Tampilkan postingan dengan label Pertandingan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertandingan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Februari 2018

Kiai se-Jatim akan Ikuti Konferensi Internasional di Pesantren Sukorejo Situbondo

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Jelang pemilu, Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Hasyim Muzadi mengumpulkan ratusan kiai pengasuh pesantren se-Jawa Timur, di pesantren Sukorejo, Sukorejo, Probolinggo, 29-30 Maret 2014.

Kiai se-Jatim akan Ikuti Konferensi Internasional di Pesantren Sukorejo Situbondo (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai se-Jatim akan Ikuti Konferensi Internasional di Pesantren Sukorejo Situbondo (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai se-Jatim akan Ikuti Konferensi Internasional di Pesantren Sukorejo Situbondo

Sekretaris Jenderal Internasional Conference of Islamic Scholars (ICIS) itu mengemas pertemuan itu dalam bentuk konferensi internasional yang menghadirkan sejumlah narasumber dari dalam dan luar negeri. Rencananya, acara tersebut bakal dibuka oleh Menteri Agama Suryadharma Ali dan Wakil Menteri Luar Negeri Wardhana.

Hasyim Muzadi mengatakan, acara tersebut punya beberapa tujuan. Yaitu untuk dalam negeri, pihaknya akan memberikan pemahaman kepada kalangan pimpinan pesantren tentang demokrasi yang kini berkembang di Indonesia.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Nilai Pancasila kini ditinggalkan orang karena budaya politik dan hukum. Demokrasi politik sekarang tak seimbang dengan perkembangan demokrasi ekonomi," katanya kepada wartawan di kantor ICIS, Jakarta, Kamis (27/3/2014).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurutnya, demokrasi sekarang sedang dikuasai oleh pemilik modal. Akibatnya yang berkembang di Indonesia saat ini adalah demokrasi transaksional. "Maka tanggung jawab dari orang yang terpilih hasil pemilu legislatif dan pemilu presiden adalah mengembalikan Indonesia ke nilai-nilai Pancasila," terang kiai asal Bangilan Tuban ini.

Acara tersebut, katanya, sengaja digelar di pesantren Sukorejo yang terbesar untuk wilayah timur Jawa Timur. Pesantren itu pulalah yang menjadi saksi sejarah lahirnya khittah NU saat Muktamar NU pada 1984.?

"Di pesantren ini pula NU memutuskan hubungan antara agama dan negara serta agama dan Pancasila. Saat itu, NU yang dipimpin Kiai Ahmad Shiddiq menjadi satu-satunya ormas Islam ? yang mengakui Pancasila sebagai bentuk negara," katanya.

Selain itu, katanya, kegiatan tersebut juga punya tujuan untuk level internasional. Yaitu soal perdamaian di kawasan Timur Tengah. Karena itulah, acara ini juga mengundang sejumlah pembicara dari Timur Tengah. Yaitu Syiria, Qatar, Maroko, Aljazair, dan Irak. "Kami ingin melihat perkembangan Timur Tengah setelah Arab Spring yang masih ditandai dengan pergolakan di Mesir dan Syiria," terangnya.

Terkait itu, Hasyim mengatakan, melalui acara itu, pihaknya ingin mengingatkan kepada umat Islam di seluruh dunia bahwa moderasi adalah jalan yang terbaik untuk menciptakan perdamaian di dunia. "Untuk umat Islam di Indonesia, kita ajak kembali ke Islam moderat yang rahmatan lil alamin," jelasnya.

Selama ini, katanya, ICIS yang dipimpinnya telah mengembangkan pengertian dan implementasi Islam yang rahmatan lil alamiin, promosi Pancasila di luar negeri sebagai alternatif ideologi negara pluralis ? tanpa terikat dengan sekularisme atau fundamentalisme.?

"Di dalam negeri ICIS menangkal terorisme global yang masuk ke Indonesia dengan pencerahan ahlussunnah dan faham moderat. Semua langkah ini menuju terjadinya moderasi nasional dan internasional.?

Lebih dari itu, Hasyim ingin mengangkat kembali marwah NU, kiai dan ulama Indonesia yang belakangan dinilai oleh pihak luar negeri mengalami penurunan. "Perlu kita angkat kembali marwah NU dan pesantren di mata dunia internasional," katanya. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pahlawan, Pertandingan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 02 Februari 2018

Menyimak Perempuan Bercelak Tebal

Oleh Abdullah Zuma



Seumur-umur, saya tidak pernah menaiki gedung bertingkat, kata orang mencakar langit. Wasilah seorang teman, saya penah merasakannya. Hingga ke lantai 39 malah. Di lantai tersebut, saya masuk ke salah satu ruangan yang asri dan segar. Di situ terdapat sekelompok orang berkumpul.?

Dan saya kaget, mereka sedang berlatih menulis! Gila, menulis saja, harus di lantai 39, pikir saya.?

Menyimak Perempuan Bercelak Tebal (Sumber Gambar : Nu Online)
Menyimak Perempuan Bercelak Tebal (Sumber Gambar : Nu Online)

Menyimak Perempuan Bercelak Tebal

Lalu, saya duduk di kursi, di samping teman saya yang mengajak. Beberapa kursi kosong karena orang yang berlatih itu duduk lesehan. Di deretan kursi tersebut, sejajar dengan saya ada seorang perempuan berambut panjang bergelombang. Wajahnya bermake-up tebal. Kelopak matanya bercelak tebal hitam dengan alis lurus, sementara ujung ujungnya melengkung bukan ke bawah, tapi ke atas. Alis itu semacam tanduk saja.?

Ia berbaju putih dan bercelana jens hitam ketat. Tubuhnya sintal. Sesekali ia menyimak pembicaraan narasumber. Tapi lebih sering memainkan ponselnya. Entah main game, chating, atau hanya memainkan ponsel saja.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Teman saya mendekatinya. Rupanya dia kenal. Keduanya bercakap akrab. Entah apa yang diobrolkan. Saya kemudian menyimpulkan perempuan itu bukan seorang peserta menulis. Mungkin salah seorang teman dari peserta, atau pembicara, panitia, atau entahlah.

Kemudian saya memerhatikan narasumber yang bercerita tulisan Watergate di Amerika. Membahas bagaimana menulis liputan panjang dan detail dan enak dibaca. Peserta berjumlah belasan orang itu tekun menyimak. Sekali dua, muncul pertanyaan. Si narasumber menjelaskan. Diam-diam saya menyimak.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sewaktu istirahat, seluruh pesarta dan narasumber makan siang. Saya pun ikut. Sesekali ingin mencicipi makanan lantai 39. Ketika sedang menikmati makanan, sengaja saya duduk dekat perempuan bercelak tebal meski tak berani membuka obrolan.?

Ia kemudian dihampiri narasumber tadi. Mereka pun bercakap.?

Diam-diam saya menyimak perempuan bercelak tebal dan narasumber. Ternyata yang diobrolin adalah pasangan hidup. Dalam hal ini perempuan bercelak tebal sedang membeberkan ciri-ciri dambaan calon suaminya. Ternyata bukan harta, tahta, atau rupa yang diinginkan, melainkan ras atau warna kulit!

“Gue ingin cowok bule!” ungkapnya.

Narasumber terdiam sebentar. Tapi kemudian bertanya.

“Kenapa ingin bule? Pria lokal juga masih banyak, kayak gue...haha,” godanya.?

“Sama pria lokal, gue nggak nafsu.”

“Ama gue berarti lu nggak nafsu?” tanya narasumber sambil ketawa lagi.?

Perempuan itu tak menanggapinya. Ia malah memperhatikan ponselnya.

“Ya, ya, sudah melakukan upaya apa untuk dapat bule?”

“Ada sih yang udah mau, tapi di negaranya, dia berprofesi sebagai polisi. Gue takut sama polisi, takut disiksa. Males!" tegasnya sambil mengangkat bahu. "Padahal dia sudah mau ikut agama gue,” lanjutnya.

“Terus!”

“Terus ada orang New Zealand. Dia siap menikah, tapi sayang, tidak mau disunat. Dia tidak mau ikut agama gue. Gue nggak mau juga nikah beda agama. Ribet!”

“Hmmm... lesbi aja gimana, hahaha?”

“Wah, itu kan menyimpang dan dilarang sama agama.”

Sampai di situ saya menyimak perempuan bercelak tebal karena si narasumber mengajaknya mengisi perut. Kemudian keduanya makan duduk jauh dari saya. Jadi, tidak tahu cerita selanjutnya.?

Sepanjang perjalanan pulang masih terngiang percakapan perempuan bercelak tebal dengan narasumber. Saya sempat menanyakan asal daerah perempuan bercelak tebal itu kepada teman. Teman saya menyebut satu daerah di Sumatera. Saya mengangguk-angguk. ?

Kemudian, saya dan teman pun terpisah jalan. Tapi perempuan bercelak tebal masih terus bergelayut dalam ingatan. Ketika mendekati kontrakan saya, tak sadar kaki menendang botol air mineral. Saat itu, tiba-tiba ingat istilah “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah”.





Penulis lahir di Sukabumi, pernah nyantri di Pondok Pesantren Assalafiyah Nurul Hikmah Parungkuda?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pertandingan, Sholawat Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 31 Januari 2018

NU Bisa Menjadi Pandangan Umum Lewat Peran Media

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Media saat ini sangat mempengaruhi pola pikir masyarakat. Anak sekolah lebih terpengaruh oleh media dibanding dengan gurunya. NU bisa menjadi pandangan umum masyarakat jika kita bisa berperan dalam media, khususnya media online.

Demikian ditegaskan oleh aktivis sosial, pegiat media sekaligus Pimred Pondok Pesantren An-Nur Slawi, Savic Ali yang menjadi narasumber dalam kegiatan Workshop ‘Penguatan Jaringan Anti-Radikalisme di Dunia Maya untuk Ulama Muda’ Selasa (16/6) di Hotel Acacia Jakarta Pusat.

NU Bisa Menjadi Pandangan Umum Lewat Peran Media (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Bisa Menjadi Pandangan Umum Lewat Peran Media (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Bisa Menjadi Pandangan Umum Lewat Peran Media

Savic menambahkan, bahwa kiai kharismatik masih sangat dibutuhkan oleh sebagai panutan masyarakat serta kiai-kiai di kampung dengan pemahaman Islam yang membumi. Masyarakat kita butuh patron atau kiai. Tetapi, sekarang dengan media, masyarakat tidak butuh bertanya kepada kiai, cukup di media. “Hal ini jadi tantangan besar bagi generasi NU untuk aktif menyebarkan paham NU di tengah masyarakat,” ujarnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dia melanjutkan, fungsi media adalah sebagai katalis untuk melakukan perubahan. Media online lebih murah daripada membangun media cetak sehingga dakwah agama bisa dilakukan melalui online. “Asal kita konsisten dan fokus sehingga terkelola dengan baik,” tuturnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Tantangan media Islam moderat sangat besar, ucapnya, karena media didominasi oleh situs-situs radikal. Optimisme media moderat lebih banyak sehingga tantangan bisi dihadapai dengan baik. Internet bisa dimanfaat kan untuk membangun pemahman NU di tengah masyarakat.

“Ciri media sosial adalah viral, sangat kuat, jika kita mampu menciptakan konten. Media sosial juga ? mampu mempengaruhi kondisi psikis seseorang. ? Nah, jika setiap Pesantren mampu membuat portal Islam tersendiri mempunyai potensi yang sangat besar. Jika tiap pesantren mengumpulkan ribuan alumninya untuk mengisi portal atau situs dengan menulis berita. Sehingga NU akan mendominasi dunia maya,” tukas Savic. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pertandingan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 24 Januari 2018

Tradisi Haul, Wujud Penghormatan terhadap Leluhur

Kudus, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Selama bulan Muharram, banyak masyarakat mengadakan peringatan haul makam leluhur, seperti para wali, pendiri desa/kota, atau lainnya. Mereka mengemas acara dengan berbagai bentuk, dari tahtimul Quran, tahlilan, hingga ganti luwur (penutup makam) dan pengajian umum.

Tradisi Haul, Wujud Penghormatan terhadap Leluhur (Sumber Gambar : Nu Online)
Tradisi Haul, Wujud Penghormatan terhadap Leluhur (Sumber Gambar : Nu Online)

Tradisi Haul, Wujud Penghormatan terhadap Leluhur

Di Kudus, kegiatan haul tradisi buka luwur makam para wali atau ulama besar sudah menjadi kebiasaan yang turun-temurun. Sejak awal Muharram, buka luwur makam Sunan Kudus diadakan selama sepekan mulai 1-10 Muharram. Kemudian berlanjut pada haul santrinya Sunan Kedu di Desa Gribig (13 muharram), dan buka luwur Sunan Muria setiap 15 Muharram sebagai puncak acaranya.

Di sejumlah desa, masyarakat hampir secara? berurutan waktunya juga memperingati? haul. Terakhir, tepatnya Sabtu-Ahad (22-23/11) ini, warga desa Padurenan Gebog Kudus memperingati haul ulama asal Madura, Raden Muhammad Syarif, di Kompleks Makam dan Masjid Asy-syarief desa setempat.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

?

Menurut pengurus Syuriah PCNU Kudus KH Ahmad Asnawi, tradisi haul para wali atau ulama besar merupakan wujud rasa menghormati dan mencintai para leluhur. Dikatakan, ulama yang peringati haul ini diyakini memiliki peran penting terhadap tumbuh kembangnya ajaran Islam di masing-masing tempat.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Sudah sewajarnya, masyarakat menghormatinya karena waliyullah berdakwah agama Islam yang dibawa dari pendahulunya, termasuk ajaran Rasulullah guna mencerahkan semua umat," katanya di depan jamaah Masjid Asysyarif Padurenan Gebog Kudus, Jumat (21/11).

KH. Ahmad Asnawi mengajak masyarakat melanjutkan estafet perjuangan para wali atau ulama pendahulu seraya menjaga warisannya seperti pendidikan, madrasah, ajaran ilmunya ataupun amalannya.

"Sikap menjaga warisannya inilah yang sebetulnya menjadi hakekat cinta (haqiqatul mahabbah) yang sebenarnya kepada para wali, ulama dan leluhur. Ini harus kita uri-uri (lestarikan) dan lestarikan dalam bentuk tradisi haul," tandasnya.

?

Pernyataan senada juga disampaikan Sekretaris PCNU Kudus Agus Hari Ageng. Menurutnya, di samping harus dijaga sebagai budaya, haul memiliki nilai-nilai budi luhur terkait ajaran? wali. ?

?

"Karena haul atau buka luwur jangan hanya dimaknai sebatas tradisi ritual belaka. Tetapi terkandung makna meneladanitokoh atau wali? Allah," terangnya kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi.

Ia mengharapkan tradisi ini harus dilestarikan sebagai upaya mengingatkan ajaran atau amalam dari sosok? yang penuh budi pekerti. Dengan demikian, tidak kehilangan jati dirinya dalam mengaktualisasikan nilai-nilai agama. (Qomarul Adib/Mahbib)

?



Foto: Suasana? acara khatmil Quran sebagai rangkaian peringatan haul Raden Muhammad Syarief desa Padurenan Gebog Kudus, Sabtu (22/11).

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pertandingan, Warta, Lomba Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Yayasan Mahyal Ulum Al-Aziziyah Aceh Luncurkan STISNU Berbasis Pesantren

Aceh, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pimpinan Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Mahyal Ulum Al-Aziziyah Tgk H H Faisal Ali secara simbolis meresmikan perdana perkuliahan berbasis pesantren Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nadhlatul Ulama (STISNU) Aceh yang beralamat di Sibreh Suka Makmur, Aceh Besar, Senin (5/10). STISNU merupakan satu-satunya sekolah tinggi di Aceh Besar yang mewajibkan mahasiswanya mondok di pesantren.

“Hal ini bertujuan menyinkronisasi antara pendidikan kampus dan pendidikan dayah di mana mahasiswa selain mendapatkan ilmu di kampus juga dibekali ilmu agama di dayah,” kata Lem Faisal.

Yayasan Mahyal Ulum Al-Aziziyah Aceh Luncurkan STISNU Berbasis Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Yayasan Mahyal Ulum Al-Aziziyah Aceh Luncurkan STISNU Berbasis Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Yayasan Mahyal Ulum Al-Aziziyah Aceh Luncurkan STISNU Berbasis Pesantren

STISNU, menurut Lem Faisal, memiliki nilai tambah dibanding sekolah sekolah tinggi lainnya. Di antaranya, dengan perpaduan metodologi sains dan pengajian salafiyah yang diharapkan mahasiswa mampu memahami kitab kuning di samping kompetensi akademik lainnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Semoga dengan diresmikannya STISNU ini, ke depannya mampu melahirkan lulusan mahasiswa yang bermutu dan berkompeten," kata Lem Faisal.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ketua STISNU Aceh Tgk H Muhammad Hatta mengatakan, kampus ini nantinya diharapkan mampu mencetak kader-kader hafiz.

? "Kita ingin memperkenalkan bahwa perguruan tinggi harus memiliki landasan-landasan yang paling kokoh, yaitu landasan ahlussunnah wal jamaah," katanya.

Ia berharap generasi Aceh ke depan melalui STISNU ini menjadi generasi yang memiliki kualitas intelektual dan juga memiliki basis kedaerahan.

"Ini merupakan sebuah gagasan untuk menghindari pemahaman yang selama ini kerap jadi perbincangan di Aceh dengan berbagai berbagai persoalan, dan juga melahirkan kader-kader ulama yang berintelektual yang akan memberikan pemahaman ke masyarakat dan diharapkan mampu tampil di nasional dan interasional," ujarnya.

Untuk tahun pertama, STISNU Aceh sudah membuka dua pilihan jurusan, S1 Hukum Ekonomi Syariah dan Hukum Keluarga berdasarkan surat izin dari Dirjen Pendidikan Tinggi Islam RI.

"Dengan jumlah dosen yang mengajar berjumlah 14 orang yang ahli di bidangnya masing-masing serta dengan jumlah mahasiswa sebanyak 62 mahasiswa untuk kedua prodi tersebut," ujarnya. (Zikirullah Al-Farisi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pertandingan, Halaqoh Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 23 Januari 2018

Pesan Idul Adha Gus Mus

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Idul Adha atau yang sering disebut juga sebagai Hari Raya Kurban identik dengan kisah pengorbanan Nabi Ibrahim dan anaknya Ismail. Sejarah tersebut memberikan pelajaran berharga bagi perjalanan hidup manusia terkait ketaatan, keihklasan, pengorbanan, dan peneguhan terhadap agama Allah.

Terkait dengan pelajaran dari kisah sejarah Nabi Ibrahim tersebut, Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang, Jawa Tengah KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) memberikan penegasan di momen Idul Adha 1438 H bahwa manusia harus memotong sifat-sifat kebinatangannya.

Pesan Idul Adha Gus Mus (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesan Idul Adha Gus Mus (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesan Idul Adha Gus Mus

Sejurus dengan penegasan tersebut, Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini juga memberi pesan sebaliknya bahwa seseorang harus menghidupkan sisi-sisi kemanusiaan yang ada pada dirinya.

“Mari kita ‘sembelih hewan’ kita dan kita ‘hidupkan manusia’ kita,” ujar Gus Mus lewat akun twitter pribadinya, Jumat (1/9) dalam tajuk #TweetJumat.

Wakullu ãmin waAntum bikhair. Ãmïn,” imbuh Rais Aam PBNU 2014-2015 ini dalam cuitan yang sama.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Taushiyah singkat dalam tajuk #TweetJumat memang rutin disampaikan Gus Mus. Tak terkecuali Jumat kali ini yang tepat bersamaan dengan jatuhnya Idul Adha 1438 H.

Cuitan Gus Mus tersebut mendapatkan ribuan respon dari follower-nya yang saat ini berjumlah 1,24 juta follower. Mereka mengamini pesan yang disampaikan Gus Mus ketika kondisi saat ini justru an-nafsu hayawaniyah (nafsu kebinatangan) yang ditonjolkan.

“Sedih Gus, zaman sekarang yang disembelih malah kemanusiaan,” ujar akun bernama Andri Somantri merespon Gus Mus.

Senada dengan Andri Somantri, Mas Suyatno juga menegaskan bahwa dari kisah Nabi Ibrahim dan Ismail, manusia dapat mengambil pelajaran bahwa dua Nabi panutan tersebut menyembelih nafsu kebinatangan demi kemanusiaan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Nah ini kelucuan yang Benar dalam pengertian Kurban. Sebagaimana Ibrohim dengan Putranya. Menyembelih kebinatangannya demi kemanusiaannya,” jelas Suyatno mengamini pesan Gus Mus.

Sampai berita ini ditulis, cuitan Gus Mus disukai 2.273 follower, 2.530 dibagikan (retweet), dan 85 follower membalas (replay) dengan berbagai ungkapan kalimat. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Bahtsul Masail, Pertandingan, Hikmah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 20 Januari 2018

Doa Sejahtera dan Mandiri usai Jumatan

Rasulullah SAW kerap membaca doa ini setelah shalat Jumat. Doa berikut ini berisi permohonan penting yang diawali dengan pujian. Dalam doanya berikut ini, Rasulullah SAW meminta harta halal, memohon bimbingan agar selalu berada di jalan Allah, dan memohon karunia-Nya semata. Berikut ini doanya.

Doa Sejahtera dan Mandiri usai Jumatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa Sejahtera dan Mandiri usai Jumatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa Sejahtera dan Mandiri usai Jumatan

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Allâhumma yâ ghaniyyu yâ hamîd, yâ mubdi’u wa yu‘îd, yâ rahîmu yâ wadûd. Aghninî bi halâlika ‘an harâmik, wa thâ‘atika ‘an ma‘shiyatik, wa bi fadhlika ‘an man siwâk.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Artinya, “Ya Allah, Yang Maha Kaya, Maha Terpuji, Maha Pencipta, Maha Kuasa Mengembalikan, Maha Penyayang, dan Maha Kasih. Cukupi aku dengan harta halal-Mu, bukan dengan yang haram. Isilah hari-hariku dengan taat kepada-Mu, bukan mendurhakai-Mu. Cukupi diriku dengan karunia-Mu, bukan selain-Mu.

Doa ini dianjurkan dibaca sebanyak empat kali setelah Jumat setelah membaca musabbi‘at. Tentunya sebelum shalat dua rakaat ba‘diyah Jumat. Siapa saja yang melazimkan doa ini niscaya Allah cukupi kebutuhannya dari rezeki yang tidak terduga. Makna doa ini secara mendalam dapat ditemukan pada Maraqil Ubudiyah ala Bidayatil Hidayah karya Syekh M Nawawi Banten. (Alhafiz K)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pertandingan, Khutbah, Daerah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 12 Januari 2018

Membumikan Makna Ber-Tadarus

Oleh Wasid Mansyur

Salah satu ritual dalam bulan Ramadan yang diyakini sangat penting bagi umat Islam adalah tadarus Al-Qur’an. Tidak salah bila kemudian, di berbagai masjid dan musholla ditemukan mereka meramaikannya dengan membaca Al-Qur’an setelah sholat Tarawih, bahkan ada sebagian yang mengadakannya diwaktu yang berbeda.?

Membumikan Makna Ber-Tadarus (Sumber Gambar : Nu Online)
Membumikan Makna Ber-Tadarus (Sumber Gambar : Nu Online)

Membumikan Makna Ber-Tadarus

Respon positif atas tradisi tadarus Al-Qur’an menandakan bahwa umat Islam di Indonesia masih memiliki kesadaran religius yang cukup tinggi, khususnya dalam membaca Al-Qur’an. Tapi, lebih dari itu perlu perenungan kembali, sejauh mana efek ritual ini dalam kehidupan sosial dan kebangsaan kita sebab Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, tapi perlu dipahami dan diamalkan kandungannya.?

Secara kebahasaan, kata Tadarus berarti saling belajar dari kata dasar Darasa (belajar). Secara praktik, tadarus Al-Qur’an dimaknai dengan ritual membaca Al-Qur’an yang dilakukan minimal dua orang, yakni satu di antara keduanya membaca dan yang lain menyimak. Maka, tidak bisa dikatakan tadarus bila hanya dilakukan sendirian, tanpa kehadiran yang lain.

Dari ini, ada dua makna penting dari tradisi tadarus untuk direnungkan agar kemudian bermakna dalam konteks sosial dan berbangsa. Pertama, dilihat dari si-pembaca. Pembaca Al-Qur’an dalam ritual tadarus harus jeli dan teliti agar bacaannya tidak salah, sekaligus memiliki kerendahan hati kepada orang lain (penyimak) bila kemudian ada proses pembenaran terhadap bacaan yang kurat tepat.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jeli dan teliti serta didukung oleh kerendahan hati menjadi sangat penting dalam kehidupan yang lebih luas. Tapi, memang problem terkini dalam kehidupan beragama, khususnya, masih didominasi oleh sikap individu yang jeli dan teliti terhadap keyakinannya sendiri, tapi bersifat angkuh dan sombang dalam melihat keyakinan orang lain yang berbeda. ?

Kedua, dilihat dari si-penyimak. Sebagaimana mafhum, ia bertugas mendengarkan dan mengamati bacaan sekaligus akan mengganti posisi pembaca pertama, bila kemudian berhenti. Karenanya, si-penyimak tidak boleh santai, bahkan harus siap siaga mengawal bacaan agar tetap sesuai dengan pakem-pakem yang ditentukan dalam membaca Al-Qur’an.

Dari sini, maka kesadaran pembaca dan penyimak itu penting, bahkan menentukan kualitas bacaan Al-Qur’an itu lebih bermakna. Secara sosiologis fenomena ini mengajarkan bahwa saling belajar antar sesama adalah keniscayaan hidup dalam sebuah bangsa, yakni belajar tentang bagaimana pentingnya menghormati dan menghargai posisinya masing-masing. ? ?

Tradisi tadarus mengajarkan tentang pentingnya harmoni dalam semua lini kehidupan sebab sangat mustahil bangsa ini akan besar, bila masih ada sebagian orang baik individu maupun kelompok lebih suka menebarkan teror kepada orang lain, sebagaimana bacaan Al-Qur’an itu tidak memastikan tepat bila hubungan si-pembaca dan si-penyimak tidak ada sikap saling mengingatkan, terlebih bila tidak harmoni antar keduanya.

Tadarus sebagai kritik

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Konkretnya dalam ranah sosial, bisa dipahami bahwa upaya penggagalan secara paksa oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam (baca; FPI) baru-baru ini terhadap Ibu Shinta Nuriyyah Abdurrahman Wahid yang mengadakan buka bersama lintas agama di Semarang menunjukkan bahwa mereka belum berhasil memaknai kemuliaan ritual bertadarus, lebih-lebih menangkap dan mempraktikkan momentum kemuliaan bulan Ramadhan dalam kehidupan sosial.

Ketidak-berhasilan menangkap dan mempraktikkan nilai-nilai hakiki dari Islam, khususnya dari ritual tadarus dan puasa Ramadhan, mendorong FPI terus terjebak pada formalitas beragama. Padahal, Islam mengajarkan bahwa untuk menjadi Muslim yang baik tidak cukup hanya mengikuti perintah Allah secara formal, tapi perlu adanya kesanggupan dirinya untuk tidak menyakiti orang lain, yakni mempraktikkan keluhuran budi pekerti (akhlak al-karimah).

Dalam konteks ini, Imam Al-Ghazali mengatakan dalam bukunya Ayyuha al-Walad (wahai seorang anak), bahwa keluhuran budi pekerti bisa dibuktikan dengan tidak mendorong orang lain secara paksa mengikuti anda.Tapi, lebih dari itu anda harus terdorong mengikuti kemauan mereka sepanjang tidak bertentangan dengan shari’at. Jadi, apa yang dilakukan oleh FPI sangat jauh dari prinsip luhur akhlak al-karimah sebab cenderung memaksa dan menebarkan teror kepada orang lain. ?

Padahal apa yang dilakukan Ibu Shinta dengan bersahur dan berbuka bersama secara terbuka dengan masyarakat lintas agama bertujuan untuk mendidik publik akan pentingnya pertemuan antar iman. Dari sini diharapkan terajut secara terus menerus kerukunan antar beragama sebagaimana menjadi cita-cita mediang suaminya Gus Dur, termasuk dalam rangka merawat nilai ideologi Pancasila dan konstitusi berbangsa.

Akhirnya, semua pihak harus menangkap dan mempraktikkan makna tradisi bertadarus dalam konteks sosial dan berbangsa. Dari sini, diharapkan tercipta tatanan sosial penuh damai, tanpa teror. Dan aparat pemerintah harus hadir, tidak boleh absen dalam menjaga negara ini dari tindakan individu atau kelompok yang sengaja bertentangan dengan prinsip-prinsip Pancasila dan konstitusi berbangsa. Semoga.

Wasid Mansyur

Akademisi UIN Sunan Ampel Surabaya, Pegiat Komunitas Baca Rakyat (KOBAR) Jawa Timur.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pertandingan, Tokoh Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 08 Januari 2018

Siswa SD di Surakarta Tebar Ajakan Peduli Lingkungan

Solo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Siswa Sekolah Dasar (SD) Ta’mirul Islam Surakarta mengampanyekan gerakan peduli lingkungan melalui aksi yang digelar di kawasan Car Free Day (CFD) di Jalan Slamet Riyadi Kota Solo, Ahad (15/11). Acara yang diisi dengan kegiatan jalan dan bersepeda sehat tersebut, diikuti ratusan siswa dan guru.

Siswa SD di Surakarta Tebar Ajakan Peduli Lingkungan (Sumber Gambar : Nu Online)
Siswa SD di Surakarta Tebar Ajakan Peduli Lingkungan (Sumber Gambar : Nu Online)

Siswa SD di Surakarta Tebar Ajakan Peduli Lingkungan

Sembari menyusuri rute mulai dari halaman SD Ta’mirul dan berakhir di daerah Purwosari, para siswa yang berjalan kaki dan bersepeda, menyampaikan pesan untuk peduli terhadap lingkungan kepada warga dengan membawa beberapa poster, yang antara lain bertuliskan “Bebaskan Lingkungan Sekitar dari Sampah”, “Save Our Earth” dan lain sebagainya.

Panitia kegiatan Nur Mahmud menjelaskan kegiatan yang bertemakan “Mewujudkan Sikap Kepahlawanan Melalui Peduli Lingkungan” ini dimaksudkan untuk mengajak siswa melakukan aksi nyata terhadap kebersihan lingkungan, yang antara lain diwujudkan dengan memunguti sebagaian sampah yang ada di sekitar jalan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Melalui aksi ini, harapannya siswa tidak hanya melihat, tetapi juga ikut melakukan aksi nyata untuk ikut peduli terhadap lingkungan mereka,” terang Mahmud, saat ditemui di lokasi acara.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Salah satu siswa yang ikut dalam kegiatan aksi tersebut, Talita Atisomya Aprinasia, mengatakan dirinya juga ingin menjadi pahlawan lingkungan. “Tadi ikut membersihkan selokan dan membuang sampah,” ujar siswi kelas III itu.

Acara aksi peduli lingkungan pada pagi itu, juga dimeriahkan dengan pementasan musik, musikalisasi puisi dan pantomim yang ditampilkan kolaborasi antara guru dan siswa. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Makam, Pemurnian Aqidah, Pertandingan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 29 Desember 2017

Pilih Pakaian Jelang Lebaran? Perhatikan Hal Berikut

Surabaya, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Hal melekat dan tidak dapat dipisahkan dari Ramadhan adalah berbelanja. Termasuk pakaian baru dan makanan untuk persiapan hari raya Idul Fitri. Namun ada sejumlah saran dari perancang busana muslimah ini kepada muslimin dan muslimat saat memilih pakaian untuk hari raya.

Pilih Pakaian Jelang Lebaran? Perhatikan Hal Berikut (Sumber Gambar : Nu Online)
Pilih Pakaian Jelang Lebaran? Perhatikan Hal Berikut (Sumber Gambar : Nu Online)

Pilih Pakaian Jelang Lebaran? Perhatikan Hal Berikut

"Unsur pertama yang tidak dapat ditawar adalah harus menutup aurat," kata Ana Farhasy kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi, Kamis (25/6). Pemilik Majmal Boutique di Malang dan Surabaya ini menandaskan, bahwa hingga kini masih marak pakaian yang terkesan islami namun belum bisa dikategorikan menutup aurat.

Mbak Ana, sapaan akrabnya kemudian memberikan penjelasan soal penggunaan kerudung yang asal-asalan. "Demikian juga pakaian minimalis yang terkadang mempertontonkan sebagian aurat perempuan," terangnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pertimbangan lain yang harus menjadi perhatian adalah  pakaian muslim, khususnya bagi perempuan atau muslimah adalah simpel dan elegan. "Ini juga seperti tagline butik yang kami miliki," katanya sembari berpromosi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Secara rinci, desainer baju muslimah ini menyarankan saat memilih pakaian untuk lebaran agar memastikan bahan yang nyaman dan dingin. "Karena saat lebaran nanti kondisi cuaca diperkirakan panas," terang alumnus pesantren di Bangil, Jawa Timur ini. Hal tersebut, lanjutnya, ditambah dengan mobilitas saat silaturahim ke sanak saudara yang pastinya ada peningkatan cukup tinggi dibanding hari sebelumnya.

Juri sejumlah kegiatan fashion show ini sangat tidak sepakat dengan pandangan bahwa untuk memilih baju lebaran harus mahal. "Modelnya simpel saja tapi tetap nyaman dipandang," terangnya. Bahkan ia menyarankan jangan sampai berpenampilan dengan pakaian glamor, baik dari sisi rancangan dan aksesoris yang dikenakan.

Untuk pilihan warna, pegiat majlis taklim bagi kalangan ibu dan remaja putri ini juga menyarankan memilih yang sejuk. "Hindari warna hitam dan gelap lantaran tidak bisa menyerap keringat," pungkas ibu satu anak ini. (Syaifullah/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Hadits, Pertandingan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 24 Desember 2017

Bupati Sidoarjo Apresiasi Perkembangan Pesat RSI Siti Hajar

Sidoarjo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi 

Bupati Sidoarjo, H Saiful Ilah memberikan apresiasi kepada jajaran pengurus Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Hajar Sidoarjo baik Direksi maupun BPMNU atas usahanya dalam mengembangkan Rumah Sakit sampai maju dan berkembang pesat. Hal ini ditegaskan bupati usai menerima kunjungan direksi dan jajaran RSI Siti Hajar di rumah Dinas Bupati Sidoarjo.



Bupati Sidoarjo Apresiasi Perkembangan Pesat RSI Siti Hajar (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Sidoarjo Apresiasi Perkembangan Pesat RSI Siti Hajar (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Sidoarjo Apresiasi Perkembangan Pesat RSI Siti Hajar



"Kami sangat mengapresiasi atas perkembangan RSI Siti Hajar yang semakin pesat. Pemkab Sidoarjo sangat memperhatikan tentang pelayanan kesehatan dari segi anggarannya. Semoga RSI Siti Hajar bisa memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi dalam memberikan pelayanan kepada pasien," kata Abah Ipul, panggilan akrabnya, Kamis (28/9).

Abah Ipul menjelaskan, pihaknya turut andil dalam sejarah berdirinya RSI Siti Hajar Sidoarjo, yang awalnya bernama BKIA (Balai Kesehatan Ibu dan Anak). Salah satu dokter RSI Siti Hajar yang dikenalnya dan sangat akrab sejak awal pendirian RSI Siti Hajar yakni dokter Moersintowarti.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Sidoarjo mendapatkan penghargaan dari Menteri PAN RB atas Kinerja pelayanan, perijinan terbaik se-Indonesia. Saya juga berharap RSI Siti Hajar bisa membuat layanan cathlab untuk pusat jantung dan saraf, yang didukung oleh dokter spesialis yang kompeten, agar pasien tidak usah jauh-jauh berobat ke luar negeri," harapnya.

Menanggapi hal itu, Direktur RSI Siti Hajar, H Hidayatullah menegaskan, RSI Siti Hajar Sidoarjo terus berupaya memberikan pelayanan terbaik kepada para pasien. Terbukti beberapa waktu yang lalu, RSI Siti Hajar meraih kategori terbaik di bidang kesehatan dalam NU Award. Selain itu, pihak Rumah Sakit juga berupaya menjadikan Rumah Sakit sebagai rumah sehat yang bisa dinikmati tak hanya keluarga pasien, melainkan masyarakat Sidoarjo secara umum.

"Kami juga terus berupaya memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Hal ini bisa diketahui dengan adanya peningkatan beberapa bangunan seperti menambah ruang cuci darah (hemodialisa) di lantai dua Darul Royan, ruang pertemuan Darun Naim RSI Siti Hajar Sidoarjo, di lantai tiga yang mempunyai ukuran sekitar 8x30 meter persegi, videotron dan masih banyak lagi yang lainnya," ujar dokter spesialis saraf itu. (Moh Kholidun/Kendi Setiawan)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pertandingan, Fragmen, Hikmah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 19 Desember 2017

Usung Tema Beda dan Setara, Gusdurian Solo Siapkan Nobar Film Toleransi

Solo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Untuk meramaikan Peringatan Hari Toleransi, Jaringan Gusdurian Kota Solo akan mengadakan kegiatan nonton bareng (nobar) film, yang bertemakan tentang pesan toleransi. Kegiatan tersebut akan dilaksanakan di di Taman Cerdas, Jebres, Sabtu (19/11) malam.

Usung Tema Beda dan Setara, Gusdurian Solo Siapkan Nobar Film Toleransi (Sumber Gambar : Nu Online)
Usung Tema Beda dan Setara, Gusdurian Solo Siapkan Nobar Film Toleransi (Sumber Gambar : Nu Online)

Usung Tema Beda dan Setara, Gusdurian Solo Siapkan Nobar Film Toleransi

Pegiat Jaringan Gusdurian Bondowoso Bahar mengatakan kegiatan nonton film yang digagas bersama Komunitas “Nandur” tersebut akan mengajak para warga sekitar untuk ikut menontonnya.

“Harapannya agar pesan ajakan toleransi juga bisa tersampaikan luas, bahkan kepada warga kampung sekalipun," kata dia.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ia berharap dari kegiatan tersebut? juga dapat menumbuhkan semangat menghargai perbedaan, memperluas jaringan semangat GusDurian dan membumikan 9 nilai-nilai Gus Dur

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dengan mengusung tema “Beda dan Setara”, Bahar dan kawan-kawannya juga ingin mengajak diskusi para pesrta untuk lebih memahami arti toleransi.

“Selain nonton film, kita juga adakan diskusi yang menghadirkan para tokoh dari Kota Solo,” imbuhnya. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pertandingan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 17 Desember 2017

Wujudkan Generasi Ramah, Perkemahan Rohis Nasional Dibuka Hari Ini

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Perkemahan Rohis Nasional ke-2 yang diselenggarakan oleh Direktorat PAI Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama telah siap dibuka pada Selasa (3/5) di Bumi Perkemahan Cibubur Jakarta. Dengan mengambil tema Membangun Generasi Emas, Ramah, dan Bermartabat, kegiatan ini berupaya mewujudkan organisasi Rohis yang ramah dan tidak eksklusif.

Dalam keterangan yang diterima Pondok Pesantren An-Nur Slawi dari Humas Kementerian Agama, 1800 anggota Rohis dari tingkat SMA/SMK siap ditempa untuk mewujudkan kecintaannya kepada agama, bangsa, dan negara. Menurut keterangannya, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin akan membuka langsung kegiatan dua tahunan ini.

Wujudkan Generasi Ramah, Perkemahan Rohis Nasional Dibuka Hari Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Wujudkan Generasi Ramah, Perkemahan Rohis Nasional Dibuka Hari Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Wujudkan Generasi Ramah, Perkemahan Rohis Nasional Dibuka Hari Ini

Keterangan tersebut juga menerangkan bahwa sebagai bagian dari generasi emas bangsa, mereka dalam wadah Perkemahan Rohis akan mengaktualisasikan dirinya sebagai insan maju, berperadaban, cinta damai, toleran, dan anti-radikalisme.

Seperti diberitakan sebelumnya, stigma sebagai organisasi tertutup (eksklusif) dari Rohis sehingga menjadi bagian dari penyebaran paham-paham radikal harus dihilangkan.

“Ada isu negatif, Rohis dianggap menjadi bagian dari penyebaran paham-paham radikal, bahkan terorisme. Ini jangan sampai terjadi,” ucap Dirjen Pendis Kemenag RI Kamaruddin Amin dalam konferensi pers, Kamis (28/4) lalu di Kantor Kemenag RI Lapangan Banteng Jakarta Pusat terkait dihelatnya kegiatan Perkemahan Rohis tersebut.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurut Kamaruddin, kesan Rohis sebagai organisasi tertutup dan eksklusif harus dihilangkan. Bukan saja untuk mengantisipasi masuknya berbagai pemikiran-pemikiran radikal yang biasanya cenderung tertutup dan mengisolasi diri dari masyarakat, namun juga untuk memberikan kesempatan yang lebih luas kepada para siswa untuk belajar agama.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Kita ingin mewejudkan Rohis ini sebagai organisasi terbuka agar semakin banyak siswa yang ikut. Belajar agama kan tidak perlu ditutup-tutupi. Selain itu, kalau bersifat terbuka maka para guru bisa lebih mudah melakukan pendampingan, dengan tetap memberikan ruang kepada mereka untuk melakukan aktualisasi diri,” kata Kamaruddin. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Jadwal Kajian, RMI NU, Pertandingan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 12 Desember 2017

Wapres dan Tiga Menteri Akan Hadiri Haul Gus Dur di Tebuireng

Jombang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Menjelang pelaksanaan haul KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Pesantren Tebuireng Jombang, sejumlah persiapan sudah dilakukan panitia. Salah satunya adalah menginventarisir tamu kehormatan acara yang akan dilaksanakan Senin (5/1/2015) nanti di Tebuireng. 

Peringatan wafatnya Almarhum presiden keempat RI itu, menurut hasil rapat panitia Senin malam (22/12) di Aula Pondok tersebut. Wakil Presiden RI M Jusuf Kalla beserta tiga menteri Kabinet Kerja akan hadir dalam acara nanti. Ketiga menteri itu adalah Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, serta Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.

Wapres dan Tiga Menteri Akan Hadiri Haul Gus Dur di Tebuireng (Sumber Gambar : Nu Online)
Wapres dan Tiga Menteri Akan Hadiri Haul Gus Dur di Tebuireng (Sumber Gambar : Nu Online)

Wapres dan Tiga Menteri Akan Hadiri Haul Gus Dur di Tebuireng

“Dari yang disampaikan ketua panitia penyelenggara H Lukman Hakim, kepada kami, Wapres dan tiga menteri itu sudah positif akan hadir nanti,” kata Teuku Azwani salah satu panitia kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sementara untuk Prresiden Joko Widodo masih belum ada kepastian tentang kehadirannya. “Kalau presiden belum memastikan, dan panitia masih menunggu kabar selanjutnya dari istana,” pungkas Azwani.

Sedangkan kebiasaan pada tahun-tahun sebelumnya di Tebuireng, acara haul Gus Dur tidak hanya dilaksanakan satu hari. Ada beberapa rangkaian kegiatan sebelum acara puncak. Informasi yang diperoleh Pondok Pesantren An-Nur Slawi, saat peringatan haul Gus Dur kelima oleh Seribu Rebana di depan kantor MWC NU Gudo, Sabtu (20/12) lalu. Jam’iyah Shalawat Seribu Rebana akan tampil di Tebuireng pada Ahad malam (4/1/2015) nanti. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Haul Gus Dur di Tebuireng nanti, seribu rebana mendapat kesempatan untuk tampil pada tanggal 4 Januari 2015,” kata KH Nur Hadi (Mbah Bolong) saat berceramah saat itu. (romza/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Hadits, Pertandingan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 11 Desember 2017

Mengelak Nyolong Kambing

Pagi-pagi Haji Karjo sudah terlihat panik. Berkali-kali ia berteriak. Kambing yang bakal ia sembelih untuk hari raya kurban hilang dari kandang. Sudah kesana kemari mencari ke hampir seluruh sudut desa namun hasilnya nihil.

Hingga akhirnya ia lapor ke kantor polisi. Hanya satu orang yang Pak Haji Curigai: Bang Joker. Semalam ia memergoki Joker mondar-mandir di belakang rumahnya tanpa tujuan yang jelas. Haji Karjo juga sekilas melihat kambing di rumah Joker yang sangat mirip dengan kambing miliknya.

Mengelak Nyolong Kambing (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengelak Nyolong Kambing (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengelak Nyolong Kambing

Saat diintrograsi polisi, Joker mengelak keras.

“Saudara berani bersumpah?” Desak polisi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Sumprit, bukan saya Pak!” Kata Joker.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Terus, kenapa ada kambing mirip kambing Pak Haji di rumahmu? Katanya kamu enggak punya kambing?”

“Emm…” Joker gelagapan. “Gini, Pak. Sebenarnya saya cuma mau mengambil talinya Pak Haji. Ee, enggak tahunya kambingnya ikut. Jadi, bukan salah saya kan, Pak?”

“…..!!?”

(Khoiron)


Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Meme Islam, Pertandingan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 08 Desember 2017

Empat Siswa SMK Nuris praktik Kerja di Thailand

Jember, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Empat Siswa SMK Nurul Islam (Nuris), Antirogo, Jember, Jawa Timur, Senin (22/5) bertolak ke Thailand untuk melakukan praktik kerja lapangan. Mereka adalah Ahmad Mawardi dan Ahmad Subairi dari jurusan Teknik Komputer Jaringan (TKJ), Aji Arifur Rahmad dari jurusan Teknik Kendaraan Ringan (TKR), dan Nur Imam Mafatih dari jurusan Teknik Sepeda Motor (TSM).

Empat Siswa SMK Nuris praktik Kerja di Thailand (Sumber Gambar : Nu Online)
Empat Siswa SMK Nuris praktik Kerja di Thailand (Sumber Gambar : Nu Online)

Empat Siswa SMK Nuris praktik Kerja di Thailand

Pelepasan keempat siswa terpilih tersebut dilakukan oleh pengasuh Pondok Pesantren Nuris di Masjid Baitun Nur, yang diramaikan oleh penampilan tim hadrah Ashabul Muhyid Nuris.

Keempat siswa SMK Nuris tersebut akan melakukan praktik kerja di beberapa industri di Thailand hingga tanggal 14 Juni 2017. Misalnya siswa jurusan Teknik Komputer Jaringan (TKJ) akan praktik di beberapa perusahaan jaringan, sedangkan siswa jurusan Teknik Kendaraan Ringan dan Teknik Sepeda Motor (TSM) akan praktik di beberapa bengkel otomotif yang ada di negeri gajah putih tersebut.

Menurut salah seorang pengasuh pondok Pesantren Nuris, Antirogo, Jember, Gus Robith Qashidi, praktik kerja di Thailand tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan dan skill siswa sesuai dengan jurusannya masing-masing serta ? untuk memperluas wawasan mereka khususnya tentang budaya di Tahilnad. Dan tentu saja untuk menebar ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

"Kami ingin santri Nuris punya wawasan global, namun tetap mempunyai jatidiri sebagai santri ? Aswaja. Karena itu, kami terus berusaha untuk mengirimkan santri-sanri Nuris ke beberapa negara Timur Tengah dan kawasan Asia," tukas Gus Robit Qashidi (Aryudi A. Razaq/Mahbib)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi





Pondok Pesantren An-Nur Slawi

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pertandingan, Makam, Tokoh Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 05 Desember 2017

IPPNU-IPNU dari 50 Perguruan Tinggi Bertemu di Bojonegoro

Bojonegoro, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Silaturahim Nasional (Silatnas) III Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT) Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) akan digelar di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Rencananya kegiatan tersebut diadakan di Wisma Toyo Aji Desa Wedi, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, Sabtu (21/11) besok.

Silatnas kali ini mengusung tema “Memperkuat Kaderasasi di Kancah Perguruan Tinggi”. Ketua PC IPNU Bojonegoro M. Masluhan mengaku, para peserta dimungkinkan akan tiba di Kota Ledre Jumat (20/11) ini. Sebelum ke lokasi kegiatan, mereka akan berkumpul di kantor PCNU Bojonegoro.

IPPNU-IPNU dari 50 Perguruan Tinggi Bertemu di Bojonegoro (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU-IPNU dari 50 Perguruan Tinggi Bertemu di Bojonegoro (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU-IPNU dari 50 Perguruan Tinggi Bertemu di Bojonegoro

"Bojonegoro menjadi tuan rumah, Silatnas yang pertama diadakan di Surabaya dan yang kedua di Jombang," jelasnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Mantan ketua Pimpinan Anak Cabang IPNU Kapas itu menjelaskan, setidaknya ada PKPT IPNU-IPPNU dari 50 perguruan tinggi yang hadir. Mereka terdiri dari ketua dan sekretaris serta simpatisan. "Selain sharing program, kegiatan Silatnas juga untuk memberikan rekomendasi ke Kongres IPNU-IPPNU di Boyolali, Desember mendatang," lanjutnya.

Ia menambahkan, mereka juga akan diberi materi kewirausahaan dan tentang akademik dari Pimpinan Wilayah (PW) IPNU Jawa Timur. "Terpenting acara ini menjadi silaturahim antarbanom NU di perguruan tinggi," pungkasnya. (M. Yazid/Mahbib)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pertandingan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 04 Desember 2017

Datangi Rapimnas Pagar Nusa, BNPT: Radikalisme Dikembangkan dari Lapas

Semarang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Direktur Deradikalisasi Badan Nasional Penaggulangan Terorisme (BNPT) Prof Dr Irfan Idris MA memastikan radikalisme tidak muncul dari pesantren. Beberapa kasus menunjukkan bahwa radikalisme justru dikembangkan dari lembaga pemasyarakatan (lapas).

“Pernah ada seorang peneliti Barat yang menyamar menjadi pengajar bahasa Inggris. Ia meyimpulkan bahwa tidak ada ajaran radikalisme di pesantren. Dia bahkan tidak mau balik dan ingn terus hidup dalam suasana damai di pesantren,” katanya.

Datangi Rapimnas Pagar Nusa, BNPT: Radikalisme Dikembangkan dari Lapas (Sumber Gambar : Nu Online)
Datangi Rapimnas Pagar Nusa, BNPT: Radikalisme Dikembangkan dari Lapas (Sumber Gambar : Nu Online)

Datangi Rapimnas Pagar Nusa, BNPT: Radikalisme Dikembangkan dari Lapas

Irfan Idris dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Pencak Silat NU Pagar Nusa di Pondok Pesantren Azzuhri Ketileng Semarang, Jum’at (27/3), mengatakan, dalam kurikulum pesantren, apalagi telah terdaftar di Kementerian Agama, tidak satu pun ditemukan materi yang mengajarkan radikalisme dan terorisme.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dia menambahkan, justru radikalisme bisa muncul dan dikembangkan dari lapas. “Pertama karena di sana kurang SDM dan kedua over kapasitas,” katanya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurutnya, bahkan ada petugas lapas yang menjadi pengikut narapidana teroris. “Hari pertama dia memarah-marahi narapidana. Tapi berikutnya dia terus diceramahi tentang agama dan tentang jihad dan hari kedua dia jabat tangan, dia diceramahi lagi akhirnya hari ketiga dia cium tangan,” katanya.

Dikatakan, para teroris yang berada di lapas perlu penanganan ekstra. Jika tidak ditangani dengan tepat justru dari lapas itu mereka menyebarkan radikalisme.

“Misalnya di lapas itu hanya keluarga yang boleh menjenguk, tapi mereka boleh membawa handphone. Ini harus kita waspadai. Sekarang kita ada pemikiran para teroris itu dipindahkan semua tahannya ke tempat jang jauh,” katanya.

Dalam kesempatan itu ia menerangkan, 12 dari 16 warga Indonesia diduga telibat ISIS telah dipulangkan dari Suriah. BNPT akan melakukan pembinaan dengan berbagai pendekatan baik pendekatan agama, psikologi, maupun kewirausahaan.

“Kalau perlu kita memakai pendekatan hipnotrapis. Saya kira Pagar Nusa banyak yang ahli di bidang ini,” katanya.

Di hadapan para pimpinan Pagar Nusa yang hadir dari berbagai daerah di Indonesia, ia berharap para pendekar tidak hanya berlatih silat tetapi juga membekali diri dengan berbagai pengetahuan dan pendalaman keislaman.

“Kita juga perlu mengimunisasi nahdliyin dari serangan ideologi kelompok radikal. Jangan sampai kita didebat (oleh kelompok radikal) tidak bisa menjawab,” katanya. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pertandingan, Pahlawan,Attijani Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 01 Desember 2017

23 Mahasiswi Afganistan Belajar di Perguruan Tinggi NU

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jumat (25/10), menyambut dan memberikan pembekalan kepada 23 calon mahasiswi Afganistan yang akan belajar di salah satu perguruan tinggi NU. Mereka akan mendapatkan beasiswa penuh dari PBNU untuk belajar di Fakultas Ekonomi, Farmasi, FISIP dan Ilmu Hukum.

23 Mahasiswi Afganistan Belajar di Perguruan Tinggi NU (Sumber Gambar : Nu Online)
23 Mahasiswi Afganistan Belajar di Perguruan Tinggi NU (Sumber Gambar : Nu Online)

23 Mahasiswi Afganistan Belajar di Perguruan Tinggi NU

“Selamat datang di Indonesia. Ini adalah negara kalian juga. Selamat datang di kantor PBNU. NU adalah organisasi Islam yang mengembangkan ajaran ahlussunnah wal jamaah, sama seperti Afganistan,” kata Sekjen PBNU H Marsudi Syuhud saat menyambut para calon mahasiswi di kantor PBNU sambil memberikan motivasi kepada para calon mahasiswi.

23 calon mahasiswi dari Afganistan berusia 19-23 tahun yang merupakan perwakilan dari beberapa wilayah di Afganistan. Mereka akan menempuh pendidikan di Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang selama empat tahun. Namun sebelumnya mereka akan mengikuti matrikulasi bahasa Indonesia selama satu tahun.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Mereka tiba di bandara internasional Soekarno-Hatta sejak Selasa (21/10) kemarin. Mereka beristirahat dan dikenalkan tentang NU dan budaya dan bahasa Indonesia. Selama tiga hari mereka telah lancar mengatakan “Apa kabar”.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Salah seorang perwakilan calon mahasiswa, Masauda Monica mengatakan, dia dan teman-temannya seperti bermimpi bisa datang ke Indonesia dan belajar di perguruan tinggi NU.

“Mimpi kami sudah menjadi kenyataan. Kami akan belajar dengan keras. Kami berharap bisa membawa banyak ilmu ke Afganistan,” kata Masauda dalam bahasa daerah Afganistan yang diterjemahkan oleh seorang penerjemah. Sebagian mahasiswi masih menggunakan bahasa lokal, dan tidak bisa berkomunikasi dengan bahasa Arab atau Inggris.

Masauda bercerita, pada awalnya, saat tiba di bandara mereka ragu dan takut belajar di Indonesia. Namun setelah tiga hari mendapat pengarahan dari para tokoh NU, mereka kembali bersemangat dan ingin segera belajar.

Ufi Ulfiyah dari pengurus pusat Lakpesdam NU yang mendampingi para calon mahasiswi bercerita, sebagian mereka masih tercengang dengan Indonesia, terutama terkait kebebasan kaum perempuan saat berada di luar rumah.

“Di Afganistan kalau kita keluar ke warung kita diawasi dari kaki sampai kepala. Tapi di sini kita lihat banyak perempuan-perempuan bebas di jalan-jalan raya,” kata Ufi menirukan mereka.

Para calon mahasiswa Afganistan juga sempat tegang saat berada di kendaraan dari bandara Soekarno-Hatta. “Waktu itu jalan raya dalam kondisi macet. Mereka mengira sedang ada bom atau keributan,” kata Ufi.

Usai menerima pembekalan dari PBNU para calon mahasiswa juga sempat diajak mengunjungi beberapa ruangan di kantor PBNU seperti ruang redaksi Pondok Pesantren An-Nur Slawi di lantai 5 dan Pojok Gus Dur di lantai dasar.

Selain Sekjen PBNU, para calon mahasiswa juga disambut langsung oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan Wakil Ketua Umum PBNU KH As’ad Said Ali, Wakil Sekjen PBNU Abdul Munim DZ dan Enceng Shobirin, dan Adnan Anwar, serta Ketua PP LAZISNU KH Masyhuri Malik dan Wakil Ketua PP Lakpesdam Lilis Nurul Husna.

Sabtu (26/10) besok para calon mahasiswa akan langsung berangkat ke Unwahas Semarang. Mereka akan tinggal di asrama dan berbaur dengan mahasiswi NU lainnya. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pertandingan, Nahdlatul, Doa Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 30 November 2017

Kajian Islam Tentang Lingkungan Masih Minim

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi
Kajian Islam mengenai lingkungan masih sangat minim, padahal banyak sekali teks Al Quran yang memberi perintah manusia  untuk memperhatikan dan memelihara alam, kata Tokoh Agama yang juga pengasuh Pondok Pesantren Darut Tauhid, Cirebon, Husein Muhammad.

"Sampai kini kajian Islam mengenai lingkungan sangat minim dan tidak intensif, malahan justru dimarjinalkan, padahal banyak sekali teks-teks Al Quran tentang alam ini," kata Husein Muhammad yang berbicara dalam Lokakarya "Merumuskan Peran Umat Islam dalam Konservasi Alam dan Lingkungan Hidup" di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jakarta, Selasa.

Menurut Husein, kajian Islam soal lingkungan sangat penting karena motivasi agama dinilai signifikan untuk mensosialisasikan gagasan lingkungan hingga ke masyarakat di pelosok tanah air.

Ia juga mengakui umat Islam cenderung kurang memiliki kepedulian  pada lingkungan, padahal ayat-ayat Al Quran mengenai lingkungan cukup banyak. Karena itu umat Islam perlu disadarkan kembali kepada pedomannya.

Surat Ar Rum: 41 di mana Allah mengatakan, "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)" merupakan contoh jelas tentang kerusakan alam.

Contoh lainnya, urainya,  Surat Al Baqarah (2:284) yang menyatakan bahwa seluruh alam adalah milik Tuhan, bahwa apa yang diciptakan Tuhan  tidak ada yang sia-sia (Surat Ali Imran 4:190-191) dan alam semesta diciptakan serba berukuran (Al Qamar, 54:49).

Jika manusia diberi hak  atau izin memanfaatkan alam bagi kebaikan dirinya maka manusia diperintahkan bertindak sesuai aturan moral, jika tidak maka tindakan itu hanya akan merugikan diri mereka sendiri seperti pada Surat 2:188, 5:18, 59:7, 107:1-7 dan lainnya.
Tuhan, ujar kyai yang sering diundang FAtayat NU sebagai narasumber tersebut, juga mengecam manusia yang merusak alam seperti tertulis dalam Surat 2:60, 2:205, 7:56, 7:85, 28:88, 26:183 dan lainnya. Dan bahwa tindakan merusak alam adalah bentuk kezaliman dan kebodohan manusia.

Dalam konteks pesantren, kyai masih menjadi sentral bagi perubahan sosial sehingga pendekatan konservasi alam melalui tokoh-tokoh agama, menurut dia, sangat tepat.

Pondok pesantren tercatat sebanyak 11.312 buah di seluruh Indonesia dengan jumlah santri lebih dari 2,7 juta jiwa di mana  78 persen atau  8.829 pesantren berada di pedesaan, dan sisanya  di daerah pertanian dan pegunungan. Kenyataan ini dinilai berpotensi sebagai lokomotif bagi penularan kesadaran konservasi alam.

"Menggunakan tokoh agama untuk mensosialisasikan perlunya pemeliharaan lingkungan sangat tepat, seperti juga dulu ketika mensosialisasikan Keluarga Berencana (KB), umat Islam berperan aktif setelah adanya keterlibatan tokoh agama padahal sebelumnya sulit," katanya.

Menurut dia, menggunakan ayat-ayat suci Al Quran dan ulama dalam mensosialisasikan suatu kebaikan merupakan hal yang dibenarkan, dan akan menjadi salah jika penggunaan ayat dan tokoh agama adalah untuk kepentingan pribadi atau politik.(ant/mkf)

 


 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Tokoh, Pertandingan, Anti Hoax Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kajian Islam Tentang Lingkungan Masih Minim (Sumber Gambar : Nu Online)
Kajian Islam Tentang Lingkungan Masih Minim (Sumber Gambar : Nu Online)

Kajian Islam Tentang Lingkungan Masih Minim