Tampilkan postingan dengan label IMNU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IMNU. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Maret 2018

Layanan Pengesahan Buku Nikah di Kuala Lumpur

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Republik Indonesia menemukan beberapa faktor terhadap pelayanan Kedutaan Besar Republik Indonesia Kuala Lumpur (KBRI KL) dalam hal pengesahan buku nikah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di Kuala Lumpur, Malaysia.

Pada Seminar Hasil Penelitian Pencatatan Perkawinan WNI di Luar Negeri, di Hotel Aryaduta, Jakarta, awal November Agus Mulyono yang meneliti kasus tersebut mengatakan terdapat beberapa faktor pendukung terhadap pelayanan pengesahan buku nikah.

Layanan Pengesahan Buku Nikah di Kuala Lumpur (Sumber Gambar : Nu Online)
Layanan Pengesahan Buku Nikah di Kuala Lumpur (Sumber Gambar : Nu Online)

Layanan Pengesahan Buku Nikah di Kuala Lumpur

(Baca: Ini Penyebab Kawin Sirri WNI di Belanda)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pertama, kata Agus, KBRI KL selalu menyesuaikan untuk melakukan terobosan terkait pelayanan yang  diperlukan bagi Warga Negara Indonesia (WNI). Peraturan di Malaysia, katanya, sering berubah, sehingga beberapa kali KBRI pun melakukan terobosan dalam pelayanan pengesahan buku nikah.

Kedua, ketepatan waktu petugas KBRI KL dalam memberikan pelayanan. Ketiga, ketertiban para WNI yang sedang mengajukan permohonan di KBRI. Keempat, Pemerintah Malaysia tertib administrasi.

Selian faktor pendukung, juga terdapat beberapa faktor penghambat.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi





Pertama, dokumen TKI ada yang palsu. Menurutnya, KBRI KL cukup ketat dalam mengeluarkan permohonan pengesahan buku nikah.

Kedua, TKI memilih nikah sirri. Menurutnya, terdapat beberapa TKI yang telah menikah di Indonesia mengaku enggan untuk mengurus pengesahan buku nikah dengan beralasan tidak paham dalam mengurusi pengesahan tersebut.

Ketiga, para pekerja asing yang bekerja di negara Malaysia menggunakan Pas Lawatan Kerja Sementara (PLKS) yang dikeluarkan oleh jebatan Imigrasi Malaysia tidak diperkenankan untuk kawin di Malaysia dan Keempat, peraturan Imigrasi Malaysia sering berubah.

Penelitian tersebut dilakukan Agus bersama Lastriyah, pada 24 April sampai 3 Mei 2017.

Pada seminar tersebut disampaikan pula bahwa selain penelitian di Kuala Lumpur, juga dilakukan di Johor Bahru (Malaysia), Hong Kong, Belanda, dan Arab Saudi. (Husni Sahal/Kendi Setiawan) 

Baca Kajian Keagamaan lainnya DI SINI

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi IMNU Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 23 Februari 2018

Islam dan Nasionalisme Saling Melengkapi

Tasikmalaya, Pondok Pesantren An-Nur Slawi



PCNU Kabupaten Tasikmalaya menggelar Halaqah Kebangsaan dalam rangka Harlah NU ke 94 dan Pelantikan Pengurus PCNU Kabupaten Tasikmalaya periode 2017-2022.?

Peserta Halaqah Kebangsaan kali ini adalah para ajengan, kiai dan santri di wilayah Kabupaten Tasikmalaya.

Islam dan Nasionalisme Saling Melengkapi (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam dan Nasionalisme Saling Melengkapi (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam dan Nasionalisme Saling Melengkapi

"Lewat Halaqah Kebangsaan ini kami ingin menguatkan komitmen ulama-ulama NU, khususnya yang ada di Kabupaten Tasikmalaya dalam hal menjaga keutuhan Indonesia," kata Ketua PCNU Kabupaten Tasikmalaya KH Atam Rustam, Ahad (23/4).

Saat ini, kata Atam, ada kelompok-kelompok yang berusaha mengkotak-kotakan Islam dengan rasa nasionalisme itu sebagai bagian yang terpisah.?

Padahal, lanjut Atam, ke duanya merupakan bagian erat yang tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Antara Islam dan nasionalisme itu, kata Atam, saling mengisi dan melengkapi. Islam sebagai agama memiliki peran dalam mewujudkan masyarakat beradab dan bermartabat. Sedangkan nasionalisme merupakan bagian penting sebagai buah atas kecintaan pada tanah air Indonesia.

"Semuanya saling melengkapi dan saling mengisi. Dan komitmen kebangsaan itu yang akan senantiasa dijaga oleh ajengan, kiai dan ulama-ulama NU," pungkas Atam. (Nurjani/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi IMNU, Kajian Sunnah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 14 Februari 2018

Dakwah Beda dengan Amar Makruf-Nahi Munkar

Demak, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Dakwah yang bijak dan santun seperti praktik Wali Songo dan para kiai di Indonesia, diangkat dari ajaran otentik Islam yang diterapkan Nabi Muhammad SAW. Karenanya, dakwah Islam itu berbeda dengan amar makruf dan nahi munkar.

Dakwah Beda dengan Amar Makruf-Nahi Munkar (Sumber Gambar : Nu Online)
Dakwah Beda dengan Amar Makruf-Nahi Munkar (Sumber Gambar : Nu Online)

Dakwah Beda dengan Amar Makruf-Nahi Munkar

Demikian dinyatakan Wakil Rais Aam PBNU KH A Musthofa Bisri yang lazim disapa Gus Mus ini dalam sarasehan Festival Wali-Wali Jawi 2014 di pendopo kabupaten Demak, Sabtu (22/2).

“Dakwah Islamiyah, tidak sama dengan amar makruf nahi munkar. Para wali dengan teliti memasukkan ajaran Islam melalui budaya yang ada,” terang Gus Mus sebagai pembicara kunci dalam sarasehan bertema “Menapak Jejak Auliya, Meneladani Kearifan Mengajak”.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Gus Mus dalam forum itu menjelaskan, cara dakwah Nabi Muhammad SAW yang diteruskan Wali Songo pada abad 14 di Pulau Jawa khususnya selalu mengedepankan kebersamaan, menggunakan pendekatan kebudayaan, dan kesenian yang berlaku.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Model dakwah ini bahkan menghindari konflik atau tersinggungnya warga setempat sehingga tujuan dakwah berhasil tanpa mengorbankan aqidah dan syari’ah. “Mereka tidak mengubah budaya lokal, tetapi mengisinya dengan ajaran Islam,” jelas Gus Mus.

Festival yang berlangsung di pendopo kabupaten ini diikuti kerajaan dan pemangku makam para wali se-Jawa. (A Shiddiq Sugiarto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ulama, IMNU, Ahlussunnah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 28 Januari 2018

Tanamkan NU Sejak Dini dengan Lomba Cerdas Cermat

Cirebon, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Belasan regu dari sejumlah sekolah dan pesantren se-Kabupaten Cirebon mengikuti lomba cerdas cermat memperingati Harlah Ke-82 Nahdlatul Ulama. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Lembaga Kajian dan Pengembagan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Cirebon bekerjasama dengan PC PMII setempat di Pesantren Darul Ulum Klangenan, Jum’at (25/1) kemarin.

Selain lomba cerdas-cermat, juga digelar lomba karya tulis santri. Kegiatan ini, menurut Ketua Lakpesdam Cirebon Ali Mursyid, dimaksudkan juga untuk menanamkan ideologi ke-NU-an di kalangan remaja usia sekolah, agar dapat membentengi mereka dari virus ajaran Islam garis keras.

Tanamkan NU Sejak Dini dengan Lomba Cerdas Cermat (Sumber Gambar : Nu Online)
Tanamkan NU Sejak Dini dengan Lomba Cerdas Cermat (Sumber Gambar : Nu Online)

Tanamkan NU Sejak Dini dengan Lomba Cerdas Cermat

Lomba cerdas cermat dan karya tulis santri merupakan salah satu dalam rangkaian peringatan Harlah NU ke-82 yang dilaksanakan oleh Lakpesdam bekerja sama dengan PC PMII dan beberapa lembaga dan badan otonom NU.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“PC Lakpesdam Cirebon menyelenggarakan Dwi Pekan Muharram dan Harlah NU ke-82 dengan tema meneguhkan tradisi untuk pemberdayaan masyarakat. Yang paling penting dari seluruh kegiatan yang ada adalah Pengkaderan NU Cirebon yang berlangsung 28-30 Januari 2008 dan halqah kamu muda NU se-Indonesia 3-7 Februari 2008”, kata Ali.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ketua Panitia dari PMII Cirebon Ibnu Hamdun menyatakan, PMII dengan suka hati bekerjasama dengan Lakpesdam Cirebon, demi meramaikan Harlah NU ke-82. "NU-lah yang melahirkan PMII, meski PMII tetap independen," katanya.

Dwi pekan Muharram 1429 H dan peringatan Harlah NU ke-82 juga diisi dengan rangkaian kegiatan lainnya, seperti Safari Khittah, dan juga pagelaran seni tradisi NU sebagai puncak acara Harlah.

Menurut Ali Mursyid, Safari Khittah yang dimaksud bukan lagi bermakna Safari Khittah NU yang dilakukan ketika kiai-kiai dianjurkan bukan hanya berkecimpung di PPP seperti dulu, tetapi lebih sebagai usaha memurnikan misi sosial NU dengan mempertemukan kiai-kiai sepuh dengan warga NU di tingkat MWC-MWC. (nam)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi IMNU, Kajian Islam, Ulama Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 24 Januari 2018

Pesantren Al-Badriyyah Mranggen Selenggarakan Haflah Ke-41

Demak, Pondok Pesantren An-Nur Slawi



Pondok Pesantren al-Badriyyah Mranggen Demak kembali menyelenggarakan haflah at Tasyakkur Khotmil Al-Quran ke 41 pada Sabtu (13/5) di halaman pesantren. Acara ini merupakan agenda rutin setahun sekali yang dilaksanakan sebagai bentuk syukur atas prestasi santri dalam mengaji dan menghafal ? al-Qur’an.

Pesantren Al-Badriyyah Mranggen Selenggarakan Haflah Ke-41 (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Al-Badriyyah Mranggen Selenggarakan Haflah Ke-41 (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Al-Badriyyah Mranggen Selenggarakan Haflah Ke-41

Sebagaimana diketahui, Khotmil Qur’an merupakan salah satu tradisi pesantren yang telah berlangsung berabad lama. Khotmil Qur’an di pesantren termasuk salah satu ritual sakral, sebagai wujud rasa syukur atas keberhasilan para santri dalam mengkhatamkan al-Qur’an. Demikian, di pesantren tidak hanya menekankan pada kualitas membaca dan tajwidnya, melainkan juga pada silsilah sanad. Sehingga transmisi pembelajaran Al-Qur’an yang dilaksanakan oleh Pesantren al-Badriyyah Mranggen tidak abal-abal, tetapi sanad gurunya jelas.

Pengasuh Pesantren al-Badriyyah Mranggen, KH Muhibbin Muhsin al-Hafidz dan Nyai Hj Nadhiroh, al-Hafidzoh merupakan ulama kharismatik yang sangat istiqomah menjaga hafalan Al-Qur’an para santri. Melalui bimbingannya, sudah ratusan alumni yang berhasil menyelesaikan hafalan Al-Qur’an 30 juz dan mendirikan pesantren berbasis Tahfidz Al-Qur’an di berbagai daerah.

Pada Khotmil Qur’an ke-41 kali ini, jumlah khotimin-khotimat sebanyak 289 santri, dengan rincian; khotimat bil hifdhi 30 juz 7 santri; khotimat Binnadzri 91 santri; khotimat bil hifdzi juz ‘amma 100 santri; khotimin bil hifdhi 30 juz 2 santri; khotimin bin nadzri 45 santri dan khotimin bil hifdhi juz ‘amma 44 santri. Pengasuh berharap agar para santri terutama kepada santri yang telah hafal Al-Quran 30 juz ? tetap berusaha menjaganya dengan istiqomah.

Prosesi khotmil Qur’an dimulai tepat pukul 18.30 WIB. Tampak hadir para kiai dan masyayikh serta ibu nyai, di antaranya KH Ulin Nuha Arwani. AH, KH Ulil Albab Arwani, AH (Kudus), KH Muhammad Hanif Muslih, Lc, KH Ishaq Ahmad, Hj Ishmah Ulin Nuha, Hj Zuhairoh Ulil Albab, Hj Mutammimah Harir, Hj Jamilah Hamid, dan lain-lain.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dalam tausiyah yang disampaikan oleh KH Ulin Nuha Arwani, para santri diharapkan bersyukur kepada Allah SWT karena telah diberi nikmat mengkhatamkan Al-Qur’an, apalagi sampai ada santri yang dapat mengkhatamkan Al-Qur’an 30 juz bil hifdzi.

“Cara bersyukur yakni tetap membacanya dengan rutin dan istiqomah dengan terus mengkaji, menghayati, dan mengamalkan isi kandungan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari,” terangnya.

Ketua panitia penyelenggara, H Muhammad Hamam Muhibbin, mengatakan bahwa selain sebagai wujud rasa syukur atas keberhasilan santri Pesantren Al-Badriyyah dalam mengikuti pembelajaran mengkaji Al-Qur’an, kegiatan khotmil Qur’an ini merupakan wadah syiar tentang perlunya pembelajaran Al-Qur’an dan harus ditangani dengan serius.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Alhamdulillah, semoga mengaji Al-Qur’an di pesantren ini, bisa bermanfaat baik untuk para santri, keluarga dan masyarakat. Lebih dari itu, amat diutamakan agar ajaran-ajaran Al-Qur’an bisa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Seusai prosesi wisuda para khotimin-khotimat, puncak acara Khotmil Qur’an ini dilanjutkan pengajian akbar oleh KH Mu’in Abdurrohim dari Banjar Jawa Barat dan KH Mahyan Ahmad dari Grobogan Jawa Tengah. Pengajian berlangsung meriah nan khidmat. Tidak kurang dari 2000-an jamaah memadati halaman Pesantren al-Badriyyah, baik para wali santri, alumni, dan masyarakat sekitar.

Dalam mauidhoh hasanah-nya, KH Mu’in Abdurrohim mengisahkan kembali kehidupan orang tua Imam Syafi’i yang sarat makna hikmah yang patut diteladani oleh masyarakat sekarang ini.

“Dari pasangan suami-istri yang terjaga dari dosa dan maksiat, haram dan kemungkaran ini, kemudian lahir seorang anak shaleh teladan, yang bahkan dalam umur enam tahun telah hafal Al-Qur’an. Dialah Muhammad bin Idris Assyafi’i yang tak lain adalah Imam Syafi’i. Itulah buah kesabaran dari ayah seorang ulama besar sepanjang masa ini. Sang ayah begitu sabar dalam menahan dan menghindari makanan yang haram, juga ibu yang selalu menjaga kesuciannya.” jelasnya

Lebih lanjut ia menjelaskan tentang peranan santri dan ulama dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Menurutnya santri merupakan bagian dari entitas umat Islam Nusantara, boleh dikata santri merupakan wakil umat Islam dalam proses kemerdekaan kala itu yang patuh pada petuah ulama yang penuh nilai-nilai qur’ani.

“Saat mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, para santri dan kiai pesantren memahami dan menerapkan betul kalimat hubbul wathan minal iman, cinta tanah air adalah sebagian dari iman. Sehingga apapun akan mereka lakukan untuk mempertahankan kemerdekaan tersebut. Meski harus mengkorbankan nyawa sekalipun.” imbuhnya.

Sementara, KH Mahyan Ahmad mengingatkan kembali kepada orang tua akan peranan pentingnya untuk membekali anak-anak ? mereka sejak dini dengan ilmu agama. Dengan demikian keimanan yang tertanam pada diri sang anak bisa membentengi diri mereka dari pengaruh negatif. Pendidikan, terutama pendidikan akhlak adalah kunci ? dan bekal utama dalam menjalani kehidupan bermasyarakat. Pendidikan bagi anak sangat penting karena mereka adalah generasi penerus bangsa.

“Maka kepada orang tua, jangan ragu memondokkan putra-putrinya di pesantren. Karena hal itu juga merupakan investasi masa depan orang tua. Karena setelah orang tua ? meninggal dunia, putra-putrinya akan fasih mengirim doa dan bacaan tahlil kepadnya,” tuturnya dengan gaya humoris dan mengundang gelak tawa.

Kepada para santri ia berpesan agar selalu berbakti dan berbuat baik kepada orang tua karena salah satu dari tiga hal yang disabdakan Nabi Muhammad SAW yang membuat hidup tidak manfaat dan tidak berkah serta selalu mengalami berbagai macam kesulitan adalah durhaka kepada kedua orangtua, memutus tali silaturahmi dan tak mau membayar zakat/sedekah. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi IMNU Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Antusias Warga Berkartanu Sangat Tinggi

Jombang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Tertib administrasi dan pendataan warga nahdliyin lewat kepemilikan Kartu Tanda Anggota NU (Kartanu) sudah selayaknya jadi perhatian utama. Apalagi perhatian dan respon warga di beberapa daerah juga sangat membanggakan.

Antusias Warga Berkartanu Sangat Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)
Antusias Warga Berkartanu Sangat Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)

Antusias Warga Berkartanu Sangat Tinggi

Panitia Kartanu di Jombang cukup optimis bahwa program ini akan berlangsung sukses. Apalagi saat melakukan sejumlah sosialisasi di berbagai Majelis Wakil Cabang (MWC), hampir semuanya menanggapinya dengan serius. "Ada juga yang masih mempertanyakan dan mengajukan berbagai pertanyaan," kata Ahmad Syifa yang juga Wakil Ketua Kartanu di Jombang.

Namun apa yang disampaikan dan dipertanyakan sejumlah pengurus MWC adalah sebuah hal yang wajar. "Pertanyaan dan keraguan dari MWCNU itu mewakili sejumlah tanya dari beberapa warga," katanya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Di antara yang dipertanyakan adalah soal keuntungan atau benefid yang nantinya akan diterima warga saat mereka memiliki kartu identitas tersebut. "Kira-kira apakah yang akan kami terima kalau kemudian memiliki kartu ini?" kata salah seorang pengurus ranting saat sosialisasi di MWCNU Sumobito beberapa waktu lalu.

Ahmad Syifa menyampaikan bahwa ada beberapa keuntungan yang bisa diraih bagi pemegang Kartanu. Diantaranya adalah sejumlah keringanan biaya saat menggunakan fasilitas sejumlah rumah sakit di Jombang. Yakni Rumah Sakit Unipdu Medika Peterongan, Rumah Sakit Nahdlatul Ulama serta Rumah Sakit Ibu dan Anak Muslimat Jombang.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Namun hal itu hendaknya jangan dijadikan faktor utama dalam mensukseskan program Kartanu. "Yang terpenting adalah mensukseskan amanah organisasi," kata Afandi, Wakil Sekretaris Kartanu.

Antusiasme para nahdliyin di kota santri untuk mengikuti program Kartanu terus menggeliat. Dalam beberapa bulan kedepan tim Kartanu akan terus bergerak untuk melaksankan pemotretan. Untuk bulan Maret ini adalah untuk daerah MWC Jombang, MWC Peterongan, MWC Sumobito dan MWC Kesamben.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syaifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi AlaNu, IMNU, Nusantara Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 21 Januari 2018

Isra’ dan Mi’raj, Warga NU Sudan Diminta Fokus pada Profesi

Khartoum, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama’ Sudan menggelar pengajian akbar dalam rangka memperingati Hari Besar Islam? isra’ dan mi’raj di Aula Haji Agus Salim KBRI, Khartoum, Sudan, Jumat (6/5) sore. Para hadirin yang berjumlah lebih dari seratus orang ini diminta untuk menjalankan kewajibannya masing-masing di Sudan.

Pengajian ini berbarengan dengan pelantikan pengurus baru PCINU dan Muslimat NU Sudan masa khidmah 2016-2017.

Isra’ dan Mi’raj, Warga NU Sudan Diminta Fokus pada Profesi (Sumber Gambar : Nu Online)
Isra’ dan Mi’raj, Warga NU Sudan Diminta Fokus pada Profesi (Sumber Gambar : Nu Online)

Isra’ dan Mi’raj, Warga NU Sudan Diminta Fokus pada Profesi

Kepengurusan NU Sudan ke depan akan dipimpin Kiai Ribut Nur Huda sebagai Rais Syuriyah, Azim Aufaq sebagai Ketua NU Sudan, dan Faridhatunnisa sebagai Ketua Muslimat NU Sudan masa khidmah 2016-2017.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kiai Mirwan Akhmad Attaufiq yang diminta mengisi taushiyah mengajak para hadirin untuk selalu ingat dengan tugas masing-masing. “Jika ia seorang pelajar, kewajibannya adalah belajar. Jika ia seorang pekerja, kewajibannya adalah bekerja.”

Kiai Mirwan juga mengingatkan warga Indonesia di Sudan untuk selalu melaksanakan tugas utama, shalat lima waktu.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Acara ini dihadiri oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Sudan, para staf KBRI Khartoum Sudan, para pekerja asal Indonesia, organisasi kekeluargaan di Sudan, para mahasiswa dan seluruh anggota PCINU Sudan.

Turut hadir Mustasyar PCINU Sudan Syeikh Sulaiman Muhammad Ali dan Mustasyar Muslimat NU Sudan Prof Syati Hasanat.

Panitia Lembaga Dakwah berterima kasih kepada seluruh pihak-pihak yang membantu terlaksananya acara ini. Pertemuan ini ditutup dengan do’a bersama yang dipimpin oleh Ustadz Sidik Ismanto. ?

Alhamdulillah acara ini berjalan lancar dengan dihadiri oleh lebih dari 150 hadirin,” kata Abdul Ghofur. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi IMNU, Humor Islam, Ubudiyah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 20 Januari 2018

Kiai Muchit Muzadi dan Kegemarannya

Mbah Muchit begitu beliau akrab disapa. Pria kelahiran 4 Desember 1925 di Bangilan, Tuban itu, terlahir dengan nama lengkap Abdul Muchit. Ketika dewasa, ia menisbatkan nama ayahnya dibelakang namanya, sehingga menjadi Abdul Muchit Muzadi.

Bagi warga NU, nama Mbah Muchit tak asing. Ia dikenal sebagai pengawal khittah NU setelah ditetapkan pada muktamar NU tahun 1984 di Situbondo. Saat itu, kakak kandung Ketua Umum PBNU 1999 - 2009 KH Hasyim Muzadi itu, menjadi sekretaris pribadi Rais ‘Aam PBNU KH Achmad Siddiq. Konon, teks Khittah An-Nahdliyah yang dipresentasikan oleh Kiai Siddiq saat itu, ia yang mengetiknya.

Kiai Muchit Muzadi dan Kegemarannya (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Muchit Muzadi dan Kegemarannya (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Muchit Muzadi dan Kegemarannya

Sepanjang hidupnya ia dedikasikan dirinya untuk NU. Bahkan, beberapa saat sebelum kembali ke haribaan Allah SWT, 6 September dua tahun yang lalu, beliau masih sempat "cawe-cawe" menenangkan hiruk pikuk pasca Muktamar 33 NU.

Namun, dibalik kiprahnya di NU dan masyarakat, ada sisi yang menarik dari sosok Mbah Muchit. Ia merupakan sosok yang gemar membaca dan menulis. Sampai di penghujung usianya, ia masih berlangganan beberapa surat kabar nasional di kediamannya di Jember. Setiap pagi ia rajin membaca koran dan juga majalah.

Selain itu, ia juga gemar membaca berbagai literatur. Tak hanya literatur yang sefaham, bahkan ia juga mengkaji literatur lintas madzab dan lintas kajian. Pada sebuah kesempatan ia pernah bercerita. Kawan-kawannya di Muhammadiyah Jember tak pernah mendebatnya. Meski, anatara NU dan Muhammadiyah kerap kali berbeda pendapat. Apa pasalnya?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Mereka tidak berani berdebat karena referensi kemuhammadiyahannya lebih lengkapan saya," tuturnya sembari tersenyum.

Berkat kegemarannya membaca ini, beliau juga penulis yang cukup produktif. Banyak artikelnya yang dimuat di media massa. Terutama tentang ke-NU-an. Selain itu, juga ada beberapa buku yang berhasil diselesaikan oleh beliau.?

Di antaranya adalah Fikih Perempuan Praktis (Khalista), Mengenal Nahdlatul Ulama (Khalista) dan NU dalam Perspektif Sejarah dan Ajaran (khalista).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selain yang sudah terbit, ketika beliau wafat, masih banyak pula tulisan-tulisannya yang masih berupa manuskrip. Belum pernah dipublikasikan dan tersimpan di perpustakaan pribadinya di Jember.

Tak hanya membaca dan menulis, sisi literasi Mbah Muchit yang menarik adalah tentang kegemarannya membagikan buku. Untuk hal ini, ada beberapa cerita sebagaimana yang ditulis oleh Muhammad Subhan dalam "Berjuang Sampai Akhir: Kisah Seorang Mbah Muchit".

Suatu ketika, Mbah Muchit menggelar pengajian setiap malam Sabtu di Masjid Sunan Kalijaga di samping rumahnya yang tak jauh dari Kampus UNEJ tersebut. Pengajian yang ia ampu adalah tentang keaswajaan. Yang menjadi rujukan dalam pengajian tersebut, adalah "Aswaja dalam Persepsi dan Tradisi NU" dan "Wawasan Umum Ahlussunnah wal-Jamaah" yang keduanya ditulis oleh KH Tolchah Hasan.

Kedua buku tersebut ternyata sudah jarang beredar di toko-toko buku. Adanya hanya di penerbitnya yang berada di Jakarta. Mbah Muchit pun memesan buku yang harganya Rp. 50 ribu per ekslempar itu. Lalu, ia membagikannya kepada para jamaahnya. Sayangnya, setelah buku itu dibagikan, malah tak banyak jamaahnya yang kembali datang untuk mengkaji buku tersebut.

Tak hanya itu, pada 2006 Mbah Muchit membagikan bukunya sendiri yang berjudul "Mengenal Nahdlatul Ulama". Buku yang setebal 60 halaman dan dicetak dengan biaya sendiri itu, ia bagikan ke pengurus MWC dan Cabang NU se-Jawa Timur. Juga kepada pengurus PWNU dan PBNU yang saat itu sedang mengadakan pertemuan di kantor PWNU di Surabaya. Total ada 1.200 ekslempar buku yang ia bagikan dari 1.500 buku yang dicetak.

Honorium yang didapatnya dari penerbit ketika menerbitkan buku, juga tak pernah beliau ambil. Mbah Muchit lebih senang mengambilnya dalam bentuk buku. Lalu, ia bagikan kepada orang lain yang datang bertamu atau saat ada acara.

Desember 2005, ketika ulang tahunnya ke-80, Mbah Muchit juga membagikan bukunya yang berjudul "Fikih Perempuan Praktis". Saat itu, ia sedang mengadakan acara di Pesantren KH Wahid Hasyim, Bangil, Pasuruan. Begitu pula saat Munas dan Konbes NU di Surabaya pada 2006. Saat itu, beliau membagikan buku "NU dalam Perspektif Sejarah dan Ajaran".

Untuk buku yang terakhir ini, saya pernah mendapatkannya pula. Gratis pula. Saat itu, saya diberi oleh seseorang di pondok. Setelah cukup lama saya pelajari dan nangkring di rak buku, ada teman yang meminjamnya. Sampai saat ini, buku itupun tak kunjung balik. Mungkin, ada lagi yang meminjamnya dari teman saya tersebut. Tak balik juga. Dan terus bergulir demikian.

Seperti itu, mungkin yang diharapkan oleh Mbah Muchit atas buku-buku yang ia bagikannya. Ia tidak rela jika buku yang dibagikannya tersebut sampai tidak terbaca. Maka, ketika buku itu sudah nangkring dan tak dibaca lagi, buku itu pun berpindah tangan. Bisa jadi, bukan? (Ayunk Notonegoro)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi IMNU Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 07 Januari 2018

Ketoprak Remaja, Ajak Santri Amalkan Ilmu

Pukul 02.00 WIB Dholi menunaikan shalat sebanyak 5 rekaat. Tiba-tiba terdengar suara salam. “Kiai” berusia 40 tahunan itu pun sontak menjawab salam tamu yang hadir malam-malam.

Percakapan pun berlanjut antara ia dengan sosok yang mengaku “Awwoh”.

Ketoprak Remaja, Ajak Santri Amalkan Ilmu (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketoprak Remaja, Ajak Santri Amalkan Ilmu (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketoprak Remaja, Ajak Santri Amalkan Ilmu

“Dhol kamu shalat apa?” tanya sesosok berpakaian putih, bersuara besar dan bertutupkan sorban di kepalanya. Kemudian ia menerangkan dirinya shalat Dhuha 5 rekaat. Saat sosok itu menyebut ia “Awwoh” sontak dirinya menciumi tangan lelaki yang tidak kelihatan mukanya itu. 

“Dhol ibadah kamu sekarang tambah rajin. Aku akan menambah kamu nikmat,” ucap si tamu seraya meminta kopi hangat dan ketela. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dholi kian percaya dengan tamu yang datang ke kediamannya malam-malam adalah “Awwoh” sebab menurutnya tidak semua orang akan ditemui. Singkat kisah, sosok itu menjanjikan akan mengangkat derajat dengan memberikan bidadari-bidadari nan cantik dan masih banyak lagi. 

Tetapi lelaki tua itu memberikan beberapa persyaratan. Pada pagi hari pak tua meminta Dholi berjalan ke selatan menuju pasar Welahan—salah satu pasar di Jepara. Di sana ia diminta untuk memakai hem, celana yang panjang dan pendek. Sandal yang dipakai juga demikian yang tidak sama. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Yang terpenting juga diminta mengenakan celana dalam di luar. Meski persyaratan yang terakhir sempat dimentahkan Dholi tetapi lambat laun bisa menerimanya. Sosok itu pun kemudian pindah ke rumah Hadi. 

Di rumah Hadi sosok yang sama mengaku “Awwoh”. Sontak M Hadi membanting sosok yang mengaku “Awwoh” tersebut. Setelah terjatuh sosok tua itu membeberikan ia adalah guru ngajinya yang mengetes kedua santrinya. “Aku gurumu Had,” jelasnya seraya membuka sorban yang menutupi kepalanya. 

“Sebenarnya aku ingin mengetes santri-santriku dengan mengaku “Awwoh”. “Awwoh” artinya gresulo. Kalo Allah itu pengeran, dzat yang menciptakan makhluk dan mengatur segalanya,” imbuh kiai sembari menerangkan beliau juga datang ke rumah Dholi. 

Ya, begitulah sepenggal kisah Ketoprak Remaja: “Awwoh” Mangan Telo lan Ngombe Kopi yang diperankan para santri majelis pendidikan Islam “Roudlotul Muhibbin” desa Gidangelo kecamatan Welahan, Jum’at (8/3). Kegiatan juga bersamaan dengan harlah majelis pendidikan juga Haul Syekh Abdul Qadir Al-Jilani dan Haul Massal. 

Pertunjukan yang ditonton ratusan orang menceritakan 2 tokoh Dholi Amali (sesat amalnya) dan M Hadi (sang pemberi petunjuk). Keduanya sama-sama pernah mengenyam pendidikan yang sama. Meski Dholi terbilang anak seorang “kiai” tetapi ia sering ngaku-ngaku—anak kiai padahal secara kualitas keilmuwan masih sangat minim; baca Al-Qur’an sering keliru, tidak paham rekaat shalat, mensahalati mayit memakai qamat, rukuk dan sujud maupun banyak keganjilan-keganjilan lain. 

Usut punya usut ternyata Dholi saat mondok tidak pernah mendengarkan, saat mutholaah kitab sering joged sendiri dan maniak sekali dengan PS. Alhasil, boyong dari pondok Dholi jadi “kiai” yang dikiai-kiaikan; baunya selalu harum, berjenggot dan berserban. Sedangkan Hadi adalah guru madrasah yang apa adanya. 

Melalui ketoprak remaja tersebut menurut narator, Nailis ingin mengajak santri selain patuh dan taat kepada guru; sebagai santri juga harus mengamalkan ilmunya ke tengah-tengah masyarakat tanpa didasari dengan kesombongan dan sifat-sifat tercela yang lain. (Syaiful Mustaqim/red:Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi IMNU, Quote, PonPes Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 05 Januari 2018

Aktivis Pramuka Buntet Pesantren Bersihkan Makam Pahlawan

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Sejumlah siswa dari Madrasah Buntet Pesantren yang tergabung dalam ekstrakurikuler Pramuka membersihkan Makam Pahlawan Kemerdekaan, Maqbaroh Gajah Ngambung Buntet Pesantren, Ahad (27/3). Pelajar MTs NU Putra 1, MTs NU Putra 2, MANU Putra, dan SMK NU Mekanika tampak bahu-membahu dengan sejumlah tentara dari Komando Rayon Militer (Koramil) Astanajapura dan Pramuka Saka Wira Kartika mengumpulkan sampah daun di halaman makam.

Danramil Astanajapura Wahyudi mengatakan, kegiatan ini diadakan dalam rangka mengenalkan siswa atau santri bahwa di dekat madrasah dan pondoknya ada pemakaman orang-orang yang telah rela berkorban demi kemerdekaan Indonesia.

Aktivis Pramuka Buntet Pesantren Bersihkan Makam Pahlawan (Sumber Gambar : Nu Online)
Aktivis Pramuka Buntet Pesantren Bersihkan Makam Pahlawan (Sumber Gambar : Nu Online)

Aktivis Pramuka Buntet Pesantren Bersihkan Makam Pahlawan

“Tanpa mereka kita tidak akan mampu menikmati kemerdekaan, tidak akan bisa belajar dan menuntut ilmu dengan tenang,” tambahnya.

Program ini juga dimaksudkan dalam rangka menyambut para tamu Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren yang akan dilangsungkan kurang dari 2 pekan lagi. Kita menghormati para tamu yang akan datang mendoakan para pahlawan kita semua, ujar Wahyudi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Para pahlawan juga berkorban untuk kita dengan ikhlas. Kini giliran kita berkorban sedikit demi mereka dengan ikhlas juga, kata salah seorang tentara.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Meski harus bergumul dengan sampah, tanah becek, dan bermandikan peluh, para anggota pramuka tampak semangat dan riang. Sementara para sejumlah tentara yang mendampingi mereka menyegarkan suasana bersih-bersih dengan beberapa humor. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi IMNU Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 04 Januari 2018

Manaqib Kubro Syekh Abdul Qodir di Pesantren Futuhiyyah

Demak, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Sekitar lima ribu jamaah putri menghadiri Manaqib Kubro Syekh Abdul Qodir Al-Jailani yang digelar Jamiyyah Manaqib pesantren Futuhiyyah pimpinan Nyai Hj Saadah Muslih Abdurrahman, Ahad (1/2) siang. Jamaah yang hadir baik dari dalam dan luar kota berikut santriwati di sekitar pesantren Futuhiyyah Mranggen, Demak ini, larut dalam sholawat, tasbih, tahlil, dan doa.

Manaqib Kubro Syekh Abdul Qodir di Pesantren Futuhiyyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Manaqib Kubro Syekh Abdul Qodir di Pesantren Futuhiyyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Manaqib Kubro Syekh Abdul Qodir di Pesantren Futuhiyyah

Mereka dengan dominasi pakaian putih ini, memadati halaman pesantren Futuhiyyah Mranggen yang tak lagi mampu menampung luapan jamaah. Pada acara yang berlangsung rutin setahun sekali ini dibuka dengan lantunan ayat Al-Quran dan dimeriahkan oleh grup rebana Fatayat NU dari Kangkung, Mranggen.

Alhamdulillah, hampir semua santri dan alumni hadir di sini. Selain sebagai wujud cinta kita kepada Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, acara Manaqib Kubro ini juga bertujuan sebagai media berdo’a secara massal dan sebagai wahana silaturahmi antaralumni yang mengaji kepada Nyai Hj Sa’adah Muslih,” kata ketua pelaksana Manaqib Kubro Hj Nadliroh Muhibbin.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Manaqiban menggunakan kitab Manaqib Nurul Burhani, sebuah kitab terjemah dan syarah manaqib yang disusun KH Muslih Abdurrahman Al-Maraqy. Pembacaan manaqib dipimpin langsung oleh Nyai Hj Sa’adah Muslih yang diikuti secara seksama oleh para jamaah sampai selesai.

Adapun KH Muhammad Thobroni dalam taushiyahnya menegaskan banyaknya cara untuk meningkatkan keimanan. Salah satunya dengan berdzikir. Kiai Thobroni lalu menyebutkan faidah dari pembacaan tasbih, tahmid, dan tahlil.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Karena itu, perbanyaklah berdzikir, karena ikan yang berada di lautan selalu berdzikir, mulutnya selalu menyebut asma Allah, insangnya selalu berzikir ‘hu-hu-hu’, ekornya mengisyaratkan dzikir ‘Laa ilaaha illallah’,” kata Kiai dari Wonosobo ini. (Afrida dan Zabidy/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi News, Humor Islam, IMNU Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 02 Januari 2018

KHA Musallim Ridlo, Singa Podium dari Banyumas

KHA Musallim Ridlo adalah satu mubalig alias singa podium dari Kabupaten Banyumas. Almarhum dikenal sosok ulama yang moderat, guru santri, praktisi politik, dan menjabat Ketua NU Banyumas selama tiga dekade. Beliau wafat seratus hari silam, tepatnya tanggal 1 Mei 2014, pada usia 84 tahun.

“Warga Nahdliyin merasa sangat kehilangan beliau. Kiai Musallim adalah sosok yang sangat konsisten dalam memperjuangkan dan membela NU,” kata Drs H Taefur Arofat, salah satu pengurus PCNU Kabupaten Banyumas.

?

KHA Musallim Ridlo, Singa Podium dari Banyumas (Sumber Gambar : Nu Online)
KHA Musallim Ridlo, Singa Podium dari Banyumas (Sumber Gambar : Nu Online)

KHA Musallim Ridlo, Singa Podium dari Banyumas

Tokoh kelahiran 27 Februari 1932 ini tumbuh dan dibesarkan di lingkungan pesantren. Musallim kecil mendapat didikan agama langsung dari sang ayah Almaghfurlah KHA Masruri. Ketika para santri lain masih terlelap tidur, remaja Musallim mengaji seorang diri di bawah penerangan lampu minyak. “Dulu ayah mengaji dari jam 3 dini hari hingga waktu Subuh tiba,” tutur M Ibnu Ridlo (50), putera sulung almarhum.

Selain mengaji ilmu agama, Musallim muda juga menempuh pendidikan formal di Sekolah Rakyat (setara SD). Ternyata, kepiawaian Musallim dalam ilmu agama telah diakui sang ayah sekaligus guru saat usianya relalif muda. Suatu hari KHA Masruri akan mengimami salat jamaah seperti hari-hari biasa namun beliau merasa was-was saat hendak takbiratul ihram. Lantas, beliau memilih mundur dan meminta Musallim menggantikannya sebagai imam.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Setamat SR, pemuda Musallim melanjutkan nyantri ke Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur. Di sana dirinya banyak belajar dan menimba ilmu dari KH Wahid Hasyim, ayah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). “KH Wahid Hasyim adalah inspirator ayah dalam banyak hal,” kata M Ibnu Ridlo.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kepergian KH Wahid Hasyim yang begitu tiba-tiba dalam sebuah kecelakaan lalu lintas sungguh memukul hatinya. Konon, semangat pemuda Musallim sempat drop sepeninggal Kiai Wahid. Tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan, beliau melanjutkan studi ke pesantren asuhan KH Bisri Mustofa di Rembang, JawaTengah. Sepulang nyantri dari Tebuireng dan Rembang, Kiai Musallim mulai berkiprah di bidang dakwah, pendidikan, dan politik.

Beliau mendapat amanah sebagai Ketua Partai NU Cabang Kabupaten Banyumas, saat itu partai politik sebelum berfusi ke dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Dalam dunia pendidikan, almarhum turut serta merintis berdirinya Yayasan Perguruan Al-Hidayah yang berkantor pusat di Karangsuci Purwokerto bersama KH Muslich, KHM Sami’un, dan sejumlah ulama lain.

?

Politik dan Dakwah

Kiprah sebagai wakil rakyat dimulai saat beliau terpilih sebagai anggota DPR-GR Jawa Tengah (1971). Selanjutnya menjadi anggota DPRD Kabupaten Banyumas hingga tahun 1992. Semasa Ketua DPRD Kabupaten Banyumas dijabat Kisworo, dirinya menjabat Wakil Ketua DPRD bersama Agus Taruno.

Pada 1992-1997 KHA Musallim duduk sebagai anggota DPR-RI dari PPP. “Dalam dunia politik, Kiai Musallim dikenal sebagai sosok yang lurus ibarat penggaris; lempeng kaya garisan,” ujar Bupati Achmad Husein, seperti ditirukan M Ibnu Ridlo.

Aktivitas dakwah dan politik dilakoninya secara tulus dan penuh sukacita. Mengisi ceramah pengajian hingga pelosok pedesaan adalah hal dinantikan umat. Bahasa ceramahnya blakasuta alias lugas, tanpa tedheng aling-aling, sehingga mudah dicerna oleh kalangan awam sekalipun.

Sekadar catatan, beberapa tahun silam, Eyang Singa setiap malam Jumat Kliwon mengisi acara Gendu-Gendu Rasa di RRI Purwokerto. Hal ini diakui banyak pihak sebagai kiprah nyata dalam upaya nguri-nguri (baca: melestarikan) Bahasa Jawa dialek Banyumasan.

Demikian halnya dengan KHA Musallim Ridlo. Dalam aktivitas dakwahnya beliau sangat konsisten dengan dialek Banyumasan. Dalam konteks ini, Kiai Musallim adalah sosok ulama moderat-visioner yang layak menyandang gelar Pelestari Dialek Ngapak.

KHA Musallim Ridlo telah berpulang ke hadirat Allah, Kamis (1/5) silam. Jenazah almarhum dikebumikan di komplek Pondok Pesantren Al-Masruriyah Desa Kebumen, Kecamatan Baturraden. Dari pernikahannya dengan Nyai Solihah, beliau dikaruniai lima orang putra: M Ibnu Ridlo, Niswati Amanah, M Aman Ridlo, HM Maskun Ridlo, dan M Hanif Ridlo. Kini dakwah beliau di Pesantren Al-Masruriyah dilanjutkan HM Maskun Ridlo alias Gus Maskun. (Akhmad Saefudin)

Foto: KHA Musallim Ridlo (kanan) saat bersama KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Humor Islam, IMNU Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 01 Januari 2018

Banser Komitmen Jaga NKRI Walau Susah Beli Pulsa

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Guyonan tak bisa dilepaskan dari Nahdlatul Ulama (NU) berikut badan otonomnya. Kali ini, pernyataan Ketua Umum PP GP Ansor H Yaqut Cholil Qoumas membuat puluhan kader tertawa terpingkal-pingkal.

Banser Komitmen Jaga NKRI Walau Susah Beli Pulsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Komitmen Jaga NKRI Walau Susah Beli Pulsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Komitmen Jaga NKRI Walau Susah Beli Pulsa

"Saya tahu sahabat-sahabat mempunyai android. Tapi kalau paket datanya, entah. Hayo ngaku. Orang beli pulsa saja susah," ujar pria yang karib dipanggil Gus Yaqut itu, di Pesantren Al Hamid, Cipayung, Jakarta Timur, Selasa (21/11).

Tak ada jawaban dari puluhan kader inti Pemuda Ansor yang mengikuti Dikkatsus Nasional Corps Banser Provost, Banser Protokoler dan Banser Lalu Lintas. Hanya tepuk tangan riuh dan tawa serentak bergema di aula Pesantren Al Hamid.

"Itulah yang membuat saya terharu. Walau tanpa gaji, sahabat-sahabat tetap memiliki komitmen agar negeri ini tidak pecah belah sebagaimana negara-negara di Timur Tengah," ujar dia lagi.

Ia menambahkan, 101 Banser yang mengikuti kegiatan Diklatsus telah berkorban waktu, energi hingga biaya demi meningkatkan kapasitas diri untuk berpartispasi dalam pembangunan bangsa.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Dan setelah ikut Diklatsus tetap tidak digaji. Itulah dedikasi yang luar biasa dari setiap Banser. Sehingga saya selalu merasa bahagia setiap berada di tengah-tengah sahabat-sahabat Banser," tegasnya.

Komitmen tersebut merupakan bukti nyata Banser bekerja untuk Indonesia dengan ihklas. "Walau paket android saja tidak ada yang support. Tapi karena niat berkhidmah untuk ulama, Insyaallah akan selalu ada jalan," ujar dia lagi.

Ia menegaskan, fitnah belakangan tersebar Banser membubarkan pengajian tidak sesuai.

"Jawab itu. Bahwa Banser tidak menghendaki Indonesia sebagaimana Suriah. Karena itu, jika ada pengajian yang isinya ceramah menyebut pemerintah Indonesia kafir dan thogut, itu yang kita tolak," tegas Gus Yaqut.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Faktanya, pengajian yang dikabarkan dibubarkan Banser tidak seperti itu. Banser hanya menghendaki penceramah yang memasarkan ideologi lain selain Pancasila, diganti dengan penceramah yang cinta Indonesia.

Pengajian menuju kebaikan yang mengajak masyarakat mencintai tanah air yang diperjuangkan ulama, mustahil akan ditolak oleh Banser.

"Jika mereka bilang pengajian, tapi isinya menghujat, menghendaki ideologi bangsa diganti, itulah yang kita persoalkan. Sampaikan pada mereka, jika pengajian hanya untuk mengubah ideologi bangsa, maka Banser akan terus melawan demi menjaga NKRI," tandas Gus Yaqut. (Gatot Arifianto/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi IMNU Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 13 Desember 2017

Madrasah Jurnalistik, Cara NU Kota Malang Lahirkan Pewarta Muda

Malang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Soal tokoh yang memiliki kapasitas dan kapabilitas mumpuni, Nahdlatul Ulama di kota ini tidak kekurangan Sejumlah kampus terkenal dan disegani tersedia. Para akademisi dan praktisi juga tidak terhitung jumlahnya.

Madrasah Jurnalistik, Cara NU Kota Malang Lahirkan Pewarta Muda (Sumber Gambar : Nu Online)
Madrasah Jurnalistik, Cara NU Kota Malang Lahirkan Pewarta Muda (Sumber Gambar : Nu Online)

Madrasah Jurnalistik, Cara NU Kota Malang Lahirkan Pewarta Muda

"Kalau dilihat dari potensi sumber daya manusia, NU di sini sangat berlimpah," kata Mahmudi, Ahad (27/3). Pria yang setiap hari menjadi Sekretaris Pengurus Cabang Lembaga Talif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (PC LTN NU ) Kota Malang ini menyadari akan potensi yang ada. "Tinggal bagaimana mengoptimalkan ketersediaan yang ada untuk khidmat kepada NU," lanjutnya.

Bahkan secara berkelakar, Bapak Mahmudi mengemukakan bahwa semua potensi dimiliki NU. "Yang tidak dimiliki ormas keagamaan lain yakni para dukun, ternyata NU punya," katanya disambut tawa hadirin.

Yang menjadi problem cukup mendesak agar ditemukan solusinya adalah melahirkan para jurnalis muda. "Karena kalau pandangan para tokoh yang ada tidak dioptimalkan, maka keberadaan mereka juga akan percuma," katanya di hadapan utusan PW dan PC LTN NU se-Jatim.

Karena itu PC LTN NU Kota Malang mengadakan madrasah jurnalistik yang dilangsungkan satu minggu sekali. "Kami selenggarakan secara gratis dengan instruktur para praktisi media dari NU," katanya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Madrasah Jurnalistik sendiri diselenggarakan setiap hari Ahad dari mulai jam 1 siang hingga 3 sore. "Pesertanya masyarakat umum khususnya aktifis muda NU baik di IPNU maupun IPPNU serta Fatayat yang mamiliki ketertarikan di dunia tulis menulis, khususunya pers," terangnya.

Kepada para peserta Madrasah Jurnalistik tersebut selalu diingatkan bahwa tidak ada kewajiban bagi mereka untuk akhirnya memilih profesi sebagai pegiat media atau menjadi jurnalis. "Minimal mereka bisa mengisi web yang ada di PCNU Kota Malang," kata dia kata dia sembari mengenalkan laman http://nu-kotamalang.org/ sebagai situs resmi NU setempat.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dan secara khusus, kepada PW dan PC LTN NU se-Jatim yang hadir, Bapak Mahmudi juga berharap ada saling komunikasi dan sinergi antara para pegiat media di berbagai tempat. "Masih banyak yang dapat kita sisipkan di masing-masing website, disamping berita kegiatan dan pangangan para tokoh NU" katanya. Salah satunya adalah  radio streaming, mp3 serta video pengajian maupun taushiyah singkat yang dapat diunggah secara bersama, lanjutnya.

Dengan dibantu rekan pewarta lain, Bapak Mahmudi juga telah berhasil menulis setidaknya 30 ulama Malang. "Ini kerja kolektif dan alhmadulillah baru bisa menulis profil 30 ulama di sini," katanya merendah.

Tidak terasa, PCNU Kota Malang akan segera paripurna. "Sebentar lagi akan ada konferensi cabang yang bisa jadi para pengurusnya akan berganti," kata dia. Namun demikian, paling tidak keberadaan website dan para jurnalis muda NU dapat dioptimalkan dalam mengunggah kelebihan Kota Malang di dunia maya. "Apa yang sudah kami dermabhaktikan semoga bisa diteruskan generasi penerus NU di masa mendatang," harapnya. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Budaya, IMNU Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 10 Desember 2017

Pelajar NU Peringati Harlah ke-60

Jakarta,Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) menggelar peringatan hari lahir (Harlah) ke-60 di aula Perpusatakaan Nasional, Jakarta pada Senin malam (24/2). Kegiatan yang digelar pimpinan pusat pelajar NU tersebut bertema “60 Tahun Berkhidmah untuk Indonesia”.

Pelajar NU Peringati Harlah ke-60 (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Peringati Harlah ke-60 (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Peringati Harlah ke-60

Kegiatan yang diikuti Pimpinan Wilayah IPNU itu diisi pidato Ketua Umum PP IPNU Khaerul Anam, stadium general Wakil Menteri Pertahanan Republik Indonesia Letjeend Sjafrie Sjamsoeddin dan taushiyah Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj.

Sebagai bentuk penghargaaan kepada para pengabdi organisasi, PP IPNU memberikan plakat kepada mantan-mantan Ketua Umum IPNU dari periode awal sampa periode terakhir.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Bagaimanapun juga, 60 persen hidupnya (mantan-mantan Ketua Umum IPNU) dihabiskan di organisasi. Harus kita apresiasi atas pengabdiaannya,” kata Ketua Umum PP IPNU Khaerul Anam.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rangkain Harlah

Menurut Anam, beberapa rangkaian kegiatan peringatan harlah telah dilakukan mulai dari pra-Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dengan mengadakan capacity building pemuda dan pelajar Indonesia di Salatiga dan Bogor.

Kemudian pra-Rakernas kedua dialaksanakan di Permata Hotel, Bogor, pada 13-15 Desember 2013.  pra-Rakernas Corp Brigde Pembangunan (CBP) PP IPNU di Grobogan, Jawa Tengah, pada 27-29 Desember 2013.

Kemudian laga futsal bertema Rembuk Persaudaraan Pelajar Indonesia yaitu PP IPNU, PP Pelajar Islam Indonesia (PII), dan PP Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), di Jakarta, 23 Januari 2014. Selanjutnya turnamen bulutangkis pelajar se-Jabodetabek kerjasama PP IPNU dengan Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) di Istora Senayan, Jakarta, 21-23 2014.

Kemudian puncak peringatan hari lahir IPNU ke-60 digelar di aula Perpusnas, Jakarta, 24 Februari 2014. Setelah itu dilanjutkan dengan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) yang akan berlangsung di Jakarta mulai tanggal 24 sampai 27 Februari. (Abdullah Alawi)  

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Hikmah, IMNU, Pondok Pesantren Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 03 Desember 2017

Mahasiswa Unisnu Manfaatkan Sampah untuk Seni Kreatif

Jepara, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Mahasiswa Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara yang tergabung dalam Sanggar Seni Eling PMII Cabang Jepara mempunyai kegiatan yang lumayan unik, yakni menggelar kegiatan bertajuk Pelatihan Seni Kreatif dari Sampah.?

Mahasiswa Unisnu Manfaatkan Sampah untuk Seni Kreatif (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Unisnu Manfaatkan Sampah untuk Seni Kreatif (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Unisnu Manfaatkan Sampah untuk Seni Kreatif

Kegiatan yang dipusatkan di Kampus Unisnu, Jalan Taman Siswa (Pekeng) Tahunan Jepara, Ahad (20/3) ini diikuti sekitar 20 peserta. Mereka terdiri dari mahasiswa dan masyarakat umum.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kegiatan kreatif ini menjadi rangkaian menyambut Harlah Sanggar Seni Eling ke-14 yang bekerjasama dengan Kampung Pintar Jepara.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurut ketua panitia, Khusnul Khamidiyah dalam pelatihan ini peserta membuat kerajinan dari bahan koran, kardus, kantong plastik dan botol plastik. Bahan-bahan bekas ini kemudian dibuat pot dan tas dari koran. Rangkaian bunga dari koran, kardus dan plastik. Sedangkan botol plastik untuk miniatur minion.?

“Karena hanya ditempuh dalam 2 jam karya yang baru bisa dibuat ialah pot bunga dan bunga,” paparnya.?

Pihaknya mengagendakan kegiatan ini dijalankan rutin sepekan sekali. Sehingga nantinya akan menghasilakan berbagai produk. Namun, lanjut Khusnul, pada pertemuan pertama ini baru tahap dasar melipat untuk pembuatan tas. Pada tahap ini latihan dengan menggunakan kertas origami dan kardus bekas. Pertemuan berikutnya sudah menggunakan bahan dari plastik.?

Beragam produk yang dihasilkan nantinya akan dipamerkan dalam Pagelaran Seni Budaya 2016 yang dihelat pada 15-16 April mendatang. “Hasil produk yang dibuat juga akan dipamerkan bersamaan dengan kegiatan yang diikuti Kampung Pintar Jepara,” katanya menambahkan.

?

Penanggung jawab kegiatan, Dziyaul Anwar menegaskan bahwa permasalahan sampah tidak sekadar tugas petugas kebersihan. Namun keberadaan sampah menjadi tugas bersama.?

“Bagaimana kita mampu menjaga kebersihan lingkungan kita sendiri. Dengan begitu berarti secara tidak langsung kita telah menyumbang kebersihan untuk kota kita,” pungkasnya. (Syaiful Mustaqim/Zunus)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pesantren, IMNU Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 25 November 2017

Dunia Maya Berperan Besar Bentuk Pemahaman Keagamaan Masyarakat

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Direktur Nutizen Savic Ali mengatakan, konten-konten keislaman di dunia maya khususnya di Indonesia masih didominasi oleh oleh portal-portal yang cenderung mengarah pada radikalisme. Inilah yang menurutnya banyak dijadikan pemahaman sebagian orang yang kaku dalam beragama.

Dunia Maya Berperan Besar Bentuk Pemahaman Keagamaan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Dunia Maya Berperan Besar Bentuk Pemahaman Keagamaan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Dunia Maya Berperan Besar Bentuk Pemahaman Keagamaan Masyarakat

"Ini tantangan Indonesia di masa mendatang. Website-website ini akan menentukan wajah Indonesia ke depan," katanya didepan peserta Workshop Pencegahan Propaganda Radikal Terorisme didunia Maya Bersama OKP dan Ormas, Kamis (23/3) lalu di Hotel Millenium Jakarta.

Website yang mengarah pada radikalisme tersebut getol dalam mengimpor dan mengeksploitir berbagai macam isu baik lokal maupun internasional. Media tersebut banyak menanamkan pemikiran yang membuat seolah-olah Islam di Indonesia didzolimi sekaligus membangun semangat keagamaan masyarakat.

Padahal menurutnya, Islam di Indonesia sudah sangat kondusif, diperhatikan dan difasilitasi oleh pemerintah. "Setiap Kantor difasilitasi musholla dan masjid, penyelenggaraan Ibadah Haji dikelola dengan maksimal," tambah pria yang juga aktif sebagai Direktur Pondok Pesantren An-Nur Slawi ini.

Saat ini menurutnya, terjadi kontestasi pengaruh di dunia maya dimana golongan radikal terus berupaya menyerang dengan menyebarkan konten-konten kaku dalam menafsirkan ayat Al Quran. Tak cukup itu sosok dan tokoh yang cenderung pro terhadap kebhinekaan dan Islam kebangsaan juga disasar oleh kelompok ini.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Salah satu contohnya adalah banyak sekali ? fitnah dan rendahnya tabayun masyarakat terhadap tokoh-tokoh NU. "Kalau orang membaca dengan konsisten media media radikal ini maka hanya ada keburukan pada tokoh NU," kata Savic mencontohkan bagaimana tokoh-tokoh NU ? difitnah oleh kelompok yang tidak siap dengan kemajemukan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selain itu ketika sudah terwarnai oleh pemikiran kaku yang disebarkan oleh website ini, masyarakat akan sampai pada level tidak siap hidup dalam pluralisme di Indonesia. "Bisa saja nanti sampai pada pemikiran halal mencuri barang orang yang tidak sependapat dengan mereka," katanya.

Karena itu Savic mengajak kepada seluruh elemen masyarakat agar giat menyebarkan konten-konten damai, menyejukkan dan membangkitkan Islam Kebangsaan. Usaha ini akan menjadikan wajah Islam Indonesia di dunia maya penuh keramahan. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi IMNU, Kajian Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 17 November 2017

Refleksi Sumpah Pemuda dalam Bingkai Islam Nusantara

Oleh Mahrus eL-Mawa

Salah satu elan vital sumpah pemuda itu pengakuan akan keragaman etnis di Indonesia. Kalau dahulu, anak-anak muda dari berbagai etnis itu berjuang meraih kemerdekaan untuk bangsanya, maka saat ini pemuda dari beragam etnis itu mengisi kemerdekaan RI dengan tetap menjunjung tinggi nilai keragaman dalam masyarakat yang multikultural. Salah satu nilai itu tertanam dalam pendidikan Islam program magister STAINU Jakarta dengan jargon kajian Islam Nusantara.

Dalam catatanku, belum pernah ada di kampus-kampus Indonesia ini, ada program magister yang spesifik nama program studinya dengan Islam Nusantara dalam kurun lima tahun terakhir ini, kecuali di Program Pasca STAINU Jakarta. Hanya saja, karena dalam nomenklatur birokrasi belum tercatat, maka dialihkan ke prodi yang berdekatan; sejarah kebudayaan Islam (SKI).

Refleksi Sumpah Pemuda dalam Bingkai Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Refleksi Sumpah Pemuda dalam Bingkai Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Refleksi Sumpah Pemuda dalam Bingkai Islam Nusantara

Satu hal yang menarik dari prodi magister STAINU ini, bukan hanya kajian atau diskursusnya, tapi juga para mahasiswanya juga berasal dari berbagai etnis bangsa Indonesia. Disadari atau tidak, program magister STAINU telah melakukan itu, bahkan mahasiswa dari negeri jiran, seperti Thailand juga sudah ada yang lulus dari program ini. Luar biasa, bukan? Seharian kemarin, saya kebagian menguji tesis mahasiswa STAINU asal Papua Barat.

Tentu saja, menjadi salah seorang penguji tesis dari mahasiswa asli Papua bagi saya merupakan "sesuatu banget". Selama ini, saya kenal orang Papua itu hanya berdasar "katanya", terlebih tentang Papua Muslim/Muslimah. Mendalami Islam masuk di Papua juga hal menarik sebagai suatu kajian sejarah dan kawasan. Apalagi mengkaji budaya Papua terkait dengan Islam dan kearifan lokal di suatu etnis Papua, sungguh kita akan merasakan hal luar biasa akan khazanah Islam di Indonesia ini.

Dua orang Papua, Muslim dan Muslimah yang saya uji tesisnya itu kini keduanya menunggu hari-hari untuk merengkuh legalitas magister humaniora dari UNU Indonesia/STAINU Jakarta. Saya tanya kepada salah satunya, dan mengaku ingin menjadi dosen saat pulang kampung nanti, syukur bila diterima sebagai PNS/ASN.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jika para mahasiswa magister STAINU/Unusia berasal dari semua wilayah di Indonesia, seperti etnis Papua ini, tentu sangat keren. Sebelum kedua teman papua ini, mahasiswi asal madura juga lulus pada sidang tesisnya. Sebulan sebelum ini saya juga diberi kesempatan menguji mahasiswa dari etnis Lombok (NTB), Mataram, orang Cirebon, dan seterusnya. Di sinilah saya kira pantas jika prodi magister STAINU Jakarta ini menyebut prodi-nya dengan prodi Islam Nusantara. Sebab, bukan hanya wacana Islam Nusantara yang disampaikan dan dikaji selama kuliah, tetapi juga para pesertanya memang berasal dari berbagai etnis, warga bangsa, dan seterusnya.

Sungguh pendidikan magister di STANU Jakarta itu benar-benar telah mengejawantahkan nilai-nilai Sumpah Pemuda di era global dan kompetitif ini. Perbedaan etnis harus menjadi perekat untuk mengisi pendidikan Islam di Negara Kesatuan Republik Indonesia, bukan sebaliknya. semoga program tersebut terus bertahan dalam visi misinya dan selalu maju untuk menghadapi tantangan zaman yang serba keras dan kompetitif dalam berbagai bidang, khususnya keilmuan Islam di Indonesia.

Penulis adalah Wakil Ketua PP LP Maarif NU, Koordinator Diklat Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) Jakarta.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Fragmen, IMNU, Bahtsul Masail Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 15 November 2017

Sembilan Fakta Penting Tentang Indonesia

Pepatah klasik mengatakan, “Tak kenal maka tak sayang”. Dalam konteks Indonesia dahulu dan sekarang atau dalam istilah era milenial, “zaman old” dan “zaman now”, memahami secara luas tentang keindonesiaan memberikan energi positif terkait tumbuhnya rasa cinta dan sayang.

Ketika warga bangsa tidak memahami betapa kayanya Indonesia dari segala sisi, maka ia akan terjebal dengan primordialisme sempit. Dalam arti sikap tertutup (eksklusif) yang akan berdampak pada sikap apriori terhadap keberagaman bangsa Indonesia tersebut.

Abdul Ghopur dan Rizky Afriono, dua anak muda Nahdlatul Ulama (NU) yang kini aktif sebagai Dirketur dan Sekretaris di Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB) ingin menghadirkan kembali jiwa nasionalisme dan cinta di dada para pemuda dengan menulis buku Indonesia Rumah Kita: 9 Fakta yang Perlu Anda Ketahui.

Sembilan Fakta Penting Tentang Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Sembilan Fakta Penting Tentang Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Sembilan Fakta Penting Tentang Indonesia

Buku ini bukan hanya mengemukakan prinsip-prinsip kehidupan berbangsa dan bernegara, tetapi berupaya mengungkap sembilan fakta tentang Indonesia yang perlu dipahami masyarakat secara luas. Tidak lain dan tidak bukan, fakta tentang khazanah bangsa Indonesia yang digubah dalam buku ini ingin memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa Indonesia adalah bangsa besar dan bangsa kaya yang perlu dijaga.

Dengan mengungkapkan sembilan fakta tentang Indonesia guna menumbuhkan rasa mempunyai dan rasa cinta tanah air dalam diri warga bangsa, Ghopur dan Rizky sekaligus berusaha berusaha “menggugat” kembali makna dan semangat nasionalisme bangsa Indonesia yang kian hari kian menipis, meluntur, dan perlahan sirna. Sirna yang entah karena tergerus oleh eforia dan hempasan globalisasi atau memang sirna karena bangsa ini menghendakinya? 

Buku ini juga hendak menggugah kesadaran kita bersama dan mengajaknya ke dalam serangkaian pengembaraan batin dan pemikiran pada “kekayaan” yang dimiliki Indonesia meliputi; sumber daya alam (SDA), keragaman etnis, suku, ras, bahasa dan budaya, adat istiadat, agama dan nilai-nilai kearifan yang terkandung di dalamnya. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Anugerah kekayaan alam yang luar biasa melimpah dan beraneka ragam jenisnya, selayaknya wajib disyukuri, dijaga dan tentunya dipelihara secara terus-menerus dari “tangan-tangan jahil” dan tidak bertanggung jawab, yang hanya mau mengeruk-kuras tanpa mempertimbangkan kelestarian dan keselarasan lingkungan. Sebab, manusia tidak dapat hidup tanpa adanya harmoni dan keselarasan terhadap alam dan lingkungannya.

Menyitir perkataan Bung Karno, “Barang siapa ingin mutiara, harus berani terjun di lautan yang dalam.” Ini prinsip kerja keras yang ada pada diri masyarakat Indonesia sejak dulu hingga sekarang. Selayaknya, prinsip agung para pendiri bangsa ini diwariskan kepada generasi muda agar tertanam jiwa kerja keras untuk menjaga dan merawat Indonesia yang kaya ini.

Adapun sembilan poin yang diungkap dalam buku ringan setebal 110 ini ialah, pertama, Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Kedua, Indonesia adalah negara maritim terbesar di dunia. Ketiga, Indonesia adalah negara dengan jumlah suku bangsa terbesar di dunia.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Keempat, Indonesia adalah negara berpenduduk Muslim terbanyak saat ini. Kelima, Indonesia adalah negara dengan jumlah bahasa terbanyak kedua di dunia. Keenam, Indonesia adalah negara dengan sumber daya alam terlengkap.

Ketujuh, Indonesia dengan negara keragaman Fauna terbanyak di dunia. Kedelapan, Indonesia adalah negara dengan keragaman hayati laut terbanyak di dunia. Kesembilan, Indonesia adalah negara pertama yang merdeka setelah perang dunia kedua.

Kesembilan fakta menakjubkan tentang Indonesia tersebut bukan hanya diterangkan secara retoris oleh Ghopur dan Rizky, tetapi juga diungkapkan dengan bukti dan data-data konkret. Bahkan, mereka berdua mengemas deskripsi dari sembilan fakta tersebut secara historis. Sehingga membawa pembaca juga memahami sejarah Indonesia dan perkembangannya saat ini. 

Menariknya, buku yang diterbitkan oleh Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB) pada Oktober 2017 ini menyisipkan lagu-lagu nasional di setiap akhir sembilan artikel fakta tersebut. Dua penulis buku lagi-lagi berupaya menginternalisasi nilai-nilai kebangsaan Indonesia lewat lagu-lagu tersebut. Sederhana, tetapi memberi pesan dan kesan mendalam di tengah krisis identitas seperti sekarang ini. 

Data buku

Judul: Indonesia Rumah Kita: 9 Fakta yang Perlu Anda Ketahui

Penulis: Abdul Ghopur dan Rizky Afriono

Penerbit: Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB)

Cetakan: I, Oktober 2017

Tebal: xiv + 110 halaman

Peresensi: Fathoni Ahmad

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi IMNU, Amalan, Budaya Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 14 November 2017

Mahasiswa yang Santri dan Santri yang Mahasiswa, Itulah Tekad KMNU

Bandarlampung, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ketua Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Universitas Lampung Ahmad Nurfuadi, Selasa (31/5) mengatakan bahwa KMNU Unila bertekad siap menjadikan mahasiswa di Universitas Lampung menjadi mahasiswa yang memiliki jiwa santri.?

Mahasiswa yang Santri dan Santri yang Mahasiswa, Itulah Tekad KMNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa yang Santri dan Santri yang Mahasiswa, Itulah Tekad KMNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa yang Santri dan Santri yang Mahasiswa, Itulah Tekad KMNU

"Jadilah mahasiswa yang santri dan santri yang mahasiswa," tegasnya.

Fuad -begitu Ia biasa dipanggil- menambahkan bahwa eksistensi KMNU di Universitas Lampung salah satunya adalah sebagai wadah untuk mengupayakan para mahasiswa dalam mempertahankan amaliyah-amaliyah Ahlussunnah wal Jamaah.?

"Banyak mahasiswa Unila yang berlatar belakang pesantren dan dari pedesaan. Ini perlu kita wadahi sehingga amaliyah amaliyahnya dapat terus diamalkan," ujar mahasiswa berkacamata ini.

Menurutnya amaliyah shalawatan, yasinan dan tahlilan harus dibudayakan di lingkungan kampus Unila kepada para mahasiswa terutama yang baru masuk. Oleh karenanya Ia mengajak kepada seluruh mahasiswa Muslim di Unila untuk bergabung dengan KMNU untuk bersama sama mensyiarkan NU di universitas nomor satu di Lampung tersebut.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Beberapa program kegiatan KMNU pada tahun 2016 dijelaskan langsung oleh alumni Pondok Pesantren Madinatul Ilmi Pagelaran Pringsewu ini. "Kalau kalian kangen suasana kampung dan pesantren, kita sudah memprogramkan ngaji bareng kajian kitab Alala, Safinatun Najah, Fiqh Wanita dan sebagainya," jelasnya.

Selain itu menurutnya KMNU Unila juga rutin mengadakan Majelis Shalawat Albarzanji dan silaturahmi ke kiai serta pondok pesantren di Provinsi Lampung sekaligus ziarah ke makam para ulama. Hal ini dilakukan untuk lebih mendekatkan diri kepada para ulama dan berharap barakah ilmunya.

Lebih lanjut, Mahasiswa Jurusan Fisika Alumni MAN 1 Pringsewu ini memberitahukan kepada para mahasiswa yang akan bergabung dengan KMNU Unila untuk mendaftar terlebih dahulu dengan mengirim SMS ke nomor 085769637883 dengan mengetik format Nama_Jurusan_Angkatan. "Ayo Nyantri di Kampus. Ayo Gabung KMNU," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Mukafi Niam)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kajian Islam, IMNU Pondok Pesantren An-Nur Slawi