Sabtu, 25 Desember 2010

Berkunjung ke Lokasi Shooting Film Sang Kiai

Kesuksesan film Sang Kiai menjadi film bioskop terbaik 2013 pada festival film Indonesia (FFI) beberapa waktu lalu, memberikan kebanggaan tersendiri bagi warga di sekitar di Pondok Pesantren Salafiyah Kapurejo Pagu Kediri. Maklum saja, dusun kecil ini menjadi salah satu lokasi shooting dari film yang diproduksi Rapi Films itu.

Saat pengambilan gambar, tidak kurang membutuhkan waktu satu bulan. “Para kru produksi film semuanya menginap di lingkungan pondok sini atau di rumah-rumah warga,” kata Afthom Baidhowi.

Pria yang menjadi guru ini menceritakan bahwa warga Kapurejo sangat antusias saat mendukung proses shooting. Masyarakat dilibatkan sebagai peran figuran, terutama yang menceritakan kisah aktivitas masyarakat. “Tidak cuma melihat, masyarakat juga dijadikan semacam artis dadakan dalam film itu,” kata pria yang masih termasuk keluarga pengasuh Pondok Kapurejo itu.

Hampir semua adegan dalam film Sang Kiai diambil lokasinya di Kapurejo. “Mulai masjid, rumah pengasuh, kamar santri, dapur, kandang sapi sampai tempat penjemuran padi di sana,” katanya sambil menunjuk ke arah barat.

Berkunjung ke Lokasi Shooting Film Sang Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)
Berkunjung ke Lokasi Shooting Film Sang Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)

Berkunjung ke Lokasi Shooting Film Sang Kiai

Guru Fiqih ini mengaku bangga karena film yang terkenal itu lokasi pengambilan gambarnya di Kapurejo. “Orang-orang sekarang banyak mengenal Kapurejo lewat film itu,” ujarnya.

Sebagai rasa bangga itu, sekarang film yang disutradarai Rako Prijanto itu diputar di desa-desa sekitar. “Lewat film layar tancap mas, nonton bareng-bareng,” ujarnya dengan bangga.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Hal senada juga disampaikan Mujiono. Guru MA Hasan Muchyi Kapurejo ini dengan semangat menuturkan bahwa pengambilan gambar film Sang Kiai merupakan sejarah tersendiri bagi desanya.

Film yang disutradaai Gope T. Samtani itu, menurutnya, membuat ramai di semua penjuru desa Kapurejo selama sebulan lebih. “Tidak hanya siang, shooting kadang juga dilakukan sore dan malam hari,” ujarnya.

Pria berkumis ini menceritakan warga desa Kapurejo senang karena bisa melihat langsung artis terkenal yang terlibat. Mulai Ikranagara, Christine Hakim dan Agus Kuncoro. Termasuk artis muda pendatang baru seperti Dimas Aditya, Royhan Hidayat, Adipati Dolken, Meriza Febriani Batubara, Ernestan Samudra dan Dayat Simbaia.

Mujiono dengan gamblang menceritakan bahwa banyak properti yang didatangkan dari luar desa. Mulai meubel, pedati, truk sampai kostum pemain. “Saya juga heran, dari mana saja para kru kok bisa mendatangkan barang-barang antic dan kuno seperti itu,” ujarnya. Di sekitar Kapurejo, lanjutnya, barang-barang itu seolah sudah tidak bisa dijumpai lagi.

Lain lagi yang dikisahkan Aminatus Solikah. Santriwati yang baru dua tahun tinggal di Pondok Kapurejo ini mengaku senang karena pondoknya dijadikan lokasi shooting. “Meski selama hamper sebulan tempat mengajinya dipindah ke rumah-rumah penduduk,” akunya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Santriwati yang berasal dari Kepung ini setia mengikuti proses shooting yang dilakukan. Bersama teman-temannya, dia juga memperoleh beberapa fotonya dengan beberapa bintang film itu. “Meski harus berdesak-desakan dulu dengan para penonton yang lain,” ujarnya.

Mukani, warga NU, tinggal di Cukir Jombang. Artikel ditulis setelah melakukan kunjungan ke lokasi selama tiga hari, 4-6 Pebruari 2014.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Internasional, Daerah, Halaqoh Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 29 Oktober 2010

Hati-hati, Ada Skenario Agar NU Ditinggalkan Jamaahnya

Jember, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Diakui atau tidak, saat ini tengah terjadi upaya penggerusan yang luar biasa terhadap legitimasi NU. Kepercayaan masyarakat terhadap NU digembosi pascademo anti-Ahok beberapa waktu yang lalu. Tokoh-tokoh NU –dan siapa saja—yang menolak mendukung demo antiAhok seolah-olah menjadi musuh bersama umat Islam. Padahal tidak demikian.

Hal tersebut diungkapkan aktifis NU Jember Muhaimain Kamal saat mengisi acara Mapaga (Masa Pemantaban Anggota) di gedung Ansor Cabang Jember, Ahad (18/12).?

Menurut Muhaimin, ada skenario besar dari pihak-pihak tertentu untuk mendelegitimasi NU dengan memanfaatkan isu anti-Ahok. “Disebarkanlah isu seolah-olah NU tidak membela Islam. NU seakan-akan pro penista agama. Padahal tidak demikian. Untuk soal membela Islam, NU tidak penah menawar. Tapi itu tidak harus dengan demo,” ucapnya.

Hati-hati, Ada Skenario Agar NU Ditinggalkan Jamaahnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Hati-hati, Ada Skenario Agar NU Ditinggalkan Jamaahnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Hati-hati, Ada Skenario Agar NU Ditinggalkan Jamaahnya

Dosen IAIN Jember tersebut menambahan, upaya-upaya pihak tertentu dalam mengikis kepercayaan masyarakat terhadap NU dilakukan secara massif. Dan mereka berhasil membikin opini seolah-olah NU salah karena tidak mendukung demo anti-Ahok. Begitu juga ulama yang tidak setuju? demo anti-Ahok dianggap tidak membela Islam.

Ia lalu mencontohkan Gus Mus (KH. Mustofa Bisri). Siapa pun tahu bagaimana teduh dan bijaknya pemikiran-pemikiran Gus Mus. “Tapi ketika beliau tidak mendukung demo (anti-Ahok), minimal ada yang mempertanyakan kenapa tidak mendukung. Seolah-olah Gus Mus salah. Muara dari semua itu, ya delegitimasi NU. Agar NU ditinggalkan massanya. Kalau NU sudah rapuh, maka mereka punya agenda lain,” tuturnya.

Karena itu, katanya, tiada cara lain kecuali NU harus mengonsolidasi diri. Fikrah nahdliyyah berbasis Ahlussunnah wal jama’ah ala NU, perlu diteguhkan dan ditanamkan terus di simpul-simpul massa akar rumput NU. “Amaliah NU yang berbasis Aswaja dan mu’malah NU yang bercirikan tawasshuth, i’tidal dan sebagainya, perlu dijadikan pegangan,” cetusnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Mapaga tersebut digelar oleh PMII Rayon Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Jember, dan diikuti oleh 30 anggota baru PMII. (aryudi a. razaq/abdullah alawi)?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pondok Pesantren, Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 03 Oktober 2010

Pascasarjana UIM Siap Mengawal Kedaulatan Pangan di Sulsel

Makassar, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Program Pascasarjana Universitas Islam Makassar (UIM) saat ini Program Pascasarjana UIM siap meningkatkan wawasan pendidikan para penyuluh pertanian, kehutanan, perikanan dan peternakan.

Hal itu dikatakan Asisten Direktur Asdir 1 Program Pascasarjana UIM Dr. Suardi Bakri yang menjadi delegasi pada kunjungan ke Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, 18-19 Desember 2014. Acara yang dipusatkan di Ruang Pola kantor Bupati kabupaten setempat tersebut dalam rangka memberikan penyuluhan pertanian di hadapan para mahasiswa dan para penyuluh pertanian.

Pascasarjana UIM Siap Mengawal Kedaulatan Pangan di Sulsel (Sumber Gambar : Nu Online)
Pascasarjana UIM Siap Mengawal Kedaulatan Pangan di Sulsel (Sumber Gambar : Nu Online)

Pascasarjana UIM Siap Mengawal Kedaulatan Pangan di Sulsel

“UIM siap menjadi garda terdepan demi terwujudnya kedaulatan pangan di Indonesia khususnya di Sulawesi Selatan,” tuturnya yang datang ke Sinjai bersama Ketua Prodi Ilmu Pertanian Dr. Helda Ibrahim.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurutnya, ada empat fungsi penyuluhan pertanian, yaitu pertama,? pembuka jalan bagi petani untuk mendapatkan kebutuhannya di bidang pertanian, khususnya ilmu pengetahuan. Kedua, penyuluhan pertanian merupakan jembatan antara praktik atau kegiatan yang dijalankan petani dengan pengetahuan dan teknologi yang selalu berkembang dan senantiasa dibutuhkan oleh petani.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ketiga, penyampai, pengusahaan dan penyesuaian program nasional dan regional agar dapat dilaksanakan oleh petani dalam rangka menyukseskan program pembangunan nasional.

“Serta yang keempat, kegiatan pendidikan nonformal yang dilakukan secara terus-menerus untuk mengikuti perkembangan teknologi yang dinamis dan masalah-masalah pertanian yang berkembang,” ungkap Suardi di hadapan penyuluh pertanian di Kabupaten Sinjai.

Suardi Bakri mengaku bersyukur saat ini lulusan pascasarjana dan mahasiswanya sudah memikul beberapa peran besar di daerahnya masing-masing. “Di antaranya Kepala Badan Penyuluh Pertanian Sinjai adalah salah satu alumni dari Program Pascasarjana UIM dan Kepala Badan Penyuluh Pertanian Jeneponto adalah mahasiswa yang sementara menempuh Program Pascasarjana UIM,” tambahnya

Kedua Kepala Badan Penyuluh ini, katanya, sudah sepakat untuk merekomendasikan pada penyuluh yang belum berpendidikan S2 dapat melanjutkan pendidikannya di UIM, utamanya Program Pascasarjana. (Andy Muhammad Idris/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kiai Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 20 September 2010

Berjasa Kembangkan Ekonomi Syariah, Kiai Ma’ruf Sandang Gelar Profesor

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Menristek RI) Nomor 69195/A2.3/KP/2017, Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang juga Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin akan diangkat dan dikukuhkan sebagai Profesor dan Guru Besar dengan status sebagai dosen tidak tetap dalam bidang Ilmu Ekonomi Muamalat Syaria’ah di UIN Malang.

Surat pengangkatan menteri tersebut didasarkan kepada surat usul rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dengan Nomor Un.03/0T.01.6/5731/2016 tanggal 18 November 2016.

Berjasa Kembangkan Ekonomi Syariah, Kiai Ma’ruf Sandang Gelar Profesor (Sumber Gambar : Nu Online)
Berjasa Kembangkan Ekonomi Syariah, Kiai Ma’ruf Sandang Gelar Profesor (Sumber Gambar : Nu Online)

Berjasa Kembangkan Ekonomi Syariah, Kiai Ma’ruf Sandang Gelar Profesor

Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang H Mudjia Rahardjo menjelaskan, usulan penganugerahan gelar profesor kepada KH Ma’ruf Amin semula berasal dari para ulama, tokoh masyarakat, dan juga dari Kemenristek. Karena pengangkatan seseorang agar mendapatkan gelar profesor itu harus dari sebuah institusi yang memiliki akreditasi A, maka ia menawarkan usulan tersebut kepada para senat UIN Malang.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Pengusul itu harus dari institusi yang terakreditasi A. Terus saya rapatkan senat dan ternyata senat menyetujui. Karena menyetujui saya mengusulkan melalui Kementerian Agama karena bidangnya ekonomi Islam,” kata H Mudjia saat dihubungi Pondok Pesantren An-Nur Slawi via telepon, Sabtu (20/5).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Peraih gelar doktor bidang Ilmu Sosial dari Universitas Airlangga itu mengatakan, proses pengukuhannya akan dilaksanakan pada Rabu, 24 Mei 2017, di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Ia menambahkan, rencananya acara tersebut akan dihadiri oleh Presiden, beberapa menteri, dan pejabat negara lainnya. Sampai saat ini, persiapan acara sudah mencapai delapan puluh persen.

“Sampai hari ini beritanya begitu (akan dihadiri Presiden Jokowi), pihak panitia dan beberapa sudah menghubungi istana,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, pemberian gelar tertinggi dalam akademik kepada KH Ma’ruf Amin didasarkan kepada kiprah dan peran Rais ‘Aam PBNU tersebut dalam hal keulamaan dan pengembangannya dalam bidang ekonomi syariah. Menurut dia, gelar profesor untuk KH Ma’ruf Amin adalah bentuk apresiasi atas perannya selama ini.

“Karena perannya, baik perannya sebagai ulama dan peran akademiknya dalam bidang ekonomi itu menonjol sekali. Terutama setelah adanya demo besar-besaran,” urainya.

H Mudjia menilai, KH Ma’ruf Amin adalah sosok ulama yang lengkap, yaitu memiliki garis nasab ulama dan juga memiliki keilmuan agama yang sangat mumpuni, memiliki peran yang signifikan dalam mengembangkan ekonomi syariah, dan bisa diterima semua golongan.

“Beliau sosok ulama yang bisa diterima oleh berbagai kelompok aliran di Indonesia. NU, Muhammadiyah, dan lainnya,” tutup dia. (Muchlishon Rochmat)    



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi PonPes,Attijani Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kementerian Agama Tetapkan Legalitas Sekolah Berbasis Pesantren

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Setelah Ma’had Aly sebagai perguruan tinggi berbasis pesantren pada jenjang Pendidikan Diniyah Formal (PDF) diresmikan bulan Mei 2016 lalu, kini Kementerian Agama (Kemenag) juga meresmikan sekolah berbasis pesantren yang meliputi Pendidikan Diniyah Formal tingkat Ula (setingkat MI/SD), Wustho (setingkat MTs/SMP), dan Ulya (setingkat MA/SMA/SMK).?

Kementerian Agama Tetapkan Legalitas Sekolah Berbasis Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Kementerian Agama Tetapkan Legalitas Sekolah Berbasis Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Kementerian Agama Tetapkan Legalitas Sekolah Berbasis Pesantren

Peresmian bertajuk Dari Pesantren untuk Bangsa? ini dilaksanakan, Senin (1/8) di Pondok Pesantren Minhaajurrasyidiin Lubang Buaya, Jakarta Timur. Pada tahun pertama, Kemenag meresmikan 12 PDF tingkat Wustho dan Ulya dari seluruh Indonesia. Penetapan legalitas ini juga disertai penyerahan Surat Keputusan (SK) izin operasional kepada 12 PDF tersebut.

Hadir dalam acara peresmian ini di antaranya Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag RI Mohsen, Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) Pendidikan Diniyah Ahmad Zayadi, Pengasuh Pesantren Darurrohman KH Syukron Makmun, Kakanwil Kemenag DKI Jakarta Abdurrahman, Ketua Yayasan Minhaajurrasyidiin Nur Faizi Suwandi, Ketua MUI DKI Jakarta KH Syarifuddin Abdul Ghani, Pengasuh Pesantren Minhaajurrasyidin KH Asy’ari Akbar, dan Asosiasi Pondok Pesantren se-DKI Jakarta.

Kasubdit Pendidikan Diniyah Ahmad Zayadi menerangkan, legalitas Pendidikan Diniyah Formal pada tingkat Ula, Wustho, maupun Ulya yang berbasis di pesantren menetapkan satuan pendidikan di pesantren ini setara dengan lembaga pendidikan formal lain seperti madrasah dan sekolah umum.

“PDF pada berbagai tingkatan ini merupakan jenis layanan pendidikan keagamaan Islam yang bersifat formal. Karena pendidikan keagamaan Islam, maka tujuannya untuk mencetak para kader ulama yang ahli di bidang ilmu agama Islam,” ujar Zayadi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Karena tujuannya untuk mencetak ahli-ahli di bidang ilmu agama Islam, lanjut Zayadi, maka kurikulum yang diterapkan di Pendidikan Diniyah Formal kebalikan madrasah. “Jika di madrasah porsi ilmu umum 75 persen dan ilmu agama 25 persen, maka PDF sebaliknya, 75 persen ilmu agama Islam dan 25 persen ilmu umum,” imbuhnya.

Dikatakan Zayadi, karena PDF ini dilksanakan di pesantren, maka pembelajarannya harus berbasis kitab-kitab klasik atau kitab kuning. Hal ini yang menjadi pembeda (distingsi) dengan layanan pendidikan keagamaan lain. Dia mengakui bahwa layanan pendidikan ini memang baru, tapi pihaknya akan terus berkomitmen mengembangkan PDF ini dari tingkat Ula, Wustho, Ulya hingga Ma’had Aly sebagai lembaga pencetak kader ulama.

Senada dengan Zayadi, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Mohsen menjelaskan, PDF merupakan pendidikan berbasis ponpes yang dirancang Kemenag untuk mewujudkan ulama masa depan yang menguasai ilmu agama dengan baik namun tetap menjunjung tinggi toleransi di masyarakat.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Peluncuran ini merupakan bagian dari tantangan Kemenag memainkan peran strategis untuk membentuk masyarakat yang semakin religius namun toleran melalui pendidikan formal berbasis pesantren," ujar Mohsen yang hadir mewakili Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Menag berhalangan hadir karena ada agenda rapat dengan Presiden RI Joko Widodo.

Lebih lanjut, Mohsen berharap bahwa melalui PDF ini, lulusan sekolah berbasis pesantren ini juga mampu bersaing dengan lulusan sekolah formal lain dengan menggunakan ijazah formal yang diperoleh usai kelulusan. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi IMNU, Santri, Kajian Islam Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 12 Agustus 2010

Tiap Jumat, Mobil Aswaja Siap Sapa Sejumlah Masjid

Surabaya, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. PW Aswaja NU Center Jawa Timur memastikan bahwa setiap Jumat akan mengunjungi sejumlah masjid untuk kian memasyarakatkan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) kepada kaum muslimin. Hal ini sebagai bentuk tanggung jawab demi menyelamatkan akidah umat dari rongrongan gerakan Islam yang cenderung ekstrem.

"Kami telah memiliki mobil operasional dan akan dioptimalkan untuk menyapa masjid setiap Jumat," kata Direktur PW Aswaja NU Center, KH Abdurrahman Navis, Sabtu (22/8).

Tiap Jumat, Mobil Aswaja Siap Sapa Sejumlah Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiap Jumat, Mobil Aswaja Siap Sapa Sejumlah Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiap Jumat, Mobil Aswaja Siap Sapa Sejumlah Masjid

Mobil dengan jenis APV tersebut akan menyediakan sejumlah kebutuhan Aswaja. "Dari mulai buku, flash disk, dan selebaran Jumat," kata Wakil Ketua PWNU Jatim ini. Bahkan sejumlah pengurus dan anggota siap memberikan layanan tanya jawab seputar Aswaja dan pengetahuan agama Islam yang dibutuhkan masyarakat, lanjutnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kiai Navis, sapaan akrabnya sangat menyadari bahwa tantangan bagi tersebarnya Aswaja demikian berat. "Banyak masjid di sekitar kita yang telah dimasuki aliran Islam garis keras," ungkapnya. Dan untuk mengimbangi atau bahkan melawan gerakan ini, cara yang ditempuh adalah antara lain dengan melakukan sosialisasi ke sejumlah masjid tersebut.

Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya ini juga berharap agar gerakan PW Aswaja NU Center bisa dilakukan juga oleh banyak kalangan, khususnya para generasi muda. "Karena tantangan Aswaja ala NU semakin berat," pungkasnya.? (Syaifullah/Mahbib)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Meme Islam, Tegal, Fragmen Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 12 Juni 2010

Cabang-Cabang Ansor di Sumbar Keluarkan Deklarasi Tolak Paham Radikal

Pasaman Barat, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Tiga Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor di Sumatera Barat keluarkan Deklarasi Kebangsaan menolak semua bentuk paham radikal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang sudah tumbuh sejak lama di tengah masyarakat Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikan pada ? Deklarasi Kebangsaan Gerakan Pemuda Ansor yang diikuti Pimpinan Cabang Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Pasaman dan Kabupaten Pasaman Barat, Minggu (16/7/2017) malam usai shalat Isya berjamaah di Masjid Al-Ikhlas Sidodadi Kecamatan Kinali, Kabupaten Pasaman Barat.?

Pernyataan yang dibacakan kader Ansor Padang Pariaman M. Fadly, menyebutkan, menyikapi perkembangan bangsa Indonesia belakangan ini, maka dengan ini Ansor menyatakanm, pertama, Gerakan Pemuda Ansor menolak semua bentuk paham radikal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang sudah tumbuh sejak lama di tengah masyarakat Indonesia.

Cabang-Cabang Ansor di Sumbar Keluarkan Deklarasi Tolak Paham Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)
Cabang-Cabang Ansor di Sumbar Keluarkan Deklarasi Tolak Paham Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)

Cabang-Cabang Ansor di Sumbar Keluarkan Deklarasi Tolak Paham Radikal

Kedua, menolak paham dan gerakan ISIS yang nyata-nyata tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusian dan agama Islam. Ketiga, mendukung pernyataan sikap Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dan Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor tentang pembubaran ormas Hizbur Tahrir Indonesia (HTI) yang dinilai mengancam keutuhan NKRI.?

Keempat, mendukung sikap Pemerintah ? Indonesia yang membubarkan organisasi atau kelompok yang nyata-nyata berlawanan dengan ideologi Pancasila dan mengancam keutuhan NKRI. Kelima, mendukung sikap TNI dan Polri yang tegas mengambilkan tindakan terhadap pihak-pihak yang dapat mengancam keutuhan NKRI.

Naskah pernyataan ditandatangani Ketua PC Padang Pariaman ? Zeki Aliwardana, Ketua PC Pasaman Asrial dan Ketua PC Pasaman Barat Djafrinal Effendi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurut Zeki Ali Wardana, pernyataan sikap ini disampaikan sebagai bentuk kepedulian Ansor terhadap dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara. “Ansor tidak ingin negara ini dicabik-cabik oleh kelompok yang datang kemudian untuk menghancurkan dengan paham-paham yang bertentangan dengan Pancasila sehingga merongrong keutuhan NKRI. Karena Ansor amat menyadari negara dan bangsa Indonesia didirikan dan dipertahankan oleh para pendahulu dengan pengorbanan pikiran, fisik, tetesan darah para ulama, santri dan komponen bangsa Indonesia lainnya,” kata Zeki, ? yang juga mantan Sekretaris PMII Kota Pariaman ini.

Djafrinal Effendi pun menambahkan, melalui deklarasi kebangsaan ini, kami ingin mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati terhadap paham-paham yang cenderung radikal dan terindikasi merongrong keutuhan NKRI. Meski dibungkus dengan simbol-simbol Islam, namun targetnya jelas membawa kepentingan pihak luar sehingga ideologi bangsa Indonesia diganti sesuai dengan misinya.

“Setiap kader Ansor sudah dibekali wawasan kenapa harus menjaga empat pilar kebangsaan Indonesia. Yakni ideologi Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1 945. Sejarah panjang dan kondisi yang dimiliki Indonesia, hanya cocok dengan konsep empat pilar tersebut,” kata Djafrinal, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Sumatera Barat ini.?

Menurut Ketua Ansor Pasaman Asrial Arfandi Hasan, generasi muda yang tingkat pengetahuan agamanya (Islam) minim lebih mudah dimasuki paham radikal. Jika bertemu dan diajak oleh orang berpaham radikal, bisa tergoda untuk mengikutinya. “Untuk itu, generasi muda perlu meningkatkan pengetahuan agama Islam-nya yang berpahamkan rahmatan lil’alamin, Islam yang moderat,” kata Asrial, mantan Camat ? Padang Gelugur Kabupaten Pasaman ini. ?

Dikatakan Asrial, ? deklarasi kebangsaan ini juga meningkatkan silaturrahmi dan konsolidasi Ansor sesama pimpinan dan kader Ansor di tiga cabang. Ke depan pertemuan ini diharapkan dapat ditingkatkan dengan jumlah cabang yang lebih banyak.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

(Armaidi Tanjung/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Nahdlatul, Meme Islam Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 05 Juni 2010

Menunda Shalat saat Kantuk Berat

Rasa kantuk merupakan naluri alamiah yang dialami oleh hampir seluruh manusia. Naluri tersebut bisa datang kapanpun, baik di siang maupun malam hari. Tidak jarang juga rasa kantuk datang saat seseorang tengah asyik menjalankan aktivitas kesehariannya seperti bersekolah, bekerja, mengajar dan lain sebagainya.

Penyebabnya pun juga beragam, ada yang karena kecapekan sehabis bekerja, usai berolahraga, ataupun di saat sedang membaca buku. Persoalannya agak sedikit njelimet ketika rasa kantuk tersebut mendera saat seseorang akan melaksanakan ibadah shalat. Lantas apa yang seharusnya ia lakukan?

Menunda Shalat saat Kantuk Berat (Sumber Gambar : Nu Online)
Menunda Shalat saat Kantuk Berat (Sumber Gambar : Nu Online)

Menunda Shalat saat Kantuk Berat

Imam Al-Bukhari meriwatkan sebuah hadits yang bersumber dari Sayyidah Aisyah RA di mana beliau mendengar Rasulullah SAW menyebutkan, Seandainya salah seorang di antara kalian didera oleh rasa kantuk, sementara ia hendak melaksanakan shalat, maka sebaiknya ia tidur terlebih dahulu hingga rasa kantuknya hilang, karena ketika seseorang shalat dalam kondisi mengantuk, bisa jadi ia tidak sadar ketika berdoa, (sehingga dikhawatirkan) malahan mencela dirinya sendiri.”

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sementara itu Imam Muslim meriwatkan hadits senada, akan tetapi bersumber dari Sayidina Abu Hurairah RA di mana Rasulullah SAW bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian shalat malam, lalu bacaan Al-Qur’annya menjadi tidak karu-karuan (lantaran mengantuk), maka hendaklah ia tidur terlebih dahulu!”

Konteks hadits ini sebenarnya berbicara tentang larangan untuk berlebih-lebihan dalam beribadah (shalat malam), dalam artian setelah shalat beberapa rakaat di tengah malam, berzikir, membaca Al-Qur’an, lalu rasa kantuk datang menyerang, maka seseorang dianjurkan untuk tidur terlebih dahulu sekadar menghilangkan rasa kantuknya. Namun Imam Nawawi dalam Syarah Muslim-nya menggarisbawahi sebagai berikut.

? ? ? ? ?: "? ? ? ? ? ? ? ? ? ?" ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Artinya, “Sabda Rasul SAW di atas mengandung anjuran untuk melakukan shalat dengan khusyuk, sepenuh hati dan perhatian. Selain itu, hadits tersebut juga mengandung anjuran bagi orang yang mengantuk untuk tidur terlebih dahulu atau melakukan hal-hal yang bisa menghilangkan rasa kantuknya. Anjuran ini berlaku umum, baik untuk shalat fardu maupun sunat, baik shalat di malam atau di siang hari. Ini pendapat mazhab kami (Mazhab Syafi’i) dan mayoritas ulama dengan catatan shalat tetap dilakukan di dalam waktunya.”

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa menunda pelaksanaan shalat dimaksudkan hanya untuk menjaga kualitas shalat agar tidak rusak oleh hal-hal yang membuatnya menjadi kurang khidmat dan khusyuk, karena substansi shalat pada dasarnya adalah munculnya rasa tenang, fokus, dan khusuk di dalam hati.

Poin ini akan sulit diperoleh oleh seseorang manakala ia shalat dalam kondisi mengantuk. Hal senada juga diingatkan oleh Rasulullah SAW dalam haditsnya yang lain sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa ketika azan sudah berkumandang, sementara makanan sudah terlanjur dihidangkan, maka seseorang dianjurkan untuk makan terlebih dahulu agar hasrat untuk makan tidak menganggu konsentrasinya dalam melaksanakan shalat.

Hal inilah yang kemudian mendorong sikap Sayidina Ibnu Umar RA, sebagaimana dikutip oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari yang bersumber dari Nafi’, “Tetap meneruskan makannya tatkala iqamat shalat sudah dikumandangkan serta imam sudah memulai bacaan shalat.” Begitu juga sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban bahwa Imam Nafi’ pernah suatu kali menemui Sayidina Ibnu Umar ketika beliau hendak menjalankan shalat Maghrib. Kebetulan pada saat itu Imam Nafi’ membawakan hidangan berbuka puasa untuk beliau. Namun tiba-tiba iqamat shalat pun berkumandang, akan tetapi Sayidina Umar tetap melanjutkan makannya sampai selesai dan setelah itu baru melaksanakan shalat.

Perlu digarisbawahi juga terkait kebolehan mendahulukan tidur di saat sangat mengantuk atau makan di saat sedang sangat lapar daripada ibadah shalat hanya diperbolehkan manakala pelaksanaan shalat tersebut tidak keluar dari waktunya. Dengan demikian, ketika waktu shalat sudah sempit (hampir habis), sementara rasa kantuk mendera serta rasa lapar menghadang misalnya, maka tetap saja seseorang dianjurkan untuk shalat terlebih dahulu untuk menghormati waktu shalat, meskipun dengan kondisi yang sangat berat dan dilematis.

Simpulan tulisan ini adalah memang agama Islam merupakan agama yang sangat toleran, namun ia tidak untuk dipermudah-mudah ataupun bahkan disepelekan sama sekali. Allahu a’lam. (Yunal Isra)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kajian, Ubudiyah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 06 Mei 2010

PBNU Gelar Tahlil dan Potong Tumpeng

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memperingati hari lahir (Harlah) ke-89 NU dengan mengadakan acara pembacaan doa, dzikir dan tahlil serta potong tumpeng. Kegiatan diselenggarakan di aula lantai 8 Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya No. 164, Jakarta Pusat, Rabu (6/6) malam yang dihadiri para pengurus harian PBNU dan pengurus lembaga, lajnah dan badan otonom NU serta tamu undangan.

PBNU Gelar Tahlil dan Potong Tumpeng (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Gelar Tahlil dan Potong Tumpeng (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Gelar Tahlil dan Potong Tumpeng

Angka 89 adalah usia NU menurut perhitungan kalender Hijriah, 16 Rajab 1344-1433 H. Dalam peringatan harlah tahun ini, PBNU mengangkat tema “Kembali ke Khittah Indonesia 1945, Meningkatkan Khidmat NU, Menuju Indonesia yang Berdaulat, Adil, dan Makmur”.

Dzikir dan tahlil dipimpin oleh KH Na’im Khofifi yang didahului dengan pembacaan surat al-Fatihah yang dihadiahkan oleh para mu’assis (pendiri) NU serta para ulama yang telah berjasa mengembangkan NU. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Seremoni harlah diteruskan dengan sambutan panitia acara, tausiyah Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, sambutan kedubes Arab Saudi, dan dialog terbuka yang diikuti juga oleh Menakertrans Muhaimin Iskandar dan Menteri PDT Helmi Faishal Zaini, dan ratusan warga NU yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sejumlah pertanyaan dan masukan untuk PBNU mengemuka. Pertanyaan dan harapan ditanggapi jajaran PBNU dengan hangat. Meskipun hangat, mereka mengemas bahasa dengan lentur. Humor khas NU, sempat terlontar menyelangi rangkaian perbincangan.

“Acara ini kita adakan agak sederhana mengingat banyak pertimbangan. Walaupun demikian, tidak mengurangi khidmat acara,” ungkap KH Asad Said Ali, wakil ketua umum PBNU yang mewakili panitia acara harlah ke-89 NU.

“Di berbagai daerah, Harlah ke-89 NU diperingati cukup meriah. Peringatan harlah di pusat tidak kita adakan besar-besaran karena terkait dengan banyak hal, termasuk sosial politik. Maka di PBNU kita adakan sederhana, kita konsentrasikan pada kegiatan lain,” tambahnya.

Sebelum ditutup, doa dibaca sekali lagi untuk mengenang para pendiri NU. Peringatan harlah ke-89 NU ditutup dengan pemotongan tumpeng. Ketua Umum PBNU Kang Said, memberikan potongan tumpengnya kepada sejumlah tamu yang hadir, warga NU yang sudah sepuh, dan sejumlah mentri. 

Lepas pemotongan tumpeng, para hadirin menyantap hidangan yang disediakan panitia. Mereka membuat kelompok. Setiap kelompok yang berjumlah 4 orang, menghadapi talam yang berisi nasi kebuli dan sejumlah lauk-pauk yang tersedia.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis    : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Olahraga, AlaNu, Santri Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 10 April 2010

Ribuan Siswa Bershalawat di Karnaval Maulid Nabi

Solo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW, SD Ta’mirul Islam Surakarta mengadakan kegiatan karnaval, Rabu (22/1). Ribuan siswa turut meramaikan acara tersebut dengan berbagai pentas seni dan aksi.

Ribuan Siswa Bershalawat di Karnaval Maulid Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Siswa Bershalawat di Karnaval Maulid Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Siswa Bershalawat di Karnaval Maulid Nabi

Karnaval diselenggarakan dengan rute dimulai dari Masjid  Tegalsari Laweyan menuju ke Lapangan Sriwedari. Para siswa pun berjalan kaki menyusuri jalan rute yang ditempuh dengan mendendangkan shalawat. Sebagian dari mereka ada pula yang membawa poster dengan tulisan “Perbanyak Shalawat Agar Mendapat Syafaat”.

Tiba di Lapangan Sriwedari, salah satu perwakilan siswa ditunjuk untuk menyampaikan ceramahnya. Jauhar Nafis yang menjadi dai cilik, menyampaikan keterangan tentang Rasul sebagai teladan umat manusia.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Nabi Muhammad SAW merupakan teladan kita semua, karena nabi memiliki akhlak terpuji,” terangnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurut salah satu guru SD Ta’mirul, Udin, acara ini bertujuan untuk menanamkan sedari dini, rasa cinta anak kepada Nabi Muhammad. “Juga sebagai syiar shalawatan, sebagai salah satu ajaran Ahlussunah wal Jamaah di kota Solo,” ungkapnya. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Fragmen, Sejarah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 25 Maret 2010

KH Makruf Amin Ajak Nahdliyin Bersatu Kembali

Jombang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Wakil Rais Aam KH Makruf Amin mengajak para muktamirin dan seluruh warga NU untuk bersatu kembali setelah sebelumnya, dalam muktamar ke-33 ini penuh dinamika. 

KH Makruf Amin Ajak Nahdliyin Bersatu Kembali (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Makruf Amin Ajak Nahdliyin Bersatu Kembali (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Makruf Amin Ajak Nahdliyin Bersatu Kembali

“Kami hanya memohon doa dan dukungan, marilah kita menyatukan kembali. Kami sangat bersyukur sekali, walaupun awalnya ada ketegangan sebagai satu bagian dari dinamika pembahasan, pembicaraan dan perdebatan, tetapi akhirnya biaunillah, kita kembali bersatu dan menyatu dengan kompak,” katanya dalam pidato setelah ditetapkan oleh ahwa sebagai wakil rais aam.

Ia menyampaikan jabatan wakil rais aam merupakan satu tanggung jawab yang besar, yang sebenarnya terlalu berat, “tapi karena ini permintaan para ulama, dari seluruh cabang dan wilayah di seluruh Indonesia, maka dengan segala kerendahan hati, dengan segala permohonan maaf yang sebenar-besarnya, terpaksa kami menerima tugas ini sebagai rasa hormat kami kepada para ulama,” katanya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Kami menyadari betul tanggung jawab ini besar sekali, tantangan ke depan semakin besar dan kompleks, baik yang menyangkut berbagai aliran, pikiran, akidah, kebathilan dan berbagai tantangan... ini menjadi sesuatu yang sungguh sangat berat.” 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selanjutnya, ia mengajak seluruh jamiyyah NU dan jamaah NU untuk melakukan kerja yang lebih keras lagi sesuai dengan tantangan yang dihadapi, “ kita kuatkan akidah aswaja, kita hidupkan lagi amaliyah nahdliyah. Kita tingkatkan kegiatan kita dalam rangka melakukan perbaikan halaqah islahiyah, baik yang sifatnya keagamaan diniyah maupun kemaslahatan ijtimaiyah.”

Ia juga berjanji akan melakukan penguatan kembali kepemimpinan para ulama dalam Nahdlatul Ulama seperti yang digariskan oleh para pendiri NU. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Nahdlatul, Ubudiyah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 20 Maret 2010

Memahami Sikap PBNU (Sebuah Tanggapan)

Oleh Dwiyanto Indiahono



Membaca tulisan Saudara Syafiq Naqsyabandi (nu.or.id – 30 Desember 2016), kami merasa perlu untuk unjuk pendapat tentang memahami sikap PBNU terkait dengan Aksi Bela Islam (ABI). Sangat awal, pernyataan “Sikap PBNU yang memilih kontra terhadap Aksi Bela Islam” merupakan kalimat yang harus dikritisi. Jejak rekam posisi PBNU dan Aksi Bela Islam menunjukkan posisi yang tidak dapat dikatakan “kontra”. Sebab posisi yang dipilih oleh PBNU adalah juga posisi yang diambil oleh PP Muhammadiyah terkait dengan Aksi Bela Islam. Jadi mengambil kesimpulan PBNU memilih kontra terhadap Aksi Bela Islam merupakan kesimpulan pribadi, yang perlu direvisi. Ada beberapa alasan.

Memahami Sikap PBNU (Sebuah Tanggapan) (Sumber Gambar : Nu Online)
Memahami Sikap PBNU (Sebuah Tanggapan) (Sumber Gambar : Nu Online)

Memahami Sikap PBNU (Sebuah Tanggapan)

(Baca: Memahami Sikap PBNU)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pertama, PBNU dan PP Muhammadiyah dalam beberapa waktu terakhir mengambil posisi sebagai mediator antara Gerakan Aksi Bela Islam dan Negara. Dua institusi terbesar umat Islam itu tengah berusaha menjadi peredam hubungan antara Negara dan ABI. Ketika ABI berlangsung dengan tertib, dan Negara pun turut memberikan apresiasi, sebenarnya PBNU dan PP Muhammadiyah pun telah sukses menjadi mediator. Dua institusi besar ini tengah secara jernih melakukan analisa. Bayangkan jika kedua lembaga tersebut secara resmi menyatakan dukungan, Jakarta mungkin bisa banjir massa, sebanjir-banjirnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kedua, PBNU dan PP Muhammadiyah secara struktural memang tidak menyatakan seruan untuk turun mengikuti ABI. Tetapi secara kultural dua lembaga tersebut harus diakui memiliki andil dalam “membiarkan” warga mereka untuk ikut? ABI. Keikutsertaan warga NU dan Muhammadiyah dalam ABI tergambar dari banyak sikap selama perhelatan ABI berlangsung. Warga kedua lembaga tersebut juga berhasil melebur dengan Umat Islam yang lain untuk menyerukan aspirasinya. Warga di area akar rumput dua ormas besar itu memang sebagian ada yang menyayangkan sikap para elit organisasi mereka. Tetapi dibalik itu, mereka juga dapat memahami bahwa mereka tidak dilarang untuk ikut serta dalam ABI.

Ketiga, mendudukkan posisi PBNU struktural sebagai “kontra” dengan ABI sebenarnya justru menjadikan PBNU seakan-akan tidak memiliki peran dalam ABI. Padahal di sana ada KH. Ma’ruf Amin selaku Rais Aam PBNU, pimpinan tertinggi dalam organisasi NU yang didaulat menjadi Ketua Umum MUI. Keluarnya pernyataan keagamaan oleh MUI terkait dengan adanya penodaan agama oleh BTP tidak lepas dari peran KH. Ma’ruf Amin. Sehingga jika penulis Syafiq Naqsyabandi memilah antara PBNU struktural dan PBNU kultural, sebagai pisau analisis untuk membedah kedudukan PBNU dalam ABI tidaklah tepat. PBNU Struktural ada yang secara fungsional menjadi pioner pernyataan sikap keagamaan MUI, dan itu berarti PBNU struktural pun memiliki peran besar dalam ABI. Apalagi beberapa pernyataan sikap PBNU secara tegas sejalan dengan aspirasi ABI. Salah satunya misalnya, pernyataan sikap PBNU pasca Aksi 411 yang secara nyata membela aksi dan meyakini bahwa kericuhan yang sempat terjadi dilakukan oleh pihak-pihak yang ingin merusak kemurnian Aksi 411. PBNU juga menyayangkan kelambanan pemerintah dalam melakukan komunikasi politik dengan masyarakat.

Keempat, argumentasi penulis artikel itu yang mencuplik kasus-kasus terdahulu untuk memperkuat sikap PBNU yang beberapa kali berbeda dengan posisi umat Islam, dalam kasus ABI ini menjadi tidak relevan. Kasus-kasus yang diceritakan merupakan kasus-kasus yang memang terjadi dalam situasi yang represif. Memahami kasus-kasus tersebut juga harus dengan analisis kondisi pada waktu itu. Sikap-sikap yang seakan-akan “mendua” tersebut merupakan bentuk keluwesan PBNU untuk bertahan dan melawan rezim yang otoriter kepada Umat Islam.

PBNU dan Muhammadiyah merupakan dua ormas terbesar yang memiliki pengalaman berhadapan dengan pemerintah dan mengayomi masyarakat. Pilihan-pilihan kebijakan organisasi tentu diambil bukan hanya “ingin berbeda” dengan ormas-ormas Islam yang lain. Pilihan kebijakan itu murni lahir karena kedua ormas tersebut memiliki cara berbeda untuk membela umat, membela Islam dan berhubungan baik dengan pemerintah. Pilihan kebijakan tersebut bukan berarti “kontra” tetapi merupakan bentuk “dukungan” ABI dalam wajah lain.

Penulis adalah dosen kebijakan publik FISIP Universitas Jenderal Soedirman.



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Budaya, Kiai, Pahlawan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 16 Maret 2010

Sistem Kupon Subsidi Pupuk Masih Simpang Siur

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Sistem penyaluran subsisi pupuk melalui kupon ternyata belum menjadi keputusan pemerintah. Menyusul spekulasi seputar efektifitas sistem baru itu serta usulan beberapa pakar ekonomi untuk menyerahkan harga pupuk kepada mekanisme pasar alias mencabut subsidi, dikatakan, sistem itu hanyalah rencana alternatif Departemen Pertanian (Deptan) agar subsidi pupuk yang diberikan tidak salah sasaran.

"Kupon pupuk itu masih salah satu opsi yang disampaikan Deptan untuk mengatasi masalah pupuk di petani. Jadi, itu masih wacana dan belum menjadi putusan Presiden, apalagi dilaksanakan," kata Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla, Jumat (8/12) siang usai sholat Jumat di mesjid Baiturahmin di Kompleks Istana Wapres, Jakarta.

Sebelumnya, Menko Perekonomian Boediono mengungkapkan rencana sistem voucher untuk distribusi pupuk bersubsidi pada tahun 2007 dalam rapat gabungan komisi IV dan VI DPR dengan pemerintah baru-baru ini. Tujuan pembagian langsung pupuk lewat sistem kupon ini dilakukan pemerintah dengan tujuan mencegah terjadi kelangkaan pupuk dan peningkatan anggaran subsidi pupuk.

Sistem Kupon Subsidi Pupuk Masih Simpang Siur (Sumber Gambar : Nu Online)
Sistem Kupon Subsidi Pupuk Masih Simpang Siur (Sumber Gambar : Nu Online)

Sistem Kupon Subsidi Pupuk Masih Simpang Siur

Uji coba ini akan dilakukan menjelang akhir masa tanam pertama 2007. Hasil uji coba, kata Boediono, akan dievaluasi secara menyeluruh pada pertengahan 2007, baik yang terkait dengan kebijakan pupuk secara umum, jumlah kebutuhan pupuk yang sebenarnya, irama tanam, dan pasokan pupuknya.

Kesimpangsiuran informasi mengenai kebijakan pupuk ini juga terjadi saat Menteri pertanian (Mentan) membatalkan rencana kenaikan HET pupuk pada Januari 2007 sebesar 50% setelah menteri mendengarkan instruksi presiden agar mencari solusi terbaik perpupukan nasional. (nam)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Santri, Habib, Olahraga Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 25 Januari 2010

Kiai NU Raih Penghargaan Konferensi Sufi Internasional di Maroko

Maroko, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Kiai NU yang mewakili Indonesia, Ahmad Najib Afandi berhasil meraih penghargaan penulisan makalah terbaik dalam The International Academic Center of ? Sufi and Aesthetic Studies (IACSAS) yang berlangsung di kota Fes, Maroko, (9-12/5).?

Pengasuh Pesantren asy- Syafiiyyah, Kedungwungu Krangkeng Indramayu Jawa Barat itu, menerima penghargaan dari Direktur IACSAS, Syeikh Dr Aziz ? al-Chubaeti, usai memaparkan makalah berjudul "Pengaruh Tasawuf ? Maroko terhadap Interaksi Sosial Masyarakat Indonesia" di hadapan perwakilan dari 40 negara.

Gus Najib, demikian akrab disapa, berhasil membentangkan data pengaruh tasawuf Maroko terhadap keberagamaan di Indonesia.

Kiai NU Raih Penghargaan Konferensi Sufi Internasional di Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai NU Raih Penghargaan Konferensi Sufi Internasional di Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai NU Raih Penghargaan Konferensi Sufi Internasional di Maroko

"Diantara bukti persambungan antara tasawuf Indonesia dengan tasawuf Maroko –yang selama ini sering dilupakan--baik melalui hubungan guru dan murid dan hubungan budaya, juga faktor lainnya. Ibrahim Harakat dalam bukunya Pengantar Sejarah Ilmu di Maroko, bahwa setelah berdirinya Maroko di wilayah Afrika yang subur dengan ulamanya telah membuka akses mereka untuk ekspansi ke Timur (masyriq) untuk berdakwah dengan membawa karya-karya monumentalnya sehingga tersebarlah mereka di wilayah Timur sampai memiliki banyak murid," tutur mantan wakil sekretaris Pengurus Pusat Maarif ? NU itu.

Dengan data tersebut, Gus Najib meyakini bahwa perjalanan ulama-ulama Maroko sampai ke Jawa setelah pertemuan mereka dengan orang Jawa di Tanah Suci, Mekah. Hal itu, katanya, dapat dibuktikan dengan banyaknya ulama yang dimakamkan di Jawa dengan nama Syeikh al-Maghribi.

Sementara, bukti adanya hubungan intelektual secara langsung dengan ulama Maroko adalah banyaknya pelajar Indonesia yang pernah berguru kepada ulama Maroko, seperti Syeikh Abdul Hadi (Abad IX) dari kerajaan Buton yang berguru kepada Syeikh Said al Maghribi, Syeikh Muhamad ? Nafis Al-Banjari (1710-1812 M) murid dari Syeikh Abdurahman bin Abdul Aziz al Maghribi ketika di Makkah, yang pendapatnya banyak dipakai oleh Syeikh Ihsan Jampes Kediri dalam karya fenomenalnya Sirajuttalibin.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Gus Najib memaparkan, sisi lain yang jelas menjadi bukti persambungan dan pengaruh tasawuf ? Maroko di Indonesia adalah karya para sufi ? Maroko, seperti, Asyifa karya Qadi Iyad, Dalail Khaerat karya Syeikh al-Jazuli, Jawahirul Maani dan Shalawat al-Fatih karya Syeikh Attijani.

"Selanjutnya banyak tarekat yang didirikan oleh ulama Maroko, kini besar di Indonesia, seperti As-Sadziliyah, At-tijaniyah, Al-Ahmadiyah (Ahmad bin Idris al - Maghribi (1760-1837 M)," kata Gus Najib.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Tasawuf Indonesia sebenarnya memiliki persambungan dengan banyak negara. Kurdi melalui Syeikh Amin al-Kurdi dengan kitabnya Tanwirul Qulub. India melalui karya Syeikh Burhanpuri dengan karyanya Tuhfat Al Mursalah yang menjadi referensi awal lahirnya tasawuf ? falsafi di Indonesia.

“Demikian juga dengan Persia melalui kitab "Syuab Al-Iman" karya al-Mulaibari yang dikomentari oleh Syeikh Nawawi Banten dengan nama Qamiut Tughyan,” ujarnya.

Namun, dari sekian sumber tasawuf Indonesia itu, semuanya memiliki validitas referensi yang menjamin ke-sunah-an tasawuf Indonesia. Dengan sumber-sumber yang Islam natural itu, semestinya sudah menjamin segala praktik tasawuf dan tarekat di Indonesia tidak akan menyimpang dari syariat dan akidah. "Dan, dengan keragaman sumber itu pula, seharusnya menjadikan kuatnya kebhinekaan tasawuf dan Islam Indonesia," tegasnya.

"Bukti lain yang menguatkan adanya hubungan Islam Indonesia dengan Maroko, adanya persamaan ornamen ukiran kayu (yang kaya warna) di atap di sejumlah masjid di Maroko dengan yang ada di bangunan warisan budaya Indonesia, seperti, Masjid Sunan Gunung Jati dan Masjid Said Naum, Kebon Kacang, Jakarta. Juga lainnya," pungkas pria yang juga rektor Sekolah Tinggi Islam al-Hikmah Brebes itu. (Red-Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Santri Pondok Pesantren An-Nur Slawi