yang menurut mereka tidak ada tuntunannya," katanya.

Oleh karena itu Gus Nawir mengimbau agar warga NU untuk terus belajar dan bersama-sama menghidupkan amaliyah-amaliyah ibadah di bulan Rajab yang merupakan salah satu bulan yang mulia dari 12 bulan hijriah dalam Islam.

"Jangan sampai keistimewaan tersebut dilewatkan begitu saja sehingga kita menjalani bulan Rajab seperti menjalani bulan-bulan lainnya," anjurnya.

Gus Nawir mengibaratkan orang yang tahu keistimewaan bulan Rajab namun tidak memanfaatkannya seperti melihat mobil mewah yang sudah disediakan untuk mereka namun dibiarkan begitu saja. "Mari raih fadhilah bulan Rajab untuk menjadikan tabungan amaliyah ibadah kita untuk menghadap Allah SWT," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Anti Hoax, Sholawat, Doa Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 27 Januari 2018

PWNU Jatim Lakukan Pendataan Potensi NU dan Pembuatan Kartanu

Surabaya, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur pada Rabu (20/06) mengadakan kegiatan Penataran bagi Penanggung Jawab Pendataan Potensi NU dan Sekretaris PCNU se- Jawa Timur, serta sosialisasi rencana pembuatan Kartu Tanda Anggota Nahdlatul Ulama (Kartanu).

Kegiatan yang diadakan di Ruang Rapat Lantai I gedung PWNU Jatim tersebut dihadiri sekitar 80 orang utusan dari PCNU-PCNU se Jatim. Sedangkan dari jajaran kepengurusan PWNU tampak hadir Wakil Ketua PWNU, H Abdul Wahid Asa, Sekretaris, H Masyhudi Muchtar, Wakil Sekretaris, H Jono, serta direktur PT. Ertindo Perkasa, mitra pembuatan Kartanu, Muhammad Taufik. Sedangkan Ketua PWNU Jatim, KH Hasan Muatawakkil Alallah, hadir di tengah-tengah acara sedang berlangsung. 

PWNU Jatim Lakukan Pendataan Potensi NU dan Pembuatan Kartanu (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Jatim Lakukan Pendataan Potensi NU dan Pembuatan Kartanu (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Jatim Lakukan Pendataan Potensi NU dan Pembuatan Kartanu

Pada sesi pertama, H Jono menjelaskan tentang formulir pendataan potensi NU di Jawa Timur. Menurut H Jono, pendataan yang dilakukan adalah berbasis pada Ranting. 

“Pendataan ini berbasis pada Ranting, artinya yang melakukan pendataan adalah Pengurus Ranting. Misalnya kantor PCNU, maka yang melakukan pendataan adalah pengurus Ranting di mana kantor PCNU berada,” jelas H Jono.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Di dalam formulir yang telah disediakan oleh PWNU Jatim, terlihat beberapa kategori potensi, antara lain tempat ibadah yang terdiri dari musholla dan masjid, pendidikan yang terdiri semua tingkat pendidikan, dan cukup menjadi pertanyaan bagi peserta adalah untuk kategori sosial. Karena dalam kategori sosial disebutkan makam.

Menurut H Masyhudi Mukhtar, memang untuk di daerah yang masih luas lahannya, makam tidak menjadi persoalan. “Tetapi untuk daerah seperti Surabaya, makam sudah menjadi persoalan sosial yang cukup pelik. Karena itu makam perlu dimasukkan di dalam potensi NU,” kata pria yang kerab dipanggil Cak Hudi ini. Tahap pendataan dimulai pada tanggal 16 Juni dan akan berakhir pada tanggal 25 Juli. Diharapkan, pada tanggal 25 Juli semua data sudah siap di-entry dalam data base PWNU.

Selanjutnya di sesi yang kedua, forum mendengarkan paparan pembuatan Kartanu. Dalam pembuatan Kartanu ini, PWNU Jatim kerjasama dengan PT Ertindo Perkasa. Karena itu penjelasan teknis dilakukan oleh direkturnya, Muhamad Taufik. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurut Taufik, berdasarkan pengalaman di Jawa Tengah, pembuatan Kartanu berhasil untuk 1,2 juta anggota. “Ada tahap-tahap yang harus dilalui dalam melaksanakan pembuatan Kartanu tersebut, dan kami dari mitra akan siapkan semuanya, namun kami minta kerjasamanya, terutama dari Pengurus Ranting NU,” kata Taufik.

Menurut Cak Hudi, pembuatan Kartanu ini, bisa dimulai bulan ini juga, tinggal kesiapan PCNU dalam melakukan sosialisasi. PC yang paling siap dalam menjalankan tahap persiapan bisa segera memberitahukan kepada PWNU untuk segera ditindaklanjti oleh PT mitra.

Sedangkan menurut hasil rapat Pengurus Harian PCNU Jombang pada Kamis malam (21/06), yang dihadiri olesh Rais Syuriah, PCNU Jombang akan segera melakukan sosialisasi kepada MWC dan Ranting, terutama yang berkaitan dengan pandataan. Menurut KH Abd. Nashir Fattah, sosialisasi pendataan lebih baik dilakukan bersamaan dengan kegiatan RSNU Jombang yang akan mengadakan pertemuan dengan pengurus MWC dan Ranting pada tanggal 26 dan 27 Juni dan tanggal 3 dan 4 Juli.

Sedangkan untuk pembuatan Kartanu, PCNU Jombang akan melakukan setelah Konferensi Cabang (Konfercab) yang akan dilakukan pada Sabtu-Ahad (14-15/07). Hal ini karena kegiatan menjelang Konfercab cukup padat, dan semua sumberdaya diarahkan untuk mensukseskan Konfercab. 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Muslimin Abdilla 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi AlaSantri, Doa Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 13 Januari 2018

Pelajar NU Raudlatus Shibyan Ngaji Safinatun Naja

Kudus, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pelajar Madrasah Tsanawiyah NU Raudlatus Shibyan (MtsNU RS) Desa Peganjaran Bae mengadakan pengajian kitab Safinatun Naja di masjid desa Peganjaran Bae. Pada tahun ini, pengajian diasuh Ketua PCNU Kudus KH Chusnan MS.

Menurut salah seorang guru MtsNU RS Syaifudin Najib, pengajian kitab ini merupakan program tahunan madrasah. Tujuannya supaya anak didik bisa mengaji bersama kiai untuk mendalami ilmu fikih. Disamping itu, mengenalkan kitab para ulama NU dan anak bisa menggunakan isi kandungan kitab mengenai amalan ibadah warga NU.

Pelajar NU Raudlatus Shibyan Ngaji Safinatun Naja (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Raudlatus Shibyan Ngaji Safinatun Naja (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Raudlatus Shibyan Ngaji Safinatun Naja

“Anak diidik bisa mengamalalkan isi kitab tentang ibadah dan muammalah termasuk hukum halal-haram dan sah-tdak sah sebuah ibadah sehingga bisa dipraktikkan sehari-hari,” katanya kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi Sabtu (27/7).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ia menjelaskan, pengajian ini juga sebagai pembelajaran baca tulis Arab untuk anak sehingga mampu memaknai per-mufrodatnya dengan Arab pegon.Makanya, kitab yang digunakan dengan kitab kuning yang belum ada makna (terjemahan) Jawa gandul.

Pengajian kitab ini, terang Najib, dilaksanakan sebelum jam pelajaran dimulai tepatnya pukul 07.00 – 08.00. Usai pengajian, peserta anak melaksanakan shalat dhuha bersama-sama.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Biasanya pengajian dilaksanakan di aula madrasah.Tetapi tahun ini dipindah di masjid karena semakin banyak siswa sekaligus juga supaya bisa ber-i’tikaf bersama,” ujarnya lagi.

Najib menambahkan pengajian kitab Safinatun Najah ini sudah berlangsung sejak 20 Juli hingga 30 Juli mendatang. Kegiatan dilanjutkan pesantren Ramadhan mulai 31 Juli – 2 Agustus berupa pengajian nuzulul Qur’an, santunan yatim, dan fakir miskin.

“Khusus kegiatan pesantren Ramadhan ini madrasah bekerja sama dengan pihak sponsor suport popie, Telkomsel dan sate ayam Cak Dul,” jelasnya.

Redaktur    : Abdullah Alawi 

Kontributor:Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Doa, Olahraga Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 11 Januari 2018

Anak Ini Akhirnya Bisa Berseru: Banser

Bandar Lampung, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Davi Ravi Amar, pelajar kelas 5 SDN 4 Metro Utara, Kota Metro, Provinsi Lampung akhirnya bisa menyerukan "Banser". Siapa Ravi? Dan kenapa berseru Banser? Berikut penuturan Kasatkorwil Banser Lampung Tatang Sumantri, di Bandar Lampung, Selasa (11/4).

Anak Ini Akhirnya Bisa Berseru: Banser (Sumber Gambar : Nu Online)
Anak Ini Akhirnya Bisa Berseru: Banser (Sumber Gambar : Nu Online)

Anak Ini Akhirnya Bisa Berseru: Banser

"Sabtu 9 April kemarin Satkorwil Banser Lampung menggelar bakti sosial penyembuhan alternatif bekerja sama dengan Paguyuban Purwoasri Bersatu, di Masjid Ar Rahim dengan target 70 orang, namun ternyata antusias masyarakat tinggi sehingga hampir 150 orang tercatat menyembuhkan penyakitnya," kata Tatang.

Hal itu membuat Asinfokom Satkorwil Banser Lampung Gatot Arifianto selaku terapis penyembuhan harus berkeliling dari rumah ke rumah warga hingga larut malam. Saat mengunjungi rumah seorang warga yang ingin disembuhkan, tak berapa lama seorang cucunya datang bersama ayahnya, Margo Wahyono.

"Namanya Ravi, matanya min dua dan mengenakan kacamata. Saat awal dibuka kacamatanya, jarak tiga meter ia tidak bisa melihat tulisan Banser di jaket saya," kata Tatang lagi.

Setelah disentuh pertama, Ravi mulai bisa melihat warna kuning dan merah yang menjadi latar belakang tulisan Banser berukuran sekitar 10 cm x 2 cm. Gatot yang juga aktivis Gusdurian sekaligus motivator, praktisi Hypnosis, Kultivasi Energi Ilahi, Neo Neuro-Lingusistic Programing dan Aji Tapak Sesontengan itu melanjutkan kembali menyentuh bagian kedua mata Ravi. Setelah disentuh sekitar empat kali, dalam tempo 20 menit, Ravi akhirnya bisa membaca dan berseru Banser.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Mengetahui Ravi bisa membaca tanpa bantuan alat, Margo berucap syukur selanjutnya menyimpan kacamata anak keduanya yang dilahirkan 2006 dari istrinya bensama Ratna Dewi Wijayanti ke dalam sakunya.

"Kami senang kader-kader Banser terus berbuat bagi masyarakat. Ketika masyarakat menunggu penyembuhan hingga kami datangi ke rumah-rumah mereka hingga larut malam, itu bukti kecil bahwa Banser dicintai masyarakat," kata Tatang didampingi Asisten Kerjasama Muhammad Pribadi dan Asisten Perbekalan Maryanto.?

Memperingati 83 tahun hari lahir Gerakan Pemuda Ansor, Satuan Koordinasi Wilayah (Satkorwil) Banser Lampung menggelar bakti sosial di sejumlah kabupaten/kota di Lampung.?

"Insyaallah Sabtu 15 April 2017 di Kelurahan Panggung Jaya, Kecamatan Rawa Jitu Utara, Kabupaten Mesuji disela kegiatan Diklatsar," kata Tatang. (Erli Badra/Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Doa, AlaSantri Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 04 Januari 2018

Mimpi Para Sahabat soal Nasib Sayyidina Umar di Kuburan

Setelah Sayyidina Umar bin Khattab wafat, para sahabat berjumpa khalifah kedua ini melalui mimpi. Mereka pun bertanya, ”Bagaimana Allah memperlakukanmu?”

Dalam al-Aqthaf ad-Daniyyah dikisahkan Umar menjawab bahwa Allah telah mengampuni kekeliruan-kekeliruannya dan membebaskan siksa dari dirinya. Para sahabat menyahut dengan pertanyaan susulan. ”Apa penyebabnya? Apakah karena kedermawanan, keadilan, atau kezuhudanmu?”

Umar menimbalinya dengan mengisahkan peristiwa di alam kubur. Sejenak usai ia dimakamkan, dua malaikat menghampirinya. Umar dalam perasaan takut luar biasa. Nalarnya hilang. Sebelum malaikat bertanya, tiba-tiba suara tanpa rupa terdengar.

Mimpi Para Sahabat soal Nasib Sayyidina Umar di Kuburan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mimpi Para Sahabat soal Nasib Sayyidina Umar di Kuburan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mimpi Para Sahabat soal Nasib Sayyidina Umar di Kuburan

”Tinggalkan hamba-Ku itu. Jangan bertanya apapun kepadanya (Umar). Jangan dibuat takut. Aku mengasihi dan membebaskan siksa darinya. Tatkala di dunia, ia pernah berbelaskasihan kepada seekor burung emprit.”

Benar. Kisah burung emprit bermula ketika Umar tengah berjalan menuju alun-alun kota dan ? berjumpa anak kecil. Hati Umar sedih. Bocah itu terlihat sedang memagang burung emprit sembari memperlakukannya selayak mainan.

Umar tergerak untuk segera membeli binatang malang itu. Sekarang burung emprit sepenuhnya menjadi milik Umar. Untuk menyelamatkannya dari perlakuan buruk si bocah, khalifah kedua ini pun mengikhlaskan burung emprit terbang ke ke udara dengan merdeka.

Hal ini membuktikan bahwa ajaran Rasulullah SAW telah menancap kuat di hati dan perilaku Umar. Meski sering tampil garang, sahabat Nabi berjuluk ”Singa Padang Pasir” itu tetap menunjukkan kelembutan hatinya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pesan lain yang bisa ditangkap bahwa cakupan cinta kasih bersifat tanpa batas. Kepada pohon, sungai, tanah, makanan, pakaian, buku, burung, anjing, dan seterusnya. Terlebih manusia. Ini selaras dengan hadits riwayat Abdullah bin Umar.

”Orang-orang yang berbelaskasih akan mendapatkan belas kasih dari Yang Maha Pengasih. Berbelaskasihlah kepada tiap makhluk di bumi, niscaya ’penduduk langit’ mengasihimu.” (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Doa, Kajian Islam, AlaSantri Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 03 Januari 2018

Ini Pasal Tatib Muktamar Paling Alot Dibahas

Jombang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Sidang Pleno Pembacaan Tata Tertib Muktamar ke-33 NU di Jombang berlangsung sangat lama. Beberapa kali terjadi ketegangan. Beberapa kali dibacakan shalawat badar. Beberapa kali sidang diskorsing.

Sidang dimulai Ahad (3/8) pagi, dan hingga tengah malam baru menyelesaikan 18 pasal dari 23 pasal yang dibahas. Sidang dihentikan pada saat pembahasan pasal 19. Pasal ini terkait sistem Ahlul Halli wal Aqdi untuk pemilihan Rais Aam PBNU.?

Ini Pasal Tatib Muktamar Paling Alot Dibahas (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Pasal Tatib Muktamar Paling Alot Dibahas (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Pasal Tatib Muktamar Paling Alot Dibahas

Pasal 19 yang berbunyi. "Pemilihan Rais Aam dilakukan secara musyawarah mufakat melalui sistem Ahlul Halli wal Aqdi." “Ini pasal yang kita tunggu-tunggu,” kata Ketua Sidang Pleno H Slamet Effendy Yusuf saat memulai pembahasan pasal 19.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pantauan dari ruang sidang, para pimpinan sidang nampak harus memimpin muktamirin dengan ekstra sabar dan adil karena begitu pasal tersebut dibacakan ratusan interupsi dari para muktamirin bermunculan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Slamet Efendi akhirnya harus mendata terlebih dahulu para peserta yang akan menyampaikan aspirasinya. Sekitar 131 peserta terdata mulai diberikan kesempatan satu persatu untuk bertanya ataupun memberikan usulan.

Namun belum genap 10 peserta menyampaikan keinginan, keadaan sudah tidak kondusif lagi. Hal ini dikarenakan beberapa isi yang disampaikan cenderung menyudutkan pihak pihak tertentu dan mengakibatkan respon emosional. Ditambah lagi dengan beberapa peserta yang menyampaikannya dengan nada tinggi. Hal inilah yang membuat suasana menghangat sehingga sidang harus diskors beberapa kali.?

Terakhir, sidang diskors tengah malam tanpa ada pemberitahuan kapan akan dilanjutkan lagi. Informasi yang diterima Pondok Pesantren An-Nur Slawi, sidang baru akan dimulai pukul 13.00 siang ini.

Menanggapi kondisi ini Rais Syuriyah PCNU Pringsewu KH Ridwan Syueb mengajak kepada muktamirin yang akan menyampaikan pendapat untuk mengedepankan akhlak mulia yang diwujudkan dengan perkataan yang lembut.

"Berkatalah dengan santun, lembut dan jangan bernada tinggi dalam menyampaikan pendapat," ajaknya. "Sebenarnya apa yang disampaikan memiliki muatan yang bagus, namun cara penyampaiannya yang perlu diperbaiki," tambahnya.?

Sementara Katib Syuriyah PCNU Tanggamus Lampung H. Syamsul Hadi mengatakan bahwa perbedaan pendapat adalah hal yang biasa. Hal ini menunjukkan bahwa Pengurus NU memiliki pola pikir yang kritis dalam menyikapi sesuatu.?

"Inilah ciri khas NU. Dan jangan heran, dinamika seperti ini akan selesai dengan baik karena para kyailah yang akan memberikan kesejukan dalam penyelesaiannya," jelas Samsul yang juga menjadi Wakil Bupati Tanggamus. (Muhammad Faizin/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pondok Pesantren, AlaNu, Doa Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 02 Januari 2018

Mahasiswa Hukum UII Berzikir dan Bersholawat

Yogyakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Mahasiswa Fakultas Hukum UII Yogyakarta memfasilitasi sejumlah organ mahasiswa untuk berzikir dan bersholawat di masjid Al-Azhar Fakultas Hukum UII, Yogyakarta, Jumat (17/10) malam. Pada malam sholawat ini, mereka membahas kembali sejarah masuknya Islam ke Nusantara.

"Kita harus bersyukur. Di tahun 2014 ini, kita masih bisa bersholawat dan mencintai nabi kita," kata muballig Gus Muwaffiq pada pengajian zikir dan sholawat di masjid Al Azhar Fakultas Hukum UII, Yogyakarta, Jumat malam (17/10).

Mahasiswa Hukum UII Berzikir dan Bersholawat (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Hukum UII Berzikir dan Bersholawat (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Hukum UII Berzikir dan Bersholawat

Wali songo merupakan ulama-ulama pilihan yang sengaja diutus untuk mengislamkan Nusantara.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Oleh karenanya, sebagai umat Islam Indonesia, sudah barang tentu menjadi tugas kita untuk melanjutkan peran Wali songo dalam mendakwahkan Islam yang ramah di Indonesia,” lanjut Gus Muwaffiq di hadapan mahasiswa dari pelbagai kampus antara lain KMNU UGM, UNY, dan UIN Suka.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sementara sekretaris acara FH UII Ach Faiz MN Abdalla mengingatkan, Fakultas Hukum UII sendiri merupakan salah satu fakultas hukum tertua di Indonesia. Kita ingin menghidupkan aktifitas keislaman di kampus ini sesuai semangat salah seorang pendiri kampus ini KH Wahid Hasyim. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Tokoh, Doa, RMI NU Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 29 Desember 2017

Pelajar NU Sidoarjo Gelar Pelatihan Administrasi Organisasi

Sidoarjo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Sidoarjo menggelar pelatihan administrasi dan peluncuran website di SMP Negeri 2 Sidoarjo, Ahad (29/11). Sedikitnya 80 peserta dari 18 PAC IPNU-IPPNU dan 2 komisariat peguruan tinggi IPNU-IPPNU se-Sidoarjo diberikan materi tentang cara menulis surat yang benar.

Pelajar NU Sidoarjo Gelar Pelatihan Administrasi Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Sidoarjo Gelar Pelatihan Administrasi Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Sidoarjo Gelar Pelatihan Administrasi Organisasi

"Peserta kami berikan materi surat menyurat dan mekanisme pengajuan surat pengesahan yang disampaikan oleh sekretaris IPNU-IPPNU Sidoarjo Choirudin Abdillah serta Nella Ismalinda. Pelatihan ini untuk meningkatkan kualitas organisasi agar tertib administrasi, mengikuti perkembengan zaman serta melek IT," kata Ketua IPNU Sidoarjo M Syaikhul Maarif.

Menurut Maarif, selama ini PAC maupun PKPT jika membuat surat sudah benar. Memang ada sedikit yang masih kurang tapi tinggal dibenahi. Dengan diadakannya pelatihan administritasi ini untuk meningkatkan kualitas organisasi agar tertib administrasi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Pelatihan ini sekaligus meluncurkan website. Setiap PAC dari 18 kecamatan dan 2 PKPT IPNU-IPPNU se-Sidoarjo kami buatkan website secara gratis. Hal ini untuk memantau dan memberikan informasi yang akan dibagi di website tersebut," ucap Maarif.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

M Andri Irawan salah satu peserta dari PAC IPNU Krian mengaku sangat senang bisa mengikuti kegiatan tersebut. Andri mengatakan, pelatihan itu sangat bagus karena secara administrasi bisa tertib.

"Sebelum ada pelatihan ini kami masih sering salah dalam membuat surat seperti kop surat, nomor surat dan lain-lain. Ilmu yang kami dapat ini nantinya akan kami sampaikan ke tingkat ranting," tegas Andri. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Doa Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 21 Desember 2017

500 Banser Sumut Gelar Apel Akbar

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Sebanyak lima ratus anggota Banser melangsungkan apel kesetiaan terhadap Pancasila di Lapangan Asrama Haji, Medan, Sumatera Utara. Mereka memperingati hari lahir Pancasila yang jatuh pada awal Juni.

Instruktur apel akbar ini adalah Ketua GP Ansor Sumut Mulia Banurea. Mereka melangsungkan apel Jumat (3/6) dengan tema Mewujudkan Kemandirian Bangsa Dalam Bingkai NKRI dan Pancasila.

500 Banser Sumut Gelar Apel Akbar (Sumber Gambar : Nu Online)
500 Banser Sumut Gelar Apel Akbar (Sumber Gambar : Nu Online)

500 Banser Sumut Gelar Apel Akbar

Sementara acara peringatan Harlah Ke-82 GP Ansor dihadiri tokoh NU Sumut Ir Husni Kamil Manik yang juga Ketua KPU RI.

“Pada kesempatan ini kita mengadakan pengukuhan majelis zikir dan shalawat Rijalul Ansor dan pengukuhan Koperasi Ansor Sejahtera di aula Jabal Nur, Asrama Haji Medan,” kata Ketua PP GP Ansor Hasan Basri Sagala yang hadir di lokasi acara.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Tampak hadir pada peringatan ini Gubernur Sumut Ir Tengku Ery Nuradi, Ketua PP GP Ansor Hasan Basri Sagala.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sebelumnya GP Ansor Sumut melangsungkan kaderisasi dengan instruktur Muhammad Adnan Anwar. Ia menyampaikan materi di LI 1 PW Ansor Sumut di Asrama Haji Medan, Rabu-Jumat (1-3/6). Sebanyak 62 peserta mengikuti pelatihan ini. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pendidikan, Doa, Nusantara Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 20 Desember 2017

Jubah Warisan Rasulullah

Orang tua itu terserang penyakit aneh. Sebagian tubuhnya lumpuh. Ia bermunajat pada ilahi sambil mengucurkan air mata memohon kesembuhan. Tak lupa ia ciptakan sejumlah syair pujian untuk kanjeng Nabi, dengan maksud memohon syafaat.

Malam itu rasa kantuk tak dapat lagi ditahan. Hanya rasa kantuk inilah yang menghalangi bibirnya untuk meneruskan membaca syair cinta untuk Rasul.

Jubah Warisan Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)
Jubah Warisan Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)

Jubah Warisan Rasulullah

Dalam tidurnya ia bermimpi berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW. Dalam mimpi tersebut orang tua itu sempat berdialog dengan Nabi. Ia membacakan syair-syair pujiannya untuk Nabi, namun sampai pada bait ke-51: “fama balaghul ilmi fihi annahu basyarun…” [The extent of what we know of him is this: He is a man…] ia tidak sanggup meneruskannya. Konon Rasul menyuruhnya meneruskan “wa annahu khayru khalqillahi kullihimi” [And yet, without exception, he is the best of God’s creation].

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kemudian Nabi memberikan jubah (burdah) kepada orang tua itu. Nabi mengusap bagian tubuh yang mengalami kelumpuhan. Ketika esok paginya orang tua ini terbangun, tiba-tiba ia bisa berjalan dan pulih seperti sedia kala. Dengan ceria ia berjalan-jalan di pasar sambil membacakan syair-syair pujian untuk Rasul.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Orang tua itu bernama Imam Bushiri, yang lahir pada tahun 1212 (sekitar 800 tahun yang lalu). Syair pujian yang diciptakan oleh Bushiri kemudian dikenal dengan Kasidah Burdah.

Inilah puisi cinta untuk Rasul yang sangat terkenal di dunia Islam, dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa (Persia, India, Pakistan, Turki, Urdu, Punjabi, Swahili, Indonesia, Inggris, Prancis, Jerman, Spanyol dan Italia).

Dalam bulan Rabi’ul Awwal ini dapat dipastikan Ummat Islam dari berbagai penjuru dunia akan membaca kasidah burdah ini sebagai ekspresi rasa cinta mereka kepada kanjeng Nabi.

Kasidah Burdah terdiri atas 162 sajak dan ditulis setelah Bushiri menunaikan ibadah haji di Mekkah. Dari 162 bait tersebut, 10 bait tentang cinta, 16 bait tentang hawa nafsu, 30 tentang pujian terhadap Nabi, 19 tentang kelahiran Nabi, 10 tentang pujian terhadap al-Qur’an, 3 tentang Isra’ Mi’raj, 22 tentang jihad, 14 tentang istighfar, dan selebihnya (38 bait) tentang tawassul dan munajat.

Dengan memaparkan kehidupan Nabi secara puitis, Bushiri bukan saja menanamkan kecintaan umat Islam kepada Nabinya, tetapi juga mengajarkan sastra, sejarah Islam, dan nilai-nilai moral kepada kaum Muslimin. Oleh karenanya, tidak mengherankan jika Kasidah Burdah senantiasa dibacakan di pesantren-pesantren salaf.

Dalam khazanah sufi, jubah merupakan simbol yang sangat penting. Sejarah jubah milik Nabi juga menarik untuk diketahui.

Pada mulanya, burdah (jubah atau mantel) milik Nabi Muhammad SAWdiberikan kepada Ka’ab bin Zuhair bin Abi Salma, seorang penyair terkenal Muhadramin (penyair dua zaman: Jahiliyah dan Islam). Ka’ab yang semula kafir kemudian bertobat dan menggubah syair pujian untuk Nabi. Berdasarkan ungkapan pertama dalam bait pertamanya, syair itu terkenal dalam literatur sastra sebagai syair Banat Su’ad.

Ka’ab memperoleh sambutan penghormatan dari Rasulullah. Begitu besarnya rasa hormat yang diberikan kepada Ka’ab, sampai-sampai Rasulullah melepaskan jubahnya dan memberikannya kepada Ka’ab, sebagai simbol bahwa dosa-dosa Ka’ab telah diampuni oleh Allah.

Beberapa tahun kemudian, jubah yang telah menjadi milik keluarga Ka’ab tersebut akhirnya dibeli oleh Khalifah Mu’awiyah bin Abi Sufyan seharga duapuluh ribu dirham, dan kemudian dibeli lagi oleh Khalifah Abu Ja’far al-Manshur dari dinasti Abbasiyah dengan harga empat puluh ribu dirham. Oleh khalifah, burdah itu hanya dipakai pada setiap shalat ied dan diteruskan secara turun temurun.

Melalui jubah Nabi, Ka’ab diampuni dosa-dosanya, dan Bushiri disembuhkan dari penyakitnya.

"Duh Gusti, di bulan Rabi’ul Awwal ini, saksikanlah bahwa kami mencintai Muhammad SAW dan izinkan kami mencium jubah Rasulullah SAW “Maula ya shalli wa sallim daiman abada, ‘Ala habibika khairil khalqi kullihimi.”



Nadirsyah Hosen, Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia - New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School
Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Doa, Quote Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 19 Desember 2017

Ini Penjelasan Agus Sunyoto tentang Hubungan Pesantren dan Keraton

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Sejarawan Nahdlatul Ulama KH Ng Agus Sunyoto menyebut bahwa Islam di Indonesia pertama-tama diperkuat oleh pesantren. Dulu, kata Agus, ada lima jenis pendidikan, yaitu padepokan, asrama, dukuh, paguron, dan terakhir pesantren.

Menurutnya, para sarjana Belanda banyak yang keliru dalam menafsirkan kiai dan pesantren. Belanda menganggap bahwa kiai itu golongan agamawan seperti cara berpikir orang Eropa yang menganggap bahwa pastur atau pendeta itu pasti agamawan.

Ini Penjelasan Agus Sunyoto tentang Hubungan Pesantren dan Keraton (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Penjelasan Agus Sunyoto tentang Hubungan Pesantren dan Keraton (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Penjelasan Agus Sunyoto tentang Hubungan Pesantren dan Keraton

“Di sini bukan, kiai (itu) keluarga keraton, keluarga raja, sejak awal itu, bukan golongan agamawan,” kata Kiai Agus saat menjadi pembicara pada acara silaturahmi kebudayaan yang diselenggarakan Lesbumi di Lantai 8, Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Jumat (28/7).

Ia mencontohkan, Sunan Ampel dan Sunan Giri merupakan keturunan raja. Bahkan, katanya, Pesantren Mlangi Yogyakarta didirikan oleh Kiai Nur Iman yang merupakan kakak tertua dari Sultan Hamengkubuwono 1.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Beliau (Kiai Nur Iman) mendirikan pesantren di situ. Jadi memang silsilahnya keraton,” katanya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pada acara yang bertema “Meneguhkan Kebudayaan Bangsa, Memperkuat Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia” ini, ia menuturkan bahwa keraton tidak pernah meninggalkan pesantren, bahkan ketika keraton tidak mampu melawan, dan saat keraton tidak mampu mengangkat senjata, pesantren mengambil alih peran.

Lebih lanjut, ia menyebut pemberontakan yang dilakukan pesantren terjadi 112 kali yang dipimpin guru tarekat dan kiai haji dari pesantren. Menurutnya, karena pesantren yang merupakan keluarga keraton dan sebagai pribumi direndahkan oleh Belanda. Waktu itu, sambungnya, Belanda membuat aturan di mana warga negara kelas 1 adalah orang Belanda kulit putih, warga negara kelas 2 itu orang timur asing; Arab, Cina, maupun orang India. Sementara inlander pribumi paling rendah. (Husni Sahal/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Anti Hoax, Doa Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 01 Desember 2017

23 Mahasiswi Afganistan Belajar di Perguruan Tinggi NU

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jumat (25/10), menyambut dan memberikan pembekalan kepada 23 calon mahasiswi Afganistan yang akan belajar di salah satu perguruan tinggi NU. Mereka akan mendapatkan beasiswa penuh dari PBNU untuk belajar di Fakultas Ekonomi, Farmasi, FISIP dan Ilmu Hukum.

23 Mahasiswi Afganistan Belajar di Perguruan Tinggi NU (Sumber Gambar : Nu Online)
23 Mahasiswi Afganistan Belajar di Perguruan Tinggi NU (Sumber Gambar : Nu Online)

23 Mahasiswi Afganistan Belajar di Perguruan Tinggi NU

“Selamat datang di Indonesia. Ini adalah negara kalian juga. Selamat datang di kantor PBNU. NU adalah organisasi Islam yang mengembangkan ajaran ahlussunnah wal jamaah, sama seperti Afganistan,” kata Sekjen PBNU H Marsudi Syuhud saat menyambut para calon mahasiswi di kantor PBNU sambil memberikan motivasi kepada para calon mahasiswi.

23 calon mahasiswi dari Afganistan berusia 19-23 tahun yang merupakan perwakilan dari beberapa wilayah di Afganistan. Mereka akan menempuh pendidikan di Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang selama empat tahun. Namun sebelumnya mereka akan mengikuti matrikulasi bahasa Indonesia selama satu tahun.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Mereka tiba di bandara internasional Soekarno-Hatta sejak Selasa (21/10) kemarin. Mereka beristirahat dan dikenalkan tentang NU dan budaya dan bahasa Indonesia. Selama tiga hari mereka telah lancar mengatakan “Apa kabar”.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Salah seorang perwakilan calon mahasiswa, Masauda Monica mengatakan, dia dan teman-temannya seperti bermimpi bisa datang ke Indonesia dan belajar di perguruan tinggi NU.

“Mimpi kami sudah menjadi kenyataan. Kami akan belajar dengan keras. Kami berharap bisa membawa banyak ilmu ke Afganistan,” kata Masauda dalam bahasa daerah Afganistan yang diterjemahkan oleh seorang penerjemah. Sebagian mahasiswi masih menggunakan bahasa lokal, dan tidak bisa berkomunikasi dengan bahasa Arab atau Inggris.

Masauda bercerita, pada awalnya, saat tiba di bandara mereka ragu dan takut belajar di Indonesia. Namun setelah tiga hari mendapat pengarahan dari para tokoh NU, mereka kembali bersemangat dan ingin segera belajar.

Ufi Ulfiyah dari pengurus pusat Lakpesdam NU yang mendampingi para calon mahasiswi bercerita, sebagian mereka masih tercengang dengan Indonesia, terutama terkait kebebasan kaum perempuan saat berada di luar rumah.

“Di Afganistan kalau kita keluar ke warung kita diawasi dari kaki sampai kepala. Tapi di sini kita lihat banyak perempuan-perempuan bebas di jalan-jalan raya,” kata Ufi menirukan mereka.

Para calon mahasiswa Afganistan juga sempat tegang saat berada di kendaraan dari bandara Soekarno-Hatta. “Waktu itu jalan raya dalam kondisi macet. Mereka mengira sedang ada bom atau keributan,” kata Ufi.

Usai menerima pembekalan dari PBNU para calon mahasiswa juga sempat diajak mengunjungi beberapa ruangan di kantor PBNU seperti ruang redaksi Pondok Pesantren An-Nur Slawi di lantai 5 dan Pojok Gus Dur di lantai dasar.

Selain Sekjen PBNU, para calon mahasiswa juga disambut langsung oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan Wakil Ketua Umum PBNU KH As’ad Said Ali, Wakil Sekjen PBNU Abdul Munim DZ dan Enceng Shobirin, dan Adnan Anwar, serta Ketua PP LAZISNU KH Masyhuri Malik dan Wakil Ketua PP Lakpesdam Lilis Nurul Husna.

Sabtu (26/10) besok para calon mahasiswa akan langsung berangkat ke Unwahas Semarang. Mereka akan tinggal di asrama dan berbaur dengan mahasiswi NU lainnya. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pertandingan, Nahdlatul, Doa Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Gus Dur Membuka Pancaindra Bangsa

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah seorang yang mampu membuka pancaindra bangsa ini. Ia mencerdaskan pendengaran dengan kata-kata cerdas, kata-kata yang membikin perbendaharaan makna di kepala kita.

Kalimat itu disampaikan Agus Nuramal, seorang pegiat seni tutur Pmtoh dari Nanggroe Aceh Darussalam, selepas tampil di peringatan seribu hari wafat Gus Dur di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Jumat malam, akhir pekan lalu. ? Ia memukau penonton atas penampilannya yang berjudul "Seandainya Gus Dur Masih Ada".

Gus Dur Membuka Pancaindra Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Membuka Pancaindra Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Membuka Pancaindra Bangsa

“Dia juga orang yang membuka mata dan hati seluruh bangsa ini tentang apa itu kejujuran, apa sih politik itu. Politik itu nggak adalah sesuatu yang sederhana saja. Ia membuka pancaindra bangsa ini,” ungkapnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jebolan Jurusan Teater Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini kemudian bercerita perkenalannya dengan putera sulung KH Wahid Hasyim ini, “Kenal Gus Dur zaman-zamannya aku membaca Tempo tahun 80-an. Waktu itu aku di kampung membaca catatan-catatan Gus Dur di majalah itu.”

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kemudian, seniman yang menekuni Pmtoh sejak 25 tahun lalu ini, bertemu Gus Dur langsung di TIM ketika ia kuliah di IKJ. Ia menyaksikan Gus Dur sering nongkrong bersama seniman di warung makan.

Ada satu pendapat Gus Dur yang masih dikenang Agus hingga sekarang. Waktu krisis ekonomi tahun 1997, Agus jalan-jalan ke salah satu kampung di Jawa Barat.?

“Aku menemukan ada seorang anak yang, maaf cakap, busung lapar. Tinggalnya di sebuah kandang ayam, kalau aku bilang. Sementara tetangga rumahnya naik haji, dipestakan; pesta satu kampung, pakai rebana,” terangnya.

Agus melanjutkan, kemudian kembali ke Jakarta. Kebetulan bertemu Gus Dur yang sedang dialog di warung makan, sekitar TIM.?

“Kemudian aku tanya, ‘Gus, apakah orang-orang yang naik haji zaman krismon ini masuk surga atau nggak’, aku tanya begitu.”

Menurut Agus, Gus Dur menjawab seperti ini, “Bagaimana mereka mau masuk surga, orang tetangga mereka kelaparan, kok mereka naik haji. Selesaikan dulu yang kelaparan. Barulah naik haji.”?

“Itu kata Gus Dur yang teringat olehku,” pungkas seniman yang memilih Pmtoh sebagai jalan hidup.

?

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis ? : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Quote, Doa, Internasional Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 30 November 2017

SMP NU Sunan Kalijaga Bantu Muluskan Jalan UN SD/MI

Tegal, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. SMP NU Sunan Kalijaga Adiwerna Kabupaten Tegal berupaya memuluskan jalan bagi anak-anak SD dan MI dalam menghadapi Ujian Nasional ? 2017. Ikhtiar yang digelar berupa Try Out UN SD/MI yang diperuntukan bagi siswa di wilayah Tegal dan Brebes.

SMP NU Sunan Kalijaga Bantu Muluskan Jalan UN SD/MI (Sumber Gambar : Nu Online)
SMP NU Sunan Kalijaga Bantu Muluskan Jalan UN SD/MI (Sumber Gambar : Nu Online)

SMP NU Sunan Kalijaga Bantu Muluskan Jalan UN SD/MI

Diharapkan, mereka yang mengikuti try out bisa mengerjakan soal-soal ujian dengan baik, jujur dan mendapatkan nilai yang memuaskan. “Kami ingin membantu para siswa SD/MI dalam menghadapi UN 16-18 Mei mendatang,” ujar Kepala SMP NU Sunan Kalijagah Ripai, di sela kegiatan Rabu (23/3).

Try out, lanjutnya, bertujuan melatih para siswa dalam menghadapi ujian agar siap menteri sekaligus mental. Latihan ini sangat membantu sekolah karena bisa mengukur kesiapan para siswa itu sendiri dalam menghadapi UASBN 2017. “Ada 533 siswa yang berasal dari 35 SD dan MI di Kabupaten Tegal dan Brebes,” ujar nya.

Sudah seharusnya para siswa, orang tua, dan guru serta sekolah terkait kemampuan dan kualitas calon peserta ujian dalam menjawab soal.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ketua Panitia M Budi Santoso menjelaskan, Try out bagi SD/MI sudah digelar oleh SMP NU Sunan Kalijaga sejak 2013. Pada intinya, untuk mendukung program wajib belajar Sembilan tahun. Selain itu, juga untuk memperkenalkan sekolah NU dikalangan siswa SD dan MI.

Try out 2017 dibuka Kepala UPTD Dikpora Kecamatan Adiwerna Tegal Wahidin Karirim. Dalam sambutannya, Wahidin menyambut baik kegiatan try out bagi siswa kelas VI SD/MI. “Kesiapan yang mendalam para siswa, akan menentukan keberhasilan siswa para saat ujian mendatang,” ujarnya.

Usai mengerjakan try out, mereka mendapatkan hiburan berupa pagelaran ekstrakurikuler seperti pentas pencak silat Pagar Nusa, marching band, hadrah dan lain lain. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Amalan, Doa Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 26 November 2017

Toleransi Beragama: Perbedaan itu Rahmat

Oleh M Kholid Syeirazi

Wahyu dalam bentuk Al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah SAW. Sebagai penerima wahyu, Rasulullah SAW adalah orang paling mengerti maksud dan isi Al-Qur’an. Di zaman Rasulullah SAW, perbedaan sahabat dalam memahami ayat langsung bisa dikonfirmasi kepada Rasulullah. Beliau adalah hakam, pemberi kata putus dalam setiap perbedaan pendapat.

Toleransi Beragama: Perbedaan itu Rahmat (Sumber Gambar : Nu Online)
Toleransi Beragama: Perbedaan itu Rahmat (Sumber Gambar : Nu Online)

Toleransi Beragama: Perbedaan itu Rahmat

Terkadang perbedaan pendapat dalam memahami nash, baik nash Al-Qur’an maupun Hadits dibiarkan Rasulullah SAW tanpa dicelanya. Sejak zaman Rasulullah SAW sudah ada kecenderungan sekelompok sahabat yang memahami bunyi nash apa adanya dan juga ada juga sekelompok lain yang tidak letterlijk serta menyertakan rasio dalam memahami nash.

Ketika perang parit, Bani Qurayzhah yang telah menekan perjanjian damai dengan Rasulullah Saw berkhianat. Mereka membelot, bersekutu dengan kafir Quraisy menjanjikan bantuan untuk memerangi Rasulullah dalam perang Khandaq. Selepas zuhur, Jibril datang membawa perintah agar Rasulullah Saw menyerbu benteng Bani Qurayzhah. Panji pasukan diserahkan kepada Ali Ra dan Rasulullah bersabda: “Lâ yushalliyanna ahadun al-ashra illâ fî banî Qurayzhah” (Jangan kalian shalat asar kecuali di Bani Qurayzhah)

Peristiwa ini diceritakan oleh Ibnu Hisyâm dalam Sîrah-nya yang legendaris, diriwayatkan oleh Imâm Bukhâri dalam Sahîh Bukhâri ‘Kitâb al-Maghâzi,’ diberikan syarah panjang lebar oleh Ibnu Hajar Al-Asqalanî dalam Fathul Bâri. Azhim Abadi membahas hadits ini dalam Awnul Ma’bûd Syarah Sunan Abî Dâwud“ dalam Kitâb al-Qadhâ Bâb Ijtihâd al-Ra’y fil Qadha” (Lihat Ibnu Hisyâm, As-Sîrah An-Nabawiyyah, Beirut: Dâr Ibn Hazm, 2001, halaman 462-463; Ibn Hajar Al-Asqalanî, Fathul Bâri, Beirut: Dâr Ihyâ’it Turâts Al-Arabî, 1988, Juz 7, halaman 327-329; Syamsul Haq Al-Azhîm Abadî, Awnul Ma’bûd Syarah Sunan Abî Dâwud, Kairo: Darul Hadits, 2001, Juz 6, halaman 427-428).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Diriwayatkan, di tengah perjalanan, waktu shalat asar masuk padahal mereka belum sampai perkampungan Bani Qurayzhah. Sahabat terbelah dalam dua kubu. Kubu pertama enggan shalat asar berdasarkan bunyi harfiah perkataan Nabi “Jangan kalian shalat asar kecuali di Bani Qurayzhah.” Kubu kedua melaksanakan shalat asar di tengah jalan. Mereka memahami perkataan Nabi tidak secara letterlijk, tetapi secara rasional. Menurut mereka, maksud ucapan Nabi adalah kita disuruh segera bertindak sehingga dapat melaksanakan shalat asar di? perkampungan Bani Qurayzhah. Begitu tidak tercapai, shalat asar harus dilaksanakan selagi ada kesempatan. Kubu pertama akhirnya baru dapat melaksanakan shalat asar setelah masuk shalat isya.’

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kejadian ini dilaporkan kepada Rasulullah saw dan beliau tidak mencela salah satunya. Wahyu juga tidak turun membenarkan satu kelompok, dan menyalahkan kelompok lain. Artinya, ijtihad dua kelompok sahabat yang tekstual dan yang rasional diakui, karena dalam ijtihad, yang benar dan yang salah sama-sama diganjar pahala. Yang benar dapat dua pahala, yang salah dapat satu pahala. Menurut Azhim Abadi, kubu pertama adalah penduhulu kelompok tekstualis (salafu ahliz zhahir), kubu kedua adalah penduhulu kelompok logis (salafu ashâbil ma’nâ wal qiyâs). Sikap Rasulullah yang arif bijaksana membuat dua kelompok sahabat toleran, saling menghormati dan menghargai perbedaan pandangan.

Masalahnya, sepeninggal Rasulullah Saw umat Islam kehilangan sumber hidup yang dapat memutus dan menyelesaikan pertentangan. Al-Qur’an satu, tetapi penafsirannya sebanyak isi kepala sahabat dan umat sepeninggalnya. Rasulullah Saw meninggalkan sunah, tetapi banyak versi riwayat ucapan, perbuatan, dan ketetapan Nabi dan juga pemahaman umat terhadapnya. Menjadi semakin kompleks karena ada kubu yang mulai memaksakan pandangan mereka dan kehilangan toleransi untuk mengakui pandangan kelompok lain.

Ketika perang Shiffin sekelompok orang keluar dari barisan Ali dan Mu’awiyah, mencela dan mengafirkan keduanya, dan mengusung slogan “lâ hukma illallâh.” Proses arbitrase (tahkîm), yang kemudian secara curang dimenangkan kubu Mu’awiyah, oleh kelompok yang kelak dikenal sebagai Khawarij ini dianggap mengingkari hukum Allah. Pelakunya kafir dan harus diperangi. Di sinilah tradisi takfir dimulai.

Pada zaman sahabat perbedaan tajam sering kali terjadi. Umar yang tidak membagi rampasan perang (fai) berupa tanah pertanian di Syam dan sekitarnya ditentang oleh Bilal dan sahabat lain karena dianggap menyelisihi bunyi nash Al-Qur’an (tentang ijtihad Umar Ra, lihat Muhammad Bultajiy, Manhaj Umar ibnil Khattâb fit Tasyrî (Kairo: Dârul Fikr Al-Arabî, 1970). Namun, setajam apa pun pertentangan di antara sahabat, tidak ada takfir. Khawarij memulai tradisi pemaksaan pendapat dengan takfir dan kekerasan. Ali Ra wafat setelah ditikam oleh pengikut Khawarij, Abdurrahman bin Muljam. Ali Ra berkali-kali menampik slogan Khawarij “lâ hukma illallâh” dengan menyatakan “kalimatu haqqin yurâdu bihal bâthil” (ungkapan benar, tetapi digunakan untuk tujuan salah).

Saling menghargai perbedaan pendapat, terutama dalam perkara furû’, mutlak diperlukan untuk mewujudkan ukhuwwah Islâmiyyah. Persaudaraan umat Islam tidak mungkin terwujud dalam suasana takfir dan penyesatan. Beragamalah dengan ilmu! Jangan gunakan jargon “Kembali kepada Al-Qur’an dan Hadits” seperti kaum Khawarij menggemakan slogan “lâ hukma illallâh.”

Al-Qur’an satu, tetapi penafsiran terhadapnya sebanyak isi kepala para mufassir. Ayat-ayat Al-Qur’an terdiri dari banyak jenis, kita mengetahuinya dari para ulama yang merumuskan disiplin Ulûmul Qur’an. Al-Qur’an tidak bisa dicuplik satu dua ayat, dipotong sepenggal-sepenggal sesuai kepentingan partisan. Hadits ada berbagai tipe, diriwayatkan banyak rawi, sampai ke tangan kita atas jasa para ulama yang telah membukukan ucapan Rasulullah Saw, menyeleksinya berdasarkan kategori hadis shahih, hasan, dan dha’if.

Kembali kepada Al-Qur’an dan Hadits hanya berhenti sebagai jargon bagi orang yang baru membaca Al-Qur’an dan mengerti satu dua hadits dari majelis taklim. Saya sendiri tidak berani menafsirkan Al-Qur’an, hatta satu ayat, tanpa membuka cara ulama sejak sahabat hingga tabi’, tabi’in menafsirkannya sebagaimana tertuang dalam kitab-kitab tafsir. Begitu pun dalam memahami hadits, saya terikat dengan kitab-kitab hadits (kutubus sittah) yang diakui otentisitasnya serta syarah ulama yang diakui keilmuannya terhadap kitab-kitab tersebut. Itulah tradisi ilmiah! Jangan potong dengan ucapan sapu jagat “Mari Kembali kepada Al-Qur’an dan Hadits,” tetapi baca Al-Qur’an saja masih tersendat-sendat.

Beragamalah dengan akal! Hargai perbedaan pendapat, yang bahkan sudah terjadi di kalangan sahabat sejak zaman Rasulullah Saw seperti ditunjukkan dalam insiden Bani Qurayzhah. Toleransi hanya dapat terwujud jika masing-masing punya pedoman: “Pendapat saya benar, tetapi bisa jadi salah. Pendapat orang lain salah, tetapi bisa jadi benar.” Tidak ada pemutlakan, tidak ada penyesatan apalagi takfir dan kekerasan.

Jangan gunakan standar ganda! Jika saya kritik cara pemahaman kelompok tekstualis, mereka bilang saya memecah belah umat. Tetapi jika ustadz-ustadz mereka menulis di blog dan ceramah di youtube yang membid’ah-bid’ahkan dan bahkan menyesat-nyesatkan amaliah NU, mereka bilang itu amar ma’ruf nahi munkar. Kembalilah kepada kebenaran. Tidak ada kebenaran mutlak sejauh di tangan manusia. Kebenaran manusia selalu relatif, karena akal manusia nisbi. Hanya kebenaran Allah yang benar-benar benar! Itulah sejatinya kebenaran.

*) M Kholid Syeirazi, Sekjen Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlaul Ulama (PP ISNU)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Doa Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 28 Oktober 2017

Diklatamad Korps Pelajar NU Batang Diikuti 10 Kabupaten

Batang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pendidikan dan Pelatihan Tingkat Madya (Diklatmad) yang digelar Dewan Komando Cabang Corps Brigade Pembangunan (CBP) IPNU dan Korps Pelajar Putri (KPP) IPPNU Kabupaten Batang, Jawa Tengah, mendapat berlangsung meriah.

Diklatamad Korps Pelajar NU Batang Diikuti 10 Kabupaten (Sumber Gambar : Nu Online)
Diklatamad Korps Pelajar NU Batang Diikuti 10 Kabupaten (Sumber Gambar : Nu Online)

Diklatamad Korps Pelajar NU Batang Diikuti 10 Kabupaten

Kegiatan yang digelar di lapangan Desa Pangempon, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, ini diikuti 263 peserta dari 15 kecamatan di kabupaten setempat dan 10 kabupaten/kota. Kesepuluh kabupaten/kota ini meliputi Blora, Wonosobo, Magelang, Banjarnegara, Purbalingga, Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, Pemalang, Tegal dan Brebes.

Dua lembaga semiotonom Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) itu menggelar acara kaderisasi ini selama tiga hari, 18-20 Februari 2015.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Peserta Diklatmad juga merupakan perwakilan dari Dewan Komando Anak Cabang (DKAC) CBP dan KPP yang tak lain adalah alumni Pendidikan dan Pelatihan Tingkat Pertama (Diklatama) yang diselenngarakan pada 2012 lalu.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Saya sangat bangga dan sangat berterima kasih kepada DKAC CBP-KPP se-Kabupaten Batang serta DKC dari luar daerah yang telah mendelegasikan pesertanya untuk mengikuti acara ini,” ujar Komandan DKC CBP Kabupaten Batang Ahmad Shodiqin.

Satu dari beberapa rangkaian acara tersebut adalah apel akbar peringatan hari lahir IPNU-IPPNU. Dalam sambutannya, Ketua PC IPNU Kabupaten Batang Achmad Yusuf menegaskan, kader-kader yang sekarang mengikuti Diklatmad merupakan mereka yang siap menjadi pemimpin masa depan di semua lini, serta siap menjadi kader yang cinta tanah air dengan menjaga Pancasila dan keutuhan NKRI.

Turut hadir dalam acara ini Dewan Komando Nasional (DKN) CBP Asyriqin dan Wasekjen Pimpinan Pusat IPNU Slamet Tuhari Ng. Asyriqin mengaku bangga dan mengapresiasi kerja DKC CBP dan KPP Kabupaten Batang.

“Acara yang diselenggarakan oleh DKC CBP-KPP Kabupaten Batang namun pesertanya justru diikuti? sepuluh? kabupaten/kota dari luar daerah. Ini acara tingkat kabupaten namun rasanya seperti acara tingkat provins saja,” ujarnya. (Yusuf/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Doa, Khutbah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Peduli Longsor, Ansor Rembang Bantu Dana dan Barang

Rembang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Rembang mengumpulkan sejumlah bantuan kepada para korban banjir dan tanah longsor di kawasan Jawa Tengah. Bantuan disalurkan melalui Pimpinan Wilayah GP Ansor yang tengah mendirikan posko di Semarang.

Peduli Longsor, Ansor Rembang Bantu Dana dan Barang (Sumber Gambar : Nu Online)
Peduli Longsor, Ansor Rembang Bantu Dana dan Barang (Sumber Gambar : Nu Online)

Peduli Longsor, Ansor Rembang Bantu Dana dan Barang

Penggalangan dana dilakukan sejak Senin (20/6) lalu dan pada waktu penyaluran Jumat (24/6) kemarin dana terkumpul sebanyak lebih dari dua juta rupiah ditambah ratusan bantuan berupa barang seperti selimut, pakaian layak pakai, makanan instan, dan air mineral.

Bantuan ini berasal dari para kader GP Ansor dan masyarakat secara umum. PC GP Ansor masih terus membuka posko penggalangan dana dan masih menerima donasi dari berbagai pihak untuk para korban.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Ternyata respon kader Ansor di tingkat cabang, ancab (anak cabang), hingga ranting cukup besar. Terbukti, kami berhasil mengumpulkan ratusan potong pakaian layak pakai serta ratusan barang kebutuhan pokok lainnya. Ada juga kebutuhan bayi yang berhasil kami kumpulkan," ujar Ketua PC GP Ansor Rembang M Hanies Cholil.

Sementara itu, koordinator penggalangan bantuan, Pujianto mengaku pihaknya mengandalkan kecepatan penyebaran informasi di media sosial dan selebaran untuk melakukan penggalangan. Dengan kecanggihan teknologi saat ini, informasi tersebut dengan cepat menyebar ke seluruh kalangan kader Ansor sehingga dengan cepat bisa terkumpul.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Sejak dibukanya posko penggalangan bantuan bencana pada Senin kemarin, bantuan terus mengalir setiap harinya, hingga pada Jumat sudah bantuan yang terkumpul dirasa sudah cukup maka ditutup posko penggalangan bantuan bencana ini," tandasnya. (Red: Mahbib)

?


Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Anti Hoax, Berita, Doa Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 26 Oktober 2017

Ketika Ribuan Santri dan Pelajar Tasikmalaya Sambut Kirab Resolusi Jihad

Tasikmalaya, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Jalan Dr. Soekardjo No 47 Tasikmalaya, depan Kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Tasikmalaya, Jawa Barat dipadati ribuan santri dan pelajar yang ikut menyambut Rombongan Kirab Resolusi Jihad Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Rabu (19/10).

Ketika Ribuan Santri dan Pelajar Tasikmalaya Sambut Kirab Resolusi Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Ribuan Santri dan Pelajar Tasikmalaya Sambut Kirab Resolusi Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Ribuan Santri dan Pelajar Tasikmalaya Sambut Kirab Resolusi Jihad

Santri yang hadir dalam penyambutan tersebut sebanyak 1.800 santri dan pelajar yang terdiri dari santri Pondok Pesantren Bustanul Ulum Sindangsari Tamansari, Alhikmah Tamansari, Bahrul Ulum Awipari, Riyadul Ulum Wadda’wah Condong Cibeureum, Al-Mukhlisun Indihiang, Al-Mukhtariyah Mangkubumi, SMK Bustanul Ulum Sindangsari Tamansari, MA Alhikmah Tamansari, SMK NU dan MA NU Kota Tasikmalaya

Kemeriahan ini sangat disambut baik dan dijadikan moment yang sangat bersejarah untuk bangsa ini, karena sekarang santri telah diakui oleh Negara dan sangat berpengaruh serta berperan akti dalam menjaga kemerdekaan bangsa Indonesia.

Acara penyambutan tersebut dimeriahkan langsung oleh Band Aswaja fi’il Harmony binaan dari PC Lesbumi NU Kota Tasikmalaya. Dengan lagu-lagunya yang bernuansa Islami, para santri turut mengikuti alunan nyanyian yang dibawakan band tersebut sehingga Gema Sholawat pun terdengar nyaring di depan kantor PCNU Kota Tasikmalaya.

Menurut salah seorang santri dari Bahrul Ulum Awipari mengatakan bahwa kita sebagai santri harus bangga dengan adanya hari Santri Nasional ini, dan santri lah dari sejak dulu sampai sekarang merawat tradisi-tradisi para ulama dan mempertahankan NKRI.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sedangkan menurut Adi Imam Assidiq salah seorang murid MA NU ia merasa bangga dengan adanya Hari santri Nasional ini, meski belum pernah menjadi santri dan mondok di pesantren tapi perilaku dan spirit kesantrian yang harus kita jaga dan pelihara setiap hari. (Agum Gumilar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Doa, Makam, Bahtsul Masail Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi