Tampilkan postingan dengan label Ahlussunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahlussunnah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Maret 2018

Ribuan Jamaah Hadiri Ansor Bershalawat

Kudus, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Ribuan jamaah menghadiri kegiatan Ansor bershalawat yang diadakan di Gedung Graha ? Mustika Getas Pejaten Kudus, Senin (20/5) malam.?

Mereka yang berasal dari penjuru kota Kudus itu memadati ruangan maupun halaman dengan duduk lesehan sejak awal hingga akhir acara.

Ribuan Jamaah Hadiri Ansor Bershalawat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Jamaah Hadiri Ansor Bershalawat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Jamaah Hadiri Ansor Bershalawat

Dengan penuh hidmat dan semangat, mereka larut berdoa dan bersholawat bersama kiai maupun habaib. Apalagi iringan grup rebana al-Mubarok Qudsiyyah Kudus yang kompak dan rancak menambah suasana kegiatan yang dikemas pengajian umum ini semakin syiar dan semarak.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ketua PC GP.Ansor Kudus Ghofar mengatakan Ansor bersholawat ini dimaksudkan untuk memperingati hari lahir ke-79 GP Ansor dan mensyiarkan sekaligus meneguhkan ideologi Islam Aswaja, memperkuat ukhuwah Islamiyah, nahdliyah dan basyariyah.

“Melalui shalawat kita mengharap ridlo Allah supaya Ansor mampu menanamkan semangat perjuangaan untuk benar-benar menjelma ? kembali seperti pemuda pada masa Rasulullah,” ujarnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Disamping itu, Ansor mendorong terciptanya masyarakat yang penuh kesejukan serta kedamaian masyarakat terutama suasana Pilkada yang saat ini masih berlangsung. ?

“Kota Kudus yang religius ini, harus tetap tenang, kondusif, aman, tidak terjadi gesekan antar kelompok,” katanya.

Ia menyatakan Ansor–banser siap bekerja sama untuk ikut mengamankan kota Kudus tetap kondusif dengan terjaga ketenangan dan kedamaiannya. ?

“Kemarin malam (Ahad 19/5-- red) Ansor telah melakukan pembaiatan 1000 anggota Banser di pondok Qosimiyyah Selalang untuk menguatkan posisi Banser sebagai pengawal ? ulama, NU dan NKRI serta secara khusus pengamanan jelang dan pasca Pilkada Kudus,” tandas Ghofar.

Mauidhoh hasanah dalam acara tersebut diberikan oleh sejumlah kiai Kudus secara bergantian, yakni KH Halim Ma’ruf, KH Ahmad Asnawi dan terakhir ditutup dengan mauidhah Habib Luthfie bin Yahya asal Pekalongan.

Yang menambah suasana semakin semarak, disela-sela acara ditampilkan juga dua pelawak kondang kota kretek Marhabanan dan Muncul ? menghibur para jamaah. Dari lawakannya yang berisi dakwah ini mengundang tawa jamaah tidak kecuali kiai dan habaib yang hadir.?

Selain sejumlah kiai dan habaib, Ketua PP Lembaga Perguruan Tinggi NU H Noor Ahmad dan Ketua Umum GP Ansor Nusron Wahid turut hadir dalam kegiatan yang berakhir pukul 24.30 ini.

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ahlussunnah, Pahlawan, Anti Hoax Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 27 Februari 2018

Meyegerakan Amal Kebaikan

Barang siapa dibukakan pintu kebaikan baginya, maka hendakah dia menggunakan kesempatan itu, sebab tidak diketahui kapan pintu kebaikan itu ditutup baginya.

Ø¥Ù? ÙŽÙ‘ الْحَمْدَ لِلَّهِ Ù? َحْمَدُهُ ÙˆÙŽÙ? َسْتَعِÙ? Ù’Ù? ُهُ ÙˆÙŽÙ? َسْتَغْفِرُهْ ÙˆÙŽÙ? َعُوذُ بِاللهِ مِÙ? Ù’ شُرُوْرِ Ø£ÙŽÙ? ْفُسِÙ? َا وَمِÙ? Ù’ سَÙ? ِّئَاتِ أَعْمَالِÙ? َا، Ù…ÙŽÙ? Ù’ Ù? َهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ ÙˆÙŽÙ…ÙŽÙ? Ù’ Ù? ُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِÙ? ÙŽ لَهُ. وَأَشْهَدُ Ø£ÙŽÙ? Ù’ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِÙ? ْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ Ø£ÙŽÙ? ÙŽÙ‘ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى Ù? َبِÙ? ِّÙ? َا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ ÙˆÙŽÙ…ÙŽÙ? Ù’ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَاÙ? ٍ إِلَى Ù? َوْمِ الْقِÙ? َامَةِ. Ù? َا Ø£ÙŽÙ? ُّهَا الÙ? َّاسُ أُوْصِÙ? ْكُمْ وَإِÙ? َّاÙ? ÙŽ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْÙ? ÙŽ. قَالَ تَعَالَى: Ù? َا Ø£ÙŽÙ? ُّهاَ الَّذِÙ? Ù’Ù? ÙŽ ءَامَÙ? ُوا اتَّقُوا اللهَ Ø­ÙŽÙ‚ÙŽÙ‘ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُÙ? ÙŽÙ‘ إِلاَّ ÙˆÙŽØ£ÙŽÙ? تُمْ مُّسْلِمُوْÙ? ÙŽ. قَالَ تَعَالَى: Ù? َا Ø£ÙŽÙ? ُّهَا الÙ? َّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِÙ? Ù’ خَلَقَكُمْ مِّÙ? Ù’ Ù? َفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِÙ? ْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِÙ? ْهُمَا رِجَالاً كَثِÙ? ْرًا ÙˆÙŽÙ? ِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِÙ? Ù’ تَسَآءَلُوْÙ? ÙŽ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِÙ? ÙŽÙ‘ اللهَ كَاÙ? ÙŽ عَلَÙ? ْكُمْ رَقِÙ? ْبًا. Ù? َا Ø£ÙŽÙ? ُّهَا الَّذِÙ? Ù’Ù? ÙŽ ءَامَÙ? ُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِÙ? ْدًا. Ù? ُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ ÙˆÙŽÙ? َغْفِرْ لَكُمْ ذُÙ? ُوْبَكُمْ ÙˆÙŽÙ…ÙŽÙ? Ù’ Ù? ُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِÙ? ْمًا.

Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah

Meyegerakan Amal Kebaikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Meyegerakan Amal Kebaikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Meyegerakan Amal Kebaikan



Ù…ÙŽÙ? Ù’ فَتَحَ لَهُ بَابٌ مِÙ? ÙŽ الخَÙ? ْرِ فَلْÙ? ÙŽÙ? تَهِزْهُ فَإِÙ? هُ لاَ Ù? َدْرِى مَتَى Ù? َغْلَقُ عَÙ? ْهُ

Barang siapa dibukakan pintu kebaikan baginya, maka hendakah dia menggunakan kesempatan itu, sebab tidak diketahui kapan pintu kebaikan itu ditutup baginya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabda Rasulullah saw tersebut mengandung beberapa isyarat, pertama hendaklah kebaikan segera dilaksanakan. Janganlah suka menunda-nunda amal kebajikan. Kemalasan merupakan akar penyesalan. Seberapa kecilpun sebuah kebaikan pasti memiliki makna dan arti. Janganlah menyepelekan amal kebaikan karena, bisa jadi amal yang kita sepelekan itulah yang diridhai Allah swt. dan menjadi kunci keselamatan kita di akhirat nanti. Ingatlah kisah seorang pelacur berlumur dosa yang hidupnya sesak dengan maksiat, tetapi masuk surga karena memberi minum anjing. Kadang kala amal yang sepele itu mampu memanggil ridha-Nya.

Isyarat kedua dari sabda Rasulullah saw bahwasannya manusia haruslah sadar akan posisi dirinya sebgaia seorang hamba yang lemah dan tidak mampu berbuat apa. Karena sesungguhnya kebaikan yang telah kita lakukan dan maksiat yang berhasil kita hindari semuanya itu berkat pertolongan Allah Yang Maha Kuasa. Kita sebagai seorang hamba tidak ada yang tahu kapan Allah swt menutup pintu kebaikan bagi kita, sehingga tidak ada kesempatan berbuat baik lagi bagi badan ini. Entah karena tutup usia atau karena lemah fisik yang tak terkira. Inilah sebenarnya hakikat dari makna la Haula wa la Quwwata illa Billahil ‘Aliyyin Adhim. Bahwa tidak ada kemampuan yang dapat menghindarkan kita dari maksiat dan tidak ada kekuatan yang menjadikan kita ta’at kepada-Nya kecuali hanya dari Allah swt.

Demikianlah Allah swt telah menetapkan kepada semua makhluk akan kejadian dan kelakukan mereka. Manusia tidak akan mampu melawan apa yang dikehendakinya. Oleh karenanya manusia hanya dapat memohon agar dirinya menjadi bagian dari kelompok yang beruntung.



Pondok Pesantren An-Nur Slawi

فَرَغَ رَبُّكُمْ مِÙ? ÙŽ الْخَلْقِ وَالرِّزْقِ وَالْأَجَلِ جَفَّ الْقَلَمُ ? بِمَا هُوَ كَائِÙ? ÙŒ

Tuhanmu telah selesai menciptakan, menetapkan rizqi, dan menetapkan mati. Qalam telah kering. Dengan demikian Allah tetap mengetahui apa yang terjadi.

Jika demikian halnya maka segeralah kita bertaubat mencari kerelaan-Nya atas segala dosa yang telah kita lakukan dan janganlah pernah merasa puas dengan apa yang telah kita laksanakan sebagai amal kebajikan. Bukankah amal kebajikan itu terlaksana karena ketentuan-Nya juga?



?وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِÙ? عًا Ø£ÙŽÙ? ُّهَا الْمُؤْمِÙ? ُوÙ? ÙŽ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوÙ? ÙŽ

Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung

Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah

Dunia adalah perladangan bagi akhirat. Tidak ada sesuatupun yang sia-sia di dunia ini, tidak maksyiat tidak juga amala ibadah. Semuanya ada dihitungannya, jika waktunya tiba nanti maksyiat akan membawa pelakunya ke pada siksaan-siksaan yang setimpal. Sedangkan amal kebaikan akan dibalas dengan pahala yang berwibawa. Itulah janji Allah yang telah menjadi ketetapan. Innallaha la yuhkliful mi’ad.

Rasulullah saw bersabda:



اَلدُّÙ? Ù’Ù? َا مَزْرَعَة الأَخِرَةِ فَمَÙ? Ù’ زَرَعَ خَÙ? ْرًا حَصَدَ غِبْطَة, ÙˆÙŽÙ…ÙŽÙ? Ù’ زَرَعَ شَرًّا حَصَدَ Ù? َدَامَة?

Dunia ini adalah perladangan akhirat, maka barang siapa menanam kebaikan, maka dia akan merasakan hasilnya dengan perasaan puas, dan barang siapa menanam keburukan, maka dia akan berbuah penyesalan.



بَارَكَ اللهُ لِÙ? Ù’ وَلَكُمْ فِÙ? Ù’ اْلقُرْآÙ? ِ اْلعَظِÙ? ْمِ ÙˆÙŽÙ? َفَعَÙ? ِÙ? ÙˆÙŽØ¥Ù? َّاكُمْ ِبمَا ِفÙ? ْهِ مِÙ? ÙŽ اْلآÙ? اَتِ وَالذكْر ِالْحَكِÙ? ْمِ وَتَقَبَّلَ مِÙ? ِّÙ? وَمِÙ? ْكُمْ تِلاَوَتَهُ Ø¥Ù? َّهُ هُوَ السَّمِÙ? ْعُ اْلعَلِÙ? ْمُ

Khutbah II



اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَاÙ? ِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِÙ? ْقِهِ وَاِمْتِÙ? َاÙ? ِهِ. وَاَشْهَدُ اَÙ? Ù’ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِÙ? ْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ?

اَÙ? ÙŽÙ‘ سَÙ? ِّدَÙ? َا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَاÙ? ِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَÙ? ِّدِÙ? َا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِÙ? ْمًا كِثÙ? ْرًااَمَّا بَعْدُ فَÙ? اَ اَÙ? ُّهَا الÙ? َّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِÙ? ْمَا اَمَرَ وَاÙ? ْتَهُوْا عَمَّا Ù? ÙŽÙ‡ÙŽÙ‰ وَاعْلَمُوْا اَÙ? ÙŽÙ‘ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِÙ? ْهِ بِÙ? َفْسِهِ وَثَـÙ? ÙŽÙ‰ بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِÙ? ÙŽÙ‘ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ Ù? ُصَلُّوْÙ? ÙŽ عَلىَ الÙ? َّبِى Ù? Ø¢ اَÙ? ُّهَا الَّذِÙ? Ù’Ù? ÙŽ آمَÙ? ُوْا صَلُّوْا عَلَÙ? ْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِÙ? ْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَÙ? ِّدِÙ? َا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَÙ? ْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَÙ? ِّدِÙ? اَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَÙ? ْبِÙ? آئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَارْضَ اللّهُمَّ عَÙ? ِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِÙ? Ù’Ù? ÙŽ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَاÙ? وَعَلِى وَعَÙ? Ù’ بَقِÙ? َّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَتَابِعِÙ? التَّابِعِÙ? Ù’Ù? ÙŽ لَهُمْ بِاِحْسَاÙ? ٍ اِلَىÙ? َوْمِ الدِّÙ? Ù’Ù? ِ وَارْضَ عَÙ? َّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ Ù? َا اَرْحَمَ الرَّاحِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِÙ? ِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَاْلمُؤْمِÙ? َاتِ وَاْلمُسْلِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْÙ? آءُ مِÙ? ْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَاÙ? ْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِÙ? َّةَ وَاÙ? ْصُرْ Ù…ÙŽÙ? Ù’ Ù? َصَرَ الدِّÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَاخْذُلْ Ù…ÙŽÙ? Ù’ خَذَلَ اْلمُسْلِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ ÙˆÙŽ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّÙ? Ù’Ù? ِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى Ù? َوْمَ الدِّÙ? Ù’Ù? ِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَÙ? َّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَÙ? ÙŽ وَسُوْءَ اْلفِتْÙ? َةِ وَاْلمِحَÙ? ÙŽ مَا ظَهَرَ مِÙ? ْهَا وَمَا بَطَÙ? ÙŽ عَÙ? Ù’ بَلَدِÙ? َا اِÙ? ْدُوÙ? ِÙ? ْسِÙ? َّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَاÙ? ِ اْلمُسْلِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ عآمَّةً Ù? َا رَبَّ اْلعَالَمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ. رَبَّÙ? َا آتِÙ? اَ فِى الدُّÙ? Ù’Ù? َا حَسَÙ? َةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَÙ? َةً وَقِÙ? َا عَذَابَ الÙ? َّارِ. رَبَّÙ? َا ظَلَمْÙ? َا اَÙ? ْفُسَÙ? َاوَاِÙ? Ù’ لَمْ تَغْفِرْ Ù„ÙŽÙ? َا وَتَرْحَمْÙ? َا Ù„ÙŽÙ? َكُوْÙ? ÙŽÙ? ÙŽÙ‘ مِÙ? ÙŽ اْلخَاسِرِÙ? Ù’Ù? ÙŽ. عِبَادَاللهِ ! اِÙ? ÙŽÙ‘ اللهَ Ù? َأْمُرُÙ? َا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَاÙ? ِ وَإِÙ? ْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ ÙˆÙŽÙ? ÙŽÙ? ْهَى عَÙ? ِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُÙ? ْكَرِ وَاْلبَغْÙ? Ù? َعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْÙ? ÙŽ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِÙ? ْمَ Ù? َذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ Ù? ِعَمِهِ Ù? َزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

Red. Ulil H. Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ahlussunnah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 14 Februari 2018

Dakwah Beda dengan Amar Makruf-Nahi Munkar

Demak, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Dakwah yang bijak dan santun seperti praktik Wali Songo dan para kiai di Indonesia, diangkat dari ajaran otentik Islam yang diterapkan Nabi Muhammad SAW. Karenanya, dakwah Islam itu berbeda dengan amar makruf dan nahi munkar.

Dakwah Beda dengan Amar Makruf-Nahi Munkar (Sumber Gambar : Nu Online)
Dakwah Beda dengan Amar Makruf-Nahi Munkar (Sumber Gambar : Nu Online)

Dakwah Beda dengan Amar Makruf-Nahi Munkar

Demikian dinyatakan Wakil Rais Aam PBNU KH A Musthofa Bisri yang lazim disapa Gus Mus ini dalam sarasehan Festival Wali-Wali Jawi 2014 di pendopo kabupaten Demak, Sabtu (22/2).

“Dakwah Islamiyah, tidak sama dengan amar makruf nahi munkar. Para wali dengan teliti memasukkan ajaran Islam melalui budaya yang ada,” terang Gus Mus sebagai pembicara kunci dalam sarasehan bertema “Menapak Jejak Auliya, Meneladani Kearifan Mengajak”.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Gus Mus dalam forum itu menjelaskan, cara dakwah Nabi Muhammad SAW yang diteruskan Wali Songo pada abad 14 di Pulau Jawa khususnya selalu mengedepankan kebersamaan, menggunakan pendekatan kebudayaan, dan kesenian yang berlaku.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Model dakwah ini bahkan menghindari konflik atau tersinggungnya warga setempat sehingga tujuan dakwah berhasil tanpa mengorbankan aqidah dan syari’ah. “Mereka tidak mengubah budaya lokal, tetapi mengisinya dengan ajaran Islam,” jelas Gus Mus.

Festival yang berlangsung di pendopo kabupaten ini diikuti kerajaan dan pemangku makam para wali se-Jawa. (A Shiddiq Sugiarto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ulama, IMNU, Ahlussunnah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 13 Februari 2018

Tashilul Masalik, Terjemah dan Syarah Alfiyyah Berbahasa Sunda

Ini adalah halaman muka dari kitab “Tashîlul Masâlik” yang merupakan terjemah dan penjelasan (syarh) berbahasa Sunda atas nazham al-Khullâshah atau Alfiyyah Ibn Mâlik, puisi seribu bait yang menghimpun teori ilmu gramatika Arab secara lengkap dan sangat populer keberadaannya.

Pengarang kitab “Tashîlul Masâlik fî Syarh Alfiyyah Ibn Mâlik” yang berbahasa Sunda beraksara Arab (pegon) ini adalah Ajengan Muhammad Abdullah bin Hasan dari Kampung Kongsi, Caringin, Sukabumi. Saya mendapatkan kitab ini di perpustakaan keluarga di Mirat Majalengka, milik adik saya al-Fadhil A. Gumilar Irfanullah, yang merupakan koleksi beliau saat dulu belajar di Pesantren Bait al-Arqom, Bandung.

Tashilul Masalik, Terjemah dan Syarah Alfiyyah Berbahasa Sunda (Sumber Gambar : Nu Online)
Tashilul Masalik, Terjemah dan Syarah Alfiyyah Berbahasa Sunda (Sumber Gambar : Nu Online)

Tashilul Masalik, Terjemah dan Syarah Alfiyyah Berbahasa Sunda

Dalam lembaran sejarah keilmuan Islam, kitab Alfiyyah Ibnu Mâlik demikian populer dan melegenda. Alfiyyah Ibnu Mâlik adalah salah satu pusaka dan referensi ilmu Nahwu-Sharaf (gramatika-morfologi Arab) yang paling pucuk. Pengarangnya, Ibnu Malik, dinobatkan sebagai Tâj ‘Ulamâ an-Nuhât, Mahkota Ulama Nahwu.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Semenjak masa ditulisnya hingga masa sekarang, kitab tersebut banyak dikaji dan dijadikan panduan utama di bidang kajian linguistik Arab, baik di Timur atau pun Barat. Di kalangan akademisi Barat, kitab ini terkenal dengan sebutan The Thousand Verses. Puluhan syarah (komentar atau penjelasan), hâsyiah (ulasan panjang, komentar atas komentar), dan ikhtishâr (ringkasan) telah lahir dari kitab berisi seribu bait nazmah (puisi) tersebut.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Nah, kitab Alfiyyah Ibnu Mâlik ini kemudian diterjemah dan disyarah dalam bahasa Sunda oleh Ajengan Muhammad Abdullah bin Hasan Kongsi (Sukabumi). Terjemah dan syarah ini terdiri dari dua volume (juz). Belum diketahui tahun berapa karya ini diselesaikan. Edisi pertama versi cetakan kitab ini dikeluarkan oleh “Maktabah Anda” Sukabumi (tanpa tahun), lalu dicetak ulang oleh “Maktabah al-Haram Carain” Jeddah-Singapura-Indonesia (juga tanpa tahun).

Tentang sosok penulis syarah ini, yaitu Ajengan Muhammad Abdullah bin Hasan, juga belum banyak saya dapatkan data dan informasinya. Pada kitab tersebut beliau menuliskan berasal dari Kampung Kongsi, Desa Caringin, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Tertulis dalam pembukaan kitab;

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

(Diterjemahkeun kana Basa Sunda ku jalma anu doip tur bodo Muhammad Abdullah bin Hasan urang kampong Kongsi, Desa Caringin, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi. Kalayan dingaranan ieu tarhamah ku “Tashil-ul Masalik fi Tarjamah Alfiyyah Ibnu Malik”).

Saat ini, Desa Caringin sudah menjadi kecamatan tersendiri yang merupakan pengembangan dari Kecamatan Cibadak. Saya pun mencoba menelusuri informasi keberadaan beliau dengan pergi ke Caringin, Sukabumi, yang juga kampung mertua saya.

Tak jauh dari Caringin, yaitu di Desa Babakan Tipar, Cicantayan, Sukabumi, ada sebuah pesantren salaf bernama “as-Salafiyah II”. Pengasuh pesantren ini, yaitu Ajengan KH Syihabuddin, adalah kawan dekat sang pensyarah. Diceritakan oleh istri beliau, bahwa Ajengan KH Syihabuddin dan Ajengan Muhammad Abdullah dulu sama-sama belajar di Pesantren Cibeureum, Sukabumi, pada KH Syuja’i.

KH Syuja’i Cibeureum adalah sosok yang terkenal sebagai pakar ilmu alat (nahwu) di Tatar Sunda. Salah satu kitab yang sering beliau bacakan dan ajarkan adalah Alfiyyah Ibnu Malik. Nah, keterangan yang diberikan oleh Ajengan KH Syuja’i itulah yang kemudian dirangkum oleh Ajengan Muhammad Abdullah dan dikembangkan menjadi “Tashîlul Masâlik fî Tarjamah wa Syarh Alfiyyah Ibn Mâlik” dalam Bahasa Sunda.

Selain merujuk dari keterangan KH Syuja’i Cibeureum, pensyarah juga merujuk pada kitab-kitab syarah Alfiyyah lainnya yang ditulis dalam bahasa Arab, seperti Syarah Ibn ‘Aqîl, Audhah al-Masâlik, Tanwir al-Hawalik, Dahlân Alfiyyah, Hasyiah al-Khudhari, dan lain sebagainya.

Ajengan Muhammad Abdullah termasuk sosok “santri kelana”. Beliau tidak menetap di satu tempat. Bahkan hingga usia “matang” pun beliau masih tetap belajar dari pesantren ke pesantren. Meski lahir dan besar di Kampung Kongsi, Caringin, Sukabumi, beliau pernah berkarir di Pesantren Babakan Tipar bersama KH Syihabuddin, lalu pindah ke Cisaat, lalu pindah lagi ke Cikidang. Di sanalah beliau sempat membuka pesantren hingga wafat.

Selain Ajengan Muhammad Abdullah Kongsi (Sukabumi), terdapat juga beberapa ulama Nusantara lainnya yang menulis teremah dan syarah atas nazham “Alfiyyah Ibn Mâlik”, di antaranya adalah KH Bisri Musthofa (Rembang, Jawa Tengah, ayahanda dari KH Musthofa Bisri atau Gus Mus), yang menerjemahkan dan mensyarah Alfiyyah dalam bahasa Jawa (beraksara Arab Pegon) dan diterbitkan oleh Penerbit Menara Kudus pada tahun 1960-an.

Terdapat pula KH Abul Fadhol (Senori, Tuban), yang menulis syarah Alfiyyah dalam bahasa Arab, berjudul “Tashîlul Masâlik fî Syarh Alfiyyah Ibn Mâlik”. Judul ini sama dengan yang dipakai oleh Ajengan Muhammad Abdullah Sukabumi. Syarah milik KH Abdul Fadhol Senori ditulis dalam bahasa Arab yang sangat bagus dan sempurna, juga dengan kulaitas syarah yang sangat luar biasa. Saat ini syarah tersebut dipelajari di beberapa pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur, di antaranya adalah Pesantren Sarang Rembang (Jawa Tengah) dan Pesantren Mamba’us Sholihin Gresik (Jawa Timur). (A. Ginanjar Sya’ban)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ahlussunnah, Bahtsul Masail, Internasional Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 09 Februari 2018

Cermin Spiritualitas Gus Dur

Oleh Fuad Al-Athor?

Sekira pertengahan tahun 1999 ketika hendak berangkat ke Jawa untuk kembali bergelut dengan kewajiban menimba ilmu pengetahuan, penulis melintasi kerumunan massa di samping sebuah pasar kecamatan. Ternyata sedang berlangsung perhelatan kampanye terbuka dan kebetulan dilaksanakan oleh? Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).?

Dalam salah satu orasi politiknya, seorang juru kampanye yang penulis pikir adalah seorang kiai menyampaikan agitasinya. Bapak-ibu sekalian, ikutlah Gus Dur. Sebab beliau ini orang alim, kealimannya terbukti bahwa beliau pernah mulang (ngajar) kitab Al-Hikam (kitab yang berisi tentang ilmu-ilmu hikmah ketasawwufan). Ketahuilah bahwa tidak sembarang orang mampu mengajarkan kitab tersebut. Hanya orang yang keilmuannya sudah tingkat tinggi yang berani mengajarkan isi kitab tersebut!?

Cermin Spiritualitas Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Cermin Spiritualitas Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Cermin Spiritualitas Gus Dur

Kira-kira demikianlah, argumentasi yang sampai sekarang masih bersarang di ingatan kami yang menjadi semacam rambu-rambu penunjuk arah ketika mencoba membincang sisi spiritual tokoh satu ini, Gus Dur. Rambu berikutnya adalah quote paling misterius dari beliau sendiri yang berbunyi, Guru spiritualitas saya adalah realitas dan Guru realitas saya adalah spiritualitas.?

Dua dilalah ini saja sudah cukup kemudian untuk, pada ratusan lembar-lembar kisah, dijadikan bingkai atas banyak hal dan peristiwa yang dianggap sebagai penanda spiritualitas beliau. Mulai dari keajaibannya dalam praktek, sadar dalam tidur, berkomunikasi dengan para arwah, memiliki prediksi-prediksi yang akhirnya kejadian dan banyak lagi lainnya. Ujungnya, beliau diyakini sebagai seorang waliyullah, seorang kekasih-Nya.?

Kembali ke petikan Guru spiritualitas saya adalah realitas dan guru realitas saya adalah spiritualitas, yang minim penjelasan sehingga memosisikannya sebagai teks yang terbuka terhadap tafsir. Inilah sedikit coret-coretan penulis dalam mencoba memberi catatan kaki pada teks tersebut. Tentu saja, upaya ini dimaksudkan untuk bercermin pada orang-orang Alim yang dalam bahasa santrinya adalah tabarrukan.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pendekatan yang paling memungkinkan untuk mengungkap makna dari quote tersebut adalah pendekatan maqomat/state atau kondisi spiritual yang beliau sendiri alami. Yang dalam hal ini menjelaskan, pertama; bahwa spiritualitas atau perjalanan keintiman rohani beliau pada keilahian seiring dan semakin dikuatkan dengan internalisasi tajalli beliau terhadap keesaan Tuhannya melalui realitas-realitas harian. Apakah ini mungkin? Sangat mungkin, sebab dalam dunia spiritual islam/mistik islam seseorang dimungkinkan untuk mengalami penyingkapan rohani dan mengalami musyahadah/penyaksian.?

Jika demikian, maka beliau dipastikan telah memetik mutiara dari lelaku mistik topo ngrame atau berada dalam kondisi asketis meskipun dalam kondisi bersosialisasi,solitude in the crowd di mana dalam keberlangsungan aktivitas jasadiyahnya berlangsung pula aktivitas rohaniyah secara simultan. Sehingga dalam aktivisme juga ada spiritualisme dan sebaliknya. Dari sini pula kita bisa melihat keholistikan (islam yang kaffah) praktek keagamaan Gus Dur. Tidak ada dualisme dalam melihat Realitas, ia spiritual juga real (sekuler) pada saat yang bersamaan. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran: Orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan jual beli dari mengingati Allah. (24:37). Rasulullah SAW, mengisyaratkan dalam Haditsnya tentang hal ini: Padaku terdapat dua sisi. Satu sisiku menghadap ke arah Pencipta ku dan satu sisi lagi menghadap ke arah makhluk ciptaan.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Keadaan ini yang menyebabkan seseorang tidak bisa lagi menghindar dari melihat Tuhannya dalam detik demi detik kehidupannya. Sehingga di hatinya kesadaran tauhid-nya mencapai kulminasi yang memungkinkan ia untuk menerima pelajaran-Nya dari makhluk apapun yang dilihatnya. Namun, keadaan ini tidak kemudian menjatuhkan seseorang pada posisi phanteistik. Orang sekaliber beliau mesti telah melewati perdebatan dalam dunia sufi tentang pandangan wahdatul wujud dan wahdatus syuhud. Hal ini dijelaskan oleh hal kedua, yang dapat diungkap dari frase kedua dari quote beliau tersebut ; bahwa dalam melampaui perdebatan teologis tentang posisi pengungkapan tajalliyat tersebut diekspresikan secara unik (dan sesuai jamannya) dengan spiritualitas yang bertindak. Inilah yang, hemat penulis, lebih mendekati dalam pemaknaan dari Guru realitas ku adalah spiritual.

Di sinilah letak krusialitas, -kegentingan, dari spiritualitas beliau yang tidak saja membawa kita pada kekayaan khazanah keilmuan mistik dalam tradisi islam akan tetapi juga dalam hal memajukan amaliah-amaliahnya nun jauh melampaui kungkungan simbol-simbol keagamaan, masuk pada dimensi-dimensi yang tampaknya sekuler dan hanya produk pemikiran manusia. Spiritualitas yang bergerak, yang jika meminjam istilah Immanuel kant, merupakan categorical imperative (suatu kewajiban umum yang universal) yang bersumber dari samudra kesadaran spiritual beliau, langsung dihadap-hadapkan dengan kenyataan kondisi umat islam dalam posisi struktural dan kulturalnya.?

Tugas pengabdian (ubudiyah) kemudian mendapatkan ruang praktik di mana pun, sebab Tuhan hadir pada setiap momen dan tempat yang tak terhingga. Tidak terbatas pada teks, institusi dan ritual keagamaan saja. Bagi mereka yang telah mencapai maqom kedekatan, Tuhan dapat ditemui di mana saja, bahkan, jika meminjam istilahnya Bung Karno, Tuhan bersemayam di gubuk-gubuk orang-orang lemah. Inilah universalitasnya. Sehingga, dengan kesadaran keabdiannya pula yang merasa rendah di sisi-Nya menggerakkannya untuk melakukan pembelaan sebagai kewajiban yang bersandar pada Adab-adab yang contohkan dalam Sunnah Nabi SAW. Jadi bukan dengan acting sebagai wakil-Nya melakukan pembelaan atas Tuhan seraya menyembunyikan rasa superior egonya dan menunjukkan ketidak-tahuannya posisi keabdiannya terhadap Allah SWT. Kemudian melabrak realitas apapun yang menurutnya keburukan tanpa mampu melihat kehadiran Tuhan di? dalamnya yang juga menuntut penyikapan yang berdasar pada Adab-adab Rasulillah SAW.

Itulah mengapa gagasan dan perjuangan beliau selalu mengedepankan universalitas ketimbang partikularitas. Keadaan/maqom rohaninya yang mengizinkannya melihat universalitas kebenaran, pada gilirannya akan menyediakan konsep-konsep yang kuat sekaligus ketepatan meletakkannya dalam kekhususan ruang dan waktu dengan dukungan pemahaman yang jernih terhadap struktur dan situasi sosial yang ada.

Konsekuensi dari kematangan rohaniah di atas menjembatani dua entitas yang spiritual dan yang sekuler, bahkan bisa dikatakan menyatukannya dalam apa yang dikenal dalam khazanah sufisme sebagai dawamul ubudiyah kelanggengan pengabdian. Di sini ada keterhubungan, keterikatan secara rohaniah terhadap ke-Ilahian yang bermanifestasi dalam: kekuatannya mengartikulasi nilai-nilai dasar agama dan kelenturan atau pembaharuan-pembaharuan penerapan fiqh. Dengan kata lain, kesadaran ini merangkum dari yang non-historis dan yang historis sekaligus. Sehingga bukan suatu yang aneh jika ada kaidah fiqhyah yang berbunyi ? ? ? ? ? ? ? yang mengandung semangat untuk melanggengkan sesuatu yang memang bersifat tetap dan tidak boleh berubah dan di sisi lain mengharuskan pada kesiapan-kesiapan upaya pembaharuan pada tataran yang selalu berubah atau historis.

Sebagaimana yang digariskan dalam tuntunan ulama-ulama salafus salihin mengenai manusia unggulan yang harus memiliki tiga keutamaan; 1). Kedekatan pada Hadirat Ilahi Subhanahu wa Taala dan di samping itu, 2). Berpegang teguh pada Aqidah yang sahih menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah dan, 3). Melazimkan diri beramal menuruti Sunnah Nabawiyah Sallallahu alaihi wa sallam. Tiga nilai inilah yang selalu menopang segenap sikap, perkataan, gerak dan aktivitas dari seorang yang digembleng dalam metode mistik Sunny yang melahirkan karakter kebijaksanaan, keluwesan dan moderatisme dari sosok seperti Gus Dur.

Dalam konteks yang lebih luas, melihat sosok Gus Dur tak ubahnya melihat sebutir mutiara berkilauan yang membawa penulis pada pertanyaan-pertanyaan bagaimana teknik pemotongan dan pemolesannya. Sebab yang kita saksikan adalah mutiara yang sudah jadi. Rasa penasaran ini tentu harus dikembalikan pada seperangkat metode pendidikan spiritual yang tersedia dalam islam khususnya dalam lingkungan islam tradisionalis, Nahdlatul Ulama.

Keberadaan dimensi sufistik dalam islam tradisional memberikan suatu prosedur standar dalam pembentukan pemikiran dan sikap yang memengaruhi secara dominan dalam tokoh-tokohnya. Inilah yang tidak tersedia dalam golongan yang sejak semula menolak sisi pendidikan mistik islam dan hanya bergantung pada teks ayat-ayat suci semata. Pada golongan ini, miskin akan metode tashfiyatul qolbi (pemurnian hati) yang memungkinkan terciptanya keterhubungan, kedekatan, keintiman dan gnostik, juga kurang akan praktek-praktek tazkiyatun nafsi (penyucian jiwa) yang akan menghantar pada peringai-peringai mulia; bijaksana, moderat, universalis dan berguna.



Dapat kita lihat perbedaan nyata antara keduanya jika kita melihat bagaimana kehidupan keberagamaan belakangan ini. Terbukti keluwesan, kebijaksanaan dan kebergunaan dari agama dari mereka yang sepaham dengan Gus Dur (berpaham aswaja) dibanding dengan trend-trend pemahaman keagamaan baru yang cenderung anti sosial. Bagi mereka yang setidaknya mengerti kedudukan nafs (ego) dari proses tazkiyatun nafsi tentu memiliki kesadaran bahwa meneriakkan takbir bukanlah untuk memperlihatkan kotornya nafs yang penuh dengan amarah, tapi untuk meninggikan nama-Nya dengan menaburkan kebajikan-kebajikan.

Akhirnya, demi mengingat ujaran sang juru kampanye di atas, marilah kita mengikuti, ittiba pada beliau sebagai washilah kita untuk berusaha menjadi lebih baik, lebih bisa berkontribusi bagi kemaslahatan bersama dengan meneruskan tarekat perjuangannya menciptakan kebaikan di bumi Nusantara ini.

?

Santri Pondok Pesantren Kasepuhan Qoshrul Arifin Atas Angin, Darmacaang, Cikoneng, Ciamis/Katib JATMAN DKI Jakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ubudiyah, Jadwal Kajian, Ahlussunnah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 08 Februari 2018

Universitas NU di Makassar Dipimpin Rektor Perempuan

Makassar, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Dr Ir Hj Majdah Muhyiddin Zein akhirnya terpilih sebagai rektor Universitas Islam Makassar (UIM). Pemegang kuasa Ketua Umum Yayasan Perguruan Tinggi Al-Gazali Makassar yang menaungi universitas ini, HM Aksa Mahmud resmi melantik rektor terpilih, Ahad (27/5) siang kemarin.

Pelantikan berlangsung hikmat di kampus milik Nahdlatul Ulama (NU) Sulsel ini. Turut hadir, Koordinator Kopertis Wilayah IX, Prof Dr Aminuddin Salle, SH MH, Mustasyara PBNU yang juga sesepuh NU Sul-Sel KH M Sanusi Baco, Lc, Ketua Tanfidziyah NU Sul-Sel KH M Zain Irwanto, Ketua Tanfidziyah NU Kota Makassar Dr H Abd Kadir Ahmad, MS dan civitas akademika UIM.

Demikian dikutip dari harian Fajar Makassar, Senin (28/5). Acara pelantikan diawali dengan pembacaan surat keputusan ketua yayasan. Setelahnya, dilanjutkan pernyataan dari rektor terpilih soal kesiapannya untuk mengembangkan UIM ke arah yang lebih baik. "Saya juga siap berpaya terus menambah jumlah mahasiswa UIM dari tahun ke tahun," katanya.

Universitas NU di Makassar Dipimpin Rektor Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Universitas NU di Makassar Dipimpin Rektor Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Universitas NU di Makassar Dipimpin Rektor Perempuan

Majdah juga berjanji tidak menggunakan jabatan untuk kepentingan politik. Hal ini diungkapkan atas kapasitas sebagai Istri ketua DPRD Sul-Sel Ir H Agus Airifin Numan yang juga calon wakil Gubernur Sul-Sel mendampingi H.Syahrul Yasin Limpo.

Sementara itu, Aksa Mahmud dalam sambutannya mengatakan, kampus UIM mencatat sejarah baru. Itu karena untuk pertama kalinya, kampus ini memiliki rektor perempuan. Hal itu menurut Aksa, tentu menjadi kebanggaan tersendiri.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Saya juga memandang pelantikan ini begitu istimewa. Sebab, sebelum dzuhur, saya melantik suaminya sebagai ketua Makassar Golg Club," ungkap Aksa.

Menurut Aksa, sangat jarang terjadi ada sepasang suami istri yang dilantik dalam sehari pada jabatan berbeda. Lebih istimewa lagi tambahnya, karena sepasang suami istri ini dilantik oleh orang yang sama.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Aksa berharap, hal itu bisa menjadi spirit untuk berbuat lebih baik. Sebab saat ini, masa depan UIM akan sangat ditentukan oleh kinerja dari rektornya.(bade)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ahlussunnah, Warta, News Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 05 Februari 2018

Konferensi Perdamaian Suriah Dibuka

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Konferensi perdamaian internasional Suriah sudah dibuka di Swiss dengan seruan Sekretaris Jendral Ban Ki-moon untuk membangun dialog yang mengarah ke solusi politik.

Konferensi Perdamaian Suriah Dibuka (Sumber Gambar : Nu Online)
Konferensi Perdamaian Suriah Dibuka (Sumber Gambar : Nu Online)

Konferensi Perdamaian Suriah Dibuka

Sebanyak 40 menteri luar negeri hadir dalam pertemuan di Montreux, termasuk Menlu Amerika Serikat John Kerry, yang mengatakan Presiden Assad telah kehilangan legitimasi dan harus mundur. Demikian laporan yang dilansir oleh BBC Indonesia.

Menlu Suriah, Walid Muallem, dalam pidato pembukanya yang panjang mengatakan hanya warga Suriah yang bisa memilih pemimpinnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pidatonya melewati waktu 10 menit yang ditetapkan untuk setiap pembicara dan dia mengabaikan upaya Ban untuk menyela.

"Saya memiliki hak untuk menyampaikan versi rakyat Suriah di sini," tegasnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sementara pemimpin oposisi Suriah, Ahmad Jarba, menyatakan mereka tidak bisa menerima pemerintah minoritas namun harus melibatkan semua pihak.

Konflik berdarah di Suriah ini diperkirakan sudah menewaskan 100.000 orang lebih sejak tiga tahun lalu.

Sehari sebelum konferensi yang disebut sebagai Jenewa II ini dibuka, muncul laporan yang mengatakan Suriah secara sistematis menyiksa dan mengeksekusi sekitar 11.000 tahanan sejak awal pemberontakan.

Pemerintah Suriah belum mengomentari laporan tersebut namun membantah tuduhan pelanggaran hak asasi manusia. (mukafi niam)

Foto: BBC

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ahlussunnah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 01 Februari 2018

Muslimat NU Kampanye Gerakan Masyarakat Hidup Sehat di Pandeglang

Pandeglang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi 



Pimpinan Pusat Muslimat NU mengadakan kampanye Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) di gedung MUI Kabupaten Pandeglang, Banten, Senin (13/11). Kegiatan itu dihadiri pimpinan pondok dan santri serta pimpinan majelis taklim dengan jamaahnya. Jumlah keseluruhan peserta adalah 250 orang.

Menurut Ketua Tim Germas PP Muslimat NU Erna Yuliana Sofihara, pemilihan pondok pesantren dan majelis taklim sebagai peserta karena basis anggota Muslimat NU ada di simpul simpul tersebut.

Muslimat NU Kampanye Gerakan Masyarakat Hidup Sehat di Pandeglang (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Kampanye Gerakan Masyarakat Hidup Sehat di Pandeglang (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Kampanye Gerakan Masyarakat Hidup Sehat di Pandeglang

Hal itu, kata dia, sesuai dengan rencana tindak lanjut (RTL) yang sudah dicanangkan di acara sebelumnya, yaitu orientasi Germas yang berlangsung di Serang.

Menurut Erna, kegiatan itu bertujuan meningkatkan pemahaman dan kemampuan pondok pesantren dan majelis taklim Muslimat Nadlatul Ulama tentang hidup sehat. Kemudian mereka diharapkan dapat menggerakan masyarakat, khususnya masyarakat binaanya untuk berperilaku hidup sehat.

Ia menambahkan, saat ini Indonesia dihadapkan pada masalah kesehatan dengan masih tingginya penyakit infeksi seperti infeksi saluran pernapasan atas, tuberkulosis, diare dan lainnya. Adanya peningkatan penyakit tidak menular itu seharusnya sudah teratasi. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Pada era sekitar tahun 1990, penyebab penyakit dan kematian terbesar adalah penyakit menular dan sejak tahun 2010 penyebab terbesar kesakitan dan kematian adalah penyakit tidak menular (PTM) seperti stroke, jantung, dan kencing manis,” jelasnya. 

Lebih lanjut, menurut dia, penyakit tidak menular saat ini dapat menyerang bukan hanya usia lanjut tetapi telah bergeser ke usia muda, dari semua kalangan ekonomi mampu dan tidak mampu dan tinggal di kota maupun di desa. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Penyebabnya, erat kaitannya dengan pola hidupp masyarakat yang tidak sehat seperti kurang beraktivitas fisik, perubahan pola makan masyarakat yang cenderung untuk makan makanan olahan, siap saji, tinggi gula, garam dan lemak dan kurang makanan yang berserat seperti buah dan sayur menyebabkan gangguan pencernaan, dan juga kebiasaan merokok yang dapat menyebabkan bermacam macam penyakit diantaranya kanker paru-paru, kanker mulut serta kebiasaan buang air besar sembarangan. 

Karena itu, Muslimat memandang perlunya upaya nyata dari seluruh komponen bangsa dan peran aktif organisasi masyarakat untuk bersama-sama mengatasi masalah kesehatan karena masalah kesehatan tidak dapat diselesaikan sendiri oleh sektor kesehatan. 

“Atas kondisi inilah telah diterbitkan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2017 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat disingkat Germas,” jelasnya. 

Muslimat NU sebagai penggerak masyarakat, lanjut Erna, mempunyai kapasitas untuk menggerakkan masyarakat agar meningkatkan peran aktifnya dalam peningkatan perilaku hidup sehat. Keberhasilan Muslimat NU dalam meningkatkan peran sertanya, dapat ditandai dengan adanya kader-kader kesehatan yang mampu menggerakkan masyarakat untuk meningkatkan perilaku sehat individu, keluarga dan masyarakat dalam mewujudkan keluarga sehat baik kuantitas maupun kualitas yang berdampak pada penurunan angka kesakitan dan kematian.

“Sebagai salah satu organisasi masyarakat yang mempunyai visi dan misi membangun dan memberdayakan perempuan Indonesia seutuhnya, Muslimat NU telah ikut serta mendukung program Germas sejak tahun lalu,” pungkasnya. 

Kegiatan itu dibuka Bupati Pandeglang Irma Nurulita. Ia mengapresiasi Muslimat NU yang menjadikan Pandeglang sebagai mobilisasi Germas. 

Kemudian peserta diajak senam bersama dan cek kesehatan sebagai salah satu pola hidup sehat. Lalu para peserta mendapatkan makanan ringan serta buah dan sayur. (A-Zhoem/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ahlussunnah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 31 Januari 2018

Fatayat NU Sorong Papua Barat Semarakkan Maulid dengan Barzanji

Sorong, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pimpinan Cabang Fatayat Nahdlatul Ulama Kabupaten Sorong, Papua Barat, memperingati maulid Nabi Muhammad SAW dengan membaca Maulid Al-Barzanji, di Pondok Pesantren Minhajuth Tholibin Malawele Distrik Aimas Kabupaten Sorong, Sabtu (18/1).

Fatayat NU Sorong Papua Barat Semarakkan Maulid dengan Barzanji (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Sorong Papua Barat Semarakkan Maulid dengan Barzanji (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Sorong Papua Barat Semarakkan Maulid dengan Barzanji

Iringan musik dari grup hadrah Fatayat NU turut memeriahkan acara yang ditujukan untuk menghormati hari kelahiran Rasulullah itu. Hadir dalam kesempatan ini Rais Syuriyah Pengurus Cabang NU (PCNU) Sorong H. Ahmad Sutedjo dan sejumlah pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) antardistrik.

Ahmad Suteja siang itu dalam taushiyahnya menyampaikan keutamaan memperingati maulid Nabi. Sebagai sarana mencintai Nabi, perayaan ini dinilai memberi hikmah tersediri.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dia mencontohkan kisah Abu Lahab, paman Nabi, yang begitu gembira ketika mendengar kabar dari budaknya, Tsuwaibah, bahwa keponakannya telah lahir. Bahkan, karena demikian girang Abu Lahab pun lantas memerdekakan budaknya itu sebagai wujud rasa syukur.

Abu Lahab di kemudian hari merupakan salah satu penghalang dalam perjalanan dakwah Nabi. Namun, menurut salah satu riwayat, karena kegembiraannya menyambut kelahiran keponakannya itu, ia mendapat keringanan siksa setiap Senin, hari Rasulullah keluar dari perut ibunya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Maka, bagaimana dengan umat muslim sebagai pengikutnya yang rutin memperingati Maulid Nabi? Insya Allah akan mendapat berkah dan manfaat dari Allah SWT yang berlebih,” tuturnya. (Zaenal Arifin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Halaqoh, Ahlussunnah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 25 Januari 2018

KH. Nuril Huda: Kita Diserang dari Dua Sisi

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Di saat para da’i dituntut untuk terus memberikan tausiyah moral keagamaan kepada umat, mereka juga harus berhadapan dengan dua model pemahaman keagamaan yang bertolak belakang, yang satu terlalu bebas dan yang satu lagi sangat kaku.

Demikian Ketua Umum Pengurus Pusat Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (PP LDNU) KH. Nuril Huda saat berbicara di hadapan para ketua majelis taklim se-DKI Jakarta di auditorium gedung PBNU, Jakarta, Rabu (26/7).

KH. Nuril Huda: Kita Diserang dari Dua Sisi (Sumber Gambar : Nu Online)
KH. Nuril Huda: Kita Diserang dari Dua Sisi (Sumber Gambar : Nu Online)

KH. Nuril Huda: Kita Diserang dari Dua Sisi

Para da’i diminta untuk terus memberikan pemahaman keagamaan yang benar, menjadi ummatan wasathon, tidak terlalu ke kiri dan tidak terlalu ke kanan.

“Kita sekarang diserang dari dua sisi. Satu dari Barat yang sekuler, bebas, dan hanya mengutamakan akal pikirannya saja. Satu lagi yang berfaham Wahabi, dari Timur Tengah yang terlalu ekstrem. Tentu saja, mereka tidak secara terang-terangan,” kata Kiai Nuril.

Dikatakannya, yang terpenting bagi para da’i adalah mengupayakan persatuan umat, dan tidak mudah dipecah belah. Hal ini mungkin dilakukan jika para da’i mendakwahkan Islam ala ahlussunnah wal jamaah, mengamalkan ajaran nabi dan teladan para pengikutnya, dalam pengertian tidak terpaku pada teks namun masih mengacu kepada teladan para salafus salih yang berusaha menerjemahkan ajaran Nabi.

“Memang ini sulit tapi kita harus tetap bersemangat seperti semangatnya pasukan Perang Badar yang mampu menghancurkan musuh meskipun dalam keadaan puasa dan dalam jumlah yang lebih sedikit,” kata Kiai Nuril sembari bercerita tentang ihwal diciptaannya Sholawat Badar oleh KH. Ali Mansyur dari Tuban, Jawa Timur, pada masa awal-awal kemerdekaan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Acara silaturrahmi PP LDNU dengan ketua-ketua majelis taklim se-DKI Jakarta itu akan diteruskan dengan istighotsah rutin bulanan di halaman gedung PBNU nanti malam yang dipimpin oleh KH. Hasyim Muzadi dan Habib Muhammad Luthfi bin Ali Yahya. (nam)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Olahraga, Ahlussunnah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

HIPSI Adakan Workshop Usaha Bagi Warga NU DIY

Bantul, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) mengadakan workshop pengembangan jiwa kewirausahaan bagi warga NU DIY, Sabtu siang (18/5), di STIQ An-Nur Ngrukem, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

HIPSI Adakan Workshop Usaha Bagi Warga NU DIY (Sumber Gambar : Nu Online)
HIPSI Adakan Workshop Usaha Bagi Warga NU DIY (Sumber Gambar : Nu Online)

HIPSI Adakan Workshop Usaha Bagi Warga NU DIY

Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah pengusaha NU, seperti Gus Ghozali (Ketua HIPSI), Bukhari AZ (Ketua HIPSI Jogja), Prof. Maksum (PBNU), dan Tanto (Penasehat HIPSI).

Pertemuan singkat siang itu lebih banyak diisi dengan sosialisasi akan keberadaan HIPSI itu sendiri, mulai dari sejarah berdirinya, visi misinya, dan gerakan-gerakan yang telah dilakukan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sebagai landasan gerakannya, HIPSI berpegang teguh pada kata-kata KH Hasyim Asy’ari dalam deklarasi Nahdlatut Tujjar ‘Kebangkitan Saudagar’ tahun 1918, yang berbunyi “Wahai pemuda putra bangsa yang cerdik, pandai dan para ustadz yang mulia, mengapa kalian tidak mendirikan saja satu badan usaha ekonomi yang beroperasi, di mana setiap kota terdapat satu badan usaha yang otonom”.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dengan visi mencetak sejuta santri pengusaha, dan melahirkan pengusaha nasional dari pesantren, HIPSI telah banyak melakukan pengembangan bidang wirausaha bagi kalangan pesantren di  berbagai daerah seperti di Pasuruan, Jember, Situbondo, Jombang, Tasikmalaya, dan sebagainya.

Ketua HIPSI, Gus Ghozali menceritakan, bidang pengembangan HIPSI pun beragam, mulai dari pertanian, peternakan, juga perdagangan. Salah satu contoh hasil pengembangannya adalah telah dibudidayakannya 500.000 ekor ayam di Jember, dan pertanian jagung, tembakau dan edamame di Bondowoso.

“Sebagai bentuk pengembangan, akan mulai dirintis juga dunia usaha via internet,” tandasnya.

Dalam pertemuan singkat siang itu, dihasilkan beberapa hal terkait pengembangan dunia wirausaha yang ada di Yogyakarta, yang merupakan salah satu lahan baru bagi HIPSI. 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Dwi Khoirotun Nisa’      

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ahlussunnah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 24 Januari 2018

Kang Said: Melindungi TKI, Menjaga Martabat dan Harga Diri Indonesia

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengecam keras tindakan penganiayaan majikan terhadap TKI (Tenaga Kerja Indonesia) di Arab Saudi. Dua kasus terakhir adalah penganiayaan yang menimpa Sumiati dan meninggalnya Kikim Komalasari.



Kang Said: Melindungi TKI, Menjaga Martabat dan Harga Diri Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Melindungi TKI, Menjaga Martabat dan Harga Diri Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Melindungi TKI, Menjaga Martabat dan Harga Diri Indonesia

“Saya minta Menakertrans segera menyelesaikan masalah ini. Pelakunya harus dituntut secara hukum,” tegas Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi Jumat, 19 November.

Kejadian yang menimpa Sumiati, TKI asal Dompu, Nusa Tenggara Barat dan Kikim Komalasari TKI asal Cianjurm Jawa Barat harus bisa menjadi pelajaran berharga. Kasus penganiayaan majikan terhadap TKI di Arab Saudi memang kerap terjadi. Namun penyelesaian kasusnya seringkali tidak tuntas karena persoalan hukum.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Menakertrans seharusnya bisa mengambil langkah-langkah antisipatif agar kejadian serupa tidak terulang kembali,” ujar Kang Said.

TKI hingga saat ini masih menjadi penyumbang devisa terbesar untuk Indonesia. Namun jaminan keselamatannya masih terkesan diabaikan oleh Pemerintah. “Khususnya di Timur Tengah kasus semacam ini memang sering terjadi. Di era globalisasi semacam ini, perilaku semacam itu jelas-jelas melanggar HAM,” tegas Kang Said.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kang Said berharap Pemerintah harus segera mengambil langkah cepat dan tegas dalam menangani masalah ini. “Hal ini mutlak perlu dilakukan untuk menjaga martabat dan harga diri bangsa,” pungkasnya. (bil)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ahlussunnah, Makam Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 21 Januari 2018

Pesantren Garda Depan Penjaga Keutuhan Bangsa

Makassar, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Sekretaris Gerakan Pemuda Ansor Kota Makassar, Sulawesi Selatan Ahmad Ahsanul Fadhil menegaskan Pesantren adalah instrumen startegis mencegah radikalisme di Indonesia. Karena Lembaga pendidikan Islam klasik dan tertua di Indonesia tersebut senantiasa mengajarkan Islam ramah.

Pesantren Garda Depan Penjaga Keutuhan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Garda Depan Penjaga Keutuhan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Garda Depan Penjaga Keutuhan Bangsa

"Pesantren adalah Lembaga yang sangat strategis untuk menebar ajaran Islam rahmatan lil alamin, mencegah munculnya paham radikal yang merongrong kedaulatan NKRI dan menjadi garda terdepan dalam menjaga keutuhan bangsa," ujar Ahsanul dalam Dialog Kebangsaan yang diselenggarakan oleh PMII STIE Tri Dharma Nusantara bekerjasama dengan IKA-MDIA Bontoala Makassar.

Senada dengan Ahsan, Sekretaris KNPI Kota Makassar, Irwan Ade Saputra mengamini apa disampaikan Ahsan dalam Forum Dialog tersebut. Dia menerangkan, posisi Santri sebagai bagian dari pemuda sangat strategis untuk melakukan gerakan mengawal keutuhan NKRI, dengan pemahaman keagamaan yang ramah.

“Paham Islam tersebut diharapkan mampu memberikan pencerahan terhadap pemuda yang tidak mengenyam pendidikan di Pesantren hingga paham bahwa Agama dan NKRI bukan hal yang harus dipertentangkan,” ungkap Ade dalam diskusi di ruang redaksi Tribun Timur, Ahad (30/10).

Pendiri Sekolah Kebangsaan, Arqam Azikin yang juga hadir sebagai Panelis meminta Pemuda dan Pesantren berbagi peran namun tetap saling mensupport dalam menjaga NKRI.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurutnya, sejarah Pemuda dan Pesantren adalah sejarah yang tak terpisahkan dari Sejarah Bangsa. Keduanya memiliki peran penting dalam memerdekakan Indonesia.

"Saya berani mengatakan andai bukan KH Hasyim Asyari bersama kalangan pesantren lain dan bangsa Indonesia secara umum, maka tidak akan lahir gerakan yang mampu memerdekakan Indonesia,” tegas Arqam. (Rahman/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pondok Pesantren, Ahlussunnah, Sejarah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 16 Januari 2018

Munas NU 2015 Finalkan Draf Muktamar dan Ahlul Halli wal Aqdi

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pengurus harian Syuriyah PBNU bersama Syuriyah PWNU se-Indonesia akan menyempurnakan draf bahtsul masail dan materi Ahlul Halli wal Aqdi. Di Munas NU 2015 yang diselenggarakan pada Ahad-Senin, 14-15 Juni 2015 di Jakarta ini, peserta forum diharapkan memberi masukan untuk pematangan Ahlul Halli wal Aqdi.

“Di forum ini, kita akan mengulang kembali bahan-bahan materi Muktamar. Kita juga akan menampung usulan-usulan PWNU perihal Ahlul Halli wal Aqdi untuk dimasukkan ke dalam draf. Bukan lagi sosialisasi, tetapi kita sudah menetapkan Ahlul Halli,” kata Ketua Panitia Muktamar Ke-33 NU H Imam Aziz pada rapat harian Tanfidziyah PBNU, di Jakarta, Rabu (10/6) sore.

Munas NU 2015 Finalkan Draf Muktamar dan Ahlul Halli wal Aqdi (Sumber Gambar : Nu Online)
Munas NU 2015 Finalkan Draf Muktamar dan Ahlul Halli wal Aqdi (Sumber Gambar : Nu Online)

Munas NU 2015 Finalkan Draf Muktamar dan Ahlul Halli wal Aqdi

Forum Munas NU akhir pekan ini tidak lagi bersifat sosialisasi konsep dan penerapan AHWA. Menurut Imam, PBNU sudah berkali-kali mengadakan kegiatan pra muktamar.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Jadi sudah tidak ada penolakan karena memang rapat pleno PBNU di Wonosobo dan Munas NU di Jakarta terakhir kemarin itu, mengamanahkan PBNU bersama PWNU untuk memerinci mekanisme AHWA itu,” jelas Imam yang juga Ketua PBNU.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pihak panitia Munas NU sudah mempersiapkan tempat bermalam peserta. Peserta Munas NU 2015 ini terdiri atas pengurus syuriyah PBNU dan PWNU se-Indonesia. Rencananya sidang forum ini akan dipimpin oleh Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F Masudi dengan sekretaris forum Katib Syuriyah PBNU KH Yahya Cholil Staquf.

“Kegiatan Munas NU 2015 ini hanya ditangani oleh Syuriyah PBNU,” kata Ketua PBNU H Maksum Mahfudz.

Kegiatan Munas NU 2015 ini akan diawali dengan istighotsah akbar dengan 25.000 nahdliyin di masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Ahad (14/6) siang. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Internasional, Ubudiyah, Ahlussunnah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 14 Januari 2018

Menjadi Guru yang Digugu, Bukan Diguyu

Oleh Imam Bukhori

Guru pahlawan tanpa tanda jasa. Adagium inilah yang terngiang setiap kali memperingati hari guru nasional. Tentu ini bukan sekadar, namun penuh makna. Mengapa begitu hebatnya kedudukan guru. Guru yang bagaimana yang layak sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Apakah kita layak disebut demikian? Pertanyaan inilah yang berusaha dibahas dalam tulisan ini.?

Guru digugu lan ditiru. Demikianlah akronim bahasa jawa. Artinya guru adalah sosok yang segala ucapannya dapat dipercaya. Ditiru murid, teman sejawat dan ditiru masyarakat pada umumnya. Dulu, sekali lagi dulu-permasalahan apa saja yang terjadi di masyarakat selalu merujuk kepada apa kata guru. Karena memang ucapan guru dapat dipercaya, diyakini kebenarannya ? bahkan dianggap bertuah. Bisa kualat kalau tidak nurut guru. Sedemikian ampuhnya guru zaman dulu.?

Menjadi Guru yang Digugu, Bukan Diguyu (Sumber Gambar : Nu Online)
Menjadi Guru yang Digugu, Bukan Diguyu (Sumber Gambar : Nu Online)

Menjadi Guru yang Digugu, Bukan Diguyu

Ucapan guru dipercaya (Jawa: digugu) karena hampir apa yang diucapkan adalah apa yang diperbuatkan. Perkataannya cocok dengan perbuatannya. Sehingga prilaku guru memperkuat keyakinan orang untuk percaya apa yang dikatakan. Tindak tanduk dan prilaku guru efektif bisa ditiru. Bisa dicontoh dan selalu menjadi inspirasi bagi orng lain. Guru hebat adalah yang menjadi inspirasi.?

Orang lain -apa lagi murid tidak perlu lagi mendengar banyak nasehat untuk bisa menjadi murid yang baik. Ia cukup melihat dan bergaul dalam kesehariannya dengan guru. Maka prilaku guru dengan segera dan kuat sekali terinternalisasi dalam diri murid. Ahlak guru menular begitu effektif melalui laku, bukan ucapan dan nasehat. Lisanul haal afshahu min lisanil Maqal. Nasihat berupa prilaku jauh lebih terkesan dari pada nasehat berupa ucapan.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Guru semacam inilah yang oleh Imam Ahmad bin Kholil disebutnya sebagai orang alim. Beliau menyatakan ada 4 jenis orang. Pertama, orang yang mengerti dan sadar ? bahwa dirinya mengerti. Ciri khasnya adalah apa yang dikatakan adalah apa yang diperbuatkan. Dialah orang alim. Kepada orang jenis ini kita disuruh mengikutinya. Kedua, orang yang mengerti, namun tidak sadar bahwa dirinya mengerti. Ibarat orang tertidur atau lupa. Ciri khasnya adalah pengetahuannya tidak sama dengan perbuatannya.?

Sikap kita, ingatkanlah orang ini maka dia akan mengambil peringatan. Nasihat akan bermanfaat baginya. Ketiga, orang tidak mengerti namun sadar bahwa dirinya tidak mengerti. Ciri hasnya dia bisa merasa bodoh dan mau belajar untuk itu. Dia adalah seorang pembelajar. Ajarkanlah dia maka dia akan bisa menerima ajaran, mau berubah. Keempat, orang yag tidak mengerti dan tidak sadar bahwa dirinya tidak mengerti. Cirinya dia bodoh namun tidak mengakui.

Dia sok pinter. Tidak mau belajar ataupun bertanya, gengsi untuk dikatakan bodoh. Dia inilah orang bodoh sesungguhnya. Kata Imam Ahmad bin Kholil , kepadanya jangan berteman, hindarilah. Seorang guru idealnya adalah nomor satu. Yaitu orang yang alim. Guru seperti ini akan banyak memberikan manfaat kepada murid. Baik di dunia maupun di akhirat.?

Penulis sengaja menyebut murid untuk peserta didik. Penulis sadar bahwa dengan menyebut peserta didik mengesankan bahwa anak pembelajar itu aktif, tidak pasif. Dia memiliki potensi, yang ? tugas guru adalah membantu dan memfasilitasi agar anak dengan potensinya tersebut ? berkembang secara optimal. Baik domain afektif, kognitif maupun psikomotorik. Sertidaknya inilah yag sejalan dengan paradigma pendidikan kita yaitu pembelajaran konstruktivisme.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Namun penulis juga sadar bahwa dengan menyebut murid terkandung makna lebih, yang tidak dimiliki sebutan lain seperti peserta didik, siswa dan anak didik. Sebutan murid mengesankan adanya orientasi masa depan yang sangat jauh dan utama yaitu kehidupan akhirat. Yakni anak pembelajar adalah anak yang sedang berproses untuk menuju Allah, mendekat kepada Allah demi kebahagiaan tidak sekedar dunia. Tapi lebih penting dari itu adalah kebahagiaan akhirat. Bukankah kata Nabi Muhammad; orang cerdik pandai adalah yang mampu mengendalikan nafsunya dan beramal demi kepentingan setelah mati? Maa ba’dal maut.

Pemahaman seperti ini membawa konsekwensi bahwa hubungan guru-murid bukanlah hubungan transaksioal. Ada bayaran maka ada jasa layanan pendidikan, bukan. ? Namun hubungan saling menolong dan membantu, sama-sama menuju keridlaan Allah (ta’awun ‘alal birr wattaqwa). Ia berdimensi tidak sekedar dunia tapi akhirat. Guru untuk bisa mulia di sisi Allah memerlukan murid agar bisa mengajar dan memanfaatkan ilmunya.?

Dengan demikian ilmunya berkah. Sebaliknya murid memerlukan guru untuk menghilangkan kebodohan, menambah ilmu pengetahuan, bekal menjalani kehidupan yang lebih baik. Pola hubungan guru murid seperti inilah yang berdampak baik, menyentuh, terkesan, membentuk karakter murid dan bernilai ibadah. Guru yang membangun pola hubungan seperti inilah yang barang kali dimaksudkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai orang besar di kalangan langit. Yaitu orang yang belajar dan mengajarkan ilmunya kepada orang lain.

Guru pahlawan tanpa tanda jasa tentu bukan guru yang segala aktivitasnya diukur dengan seberapa besar penghargaan yan diterima. Penghargaan bisa berupa gaji, tunjangan ataupun promosi dan pujian orang lain. Ciri khas kepahlawanan adalah kesediaan untuk berjuang dan berkorban. Berjuang tanpa mau berkorban adalah perilaku makelar. Berkorban tanpa nilai perjuangan adalah kepicikan.?

Jika guru sudah tidak bersedia lagi mengorbangkan kesenangan sesaatnya untuk memperjuangkan idealisme sebagai guru yang profesional menurut hemat penulis jauh dari sebutan guru pahlawan tanpa tanda jasa. Guru pahlawan layak namanya terkenang di hati murid. Namanya selalu hidup dalam sanubari murid. Kapanpun di manapun. Ketika murid-murid sudah sukses menjadi orang kelak nama pertama yang ? diingat adalah nama gurunya, bukan orang tua, atau temannya.?

Layakkah kita disebut guru pahlawan? Dikenangkah nama kita ketika murid-murid kita kelak telah menjadi orang? Ataukah jangan-jangan nama kita akan selalu terusir dari hati murid-murid kelak. Tentu harapan kita sebagai guru adalah sebagaimana bait hymne guru ...namamu akan selalu hidup dalam sanubariku... Hal ini hanya akan terjadi jika guru menampilkan sosok guru yang digugu dan ditiru bukan sosok yang diguyu-guyu lan ditinggal turu (sosok yang diketawakan dan ditinggal tidur). Wallahu A’lam. ?

Penulis adalah Pengurus PP Lembaga Pendidikan Ma’arif NU, Wakil Ketua I Bidang Akademik STAINU Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ahlussunnah, Ulama, Santri Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 26 Desember 2017

Dari Buntet Pesantren, Berjuang untuk NKRI

Buntet, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Menag Lukman Hakim Saifuddin memandang kontribusi Pondok Buntet Pesantren bagi kemajuan Negera Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sangat besar. Hal ini disampaikan Menag saat memberikan sambutan pada Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren, Cirebon, Sabtu (09/04) malam.

Dari Buntet Pesantren, Berjuang untuk NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Dari Buntet Pesantren, Berjuang untuk NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Dari Buntet Pesantren, Berjuang untuk NKRI

Menurutnya, Pondok Buntet Pesantren dirintis oleh Kiai Muqoyyim bin Abdul Hadi, yang lebih dikenal dengan Mbah Muqayyim, pada tahun 1750 M. Karena kepeduliannya yang sangat tinggi terhadap masyarakat dan pondok pesantren, beliau rela meninggalkan jabatannya sebagai “mufti” di Kesultanan Kanoman Cirebon. ?

“Meninggalkan jabatan terhormat demi merintis pondok pesantren merupakan keputusan yang tidak semua orang mampu melakukannya. Subhanallah,” puji Menag seperti dikutip dari laman kemenag.go.id.

Dari pesantren Buntet ini juga, lahir sosok Kiai Muta’ad, Kiai Anwaruddin Kriyani yang lebih dikenal Ki Buyut Kriyan, Kiai Jamil, dan Kiai Abbas. Nama terakhir dikenal sebagai ? ulama yang berpandangan luas. Bersama Kiai Anas dan Kiai Akyas, Kiai Abbas mengembangkan Tarekat Tijaniyah dan mengantarkan ? Pesantren Buntet sebagai “kekuatan politis-tradisional” yang berkontribusi konkret dalam pembangunan bangsa.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kontribusi pendidikan Kiai Abbas bahkan tidak hanya di Tanah Air, tapi juga di Tanah Suci. Sembari nyantri, Kiai Abbas juga ikut mengajar di Makkah. Bahkan, dalam pandangan Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ary, Kiai Abbas memiliki banyak kelebihan.?

Sebagai pejuang bangsa, Kiai Abbas juga berkontribusi besar dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Ia adalah pimpinan rombongan pejuang Cirebon yang berangkat menuju Surabaya. Ketika Bung Tomo datang berkonsultasi kepada Hadratus Syaikh untuk meminta persetujuan dimulainya perlawanan rakyat terhadap Inggris, pendiri PBNU itu menyarankan agar perlawanan rakyat jangan dimulai sebelum Kiai Abbas datang ke Surabaya.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Kisah ini menunjukkan betapa Kiai Abbas dan santri-ulama Cirebon lainnya dipandang memiliki kekuatan yang luar biasa dalam pertempuran 10 Nopember 1945,” tutur Menag.

Dikatakan Menag, rekam jejak kiai pesantren Buntet ini memunculkan keyakinan ? bahwa NKRI dapat meraih kemerdekaannya berkat perjuangan ulama dan kiai pesantren. Mereka telah ? memperjuangkan jiwa dan raganya untuk ? keislaman dan keindonesiaan sekaligus. Mereka telah memperjuangkan keislamannya, tanpa mengorbankan keindonesiaan. Demikian juga sebaliknya, memperjuangkan keindonesiaan tanpa melupakan keislaman.?

“Islam-Indonesia adalah Islam kita. Islam yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur keindonesiaan dan menegakkan jati diri bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” pekik Menag.

Menurutnya, pelajaran dari kiai Buntet ini harus dilanjutkan, terutama dalam konteks menghadapi pemahaman dan gerakan keagamaan radikal yang mendegradasi karakteristik keagamaan khas Indonesia dan mengancam eksistensi NKRI.

Sebelumnya Ketua Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Buntet KH Nahduddin Royandi Abbas menyampaikan bahwa acara haul semacam ini sudah dilakukan sejak 600 tahun lalu. Keberadaan Pondok Buntet Pesantren yang berbaur dengan masyarakat, menjadikan masyarakat dengan pesantren menyatu. Masyarakat dan pesantren rukun dan saling bergaul, membaur layaknya keluarga besar yang membangun peradaban Islam di Buntet. Red. Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi PonPes, Ahlussunnah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 24 Desember 2017

MUI: Baru Belajar Agama Lalu Berdakwah, Ini Masalah Dakwah di Indonesia

Palu, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis menerangkan, ada dua problematika dakwah yang harus dibenahi di Indonesia. Selain membesarkan masalah khilafiyah, dakwah lebih didominasi oleh mereka yang kurang mengerti masalah agama.

Masalah pertama adalah perpecahan antarumat Islam. Biasanya mereka cenderung terkotak-kotak oleh organisasi dan kelompoknya masing-masing. Bahkan, tidak jarang fanatisme mereka terhadap kelompoknya melebihi fanatisme kepada Islam.

MUI: Baru Belajar Agama Lalu Berdakwah, Ini Masalah Dakwah di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
MUI: Baru Belajar Agama Lalu Berdakwah, Ini Masalah Dakwah di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

MUI: Baru Belajar Agama Lalu Berdakwah, Ini Masalah Dakwah di Indonesia

"Tak kalah pentingnya adalah klaim yang  merasa dirinya yang paling sahih dalam mengartikan dan menjalankan ajaran Islam, bahkan cenderung menyalahkan kelompok yang lain. Padahal masalahnya hanya perbedaan furu‘iyah," jelas Kiai Cholil di Palu, Rabu (30/8).

Kedua adalah diamnya yang mengerti agama dan maraknya yang kurang mengerti agama dalam berdakwah. Bagi Kiai Cholil, tidak sedikit orang yang baru belajar tentang Islam lalu kemudian menjadi dai entah itu di televisi atau tempat lainnya. Sementara, orang yang belajar Islam puluhan tahun diam atau tidak dilibatkan dalam dakwah di media yang berfrekuensi publik.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Bahkan mereka kadang membawa aliran dan kepercayaan yang sesat," ucapnya.

Oleh sebab itu, menurutnya, itu yang seringkali merusak ajaran Islam dan menimbulkan kesalahpahaman terhadap ajaran Islam. (Muchlishon Rochmat/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Habib, Halaqoh, Ahlussunnah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 09 Desember 2017

Pergunu Jombang Desak Mendikbud Revisi Regulasi Sekolah 5 Hari

Jombang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi?

Wacana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy akan menerapkan sekolah 5 hari mendapat sorotan banyak pihak. Kebijakan ini juga berimplikasi pada kegiatan belajar mengajar akan berlangsung selama 8 jam per hari.

Salah satunya datang dari Ketua Persatuan Gurun Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jombang, Ustadz Faqih. Kebijakan ini menurutnya tidak harus dipaksakan diterapkan di semua daerah, sebab kondisi lokal setiap daerah yang niscaya beragam.?

Pergunu Jombang Desak Mendikbud Revisi Regulasi Sekolah 5 Hari (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu Jombang Desak Mendikbud Revisi Regulasi Sekolah 5 Hari (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu Jombang Desak Mendikbud Revisi Regulasi Sekolah 5 Hari

Jika dipaksakan harus diterapkan di semua daerah, kata dia, tentu akan ada beberapa kebiasaan atau budaya yang subtansial yang harus dikorbankan, termasuk sekolah diniyah, TPQ dan sebagainya.

"Belum lagi banyak anak yang mengikuti pendidikan ganda, pagi belajar di sekolah formal, sore belajar di madrasah diniyah, TPQ, les, kursus dan lain-lain," ujarnya, Rabu (14/6).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari pertimbangan kondisi ini, Faqih mendesak Mendikbud untuk mengakaji lebih dalam lagi berdasarkan situasi dan kondisi pendidikan yang berlangsung selama ini. Bahkan jika Kebijakan itu jauh dari harapan mayoritas lembaga pendidikan di tanah air, Mendikbud harus merevisi kebijakannya tersebut.

"Intinya Pergunu Jombang mendesak agar Mendikbud merevisi Permendikbud tentang sekolah 5 hari, tidak dipaksakan sebagai keharusan untuk semua, tapi sekedar bersifat opsional atau pilihan sesuai dengan kriteria-kriteria tertentu berdasarkan situasi, kondisi dan lokasi serta kearifan setempat," imbuhnya.

Meski demikian, Faqih mengatakan, kebijakan sekolah 5 hari ini tentu juga ada sisi manfaatnya, khususnya bagi sekolahan di perkotaan yang mayoritas wali murid bekerja hingga menjelang malam sehingga ada kekhawatiran kurangnya pengawasan murid di waktu jeda antara pulang sekolah hingga pulang kerjanya wali murid.

Namun di sisi lain, lanjut Faqih, kekhawatiran minimnya pengawasan di atas itu tentu bisa diantisipasi di internal keluarga masing-masing, tanpa menunggu kebijakan Kemendikbud ini. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ahlussunnah, Humor Islam, Daerah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 07 Desember 2017

Buku “Agama NU untuk NKRI” Dibedah di Bandung

Bandung, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Buku "Agama NU untuk NKRI" karya Ahmad Baso di bedah di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Darul Falah, Bandung, Kamis (6/3) kemarin. Penulisnya hadir di hadapan lebih dari tiga ratus mahasiswa dan pelajar Darul Falah.

Ahmad Baso, Wakil Ketua PP Lakpesdam NU, adalah salah satu penulis tentang NU dan Pesantren yang paling rajin. Selain “Agama NU untuk NKRI” sudah banyak buku yang diterbitkan, antara lain “NU Studies” dan “Pesantren Studies” yang terdiri dari beberapa jilid.

Buku “Agama NU untuk NKRI” Dibedah di Bandung (Sumber Gambar : Nu Online)
Buku “Agama NU untuk NKRI” Dibedah di Bandung (Sumber Gambar : Nu Online)

Buku “Agama NU untuk NKRI” Dibedah di Bandung

Bedah buku “Agama NU untuk NKRI” merupakan rangkaian dari kegiatan pelantikan Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia STAI Darul Falah (PK PMII STAIDAF) masa khidmat 2014-2015yang dilaksanakan di aula utama Pondok Pesantren Darul Falah Cihampelas Kabupaten Bandung Barat.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selain di Bandung, dalam akun facebooknya, Ahmad Baso mengatakan, buku “Agama NU untuk NKRI” dibedah di banyak tempat. Ia sendiri sedang bersemangat untuk berkeliling ke berbagai daerah. Setelah sebelumnya di Semarang, selama bulan Maret ini ia akan mengadakan roadshow ke Samarinda, Sumenep, Yogyakarta, dan Cirebon.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sementara itu di Bandung, usai bedah buku dan pelantikan, Dede Muhammad, ketua PK PMII STAI Darul Falah yang baru dilantik mengatakan akan terus berusaha menjalankan komitmen pergerakan dalam mengokohkan pergerakan mahasiswa serta mahasiswi khususnya dilingkungan kampus STAI Darul Falah.

KH Aa Maulana ZA, Rais Suriyah PCNU Kabupaten Bandung Barat dalam tausyiahnya mengenalkan faham dan ajaran Ahlussunnah wal jama’ah. Menurutnya, NU menjadi salah satu organisasi yang banyak berperan dalam menjaga eksistensi aswaja sebagai faham yang paling moderat dalam menyikapi perbedaan. (Rifqi Iyall/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ahlussunnah, AlaNu Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 02 Desember 2017

Upaya Meraih Rahmat Allah swt

Dalam konteks kekinian rahmat Allah dapat saja berada dalam amal yang sungguh sepele. Mungkin saja rahmat itu terletak dalam diri anak-anak jalanan yang mengulurkan tangan ke hadapan kita, atau di dalam diri pengamen yang menyanyikan lagu sumbang tak jelas suara dan nadanya. Dan juga mungkin sekali rahmat itu terletak dalam amal kita dalam memberi selembar kertas koran sebagai alas shalat jum’at. wal hasil sekecil apapaun amal itu tidak boleh kita sepelekan.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ? . Materi khotbah kali ini merupakan penjabaran dari istilah rahmat dalam ayat Az-Zumar 53 yang berbunyi:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Upaya Meraih Rahmat Allah swt (Sumber Gambar : Nu Online)
Upaya Meraih Rahmat Allah swt (Sumber Gambar : Nu Online)

Upaya Meraih Rahmat Allah swt

.

?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Bahwasannya kita semua dilarang untuk merasa putus asa atas rahmat Allah swt. Bagaimana kita akan putus asa kalau kita sendiri tidak memahami rahmat itu sendiri. Oleh karena itulah tema khotbah kali ini akan lebih banyak membicarakan hal tersebut.

? Sebuah kisah yang berdasarkan pada hadist Rasulullah saw dari cerita Malaikat Jibril “sungguh dahulu pernah ada seorang hamba (‘abid) yang tinggal seorang diri di sebuah gunung paling tinggi di dunia. Begitu tingginya gunung itu, sehingga aku (jibril) sering melaluinya ketika hendak turun dari langit melaksanakan titah dari Yang Maha Kuasa. Gunung itu tidak begitu luas, tetapi cukup lengkap persediaan bahan makanan dan buah-buahan juga air terjun yang menyegarkan. Hal itu mempermudah ‘abid menjaga perut dari kekosongan dan memudahkannya berwudhu sehinga ia selalu dalam keadaan suci.

Di atas gunung yang sangat indah itu, ‘abid hidup selama lima ratus tahun. Ia tidak punya kegiatan, selain beribadah, bermunajat, dan berdo’a, tidak pernah terlintas dibenaknya untuk berbuat dosa dan mendurhkai-Nya. Salah satu do’a yang dikabulkan Allah swt adalah permohonannya setiap saat untuk mati dalam keadaan sujud. Demikianlah, akhirnya ‘abid meninggal dunia dalam usia limaratus tahun.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Setelah kematiannya Allah swt berkata kepadanya ‘wahai hambaku karena rahmat-Ku, kau akan segera aku masukkan ke dalam surga’. ? Mendengar pernyataan tersebut si ‘abid berubah mukanya, terkesan tidak terima. Karena ia merasa bahwa amal-ibadahnnya selama lima ratus tahun tanpa dosa lah yang menyebabkannya layak masuk ke surga. Bukan semata karena rahmat-Nya. Demikian protes ‘abid kepada Allah swt.

Mafhum apa yang dimaksud oleh si ’abid. Maka segeralah Allah menugaskan seorang malaikat untuk menghitung dan menimbang seluruh amal-ibadahnya selama lima ratus tahun tanpa dosa yang diandalkannya sebagai modal meraih sorga. Kemudian ditimbangnya amal tersebut dibandingkan dengan rahmat pemberian-Nya. Ternyata rahmat Allah swt yang diberikan kepada ‘abid yang terdapat dalam mata (termasuk di dalamnya kemampuan melihat) saja jauh lebih berat nilainya dibandingkan dengan ibadahnya selama lima ratus tahun. Belum nikmat anggota badan yang lain, otak, kaki, tangan, dan seterusnya.

Maka sesuai dengan protes yang diajukannya, Allahpun memerintahkan malaikat untuk menyeret si ‘abid ke dalam neraka. Karena nilai amal-ibadahnya jauh lebih ringan dari pada rahmat yang terdapat pada mata. Ketika itulah si ‘abid baru sadar ternyata kebergantungannya pada amal tidak dapat menyelamatkannya. Segera ia meminta ampunan dan mengakui akan segala kesalahan dan kesombongannya. Ia terlalu mengandalkan amal ibadahanya dan mengabaikan rahmat-Nya. ?

Akhirnya Allah mengampuninya dan sekali lagi menanyakan kepada si ‘abid “apakah engkau masuk surga ini karena amalmu?’ si ‘abid menjawab “tidak ya Allah Tuhanku, sungguh ini semua karena rahmat-Mu”.

Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah

Cerita di atas membuktikan betapa hidup manusia ini sangat tergantung pada rahmat Allah swt sebagai pengatur alam jagad raya. Ia-lah yang menentukan semuanya. Ia berhak melakukan apapun kepada makhluk-Nya. Sebagai Sang Pencipta, sebagai Sang Maha Kuasa, Dia bebas menyiksa dan mengganjar siapa saja yang Ia mau. Tidak ada yang dapat membatasi gerak-Nya. Ketundukan atau kedurhakaan kita kepada-Nya tidaklah mampu menggeser kekuasaannya walau sedikitpun. Oleh karena itulah hidup semua makhluk ini sungguh-sungguh tergantung paa rahmatnya, bukan pada kesalehan amal ibadah kita.

Oleh karena itulah kita diajari sebuah do’a yang sangat masyhur:

? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ?

Irhamna ya Allah, lianna rahmataka arja lana min jami’i a’mlina. Waghfir lana ya Allah, lianna maghfiratakan ausa’u lana min dzunubina.

Ya Allah kasihanilah kami, karena rahmat-Mu lebih kami harapkan dari pada semua amal kami. Dan ampunilah kami, karena pengampuanan-Mu lebih luas dari pada dosa-dosa kami.?

Begitulah hendaknya, manusia sebagai hamba yang lemah tidak dibenarkan terlalu merasa aman dengan amal ibadah yang telah kita kerjakan. Karena hal itu tidak serta merta mampu menyelamatkan diri kita. Karena keselamatan dan pertolongan itu terkandung dalam rahmat-Nya.

Dengan kata lain, sungguh merugi jika manusia merasa nyaman dengan tumpukan dan penjumlahan amal yang telah dilakukannya, dengan harapan amal-ibadah itu akan menyelamatkannya dari api neraka. Sebuah kisah masyhur dari kitab Nashaihul Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani tentang al-Ghazali. Diceritakan bahwa Imam Ghazali tampak dalam mimpi, maka ia ditanya “apa yang Allah lakukan kepadamu?” lalu ia menjawab “Allah membiarkanku di hadapan-Nya, kemudian Allah berkata, Kenapa Engkau dihadapkan kepada-Ku, apa yang engkau bawa? Maka aku (al-Ghazali) menyebutkan segala amal-ibadahku. Tapi Allah menjawab “sesungguhnya Aku tidak menerima semua amal-ibadahmu, kecuali satu amal pada suatau hari ketika kamu membiarkan sesekor lalat hinggap di atas tintamu dan meminum tinta itu dari ujung penamu, serta engkau membiarkannya karena kasihan kepada lalat itu”. Kemudia Allah berkata “wahai malaikat, bawalah hambaku ini ke surga”.

Fragmen Al-Ghazali ini menunjukkan kepada kita bahwa posisi rahmat Allah itu sangat rahasia. Ia bisa terdapat bentangan amal kita yang tidak kita ketahui persisnya. Beratus-ratus kitab karya al-Ghazali, bertahun-tahun ibadahnya, tetapi rahmatnya malah terdapat di tinta pada ujung penanya? Bukankah secara logika ratusan karya itu lebih bernilai? Tidak demikian. Rahmat-Nya tidak dapat dikalkulasi, diprediksi dan diperinci karena rahmat itu adalah hak prerogatif milik-Nya.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Oleh karena itulah tidak dibenarkan bagi kita untuk menilai rendah sebuah amal ibadah. Walaupun itu sekedar menghindarkan duri dari tengah jalan. Karena bisa saja amal itu yang dirahmati Allah swt. Kita tidak boleh meremehkan amal walau sekecil apapun siapa tahu itulah yang akan menyelamatkan kiat di akhirat nanti Bukankah Sayyidina Umar masuk surga karena sekedar menyelamatkan burung emprit yang dibelinya dari seorang anak kecil yang menyiksa burung itu? cerita ini kemudian diabadikan dengan sebutan kitab úsfuriyah. Begitu sebaliknya. Kita tidak dibenarkan pula menyombongkan amal ibadah walau sebesar apapun amal tersebut. Karena belum tentu amal itu mengandung rahmat-Nya.

Jama’ah Jum’ah yang Disayangi Allah

Dalam konteks kekinian rahmat Allah dapat saja berada dalam amal yang sungguh sepele. Mungkin saja rahmat itu terletak dalam diri anak-anak jalanan yang mengulurkan tangan ke hadapan kita, atau di dalam diri pengamen yang menyanyikan lagu sumbang tak jelas suara dan nadanya. Dan juga mungkin sekali rahmat itu terletak dalam amal kita dalam memberi selembar kertas koran sebagai alas shalat jum’at. wal hasil sekecil apapaun amal itu tidak boleh kita sepelekan.

Hal ini tentunya akan mengajak kita memandang fenomena akan lebih hati-hati dan tidak mudah syu’ud dhann. Janganlah kita mudah buruk sangka dan memandang remeh kepada pekerjaan orang lain. Tukang sayur yang mangkal setiap pagi, tukang loper koran, tukang ojek dan tukang-tukang lain yang sering kita nikmati jasanya tanpa kita kenal profilenya dengan dekat, bahkan seringkali kita jadikan kambing hitam, bisa jadi pekerjaan merekalah yang mengandung rahmat Allah swt dibandingkan pekerjaan kita.

Akhirul kalam, bahwasannya manusia tidak boleh berputus asa untuk terus memburu rahmat Allah, karena sesungguhnya rahmat itu amat luasnya, hanya kebanyakan manusia tidak memahami hikmah dibalik itu semua.

Demikianlah khotbah jum’ah kali ini semoga membawa banyak man’faat. Minimal meyakinkan pada diri kita agar tidak mudah memandang remeh pada amal-amal kecil dan juga amal-amal orang lain.? ?

? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ??

Khutbah II

? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

(Redaktur: Ulil H). ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ahlussunnah, Pesantren Pondok Pesantren An-Nur Slawi