Selasa, 30 Juni 2015

Ini Harapan GP Ansor Sidoarjo pada Kongres XV

Sidoarjo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Kongres Gerakan Pemuda Ansor XV yang akan digelar pada 25-27 November 2015 di Pondok Pesantren Pandanaran Yogyakarta mendatang, diharapkan mampu mencetak kader yang militan, sehingga mampu menjalankan serta mengamalkan ajaran Aswaja An-Nahdliyah.

Demikian ungkapan Ketua PC GP Ansor Sidoarjo, Slamet Budiono saat dihubungi Pondok Pesantren An-Nur Slawi, Selasa (3/11). "Semoga dengan adanya kongres itu nanti mampu menjaga keutuhan NKRI melalui sistem pengaderan yang telah tertuang di PD/PRT dan PO," ungkap Slamet.

Ini Harapan GP Ansor Sidoarjo pada Kongres XV (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Harapan GP Ansor Sidoarjo pada Kongres XV (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Harapan GP Ansor Sidoarjo pada Kongres XV

Slamet menyatakan bahwa ke depan para aktivis sekaligus warga Nahdliyin bisa memahami sistem pengaderan keorganisasian Ansor. Tanpa melalui pengaderan yang terstruktur, menurutnya, akan mengurangi militansi dalam berorganisasi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Slamet berharap, semua kegiatan atau program unggulan GP Ansor di semua tingkatan terutama jamiyah shalawat dan dzikir Rijalul Ansor yang sudah diatur pelaksanaannya, supaya ditambah dengan halaqoh.

"PC GP Ansor Sidoarjo berharap dalam kongres nantinya, agar melibatkan keluarga pondok pesantren menjadi pengurus GP Ansor di semua tingkatan. Mari berjuang bersama dengan keluarga pondok pesantren untuk dakwah Islamiyah. Sehingga ponpes tidak terkesan eksklusif bagi masyarakat yang sulit berkomunikasi dengan pihak pesantren," harapnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sekretaris GP Ansor Sidorjo, H Rizza Ali Faizin berharap pelaksanaan kongres tidak hanya menjadi ajang pemilihan ketua umum baru. Akan tetapi mampu memilih dan menjadikan pemimpin yang banyak menghasilkan perubahan.

"Semoga kongres nantinya berjalan lancar, kondusif dan sukses sehingga tidak sampai mengakibatkan kegaduhan. Saya juga berharap bagi Ketum yang terpilih nanti mampu memprioritaskan program kemandirian ekonomi, mampu mengawal paham Aswajah An-Nahdliyah serta eksistensi Ansor untuk bangsa dan negara," kata Rizza. (Moh Kholidun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi AlaNu Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 20 Juni 2015

Jangan Tinggalkan Etika Nabi Saat Bermedia Sosial

Way Kanan, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Nabi Muhammad SAW diutus Allah SWT untuk menyempurnakan akhlak. Sebagai pengikut Rasullulah, pantaskah meninggalkan atau menanggalkan akhlak saat berinteraksi, menyampaikan pendapat, dalam keseharian hingga di media sosial (medsos)?

"Akhlak maupun etika merupakan misi utama Nabi Muhammad SAW. Dan itu tidak hanya etika dalam perbuatan, tapi juga etika dalam berbicara. Bahkan etika dalam menjaga pandangan mata maupun hati kita," ujar Ketua Pimpinan Ranting Ansor Way Tawar, Pakuan Ratu, Way Kanan, Lampung, Miftalif Albar, di Way Kanan, Sabtu (26/11).

Jangan Tinggalkan Etika Nabi Saat Bermedia Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Tinggalkan Etika Nabi Saat Bermedia Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Tinggalkan Etika Nabi Saat Bermedia Sosial

Berbicara mengenai akhlak dan etika dalam mengeluarkan pendapat di media sosial, katanya, hal itu tetap masuk pada aturan yang berlaku dalam Islam, bahkan undang-undangpun mengatur hal itu.

"Dalam Al-Quran, Allah menegaskan bahwa ucapan seseorang menjadi cermin keimanannya. Seorang yang imannya baik, maka akan berkata hal-hal yang baik pula, begitu juga sebaliknya," ujar Miftah lagi.

Dengan demikian, kata dia menyikapi media sosial yang ramai ujaran kebencian hingga hujatan, seseorang yang mengaku dirinya Muslim namun tidak bisa menjaga lisannya, maka bisa dipastikan keimanannya sangat lemah.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Dan sangat jelas bahwa hal itu sangat jauh dari etika yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW," tuturnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Alumni PKL III PW GP Ansor Lampung itu menyayangkan, banyak orang mengaku sebagai penolong agama Allah atau pembela agama Allah, namun ucapan maupun perbuatannya sangat jauh dari ajaran Islam.

"Bisakah dikatakan seorang itu penolong jika ia mencelakakan? Bisakah disebut pembela jika ia menjerumuskan? Islam telah tegas mengajarkan, dosa besar seorang yang berkata tidak sesuai dengan perbuatannya," pungkasnya. (Hamengku Rayyan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Daerah, Ahlussunnah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 09 Juni 2015

Para Pecinta Gus Dur Ramai-ramai Gelar Haul

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Para pecinta Gus Dur ramai-ramai menggelar haul tokoh yang sangat dikaguminya ini. Tak hanya di Jakarta, peringatan haul ke-4 KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) juga digelar di daerah bahkan di luar negeri. 

Para Pecinta Gus Dur Ramai-ramai Gelar Haul (Sumber Gambar : Nu Online)
Para Pecinta Gus Dur Ramai-ramai Gelar Haul (Sumber Gambar : Nu Online)

Para Pecinta Gus Dur Ramai-ramai Gelar Haul

Kemarin, Senin (30/12), ratusan pecinta Gus Dur di Karawang, Jawa Barat, menggelar peringatan serupa di gedung Charles Bussines Center, Karawang. 

Acara yang dimulai sekitar pukul 13.00 tersebut dihadiri beberapa tokoh lintas agama seperti Kristen, Konghucu, dan Islam Abangan. Hadir juga perwakilan pesantren, ormas, dan OKP NU setempat. Diawali  tahlil dan doa bersama, acara dilanjutkan dengan diskusi bersama para tokoh lintas agama. Mereka menyampaikan tesmimoni masing-masing tentang jasa-jasa dan perjuangan Gus Dur, terutama bagi kelompok-kelompok minoritas seperti mereka. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Acara ditutup dengan pemberian cinderamata buku “Bukti-bukti Gus Dur itu Wali” terbitan ReneBook bekerjasama dengan Pondok Pesantren An-Nur Slawi kepada para panelis diskusi. Juga dibagikan doorprise buku tersebut untuk peserta yang bisa menjawab pertanyaan dari panitia. 

PCINU Turki juga memperingati haul Gus Dur sekaligus seb-i arus Maulana Jalaludin Rumi, yaitu malam dimana Rumi didaulat menjadi pengantin dengan sang kekasih sejatinya Allah anggal 17 Desember 1273 Maulana Jalaludin Rumi meninggal dunia. Dia meminta untuk tidak menangisi kematiannya setelah dia meninggal nanti. Karena Rumi berpikir mati adalah malam pengantin, malam yang penuh kebahagiaan.

Dalam acara yang digelar Ahad (29/12) tersebut dilakukan kajian yang menghadirkan 2 narasumber, Ahmad Faiz Irsyad (rais syuriyah PCINU Turki) dan yang kedua Syafiq Hasyim (rais syuriyah PCINU Jerman).

Dalam kajian ini narasumber menyampaikan berbagai hal tentang kearifan dua tokoh, Rumi dan Gusdur. Dalam semua aspeknya baik humanitas, cinta, toleransi, kosmopolitan. 

Kajian yang disiarkan langsung oleh radio PCINU Turki ini berlangsung menarik terbukti dengan banyaknya pertanyaan dari pendengar di Indonesia, Turki dan Jerman.

Sementara itu di Malang haul Gus Dur dilaksanakan tidak hanya oleh warga Nahdliyin saja, tapi juga dari berbagai agama, yang diselenggarakan pada Senin (30/12) Hall Kelenteng Eng An Kiong.

Acara dilaksanakan oleh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kota Malang bekerja sama dengan berbagai organisasi yang bergiat di bidang perdamaian seperti Majlis Ahlut Thariqah Al-Mutabarah Annahdliyah (Matan), Committe for Interfaith Tolerance Indonesia (Cinta Indonesia), Forum Kerukunan Ummat Beragama (FKUB), dan Gusdurian Muda Kota Malang.

Acara diawali dengan doa, sambutan panitia, apresiasi seni lintas agama, sambutan perwakilan Walikota Malang, barongsai, karawitan, dan teatrikal musik. Tak lama setelah itu, acara utama dilanjutkan yaitu Testimoni tentang Gus Dur dan Perdamaian dari berbagai pemuka agama yang disampaikan oleh Bunsu Anton Priyono dari agama Kong Hu Cu, pemuka agama Hindu, Ida Bagus Bajre, Romo Yudho Asmoro dari Penghayat Kepercayaan, Romo Eko Putranto (Katolik), Pdt. Yohannes Hariono (Kristen), H. M. Syafiq (Islam), Haryono (Buddha), dan Romo Yudho Asmoro (Penghayat Kepercayaan). 

Putri keempat Gus Dur, Inayah Wulandari Wahid, memungkasi acara dengan menyampaikan beberapa semangat perjuangan Gus Dur agar bisa dilanjutkan oleh pemuda dan mahasiswa yang berteguh pikiran dan tindakan untuk menguatkan NKRI.

Ribuan warga Nahdliyin Kota Solo juga memperingati Haul KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang ke-4 di kompleks halaman Kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Solo, Sabtu (28/12) malam. Acara ini bersamaan dengan diadakannya kegiatan pengajian Rijalul Ansor.

“Acara pengajian Rijalul Ansor, biasanya kita adakan pada pekan ke 3. Kali ini kita barengkan dengan peringatan Haul Gus Dur,” terang Ketua GP Ansor Solo, Muhammad Anwar. (aji najmuddin/diana manzila/agus/hari pebrian/mukafi niam) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Fragmen, Berita, Sunnah Pondok Pesantren An-Nur Slawi