Tampilkan postingan dengan label RMI NU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RMI NU. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Maret 2018

Solo Jadi Kota Shalawat Pertama di Indonesia

Solo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Fadhilah dan Nur Fajariyah (20), dua mahasiswi Universitas Negeri Surakarta Sebelas Maret (UNS) yang berasal dari Pekalongan ini berangkat dari rumah kost menuju ke Jalan Jenderal Sudirman untuk mengikuti acara shalawatan bersama Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf pada Sabtu (22/6) malam. Dengan pakaian serba putih mereka berangkat menggunakan sepeda motor menuju lokasi acara yang berpusat di depan kantor Balaikota Solo.

Solo Jadi Kota Shalawat Pertama di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Solo Jadi Kota Shalawat Pertama di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Solo Jadi Kota Shalawat Pertama di Indonesia

Sesampainya di lokasi mereka bergabung bersama kurang lebih 50.000 jamaah yang hadir dari berbagai daerah se-Solo raya. Suasana khusyuk pun mereka rasakan ketika mendengarkan merdunya lantunan shalawat yang dipimpin oleh Habib Syech. Acara yang dibuka pada pukul 20.00 waktu setempat ini digelar dalam rangka peringatan hari jadi ke-67 Kota Surakarta dan juga dimaksudkan untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.

Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo mengatakan dalam sambutannya, bahwa dirinya berharap agar Solo yang telah mendeklarasikan diri sebagai kota shalawat yang pertama di Indonesia rutin mengadakan shalawatan di setiap masjid kampung dan setiap RT.

Habib Syech yang terlihat akrab duduk berdampingan dengan Pak Wali Kota juga menyampaikan kepada seluruh jamaah bahwa perlunya menciptakan kehidupan yang damai dan saling menghargai di masyarakat.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Mari kita saling menghormati satu sama lain. Kita jaga bersama keamanan Kota Solo. Dengan bershalawat, kita jadikan Solo aman dan sejahtera,” tutur Habib Syech kepada para jamaah.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Fadhilah yang baru pertama kali mengikuti acara ini pun langsung ikut riuh bersama puluhan ribu jamaah melantunkan shalawatan. 

“Senang bisa ikut acara seperti ini. Di kampus jarang ada kegiatan shalawatan,” ujar mahasiswi jurusan Pendidikan Kimia ini.

Redaktur   : Mukafi Niam

Kontributor:Ahmad Rodif Hafidz

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi RMI NU Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 27 Februari 2018

Politik Layak Buat Anak Muda?

Oleh Sayfa Auliya Achidsti

Surveipolitik sudah mulai ramai belakangan ini. Menariknya, umumnya survei memasukkan komponen persepsi kelompok muda mengenaiperkembangan politik, baik pendapat tentang kinerja pemerintahan, harapan, hingga kapasitas pemimpin muda sendiri.Wajar, kelompok usia muda sangatpotensial dari sisi jumlah.

Pasca Reformasi dengan perubahan aturan dan tradisi politik, kelompok usia 17-30 tahun dianggap kantong suara strategis. Sifat mereka pragmatis,konsumtif tren isu dan informasi, berpreferensi dinamis, dan minim pengetahuan politik. Ini membuat mereka jadi “bancakan” politik.

Politik Layak Buat Anak Muda? (Sumber Gambar : Nu Online)
Politik Layak Buat Anak Muda? (Sumber Gambar : Nu Online)

Politik Layak Buat Anak Muda?

Proporsi pemilih mudaIndonesia (penduduk usia 17-30) mencapai 24,5 persen, sedangkan potensi politisi muda (21-30 tahun) 17,5 persendari populasi (sensus BPS). Dengan jumlah tersebut, muncul dua pertanyaan. Pertama, apakah demografi ini sudah layak diwakilkan dengan terpilihnya politisi muda itu sendiri? Kedua, lebih mendasar, bagaimana sebenarnya kelompok usia muda dilihat dan diposisikan dalam perpolitikan Indonesia? 

Dua pertanyaan itu penting dijawab bukan untuk mendikotomi politisi muda dan tua. Namun, besarnya kontituen dan kuatnya pengaruhkarakteristik kelompok muda nyatanya mempengaruhi langsungproses politik nasional.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Swing voters

Bagaimana merekadilihat laludiposisikan dalamekosistem politik Indonesia agaknya perlu lebih dulu dijawab, supaya pertanyaan pertama dapat ditimbang lebih bijak. Pilkada DKI Jakarta yang lalu bisa jadi ilustrasi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pemilih muda diperebutkan sebagai 29 persen potensi konstituen. Artinya, hampir sepertiga upaya kampanye (seharusnya) mempertimbangkan keterwakilan isu kepemudaan. Alih-alih merangkai program kepemudaan secara substantif, pemilih usia muda lebih dianggap sebagai swing voters (berkemungkinan berubah-ubah pilihan) dan floating mass (massa mengambang).

Hal itu tampak dari tidak adanyatawaran program segmentatif usia muda.Kesimpulannya, merayu swing voters cukup “mudah”, tidak harus kampanye serius menawarkan program kepemudaan untuk mengumpulkan dukungan rasional. Bisa lewat cara lain, yaitu suguhan informasi sensasionalyangmenjatuhkan musuh politik (Robinson dan Torvik, 2009). Mereka tidak dilihat esensinya (usia dan segmen isu), melainkan kelemahannya (berubah dan mengambang).

Kampanye politik via online akhirnya dijadikan metode penting, melalui penyebaran isu dan informasi viral. Ongkos “lebih murah”, karena berita cepat menyebar. Bagaimana tidak? Jakarta adalah kota terbesar kedua pengguna Facebook dunia. Sedangkan, Indonesia adalah urutan empat dunia (data We Are Social dan Hootsuite, 2017) dengan 85 persen pengguna aktifnya usia 18-34 tahun (data Facebook Insight, 2014).

Sosial-media tersebut menjadi instrumen penyebaran informasi terefektif dalam dunia digital hari ini. Imbasnya bisa ditebak, penyebaran materi politik via online dalam kondisi minimnyainformasi dan keterhubungan riil antara politisi dan pemilih (less political engagement) membuat isu bergulir bak bola salju: membesar dan tidak terkontrol.

Panasnya politik membuahkan isu SARA sebagai ekses destruktif. Pilkada DKI Jakarta yang hanya puncak dari fenomena gunung es di Indonesia membuat semua resah, hingga KPU dan Bawaslu mulai mengkaji aturan larangan penggunaan isu SARA mulai Pilkada 2018 nanti.

Semua yang dijelaskan di atas menjadiparadoks tentang pemuda di Indonesia. Besar dalam jumlah (suara) dan pengaruh (keaktifan penyebaran informasi) tetapi tidak menentukan. Masyarakat pernah dibuat gaduh ketika pada akhir 2011sebuah lembaga survei nasional merilis persepsi tentang politisi muda.

Hasilnya, hanya seperempat responden menganggap baik kualitas politisi muda. Politisi tua (senior) masih dianggap lebih baik. Terlepas dari perang komentarnya, yang jelas, mengapa begitu minim stok politisi muda di Indonesia? Tentu kita khawatir jika segelintir politisi muda yang kebetulan berkasus hukum itu jadi wajah dari karakter politisi muda.

Kebutuhan keterwakilan

Inter-Parliamentary Union (2016)mencatat Indonesia di peringkat ke-33 dari 126 negara (setara Malta) untuk proporsi anggota parlemen berusia di bawah 30 tahun (2,9 persen) dan peringkat ke-51 untuk proporsi di bawah 40 tahun (17,9 persen).Tentu sangat jomplangdengan24,5 persen populasi 17-30 tahundan 40,4 persen populasi 17-40 tahun secara nasional.

Mari kita lihat pemerintahan daerah. Kemendagri menetapkan daerah berkinerja terbaik tahun 2014, terdiri dari 3 provinsi dan20 kabupaten/kota (Kepmendagri No. 800-35/2016). Dari daftar itu, pimpinan daerah berusia di bawah 45 tahun hanya Bupati Bintan (37 tahun) dan Walikota Semarang (43 tahun). Sementara,hanya Gubernur Jawa Tengah (46 tahun) dan Gubernur Jawa Barat (48 tahun) yang berusia di bawah 50 tahun.

Di sisi lain, di Indonesia mulai bermunculan sentra perekonomian yang mayoritas diinisiasi dan dijalankan kelompok usia muda. Sektor ekonomi kreatif (utamanya berbasis IT dan pariwisata) telah terbukti menampilkan percepatan ekonomi baik dari kesempatan kerja, memotong hambatan transaksi, peningkatan iklim kompetisi usaha, dan interkoneksi produksi.

Perubahan jaman yang serba cepat ini mensyaratkan responsivitas kebijakan yang tinggi dan adaptatif. Dengan ini, makna kelompok muda akhirnya bukan lagi hanya berdasar usia, melainkan karakteristik: yang inovatif, dinamis, tanpa batasan konvensional (borderless), dan penekanan hasil (output-based). 

Pertanyaan di awal, apakah demografi muda sudah layak diwakilkan pada politisi muda? Dengan kondisi demografi, isu, dan kebutuhan jaman, jawabannya adalah ya. Namun, apakah sudah saatnya? Jomplangnyaketerwakilan dilegislatif dan eksekutif adalah fakta gap struktural. Proses politik yang masih mempertontonkan kelompok muda sebagai “anak bawang” akan cenderung terus meregenerasi objektivikasi: bukan sebagai subjek, apalagi aktor (pemain). 

Lalu bagaimana memotong siklus tradisi politik semacam ini? Kita tidak bisa berharap status quo berubah dengan sendirinya. Mahatma Gandhi pernah berkata, “We must become the change we want to see”. Artinya, kelompok usia muda punya pekerjaan rumah (PR) dalam membentuk kesadaran bahwa mereka adalah potensi sekaligus kebutuhan politik.

Berikutnya, perguruan tinggi perlu kembali menyadari bahwa peran utamanya adalah pendidikan, penelitian, dan pengabdian yang tidak gagap problem riil masyarakat. Mereka bukan hanya memproduksi lulusan terampil, melainkan juga individu yang mampu menghargai dirinya, masyarakat, dan negaranya.

Penulis adalah Ketua Riset Lembaga Penyluhan dan Bantuan Hukum (LPBH) NU DI Yogyakarta, Dosen FISIP UNS Surakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kajian, Bahtsul Masail, RMI NU Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 17 Februari 2018

STISNU Tangerang Buka Sekolah Kader Penggerak Ekonomi Syariah

Tangerang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi



Mahasiswa NU harus bisa bersaing secara global. Materi perkuliahan pun harus tepat sasaran. ? Adanya kesesuaian antara teori di kelas dengan praktik di lapangan menjadi sesuatu yang niscaya.?

Sebab itu, Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Tangerang akan mengadakan kegiatan Sekolah Kader Penggerak Bank Panin Dubai Syariah, pada Kamis (17/5).?

STISNU  Tangerang Buka Sekolah Kader Penggerak Ekonomi Syariah (Sumber Gambar : Nu Online)
STISNU Tangerang Buka Sekolah Kader Penggerak Ekonomi Syariah (Sumber Gambar : Nu Online)

STISNU Tangerang Buka Sekolah Kader Penggerak Ekonomi Syariah

H Muhamad Qustulani menjelaskan, kegiatan itu sebagai bentuk peningkatan kualitas pembelajaran bagi mahasiswa STISNU. Kegiatan ini dilakukan bekerja sama dengan Bank Panin Syariah.

“Kami memberikan pembekalan kepada mahasiswa agar ada kesesuaian antara teori dan praktik. Kami ingn mahasiswa NU itu siap untuk bersaing secara global di dunia milenium,” terang Qustulani, Senin (15/5) di Kampus STIS NU Tangerang.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ia melanjutkan, mahasiswa yang dibidik dalam kegiatan ini adalah jurusan Hukum Ekonomi Syariah (Muamalat). Mereka akan mendapatkan materi konsep dan manajemen bisnis syariah. Mahasiswa yang menjadi peserta akan menjadi kader penggerak bisnis syariah. ?

Untuk pendaftaran kegiatan bisa menghubungi Ecep Ishak F (081238394343) dan Fajar Shubuh (08989830871). Pendaftaran dilaksanakan di Aula Hasyim Asy’ari STIS NU Tangerang pada Rabu, 17 Mei 2017, pukul 08.30 sampai dengan selesai. (Suhendra/Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kajian, Bahtsul Masail, RMI NU Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 16 Februari 2018

Pelajar NU Ngoro Jombang Belajar Kerajinan Tangan

Jombang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, menggelar pelatihan kerajinan tangan di aula MWCNU Ngoro, Selasa (17/6).

Pelajar NU Ngoro Jombang Belajar Kerajinan Tangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Ngoro Jombang Belajar Kerajinan Tangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Ngoro Jombang Belajar Kerajinan Tangan

Sebanyak 20 pelajar NU setempat antusias mengikuti pelatihan tersebut. Mereka belajar membuat asesoris berupa bros dan gantungan kunci.

Ketua PAC IPNU Ngoro Mohamad haris mengatakan, kegiatan ini menjadi agenda mingguan pelajar NU Ngoro. “Pelatihan ini merupakan kelima kalinya,” tutur guru SDI Trunojoyo ini.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurutnya, pelatihan kerajinan tangan tersebut juga menjadi ajang silaturahmi antarkader, di samping memberi bekal keterampilan kepada pelajar NU agar siap menghadapi  tantangan zaman.

Uswatun Hasanah, Ketua PAC  IPPNU Ngaro, menambahan, hasil kerajianan tanggan berupa bros dan gantungan kunci itu akan dipasarkan di toko-toko di daerah Ngoro.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Setidaknya ada empat  toko yang siap untuk menerima hasil kerajinan tanggan yang kami buat yaitu koperasi pondok pesantren At-Tadzib , Ponpes Padar dan yang lain di pasar Ngoro Jombang,” pungkas mahasiswa STIT  Urwatul Wusqo Diwek Jombang ini. (Muhamad Anwar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi RMI NU, Aswaja, Pahlawan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 13 Februari 2018

Peringatan Imam Syafi’i untuk yang Gemar Copy-Paste di Medsos

Anda pengguna media sosial? Jika iya tentu Anda merasakan betul berbagai kemudahan yang disediakan perangkat dunia maya ini, mulai dari saling mengirim pesan jarak jauh, mempublikasikan tulisan dan foto secara kilat, hingga bertatap wajah dengan orang-orang di lintas negara.

Kemudahan-kemudahan tersebut di satu sisi menggambarkan betapa gampangnya manusia masa kini belajar dan menjalin silaturahim tanpa kendala jarak. Namun di sisi lain bisa menjadi jebakan bagi para penggunanya untuk semakin ringan berbuat mubazir bahkan merusak. Dengan bahasa lain, medsos membuka kemudahan bagi berbuat baik tapi sekaligus juga berbuat buruk.

Peringatan Imam Syafi’i untuk yang Gemar Copy-Paste di Medsos (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringatan Imam Syafi’i untuk yang Gemar Copy-Paste di Medsos (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringatan Imam Syafi’i untuk yang Gemar Copy-Paste di Medsos

Salah satu pemandangan yang dihasilkan media sosial adalah banjirnya informasi hingga pada taraf yang amat liar. Informasi dengan mudah diterima seseorang lalu dibagikan kembali, diterima orang lain lalu didistribusikan lagi, dan seterusnya. Facebook, grup-grup Whatsapp, Twitter, Instagram, BBM, Line, atau sejenisnya pun disesaki pesan berantai yang entah benar atau salah, entah faktual atau bohong. Celakanya bila kabar itu ternyata salah/bohong dan ada pihak yang dirugikan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Fenomena copy-paste atau pendistribusian berita seperti ini pernah disinggung oleh Imam Syafi’i, bapak ushul fiqih dalam ilmu-ilmu keislaman. Ia menyebut kegiatan menyebarkan informasi yang belum diketahui benar-tidaknya sebagai al-kadzib al-khafiy (kebohongan tak terlihat/samar). Sebagaimana tertuang dalam kitab Ar-Risâlah:

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Sesungguhnya kebohongan yang juga dilarang adalah kebohongan tak terlihat, yakni menceritakan kabar dari orang yang tak jelas kejujurannya.”

Dalam Iryadul Ibad ila Sabilir Rasyad, Abdul Aziz al-Malibari yang juga mengutip perkataan Imam Syafii memaparkan redaksi kalimat secara lebih terang:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Di antara jenis kebohongan adalah kebohongan yang samar. Yakni ketika seseorang menyebar informasi dari orang yang tak diketahui apakah ia bohong atau tidak.”

Imam Syafi’i menjelaskan hal itu saat mengomentari hadits hadditsû ‘annî walâ takdzibû ‘alayya (ceritakanlah dariku dan jangan berbohong atasku). Periwayatan hadits bagi Imam Syafi’i tak boleh main-main. Bisa kita analogikan, begitu pula dengan periwayatan atau penyebaran informasi di media sosial. Tak selayaknya seseorang asal copy-paste, retweet, regram, atau share informasi dari orang lain tanpa melakukan terlebih dahulu verifikasi dan klarifikasi (tabayyun).

Disebut “kebohongan samar” karena aktivitas tersebut dilakukan seperti tanpa kesalahan. Karena bukan produsen informasi, melainkan sekadar penyebar, seseorang merasa enjoy saja melakukan copy-paste, apalagi informasi tersebut belum tentu salah atau bohong. Padahal, justru di sinilah tantangan terberatnya. Karena belum jelas bohong atau salah, informasi tersebut juga sekaligus belum jelas kebenaran dan kejujurannya.

Di tengah keraguan semacam itu, pengguna media sosial wajib melakukan cek kebenaran. Jika tidak, pilihan terbaik adalah menyimpan informasi itu untuk diri sendiri, bila tidak ingin jatuh dalam tindakan haram al-kadzib al-khafiy. Kita juga mesti ingat bahwa dunia maya tidak sama dengan dunia imajiner atau khayalan. Media sosial sebagai salah satu unsur dari dunia maya memiliki dampak nyata bagi kehidupan manusia, entah merugikan atau menguntungkan.

Alhasil, jika penyebaran informasi yang meragukan saja bagi Imam Syafi’i masuk katergori bohong (samar), penyebaran informasi palsu (hoax) tentu lebih parah. Orang mesti memikirkan dengan cermat dan memeriksanya secara pasti setiap informasi yang ia peroleh sebelum buru-buru menyebarkannya. Itulah bentuk ikhtiar positif manusia sebelum kelak mempertanggungjawabkan apa pun yang muncul dari anggota badannya, termasuk jari-jarinya. Wallâhu a’lam. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kyai, RMI NU Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 10 Februari 2018

Berharap Berkah dari Jauh

Pada setiap musim puasa Ramadhan, kegiatan belajar-mengajar formal di pondok-pondok pesantren diliburkan. Namun para santri justru sangat sibuk. Ada pengajian Ramadhan yang biasa dikenal dengan ngaji posonan, ngaji kilatan atau ngaji pasaran yang digelar di setiap waktu; sejak selepas shalat subuh, pagi, menjelang dzuhur, ba’da dzuhur, setelah ashar, jelang buka puasa, dan bahkan selepas tarawih kitab yang dikaji bisa lebih dari satu.

Bagi para santri, bulan Ramadhan adalah kesempatan emas untuk mendapatkan sebanyak mungkin referensi kitab kuning. Para santri yang “anti kemapanan” memanfaatkan momentum Ramadhan untuk mengkaji sebanyak mungkin kitab tingkat tinggi yang tidak diajarkan di kelasnya. Tidak sekedar memaknai banyak kitab sampai khatam, mereka juga secara resmi akan menerima “ijazah” atau mandat secara langsung dari seorang kiai untuk dapat mempelajari lebih lanjut dan mengamalkan kitab yang tidak dikaji.

Berharap Berkah dari Jauh (Sumber Gambar : Nu Online)
Berharap Berkah dari Jauh (Sumber Gambar : Nu Online)

Berharap Berkah dari Jauh

Dalam tradisi pesantren, transfer ilmu pengetahuan tidak hanya dilakukan melalui proses knowledge, tetapi ? juga melalui proses spiritual, yang dikenal dengan tawassul. Dengan mengikuti pengajian Ramadhan secara tuntas dan mendapatkan ijazah langsung dari kiai atau ustadz yang membacakan kitab, berarti santri telah menyambungkan sanad atau genealogi keilmuan kepada guru-gurunya, sampai kepada mushonnif atau pengarang kitab yang sedang dikaji, lalu sampai ke guru-guru mushonnif, bahkan sampai ke Nabi Muhammad SAW.

Maka di bulan Ramadhan Ramadhan para santri tidak menyia-nyiakan waktu. Pada waktunya, mereka langsung beranjak mendatangi tempat pengajian para kiai di rumah, masjid, atau di ruang-ruang kelas. Sajadah digelar setengah lipatan dan mereka langsung duduk bersila. Kitab kuning ada di pangkuan mereka, serta bopoin atau pensil sudah siap di genggaman.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dalam tradisi pesantren juga sangat dikenal istilah berkah atau barokah. Tidak mudah menerjemahkan istilah ini ke dalam bahasa Indonesia. Para santri mempunyai cara sendiri-sendiri untuk tabarruk atau ngalap berkah, misalnya dengan rutin mengikuti pengajian dengan mendatangi tempat mengaji sebelum kiai datang, pilihan posisi meletakkan sajadah dan duduk di tempat sang sama (istiqomah) saat mengaji serta kalau memungkinkan duduk berdekatan dengan kiai, atau dapat bersalaman dengan kiai setiap selesai mengaji, dan seterusnya. Dengan begini, para ? santri tidak sekedar menjalani proses transfer keilmuan, tetapi juga mendapatkan limpahan berkah atau kebaikan lebih dari Allah SWT dengan perantaraan kiai.

Sekarang, bagaimana dengan pengajian online? Ya, mengaji jarak jauh. Apakah para santri yang mengikuti pengajian di depan laptop dengan posisi duduk semuanya, terkadang sambil makan minum dan bergurau bersama keluarga di rumah, dan terkadang terlambat karena jaringan internet sedang down tetap sah mendapatkan sanad keilmuan dan tetap mendapatkan berkah?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Seorang panitia pengajian di salah satu pesantren di Jawa Tengah, mengeluh, sejak pengajian kiainya disiarkan langsung oleh Pondok Pesantren An-Nur Slawi melalui fasilitas radio streaming di alamat radio.nu.or.id dan apalagi diteruskan live oleh radio-radio lokal, para santri dan alumni pesantren serta masyarakat yang mengikuti pengajian di halaman pesantren berkurang. Mereka lebih senang mengikuti pengajian lewat internet atau siaran radio.

Memang perkembangan teknologi tidak bisa dihindari. Tahun ini Pondok Pesantren An-Nur Slawi tidak sekedar menyiarkan pengajian Ramadhan dari kantor PBNU Jakarta, namun juga dari berbagai pesantren seperti Pesantren Tambak Beras, Lirboyo, Kajen, dan Rembang bersama para kiai kharismatik. Beberapa pesantren lain dan alumninya juga mengusulkan, pengajian kiai mereka juga disiarkan langsung.

Ternyata peminat pengajian online sungguh luar biasa. Pada waktu-waktu padat para peserta yang terlacak dalam sistem informasi Pondok Pesantren An-Nur Slawi membludak sehingga harus berebut dengan yang lain untuk mendapatkan akses pengajian.

Rencananya, pengajian online ini akan ditradisikan tidak hanya di bulan Ramadhan. Tim redaksi Pondok Pesantren An-Nur Slawi akan menyisir pengajian-pengajian penting di berbagai pesantren dan menyiarkannya melalui fasilitas radio streaming yang tersedia. Tidak hanya pengajian, beberapa forum diskusi atau halaqah keilmuan yang penting dari berbagai daerah di tanah air akan disiarkan melalui radio ini.

Sekali lagi, perkembangan teknologi tidak bisa dihindari. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj beberapa kali mengingatkan, saat ini umat Islam dan bahkan umat manusia di dunia sudah berada di era teknologi informasi. Maka berbagai metode pendidikan dan dakwah juga harus mengikuti perkembangan ini. NU selalu meneguhkan diri sebagai kaum tradisional, yang terus memelihara tradisi. Maka dengan ini Pondok Pesantren An-Nur Slawi menyatakan bahwa teknologi informasi pun juga perlu ditradisikan. Jika tidak, maka NU akan di tinggal zaman.

Kembali ke pengajian online, apakah dengan mengikuti pengajian online para santri yang tersebar di banyak tempat, di desa-desa dan di kota-kota akan tetap mendapatkan berkah? Dengan niat yang tulus untuk menimba ilmu kepada para kiai, maka kita berharap keberkahan akan tetap diraih dari jauh.?

A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Quote, RMI NU, Ulama Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 03 Februari 2018

Hasyim Lebih Senang Khofifah Urus Muslimat NU

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi menyatakan lebih senang jika Khofifah Indar Parawansa berkonsentrasi membesarkan Muslimat NU, organisasi yang beranggotakan kaum ibu NU, daripada mengurus politik.

"Khofifah sebaiknya mengurus Muslimat saja, tak perlu memikirkan PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) atau PPP (Partai Persatuan Pembangunan)," kata Hasyim di kantor PBNU, Jakarta, Rabu.

Hasyim Lebih Senang Khofifah Urus Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasyim Lebih Senang Khofifah Urus Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasyim Lebih Senang Khofifah Urus Muslimat NU

Hasyim mengemukakan hal itu ketika diminta pendapatnya menyangkut upaya Ketua Umum PPP Suryadharma Ali mengajak Khofifah yang merupakan Ketua Umum Pucuk Pimpinan Muslimat NU kembali ke PPP, partai yang pernah mengantarkan Khofifah sebagai anggota DPR pada 1992-1998.

Saat acara gerak jalan santai di Jombang, Jawa Timur, Minggu (4/3), yang digelar untuk memperingati hari lahir GP Ansor dan Muslimat NU, Suryadharma Ali kembali "merayu" Khofifah agar balik ke PPP menyusul Ketua Umum GP Ansor Saifullah Yusuf.

Pada kesempatan itu, Suryadharma menyatakan dengan masuknya Saifullah Yusuf di jajaran Majelis Pertimbangan Partai PPP, maka partai berlambang Ka’bah itu tak bisa lagi dicap sebagai "partai orang tua". "Kalau anak muda didampingi ibu-ibu kan lebih adem," kata Surya saat itu.

Saat diminta tanggapannya mengenai "rayuan" Suryadharma, Khofifah yang saat ini masih tercatat sebagai anggota DPR RI dari PKB menyatakan hingga saat ini belum berpikir soal partai karena ingin lebih berkonsentrasi membesarkan Muslimat NU.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Namun, jawaban Khofifah tersebut di dalam penilaian Hasyim Muzadi belum memberikan jaminan bahwa mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan di era Presiden Abdurrahman Wahid (GUs Dur) itu sungguh-sungguh tak akan "menduakan" Muslimat NU dengan partai politik.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Kalau memang seperti itu (tak memikirkan partai, red) kenapa ada acara gerak jalan (yang menghadirkan Ketua Umum PPP) segala," kata Hasyim. (ant/mad)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pesantren, RMI NU, Nasional Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pemkab Bondowoso: NU Berjasa Ciptakan Ketenteraman

Bondowoso, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Pemerintah Kabupaten Bondowoso melalui wakil bupati setempat,H Salwa Arifin, mengucapkan selamat hari lahir ke-94 Nahdlatul Ulama (NU). Ia memuji peran Nahdlatul Ulama (NU) dalam mewujudkan kehiudupan yang harmonis di masyarakat. Menurutnya, kiprah ini tak bisa disepelekan.

Hal itu ia sampaikan saat memberikan kata sambutan dalam peringatan harlah ke-94 NU yang digelar Pengurus Cabang NU (PCNU) Kabupaten Bondowoso, Kamis (13/4) sore.

Pemkab Bondowoso: NU Berjasa Ciptakan Ketenteraman (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemkab Bondowoso: NU Berjasa Ciptakan Ketenteraman (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemkab Bondowoso: NU Berjasa Ciptakan Ketenteraman

“Saya harus ucapkan terimakasih kepada NU," ucapnya di alua pendopo kantor Bupati Bondowoso, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Baginya, peran NU terbesar adalah mempu menciptakan ketenteraman baik di tingkat pusat, provinsi maupun kabupaten.

PCNU Kabupaten Bondowoso memperingati harlah kali ini dengan Taushiyah Khusus Penguatan Kelembagaan. Kegiatan tersebut diikuti jajaran ketua, rais, seketaris, bendahara dari tingkatan Ranting, Majalis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU), dan lembaga serta badan otonom NU se-kabupaten Bondowoso.

Ketua PCNU Bondowoso H Abdul Qodir Syam mengatakan, kegiatan harlah ke-94 PCNU Bondowoso dimulai sejak keikutsertaannya dalam acara Istighotsah Kubro yang dihelat PWNU Jawa Timur di Sidoarjo. (Ade Nurwahyudi/Mahbib)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi RMI NU Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 26 Januari 2018

“Karisma Hadhramaut dalam Ideologi ke-Indonesia-an”

Seiyun, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Forum Lingkar Pena (FLP) Hadramaut yang beranggotakan para pelajar Indonesia menggelar "Pentas Seni Islami" atas kerjasama Ibn Obaidillah Islamic Center di kota Seiyun.

“Karisma Hadhramaut dalam Ideologi ke-Indonesia-an” (Sumber Gambar : Nu Online)
“Karisma Hadhramaut dalam Ideologi ke-Indonesia-an” (Sumber Gambar : Nu Online)

“Karisma Hadhramaut dalam Ideologi ke-Indonesia-an”

Acara Rabu (20/3) lalu seyogyanya ditujukan untuk memperingati harlah ke-16 FLP ini bertajuk "Karisma Hadhramaut dalam Ideologi Ke-Indonesia-an."? Grand opening mencuplik senandung Al-Quran yang mencerminkan kandungan pentas seni Islami.

Wahai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kalian lelaki dan perempuan dan menjadikan kalian beragam suku dan budaya agar kalian saling mengenal, sungguh yang paling mulya diantara kalian adalah mereka yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Mewaspadai." (Al Hujurat : 13)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Habib Muhammad Hasan Ibnu Ubaidillah, direktur utama Ibn Obaidillah IC mempersilahkan kepada Miqdarul Khoir, ketua FLP Hadhramaut untuk menyampaikan sepatah dua kata mengiringi pembukaan acara.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Marilah kita telaah kembali sejarah nenek moyang kalian dengan bahasa modern, bahwa bilamana suatu relasi ini didirikan atas nama Allah, maka hubungan tersebut akan kekal, berbeda halnya jikalau relasi tersebut dibangun atas nama material, maka tak heran suatu ketika akan berujung pertumpahan darah," katanya mantap.

Sebelum memasuki inti pentas, hadirin sempat dikejutkan dengan film dokumenter berjudul "Hadharim fi Indonesia" yang dicuplik dari channel Al Jazeerah. Sebuah video singkat yang mengungkap pengaruh masyarakat Hadhramaut dalam seluruh element kehidupan Indonesia.

Acara berlanjut dengan pembacaan syair oleh Ahmad Fathur Rahman. Mahasiswa universitas Al Ahgaff ini sukses menitikan air mata mayoritas hadirin malam itu. Gubahan baitnya meranakan kalbu pendengarnya.

Apalagi disusul pencitraan biografi ulama fenomenal dari kota Teris, Hadhramaut, yang akhirnya berhijrah dan berhasil mengubah pola kehiduan masyarakat Palu. Habib Idrus bin Salim Al Jufri, pendiri pesantren Al Khairat, Palu Sulawesi Utara. Habib Alwi Al-Atthas yang merupakan salah satu santri di pesantren tersebut mengungkapkan bahwa tanpa beliau, kota Palu tak akan seperti kota Palu yang sekarang.

Tak kalah mengesankan, dialog interaktif antar hadirin dibuka setelah habib Zainal Aibidin Al Haddar bercerita tentang napak tilas hijrah masyarakat cadas tandus Hadhramaut ke Gujarat hingga akhirnya berujung penyebaran Islam di Indonesia.

Euforia pentas seni yang dihadiri lebih dari 100 orang dari berbagai Negara tersebut mengundang simpatik Habib Ali bin Salim Al Haddad untuk turut aktif menyumbang riset ilmiahnya tentang prestasi Hadhramaut dalam kemajuan Indonesia.

"Sayangnya terjadi pemutar balikan fakta yang menyatakan bahwa hijrahnya para musafir Hadhramaut hanyalah berdasarkan asas dagang, padahal jauh sebelum mereka ada Fatimah binti Maimun pada tahun 700 H menyebar benih Islam, hanya saja sejarah terkesan menutup-nutupi tujuan asal mereka, yaitu berdakwah," pungkasnya menutup.

Acara pentas seni ditutup dengan marawis dengan lagu khas Hadhramaut yang dipandu oleh Shautul Muhibbin, grup marawis dan rebana Asosiasi Mahasiswa Indonesia (AMI Al Ahgaff). Turut hadir dekan fakultas Syareat dan Hukum universitas Al Ahgaff, Dr. Muhammad bin Abdul Qodir Alydrus, delegasi universitas Hadhramaut for Sains and Technology, ketua Persatuan Pelajar Indonesia (PPI Yaman) cabang Hadhramaut, Pandi Yusron serta delegasi lembaga kedaerahan lainnya, seperti Padjajaran Jawa Barat, Sulawesi, GAMA Jatim, PPJJ Jateng dan Yogyakarta dan Opisi Sumatra.?

Redaktur ? ? : A. Khirul Anam

Kontributor: Adly Al-Fadlly*

*Koordinator Kaderisasi FLP Hadhramaut

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Lomba, RMI NU, Aswaja Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 20 Januari 2018

Ulama Dunia Doakan Indonesia Lebih Baik

Situbondo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Indonesia akan menghadapi pemilu legislatif pada 9 April dan Pemilu presiden pada Juli mendatang. Ulama dunia mendoakan pemilu tersebut berlangsung damai dan menghasilkan pemimpin yang terbaik. Doa tersebut diungkapkan para ulama dalam pembukaan konferensi internasional di pondok pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur, Sabtu (29/3).

Ulama Dunia Doakan Indonesia Lebih Baik (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Dunia Doakan Indonesia Lebih Baik (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Dunia Doakan Indonesia Lebih Baik

Tampil memimpin doa pada acara tersebut Prof Dr Wahbah Az-Zuhaily (syria) Syaikh Mahdi As-Sumaidai (Irak), Syaikh Abdul Karim Ad-Dibaghiy (Aljazair). Mereka didampingi tokoh Islam Indonesia yang juga Sekretaris Jenderal Internasional Conference Of Islamic Scholar (ICIS) KH Hasyim Muzadi (Indonesia).

Konferensi kelas dunia itu diprakarsai mantan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi. Rencananya, kegiatan ini digelar selama 2 hari hingga Ahad (30/3) besok. Ratusan ulama dan kiai hadir sebagai peserta dalam konferensi ini.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Hasyim Muzadi menegaskan, konferensi tersebut membahas banyak hal terkait masalah dalam negeri dan luar negeri. Untuk dalam negeri, terkiat perang di sejumlah negara yang Timur Tengah dan kondisi Indonesia pasca reformasi.

"Kita akan mendengarkan penjelasan dari ulama dari timur soal arab Spring atau perang yang terjadi di beberapa negara di Timur Tengah belakangan ini. Bagaimana kondisi mereka setelah perang terjadi," katanya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Konferensi tersebut diharapkan menghasilkan konsep perdamaian di berbagai belahan dunia. "Dari penjelasan para ulama itu, kita akan tahu kondisi Timur Tengah saat ini. Dari situ pula kita akan tahu solusinya.

Hasyim mengatakan, pada konferensi ini, pihaknya juga ingin memperkenalkan Pancasila yang selama ini menjadi dasar negara Indonesia. "Di pondok pesantren inilah, NU pertama kali mengakui Pansila sebagai dasar negara. Ketika itu di pesantren ini digelar Muktamar NU pada tahun 1984," kata Hasyim.

Sementara itu, Pengasuh ponpes Salafiyah Syafiiyah, KHR Ahmad Azaim Ibrahimy berharap pesan perdamaian dari konferensi internasional ini didengar oleh masyarakat dunia. "Semoga hasil konferensi ini menjadi pesan perdamaian yang sampai ke seluruh penjuru dunia," katanya. (Ahmad Millah/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi RMI NU Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 16 Januari 2018

Menteri Agama: Guru Harus Selalu Tanamkan Cinta

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Setiap pendidik harus selalu menanankan cinta dalam setiap aktifitasnya. Akhir-akhir ini dunia pendidikan spring diwarnai laporan kekerasan oleh oknum pendidik. Untuk itu Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin berpesan agar hal itu jangan sampai terjadi.

Hal ini diungkapkan pada puncak peringatan Hari Guru Nasional 2017 di Hotel Novotel Tangerang, Jumat (8/12) pukul 21.25 WIB.

Menteri Agama: Guru Harus Selalu Tanamkan Cinta (Sumber Gambar : Nu Online)
Menteri Agama: Guru Harus Selalu Tanamkan Cinta (Sumber Gambar : Nu Online)

Menteri Agama: Guru Harus Selalu Tanamkan Cinta

Dalam kesempatan itu Kemenag memberikan penghargaan kepada 55 guru madrasah berprestasi se Indonesia. Kemenag juga memberangkatkan 27 guru peraih penghargaan tahun laku ke Finlandia untuk shortcourse metodologi pendidikan terkini di eropa.

Lukman Hakim Saifudin menegaskan, tantangan guru adalah menghadapi generasi milenial yang memiliki ciri berbeda dengan generasi terdahulu.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pendudik itu adalah profesi paling mulia, untuk itu teruslah mengajar dg rasa cinta kasih. "Kalaupun harus menghukum abak didik, hukumlah dengan sepenuh cinta kasih," lanjutnya.

Menag berterima kasih kepada guru-guru madrasah yang menjadi motor mewujudkan slogan yang dipopulerkan Kemenag, "Madrasah Lebih Baik, Lebih Baik Madrasah”. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Santri, Aswaja, RMI NU Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 12 Januari 2018

Pelajar NU Desa Gandu Gelar Ajang Kreativitas Pelajar

Pemalang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi ?

Riuh sorak-sorai mewarnai kegembiraan ratusan peserta Ajang Kreativitas Pelajar yang diselenggarakan oleh Pelajar NU Desa Gandu Kecamatan Comal, Pemalang pada hari Ahad (30/04) di SDN 03 Gandu.

Pelajar NU Desa Gandu Gelar Ajang Kreativitas Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Desa Gandu Gelar Ajang Kreativitas Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Desa Gandu Gelar Ajang Kreativitas Pelajar

Acara yang diselenggarakan guna memperingati hari lahir ke-63 IPNU dan ke-62 IPPNU, walaupun sudah jauh dari tanggal H-nya, tetapi semangat dari kader muda NU ini sangatlah menggebu demi terselenggaranya acara ini.

Dedy (18) selaku ketua Ranting Gandu memaparkan, “Acara ini semata–mata untuk memperkuat tali silaturahmi dan ajang saling tukar bakat dan pengalaman. Bahwasanya ber-IPNU–IPPNU itu asyik bisa dapat banyak teman dll. Acara ini berisi perlombaan dari tenis meja, tata busana, drama, egrang, stand up comedy, kaligrafi, dan tilawatil qur’an. Itu semua kami lakukan karena kami ingin para kader IPNU–IPPNU itu tidak gagap masalah dunia olahraga maupun seni.”

Acara ini diikuti oleh 5 ranting yang berasal dari Kecamatan Comal dan Kecamatan Ulujami, yang kebetulan letak desa mereka sangat berdekatan. Pimpinan Cabang IPNU–IPPNU Pemalang, PAC Comal, Ketua MWC NU Comal, dan semua banom NU Desa Gandu turut hadir dan memeriahkan acara pada siang itu.?

Ada yang unik pada acara itu, yaitu hadirnya rombongan dari Comal Animal Club. Mereka adalah sekelompok orang pecinta hewan reptil, seperti ular, kadal, biawak, dll. Hadirnya mereka di acara tersebut memberikan keunikan tersendiri untuk berlangsungnya acara karena para peserta bisa bermain dengan hewan–hewan yang dibawa club tersebut namun tidak melupakan kewajiban mereka dalam menjadi peserta kegiatan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rire Pangestu (20) selaku Ketua PAC IPNU Comal saat ditemui pada saat acara mengatakan, “Kita (IPNU-IPPNU) sekarang harus bisa bergerak di bidang eksternal dalam artian tidak selamanya dalam kegiatan yang berbau keagamaan saja. Acara semacam ini adalah salah satu media untuk memperkenalkan IPNU–IPPNU pada masyarakat luas bahwasanya di prganisasi ini tidak hanya handal dalam ilmu agama tetapi juga handal dalam bidang olahraga dan seni semacam ini.”?

Harapanya semoga ranting–ranting yang lain di Kecamatan Comal bisa meniru apa yang sudah dilakukan oleh Ranting Gandu ini. Karena ini merupakan salah satu cara yang efektif juga untuk mencari dan mendapatkan anggota atau kader baru, tambah Rire.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kegiatan ini mendapat respon yang sangat positif dari masyarakat sekitar maupun dari semua peserta yang hadir dalam kesempatan tersebut karena merupakan ajang mereka mengeluarkan bakat–bakat yang mereka miliki selama ini.

Ketua PC IPPNU Pemalang Birul Walidaini (24) juga memaparkan “Kita adalah organisasi pelajar, yang mana kita harus dituntut untuk selalu belajar apapun yang bisa kita lakukan. Dan melalui kegiatan ini dengan perlombaan yang sudah ada diharapkan para peserta bisa mengembangkan bakatnya lebih baik lagi dan nantinya bisa diikutkan dalam kegiatan yang lebih tinggi seperti di kecamatan, kabupaten, maupun tingkat provinsi. Karena ini merupakan cara pembibitan kader dari bawah supaya bisa mempunyai jenjang dalam berekspresi supaya bisa lebih tinggi lagi”.

Sebagai penutup acara pada malam harinya diselenggarakan penampilan grup hadroh dan dilanjutkan dengan pembagian hadiah atau trofi bagi para peserta yang mendapatkan juara pada kegiatan tersebut. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pahlawan, RMI NU Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 02 Januari 2018

Mahasiswa Hukum UII Berzikir dan Bersholawat

Yogyakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Mahasiswa Fakultas Hukum UII Yogyakarta memfasilitasi sejumlah organ mahasiswa untuk berzikir dan bersholawat di masjid Al-Azhar Fakultas Hukum UII, Yogyakarta, Jumat (17/10) malam. Pada malam sholawat ini, mereka membahas kembali sejarah masuknya Islam ke Nusantara.

"Kita harus bersyukur. Di tahun 2014 ini, kita masih bisa bersholawat dan mencintai nabi kita," kata muballig Gus Muwaffiq pada pengajian zikir dan sholawat di masjid Al Azhar Fakultas Hukum UII, Yogyakarta, Jumat malam (17/10).

Mahasiswa Hukum UII Berzikir dan Bersholawat (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Hukum UII Berzikir dan Bersholawat (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Hukum UII Berzikir dan Bersholawat

Wali songo merupakan ulama-ulama pilihan yang sengaja diutus untuk mengislamkan Nusantara.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Oleh karenanya, sebagai umat Islam Indonesia, sudah barang tentu menjadi tugas kita untuk melanjutkan peran Wali songo dalam mendakwahkan Islam yang ramah di Indonesia,” lanjut Gus Muwaffiq di hadapan mahasiswa dari pelbagai kampus antara lain KMNU UGM, UNY, dan UIN Suka.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sementara sekretaris acara FH UII Ach Faiz MN Abdalla mengingatkan, Fakultas Hukum UII sendiri merupakan salah satu fakultas hukum tertua di Indonesia. Kita ingin menghidupkan aktifitas keislaman di kampus ini sesuai semangat salah seorang pendiri kampus ini KH Wahid Hasyim. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Tokoh, Doa, RMI NU Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 29 Desember 2017

Rektor UIN Yogya: Pelajaran Agama Lahirkan Muslim Pancasilais

Yogyakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi



Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta masa bakti 2016-2020, Yudian Wahyudi, mengatakan, jika mata pelajaran agama dijadikan materi Ujian Nasional, cita-cita melahirkan muslim Pancasilais menjadi niscaya.

Yudian melempar ide tersebut saat menjadi narasumber pada lokakarya Finalisasi Draf Peraturan Menteri Agama (PMA) tentang Penilaian Buku Pendidikan Agama dan Keagamaan (Tadqiq al-Kutub) pada jenjang pendidikan dasar, menengah dan tinggi yang diinisiasi Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi (LKKMO) Balitbang Diklat Kemenag, Ahad (27/8) malam.

Rektor UIN Yogya: Pelajaran Agama Lahirkan Muslim Pancasilais (Sumber Gambar : Nu Online)
Rektor UIN Yogya: Pelajaran Agama Lahirkan Muslim Pancasilais (Sumber Gambar : Nu Online)

Rektor UIN Yogya: Pelajaran Agama Lahirkan Muslim Pancasilais

 

Kegiatan ini dijadwalkan selama tiga hari, Minggu-Selasa, 27-29 Agustus 2017 di Hotel Harper Jl. Pangeran Mangkubumi, Yogyakarta. Acara dibuka resmi Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Abdurrahman Mas’ud, Minggu (27/8) malam.

Menurut Kiai Yudian, setidaknya ada empat ranah yang harus disepakati seluruh pendidik. Pertama, pelajaran akidah dan ibadah diajarkan oleh guru seagama untuk murid seagama. “Itu berlaku bagi enam agama resmi di Indonesia,” tandas Doktor (PhD) lulusan McGill University Kanada ini.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kedua, lanjut dia, pelajaran fiqih muamalah juga diajarkan oleh guru seagama untuk murid seagama. Ketiga, pelajaran agama pada poin pertama dan kedua digunakan untuk membaca aneka kebutuhan nasional.

“Misal, bagaimana Pancasila versi Islam. Bagaimana pula versi Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Contoh lain bagaimana agama-agama ini melihat persoalan mulai narkoba, radikalisme, korupsi, disintegrasi, hingga human trafficking dan HAM,” urai Pengasuh Pesantren Nawesea Yogyakarta ini.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

 

Untuk poin keempat, dosen pertama dari Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang berhasil menembus Harvard Law School di Amerika Serikat ini mencoba menawarkan kebutuhan-kebutuhan nasional yang telah diurai berdasar kaca mata agama tersebut dibaca pakai Pancasila.

“Logika ini mungkin hanya untuk anak SMA atau kampus. Tentu, membacanya dengan segala peraturan turunan mulai UU, Perpres dan lain sebagainya. Jika ini mampu dilakukan, saya kira tentu dahsyat output-nya,” tegas Kiai Yudian.

Lokakarya yang diikuti 50 orang tersebut menghadirkan sejumlah pejabat dan akademisi di lingkungan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, antara lain Rektor Prof KH Yudian Wahyudi PhD, Wakil Rektor I, Wakil Rektor III, Guru Besar Bidang Politik Islam Kontemporer Prof Noorhaidi Hasan PhD, serta para peneliti. (Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi RMI NU, Bahtsul Masail, Sholawat Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 27 Desember 2017

Fatayat NU harus Mampu Membawa Diri

Brebes, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Keberadaan Fatayat NU harus mampu membawa diri, jangan sampai di bawa ke sesuatu yang bersifat sementara. Artinya, bersikap netral dalam sikap politik ataupun pengabdian pada masyarakat. Tidak di bawa-bawa ke mana yang disukai oleh pemimpinnya, sehingga akan menjadi organisasi yang bermartabat dengan pelayanan yang prima dan tidak memihak.

“Mengelola Fatayat itu, harus dengan sinar keikhlasan dengan mampu mambawa diri,” demikian pesan Ketua Pemimpin Wilayah (PW) bidang Pendidikan dan Pengkaderan Fatayat NU Jawa Tengah  Hj Muta’alimah saat membuka Konferensi Cabang (Konfercab) Fatayat NU Brebes di Hotel Dedy Jaya Brebes, Ahad (16/12).

Fatayat NU harus Mampu Membawa Diri (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU harus Mampu Membawa Diri (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU harus Mampu Membawa Diri

Tidak berarti, kata Muta’alimah, Fatayat menghindar dari berbagai partai politik tetapi justru harus mampu bekerja sama. Kader-kader Fatayat bertebaran diberbagai partai politik juga menempati posisi pekerjaan diberbagai sektor. Sehingga kerjasama antar lembaga harus terus dibangun sesuai dengan koridor dan tidak melenceng dari Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Kerja sama itu bukan kenikmatan yang di bagi bersama-sama, tetapi membangun sinergi untuk menggolkan visi dan misi organisasi,” terangnya.

Selain itu, lanjutnya, untuk mengelola Fatayat harus dipegang oleh orang-orang yang memiliki kompetensi dalam berorganisasi. Sebab berorganisasi itu memerlukan sentuhan tangan-tangan trampil yang ikhlas dan rela berkorban. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Yang lebih utama, Muta’alimah menambahkan, dalam kiprahnya Fatayat harus berpegang teguh membantu NU dalam pengembangan Islam ahlussunah wal jamaah. Dengan tetap menjaga keutuhan NKRI. 

“Kita harus waspada dengan aliran-aliran Islam di Indonesia yang melenceng dari ajaran ahlussunah wal jamaah dan berupaya memporakporandakan NKRI,” tandasnya.

Untuk itu, kuantitas keanggatoaan Fatayat diupayakan dengan peningkatan kualitas keanggotaanya pula. “Kami bersyukur, ternyata anggota Fatayat tidak ketinggalan dalam pengetahuan dalam berbagai disiplin ilmu,” pungkasnya.

Sejalan dengan itu, Ketua Pengurus Cabang (PC) NU Brebes H Athoillah meminta kepada Fatayat jangan seperti tukang parkir. Artinya, tidak merasa memiliki tetapi hanya merasa dititipi. Sebab kalau hanya merasa dititipi maka pengelolaannyapun tidak maksimal. 

“Merawat Fatayat itu harus dengan niatan, Fatayat itu hak milik sehingga di rawat dengan temen (sepenuh hati, red),” ajak Athoillah.

Termasuk, dengan merawat NU berarti menjalin kemitraan dengan pemerintah di daerahnya. “Tidak ada alasan, untuk tidak mendukung pemerintahan di daerah,” tegas Athoillah.  

Hanya saja, lanjut Atho, Fatayat harus mampu menjaga diri agar tidak terserang penyakit kurap (kurang disiplin), kudis (kurang disiplin) dan kutil (kurang terapkan ilmu). Semua penyakit itu, bersumber dari kuman (kurang iman). “Kalau sudah kurang iman, maka akan mudah tergoyahkan keteguhannya mempertahankan islam ahlussunah wal jamaah,” kata Athoillah mengingatkan.

Konferensi Cabang dibuka Bupati Brebes Hj Idza Priyanti. Dalam sambutannya mampu memberi kontribusi terhadap pemerintahan. Termasuk didalamnya menangani bidang pendidikan, kesehatan dan perekonomian kerakyatan. 

Ketua panitia penyelenggara Amaliyah menerangkan, kegiatan konfercab diikuti oleh 288 dari 16 Pimpinan Anak Cabang (PAC) dan Pimpinan Ranting (PR) se Kabupaten Brebes. “PAC Banjarharjo, tidak mengirimkan delegasinya tanpa alasan yang jelas,” kata Amaliyah. 

Redaktur     : Mukafi Niam

Kontributor: Wasdiun

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi RMI NU Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 17 Desember 2017

Wujudkan Generasi Ramah, Perkemahan Rohis Nasional Dibuka Hari Ini

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Perkemahan Rohis Nasional ke-2 yang diselenggarakan oleh Direktorat PAI Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama telah siap dibuka pada Selasa (3/5) di Bumi Perkemahan Cibubur Jakarta. Dengan mengambil tema Membangun Generasi Emas, Ramah, dan Bermartabat, kegiatan ini berupaya mewujudkan organisasi Rohis yang ramah dan tidak eksklusif.

Dalam keterangan yang diterima Pondok Pesantren An-Nur Slawi dari Humas Kementerian Agama, 1800 anggota Rohis dari tingkat SMA/SMK siap ditempa untuk mewujudkan kecintaannya kepada agama, bangsa, dan negara. Menurut keterangannya, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin akan membuka langsung kegiatan dua tahunan ini.

Wujudkan Generasi Ramah, Perkemahan Rohis Nasional Dibuka Hari Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Wujudkan Generasi Ramah, Perkemahan Rohis Nasional Dibuka Hari Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Wujudkan Generasi Ramah, Perkemahan Rohis Nasional Dibuka Hari Ini

Keterangan tersebut juga menerangkan bahwa sebagai bagian dari generasi emas bangsa, mereka dalam wadah Perkemahan Rohis akan mengaktualisasikan dirinya sebagai insan maju, berperadaban, cinta damai, toleran, dan anti-radikalisme.

Seperti diberitakan sebelumnya, stigma sebagai organisasi tertutup (eksklusif) dari Rohis sehingga menjadi bagian dari penyebaran paham-paham radikal harus dihilangkan.

“Ada isu negatif, Rohis dianggap menjadi bagian dari penyebaran paham-paham radikal, bahkan terorisme. Ini jangan sampai terjadi,” ucap Dirjen Pendis Kemenag RI Kamaruddin Amin dalam konferensi pers, Kamis (28/4) lalu di Kantor Kemenag RI Lapangan Banteng Jakarta Pusat terkait dihelatnya kegiatan Perkemahan Rohis tersebut.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurut Kamaruddin, kesan Rohis sebagai organisasi tertutup dan eksklusif harus dihilangkan. Bukan saja untuk mengantisipasi masuknya berbagai pemikiran-pemikiran radikal yang biasanya cenderung tertutup dan mengisolasi diri dari masyarakat, namun juga untuk memberikan kesempatan yang lebih luas kepada para siswa untuk belajar agama.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Kita ingin mewejudkan Rohis ini sebagai organisasi terbuka agar semakin banyak siswa yang ikut. Belajar agama kan tidak perlu ditutup-tutupi. Selain itu, kalau bersifat terbuka maka para guru bisa lebih mudah melakukan pendampingan, dengan tetap memberikan ruang kepada mereka untuk melakukan aktualisasi diri,” kata Kamaruddin. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Jadwal Kajian, RMI NU, Pertandingan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 15 Desember 2017

Ini Aksi Pelajar NU Pujon di Hari Valentine

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PAC IPNU-IPPNU) Kecamatan Pujon Kabupaten Malang melakukan survei kecil-kecilan terkait hari bersejarah pembentukan Pembela Tanah Air (PETA) yang bertepatan dengan hari valentine 14 Februari.

Pada Ahad (12/2), mereka secara random mewawancarai sejumlah pengunjung Cafe Sawah Desa Pujon Kidul, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Aksi ini dilakukan untuk melihat sejauh apa daya ingat masyarakat mengenai peringatan hari terbentuknya PETA yang juga bertepatan dengan hari valentine.

Ini Aksi Pelajar NU Pujon di Hari Valentine (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Aksi Pelajar NU Pujon di Hari Valentine (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Aksi Pelajar NU Pujon di Hari Valentine

Mereka mengajukan pertanyaan inti yang berbunyi, “Ada peringatan apakah di tanggal 14 Februari?” Jawaban yang diberikan oleh pengunjung yang telah diwawancarai begitu mencengangkan. Hampir seluruhnya menjawab bahwa tanggal 14 Februari adalah hari valentine. Tidak ada yang mengetahui bahwa di tanggal tersebut juga diperingati hari terbentuknya PETA.

Ketua IPNU Pujon Fauzan Anwari mengatakan, di tanggal 14 Februari masyarakat banyak yang tidak mengingat hari bersejarah bagi Indonesia, yaitu hari terbentuknya PETA.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Valentine memang bukan budaya yang berbahaya, tapi dimensi lain yang ditimbulkan bisa berakibat negatif. Karena banyak momentum penting di Indonesia yang dilupakan oleh anak cucu bangsa ini dan teralihkan oleh budaya bangsa lain,” kata Fauzan. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Meme Islam, Daerah, RMI NU Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 03 Desember 2017

Jadi Sasaran Kekerasan, PMII dan Sejumlah Elemen Minta Keadilan

Jember, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Tindakan represif aparat keamanan terhadap mahasiswa yang menggelar unjuk rasa menolak tambang emas di Kantor Bupati Jember, Senin, memantik reaksi. Sejumlah elemen mahasiswa yang terdiri dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Ikatan Alumni PMII (IKA PMII), Gerakan Pemuda Ansor, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan aktivis lingkungan mendatangi gedung DPRD Jember, Selasa (24/5).

Mereka diterima oleh Wakil Ketua DPRD Jember, Ayub Junaidi dan sejumlah anggota DPRD yang lain. Intinya, mereka mengadukan tindakan koboi aparat keamanan terhadap mahasiswa PMII yang menggelar unjuk rasa.

Jadi Sasaran Kekerasan, PMII dan Sejumlah Elemen Minta Keadilan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jadi Sasaran Kekerasan, PMII dan Sejumlah Elemen Minta Keadilan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jadi Sasaran Kekerasan, PMII dan Sejumlah Elemen Minta Keadilan

Seperti diketahui, untuk ke sekian kalinya, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam PMII, menggelar unjuk rasa di depan Kantor Bupati Jember. Dalam aksi tersebut terjadi saling dorong antara Satpol PP dan pengunjuk rasa. Kuatnya dua kekuatan yang berjibaku dorong itu mengkibatkan pintu gerbang Kantor Pemkab Jember, roboh. Dan sejurus kemudian, sejumlah aparat keamanan yang terdiri dari Satpol PP dan polisi mengejar pengunjuk rasa yang semburat ke alun-alun. Dan mereka pun menjadi sasaran pentungan petugas.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurut Ketua PC PMII Kabupaten Jember, Sulamet, tindakan represif yang telah dipertontonkan aparat keamanan tidak bisa diterima. Dikatakannya, apa yang dilakukan PMII terkait dengan penolakan tambang merupakan suara mayoritas warga Jember. Lebih-lebih NU sejak lama juga telah menolak adanya pertambangan di wilayah Jember. "Karena itu, kami minta keadilan hukum agar aparat yang telah bertindak sewenang-wenang juga ditindak," jelasnya.

Tuntutan tersebut mendapat dukungan dari aktivis lingkungan, Miftahul Rahman. Menurutnya, unjuk rasa adalah hal biasa dalam demokrasi. Oleh karenanya, jika ada pelanggaran kekerasan maka harus diproses secara hukum. Lebih dari itu, katanya, soal penolakan tambang sesungguhnya sudah menjadi kesepakatan mayoritas warga Jember. "Inginnya teman-teman mahasiswa agar Bupati secara resmi menolak rencana penambangan emas di Jember. Itu saja. Tapi kok disambut dengan pentungan," terangnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menggapi itu, anggota Komisi A DPRD Jember, David Handoko Seto menegaskan bahwa pihaknya akan segera memanggil Kepala Satpol PP dalam waktu dekat. "Bagimanapun ini harus ada yang bertanggungjawab," jelasnya. (Aryudi A Razaq/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Santri, RMI NU Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Malaysia Kagumi Pesantren di Indonesia

Surabaya,Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Kunjungan sejumlah ulama dan akademisi negeri jiran Malaysia ke pesantren di Jawa Timur menyisakan kekaguman yang mendalam. Mereka rencananya akan menindaklanjuti temuan tersebut negaranya.

Prof Dato Dr Abdul Razak Hj Omar mengatakan kekaguman itu kepada sejumlah media usai pembukaan seminar internasional yang diselenggarakan PW Aswaja NU Center Jawa Timur di Asrama Haji Sukolilo Surabaya, Selasa (23/12/2014).

Malaysia Kagumi Pesantren di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Malaysia Kagumi Pesantren di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Malaysia Kagumi Pesantren di Indonesia

"Kami melihat bahwa pesantren yang kami kunjungi merupakan model lembaga pendidikan yang sangat bagus," kata Penolong Naib Canselor Hubungan Industri Masyarakat di UTHM Malaysia ini.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Baginya, pesantren merupakan lembaga yang integral sehingga menyatukan antara pendalaman agama dengan pengamalan materi keagamaan dalam keseharian. Ia lalu membandingkan model pendidikan peserta didik di negerinya, Malaysia.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Di tempat kami, kewajiban mengawasi dan mendidik murid hanya dilakukan saat mereka berada di lembaga pendidikan," katanya. Sedangkan saat pulang ke rumah masing-masing, maka hal itu menjadi kewajiban para orang tuanya.

Padahal waktu berada di luar sekolah demikian panjang. "Dan murid dengan mudah bergaul dengan masyarakat dan lingkungannya yang beragam," terangnya. Dan bukan tidak mungkin selama bergaul dengan lingkungan inilah, banyak hal negative yang diterima oleh para muris dan siswa.

Dato Abdul Razak juga menyayangkan banyaknya murid yang cenderung mencari pengetahuan dan pendalaman agama dari media internet. "Bukan tidak mungkin banyak materi keagamaan yang salah dari situs yang dibaca para murid," katanya. Belum lagi mereka dipengaruhi oleh isi dari media sosial yang semakin digemari.

Karena itu, kemunculan para murid yang hanya memiliki pengetahuan agama yang dangkal demikian juga tidak terjaga validitas pengetahuan selama mencari di internet sebagai biang keladi lahirnya generasi muda yang ekstrim.

"Pesantren di Indonesia ternyata bisa memberikan jawaban bagi ketersediaan generasi muda yang memiliki pengetahuan agama secara utuh dan tangguh," bangganya. Karenanya, usai kunjungan ini mereka akan membahas dan meniru pola pendidikan pesantren di Malaysia.

Sejak Jumat lalu, 23 orang ulama dan staf pengajar di Malaysia mengunjungi empat pesantren yakni al-Fitroh Kedinding Surabaya, Sidogiri Pasuruan, Zainul Hasan Genggong Probolinggo serta Bumi Shalawat Sidoarjo.

Apalagi pada akhir seminar internasional juga telah dilakukan penandatanganan kerjasama antara PW Aswaja NU Center dengan kontingen dari Malaysia untuk melakukan pendalaman Ahlus Sunnah wal Jamaah secara lebih intensif.

Seminar internasional ini dihadiri para ulama di antaranya KH Miftachul Akhyar (Rais PWNU Jawa Timur), KH Hasan Mutawakkil Alallah (ketua), KH Abdus Shomad Bukhori (MUI Jatim) serta utusan PCNU se Jawa Timur dan peserta daurah Aswaja dari seluruh Indonesia. (Syaifullah/Abdullah))

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi RMI NU, Amalan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 28 November 2017

Puluhan Ribu Jamaah Berdoa untuk Keselamatan Indonesia

Solo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Terik matahari yang menyengat tak mampu menyurutkan langkah puluhan ribu jamaah untuk menghadiri peringatan haul ke-102 muallif (pengarang) kitab maulid Simtuddurar, Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi, yang diselenggarakan di Kompleks Masjid Riyadh Pasar Kliwon Solo, Jawa Tengah, Kamis (20/2).

Puluhan Ribu Jamaah Berdoa untuk Keselamatan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Puluhan Ribu Jamaah Berdoa untuk Keselamatan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Puluhan Ribu Jamaah Berdoa untuk Keselamatan Indonesia

Dari pantauan Pondok Pesantren An-Nur Slawi, masjid berlantai empat itu penuh-sesak dengan jamaah. Sedangkan sisanya mesti rela berada di luar masjid, meluber hingga sepanjang jalan Kapten Mulyadi. Jalan yang menghubungkan Solo-Sukoharjo tersebut bahkan mesti ditutup selama dua hari untuk menghindari kemacetan.

“Haul Habib Ali di Solo ini bahkan lebih besar dibanding haul yang diselenggarakan pada tanggal yang sama, di tempat asal Habib Ali, Hadramaut Yaman,” terang Rais Syuriyah PCNU Sukoharjo KH Ahmad Baidlowi, yang ikut hadir dalam acara haul.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sekitar pukul 8 pagi, Acara haul diawali dengan lantunan qasidah karya Habib Ali Al-Habsyi. Dilanjutkan dengan pembacaan manaqib Habib Ali dan tausiah dari beberapa ulama, di antaranya Habib Muhammad bin Husein bin Ahmad Al-Habsyi (Yaman) dan Habib Umar Abdul-Qadir Jilani.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Di akhir acara, para jamaah berdoa untuk keselematan negara Indonesia. “Sebagaimana kita berkumpul hari ini, semoga kita kelak dikumpulkam dengan para aulia. Semoga Indonesia dijauhkan dari segala bala,” doa Habib Umar Al-Jilani yang diamini oleh jamaah. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ulama, RMI NU, Internasional Pondok Pesantren An-Nur Slawi