Tampilkan postingan dengan label Santri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Santri. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Februari 2018

Memahami Keberagaman dari Cara Ibu-ibu Belanja di Pasar

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, perbedaan itu adalah ketetapan Allah. Untuk itu, tugas manusia adalah bukan untuk menyeragamkan yang beda, tetapi bagaimana mereka menyikapi perbedaan tersebut dengan bijaksana dan saling menghormati.

“Perbedaan itu sunnatullah dan itu tidak perlu dipertentangkan. Yang kita lakukan adalah bagaimana menyikapi keberagaman itu, bukan menyeragamkannya,” kata Lukman saat memberikan materi kepada peserta Pelatihan Dai-Daiyah Kader NU 2017 di Gedung PBNU, Senin (29/5).

Lukman menguraikan, banyak orang yang tidak arif dan bijaksana dalam menyikapi perbedaan dikarena mereka kurang memiliki wawasan yang cukup, terutama dalam melihat perbedaan yang ada. Menurut dia, kalau seandainya Allah menghendaki manusia itu seragam, maka itu mudah saja.?

Memahami Keberagaman dari Cara Ibu-ibu Belanja di Pasar (Sumber Gambar : Nu Online)
Memahami Keberagaman dari Cara Ibu-ibu Belanja di Pasar (Sumber Gambar : Nu Online)

Memahami Keberagaman dari Cara Ibu-ibu Belanja di Pasar

Ia mengaku mendapatkan laporan bahwa saat ini tidak sedikit rumah-rumah ibadah yang dijadikan sebagai tempat untuk mempertentangkan perbedaan-perbedaan yang ada. Baginya, perbedaan itu tidak perlu dihadap-hadapkan karena itu adalah pilihan-pilihan.?

Terkait hal itu, ia memberikan contoh bahwa saat ibu-ibu pergi ke pasar untuk membeli sayuran, maka ia tidak harus mempertentangkan mana yang lebih baik antara sayur yang satu dengan yang lainnya.

“Kan tidak harus diperhadapkan bahwa bayam itu lebih baik dari kangkung, tergantung dari sudut mana. Kadar nutrisinya saja sudah beda, vitamin yang dikandungnya saja sudah beda, rasanya pun juga beda. Masing-masing punya kelebihan,” ungkapnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ia mengaku sadar, setiap agama memiliki keyakinan bahwa agamanya lah yang paling benar. Alumni Universitas As-Syafiiyah itu menyesalkan pemeluk agama tertentu yang ingin menunjukkan kebenaran agamanya dengan menjelek-jelekkan agama orang lain karena itu akan meat mbupemeluk agama lain melakukan hal sama.

“Untuk mengatakan istri saya cantik, tidak perlu mengatakan istri lain itu jelek. Itu akan mengusik yang lainnya,” kata Lukman mencotohkan.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Agama itu benar menurut pemeluknya masing-masing,” tukasnya. (Muchlishon Rochmat/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Santri, Meme Islam, Fragmen Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 26 Januari 2018

Ekspresi Cinta Nabi

Oleh Mukhammad Lutfi

Ya Muhammad

Ekspresi Cinta Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ekspresi Cinta Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ekspresi Cinta Nabi

Kelahiranmu adalah puncak anugerah ilahi

Kehadiranmu adalah rahmat jutaan ummat

Ummat yang haus akan syafaat

Engkaulah penerang di tengah kebodohan yang mencuat

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ya Muhammad

Berabad-abad engkau telah meninggalkan kami

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kami yang mencintaimu

Kami yang rindu berjumpa denganmu

Denganmu yang menjadi suri tauladan

Wahai Rasul

Di bulan kelahiranmu ini

Izinkan kami mengekspresikan cinta maulidmu

Ekspresi cinta yang sederhana

Yang tak lekang masa

Maulidmu adalah hidangan agung

Hidangan agung yang kami sambut dengan sholawat

Yang kami sambut dengan pembacaan sirohmu

Dengan amaliyah sosial dan amal shalih lainnya

Ekspresi cinta sederhana macam itulah yang bisa kami persembahkan

Di bulan kelahiranmu yang agung ini

Malang, 11 Desember 2016

Mukhammad Lutfi, anggota PMII Rayon “Perjuangan” Ibnu Aqil UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dan Abdi Ma’had Sunan Ampel Al Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang), penulis bisa dihubungi di: lutfimukhammad@gmail.com



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Santri Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 16 Januari 2018

Menteri Agama: Guru Harus Selalu Tanamkan Cinta

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Setiap pendidik harus selalu menanankan cinta dalam setiap aktifitasnya. Akhir-akhir ini dunia pendidikan spring diwarnai laporan kekerasan oleh oknum pendidik. Untuk itu Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin berpesan agar hal itu jangan sampai terjadi.

Hal ini diungkapkan pada puncak peringatan Hari Guru Nasional 2017 di Hotel Novotel Tangerang, Jumat (8/12) pukul 21.25 WIB.

Menteri Agama: Guru Harus Selalu Tanamkan Cinta (Sumber Gambar : Nu Online)
Menteri Agama: Guru Harus Selalu Tanamkan Cinta (Sumber Gambar : Nu Online)

Menteri Agama: Guru Harus Selalu Tanamkan Cinta

Dalam kesempatan itu Kemenag memberikan penghargaan kepada 55 guru madrasah berprestasi se Indonesia. Kemenag juga memberangkatkan 27 guru peraih penghargaan tahun laku ke Finlandia untuk shortcourse metodologi pendidikan terkini di eropa.

Lukman Hakim Saifudin menegaskan, tantangan guru adalah menghadapi generasi milenial yang memiliki ciri berbeda dengan generasi terdahulu.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pendudik itu adalah profesi paling mulia, untuk itu teruslah mengajar dg rasa cinta kasih. "Kalaupun harus menghukum abak didik, hukumlah dengan sepenuh cinta kasih," lanjutnya.

Menag berterima kasih kepada guru-guru madrasah yang menjadi motor mewujudkan slogan yang dipopulerkan Kemenag, "Madrasah Lebih Baik, Lebih Baik Madrasah”. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Santri, Aswaja, RMI NU Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 14 Januari 2018

Menjadi Guru yang Digugu, Bukan Diguyu

Oleh Imam Bukhori

Guru pahlawan tanpa tanda jasa. Adagium inilah yang terngiang setiap kali memperingati hari guru nasional. Tentu ini bukan sekadar, namun penuh makna. Mengapa begitu hebatnya kedudukan guru. Guru yang bagaimana yang layak sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Apakah kita layak disebut demikian? Pertanyaan inilah yang berusaha dibahas dalam tulisan ini.?

Guru digugu lan ditiru. Demikianlah akronim bahasa jawa. Artinya guru adalah sosok yang segala ucapannya dapat dipercaya. Ditiru murid, teman sejawat dan ditiru masyarakat pada umumnya. Dulu, sekali lagi dulu-permasalahan apa saja yang terjadi di masyarakat selalu merujuk kepada apa kata guru. Karena memang ucapan guru dapat dipercaya, diyakini kebenarannya ? bahkan dianggap bertuah. Bisa kualat kalau tidak nurut guru. Sedemikian ampuhnya guru zaman dulu.?

Menjadi Guru yang Digugu, Bukan Diguyu (Sumber Gambar : Nu Online)
Menjadi Guru yang Digugu, Bukan Diguyu (Sumber Gambar : Nu Online)

Menjadi Guru yang Digugu, Bukan Diguyu

Ucapan guru dipercaya (Jawa: digugu) karena hampir apa yang diucapkan adalah apa yang diperbuatkan. Perkataannya cocok dengan perbuatannya. Sehingga prilaku guru memperkuat keyakinan orang untuk percaya apa yang dikatakan. Tindak tanduk dan prilaku guru efektif bisa ditiru. Bisa dicontoh dan selalu menjadi inspirasi bagi orng lain. Guru hebat adalah yang menjadi inspirasi.?

Orang lain -apa lagi murid tidak perlu lagi mendengar banyak nasehat untuk bisa menjadi murid yang baik. Ia cukup melihat dan bergaul dalam kesehariannya dengan guru. Maka prilaku guru dengan segera dan kuat sekali terinternalisasi dalam diri murid. Ahlak guru menular begitu effektif melalui laku, bukan ucapan dan nasehat. Lisanul haal afshahu min lisanil Maqal. Nasihat berupa prilaku jauh lebih terkesan dari pada nasehat berupa ucapan.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Guru semacam inilah yang oleh Imam Ahmad bin Kholil disebutnya sebagai orang alim. Beliau menyatakan ada 4 jenis orang. Pertama, orang yang mengerti dan sadar ? bahwa dirinya mengerti. Ciri khasnya adalah apa yang dikatakan adalah apa yang diperbuatkan. Dialah orang alim. Kepada orang jenis ini kita disuruh mengikutinya. Kedua, orang yang mengerti, namun tidak sadar bahwa dirinya mengerti. Ibarat orang tertidur atau lupa. Ciri khasnya adalah pengetahuannya tidak sama dengan perbuatannya.?

Sikap kita, ingatkanlah orang ini maka dia akan mengambil peringatan. Nasihat akan bermanfaat baginya. Ketiga, orang tidak mengerti namun sadar bahwa dirinya tidak mengerti. Ciri hasnya dia bisa merasa bodoh dan mau belajar untuk itu. Dia adalah seorang pembelajar. Ajarkanlah dia maka dia akan bisa menerima ajaran, mau berubah. Keempat, orang yag tidak mengerti dan tidak sadar bahwa dirinya tidak mengerti. Cirinya dia bodoh namun tidak mengakui.

Dia sok pinter. Tidak mau belajar ataupun bertanya, gengsi untuk dikatakan bodoh. Dia inilah orang bodoh sesungguhnya. Kata Imam Ahmad bin Kholil , kepadanya jangan berteman, hindarilah. Seorang guru idealnya adalah nomor satu. Yaitu orang yang alim. Guru seperti ini akan banyak memberikan manfaat kepada murid. Baik di dunia maupun di akhirat.?

Penulis sengaja menyebut murid untuk peserta didik. Penulis sadar bahwa dengan menyebut peserta didik mengesankan bahwa anak pembelajar itu aktif, tidak pasif. Dia memiliki potensi, yang ? tugas guru adalah membantu dan memfasilitasi agar anak dengan potensinya tersebut ? berkembang secara optimal. Baik domain afektif, kognitif maupun psikomotorik. Sertidaknya inilah yag sejalan dengan paradigma pendidikan kita yaitu pembelajaran konstruktivisme.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Namun penulis juga sadar bahwa dengan menyebut murid terkandung makna lebih, yang tidak dimiliki sebutan lain seperti peserta didik, siswa dan anak didik. Sebutan murid mengesankan adanya orientasi masa depan yang sangat jauh dan utama yaitu kehidupan akhirat. Yakni anak pembelajar adalah anak yang sedang berproses untuk menuju Allah, mendekat kepada Allah demi kebahagiaan tidak sekedar dunia. Tapi lebih penting dari itu adalah kebahagiaan akhirat. Bukankah kata Nabi Muhammad; orang cerdik pandai adalah yang mampu mengendalikan nafsunya dan beramal demi kepentingan setelah mati? Maa ba’dal maut.

Pemahaman seperti ini membawa konsekwensi bahwa hubungan guru-murid bukanlah hubungan transaksioal. Ada bayaran maka ada jasa layanan pendidikan, bukan. ? Namun hubungan saling menolong dan membantu, sama-sama menuju keridlaan Allah (ta’awun ‘alal birr wattaqwa). Ia berdimensi tidak sekedar dunia tapi akhirat. Guru untuk bisa mulia di sisi Allah memerlukan murid agar bisa mengajar dan memanfaatkan ilmunya.?

Dengan demikian ilmunya berkah. Sebaliknya murid memerlukan guru untuk menghilangkan kebodohan, menambah ilmu pengetahuan, bekal menjalani kehidupan yang lebih baik. Pola hubungan guru murid seperti inilah yang berdampak baik, menyentuh, terkesan, membentuk karakter murid dan bernilai ibadah. Guru yang membangun pola hubungan seperti inilah yang barang kali dimaksudkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai orang besar di kalangan langit. Yaitu orang yang belajar dan mengajarkan ilmunya kepada orang lain.

Guru pahlawan tanpa tanda jasa tentu bukan guru yang segala aktivitasnya diukur dengan seberapa besar penghargaan yan diterima. Penghargaan bisa berupa gaji, tunjangan ataupun promosi dan pujian orang lain. Ciri khas kepahlawanan adalah kesediaan untuk berjuang dan berkorban. Berjuang tanpa mau berkorban adalah perilaku makelar. Berkorban tanpa nilai perjuangan adalah kepicikan.?

Jika guru sudah tidak bersedia lagi mengorbangkan kesenangan sesaatnya untuk memperjuangkan idealisme sebagai guru yang profesional menurut hemat penulis jauh dari sebutan guru pahlawan tanpa tanda jasa. Guru pahlawan layak namanya terkenang di hati murid. Namanya selalu hidup dalam sanubari murid. Kapanpun di manapun. Ketika murid-murid sudah sukses menjadi orang kelak nama pertama yang ? diingat adalah nama gurunya, bukan orang tua, atau temannya.?

Layakkah kita disebut guru pahlawan? Dikenangkah nama kita ketika murid-murid kita kelak telah menjadi orang? Ataukah jangan-jangan nama kita akan selalu terusir dari hati murid-murid kelak. Tentu harapan kita sebagai guru adalah sebagaimana bait hymne guru ...namamu akan selalu hidup dalam sanubariku... Hal ini hanya akan terjadi jika guru menampilkan sosok guru yang digugu dan ditiru bukan sosok yang diguyu-guyu lan ditinggal turu (sosok yang diketawakan dan ditinggal tidur). Wallahu A’lam. ?

Penulis adalah Pengurus PP Lembaga Pendidikan Ma’arif NU, Wakil Ketua I Bidang Akademik STAINU Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ahlussunnah, Ulama, Santri Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 11 Januari 2018

Muslim AS Berduka atas Terbunuhnya Tiga Mahasiswa di North Caroline

Chapel Hill, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Ribuan orang berkumpul Rabu waktu AS di Chapel Hill untuk mengenang  tiga mahasiswa muslim yang dibunuh seorang pria bersenjata yang menembak mati ketiganya dalam gaya orang mengeksekusi. Peristiwa ini mengguncang kota kecil yang menjadi kota kampus tersebut.

Sahabat dan sanak keluarga membanjiri kampus Universitas North Carolina untuk mengenang Deah Shaddy Barakat (23), istrinya Yusor Mohammad (21), dan adik perempuannya Razan Mohammad Abu-Salha (19).

Muslim AS Berduka atas Terbunuhnya Tiga Mahasiswa di North Caroline (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslim AS Berduka atas Terbunuhnya Tiga Mahasiswa di North Caroline (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslim AS Berduka atas Terbunuhnya Tiga Mahasiswa di North Caroline

Ketiganya diduga dibunuh oleh tetangga mereka, Craig Stephen Hicks (46) yang laman Facebook-nya dipenuhi pandangan-pandangannya yang anti agama.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dalam akun Facebook pribadinya, Craig mengaku sebagai seorang ateis. Salah satu pernyataan di akun itu: “Agamamu telah banyak membuat kerugian di dunia. Saya tak hanya berhak, tapi memiliki tugas, untuk melecehkan [agamamu].” Pernyataan itu tidak menyebut agama tertentu, seperti dilansir oleh The Wall Street Journal.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pembunuhan ini tengah diselidiki polisi Chapel Hill sebagai kejahatan berlatar belakang kebencian dan memicu kemarahan besar muslim seluruh dunia. Craig didakwa melakukan pembunuhan tingkat pertama (pembunuhan terencana) yang sanksi minimumnya hukuman mati atau hukuman seumur hidup tanpa pembebasan bersyarat.

Pembunuhan ini mengguncang kota pendidikan tersebut di mana ribuan orang rela melawan dingin untuk menyampaikan belasungkawa mereka.

"Kita kehilangan tiga orang warga dunia dan negara ini yang luar biasa. Tetapi saya kira mereka telah mengilhami  ribuan orang," kata Farris Barakat, abang Deah kepada kumpulan manusia yang berkumpul.

Dia mengenang adiknya yang mahasiswa UNC ini sebagai orang yang mencintai olah raga, profesinya dan canda kasar Chris Rock, begitu foto-foto ketiga mahasiswa itu tampak di layar raksasa.

Namun Barakat menyeru masyarakat menahan diri dan meminta tidak membiarkan pembunuhan ini memicu timbulnya aksi kekerasan lebih jauh.

"Jangan padamkan api dengan api...pembunuhan ini sangat mungkin merupakan aksi yang didorong iblis dan dan untuk menakuti orang yang tidak peduli, jangan biarkan ketidakpedulian menyebar dalam hidup Anda, jangan balas ketidakpedulian dengan ketidakpedulian," kata dia.

Barakat dan Mohammad menikah Desember lalu. Pengantin baru ini berencana kuliah kedokteran gigi pada Agustus nanti. Adik perempuannya berkuliah di Universitas Negara Bagian North Carolina (NCSU).

Mereka mengenang Yosur sebagai perempuan terbaik yang mereka kenal.

Para pengiring pengantin Mohammad mengenang Yosur berencana lari maraton, janjinya untuk bermeditasi dan untuk masjid, serta kecintaannya pada sereal untuk sarapan. Mereka mengenang Yosur sebagai wanita yang baik.

"Yosur adalah seorang yang paling tidak berdosa, orang paling baik yang pernah saya kenal dalam seluruh hidup saya. Saya bahkan tak bisa membayangkan mengapa hal ini bisa terjadi padanya, hal yang sama berlaku untuk Deah," kata Omar Abdul-Baki, presiden himpunan mahasiswa fakultas kedokteran gigi UNC, di depan barisan mahasiswa kedokteran gigi yang mengenakan jaket putih.

Barakat, putra seorang imigran dari Suriah, dikenang atas kerja sosialnya, menawarkan praktik pemeriksaan gigi secara gratis dan tengah menabung untuk perjalannya ke Turki guna membantu pengungsi Suriah.

Teman semasa kecilnya, Abdul Salem, berkata kepada orang-orang yang berkumpul mengenai dampak dari ketiga orang itu.

Dia mengenang Barakat sebagai orang yang selalu tersenyum dan selalu berpikir positif. "Jelas ketika tragedi terjadi orang cenderung mengenang yang baik-baik saja. Namun saya meminta kepada siapa pun untuk mengenang apa saja selain itu tentang mereka," kata dia.

"Ini adalah kesempatan bagi semua orang untuk berhenti dan mengenang tidak saja hal-hal positif, namun mengenang mereka dan tidak mengenang mereka tidak hanya karena tragedi ini."

Wali kota Chapel Hill Mark Kleinschmidt menyebut ketiganya sebagai tiga warga teladan dan bersumpah untuk menegakkan keadilan.

"Apa pun pemikiran konyol dan tak terbayangkan yang telah mendorong aksi ini, dia telah melakukan itu,"  kata dia merujuk Craig.

Kleinschmidt bersumpah untuk maju terus dan menyatakan luka masyarakat akan pulih kembali.

Pemakaman ketiga mahasiswa ini akan diadakan Kamis malam atau Jumat pagi WIB di Asosiasi Islam di Raleigh, demikian AFP. (antara/mukafi niam) Foto wsj/ap

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Santri, Daerah, Kajian Sunnah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 04 Januari 2018

NU Sumedang Gelar Penyuluhan Hukum Tindak Pidana Ringan

Sumedang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Pengurus Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBHNU) Kabupaten Sumedang memberikan penyuluhan hukum berkaitan dengan penyalahgunaan narkotika, HIV/AIDS, dan sosialisasi undang-undang tindak pidana ringan (tipiring). Mereka bertujuan untuk menggugah kesadaran hukum terutama di kalangan pelajar di Sumedang.

Acara yang bertempat di Gedung Islamic Center Sumedang ini dihadiri seribu pelajar yang mewakili sekolah-sekolah setingkat SMA yang ada di Sumedang.

NU Sumedang Gelar Penyuluhan Hukum Tindak Pidana Ringan (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Sumedang Gelar Penyuluhan Hukum Tindak Pidana Ringan (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Sumedang Gelar Penyuluhan Hukum Tindak Pidana Ringan

Ketua LPBHNU Sumedang Jandri Ginting sebagai penggagas kegiatan ini mengatakan bahwa penyuluhan ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Harlah Ke-93 NU. Sasaran dari kegiatan penyuluhan ini adalah pelajar. Para pelajar biasanya ingin mencoba dan menikmati hal-hal baru.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Para pelajar sekarang dijadikan objek pemasaran narkoba. Sebab itu NU tertantang untuk mengingatkan bahaya narkoba kepada kaum pelajar dengan cara mengadakan kegiatan ini.

“Para pelajar sekarang banyak yang terjerat pidana ringan. Hal itu mungkin disebabkan karena ketidaktahuan mereka tentang undang-undang tindak pidana ringan (tipiring). Dalam kesempatan penyuluhan ini disosialisasikan juga tentang undang-undang tipiring,” tandas Jandri.

Kegiatan ini dibuka oleh Ketua NU Sumedang H Sadulloh dan Sekda Kabupaten Sumedang H Zaenal Alimin.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

H Sadulloh mengatakan bahwa NU Sumedang siap memerangi narkoba. Ketika seseorang mengonsumsi narkoba, akan muncul kejahatan-kejahatan lain yang diakibatkan oleh narkoba tersebut.

“Gara-gara orang mengonsumsi narkoba, orang tersebut bisa membunuh, mencuri, memerkosa, dan berbuat kejahatan lainnya. Karena itu stop narkoba dari sekarang,” kata H Sadulloh.

Sementara Zainal Alimin berpesan agar berhati dengan pikiran karena pikiran bisa menjadikan perkataan. Perkatan bisa memunculkan perbuatan yang membuatnya menjadi terbiasa. “Mari berpikir positif dan jauhi narkoba supaya nasib kita menjadi orang-orang yang baik.” (Ayi Abdul Kohar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Santri, Nahdlatul, Meme Islam Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 01 Januari 2018

Al-Barokah, Mushola Swadaya Habiskan 220 Juta

Brebes, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Warga RW 08 Kelurahan Limbangan Wetan Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, membangun mushola mengandalkan kocek mereka sendiri. Sampai kini, pembangunan telah menelan dana Rp 220 juta.

Al-Barokah, Mushola Swadaya Habiskan 220 Juta (Sumber Gambar : Nu Online)
Al-Barokah, Mushola Swadaya Habiskan 220 Juta (Sumber Gambar : Nu Online)

Al-Barokah, Mushola Swadaya Habiskan 220 Juta

“Seluruh dana berasal dari swadaya masyarakat dan sumbangan lain yang sah dan tidak mengikat. “Insya Allah dalam waktu dekat, bisa selesai 100 persen karena tinggal finishing,” ujar bendahara pembangunan mushola, Asif Faozan.

Mushola tersebut dibangun di atas tanah wakaf PT Eka Muda seluas 144 meter persegi. Atas usulan warga RW 08, sejak Juli 2013, pembangunan telah dilaksanakan, dan kini telah mencapai 90 persen.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Meskipun belum selesai, kata Asif, mushola sudah digunakan untuk shalat Tarawih, shalat Ied.

Lebih jauh Asif berharap, momentum hijriyah ini, mudah-mudahan bisa menambah gairah (semangat) beruat kebaikan dengan penambahan amal ibadah.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dalam pantauan NU Onlinr pada Selasa (4/11) warga bahu membahu melakukan pengecoran. Sementara ibu-ibunya menyiapkan jajanan dan makanan penghilang lelah. “Tahun baru, juga harus guyub membangun kebaikan,” imbuh sekretaris panitia Mas Toto.

Ketua Panitia pembangunan mushola, Djuhaeri menjelaskan, ini bukti masyarakat bisa diajak gotong royong, swadaya, untuk memenuhi kebutuhan rumah ibadah mereka sendiri. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Budaya, Santri Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 26 Desember 2017

Sinoman, Sumber Dana Organisasi IPNU-IPPNU Karangmalang

Kudus, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Cara kreatif dilakukan para aktivis IPNU-IPPNU desa Karangmalang kecamatan Gebog, Kudus dalam mencari sumber dana organisasi. Mereka membentuk kelompok pramusaji, tenaga sinoman yang bertugas membantu penerima tamu maupun penyaji makanan dalam sebuah resepsi pernikahan.

Menurut koordinator sinoman Ahmad Zaki Mubarok, tenaga sinoman ini menjadi kegiatan sampingan para aktivis IPNU-IPPNU guna membantu masyarakat yang membutuhkan tenaga saat resepsi pernikahan ataupun ngunduh mantu.

Sinoman, Sumber Dana Organisasi IPNU-IPPNU Karangmalang (Sumber Gambar : Nu Online)
Sinoman, Sumber Dana Organisasi IPNU-IPPNU Karangmalang (Sumber Gambar : Nu Online)

Sinoman, Sumber Dana Organisasi IPNU-IPPNU Karangmalang

“Di samping mendekatkan IPNU-IPPNU dengan masyarakat, kegiatan ini alternatif bagi sumber pembiayaan organisasi karena akan masuk ke dalam kas,” katanya kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi, Sabtu (5/4).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kelompok sinoman ini, kata Zaki, berdiri sejak 2006 dengan jumlah anggota sekitar 20 orang. Awal mulanya, IPNU-IPPNU ingin mencari sumber dana mandiri organisasi tanpa ketergantungan kepada pihak lain.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Semula ingin membentuk event organizer namun kemampuan belum memungkinkan. Akhirnya, kita membentuk tenaga sinoman pernikahan,” kata Zaki, mahasiswa Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara.

Setiap diundang menjadi sinoman, IPNU-IPPNU memperoleh kas yang beragam berkisar  Rp 350.000-800.000 tergantung bentuk perhelatannya. “Uang hasil sinoman dibagi untuk personil yang ikut bertugas. Sisanya untuk kas organisasi termasuk untuk kebutuhan program bimbel anak-anak di desa tersebut,” imbuh Zaki.

“Jadi selain untuk organisasi, juga bermanfaat untuk masyarakat,” tutur Zaki. (Qomarul Adib/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Santri, News Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 19 Desember 2017

JQH NU Sumedang Gelar Muscab

Sumedang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pimpinan Cabang Jam’iyyah Qurra wal Huffazh Nahdlatul Ulama (PC JQH NU) Kabupaten Sumedang telah melaksanakan Musyawarah Cabang (Muscab) II yang dilaksanakan pada hari Ahad (27/1) di Pesantren Al-Ma’mun Tanjungkerta Sumedang Jawa Barat.?

Acara dilaksanakan selama dua hari. Hari pertama diisi dengan kegiatan sima’an al-Qur’an dan hari kedua diisi dengan kegiatan Muscab.?

JQH NU Sumedang Gelar Muscab (Sumber Gambar : Nu Online)
JQH NU Sumedang Gelar Muscab (Sumber Gambar : Nu Online)

JQH NU Sumedang Gelar Muscab

Kegiatan Muscab dibuka dengan pembacaan haflah tilawah oleh tiga orang qori dan pembacaan murottal Al-Qur’an oleh Rifdah Faridah. Rifdah merupakan putra daerah Sumedang yang menjadi juara pertama MHQ golongan 5 juz tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Pimpinan Pusat JQH NU di Pontianak, Kalimantan Barat pada tahun 2012.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Hadir pada kesempatan itu juga Ketua PCNU, banom, dan lajnah NU se- Kabupaten Sumedang. Kegiatan Muscab dibuka oleh perwakilan pengurus PBNU yaitu H Enceng Sobirin.

Ketua panitia Muscab, Dede Sulaeman mengatakan bahwa tujuan Muscab ini adalah untuk mengevaluasi dan mempertanggungjawabkan program-program kerja yang diamanatkan oleh Muscab sebelumnya pada tahun 2008, dan sekaligus memilih Rais Majelis Ilmi dan Ketua PC JQH NU Kabupaten Sumedang periode 2013-2018.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

H Sa’dulloh, selaku ketua PCNU Kabupaten Sumedang dalam sambutannya mengatakan bahwa Jam’iyyah Qurra wal Huffazh dan Jam’iyyah Thoriqoh Al-Mu’tabaroh Annahdliyah adalah merupakan ruh-nya Nahdlatul Ulama. Oleh karena itu kedua banom NU tersebut harus tetap tegak dan istiqomah dalam menjalankan tugas-tugasnya.

Di akhir acara Muscab melalui voting suara terpilih Dede Sulaeman sebagai Rais Majelis Ilmi dan Ahmad Jauharudin sebagai ketua Pimpinan Cabang Jam’iyyah Qurra wal Huffazh Nahdlatul Ulama (PC JQH NU) Kabupaten Sumedang periode 2013-2018.?

Redaktur ? : Mukafi Niam

Kontributor: Ayi Abdul Qohar

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Santri Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 10 Desember 2017

Alumni Pesantren Nurul Yaqin Diminta Sebarkan Islam Rahmatan Lilalamin

Padangpariaman, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Alumni Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Pakandangan Kecamatan IV Lingkungan Kabupaten Padangpariaman, Sumatera Barat diminta untuk menyebarkan Islam yang penuh dengan kasih sayang dan rahmatan lilalamin. Jangan sampai alumni pesantren ini berganti paham keagamaan.  

Alumni Pesantren Nurul Yaqin Diminta Sebarkan Islam Rahmatan Lilalamin (Sumber Gambar : Nu Online)
Alumni Pesantren Nurul Yaqin Diminta Sebarkan Islam Rahmatan Lilalamin (Sumber Gambar : Nu Online)

Alumni Pesantren Nurul Yaqin Diminta Sebarkan Islam Rahmatan Lilalamin

Pengasuh Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Abuya Syekh H. Ali Imran Hasan menegaskan hal itu pada Silaturrahim Akbar dan Halaqah Nasional Ulama dan Keluarga Besar Nurul Yaqin, Selasa (21/7/2015) di halaman Rusunawa pesantren setempat. Abuya mengingatkan alumni ini terkait munculnya kekuatiran adanya alumni pesantren mulai dimasuki paham-paham radikal yang belakangan ini menjadi perhatian di Indonesia.

Menurut Abuya Imran, alumni Pesantren diminta terus membaca kitab. Jangan lupa mengajar. Mereka yang tidak mau mengajar, maka akan lupa akan kaji (ilmu). Alumni  yang mengajarkan ilmu haruslah dengan kasih sayang. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Berkasih sayanglah seperti Adam dan Hawa. Adam kasih sayang kepada Hawa, Hawa pun kasih sayang pada Adam. Begitu hendaknya umat ini berkasih sayang. Ini harus dipegang dalam mensyiarkan Islam yang rahmatan lilalamin," kata Abuya.  

Bupati Padangpariaman diwakili Sekretaris Daerah Jonfpriadi mengatakan, kehadiran Nurul Yaqin sudah berperan penting dalam kemajuan pembangunan Padangpariaman, terutama terkait dengan bidang keagamaan. Banyak prestasi yang diraih Padangpariaman. Pemda Padangpariaman tidak bisa berbuat banyak, tanpa dukungan masyarakat, terutama ulama yang sudah dihasilkan pesantren Nurul Yaqin.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Silaturrahmi diselenggarakan alumni Pesantren Nurul Yaqin bekerjasama Forum Masyarakat Peduli Sumbar  tampak dihadiri Ketua Yayasan Pembangunan Islam El Imraniyah (PYII) Ringan-Ringan Drs. Idarussalam Tuanku Sutan,  Ketua BAZNA Kabupaten Padangpariaman Suatribur,  Ketua Alumni  Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan, Drs. Akmaluddin Tuanku Labai Mudo, M.A,  Ketua Pelaksana Silaturrahim Akbar dan Halaqah Nasional Ulama   Keluarga Besar  Nurul Yaqin Rahmat Tuanku Sulaiman, MM dan ratusan alumni Pesantren Nurul Yaqin dari berbagai daerah di Sumatera dan Jawa. 

Pesantren Nurul Yaqin juga memberikan ihtiram Nurul Yaqin (piagam penghargaan Nurul Yaqin) kepada enam orang. Masing-masing  tiga orang generasi pertama Nurul Yaqin, Syamsir Alam Tuanku Bagindo imam Nagari Kasang, Kecamatan Batang Anai, Zubir Tuanku Sutan dari Nagari Anduring, dan Drs.H.Syahril Tanjung Tuanku Mudo, MA dari nagari Malalo sebagai akademisi (mantan Puket I STAIN Batusangkar).

Penghargaan lain diberikan kepada pengembangan pesantren Nurul Yaqin yakni Syekh Muda Ahmad Damanhuri Tuanku Sutan Bandaro yang mengembangkan Pesantren Nurul Yaqin di Ambua Kapur Kecamatan VII Koto Padangpariaman. Penterjemahan kebijakan Abuya Syekh H.Ali Imran Hasan diberikan kepada Ahmad Dalwi Tuanku Labai Sinaro (almarhum). Sedangkan donatur tetap Nurul Yaqin diberikan kepada Uswatun Hasanah dari Nagari Anduring. (Armaidi Tanjung/Mukafi Niam)

Keterangan foto: Duduk di depan,  Ketua Yayasan Pembangunan Islam El Imraniyah (PYII) Ringan-Ringan Drs. Idarussalam Tuanku Sutan, Sekda Padangpariaman Jonpriadi dan Ketua PBNU Prof. Dr. Maidir Harun, MA. 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Santri Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 09 Desember 2017

Jangan Gunakan Politik Khawarij, Vonis Kafir Kelompok Lain!

Tangerang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Binamadani KH Suaidi mengajak agar masyarakat, khususnya para mahasiswa tidak mudah diadu domba dengan isu politik yang dibalut agama.

"Manusia itu makhluk berbudaya. Apalagi Islam mengajarkan persatuan dan kesatuan. Jangan sampai terkecoh," pesan Suaidi saat menjadi pembicara pada Diskusi Politik Islam, Sabtu (14/1) siang, di Aula STAI Binamadani, Tangerang.

Jangan Gunakan Politik Khawarij, Vonis Kafir Kelompok Lain! (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Gunakan Politik Khawarij, Vonis Kafir Kelompok Lain! (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Gunakan Politik Khawarij, Vonis Kafir Kelompok Lain!

Pengasuh Pondok Pesantren al-Hidayah as-Suaidiyah Kebon Kopi ini menjelaskan, manusia dalam bahasa Arab disebut al-insan. Secara gramatikal Arab, kata al-insan berasal dari tiga akar kata, yakni anas, anisa, dan nasiya. Kata itu memiliki banyak arti antara lain damai, berilmu, dan beradab.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Dari situ, kita mesti menjaga kedamaian. Apalagi sebagai umat Islam. Ketum PBNU sering menjelaskan Islam bukan sekadar agama akidah dan syariat. Islam itu juga agama budaya, agama peradaban," jelasnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurutnya, Rasulullah telah mencontohkan berpolitik yang santun. Suaidi lalu bercerita tentang Kaab bin Huzair, seorang penyair yang syair-syairnya mencela Nabi. Para sahabat pun geram dengan apa yang dilakukan Kaab. Singkat cerita, ia menjadi buruan sahabat yang ingin menangkap dan membunuhnya atas tindakannya menghina Rasulullah.

"Berita itu pun tersiar secara cepat di masyarakat, hingga Kaab pun mengetahuinya. Setelah mendengar berita yang beredar, Kaab merasa takut dan mencari perlindungan," jelasnya.

Sebelum ditangkap, lanjutnya, Kaab datang menemui Rasulullah. Melihat Kaab datang, sebagian Sahabat berteriak, bunuh Kaab. Di tengah suasan itu, Rasulullah menenangkan dengan bersabda, Biarkan Kaab datang, dia ingin bertobat dan meninggalkan masa lalunya.

"Mendengar tutur kata Nabi yang santun, Kaab pun mendapat hidayah untuk masuk Islam. Setelah masuk Islam, Kaab membuat sair-sair yang isinya memuji dan memuliakan Nabi," paparnya.

Dari kisah itu, Nabi sudah memberikan tauladan dalam menyikapi orang-orang yang menghina beliau. Menurut Suaidi, umat Islam mestinya meneladani kearifan Rasulullah. Demikian juga, saat Nabi membangun kota Madinah.

"Madinah sebagai kota mulia. Di madinah umat Islam hidup berdampingan dengan non-Muslim. Makanya di masa itu Nabi membuat pembagian orang kafir, dzimmi dan harbi. Jika orang Muslim membunuh kafir dzimmi dia mendapatkan qisas (hukum yang berlaku di Madinah). Kita jangan menggunakan politik Khawarij. Mereka menganggap orang yang berbeda dengan golongannya dianggap kafir," pesannya.

Turut hadir dalam acara itu jajaran STAI Binamadani dan Ketua Yayasan Binamadani Group H Patwan Siahaan. Ada sekitar seratus mahasiswa dari STAI Binamadani dan STIH Painan mengikuti diskusi bertajuk “Menjaga Umat: Tanggapan Atas Fatwa MUI tentang Penistaan Agama” tersebut. (Suhendra/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kiai, Santri Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 03 Desember 2017

Jadi Sasaran Kekerasan, PMII dan Sejumlah Elemen Minta Keadilan

Jember, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Tindakan represif aparat keamanan terhadap mahasiswa yang menggelar unjuk rasa menolak tambang emas di Kantor Bupati Jember, Senin, memantik reaksi. Sejumlah elemen mahasiswa yang terdiri dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Ikatan Alumni PMII (IKA PMII), Gerakan Pemuda Ansor, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan aktivis lingkungan mendatangi gedung DPRD Jember, Selasa (24/5).

Mereka diterima oleh Wakil Ketua DPRD Jember, Ayub Junaidi dan sejumlah anggota DPRD yang lain. Intinya, mereka mengadukan tindakan koboi aparat keamanan terhadap mahasiswa PMII yang menggelar unjuk rasa.

Jadi Sasaran Kekerasan, PMII dan Sejumlah Elemen Minta Keadilan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jadi Sasaran Kekerasan, PMII dan Sejumlah Elemen Minta Keadilan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jadi Sasaran Kekerasan, PMII dan Sejumlah Elemen Minta Keadilan

Seperti diketahui, untuk ke sekian kalinya, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam PMII, menggelar unjuk rasa di depan Kantor Bupati Jember. Dalam aksi tersebut terjadi saling dorong antara Satpol PP dan pengunjuk rasa. Kuatnya dua kekuatan yang berjibaku dorong itu mengkibatkan pintu gerbang Kantor Pemkab Jember, roboh. Dan sejurus kemudian, sejumlah aparat keamanan yang terdiri dari Satpol PP dan polisi mengejar pengunjuk rasa yang semburat ke alun-alun. Dan mereka pun menjadi sasaran pentungan petugas.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurut Ketua PC PMII Kabupaten Jember, Sulamet, tindakan represif yang telah dipertontonkan aparat keamanan tidak bisa diterima. Dikatakannya, apa yang dilakukan PMII terkait dengan penolakan tambang merupakan suara mayoritas warga Jember. Lebih-lebih NU sejak lama juga telah menolak adanya pertambangan di wilayah Jember. "Karena itu, kami minta keadilan hukum agar aparat yang telah bertindak sewenang-wenang juga ditindak," jelasnya.

Tuntutan tersebut mendapat dukungan dari aktivis lingkungan, Miftahul Rahman. Menurutnya, unjuk rasa adalah hal biasa dalam demokrasi. Oleh karenanya, jika ada pelanggaran kekerasan maka harus diproses secara hukum. Lebih dari itu, katanya, soal penolakan tambang sesungguhnya sudah menjadi kesepakatan mayoritas warga Jember. "Inginnya teman-teman mahasiswa agar Bupati secara resmi menolak rencana penambangan emas di Jember. Itu saja. Tapi kok disambut dengan pentungan," terangnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menggapi itu, anggota Komisi A DPRD Jember, David Handoko Seto menegaskan bahwa pihaknya akan segera memanggil Kepala Satpol PP dalam waktu dekat. "Bagimanapun ini harus ada yang bertanggungjawab," jelasnya. (Aryudi A Razaq/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Santri, RMI NU Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 29 November 2017

Berawal dari Koin, NU Sragen Bakal Bangun Rumah Sakit

Sragen, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Program pengumpulan koin yang dilakukan warga NU di wilayah Sragen Jawa Tengah, hingga saat ini terkumpul lebih dari 3 miliar. Perolehan dana sebesar ini, menurut Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) kabupaten Sragen KH Makruf Islamuddin akan dimanfaatkan untuk membangun NU agar lebih bermanfaat untuk masyarakat.

Lebih lanjut disampaikan pengasuh Pesantren Walisongo itu, manfaat dari pengumpulan koin NU ini, antara lain akan digunakan untuk pembangunan Rumah Sakit (RS) NU di Sumberlawang Sragen.

Berawal dari Koin, NU Sragen Bakal Bangun Rumah Sakit (Sumber Gambar : Nu Online)
Berawal dari Koin, NU Sragen Bakal Bangun Rumah Sakit (Sumber Gambar : Nu Online)

Berawal dari Koin, NU Sragen Bakal Bangun Rumah Sakit

”Selama ini, banyak warga NU yang sakit berobat di Rumah Sakit selain NU, karena NU belum punya rumah sakit sendiri. Sementara ini baru memiliki 2 klinik. Itu perlu kita pikirkan agar warga NU bisa terlayani,” tuturnya di sela peringatan Hari Santri Nasional di Lapangan Nglorog, Sragen kota, Ahad (22/10).

Pihaknya mengungkapkan rencana pembangunan RS ini sudah mendapat lampu hijau dari PBNU, serta dukungan dari pemerintah setempat.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Kami berharap seluruh warga NU dapat nyengkuyung bersama untuk amal jariah, mensukseskan program ini" jelasnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sementara itu, Program Gerakan Koin NU di Sragen pada tahun ini ditargetkan mencapai Rp 5 miliar. “Tahun ini, target dapat menembus angka Rp 5 miliar,” kata Ketua LAZISNU Sragen, Suranto.

Menurutnya, angka tersebut diharapkan dapat tercapai, mengingat potensi warga NU yang tersebar di 20 kecamatan wilayah Kabupaten Sragen.

Dipaparkan Suranto, program ini telah berjalan hampir satu tahun. “Berjalan bertahap dari 20 kecamatan. Paling awal MWCNU Karang Malang, yakni setahun lalu. Kemudian yang terbaru MWCNU Kalijambe baru mengawali,” ungkap dia. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Santri Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 23 November 2017

Pergunu Aceh Santuni Puluhan Yatim Korban Gempa Pidie Jaya

Pidie Jaya, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Persatuan Guru Nahdlatul Ulama Aceh (Pergunu aceh) menggelar aksi peduli gempa Pidie Jaya, Jumat (30/12). Mereka menyerahkan bantuan berupa santunan kepada 70 anak yatim yang terdiri atas anggota Yayasan Darul Aitam dan Umul Ainal di Kkecamatan Merdu Kabupaten Pidie Jaya.

Pergunu Aceh juga memberikan bantuan berupa pakaian dari sumbangan masyarakat Gampong Tanjong Selamat Darusalam. Donasi berupa pakaian ini diserahkan kepada posko PCNU Pidie Jaya. Bantuan ini juga disalurkan kepada IAI Al-Aziziah Samalanga.

Pergunu Aceh Santuni Puluhan Yatim Korban Gempa Pidie Jaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu Aceh Santuni Puluhan Yatim Korban Gempa Pidie Jaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu Aceh Santuni Puluhan Yatim Korban Gempa Pidie Jaya

Dewan Pakar Pergunu Aceh Jalaluddin yang memimpin rombongan ini mengatakan, aksi ini merupakan salah suatu partisipasi kita kepada saudara-saudara kita yang mengalami musibah gempa bumi yang melanda Kabupaten Pidie Jaya dan Bireuen.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ketua Pergunu Aceh Tgk Furqan menyatakan sangat antusias dengan aksi ini. Ia berharap Pergunu Aceh dapat terus dekat dengan masyarakat di mana Pergunu ini sendiri adalah wadah perkumpulan guru-guru dan dosen-dosen yang sangat peduli akan masyarakat.

“Apalagi IAI Al-Aziziyah adalah institusi yang merupakan kampus dari Yayasan Dayah Mudi Mesra yang sudah sangat berpengalaman dalam melahirkan generasi Islam di Aceh,” kata Tgk Furqan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ia menerangkan, bantuan yang disalurkan ini adalah donasi dari Pengurus Pusat Pergunu yang dikumpulkan oleh mahasiswa Aceh yang sedang studi di Pesantren Amanatul Ummah Pancet, Mojokerto. Tujuan sumbangan ini adalah untuk membantu saudara-saudara dalam musibah gempa yang melanda Pidie Jaya dan Bireuen.

Rombongan sksi peduli ini didampingi oleh seluruh pengurus Pergunu Aceh serta perwakilan mahasiswa STISNU Aceh, Aceh Besar. Mereka disambut oleh pengurus harian PCNU Pidie Jaya. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Nahdlatul Ulama, Santri Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 22 November 2017

Konsep Ahwa Menurut Anak Muda NU

Sleman, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sekumpulan anak muda NU yang difasilitasi Jamaah Nahdliyin Yogyakarta (JNY) menggelar Musyawaroh Kubro 2015 di Masjid Pathok Negara, Dusun Mlangi, Desa Nogotirto, Kecamatan Gamping Kabupaten Sleman, Jum’at-Sabtu (22-23/5).

Mereka sepakat mendesak Muktamar ke-33 NU menerapkan konsep Ahlul Halli wal Aqdi dalam pemilihan pemimpin baru di Nahdlatul Ulama. Lalu, bagaimana konsep Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) menurut anak muda NU?

Konsep Ahwa Menurut Anak Muda NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Konsep Ahwa Menurut Anak Muda NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Konsep Ahwa Menurut Anak Muda NU

Menurut forum Musyawaroh Kubro itu, struktur Kepemimpinan NU saat ini terdiri dari Mustasyar, Syuriyah dan Tanfidziyah. Mustasyar adalah badan penasihat yang dipilih oleh Rais Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah bersama tim formatur.

Syuriyah sebagai pemimpin tertinggi dipilih langsung oleh muktamirin atau peserta konferensi. Ketua tanfidziyah selaku pelaksana NU, juga dipilih langsung dengan persetujuan Rais Syuriyah terpilih.

Dalam praktiknya, Mustasyar yang berisi para ulama mumpuni, bertindak sebagai penasihat yang diperankan sebagai simbol semata. Mereka menyebut “seperti menempatkan ulama sepuh di parkiran”.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Mustasyar tidak memiliki fungsi sebagai mahkamah di internal jam’iyyah, karena fungsinya hanya penasihat. Nasihatnya bisa dipakai bisa tidak. Sementara organisasi NU berkembang sedemikian rupa di tengah situasi sosial dan politik, memerlukan kontrol dan dorongan dari para ulama. Namun ini tidak diperankan dan tidak terakomodasi dalam badan Mustasyar.

Adapun Rais Aam Syuriyah yang merupakan pemimpin tertinggi dengan legitimasi kuat hasil muktamar, juga tidak penah menjalankan fungsi mahkamah ketika ada pelanggaran khittah nahdliyah yang dilakukan oleh pengurus NU. Yang ada hanya teguran atau nasihat saja yang tidak membawa efek jera.

Akibat tidak pernah mendapat sanksi, kesalahan itu terus terulang, dan terulang. Hal ini tentu tidak boleh dibiarkan.

“Atas identifikasi masalah inilah diperlukan Ahlul Halli wal Aqdi,” tutur Muhammad Ali Usman, sekrataris tim perumus dokumen Musyawaroh Kubro.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dia paparkan, Ahwa yang diharapkan dibentuk di Muktamar ke-33 NU Tahun 2015 nanti, berfungsi sebagai mahkamah organisasi, sekaligus menjadi ahul ihtiyar untuk memilih pengurus harian. Yaitu ketua dan wakil ketua tanfidziyah, katib syuriyah, dan pengurus harian lainnya. Pengurus harian yang telah dipilih tersebut, menyusun kepengurusan lengkap, termasuk di lembaga dan lajnah.

Siapa yang memilih anggota Ahwa?

Yaitu peserta muktamar (muktamirin) yang memilih dari usulan pengurus cabang NU. Ahwa ini pula yang bermusyawarah untuk memilih Rais Am. Dan bersama Rais Am terpilih, Ahwa menyodorkan calon Ketua Umum PBNU untuk dipilih langsung oleh muktamirin.

“Ada dua alternatif bentuk Ahwa,” lanjut Usman.

Alternatif pertama, jelasnya, Ahwa adalah wadah berkumpul orang-orang terpilih yang keanggotaanya bersifat tetap di struktur NU. Sebagai badan informal namun dilegalkan dalam AD/ART NU. Boleh juga sebagai lembaga ad hoc untuk keperluan muktamar.

Kedua, Ahwa adalah lembaga syuriyah yang diberi kewenangan tambahan sebagai mahkamah organisasi. Juga memiliki hak veto untuk membatalkan struktur pengurus NU maupun badan otonom NU yang tidak sesuai dengan khittah NU.

Hak veto meliputi hak membatalkan program kerja lembaga, lajnah maupun banom yang tidak sejalan dengan khittah NU. Dalam penjatuhan sanksi tersebut harus melalui musyawarah Ahwa dan memberi kesempatan kepada pihak yang diduga melanggar untuk memberi klarifikasi dalam suatu sidang mahkamah.

Jadi nantinya diharapkan tidak lagi ada cerita banom NU menjalankan “proyek” dari lembaga donor luar negeri yang programnya tidak sesuai syariat Islam atau melanggar khittah nahdliyah.

Berapa orang yang duduk di lembaga Ahwa?

Diusulkan 9 atau 21 orang, terdiri para ulama punya kehormatan (karomah) tinggi dengan legitimasi moral yang sangat kuat. Atau dalam bahasa sederhana adalah ulama kredibel.

“Nah, syarat untuk diusulkan dan dipilih menjadi anggota Ahwa ada lima,” tulisnya.

Lebih lanjut dia jelaskan, lima syarat tersebut adalah 1). pengikut ahlussunnah wal jamaah, 2). Tidak pernah melanggar khittah NU, 3). Zuhud, 4). Alimun bi ulumid-dunya wal akhiroh, 5). Tidak pernah terlibat dalam kejahatan perdata atau pidana. (Ichwan/Mahbib)

 

Foto: Gambar wajah Rais Akbar Hadratussyaikh Muhammad Hasyim Asyari dan enam ulama kharismatik lain yang pernah menjadi pemimpin tertinggi NU sebagai rais aam.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Meme Islam, Quote, Santri Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 20 November 2017

Tata Laksana Shalat Id Menurut Rasulullah

Tulisan ini akan menjabarkan tatacaa Rasulullah saw dalam mempersiapkan diri menuju shalat id. Karena hari idul fitri adalah hari istimewa, maka tatacaranyapun berbeda. sebagaimana perbedaan shalat idul fitri dengan shalat lainnya.

Hal pertama yang diterangkan oleh para ulama tentang uswah hasanah Rasulullah saw yang berhubungan dengan idul fitri adalah bahwa beliau menyempatkan diri makan terlebih dahulu sebelum shalat id.  Sebagaimana sabdanya

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?  

Hal ini menurut Ibnul Musayyab untuk membedakan antara pagi hari sebelumnya yang masih berpuasa dan hari idul fitri yang telah berbuka. Juga sebagai pembeda dengan idul adha, karena shalat idul adha sebaiknya tidak didahului makan terlebih dahulu. Begitu teksnya

Tata Laksana Shalat Id Menurut Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tata Laksana Shalat Id Menurut Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tata Laksana Shalat Id Menurut Rasulullah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Demikian pula Rasulullah saw berangkat menuju masjid dengan berjalan kaki. Artinya tidak naik kendaraan sebagaimana yang beliau lakukan ketika mengantar jenazah.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Imam Syafi’I menerangkan juga bahwa beliau selalu mengambil jalan pulang yang berbeda sekembali dari shalat id. Dan hendaklah sunnah Rasulullah saw yang seperti ini diikuti oeh semua orang.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Telah sampai kepada kita suatu berita bahwa Rasulullah saw kalau pagi-pagi berangkat shalat id melewati suatu jalan, dan apabila pulang melewati jalan yang lain. Dan saya senang yang seperti itu, begitu pula bagi pemimpin maupun orang umum.

Dan satu hal lagi yang terpenting, bahwa selama perjalanan dai rumah hingga tempat shalat Rasulullah saw tidak-hnti-hentinya, membaca bertakbir.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?  

Bahwasannya Nabi saw membaca takbir ketika keluar di hari raya idul fitri dari rumahnya hingga tempat shalat

(red. Ulil H)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pendidikan, PonPes, Santri Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 19 November 2017

Jelang Adipura, Banser NU Garut Turut Perindah Jalan

Garut, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Menjelang moment penilaian Piala Adipura yang semakin dekat, Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama (Banser NU), Garut, Jawa Barat melakukan aksi sosial. Aksi dilakukan dengan mengecat trotoar di sepanjang Jalan Ahmad Yani dan Kawasan Pengkolan.

Ketua Banser NU Garut, Yudi Cahyadi mengatakan, hal tersebut dilakukan sebagai bentuk perhatian akan keindahan Kota Garut. Menurutnya untuk meraih Piala Adipura perlu kesadaran masyarakat dalam memelihara kebersihan dan keindahan lingkungan.

Jelang Adipura, Banser NU Garut Turut Perindah Jalan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Adipura, Banser NU Garut Turut Perindah Jalan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Adipura, Banser NU Garut Turut Perindah Jalan

Karena itu, Banser NU ingin memperlihatkan kepada masyarakat bahwa Kota merupakan milik bersama yang harus dijaga. "Kita mau menunjukan bahwa Kota ini harus dipelihara terlebih mendekati Adipura," katanya saat dijumpai di Kawasan Pengkolan, Selasa (12/04).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jajaran Banser NU Garut berinisatif untuk melakukan pembenahan Kawasan Pengkolan agar telihat lebih tertata dengan rapi. Apalagi selama ini Kawasan Pengkolan yang menjadi pusat kota. "Kami melakukan bakti sosial di Pengkolan ini mengingat Adipura sebentar lagi akan diselenggarakan jadi kita berinisatif untuk berkontribusi," katanya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kawasan pengkolan sendiri menurut Yudi masih terlihat kumuh dan kotor. "Dengan perdikat pusat kota Kawasan Pengkolan seharusnya di tata lebih baik, namun sekarang nampaknya lebih kumuh," katanya.

Untuk pendaanaan aksi sosial diambil dari iuran setiap anggota dan beberapa donatur yang secara sukarela menyisihkan sedikit rezekinya untuk berkontribusi membenahi Kota Garut. (M Nur El Badhi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Fragmen, Santri, Pertandingan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 13 November 2017

Ikhtiar Lembaga Pendidikan Kaderisasi Ulama

Sesuai Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, kita mengenal jalur, jenjang, dan jenis dalam pendidikan yang diselenggarakan secara nasional. Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal.

Jenjang pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Sementara jenis pendidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, vokasi, keagamaan, dan khusus. Jalur, jenjang, dan jenis pendidikan dalam konteks implementasinya diselenggarakan oleh sejumlah Kementerian/Lembaga, di antaranya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Agama, Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi serta sejumlah kementerian lainnya yang memperkuat untuk kepentingan kedinasan di lingkungannya.

Ikhtiar Lembaga Pendidikan Kaderisasi Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)
Ikhtiar Lembaga Pendidikan Kaderisasi Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)

Ikhtiar Lembaga Pendidikan Kaderisasi Ulama

Salah satu turunan atas Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 itu adalah Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan. PP ini secara tegas memberikan amanah kepada Kementerian Agama sebagai leading sector dalam penyelenggaraan jenis pendidikan agama dan keagamaan. Oleh karenanya, tidak ada instansi lain yang berwenang dan memiliki otoritas secara institusi kenegaraan dalam penyelenggaraan pendidikan agama dan keagamaan itu, kecuali Kementerian Agama. Pihak lain, dapat saja memberikan perhatiannya kepada  pendidikan agama dan keagamaan itu, terutama dalam bentuk dukungan fasilitasi dan pendanaan. Dengan demikian, Kementerian Agama pun selayaknya memberikan perhatian penuh terhadap nasib dan penyelenggaraan pendidikan agama dan keagamaan itu, baik pada aspek penguatan regulasi, penataan kelembagaan, kesetaraan afirmasi anggaran dan kegiatan/program.

Di tahun 2014, kita patut bersyukur bahwa Kementerian Agama telah menerjamahkan sebagian amanah dari PP 55 tahun 2007 itu ke dalam Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 13 Tahun 2014 tentang Pendidikan Keagamaan Islam  dan PMA Nomor 18 Tahun 2014 tentang Satuan Pendidikan Muadalah pada Pondok Pesantren. Bahkan, di semester akhir 2015, Kementerian Agama telah menerbitkan PMA Nomor 71 Tahun 2015 tentang Ma’had Aly. Kehadiran sejumlah PMA ini merupakan momentum awal bagi penguatan dunia pendidikan keagamaan, lebih-lebih pondok pesantren. Tinggal, apakah Kementerian Agama dan kita semua mau bersatu padu untuk mengimplementasikannya baik dalam dukungan kebijakan, anggaran, dan program-program strategis baik secara swakelola maupun secara sinergis.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Merujuk atas sejumlah PMA yang diterbitkan di atas, pada aspek kelembagaan, Kementerian Agama telah membuka kelembagaan baru dan memberikan pilihan kepada masyarakat untuk mendidik putera-puterinya menjadi kader ulama (mutafaqqih fiddin) melalui layanan Pendidikan Diniyah Formal, Satuan Pendidikan Muadalah,  dan Ma’had Aly.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kelahiran sejumlah nomenklatur kelembagaan jenis pendidikan keagamaan pada jalur formal melalui jenjang pendidikan dasar, menengah dan tinggi dalam bentuk Pendidikan Diniyah Formal, Satuan Pendidikan Muadalah, dan Ma’had Aly ini guna menjawab sejumlah kekosongan lembaga pendidikan yang didesain untuk mengisi ruang kosong yang sementara ini diabaikan, termasuk oleh negara, dan oleh karenanya negara harus hadir terutama untuk memfasilitasi dan merekognisi, yakni lembaga pendidikan kaderisasi ulama.

Jika mencermati layanan satuan pendidikan formal tingkat pendidikan dasar dan menengah saat ini, kita hanya mengenal satuan pendidikan formal: jenis pendidikan umum dan jenis pendidikan umum berciri khas Islam. Meski berciri khas Islam, namun ia tetap masuk dalam kategori jenis pendidikan umum. Satuan pendidikan formal jenis pendidikan umum diwujudkan dalam bentuk SD (Sekolah Dasar), SMP (Sekolah Menengah Pertama), dan SMA/SMK (Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menengah Kejuruan). Layanan pendidikan berjenis pendidikan umum ini menjadi otoritas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Jika melihat beban belajar kurikulernya, mata pelajaran agama (Islam) diajarkan kepada para siswanya hanya 2 hingga 3 jam pelajaran untuk setiap minggunya. Melihat kondisi ini, Kementerian Agama memberikan penguatan kepada para siswa sekolah mulai jenjang SD, SMP hingga jenjang SMA/SMK ini untuk mengikuti layanan pada Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) jenjang Ula, Wustha, dan Ulya yang masing-masing diselesaikan selama 4 (empat), 2 (dua), dan 2 (dua) tahun. Madrasah Diniyah Takmiliyah ini merupakan layanan pendidikan nonformal sebagai pelengkap (suplemen) atas mata pelajaran agama yang biasanya diselengarakan oleh masyarakat pada sore hari.

Adapun satuan pendidikan formal jenis pendidikan umum berciri khas Islam ini diwujudkan dalam bentuk MI (Madrasah Ibtidaiyah), MTs (Madrasah Tsanawiyah), dan MA (Madrasah Aliyah). Layanan pendidikan jenis pendidikan umum berciri khas Islam ini menjadi otoritas Kementerian Agama, dalam hal ini Direktorat Pendidikan Madrasah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam. Jika melihat beban belajar kurikulernya, mata pelajaran agama Islam yang diajarkan kepada para siswanya diwujudkan dalam mata-mata pelajaran: Al-Quran-Hadits, Fiqh, Aqidah-Akhlak, Sejarah Kebudayaan Islam, dan Bahasa Arab yang diajarkan dalam beberapa jam pelajaran yang lebih sedikit dibanding dengan mata-mata pelajaran umum.

Lulusan pendidikan murni (pure) baik dari sekolah (sebagai pendidikan formal jenis pendidikan umum) maupun dari madrasah (sebagai pendidikan formal jenis pendidikan umum berciri khas Islam) dengan tanpa ada ‘sentuhan’ pendidikan pesantren, dalam banyak hal oleh sebagian besar masyarakat dinilai belum cukup mampu untuk melahirkan ahli di bidang ilmu agama Islam (mutafaqqih fiddin). Materi agama Islam yang diajarkan selama 2 hingga 3 jam pelajaran di sekolah dan materi agama Islam yang diwujudkan dalam 5 (lima) mata pelajaran Al-Quran-Hadits, Fiqh, Aqidah-Akhlak, Sejarah Kebudayaan Islam, dan Bahasa Arab yang diajarkan di madrasah itu, dengan tanpa mendapatkan layanan pendidikan pesantren, itu dinilai belum atau tidak mampu melahirkan lulusan yang memiliki kapabilitas atau kompetensi ulama, ahli di bidang ilmu agama Islam. Tegasnya, lulusan yang murni sekolah dan lulusan madrasah tanpa ada pendidikan pesantren, itu tidak mampu sebagai kader ulama.

Dalam konteks itulah, Pendidikan Diniyah Formal, Satuan Pendidikan Muadalah pada Pondok Pesantren, dan Ma’had Aly sengaja dihadirkan. Sejumlah lembaga ini merupakan entitas kelembagaan pendidikan keagamaan Islam yang bersifat formal untuk menghasilkan lulusan mutafaqqih fiddin (ahli ilmu agama Islam). Lembaga-lembaga ini diselenggarakan oleh dan berada di pesantren yang dilakukan secara terstruktur dan berjenjang pada jalur pendidikan formal. Sebagai satuan pendidikan yang bersifat formal yang sekaligus bagian dari penuntasan Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar (Wajar Dikdas), baik Pendidikan Diniyah Formal maupun Satuan Pendidikan Muadalah pada Pondok Pesantren memiliki civil effect yang sama, seperti halnya sekolah dan madrasah, seperti Bantuan Operasional Sekolah (BOS), tunjangan sertifikasi guru, akreditasi, dan lain-lain. Di samping itu, lembaga ini merupakan bagian dari upaya peningkatan dunia pesantren, di samping sebagai ikhtiar konservasi dan pengembangan disiplin ilmu-ilmu keagamaan Islam.

Kurikulum yang dikembangkan baik oleh Pendidikan Diniyah Formal maupun Satuan Pendidikan Muadalah terdiri atas pendidikan umum dan pendidikan keagamaan Islam berbasis kitab. Mata-mata pelajaran pendidikan umum hanya terdiri atas Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Alam, serta untuk tingkat ulya ditambah dengan Seni dan Budaya, yang semua mata pelajaran umum itu disusun sesuai dengan tradisi dan kultur pesantren dengan basis kitab. Sementara mata pelajaran keagamaan Islam hingga di tingkat ulya meliputi: Al-Qur’an, Tauhid, Tarikh, Hadist-Ilmu Hadits, Fiqh-Ushul Fiqh, Akhlaq-Tasawuf, Tafsir-Ilmu Tafsir, Bahasa Arab, Nahwu-Sharf, Balaghah, Ilmu Kalam, Ilmu Arudh, Ilmu Mantiq, dan Ilmu Falak yang semuanya berbasis kitab dan berbahasa Arab. Jika diakumulasi beban mata-mata pelajaran pendidikan keagamaan Islam ini setidaknya 80-an% dari seluruh beban pelajaran, sementara beban mata-mata pelajaran pendidikan umum sekitar 20-an% dari seluruh beban pelajaran.

Sebagaimana diatur dalam PMA nomor 13 Tahun 2014 dan PMA 18 Tahun 2014, peserta didik yang dinyatakan lulus berhak melanjutkan ke jenjang dan tingkat pendidikan yang lebih tinggi baik yang sejenis maupun tidak sejenis. Artinya, lulusan Pendidikan Diniyah Formal maupun Satuan Pendidikan Muadalah dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi pada jenis pendidikan yang sama pada layanan pendidikan keagamaan Islam (PDF Ula/PDF Wustha/PDF Ulya/Ma’had Aly), maupun pada jenis pendidikan umum (SD/SMP/SMA/SMK/PTU) atau jenis pendidikan umum berciri khas Islam (MI/MTs/MA/PTKI).

Adapun Ma’had Aly sebagaimana termaktub dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi dan dikuatkan melalui PMA 71 Tahun 2015 tentang Ma’had Aly, maka ia menjadi salah satu bentuk dari Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam. Ma’had Aly memiliki kewenangan dan hak sama sebagaimana UIN, IAIN, STAIN, atau perguruan tinggi keagamaan Islam lainnya. Ma’had Aly didesain untuk melahirkan tokoh-tokoh agama, kyai-kyai, dan pemuka umat, yang memiliki wawasan berfikir, kematangan keilmuan keislaman, penguasaan terhadap khazanah literatur pondok pesantren terutama berbasis kitab kuning. Oleh karenanya, Ma’had Aly hanya dapat didirikan oleh dan berada di lingkungan pondok pesantren.

Sejumlah inisiasi kelembagaan pendidikan keagamaan Islam berbasis pondok pesantren ini menjadi ikhtiar kita bersama yang memberikan kemaslahatan dan kemanfaatan untuk pondok pesantren, negara dan bangsa. Semoga.

Suwendi, alumni Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon dan

anggota tim penyusun sejumlah Peraturan Menteri Agama RI



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi RMI NU, Santri Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 27 Oktober 2017

Soal Papua, Gusdurian Minta Jokowi Tak Gunakan Pendekatan Keamanan

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Jaringan Gusdurian Indonesia menyoroti kasus kekerasan yang kembali pecah di tanah Papua menyusul tewasnya 7 warga Paniai dan belasan orang luka-luka, Senin (8/12) kemarin. Pemerintah Jokowi-JK harus mencari jalan lain di luar pendekatan keamanan.

Soal Papua, Gusdurian Minta Jokowi Tak Gunakan Pendekatan Keamanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Papua, Gusdurian Minta Jokowi Tak Gunakan Pendekatan Keamanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Papua, Gusdurian Minta Jokowi Tak Gunakan Pendekatan Keamanan

Seknas Jaringan Gusdurian Indonesia, Alissa Wahid di Jakarta, Selasa (9/12) mengatakan, pihaknya mengecam keras tindakan kekerasan yang dilakukan aparat keamanan kepada warga Paniai Papua. Secara khusus ia meminta kepada Jokowi sebagai Presiden yang bertanggungjawab atas seluruh wilayah RI untuk tidak mengedepankan pendekatan keamanan dan represi dalam mengatasi berbagai persoalan di Papua.

“Gusdurian juga meminta kepada semua pihak yang berkonflik di Papua untuk menahan diri dan mengedepankan dialog demi masa depan Papua yang damai, adil, dan sejahtera,” ujarnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurutnya, kekerasan yang melibatkan aparat keamanan seringkali terjadi di Papua. Sudah sekian lama, masyarakat Papua mengalami diskriminasi dan represi. Seringkali, berbagai persoalan di Papua selalu dilihat dari kacamata keamanan semata sehingga pendekatan represi selalu dikedepankan.

Di sisi lain, kekayaan alam Papua yang disedot habis oleh korporasi multinasional, namun di sisi lain masyarakat Papua justru tertinggal secara sosial, ekonomi, dan politik hingga seolah menjadi warga negara Indonesia kelas dua. Pecahnya kerusuhan di Paniai berada dalam konteks? seperti itu. Kekerasan di Papua harus dihentikan dan keadilan ekonomi-politik di Papua harus ditegakkan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Gusdurian meminta Pemerintah Indonesia untuk menghentikan diskriminasi sosial, politik, dan ekonomi terhadap warga Papua demi terciptanya keadilan di Papua,” kata Alissa.

Menurutnya, saat menjabat presiden Gus Dur selalu mengedepankan dialog dan upaya non-kekerasan dalam menghadapi masalah di Papua. Upaya-upaya non-militeristik dan dialog seharusnya juga dilakukan oleh Pemerintahan Jokowi-JK dalam menangani berbagai persoalan di Papua. Sebagai pemimpin baru, Jokowi-JK sudah selayaknya mencari jalan lain di luar pendekatan keamanan dan militeristik yang selama ini selalu dilakukan.

Dalam keempatan itu Alissa menghimbau kepada seluruh Gusdurian untuk terus terlibat aktif dalam aksi dan kegiatan menegakkan keadilan sosial, ekonomi, dan politik. (Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Daerah, Santri Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 06 September 2017

Tesis Pembelajaran Fiqih di Mts Dijadikan Buku

Jepara, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Kepala KUA kecamatan Karimunjawa kabupaten Jepara, H Hisyam Zamroni menerbitkan buku Pendidikan Multikultural; Telaah Kritis Fiqih dan Realitas Multikultural Karimunjawa.

?

Tesis Pembelajaran Fiqih di Mts Dijadikan Buku (Sumber Gambar : Nu Online)
Tesis Pembelajaran Fiqih di Mts Dijadikan Buku (Sumber Gambar : Nu Online)

Tesis Pembelajaran Fiqih di Mts Dijadikan Buku

Buku yang diterbitkan Yayasan Kerukunan Tani Muria (YKTM) itu merupakan hasil tesis S2 dari IAIN Walisongo Semarang tahun 2009 Pendidikan Multikultural; Studi Terhadap Pembelajaran Fiqih di MTs Safinatul Huda 02 Karimunjawa.

?

Sebelumnya tahun 2008, proposal tesis tersebut juga memperoleh penghargaan tesis terbaik tingkat Nasional dari Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

?

Hisyam Zamroni menyampaikan bukunya setebal 110 halaman yang diterbitkan Juni 2014 ini berisi model pembelajaran Fikih di MTs Safinatul Huda 02 Karimunjawa yang menggunakan pendekatan akomodatif. Yakni pembelajaran yang mendidik siswa menjadi toleran, pluralis dan santun terhadap keragaman budaya di sekitarnya.

?

Dari pembelajaran tersebut siswa yang terdiri dari suku Bugis, Mandar, Button, Bajo, Jawa dan Madura saling menghormati dan toleran satu dengan yang lain.

?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Disamping itu munculnya rasa empati dan kebersamaan baik di kelas maupun luar kelas,” tambahnya.

?

Siswa, lanjut Hisyam semakin memahami dan memilah tradisi yang terjadi di masyarakat seperti pamali shalat jenazah, budaya gerhana rembulan, sistem pernikahan dengan menggunakan “tawar-menawar” dan jual beli dengan sistem urub/ barter dengan mata pelajaran Fiqih yang siswa dapat di madrasah.

?

Sebab itu, pembelajaran akomodatif pas dilakukan di lingkungan multikultur.? “Karena mereka belajar berangkat dari diri mereka sendiri dan sosio-kulturalnya,” paparnya. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Anti Hoax, Santri Pondok Pesantren An-Nur Slawi