Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Februari 2018

Kaidah-kaidah Ajaran Washatiyah yang Harus Dikembangkan

Bandar Lampung, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Lampung KH. Khairuddin Tahmid mengatakan bahwa paradigma Washatiyyah (moderatisme) yang dikembangkan oleh MUI sebagai payung besar ummat Islam adalah pemahaman ajaran Islam yang menggunakan beberapa kaidah.

Kaidah-kaidah Ajaran Washatiyah yang Harus Dikembangkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kaidah-kaidah Ajaran Washatiyah yang Harus Dikembangkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kaidah-kaidah Ajaran Washatiyah yang Harus Dikembangkan

Kaidah tersebut diantaranya adalah sikap santun yang dikedepankan dengan tidak melakukan tindakan kekerasan serta tidak radikal (layyinan laa fadzdzon wala gholiidzon). Kaidah selanjutnya adalah kesukarelaan dalam artian tidak melakukan tindakan pemaksaan dan juga tidak mengintimidasi golongan tertentu. (tathowwuiyyan laa ikraaha wala ijbaaron).

"Kaidah lainnya adalah mengedepankan toleransi yaitu tidak egois dan tidak fanatik (tasamuhiyyan walaa ananiyyan walaa taashubiyyan)," ungkap Kiai Khairuddin yang juga Wakil Rais Syuriyah PWNU Lampung, Senin (24/10) dikediamannya di Bandarlampung.

Sementara dalam membangun hubungan antar muslim dengan non muslim MUI menggunakan kaidah yang termaktub dalam surat Al Kafirun yaitu lakum dinukum waliyadin atau bagimu agamu dan bagiku agamaku.

Sedangkan dalam membangun hubungan sesama muslim MUI konsiten menggunakan kaidah lanaa mazhaban walakum mazhabukum atau bagiku madzhabku dan bagimu madhabmu.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Oleh karenanya Ia menghimbau kepada seluruh ummat Islam khususnya pengurus MUI untuk senantiasa menciptakan kesejukan dan kesantunan dalam mengekspresikan pemikirannya. Sehingga Pengurus MUI mampu menjadi pioner perdamaian sekaligus memberikan citra yang baik terhadap organisasi para ulama tersebut. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Daerah, Doa, Berita Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 15 Februari 2018

Jelang Pileg, Warga NU Diimbau Jaga Kerukunan

Rembang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Menjelang pemilihan legislatif 2014, warga NU diimbau untuk tetap menjaga kerukunan. Hal tersebut disampaikan Wakil Bupati Rembang H Abdul Hafidz dalam peringatan haul Syaikh Rozzak Saifullah dan Syaikh Absdul Rahman bin Ali Imron di Desa Mojorembun, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Jumat (14/2) sore.

Menurut dia, jelang Pileg, pertikaian antarwarga rentan terjadi karena berbeda pilihan politik. Abdul Hafidz juga mengajak, masyarakat tetap menentukan pilihan meski tidak menerima uang saku saat hendak mencoblos.

Jelang Pileg, Warga NU Diimbau Jaga Kerukunan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Pileg, Warga NU Diimbau Jaga Kerukunan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Pileg, Warga NU Diimbau Jaga Kerukunan

Hafidz juga mengajak masyarakat untuk menghindari politik uang, untuk menentukan pemimpin agar lebih netral. Jika tidak bisa, Hafidz menganjurkan mereka bisa saja merima uang tetapi pilihan tetap sesuai hati nurani. Pasalnya, memberikan amanah kepada pemimpin yang tidak amanah, kata pengurus Nahdlatul Ulama itu, merupakan perbuatan dosa.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Alangkah lebih mulianya masyarakat jika tidak mau menerima money politic, yang sering menggoyangkan pilihan di saat pemilihan legeslatif,” kata Hafidz.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Di sela pengajian yang dihadiri ribuan warga Mojorembun dan sekitarnya itu, wakil bupati rembang juga mengaku prihatin atas rusaknya jalan sepanjang Kaliori hingga menuju arah Kecamatan Sumber, Rembang.

Hafidz ikut merasakan kerusakan jalan yang sudah terjadi sejak tahun 2013 lalu itu, hingga kini belum ada penanganan lagi. Tetapi, hafidz dihadapan para hadirin berjanji akan membangun jalan yang rusak, akhir bulan Juli, jalan yang rusak di Kaliori sudah terselesaikan. Pihaknya telah menyiapkan anggaran tujuh miliar untuk mengatasi hal ini. (Ahmad Asmu’i/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi PonPes, Berita, Tegal Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 27 Januari 2018

Alumni Pesantren Turut Mencerdaskan Anak Bangsa Bersama Pemerintah

Surabaya, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Sekitar dua puluh lima ribu santri berkumpul di Masjid Al-Akbar Surabaya. Tercatat sekitar 450 bus terparkir di area Masjid. Para santri yang didampingi orang tuanya mengikuti acara Maulid Nabi Muhammad SAW dan Istighotsah Kubro ke 8 TPQ An-Nahdliyah dan madrasah diniyah se-Cabang Pondok Langitan Tuban.

Acara dihadiri Wakil Gubenur Jawa Timur H Saifullah Yusuf, KH Sholeh Qosim, KH Agoes Ali Masyhuri, KH Abdullah Faqih, KH Muhammad Ali Marzuqi, KH Munif Marzuqi, dan segenap Pengasuh Pesantren Langitan Tuban.

Alumni Pesantren Turut Mencerdaskan Anak Bangsa Bersama Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)
Alumni Pesantren Turut Mencerdaskan Anak Bangsa Bersama Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)

Alumni Pesantren Turut Mencerdaskan Anak Bangsa Bersama Pemerintah

Wakil Gubenur Jawa Timur mengapresiasi peran alumni Pesantren Langitan Kabupaten Tuban. Selama ini, ribuan alumni Pesantren Langitan dinilai sukses menjadi tokoh dan teladan bagi masyarakat di berbagai bidang.

"Saya gembira dan senang sekali. Alumni Pesantren Langitan telah berkiprah di tempat masing-masing. Mereka menjadi tokoh, panutan dan guru. Semuanya itu diakui keilmuannya," kata Saifullah Yusuf di Masjid Al-Akbar, Surabaya (19/12).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Alumni Pesantren Langitan yang tersebar di seluruh Jawa Timur dan provinsi lain merupakan aset bangsa. Mereka bersama pemerintah telah berkontribusi meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) terutama di usia dini.

"Pada usia satu sampai delapan tahun menentukan perkembangan anak. Untuk itu, perlu ditanamkan pendidikan karakter," ujarnya.

Menurut Ketua PBNU ini, terkadang alasan pertama menjadi seorang santri ingin mencari ilmu pengetahuan dan ilmu agama. Ketika santri ingin mencari keberkahan, maka ia harus hormat dan takzhim kepada muassis atau gurunya.

"Kesuksesan alumni menjadi tolok ukur dari seorang santri yang akan menimba ilmu di sebuah pesantren, kondisi inilah yang akhirnya diikuti oleh santri lainnya untuk terus belajar dan mengembangkan diri di pesantren," pungkas Gus Ipul.

Para tamu undangan dan para santri disambut langsung oleh Direktur Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya Endro Siswantoro. Endro menyampaikan terima kasih pada Pesantren Langitan yang telah memercayakan Masjid Nasional Al-Akbar sebagai tempat penyelenggaraan Peringatan Maulid Nabi dan Istighatsah Kubro ke-8.

"Masjid Nasional Al-Akbar merupakan masjid terbesar kedua se-Indonesia, setelah Masjid Istiqlal Jakarta. Kami senang sekali apabila acara seperti ini dilaksanakan kembali di Masjid Nasional Al-Akbar," kata Endro. (Rofi’I Boenawi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Fragmen, Makam, Berita Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 26 Januari 2018

Ketua LP Maarif NU Tegal Pimpin Dewan Pendidikan

Tegal, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Ketua Pengurus Cabang Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Kabupaten Tegal Drs. H. Muslikh, M.SI dipilih menjadi Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Tegal, Jawa Tengah untuk masa kerja 2013 – 2018.

Saat dimintai keterangan, Muslikh mengatakan, akan mengemban amanat dengan baik-baik. Sehingga ke depan perlu adanya terobosan dan kerja nyata yang lebih bermanfaat bagi dunia pendidikan, khususya di Kabupaten Tegal.

Ketua LP Maarif NU Tegal Pimpin Dewan Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua LP Maarif NU Tegal Pimpin Dewan Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua LP Maarif NU Tegal Pimpin Dewan Pendidikan

“Dewan Pendidikan itu kan posisinya bersifat independen,” kata dosen STAIBN Tegal itu di ruang kerjanya , Kamis (2/1).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dewan Pendidikan, kata dia, memiliki fungsi memberikan saran, masukan, pendapat, rekomendasi dan kontrol terhadap masalah atau kebijakan dalam meningkatkan pendidika. Out putnya, tambah dia, kualitas sumber daya manusia sebagai agen perubahan.

Diakatakan Muslikh, untuk mengawali khidmatnya, perlu sekali mendapatkan masukan dan saran untuk kemajuan dewan pendidikan Kabupaten. Kerjasama antar pihak juga akan segera dilaksanakan dengan berpegang apa asas simbiosis mutualisme.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Saya juga mengucapkan terima kasih kepada pengurus yang lama yang dipimpin Pak Dimyati yang telah memberikan dedekasiny terhadap dunia pendidikan,” katanya.

Agenda Pak Dimyati yang belum sempat terlaksana, mungkin kalau bisa, di kepengurusan kami bisa dilakukan. “Terakhir minta bantuan kepada semua pihak agar bisa mendukung penuh Dewan Pendidikan Kabupaten,“ harap Muslikh.

Dewan Pendidikan dikukuhkan Bupati Tegal Satrio Hidayat bersama dewan Pakar Pendidikan. (Abdul Muiz/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Berita Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 18 Januari 2018

Sambut Harlah NU, Ansor Way Kanan Bekam Gratis 90 Warga

Way Kanan, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Nahdlatul Ulama (NU) akan berusia 90 tahun pada 31 Januari 2016. Warga NU Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung, bersiap merayakan di 14 kecamatan yang ada.

Sambut Harlah NU, Ansor Way Kanan Bekam Gratis 90 Warga (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Harlah NU, Ansor Way Kanan Bekam Gratis 90 Warga (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Harlah NU, Ansor Way Kanan Bekam Gratis 90 Warga

Majelis Wakil Cabang NU (MWCNU) melalui intruksi Ketua Pengurus Cabang NU (PCNU) Way Kanan KH Nur Huda akan menggelar serangkaian acara serentak berkaitan dengan amaliah-amaliah Aswaja.

"Sementara masih diinventarisir setiap MWC akan menggelar apa. Adapun Gerakan Pemuda Ansor, sebagai rencana tindak lanjut berlatih bekam, akan menggratiskan warga sejumlah 90 orang untuk hijamah atau mengeluarkan darah kotor secara gratis pada harlah NU," ujar Ketua PC GP Ansor Way Kanan Gatot Arifianto di Blambangan Umpu, Jumat (8/1).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Organisasi pemuda NU di daerah yang dipimpin Pj Bupati Albar Hasan Tanjung ini dalam beberapa kesempatan mengajarkan pengobatan bekam kepada kader. Antara lain di PAC Pakuan Ratu yang juga diikuti kader dari PAC Negeri Agung dan selanjutnya akan diikuti kader PAC Kasui, Rebang Tangkas dan Banjit.

"Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Hendaklah kalian semua melakukan pengobatan bekam ditengah tengkuk, karena sesungguhnya hal itu merupakan obat dari 72 macam penyakit’. Bekam bagi 90 warga secara gratis tersebut akan digelar PAC Pakuan Ratu yang dipimpin sahabat Bakti Ghozali," ujar pemilik gelar adat Lampung Ratu Ulangan itu lagi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

PCNU Way Kanan pada Ahad (10/1) akan menggelar rapat akbar dengan seluruh badan otonom dan lembaga NU setempat di kantor NU, Kampung Tiuh Balak I, Kecamatan Baradatu untuk membahas perayaan Harlah NU. (Disisi Saidi Fatah/Mahbib)

Foto: Kader Gerakan Pemuda Ansor Pakuan Ratu dan Negeri Agung belajar bekam di Klinik Bulan Medical Center Pimpinan dr Yusuf J Mustofa Dok GP Ansor Way Kanan

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Sunnah, Jadwal Kajian, Berita Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 17 Januari 2018

Kalau Tidak Kita Bina, Anak NU Dibina Orang Lain

Pringsewu,Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ketua PCNU Pringsewu, Lampung H Taufiqurrohim mengingatkan warga NU untuk memberikan pendidikan terbaik kepada anak-anak, khususnya pendidikan Ahlussunnah wal-Jamaah An Nahdliyyah.

Hal ini disampaikannya saat memberi pengarahan dalam rangka penguatan organisas dan sosialisasi Lembaga Amal Zakat Infaq dan Shadaqah (LAZISNU) di depan seluruh Pengurus Syuriyah MWCNU dan Ranting NU se-Kecamatan Banyumas, Senin (27/6).

Kalau Tidak Kita Bina, Anak NU Dibina Orang Lain (Sumber Gambar : Nu Online)
Kalau Tidak Kita Bina, Anak NU Dibina Orang Lain (Sumber Gambar : Nu Online)

Kalau Tidak Kita Bina, Anak NU Dibina Orang Lain

Ia mengingatkan bahwa kiprah dan kepedulian pengurus NU di semua tingkatan terhadap hal ini akan berpengaruh kepada eksistensi NU di masa yang akan datang.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Jangan sampai besok terjadi anak pengurus NU melarang orang lain yang akan tahlilan, yasinan dalam rangka mendoakan orang tuanya sendiri. Bina anak kita, kalau tidak, akan dibina orang lain," ingatnya.

Saat ini, menurutnya, paham-paham Islam baru bermunculan dan menyasar para generasi muda khususnya di wilayah perkotaan. Para pemuda yang masih mencari identitas diri dan cenderung labil ini sangat mudah terpengaruh pemikirannya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Jika tidak didasari dengan pemahaman Islam Ahlusunnah wal Jamaah An-Nahdliyyah yang kuat dari keluarga, bukan tidak mungkin sekembalinya dari kota mereka akan menyalah-nyalahkan amalan orang tuanya," katanya.

Apalagi menurutnya perkembangan teknologi yang sangat pesat sekarang ini memberikan kemudahan untuk mengakses berbagai macam informasi.

"Ada kecenderungan sekarang banyak orang, khususnya anak muda, tidak mau belajar agama lewat guru dan kiai. Mereka lebih percaya kepada mbah Google yang silsilah keilmuannya tidak jelas," tuturnya.

Sehingga hal ini patut menjadi perhatian seluruh pengurus dan warga NU agar waspada dan mengarahkan para generasi muda untuk belajar ilmu agama kepada guru dan kiai secara mendalam dan sekaligus mengharap barakah keilmuannya. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi AlaNu, Nahdlatul, Berita Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 15 Januari 2018

Kang Said Minta Nahdliyin Rajin Ngaji

Boyolali, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Ketua Umum PBNU, Dr. KH Said Aqil Siroj datang ke Kabupaten Boyolali untuk menghadiri pelantikan PCNU Kabupaten Boyolali periode 2012-2017 di Pendapa Pemkab Boyolali, beberapa waktu lalu.

Dalam kesempatan tersebut Kiai Said berpesan kepada umat Islam, khususnya warga NU, agar dalam menjalankan ajaran agama, tidak merasa menjadi pihak yang paling benar.

Kang Said Minta Nahdliyin Rajin Ngaji (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said Minta Nahdliyin Rajin Ngaji (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said Minta Nahdliyin Rajin Ngaji

“Kita juga mesti rajin memperkaya diri dengan ilmu, membaca hadist, kitab, dan pendapat para ulama,” Kata Kiai Said. Hadir dalam acara tersebut Ketua PWNU Jateng Mohammad Adnan, Wakil Bupati Boyolali Agus Purmanto dan beberapa pejabat Muspida Boyolali, pengurus MWC NU di Boyolali, pengurus NU se Solo Raya, tokoh masyarakat, dan para pengasuh pondok pesantren di Boyolali.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pada acara tersebut, H Masruri yang terpilih dalam Konfercab PCNU Boyolali Oktober bulan lalu, dilantik sebagai ketua tanfidziyah. Sedangkan ? KH Abdul Hamid memimpin Syuriyah. Semua pengurus berjumlah 46 orang.

Usai dilantik, dalam sambutannya Masruri menjelaskan beberapa hal penting yang mesti dijaga dalam kepengurusannya. Pertama, umat NU mesti menjalankan Islam dengan luwes.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Mesti rukun, apabila ada pandangan yang berbeda jangan dijelek-jelekkan,” kata Masruri.

Kedua, untuk selalu mendukung 4 pilar kebangsaan. Menurutnya hal tersebut akan lebih digalakkan di daerah. Terakhir, penegasan untuk tidak berpolitik praktis. “Fokus NU saat ini untuk pembangunan, pendidikan, dan sosial,” tegasnya.

Redaktur ? ? : Hamzah Sahal

Kontributor : Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Berita, Fragmen Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 10 Januari 2018

Mensinergikan Karakter Gadis Minang dengan Peran Fatayat NU

Sumbar, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Fatayat NU merupakan kader perempuan muda NU yang mempunyai peran sangat penting baik dalam keluarga, kehidupan masyarakat dan negara.? Oleh karena itu, kader Fatayat harus cerdas dalam menyikapi kehidupan karena ditangan perempuanlah bangsa dan negara ini tangguh.? ? Demikian disampaikan Ketua Umum PP Fatayat NU, Anggia Ermarini, saat memberikan sambutan pada pelantikan Pimpinan Wilayah dan Pimpinan Cabang Fatayat NU se-Sumatera Barat di Aula Kemenag Provinsi Sumbar, ? Ahad, (17/4).

Anggia mengingatkan bahwa saat ini Fatayat sudah memasuki umur yang sudah agak tua, sehingga perempuan muda NU harus banyak berkarya baik dalam penguatan ekonomi, life skill, maupun pedidikan yang sudah tersebar di seluruh Indonesia.

Mensinergikan Karakter Gadis Minang dengan Peran Fatayat NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Mensinergikan Karakter Gadis Minang dengan Peran Fatayat NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Mensinergikan Karakter Gadis Minang dengan Peran Fatayat NU

Sementara Rais Syuriyah PWNU Sumbar, Buya H Zainal mengatakan, di Minangkabau perempuan sangat dijunjung tinggi dan berperan penting dalam membina keluarga dan pembinaan umat. Anak perempuan atau anak gadis di Minangkabau pada dasarnya mempunyai karakter yang baik, dari kecil anak perempuan sudah diajarkan mengaji, memasak dan berhitung. Ketika sudah dewasa karakter itulah yang mampu mewujudkan kemandirian perempuan muda Minang untuk bisa mandiri.?

"Inilah menurut saya yang harus ditarget oleh Fatayat menuju kemandirian perempuan muda Minang apalagi saat ini kita menghadapi era global di depan mata yaitu Masyarakat Ekonomi Asean" tuturnya.

?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Disisi lain, H Amrizal mewakili Kakanwil Kemenag Sumbar mengatakan, agar Fatayat lebih kreatif dalam menyongsong berbagai tantangan serta lebih menonjolkan kearifan lokal karena geliat organisasi NU di Jawa tentu sangat berbeda dengan yang ada di Minang. Ia pun meminta Fatayat lebih banyak menguatkan kultur dan budaya lokal.

"Kami juga minta Fatayat mampu menghasilkan bundo kandung minang yang akan menjadi pemimpin masa depan. Ketua PW Fatayat NU Sumbar yang baru dilantik Betri Murdiana dapat bekerja dan membuat program yang produktif yang berguna bagi pengembangan diri, ekonomi dan kesejahteraan keluarga kader Fatayat di Sumbar," pinta Amrizal.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Mantan ketua PMII Cabang Padang Pariaman ini berharap Fatayat NU di Sumbar bisa bangkit lebih baik lagi dan menjadi wadah pembinaan generasi muda perempuan minang dimasa yang akan datang.(Afriendi/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Nusantara, Berita, Khutbah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 04 Januari 2018

NU Tanggapi Perubahan Paradigma Masyarakat Terhadap Penyandang Disabilitas

Purwakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Forum bahtsul masail pra-Munas NU 2017 mencoba menggali pandangan Islam terhadap penyandang disabilitas di Pesantren Al-Muhajirin 3, Kabupaten Purwakarta, Sabtu (11/11) siang. Forum ini mengangkat pembahasan terkait pandangan Islam memperlakukan penyandang disabilitas.

“Ini berkaitan juga dengan fasilitas umum. Pembahasan ini lahir dari evolusi pemikiran manusia terhadap kalangan disabilitas,” kata Anis Masduki, salah seorang peserta forum bahtsul masail pra-Munas NU asal Yogyakarta.

NU Tanggapi Perubahan Paradigma Masyarakat Terhadap Penyandang Disabilitas (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Tanggapi Perubahan Paradigma Masyarakat Terhadap Penyandang Disabilitas (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Tanggapi Perubahan Paradigma Masyarakat Terhadap Penyandang Disabilitas

Forum ini dipimpin Wakil Katib Syuriyah PWNU Jatim KH Muhibbul Aman yang didampingi Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail PBNU KH Mahbub Maafi dan KH Najib Bukhori.

Kiai Muhib mengatakan, disabilitas bukanlah merupakan aib karenanya Islam memandang penyandang disabilitas sebagai manusia yang memilik hak yang sama dengan yang lainnya. Tetapi mereka berhak mendapatkan perlakuan khusus dalam mendapatkan hak dan menunaikan kewajibannya baik dalam ranah sosial maupun agama karena keterbatasannya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Forum ini membahas masalah disabilitas dalam konteks taklif syar’i dan peran negara serta elemen masyarakat dalam memperlakukan mereka.

“Dengan demikian individu, masyarakat maupun negara tidak boleh memperlakukan mereka secara diskriminatif. Maka masyarakat dan negara sesuai dengan fungsi dan peran masing harus berperan secara aktif untuk membantu dan memberdayakan mereka,” kata Kiai Mahbub.

Menurutnya, selama ini kelompok agamawan dan ormas Islam belum memberikan perhatian dalam bentuk pembahasan khusus terhadap penyandang disabilitas. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Berita, Kiai Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 03 Januari 2018

Beberapa Peristiwa Penting Para Nabi pada 10 Muharram

Oleh KH Zakky Mubarak

Masa kebangkitan, keemasan, dan kehancuran suatu umat terjadi silih berganti, dari satu generasi ke generasi yang lain, dari suatu abad ke abad yang lainnya. Peristiwa-peristiwa itu terus bergulir dengan pasti, sesuai dengan sunnatullah. Semua peristiwa tersebut merupakan pelajaran yang amat berharga bagi kita dan bagi generasi yang akan datang, untuk memilih mana yang baik yang harus diikuti dan mana yang buruk yang harus dihindari.

Hari sepuluh Muharram atau hari Asyura merupakan hari bersejarah. Menurut beberapa riwayat disebutkan, banyak peristiwa penting terjadi di hari itu pada masa yang lalu, di antaranya disebutkan sebagai berikut: (1) Nabi Adam alaihissalam bertobat kepada Allah dari dosa-dosanya dan tobat tersebut diterima oleh-Nya. (2) Berlabuhnya kapal Nabi Nuh di bukit Zuhdi dengan selamat, setelah dunia dilanda banjir yang menghanyutkan dan membinasakan. (3) Selamatnya Nabi Ibrahim alaihissalam dari siksa Namrud, berupa api yang membakar. (4) Nabi Yusuf alaihissalam dibebaskan dari penjara Mesir karena terkena fitnah. (5) Nabi Yunus alaihissalam selamat, keluar dari perut ikan hiu. (6) Nabi Ayyub alaihissalam disembuhkan Allah dari penyakitnya yang menjijikkan. (7) Nabi Musa alaihissalam dan umatnya kaum Bani Israil selamat dari pengejaran Fir’aun di Laut Merah. Beliau dan umatnya yang berjumlah sekitar lima ratus ribu orang selamat memasuki gurun Sinai untuk kembali ke tanah leluhur mereka. Banyak lagi peristiwa lain yang terjadi pada hari sepuluh Muharram itu, yang menunjukkan sebagai hari yang bersejarah, yang penuh kenangan dan pelajaran yang berharga.

Beberapa Peristiwa Penting Para Nabi pada 10 Muharram (Sumber Gambar : Nu Online)
Beberapa Peristiwa Penting Para Nabi pada 10 Muharram (Sumber Gambar : Nu Online)

Beberapa Peristiwa Penting Para Nabi pada 10 Muharram

Sayyidah Aisyah, istri Nabi shallallahu alaihi wassalam menyatakan bahwa hari Asyura adalah hari orang-orang Quraisy berpuasa di masa Jahiliyah, Rasulullah juga ikut mengerjakannya. Setelah Nabi berhijrah ke Madinah beliau terus mengerjakan puasa itu dan memerintahkan para sahabat agar berpuasa juga. Setelah diwajibkan puasa dalam bulan Ramadhan, Nabi s.a.w. menetapkan:

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? 

“Barangsiapa yang menghendaki berpuasa Asyura puasalah dan siapa yang tidak suka boleh meninggalkannya." (HR. Bukhari, No: 1489; Muslim, No: 1987)

Ibnu Abbas seorang sahabat, saudara sepupu Nabi yang dikenal sangat ahli dalam tafsir al-Qur’an meriwayatkan bahwa saat Nabi berhijrah ke Madinah, beliau menjumpai orang-orang Yahudi di sana mengerjakan puasa Asyura. Nabi pum bertanya tentang alasan mereka berpuasa. Mereka menjawab:

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? 

“Allah telah melepaskan Musa dan Umatnya pada hari itu dari (musuhnya) Fir’aun dan bala tentaranya, lalu Musa berpuasa pada hari itu, dalam rangka bersyukur kepada Allah”. Nabi bersabda : “Aku lebih berhak terhadap Musa dari mereka." Maka Nabi pun berpuasa pada hari itu dan menyuruh para sahabatnya agar berpuasa juga." (HR. Bukhari; No: 1865  & Muslim, No: 1910)

Abu Musa al-Asy’ari mengatakan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? 

“Hari Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan dijadikan oleh mereka sebagai hari raya, maka Rasulullah shallallahu alaihi wassalam bersabda: “Berpuasalah kamu sekalian pada hari itu." (H.R. Bukhari, No: 1866; Muslim, No: 1912)

Dari uraian di atas nyatalah bagi kita, bahwa hari Asyura merupakan hari bersejarah yang diagungkan dari masa ke masa. Kita hendaknya menyambut hari itu dengan banyak mengambil pelajaran yang bermanfaat dari sejarah masa lalu. Kita menyambutnya sesuai dengan tuntunan Rasulullah, agar senantiasa berada dalam bimbingannya, yaitu dengan jalan:

Pertama, mengerjakan puasa sunnah pada hari Asyura atau tanggal 10 Muharram. Keutamaan puasa pada hari ini diantaranya disebutkan dalam hadits Nabi:

? ? ? ? ? ?: ? ? ? 

"Nabi shallallahu alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari Asyura, beliau menjawab: “Puasa pada hari Asyura menghapuskan dosa setahun yang lalu." (HR. Muslim, No: 1977) 

Dalam hadits yang lain, Rasulullah menjelaskan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? 

“Sesungguhnya shalat yang terbaik setelah shalat fardhu adalah shalat tengah malam dan sebaik-baiknya puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Allah yang kamu menyebutnya bulan Muharram." (HR. Nasa’i, No: 1614)

Kedua, mengerjakan puasa Tasu’a atau puasa sunnah hari kesembilan di bulan Muharram. Mengenai puasa ini Ibnu Abbas meriwayatkan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? ? ? ?)

“Pada waktu Rasulullah dan para sahabatnya mengerjakan puasa Asyura, para sahabat menginformasikan kepada Nabi shallallahu alaihi wassalam bahwa hari Asyura diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. Maka Nabi bersabda : “Tahun depan Insya Allah kami akan berpuasa juga pada hari kesembilan”. kata Ibnu Abbas, akan tetapi sebelum mencapai tahun depan Rasulullah s.a.w. wafat”. (H.R. Muslim, No: 1916, Abu Daud, No: 2089).

Dengan demikian, kita melakukan puasa Asyura dengan menambah satu hari sebelumnya yaitu hari Tasu’a, atau tanggal 9 di bulan Muharram. Kita disunnahkan berpuasa selama 2 hari, yaitu tanggal 9 dan 10 Muharram.

Ketiga, memperbanyak sedekah. Dalam menyambut bulan Muharram diperintahkan agar memperbanyak pengeluran dari belanja kita sehari-hari untuk bersedekah, membantu anak-anak yatim, membantu keluarga, kaum kerabat, orang-orang miskin dan mereka yang membutuhkan. Semua itu hendaknya dilakukan dengan tidak memberatkan diri sendiri dan disertai keikhlasan semata-mata mengharap keridhaan Allah.

Mengenai hal ini Rasulullah bersabda:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Siapa yang meluaskan pemberian untuk keluarganya atau ahlinya, Allah akan meluaskan rizki bagi orang itu dalam seluruh tahunnya.” (HR Baihaqi, No: 3795)

Dengan memperingati hari Asyura, kita dapat mengambil pelajaran dari perjuangan para Nabi dan Rasul terdahulu. Misi mereka pada dasarnya adalah sama menegakkan aqidah Islamiyah, meyakini ke-Esaan Allah subhanahu wataala yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Peristiwa masa lalu merupakan cermin bagi kita untuk berusaha memisahkan kebenaran dan kebathilan, memisahkan yang baik dan buruk, agar dapat meratakan jalan bagi kita untuk menjangkau masa depan. Semua peristiwa dan kejadian-kejadian yang ada dalam alam semesta ini merupakan pelajaran yang bermanfaat bagi orang-orang yang mempergunakan akalnya. Pergantian siang dan malam, pergantian musim dan pada segala sesuatu di alam ini terdapat tanda, bahwa sesungguhnya Allah itu adalah Maha Esa dan Maha Kuasa.





Penulis adalah Rais Syuriyah PBNU

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Internasional, Berita, Humor Islam Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 29 Desember 2017

Belajar Hakikat Harta dari Tukang Parkir

Seharusnya kita sudah menyadari, bahwa segala sesuatu yang kita miliki hanyalah titipan belaka. Pada hakikatnya kita tak punya apa-apa. Karena, segalanya milik Allah SWT. Jika anda yang saat ini baru menyadari, maka turunkan tensi kesombongan anda perlahan. Karena kesombongan itu penyakit yang berbahaya yang bisa menyebabkan orang “sulit” masuk surga.

Saya tidak akan terlalu dalam membahas masuk surga atau neraka, karena masuk surga atau neraka pada hakikatnya tidak ada yang tahu kecuali Allah SWT. Dan itu merupakan hak prerogatif Allah SWT. Meskipun kita ketahui, garis-garis, jalan agar bisa sampai kepada Tuhan.

Belajar Hakikat Harta dari Tukang Parkir (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar Hakikat Harta dari Tukang Parkir (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar Hakikat Harta dari Tukang Parkir

Hal mendasar yang ingin saya ungkapkan sebenarnya adalah bahwa segala sesuatu yang kita miliki tak lain hanyalah titipan dari Allah. Mobil, motor, jam tangan, HP android itu sebenarnya ujian dan titipan dari Allah SWT. Allah mempercayai kita. Artinya kita sebagai user harus bisa memaksimalkan apa yang telah diberikan oleh Allah.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Coba cermati. Pernahkan anda terkena jerawat? Okey, sekarang jika kulit itu milik anda, aturlah agar wajah anda tidak timbul jerawat. Tentu, kita tidak bisa mengatur. Dari contoh sederhana tersebut tentu kita bisa menyadari bahwa kita tidak bisa menguasai diri kita (dalam segi fisik).

Sebagai analogi yang paling pas untuk menganggap bahwa apa yang telah diberikan oleh Allah SWT adalah titipan, sebagaimana di lakukan oleh tukang parkir. Dalam parkirannya, tukang parkir menerima ratusan motor dan puluhan mobil tergantung luas parkiran. Namun, tukang parkir tidak merasa bangga dan tidak merasa sombong meski di dalam parkirannya terdapat ratusan motor dan mobil. Kenapa? Karena tukang parkir tahu bahwa motor dan mobil yang ada di tempat parkirannya adalah titipan dari orang lain.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Begitulah kiranya kita memandang harta atau segala hal yang kita miliki. Memandang bahwa apa yang di berikan oleh Allah SWT merupakan hanya sebuah titipan. Sehingga kita selalu bersyukur terhadap nikmat yang Allah SWT berikan dan bersabar jika apa yang kita miliki diambil oleh Allah SWT.



Kamas Wahyu Amboro, Mahasiswa Jurusan Tasawuf Psikoterapi UIN SGD Bandung



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Berita Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 24 Desember 2017

Jelang Konfercab, IPNU Tegal Ziarahi Makam Ulama Setempat

Tegal, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Menjelang Konferensi Cabang (Konfercab) XIII Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kota Tegal, segenap pengurus IPNU setempat mengadakan ziarah ke makam sesepuh NU di Kota Tegal.

“Sebagai tanda bakti dan mengingat kembali sejarah perjuangan ulama Tegal, kami lakukan dengan cara ziarah,” tutur Ketua Panitia Konfercab Zahruddin di sela kegiatan di Makam Mbah Panggung, Tegal, Senin (26/1).

Jelang Konfercab, IPNU Tegal Ziarahi Makam Ulama Setempat (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Konfercab, IPNU Tegal Ziarahi Makam Ulama Setempat (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Konfercab, IPNU Tegal Ziarahi Makam Ulama Setempat

Menurut Zahrudin, ulama yang menjadi tujuan ziarah merupakan tokoh yang dahulu telah berjuang di wilayah Tegal. Dia berharap konfercab nanti akan melahirkan pemimpin seperti ulama yang telah diziarahi, yaitu benar-benar mengabdi pada agama dan bangsa.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ulama yang diziarahi pengurus cabang IPNU di antaranya, Habib Muhammad bin Tohir Al Haddad, Syech Abdurrahman Assegaf (Mbah Panggung), dan KH. Zaeni Nadzif.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Konfercab diagendakan pada tanggal 21-22 Maret 2015 di SMA Negeri 1 Kota Tegal. Panitia juga telah mempersiapkan rangkaian acara Pra-Konfercab, antara lain Lomba Karya Ilmiyah Remaja (KIR), Pildacil, Tata Rias Hijab, MTQ dan Futsal. “Insya Allah berbagai event lomba tersebut akan kami gelar mulai awal Februari,” terangnya.

Ketua IPNU Kota Tegal Aziz Putra meminta dukungan dan doa restu dari semua pihak demi suksesnya Konfercab XIII. “Kami mohon doa, masukan dan kritik dari Alumni dan PCNU demi suksesnya Konfercab yang ke XIII mendatang,” pintanya.

Diagendakan, Konfercab bakal ditutup dengan pengajian Peringatan Harlah IPNU-IPPNU dengan menghadirkan Group Hadroh Al Munshidin, Asuhan Al Habib Luthfi Bin Yahya dari Pekalongan. (Wasdiun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Berita, Habib, Pahlawan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 21 Desember 2017

Syekh Ubaidillah Al-Ahror, Sufi Konglomerat dan Negarawan

Oleh Fuad Al-Athor



Suatu ketika dalam mukasyafahnya Khwajah Ubaidillah Al-Ahror qs (1404–1490) mendapatkan penglihatan (vision) untuk menguatkan agama Allah. Tugas berat ini memerlukan dukungan kekuasaan politik yang mengatur kehidupan bermasyarakat. Beliau qs mendatangi Samarkand untuk menemui Mirza Abdullah bin Mirza Ibrahim bin Shahrukh penguasa kota tersebut.?

Syekh Ubaidillah Al-Ahror, Sufi Konglomerat dan Negarawan (Sumber Gambar : Nu Online)
Syekh Ubaidillah Al-Ahror, Sufi Konglomerat dan Negarawan (Sumber Gambar : Nu Online)

Syekh Ubaidillah Al-Ahror, Sufi Konglomerat dan Negarawan

Sesampainya di kota itu, seorang bangsawan menemuinya dan kepadanya beliau qs, menceritakan tujuannya ke Samarkand. Bangsawan tersebut menanggapi dengan kasar dan mengatakan, “Raja kami masih muda dan abai. Adalah sulit untuk beraudiensi dengannya. Dan apa hubungannya para sufi dengan tugas tersebut?”

Mendengar itu Syekh Ubaidillah Al-Ahror qs marah dan berkata, “Kami datang kemari bukan atas kemauan kami, tapi atas perintah Allah dan Rasul-Nya SAW, untuk menjalin hubungan dengan raja. Jika rajamu tidak memiliki perhatian atas persoalan ini, maka kami akan membawa raja lain.”?

Ketika bangsawan itu pergi, Beliau qs, menuliskan nama raja Abdullah di dinding dan kemudian menghapusnya dengan air ludahnya dan berkata, “Misi kita tidak akan bisa diemban oleh raja ini dan bangsawan-bangsawannya.”?

Hazrat Syekh qs meninggalkan Samarkand pada hari itu juga. Bangsawan tersebut meninggal seminggu setelah itu dan sebulan kemudian Sultan Abu Sa’id Mirza berderap muncul dari timur Turkistan dan mengalahkan Sultan Mirza Adullah.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Itulah sepenggal kisah seorang Sufi Agung pada abad kelima belas di Asia Tengah dalam percobaannya pertama kalinya melakukan pendekatan politik pada penguasa lokal saat itu. Kebesaran namanya menembus wilayah kekuasaan dinasti Timurid yang menandai bahwa ketinggian spiritualnya telah menjadi payung dan pengarah dari kekuatan politik duniawi.

Sufi yang “King Maker”

Ia lahir di desa Shash pada bulan Ramadhan tahun 806 H/1404 M di sekitar Tashkent (Ibu kota Uzbekistan sekarang). Pada usia 22 tahun beliau dikirim ke sekolah keagamaan di Samarkand, namun beliau keluar yang menandakan keengganannya pada dunia akademik dan memilih untuk mencari dan menjalani “laku” kebatinan. Beliau menghadiri forum-forum pembelajaran sufistik hingga akhirnya berlabuh pada bimbingan Syeikh Ya’qub Charqi qs, seorang khalifah Maulana Bahauddin Naqsyaband, imam dari Tarekat Naqsyabandiyah.

Keterlibatannya dalam dunia politik dimulai dalam konteks ancaman kehancuran dinasti Timurid akibat perebutan kekuasaan antara pangeran pasca meninggalnya Raja Syahrukh pada tahun 1447. Ulugh Begh, putranya segera menggantikan posisinya. Ia seoarang raja yang intelektual. Dua tahun berkuasa, ia dibunuh oleh putranya yang haus kekuasaan Abdul al-Latif.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sejak itu dinasti Timurid berubah menjadi arena perebutan kekuasaan para penguasa lokal. Peperangan sering terjadi antara penguasa yang merupakan keturunan dari Timur Lenk. Tiadanya kontrol politik terpusat pada gilirannya melahirkan warlord-warlord (emir) yang melakukan tindakan sewenang-wenang dengan penindasan dan penghisapan ekonomi terhadap rakyat dengan menarik pajak yang mencekik.

Menghadapi fakta ini, beliau mengonsolidasi masyarakat sipil yang saat itu merupakan jejaring bisnis yang berafiliasi pada perusahaannya. Kemudian membangun semacam upaya proteksi yang dikenal dengan sistem himayat. Sistem ini kurang lebih bekerja dalam bentuk patronase dan perlindungan di sekitar area pertanian dan aktivitas perdagangannya yang terorganisir rapi. Jaringan ini berisi kelompok petani, tukang (pengrajin) dan para pedagang yang bekerja padanya dan mendapat perlindungan dari tindasan para warlord yang sering kali memungut pajak di luar batas kemampuan.

Bersamaan dengan itu, beliau melakukan proses screening demi menyeleksi kepemimpinan politik yang paling layak untuk dijadikan penguasa Asia Tengah saat itu dengan dukungan kekuatan spiritualnya yang sangat luar biasa. Tidak hanya menjalin hubungan baik dengan penguasa yang sudah established sebagaimana tokoh agama kebanyakan, beliau menciptakannya, ikut terlibat dalam pembangunan sebuah rezim. Tim sukses jika hari ini. Dan pilihan beliau jatuh pada Sultan Abu Said Mirza yang merupakan salah satu pembesar di dinasti Timurid yang saat itu menguasai wilayah Turkistan. Sultan Abu Said kemudian menjadi murid beliau. Dengan dukungan spiritualnya Sultan Abu Said menguasai Samarkand pada tahun 1451. Sang Sultan kemudian memintanya untuk menjadi penasihat kerajaannya.

Menurut dosen dan peneliti senior di Universitas Haifa, Israel, Itzchak Weismann dalam bukunya The Naqshbandiyya (dipublikasi oleh Routledge, 2007), misi politik Syekh Ubaidillah Al-Ahror, qs, adalah untuk melindungi apa yang bisa diterjemahkan sebagai civil society di jamannya. Sasaran utamanya terdiri dari dua hal; pertama, untuk mencegah peperangan antara para pangeran di dinasti Timurid. Kedua, untuk menghapus sistem pajak “turko-mongol” yang disebut dengan tamgha dan sangat mencekik rakyat kecil yang dipraktekkan oleh para komandan perangnya.

Kedua sasaran di atas meniscayakan kepiawaian beliau dalam memediasi dan menjadi negosiator antara penguasa yang saling bermusuhan dan antara masyarakat dengan kelas elit penguasanya pada saat bersamaan. Upaya untuk hal pertama di atas dibuktikan dengan keberhasilan beliau untuk menyudahi pengepungan kota Samarkand oleh putra Mirza Adullah pada tahun 1454 dan menuntaskan pemberontakan-pemberontakan terhadap Sultan Abu Said sepanjang tahun 1461-1463. Juga memberikan restu dalam inisiatif perluasan kampanye militer Abu Said ke wilayah Persia hingga akhir kekuasaannya pada tahun 1469. Tapi pada masa putra-putra Abu Said beliau mendesak disepakatinya perjanjian perdamaian di antara mereka. Dan pada sasaran kedua, beliau berhasil membatalkan kebijakan pajak pasar (tamgha) yang sangat tidak populer dan memberatkan rakyat dengan caranya yang persuasif terhadap penguasa Timurid. Namun dalam kasus berbeda, beliau justru membayar pajak yang sangat besar pada kerajaan guna mengurangi beban masyarakat.

Mursyid Tarekat yang Konglomerat

Pada sosok beliau stigma bahwa kaum sufi adalah mereka yang papa dan menjauh dari aktivitas duniawi seratus persen terbantahkan. Beliau adalah seorang pengusaha yang sukses. Sangat sukses, sehingga menjadi pembayar pajak terbesar pada kerajaan Timurid saat itu. Barangkali dialah satu-satunya pemilik tanah terluas di Asia Tengah di masanya. Mengutip publikasi ilmiah Muzaffar Alam “The Mughals, the Sufi Shaikhs and the Formation of the Akbari Dispensation” di Cambridge Jurnals, vol 43, 1 (2009), Khwaja memiliki ribuan acre tanah dengan irigasi terbaik di Tashkent, Samarqand, Bukhara, Kashkadaria dan tempat-tempat lainnya. Dia juga sebagai pemilik atas 64 desa yang dikelilingi kanal irigasi, 30 perkebunan buah luar kota, 11 kawasan perkotaan, dan lusinan perusahaan perdagangan dan workshop kerajinan tangan, sejumlah pasar, kios, WC umum dan kincir air. Juga ratusan ribu sapi dalam peternakannya yang tersebar di seluruh negeri.

Semua properti di atas menjadi basis bagi sistem himayat yang dikembangkannya juga bagi jaringan ekonomi yang terbangun dari holding perusahaannya dan aktivitas ekonominya, baik dalam sekala regional maupun internasional. Terdapat banyak sekali pekerja yang dilibatkan dalam jaringan ekonomi ini, bekerja padanya di pusat khanqah maupun yang tersebar seantero negeri; Turkestan, Mawarannahr and Khurasan, untuk menjaga dan mengelola properti-properti ini.?

Upaya penyebaran tarekat dan pendidikan sufistik menyebar melalui organisasi sosial-ekonomi yang beliau rancang. Selain sebagai pekerja pada perusahaan-perusahaannya, kebanyakan di antaranya adalah juga sebagai murid dari tarekatnya. Sebagian ada juga yang bukan pengikut spiritualnya, hanya bekerja saja.

Dengan organisasi kesejahteraan ini beliau mampu membantu baik masyarakat ataupun bahkan raja di kala kesulitan finansial. Khwaja Ubaidillah qs pada masa kekuasaan Umar Syaikh Mirza pernah menyerahkan uang sejumlah 250,000 dinar dan pada kesempatan lainnya sejumlah 70,000 dinar, untuk meringankan beban pajak kaum Muslim di kota Tashkent.

Kutub bagi Lingkaran para Ahli Makrifat

Ia adalah seorang Raja (spiritual) yang memiliki cahaya murni dari Esensi yang Unik dan dilepaskan dari penangkarannya dari Yang Tersembunyi untuk disebarkan kepada semua orang yang Arif. Ia menyingkap sisi gelap bulan dari Sifat-Sifat Ilahi mulai dari buaian sampai ia mencapai keadaannya yang sempurna. Ketika masih muda, ia telah diberi otoritas dan mulai bekerja untuk menerima Rahasia dari Rahasia dan untuk menyingkap Hijab. Ia tidak pernah melirik pada keinginan duniawi.

Syekh Ubaidillah qs berusaha melakukan yang terbaik untuk membersihkan kotoran dan kegelapan yang telah menutupi kalbu manusia. Ia menjadi matahari untuk menyinari jalan untuk para salik menuju Maqam Keyakinan dan Perbendaharaan Ilmu Spiritual yang tersembunyi.

Sebelum Ubaidillah dilahirkan, peristiwa berikut ini terjadi di mana maqam besarnya telah diramalkan. Syekh Muhammad as-Sirbili berkata, “Ketika Syekh Nizamuddin al-Khamush as-Samarqandi sedang duduk di rumah ayah saya, bertafakur, tiba-tiba ia berteriak dengan suara yang sangat keras; membuat semua orang ketakutan.” Ia berkata, “Aku melihat sebuah visi di mana banyak orang yang datang kepadaku dari timur, dan aku tidak bisa melihat apa-apa di dunia kecuali dirinya. Orang itu bernama Ubaidillah dan ia akan menjadi Syekh terbesar di zamannya. Allah akan membuat seluruh dunia tunduk padanya, dan aku berharap bahwa aku dapat menjadi bagian dari pengikutnya.”

Dalam hagiografi (manaqib)nya, Ia berkata, “Aku masih ingat apa yang kudengar ketika aku berusia satu tahun. Sejak umur tiga tahun, aku sudah berada di Hadratillah. Ketika aku mempelajari Qur’an dengan guruku, kalbuku berada di Hadratillah. Aku dulu berpikir bahwa semua orang memang seperti itu.”

Dan salah satunya adalah perkataan ini, “Suatu hari di musim dingin, aku pergi keluar dan saat itu hujan turun sehingga sepatuku masuk ke dalam genangan lumpur. Cuaca sangat dingin. Aku berusaha menarik kakiku dari genangan lumpur itu. Tiba-tiba aku menyadari bahwa kalbuku berada dalam bahaya besar, karena pada saat itu aku telah lalai dalam mengingat Allah. Aku pun segera beristighfar.”

Salah satu tanda ketinggian ilmu ma’rifatnya tampak pada catatan dalam manaqib beliau di bawah ini:

“Apakah makna dari ayat, f’a`rid `an man tawalla `an dzikrina (‘Dan tinggalkanlah orang yang berpaling dari Mengingat Kami‘) [53:29]? Itu menunjukkan bahwa bagi orang yang melakukan kontemplasi mendalam (moroqobah) terhadap Hadirat Ilahiah Kami, dan telah mencapai maqam tidak melihat apa-apa kecuali Kami, maka tidak perlu lagi tindakan mengingat itu. Jika ia berada dalam maqam penglihatan sepenuhnya, jangan memerintahkannya untuk melafalkan zikir karena itu mungkin akan menyebabkan kedinginan di dalam kalbunya. Ketika ia sepenuhnya sibuk dengan maqam musyahadah, segala sesuatu yang lain merupakan gangguan dan dapat mengganggu maqam tersebut.”

“Muhyiddin Ibn `Arabi qs berkata, mengenai hal ini, ‘Dengan zikrullah, Mengingat Allah, ? dosa-dosa meningkat, dan penglihatan dan kalbu akan terhijab. Meninggalkan zikir adalah keadaan yang lebih baik karena matahari tidak pernah terbenam.’ Apa yang beliau maksudkan di sini adalah bahwa ketika seorang Arif berada di Hadiratillah dan dalam keadaan Penglihatan Mutlak terhadap Keesaan Allah, pada saat itu segala sesuatu fana fillah. Baginya zikir menjadi sesuatu yang dapat mengganggu. Seorang Arif hadir dalam Eksistensi-Nya. Ia berada dalam keadaan Fana dalam Hadratillah, sedangkan dalam zikrullah ia berada dalam keadaan absen, yaitu perlu mengingatkan dirinya sendiri bahwa ada Allah di sana.”

Keberhasilannya yang gilang gemilang baik dalam aktivitas ekonomi maupun keterlibatan politiknya telah menjadikannya sebagai model bagi praktek Kholwat Dar Anjuman, menyepi dalam keramaian, (solitude in the crowd) yang merupakan salah satu prinsip dari delapan prinsip dasar yang dicanangkan oleh Syekh Kholiq al-Ghujdawani qs, salah seorang pembesar dari silsilah tarekat ini.

Di bawah khidmatnya, tarekat Naqsyabandiyah terkonsolidasi di Asia Tengah dan memiliki kesiapan yang kuat untuk penyebaran yang luar biasa. Kemudian hari, ajarannya diteruskan dan berkembang di India, seiring perkembangan dinasti Moghul yang merupakan penerus dinasti Timurid. Pada fase inilah muncul sosok Agung Syekh Ahmad Faruk Sirhindi qs, al mujaddid fi alfi tsani, yang darinya mengalirkan ilmu-ilmu esoteris hingga ke Nusantara. Di Indonesia sendiri kini dibawa oleh dua cabang besar yakni Mazhariyah dan Kholidiyah.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Berita, Halaqoh Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 19 Desember 2017

Hari ini Haul Mbah Ali Maksum

Yogyakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Keluarga besar Pesantren Krapyak mengadakan acara haul ke-24 KH Ali Maksum. Sejak 19 Maret rangkaian acara sudah dilakukan, seperti majlis sesamaan Al-Quran. Acara puncaknya adalah malam ini, di halaman Pesantren Krapyak, Yogyakarta.

Menurut Humaidy As, salah satu pembimbing komplek Sakan di Pesantren Ali Maksum, acara haul ini menjadi sangat penting bagi santri Krapyak untuk mengenang perjuangan dan keteladanan KH Ali Maksum.

Hari ini Haul Mbah Ali Maksum (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari ini Haul Mbah Ali Maksum (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari ini Haul Mbah Ali Maksum

“Haul para kiai menjadi media refleksi santri untuk makin rajin dalam mengaji. KH Ali Maksum adalah inspirasi keteladanan santri, sehingga santri mendapatkan bekal untuk bermasyarakat dan bangsa” tegasnya.

Kiai Sederhana

KH Munawir AF, salah satu santri KH Ali Maksum, dalam akun facebooknya memberi kesaksian bahwa KH Ali Maksum terkenal dengan kesederhanannya, baik di kala dahar (makan), atau di kala berpakaian, sangat terasa sekali KH Ali Maksum dengan kesederhanaannya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Kalo makan ada tempe dan sambel, oke. Atau adanya nasi goreng ala Ibu Nyai Hasyimah dan krupuk, juga oke. Demikian juga kalau mengajar ke IAIN, pakaian yang licin strikan, oke. Suatu ketika tidak setrikan, juga oke.” kenangnya. ? “Sederhana, tetapi tetap berkesan anggun dan wibawa.” Lanjutnya.

Di samping itu, KH Ali Maksum juga dikenal sangat tawadlu’. Ia tidak mau dipanggil "Kiai", tetapi dipanggil "Pak".

Semua santrinya memanggil Pak Ali. Bukan itu saja, KH Ali Maksum juga sangat akrab dengan santrinya, sehingga santri merasa menjadi santri kesayangannya. Ini dibuktikan dengan hafalnya KH Ali Maksum dengan nama santrinya, padahal santrinya saat itu sekitar 2000.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Santri 2000, ya kenal nama sebanyak itu. Seblum mengaji, beliau mengabsen tanpa buku absen. Yang tidak kelihatan, itulah yang dipanggil.” Tegas KH Munawir AF.?

KH Ali Maksum adalah Rais ‘Aam PBNU periode 1982-1984. Ia menggantikan kedudukan KH Bisyri Syansuri yang wafat pada tanggal 19 Jumadil Akhir 1400 H (25 April 1980 M). ?

KH Ali Maksum dilahirkan di Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa tengah pada tanggal 2 Maret 1915 dari ayah KH Maksum (pendiri/pengasuh Pondok Pesantren Al-Hidayat Lasem) dan ibu Siti Nuriyah. Sejak kecil Ali belajar agama pada sang ayah. Pada usia 12 tahun setelah mempelajari beragam kitab termasuk menghafalkan Alfiyah Ibn Malik, Ali kecil dikirim sang ayah untuk belajar di Pesantren Termas, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur yang waktu itu diasuh oleh KH Dimyati dan dilanjutkan KH Hamid Dimyati.

?

Redaktur ? ? : Hamzah Sahal

Kontributor : Rokhim Bangkit, Supriyadi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Berita,Attijani Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 14 Desember 2017

Tahajud Siang Malam

Suatu ketika salah satu pejabat negara yang konon rutin puasa Senin-Kamis menyampaikan kata sambutan  dalam sebuah acara. “Saudara-saudara sekalian yang terhormat, Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh!”

Para tamu udangan pun yang dihadiri sebagian para kiai kampung dan santri-santrinya menjawab dengan serentak, “Walaikumsalam warahmatullohi wabarokatuh!”

Tahajud Siang Malam (Sumber Gambar : Nu Online)
Tahajud Siang Malam (Sumber Gambar : Nu Online)

Tahajud Siang Malam

Ia lantas berpidato seakan-akan memojokkan para kiai. “Meskipun bapak-bapak kiai yang ada di sini tahajud siang-malam, belum tentu lebih mulia dari seorang yang mengerti teknologi?” Ucap sang pejabat dengan berapi-api.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Mendengar itu, para kiai desa itu tak nyaman. Tapi tak mungkin mereka langsung mendebatnya. Menit berikutnya para kiai satu demi satu meninggalkan ruangan.

Para santri beranggapan bahwa para kiai mungkin tersinggung karena Pak Pejabat melecehkan keberadaan mereka di mata para santrinya. Tapi, ternyata bukan.

Di luar ruangan, seorang kiai berkomentar tentang sambutan tersebut, “Mana ada tahajud siang-malam?” (Ahmad Rosyidi)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Berita, Aswaja Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 10 Desember 2017

Jangan Berangkat ke Tanah Suci karena Ingin Dipanggil Pak Haji

Pringsewu, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Ibadah haji merupakan ibadah yang sangat mulia. Tidak semua orang dapat memenuhi panggilan Allah SWT untuk menjadi tamu Allah karena memang ibadah haji merupakan ibadah yang membutuhkan kesiapan maksimal dari pelakunya.

Selain merupakan ibadah maliyah yaitu membutuhkan kesiapan dana, ibadah haji juga merupakan ibadah waqtiyah yaitu dilakukan pada waktu tertentu. Ibadah haji juga merupakan Ibadah badaniyyah yaitu memerlukan kesiapan fisik yang baik dan ibadah ilmiyah yaitu ibadah yang memerlukan ilmu untuk menjalankannya.

Jangan Berangkat ke Tanah Suci karena Ingin Dipanggil Pak Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Berangkat ke Tanah Suci karena Ingin Dipanggil Pak Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Berangkat ke Tanah Suci karena Ingin Dipanggil Pak Haji

Hal ini dijelaskan oleh KH Muhammad Rais saat menyampaikan taushiyah pada acara walimatus safar Kepala Bagian Tata Usaha Kankemenag Pringsewu Johar Tanthawi di kediamannya di Fajaresuk, Rabu (26/7).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kiai yang pernah menjadi Ketua MUI Kabupaten Tanggamus ini mengingatkan bahwa kemuliaan yang ada pada ibadah haji jangan sampai dinodai dengan kesalahan niat. "Jangan sampai berangkat haji karena niat ingin dipanggil ‘Pak Haji’ atau ‘Ibu Hajjah.’"

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Keikhlasan dengan hanya mengharap ridha dan rahmat dari Allah harus ditancapkan dalam hati sebagai modal melaksanakan rukun Islam kelima ini. Keikhlasan untuk memenuhi seluruh biaya haji juga harus ada. "Tidak ada ceritanya orang melarat karena membayar ongkos naik haji," tegasnya.

Menurutnya Allah SWT akan menghitung seluruh biaya yang dihabiskan untuk ibadah haji sebagai infaq dan akan menggantinya 700 kali lipat besok di hari akhir. "Kuda lari dapat dikejar. Jika punya kemauan kita pasti bisa. Mari optimis bahwa kita pasti bisa pergi ke tanah suci," ajaknya.

Tampak hadir pada acara ini Wakil Bupati Pringsewu H Fauzi, Kepala Kemenag Pringsewu H Muhammad Yusuf, dan pegawai ASN di lingkungan Kemenag Pringsewu. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Berita, Humor Islam Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 08 Desember 2017

Kepahlawanan KH Asad Syamsul Arifin Diharap Jadi Spirit Generasi Muda

Jember, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Napak tilas perjuangan pahlawan nasional, KHR Asad Syamsul Arifin dalam mengusir penjajah Jepang di Desa Garahan, Kecamatan Silo, Jember, Jawa Timur, kembali digelar. Napak tilas yang kedua ini digawangi oleh SMK Perikanan dan Kelautan Puger bekerja sama dengan Ikatan Santri dan Alumni Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo (IKSASS).

Kepahlawanan KH Asad Syamsul Arifin Diharap Jadi Spirit Generasi Muda (Sumber Gambar : Nu Online)
Kepahlawanan KH Asad Syamsul Arifin Diharap Jadi Spirit Generasi Muda (Sumber Gambar : Nu Online)

Kepahlawanan KH Asad Syamsul Arifin Diharap Jadi Spirit Generasi Muda

Napak tilas pada Jumat (25/8) dilepas oleh KH. Misbah Umar di halaman Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, Desa Sumberwringin, Kecamatan Sukowono, Jember.

Pesertanya mencapai 500-an orang yang mayoritas adalah siswa-siswi SMK Perikanan dan Kelautan Puger, ditambah anggota IKSASS. Selama dua hari mereka menyusuri jalan-jalan yang pernah dilalui oleh Kiai Asad dan para pejuang untuk menuju Desa Garahan, tempat markas pasukan Jepang.

Pengurus IKSASS, HM. Misbahus Salam mengatakan bahwa napak tilas tersebut dilaksanakan untuk mengenang sejarah perjuangan Kiai Asad sekaligus memperkenalkan kepada generasi muda tentang peran beliau dalam mengusir penjajah Jepang.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Kami berharap ini menjadi spirit bagi peserta, khususnya siswa SMK Perikanan dan Kelautan Puger dalam belajar. Semangat Kiai Asad tak pernah kendur dalam mengusir penjajah, demikain juga semangat generasi muda tak boleh kendur dalam mengisi kemerdekaan," tukasnya kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi.

Hadir dalam pelepasan napak tilas tersebut, antara lain adalah KH Syadid Jauhari (Pembina Yayasan Pondok Pesantren Darsul Bihar), KH Munif Shaleh, HM. Misbahus Salam, Kuncoro Diyauddin (Kepala SMK Perikanan dan Kelautan Puger), KH Zaini Ridwan dan Michelle Phillips. Nama yang disebut terakhir ini adalah dari University of California, Amerika Serikat. Ia sengaja datang untuk melihat langsung jalannya napak tilas perjuangan KHR Asad Syamsul Arifin. (Aryudi A. Razaq/Abdullah :Awi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Berita Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 28 November 2017

Kudeta di Pilpres 2014 Jika SBY Tak Keluarkan Perpu

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Kepercayaan masyarakat terhdap penegakan hukum di Indonsia mulai pudar setelah putusan Mahkamah Konstitusi (MK) dalam judicial review UU Pilpres. MK dituding sebagai penyebab ketidakpastian hukum dalam berpolitik serta merusak tatanan demokrasi.

Kudeta di Pilpres 2014 Jika SBY Tak Keluarkan Perpu (Sumber Gambar : Nu Online)
Kudeta di Pilpres 2014 Jika SBY Tak Keluarkan Perpu (Sumber Gambar : Nu Online)

Kudeta di Pilpres 2014 Jika SBY Tak Keluarkan Perpu

“Lembaga pengadilan tertinggi tersebut disarankan melakukan perombakan total,” ungkap pengamat politik Universitas Indonesia (UI), Arbi Sanit pada diskusi, salah satu rangkaian Harlah PMII ke-54 yang digelar Pengurus Besar PMII, di gedung PBNU, Jakarta, Senin (10/3).

Persoalan lain, tambahnya, adalah pergeseran ikon koalisi dan tidak sehatnya dinamika politik 2014 ini ketimbang pemilu sebelumnya. Partai Demokrat yang sudah hancur lebur koalisinya tentu tidak lagi akan menjadi straegis. Sehingga langkah-langkah yang tidak etis bisa saja dilakukan oleh partai besutan SBY ini.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Guru Besar politik itu juga menerangkan bagaimana Golkar sudah mengintip-intip mencari koalisi termasuk terus berusaha menghancurkan Partai Demokrat. Caranya adalah dengan menghembuskan isu Kasus Bank Century.

"Padahal BLBI jauh lebih banyak, tapi Century yang digembar-gemborkan. Inilah permainan Golkar, termasuk bagaimana Prabowo mengancam dan akan melawan Jokowi. "Baru saja Jokowi mau dicalonkan PDIP, sudah dilawan," ungkapnya, pada diskusi bertema "Mungkinkah Kudeta Konstitusional 2014".

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Arbi juga mengungkapkan sekarang kondisi bangsa dibayangi krisis ekonomi, tidak ada kepastian politik. Menurutnya, kondisi ini sangat berbahaya dan bisa mengarah ke kudeta di Pilpres 2014 nanti.

Pembicara lain Erfandi, mengungkapkan bahwa potensi kudeta di pemilu 2014 kemungkinan akan terjadi karena Mahkamah Konstitusi (MK) pada 23 Januari 2014 telah mencabut pasal 3 ayat 5 UU Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden.

Atas dicabutnya dasar hukum penyelenggaraan pilpres ini, tambah dia, maka berdampak terhadap hilangnya dasar hukum pilpres 2014 karena baru akan diberlakukan di pemilu 2019. Ungkapnya

Tenaga ahli komisi IV DPR RI ini menambhakan bahwa dalam kondisi darurat seperti ini seharusnya SBY selaku presiden harus turun tangan membuat Perpu sebagai langkah strategis dalam mengisi kekosongan hukum.

“Bukan justru mendiamkan persoalan yang menimbulkan ketidakpastian ini. karena ini ibarat api dalam sekam yang tinggal menunggu waktu akan terjadi kebakaran politik di Indonesia.”

Ada tiga kelompok yang berpotensi untuk melakukan kudeta dengan menggunakan kekosongan hukum di pilpres 2014 nanti. Satu adalah kelompok yang kalah dalam Pilres, atau juga bisa dari status quo dalam hal ini Presiden SBY terhadap kelompok yang memenangkan pemilihan presiden nanti.

“Dimana dalam kondisi tidak legitimetnya keberadaan presiden ini maka kemungkinan TNI tidak lagi mematuhi dekrit yang akan dikeluarkan oleh presiden seperti eranya Abdurrahman Wahid,” tutupnya. (Red: Abdullah Alawi)

.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pertandingan, Ubudiyah, Berita,Attijani Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 27 November 2017

Haul Gus Dur tak Semata Diperingati

Jombang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Hampir semua orang sepakat bahwa Gus Dur atau KH Abdurrahman Wahid adalah sosok yang layak ditauladani. Tidak semata dalam gagasan, juga dalam tataran perilaku atau tindakan.

Yang mendesak untuk segera dilakukan adalah menampilkan kiprah dan dedikasinya dalam keseharian. Apalagi dalam waktu dekat, Jombang akan menyelenggarakan pemilihan kepala daerah.

Haul Gus Dur tak Semata Diperingati (Sumber Gambar : Nu Online)
Haul Gus Dur tak Semata Diperingati (Sumber Gambar : Nu Online)

Haul Gus Dur tak Semata Diperingati

Ini di antara benang merah yang disampaikan sejumlah narasumber pada kegiatan "Meneguhkan Spirit Perjuangan Gus Dur: Refleksi Kritis Menjelang Transisi Kepemimpinan Jombang" (4/1).?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Acara yang diselenggarakan di kantor PC Lakpesdam NU Jombang ini menghadirkan Ahmad Athoillah (Ketua PC ISNU Jombang), Pendeta Sutrisno (GKI Jombang) serta Aan Anshori (GusDurian Jombang).

Dalam paparannya, Gus Athok -sapaan Ketua PC ISNU Jombang- menmandaskan sebenarnya banyak gagasan Gus Dur yang masih relevan dengan kondisi kekinian.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Yang sangat terasa adalah bagaimana seorang Gus Dur mampu menjadi payung bagi semua golongan," katanya. Sosok dengan komitmen seperti ini yang sangat dibutuhkan sebagai pemimpin masa depan.?

"Mereka yang berkeinginan dan mampu menyapa berbagai lapisan masyarakat, tentu akhirnya dapat dengan mudah menyerap aspirasi masyarakat," lanjutnya. Namun demikian, yang juga penting adalah bagaimana merealisasikan janji-janji dan komitmen politik tersebut manakala telah terpilih sebagai orang pertama di kota santri ini.

Karena sudah jamak terjadi, beberapa pemimpin yang demikian terbuka dengan masyarakat, namun melakukan itu hanya saat masa kampanye.?

"Namun setelah terpilih, sangat jarang yang mau mempertahankan dalam masa kepemimpinannya," katanya prihatin.?

Pada acara yang berlangsung sejak jam 20.00 hingga tengah malam ini, beberapa peserta juga menyampaikan berbagai keprihatinan seputar kesungguhan dan keberpihakan para pemimpin. Yang lebih mengemukan adalah rendahnya komitmen mereka dalam mengayomi dan melindungi masyarakat.?

"Memang tidak mudah mencari pemimpin yang bisa memuaskan semua pihak," kata Pendeta Sutrisno. "Namun diantara yang telah siap untuk maju, pasti akan ada yang lebih baik," lanjutnya.

Karena itu, pada kesempatan ini semua peserta sepakat bahwa momentum memperingati tiga tahun wafatnya Gus Dur, hendaknya tidak semata diperingati. Yang mendesak adalah melakukan penyadaran khususnya kepada diri sendiri terhadap pentingnya sosok yang rela mengayomi dan melindungi kepentingan orang banyak.?

"Tanpa itu, peringatan Gus Dur hanya berhenti pada seremonial tanpa ada pengaruh dalam realita," kata Aan Anshori.

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Saifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Berita, Olahraga, Kyai Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 26 November 2017

Al Qaeda: Dari Perang Afganistan sampai ISIS

Buku Al Qaeda: Kajian Sosial Politik, Ideologi dan Sepak Terjangnya (2014) merupakan kelanjutan dari buku “Ideologi-Ideologi Pasca Reformasi” yang diterbitkan tahun 2012. Menurut penulisnya, As’ad Said Ali, kedua buku itu berangkat dari ambisi pribadnya untuk melakukan kajian menyeluruh tentang gerakan-gerakan radikal.

Buku Al Qaeda terdiri dari 9 bab yang dimulai dengan cerita mengenai pengalaman pribadi penulis saat bertugas sebagai pejabat Badan Intelijen Negara (BIN) di Timur Tengah pada 1982 sampai 1990. Selanjutnya penulis menyampaikan uraian panjang lebar mengenai ideologi kaum jihadi dan Al Qaeda secara khusus. Pertemuannya secara tidak sengaja dan perkenalannya dengan pemimpin Al Qaeda Osama bin Laden menjadi titik poin tersendiri. As’ad Ali mencatat bahwa Perang Afghanistan sebagai sebuah permulaan terbentuknya jaringan jihad internasional dan mengenai gagasan pembentukan Al Qaeda. Penulis juga mengungkap pola pengorganisasiannya, serta operasi-operasinya pada tahap awal.

Bab 5 penulis menyampaikan uraian tambahan mengenai Jamaah Islamiyah dan hubungannya dengan Al Qaeda mengingat banyak orang salah kaprah, termasuk opini di sejumlah media, dalam memahami hubungan kedua organisasi ini. Bagaimana jaringan operasi dan rentetan aksi teror bom yang dilakukan Al Qaeda, disajikan dalam Bab 6 dan 7. Uraian dalam dua bab ini meliputi wilayah yang relatif luas, yakni Indonesia dan sejumlah negara di Asia Tenggara. Bab ini menggambarkan cukup menyeluruh mengenai operasi Al Qaeda di Asia Tenggara, dan bagaimana Asia Tenggara dijadikan pangkalan untuk menyerang sejumlah negara di kawasan lain.

Al Qaeda: Dari Perang Afganistan sampai ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)
Al Qaeda: Dari Perang Afganistan sampai ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)

Al Qaeda: Dari Perang Afganistan sampai ISIS

Bab 8, merupakan bagian paling penting yang menyoroti generasi pasca Osama dan bagaimana dinamikanya. Osama tewas ditembak anggota pasukan elit Navy SEAL Amerika Serikat di Pakistan, pada Mei 2011. Pada bab ini penulis memulai pembahasan dengan menanyakan apakah setelah kematiannya itu, apakah Al Qaeda ikut hancur dan mati? Bagaimana dengan gerakan-gerakan jihad lainnya? Kenyataannya, kaum jihadi kini menemukan medan jihad baru di Syria, Iraq, dan kawasan Afrika. Bahkan telah lahir ISIS/ISIL (The Islamic State of Iraq and the Levant).

Bab terakhir, Bab 9 berisi uraian reflektif mengenai apa sesungguhnya penyebab Al Qaeda melakukan perlawanan global, dan mengapa akhirnya memilih cara kekerasan. Pada pagian epilog ini, penulis mengajukan rekomendasi, sebuah visi yang perlu dibangun untuk mengelola dan menciptakan perdamaian dunia. As’ad Said Ali yang juga Wakil Ketua Umum PBNU menilai bahwa masalah Al Qaeda sesungguhnya tidak bisa dipandang sekedar sebagai persoalan eksklusif negara semata. Atau lebih sempit lagi, urusan aparat keamanan. Al Qaeda adalah sebuah gerakan politik, dengan ideologi jihad yang kuat, mempunyai jaringan global dan skill militer. Visi politiknya terumuskan dalam sebuah kalimat yang sederhana: “menegakkan Islam dan melindungi kaum muslimin.”

Esensi ideologi Al Qaeda adalah jihad, dan pembentukan khilafah Islamiyah adalah suatu yang mutlak. Dengan ideologi seperti itu, kaum jihadi menyalahkan pemaknaan para ulama yang telah menjadi ijma’ selama berabad-abad, yang mengartikan jihad dalam arti qital (perang) hanyalah salah satu jenis saja dari jihad. Menurut As’ad, jihad yang lebih besar adalah mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil alamin. Al Qaeda menganggap jihad qital (perang) adalah fardhu ‘ain, sebagai satu-satunya jihad yang berlaku mutlak sejak turunnya surat At Taubah. Sedangkan ayat-ayat lain, yang mengandung perintah jihad lainnya, telah terhapus. Ini berati, khususnya masalah jihad, Al Qaeda menganggap mayoritas umat Islam mengikuti ajaran yang salah.

Kaum jihadi juga beranggapan bahwa pembentukan khilafah islamiyah adalah mutlak. Mereka menilai agama Islam tidak bisa dilaksanakan dengan sempurna jika tidak melalui Daulah Islamiyah (pemerintah Islam). Dengan demikian terbentuknya Daulah Islamiyah akan menjadi menara api yang akan mengumpulkan kaum muslimin dari semua tempat menjadi satu kesatuan di bawah pemimpin khalifah, meskipun ? memang tidak ada kesatuan pandangan di kalangan mereka sendiri mengenai apa yang dimaksud khilafah. Namun doktrin kekhalifahan tersebut telah menghasilkan doktrin lanjutan lainnya yang menyeramkan, yakni pengkafiran terhadap umat Islam yang tidak mendukung prinsip kekhalifahan tersebut. Padahal, umumnya para ulama berpendapat bahwa kata-kata khalifah atau khilafah yang terdapat dalam Al-Qur’an berarti “kepemimpinan umat” dalam arti yang luas, tidak berarti model pemerintahan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sementara itu fakta menunjukkan bahwa negara-negara muslim masih banyak yang belum berhasil membangun sistem politik yang? dapat menggabungkan secara harmonis antara gagasan negara-bangsa dengan ajaran Islam. Barangkali baru sebagian saja yang berhasil. Itupun masih dalam proses, di antaranya adalah Indonesia dan sejumlah kecil negara Arab. Indonesia? adalah contoh unik, bagaimana para ulama madzhab (madhzab maslahat) khususnya, NU, Muhammdiyah dan ormas lainnya, bersama tokoh-tokoh nasionalis, Muslim maupun Non Muslim, mampu merumuskan suatu dasar negara yang secara esensial sama sekali tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip agama. Bahkan dapat dikatakan pada basis prinsip-prinsip itulah negara ini ditegakkan atas dasar pesan moral rahmatan lil-‘alamin. Itulah Pancasila, sebuah rumusan cerdas mengatasi problem dikotomis, sekuler versus? teokrasi, yang dihadapi dunia Islam saat itu. Meski demikian, negara-negara yang relatif berhasil itupun kini dihadapkan dengan tantangan-tantangan barunya.

Penting dicatat, bahwa gerakan jihadis dan gerakan-gerakan ideologis Islam radikal lainnya, kelahirannya juga dirangsang oleh, dan sebagai respon atas, kekecewaan yang mendalam terhadap negerinya, yang dinilai telah terseret ke dalam situasi amoral, sekuler, libertarianisme dan semakin jauh dari cita-cita masyarakat teokratis. Sementara, kaum pembaharu Islam yang mulai berkibar menjelang runtuhnya khalifah Usmaniyah Turki, dinilai telah gagal membangun sistem politik yang memadai dengan situasi baru pasca perang dunia I. Derita Palestina dan sejumlah kawasan Islam lainnya, juga ditunjuk sebagai bukti bahwa penguasa-penguasa negeri muslim secara politik makin lemah dan kehilangan sikap independen; kemudian dicap sebagai thoghut yang mesti diperanginya.

Dengan demikian, dilihat dari sisi ini, secara moral lahirnya gerakan-gerakan radikal tidak dapat dipersalahkan. Sama halnya kita tidak dapat mempersalahkan lahirnya gerakan-gerakan liberal-sekuler. Keduanya adalah produk sejarah, yakni modernisasi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurut As’ad, tugas penyelenggara negara dan kaum intelektual adalah menumbuhkan sistem politik yang mampu memperbaharui dirinya secara terus-menerus, untuk merespons kritik dan tuntutan-tuntutan baru yang juga terus lahir. Dalam kasus Indonesia, reformasi jangan justru menimbulkan disorientasi pada bangsa ini. Ini bukan sekedar persoalan membangun hubungan antara inisiatif pemerintah dengan partisispasi rakyat, atau bagaimana membangun tingkat kemampuan sistem politik mendorong proses perkembangan di bidang lain, namun semacam proses nation and character building dengan kedalaman dan dimensi yang lebih kekinian.

Data Buku

Judul : Al Qaeda: Kajian Sosial Politik, Ideologi dan Sepak Terjangnya

Penulis : DR H As’ad Said Ali

Penerbit : LP3ES Jakarta

Tahun : Cetakan I, September 2014

Tebal : xxvi + 438 hlm

ISBN : 978-602-7984-11-0

Harga : Rp. 80.000,-

Peresensi : A.Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Berita, Habib Pondok Pesantren An-Nur Slawi