Tampilkan postingan dengan label Pemurnian Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemurnian Aqidah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Februari 2018

Dikti Siap Bantu Tingkatkan Kualitas Unisnu

Jepara,Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Untuk meningkatkan mutu dan kualitas dosen, Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara, Jawa Tengah, mengundang Prof. Dr. Supriyadi Rustad. Pertemuan berlangsung di Gedung Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Sabtu (8/3).

Menurut Direktur Pendidik dan Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, pihaknya siap membantu membesarkan Unisnu.

Dikti Siap Bantu Tingkatkan Kualitas Unisnu (Sumber Gambar : Nu Online)
Dikti Siap Bantu Tingkatkan Kualitas Unisnu (Sumber Gambar : Nu Online)

Dikti Siap Bantu Tingkatkan Kualitas Unisnu

“Unisnu layak menjadi besar layaknya perguruan-perguruan tinggi besar lainnya di Indonesia,” katanya dalam Orientasi Akademik; Pembinaan dan Peningkatan Kualitas Dosen Unisnu Jepara.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ia memaparkan, pondasi pendidikan di Indonesia harus didukung dengan elemen-elemen yang saling bersinergi. Diantaranya Tri Dharma Perguruan Tinggi yang dibingkai dengan standar dan peraturan perundang-undangan serta pelaksanaannya tidak lepas dari kuliaas Sumber Daya Manusia (SDM) khususnya dosen.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Karena itu, pihaknya bersedia membantu mengirimkan dosen-dosen Unisnu untuk dikuliahkan Dikti ke luar negeri. Dikti lanjutnya juga menyediakan beasiswa S2 dan S3 untuk dosen Unisnu baik ke PT dalam maupun luar negeri.

Rektor Unisnu Jepara, Prof. Dr. H. Muhtarom, mengungkapkan kampus yang digawanginya perlu banyak berbenah dan butuh banyak bimbingan dari Dikti serta Kopertis. DYP Sugiarto, Ketua Kopertis Wilayah VI yang turut hadir mengamini komitmen Dikti yang hendak memajukan kampus NU tersebut. “Semoga harapan dari Dikti segera terwujud,” harapnya. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Nahdlatul Ulama, Pemurnian Aqidah, Kiai Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 12 Februari 2018

Sekatenan 2014, Maulid Nabi ala Keraton Digelar Sebulan Penuh

Solo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Alun-alun utara Keraton Surakarta yang sebelumnya tampak lengang, kini dipenuhi penjual aneka dagangan. Karena, Sekatenan 2014 akan diselenggrakan selama hampir sebulan. Tradisi Sekatenan sebagai perayaan Maulid Nabi dimulai sejak Jumat (20/12) hingga Sabtu (18/1).

Sekatenan 2014, Maulid Nabi ala Keraton Digelar Sebulan Penuh (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekatenan 2014, Maulid Nabi ala Keraton Digelar Sebulan Penuh (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekatenan 2014, Maulid Nabi ala Keraton Digelar Sebulan Penuh

Menurut Wakil Pengageng Sasana Wilapa Keraton Kasunanan Surakarta KP Winarno Kusumo, acara Sekatenan diadakan dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw.

“Sekaten yang menjadi tradisi keraton sudah ada sejak dahulu. Sampai sekarang Sekatenan secara turun temurun selalu diselenggarakan untuk masyarakat,” kata KP Winarno yang acap disapa Kanjeng Win, Sabtu (28/12).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Malam Sekatenannya, tambah Kanjeng Win, berlangsung sejak satu minggu (7-14/1) mendatang. Seperti tahun sebelumnya, Sekatenan ini ditandai dengan keluarnya Gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Gunung Sari.

Sedangkan acara puncaknya jatuh pada Selasa (14/1) yang ditandai dengan keluarnya Gunungan Mulud atau Grebeg Mulud. Selain itu, Sekatenan diisi dengan sejumlah rangkaian acara seperti jamasan pusaka Keraton Solo dan sejumlah ritual keagamaan, pungkas Kanjeng Win.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sekatenan memudahkan warga Solo untuk mengetahui datangnya bulan Mulud atau Rabi’ul Awwal. Karena, bulan itu ditandai dengan keramaian Sekatenan dan Grebeg Mulud. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Habib, Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 09 Februari 2018

Pelaku Teror Lakukan Empat Hal Ini di Media Sosial

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Direktur Penegakan Hukum Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Toriq Triono menjelaskan, ada empat hal yang dilakukan oleh teroris di media sosial. Pertama, propaganda. Toriq mengatakan, para teroris melakukan propaganda-propaganda dengan dalih jihad untuk merekrut anggota baru.?

“Mereka melakukan propaganda di media sosial,” kata Toriq saat memberikan sambutan dalam acara Seminar Dampak Media Sosial Terhadap Terorisme di Auditorium Lantai 3 Gedung IASTH Universitas Indonesia Jakarta, Kamis (4/5).

Pelaku Teror Lakukan Empat Hal Ini di Media Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelaku Teror Lakukan Empat Hal Ini di Media Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelaku Teror Lakukan Empat Hal Ini di Media Sosial

Kedua, pendanaan. Ia menyatakan, salah satu cara para teroris untuk menggalang dana adalah lewat media sosial. Menurutnya, mereka bisa melakukannya secara langsung dengan menghubungi yang bersangkutan ataupun lewat situs-situs lembaga sosial yang mereka bentuk.

“Ajakan langsung untuk seumbanga, toko online, dan donasi-donasi sosial,” ucapnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Ketiga, pelatihan. Mereka menyediakan buku, video, klip, dan tutorial untuk melakukan aksi-aksi teror,” lanjutnya.

Para teroris, imbuh Toriq, benar-benar memanfaatkan media sosial sebagai media untuk melatih kader-kadernya. Konten-konten yang mereka tawarkan juga sangat menarik.

Keempat, perencanaan. Toriq menuturkan, media sosial juga digunakan oleh teroris untuk merencanakan aksi-aksi mereka secara matang. “Bagaimana metode yang tepat untuk melakukan seranga-serangan,” ungkapnya.?

Namun demikian, ia mengungkapkan, banyak pelaku teror yang dibekuk oleh aparat sebelum mereka sempat melakukan aksi teror. “Banyak seperti itu,” tegasnya.

Oleh karena itu, ia mengajak kepada semua elemen masyarakat untuk bersama-bersama menangkal dan menanggulangi terorisme. Karena menurutnya, jika pemerintah saja yang bergerak maka itu kurang efektif.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Tugas mencegah dan menanggulangi terorisme tidak cukup dilakukan oleh pemerintah, kita semua harus ikut andil,” tukasnya. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pemurnian Aqidah, Makam, Olahraga Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 08 Februari 2018

Abah Afandi, Santri Kepercayaan Mbah Wahab Chasbullah

KH Afandi Abdul Muin Syafi’i yang akrab disapa Abah Afandi berpulang ke Rahmatullah, Rabu (13/7) dalam usia 78. Pengasuh Pesantren Asy-Syafi’iyyah Kedungwungu, Krangkeng, Indramayu, Jawa Barat itu pernah menuntut ilmu di sejumlah pesantren besar, salah satunya di Pesantren Tambakberas Jombang.? Sebelum wafat, Abah Afandi merupakan Pengasuh Pesantren Asy-Syafiiyyah Kedungwungu, Krangkeng, Indramayu, Jawa Barat.

Beliau menuntut ilmu di pesantren Tambakberas mulai tahun 1953 sampai tahun 1962. ? Selama mondok, beliau termasuk salah satu santri berprestasi serta dekat dengan para guru dan kiainya, tidak terkecuali dengan Mbah KH Abdul Wahab Chasbullah dan KH Abdul Fattah Hasyim Idris (dua kiai sepuh Pesantren Tambakberas kala itu).

Abah Afandi, Santri Kepercayaan Mbah Wahab Chasbullah (Sumber Gambar : Nu Online)
Abah Afandi, Santri Kepercayaan Mbah Wahab Chasbullah (Sumber Gambar : Nu Online)

Abah Afandi, Santri Kepercayaan Mbah Wahab Chasbullah

Karena dekat dan dipercaya oleh kiai, tidak jarang beliau diminta untuk mbadali atau menjadi pengganti jika kiainya ada udzur (halangan). Sehingga saat itu, di kalangan para santri, beliau (Afandi muda) dikenal dan mendapat laqob atau julukan Qori.?

Demikian, kata KH Moh. Faiq Hasyim Idris Pondok Pesantren Kedunglo Kediri Jawa Timur. Disamping mbadali ngaji di masyarakat jika kiai-nya ada udzur, beliau juga mempunyai rutinitas mengajar santri-santri junior.?

Suatu tugas dan kepercayaan yang jarang didapat oleh santri-santri senior yang lain, meskipun telah lama nyantri. Kecuali santri yang mempunyai kelebihan dibanding santri-santri lain dan telah dianggap mampu oleh kiai.

Bahkan oleh Mbah Kiai Wahab, sering pula Afandi muda diamanati untuk menjadi imam shalat berjamaah di masjid Pesantren Tambakberas Jombang setiap Mbah Wahab akan bepergian.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Bahkan Abah Afandi pernah bercerita, ketika boyong terakhir dari Pesantren Tambakberas Jombang, dia diantar langsung oleh Mbah Wahab dengan menggunakan mobil pribadi Mbah Wahab sampai Indramayu Jawa Barat. Kebetulan waktu itu, Mbah Wahab ada keperluan ke arah Barat, tepatnya menuju Jakarta. Sehingga melarang santri kesayangannya itu boyong dari Pesantren Tambakberas dengan naik transportasi umum.

Dalam perjalanan dari Jombang menuju Jawa Barat itu, Afandi muda oleh Mbah Wahab banyak dikenalkan kepada sejumlah kiai dan tokoh terkemuka di daerah Jawa Tengah, termasuk dikenalkan dengan Sultan Yogya waktu itu.***

Ditulis oleh KH Abdul Nashir Fattah, Rais PCNU Jombang, Pengasuh Pesantren Al-Fathimiyah Tambakberas.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

(Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 25 Januari 2018

Oleh Nabi Hajar Aswad Jadi Saksi Semangat Nasionalisme dan Persatuan

Subang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Sejak muda Nabi Muhammad SAW sudah memiliki semangat nasionalisme dan persatuan, sebagaimana sudah masyhur dalam catatan sejarah yang mengisahkan tentang keberhasilan Nabi Muhammad dalam menyatukan berbagai kabilah yang merasa hanya kabilahnya yang paling benar, di luar kabilahnya adalah salah. ?

Oleh Nabi Hajar Aswad Jadi Saksi Semangat Nasionalisme dan Persatuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Oleh Nabi Hajar Aswad Jadi Saksi Semangat Nasionalisme dan Persatuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Oleh Nabi Hajar Aswad Jadi Saksi Semangat Nasionalisme dan Persatuan

Demikian disampaikan Yosep Yusdiana, Koordinator Majelis Dzikir Hubbul Wathon Jawa Barat dalam kegiatan Pengajian Syahriahan Gabungan MWCNU Binong dan Tambak Dahan di Masjid Jami Al-Mukhlishin, Desa Citrajaya, Binong, Subang, Jawa Barat, Rabu (23/8)

"Ketika terjadi perdebatan antar kabilah mengenai siapa yang berhak meletakan hajar aswad di Kabah, Nabi Muhammad memberikan solusi yaitu dengan menaruh hajar aswad di atas sajadah lalu diangkat oleh perwakilan dari setiap kabilah," ujarnya di hadapan ribuan Nahdliyin.

Ditambahkannya, dalam perjalanan sejarah di Indonesia pun hampir mirip demikian, para ulama telah megurungkan keinginannya untuk menjadikan Indonesia sebagai negara teokrasi karena melihat keragaman yang ada di Indonesia dan sepakat menjadikan Pancasila sebagai dasar negara demi persatuan di Indonesia.

"Jika memaksakan menjadikan negara teokrasi Indonesia akan terpecah menjadi beberap negara," tandasnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sementara itu, dalam kegiatan yang dihadiri jajaran pejabat Forum Kecamatan Binong dan Tambak Dahan tersebut, Suhaendi selaku Camat Binong memberikan apresiasi kepada masyarakat Binong dan Tambak Dahan yang mayoritas berprofesi sebagai petani, karena walaupun sawah mereka mengalami puso alias tidak panen namun memiliki semangat dan antusias yang tinggi dalam pengajian.

"Puso kali ini harus dijadikan sebagai bahan pelajaran supaya ke depan kita bisa mempunyai pola yang baik dalam menanam padi dan juga bisa mengantisipasi serangan hama," pungkasnya. (Aiz Luthfi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Olahraga, Aswaja, Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 22 Januari 2018

LP Maarif Peroleh Hibah untuk Akreditasi 100 Madrasah

Semarang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Lembaga Pendidikan (LP) Maarif NU Jawa Tengah dibantu dana hibah dari Australian Agency for International Development (AusAid) untuk akreditasi Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) di tiga Kabupaten; Demak, Jepara dan Pati.

LP Maarif  Peroleh Hibah untuk Akreditasi 100 Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)
LP Maarif Peroleh Hibah untuk Akreditasi 100 Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)

LP Maarif Peroleh Hibah untuk Akreditasi 100 Madrasah

Bantuan berupa block grant untuk stimulus tersebut akan diberikan dalam beberapa tahap. Untuk tahap pertama sebanyak Rp 8 miliar untuk 100 MI dan MTs. Dengan dana itu diharapkan dalam tiga semester seluruh madrasah target telah terakdeditasi minimal nilai B.

Komitmen bantuan itu disampaikan  Russel Keogh dan Robert Kingham bersama tim AUSAID dalam kunjungan persiapan teknis ke kantor PWNU Jateng Jl Dr Cipto 180 Semarang, Rabu (29/2).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kunjungan tim AUSAID  tersebut juga dibarengi tim Asesor dari Kemenag RI yang akan melakukan penilaian akreditasi terhadap madrasah target. Para tamu diterima Ketua PWNU Jateng Muhammad Adnan, Wakil Sekretaris Najahan Musyafa, Ketua PW LP Maarif Jateng Mulyani M Nur dan jajarannya, serta sejumlah pejabat Kanwil Kemanag Jateng.

Penanggungjawab program bantuan yang juga Sekretaris LP Maarif NU Jateng, Sahidin, usai menerima kunjungan perwakilan AUSAID mengatakan, setiap madrasah sasaran akan mendapatkan hibah Rp 80 juta.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Uang sejumlah itu langsung ditransfer pihak AUSAID ke rekening sekolah target, dan dipersilakan untuk dibelanjakan material untuk mendukung penilaian akreditasi.

Setiap sekolah yang mendapat bantuan, lanjutnya, harus membuat laporan yang baik sesuai aturan dari AUSAID, dan siap diperiksa sewaktu-waktu termasuk audit fisik dari lembaga donor.

“Sebanyak 100 Madrasah di Kabupaten Demak, Jepara dan Pati akan mendapat masing-masing Rp 80 juta. Kami persilakan belanja apapun untuk bisa memperoleh akreditasi dari tim asesor Kemenag Jateng. Penerima harus membuat laporan yang baik dan siap diperiksa sewaktu-waktu,” ujarnya didampingi penasehat PW LP Maarif NU yang juga anggota tim asesor dari Badan Akreditasi Provinsi Jateng M Zain Yusuf. 

Dia katakan, uang sebanyak Rp 80 juta itu pasti tidak cukup untuk belanja kebutuhan agar memenuhi 157 item syarat untuk MI dan 165 item syarat untuk MTs seperti yang ditentukan oleh asesor.

Pasalnya, dana hibah itu hanya diperbolehkan maksimal 25 persen untuk bidang fisik, sedangkan sisanya 75 persen wajib dialokasikan untuk penguatan sumber daya manusia.

Karena sifatnya stimulus, maka, kata dia, pihak madrasah harus mencari sendiri tambahan untuk kebutuhannya. Dan dia yakin setiap madrasah penerima dana mampu melakukannya karena biasanya sudah punya dukungan kuat dari masyarakat, terutama para kyai dan umatnya.

“Uang Rp 80 juta itu jelas tidak cukup. Makanya disebut stimulus. Madrasah penerima harus mencari tambahan sendiri. Dan saya yakin pasti bisa,” lanjut Sahidin sambil mengantar tim AUSAID melihat-lihat dokumen dan suasana kantor LP Maarif di gedung PWNU Jateng.

Lebih lanjut dia mengatakan, mulai Maret ini dana hibah sudah mulai ditransfer. Direncanakan, kerja sama dengan AUSAID melalui program Australias Education Partnership with Indonesia (AEPI) School System and Quality (SSQ) tersebut akan berjalan selama lima tahun dengan target 300 madrasah terakreditasi.

PW LP Maarif NU Jateng berharap madrasah penerima akan menjadi model bagi madrasah lain. Sebab, jumlah itu baru sebagian kecil dari 3.280 madrasah yang berada dalam naungan LP Maarif NU Jateng. Namun dia jelaskan, dari ribuan madrasah itu, sudah 30 persen yang telah maju dan terakreditasi dengan dana mandiri.

Ketua PWNU Jateng M Adnan mengharapkan, akreditasi dapat meningkatkan kualitas dan profesionalitas madrasah Maarif dalam memberikan pelayanan di bidang pendidikan. Selain itu, madrasah juga diharapkan menjadi percontohan bagi madrasah lainnya yang belum terakreditasi.

"Kami harapkan menjadi madrasah percontohan, karena bantuan memang belum bisa mencukupi seluruh madrasah," katanya.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Ichwan

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pemurnian Aqidah, Warta, Internasional Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 11 Januari 2018

RMINU: Kita Penganut Islam Santai

Kuningan, Pondok Pesantren An-Nur Slawi



Santri bak pohon pisang. Seberapa pun ditebang, ia akan selalu tumbuh dengan tunas-tunas yang baru, menabur kebaikan dan terus-menerus melakukan ikhtiar merupakan identitas seorang santri.

Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Rabithah Maahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI-NU) KH Masrur Ainun Najih saat temu alumni Buntet Pesantren di Hotel Ayong, Linggarjati, Kabupaten Kuningan, pada Ahad, (31/12) malam.

RMINU: Kita Penganut Islam Santai (Sumber Gambar : Nu Online)
RMINU: Kita Penganut Islam Santai (Sumber Gambar : Nu Online)

RMINU: Kita Penganut Islam Santai

"Saya mengapresiasi teman-teman panitia atas terselenggaranya kegiatan ini di malam pergantian tahun. Ini bagian dari kecenderungan kita untuk terus mengenal masa lalu dan tidak ingin ketinggalan zaman. Inilah santri zaman now; khotmil Quran, Tahlilan, dan Marhabanan di hotel, bukan di pondok. Artinya, kita sedang menyelaraskan modernitas dengan tradisi yang selama ini dipertahankan," ucap Kiai Masrur, saat memberikan sambutan sebagai Ketua Umum PP Ikatan Keluarga Alumni Buntet (Iklab).

Di lain tempat, ia mengungkapkan bahwa keberadaan santri dan para kiai dari kalangan NU sangat diharapkan turun langsung ke kampung-kampung. Sebab, di televisi sudah didominasi ustadz atau penceramah yang berseberangan dengan NU. Dalam hal itu, ia berpikir, barangkali memang sudah digariskan Allah.

"Kalau di televisi sudah tidak memungkinkan untuk mendominasi, maka tugas kiai dan santri NU adalah menjangkau orang-orang yang ada di akar rumput. Ini sudah dijatah oleh Allah. Bagian kita bukan di televisi, tetapi langsung tatap muka dan bersentuhan dengan audiens," kata Pemilik Warung Cobiniki, Ceger, Jakarta Timur, itu.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Orang-orang di kota, lanjut KH Masrur, biar menjadi urusan ustadz di televisi. Sementara orang yang ada di kampung, yang jauh dari televisi, mesti dirangkul agar bisa beragama dengan santai. Tidak marah dan tidak mudah menilai orang lain keluar dari jalan Allah.

"Kita ini penganut Islam santai. Tidak terlalu serius, juga tidak terlalu bercanda. Banyak ngguyon, tetapi ada isinya. Santai saja," tutupnya. (Aru Lego Triono/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Anti Hoax, Pemurnian Aqidah, Tokoh Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 08 Januari 2018

Siswa SD di Surakarta Tebar Ajakan Peduli Lingkungan

Solo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Siswa Sekolah Dasar (SD) Ta’mirul Islam Surakarta mengampanyekan gerakan peduli lingkungan melalui aksi yang digelar di kawasan Car Free Day (CFD) di Jalan Slamet Riyadi Kota Solo, Ahad (15/11). Acara yang diisi dengan kegiatan jalan dan bersepeda sehat tersebut, diikuti ratusan siswa dan guru.

Siswa SD di Surakarta Tebar Ajakan Peduli Lingkungan (Sumber Gambar : Nu Online)
Siswa SD di Surakarta Tebar Ajakan Peduli Lingkungan (Sumber Gambar : Nu Online)

Siswa SD di Surakarta Tebar Ajakan Peduli Lingkungan

Sembari menyusuri rute mulai dari halaman SD Ta’mirul dan berakhir di daerah Purwosari, para siswa yang berjalan kaki dan bersepeda, menyampaikan pesan untuk peduli terhadap lingkungan kepada warga dengan membawa beberapa poster, yang antara lain bertuliskan “Bebaskan Lingkungan Sekitar dari Sampah”, “Save Our Earth” dan lain sebagainya.

Panitia kegiatan Nur Mahmud menjelaskan kegiatan yang bertemakan “Mewujudkan Sikap Kepahlawanan Melalui Peduli Lingkungan” ini dimaksudkan untuk mengajak siswa melakukan aksi nyata terhadap kebersihan lingkungan, yang antara lain diwujudkan dengan memunguti sebagaian sampah yang ada di sekitar jalan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Melalui aksi ini, harapannya siswa tidak hanya melihat, tetapi juga ikut melakukan aksi nyata untuk ikut peduli terhadap lingkungan mereka,” terang Mahmud, saat ditemui di lokasi acara.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Salah satu siswa yang ikut dalam kegiatan aksi tersebut, Talita Atisomya Aprinasia, mengatakan dirinya juga ingin menjadi pahlawan lingkungan. “Tadi ikut membersihkan selokan dan membuang sampah,” ujar siswi kelas III itu.

Acara aksi peduli lingkungan pada pagi itu, juga dimeriahkan dengan pementasan musik, musikalisasi puisi dan pantomim yang ditampilkan kolaborasi antara guru dan siswa. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Makam, Pemurnian Aqidah, Pertandingan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 06 Januari 2018

Ribuan Warga Cirebon Peringati Malam Nuzulul Quran

Cirebon, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Ribuan warga Cirebon dan sekitarnya mengikuti tabligh akbar dalam rangka memperingati malam Nuzulul Qur’an di Masjid Raya At-Taqwa Kotamadya Cirebon, Kamis (25/7) malam.

Ribuan Warga Cirebon Peringati Malam Nuzulul Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Warga Cirebon Peringati Malam Nuzulul Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Warga Cirebon Peringati Malam Nuzulul Quran

Acara yang semula direncanakan akan menghadirkan taushiyah dari KH Habib Luthfi Bin Yahya, Pimpinan Jam’iyyah Tarekat NU ini terselenggara berkat kerjasama Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) At-Taqwa Kota Cirebon dan PT. Berkah Pikiran Rakyat.

Ahmad Yani, ketua umum At-Taqwa Center dalam sambutannya mengungkapkan bahwa selain untuk mendapatkan berkah dan keutamaan dari Allah Swt, acara ini juga merupakan respon DKM At-Taqwa atas antusiasme masyarakat dalam acara serupa yang digelar tahun lalu saat ? menghadirkan KH Said Aqil Siroj, Ketua Umum PBNU sebagai penceramah.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Untuk itu kami bersama masyarakat ingin sekali ? untuk kembali memanfaatkan malam yang baik ini guna mengaji dan mendapatkan pencerahan dari para ulama,” Ungkap Ahmad Yani.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selain itu, Nazrudin Azis, wakil walikota Cirebon yang berkesempatan hadir mengatakan dalam sambutannya bahwa kedekatan warga masyarakat Cirebon dengan para ulama harus tetap dipertahankan berdasarkan sebutannya yang terkenal sebagai kota wali. ?

“Peringatan seperti ini menjadi penting guna mendapatkan berkah bulan Ramadan, serta melestarikan kedekatan Cirebon sebagai kota wali dengan para alim ulama,” Tambah Azis.

Peringatan malam Nuzulul Qur’an ini pertama-tama dimulai dengan sambutan-sambutan, pembacaan shalawat, Maulid, serta mahallul qiyam, kemudian dilanjutkan dengan penyampaian ceramah agama.

Pada mulanya acara yang juga memperingati hari ulang tahun yang ke 16 Harian Kabar Cirebon dari Grup Pikiran Rakyat ini akan diisi dengan penyampaian ceramah oleh KH Habib Luthfi Bin Yahya, namun panitia menerima konfirmasi bahwa Habib Luthfi berhalangan hadir dikarenakan terjebak macet di jalur alternatif Tol Pejagan, Tegal saat menuju ke arah Cirebon, namun hal tersebut tampaknya tidak menyurutkan antusias jamaah saat penyampaian taushiyah digantikan oleh KH Luthfi Fuad Hasyim, salah satu pengasuh Pesantren Buntet, Cirebon.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Sobih Adnan

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Tegal, Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 04 Januari 2018

LAZISNU Yogya Santuni Tukang Becak

Yogyakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), memberikan bingkisan lebaran para tukang becak pada Jum’at (2/8). Bingkisan tersebut berasal dari H. Jusuf Kalla yang disalurkan melalui LAZISNU.

Pemberian bantuan yang dominan diberikan kepada Abang Becak ini dilaksanakan di Kantor PW NU DIY, Jln Mt Haryono. Pelaksanaan pemberian bantuan berjalan dengan lancar, tanpa adanya antrian panjang.

LAZISNU Yogya Santuni Tukang Becak (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Yogya Santuni Tukang Becak (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Yogya Santuni Tukang Becak

Ketua Lazisnu DIY Drs. H Sahroini Jamil mengatakan, paket lebaran dari Jusuf Kalla sebanyak 600 paket. Masing-masing cabang Lazisnu PCNU mendapatkan 75. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Sisanya adalah 200 paket yang kemudian kita bagikan kepada abang becak. Dan yang 25 paket kita bagikan kaum dhuafa yang tinggal di dekat kantor Lazisnu yaitu Sodagaran,” ungkapnya.

Tahun ini, kata dia, syiar NU diarahkan ke kaum dhuafa, yaitu dengan memberikan bantuan kepada Abang Becak. Sehingga ketika Abang Becak lewat kantor PWNU yang megah ini, mereka merasa memiliki, terutama memiliki NU. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

H Sahroini Jamil juga menerangkan bahwa pagar mangkuk itu lebih baik dari pada pagar tembok. “Itulah kenapa kita memberikan bantuan kepada Abang Becak” tambahnya.

Pemberian bantuan ini diapresiasi oleh para abang becak. Mereka senang diberikan paket bantuan ini. “Dengan adanya bantuan ini, sangat membantu bagi keluarga kami, terutama menjelang lebaran,” ungkap Mugi Raharjo, abang becak dari Bantul salah satu penerima bantuan.

Redaktur    : Abdullah Alawi 

Kontributor: Nur Sholikhin

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Hikmah, Pemurnian Aqidah, Pesantren Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK): Makhluk Apakah Itu?

Oleh Faried Wijdan

Menteri Agama Republik Indonesia, melaui Direktorat Pendidikan Madrasah belum lama ini meluncurkan agenda pembagian madrasah menjadi empat kelompok. Yaitu madrasah dengan spesialisasi kegamaan (MA-PK), madrasah spesialisasi keilmuan sains dipegang oleh Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia, madrasah spesialisasi vokasi (mirip SMK), dan madrasah reguler yaitu madrasah negeri dan swasta pada umumnya. 

Di tulisan ini, saya ingin menggarisbawahi soal madrasah dengan spesialisasi keagamaan. Barangkali madrasah dengan spesialisasi adalah metamorfosa dari Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK), sebagaimana diprakarsai oleh Menteri Agama, Munawir Sadzali (1988-1983). Madrasah Aliyah Program Khusus digagas pada tahun 1987, sebagai sebuah proyek prestisius Departeman Agama untuk mengantisipasi akutnya persoalan madrasah, terutama menyangkut pengkaderan ulama (program tafaqquh fiddin). MAPK dibentuk berdasarkan keputusan Menteri Agama Nomor 73 Tahun 1987 adalah sebuah pilot project membentuk generasi baru untuk dipersiapkan menjadi pegawai kementerian agama yang lebih profesional dan berwawasan luas serta moderat agar mampu memahami perbedaan pemikiran keagamaan di tengah-tengah masyarakat sehingga bisa mewarnai berbagai wacana perkembangan bangsa dan negara. Meminjam Istilah yang sinis dari Karen Steenbrik, sebagai white collar job.

Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK): Makhluk Apakah Itu? (Sumber Gambar : Nu Online)
Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK): Makhluk Apakah Itu? (Sumber Gambar : Nu Online)

Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK): Makhluk Apakah Itu?

Di sekolah ini diterapkan kurikulum yang padat agama dan bahasa (Arab dan Inggris) serta pembelajaran yang intensif dengan sistem asrama seperti pesantren. Mula-mula dibuka di lima tempat: Padang Panjang, Ciamis, Yogyakarta, Jember dan Ujung Pandang. Pada tahun 1990 dibuka lagi di Lampung, Surakarta, Mataram dan Martapura. Dengan seleksi ketat dan pendanaan memadai (didukung proyek), MAPK dinilai telah berhasil menyiapkan lulusan kader ulama dengan wawasan keislaman, keindonesiaan dan kemodernan yang menawan.

Program yang diusung MAPK adalah program tafaqquh fiddin (pendalaman ilmu agama). MAPK adalah lembaga pendidikan formal non-pesantren yang berperan sebagai penyambung (setidaknya sebahagian dari) ‘tradisi pesantren’ yang tujuannya adalah untuk ber-tafaqquh fiddin, dengan trade mark dan unsur utamanya adalah mengkaji kitab kuning. Secara substantif, hubungan MAPK dan tafaqquh fiddin bagaikan wadah dan isi, MAPK merupakan wadah sedangkan isinya adalah tafaqquh fiddin. MAPK adalah bagian dari madrasah (MA) yang ada pada saat ini dengan struktur program kurikulum yang porsi pelajaran agamanya 70 %. Setiap siswa MAPK juga dituntut untuk menguasai Tujuh Kecakapan untuk Bertahan Hidup (The Seven Survival Skills) ala Tony Wagner (2008) dalam buku The Global Achievement Gap, meliputi: 1) berpikir kritis dan mampu memecahkan masalah, 2) bekerja sama dalam jaringan dan memimpin dengan pengaruh, 3) ketangkasan dan mampu beradaptasi. 4) berinisiatif dan kewirausahaan, 5) komunikasi efektif baik lisan maupun tulis, 6) mengakses dan menganalisa informasi), 7) rasa ingin tahu dan daya imajinasi. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sejak didirikan sampai saat ini, MAPK telah meluluskan ribuan alumni. Alumni MAPK umumnya memiliki kualitas lebih baik dibandingkan yang lain terutama dalam penguasaan materi agama dan bahasa Arab dan Inggris. MAPK berhasil menelurkan intelektual yang agamawan handal dan dan saat ini alumninya menempuh studi ke seantero perguruan-perguruan tinggi elit di Eropa, Amerika Serikat, Australia dan Timur Tengah. Banyaknya alumni yang melanjutkan pendidikan di luar negeri itu memberikan gambaran bahwa MAPK benar-benar telah mampu meluluskan alumni yang memiliki kualitas yang memadai. ‘Pesantren Negeri’ ini sudah melahirkan pribadi dan nama-nama besar, sebut saja: Dr. Asrorun Niam Saleh, Ketua Komite Syariah WAFC ((World Halal Food Council), Habiburrahman El Shirazy, sastrawan Asia Tenggara, Burhanuddin Muhtadi, pengamat politik sohor di republik ini, Teuku Kemal Pasha (antropolog) dan masih banyak nama lainnya yang berkiprah bagi negeri ini. Alumni MAPK telah terbukti mampu berkiprah di semua matra kehidupan: politik, ekonomi, sosial budaya, media dan militer. 

MAPK: Sebuah ‘Proyek Sisipan’ Departemen Agama

Pasca Menteri Munawir Sadzali dan Tarmizi Taher, MAPK bak ‘anak yatim’ yang ‘kurang terawat’ dan ‘diperhatikan’, eksistensinya nyaris tak terdengar, tidak speaks out. MAPK hanya semacam ‘program sisipan’ dan ‘bayangan’. Berbeda misal dengan SMA Taruna Nusantara, sekolah yang digagas oleh Menteri Pertahanan dan Keamanan saat itu, Jenderal LB Moerdani, yang kemudian diresmikan oleh Pangab saat itu, Jenderal Try Sutrisno pada tahun 1990. Padahal usia MAPK 2 tahun lebih tua daripada SMA Taruna Nusantara. 

Ganti menteri, kebijakan pun berubah. MAPK kurang diperhatikan oleh menteri-menteri agama yang menjabat selanjutnya. Program MAPK mengalami restrukturisasi. Puncaknya adalah dengan keluarnya Keputusan Menteri Agama (KMA) No. 371 Tahun 1993, restrukturisasi madrasah dilakukan dengan perubahan MAPK menjadi Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK). Memang secara substansial, antara MAPK dengan MAK tidak ada perbedaan yang berarti, kecuali beban kurikuler MAPK agak lebih berat ketimbang MAK. Dari segi operasional, MAPK didukung proyek, sedangkan MAK tidak. Ditambah dengan KMA 371 Tahun 1993 ini Kanwil Depag diberi wewenang membuka MAK sesuai kebutuhan dan bagi MA yang mau melaksanakan, bukan saja di MAN tetapi juga di MAS. Maka jumlah MAK menjadi semakin banyak dan massif. Cilakanya, pertambahan jumlah yang sangat besar ini tidak dibarengi dengan dukungan dana, sarana, prasarana dan tenaga yang memadai. Meskipun penyelenggaraan program MAPK memperoleh anggaran tersendiri dari pemerintah, namun anggaran yang digulirkan tidak memadai bahkan jauh dari mencukupi. Bahkan di beberapa tahun terakhir, anggaran yang digulirkan oleh pemerinah semakin mengecil dan jauh dari mencukupi kebutuhan. Pemerintah mulai melepaskan tanggung jawab dari penyelenggaraan program MAPK justru ketika program ini telah berhasil. Kondisi MAPK saat ini benar-benar hidup segan mati pun tak mau. Padahal biaya operasional penyelenggaraan program ini cukup besar, mengingat padatnya mata pelajaran yang diajarkan dan menuntut hasil yang lebih baik dari MA regular. Terlebih guru-guru yang mengajar di MAPK sebagian besar merupakan guru honorer yang tentu saja harus diberikan honor yang pantas setiap bulan. Karena memang pemerintah belum pernah mengangkat guru PNS bagi program MAPK. Akibatnya, kualitas MAK mengalami degradasi yang semakin lama semakin buruk. Pada gilirannya, animo masyarakat untuk mendaftar ke sekolah ini menurun drastis. Bahkan sejumlah MA akhirnya harus rela undur diri dari penyelenggaraan program ‘tafaqquh fiddin negeri’ karena tidak lagi mendapat murid. Banyak MAK yang bubar jalan! 

Tidak hanya sampai di sini, dikeluarkannya UU No 20/2003 tentang Sisdiknas (UUSPN 2003) nyata-nyata memunculkan persoalan baru bagi eksistensi MAPK/MAK. Beberapa klausul (UUSPN 2003) yang mengatur tentang jenis pendidikan, penyelenggaraan dan penjurusan (Pasal 15, 18, 30 ) tidak memberikan indikasi yang jelas tentang apa, bagaimana dan di mana status hukum dan legalitas MAK. Artinya, bukan saja masalah degradasi kualitas dan animo masyarakat terhadap MAK, status kelembagaan MAK pun menjadi sangat problematis. Pada tanggal 1 Agustus 2006 Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Dep. Agama RI membuat kebijakan yang mengagetkan, khususnya bagi mereka para penyelenggara MAK (Madrasah Aliyah Keagamaan)[2] melalui surat edaran Nomor: DJ.II.1/PP.00/ED/681/2006 tentang Pelaksanaan Standar Isi, di sana terdapat klausul mulai tahun 2007 MAK tidak lagi diizinkan menerima siswa baru. Artinya, sejak tahun itu MAK mulai berhenti beroperasi dengan kata lain dibubarkan.

MAPK: Pilar Penting Program Revolusi Mental

Sebagai lembaga pendidikan pesantren negeri, keberadaan MAPK/MAK merupakan salah satu pilar penting untuk mendukung revolusi mental sebagaimana digelorakan oleh Presiden Joko Widodo. Sudah saatnya pemerintah memberikan porsi perhatian lebih terhadap MAPK/MAK dalam dunia pendidikan, sehingga revolusi mental dapat berjalan dan membuahkan hasil yang baik. MAPK/MAK mengajarkan budi pekerti, akhlakul karimah, sikap dan nilai-nilai luhur manusia. Tidak cukup di sini, MAPK/MAK selain menyemaikan ajaran tentang agama dan budi pekerti, MAPK/MAK juga menjadi basis penyemaian ajaran semangat kebangsaan, kebhinekaan, moderatisme, dan nilai-nilai Islam Nusantara. Siswa MAPK berasal dari berbagai provinsi, lintas mazhab dan ragam pemikiran. MAPK adalah miniatur Islam Indonesia. Meminjam istilah Burhanudin Muhtadi: MAPK adalah pasar raya ide yang dipenuhi oleh kios-kios yang menjajakan tafsir Islam yang warna-warni. Lulusan MAPK/MAK bisa dikaryakan di berbagai lembaga seperti KPK, Densus 88, BNPT, BNN, dan MUI untuk menjadi garda terdepan memerangi korupsi, kolusi, nepotisme, penyalahgunaan Napza, radikalisme dan ekstremisme. 

Semoga Kementerian Agama benar-benar serius “memodernisasi” MAPK/MAK. Persoalan yang dihadapi MAPK/MAK, seperti gonjang-ganjing tentang kualitas, animo masyarakat, administrasi dan manajemen, status hukum mendesak untuk diperhatikan. MAPK idealnya dibentuk sebagai program mandiri, dikelola oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) sendiri, dikelola dengan sarana dan prasarana pendukung yang memadai, memiliki standarisasi yang baku serta dilengkapi dengan petunjuk pelaksanaan yang jelas. Penyelenggaraan MAPK melalui SK Menteri Agama jangan lagi hanya bersifat susulan dan pelaksanaannya dititipkan dan menginduk ke Madrasah Aliyah Negeri (MAN). Sudah saatnya struktur dan tata kelola organisasi MAPK berdiri sendiri, terpisah dari lembaga lainnya termasuk dari Madrasah Aliyah Negeri (MAN). Selanjutnya, perihal ketidakjelasan status program MAPK menyebabkan administrasi dan manajemen penyelenggaraan program juga tidak jelas, tidak terarah dan tidak mandiri. Hal ini menimpa hampir seluruh MAPK di Indonesia, terutama yang berstatus negeri. Intinya: di samping faktor finansial, tata organisasi dan penyelenggaraan yang tidak mapan, MAPK juga dihadapkan dengan problematika legalitas dan undang-undang. Restrukturisasi MAPK/MAK merupakan sebuah keniscayaan. Semoga ada political will dari sang penentu kebijakan dan MAPK tidak hanya menjadi ‘program sisipan’. Semoga MAPK tidak menuju sanjakala sehingga berefek pada terganggunya kaderisasi ulama plus (ulama intelek dan intelek yang ulama). Saya tidak lebay!

* Penulis adalah alumnus MAPK Surakarta

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pondok Pesantren, Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 22 Desember 2017

Pelatihan Pagar Nusa, IPSI: ini Event Luar Biasa

Kediri, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Memasuki hari keempat, Pelatihan Pelatih Wasit dan Juri Tingkat Nasional yang digelar? Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa di Ponpes Al-Amien, Ngasinan, Rejomulyo, Kediri, Jawa Timur (28/5) berjalan dengan baik dan lancar.

Menurut keterangan Ketua Panitia Miftahul Aziz, peserta pelatihan diikuti hampir dari seluruh PW Pagar Nusa se-Indonesia, termasuk dari Papua.

Pelatihan Pagar Nusa, IPSI: ini Event Luar Biasa (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelatihan Pagar Nusa, IPSI: ini Event Luar Biasa (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelatihan Pagar Nusa, IPSI: ini Event Luar Biasa

Di sela-sela jam istirahat, salah seorang pelatih, Kat Mudjiono (Ketua Lembaga Wasit Juri Nasional PB IPSI) menyampaikan, bahwa penyelenggaraan pelatihan ini cukup baik. Walau begitu, ungkapnya, ada beberapa hal yang tetap harus ditingkatkan ke depan, termasuk dalam hal kedisiplinan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Namun secara umum, peserta pelatihan punya semangat yang luar biasa. "Secara umum saya menilai, peserta pelatihan sangat luar biasa. Terbukti di situ, setelah materi habis, mereka masih melanjutkan latihan sampai malam. Mereka sangat antusias dalam berlatih."

Lebih lanjut Mudjiono menyampaikan, "PB IPSI menilai, pelatihan ini sangat luar biasa, karena ini event nasional yang jarang dilakukan oleh perguruan lain. Dan, itu saya lihat banyak pejabat-pejabat yang datang, termasuk Ketua PBNU, Pak Menteri (Menteri Desa, PDT dan Transmigrasi, Red.), serja Dirjennya, Pak Wakil Gubernur Jawa Timur, Walikota dan Wakil Walikota (Kediri, Red.); sangat mendukung dan antusias sekali."

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sementara itu, salah seorang Majelis Pendekar Pagar Nusa, Kiai Zainal Suwari, mengatakan, pelatihan kali ini cukup banyak peningkatan. Ia pun berharap, ke depannya acara-acara pelatihan akan semakin baik dan berkualitas.

Pendekar asal Pasuruan, Jawa Timur, ini menghimbau agar para pesilat Pagar Nusa tidak menyia-nyiakan setiap event yang diselenggarakan oleh Pimpinan Pusat, atau pun yang lain. (Ali Rahman/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Quote, Pemurnian Aqidah, Habib Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 21 Desember 2017

Bupati Batang Harapkan IPNU-IPPNU Fokus Kaderisasi

Batang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Bupati Batang Yoyok Riyo Sudibyo mendukung sepenuhnya program kaderisasi PC IPNU-IPPNU Batang yang tengah berjalan. Saat pelantikan di pendopo kabupaten Batang, Ahad (4/5), Yoyok menekankan pentingnya makna kaderisasi demi keberlanjutan organisasi pelajar mewarnai perjalanan Indonesia ke depan.

Dalam sambutannya di pelantikan PC IPNU-IPPNU Batang masa khidmat 2014-2016, Yoyok menyatakan bangga pada generasi muda IPNU-IPPNU yang masih peduli dan mau memikirkan Batang.

Bupati Batang Harapkan IPNU-IPPNU Fokus Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Batang Harapkan IPNU-IPPNU Fokus Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Batang Harapkan IPNU-IPPNU Fokus Kaderisasi

“Saya berharap IPNU-IPPNU Batang memiliki visi yang jelas. Jangan dulu terjun ke politik karena kalian masih memiliki tugas untuk mengawal adik-adik pelajar generasi pemimpin bangsa ke depan,” ujar Yoyok.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Yoyok juga menyatakan pihaknya membuka akses seluas-luasnya kepada IPNU IPPNU untuk mensinergikan program kerjanya dengan program kerja di lingkungan pemkab Batang. Menurutnya, sinergi penting dilakukan agar pelajar NU Batang terlibat langsung di tengah pembangunan masyarakat Batang.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Saya juga titip pada Sekjend PP IPNU M Nahdhi dan para senior IPNU agar menjaga kader-kader potensial di Batang. Junior perlu pengarahan demi kemajuan mereka dan kemajuan Batang,” pesan Yoyok.

Sebelum naik memberi sambutan Bupati Batang menerima kenang-kenangan novel berjudul “Asa Anak Desa” karya penulis asal Batang Slamet Tuhari. Slamet kini dipercaya sebagai Wakil Sekjend PP IPNU. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pemurnian Aqidah, AlaNu Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 16 Desember 2017

Luar Biasa, Mahar Menantu Ketum JQH NU Ini 30 Juz Hafalan Al-Qur’an

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Bukan emas atau rupiah, mahar atau maskawin calon menantu KH Muhaimin Zen, Ketua Umum Jamiyyatul Qurra wal Huffazh Nahdatul Ulama? (JQH NU) ini berupa hafalan Al-Qur’an 30 Juz. Tes hafalan Al-Qur’an akan dilakukan bersama-sama oleh calon mertua dan seluruh anggota keluarga selama tiga hari berturut-turut.

Luar Biasa, Mahar Menantu Ketum JQH NU Ini 30 Juz Hafalan Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
Luar Biasa, Mahar Menantu Ketum JQH NU Ini 30 Juz Hafalan Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

Luar Biasa, Mahar Menantu Ketum JQH NU Ini 30 Juz Hafalan Al-Qur’an

Calon pengantin pria yang akan dites hafalan Al-Qur’an 30 juz ini bernama M. Hurril Muhajjalin. Ia akan menikahi putri ketiga dari pasangan KH Muhaimin Zen dan Ny Khodijatus Sholihah yang bernama Huliyatul Jannah.

Tes hafalan Al-Qur’an dimulai Senin (16/5) hari ini dan dilanjutkan Selasa dan Rabu. Selama sehari calon mempelai putra akan menghafalkan Al-Qur’an sebanyak 10 juz dengan pelan dan tartil.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Tes kemampuan hafalan Al-Qur’an ini tidak hanya dilakukan oleh KH Muhaimin Zen. Pihak kelurga mempelai putri juga mengandang keluarga besar mereka, para guru dan dosen hafizh, para mahasiswa hafizh dan calon hafidz dari PTIQ dan IIQ Jakarta, serta STKQ Al Hikam Depok.

“Umumnya mahar sekarang berupa emas, uang, atau yang paling umum seperangkat alat shalat. Mahar berupa menghafa Al-Qur’an ini sudah jangan langka saat ini,” kata Sekretaris Umum JQH NU Zahid Lukman kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi di Jakarta, Senin (16/5).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurutnya, KH Muhamin Zen sangat ingin mempunyai menantu yang hafal Al-Qur’an 30 juz. Dari 3 orang putrinya, Huliyatul Jannah adalah putri bungsu yang saat ini masih menempuh kuliah S1 dan juga sedang menyelesaikan hafalan Al-Qur’an.

Tes hafalan al-Qur’an untuk calon mempelai putra dilakukan secara formal dan terbuka yang diawali dengan pembacaan Al-Qur’an oleh qari’ internasional Hasanuddin Sinaga dan qariah IIQ Mimi Jamilah. Sementara akad nikah baru diadakan pada Ahad (22/5) di kediaman keluarga mempelai putri di kawan Lebak Bulus, Jakarta Selatan. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Bahtsul Masail, PonPes, Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 12 Desember 2017

Apakah Boleh Berdzikir Tanpa Menghitungnya?

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Berdzikir merupakan salah satu amalan yang diperintahkan dalam agama. Di Indonesia sendiri banyak bermunculan majelis-majelis dzikir sebagai ruang penguat spiritual dan ukhuwah? (persaudaraan) secara berjamaah.

Apakah Boleh Berdzikir Tanpa Menghitungnya? (Sumber Gambar : Nu Online)
Apakah Boleh Berdzikir Tanpa Menghitungnya? (Sumber Gambar : Nu Online)

Apakah Boleh Berdzikir Tanpa Menghitungnya?

Kalimat dzikir secara kuantitatif sering ditetapkan jumlahhnya. Lalu, apakah boleh seseorang berdzikir tanpa menghitungnya?

Pertanyaan itu terlontar ketika seorang bernama Doni Irawan bertanya kepada Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang KH Ahmad Mustof Bisri (Gus Mus) dalam sebuah interaksi di media sosial twitter pada Sabtu (29/7) lalu.

“Mohon bimbingan pak kiai..apakah berzdikir harus dihitung dan hitungan ganjil..apa boleh kita berdzikir tanpa menghitungnya,” tanya Doni Irawan (@doni9548) kepada Gus Mus.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu menerangkan bahwa pada prinsipnya, dzikir ialah mengingat dan atau menyebut nama Allah sebanyak-banyaknya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Berdzikir ialah mengingat dan atau menyebut. Yang dituntut adalah berdzikir sebanyak-banyaknya (dzikran katsiirã); tidak harus dihitung,” ujar Gus Mus.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sebelumnya, Gus Mus memberikan taushiyah singkat bertajuk #TweetJumat yang rutin ditulisnya. Gus Mus mengatakan bahwa banyak berdzikir sangat dipujikan dalam agama dan tidak terlalu sulit melakukannya.

“Banyak berdzikir sangat dipujikan dalam agama dan tidak terlalu sulit melakukannya. Nah, sebagai orang beragama, seberapa banyakkah kita sempat berdzikir?” tulis Gus Mus dalam pada Jumat (28/7) lalu. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pemurnian Aqidah, PonPes, Olahraga Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 04 Desember 2017

Bahtsul Masail Muslimat: Pemerkosa Bisa Dihukum Mati

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Maraknya kasus kejahatan seksual terhadap perempuan dan anak-anak menjadi perhatian khusus bathsul masail dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Muslimat NU di Asrama Haji Pondok Gede, Sabtu (31/5). Sejumlah pakar hukum Islam pada forum tersebut membolehkan penerapan hukuman mati bagi para pelaku kekerasan seksual atau pemerkosa.

Dewan Pakar Muslimat NU, Bidang Hukum Islam, Prof Huzaemah T Yanggo mendefinisikan pemerkosaan sebagai pemaksaan hubungan seksual terhadap perempuan atau tanpa kehendak yang disadari oleh pihak perempuan.

Bahtsul Masail Muslimat: Pemerkosa Bisa Dihukum Mati (Sumber Gambar : Nu Online)
Bahtsul Masail Muslimat: Pemerkosa Bisa Dihukum Mati (Sumber Gambar : Nu Online)

Bahtsul Masail Muslimat: Pemerkosa Bisa Dihukum Mati

“Dalam hukum Islam, perkosaan dipandang sebaagai salah satu kejahatan seksual sadistis. Pelakunya berdosa dan harus dihukum berat, yaitu di-had (dicambuk atau dirajam hingga mati) sesuai hukuman bagi pelaku zina, ditambah hukum ta’zir, yaitu hukuman tambahan yang ditetapkan oleh hakim, tergantung pada jenis kejahatan yang dilakukan,” papar Huzaemah, seraya mengutip Al-Qur’an, ayat 33 dari surat an-Nur.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

TKW Terzalimi

Huzaemah juga menyoroti ketidakadilan hukum di Saudi Arabia, yang menimpa banyak tenaga kerja wanita (TKW). Para korban pemerkosaan, katanya, malah dihukum had oleh Hakim, atau bahkan dihukum qisas atau pancung, ketika si korban membela diri, mempertahankan kehormatannya hingga terpaksa harus membunuh sang peemerkosa.

Menurut Huzaemah, TKW yang membunuh majikannya karena mempertahankan diri dari perkosaan atau tindak kekerasan lain, seharusnya dibebaskan dari hukuman. Asalkan dia dapat mendatangkan saksi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Seharusnya majikannya itu yang dikenai hukum had. Namun terkadang, perkosaan yang diderita TKW tidak ada saksinya, maka hal itu bisa dibuktikan dengan pemeriksaan dokter ahli yang independen dan didampingi penasehat hukum,” tandasnya.

Pemaksaan Perbuatan Zina

Sementara, Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ali Mustofa Ya’qub mempunyai definisi tentang pemerkosaan yang berbeda dengan Huzaemah. Menurut Mustofa, pemerkosaan adalah pemaksaan perbuatan zina.

“Jika menggunakan definisi ibu Huzaemah, nanti seorang suami yang karena sesuatu hal, memaksa istrinya berhubungan seksual, bisa disebut pemerkosa juga. Tapi jika didefinisikan sebagai pemaksaan perbuatan zina, maka bisa dikenai dua hukuman, yakni pemaksaan dan hukuman zina,” paparnya.

Mengenai hukuman bagi pemerkosa, menurut Mustofa, bisa dikenakan hukuman mati, dengan dasar bahwa hukuman bagi pezina saja bisa dicambuk atau dirajam, maka ketika perzinahan tersebut dilakukan dengan paksaan bisa dihukum lebih berat.

“Dalam ushul fiqh ada bab ikrah (pemaksaan). Yang dibahas pada bab ini, justru tentang hukum bagi si korban yang dipaksa. Bahwa pembebasan hukuman berlaku karena ikrah. Sementara hukuman bagi pelaku tidak ada had, tetapi ta’zir. Ta’zir ini boleh lebih berat dari had, hal ini berdaasarkan pendapat Syekh Abdul Qadir Audah,” ungkapnya.

Melihat banyaknya kejahatan seksual yang marak terjadi di Indonesia, menurut Mustofa, seharusnya ditetapkan istilah darurat zina. “Kenapa istilah yang digunakan darurat kejahatan seksual, kenapa tidak darurat zina saja. Dengan diksi ini bisa diberlakukan bagi semua pelaku. Terlebih pelaku pemerkosaan terhadap anak-anak. Ini harus dihukum berat,” ujarnya.

Sementara terkait penanganan terhadap anak korban kekerasan, Sekretaris Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Erlinda mengajak Muslimat NU untuk mengajukan revisi Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002, tentang Perlindungan Anak. Terutama dalam tiga isu, tentang perlindungan hak anak; pemenuhan hak dan peran tanggung jawab, serta; peningkatan sanksi hukum pidana tindak kekerasan bagi pelaku dewasa, minimal 20 tahun dan maksimal seumur hidup.

“Kita juga harus meningkatkan penanganan, rehabilitasi dan pendampingan anak korban? dan anak pelaku kekerasan, serta mendorong partisipasi dan kewaspadaan aktif masyarakat terhadap perlindungan anak,” ujarnya. (Abdel Malik/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pemurnian Aqidah, Makam, Olahraga Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 22 September 2017

Lewat Online, NU Care Lazisnu Indramayu Permudah Layanan Zakat

Indramayu, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Untuk mempermudah dan memfasilitasi masyarakat dalam pembayaran zakat infak dan sedekah (ZIS) terus dilakukan NU Care Lazisnu Indramayu. Mereka menyediakan fasilitas online Go ZIS, tenaga lapangan 24 jam akan datang menjemut ZIS ke tempat muzaki, munfiq, atau mushoddik.

Ketua NU Care Lazisnu Indramayu Imron Rosidi mengatakan, petugas Go ZIS berkoordinasi dengan seluruh MWCNU setempat, baik dalam penggalian ZIS maupun penyalurannya.

Lewat Online, NU Care Lazisnu Indramayu Permudah Layanan Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Lewat Online, NU Care Lazisnu Indramayu Permudah Layanan Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Lewat Online, NU Care Lazisnu Indramayu Permudah Layanan Zakat

Layanan Go ZIS juga memudahkan bagi petugas. “Mereka lebih mudah mencari alamat donatur, meskipun tahap awal masih manual melalui telepon maupun sms,” kata Imron.

Selain dimudahkan dalam pendonasian, donatur yang databasenya telah tersimpan di sistem Go ZIS dapat dengan mudah mengetahui penggunaan ZIS-nya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Besaran donasi melalui Go ZIS tidak dibatasi. Artinya, pendonasian menyesuaikan niat dan kemampuan donatur dalam berzakat, infak, dan sedekah.

Imron menyebutkan, dengan layanan Go ZIS yang sudah diterapkan sejak tiga tahun ini, ada sejumlah donatur yang rutin setiap bulan menyalurkan ZIS ke NU Care Lazisnu Indramayu. (Kendi Setiawan/Alhafiz K)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kajian Sunnah, PonPes, Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 15 September 2017

Pesan KH Marzuqi Mustamar Terkait Kepengurusan NU

Jombang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Saat tampil sebagai narasumber terakhir pada seminar kepahlawanan nasional KH A Wahab Chasbullah, KH Marzuqi Mustamar memberikan rambu-rambu terkait kepengurusan NU.? Baginya, rentang sejarah panjang pendirian NU hendaknya dapat dijadikan pelajaran berarti bagi perjalanan NU di masa mendatang.

Pesan KH Marzuqi Mustamar Terkait Kepengurusan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesan KH Marzuqi Mustamar Terkait Kepengurusan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesan KH Marzuqi Mustamar Terkait Kepengurusan NU

"Pertama kali pendirian NU yang antara lain dipelopori KH A Wajhab Chasbullah adalah mewaspadai gerakan Wahabi," kata Wakil Rais PWNU Jatim ini, Ahad (17/5). Keberadaan Komite Hijaz yang dipimpin langsung Mbah Wahab untuk menghadap penguasa baru Saudi Arabia adalah fakta bahwa gerakan wahabi menjadi salah satu alasan berdirinya NU, lanjutnya.

Karena itu Kiai Marzuqi berharap bahwa siapa saja yang akan terlibat dalam kepengurusan NU, khususnya hasil Muktamar NU mendatang adalah mewaspadai dengan seksama kelompok Wahabi. "Pengurus NU ke depan, harus punya kepekaan akan bahaya Wahabi," tandas dosen di UIN Malik Ibrahim Malang ini.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pesan kedua yang disampaikan mantan Ketua PCNU Kota Malang ini adalah agar diupayakan, para pengurus NU di semua tingkatan berasal dari kalangan pondok pesantren salaf dan nasab ulama salaf. "Karena para pendukung dan pejuang NU saat masa awal adalah para santri dan kiai dari pesantren salaf," terangnya. Bahkan tidak ada catatan dalam sejarah bahwa pendukung NU adalah dari kalangan pesantren modern, lanjutnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sedangkan pesan ketiga adalah para pengurus NU masa depan adalah mereka yang tidak terlalu dekat dengan persoalan politik praktis. "Silakan kita memiliki banyak pilihan politik," katanya. Namun dengan jumlah jamaah yang demikian besar, maka membawa warga apalagi jamiyah NU kepada politik praktis sangat berbahaya.

Apa yang telah dilakukan oleh KH A Wahab Chasbullah sangat tepat dan benar. "NU selama ini sudah benar," katanya. Demikian juga adalah pilihan yang tepat kalau kemudian yang dipilih adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI. "NU yang benar, pilihan bentuk negara yang tepat sehingga mampu mengayomi warga adalah warisan paling berharga dari kiprah Mbah Wahab," pungkasnya.

Pj Rais Aam PBNU KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) dan Ketua Lesbumi Sastro Ngatawi sedianya turut mengisi acara seminar kali ini, namun berhalangan hadir karena sedang ada acara pra-muktamar NU zona Sumatera. (Syaifullah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Anti Hoax, Sejarah, Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 12 September 2017

Bagaimana Agar NU Menjadi Lebih Baik?

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Pengurus dan warga NU harus mempunya impian besar. Dengan impian yang besar, masalah-masalah yang yang dihadapi akan terlihat kecil. Sebaliknya, jika memiliki impian kecil, masalah kecil pun akan terlihat besar. ?

Menurut KH Ahmad Bagja, bila menginginkan NU menjadi besar, jangan memikirkan sisi kurang baik dari NU. Namun pikirkan kebaikan yang ada pada NU.

Bagaimana Agar NU Menjadi Lebih Baik? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Agar NU Menjadi Lebih Baik? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana Agar NU Menjadi Lebih Baik?

“Harus kita syukuri juga kita menjadi orang NU. Kita harus memikirkan bagaimana menjadi orang NU yang baik dan berupaya menjadikan NU lebih baik lagi,” kata Sekretaris Jenderal PBNU zaman KH Abdurrahman Wahid ini pada sesi dialog antara PBNU dengan seluruh banom dan lembaga NU di Gedung PBNU Jakarta Pusat, Sabtu (18/6) malam.

Ia lalu mendorong hadirin terutama generasi muda untuk menjadikan IPNU, IPPNU, PMII, GP Ansor menjadi proses untuk mendidik dirinya. Demikian juga dengan menjadi anggota dan pengurus NU dijadikan proses mendidik diri masing-masing.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Maka kaderisasi itu adalah seluruh proses kita dalam berorganisasi di mana pun kita berada. Toalitas kita di situ itulah kaderisasi yang sebenarnya. Itu diwujudkan ketika misalnya menjadi panitia kita menjadi yang terbaik, mencapai yang terbaik,” terang ketua Umum PB PMII Periode 1977-1981.

Ia yakin kebaikan-kebaikan semacam itu memudahkan hidup. Energi kebaikan menjadi modal besar dan sekaligus sebagai kekuatan. “Kalau kita berpikir kita ini biasa saja, seribu kali kita mendengar nasihat atau dorongan orang untuk maju, kita akan biasa-biasa saja. Yang membuat kita luar biasa adalah diri kita sendiri,” tutur Kiai Bagja.

Salah satu modal terjadinya perubahan terbesar, menurut dia, disebabkan pola pikir. Dalam keinginan menjadikan NU lebih maju, bangunlah pola pikir untuk menjadikan NU yang baik. ?

“Setiap bangun tidur, langsung pikirkan bahwa NU akan menjadi baik dengan usaha-usaha kita. Bukan malah membiarkan diri kita dibayang-bayangi pemikiran NU tidak baik,” katanya seraya mengungkapkan bahwa kemajuan dan bertahannya NU bukanlah hal yang disukai banyak orang.

Yang diinginkan? NU, sambungnya, tetapi tidak diinginkan oleh musuh-musuh NU adalah bersatu dan kuatnya NU. “Oleh karenanya kitalah yang harus bersatu membangun NU,” tegasnya. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi News, Fragmen, Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 26 Mei 2017

Habib Luthfy Imbau Umat Islam Tunggu Pemerintah

Pekalongan, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Habib Muhammad Luthfy bin Hasyim bin Ali bin Yahya, ulama asal Pekalongan, mengimbau umat Islam yang akan menjalani ibadah puasa tahun 1434 H untuk menunggu keputusan pemerintah.

Habib Luthfy Imbau Umat Islam Tunggu Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfy Imbau Umat Islam Tunggu Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Luthfy Imbau Umat Islam Tunggu Pemerintah

Hal ini perlu disampaikan agar ummat tidak bingung mana yang harus diikuti untuk memulai ibadah puasa yang merupakan bagian dari rukun Islam.

Hal tersebut disampaikan Ahmad Tubagus Surur Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan usai menghadap Habib Luthfy Selasa (2/7) di kediamannya Pekalongan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dikatakan Habib Luthfy, sebagai ulil amri pemerintah tentu telah melakukan berbagai upaya untuk memberikan pelayanan terbaiknya kepada ummat, termasuk pengaturan tata cara beribadah puasa yang memang ummat memiliki banyak keterbatasan termasuk keterbatasan untuk dapat melihat awal bulan. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

PCNU Kota Pekalongan sendiri menurut Surur, juga telah melakukan berbagai persiapan antara lain mengumpulkan tamir masjid dan musholla se Kota Pekalongan yang berlangsung di Gedung Sholawat untuk diberi penjelasan seputar awal puasa.

Sedang kegiatan lain terkait dengan awal Romadlon, Lajnah Falakiyah akan membuka posko awal puasa di Gedung Aswaja Jalan Sriwijaya 2 Pekalongan hari Senin besok jam 17.00 - 21.00 untuk mempublikasikan hasil rukyatul hilal baik yang dilakukan oleh PCNU Kota Pekalongan, PWNU Jawa Tengah maupun oleh PBNU melalui website PCNU Kota Pekalongan di www.nubatik.net maupun melalui Radio Aswaja 107.8 FM.

Dalam penjelasan di hadapan pengurus tamir masjid dan musholla NU se Kota Pekaloan ngan, Wakil Rais PCNU Kota Pekalongan KH. Abdul Fattah Yasran mengatakan, secara teori posisi bulan tanggal 8 Juli 2013 masih di bawah ufuk dan jika ada beberapa kitab yang menerangkan sudah di atas ufuk namun posisisinya masih di bawah 2 derajat yang secara mata telanjang sulit untuk dapat dilakukan rukyat.

Atas dasar itu, menurut Kiyai Fattah, bulan Syaban dimungkinkan istikmal 30 hari dan puasa ramadlan jatuh pada hari Rabu 10 Juli 2013. Meskipun demikian, pihaknya meminta kepada ummat Islam untuk menunggu PBNU dan Pemerintah untuk kepastian awal ramadlan. 

 

Redaktur       : Syaifullah Amin

Kontributor  : Abdul Muiz

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pemurnian Aqidah, Tokoh Pondok Pesantren An-Nur Slawi