Kamis, 30 November 2017

Tanpa Resolusi Jihad NU, Indonesia Kembali Dikuasai Penjajah

Jombang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Jombang KH Isrofil Amar melalui amanat Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menegaskan, peran kiai dan santri merupakan bagian penting dalam sejarah pembangunan bangsa dan negara Indonesia.

Fatwa Resolusi Jihad NU yang dikemukakan KH Hasyim Asyari, 22 Oktober 1945, menyerukan perlawanan terhadap Belanda yang hendak kembali menguasai Indonesia setelah sukses mengalahkan Jepang dalam perang dunia II, menjadi cikal bakal kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) hingga saat ini.

Tanpa Resolusi Jihad NU, Indonesia Kembali Dikuasai Penjajah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tanpa Resolusi Jihad NU, Indonesia Kembali Dikuasai Penjajah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tanpa Resolusi Jihad NU, Indonesia Kembali Dikuasai Penjajah

Karenanya, Kiai Isrofil mengungkapkan, tanpa adanya fatwa resolusi jihad tersebut, niscaya Indonesia saat itu kembali terjajah dan dikuasai.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Sejarah telah mencatat bahwa santri mewakafkan dirinya untuk kemerdekaan Indonesia. Mereka dengan caranya masing-masing membangun kekuatan untuk melawan penjajah," katanya saat perayaan HSN di alun-alun Jombang, Sabtu (22/10).

Dikeluarkannya fatwa resolusi jihad itu sebelum terjadinya peristiwa perang antara arek Surabaya melawan tentara Inggris tanggal 10 November 1945 yang saat ini ditetapkan sebagai hari pahlawan. Semangat perjuangan mereka dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari usaha para kiai dan santri sebelumnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Untuk itu, mengenang jasa para ulama, dan penghormatan kepada mereka merupakan keharusan untuk kita semua, hal itu juga sudah termaktub dalam keputusan Presiden yang menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional (HSN)," pungkasnya. (Syamsul Arifin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Halaqoh, Fragmen Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pesantren Lembaga Peneguhan Multikulturalisme

Solo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pembahasan Pondok Pesantren tidak bisa lepas dari peran yang dimainkan oleh kalangan sufi penyebar Islam di Nusantara. Dengan demikian ketika di sebut Pondok Pesantren maka yang dimaksud adalah pesantren salafiyah yang membangun multikultural dan toleransi.?

Kalangan sufi penyebar Islam di Jawa tidak mempersoalkan wadah atau simbol, tapi mereka lebih concern terhadap isi dan substansi, seperti istilah sembahyang dan puasa", ungkap KH. Abu Hafsin dalam acara Workshop Pemikiran Pendidikan di Pesantren yang digagas oleh RMI Jateng di Hotel the Alana Solo, Kamis, (8/9)

Pesantren Lembaga Peneguhan Multikulturalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Lembaga Peneguhan Multikulturalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Lembaga Peneguhan Multikulturalisme

Selain itu, model gerakan dakwah yg di lakukan oleh kaum sufi bersifat Inklusif. "Gerakan sufi dalam menyebarkan Islam melalui gerakan memasukan nilai-nilai Islami tanpa mengubah konstruksi luar," tegas Ketua PWNU Jateng itu.

Untuk itu, gerakan pesantren NU sekarang agar tetap eksis ada dua, yaitu dengan pendekatan kontekstual, transformasi dan inklusif. ajak Abu Hafsin kepada Peserta Workshop yang dihadiri oleh pengasuh Pesantren se-Jawa.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Yang kedua, pemegang pesantren harus berkepribadian menarik, menampilkan kesederhanaan, ulet dan konsisten antara perbuatan dan ucapan.

Dengan demikian, ia berharap agen pesantren, pengasuhnya untuk kembali menengok sejarah pesantren zaman dulu dan melakukan inovasi. (Ahmad Rosyidi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pendidikan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kajian Islam Tentang Lingkungan Masih Minim

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi
Kajian Islam mengenai lingkungan masih sangat minim, padahal banyak sekali teks Al Quran yang memberi perintah manusia  untuk memperhatikan dan memelihara alam, kata Tokoh Agama yang juga pengasuh Pondok Pesantren Darut Tauhid, Cirebon, Husein Muhammad.

"Sampai kini kajian Islam mengenai lingkungan sangat minim dan tidak intensif, malahan justru dimarjinalkan, padahal banyak sekali teks-teks Al Quran tentang alam ini," kata Husein Muhammad yang berbicara dalam Lokakarya "Merumuskan Peran Umat Islam dalam Konservasi Alam dan Lingkungan Hidup" di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jakarta, Selasa.

Menurut Husein, kajian Islam soal lingkungan sangat penting karena motivasi agama dinilai signifikan untuk mensosialisasikan gagasan lingkungan hingga ke masyarakat di pelosok tanah air.

Ia juga mengakui umat Islam cenderung kurang memiliki kepedulian  pada lingkungan, padahal ayat-ayat Al Quran mengenai lingkungan cukup banyak. Karena itu umat Islam perlu disadarkan kembali kepada pedomannya.

Surat Ar Rum: 41 di mana Allah mengatakan, "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)" merupakan contoh jelas tentang kerusakan alam.

Contoh lainnya, urainya,  Surat Al Baqarah (2:284) yang menyatakan bahwa seluruh alam adalah milik Tuhan, bahwa apa yang diciptakan Tuhan  tidak ada yang sia-sia (Surat Ali Imran 4:190-191) dan alam semesta diciptakan serba berukuran (Al Qamar, 54:49).

Jika manusia diberi hak  atau izin memanfaatkan alam bagi kebaikan dirinya maka manusia diperintahkan bertindak sesuai aturan moral, jika tidak maka tindakan itu hanya akan merugikan diri mereka sendiri seperti pada Surat 2:188, 5:18, 59:7, 107:1-7 dan lainnya.
Tuhan, ujar kyai yang sering diundang FAtayat NU sebagai narasumber tersebut, juga mengecam manusia yang merusak alam seperti tertulis dalam Surat 2:60, 2:205, 7:56, 7:85, 28:88, 26:183 dan lainnya. Dan bahwa tindakan merusak alam adalah bentuk kezaliman dan kebodohan manusia.

Dalam konteks pesantren, kyai masih menjadi sentral bagi perubahan sosial sehingga pendekatan konservasi alam melalui tokoh-tokoh agama, menurut dia, sangat tepat.

Pondok pesantren tercatat sebanyak 11.312 buah di seluruh Indonesia dengan jumlah santri lebih dari 2,7 juta jiwa di mana  78 persen atau  8.829 pesantren berada di pedesaan, dan sisanya  di daerah pertanian dan pegunungan. Kenyataan ini dinilai berpotensi sebagai lokomotif bagi penularan kesadaran konservasi alam.

"Menggunakan tokoh agama untuk mensosialisasikan perlunya pemeliharaan lingkungan sangat tepat, seperti juga dulu ketika mensosialisasikan Keluarga Berencana (KB), umat Islam berperan aktif setelah adanya keterlibatan tokoh agama padahal sebelumnya sulit," katanya.

Menurut dia, menggunakan ayat-ayat suci Al Quran dan ulama dalam mensosialisasikan suatu kebaikan merupakan hal yang dibenarkan, dan akan menjadi salah jika penggunaan ayat dan tokoh agama adalah untuk kepentingan pribadi atau politik.(ant/mkf)

 


 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Tokoh, Pertandingan, Anti Hoax Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kajian Islam Tentang Lingkungan Masih Minim (Sumber Gambar : Nu Online)
Kajian Islam Tentang Lingkungan Masih Minim (Sumber Gambar : Nu Online)

Kajian Islam Tentang Lingkungan Masih Minim

SMP NU Sunan Kalijaga Bantu Muluskan Jalan UN SD/MI

Tegal, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. SMP NU Sunan Kalijaga Adiwerna Kabupaten Tegal berupaya memuluskan jalan bagi anak-anak SD dan MI dalam menghadapi Ujian Nasional ? 2017. Ikhtiar yang digelar berupa Try Out UN SD/MI yang diperuntukan bagi siswa di wilayah Tegal dan Brebes.

SMP NU Sunan Kalijaga Bantu Muluskan Jalan UN SD/MI (Sumber Gambar : Nu Online)
SMP NU Sunan Kalijaga Bantu Muluskan Jalan UN SD/MI (Sumber Gambar : Nu Online)

SMP NU Sunan Kalijaga Bantu Muluskan Jalan UN SD/MI

Diharapkan, mereka yang mengikuti try out bisa mengerjakan soal-soal ujian dengan baik, jujur dan mendapatkan nilai yang memuaskan. “Kami ingin membantu para siswa SD/MI dalam menghadapi UN 16-18 Mei mendatang,” ujar Kepala SMP NU Sunan Kalijagah Ripai, di sela kegiatan Rabu (23/3).

Try out, lanjutnya, bertujuan melatih para siswa dalam menghadapi ujian agar siap menteri sekaligus mental. Latihan ini sangat membantu sekolah karena bisa mengukur kesiapan para siswa itu sendiri dalam menghadapi UASBN 2017. “Ada 533 siswa yang berasal dari 35 SD dan MI di Kabupaten Tegal dan Brebes,” ujar nya.

Sudah seharusnya para siswa, orang tua, dan guru serta sekolah terkait kemampuan dan kualitas calon peserta ujian dalam menjawab soal.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ketua Panitia M Budi Santoso menjelaskan, Try out bagi SD/MI sudah digelar oleh SMP NU Sunan Kalijaga sejak 2013. Pada intinya, untuk mendukung program wajib belajar Sembilan tahun. Selain itu, juga untuk memperkenalkan sekolah NU dikalangan siswa SD dan MI.

Try out 2017 dibuka Kepala UPTD Dikpora Kecamatan Adiwerna Tegal Wahidin Karirim. Dalam sambutannya, Wahidin menyambut baik kegiatan try out bagi siswa kelas VI SD/MI. “Kesiapan yang mendalam para siswa, akan menentukan keberhasilan siswa para saat ujian mendatang,” ujarnya.

Usai mengerjakan try out, mereka mendapatkan hiburan berupa pagelaran ekstrakurikuler seperti pentas pencak silat Pagar Nusa, marching band, hadrah dan lain lain. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Amalan, Doa Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 29 November 2017

Ulama yang Sederhana dan Menyukai Kholwat

Secara umum masyarakat di Aceh lebih mengenal Teungku Haji Syihabuddin Syah dengan nama Abu Keumala, nama tersebut merupakan nama panggilan beliau sewaktu mengaji di Labuhan Haji. Selain sebagai ulama, Abu Keumala juga di kenal sebagai orator ulung di masanya. Keunikan pidato Abu Keumala adalah apa saja yang dilihat atau yang sedang terjadi, bisa beliau ciptakan sebagai perbandingan dalam berpidato, terutama yang menyangkut tentang masalah ketauhidan.

Abu Keumala merupakan pencerah di bidang Tauhid Sehingga beliau juga di gelar sebagai Ulama Tauhid. Disamping mengadakan pengajian dan ceramah, Abu Keumala juga aktif menulis, di antara buku karangan beliau yang terkenal adalah Risalah Makrifah.



Ulama yang Sederhana dan Menyukai Kholwat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama yang Sederhana dan Menyukai Kholwat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama yang Sederhana dan Menyukai Kholwat

Asal usul

Seuneuddon merupakan salah satu kecamatan di pesisir Aceh Utara, daerah ini telah banyak melahirkan ulama–ulama besar, tapi kebanyakan ulama tersebut tidak bermukim di Seuneuddon. Di antara ulama besar  yang tidak bermukim di Seuneuddon tersebut adalah: Teungku Muhammad (Abu Seuriget) Pimpinan Dayah Darul Muarif Langsa, Teungku Muhammad Amin pendiri dayah Malikussaleh Panton Labu (mulai tahun 1965–1975), Teungku Ibrahim Bardan (Abu Panton) pimpinan Dayah Malikussaleh di Panton Labu (mulai tahun 1975 hingga sekarang), Teungku Karimuddin (Abu Alue Bilie) pimpinan dayah Babussalam Panteu Breuh, Kemudian Teungku Syihabuddin Syah atau yang lebih terkenal dengan panggilan Abu Keumala juga berasal dari Seuneuddon, tepatnya di desa Tanjong Pineung, beliau lahir sekitar tahun 1928.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ketinggian ilmu agama Teungku Syihabuddin Syah karena beliau merupakan murid ulama–ulama besar di Aceh. Semenjak remaja Teungku Syihabuddin Syah sudah belajar di dayah Keumala Kabupaten Pidie kemudian di dayah Labuhan Haji, Aceh Selatan yang dipimpin oleh ulama besar Teungku Haji Muhammad Waly Al-Khalidi (Abuya Muda Waly). Karena lama belajar di dayah Keumala , maka Teungku Syihabuddin Syah dikenal dengan panggilan Teungku Keumala atau Abu Keumala.

Mungkin panggilan seperti ini agak sedikit tidak lazim, karena biasanya seorang ulama dipanggil berdasarkan nama kampung asal atau tempat di mana beliau menetap, bukan dimana tempat beliau mengaji. Teungku Syihabuddin Syah menikah pada tahun 1957 dengan salah seorang putri yang merupakan  cucu gurunya di Keumala, dari perkawinan tersebut beliau dianugrahi Sembilan orang anak.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Bermukim di Medan. Ketika  Konflik bersenjata di Aceh tahun 1953, beliau memperlihatkan sikap tidak menyetujuinya. Karena itu beliau pindah ke Medan. Seorang pemuka masyarakat, Haji Manyak Meureudu, mewakafkan sebidang tanah 25 x 25 meter yang diatasnya ada bangunan sederhana terletak dipasar II jalan Sei Wampu, Kampung Babura, Medan Baru. Di tempat ini ditampung 30 orang pelajar Aceh yang menuntut ilmu di berbagai peguruan tinggi di Medan. Di tempat itu juga Ustadz Syihabuddin memberi pelajaran agama, baik bagi penghuni asrama maupun bagi kaum muslimin di sekitar  tempat itu. Di tempat itu juga Ustadz Syihabuddin memberi pelajaran agama kepada keluarga – keluarga tokoh – tokoh masyarakat Aceh di Medan.

Pertikaian antara dua etnis di Medan pada tahun 1956, menyebabkan Asrama Pelajar di Pasar II Jalan Sei Wampu Kampung Babura Medan Baru, diserbu oleh sekitar 36 orang tidak dikenal. Asrama tersebut di porak–porandakan, kemudian dibakar. Penghuninya Teungku Syihabuddin Syah yang mengajar di tempat itu di pukul dengan broti di  kepalanya hingga tidak berdaya namun beliau dapat di selamatkan ke rumah sakit.

Hancurnya asrama yang selama itu di huni oleh 30 orang pelajar dan mahasiswa  yang juga tempat pengajian bagi masyarakat yang ada di sekitar tempat itu, maka menjadi masalah bagi pemuka – pemuka masyarakat Aceh di Medan. Mereka mencari jalan untuk menampung pelajar dan mahasiswa yang asramanya tidak ada lagi juga tempat pengajian telah porak–poranda.

Pendirian Sekolah Islam

Masalah asrama pelajar/mahasiswa Aceh sekaligus tempat pengajian berhasil diatasi pada tahun 1956 itu juga. Hal itu berkat jasa baik Tuanku Hasyim S.H. atas nama Yayasan Sosial Medan mewakafkan sebidang tanah ukuran 9,5 x 17 meter. Di atas tanah itu ada bangunan tua yang dapat digunakan. Tanah itu terletak di pasar Melintang, sekarang Jalan Darussalam 24 Medan. Nama jalan itu diusulkan oleh Teungku Syihabuddin Syah kepada Wali Kota Medan dan di terima baik oleh Wali Kota, Haji Muda Siregar (tahun 1957).

Karena digunakan untuk kegiatan pendidikan agama, maka pada tahun 1960 tempat itu diberi nama Asrama  Madrasah Pesantren Miftahussalam. Kemudin dibuka SRI (Sekolah Rendah Islam), SMI (Sekolah Menengah Islam), SMIA (Sekolah Menengah Islam Atas), yang langsung dipimpin oleh  Teungku Syihabuddin Syah dan Teungku Abdussalam Abdullah. Nama tingkat pendidikan itu kemudian berubah menjadi Diniyah, Tsanawiyah, dan Aliyah.

Untuk memperkokoh perhatian kaum muslimin terhadap Miftahussalamah, Teungku Syihabuddin Syah mengajar orang–orang tua murid untuk mengikuti majelis pengajian yang diberi nama Safinatussalamah (kapal penyelamat), sedangkan yang menjadi guru adalah beliau sendiri. Pengajian itu berkembang dengan pesat di kota Medan. Pada waktu yang bergiliran Teungku Syihabuddin Syah memberi pengajian yang berjumlah sekitar 11 tempatdi Kota Medan dengan menggunakan kendaraan VW Combi yang di setir oleh beliau sendiri.

Nama komplek Asrama Madrasah Pesantren itu oleh Teungku Syihabuddin Syah diganti pada tahun 1977 menjadi Pendidikan Islam Miftahussalam. Lancarnya pembangunan komplek Miftahussalam itu atas dasar wakaf kaum muslimin, sehingga berhasil membuka  SLTP dan SMU Darussalam. Tenaga pengajarnya adalah para sarjana dari berbagai disiplin ilmu yang menjadi penghuni asrama.

Pendidikan Islam Miftahussalam telah berbadan hukum , yang Ketua Umumnya adalah Teungku Syihabuddin Syah, maka sekarang sudah lengkap tingkat pendidikan agama, dan juga SLTP dan SMU. Komplek Miftahussalam pada tahun 2004 menampung sekitar 1500 siswa dan siswi yang belajar pagi dan sore. Siswi SLTP dan SMU semua berjilbab dan pada waktu shalat Ashar seluruh siswa yang belajar sore shalat berjamaah di Mesjid Taqarrub. Di komplek Mesjid Taqarrub juga dibuka TK Al-Qur’an.

Ketika Asrama dan Pesantren Miftahussalam masih merupakan bangunan yang sangat sederhana, Abu Keumala mempunyai ruangan sendiri sekaligus tempat tinggalnya. Selama beberapa tahun di tempat itu beliau melakukan Khulwah di setiap bulan Ramadhan. Selama Khulwah beliau tidak berbicara dengan siapapun, komunikasi dilakukan dengan surat menyurat.

Akhir hayat

Sebelum meninggal kesehatan beliau terus menurun. Mula–mula gangguan mata hingga tidak dapat membaca kitab, walaupun telah berobat ke dokter ahli mata di Medan, tidak juga membawa hasil. Juga di bawa berobat ke Penang namun tidak ada perobahan. Kemudian datang lagi gangguan penyakit gula. Begitu pun beliau tetap berusaha menjadi imam seperti dalam bulan Ramadhan. Juga beliau memberi kuliah agama, walaupun porsinya tidak seperti sebelumnya.

"Seorang demi seorang  benteng agama meninggalkan kita. Kita bersedih bukan karena kepergian beliau, tetapi karena hilangnya benteng agama, mujahid Islam yang telah banyak jasanya kepada masyarakat". Demikian dikatakan oleh Al-Ustadz Drs Haji Halim Harahap, mewakili para khatib Masjid Taqarrub Jalan Darussalam 26 ABC Medan, ketika melepas jenazah Al – Ustadz Teungku Haji Syihabuddin Syah atau Abu Keumala sebelum di berangkatkan ke tempat persemayaman terakhir di komplek perkuburan Mesjid Raya Al-Mansur jalan Sisingamangaraja, Medan.

Abu Keumala meninggal di rumah kediamannya di jalan Karya Bhakti Gang Rukun No: 2 Medan, setelah menderita sakit semenjak bulan April 2004. Beliau meninggal hari Jumat, 9 Juli 2004. Upacara pelepasan jenazah dilangsungkan di Mesjid Taqarrub, mesjid yang beliau bangun bersama kaum muslimin, baik yang ada di Medan maupun yang berada di luar Kota Medan.

Masjid tempat beliau mengucurkan ilmu agama, baik dalam pengajian baik dalam pengajian ibu–ibu dan bapak-bapal. Kuliah agama di berikan di mesjid itu terutama di bulan Ramadhan selesai Shalat Tarawih, kemudian kuliah Shubuh baik di bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan.

Pada acara pelepasan juga ikut berbicara Prof Dr Haji Aslim Sihotang yang menguraikan tingginya ilmu yang di miliki oleh Almarhum Al–Ustadz Teungku Haji Syihabuddin Syah atau Abu Keumala. Ia menganjurkan supaya kitab yang ditulis olh Almarhum pada tahun 1983 yang 4 jilid berjudul Risalah Makrifah agar di cetak, yang pelaksanaannya dapat dilakukan oleh murid – muridnya. (Tgk Zulfahmi MR; staff pengajar di Dayah Raudhatul Maarif Cot Trueng – Muara Batu – Aceh Utara, Tulisan ini Merupakan nukilan dari buku : Biografi Ulama - Ulama Aceh Abad XX Jilid III).Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Bahtsul Masail, Meme Islam, Olahraga Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Santri-santri Raih Cum Laude di PTN Favorit

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Hasil evaluasi setahun dan nilai matrikulasi lulusan Ponpes yang mendapatkan beasiswa di sejumlah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) ternyata "mencengangkan" karena banyak di antaranya yang mendapat IPK 4 atau di atas rata-rata mahasiswa hasil SPMB.

"Sebelumnya, kami mengkhawatirkan mereka yang asal pesantren di desa-desa ini akan terseok-seok mensejajari mahasiswa lainnya yang kuliah di PTN, tapi ternyata justru hasil evaluasi dan tes matrikulasi mereka mengejutkan," kata Dirjen Pendidikan Islam Depag, Yahya Umar.

Santri-santri Raih Cum Laude di PTN Favorit (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri-santri Raih Cum Laude di PTN Favorit (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri-santri Raih Cum Laude di PTN Favorit

Depag sejak 2005 telah menyalurkan beasiswa bagi siswa lulusan Ponpes ke PTN-PTN, yakni 28 orang ke UIN Jakarta dan 50 orang ke IPB, serta mulai pertengahan tahun 2006 menyeleksi lagi lulusan Ponpes untuk studi di ITS 30 orang, UGM 60 orang dan IAIN Surabaya 40 orang. Mereka diseleksi dan dibiayai APBN Depag sejak awal masuk kuliah hingga lulus.

Kemampuan di atas rata-rata yang ditunjukkan para mahasiswa lulusan pesantren itu, kata Yahya Umar, menandakan lulusan Ponpes pun jika diberi kesempatan akan menjadi anak-anak yang cerdas meskipun hanya orang yang berasal dari pelosok desa, anak tukang becak, petani, buruh atau pekerja "kecil" lainnya.

Ia memberi contoh, Sakibnah Gina dari Ponpes "Darul Arqom", Garut di Fakultas Kedokteran UIN Jakarta yang berada di bawah kontrol UI dengan IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) 4,0, dan lain-lain yang IPK-nya di atas rata-rata. Mereka bahkan tidak saja berprestasi di bidang ilmu dasar tetapi juga di bidang agama.

Di IPB, katanya, para santri itu juga mengalami hal yang sama seperti kasus Yahman Faozi dari Ponpes "Raodjatul Ulum", Pati yang IPK-nya 4,0 dan mengalahkan mahasiswa IPB lainnya yang jumlahnya sekitar 30 ribu orang.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sedangkan hasil matrikulasi dari 30 santri di ITS Surabaya selama dua bulan, 12 di antaranya bahkan dimasukkan dalam program yang mempercepat kuliah satu tahun.

"Begitu pula di UGM Yogyakarta yang dari hasil matrikulasinya diketahui mereka memiliki kecerdasan di atas rata-rata, tidak kalah dengan mahasiswa yang berasal dari sekolah umum bahkan yang favorit, meski di pesantrennya pelajaran eksaknya hanya diajarkan oleh guru-guru yang tidak pada bidangnya," katanya.

Ketua Tim Beasiswa Utusan Daerah yang juga Direktur Kerjasama IPB, Dr Ir Hardinsyah, MS menjelaskan bahwa lima peserta pra-universitas yang memiliki nilai baik selama kegiatan berlangsung.

Kelima peserta terbaik itu adalah Saidatul Husnah (Ponpes Darul Ulum, Jombang, Jawa Timur), Hamka Surya Nugraha (Ponpes Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat), Eko Zulkaryanto (Ponpes Nurul Huda, Lampung), Khoirun Ibnu Farid dan Anna Amania Kusnayaini (Ponpes Al-Mukmin Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Percepat Adaptasi

Rektor IPB Achmad Ansori Matjjik mengatakan mempercepat proses adaptasi di lingkungan perguruan tinggi umum --dari semula suasana belajar khas di Ponpes-- maka dilakukan program pra-universiti bagi mahasiswa baru BUD, termasuk yang berasal dari Ponpes.

"Setelah kita buat pra-universiti hasilnya (ternyata) bagus, mahasiswanya ada yang mampu mendapat nilai 4 untuk semua mata kuliah dasar di Tingkat Persiapan Bersama (TPB), dan itu berarti nilainya A semua. Jadi, mereka memiliki kemampuan, dan itu berarti pendidikan (di Ponpes) tidak jelek, sehingga kenapa harus dipermasalahkan?," katanya.

"Pondok pesantren adalah basis pendidikan di Indonesia sebelum? pendidikan yang katanya modern itu masuk, dan di daerah sudah mendarah daging dan tetap eksis hingga kini, yang justru perlu di-’recognized’," katanya.

Selain itu, kata dia, sistem pendidikan yang ada di Ponpes, sejauh pengalamannya mendatangi kebeberapa pesantren tidak jelek, bahkan ada yang sangat bagus.

Ia memberi contoh saat dirinya ke Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra) ternyata di sana sana Ponpes Gontor V, ternyata dalam sehari-hari percakapan yang dipakai selama proses belajar mengajar, selain bahasa Indonesia juga menggunakan bahasa Inggris dan Arab yang bagus. "Setelah melihat itu, mungkin bahasa Inggris saya kalah dengan santri di sana," katanya.

Kondisi yang sama juga ditemuinya pada sejumlah Ponpes di Kabupaten Garut, Jawa Barat. "Apalagi umumnya basis di Ponpes memang suasananya? identik dengan pertanian sehingga harapan kita, para mahasiswa dari Ponpes ini, setelah menyelesaikan studinya di IPB kembali ke daerah dan membangun pertanian dengan sentuhan keilmuan yang telah mereka pelajari," katanya. (ant/mad)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Cerita Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Berawal dari Koin, NU Sragen Bakal Bangun Rumah Sakit

Sragen, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Program pengumpulan koin yang dilakukan warga NU di wilayah Sragen Jawa Tengah, hingga saat ini terkumpul lebih dari 3 miliar. Perolehan dana sebesar ini, menurut Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) kabupaten Sragen KH Makruf Islamuddin akan dimanfaatkan untuk membangun NU agar lebih bermanfaat untuk masyarakat.

Lebih lanjut disampaikan pengasuh Pesantren Walisongo itu, manfaat dari pengumpulan koin NU ini, antara lain akan digunakan untuk pembangunan Rumah Sakit (RS) NU di Sumberlawang Sragen.

Berawal dari Koin, NU Sragen Bakal Bangun Rumah Sakit (Sumber Gambar : Nu Online)
Berawal dari Koin, NU Sragen Bakal Bangun Rumah Sakit (Sumber Gambar : Nu Online)

Berawal dari Koin, NU Sragen Bakal Bangun Rumah Sakit

”Selama ini, banyak warga NU yang sakit berobat di Rumah Sakit selain NU, karena NU belum punya rumah sakit sendiri. Sementara ini baru memiliki 2 klinik. Itu perlu kita pikirkan agar warga NU bisa terlayani,” tuturnya di sela peringatan Hari Santri Nasional di Lapangan Nglorog, Sragen kota, Ahad (22/10).

Pihaknya mengungkapkan rencana pembangunan RS ini sudah mendapat lampu hijau dari PBNU, serta dukungan dari pemerintah setempat.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Kami berharap seluruh warga NU dapat nyengkuyung bersama untuk amal jariah, mensukseskan program ini" jelasnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sementara itu, Program Gerakan Koin NU di Sragen pada tahun ini ditargetkan mencapai Rp 5 miliar. “Tahun ini, target dapat menembus angka Rp 5 miliar,” kata Ketua LAZISNU Sragen, Suranto.

Menurutnya, angka tersebut diharapkan dapat tercapai, mengingat potensi warga NU yang tersebar di 20 kecamatan wilayah Kabupaten Sragen.

Dipaparkan Suranto, program ini telah berjalan hampir satu tahun. “Berjalan bertahap dari 20 kecamatan. Paling awal MWCNU Karang Malang, yakni setahun lalu. Kemudian yang terbaru MWCNU Kalijambe baru mengawali,” ungkap dia. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Santri Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 28 November 2017

Doa Mengaji Ilmu

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Doa Mengaji Ilmu (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa Mengaji Ilmu (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa Mengaji Ilmu

Allâhummaftah lanâ wansyur ‘alainâ rahmataka yâ dzal jalâli wal ikrâm.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ya Tuhanku, bukakan lah ilmu-Mu bagi kami dan hamburkan lah rahmat-Mu di atas kami. Wahai Tuhan pemilik kebesaran dan keagungan. (Lihat Sayid Utsman bin Yahya, Maslakul Akhyar, Al-‘Aidrus, Jakarta) (Alhafiz K).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi AlaSantri, Daerah,Attijani Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Habib Syech: Ingin Hidup Mudah, Jangan Punya Musuh

Bantul, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf mengatakan, jika ingin hidup menjadi mudah, maka jangan sampai mempunyai musuh. Orang yang memiliki musuh, hidupnya akan berat dan susah.

Hal tersebut disampaikannya di sela-sela senandung shalawat bersama para Jamaah, Selasa (08/10), dalam acara Habib Syech Bershalawat, yang diadakan oleh Akademi Kebidanan Yogyakarta, di lapangan Akbid Yogyakarta, Jl. Paris km.6, Sewon, Bantul, DI Yogyakarta.

Habib Syech: Ingin Hidup Mudah, Jangan Punya Musuh (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Syech: Ingin Hidup Mudah, Jangan Punya Musuh (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Syech: Ingin Hidup Mudah, Jangan Punya Musuh

Habib Syech melanjutkan dengan menyitir salah satu ayat Al-Qur’an yang berbunyi Quu anfusakum wa ahliikum naara, yang artinya jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. Hal tersebut dimaksudkan Habib Syech untuk menanggapi permasalahan Negeri yang dipenuhi dengan korupsi oleh para wakil rakyat.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurut Habib Syech, jika ada pejabat yang melakukan korupsi, yang paling menderita dan menjadi korban adalah keluarga; anak dan istri. Oleh karenanya, Habib Syech menghimbau para Jamaah agar senantiasa menjaga diri sendiri dan keluarga dari jeratan api neraka.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Jika ingin menjadi orang yang baik, kita juga harus berusaha, dan selain menjadi orang yang baik, kita juga harus menjadi bangsa yang baik,” imbuhnya.

Allah, lanjutnya, tidak menyuruh untuk berkorban sesuatu yang berat pada diri kita, melainkan yang sedikit saja yang ada pada diri kita. Terlebih berkorban untuk bangsa. “Secara sederhana, yakni dengan cara bersyukur, baik gaji sedikit maupun gaji banyak,” tandas Habib Syech.

Didepan sekitar lima ribuan jamaah yang memadati lapangan, malam itu Habib Syech menutup dengan memberikan pesan, “Ada siang, ada malam, ada orang yang korupsi, juga ada orang baik, itu semua agar kita tau mana yang baik, dan mana yang tidak baik,” pungkasnya. (Dwi Khoirotun Nisa’/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Meme Islam, Pesantren Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ketua PWNU Jatim Ingatkan Pesan Hadratussyekh

Bondowoso, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ketua Pengurus Wilayah NU (PWNU) KH Hasan Mutawakkil ‘Alallah mengingatkan kepada seluruh pengurus NU di tingkat cabang, wakil cabang, hingga ranting untuk kembali menghayati dan mengamalkan surat Ali Imran ayat 103 yang juga dikutip pendiri NU KH Hadratussyekh Hasyim Asy’ari dalam kitabnya.

Ketua PWNU Jatim Ingatkan Pesan Hadratussyekh (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua PWNU Jatim Ingatkan Pesan Hadratussyekh (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua PWNU Jatim Ingatkan Pesan Hadratussyekh

"Bersatu padulah, kompaklah di dalam berbegang tegung terhadap tali Allah, agama Allah, dan jangan bercerai-berai," pintanya dalam acara halal bihalal dan pelantikan pengurus baru PCNU Bondowoso periode 2015-2021, Ahad (24/7) siang.

Ayat tersebut dinukil Hadratussyekh sebagai bagian dari materi Qanun Asasi li Jam’iyyati Nahdlatil Ulama atau undang-undang dasar NU. Menurut pengasuh Pesantren Zainul Hasan Genggong, Probolinggo ini, Qanun Asasi merupakan dokumen penting di balik berdirinya NU puluhan tahun lalu.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Mutawakkil mengimbau para pengurus untuk menata niat dalam mengabdi di NU. Ia berusaha meyakinkan kepada para pengurus bahwa akan ada banyak berkah yang datang ketika mengabdi di NU.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Saya yaqin haqqul yaqin karena Nahdlatul ulama adalah organisasi para aulia’, saya ulang-ulang ini, Nahdlatul ulama pemiliknya adalah para wali bahkan ruh perjuangan NU adalah nilai-nilai dakwah dan Islam Wali Songo," ungkapnya.

Mutawakkil mengatakan bahwa menjadi pengurus NU tidak mendapat bayaran apa-apa, melainkan doa para wali,? para pendiri NU. “Siapa yang berjuang menegakkan agama Allah melalui jamiyah Nahdlatul Ulam, mudah-mudahan barokah amal ibadahnya, barokah umurnya, barokah rezekinya, barokah keturunannya, mendapat dzurriyatan tauyibah dan mendapatkan husnul khatimah,” ujarnya.

Halal bihalal dan pelantikan berlangsung di di Pondok Pesantren Darus Falah Desa Ramban Kulon, Kecamatan Cermee, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, dengan mengambil tema "Meneguhkan Khidmah NU dan Islam Nusantara Demi Keutuhan NKRI”.

Turuh hadir dalam acara tersebut Bupati Bondowoso H Amin Said Husni, Wakil Bupati Bondowoso KH Salwa Arifin, Ketua DPRD H Ahmad Dafir, dan perwakilan dari Polres Bondowoso, Kodim 0822, Polsek Cermee, Danramil Cermee, Camat se-Kabupaten Bondowoso, utusan ormas, partai politik, serta ranting NU dan WMCNU se-Kabupaten Bondowoso. (Ade Nurwahyudi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Khutbah, Ulama, Pendidikan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

PWNU Yogya Nilai Warga NU Ikuti Pemilu dengan Baik

Yogyakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Ketua PWNU Daerah Istimewa Yogyakarta Rochmat Wahab menilai warga Nahdliyin, khususnya di Yogyakarta, mengikuti pemilu legislatif dengan baik.

“Kita semua sudah berpartisipasi dengan baik sebagai warga negara,” katanya pada sambutan pengajian Ahad Wage di Aula PWNU DIY, Jl. Mt Haryono 40/42, pada Ahad (20/4).

PWNU Yogya Nilai Warga NU Ikuti Pemilu dengan Baik (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Yogya Nilai Warga NU Ikuti Pemilu dengan Baik (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Yogya Nilai Warga NU Ikuti Pemilu dengan Baik

Menurut dia, PWNU DIY memahami warga Nahdliyin yang sudah mengupayakan bagaimana bisa berpartisipasi dengan optimal. “Kita tidak berpolitik praktis, namun kita peduli dengan politik. Kita berusaha berpartisipasi secara optimal.”

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ia berharap pemimpin yang dipilih warga NU pada pemilu 9 April lalu menjadi wakil rakyat yang baik dan amanah.

Pengajian Ahad Wage (20/04) tidak hanya mengkaji masalah Ahlussunah Wal Jamaah, tapi juga masalah pemilu yang dihadiri oleh KPU dan Banwaslu. (Nur Sholikhin/Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Hadits, News Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Puluhan Ribu Jamaah Berdoa untuk Keselamatan Indonesia

Solo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Terik matahari yang menyengat tak mampu menyurutkan langkah puluhan ribu jamaah untuk menghadiri peringatan haul ke-102 muallif (pengarang) kitab maulid Simtuddurar, Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi, yang diselenggarakan di Kompleks Masjid Riyadh Pasar Kliwon Solo, Jawa Tengah, Kamis (20/2).

Puluhan Ribu Jamaah Berdoa untuk Keselamatan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Puluhan Ribu Jamaah Berdoa untuk Keselamatan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Puluhan Ribu Jamaah Berdoa untuk Keselamatan Indonesia

Dari pantauan Pondok Pesantren An-Nur Slawi, masjid berlantai empat itu penuh-sesak dengan jamaah. Sedangkan sisanya mesti rela berada di luar masjid, meluber hingga sepanjang jalan Kapten Mulyadi. Jalan yang menghubungkan Solo-Sukoharjo tersebut bahkan mesti ditutup selama dua hari untuk menghindari kemacetan.

“Haul Habib Ali di Solo ini bahkan lebih besar dibanding haul yang diselenggarakan pada tanggal yang sama, di tempat asal Habib Ali, Hadramaut Yaman,” terang Rais Syuriyah PCNU Sukoharjo KH Ahmad Baidlowi, yang ikut hadir dalam acara haul.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sekitar pukul 8 pagi, Acara haul diawali dengan lantunan qasidah karya Habib Ali Al-Habsyi. Dilanjutkan dengan pembacaan manaqib Habib Ali dan tausiah dari beberapa ulama, di antaranya Habib Muhammad bin Husein bin Ahmad Al-Habsyi (Yaman) dan Habib Umar Abdul-Qadir Jilani.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Di akhir acara, para jamaah berdoa untuk keselematan negara Indonesia. “Sebagaimana kita berkumpul hari ini, semoga kita kelak dikumpulkam dengan para aulia. Semoga Indonesia dijauhkan dari segala bala,” doa Habib Umar Al-Jilani yang diamini oleh jamaah. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ulama, RMI NU, Internasional Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ribuan Warga Hadiri Manaqib Kubro

Pekalongan, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Keprihatinan para kiai dan ulama terhadap berbagai musibah dan bencana dan menimpa bangsa Indonesia akhir-akhir ini diwujudkan dalam bentuk menggelar pertemuan bersama seluruh ulama dan jamiyyah Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah se Jawa Tengah di Pondok Pesantren Al Utsmani Gejlik Kajen Kabupaten Pekalongan selama dua hari 17-18 Maret 2007.

Di samping pertemuan ini merupakan kegiatan agenda rutin enam bulanan, juga dimanfaatkan untuk do’a bersama dalam acara istighotsah dan manaqib kubro yang diikuti tidak kurang dari lima ribu jama’ah dari Pekalongan dan sekitarnya.

Ribuan Warga Hadiri Manaqib Kubro (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Warga Hadiri Manaqib Kubro (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Warga Hadiri Manaqib Kubro

Di bawah terik matahari yang cukup menyengat, ribuan jama’ah tak kuasa menahan tangis ketika melafalkan kalimat-kalimat toyyibah yang dipandu oleh KHR. Syarifuddin asal Wonopringgo Kabupaten Pekalongan dengan khusu’ dan khidmat. Bahkan tidak jarang diantara ribuan jama’ah yang didominasi ibu-ibu menitikkan air mata sebagai tanda kepasrahan diri atas berbagai bencana dan musibah yang melanda negeri ini merupakan peringatan dan teguran keras dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ketua Panitia Pelaksana Istighotsah dan Manaqib Kubro, KH. Mirza Hasbullah kepada wartawan mengatakan, kegiatan ini merupakan acara penutup dari pertemuan para kiai thariqah NU se Jawa Tengah di Pondok Pesantren Al Utsmani. Dimana sebelumnya juga telah digelar halaqah dan bahtsul masail membahas persoalan-persoalan keagamaan. 

Lebih lanjut dikatakan, untuk mendukung seluruh kegiatan selama dua hari, pihaknya mengaku mendapat dukungan dari PR Djarum, sehingga beban panitia untuk menggelar acara halaqah, bahtsul masail dan manaqib kubro menjadi lebih ringan. Apalagi, komitmen Djarum dalam mendukung kegiatan keagamaan tidak diragukan lagi.  

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sementara itu, Bupati Pekalongan dalam sambutan di acara manaqib kubro mengatakan, posisi pemerintah dan para tokoh sekarang ini sejajar. Oleh karena itu sudah seharusnya untuk saling mengisi dan memberi masukan yang konstuktif demi terwujudnya masyarakat yang demoktaris. Lebih lanjut dikatakan, kegiatan-kegiatan keagamaan hendaknya diperbanyak, agar masyarakat mendapat pencerahan hati di bawah bimbingan para ulama dan kiai.

Untuk mendukung suksesnya acara, pihak pesantren mengerahkan santrinya tidak kurang dari  200 personil plus alumni dari Ploso Kediri Jawa Timur dan keamanan internal yang terdiri dari Banser, Pagar Nusa dan CPB IPNU serta Polres Pekalongan sebanyak 300 personil.

Meski peserta direncanakan hanya 700 utusan, ternyata tidak kurang dari 1500 utusan dari berbagai kota dan kabupaten se Jawa Tengah di tempatkan di ruang-ruang kelas sebagai tempat istirahat para kiai tak menjadi masalah bagi panitia, karena hal ini telah diantisipasi sebelumnya. (muiz)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Halaqoh, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kudeta di Pilpres 2014 Jika SBY Tak Keluarkan Perpu

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Kepercayaan masyarakat terhdap penegakan hukum di Indonsia mulai pudar setelah putusan Mahkamah Konstitusi (MK) dalam judicial review UU Pilpres. MK dituding sebagai penyebab ketidakpastian hukum dalam berpolitik serta merusak tatanan demokrasi.

Kudeta di Pilpres 2014 Jika SBY Tak Keluarkan Perpu (Sumber Gambar : Nu Online)
Kudeta di Pilpres 2014 Jika SBY Tak Keluarkan Perpu (Sumber Gambar : Nu Online)

Kudeta di Pilpres 2014 Jika SBY Tak Keluarkan Perpu

“Lembaga pengadilan tertinggi tersebut disarankan melakukan perombakan total,” ungkap pengamat politik Universitas Indonesia (UI), Arbi Sanit pada diskusi, salah satu rangkaian Harlah PMII ke-54 yang digelar Pengurus Besar PMII, di gedung PBNU, Jakarta, Senin (10/3).

Persoalan lain, tambahnya, adalah pergeseran ikon koalisi dan tidak sehatnya dinamika politik 2014 ini ketimbang pemilu sebelumnya. Partai Demokrat yang sudah hancur lebur koalisinya tentu tidak lagi akan menjadi straegis. Sehingga langkah-langkah yang tidak etis bisa saja dilakukan oleh partai besutan SBY ini.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Guru Besar politik itu juga menerangkan bagaimana Golkar sudah mengintip-intip mencari koalisi termasuk terus berusaha menghancurkan Partai Demokrat. Caranya adalah dengan menghembuskan isu Kasus Bank Century.

"Padahal BLBI jauh lebih banyak, tapi Century yang digembar-gemborkan. Inilah permainan Golkar, termasuk bagaimana Prabowo mengancam dan akan melawan Jokowi. "Baru saja Jokowi mau dicalonkan PDIP, sudah dilawan," ungkapnya, pada diskusi bertema "Mungkinkah Kudeta Konstitusional 2014".

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Arbi juga mengungkapkan sekarang kondisi bangsa dibayangi krisis ekonomi, tidak ada kepastian politik. Menurutnya, kondisi ini sangat berbahaya dan bisa mengarah ke kudeta di Pilpres 2014 nanti.

Pembicara lain Erfandi, mengungkapkan bahwa potensi kudeta di pemilu 2014 kemungkinan akan terjadi karena Mahkamah Konstitusi (MK) pada 23 Januari 2014 telah mencabut pasal 3 ayat 5 UU Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden.

Atas dicabutnya dasar hukum penyelenggaraan pilpres ini, tambah dia, maka berdampak terhadap hilangnya dasar hukum pilpres 2014 karena baru akan diberlakukan di pemilu 2019. Ungkapnya

Tenaga ahli komisi IV DPR RI ini menambhakan bahwa dalam kondisi darurat seperti ini seharusnya SBY selaku presiden harus turun tangan membuat Perpu sebagai langkah strategis dalam mengisi kekosongan hukum.

“Bukan justru mendiamkan persoalan yang menimbulkan ketidakpastian ini. karena ini ibarat api dalam sekam yang tinggal menunggu waktu akan terjadi kebakaran politik di Indonesia.”

Ada tiga kelompok yang berpotensi untuk melakukan kudeta dengan menggunakan kekosongan hukum di pilpres 2014 nanti. Satu adalah kelompok yang kalah dalam Pilres, atau juga bisa dari status quo dalam hal ini Presiden SBY terhadap kelompok yang memenangkan pemilihan presiden nanti.

“Dimana dalam kondisi tidak legitimetnya keberadaan presiden ini maka kemungkinan TNI tidak lagi mematuhi dekrit yang akan dikeluarkan oleh presiden seperti eranya Abdurrahman Wahid,” tutupnya. (Red: Abdullah Alawi)

.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pertandingan, Ubudiyah, Berita,Attijani Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Harry Pantja Usulkan NU Miliki Stasiun Televisi

Kudus, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Mantan Host TV sebuah acara Dunia Lain Harry Pantja mengusulkan Nahdlatul Ulama (NU) memiliki stasiun televisi khusus atau NUTv untuk kepentingan penyebaran informasi dan dakwah.

Harry Pantja Usulkan NU Miliki Stasiun Televisi (Sumber Gambar : Nu Online)
Harry Pantja Usulkan NU Miliki Stasiun Televisi (Sumber Gambar : Nu Online)

Harry Pantja Usulkan NU Miliki Stasiun Televisi

“Ide NUTv ini sebagai masukan kepada Nahdlatul Ulama. NU bisa mengawalinya dengan  membuat internet TV maupun TV lokal terlebih dahulu,” katanya dalam acara Workshop TV Production yang diselenggarakan PT Ummat Power sebagai  rangkaian kegiatan Pasar Rakyat PBNU ,Sabtu (4/7) di Kantor NU Jl Pramuka 20 Kudus.

Untuk mewujudkan hal ini, menurut Pantja, harus mendapat dukungan semua kalangan termasuk lembaga perguruan tinggi NU untuk mencetak sumber daya manusia yang mampu menguasai ilmu komunikasi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Dari sini, NU perlu memiliki perguruan tinggi Fakultas  komunikasi guna mencetak SDM dalam bidang ini,” tambahnya seraya menyebut Universitas Nahdlatul Ulama di Cirebon telah merintis fakultas komunikasi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pada masa mendatang, ujar Pantja, dunia televisi di Indonesia tidak akan lagi didominasi televisi nasional melainkan dibutuhkan kehadiran televisi lokal di setiap daerah. “Televisi lokal akan memiliki peran yang sangat penting dan NU bisa mengambil peran meminta jatah waktu siaran, terangnya.

Dalam acara workshop yang diikuti puluhan remaja dan kader NU ini, Harry Pantja memberikan bekal ilmu pengelolaan production House (PH). Dikatakan, peluang membuat PH sangat terbuka lantaran televisi tidak sekadar menjadi media penyampai informasi semata.

"Ada sisi bisnis dan entertainment yang tidak bisa dipisahkan dari sini. Dari sisi inilah peluang yang bisa diambil PH, katanya. 

Sebelum Harry Pantja, peserta workshop diberi kiat-kiat menjadi wirausahawan sukses oleh tim Ummat Power. Acara berlangsung mulai pagi hingga jelang buka puasa. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Cerita Pondok Pesantren An-Nur Slawi

PCNU Bojonegoro Pilih Rais Syuriyah Baru

Bojonegoro, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pasca Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur KH Misbah Syakur wafat, posisinya kosong sebelum diadakan pelantikan. Namun setelah diadakan rapat tertutup pengurus harian Syuriyah PCNU Bojonegoro di Kantor PCNU, jalan Ahmad Yani Bojonegoro, Sabtu (14/9), KH Maimun SyafiI terpilih sebagai Rais Syuriyah 2013-2018.

Usai rapat Katib PCNU BOjonegoro sekaligus pemimpin rapat dan notulensi KH Moh Shofiyullah menerangkan pertemuan di sore itu terkait dengan pengisian posisi kosong, yakni Rais Syuriyah PCNU Bojonegoro sepeninggal KH Misbah Syakur yang wafat beberapa waktu lalu. Rapat terbatas itu menghadirkan Wakil Rais Syuriyah KH Makmur Soelaiman, KH Munaamul Khoir, KH M Saifuddin Zuhri, KH Abdul Muhaimin Rifai, KH Masyhuri, KH Asfiror Ridlwan, KH M Ghufron Umar, dan Kiai Muhammad Harsono. 

PCNU Bojonegoro Pilih Rais Syuriyah Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Bojonegoro Pilih Rais Syuriyah Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Bojonegoro Pilih Rais Syuriyah Baru

Dari Katib Syuriyah, mereka yang hadir Wakil Katib Kiai Asyrofi, KH M Jauharul Maarif, Agus Sholahuddin, KH Muhammadun, KH Famudji, KH M Zuhri, H Syaroni, dan H Habrun Hasan. Rapat ini juga dihadiri Ketua Tanfidziyah terpilih 2013-2018 H Cholid Ubed.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Setelah ditawarkan proses pemilihan yang dilakukan secara demokrasi, berdasarkan AD/ART organisasi NU, disepakati voting tertutup. "Hasil kesepakatan rapat yang sesuai AD/ART ini terpilih KH Maimun Syafi sebagai Rais Syuriyah PCNU Bojonegoro 2013-2018, yang sebelumnya menduduki Mustasyar," ujar KH Shofiyullah kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurut pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Rosyid Dander Bojonegoro itu, langkah selanjutnya yang akan dilakukan, mengajukan permohonan Surat Keputusan (SK) dan sekaligus membahas persiapan pelantikan.

Pasalnya pembahasan terkait pelantikan akan dibahas bersama dan tentunya membentuk kepanitiaan. "Rencananya pelantikan akan dilaksanakan setelah musim haji," terangnya. Namun kegiatan akan berjalan sesuai bidangnya masing-masing seperti halnya Aswaja Center yang terus mengadakan kegiatan.

Sementara dalam kesempatan terpisah, Cholid Ubed mengatakan jika pertemuan itu merupakan wilayah syuriyah untuk memilih rais pengganti. "Siapapun yang terpilih sebagai Rais Syuriyah atau Owner PCNU Bojonegoro, kita mengikuti," jelasnya.

Terpilihnya KH. Maimun Syafii sudah sesuai AD/ART dan sesuai kesepakatan seluruh pengurus yang mengikuti rapat. "Langkah selanjutnya keputusan ini akan dikirim ke PWNU Jatim untuk dilantik," ungkapnya.

Setelah pelantikan nanti, seluruh pengurus PCNU akan segera melaksanakan agenda program kerja yang dibuat dan kegiatan-kegiatan lainnya. (M Yazid/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pendidikan, Olahraga Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 27 November 2017

Ada Malpraktek, Banser Batang Tuntut Perbaikan Layanan RSUD

Batang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kabupaten Batang, Jawa Tengah, melakukan aksi solidaritas atas meninggalnya salah satu anggota mereka, Aminudin (30), warga Desa Karangtengah, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang.

Ada Malpraktek, Banser Batang Tuntut Perbaikan Layanan RSUD (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada Malpraktek, Banser Batang Tuntut Perbaikan Layanan RSUD (Sumber Gambar : Nu Online)

Ada Malpraktek, Banser Batang Tuntut Perbaikan Layanan RSUD

Aminudin diduga menjadi korban kelalaian atau malpraktek saat dirawat di RSUD Batang. , Senin (13/4), organisasi semiotonom Gerakan Pemuda Ansor ini mendatangi DPRD Kabupaten Batang dan menyampaikan keluhan mereka atas pelayanan RSUD Batang yang dinilai tidak memihak rakyat kecil.

Ketua GP Ansor Kabupaten Batang Umar Abdul Jabar menjelaskan, RSUD seharusnya  memberikan jaminan kesehatan kepada masyarakat tanpa memandang apakah masyarakat tersebut mampu atau tidak. Tapi RSUD Batang malah berlaku sebaliknya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Memang Aminudin mendapatkan perlakuan yang tidak sesuai prosedur, penanganan yang diberikan terkesan lamban dan yang bersangkutan dibiarkan begitu saja tanpa ada kejelasan meskipun sudah dirawat selama 11 hari,” tutur Umar didampingi anggota Banser M Huda.

Saat masuk ke RSUD, korban ditangani bukan oleh dokter spesialis bedah atau tulang, melainkan oleh KOAS atau dokter magang. Padahal, korban mengalami luka cukup parah dan patah tulang akibat terkena alat pemotong rumput. Namun ketika di IGD RSUD, korban hanya dijahit luka tanpa memperhatikan patah tulang yang dialami.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Kami cuma ingin menuntut agar pihak RSUD memperbaiki sistem pelayanan, meminta Bupati Batang untuk mengevaluasi secara menyeluruh terhadap organisasi, sumber daya manusia dan kinerja RSUD serta meminta DPRD untuk menindaklanjuti dengan membentuk Pansus,” ujarnya.

Amat Dasari selaku kakak kandung korban menjelaskan, selama di rumah sakit, korban juga terkesan mendapat perawatan ala kadarnya, bahkan sempat tidak mendapatkan kunjungan dari dokter spesialis selama 3 hari.

Pihak rumah sakit juga sempat menyatakan akan melakukan amputasi terhadap kaki korban. Pada tanggal 30 Maret keluarga dipanggil perawat bahwa keputusan dari RSUD dan dokter sudah final, yakni akan melakukan amputasi dan keluarga diminta tanda tangan surat persetujuan.

“Setelah 11 hari dirawat, yakni tanggal 31 Maret, kondisi korban menurun hingga dipindahkan ke ICU. Kemudian dokter menyatakan jika korban sudah membaik setelah mendapatkan perawatan di ICU. Dan informasi yang diperoleh, korban terkena tetanus,” terangnya.

Amat mengatakan, selama di IGD saat pertama kali masuk, keluarga tidak melihat jika korban disuntik antitetanus, begitu juga selama menjalani perawatan. Akibat kejadian tersebut, Rabu (1/4), korban semakin kritis dan kemudian dirujuk ke RS Siti Khotijah Pekalongan. Namun setelah mendapatkan perawatan, korban akhirnya meninggal dunia.

Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Batang Edi Siswanto yang menemui perwakilan GP Ansor, Banser dan juga keluarga korban menyatakan bahwa pihaknya akan segera melakukan kroscek terkait kasus ini. Selain itu, dengan adanya laporan semacam ini, pihaknya akan membuat pansus untuk menindaklanjuti kasus ini.

“Kami merasa prihatin dengan adanya kejadian semacam ini, untuk itu akan segera kami tindaklanjuti dengan membentuk pansus dan kami akan melakukan kroscek ke RSUD serta memanggil pihak RSUD untuk mengkonfirmasi hal ini,” tegas Edi.

Anggota Komisi B Yuswanto menambahkan, laporan ini akan segera ditindaklanjuti dengan akan melaksanakan rapat kerja, jangan sampai nantinya ada kasus lain yang terjadi. “Kami akan segera melakukan rapat kerja dengan pihak RSUD dan tidak akan menunda lama. Kami tidak ingin masyarakat tidak percaya lagi pada pemerintah, khususnya bidang kesehatan,” imbuhnya. (Muhammad Imron/Mahbib)

Foto: Banser saat berkunjung ke DPRD

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Hikmah, Sejarah,Attijani Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ketimpangan Anggaran untuk Pendidikan Islam adalah Kedzaliman

Subang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Masih minimnya anggaran pemerintah yang dialokasikan kepada pesantren dan madrasah merupakan bentuk kedzaliman terhadap lembaga pendidikan Islam. Padahal, Pendidikan Islam dengan berbagai bentuk lembaga pendidikannya mampu mendukung pemerintah, baik sebagai benteng moral maupun pencetak para generasi cerdas berakhlak mulia.

Ketimpangan Anggaran untuk Pendidikan Islam adalah Kedzaliman (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketimpangan Anggaran untuk Pendidikan Islam adalah Kedzaliman (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketimpangan Anggaran untuk Pendidikan Islam adalah Kedzaliman

Hal ini diungkapkan oleh KH Maman Imanulhaq usai mengikuti kegiatan Dzikir Akbar Asmaul Husna di Pesantren Attawazun, Kalijati, Subang, Ahad (14/2/2016).

"Keadilan anggaran menjadi prioritas saya sebagai wakil rakyat, sebagai orang NU yang dititipkan di PKB, saya ingin mengatakan bahwa saat ini terjadi kedzaliman anggaran," tegas Anggota Fraksi PKB DPR RI ini.

Alasan yang ia kemukakan adalah karena anggaran pemerintah lebih banyak dialokasikan untuk sekolah-sekolah umum dibandingkan untuk pesantren dan lembaga pendidikan Islam lain.

"Hal ini sudah menjadi bagian dari rapat, Fraksi PKB akan terus memperjuangkan agar pesantren, madrasah dan lembaga pendidikan Islam lainnya bisa mendapatkan haknya," tambahnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dalam waktu dekat, tambah dia, pihaknya akan memanggil Kepala Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional) dan Menteri Agama untuk meminta penjelasan tentang anggaran pendidikan Islam.?

Ketimpangan anggaran pendidikan

Dari pemerintah pusat, anggaran pendidikan diberikan kepada Kemdikbud dan Kemenag. Untuk Kemenag langsung didistribusikan ke Kemenag Provinsi dan Kemenag Kabpuaten/Kota. Kemudian ditransformasikan dalam bentuk Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk madrasah dan pendidikan keagamaan.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pendidikan di lingkungan Kemenag ini hanya mendapat suntikan dana dari para orang tua murid. Jadi penerimaan madrasah dan pendidikan keagamaan hanya diperoleh dari pusat dan orang tua murid.

Berbeda dengan pendidikan di lingkungan Kemdikbud. Selain mendapat penerimaan dana dari pusat yang jumlahnya lebih besar dibanding Kemenag, pendidikan umum juga mendapat suntikan dana pembantuan dari Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota. Kontribusi inilah yang tidak didapatkan oleh madrasah dan pendidikan keagamaan di lingkungan Kemenag sehingga ketimpangan anggaran negara jelas terlihat. (Aiz Luthfi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Fragmen Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pelajar dan Santri Peringati Hari Kesaktian Pancasila

Jepara, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Ratusan pelajar dan santri SMP – SMK dan pesantren Az Zahra desa Sekuro kecamatan Mlonggo kabupaten Jepara memperingati Hari Kesaktian Pancasila dengan upacara bendera berlangsung di halaman kompleks Az Zahra, Rabu (1/10).

Inspektur upacara, Misbah dalam amanatnya menyampaikan upacara bukan sekadar ritual tapi perlunya mengunduh sebuah nilai. Kepala SMP Az Zahra itu menyontohkan petugas upacara yang dilakukan kelas VII. Jika ada kekurangan, terangnya tidak perlu ditertawarakan namun dijadikan pelajaran berharga.

Pelajar dan Santri Peringati Hari Kesaktian Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar dan Santri Peringati Hari Kesaktian Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar dan Santri Peringati Hari Kesaktian Pancasila

"Kekurangan yang ada pada petugas upacara kelas VII, tingkatan terendah di Az Zahra bukan dijadikan bahan tontonan tetapi tuntunan. Oh, maklum mereka masih belajar. Kedepan kelak mereka tambah baik," jelas Misbah.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ia melanjutkan dengan Pancasila sebagai salah satu dasar negara merupakan komitmen bangsa untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Disamping itu perlu pula didasari akhlak mulia. Hal itu sebagaimana tercermin dalam lembaga dipimpinnya. "Di SMP ada pembelajaran praktik yakni shalat Dluha sedangkan di SMK mapel takhasus," imbuhnya.

Hal itu sambungnya untuk menguatkan kualitas akhlak peserta didik. Dengan akhlak, etika dan moral niscaya pelajar tetap disegani dimana pun berada apalagi eksitensi bangsa juga perlu didasari moral bangsa.(Syaiful Mustaqim/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Nusantara Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pembangunan Fisik Perlu Diimbangi Pembangunan Mental

Purworejo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Maraknya pembangunan fisik dan infrastruktur yang dewasa ini gencar dilakukan pemerintah, mesti diimbangi dengan pembangunan mental, spiritual, karakter dan moral, agar tak terjadi ketimpangan sosial.

Demikian diungkapkan Pengasuh Pesantren Putri Al-Azhar, Karangsari, Purwodadi KH Mutammimul Masholeh Azhar usai mengisi Pelatihan Fasilitator (LATFAS) Pimpinan Cabang IPNU-PPNU Purworejo, Sabtu (25/3).

Pembangunan Fisik Perlu Diimbangi Pembangunan Mental (Sumber Gambar : Nu Online)
Pembangunan Fisik Perlu Diimbangi Pembangunan Mental (Sumber Gambar : Nu Online)

Pembangunan Fisik Perlu Diimbangi Pembangunan Mental

"Contoh riil, pembangunan bandara di Kulon Progo yang dekat dengan kawasan ini, tentu akan meningkatkan perekonomian masyarakat. Tanah yang sedianya Rp.100.000 per-meter kini ada yang mencapai Rp. 3.000.000. Dan tentu ini akan menggeliatkan ekonomi, budaya, baik dari sektor wisata, kuliner, hiburan, dan pertukaran budaya asing yang tentu tak semuanya positif," terangnya kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Untuk mengimbangi hal itu, kata pria yang akrab disapa Gus Tamim ini, perlu adanya pembinaan moral-keagamaan secara massif oleh tokoh agama dan masyarakat. Jika tidak, nilai-nilai religius-spiritual akan kalah.

Mengikapi hal ini, pihaknya secara pribadi akan melakukan beberapa gerakan riil di tengah masyarakat.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Mohon doanya, Insyaallah dalam waktu dekat kita akan membangun gedung aula untuk pembinaan mental pemuda. Juga, sekolah yang berbasis pesantren (boarding school)," imbuhnya.

Gus Tamim berharap, nantinya lembaga pendidikan dan pembinaan pemuda yang ia bangun dapat menjadi penyeimbang dalam ranah sosial-kemasyarakatan dan keagamaan.

"Sementara, dalam waktu dekat ini kita akan bangun secara mandiri, tanpa bantuan dari pemerintah," pungkas owner At-Tamimi travel, sebuah biro jasa pemberangkatan Haji dan Umroh. (Ahmad Naufa/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ahlussunnah, Tokoh, Kyai Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Haul Gus Dur tak Semata Diperingati

Jombang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Hampir semua orang sepakat bahwa Gus Dur atau KH Abdurrahman Wahid adalah sosok yang layak ditauladani. Tidak semata dalam gagasan, juga dalam tataran perilaku atau tindakan.

Yang mendesak untuk segera dilakukan adalah menampilkan kiprah dan dedikasinya dalam keseharian. Apalagi dalam waktu dekat, Jombang akan menyelenggarakan pemilihan kepala daerah.

Haul Gus Dur tak Semata Diperingati (Sumber Gambar : Nu Online)
Haul Gus Dur tak Semata Diperingati (Sumber Gambar : Nu Online)

Haul Gus Dur tak Semata Diperingati

Ini di antara benang merah yang disampaikan sejumlah narasumber pada kegiatan "Meneguhkan Spirit Perjuangan Gus Dur: Refleksi Kritis Menjelang Transisi Kepemimpinan Jombang" (4/1).?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Acara yang diselenggarakan di kantor PC Lakpesdam NU Jombang ini menghadirkan Ahmad Athoillah (Ketua PC ISNU Jombang), Pendeta Sutrisno (GKI Jombang) serta Aan Anshori (GusDurian Jombang).

Dalam paparannya, Gus Athok -sapaan Ketua PC ISNU Jombang- menmandaskan sebenarnya banyak gagasan Gus Dur yang masih relevan dengan kondisi kekinian.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Yang sangat terasa adalah bagaimana seorang Gus Dur mampu menjadi payung bagi semua golongan," katanya. Sosok dengan komitmen seperti ini yang sangat dibutuhkan sebagai pemimpin masa depan.?

"Mereka yang berkeinginan dan mampu menyapa berbagai lapisan masyarakat, tentu akhirnya dapat dengan mudah menyerap aspirasi masyarakat," lanjutnya. Namun demikian, yang juga penting adalah bagaimana merealisasikan janji-janji dan komitmen politik tersebut manakala telah terpilih sebagai orang pertama di kota santri ini.

Karena sudah jamak terjadi, beberapa pemimpin yang demikian terbuka dengan masyarakat, namun melakukan itu hanya saat masa kampanye.?

"Namun setelah terpilih, sangat jarang yang mau mempertahankan dalam masa kepemimpinannya," katanya prihatin.?

Pada acara yang berlangsung sejak jam 20.00 hingga tengah malam ini, beberapa peserta juga menyampaikan berbagai keprihatinan seputar kesungguhan dan keberpihakan para pemimpin. Yang lebih mengemukan adalah rendahnya komitmen mereka dalam mengayomi dan melindungi masyarakat.?

"Memang tidak mudah mencari pemimpin yang bisa memuaskan semua pihak," kata Pendeta Sutrisno. "Namun diantara yang telah siap untuk maju, pasti akan ada yang lebih baik," lanjutnya.

Karena itu, pada kesempatan ini semua peserta sepakat bahwa momentum memperingati tiga tahun wafatnya Gus Dur, hendaknya tidak semata diperingati. Yang mendesak adalah melakukan penyadaran khususnya kepada diri sendiri terhadap pentingnya sosok yang rela mengayomi dan melindungi kepentingan orang banyak.?

"Tanpa itu, peringatan Gus Dur hanya berhenti pada seremonial tanpa ada pengaruh dalam realita," kata Aan Anshori.

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Saifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Berita, Olahraga, Kyai Pondok Pesantren An-Nur Slawi

PBNU Tak Sepakat Ide Poros Tengah Jilid II

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj tidak sepakat dengan wacana menghidupkan kembali poros tengah jilid dua yang menyatukan partai-partai Islam dalam satu koalisi.

“Kita tidak ingin ada dikotomi koalisi partai Islam dan non Islam, karena kesannya menjadi primordial. Yang penting kepentingan bangsa didahulukan, karena kalau negara maju, umat Islam sebagai mayoritas juga akan maju,” katanya di gedung PBNU, Sabtu (12/4).

PBNU Tak Sepakat Ide Poros Tengah Jilid II (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Tak Sepakat Ide Poros Tengah Jilid II (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Tak Sepakat Ide Poros Tengah Jilid II

Ia mencontohkan di Timur Tengah, hubungan antara agama dan negara belum menemukan titik temu sehingga sering sekali terjadi konflik antara agama dan negara. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Di Indonesia, persoalan mendasar kenegaraan tersebut sudah selesai, tinggal bagaimana mensejahterakan rakyat,” imbuhnya.

Ditanya mengenai apakah PBNU akan mengusulkan calon presiden atau wapres kepada partai politik, ia menjelaskan, PBNU tidak ikut dalam politik praktis.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Itu urusan PKB, tetapi tentu dengan tidak meninggalkan PBNU dengan tetap menjaga komunikasi dan sharing pendapat,” tandasnya.

NU, katanya, memiliki agenda yang lebih besar dari partai politik karena urusan NU adalah kebangsaan, bukan politik praktis. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Daerah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 26 November 2017

Toleransi Beragama: Perbedaan itu Rahmat

Oleh M Kholid Syeirazi

Wahyu dalam bentuk Al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah SAW. Sebagai penerima wahyu, Rasulullah SAW adalah orang paling mengerti maksud dan isi Al-Qur’an. Di zaman Rasulullah SAW, perbedaan sahabat dalam memahami ayat langsung bisa dikonfirmasi kepada Rasulullah. Beliau adalah hakam, pemberi kata putus dalam setiap perbedaan pendapat.

Toleransi Beragama: Perbedaan itu Rahmat (Sumber Gambar : Nu Online)
Toleransi Beragama: Perbedaan itu Rahmat (Sumber Gambar : Nu Online)

Toleransi Beragama: Perbedaan itu Rahmat

Terkadang perbedaan pendapat dalam memahami nash, baik nash Al-Qur’an maupun Hadits dibiarkan Rasulullah SAW tanpa dicelanya. Sejak zaman Rasulullah SAW sudah ada kecenderungan sekelompok sahabat yang memahami bunyi nash apa adanya dan juga ada juga sekelompok lain yang tidak letterlijk serta menyertakan rasio dalam memahami nash.

Ketika perang parit, Bani Qurayzhah yang telah menekan perjanjian damai dengan Rasulullah Saw berkhianat. Mereka membelot, bersekutu dengan kafir Quraisy menjanjikan bantuan untuk memerangi Rasulullah dalam perang Khandaq. Selepas zuhur, Jibril datang membawa perintah agar Rasulullah Saw menyerbu benteng Bani Qurayzhah. Panji pasukan diserahkan kepada Ali Ra dan Rasulullah bersabda: “Lâ yushalliyanna ahadun al-ashra illâ fî banî Qurayzhah” (Jangan kalian shalat asar kecuali di Bani Qurayzhah)

Peristiwa ini diceritakan oleh Ibnu Hisyâm dalam Sîrah-nya yang legendaris, diriwayatkan oleh Imâm Bukhâri dalam Sahîh Bukhâri ‘Kitâb al-Maghâzi,’ diberikan syarah panjang lebar oleh Ibnu Hajar Al-Asqalanî dalam Fathul Bâri. Azhim Abadi membahas hadits ini dalam Awnul Ma’bûd Syarah Sunan Abî Dâwud“ dalam Kitâb al-Qadhâ Bâb Ijtihâd al-Ra’y fil Qadha” (Lihat Ibnu Hisyâm, As-Sîrah An-Nabawiyyah, Beirut: Dâr Ibn Hazm, 2001, halaman 462-463; Ibn Hajar Al-Asqalanî, Fathul Bâri, Beirut: Dâr Ihyâ’it Turâts Al-Arabî, 1988, Juz 7, halaman 327-329; Syamsul Haq Al-Azhîm Abadî, Awnul Ma’bûd Syarah Sunan Abî Dâwud, Kairo: Darul Hadits, 2001, Juz 6, halaman 427-428).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Diriwayatkan, di tengah perjalanan, waktu shalat asar masuk padahal mereka belum sampai perkampungan Bani Qurayzhah. Sahabat terbelah dalam dua kubu. Kubu pertama enggan shalat asar berdasarkan bunyi harfiah perkataan Nabi “Jangan kalian shalat asar kecuali di Bani Qurayzhah.” Kubu kedua melaksanakan shalat asar di tengah jalan. Mereka memahami perkataan Nabi tidak secara letterlijk, tetapi secara rasional. Menurut mereka, maksud ucapan Nabi adalah kita disuruh segera bertindak sehingga dapat melaksanakan shalat asar di? perkampungan Bani Qurayzhah. Begitu tidak tercapai, shalat asar harus dilaksanakan selagi ada kesempatan. Kubu pertama akhirnya baru dapat melaksanakan shalat asar setelah masuk shalat isya.’

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kejadian ini dilaporkan kepada Rasulullah saw dan beliau tidak mencela salah satunya. Wahyu juga tidak turun membenarkan satu kelompok, dan menyalahkan kelompok lain. Artinya, ijtihad dua kelompok sahabat yang tekstual dan yang rasional diakui, karena dalam ijtihad, yang benar dan yang salah sama-sama diganjar pahala. Yang benar dapat dua pahala, yang salah dapat satu pahala. Menurut Azhim Abadi, kubu pertama adalah penduhulu kelompok tekstualis (salafu ahliz zhahir), kubu kedua adalah penduhulu kelompok logis (salafu ashâbil ma’nâ wal qiyâs). Sikap Rasulullah yang arif bijaksana membuat dua kelompok sahabat toleran, saling menghormati dan menghargai perbedaan pandangan.

Masalahnya, sepeninggal Rasulullah Saw umat Islam kehilangan sumber hidup yang dapat memutus dan menyelesaikan pertentangan. Al-Qur’an satu, tetapi penafsirannya sebanyak isi kepala sahabat dan umat sepeninggalnya. Rasulullah Saw meninggalkan sunah, tetapi banyak versi riwayat ucapan, perbuatan, dan ketetapan Nabi dan juga pemahaman umat terhadapnya. Menjadi semakin kompleks karena ada kubu yang mulai memaksakan pandangan mereka dan kehilangan toleransi untuk mengakui pandangan kelompok lain.

Ketika perang Shiffin sekelompok orang keluar dari barisan Ali dan Mu’awiyah, mencela dan mengafirkan keduanya, dan mengusung slogan “lâ hukma illallâh.” Proses arbitrase (tahkîm), yang kemudian secara curang dimenangkan kubu Mu’awiyah, oleh kelompok yang kelak dikenal sebagai Khawarij ini dianggap mengingkari hukum Allah. Pelakunya kafir dan harus diperangi. Di sinilah tradisi takfir dimulai.

Pada zaman sahabat perbedaan tajam sering kali terjadi. Umar yang tidak membagi rampasan perang (fai) berupa tanah pertanian di Syam dan sekitarnya ditentang oleh Bilal dan sahabat lain karena dianggap menyelisihi bunyi nash Al-Qur’an (tentang ijtihad Umar Ra, lihat Muhammad Bultajiy, Manhaj Umar ibnil Khattâb fit Tasyrî (Kairo: Dârul Fikr Al-Arabî, 1970). Namun, setajam apa pun pertentangan di antara sahabat, tidak ada takfir. Khawarij memulai tradisi pemaksaan pendapat dengan takfir dan kekerasan. Ali Ra wafat setelah ditikam oleh pengikut Khawarij, Abdurrahman bin Muljam. Ali Ra berkali-kali menampik slogan Khawarij “lâ hukma illallâh” dengan menyatakan “kalimatu haqqin yurâdu bihal bâthil” (ungkapan benar, tetapi digunakan untuk tujuan salah).

Saling menghargai perbedaan pendapat, terutama dalam perkara furû’, mutlak diperlukan untuk mewujudkan ukhuwwah Islâmiyyah. Persaudaraan umat Islam tidak mungkin terwujud dalam suasana takfir dan penyesatan. Beragamalah dengan ilmu! Jangan gunakan jargon “Kembali kepada Al-Qur’an dan Hadits” seperti kaum Khawarij menggemakan slogan “lâ hukma illallâh.”

Al-Qur’an satu, tetapi penafsiran terhadapnya sebanyak isi kepala para mufassir. Ayat-ayat Al-Qur’an terdiri dari banyak jenis, kita mengetahuinya dari para ulama yang merumuskan disiplin Ulûmul Qur’an. Al-Qur’an tidak bisa dicuplik satu dua ayat, dipotong sepenggal-sepenggal sesuai kepentingan partisan. Hadits ada berbagai tipe, diriwayatkan banyak rawi, sampai ke tangan kita atas jasa para ulama yang telah membukukan ucapan Rasulullah Saw, menyeleksinya berdasarkan kategori hadis shahih, hasan, dan dha’if.

Kembali kepada Al-Qur’an dan Hadits hanya berhenti sebagai jargon bagi orang yang baru membaca Al-Qur’an dan mengerti satu dua hadits dari majelis taklim. Saya sendiri tidak berani menafsirkan Al-Qur’an, hatta satu ayat, tanpa membuka cara ulama sejak sahabat hingga tabi’, tabi’in menafsirkannya sebagaimana tertuang dalam kitab-kitab tafsir. Begitu pun dalam memahami hadits, saya terikat dengan kitab-kitab hadits (kutubus sittah) yang diakui otentisitasnya serta syarah ulama yang diakui keilmuannya terhadap kitab-kitab tersebut. Itulah tradisi ilmiah! Jangan potong dengan ucapan sapu jagat “Mari Kembali kepada Al-Qur’an dan Hadits,” tetapi baca Al-Qur’an saja masih tersendat-sendat.

Beragamalah dengan akal! Hargai perbedaan pendapat, yang bahkan sudah terjadi di kalangan sahabat sejak zaman Rasulullah Saw seperti ditunjukkan dalam insiden Bani Qurayzhah. Toleransi hanya dapat terwujud jika masing-masing punya pedoman: “Pendapat saya benar, tetapi bisa jadi salah. Pendapat orang lain salah, tetapi bisa jadi benar.” Tidak ada pemutlakan, tidak ada penyesatan apalagi takfir dan kekerasan.

Jangan gunakan standar ganda! Jika saya kritik cara pemahaman kelompok tekstualis, mereka bilang saya memecah belah umat. Tetapi jika ustadz-ustadz mereka menulis di blog dan ceramah di youtube yang membid’ah-bid’ahkan dan bahkan menyesat-nyesatkan amaliah NU, mereka bilang itu amar ma’ruf nahi munkar. Kembalilah kepada kebenaran. Tidak ada kebenaran mutlak sejauh di tangan manusia. Kebenaran manusia selalu relatif, karena akal manusia nisbi. Hanya kebenaran Allah yang benar-benar benar! Itulah sejatinya kebenaran.

*) M Kholid Syeirazi, Sekjen Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlaul Ulama (PP ISNU)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Doa Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Aktivis IPNU-IPPNU Unnes Beri Motivasi Peserta BPUN Kudus

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Aktivis IPNU-IPPNU Universitas Negeri Semarang (Unnes) berbagi wawasan perguruan tinggi dengan peserta Bimbingan Pasca Ujian Nasional (BPUN) Kabupaten Kudus, Sabtu (14/5). Mereka membesarkan hati calon mahasiswa agar dapat lolos keperguruan tinggi.

Ketua PKPT IPNU Universitas Negeri Semarang Farid Luthfi Assidiqi mengatakan, pemahaman atas perguruan tinggi sangat penting dimiliki agar dapat membantu mengantarkan peserta lolos PTN.

Aktivis IPNU-IPPNU Unnes Beri Motivasi Peserta BPUN Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)
Aktivis IPNU-IPPNU Unnes Beri Motivasi Peserta BPUN Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)

Aktivis IPNU-IPPNU Unnes Beri Motivasi Peserta BPUN Kudus

“Sebelum mengikuti seleksi tentu kita harus mendaftar dan menentukan jurusan, di sinilah pentingnya wawasan akan perguruan tinggi,” katanya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pada pertemuan ini rombongan pelajar NU Unnes memaparkan seluk-beluk perguruan tinggi, tips dan trik lolos SBMPTN hingga kiat mencari beasiswa.

“Pada umumnya kita terangkan mengenai Unnes secara menyeluruh, baik jurusan, fakultas, jalur masuk hingga beasiswa apa saja yang tersedia di Unnes,” terangnya.

Selain memberikan sosialisasi perguruan tinggi, kedatangan sejumlah aktivis pelajar NU Unnes juga untuk memberikan motivasi agar kader-kader NU dapat lolos ke perguruan tinggi favorit.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Semoga ke depan semakin banyak kader NU yang masuk di perguruan tinggi favorit sehingga kontribusi kader terhadap kemajuan negara semakin meningkat,” pungkasnya. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pondok Pesantren, PonPes Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jutaan Yatim Indonesia, Jihad yang Terlewatkan

Oleh Gatot Arifianto

Indonesia dikenal sebagai negeri agraris, gemah ripah loh jinawi. Namun sayangnya hal itu hanya pada teks, belum menjadi fakta. Organisasi kemanusiaan Save the Children, bekerja sama dengan UNICEF pada akhir 2009 melakukan penelitian dan menyimpulkan sekitar 6 persen dari 500 ribu anak yang berada dalam pengasuhan rumah yatim piatu, benar-benar yatim piatu. Nasib 94 persen sisanya bisa dikatakan mak jelas (tak jelas).

Jutaan Yatim Indonesia, Jihad yang Terlewatkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jutaan Yatim Indonesia, Jihad yang Terlewatkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jutaan Yatim Indonesia, Jihad yang Terlewatkan

Pada 2013, Menteri Koordinator Perekonomian di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Hatta Rajasa, menyatakan jumlah anak yatim di Indonesia tercatat mencapai 3,2 juta. Jumlah terbanyak berada di Nusa Tenggara Timur, 492.519 anak dan Papua sejumlah 399.519 anak.

Salah satu akhlak dan moralitas orang-orang mulia ialah memiliki kasih sayang dan berbuat baik pada anak yatim. Dan perilaku tersebut, memiliki pahala setara dengan jihad.

Rasulullah SAW yang menurut santri senior, Gus Mus, bukan pencaci, bukan pencela, dan bukan orang kasar, bersabda: "Barang siapa yang mengasuh tiga anak yatim, maka bagaikan bangun pada malam hari dan puasa pada siang harinya, dan bagaikan orang yang keluar setiap pagi dan sore menghunus pedangnya untuk berjihad di jalan Allah. Dan kelak di surga bersamaku bagaikan saudara, sebagaimana kedua jari ini, yaitu jari telunjuk dan jari tengah." (HR Ibnu Majah).

Sayangnya, jihad tersebut terlewatkan hanya karena satu orang, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang diduga melakukan penistaan agama akibat pernyataan QS Al Maidah 51. Sehingga, calon petahana Gubernur DKI Jakarta itu "dikeroyok" ramai-ramai, dengan alasan jihad oleh sejumlah umat Islam dari berbagai daerah di Indonesia, Jawa Timur, Jawa Tengah, Padang, Sumatera Selatan, Lampung dan beberapa kota lain, Jumat 4 November 2016.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Berapa kilometer meski ditempuh untuk jihad tersebut? Berapa ongkos dihabiskan untuk mencapai Jakarta (demo, red) dari luar daerah? Tentu tidak sedikit, selain untuk transportasi, tentu juga untuk konsumsi selama di perjalanan. Tapi "semangat" barangkali tidak memperhitungkan sisi tersebut. Barangkali yang lain, saudara-saudara kita yang secara undang-undang tidak terlarang untuk menyatakan pendapat memang berekonomi mapan, sehingga biaya tidak menjadi soal. Jika demikian, tentunya hal sangat menggembirakan.?

Di era Presiden Joko Widodo, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menyatakan ada sekitar 4,1 juta anak Indonesia telantar. Korban perdagangan manusia 5.900 anak, bermasalah dengan hukum 3.600 anak, balita telantar 1,2 juta, lalu 34.000 anak jalanan yang dirawat di pondok pesantren, panti asuhan, Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) dan Rumah Perlindungan Sosial Anak (RSPA). Semuanya memerlukan perhatian.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Saat ini pemerintah baru mampu memberikan bantuan langsung untuk menunjang pengasuhan anak yatim dan telantar sebesar Rp1 juta per tahun per anak. Jumlah penerima manfaat pada 25 Maret 2016 tercatat sekitar 5.000 anak. Capaian tersebut perlu diapresiasi kendati masih jauh dari data yang ada. Negara dengan beragam permasalahan ini tentunya akan kesulitan menyelesaikan permasalahan tersebut secara tunggal. Gotong royong sebagai budaya bangsa Indonesia salah satu solusi.

Selain itu, Al-Quran menyebut 23 kali mengenai "yatim" dan penggunaan kata-kata tersebut merujuk kepada kemiskinan dan kepapaan. "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri." (QS An-Nisa: 36).

QS Al-Baqarah 2:177 juga menyatakan: "Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim".?

Rasulullah SAW yang tetap bersikap lembut terhadap terhadap pengingkar perjanjian Hudaibiyah, Abu Sufyan juga bersabda: "Barang siapa yang memelihara anak yatim di tengah kaum muslimin untuk memberi makan dan minum, maka pasti Allah memasukkannya ke dalam surga, kecuali jika ia telah berbuat dosa yang tidak dapat diampuni." (HR Tirmidzi).

Jika jihad bertujuan untuk masuk surga, jutaan jalan jihad, anak anak yatim itu, semestinya tidak terlewatkan oleh seorang Ahok yang sudah meminta maaf. Ada Rp2,5 miliar dalam hitungan untuk keperluan konsumsi sederhana selama sehari di Jakarta, Rp50 ribu kali 50 ribu pendemo. Belum lagi biaya transportasi, baik ngeteng (naik kendaraan umum) oleh ratusan pendemo atau sewa ratusan kendaran untuk mencapai Jakarta demi demontrasi yang mustahil tanpa makian dan meninggalkan sampah.

Barangkali egois dan menunjukkan mayoritas lebih maslahat dan kelihatan jihad ketimbang menghimpun dan menyalurkan dana dikeluarkan hari ini bagi anak-anak yatim: jalan jihad yang ini kali sepi tanpa kegaduhan hanya karena seorang non muslim bernama Ahok. Adakah ia gajah dan kita semut?

Penulis adalah Founder Halal (Hijamah Sambil Beramal). Bergiat di Gerakan Pemuda Ansor, Gusdurian, Aliansi Jurnalis Independen (AJI), The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ), Jaringan Islam Anti Diskriminasi dan program filantropi edukasi Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN).

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Jadwal Kajian Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Al Qaeda: Dari Perang Afganistan sampai ISIS

Buku Al Qaeda: Kajian Sosial Politik, Ideologi dan Sepak Terjangnya (2014) merupakan kelanjutan dari buku “Ideologi-Ideologi Pasca Reformasi” yang diterbitkan tahun 2012. Menurut penulisnya, As’ad Said Ali, kedua buku itu berangkat dari ambisi pribadnya untuk melakukan kajian menyeluruh tentang gerakan-gerakan radikal.

Buku Al Qaeda terdiri dari 9 bab yang dimulai dengan cerita mengenai pengalaman pribadi penulis saat bertugas sebagai pejabat Badan Intelijen Negara (BIN) di Timur Tengah pada 1982 sampai 1990. Selanjutnya penulis menyampaikan uraian panjang lebar mengenai ideologi kaum jihadi dan Al Qaeda secara khusus. Pertemuannya secara tidak sengaja dan perkenalannya dengan pemimpin Al Qaeda Osama bin Laden menjadi titik poin tersendiri. As’ad Ali mencatat bahwa Perang Afghanistan sebagai sebuah permulaan terbentuknya jaringan jihad internasional dan mengenai gagasan pembentukan Al Qaeda. Penulis juga mengungkap pola pengorganisasiannya, serta operasi-operasinya pada tahap awal.

Bab 5 penulis menyampaikan uraian tambahan mengenai Jamaah Islamiyah dan hubungannya dengan Al Qaeda mengingat banyak orang salah kaprah, termasuk opini di sejumlah media, dalam memahami hubungan kedua organisasi ini. Bagaimana jaringan operasi dan rentetan aksi teror bom yang dilakukan Al Qaeda, disajikan dalam Bab 6 dan 7. Uraian dalam dua bab ini meliputi wilayah yang relatif luas, yakni Indonesia dan sejumlah negara di Asia Tenggara. Bab ini menggambarkan cukup menyeluruh mengenai operasi Al Qaeda di Asia Tenggara, dan bagaimana Asia Tenggara dijadikan pangkalan untuk menyerang sejumlah negara di kawasan lain.

Al Qaeda: Dari Perang Afganistan sampai ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)
Al Qaeda: Dari Perang Afganistan sampai ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)

Al Qaeda: Dari Perang Afganistan sampai ISIS

Bab 8, merupakan bagian paling penting yang menyoroti generasi pasca Osama dan bagaimana dinamikanya. Osama tewas ditembak anggota pasukan elit Navy SEAL Amerika Serikat di Pakistan, pada Mei 2011. Pada bab ini penulis memulai pembahasan dengan menanyakan apakah setelah kematiannya itu, apakah Al Qaeda ikut hancur dan mati? Bagaimana dengan gerakan-gerakan jihad lainnya? Kenyataannya, kaum jihadi kini menemukan medan jihad baru di Syria, Iraq, dan kawasan Afrika. Bahkan telah lahir ISIS/ISIL (The Islamic State of Iraq and the Levant).

Bab terakhir, Bab 9 berisi uraian reflektif mengenai apa sesungguhnya penyebab Al Qaeda melakukan perlawanan global, dan mengapa akhirnya memilih cara kekerasan. Pada pagian epilog ini, penulis mengajukan rekomendasi, sebuah visi yang perlu dibangun untuk mengelola dan menciptakan perdamaian dunia. As’ad Said Ali yang juga Wakil Ketua Umum PBNU menilai bahwa masalah Al Qaeda sesungguhnya tidak bisa dipandang sekedar sebagai persoalan eksklusif negara semata. Atau lebih sempit lagi, urusan aparat keamanan. Al Qaeda adalah sebuah gerakan politik, dengan ideologi jihad yang kuat, mempunyai jaringan global dan skill militer. Visi politiknya terumuskan dalam sebuah kalimat yang sederhana: “menegakkan Islam dan melindungi kaum muslimin.”

Esensi ideologi Al Qaeda adalah jihad, dan pembentukan khilafah Islamiyah adalah suatu yang mutlak. Dengan ideologi seperti itu, kaum jihadi menyalahkan pemaknaan para ulama yang telah menjadi ijma’ selama berabad-abad, yang mengartikan jihad dalam arti qital (perang) hanyalah salah satu jenis saja dari jihad. Menurut As’ad, jihad yang lebih besar adalah mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil alamin. Al Qaeda menganggap jihad qital (perang) adalah fardhu ‘ain, sebagai satu-satunya jihad yang berlaku mutlak sejak turunnya surat At Taubah. Sedangkan ayat-ayat lain, yang mengandung perintah jihad lainnya, telah terhapus. Ini berati, khususnya masalah jihad, Al Qaeda menganggap mayoritas umat Islam mengikuti ajaran yang salah.

Kaum jihadi juga beranggapan bahwa pembentukan khilafah islamiyah adalah mutlak. Mereka menilai agama Islam tidak bisa dilaksanakan dengan sempurna jika tidak melalui Daulah Islamiyah (pemerintah Islam). Dengan demikian terbentuknya Daulah Islamiyah akan menjadi menara api yang akan mengumpulkan kaum muslimin dari semua tempat menjadi satu kesatuan di bawah pemimpin khalifah, meskipun ? memang tidak ada kesatuan pandangan di kalangan mereka sendiri mengenai apa yang dimaksud khilafah. Namun doktrin kekhalifahan tersebut telah menghasilkan doktrin lanjutan lainnya yang menyeramkan, yakni pengkafiran terhadap umat Islam yang tidak mendukung prinsip kekhalifahan tersebut. Padahal, umumnya para ulama berpendapat bahwa kata-kata khalifah atau khilafah yang terdapat dalam Al-Qur’an berarti “kepemimpinan umat” dalam arti yang luas, tidak berarti model pemerintahan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sementara itu fakta menunjukkan bahwa negara-negara muslim masih banyak yang belum berhasil membangun sistem politik yang? dapat menggabungkan secara harmonis antara gagasan negara-bangsa dengan ajaran Islam. Barangkali baru sebagian saja yang berhasil. Itupun masih dalam proses, di antaranya adalah Indonesia dan sejumlah kecil negara Arab. Indonesia? adalah contoh unik, bagaimana para ulama madzhab (madhzab maslahat) khususnya, NU, Muhammdiyah dan ormas lainnya, bersama tokoh-tokoh nasionalis, Muslim maupun Non Muslim, mampu merumuskan suatu dasar negara yang secara esensial sama sekali tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip agama. Bahkan dapat dikatakan pada basis prinsip-prinsip itulah negara ini ditegakkan atas dasar pesan moral rahmatan lil-‘alamin. Itulah Pancasila, sebuah rumusan cerdas mengatasi problem dikotomis, sekuler versus? teokrasi, yang dihadapi dunia Islam saat itu. Meski demikian, negara-negara yang relatif berhasil itupun kini dihadapkan dengan tantangan-tantangan barunya.

Penting dicatat, bahwa gerakan jihadis dan gerakan-gerakan ideologis Islam radikal lainnya, kelahirannya juga dirangsang oleh, dan sebagai respon atas, kekecewaan yang mendalam terhadap negerinya, yang dinilai telah terseret ke dalam situasi amoral, sekuler, libertarianisme dan semakin jauh dari cita-cita masyarakat teokratis. Sementara, kaum pembaharu Islam yang mulai berkibar menjelang runtuhnya khalifah Usmaniyah Turki, dinilai telah gagal membangun sistem politik yang memadai dengan situasi baru pasca perang dunia I. Derita Palestina dan sejumlah kawasan Islam lainnya, juga ditunjuk sebagai bukti bahwa penguasa-penguasa negeri muslim secara politik makin lemah dan kehilangan sikap independen; kemudian dicap sebagai thoghut yang mesti diperanginya.

Dengan demikian, dilihat dari sisi ini, secara moral lahirnya gerakan-gerakan radikal tidak dapat dipersalahkan. Sama halnya kita tidak dapat mempersalahkan lahirnya gerakan-gerakan liberal-sekuler. Keduanya adalah produk sejarah, yakni modernisasi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurut As’ad, tugas penyelenggara negara dan kaum intelektual adalah menumbuhkan sistem politik yang mampu memperbaharui dirinya secara terus-menerus, untuk merespons kritik dan tuntutan-tuntutan baru yang juga terus lahir. Dalam kasus Indonesia, reformasi jangan justru menimbulkan disorientasi pada bangsa ini. Ini bukan sekedar persoalan membangun hubungan antara inisiatif pemerintah dengan partisispasi rakyat, atau bagaimana membangun tingkat kemampuan sistem politik mendorong proses perkembangan di bidang lain, namun semacam proses nation and character building dengan kedalaman dan dimensi yang lebih kekinian.

Data Buku

Judul : Al Qaeda: Kajian Sosial Politik, Ideologi dan Sepak Terjangnya

Penulis : DR H As’ad Said Ali

Penerbit : LP3ES Jakarta

Tahun : Cetakan I, September 2014

Tebal : xxvi + 438 hlm

ISBN : 978-602-7984-11-0

Harga : Rp. 80.000,-

Peresensi : A.Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Berita, Habib Pondok Pesantren An-Nur Slawi