Tampilkan postingan dengan label Lomba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lomba. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Februari 2018

Menggagas Pesantren Masa Depan

Oleh Muhamad Nurdin

Pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan Islam. Pada awal perkembangannya. sulit melakukan respon terhadap gebyar-gebyar perubahan sosial yang berlangsung begitu cepat. Pesantren tempat dan sekaligus merupakan miniatur pendidikan Islam di Indonesia, dalam sejarahnya lahir dan berbasis di pedesaan, jauh dari gebyar dan hiruk pikuk perkotaan, terseok-seok di daerah pinggiran yang kelam.

Bangunan-bangunan tua nun jauh di pedalaman, para kyai dan santri yang hanya melangkah perlahan-lahan menapaki jalan di alam desa yang hening dan kelam bahkan nyaris diam.

Menggagas Pesantren Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)
Menggagas Pesantren Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)

Menggagas Pesantren Masa Depan

Beruntung, pesantren menyadari perlunya perubahan, maka pada awal abad ke-20, pesantren memperkenalkan sistem klasikal yang disebut madrasah. Sistem ini dilengkapi dengan pengetahuan umum, walaupun masih sangat terbatas sebagai jawaban positip atas terjadinya perubahan-perubahan akibat politik etis kolonial.

Kalau saja rentang sejarah berlanjut, dan pesantren tanpa menyadari perubahan, barangkali kita hanya dapat menyaksikan gedung-gedung tua yang reot, reproduksi keulamaan dan keintelektualan Islam hanya akan berjalan tersendat-sendat.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dan ketika telah begitu banyak fakta yang di produksi sejarah, maka berbagai bentuk pengandaian tinggalah sebuah pengandaian. Tapi dengan pengandaian seperti ini, kita akan merenung sejenak, betapa pentingnya perubahan atau modernisasi itu. Dengan metode klasikal atau sistem madrasah. Pesantren moderen, telah membuka kran tradisi dan mengalirkan anak santri “keatas” terlepas dari kenangan masa lampau yang kumuh dan jumud.

Dari rahim pesantren, lahirlah sejumlah nama, sebut saja, KH. Abdurrahman Wahid, ? KH. Hasyim Muzadi, Dr. Nurcholish Madjid, Dr. Komarudin Hidayat, Lukman Hakim Saefuddin, Said Aqil Siroj, Quraish Shihab, Nazaruddin Umar, dan masih banyak yang lainnya. ? Mereka dinilai tangguh dan mampu mengembangkan dirinya dalam bidang ilmu agama Islam, juga memiliki kepekaan terhadap masalah sosial dan lingkungan. Itulah beberapa alumni pesantren yang mendapat legitimasi dari masyarakat sebagai ulama atau cendekiawan.?

Jauh sebelum itu, dari pesantren telah lahir juga tokoh-tokoh yang memainkan peran penting dalam khazanah intelektualisme Islam. Dalam sejarah intelektualisme pesantren, kita pernah mendengar tokoh bersarung, tapi intelektualnya tidak sarungan, bahkan merambah membahana semesta alam jagat mayapada keilmuan di seantero bumi. Sebut saja misalnya, Syekh Nawawi al-Bantany, Syekh Mahfudz al-Tirmasy, Sykeh Yasin al-Fadany, dan lain sebagainya.

Pesantren peka zaman

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kini, pesantren tidak hanya tumbuh di alam pedesaan, tapi juga sudah jauh merambah ke kota-kota besar. Bahkan, dulu anak-anak pesantren kudis dan korengan, sekarang mereka menjadi santri yang wangi, dengan semprotan parfum merek terkenal, clive christians, carons poivre, bulgari, dan lainnya. Belajarnya tidak hanya berkutat dengan kitab kuningan, yang khas pesantren. Tapi juga belajar Bahasa Inggris, kewirausahaan, dan ilmu-ilmu yang bersifat ke-dunia-wian. Ini penting mengingat zaman sudah berubah.

Di dalam pembabakan perkembangan pendidikan di Indonesia, lahirnya Undang-Undang No. 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional, dipandang sebagai saat simbolik yang mengukuhkan bahwa lembaga keagamaan seperti pesantren, sedang memasuki era baru dalam strategi pengembangan secara nasional.?

Dengan masuknya lembaga pesantren dalam Undang-undang Sisdiknas, jelas ini merupakan langkah maju. Karena sudah terbukti dalam sejarah segala zaman, pesantren tetap eksis di tengah-tengah masyarakatnya, dari tahun ke tahun pesantren terus bertumbuh. Ini menandakan pesantren sudah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Disinilah pesantren berperan sebagai ”Center of excellence” pusat keunggulan. Karena pesantren memiliki keunggulan ? komperatif, yaitu penekanan yang signifikan pada pendidikan agama dan akhlak (moralitas). Inilah yang menjadi daya tarik para orang tua memasukan anaknya pada pesantren.

Untuk merespon dinamika zaman yang terus melaju dengan kencangnya, maka sangat dibutuhkan pesantren yang melongok pada desa global (gobal village), atau pesantren yang peka zaman. Artinya, bahwa pesantren dituntut untuk melayani masyarakat pengguna pendidikan. Hal tersebut dilakukan dengan tidak menghilangkan identitas dan ciri khas pesantren sebagai institusi pendidikan Islam yang bernuansa religius.?

Minimal, ada tiga hal yang harus dilakukan pesantren agar menjadi lembaga pendidikan Islam yang peka zaman. Pertama, pengembangan kurikulum pesantren. Dalam kurikulum tersebut pesantren tidak hanya bergelut dengan kitab kuningan semata, tetapi juga mengajarkan ilmu yang dibutuhkan oleh masyarakat, supaya bisa berdaya saing.?

Kedua, manajemen pengelola. Para pengelola tidak berdasarkan kekeluargaan semata, tapi dipilih sesuai dengan kualitas keilmuan. Pengelola dilakukan perperiodik, bisa tiga tahun atau lima tahun sekali dipilih oleh dewan pesantren.?

Tujuannya yaitu, untuk mengevaluasi dan menilai efektivitas kebijaksanaan pesantren, program, pelaksanaannya serta mutu lulusannya. diharapkan juga dapat menghasilkan suatu laporan yang membeberkan kelemahan-kelemahan, kekuatan-kekuatan dan prestasi pesantren serta memberikan rekomendasi untuk menyususn rencana strategis pengembangan pesantren pada masa yang akan datang.

Ketiga, kepemimpinan pesantren. Dalam menggapai keberhasilan pesantren peka zaman, dibutuhkan sosok pemimpin yang handal. ? Sehingga memiliki peran dan fungsi yang sangat potensial untuk menggerakan, menata, dan mengelola pesantren bersama para kiai atau ustadz ? yang lainnya, dengan asas saling bekerja sama dan saling bahu membahu untuk memanjukan pesantren.?

Dengan kepemimpinan seperti itu, setidaknya dapat mengangkat citra, kualitas, dan gairah baru sebuah pesantren masa depan.

Zaman memang sudah berubah, para penghuninya pun sudah berubah. Akankah kita melihat lagi era keemasan, dimana pesantren yang telah mencetak para ulama sekelas Syekh Nawawi al-Bantany atau Syekh Yasin al-Fadany? Kita tunggu saja ledakan tradisi pemikiran intelektualisme pesantren di masa datang, tentunya harus dibarengi dengan kerja keras yang dahsyat. Mampuhkah itu?

Penulis adalah Ketua ISNU Kuningan, Kepala Seksi Penyelenggara Syariah Kemenag Kuningan, dan penulis beberapa buku yang diterbitkan secara nasional.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Halaqoh, Pesantren, Lomba Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 07 Februari 2018

Besok, JATMAN Jateng Adakan Manaqib Kubro

Sukoharjo,Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu’tabaroh An Nahdliyyah (JATMAN) Idaroh Wustho Jawa Tengah, akan mengadakan pertemuan yang digelar di Pondok Pesantren Nurul Anwar Sarang Kabupaten Rembang, Ahad (15/9) besok atau bertepatan dengan 9 Dzulqoidah 1434 H.

Para peserta yang diundang yakni para pimpinan pengurus JATMAN Jateng diantaranya KH Dzikron Abdullah dan KH Latif Mastur Ihsan, perwakilan JATMAN se-Jateng, Muslimat Thoriqoh, Mahasiswa Ahlith Thoriqoh Al Mu’tabaroh An Nahdliyyah (MATAN) dan tamu undangan lain.

Besok, JATMAN Jateng Adakan Manaqib Kubro (Sumber Gambar : Nu Online)
Besok, JATMAN Jateng Adakan Manaqib Kubro (Sumber Gambar : Nu Online)

Besok, JATMAN Jateng Adakan Manaqib Kubro

Dalam kegiatan tersebut selain diadakan berbagai pertemuan yang akan membahas agenda organisasi, juga diselenggarakan kegiatan manaqib dan bahstul masail. Yang khas dari bahtsul masail warga thoriqoh ini, tentu meliputi permasalahan kethoriqohan, disamping juga membahas permasalahan yang berkaitan dengan fiqih (syariah).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Salah satu peserta yang dihubungi Pondok Pesantren An-Nur Slawi, Idaroh Syu’biyyah Sukoharjo, mengatakan akan mengikuti acara tersebut. “Rencana kami akan berangkat malam Ahad, rombongan dari Sukoharjo kita akan naik 5 mobil,” papar Sekretaris JATMAN Sukoharjo, Mukhlis Suranto.

Suranto menerangkan agenda acara pada kagiatan besok, yakni pada siang harinya akan diadakan sejumlah pertemuan dan bahtsul masail. Sedangkan pada malam harinya akan diisi dengan kegiatan manaqib kubro.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dan kemungkinan, acara akan ditutup dengan wejangan yang akan disampaikan oleh Rais A’am JATMAN, Habib Muhammad Luthfi bin Ali Yahya. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Lomba Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 26 Januari 2018

“Karisma Hadhramaut dalam Ideologi ke-Indonesia-an”

Seiyun, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Forum Lingkar Pena (FLP) Hadramaut yang beranggotakan para pelajar Indonesia menggelar "Pentas Seni Islami" atas kerjasama Ibn Obaidillah Islamic Center di kota Seiyun.

“Karisma Hadhramaut dalam Ideologi ke-Indonesia-an” (Sumber Gambar : Nu Online)
“Karisma Hadhramaut dalam Ideologi ke-Indonesia-an” (Sumber Gambar : Nu Online)

“Karisma Hadhramaut dalam Ideologi ke-Indonesia-an”

Acara Rabu (20/3) lalu seyogyanya ditujukan untuk memperingati harlah ke-16 FLP ini bertajuk "Karisma Hadhramaut dalam Ideologi Ke-Indonesia-an."? Grand opening mencuplik senandung Al-Quran yang mencerminkan kandungan pentas seni Islami.

Wahai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kalian lelaki dan perempuan dan menjadikan kalian beragam suku dan budaya agar kalian saling mengenal, sungguh yang paling mulya diantara kalian adalah mereka yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Mewaspadai." (Al Hujurat : 13)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Habib Muhammad Hasan Ibnu Ubaidillah, direktur utama Ibn Obaidillah IC mempersilahkan kepada Miqdarul Khoir, ketua FLP Hadhramaut untuk menyampaikan sepatah dua kata mengiringi pembukaan acara.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Marilah kita telaah kembali sejarah nenek moyang kalian dengan bahasa modern, bahwa bilamana suatu relasi ini didirikan atas nama Allah, maka hubungan tersebut akan kekal, berbeda halnya jikalau relasi tersebut dibangun atas nama material, maka tak heran suatu ketika akan berujung pertumpahan darah," katanya mantap.

Sebelum memasuki inti pentas, hadirin sempat dikejutkan dengan film dokumenter berjudul "Hadharim fi Indonesia" yang dicuplik dari channel Al Jazeerah. Sebuah video singkat yang mengungkap pengaruh masyarakat Hadhramaut dalam seluruh element kehidupan Indonesia.

Acara berlanjut dengan pembacaan syair oleh Ahmad Fathur Rahman. Mahasiswa universitas Al Ahgaff ini sukses menitikan air mata mayoritas hadirin malam itu. Gubahan baitnya meranakan kalbu pendengarnya.

Apalagi disusul pencitraan biografi ulama fenomenal dari kota Teris, Hadhramaut, yang akhirnya berhijrah dan berhasil mengubah pola kehiduan masyarakat Palu. Habib Idrus bin Salim Al Jufri, pendiri pesantren Al Khairat, Palu Sulawesi Utara. Habib Alwi Al-Atthas yang merupakan salah satu santri di pesantren tersebut mengungkapkan bahwa tanpa beliau, kota Palu tak akan seperti kota Palu yang sekarang.

Tak kalah mengesankan, dialog interaktif antar hadirin dibuka setelah habib Zainal Aibidin Al Haddar bercerita tentang napak tilas hijrah masyarakat cadas tandus Hadhramaut ke Gujarat hingga akhirnya berujung penyebaran Islam di Indonesia.

Euforia pentas seni yang dihadiri lebih dari 100 orang dari berbagai Negara tersebut mengundang simpatik Habib Ali bin Salim Al Haddad untuk turut aktif menyumbang riset ilmiahnya tentang prestasi Hadhramaut dalam kemajuan Indonesia.

"Sayangnya terjadi pemutar balikan fakta yang menyatakan bahwa hijrahnya para musafir Hadhramaut hanyalah berdasarkan asas dagang, padahal jauh sebelum mereka ada Fatimah binti Maimun pada tahun 700 H menyebar benih Islam, hanya saja sejarah terkesan menutup-nutupi tujuan asal mereka, yaitu berdakwah," pungkasnya menutup.

Acara pentas seni ditutup dengan marawis dengan lagu khas Hadhramaut yang dipandu oleh Shautul Muhibbin, grup marawis dan rebana Asosiasi Mahasiswa Indonesia (AMI Al Ahgaff). Turut hadir dekan fakultas Syareat dan Hukum universitas Al Ahgaff, Dr. Muhammad bin Abdul Qodir Alydrus, delegasi universitas Hadhramaut for Sains and Technology, ketua Persatuan Pelajar Indonesia (PPI Yaman) cabang Hadhramaut, Pandi Yusron serta delegasi lembaga kedaerahan lainnya, seperti Padjajaran Jawa Barat, Sulawesi, GAMA Jatim, PPJJ Jateng dan Yogyakarta dan Opisi Sumatra.?

Redaktur ? ? : A. Khirul Anam

Kontributor: Adly Al-Fadlly*

*Koordinator Kaderisasi FLP Hadhramaut

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Lomba, RMI NU, Aswaja Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 24 Januari 2018

Tradisi Haul, Wujud Penghormatan terhadap Leluhur

Kudus, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Selama bulan Muharram, banyak masyarakat mengadakan peringatan haul makam leluhur, seperti para wali, pendiri desa/kota, atau lainnya. Mereka mengemas acara dengan berbagai bentuk, dari tahtimul Quran, tahlilan, hingga ganti luwur (penutup makam) dan pengajian umum.

Tradisi Haul, Wujud Penghormatan terhadap Leluhur (Sumber Gambar : Nu Online)
Tradisi Haul, Wujud Penghormatan terhadap Leluhur (Sumber Gambar : Nu Online)

Tradisi Haul, Wujud Penghormatan terhadap Leluhur

Di Kudus, kegiatan haul tradisi buka luwur makam para wali atau ulama besar sudah menjadi kebiasaan yang turun-temurun. Sejak awal Muharram, buka luwur makam Sunan Kudus diadakan selama sepekan mulai 1-10 Muharram. Kemudian berlanjut pada haul santrinya Sunan Kedu di Desa Gribig (13 muharram), dan buka luwur Sunan Muria setiap 15 Muharram sebagai puncak acaranya.

Di sejumlah desa, masyarakat hampir secara? berurutan waktunya juga memperingati? haul. Terakhir, tepatnya Sabtu-Ahad (22-23/11) ini, warga desa Padurenan Gebog Kudus memperingati haul ulama asal Madura, Raden Muhammad Syarif, di Kompleks Makam dan Masjid Asy-syarief desa setempat.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

?

Menurut pengurus Syuriah PCNU Kudus KH Ahmad Asnawi, tradisi haul para wali atau ulama besar merupakan wujud rasa menghormati dan mencintai para leluhur. Dikatakan, ulama yang peringati haul ini diyakini memiliki peran penting terhadap tumbuh kembangnya ajaran Islam di masing-masing tempat.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Sudah sewajarnya, masyarakat menghormatinya karena waliyullah berdakwah agama Islam yang dibawa dari pendahulunya, termasuk ajaran Rasulullah guna mencerahkan semua umat," katanya di depan jamaah Masjid Asysyarif Padurenan Gebog Kudus, Jumat (21/11).

KH. Ahmad Asnawi mengajak masyarakat melanjutkan estafet perjuangan para wali atau ulama pendahulu seraya menjaga warisannya seperti pendidikan, madrasah, ajaran ilmunya ataupun amalannya.

"Sikap menjaga warisannya inilah yang sebetulnya menjadi hakekat cinta (haqiqatul mahabbah) yang sebenarnya kepada para wali, ulama dan leluhur. Ini harus kita uri-uri (lestarikan) dan lestarikan dalam bentuk tradisi haul," tandasnya.

?

Pernyataan senada juga disampaikan Sekretaris PCNU Kudus Agus Hari Ageng. Menurutnya, di samping harus dijaga sebagai budaya, haul memiliki nilai-nilai budi luhur terkait ajaran? wali. ?

?

"Karena haul atau buka luwur jangan hanya dimaknai sebatas tradisi ritual belaka. Tetapi terkandung makna meneladanitokoh atau wali? Allah," terangnya kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi.

Ia mengharapkan tradisi ini harus dilestarikan sebagai upaya mengingatkan ajaran atau amalam dari sosok? yang penuh budi pekerti. Dengan demikian, tidak kehilangan jati dirinya dalam mengaktualisasikan nilai-nilai agama. (Qomarul Adib/Mahbib)

?



Foto: Suasana? acara khatmil Quran sebagai rangkaian peringatan haul Raden Muhammad Syarief desa Padurenan Gebog Kudus, Sabtu (22/11).

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pertandingan, Warta, Lomba Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 21 Januari 2018

LTNNU Harus Jadi Ujung Tombak Aswaja

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Sejumlah harapan untuk segera bergerak cepat bertumpu kepada Lajnah Talif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) dibawah kepemimpinan Khotibul Umam Wiranu yang menggantikan Sulthon Fathoni.

Lembaga yang terkait dengan pengembangan dunia kepenulisan di lingkungan Nahdlatul Ulama ini diharap menjadi ujung tombak memperkenalkan faham Ahlussunah wal-Jamaah.

LTNNU Harus Jadi Ujung Tombak Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
LTNNU Harus Jadi Ujung Tombak Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

LTNNU Harus Jadi Ujung Tombak Aswaja

Ketua Pengurus Pusat Lembaga Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LBHNU) Andi Najmi Fuadi berharap supaya LTNNU bisa mengjangkau yang selama ini belum terjangkau.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“LTNNU harus bisa menghubungkan komunitas-komunitas NU. Dari mulai Nahadliyin yang kultur hingga yang struktur. Bahkan dengan komunitas di luar Nahdliyin,” katanya.

Sekretaris Umum Jamiyyatul Qurra’ wal-Huffazh Nahdlatul Ulama (JQH NU) Ahmad Ary Masyhuri berharap LTNNU bisa lebih progresif, “Saya tahu sejak muda, ia (Khotibul Umam Wiranu) aktif dalam dunia kajian dan intelektual,” katanya selepas serah terima jabatan Ketua LTN NU di gedug PBNU, Jakarta, Senin malam (15/4).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Mukhlisin, Sekretaris Persaudaraan Profesional Muslim (PPM) berharap supaya LTN NU bisa berkoordinasi tidak hanya dengan NU struktural, tapi dengan kultural seperti dengan PPM.

Harapan itu juga datang dari Ketua KPUD DKI Jakarta, Dahliah Umar. Ia berharap LTN NU jadi andalan untuk menjadi jembatan ulama dan umat. Bisa membuat terobosan-terobosan baru dengan memanfaatkan teknologi dengan lebih baik.

“LTNU harus memperkenalkan alam pikiran ulama Nahdliyin dari yang klasik sampai yang modern sesuai perkembangan zaman,” katanya.

Lebih jauh, kader PMII DKI Jakarta ini berharap supaya LTN NU bisa menggerakkan anak-anak muda NU.   

Lajnah Talif wan Nasyr Nahdlatul Ulama, disingkat LTNNU, bertugas mengembangkan penulisan, penerjemahan dan penerbitan kitab atau buku serta media informasi menurut faham Ahlussunnah wal Jamaah.

Situs resmi NU bernama Pondok Pesantren An-Nur Slawi yang beralamat di www.nu.or.id dan majalah Risalah dibawah nanungan LTNNU.

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Jadwal Kajian, Lomba Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 20 Januari 2018

Warga Yogya Gelar Kenduri Kebangsaan Damai Tanpa ISIS

Yogyakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Sholawat Nabi Muhammad SAW mengalun diiringi rebana dan tepukan tangan ala tembang Jawa pada "Kenduri Kebangsaan, Islam Pelopor Perdamaian di Indonesia: Jogja Istimewa Tanpa ISIS", berlangsung di Lapangan Krupukan, Jlagran, Yogyakarta, Ahad (29/3) malam.    

Pengajian menghadirkan Gus Irwan Masduqi dari Ponpes Assalafiyah, Mlangi, Yogyakarta tersebut terselenggara atas kerjasama OUR Indonesia dengan warga RW 03 Jlagran Gedongtenggen, serta Keluarga Besar Surengpati.     

Warga Yogya Gelar Kenduri Kebangsaan Damai Tanpa ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga Yogya Gelar Kenduri Kebangsaan Damai Tanpa ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga Yogya Gelar Kenduri Kebangsaan Damai Tanpa ISIS

"Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia menjadi tolok ukur Islam demokratis," ujar  Tri Agus Inharto dari Our Indonesia kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi.    

Pria yang biasa dipanggil Pedro itu melanjutkan, kehadiran ISIS dengan aksi-aksi kekerasan brutalnya telah menimbulkan keprihatinan dunia, termasuk dunia Islam sendiri.    

"Gerakan dengan wajah kekerasan ini telah sampai ke Indonesia. Sebagian orang Indonesia telah bergabung dengan ISIS. Permasalahan ini perlu disikapi dengan menegaskan kembali komitmen dengan ikatan sebagai bangsa," ujar alumni Hukum Univeritas Janabadra itu.    

Kenduri kebangsaan ini, tutur Pedro lagi, mengajak semua elemen di Yogyakarta mempertahankan dan mengembangkan semangat kebangsaan dan peradaban sebagai pemersatu bangsa dan menolak aksi-aksi kekejian atas nama ISIS.    

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Islam tidak boleh dibajak dan direndahkan oleh ISIS. Islam Indonesia adalah pelopor perdamaian di Yogyakarta. Dengan kenduri kebangsaan ini kita mau mengajak masyarakat untuk membentengi diri dari pengaruh-pengaruh yang negatif dan merusak. Jogja makin istimewa tanpa ISIS," ujar Pedro yang didapuk sebagai koordinator kegiatan itu.     

Hadir dalam kegiatan itu ratusan masyarakat, aktivis Gusdurian yang juga Ketua PC GP Ansor Klaten, Marzuki.    

Marzuki menuturkan, pengajian ini menarik karena dalam balutan nuansa Jawa, bapak-bapak yang membaca sholawat dan menyanyikan lagu-lagu Islam dalam balutan pakaian adat Jawa, sorjan dan blangkon. Ini pengajian yang mengangkat kultur, pihaknya tidak melihat Islam dalam konteks fisik, namun peran Islam dalam membawa perdamaian. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Ini cara menyampaikan Islam Rahmatan Lil Alamin dengan mengangkat budaya dan menolak radikalisme atas nama agama," ujar Marzuki. (Gatot Arifianto/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Lomba Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 18 Januari 2018

Khofifah: Jelang Pemilu, Angka Perceraian Meningkat

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Ketua Umum PP Muslimat Nahdlatul Ulama Khofifah Indar Parawansa mengungkapkan fakta baru yang mengejutkan terkait lonjakan angka perceraian dalam rumah tangga warga negara Indonesia. Fakta ini cukup mengejutkan karena terkait politik jelang pemilu 2014 dan lain aspirasi.

Khofifah: Jelang Pemilu, Angka Perceraian Meningkat (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah: Jelang Pemilu, Angka Perceraian Meningkat (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah: Jelang Pemilu, Angka Perceraian Meningkat

"Ada data baru yang mengejutkan bahwa menjelang pemilu 2014, kini angka perceraian cenderung meningkat karena perbedaan politik antara suami dan istri," kata Khofifah dalam acara rapat koordinasi antara Muslimat NU dan BKKBN di kantor BKKN, Jakarta Timur, Senin (23/12).

Menteri Pemberdayaan Perempuan era Gus Dur ini mengatakan, sebelumnya pada tahun 2008 perceraian yang disebabkan perbedaan politik dalam keluarga menempati peringkat 13. "Jadi dalam waktu 4 tahun, angka perceraian gara-gara politik ini meningkat tajam," terangnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Fakta yang mengejutkan lagi, terang Khofifah, gugatan cerai lebih banyak dilakukan pihak istri. "Itu terjadi di kota-kota besar. Angkanya bahkan bisa tembus 70-80 persen," katanya.

Dari data itu, katanya, dapat disimpulkan bahwa suhu politik di tanah air yang memanas jelang pemilu ternyata masuk ke dalam rumah tangga.  "Perceraian terjadi bukan hanya karena kekerasan dalam rumah tangga dan perselingkuh saja. Masalah politik termasuk penyebab utama," tegas Muslimat NU.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Khofifah mengungkapkan, dirinya beberapa kali bertemu dengan Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar yang punya data perceraian. Inti dari pertemuan itu menyimpulkan, problem rumah tangga masyatakat Indonesia sangat rumit.

Kalau sudah rumit begini, Muslimat NU tidak bisa sendirian untuk mengatasinya. Harus ada sinergi dan keseriusan dari semua pihak terkait. Dan, harus ada gerakan bersama yang langsung dipimpin presiden, tambah Khofifah. 

Ia melanjutkan, Indonesia bisa meniru Malaysia yang punya gerakan ketahanan keluarga. "Gerakan itu bahkan dipimpin langsung Perdana Menteri," tandas Khofifah. (Ahmad Millah/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Nusantara, Lomba, Ulama Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 15 Januari 2018

Penerima Beasiswa Diingatkan Kontribusinya pada PBNU

Rabat, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Kedatangan kader-kader NU ke Maroko angkatan ketiga mendapatkan sambutan hangat dari Kedutaan Besar Republik Indonesia KBRI Rabat. Mereka bertemu dengan Duta Besar Republik Indoneaia untuk Kerajaan Maroko H. Tosari Widjaja di KBRI Rabat, Jum’at (10/10).?

Penerima Beasiswa Diingatkan Kontribusinya pada PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Penerima Beasiswa Diingatkan Kontribusinya pada PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Penerima Beasiswa Diingatkan Kontribusinya pada PBNU

Dubes dalam pertemuan tersebut salah satunya mengingatkan, para penerima beasiswa tersebut harus bisa memberikan kontribusi nyata kepada PBNU yang telah mengirim mereka menuju negeri Maroko.?

Pertemuan itu didampingi oleh Pensosbud KBRI Rabat Muhammad Hartantyo, ketua Tanfidziyah PCINU Maroko, Kusnadi dan ketua PPI Maroko, Afif Husen. Pada kesempatan itu Tosari Widjaja mengingatkan bahwa tujuan mereka ke Maroko bukan hanya sekedar belajar ditempat yang jauh dari rumah tapi kedatangannya membawa amanah yang sangat besar. Mereka harus belajar bersungguh-sungguh sehingga bisa selesai tepat waktu dan ketika pulang nanti bisa mengabdikan ilmunya ditengah masyarakat.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Mengingat masyarakat Maroko mayoritas berkomunikasi menggunakan bahasa Arab dan Perancis hal ini sangat membantu memperlancar bahasa Arab dan Perancis.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Oleh karena itu usahakan tinggal dengan orang Maroko dan perbanyak teman dari negara-negara lain supaya bisa menguasai bahasa asing dengan mudah," ujarnya.

Usai bertemu dengan Dubes RI mereka langsung mengikuti orientasi mahasiswa/i baru yang diadakan oleh PCINU Maroko. (red: mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Lomba, AlaNu, Kajian Islam Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 10 Januari 2018

Asad Said Ali: NU Miliki Empat Keunggulan

Surabaya, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Sebelum berbicara visi misi jika terpilih sebagai Ketum PBNU, H Asad Said Ali terlebih dahulu menyampaikan keunggulan NU dari masa ke masa.?

Asad Said Ali: NU Miliki Empat Keunggulan (Sumber Gambar : Nu Online)
Asad Said Ali: NU Miliki Empat Keunggulan (Sumber Gambar : Nu Online)

Asad Said Ali: NU Miliki Empat Keunggulan

"Dari keunggulan inilah yang membuat saya termotivasi untuk berdiskusi soal NU ke depan," kata Asad saat menyampaikan kesiapan dirinya maju sebagai calon ketum di Surabaya Sabtu (25/06) lalu.

Asad melihat ada empat keunggulan NU. Pertama organisasi NU itu sendiri. Di NU ada ulama dan ada organisator atau orang-orang yang memiliki kemampuan menajerial. Berbeda kalau melihat di Timur Tengah, di sana ulamanya besar-besar tapi tidak mampu mengelola suatu komunitas atau negaranya. ?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kedua, di NU memiliki ukhuwah, ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathoniyah, ukhuwah basariyah. Di dalam NU ada rasa persaudaraan yang tinggi. "Ini salah satu keunggulan yang dimiliki oleh NU," tegas Asad.

Ketiga, NU mempersilahkan memilih salah satu madzab empat. NU sudah biasa berpeda pendapat masalah khilafiyah, sehingga sudah siap menjadi penengah setiap konflik yang ada.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Di Timur Tengah, lanjut Asad, warganya dibatasi untuk mengikuti madzab tertentu.

Keempat, ini sangatlah luar biasa yaitu NU memiliki SDM yang sangat luar biasa. "Ada lebih 1,4 juta sarjana NU, kalau diteliti lebih lanjut NU memiliki jutaan kiai dan pesantren yang tersebar se Indonesia," jelas Asad. Pesantren ini tidak boleh ditinggalkan, pesantren adalah tiangnya NU masa depan.

"Empat keunggulan itu harus dijaga oleh para pengurus cabang, wilayah, terlebih lagi kalau bisa turun ke MWC dan Ranting NU. Supaya para pengurus bisa termotivasi untuk membangun NU yang lebih baik," pinta Asad di hadapan para pengurus cabang se Jatim. (Rof Maulana/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Lomba Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 07 Januari 2018

Lakpesdam NU Serahkan Bantuan untuk 500 Nelayan di Batang

Batang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) memberikan bantuan untuk 500 orang nelayan di Kabupaten Batang di GOR Satria Subah, Jumat (18/11). Bekerja sama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan dan Lakpesdam NU Batang, Dinsosnakertrans menyerahkan bantuan berupa sarana dan peralatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).

Menurut Kepala Dinsosnakertrans Sugiyatmo, perhatian Kemnaker untuk masyarakat nelayan melalui sosialisasi dan pemberian bantuan peralatan K3 diharapkan memperkuat program-program pemberdayaan nelayan sehingga keinginan menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia dapat terwujud, terutama pada nelayan di Batang.

Lakpesdam NU Serahkan Bantuan untuk 500 Nelayan di Batang (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam NU Serahkan Bantuan untuk 500 Nelayan di Batang (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakpesdam NU Serahkan Bantuan untuk 500 Nelayan di Batang

Kepala Dislutkan Batang Taufiq menambahkan, untuk program-program pemberdayaan nelayan dan menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia, nelayan perlu dilengkapi peralatan keselamatan kerja agar nelayan terus meningkatkan kesadaran pentingnya budaya K3.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri sebagaimana disampaikan dalam sambutan Setdijen Dirjen Bina Pengawasan Ketenagakerjaan dan K3 Herman Prakoso Hidayat mengharapkan kesadaran akan budaya K3 di kalangan nelayan semakin meningkat.

Ketua Lakpesdam NU Batang M Arif Rahman Hakim berharap peran semua pihak dapat meningkatkan kerja sama, koordinasi, dan membangun kolaborasi yang sinergis untuk mengatasi semua permasalahan keselamatan dan kesehatan kerja, khususnya bagi nelayan di Kabupaten Batang.

Alhamdulillah tahun 2016, Lakpesdam bersama dengan Kemnaker sudah memberikan 900 alat K3 kepada nelayan Batang. Bulan Februari lalu 400 paket untuk nelayan Batang kota. Sekarang 500 paket untuk wilayah Kecamatan Tulis, Subah, Banyuputih, dan Gringsing. Meskipun belum merata, kami berharap kerjasama ini akan terus berlanjut,” imbuhnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Perwakilan nelayan, Sunarto menyampaikan bahwa budaya K3 perlu dikembangkan secara terus-menerus karena telah terbukti bahwa tingkat penerapan K3 suatu negara sangat memengaruhi produktivitas dan daya saing. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Lomba, Hadits, Halaqoh Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 08 Desember 2017

Di Jombang, Tokoh Lintas Agama Doakan Palestina

Jombang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Kamis malam (7/8), sejumlah tokoh agama menyelenggarakan kegiatan doa bersama di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Jombang, Jawa Timur. Mereka terhimpun dalam Persaudaraan Lintas Agama dan Etnis atau Prasasti.

Di Jombang, Tokoh Lintas Agama Doakan Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Jombang, Tokoh Lintas Agama Doakan Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Jombang, Tokoh Lintas Agama Doakan Palestina

Perwakilan muslim tampak hadir di antaranya H Zahrul Azhar (Pesantren Darul Ulum), Aan Anshori (Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum NU atau LPBHNU), Roy Murtadho (Pesantren Tebuireng). Sedangkan dari agama Kristen ada Pendeta Andreas, Pendeta Edi, dan kalangan Kristiani yang lain. Juga hadir dari agama Budha hingga aliran kepercayaan. Mereka berkumpul menyampaikan keprihatinan atas terjadinya tragedi kemanusiaan di Gaza Palestina.

Dalam pandangan H Zahrul Azhar, terjadinya kecamuk antara Palestina dan Israel bukanlah merupakan perang antaragama. “Karena tidak sedikit penduduk Palestina yang beragama Kristen, demikian juga ada sejumlah kaum Muslimin di Israel,” tandas Gus Hans, sapaan akrabnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Salah seorang pimpinan di Pondok Pesantren Darul Ulum (PPDU) Peterongan Jombang ini mengingatkan sejumlah kalangan untuk tidak mudah tersulut dan menjustivikasi pertempuran yang merenggut ratusan nyawa tersebut sebagai perang agama. “Yang terjadi di sana adalah perebutan kawasan yang memang sulit untuk didamaikan,” katanya.

“Jangan memandang berapa jumlah korban jiwa yang meninggal,” kata Ketua PW LKKNU Jawa Timur ini. Karena satu nyawapun yang hilang harus dipandang sebagai kejahatan kemanusiaan, lanjutnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ia dan sejumlah pemuka agama di Jombang merasa sangat prihatin dengan kejadian kekerasan di Palestina. Karena itu, bersama sejumlah elemen lintas iman, mereka berkumpul dan menggelar acara dengan tema “Doa dan cinta lintas iman, dari Jombang untuk Palestina”

Acara diawali dengan refleksi dari sejumlah hadirin yang berbeda keyakinan. Mayoritas mereka memberikan empati atas tidak kunjung ditemukannya jalan damai bagi konflik di Palestina. “Pada saat yang sama, kami sangat mengapresiasi kepada umat Kristiani yang memberikan gereja sebagai tempat penampungan dan melaksanakan ibadah seperti shalat,” tandas Gus Hans. Karena itu umat Kristiani dan agama lain tergerak hatinya untuk mewadahi para agamawan demi menyampaikan keprihatinan atas tragedi kemanusiaan tersebut.

Acara yang dipandu Aan Anshori yang juga pegiat di PC LPBHNU Jombang ini memberikan kesempatan kepada para agamawan untuk menyampaikan refleksi atas peristiwa memilkukan di Palestina tersebut. Masing-masing memberikan kecaman dan berharap agar konflik yang memakan korban rakyat kecil tersebut segera dapat disudahi.

Pada kegiatan ini juga tidak mengundang para pejabat baik pemerintahan maupun aparat keamanan. “Kita ingin bahwa kesadaran untuk menyampaikan pesan damai lahir dan tumbuh dari sanubari masyarakat bawah, tanpa dikondisikan apalagi menunggu inisiatif pihak pemerintah,” sergahnya.

Usai para pemuka agama menyampaikan pandangan, acara dilanjutkan dengan doa bersama sembari menyalakan lilin sebagai bentuk keprihatinan. Kegiatan dipungkasi dengan ramah tamah sembari menikmati makanan khas hari raya umat Islam yakni ketupat.

“Makna filosofi dari ketupat adalah upaya merekatkan banyak elemen masyarakat bawah demi menumbuhkan empati serta simpati atas penderitaan sesama umat manusia,” pungkas Gus Hans. (Syaifullah/Mahbib)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Lomba Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 06 Desember 2017

LPBINU Fasilitasi Penyusunan Sistem Peringatan Bencana Dini di Wajo

Wajo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) memfasilitasi penyusunan sistem peringatan dini tingkat kabupaten dan desa/kelurahan di Wajo, Sulawesi Selatan pada Jumat-Senin (28-31/7) dalam bentuk workshop dan FGD yang diikuti oleh stakeholder terkait tingkat kabupaten dan desa/kelurahan.

Kegiatan ini dilaksanakan selama 4 (empat) hari, diawali dengan workshop yang diikuti oleh stakeholder tingkat kabupaten, ditindaklanjuti dengan FGD yang diikuti oleh stakeholder tingkat desa/kelurahan. 

LPBINU Fasilitasi Penyusunan Sistem Peringatan Bencana Dini di Wajo (Sumber Gambar : Nu Online)
LPBINU Fasilitasi Penyusunan Sistem Peringatan Bencana Dini di Wajo (Sumber Gambar : Nu Online)

LPBINU Fasilitasi Penyusunan Sistem Peringatan Bencana Dini di Wajo

Rangkaian kegiatan tersebut menghasilkan dokumen Standar Operational Procedure (SOP) Peringatan Dini di Kabupaten Wajo. Sementara di tingkat desa/kelurahan, sistem peringatan dini desa/kelurahan. 

Selain itu, di sini juga dihasilkan peta dan jalur evakuasi untuk Kelurahan Salomenraleng, Kelurahan Laelo, dan Desa Pallimae yang merupakan pilot project dari Program Slogan-Steady yang sedang dilaksanakan oleh LPBINU di Sulawesi Selatan. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Hadir dalam kegiatan tersebut Ansyar (Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Sulawesi Selatan; Siswanto (BMKG Wilayah IV Makassar); dan Leonardy Sambo (Konsultan DFAT Sulawesi Selatan) sebagai narasumber.

Kegiatan Workshop Penyusunan Sistem Peringatan Dini di Kabupaten Wajo dibuka oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Sulawesi Selatan. Dalam sambutannya, Ansyar menyampaikan bahwa Sulawesi Selatan termasuk urutan 26 dari sekitar 36 provinsi yang rawan bencana. 

“Diproyeksikan sekitar 18 miliar kerugian jika terjadi bencana. Sedangkan di Wajo, banjir merupakan ancaman yang paling tinggi,” ujar Ansyar.

Ansyar juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada LPBI NU atas support yang telah yang diberikan dalam bentuk pelaksanaan program Slogan-Steady yang telah berlangsung selama satu tahun untuk meningkatkan kapasitas dan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana. 

Di akhir sambutannya, Ansyar menekankan bahwa bencana tidak hanya tanggung jawab pemerintah tetapi tanggung jawab kita bersama. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sementara itu, Deputi Program Manager Slogan-Steady LPBINU, Rurid, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pasca pelaksanaan kegiatan ini, LPBI NU akan memfasilitasi pemasangan alat peringatan dini banjir di 3 (tiga) desa/kelurahan yang menjadi target program. 

Penanggulangan bencana tidak hanya cukup dengan niat baik tetapi ada alat-alat yang memang dibutuhkan untuk mendeteksi bencana tersebut. Kita harus meluruskan strategi bagaimana membuat sistem sesuai kebutuhan dan persoalan yang ada. Kita tidak ingin bencana datang tetapi kita baru membuat persiapan. 

Lebih lanjut, Rurid mengatakan bahwa semua pihak mempunyai tanggung jawab untuk menyebarluaskan informasi dan kesadaran kepada masyarakat. Informasi adalah hak semua masyarakat tanpa kecuali. 

Orang-orang dengan kebutuhan khusus juga harus menerima informasi. Jadi harus ada orang khusus yang bisa menyampaikan kepada mereka. Orang yang terganggu dalam melihat, mendengar dan susah berjalan harus dibuatkan sistem yang baik bagaimana cara mengevakuasi mereka. Kapan kemudian kelompok-kelompok rentan harus siaga?

Inilah yang menjadi alasan mengapa kita menyusun sIstem. Tidak sekedar memasang alat agar sirine berbunyi, tetapi kita harus menyesuaikan dengan alat atau hal yang mudah diakses oleh semua pihak di masyarakat. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Hadits, Sejarah, Lomba Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 10 November 2017

Menag Jelaskan Dakwah dan Amar Makruf Nahi Munkar

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi



Menteri Agama Republik Indonesia (Menag RI) Lukman Hakim Saifuddin menjelaskan, seorang dai harus mengetahui kapan ia melaksanakan dakwah dan kapan ia menerapkan amar makruf nahi munkar (mengajak kepada yang baik dan mencegah yang mungkar) agar tidak terjadi benturan. Baginya, keduanya memiliki tempat masing-masing.

Lukman menerangkan, mengajak atau dakwah ditujukan kepada mereka yang belum melaksanakan nilai-nilai kebajikan Islam atau memeluk agama Islam. Sementara, apabila mereka sudah masuk Islam, tetapi belum menjalankan ajaran-ajaran kebajikan Islam maka dijalankanlah amar makruf nahi munkar (mengajak kepada yang baik dan mencegah yang mungkar) ? atas mereka.

Menag Jelaskan Dakwah dan Amar Makruf Nahi Munkar (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag Jelaskan Dakwah dan Amar Makruf Nahi Munkar (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag Jelaskan Dakwah dan Amar Makruf Nahi Munkar

Lebih jauh, ia mencontohkan bahwa seorang kernet hanya akan mengajak mereka yang masih berada di luar bus, sementara yang di dalam tidak diajak lagi. Sementara yang sudah di dalam bus, maka mereka diminta untuk melunasi kewajibannnya.

“Bagi yang di dalam maka diterapkan amar ma’ruf nahi munkar, tetapi yang di luar di dakwahi,” ucapnya saat menjadi pemateri dalam acara Pelatihan Dai-Daiyah Kader NU 2017 yang diselenggarakan atas kerja sama Lembaga Dakwah PBNU dengan Hidmat Muslimat NU di Lantai 8 Gedung PBNU, Senin (29/5).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Lebih jauh, alumni pesantren Gontor itu menambahkan, urusan umat Islam adalah mengajak, sementara urusan apakah dia nanti masuk Islam atau tidak itu menjadi urusan Allah. Lalu, ia mengajak peserta pelatihan untuk merenungi sebuah pertanyaan tentang sebenarnya umat Islam itu dituntut untuk apa.

“Yang di tuntut dari kita itu apakah banyak-banyakan umat? Atau yang dituntut dari kita adalah mengajak orang untuk berbuat bajik? Karena hidayah itu dari Allah, bukan porsi kita untuk menjadikan seseorang menjadi Islam,” urainya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kalau seandainya yang dituntut adalah agar banyak-banyakan umat, imbuh Lukman, maka akan terjadi perselisihan antara pemeluk agama karena saling berebut umat.?

“Kalau ini terjadi, maka akan bertengkar (antar sesama umat agama),” tutupnya. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Aswaja, Lomba, Khutbah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 06 November 2017

Gus Dur Siapa Punya?

Saya terlahir di daerah Pantura (pantai utara) Kabupaten Subang yang berbasis NU kulutral. Namun saya belum kenal NU apalagi Gus Dur (GD), karena organisasi yang didirkan oleh mBah Hasyim Asyari ini tidak pernah disebutkan oleh guru-guru sejarah di sekolah pada masa Orde Baru.

Karena NU pada masa itu merupakan Ormas yang tidak boleh muncul dalam sejarah Indonesia untuk tidak mengatakan Ormas “terlarang”

Gus Dur Siapa Punya? (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Siapa Punya? (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Siapa Punya?

Pada pertengahan tahun 1997, sebelum Orba tumbang, saya disuruh orang tua untuk mondok di Pesantren Assalafiyah Kabupaten Subang. Di pondok inilah saya diperkenalkan dengan nama Nahdlatul Ulama. Kala itu saya diperkenkan oleh pengasuh, KH. Haromain tetang amaliah NU, dakwah NU, dan lain sebagainya. ?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Baru satu tahun mondok, terjadi isu Reformasi dan dari situlah saya mendengar nama Gus Dur dari senior pondok, Sholihin. Katika itu, ia mencerita sosok Gus Dur, sepak terjangnya, dan peranannya menjadi salah satu tokoh Reformasi.

Dari situlah saya tertarik untuk mengetahui sosok Gus Dur dari surat kabar dan televisi yang sudah disediakan di pondok.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Reformasi pun bergulir dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) lahir, Gus Dur merupakan inisiator di balik pendirian partai ini. Di era Reformasi awal, PKB menjadi salah satu partai primadona yang menjadi tumpuan kaum sarungan, terutama saya saat itu.

Peritiwa yang akan terus teringat sampai kapan pun, ketika tahun1999 ada acara PKB di lapangan perkebunan Karet Kalijati Kabupaten Subang Jawa Barat yang dihadiri oleh Gus Dur, Alwi Shihab, Mathori Abdul Jalil, dan tokoh-tokoh NU Jawa Barat. Pengasuh Pesantren meliburkan santri senior dan mereka diikutkan untuk menghadiri acara PKB. Karana saya masih menjadi santri junior, akhirnya tidak diikutkan.

Namun, rasa penasaran saya ingin melihat langsung sosok Gus Dur yang sering diceritakan oleh senior pondok, saya meminta izin dengan sedikit “memaksa” untuk ikut dengan berbagai macam alasan dan akhirnya saya diperbolehkan untuk ikut.

?

Dengan hati yang sangat bergembira, akhirnya dengan memakai sarung dan peci ikut ke Kalijati Kabupaten Subang. Dan di situlah puluhan ribu orang telah berkumpul dari Kabupaten Indramayu, Cirebon, Purwakarta, Subang dan Karawang siap mendengarkan taushiah Gus Dur.

Sebelum Gus Dur memberikan taushiah, artis lawas, Hetty Koes Endang menyanyikan lagu tentang Gus Dur. Saya sudah lupa saat itu lirik lagunya. Namun yang masih teringat adalah bait terakhir, yaitu Gus Dur Siapa yang punya? Serentak puluhan ribu hadirin termasuk saya menjawab. NU dan Indonesia.

Tahun 1999 pun berlalu. Ketika Gus Dur menjadi presiden, saya istikomah membaca berita tentangnya di Koran. Selain itu, saya eksis “nongkrong” di depan televisi usai ngaji kitab Fathul Qarib pada pagi hari untuk menyaksikan berita-berita tentang sepak terjangnya.

Karena itulah, sampai-sampai teman saya ketika itu nyeletuk, kamu itu mau ngaji apa mau jadi politikus?

Jawab saya “Ingin mengenal Gus Dur lebih dekat walaupun hanya di koran maupun televisi”.

Kemudian teman saya bertanya lagi, “Apa kamu bisa sowan langsung ke Gus Dur?”

“Ah, jenengan, mana mungkin saya bisa ketemu dengan presiden? Tapi nanti kalau beliau sudah tidak jadi presdien aku pengen ketemu langsung,” jawa saya.

Namun mimpi untuk sowan dan bertemu langsung dengan Gus Dur, tidak kesampaian hingga beliau wafat. Namun saya bisa mengkhatamkan buku biografi Gus Dur yang ditulis oleh Dr. Greg Barton dan sekarang saya menjadi Gusdurian tulen. (Ahmad Rosyidi/Kangidi84@gmail.com)

Solo, 19 Desember 2013

Dalam rangka peringatan Haul KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Pondok Pesantren An-Nur Slawi akan memuat tulisan anak-anak muda tentangnya. Setiap hari akan dimuat satu tulisan. Jika ingin turut berpartisipasi, sila kirim tulisan Anda ke redaksi@nu.or.id.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ulama, Sholawat, Lomba Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 28 Oktober 2017

Rakercab, GP Ansor Malang Usung Kepeloporan Pemuda

Malang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Menjalankan amanat konferensi, PC GP Ansor kabupaten Malang merangkai rapat kerja cabang (rakercab) dan rapat koordinasi (rakor) Satuan Koordinasi Cabang (Satkorcab) Barisan Ansor Serba Guna (Banser). Mereka mengedepankan visi kepeloporan pemuda Ansor di pelbagai bidang.

Rakercab, GP Ansor Malang Usung Kepeloporan Pemuda (Sumber Gambar : Nu Online)
Rakercab, GP Ansor Malang Usung Kepeloporan Pemuda (Sumber Gambar : Nu Online)

Rakercab, GP Ansor Malang Usung Kepeloporan Pemuda

Periode 2013-2017, pengurus membangun visi kader GP Ansor Malang sebagai pionir perubahan. “Kita kuatkan visi kepeloporan dengan misi pertama revitalisasi kepeloporan kader. Kedua, pemberdayaan ekonomi, sosial, dan lingkungan. Ketiga, penguatan tradisi dan amaliah Islam Aswaja Annahdliyyah,” kata Ketua PC GP Ansor Kabupaten Malang Hasan Abadi, Ahad (17/11).

Konsolidasi dan pengaderan adalah hal penting bagi Ansor. “Ansor periode ini jangan sampai meninggalkan pengaderan. Karena, pengaderan hal paling pokok yang harus dikerjakan GP Ansor. Jangan sampai terkalahkan oleh kegiatan lain,” ujar seorang dewan penasihat GP Ansor Malang Farhan Ismail.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rakercab dan rakor digelar di Villa Refa Bungkoh, desa Sumbersekar, kecamatan Dau, kabupaten Malang, Jawa Timur, Sabtu-Ahad (16-17/11). Kegiatan ini dihadiri 31 Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor dan 33 PAC Satkoryon dari 33 PAC Satkoryon di Kabupaten Malang. Jumlah peserta mencapai 200 orang.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sejumlah dewan penasihat GP Ansor Malang yang hadir antara lain Direktur Dokter Rakyat Center H Umar Usman, Ketua LP Maarif Malang HM Hanif, Sekretaris PW GP Ansor Jatim Imron Rosyadi Hamid, Dekan Fakultas Ekonomi Unisma Noor Shoodiq Askandar, dan H Abdurrahman. (Suryo/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ubudiyah, Lomba Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dilantik, Fatayat NU Banten Luncurkan Buletin dan Pengajian Aswaja

Tangerang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Para pengurus Pimpinan Wilayah Fatayat NU Banten periode 2013-2018 akhirnya dilantik, Sabtu (8/2), setelah Konferensi Wilayah menetapkan kepemimpinan baru pada September 2013 lalu. Prosesi pengukuhan dipimpin Ketua Umum Pimpinan Pusat Fatayat NU Dra Hj Ida Fauziyah di Tangerang, Banten.

Selain rapat kerja wilayah (Rakerwil), pelantikan dilanjutkan dengan peluncuran buletin dan pengajian Aswaja. Ketua PW Fatayat NU baru, Miftahul Janah mengatakan, buletin tersebut merupakan salah satu upaya meningkatkan kualitas perempuan Indonesia melalui jaringan media.

Dilantik, Fatayat NU Banten Luncurkan Buletin dan Pengajian Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Dilantik, Fatayat NU Banten Luncurkan Buletin dan Pengajian Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Dilantik, Fatayat NU Banten Luncurkan Buletin dan Pengajian Aswaja

“Informasi menjadi sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh semua orang, semua kalangan baik itu instansi pemerintah maupun swasta, perorangan ataupun organisasi bahkan negara,” ujarnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurut Miftahul Janah, buletin tersebut dapat pula menjadi sarana kian tersosialisasinya Fatayat NU Banten ke masyarakat lebih luas berikut segenap program dan aktivitasnya. Media ini diharapkan menjadi saluran informasi bagi warga hingga ke pelosok daerah, termasuk anggota Fatayat NU sendiri.

Sementara untuk pengajian Aswaja, Fatayat NU Banten berencana akan mencanangkannya sebagai program di setiap cabang Fatayat NU se-Banten. Miftahul Janah menilai? pengajian ini sebagai media untuk terus melestarikan budaya silaturahmi antarpengurus, sekaligus melakukan kajian keagamaan yang berlandaskan Ahlussunah wal Jamaah di lingkungan perempuan Banten.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Hadir juga di forum pelantikan bertema “Sukses konsolidasi, sukses kaderisasi sukses organisasi” tersebut Ketua PWNU Banten KH Zainal Mutaqin, Sekum PWNU H. Endad Musaddad, serta jajaran PWNU lainnya dan pemerintah daerah setempat. (Red: Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Lomba, Tokoh, Hadits Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 16 Oktober 2017

Pesantren Tarbiyatun Nasyi’in Biasakan Santri Baca Koran

Jombang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pondok Pesantren Tarbiyatun Nasyi’in, Paculgowang, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur menerapkan kegiatan santri gemar membaca Koran tiap jam istirahat sekolah. Tepat pada pukul 10.30 WIB siang, sejumlah 300 santri sudah mulai keluar dari masing-masing kelas dan menuju halaman Pondok Pesantren guna membaca koran yang sudah dipajang di papan pengumuman.

Pesantren Tarbiyatun Nasyi’in Biasakan Santri Baca Koran (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Tarbiyatun Nasyi’in Biasakan Santri Baca Koran (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Tarbiyatun Nasyi’in Biasakan Santri Baca Koran

Zainur Roziqin, salah satu pengurus pondok pesantren ini mengatakan, kebiasaan membaca itu sudah lama diterapkan dan bahkan pihaknya harus terus berlangganan koran. “Salah satu kebiasaan santri di sini ya seperti ini, setiap hari pada jam istirahat membaca koran di halaman. Dan kami harus berlangganan,” katanya kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi saat diwawancarai di kantor pengurus, Rabu siang (21/10).

Zainur, panggilan akrabnya menambahkan, bahwa koran adalah satu-satunya media untuk mengetaui dunia luar, sementara alat elektronik, seperti telivisi (TV) dan handphone (HP) tidak diperbolehkan ada di Pondok Pesantren ini.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Untuk keperluan komunikasi dengan kelurganya, kami sudah sediakan HP dengan beberapa kartu yang berbeda,” ungkap pria asal Sumatra Selatan itu.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Penerapan sistem itu, bertujuan untuk lebih fokus pada kegiatan-kegiatan yang dianggap lebih bermanfaat oleh pondok pesantren ini. Menurutnya, alat elektronik sering disalahgunakan jika tidak ada pengawasan intensif. “Biar mereka lebih mengutamakan kegiatan yang lebih bermanfaat, seringkali media elektronik disalahfungsikan,” terangnya.

Meskipun demikian, kondisi itu tidak mengganggu kewajiban-kewajiban santri yang lain. Mereka juga harus membagi waktu sekolah, diniyah, ngaji al-Qur’an, kitab kuning, shalat berjamaah di masjid dan kegiatan-kegiatan yang lain. “Pada kondisi seperti ini, para santri di sini tetap bisa melaksanakan tugas dan kewajiban-kewajiban setiap harinya,” tuturnya. (Syamsul/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Jadwal Kajian, Syariah, Lomba Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 29 September 2017

M. Nuh: Kurikulum 2013 Songsong Generasi Emas

Jepara, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Menteri pendidikan dan kebudayaan, Prof Dr Ir H Mohammad Nuh, DEA mengungkapkan kurikulum pendidikan nasional 2013 adalah untuk menyongsong generasi emas 100 tahun kemerdekaan bangsa Indonesia.

M. Nuh: Kurikulum 2013 Songsong Generasi Emas (Sumber Gambar : Nu Online)
M. Nuh: Kurikulum 2013 Songsong Generasi Emas (Sumber Gambar : Nu Online)

M. Nuh: Kurikulum 2013 Songsong Generasi Emas

Demikian diungkapkannya dalam Sosialisasi Kurikulum 2013 oleh Mendikbud di kampus Yayasan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (Yaptinu) Jepara, Ahad (3/2).?

Pernyataan itu menurutnya cukup beralasan mengingat populasi pemuda di Indonesia mulai 2010-2035 meningkat tajam. Kelak anak-anak yang saat ini duduk di bangku PAUD, TK, SD dan SMP akan memimpin Indonesia. Populasi pemuda yang meningkat menurut Nuh perlu diakomodir agar mampu bersaing dengan negara-negara yang lain.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Data yang ia lansir dari beberapa lembaga Internasional semisal Pisa dan Timms cukup memprihatinkan. Siswa SD dan SMP untuk mapel MTK, IPA dan Bahasa kualitasnya rendah. Apalagi analisis reasoning malah belum bisa sama sekali. Ditambah dengan urusan data yang sudah kadung tidak terbiasa.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Karenanya Nuh menegaskan kurikulum 2013 yang sempat dipertentangkan bukan sekadar ganti menteri ganti kurikulum. Lebih dari itu, kedepan dari kurikulum terbaru ada logika berpikir, isi, proses, evaluasi yang siap mengahadapi tantangan zaman.

“Untuk isi kurikulum tidak semua dirombak tetapi menggunakan metode mempertahankan cara lama yang baik dan mengambil cara baru yang baik,” terangnya kepada kepala sekolah se-eks karisidenan Pati.?

Berkenaan dengan guru yang biasanya membuat silabus lanjutnya dibebaskan tetapi guru dituntut memanfaatkan waktu selama proses belajar-mengajar. “Saya tahu kalau panjenengan silabusnya hasil kopi paste. Kalau diterus-teruskan isinya ya cuma kopi paste,” jelasnya dengan disambut tawa. ?

Kurikulum 2013 papar Nuh tidak hanya dijalankan di sekolah-sekolah top saja. Melainkan sekolah-sekolah di pelosok pedesaan pun juga bisa melaksanakannya. Semisal dalam mapel Pendidikan Agama dan Budi Pekerja tam tatap muka (JTM) ditambah 2 jam menjadi 4 jam.?

Pada mapel agama memuat Islam rahmatan lil alamin. Dirinya prihatin tatkala mapel agama tidak memuat fiqhun nisa. Kalau santri ia yakin memperoleh materi tersebut. Kalo di sekolah umum ia pesimis. “Sopo seng tanggung karo arek-arek iki?” katanya dengan logat Jawa Timuran.?

Dalam mapel tersebut 3 nilai yang harus dikedepankan yakni kejujuran, kedisiplinan dan kebersihan.

“Saya mendambakan pemuda jujur layaknya Syekh Abdul Qadir Jailani saat berusia 18 tahun. Ia dititipi ibunya emas yang dibawa ke Baghdad. Di tengah perjalanan ia bertemu perampok. Saat ditanya barang bawaan dirinya mengaku yang dibawanya emas tetapi perampok tidak percaya. Setelah ditunjukkan emas tersebut si rampok menangis dan mencium syekh Abdul Qadir,” ceritanya.

Hal tersebut, menurut Nuh, contoh pendidikan kejujuran yang patut diteladani.?

Redaktur ? : A. Khoirul Anam

Kontributr: Syaiful Mustaqim

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Syariah, Lomba Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 03 Juli 2017

Peringati 17 Agustus, 6000 Banser Apel Akbar

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Dalam rangka memperingati hari ulang tahun ke-68 Republik Indonesia, sedikitnya 6000 personel Barisan Ansor Serbaguna (Banser) se-Jawa Timur menggelar apel akbar di kota Malang. Apel akbar rencananya akan digelar pada Sabtu (24/8).

Peringati 17 Agustus, 6000 Banser Apel Akbar (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati 17 Agustus, 6000 Banser Apel Akbar (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati 17 Agustus, 6000 Banser Apel Akbar

Demikian dikatakan Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor (PP GP Ansor) M Aqil Irham di kantor pusat GP Ansor jalan Kramat Raya nomor 65A, Jakarta Pusat, Selasa (20/8) malam.

“Upacara apel akbar itu juga mencakup kegiatan halal bihalal usai lebaran,” kata M Aqil Irham yang juga tengah mengoreksi puluhan SK buat pengurus cabang GP Ansor.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dalam kaitan apel akbar, lanjut M Aqil Irham, GP Ansor mengambil momentum ini untuk upaya konsolidasi organisasi di samping memantau persiapan peringatan puncak harlah ke-79 GP Ansor di bulan November tahun ini.

Apel akbar digelar untuk merenungkan kembali makna kemerdekaan RI, tambah M Aqil Irham. Kemerdekaan mesti dipahami dalam makna merdeka secara hakiki. Merdeka secara politik, ekonomi, dan budaya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kemerdekaan RI yang berulang setiap tahun harus diperingati dengan makna, bukan sekadar peringatan rutin belaka. Dalam rangka memperingati kemerdekaan semua kalangan masyarakat termasuk pemerintah membutuhkan waktu senggang untuk memberikan makna terhadap kemerdekaan itu sendiri, imbuh M Aqil Irham.

Dari renungan itu masyarakat akan melihat capaian-capaian dan kekurangan-kekurangan yang harus dibenahi mulai dari masalah penyelewengan wewenang, persoalan keamanan, kesejahteraan, kekeliruan kebijakan, lingkungan hidup dan seterusnya, tandas Aqil Irham.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Aswaja, Meme Islam, Lomba Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 28 Juni 2017

Menyingkap Berkah Kabah

Orang yang mengetahui sejarah Kabah tak akan membantah bahwa dari sembilan keajaiban dunia, Baitullah (rumah Allah) adalah tempat yang paling ajaib. Bangunan berukuran 12,84 meter (sisi timur laut), 12,11 meter (sisi barat daya), 11, 28 meter (sisi barat laut), dan 11,53 meter (sisi tenggara) itu, menyedot perhatian banyak orang. Bahkan pemerintah negara-negara Muslim mencurahkan perhatian khusus, dan sudah berlangsung dari masa ke masa.

Lembah tandus, sempit --tidak lebih dari 700 langkah pada awalnya-- dengan dikelilingi gunung cadas dan tidak ditumbuhi pepohonan, sebelum kedatangan Nabi Ibrahim dan Ismail jauh dari hiruk pikuk manusia. Tak ada aktivitas manusia, bahkan burung-burung pun enggan hinggap di lembah tersebut karena memang untuk mendapatkan air saja sangat sulit.

Menyingkap Berkah Kabah (Sumber Gambar : Nu Online)
Menyingkap Berkah Kabah (Sumber Gambar : Nu Online)

Menyingkap Berkah Kabah

Saat ini, tanah tandus itu gemerlap. Menyaksikan kemegahan Mekah sekarang sulit membayangkan kesulitan Siti Hajar saat mondar-mandir mencari air untuk sekadar diminum, setelah bekal untuk Ismail habis. Kini, lembah tersebut menjadi kota padat, setiap harinya didatangi banyak umat manusia dari berbagai belahan dunia.

Kota Mekah setiap tahunnya didatangi sekitar 7-8 juta orang (hlm. 117). Jumlah kunjungan tiap tahunnya terus mengalami tren peningkatan, sehingga harus dibatasi. Rasanya belum ada satu pun kota di dunia yang menyamai Mekah dan Madinah dalam kunjungan orang asing tiap tahunnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kementerian Urusan Haji dan Umrah Arab Saudi mencatat, pada tahun 2012, jumlah jemaah haji saja yang mendatangi dua kota tersebut sekitar 2,9 juta orang. Rilis tersebut meningkat drastis dari tahun-tahun sebelumnya. Jemaah umrah lebih tinggi lagi. Selama bulan Ramadhan 1433 H saja mencapai 4,8 juta (hal. 117).

Banyaknya pengunjung dari berbagai belahan dunia memberikan berkah ekonomis pada pemerintah dan warga yang tinggal di Mekah, Madinah dan sekitarnya seperti Jeddah. Dalam kurun waktu 2004-2005 saja, Kepala Komisi Transportasi, Kamar dan Industri Arab Saudi menyebutkan angka sekitar 30,6 miliar Riyal (Rp. 76,5 triliun) devisa yang diperoleh dalam kurun waktu 2004-2005. Dalam setiap tahunnya, devisa yang masuk terus meningkat (hal. 118).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Hal ini tentu tidak lepas dari doa yang dipanjatkan Nabi Ibrahim saat melepas istri dan putranya, Siti Hajar dan Ismail, di tanah yang tidak memiliki tanam-tanaman itu. Allah mengabadikan doa Nabi Ibrahim dalam Al Quran Surah Ibrahim (14): 37.

Untuk meningkatkan pelayanan jemaah haji dan umrah yang terus membludak dibutuhkan banyak investasi. Guru besar ekonomi Saudi Fahd al-Andeejani menyatakan, investasi di bidang jasa akan lebih banyak lagi menyerap tenaga kerja. Saat ini yang sudah berjalan layanan penyediaan air Zamzam (hal. 119).

Arab News mencatat, sektor jasa penyediaan air Zamzam menyerap ribuan tenaga kerja. Belum lagi sektor jasa lainnya seperti menginapan dan katering yang menghasilkan keuntungan hingga 3 miliar riyal atau sekitar Rp7,5 trilian. Sementara sektor transportasi diperkirakan meraup keuntungan hingga 5 miliar Riyal atau Rp. 12,5 triliun. Belum lagi suvenir seperti sajadah, karpet, parfum dan perhiasan (hal. 119-120).

Peluang besar ini tampaknya terendus hingga ke Indonesia. Hingga saat ini, masyarakat yang kesulitan mengakses pekerjaan di negeri ini menjadikan Arab Saudi sebagai negara tujuan utama mencari nafkah, sekalipun ada banyak TKW yang mengalami perlakuan tidak manusiawi. Pemilihan negeri para nabi sebagai tempat TKI terbanyak selain Malaysia bukan semata karena upah.

Selain karena upah yang lumayan besar, tenaga kerja lebih memilih Arab Saudi sebagai tempat mencari nafkah karena keuntungan yang diperoleh tidak semata berorientasi dunia. TKI tidak hanya memperoleh uang tapi sekaligus bisa menyempurnakan rukun Islam yang kelima, menunaikan umrah atau haji, yang tidak ditemukan di negara lain.

Buku Sejarah Kabah yang ditulis Guru Besar Sejarah Islam Universitas Ain Shams, Kairo, Mesir, Prof. Dr. Ali Husni al-Kharbuthli, menjawab 1001 pertanyaan seluk beluk bangunan Kabah, dari masa ke masa.

Dengan bahasa bertutur yang cukup baik, tidak seperti literatur sejarah pada umumnya yang cenderung menoton dan membosankan, dalam buku setebal 361 itu dikupas aspek agama, politik, ekonomi dan sosial yang mengiringi bangunan Kabah yang tetap berdiri kokoh tak lapuk dimakan zaman.

Penerbit Turos Pustaka menyisipkan hasil kajian ilmiah tentang Ka’bah. Juga dilengkapi panduan haji dan umrah. Wallahu a’lam.

Judul: Sejarah Kabah

Penulis: Prof Dr. Ali Husni al-Kharbuthli

Penerbit: Turos Pustaka

Terbitan: Ketiga, September 2013

Tebal: 364 halaman

ISBN: 978-602-99414-9-4

Peresensi: M. Kamil Akhyari, Guru SMPI Nurul Ishlah dan SMK Nurul Huda, Kecamatan Bluto Sumenep. Alumni Fakultas Ushuluddin, Instika.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Fragmen, Lomba, Kajian Islam Pondok Pesantren An-Nur Slawi