Tampilkan postingan dengan label Makam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makam. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Februari 2018

PBNU Desak Pemerintah Tegas Respon Klaim Saudi

Sebanyak 34 negara Islam dan negara berpenduduk mayoritas muslim dari Timur Tengah, Afrika, dan Asia dikabarkan bergabung dalam aliansi militer yang dibentuk Saudi Arabia. Koalisi tersebut dibentuk untuk membasmi terorisme dan ekstremisme yang dilakukan kelompok seperti ISIS.

Di luar 34 negara tersebut masih ada 10 negara lagi yang dinyatakan mendukung, salah satunya Indonesia. Menteri Luar Negeri Saudi Arabia Muhammad bin Salman dalam sebuah konferensi persnya menyatakan bahwa pemerintah Indonesia sudah menyatakan dukungan, namun di pihak lain, mendapati hal itu Retno Marsudi membantah dan menyatakan bahwa pemerintah Indonesia belum mengeluarkan pernyataan resmi.

PBNU Desak Pemerintah Tegas Respon Klaim Saudi (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Desak Pemerintah Tegas Respon Klaim Saudi (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Desak Pemerintah Tegas Respon Klaim Saudi

Sesungguhnya yang patut untuk dipersoalakan adalah mengapa yang dibentuk oleh pemerintah Saudi Arabia adalah aliansi militer bukan pusat atau center kajian penaggulangan terorisme?

Pertanyaan ini menemukan relevansinya dan dianggap penting mengingat kejahatan yang akan diperangi adalah terorisme, sebuah kejahatan yang terstruktur dan masif serta bersifat sublim.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Terorisme bukan persoalan angkat senjata, ia menebar teror dan ancaman. Dalam ungkapan lain berperang melawan terorisme adalah berperang yang mengharuskan kita menggunakan teknik peperangan tingkat tinggi (hybrid warfare).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Mendapati kerja-kerja terorisme yang sublim tersebut tentu saja sangat naïf jika yang kita lakukan adalah justru membentuk aliansi militer. Bisa dikatakan ia akan sia-sia belaka.

Lebih dari itu, jika dikaji lebih dalam untuk konteks saat ini pascabubarnya Pakta Warsawa, sesungguhnya tak ada aliansi militer yang efektif kecuali NATO yang berada di bawah PBB langsung.

Apa yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia dengan mengirimkan nota protes diplomatik harus sepenuhnya kita dukung. Sebab tercatat bererapa kali pemerintah Saudi Arabia melakukan kebijakan-kebijakan politik luar negeri yang bersifat serampangan dan cenderung gegabah dan main klaim belaka.

Mendapati hal di atas, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memberikan dukungan penuh kepada pemerintah untuk mengkaji lebih serius ihwal klaim dan pencatutan Indonesia dalam aliansi militer Islam tersebut.

Mengimbau kepada pemerintah untuk merespon tegas politik luar negeri Saudi Arabia yang cenderung merugikan bangsa Indonesia.

Terakhir, PBNU menyerukan kepada segenap umat Islam untuk tetap berwaspada akan isu-isu yang berpotensi memecah belah persatuan. Di luar itu umat Islam diimbau untuk terus menjaga harmoni dalam keberagaman.

Jakarta, 18 Desember 2015

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama

Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA? ? ? ? ? ? Dr. Ir. H.A. Helmy Faishal Zaini

Ketua Umum? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? Sekretaris Jenderal

?

?

?

*Foto:? Putra mahkota sekaligus Menteri Pertahanan Arab Saudi Mohammed bin Salma Selasa mengumumkan pembentukan 34 negara koalisi militer Islam untuk memerangi terorisme.?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Habib, Makam, Syariah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 22 Februari 2018

Pelajar NU di Depok Belajar Jadi Wartawan

Depok, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Depok bersama Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kota Depok menggelar pelatihan jurnalistik yang diikuti sekitar 100 pelajar dari 30 SMA sederajat di Depok.

Pelajar NU di Depok Belajar Jadi Wartawan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU di Depok Belajar Jadi Wartawan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU di Depok Belajar Jadi Wartawan

Kegiatan tersebut digelar selama dua hari Sabtu-Ahad, 25-26 Mei di Pondok Pesantren Al-Hamidiyah, Jalan Raya Sawangan, Pancoranmas, Depok dan pusat perbelanjaan Depok Town Square (Detos).

Seluruh pelajar diberikan bekal pelatihan teori dasar jurnalistik dihari pertama oleh para wartawan dari media lokal maupun nasional. Sementara pada hari kedua, para pelajar akan melakukan praktik meliput Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Detos.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pelatihan dibuka langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok Herry Pansila. Ia mengatakan, pelatihan jurnalistik menjadikan motivasi dan inspirasi terhadap teman-teman sebayanya melalui tulisan mereka. Lewat tulisan, kata Herry seseorang bisa lebih optimistis menatap masa depan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Siswa bisa memulai mengoptimalkan tulisan jurnalistiknya, lebih optimis menatap masa depan. Punya semangat hidup lewat memperkaya tulisan. Ini menyerap pelajaran yang terintegrasi ada Bahasa Indonesia. Matematika, dan sosial. Banyak manfaatnya," tegasnya 

Herry menambahkan, peran jurnalis sebagai fungsi kontrol dan informasi mampu menjadi jembatan antara publik dan stakeholder. Menurutnya, banyak cerita yang tak terungkap tanpa adanya wartawan.

"Saya lihat di televisi, ada siswa miskin butuh bantuan biaya sekolah sehingga ini menyadarkan pemerintah, lalu ada juga salah satu kepala sekolah dia pulang ke rumah menjadi pemulung. Ini cerita kepahlawanan yang memberikan motivasi hidup, dan diungkap oleh jurnalis," tegasnya.

Sementara itu Ketua PWI Kota Depok Ashari mengatakan materi jurnalistik yang diberikan seputar latihan dasar seperti bagaimana menentukan Lead, Angle, teknik wawancara dan menulis berita. Selain itu, kata dia, acara tersebut dapat membentuk karakter kebangsaan sesuai dengan tema yang diusung.

"Di sini kami coba memberi sumbangsih kecil kami kepada generasi bangsa, khususnya di tingkat pelajar SMA," tandasnya. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Yudhi Permana

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Makam Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 09 Februari 2018

Pelaku Teror Lakukan Empat Hal Ini di Media Sosial

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Direktur Penegakan Hukum Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Toriq Triono menjelaskan, ada empat hal yang dilakukan oleh teroris di media sosial. Pertama, propaganda. Toriq mengatakan, para teroris melakukan propaganda-propaganda dengan dalih jihad untuk merekrut anggota baru.?

“Mereka melakukan propaganda di media sosial,” kata Toriq saat memberikan sambutan dalam acara Seminar Dampak Media Sosial Terhadap Terorisme di Auditorium Lantai 3 Gedung IASTH Universitas Indonesia Jakarta, Kamis (4/5).

Pelaku Teror Lakukan Empat Hal Ini di Media Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelaku Teror Lakukan Empat Hal Ini di Media Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelaku Teror Lakukan Empat Hal Ini di Media Sosial

Kedua, pendanaan. Ia menyatakan, salah satu cara para teroris untuk menggalang dana adalah lewat media sosial. Menurutnya, mereka bisa melakukannya secara langsung dengan menghubungi yang bersangkutan ataupun lewat situs-situs lembaga sosial yang mereka bentuk.

“Ajakan langsung untuk seumbanga, toko online, dan donasi-donasi sosial,” ucapnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Ketiga, pelatihan. Mereka menyediakan buku, video, klip, dan tutorial untuk melakukan aksi-aksi teror,” lanjutnya.

Para teroris, imbuh Toriq, benar-benar memanfaatkan media sosial sebagai media untuk melatih kader-kadernya. Konten-konten yang mereka tawarkan juga sangat menarik.

Keempat, perencanaan. Toriq menuturkan, media sosial juga digunakan oleh teroris untuk merencanakan aksi-aksi mereka secara matang. “Bagaimana metode yang tepat untuk melakukan seranga-serangan,” ungkapnya.?

Namun demikian, ia mengungkapkan, banyak pelaku teror yang dibekuk oleh aparat sebelum mereka sempat melakukan aksi teror. “Banyak seperti itu,” tegasnya.

Oleh karena itu, ia mengajak kepada semua elemen masyarakat untuk bersama-bersama menangkal dan menanggulangi terorisme. Karena menurutnya, jika pemerintah saja yang bergerak maka itu kurang efektif.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Tugas mencegah dan menanggulangi terorisme tidak cukup dilakukan oleh pemerintah, kita semua harus ikut andil,” tukasnya. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pemurnian Aqidah, Makam, Olahraga Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 06 Februari 2018

Cawagub DKI Jakarta Ziarahi Makam Tebuireng

Jombang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi



Wakil Gubernur DKI Jakarta (nonaktif) Djarot Saiful Hidayat berkunjung ke SMA Pesantren Sains (Trensains) Tebuireng 2 di Desa Jombok, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, Jumat (11/11). Setelah itu, dia melaksanakan shalat Jumat dan berziarah ke kompleks makam Pesantren Tebuireng.

Kunjungan ini merupakan bagian dari rangkaian safari hari pahlawan yang dilaksanakan sejaksehari sebelumnya. Sebelum ke Tebuireng, mantan Wali Kota Blitar ini berziarah ke Makam Proklamator RI Soekarno di Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sanan Wetan, Kota Blitar, Kamis (10/11) petang.

Cawagub DKI Jakarta Ziarahi Makam Tebuireng (Sumber Gambar : Nu Online)
Cawagub DKI Jakarta Ziarahi Makam Tebuireng (Sumber Gambar : Nu Online)

Cawagub DKI Jakarta Ziarahi Makam Tebuireng

Saat berdialog dengan siswa SMA Trensains, Djarot menyampaikan kekagumannya atas prestasi yang dicapai. "Baru berdiri tiga tahun, tapi sudah mencetak 46 prestasi baik nasional, internasional maupun regional. Dalam tiga tahun lagi, saya yakin pasti lebih banyak prestasi yang diukir," ujarnya.

Djarot sempat mengungkapkan kekagetannya saat melihat data siswa sekolah tersebut meraih medali emas dalam ajang International Matemathics Contest di Singapura. "Jangan remehkan pondok pesantren. Jangan remehkan Trensains," ujarnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Saat ditanya apakah kunjungannya tersebut dalam rangka meraih simpati warga NU, Djarot tegas membantah. Saat didesak oleh wartawan, suami Happy Farida ini tetap berkukuh bahwa kunjungannya tidak terkait dengan Pilkada DKI Jakarta. "Ini murni dalam rangka ziarah untuk menapaktilasi hari pahlawan. Karena kita tahu bahwa hari pahlawan tidak bisa dilepaskan dari Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh Mbah Hasyim Asyari," tegasnya.

Senada dengan Djarot, Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Salahuddin Wahid juga menyampaikan hal serupa. "Sama sekali tidak ada kaitannya dengan Pilgub DKI," ujar Gus Sholah, sapaan akrabnya.

Adik kandung Gus Dur ini menegaskan, kompleks maqbaroh (makam) Pesantren Tebuireng adalah tempat disemayamkannya tiga tokoh besar yang perannya telah tercatat dalam sejarah. Ada KHM Hasyim Asyari, KH Abdul Wahid Hasyim dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). "Karena itu, Pesantren Tebuireng senantiasa terbuka untuk semua peziarah, dari berbagai kalangan dan latar belakang," ujarnya.

Gus Sholah memberikan apresiasi kepada setiap pihak yang berusaha mengingat dan menghargai peran KHM Hasyim Asyari dalam perjuangan kemerdekaan RI, khususnya terkait dengan lahirnya fatwa Resolusi Jihad yang memicu perlawanan heroik kaum santri dalam pertempuran 10 November yang kemudian diperingati sebagai hari pahlawan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Semoga momen lahirnya Resolusi Jihad dan peran penting kaum santri dalam perjuangan kemerdekaan dapat segera dimasukkan ke dalam pelajaran sejarah. Pasalnya, fakta sejarah tersebut selama ini seakan ditutupi dari catatan sejarah yang diajarkan kepada peserta didik di berbagai jenjang pendidikan," imbuh Gus Sholah.

Usai doa bersama di Kompleks Makam Tebuireng, Djarot mengakhiri kunjungannya dengan tabur bunga. Selanjutnya, Djarot bersama rombongan melanjutkan ziarah ke Makam Bung Tomo di Ngagel, Surabaya. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Makam Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 27 Januari 2018

Alumni Pesantren Turut Mencerdaskan Anak Bangsa Bersama Pemerintah

Surabaya, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Sekitar dua puluh lima ribu santri berkumpul di Masjid Al-Akbar Surabaya. Tercatat sekitar 450 bus terparkir di area Masjid. Para santri yang didampingi orang tuanya mengikuti acara Maulid Nabi Muhammad SAW dan Istighotsah Kubro ke 8 TPQ An-Nahdliyah dan madrasah diniyah se-Cabang Pondok Langitan Tuban.

Acara dihadiri Wakil Gubenur Jawa Timur H Saifullah Yusuf, KH Sholeh Qosim, KH Agoes Ali Masyhuri, KH Abdullah Faqih, KH Muhammad Ali Marzuqi, KH Munif Marzuqi, dan segenap Pengasuh Pesantren Langitan Tuban.

Alumni Pesantren Turut Mencerdaskan Anak Bangsa Bersama Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)
Alumni Pesantren Turut Mencerdaskan Anak Bangsa Bersama Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)

Alumni Pesantren Turut Mencerdaskan Anak Bangsa Bersama Pemerintah

Wakil Gubenur Jawa Timur mengapresiasi peran alumni Pesantren Langitan Kabupaten Tuban. Selama ini, ribuan alumni Pesantren Langitan dinilai sukses menjadi tokoh dan teladan bagi masyarakat di berbagai bidang.

"Saya gembira dan senang sekali. Alumni Pesantren Langitan telah berkiprah di tempat masing-masing. Mereka menjadi tokoh, panutan dan guru. Semuanya itu diakui keilmuannya," kata Saifullah Yusuf di Masjid Al-Akbar, Surabaya (19/12).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Alumni Pesantren Langitan yang tersebar di seluruh Jawa Timur dan provinsi lain merupakan aset bangsa. Mereka bersama pemerintah telah berkontribusi meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) terutama di usia dini.

"Pada usia satu sampai delapan tahun menentukan perkembangan anak. Untuk itu, perlu ditanamkan pendidikan karakter," ujarnya.

Menurut Ketua PBNU ini, terkadang alasan pertama menjadi seorang santri ingin mencari ilmu pengetahuan dan ilmu agama. Ketika santri ingin mencari keberkahan, maka ia harus hormat dan takzhim kepada muassis atau gurunya.

"Kesuksesan alumni menjadi tolok ukur dari seorang santri yang akan menimba ilmu di sebuah pesantren, kondisi inilah yang akhirnya diikuti oleh santri lainnya untuk terus belajar dan mengembangkan diri di pesantren," pungkas Gus Ipul.

Para tamu undangan dan para santri disambut langsung oleh Direktur Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya Endro Siswantoro. Endro menyampaikan terima kasih pada Pesantren Langitan yang telah memercayakan Masjid Nasional Al-Akbar sebagai tempat penyelenggaraan Peringatan Maulid Nabi dan Istighatsah Kubro ke-8.

"Masjid Nasional Al-Akbar merupakan masjid terbesar kedua se-Indonesia, setelah Masjid Istiqlal Jakarta. Kami senang sekali apabila acara seperti ini dilaksanakan kembali di Masjid Nasional Al-Akbar," kata Endro. (Rofi’I Boenawi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Fragmen, Makam, Berita Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 24 Januari 2018

Kang Said: Melindungi TKI, Menjaga Martabat dan Harga Diri Indonesia

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengecam keras tindakan penganiayaan majikan terhadap TKI (Tenaga Kerja Indonesia) di Arab Saudi. Dua kasus terakhir adalah penganiayaan yang menimpa Sumiati dan meninggalnya Kikim Komalasari.



Kang Said: Melindungi TKI, Menjaga Martabat dan Harga Diri Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Melindungi TKI, Menjaga Martabat dan Harga Diri Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Melindungi TKI, Menjaga Martabat dan Harga Diri Indonesia

“Saya minta Menakertrans segera menyelesaikan masalah ini. Pelakunya harus dituntut secara hukum,” tegas Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi Jumat, 19 November.

Kejadian yang menimpa Sumiati, TKI asal Dompu, Nusa Tenggara Barat dan Kikim Komalasari TKI asal Cianjurm Jawa Barat harus bisa menjadi pelajaran berharga. Kasus penganiayaan majikan terhadap TKI di Arab Saudi memang kerap terjadi. Namun penyelesaian kasusnya seringkali tidak tuntas karena persoalan hukum.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Menakertrans seharusnya bisa mengambil langkah-langkah antisipatif agar kejadian serupa tidak terulang kembali,” ujar Kang Said.

TKI hingga saat ini masih menjadi penyumbang devisa terbesar untuk Indonesia. Namun jaminan keselamatannya masih terkesan diabaikan oleh Pemerintah. “Khususnya di Timur Tengah kasus semacam ini memang sering terjadi. Di era globalisasi semacam ini, perilaku semacam itu jelas-jelas melanggar HAM,” tegas Kang Said.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kang Said berharap Pemerintah harus segera mengambil langkah cepat dan tegas dalam menangani masalah ini. “Hal ini mutlak perlu dilakukan untuk menjaga martabat dan harga diri bangsa,” pungkasnya. (bil)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ahlussunnah, Makam Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 08 Januari 2018

Siswa SD di Surakarta Tebar Ajakan Peduli Lingkungan

Solo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Siswa Sekolah Dasar (SD) Ta’mirul Islam Surakarta mengampanyekan gerakan peduli lingkungan melalui aksi yang digelar di kawasan Car Free Day (CFD) di Jalan Slamet Riyadi Kota Solo, Ahad (15/11). Acara yang diisi dengan kegiatan jalan dan bersepeda sehat tersebut, diikuti ratusan siswa dan guru.

Siswa SD di Surakarta Tebar Ajakan Peduli Lingkungan (Sumber Gambar : Nu Online)
Siswa SD di Surakarta Tebar Ajakan Peduli Lingkungan (Sumber Gambar : Nu Online)

Siswa SD di Surakarta Tebar Ajakan Peduli Lingkungan

Sembari menyusuri rute mulai dari halaman SD Ta’mirul dan berakhir di daerah Purwosari, para siswa yang berjalan kaki dan bersepeda, menyampaikan pesan untuk peduli terhadap lingkungan kepada warga dengan membawa beberapa poster, yang antara lain bertuliskan “Bebaskan Lingkungan Sekitar dari Sampah”, “Save Our Earth” dan lain sebagainya.

Panitia kegiatan Nur Mahmud menjelaskan kegiatan yang bertemakan “Mewujudkan Sikap Kepahlawanan Melalui Peduli Lingkungan” ini dimaksudkan untuk mengajak siswa melakukan aksi nyata terhadap kebersihan lingkungan, yang antara lain diwujudkan dengan memunguti sebagaian sampah yang ada di sekitar jalan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Melalui aksi ini, harapannya siswa tidak hanya melihat, tetapi juga ikut melakukan aksi nyata untuk ikut peduli terhadap lingkungan mereka,” terang Mahmud, saat ditemui di lokasi acara.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Salah satu siswa yang ikut dalam kegiatan aksi tersebut, Talita Atisomya Aprinasia, mengatakan dirinya juga ingin menjadi pahlawan lingkungan. “Tadi ikut membersihkan selokan dan membuang sampah,” ujar siswi kelas III itu.

Acara aksi peduli lingkungan pada pagi itu, juga dimeriahkan dengan pementasan musik, musikalisasi puisi dan pantomim yang ditampilkan kolaborasi antara guru dan siswa. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Makam, Pemurnian Aqidah, Pertandingan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 23 Desember 2017

Ansor dan RCTI Peduli Bangun Pesantren Yatim Piatu

Bantul, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Gerakan Pemuda Ansor Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bekerjasama dengan RCTI Peduli, Ahad (18/6) memulai pembangunan asrama Pondok Pesantren Yayasan Yatim Piatu (Yapitu) Mabarrot, yang terletak di Daraman, Piyungan, Bantul.


Ketua PW GP Ansor DIY, Sidik Pramono, pada kesempatan itu mengungkapkan, pembangunan Yapitu yang rusak akibat gempa bumi 27 Mei lalu sesegera dikerjakan mengingat bangunan itu dihuni oleh lebih 200 anak yatim piatu. Harapannya, beberapa asrama pendidikan dan aktivitas pesantren akan dapat segera dimulai.

Ansor dan RCTI Peduli Bangun Pesantren Yatim Piatu (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor dan RCTI Peduli Bangun Pesantren Yatim Piatu (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor dan RCTI Peduli Bangun Pesantren Yatim Piatu

 



Pondok Pesantren An-Nur Slawi





"Para santri perlu segera memulai belajar dan mengaji, karenanya pembangunan ini kan segera dimulai dengan melibatkan sahabat-sahabat Banser dan juga partisipasi masyarakat," ujar Sidik didampingi beberapa pengurus GP Ansor DIY, antara lain Munsoji (Sekretaris), Karsono Muhammad (Bendahara), dan juga Komandan Baser Muhyidin. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

 

Menurut Sidik, GP Ansor dan RCTI Peduli akan membangun satu lokal gedung utama Yapitu. Pembangunan ini setidaknya dapat dimanfaatkan untuk kegiatan sosial dan pendidikan di lembaga ini.

 

Dalam kesempatan yang sama, PP GP Ansor yang diwakili Qohari dan Muhtar Hadyu, mengungkapkan, proses pembangunan itu diharapkan dapat menjadi suntikan positif bagi para santri untuk bangkit dari keadaan pasca gempa ini. Sembari mengucapkan terima kasih kepada RCTI Peduli atas kerja samanya, Qohari dan Muhtar Hadyu, mengungkapkan, upaya GP Ansor Pusat bekerja sama dengan RCTI Peduli itu merupakan ikhtiar menuju kemaslahatan bersama.

 

“Dengan jumlah relawan sekitar 150 yang tergabung dalam Banser (Barisan Serba Guna)-Ansor DIY, pembangunan gedung utama Yapitu ini diharapkan dapat terselesaikan tiga minggu ke depan,” Ujar Munsoji, Sekretarirs PW Ansor DIY yang juga Koordinator TSK (Tim Solidaritas Kemanusiaan) NU. “jika gedung utama Yapitu ini telah diselesaikan, kita akan mengadakan Tahlilan Kubro dalam rangka memperingati 40 hari korban gempa,” katanya lagi.

 

Sementara itu, Pengasuh Yapitu, KH. M. Soleh, mengucapkan terima kasih kepada pengurus Ansor pusat dan DIY serta pihak RCTI Peduli atas bantuannya. “Semoga niat baik kita ini memberikan dampak berupa keselamatan dan kemudahan-kemudahan di hari esok,” katanya. (ron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Humor Islam, Makam Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 21 Desember 2017

Perkuat Silaturahim, Pelajar NU Desa Mangunsuman “Nobar”

Ponorogo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi 

Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kelurahan Mangunsuman Menggelar nonton bareng (Nobar) di Madrasah Ibtidaiyah Lembaga Pendidikan Ma’arif Mangunsuman Terpadu I Siman, Ponorogo, Jawa Tmur, pada Sabtu  (13/6).

Perkuat Silaturahim, Pelajar NU Desa Mangunsuman “Nobar” (Sumber Gambar : Nu Online)
Perkuat Silaturahim, Pelajar NU Desa Mangunsuman “Nobar” (Sumber Gambar : Nu Online)

Perkuat Silaturahim, Pelajar NU Desa Mangunsuman “Nobar”

Film yang ditonton pada kegiatan yang dikemas dengan buka puasa bersama itu adalah “Tanah Surga Katanya”.

Menurut salah seorang panitia, kegiatan tersebut bertujuan untuk menanamkan jiwa kebangsaan,serta menjalin ukhwah islamiyah dan memepererat jalinan silaturahim antar sesama pengurus dan anggota IPNU IPPNU.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Hadir pada kesempatan tersebut Ketua Pimpinan Anak Cabang IPNU Siman, Andriyan Bimeko dan Ketua PAC IPPNU Siman, Hastin Sulis. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Adriyan mengatakan, sebagai bentuk apresiasi terhadap pergolakan bangsa saat ini, maka kader IPNU dan IPPNU harus berpikir kritis dalam membentengi kader dari faham di luar NU yang sengaja merongrong kesatuan bangsa Indonesia,

“Semoga acara ini dapat merealisasikan tujuan pengkaderan yang di programkan oleh NU,” tuturnya.

Kegiatan tersebut diikuti sekitar 80 pelajar NU. Tampak hadir di tengah-tengah mereka Ketua NU Ranting Mangunsuman H. Nasron G K. 

Redaktur     : Abdullah Alawi 

Kontributor : Alfath Aslihudin

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kyai, Aswaja, Makam Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 16 Desember 2017

Kang Said: Hormati Kebhinnekaan, Jaga Keharmonisan

Pringsewu, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj yang lazim disapa Kang Said mengingatkan warga NU untuk selalu terdepan menjaga kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Menurutnya, warga NU terutama para pengurusnya harus mengedepankan nilai-nilai ke-Nuan di tengah masyarakat.

Demikian disampaikan Kang Said dalam acara khotmil kutub santri pondok pesantren Riyadlotut Tholibin Sidomukti Pringsewu, Sabtu (3/5) malam.

Kang Said: Hormati Kebhinnekaan, Jaga Keharmonisan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Hormati Kebhinnekaan, Jaga Keharmonisan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Hormati Kebhinnekaan, Jaga Keharmonisan

Kang Said mengatakan, semangat kebhinekaan itu merupakan karakter dasar Nahdlatul Ulama selama ini. “NU akan bermanfaat bagi umat Islam dan menjadi benteng bagi bangsa Indonesia serta benteng pertahanan Islam Ahlus sunnah wal jamaah manakala NU mampu memenuhi empat syarat.”

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Di hadapan segenap santri dan masyarakat Pringsewu, Kang Said menyebutkan empat syarat yang meliputi pengembangan kajian agama, semangat kebangsaan, peningkatan ketakwaan, dan semangat kemanusiaan.

Selain menghadiri khatmil kutub, Kang Said melanjutkan perjalanannya ke kecamatan Gading Rejo, Pringsewu untuk menyampaikan taushiyah pada harlah Muslimat NU, Ahad (4/5). (M Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Warta, Makam, Pendidikan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 13 Desember 2017

Fakta Jawaban KH Sholeh Darat atas Kegelisahan Kartini

Oleh M. Rikza Chamami

Kisah tentang bagaimana KH Muhammad Sholeh bin Umar Assamarani (Mbah Sholeh Darat) melukiskan sosok Raden Ajeng Kartini dalam Kitab Tafsir Faidlur Rahmanmasih selalu menjadi pertanyaan. Apakah itu hanya sebuah sejarah lisan yang tidak dapat dibuktikan? Ternyata fakta ini mulai nyata dan dapat dilacak dari karya Mbah Sholeh Darat.

?

Orang seperti Kartini dengan segala kemewahan hidup butuh pencerahan agama. Apalagi keluarga Kartini dikenal sebagai keluarga santri-priyayi yang tekun dalam beragama dan dedikasi kuat dalam menjalankan roda pemerintahan. Itu semua demi rakyat Bumiputra (demikian Kartini selalu menyebut Indonesia dengan istilah Bumiputra).

Fakta Jawaban KH Sholeh Darat atas Kegelisahan Kartini (Sumber Gambar : Nu Online)
Fakta Jawaban KH Sholeh Darat atas Kegelisahan Kartini (Sumber Gambar : Nu Online)

Fakta Jawaban KH Sholeh Darat atas Kegelisahan Kartini

Alhasil, ketika Kartini belajar al-Qur’an terasa hampa, karena ia hanya belajar mengeja dan membaca. Isi kandungan al-Qur’an tidak dapat diserap. Ia mengibaratkan bahwa belajar al-Qur’an dengan model demikian akan menjadikan orang Islam tidak mengetahui mutiara hikmah al-Qur’an. Ketika ia meminta guru ngajinya mengartikan al-Qur’an justeru Kartini dimarahi. Kartini mulai gelisah dan sangat gelisah.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ia berontak akan belum sempurnanya Islam yang dipeluknya jika ia belum tahu isi al-Qur’an. Bahasa asing seperti Belanda, Prancis dan Inggris saja ia lahap dengan baik, maka bahasa agamanya, yakni Arab juga ia berusaha pelajari. Namun Kartini tidak menemukan guru bahasa Arab atau guru tafsir. Itulah Kartini, seorang perempuan muda yang tidak kenal lelah belajar bermasyarakat dan beragama.

Maka saat Kartini masih berumur 20 tahun sudah mengungkapkan kegelisahan itu dalam suratnya kepada Stella EH Zeehandelaar tertanggal 6 November 1899: “Al-Qur’an terlalu suci untuk diterjemahkan dalam bahasa apapun juga. Disini orang juga tidak tahu Bahasa Arab. Disini orang diajari membaca al-Qur’an, tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Saya menganggap itu pekerjaan gila; mengajari orang membaca tanpa mengajarkan makna yang dibacanya”.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Begitu dahsyatnya Kartini melakukan kritik kuat terhadap pembelajaran agama di akhir abad 19 itu. Dan itu menjadi bukti bahwa Kartini sangat peduli terhadap kuatnya minat untuk belajar isi agama yang terkandung dalam al-Qur’an. Dan saat itu belum ada tafsir al-Qur’an yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Melayu atau Jawa. Wajar, jika Kartini menjadi penasaran!

Kartini masih melanjutkan kalimat dalam surat itu: “Sama halnya seperti kamu mengajar saya membaca buku bahasa Inggris yang harus hapal seluruhnya, tanpa kamu terangkan maknanya kepada saya. Kalau saya mau mengenal dan memahami agama saya, maka saya harus pergi ke negeri Arab untuk mempelajari bahasanya disana. Walaupun tidak saleh, kan boleh juga jadi orang baik hati. Bukankah demikian Stella?”

Kalimat itu jelas menandakan tak berdayanya seorang Kartini akan bahasa Arab. Ia dibuat pusing oleh bahasa Arab dan dibuat penasaran oleh agamanya yang berbahasa Arab. Maka ia rindu dengan negeri Arab untuk belajar kesana. Dan itu sangat tidak mungkin, sebab harapannya ke Belanda yang ia kuasai bahasanya saja gagal dan digantikan Agus Salim. Maka ia menanti kehadiran orang Jawa yang pernah di negeri Arab agar bisa menjelaskan isi al-Qur’an.

Siapakah dia? Mbah Sholeh Daratlah yang mampu membuka wawasan Islam Kartini. Al-Qur’an yang demikian suci dibuka maknanya sehingga Kartini memahaminya. Mengenai waktu kapan Kartini bertemu Mbah Sholeh Darat, penulis lebih sepakat memilih pertemuan itu sudah jauh hari sebelum 1901 (dua tahun pernikahan Kartini). Sebagaimana pendapat Moesa Mahfudz yang dikutip Abdullah Salim bahwa pertemuan Kartini itu diperkirakan 1901. Tapi kemungkinan besar itu pertemuan yang kesekian kalinya.

Sebab surat Kartini di usianya 20 tahun (1899) sudah paham tentang ajaran al-Qur’an dengan tidak bolehnya orang Belanda menyalahkan ayahnya yang melakukan poligami. Bahkan Kartini mengutip ajaran Islam tidak melarang beristri empat. Ini menunjukkan sebelum surat itu ditulis, Kartini sudah pernah belajar tentang kandungan al-Qur’an surat an-Nisa ayat 3: “...Fankihu ma thaba lakum minan nisa’ matsna watsulatsa wa ruba’...; Maka nikahilah wanita-wanita yang kamu senangi, dua, tiga atau empat”.

Tafsir Faidlur Rahman fi Tarjamati Tafsir Kalam Malikid Dayyan jilid satu itu ditulis selama sebelas bulan oleh Mbah Sholeh Darat (20 Rajab 1309 H/19 Februari 1892 sampai 19 Jumadal Ula 1310 H/9 Desember 1892 M). Jilid pertama ini berjumlah 503 halaman dengan bahasan surat al-Fatihah dan surat al-Baqarah. Kemudian kitab tafsir itu dicetak oleh percetakan HM Amin Singapura pada 27 Rabiul Akhir 1311 H/7 November 1893. Oleh Amirul Ulum ditegaskan bahwa pertemuan Kartini dan Mbah Sholeh Darat sudah pernah dilakukan sebelum 1892, tepat sebelum Kartini dipingit.

Seorang suami dari buyut Mbah Sholeh Darat bernama Agus Tiyanto (sering menyebut namanya Abu Malikus Salih Dzahir) menjelaskan bahwa sumber data Kartini pernah nyantri dengan Mbah Sholeh Darat ini awalnya ditemukan oleh Moesa Machfudz (dosen sejarah UGM) berdasarkan catatan pribadi murid Kyai Sholeh Darat yaitu KH. Mashum Demak. Dan itu dimuat dalam Majalah Gema Yogyakarta Nomor 3 tahun 1978.

Adapun tokoh-tokoh generasi awalyang melacak dan meneliti riwayat Mbah Soleh Darat pertama adalah HM. Ali Cholil (cucu Kyai Soleh Darat), kemudian dilanjutkan Abdullah Salim (Universitas Sultan Agung), Danuwiyoto (Dosen IAIN Sunan Kalijogo) dan Muchoyyar (IAIN Walisongo). Yang menulis buku tentang Mbah Sholeh Darat pertama adalah Abdullah Salim dalam tulisan Arab Pegon dan dilanjutkan Agus Tiyanto dengan kemudian adanya revisi tambahan dan editing dari Muhammad Ikhwan.

Agus Tiyanto menambahkan? bahwa yang menarik dari RA Kartini adalah tiga hal: Pertama, Kartini telah mendapat pencerahan (ilmu hikmah) dalam memahami ilmu agama berkat bimbingan seorang ulama (kyai). Kedua, Kartini yang dinyatakan pejuang sejati kesetaraan gender, tetapi pada akhirnya menerima juga ketika suaminya berpoligami. Disitulah rahasia kuat Kartini. Dan ketiga, Kartini adalah generasi pejuang yang lahir dengan garis ayah dari kaum ningrat (terikat dengan adat budaya Jawa) dan dari garis Ibu yang dari ulama-ulama dalam tradisi kaum santri.

Yang perlu dibuka dan dikaji kali ini adalah bagaimana Mbah Sholeh Darat menyinggung atau mengisyaratkan seorang Kartini sebagai seorang muridnya? Apakah ada cacatan tentang itu? Coba kita simak pembukaan Kitab Tafsir Faudlur Rahma karya Mbah Sholeh Darat dalam bahasa Jawa dan ditulis dengan pegon ini:

Alhamdulillah amarana fi amrin hakim, wa nahana ‘anit ta’jil fi amrit ta’lim. Wassalatu wassalamu ‘ala syafi’il anam, sayyidina Muhammadin wa ‘ala ‘alihi washahbihi hidayatal ummah wal malikik ‘allam. Amma ba’du. Mekaten nyuwun marang Syaikhana mu’allif iki tafsir setengahe ikhwan kita fiddin kang supoyo iki tafsir kasebaro luwih disik senadyan mung sak surat, sebab kerono yakine hajate ba’dlul ikhwan mahu lan liyan-liyane hajat ngaweruhi iki tafsir. Maka ora kerso Syaikhana nuruti penuwune ba’dlul ikhwan mahu sebab mengkono iku ora muwafiq karo ‘azate ulama’ yang mutaqaddimin. Jalaran ulama mutaqaddimin iku ora kerso nyebar karangane yen durung rampung sarto piyambake taseh jumeneng. Sak wuse semunu saking bangete kajenge karepe kang nyuwun mahu, maka nuli istakharah Syaikhana nyuwun idzin apa kalilan disebar disik opo ora. Maka nuli diparingi isyarati idzin nyebarake tafsir marang wong akeh. Mulane iki juz awal disebar luwih disik sedurunge rampung liya-liyane. Mugo-mugo kang keri bisoho rampung. Kejobo soko iku iki ta’jil iku ora klebu hadits: “Al’ajalah minasy syaithan” alhadits. Sanadyan nulaya tatapan karo ‘adate ulama mutaqaddimin kerono wus ono idzin mahu kerono hikmah ing njeruni iki ta’jil. Iyo iku inggal-inggal weruhe muslimin kang raghibe yang ora jahade mung ilmune hikmah kang kasebut ono ing iki tafsir mugo-mugo iki ta’jil kalebu ta’jil sababi. Lamun ora dita’jil maka yekti suwe ora weruhe wong akeh mung ilmune hikmah lan asrar kang kasebut ana ing iki tafsir ing hale sak iki kito kabeh wus kewajibane ngaweruhi ilmune hikmah “lan asrore Qur’an”. Iyo bener wus tafsir olehe mahami tafsir liyane iki jalaran tembung Arab serto maneh lamuno olehe nyebar iki tafsir iki ngenteni rampung kabeh, maka yekni isih luas banget lan durung karuwan menangi rampung jalaran umur kito durung karuan menangi rampunge soko rampunge kabeh. Dadi kito mati sakdurunge weruh isine tafsir iki. Mugo-mugo kito keparingan weruh isine kabeh sarto amal alhashil ta’jil iki iku ora haram, ora mekruh, ora khilaful aula malah luwih becik lan luwih agung fadlilahe. Sebab kerono gegawe wasilah marang barang kang luweh gede? iyo iku weruhe wong akih marang ilmu lan hikmah lan asrar. Ing hale asrar iku asrare Ratu kang agung lan maneh iki ta’jil iku ta’jil ata wal hikam”.

Kalimat pembuka ini menjadi fakta tekstual dari Mbah Sholeh Darat terhadap kegelisahan Kartini dalam hal memahami rahasia al-Qur’an. Mbah Sholeh Darat menegaskan bahwa permintaan untuk menerbitkan bagian dari seluruh tafsir ini permintaan sebagian teman-temannya. Bukan hanya itu, tapi ditegaskan ikhwan kito fiddin (teman yang seagama). Ini menegaskan bahwa permintaan itu bukan dari Belanda yang beda agama. Dan Mbah Sholeh Darat sadar, bahwa tradisi ulama pendahulu itu kalau membuat karya tidak akan dipublikasikan sebelum selesai. Maka langkah spiritual dilakukan dengan istikharah dan isyaratnya boleh mempercepat penyebaran tafsir itu.

Alasan kuat yang menjadikan percepatan penerbitan tafsir itu adalah karena umat sudah sangat membutuhkan. Sedangkan sebagian besar orang Jawa tidak bisa berbahasa Arab. Ungkapan ini sama dengan ungkapan Kartini dalam surat pada Stella. Jadi sangat wajar kalau dialektika karya Kartini direspon cepat oleh Mbah Sholeh Darat. Dan ada yang luar biasa dari ungkapan Mbah Sholeh Darat dalam mengukur usianya. Seakan sudah ada tanda bahwa beliau akan berpamitan pada umat, maka tafsir yang jilid pertama dipercepat.

Sudah tidak ada yang bisa meragukan lagi pertemuan Kartini dengan Mbah Sholeh Darat dalam konteks masa hidup dan karya-karyanya. Ini seakan menjadi bukti nyata “dialog” antara dua tokoh dalam goresan tintanya masing-masing. Kartini melukiskan dalam surat-suratnya. Dan Mbah Sholeh Darat menulis dalammuqaddimah/pembukaan kitab tafsirnya. Apalagi Mbah Sholeh menuliskan kata “Ratu” dalam pembukaan tafsirnya. Kata “Ratu” itu bisa memaksudkan bahwa yang dimaksudkan dua hal: Allah atau “Ratu” itu adalah pemerintah dan keluarga (termasuk Kartini).

Maka KH Dr Imam Taufiq MAg, ahli tafsir UIN Walisongo yang juga Pengasuh Pondok Pesatren Darul Falah Besongo Semarang menyebutkan tegas saat menyampaikan Kajian Tafsir Faidlurrahman di Masjid Agung Kauman Semarang (17 April 2016): “Tradisi penerbitan ulama klasik tidak menyebarkan karangan sebelum selesai. Percepatan penerbitan karena tingginya permintaan dan kebutuhan tafsir al-Qur’an dengan bahasa lokal. Dan desakan Kartini atas penerbitan tafsir lokal kepada KH Sholeh Darat dalam pengajian pamannya, Bupati Demak Ario Hadiningrat”.

Inilah salah satu fakta yang terungkap dari karya Mbah Sholeh Darat yang menegaskan bahwa salah satu yang meminta Mbah Sholeh Darat membuat tafsir berbahasa Jawa adalah Kartini. Dan Kartini juga terpengaruh dengan isi rahasia al-Qur’an yang ditulis oleh Mbah Sholeh Darat. Sehingga Kartini menjadi orang yang berjiwa santriwati dengan status sosialnya sebagai keluarga ningrat (pejabat negara).

Masih ada lagi kisah menarik tentang kisah Kartini dan Mbah Sholeh Darat. Bagaimana Mbah Sholeh Darat menyadari bahwa Kartini akan menikah dini? Dan bagaimana Mbah Sholeh tahu bahwa dirinya akan wafat dalam waktu selesainya menghadiahkan Kitab Tafsir pada Kartini? Nantikan kisah berikutnya.

Bersambung...

M. Rikza Chamami, dosen UIN Walisongo Semarang



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Makam, AlaNu Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 08 Desember 2017

Empat Siswa SMK Nuris praktik Kerja di Thailand

Jember, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Empat Siswa SMK Nurul Islam (Nuris), Antirogo, Jember, Jawa Timur, Senin (22/5) bertolak ke Thailand untuk melakukan praktik kerja lapangan. Mereka adalah Ahmad Mawardi dan Ahmad Subairi dari jurusan Teknik Komputer Jaringan (TKJ), Aji Arifur Rahmad dari jurusan Teknik Kendaraan Ringan (TKR), dan Nur Imam Mafatih dari jurusan Teknik Sepeda Motor (TSM).

Empat Siswa SMK Nuris praktik Kerja di Thailand (Sumber Gambar : Nu Online)
Empat Siswa SMK Nuris praktik Kerja di Thailand (Sumber Gambar : Nu Online)

Empat Siswa SMK Nuris praktik Kerja di Thailand

Pelepasan keempat siswa terpilih tersebut dilakukan oleh pengasuh Pondok Pesantren Nuris di Masjid Baitun Nur, yang diramaikan oleh penampilan tim hadrah Ashabul Muhyid Nuris.

Keempat siswa SMK Nuris tersebut akan melakukan praktik kerja di beberapa industri di Thailand hingga tanggal 14 Juni 2017. Misalnya siswa jurusan Teknik Komputer Jaringan (TKJ) akan praktik di beberapa perusahaan jaringan, sedangkan siswa jurusan Teknik Kendaraan Ringan dan Teknik Sepeda Motor (TSM) akan praktik di beberapa bengkel otomotif yang ada di negeri gajah putih tersebut.

Menurut salah seorang pengasuh pondok Pesantren Nuris, Antirogo, Jember, Gus Robith Qashidi, praktik kerja di Thailand tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan dan skill siswa sesuai dengan jurusannya masing-masing serta ? untuk memperluas wawasan mereka khususnya tentang budaya di Tahilnad. Dan tentu saja untuk menebar ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

"Kami ingin santri Nuris punya wawasan global, namun tetap mempunyai jatidiri sebagai santri ? Aswaja. Karena itu, kami terus berusaha untuk mengirimkan santri-sanri Nuris ke beberapa negara Timur Tengah dan kawasan Asia," tukas Gus Robit Qashidi (Aryudi A. Razaq/Mahbib)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi





Pondok Pesantren An-Nur Slawi

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pertandingan, Makam, Tokoh Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 04 Desember 2017

Bahtsul Masail Muslimat: Pemerkosa Bisa Dihukum Mati

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Maraknya kasus kejahatan seksual terhadap perempuan dan anak-anak menjadi perhatian khusus bathsul masail dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Muslimat NU di Asrama Haji Pondok Gede, Sabtu (31/5). Sejumlah pakar hukum Islam pada forum tersebut membolehkan penerapan hukuman mati bagi para pelaku kekerasan seksual atau pemerkosa.

Dewan Pakar Muslimat NU, Bidang Hukum Islam, Prof Huzaemah T Yanggo mendefinisikan pemerkosaan sebagai pemaksaan hubungan seksual terhadap perempuan atau tanpa kehendak yang disadari oleh pihak perempuan.

Bahtsul Masail Muslimat: Pemerkosa Bisa Dihukum Mati (Sumber Gambar : Nu Online)
Bahtsul Masail Muslimat: Pemerkosa Bisa Dihukum Mati (Sumber Gambar : Nu Online)

Bahtsul Masail Muslimat: Pemerkosa Bisa Dihukum Mati

“Dalam hukum Islam, perkosaan dipandang sebaagai salah satu kejahatan seksual sadistis. Pelakunya berdosa dan harus dihukum berat, yaitu di-had (dicambuk atau dirajam hingga mati) sesuai hukuman bagi pelaku zina, ditambah hukum ta’zir, yaitu hukuman tambahan yang ditetapkan oleh hakim, tergantung pada jenis kejahatan yang dilakukan,” papar Huzaemah, seraya mengutip Al-Qur’an, ayat 33 dari surat an-Nur.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

TKW Terzalimi

Huzaemah juga menyoroti ketidakadilan hukum di Saudi Arabia, yang menimpa banyak tenaga kerja wanita (TKW). Para korban pemerkosaan, katanya, malah dihukum had oleh Hakim, atau bahkan dihukum qisas atau pancung, ketika si korban membela diri, mempertahankan kehormatannya hingga terpaksa harus membunuh sang peemerkosa.

Menurut Huzaemah, TKW yang membunuh majikannya karena mempertahankan diri dari perkosaan atau tindak kekerasan lain, seharusnya dibebaskan dari hukuman. Asalkan dia dapat mendatangkan saksi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Seharusnya majikannya itu yang dikenai hukum had. Namun terkadang, perkosaan yang diderita TKW tidak ada saksinya, maka hal itu bisa dibuktikan dengan pemeriksaan dokter ahli yang independen dan didampingi penasehat hukum,” tandasnya.

Pemaksaan Perbuatan Zina

Sementara, Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ali Mustofa Ya’qub mempunyai definisi tentang pemerkosaan yang berbeda dengan Huzaemah. Menurut Mustofa, pemerkosaan adalah pemaksaan perbuatan zina.

“Jika menggunakan definisi ibu Huzaemah, nanti seorang suami yang karena sesuatu hal, memaksa istrinya berhubungan seksual, bisa disebut pemerkosa juga. Tapi jika didefinisikan sebagai pemaksaan perbuatan zina, maka bisa dikenai dua hukuman, yakni pemaksaan dan hukuman zina,” paparnya.

Mengenai hukuman bagi pemerkosa, menurut Mustofa, bisa dikenakan hukuman mati, dengan dasar bahwa hukuman bagi pezina saja bisa dicambuk atau dirajam, maka ketika perzinahan tersebut dilakukan dengan paksaan bisa dihukum lebih berat.

“Dalam ushul fiqh ada bab ikrah (pemaksaan). Yang dibahas pada bab ini, justru tentang hukum bagi si korban yang dipaksa. Bahwa pembebasan hukuman berlaku karena ikrah. Sementara hukuman bagi pelaku tidak ada had, tetapi ta’zir. Ta’zir ini boleh lebih berat dari had, hal ini berdaasarkan pendapat Syekh Abdul Qadir Audah,” ungkapnya.

Melihat banyaknya kejahatan seksual yang marak terjadi di Indonesia, menurut Mustofa, seharusnya ditetapkan istilah darurat zina. “Kenapa istilah yang digunakan darurat kejahatan seksual, kenapa tidak darurat zina saja. Dengan diksi ini bisa diberlakukan bagi semua pelaku. Terlebih pelaku pemerkosaan terhadap anak-anak. Ini harus dihukum berat,” ujarnya.

Sementara terkait penanganan terhadap anak korban kekerasan, Sekretaris Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Erlinda mengajak Muslimat NU untuk mengajukan revisi Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002, tentang Perlindungan Anak. Terutama dalam tiga isu, tentang perlindungan hak anak; pemenuhan hak dan peran tanggung jawab, serta; peningkatan sanksi hukum pidana tindak kekerasan bagi pelaku dewasa, minimal 20 tahun dan maksimal seumur hidup.

“Kita juga harus meningkatkan penanganan, rehabilitasi dan pendampingan anak korban? dan anak pelaku kekerasan, serta mendorong partisipasi dan kewaspadaan aktif masyarakat terhadap perlindungan anak,” ujarnya. (Abdel Malik/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pemurnian Aqidah, Makam, Olahraga Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 13 November 2017

NU Istiqamah Bela NKRI

Jombang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. KH Marzuqi Mustamar mengingatkan warga dan para fungsionaris NU untuk tetap kukuh dengan tradisi dan amaliyah yang telah diwariskan para ulama salafus shalih. Karena dengan kemitmen menjaga warisan tersebut akan menyelamatkan bangsa dari perpecahan.

NU Istiqamah Bela NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Istiqamah Bela NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Istiqamah Bela NKRI

Penegasan disampaikan Wakil Rais PWNU Jawa Timur ini saat melantik tiga Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) di Kecamatan Gudo Jombang, Jawa Timur, Kamis (7/8). Ketiga PRNU tersebut adalah Mejoyo Losari, Bugasur Daleman, serta Sukoiber.

Bagi dosen Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang Jawa Timur ini, dalam rentang perjalanan panjang bangsa Indonesia, peran dan kiprah serta pembelaan NU kepada eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) demikian menonjol. Sejak zaman pra kemerdekaan, saat kemerdekaan serta hingga kemerdekaan diraih dan hendak direbut kembali oleh penjajah. “Sejarah telah membuktikan hal ini,” kata Kiai Marzuqi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Tidak berhenti sampai di situ kiprah NU. Dalam sejarah panjang kepemimpinan Presiden Soekarno Hatta, loyalitas NU masih terlihat jelas. Demikian juga saat Soeharto berkuasa. Bahkan, ketika banyak organisasi sosial keagamaan dan kekuatan politik terbelah antara menerima atau menentang Pancasila,? NU menjadi organisasi sosial keagamaan yang pertama kali menerima Pancasila sebagai asas organisasi. Dalam banyak kesempatan, NU menandaskan bahwa Negara Pancasila adalah upaya final bagi umat Islam dalam memimpikan terbentuknya sebuah negara ideal.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pembelaan dan komitmen terhadap sejarah panjang bangsa ini adalah di antaranya dapat diwujudkan dengan menjaga tradisi keagamaan yang telah mendarang dan mendaging. Karena itu dalam kesempatan tersebut, Kiai Marzuki mengajak semua kalangan untuk menjaga tradisi yang telah ada.

“Identitas NU harus diperjelas dengan amaliyah yang telah menjadi tradisi dan warisan para ulama,” terang Kiai Marzuqi Mustamar. Hanya NU yang konsisten menjaga tradisi kemasyarakatan seperti yang telah digagas oleh para penyebar agama Islam di Nusantara, lanjutnya.

Bagi mantan Ketua PCNU Kota Malang ini, konsistensi dalam menjaga tradisi juga diteruskan dengan keistiqamahan dalam menjaga NKRI. “Hanya NU yang terbukti konsisten dengan komitmen kebangsaan ini,” tegasnya.

Jaga Kekompakan

Ketua PCNU Jombang, KH Dr Isrofil Amar saat memberikan sambutan juga menandaskan agar para fungsionaris NU menjaga kebersamaan dan kekompakan dalam berkhidmah kepada umat. “Kita harus menjaga semangat ittihad atau kekompakan antar para pengurus dan warga,” kata Kiai Isrofil, sapaan akrabnya.

Hal ini kian menemukan momentumnya lantaran belakangan banyak berkembang gerakan dan ideologi transnasional. “Ideologi ini tentu saja akan bertentangan dengan komitmen NU terhadap NKRI,” kata dosen Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Peterongan Jombang ini.

“Kebersamaan kita juga harus diimbangi dengan semangat ihtiyat atau kehati-hatian,” tandasnya. Kemunculan ISIS dan ideologi ekstrim kanan maupun kiri hendaknya kian membukakan kesadaran para pengurus untuk menjaga kebersamaan dan kehati-hatian tersebut. Bahkan secara khusus, Kiai Isrofil mengingatkan bahwa kemunculan gerakan yang berbeda dengan NU tersebut kini telah merata dan mengepung lingkungan sekitar. “Karena mohon untuk menjaga putra dan putri maupun lingkungan kita dari ancaman gerakan yang jauh dari semangat seperti ajaran para ulama,” katanya.

Bupati Jombang yang diwakili oleh Kepala Badan Kesatuan Kebangsaan Politik dan Perlindungan Masyarakat, Muhammad Mas’ud menyampaikan harapan agar para pengurus NU bisa bekerja sama dalam menjaga suasana yang kondusif di kota santri ini. Ia juga sependapat dengan para kiai agar setiap tokoh masyarakat dapat menjaga dan membentengi keluarga dari pengaruh paham atau aliran yang mencederai keberadaan NKRI.

Kegiatan pelantikan yang diselenggarakan di Yayasan Pendidikan Islam Wahid Hasyim Pesanggrahan Kecamatan Gudo ini juga dimanfaatkan sebagai sarana halal bihalal antarpengurus. Karena ada tiga kepengurusan yang dilantik, aula terlihat sesak dan suasana demikian meriah. (Syaifullah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Quote, Makam Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 10 November 2017

Pelajar NU Pati Tumbuhkan Semangat Cinta Alam

Pati, Pondok Pesantren An-Nur Slawi?

Puluhan pelajar IPNU Pati dan mahasiswa tergabung dalam Forum Pupupala (Pelajar IPNU-IPPNU Pecinta Alam) Pati mendaki Gunung Slamet, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, baru-baru ini.

Ketua Forum Pupupala Pati, Moh. Syamsul Arifin yang juga sebagai sekretaris PAC GP Ansor Kecamatan Sukolilo, mengatakan kegiatan pendakian Gunung Slamet merupakan cara yang terbaik untuk merenungkan makna kepedulian terhadap lingkungan. Menjaga dan melestarikan alam dengan melihat keindahannya.?

Pelajar NU Pati Tumbuhkan Semangat Cinta Alam (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Pati Tumbuhkan Semangat Cinta Alam (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Pati Tumbuhkan Semangat Cinta Alam

Menurut dia, berada di alam terbuka merasa lebih menyatukan diri dengan alam sekaligus mempererat persaudaraan dengan sesama komunitas pecinta alam lainnya. Termasuk juga dengan komunitas alam beberapa mahasiswa yang ikut dalam pendakian tersebut.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Bagi kami ini yang terbaik untuk menanamkan jiwa kecintaan alam dengan cara menjaga kelestarian alam dan mempererat tali persaudaraan," katanya.

Pendakian yang berlangsung kurang lebih tiga hari itu memberikan kebersamaan dalam menajaga dan melihat keindahan alam. Selanjutnya para pecinta alam melakukan kegiatan "Sapu Gunung" yaitu membersihkan berbagai jenis sampah yang ada di sekitar lokasi bekas kawah Gunung Slamet.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Redaktur ? ? : Abdullah Alawi?

Kontributor : Muhammad Mubarok?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Warta, Makam, Kyai Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 26 Oktober 2017

Ketika Ribuan Santri dan Pelajar Tasikmalaya Sambut Kirab Resolusi Jihad

Tasikmalaya, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Jalan Dr. Soekardjo No 47 Tasikmalaya, depan Kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Tasikmalaya, Jawa Barat dipadati ribuan santri dan pelajar yang ikut menyambut Rombongan Kirab Resolusi Jihad Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Rabu (19/10).

Ketika Ribuan Santri dan Pelajar Tasikmalaya Sambut Kirab Resolusi Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Ribuan Santri dan Pelajar Tasikmalaya Sambut Kirab Resolusi Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Ribuan Santri dan Pelajar Tasikmalaya Sambut Kirab Resolusi Jihad

Santri yang hadir dalam penyambutan tersebut sebanyak 1.800 santri dan pelajar yang terdiri dari santri Pondok Pesantren Bustanul Ulum Sindangsari Tamansari, Alhikmah Tamansari, Bahrul Ulum Awipari, Riyadul Ulum Wadda’wah Condong Cibeureum, Al-Mukhlisun Indihiang, Al-Mukhtariyah Mangkubumi, SMK Bustanul Ulum Sindangsari Tamansari, MA Alhikmah Tamansari, SMK NU dan MA NU Kota Tasikmalaya

Kemeriahan ini sangat disambut baik dan dijadikan moment yang sangat bersejarah untuk bangsa ini, karena sekarang santri telah diakui oleh Negara dan sangat berpengaruh serta berperan akti dalam menjaga kemerdekaan bangsa Indonesia.

Acara penyambutan tersebut dimeriahkan langsung oleh Band Aswaja fi’il Harmony binaan dari PC Lesbumi NU Kota Tasikmalaya. Dengan lagu-lagunya yang bernuansa Islami, para santri turut mengikuti alunan nyanyian yang dibawakan band tersebut sehingga Gema Sholawat pun terdengar nyaring di depan kantor PCNU Kota Tasikmalaya.

Menurut salah seorang santri dari Bahrul Ulum Awipari mengatakan bahwa kita sebagai santri harus bangga dengan adanya hari Santri Nasional ini, dan santri lah dari sejak dulu sampai sekarang merawat tradisi-tradisi para ulama dan mempertahankan NKRI.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sedangkan menurut Adi Imam Assidiq salah seorang murid MA NU ia merasa bangga dengan adanya Hari santri Nasional ini, meski belum pernah menjadi santri dan mondok di pesantren tapi perilaku dan spirit kesantrian yang harus kita jaga dan pelihara setiap hari. (Agum Gumilar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Doa, Makam, Bahtsul Masail Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 13 Oktober 2017

Penderitaan Istri Firaun dalam Mempertahankan Kebenaran

Katakan yang benar meskipun itu pahit. Sabda Rasulullah SAW ini menjiwai ketegaran Asiyah, istri Fir’aun, sejak ribuan tahun silam ketika suaminya yang angkuh itu memaksannya menanggalkan kebenaran.

Dalam ‘Uqudul Lujjain, Syekh Nawawi al-Bantani menceritakan hikayat awal keimanan Asiyah dari kesuksesan Nabi Musa AS mengalahkan tukang sihir suruhan Fir’aun. Penguasa otoriter yang mendaku dirinya sebagai Tuhan ini menantang Nabi Musa adu kebenaran dengan saling “unjuk kebolehan”.

Penderitaan Istri Firaun dalam Mempertahankan Kebenaran (Sumber Gambar : Nu Online)
Penderitaan Istri Firaun dalam Mempertahankan Kebenaran (Sumber Gambar : Nu Online)

Penderitaan Istri Firaun dalam Mempertahankan Kebenaran

Asiyah yang menyaksikan peristiwa tersebut akhirnya jatuh cinta pada ajaran Nabi Musa. Mukjizat telah terbentang, dan kebatilan terbukti gugur di hadapan kebenaran tauhid. Istri Fir’aun ini pun mantab menyatakan beriman.

Fir’aun betul-betul tidak terima dengan keputusan istrinya. Ia mengikat kedua tangan dan kaki Asiyah pada empat buah tiang. Tubuhnya dipaksa menatap sengatan matahari. Fir’aun dan pengikutnya lantas meninggalkan Asiyah begitu saja bak bangkai kadal yang terkapar di atas pasir.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Penderitaan perempuan malang ini belum berakhir. Karena beberapa saat kemudian, Fir’aun memerintahkan anak buahnya melemparinya dengan batu besar. Dalam perih, Asiyah berutur, “Wahai Tuhanku, dirikanlah rumah untukku di sisimu di dalam surga.”

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Seketika itu ia melihat sebuah rumah yang terbuat dari marmer putih. Lalu nyawanya dicabut, sebelum tubuhnya ditimpa batu besar hingga ia tidak merasakan sakit.

Fir’aun dalam kisah ini memperlihatkan kezaliman yang tiada batas. Ia tak segan-segan  menyiksa, bahkan membunuh, setiap orang yang berseberangan dengan dirinya, tak terkecuali istrinya sendiri.

Perilaku Fir’aun ini juga menandai  adanya struktur kekuasaan yang hegemonik dalam kehidupan bernegara sehingga akses kritik atau berpendapat secara bebas menjadi buntu. Dalam konteks kehidupan rumah tangga, Fir’aun sedang memamerkan dominasi laki-laki atas perempuan yang menjadi faktor ketidakharmonisan dan kekerasan dalam sebuah keluarga.

Sebaliknya, Asiyah mengajarkan kepada kita semua tentang kesabaran dalam menghadapi cobaan berat. Siksaan hebat dari Fir’aun tak menggoyangkan pilihannya terhadap ajaran tauhid. Berkat ketabahan dan keteguhannya menggenggam prinsip ini, Asiyah justru mendapat perlindungan dan kemuliaan. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Warta, Makam, IMNU Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 12 Oktober 2017

Pembukaan Munas-Konbes NU, Penyandang Disabilitas Baca Al-Quran dan Shalawat Badar

Mataram, Pondok Pesantren An-Nur Slawi



Ustadz Ilhamudin, penyandang tunanetra diminta panitia untuk membaca Al-Quran pada acara pembukaan Munas-Konbes NU 2017 di alun-alun Islamic Center, Kota Mataram, Kamis (23/11) siang. Pada pembukaan yang dihadiri oleh Presiden RI Joko Widodo, ia membaca ayat yang menerangkan sifat-sifat ulama.

Sebagaimana diketahui, Ustadz Ilhamudin adalah juara ketiga MTQ Nasional 2012. Ia dilahirkan di Lombok Tengah.

Pembukaan Munas-Konbes NU, Penyandang Disabilitas Baca Al-Quran dan Shalawat Badar (Sumber Gambar : Nu Online)
Pembukaan Munas-Konbes NU, Penyandang Disabilitas Baca Al-Quran dan Shalawat Badar (Sumber Gambar : Nu Online)

Pembukaan Munas-Konbes NU, Penyandang Disabilitas Baca Al-Quran dan Shalawat Badar

Ustadz Ilhamudin setelah membaca ayat Al-Quran mengajak para hadirin untuk bersama-sama membaca Shalawat Badar.

"Pembukaan acara kita menghadirkan qari tunanetra. Ini menunjukkan bahwa NU memang care dengan penyandang disabilitas, sejalan dengan pembahasan masalah disabilitas di forum Bahtsul Masail Munas Alim Ulama NU 2017 di Pesantren Darul Falah Lombok," kata panitia Munas-Konbes NU 2017 dalam jumpa pers, Kamis (23/11) pagi.

Menurut Robikin, penyandang disabilitas adalah juga karunia Allah. Disabilitas bukan keterbatasan. Penyandang disabilitas dapat menggali potensi diri dan dapat kesempatan yang sama dalam meraih prestasi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Masalah disabilitas ini diangkat sebagai salah satu pembahasan di forum Munas NU 2017 dalam sidang Komisi Bahtsul Masail Diniyah al-Maudhuiyah. Masalah ini akan dibahas secara serius terutama terkait fasilitas peribadatan bagi penyandang disabilitas. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Makam, Anti Hoax, Pesantren Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 03 September 2017

5000 Pramuka Santri Pecahkan Rekor MURI Indonesia

Tanah Laut, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Sekitar lima ribu pramuka santri dari seluruh Indonesia tingkat penegak melakukan aksi pemecahan rekor MURI berupa “Konfigurasi Madihin dengan Jumlah Peserta Terbanyak”. Aksi itu dilakukan dalam Upacara Pembukaan Perkemahan Pramuka Santri Nusantara IV (PPSN) di Bumi Perkemahan Agrowisata, Tambang Ulang, Tanah Laut, Kalimantan Selatan (2/6).

Madihin merupakan kesenian musik khas dari Kalimantan Selatan dalam bentuk pelantunan lagu/syair yang berisi pujian dan pesan penting tentang sejarah dan nilai-nilai nasionalisme, patriotisme, serta semangat kebersamaan Santri Bela Negara di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

5000 Pramuka Santri Pecahkan Rekor MURI Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
5000 Pramuka Santri Pecahkan Rekor MURI Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

5000 Pramuka Santri Pecahkan Rekor MURI Indonesia

“Kami memilih Madihin ini untuk mendorong dan menumbuhkembangkan kesadaran pelastarian seni budaya di kalangan anak muda, khususnya santri,” ujar Mardani Zuhri, Koordinator kegiatan dan Perkemahan Pramuka Santri Nusantara IV (PPSN) yang juga menjabat sebagai Andalan Nasional Gerakan Pramuka Kwarnas dalam rilis yang dikirimkan ke Pondok Pesantren An-Nur Slawi.  

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Secara teknis, pemecahan rekor MURI Madihin ini dilakukan secara kolosal diiringi music dan tarian, dengan melibatkan seluruh peserta, panitia, pendamping, dan pimpinan kontingen daerah yang datang dari 33 provinsi di Indonesia. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dalam pidato sambutannya, Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifudin sangat mengapresiasi terlaksananya kegiatan kemah santri yang digelar setiap tiga tahun sekali ini.  

“Santri dan pramuka merupakan kombinasi identitas yang sangat pas.  Dari situ, alhamdulillah, banyak nilai dan ilmu yang ketika kita terjun di masyarakat manfaatnya sangat luar biasa,” ujar Lukman. 

Sementara itu, Wakil Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Marbawi A Katon, mengingatkan agar para pramuka santri ini bisa lebih meningkatkan kepedulian dan kehadirannya guna merespons berbagai musibah dan masalah sosial yang terjadi di masyarakat. 

“Saat ini banyak musibah dan masalah yang mendera bangsa ini. Saya berharap, di tangan kalianlah semua masalah itu bisa diselesaikan!” tandasnya. Red: mukafi niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi AlaSantri, Makam, Kajian Islam Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 06 Juli 2017

Mesantren Tanpa Biaya, Program Unggulan RMI Cirebon

Cirebon, Pondok Pesantren An-Nur Slawi 

Pengurus Rabithah Maahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) Kabupaten Cirebon mengadakan pelantikan pengurus masa khidmah 2017-2022 di Pondok Pesantren Assalafiyah Bode, Plumbon, Jumat (10/11). Pelantikan ditandai dengan launching program unggulan dan penandatanganan kerja sama dengan sejumlah lembaga.

Program-program yang diluncurkan adalah Mondok Mesantren Tanpa Biaya (Mantab), beasiswa kuliah sambil bekerja di Taiwan bagi lulusan pondok pesantren, dan penguatan kerja sama antar-pesantren melalui deklarasi Ikatan Roisul Maahid (Ikrom).

Mesantren Tanpa Biaya, Program Unggulan RMI Cirebon (Sumber Gambar : Nu Online)
Mesantren Tanpa Biaya, Program Unggulan RMI Cirebon (Sumber Gambar : Nu Online)

Mesantren Tanpa Biaya, Program Unggulan RMI Cirebon

Pelantikan dihadiri perwakilan RMI PBNU KH Arwani Syaerozi, Ketua RMI NU Jawa Barat KH Amin Maulana, Ketua MUI Kabupaten Cirebon KH Bahrudin Yusuf, serta para ulama dan kiai pondok pesantren di Cirebon. Tampak pula para bakal calon bupati dan wakil bupati yang merupakan kader NU.

Sementara itu, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Cirebon, KH Aziz Hakim Syaerozi mengapresiasi keseriusan pengurus RMI NU dalam penguatan jamiyah melalui sejumlah program unggulan. Ia berharap sejumlah terobosan direalisasikan secara maksimal dan terus menerus, sehingga manfaatnya dapat dirasakan bagi warga NU.

Bila hal itu sudah tercapai, ia berharap makin banyak orang tua yang menitipkan anak-anaknya di pesantren.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"NU ingin mendorong agar makin banyak orang tua yang mempercayakan anaknya untuk dididik di pesantren. Meskipun hari ini kita menghadapi banyak tantangan eksternal yang membuat pesantren belum dilirik oleh mayoritas masyarakat," kata pembina Pesantren Assalafie Babakan, Ciwaringin itu.

Salah satu cara PCNU Kabupaten Cirebon untuk menumbuhkan minat adalah dengan membantu masyarakat dari kalangan tidak mampu melalui program Mondok Mesantren Tanpa Biaya (Mantab). Program yang bekerjasama dengan pondok pesantren dan para donatur warga NU itu dianggap manfaatnya sangat besar.

Selain memberikan kesempatan kepada anak dari keluarga tidak mampu untuk belajar agama dan ilmu umum di lingkungan pesantren, lanjut dia, juga menjadi strategi persuasif mengikis pemahaman agama radikal dan menguatkan karakter Islam ramah.

"Sebagaimana kita tahu, banyak pelaku terorisme dan radikalisme atas nama agama berasal dari keluarga tidak mampu atau masalah ekonomi," kata Kang Aziz.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rais Syuriah PCNU Kabupaten Cirebon, KH Wawan Arwani Amin juga berharap gema program itu tidak hanya gelegar di awal tetapi terus berjalan dengan baik.

Kang Wawan juga memaparkan tentang sejarah peran pesantren yang begitu besar untuk bangsa. Pesantren juga harus terus menunjukkan perannya dalam memberikan solusi masyarakat dan bangsa.

Sejauh ini, sambungnya, lulusan pesantren yang menjadi ulama, kiai, ustad dan dai relatif sedikit sekitar 20 persen. Karena itu, tugas RMI NU di bawah kepemimpinan KH Badrudin Hambali untuk juga fokus membantu menyiapkan ruang atau lahan profesional bagi lulusan pesantren.

"Tantangan RMI hari ini di antaranya memastikan lulusan pesantren masuk pada berbagai dimensi kehidupan, misal ruang profesional, karir, dan lainnya yang positif. Tidak melulu jadi ulama," kata Pengasuh Pesantren Buntet itu.

Dari launching program yang dimunculkan dalam pelantikan, dianggap Kang Wawan merupakan kecerdasan RMI memotret kondisi zaman. Pihaknya bangga RMI NU bekerjasama dengan mitra strategis dalam menyiapkan calon profesional dari lulusan pesantren untuk bekerja dan kuliah di luar negeri.

"Saya rasa harus banyak pilihan untuk menyiapkan lulusan pesantren agar dapat masuk ke dunia profesional atau karir," tukas dia. (Kalil Sadewo/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Santri, Makam, Nahdlatul Pondok Pesantren An-Nur Slawi