Tampilkan postingan dengan label Kajian Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Islam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Maret 2018

Mau Tahu Potensimu? Hadiri Forum Kebangsaan AJI-Gusdurian Lampung

Bandar Lampung, Pondok Pesantren An-Nur Slawi . Meramaikan HUT Aliansi Jurnalis Independen (AJI) ke 21, Gusdurian Lampung menggelar "Riungan Kebangsaan" di lantai tiga gedung B aula pascasarjana, kampus Institut Informatika dan Bisnis (IBI) Darmajaya, Lampung, pada Kamis 20 Agustus 2015 mulai pukul 13.00 WIB hingga selesai. 

Mau Tahu Potensimu? Hadiri Forum Kebangsaan AJI-Gusdurian Lampung (Sumber Gambar : Nu Online)
Mau Tahu Potensimu? Hadiri Forum Kebangsaan AJI-Gusdurian Lampung (Sumber Gambar : Nu Online)

Mau Tahu Potensimu? Hadiri Forum Kebangsaan AJI-Gusdurian Lampung

Berkaitan dengan forum yang akan membahas terkait pandangan agama-agama terhadap masalah lingkungan hidup tersebut, sejumlah surprise disiapkan panitia penyelenggara.

"Tidak hanya ada bingkisan bagi 70 hadirin yang hadir diawal, ada juga dua door prize bagi hadirin yang beruntung untuk mengetahui potensinya," ujar Penjabat Sementara Sekretaris  AJI Bandar Lampung Yoso Wandi Barboy Silaban di Bandar Lampung, Rabu (19/8).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Door prize pertama untuk hadirin yang beruntung, dan yang kedua untuk jurnalis media cetak atau online yang meliput kegiatan "Riungan Kebangsaan" dan tulisannya dinilai panitia paling baik.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Untuk diketahui, "Riungan Kebangsaan" ialah kegiatan yang merangkul sejumlah pihak.  Motivator Observer Service Totally (De Most) yang bergerak di jasa analisa sidik jari juga ikut berpartisipasi. Di kota-kota besar seperti Jakarta dan Palembang, analisis finansial dibutuhkan untuk mengetahui bakat dan potensi melalui analisa sidik jari kisaran Rp650 ribu hingga Rp1 juta.

Sejumlah guru di Waykanan termasuk Kepala Sekolah SMAN 1 Baradatu Waykanan Winingsih mengakui jika De Most membuka cakrawala berpikir. Bagi pengajar, motivasi De Most diperlukan. Adapun bagi pelajar, juga demikian.

"Setiap orang punya potensi dan kecerdasan berbeda namun perlu diketahui dengan detail untuk bisa digunakan. Masa depan bukan suatu tempat, namun suatu hal yang direncanakan sejak dini," ujar Direktur Eksekutif De Most Eko Chrismiyanto menjelaskan.

Menurut pakar dermatoglipics itu, pengetahuan masyarakat dan pelajar agar tidak salah menggunakan potensinya sangat diperlukan mengingat salah satu manfaatnya ialah supaya tidak salah memilih kuliah.

"Riungan Kebangsaan" kali ini merupakan energi dan sinergi cinta Gusdurian Lampung, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Palang Merah Indonesia (PMI) Bandar Lampung, The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) atau Masyarakat Jurnalis Lingkungan Hidup, GP Ansor, Justice Peace Integrity of Creation Fransiskanes Santo Georgius Martir (JPIC-FSGM), De Most (Motivasi Sidik Jari), Yayasan Shuffah B lambangan Umpu, Majelis Semaan Al-Quran wa Dzikrul Ghofilin Jantiko Mantab, IBI Darmajaya dan Alumni Sanlat Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN) Waykanan 2015.

"Riungan Kebangsaan merupakan salah satu cara kami menyatakan cinta kepada bangsa dan sesama. Karena itu, selain diskusi, kegiatan donor darah juga diadakan," ujar penggiat Gusdurian Lampung Gatot Arifianto menambahkan. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kajian Islam, Pondok Pesantren, Kiai Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 02 Maret 2018

KH Suharbillah, Guru Besar Pencak Silat Pagar Nusa Tutup Usia

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Inna lilllahi wa inna ilaihi raji’un, kabar duka bagi warga Nahdlatul Ulama, khususnya para pendekar dan pecinta pencak silat NU Paga Nusa, karena salah seorang guru besarnya, KH Suharbillah tutup usia di Sedayu, Gresik, Jawa Timur.

KH Suharbillah, Guru Besar Pencak Silat Pagar Nusa Tutup Usia (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Suharbillah, Guru Besar Pencak Silat Pagar Nusa Tutup Usia (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Suharbillah, Guru Besar Pencak Silat Pagar Nusa Tutup Usia

Kabar yang diterima Pondok Pesantren An-Nur Slawi, KH Suharbillah wafat pada Senin, 25 Agustus sekitar pukul 20.00. “Ya, benar tadi jam 8 malam,” kata salah seorang pengurus Pimpinan Pusat Pencak Silat NU Pagar Nusa, Muad, melalui telpon seluler, Senin (25/8).

KH Suharbillah pernah menjabat Ketua Umum Pagar Nusa periode kedua setelah kepemimpinan Gus Maksum Jauhari.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Semoga amal dan jasanya, khususnya pada pencak silat, bernilai ibadah di sisi Allah SWT. Semoga segala kekhilafanya diampuni-Nya. Psementara keluarga, para pendekar silat bisa meneladani kebaikannya. Amin... (Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ubudiyah, Kajian Islam Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 26 Februari 2018

Menteri Agama Tegaskan Toleransi adalah Kebutuhan

Yogyakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Toleransi tidak cukup hanya dipahami dan dilakukan tetapi juga dibutuhkan. Karena kita beragam, maka sesuatu yang beragam ini membutuhkan sesuatu untuk disikapi dengan toleransi. Toleransi ini adalah kebutuhan, di dalamnya ada kesediaan diri dan kemampuan untuk memahami perbedaan sekaligus menghargai perbedaan tersebut. Sehingga masing-masing kita tetap harmonis dan ada dalam keselamatan.

Demikian disampaikan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat menjadi Keynote Speaker Seminar Nasional yang mengetengahkan tema Memelihara Toleransi dalam Masyarakat Majemuk yang diselenggarakan Pusat Studi Agama-Agama Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta, Rabu (10/8). Menag mengapresasi tema yang diangkat, karena sangat sesuai dengan konteks Indonesia yang plural.

Menteri Agama Tegaskan Toleransi adalah Kebutuhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Menteri Agama Tegaskan Toleransi adalah Kebutuhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Menteri Agama Tegaskan Toleransi adalah Kebutuhan

"Ini yang saya maknai dengan toleransi," jelas Menag.

Dalam pandangannya, dalam iklim kita, toleransi ini sangat dinamis karena dipengaruhi oleh beberapa faktor yang membentuknya. Belakangan ini, persoalan toleransi ini sangat kompleks karena kita hidup di dunia yang tanpa batas, kita hidup didunia yang mendunia (menglobal). Daratan menjadi menyusut tetapi manusia bertambah banyak, sehingga banyak persaingan yang muncul dan menjadi semakin ketat.

"Dengan era digital yang menjadi kebutuhan manusia, menjadikan persaingan semakin erat. Kehidupan sekarang menjadikan banyak orang semakin stres (bahkan dimulai ketika bangun tidur). Saya ingin menggambarkan bahwa tekanan kita sebagai manusia semakin berat. Lalu bagaimana kita menyikapi perbedaan? Karena saat ini banyak orang yang mudah tersulut emosi dengan hal-hal yang kecil bukan urusan prinsipil," ujar Menag.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Tantagan yang dihadapi dalam masyarakat majemuk ini, ujar Menag, adalah tentang pemahanan kita tentang toleransi itu. Ada pengertian di dalam beberapa agama yang memiliki pemikiran bahwa semua orang harus menjadi sama (homogen), tetapi menurut Menag bukan itu yang menjadi keinginan Tuhan.

"Dalam agama saya mengajarkan bahwa Tuhan itu menghendaki keberagaman. Perlu dibedakan sisi dalam dan luar. Sisi dalam adalah hal yang berdasarkan tentang esensial dari agama, sisi luar adalah yang lahiriah (cara peribadatan)," ucap Menag.

Berbicara dari sisi luar, terang Menag, banyak cara beribadah (dalam satu agama saja, banyak cara kita beribadah). Tetapi jika berbicara sisi dalam, dalam setiap agama sama, misalnya berbicara tentang keadilan, HAM, persamaan di depan hukum, jangan mencuri, dan lainnya.

"Setiap agama memiliki esensi yang sama, sehingga tantangan yang harus diwujudkan setiap agama adalah berbicara tentang sisi dalam yaitu tentang esensi. Sehingga toleransi dapat terwujud di tengah-tengah masyarakat. Konflik yang sering muncul adalah karena sisi luar dari setiap agama banyak dimunculkan," ucap Menag.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Tantangan yang lain, lanjut Menag, adalah terlalu berlebihan memaknai toleransi. Karena terlalu semangat bertoleransi menyebabkan agama menjadi sama dan tidak dapat dibedakan. Perilaku membangun toleransi dapat mendapatkan ancaman ketika toleransi dipahami secara berlebihan sehingga keyakinan itu menjadi terganggu.

"Prinsipnya adalah toleransi tetap terjadi, namun aqidah setiap agama tetap terjaga. Inilah yang harus kita sikapi dengan arif dan bijaksana agar kehidupan yang beragam tetap terjaga," tutur Menag. (Kemenag/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Internasional, Kajian Islam Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 28 Januari 2018

Sejumlah Lembaga Kemanusiaan Sepakati Mekanisme Baku Pengerahan SDM dan Bantuan Kemanusiaan

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Sejumlah lembaga kemanusiaan berkumpul di Gedung PBNU, Jakarta, pada akhir pekan lalu. Mereka merumuskan model kerja yang terkoordinasi dalam penanganan darurat bencana. Rumusan ini diharapkan dapat mengantarkan mereka dalam penanganan bencana yang efektif dan efisien.

Lembaga yang terkumpul dalam Humanitarian Forum Indonesia (HFI) dan Platform Nasional untuk Pengurangan Risiko Bencana (Planas PRB) menyelenggarakan workshop pembuatan “Joint Protocol” untuk lembaga kemanusiaan guna mempererat koordinasi. Pertemuan yang berlangsung di Gedung PBNU Jalan Kramat Raya 164 Jakarta Pusat pada Kamis-Jumat (10-11/3) ini dihadiri perwakilan anggota HFI yang berjumlah 30 orang.

Sejumlah Lembaga Kemanusiaan Sepakati Mekanisme Baku Pengerahan SDM dan Bantuan Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejumlah Lembaga Kemanusiaan Sepakati Mekanisme Baku Pengerahan SDM dan Bantuan Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejumlah Lembaga Kemanusiaan Sepakati Mekanisme Baku Pengerahan SDM dan Bantuan Kemanusiaan

Mereka yang hadir antara lain utusan dari Muhammadiyah Disaster Management Centre, Dompet Dhuafa, KARINA, Yayasan Tanggul Bencana Indonesia, Yakkum Emergency Unit, Wahana Visi Indonesia, Perkumpulan Peningkatan Keberdayaan Masyarakat, PKPU, Church World Services Indonesia, Habitat for Humanity Indonesia, Rebana Indonesia, Unit Pengurangan Risiko Bencana PGI, Rumah Zakat dan PP Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim NU (LPBINU).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Direktur Eksekutif HFI Surya Rahman Muhammad mengatakan, tujuan pertemuan ini adalah untuk merumuskan adanya suatu mekanisme dalam membangun koordinasi untuk penanganan darurat, mengidentifikasi dan menutup gap koordinasi yang ada dalam penanganan darurat oleh lembaga kemanusiaan dan adanya rujukan bagi lembaga kemanusiaan nasional dalam pelaksanaan kegiatan tanggap darurat bencana.

Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB Tri Budiarto dalam workshop ini mengatakan, dalam pelaksanaan kegiatan kemanusiaan khususnya penanganan darurat bencana dibutuhkan strong leadership karena kegiatan tersebut dilaksanakan oleh multipihak bahkan dari luar negeri. Selain itu, dibutuhkan komunikasi dan koordinasi yang baik agar kegiatan kemanusiaan dapat dilakukan dengan efektif. Karena itu, pertemuan ini diharapkan dapat merumuskan sebuah mekanisme bersama yang ringkas dan operasional sehingga mudah dipahami dan dilaksanakan.

Sedangkan perwakilan PP LPBI NU M Wahib berharap workshop ini tidak hanya menghasilkan dokumen bersama yang mudah dilaksanakan sehingga dokumen ini nantinya menjadi acuan bersama. Dokumen ini diharapkan mampu menjadi media bagi upaya peningkatan kapasitas para pihak sehingga kegiatan kemanusiaan khususnya penanganan darurat bencana dapat dilaksanakan dengan cepat, tepat, dan efektif. (Red Alhafiz K)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Olahraga, Kajian Islam Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Tanamkan NU Sejak Dini dengan Lomba Cerdas Cermat

Cirebon, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Belasan regu dari sejumlah sekolah dan pesantren se-Kabupaten Cirebon mengikuti lomba cerdas cermat memperingati Harlah Ke-82 Nahdlatul Ulama. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Lembaga Kajian dan Pengembagan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Cirebon bekerjasama dengan PC PMII setempat di Pesantren Darul Ulum Klangenan, Jum’at (25/1) kemarin.

Selain lomba cerdas-cermat, juga digelar lomba karya tulis santri. Kegiatan ini, menurut Ketua Lakpesdam Cirebon Ali Mursyid, dimaksudkan juga untuk menanamkan ideologi ke-NU-an di kalangan remaja usia sekolah, agar dapat membentengi mereka dari virus ajaran Islam garis keras.

Tanamkan NU Sejak Dini dengan Lomba Cerdas Cermat (Sumber Gambar : Nu Online)
Tanamkan NU Sejak Dini dengan Lomba Cerdas Cermat (Sumber Gambar : Nu Online)

Tanamkan NU Sejak Dini dengan Lomba Cerdas Cermat

Lomba cerdas cermat dan karya tulis santri merupakan salah satu dalam rangkaian peringatan Harlah NU ke-82 yang dilaksanakan oleh Lakpesdam bekerja sama dengan PC PMII dan beberapa lembaga dan badan otonom NU.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“PC Lakpesdam Cirebon menyelenggarakan Dwi Pekan Muharram dan Harlah NU ke-82 dengan tema meneguhkan tradisi untuk pemberdayaan masyarakat. Yang paling penting dari seluruh kegiatan yang ada adalah Pengkaderan NU Cirebon yang berlangsung 28-30 Januari 2008 dan halqah kamu muda NU se-Indonesia 3-7 Februari 2008”, kata Ali.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ketua Panitia dari PMII Cirebon Ibnu Hamdun menyatakan, PMII dengan suka hati bekerjasama dengan Lakpesdam Cirebon, demi meramaikan Harlah NU ke-82. "NU-lah yang melahirkan PMII, meski PMII tetap independen," katanya.

Dwi pekan Muharram 1429 H dan peringatan Harlah NU ke-82 juga diisi dengan rangkaian kegiatan lainnya, seperti Safari Khittah, dan juga pagelaran seni tradisi NU sebagai puncak acara Harlah.

Menurut Ali Mursyid, Safari Khittah yang dimaksud bukan lagi bermakna Safari Khittah NU yang dilakukan ketika kiai-kiai dianjurkan bukan hanya berkecimpung di PPP seperti dulu, tetapi lebih sebagai usaha memurnikan misi sosial NU dengan mempertemukan kiai-kiai sepuh dengan warga NU di tingkat MWC-MWC. (nam)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi IMNU, Kajian Islam, Ulama Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 15 Januari 2018

Penerima Beasiswa Diingatkan Kontribusinya pada PBNU

Rabat, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Kedatangan kader-kader NU ke Maroko angkatan ketiga mendapatkan sambutan hangat dari Kedutaan Besar Republik Indonesia KBRI Rabat. Mereka bertemu dengan Duta Besar Republik Indoneaia untuk Kerajaan Maroko H. Tosari Widjaja di KBRI Rabat, Jum’at (10/10).?

Penerima Beasiswa Diingatkan Kontribusinya pada PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Penerima Beasiswa Diingatkan Kontribusinya pada PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Penerima Beasiswa Diingatkan Kontribusinya pada PBNU

Dubes dalam pertemuan tersebut salah satunya mengingatkan, para penerima beasiswa tersebut harus bisa memberikan kontribusi nyata kepada PBNU yang telah mengirim mereka menuju negeri Maroko.?

Pertemuan itu didampingi oleh Pensosbud KBRI Rabat Muhammad Hartantyo, ketua Tanfidziyah PCINU Maroko, Kusnadi dan ketua PPI Maroko, Afif Husen. Pada kesempatan itu Tosari Widjaja mengingatkan bahwa tujuan mereka ke Maroko bukan hanya sekedar belajar ditempat yang jauh dari rumah tapi kedatangannya membawa amanah yang sangat besar. Mereka harus belajar bersungguh-sungguh sehingga bisa selesai tepat waktu dan ketika pulang nanti bisa mengabdikan ilmunya ditengah masyarakat.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Mengingat masyarakat Maroko mayoritas berkomunikasi menggunakan bahasa Arab dan Perancis hal ini sangat membantu memperlancar bahasa Arab dan Perancis.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Oleh karena itu usahakan tinggal dengan orang Maroko dan perbanyak teman dari negara-negara lain supaya bisa menguasai bahasa asing dengan mudah," ujarnya.

Usai bertemu dengan Dubes RI mereka langsung mengikuti orientasi mahasiswa/i baru yang diadakan oleh PCINU Maroko. (red: mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Lomba, AlaNu, Kajian Islam Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 04 Januari 2018

Mimpi Para Sahabat soal Nasib Sayyidina Umar di Kuburan

Setelah Sayyidina Umar bin Khattab wafat, para sahabat berjumpa khalifah kedua ini melalui mimpi. Mereka pun bertanya, ”Bagaimana Allah memperlakukanmu?”

Dalam al-Aqthaf ad-Daniyyah dikisahkan Umar menjawab bahwa Allah telah mengampuni kekeliruan-kekeliruannya dan membebaskan siksa dari dirinya. Para sahabat menyahut dengan pertanyaan susulan. ”Apa penyebabnya? Apakah karena kedermawanan, keadilan, atau kezuhudanmu?”

Umar menimbalinya dengan mengisahkan peristiwa di alam kubur. Sejenak usai ia dimakamkan, dua malaikat menghampirinya. Umar dalam perasaan takut luar biasa. Nalarnya hilang. Sebelum malaikat bertanya, tiba-tiba suara tanpa rupa terdengar.

Mimpi Para Sahabat soal Nasib Sayyidina Umar di Kuburan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mimpi Para Sahabat soal Nasib Sayyidina Umar di Kuburan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mimpi Para Sahabat soal Nasib Sayyidina Umar di Kuburan

”Tinggalkan hamba-Ku itu. Jangan bertanya apapun kepadanya (Umar). Jangan dibuat takut. Aku mengasihi dan membebaskan siksa darinya. Tatkala di dunia, ia pernah berbelaskasihan kepada seekor burung emprit.”

Benar. Kisah burung emprit bermula ketika Umar tengah berjalan menuju alun-alun kota dan ? berjumpa anak kecil. Hati Umar sedih. Bocah itu terlihat sedang memagang burung emprit sembari memperlakukannya selayak mainan.

Umar tergerak untuk segera membeli binatang malang itu. Sekarang burung emprit sepenuhnya menjadi milik Umar. Untuk menyelamatkannya dari perlakuan buruk si bocah, khalifah kedua ini pun mengikhlaskan burung emprit terbang ke ke udara dengan merdeka.

Hal ini membuktikan bahwa ajaran Rasulullah SAW telah menancap kuat di hati dan perilaku Umar. Meski sering tampil garang, sahabat Nabi berjuluk ”Singa Padang Pasir” itu tetap menunjukkan kelembutan hatinya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pesan lain yang bisa ditangkap bahwa cakupan cinta kasih bersifat tanpa batas. Kepada pohon, sungai, tanah, makanan, pakaian, buku, burung, anjing, dan seterusnya. Terlebih manusia. Ini selaras dengan hadits riwayat Abdullah bin Umar.

”Orang-orang yang berbelaskasih akan mendapatkan belas kasih dari Yang Maha Pengasih. Berbelaskasihlah kepada tiap makhluk di bumi, niscaya ’penduduk langit’ mengasihimu.” (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Doa, Kajian Islam, AlaSantri Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ulama Lebanon Ijazahi Santri Sanad Kitab Imam Abu Hanifah

Depok, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ulama asal Lebanon, Syekh Ahmad bin Abdur Razzaq Al-Khusaini hadir dalam Majlis Talaqqi yang digelar Pesantren Al-Hikam Depok, Jawa Barat, di Auditorium Sekolah Tinggi Kulliyatul Quran (STKQ) Al-Hikam Depok, di dalam kompleks pesantren setempat, Ahad (10/4).

Talaqqi merupakan di antara tradisi keilmuan dalam pesantren yang mensyaratkan adanya tatap muka langsung antara murid dan guru atau santri dan kiai. Di hadapan ratusan santri dan masyarakat umum ini, Syekh Ahmad memberikan ijazah (sambungan silsilah keilmuan) kitab Al-Fiqh al-Akbar.

Ulama Lebanon Ijazahi Santri Sanad Kitab Imam Abu Hanifah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Lebanon Ijazahi Santri Sanad Kitab Imam Abu Hanifah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Lebanon Ijazahi Santri Sanad Kitab Imam Abu Hanifah

Kitab ini merupakan karya Imam Abi Hanifah An-Nu’man, pendiri madzhab Hanafi yang wafat pada 150 hijriah. Al-Fiqhul Akbar termasuk satu dari lima risalah karangan Abu Hanifah yang menjelaskan tentang akidah Ahlussunnah wal Jama’ah. Meski menggunakan kata “fiqih”, kandungan isinya justru fokus pada wacana seputar ilmu tauhid, keimanan, asma’ dan sifat-sifat Allah, serta sejenisnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dalam kesempatan tersebut, Grand Syekh Global University, Beirut, Lebanon itu menekankan pentingnya amal yang dilandasi dengan ilmu yang mendalam. Menurutnya, ilmu yang tersambung (bersanad) dan dalam akan memberikan keyakinan kepada kita untuk menjalankan syariat Islam dengan baik dan benar.

Di majelis itu, panitia membagikan kitab Al-Fiqh al-Akbar beserta dengan penjelasan kitab tersebut. Menurut salah satu peserta, Majelis Talaqqi ini memberikan manfaat yag besar bagi masyarakat, karena bisa langsung belajar kepada guru yang mempunyai sanad kepada Imam Hanafi. "Saya berharap Majelis Talaqqi akan rutin diadakan oleh Pesantren Al-Hikam," ungkapnya. (Zaki Muttaqien/Mahbib)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kajian Islam, Quote Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 03 Januari 2018

Perhimpunan Guru Madrasah Kota Tasikmalaya Resmi Dilantik

Tasikmalaya, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Jajaran Dewan Pengurus Daerah (DPD) Perhimpunan Guru Madrasah (PGM) Kota Tasikmalaya, Jawa barat periode 2016-2021 resmi dilantik di GOR Sukapura Dadaha, Tasikmalaya, Sabtu (23/7).

Disaksikan langsung Wali Kota Tasikmalaya, Budi Budiman, Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Dede Sudrajat, Kepala Kemenag Kota Tasikmalaya, Munadi dan mantan Kepala Kemenag, Ahmad Fatoni serta ribuan guru, PGM resmi secara formal ada di Kota Tasikmalaya.

Perhimpunan Guru Madrasah Kota Tasikmalaya Resmi Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)
Perhimpunan Guru Madrasah Kota Tasikmalaya Resmi Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)

Perhimpunan Guru Madrasah Kota Tasikmalaya Resmi Dilantik

Ketua DPD PGM Tasikmalaya, Asep Rizal Asyari dengan semangatnya bahwa madrasah harus lebih baik karena lebih baik madrasah. Slogan tersebut sebagai titik awal membangun madrasah sebagai tonggak pendidikan utama di masyarakat.

"Saya yakin kita semua bisa mewujudkan Madrasah lebih baik, lebih baik madrasah," kata dia.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurut Asep yang juga Wakil Ketua PW GP Ansor Jabar ini, pendidikan formal pertama di Nusantara adalah Pesantren. Kemudian dari pesantren melahirkan ruang tempat belajar baru yang disebut madrasah.

"Nah di madrasahlah segala ilmu keagamaan diajarkan yang abadi sampai sekarang," ujarnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Perkembangan pendidikan madrasah juga, tuturnya, tak luput dari berbagai rintangan. Yang akhirnya pemerintah mengakui pendidikan madrasah berlaku formal, disetarakan dengan pendidikan umum dibawah naungan Kemendiknas.

"Maka madrasah lebih baik suatu keharusan, karena lebih baik memang madrasah. Dan PGM salah satu penopang menuju lebih baik itu," ucapnya.

Wali Kota Tasikmalaya, Budi Budiman yang juga pengurus Mustasyar PCNU Kota Tasikmalaya menegaskan tak ada perlakuan beda bagi pendidikan apapun. Meski secara vertikal Madrasah dibawah naungan Kemenag, namun Pemerintah daerah juga dituntut peduli terutama membantu operasional guru.

"Tasik dikenal gudangnya pesantren. Setiap pesantren pasti ada madrasah. Maka kewajiban kami juga membantu madrasah," kata Budi. (Nurjani/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kajian Islam, Bahtsul Masail Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 26 Desember 2017

Gus Mus Menyindir Dirinya Sendiri

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi?

Mustasyar PBNU KH Ahmad Mustofa Bisri mengingatkan kepada orang yang diikuti banyak orang awam, semestinya berhati-hati bertindak dan berbicara di hadapan publik. Kiai yang akrab disapa Gus Mus itu menyebutkan hal itu adalah sindirian untuk dirinya sendiri.?

Gus Mus Menyindir Dirinya Sendiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus Menyindir Dirinya Sendiri (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus Menyindir Dirinya Sendiri

“Kataku, suatu ketika, menyindir diriku: ‘Mereka yang memiliki potensi dikuti oleh orang banyak (orang awam), sudah semestinya lebih berhati-hati dalam bertindak, termasuk dalam berbicara di hadapan publik’,” ungkapnya melalui akun Facebook pribadinya, Jumat (21/7).?

Status itu, ketika dibuka Pondok Pesantren An-Nur Slawi telah dikomentari sekitar 114 akun lain, 441 dibagikan dan 9 ribu yang menyukai.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Akun Timur Suprabana ? mengomentari status tersebut: eyangKakung Ahmad Mustofa Bisri...mestinya sindiran panjenengan terhadap panjenengan menjadi PERINGATAN halus bagi siapapun... karena siapapun memiliki potensi dikuti oleh orang banyak (orang awam). dan tentu saja juga menjadi PERINGATAN bagi saya... ? maturNuwun... insyaallah TIDAK akan saya lupakan..

Akun Ernawaty mengomentari: Leres sanget, Gusyai.. ini peringatan halus bagi saya pribadi atau siapapun terutama publik figur agar tdk berbicara sembarangan.. Matur nuwun, Gus..

Serta komentar beragam dari akun-akun lain yang mendukung status kiai yang dikenal sebagai pelukis dan penyair kelahiran Rembang, Jawa Tengah tersebut. (Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kajian Islam, Kyai Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 24 Desember 2017

Mensos Siapkan Santunan Kematian untuk Korban Longsor OKU Selatan

Surabaya, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menyampaikan ucapan duka cita mendalam kepada keluarga korban meninggal bencana longsor di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan, Provinsi Sumatera Selatan. 

"Pertama atas nama pemerintah kami menyampaikan duka cita mendalam atas musibah yang dialami saudara-saudara kita di Ogan Komering Ulu Selatan. Kepada keluarga korban semoga Allah Yang Maha Kuasa memberikan kekuatan, ketabahan dan kesabaran. Semoga para korban meninggal dunia mendapatkan tempat yang tenang di sisi Allah," kata Khofifah kepada wartawan di sela-sela kunjungan kerjanya ke Jawa Timur, Sabtu (11/11). 

Mensos Siapkan Santunan Kematian untuk Korban Longsor OKU Selatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mensos Siapkan Santunan Kematian untuk Korban Longsor OKU Selatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mensos Siapkan Santunan Kematian untuk Korban Longsor OKU Selatan

Kementerian Sosial, lanjutnya, telah menyiapkan santunan kepada ahli waris korban meninggal tanah longsor. Masing-masing ahli waris mendapat santunan sebesar Rp15 juta untuk korban meninggal dan maksimal Rp5 juta untuk korban luka-luka. 

"Insyaallah  hari Senin (13/11) saya akan kesana dan Insyaallah Senin mereka akan  menerima santunan," ujar Mensos.

Seperti diketahui pada Kamis (9/11) telah terjadi dua kejadian longsor di Kecamatan Sungai Are, Kabupaten OKU Selatan. Pertama, di Desa Cukohnau, pada pukul 17.00 WIB. Kedua, di Desa Sadau Jaya, pukul 20.00 WIB.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Longsor pertama di Desa Cukohnau, Kecamatan Sungai Are menimbun satu rumah yang menyebabkan satu orang meninggal atas nama Hatam bin Agusaman (70), satu luka berat (Zulkardi), dan satu orang luka ringan (istri Hatam).

Longsor kedua di Desa Sadau Jaya, Kecamatan Sungai Are, menimbun satu rumah berisi tujuh orang sehingga menewaskan lima orang dan dua orang luka-luka.

Korban meninggal adalah Riswandi bin Nawawi (40), Ausmita binti Toyib (35), Angga bin Riswandi (7), Rifki bin Riswandi (4), Alex bin Riswandi (9). Sementara korban luka adalah Iprianto bin Riswandi dan Juwita binti Riswandi. 

"Sehingga total korban terdampak akibat bencana longsor ini sebanyak 6 orang meninggal dan 4 luka akibat tertimbun tanah longsor," tutur Khofifah. (Red: Fathoni)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Nasional, Kajian Islam Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Benarkah Nikah Muda Anjuran Agama?

Oleh Hagie Wana



Beberapa waktu yang lalu, netizen ramai memperbincangkan pernikahan putra dai kondang Ustadz Arifin Ilham, Alvin, yang masih berusia 17 tahun. Hal tersebut ditanggapi beragam. Ada yang pro, namun tak sedikit pula yang kontra. Booming-nya pernikahan Alvin ini seakan menjadi “legitimasi” bagi pihak yang yang setuju akan gagasan nikah muda, terutama akun-akun yang berlabel dakwah/islami/muslim/muslimah bahwa pernikahan di usia muda adalah anjuran agama. Apalagi, Alvin adalah putra seorang ustadz kharismatik. Prosesi pernikahannya pun dihadiri dai-dai kenamaan. Oleh karena itu opini-opini mengenai nikah muda semakin ramai dikampanyekan melalui postingan di sosial media.

Benarkah Nikah Muda Anjuran Agama? (Sumber Gambar : Nu Online)
Benarkah Nikah Muda Anjuran Agama? (Sumber Gambar : Nu Online)

Benarkah Nikah Muda Anjuran Agama?

Rasulullah menganjurkan kepada pemuda agar menikah ketika “mampu”. Lalu kapankanh seseorang dikatakan mampu untuk menikah? Dalam kacamata agama, tidak ada petunjuk atau batasan khusus di usia berapa seseorang harus menikah. Jika merujuk pada makna hadits Nabi ini, adalah ketika mampu. Artinya agama memberikan kesempatan bagi seseorang untuk “menyesuaikan diri” (mampu dalam berbagai aspek) ketika hendak melangsungkan pernikahan guna kemashlahatan rumah tangganya kelak.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ada hal-hal menarik yang penulis amati pada postingan akun-akun berlabel islam/dakwah/syar’i dsb mengenai gagasan menikah muda.

Pertama, memberikan kesan seolah-olah menikah di usia semuda mungkin adalah dorongan agama, dengan dalih menghindari perzinaan/menyalurkan kebutuhan biologis secara sah. Padahal tidak semua yang menunda waktu pernikahan—meskipun sudah mampu—itu pasti akan terjerumus pada jurang perzinaan. Menunda waktu pernikahan tidak berarti melegalkan apalagi mendukung praktik pacaran. Apabila kita mempertimbangkan argumentasi ilmiah, secara biologis organ reproduksi wanita yang terlalu muda belum siap untuk mengandung janin. Yang dampaknya akan berbahaya bagi keselamatan sang ibu juga janin yang dikandungnya. Padahal, agama jelas-jelas melarang kita untuk menzalimi diri sendiri. Mungkin kita sering mendengar pada masa kakek nenek kita dahulu yaitu kebiasaan menikah di usia muda. Bahkan tradisi ini konon masih berlanjut di daerah-daerah pelosok. Hal ini dikarenakan tingkat pendidikan yang masih rendah ditambah sulitnya mengakses informasi mengenai permasalahan kesehatan terutama seputar organ reproduksi. Lantas, apakah kita yang hidup di zaman majunya ilmu pengetahuan akan kembali “mundur”?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kedua, untuk menikah, jangan menunggu mapan, agar bisa mapan bersama-sama. Argumen tersebut hemat penulis patut dikritisi. Pada titik ini, kita harus pandai menentukan sikap. Pernikahan adalah ibadah yang mulia. Ibadah (nikah) yang didasari dengan ilmu akan berbeda kualitasnya dengan ibadah yang gegabah. Mungkinkah sepasang muda-mudi yang belum mapan membangun rumah tangga? Akankah kebutuhan rumah tangga juga ikut dibebankan kepada orang tua? Berapa banyak kasus perceraian, tindakan kriminal, bahkan kasus bunuh diri yang faktor utamanya adalah desakan ekonomi? Alih-alih ingin mendidik keluarga hidup mandiri, jika tidak dibarengi dengan iman dan ilmu yang memadai, menikah sebelum mapan bisa menjadi bumerang bagi rumah tangga kita sendiri. Maka memapankan diri adalah upaya kita menghindari mudarat-mudarat yang akan terjadi kemudian.

Ketiga, anggapan bahwa mencari ilmu dan maisyah akan lebih giat setelah menikah, agaknya opini tersebut bertolak belakang dengan konstruksi sosial budaya kita. Ada qaidah sebagian santri yang berbunyi quthi‘al ilmu bi fakhidzaihâ (terputusnya ilmu akibat paha yang dua) maknanya semangat mencari ilmu akan mengendur jika sudah memikirikan wanita (apalagi dibebani kebutuhan akan mencari penghidupan). Adapula pepatah yang mengatakan “didiklah anakmu 100 tahun sebelum lahir”. Maknanya mempersiapkan generasi yang unggul harus dimulai dari orang tuanya terlebih dahulu. Karena terdapat perbedaan orientasi antara yang belum dengan sudah menikah, maka persiapan ilmu adalah hal penting untuk mewujudkan Al-ahli madrasatul ula (keluarga adalah lembaga pendidikan pertama)

Atau berbagai alasan lainnya yang cenderung imajinatif dengan bermodalkan testimoni pengalaman sebagian pihak yang sukses menikah di usia muda tapi menutup mata dari berbagai kosekuensi negatifnya. Mengapa akun-akun berlabel "islami" tersebut cenderung aktif mengajak anak muda menikah, dibanding memberikan pemahaman atau pembekalan yang konkret bagi para anak muda sebelum menikah?

Jika hal ini tidak diimbangi dengan pemahaman yang baik, kampanye atau ajakan untuk menikah muda yang kerap disuarakan di media sosial bisa berakibat fatal bagi keberlangsungan rumah tangga itu sendiri. Dalam perspektif komunikasi massa, secara teoritis media sosial (massa) memiliki fungsi sebagai saluran, informasi, hiburan, dan pendidikan. Namun fenomena saat ini menunjukkan media massa memiliki peran yang efektif di luar fungsinya itu. Efek media massa tidak saja memengaruhi sikap seseorang, tapi juga dapat memengaruhi perilaku. Bahkan pada tataran yang lebih jauh, efek media massa dapat memengaruhi sistem-sistem sosial maupun sistem budaya masyarakat.

Prosesi pernikahan Alvin kemarin, tidak bisa serta merta dijadikan tolok ukur untuk seseorang menikah di usia 17 tahun (apalagi kurang dari itu). Ada jutaan pemuda yang seusia dengan Alvin ketika memaksakan menikah justru akan menjadi madlarat. Pernikahan bukan ibadah coba-coba. Oleh karenanya, persiapan mewujudkan rumah tangga yang samawa tidak cukup hanya dengan meniru-niru atau terbawa postingan dari akun-akun bercorak islami. Agaknya, nderes kitab Uqudul Lujjain atau Qurratul ‘Uyun lebih syar’i dan lebih bermanfaat daripada sekadar melihat meme seputar ajakan menikah muda. Jika meminjam qaidah usul fiqh "dar-ul mafasid muqaddamun min jalbil mashalih (menghindari kerusakan lebih prioritas ketimbang menarik kemanfaatan)" maka mempersiapkan dengan matang apa yang akan menjadi bekal rumah tangganya kelak, lebih utama daripada beranda-andai akan bahagia ketika sudah berumah tangga. Karena, keberlangsungan dan masa depan rumah tangga kita, kita sendirilah yang akan menentukannya.

Kesimpulannya, betulkah menikah muda adalah dorongan agama? Atau hanya opini sebagian pihak yang dikontruksi melalui media sosial? Semoga kita semakin arif dan bijak dalam menyikapi dunia maya tanpa mengenyampingkan kehidupan nyata.

Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Komunikasi Fakultas Dakwah Dan Komunikasi UIN SGD Bandung



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kajian Islam Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 20 Desember 2017

Prihatin Peredaran Narkoba di Jombang, Polisi Dekati Madrasah

Jombang, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Akhir-akhir ini peredaran narkoba bahkan Napza atau narkotika, psikotropika, dan zat adiktif telah merambah banyak lapisan masyarakat termasuk pelajar. Di Jombang, pengguna bahan berbahaya ini terbilang tinggi. Mereka juga termasuk di dalamnya adalah kalangan pelajar.

"Data terakhir yang kami peroleh pada September 2015, pecandu narkoba menurut profesi pekerja swasta menempati posisi pertama dengan 53 orang," kata Kapolsek Jombang Kota AKP Yudiono, Selasa (10/2).

Prihatin Peredaran Narkoba di Jombang, Polisi Dekati Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)
Prihatin Peredaran Narkoba di Jombang, Polisi Dekati Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)

Prihatin Peredaran Narkoba di Jombang, Polisi Dekati Madrasah

Data ini disampaikan Yudiono saat melakukan kunjungan silaturahmi di Madrasah Aliyah Unggulan Wahab Hasbullah (MAU WH) di kawasan Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Angka berikutnya adalah mahasiswa dengan jumlah 20 orang, kemudian 15 pelajar, pengangguran 10 orang, serta 2 TNI, lanjutnya di hadapan para ustadz dan ratusan pelajar madrasah setempat.

Karena tingginya pelajar yang mengonsumsi obat berbahaya tersebut, Yudiono mengingatkan bahwa para siswa dan siswi adalah calon penerus bangsa. Karena itu sejumlah pertimbangan harus dilakukan agar tidak terjerumus pada kegiatan yang tidak menguntungkan di masa depan.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Tahan semua keinginan semu seperti merokok dan berpacaran," terangnya. Karena perbuatan tersebut tidak akan membawa manfaat, lanjutnya.

Ia juga mengajak para pelajar di madrasah ini untuk bangga terhadap orang yang telah membesarkan dan mendidik dengan baik, yakni orang tua di rumah, kiai di pesantren, serta guru di madrasah.

"Banggakan lah almamater yakni madrasah, pondok serta orang tua," tegasnya.

Sukses, menurutnya, sangat bergantung pada diri sendiri, bukan orang lain. "Sukses ada di tangan diri kalian sendiri," ungkapnya.

Kepala MAU WH Ustadz Faizun yang menerima langsung Kapolsek Jombang Kota mengemukakan bahwa kegiatan seperti ini telah dilakukan beberapa kali. "Ini adalah tahun ketiga kita mengadakan kegiatan bekerja sama dengan jajaran TNI atau Polri," ungkap alumnus pascasarjana Universitas Islam Malang (Unisma) ini.

Ratusan siswa dan siswa MAU WH mengikuti dengan seksama kegiatan yang berlangsung di aula madrasah setempat sejak jam 9 pagi. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kajian Islam, Hadits, News Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 10 Desember 2017

Komunitas Santri Gus Dur Kupas Pemikiran Sang Guru Selama Ramadhan

Yogyakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Para aktivis sekolah pemikiran Gus Dur Yogyakarta yang menyebut dirinya "Santri Gus Dur" ini selalu mengkaji pemikian-pemikiran Gus Dur. Bersama Jaringan Gusdurian Yogyakarta, mereka pada Ramadhan mengadakan kajian pemikiran Gus Dur dengan tajuk “Ngabuburit Gus Dur”. Selama 20 hari pertama dari bulan Ramadhan, mereka mengaji bersama.

Komunitas Santri Gus Dur Kupas Pemikiran Sang Guru Selama Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Komunitas Santri Gus Dur Kupas Pemikiran Sang Guru Selama Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Komunitas Santri Gus Dur Kupas Pemikiran Sang Guru Selama Ramadhan

"Gus Dur memang sudah wafat, tetapi gagasan dan pemikirannya tidak akan pernah usang dan selalu genuine untuk diperbincangkan. Hal itu terlihat dari antusiasnya peserta diskusi ngabuburit Gus Dur yang terdiri dari banyak kalangan," kata Koordinator Ngabuburit Gus Dur Mohammad Autad, Sabtu (11/7).

Peserta diskusi ini, menurutnya, berasal dari berbagai kalangan dan latar belakang. Ada yang memang awam dalam mengenal Gus Dur, sehingga ia penasaran dan ingin mengkaji gagasannya. Ada pula peserta diskusi adalah fans berat Gus Dur. Mereka ini sudah banyak melahap pemikiran Gus Dur melalui literasi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Seperti halnya pesantren-pesantren pada umumnya ketika puasa tiba, ada semacam tradisi ngaji pasanan. Ngaji pasanan merupakan tradisi di pesantren yang masih mengakar kuat sampai sekarang. Kami selaku murid dan santri dari Gus Dur ingin menggali pemikirannya secara lebih ala pasanan di pesantren. Para pemantik diskusi pun dari alumni Kelas Pemikiran Gus Dur Yogyakarta yang kemudian tergabung dalam Komunitas Santri Gus Dur," ujar Autad, Alumni Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Autad menerangkan bahwa dalam Ngabuburit Gus Dur itu ada 20 tema besar yang dikupas. "Tema diskusi mulai dari membicarakan Gus Dur di Mata Perempuan, Gus Dur dan Islam Nusantara serta gagasannya tentang Negara Islam itu bagaimana, ada juga tentang Gus Dur dan Geo Politik Luar Negeri, karena tentu kita tahu apa saja sebenarnya tujuan dari Gus Dur selama menjabat sebagai presiden berkeliling ke 80 negara selama 22 bulan, hingga ditutup dengan sebuah epilog yang mengangkat tema Spiritualisme Gus Dur," jelas Autad.

Ia berharap Ramadhan tahun depan Ngabuburit Gus Dur bisa terselenggara lagi. “Acara Ngabuburit Gus Dur dan acara Jaringan Gusdurian Yogyakarta selama bulan Ramadhan ditutup dengan khataman bersama," ungkapnya. (Nur Sholikhin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kajian Islam, Warta, Jadwal Kajian Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 03 Desember 2017

Wagub Jabar Apresiasi Kiprah NU Care-Lazisnu

Sukabumi, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Wakil Gubernur Jawa Barat Dedy Mizwar mengapresiasi pengelolaan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) yang melayani warga Desa Nanggerang Kecamatan Cicurug, Sukabumi. Dedy menyampaikan hal ini dalam menjawab pertanyaan Pondok Pesantren An-Nur Slawi sesaat setelah membuka Workshop ‘Asistensi Manajemen ZIS’ di Pondok Pesantren Global Insani Mandiri (GIM), Sukabumi, Jumat (3/2) pagi.

“Ada hal menarik dari pengelolaan ZIS di Sukabumi ini yang dimulai dari tingkat desa. Betul-betul peran dan fungsi ZIS ini sangat luar biasa. Apabila ada warga yang mengalami kesulitan, pengurus sudah dekat dengan masyarakat, sehingga dapat mengatasi kesulitan warganya” kata Dedy.

Wagub Jabar Apresiasi Kiprah NU Care-Lazisnu (Sumber Gambar : Nu Online)
Wagub Jabar Apresiasi Kiprah NU Care-Lazisnu (Sumber Gambar : Nu Online)

Wagub Jabar Apresiasi Kiprah NU Care-Lazisnu

Menurut Wagub, sisi positif dari pengelolaan ZIS di Cicurug adalah sampai tahap pemanfaatan yang tepat sasaran.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Kalau ini terus dikembangan dengan penuh kesadaran, generasi yang akan datang hanya memakan apa yang menjadi haknya,” lanjut Wagub.

Sisi baik lainnya adalah ukhuwah (persatuan) yang juga digerakkan. Ukhuwah tersebut dijalankan dengan sesama umat Islam maupun umat Islam dengan non-Islam. Ukhuwah juga akan membentuk toleransi yang nyata dan semakin meningkatkan kualitas.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ketiga, adalah pada pemberdayaan ekonomi masyarakat. Dalam pemanfaatan ZIS untuk persoalan ekonomi, ada data di masyarakat siapa yang membutuhkan dan perlu dibantu. Bantuan hendaknya dalam pengembangan ekonomi (modal usaha), sehingga generasi muda juga terdorong menjadi entrepreneur. Keutamaan menjadi pengusaha juga ditegaskan dalam ajaran agama Islam.

Sebelumnya, Wagup menegaskan zakat merupakan satu dari lima pondasi utama bangunan keislaman, sehingga hal tersebut menjadikan zakat sebagi instrumen penting dalam membagun tatanan kehidupan yang kokoh. Berbagi, kepedulian, dan solidaritas di antara sesama merupakan pelajaran penting yang terkandung dari disyariatkannya zakat.

Selain membuka workshop, Wagub juga melakukan peluncuran buku Membumikan Sedekah; Belajar dari Cicurug Sukabumi. Buku yang ditulis secara kolaboratif oleh Direktur NU Care-Lazisnu Syamsul Huda, Direktur Fundraising NU Care-Lazisnu Nur Rohman, dan Amin Santosa ini mengupas tata kelola ZIS di Sukabumi sejak awal pendirian hingga kiprah yang dijalankan sampai saat ini. (Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Olahraga, Pahlawan, Kajian Islam Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 14 November 2017

Mahasiswa yang Santri dan Santri yang Mahasiswa, Itulah Tekad KMNU

Bandarlampung, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ketua Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Universitas Lampung Ahmad Nurfuadi, Selasa (31/5) mengatakan bahwa KMNU Unila bertekad siap menjadikan mahasiswa di Universitas Lampung menjadi mahasiswa yang memiliki jiwa santri.?

Mahasiswa yang Santri dan Santri yang Mahasiswa, Itulah Tekad KMNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa yang Santri dan Santri yang Mahasiswa, Itulah Tekad KMNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa yang Santri dan Santri yang Mahasiswa, Itulah Tekad KMNU

"Jadilah mahasiswa yang santri dan santri yang mahasiswa," tegasnya.

Fuad -begitu Ia biasa dipanggil- menambahkan bahwa eksistensi KMNU di Universitas Lampung salah satunya adalah sebagai wadah untuk mengupayakan para mahasiswa dalam mempertahankan amaliyah-amaliyah Ahlussunnah wal Jamaah.?

"Banyak mahasiswa Unila yang berlatar belakang pesantren dan dari pedesaan. Ini perlu kita wadahi sehingga amaliyah amaliyahnya dapat terus diamalkan," ujar mahasiswa berkacamata ini.

Menurutnya amaliyah shalawatan, yasinan dan tahlilan harus dibudayakan di lingkungan kampus Unila kepada para mahasiswa terutama yang baru masuk. Oleh karenanya Ia mengajak kepada seluruh mahasiswa Muslim di Unila untuk bergabung dengan KMNU untuk bersama sama mensyiarkan NU di universitas nomor satu di Lampung tersebut.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Beberapa program kegiatan KMNU pada tahun 2016 dijelaskan langsung oleh alumni Pondok Pesantren Madinatul Ilmi Pagelaran Pringsewu ini. "Kalau kalian kangen suasana kampung dan pesantren, kita sudah memprogramkan ngaji bareng kajian kitab Alala, Safinatun Najah, Fiqh Wanita dan sebagainya," jelasnya.

Selain itu menurutnya KMNU Unila juga rutin mengadakan Majelis Shalawat Albarzanji dan silaturahmi ke kiai serta pondok pesantren di Provinsi Lampung sekaligus ziarah ke makam para ulama. Hal ini dilakukan untuk lebih mendekatkan diri kepada para ulama dan berharap barakah ilmunya.

Lebih lanjut, Mahasiswa Jurusan Fisika Alumni MAN 1 Pringsewu ini memberitahukan kepada para mahasiswa yang akan bergabung dengan KMNU Unila untuk mendaftar terlebih dahulu dengan mengirim SMS ke nomor 085769637883 dengan mengetik format Nama_Jurusan_Angkatan. "Ayo Nyantri di Kampus. Ayo Gabung KMNU," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Mukafi Niam)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kajian Islam, IMNU Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 13 Oktober 2017

Bunyi Gamelan Penanda Sekaten Dimulai

Solo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Ditabuhnya gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari milik Keraton Kasunanan Surakarta, menandai dibukanya prosesi Sekaten 2014. Prosesi yang juga dikenal dengan Ungeling Gangsa Sekaten itu digelar di bangsal selatan dan utara kawasan Masjid Agung Surakarta, Selasa (7/1).

Bunyi Gamelan Penanda Sekaten Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)
Bunyi Gamelan Penanda Sekaten Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)

Bunyi Gamelan Penanda Sekaten Dimulai

Sebelumnya gamelan tersebut dikirab beserta gending-gending di halaman Masjid Agung Solo. Kirab yang menempuh rute Keraton hingga Masjid Agung Solo diakhiri dengan acara tabuhan gamelan, yang menandai dimulainya rangkaian perayaan Sekaten.

“Gamelan ini menandakan dimulainya peringatan kelahiran Nabi Muhammad saw. dan yang dibunyikan itu Kyai Guntur Madu. Ini akan dibunyikan selama tujuh hari berturut-turut sampai puncaknya, Selasa mendatang,” terang KGPH Puger di sela-sela acara.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurutnya, gending yang ditabuh ialah Rambu dan Rangkung yang wajib ditabuh pada di awal. Rambu dan Rangkung itu berasal dari bahasa arab, robuna dan rakhuna yang artinya perbuatan baik dan tidak baik. “Gamelan ini ada sejak Sultan Agung atau zaman Paku Buwana (PB) IV,” jelasnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Wakil Pengageng Sasana Wilapa, KP Winarno Kusumo mengatakan gamelan akan dibunyikan selama tujuh hari dan hanya akan berhenti saat datang waktu salat.

“Dalam hajatan kali ini tidak semata sekadar gothak gathik gathuk saja, tapi setiap prosesi dilandasi dengan ajaran dan falsafah hidup mendalam dari para leluhur yang tidak bertentangan dengan ajaran agama yang ada,” ungkapnya. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kajian Islam Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 04 Oktober 2017

Gelar Raker, STAINU Jakarta Bahas Upaya Pengembangan Kampus

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta menyelenggarakan Rapat Kerja (Raker) 2017 di lantai 5 Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (19/1).

Ketua Badan Pelaksana Penyelenggara Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (BP3TNU) DKI Jakarta H Marzuki Usman dalam sambutannya menyampaikan, agar para pengelola STAINU punya mimpi.?

Gelar Raker, STAINU Jakarta Bahas Upaya Pengembangan Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)
Gelar Raker, STAINU Jakarta Bahas Upaya Pengembangan Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)

Gelar Raker, STAINU Jakarta Bahas Upaya Pengembangan Kampus

Sebagaimana kata Eleanor Roosevelt, kutipnya, bahwa masa depan adalah milik mereka yang percaya pada keindahan mimpi-mimpi mereka. “Saya ingin kampus STAINU ada di 420 kabupaten,” katanya.

Pada kesempatan tersebut, Marzuki juga menekankan agar STAINU Jakarta mampu mengisi dunia. “Kita harus kerja keras, kita harus mengisi dunia,” tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua STAINU Jakarta H Syahrizal Syarif menginformasikan akan adanya tambahan dua fakultas lagi di STAINU Jakarta, yaitu Fakultas Humaniora dan Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sebagai lembaga pendidikan yang masih berusia muda, Syahrizal berharap tahun ini STAINU Jakarta mendapat apa yang menjadi kebutuhan kampus sehingga bisa dikembangkan lebih bagus lagi.

STAINU dengan motto Unggul, Tangguh, dan Populis mempunyai karakter tersendiri, yaitu kewirausahaan. “Kita punya karakter kewirausahaan, kita harus mampu,” jelasnya.?

Hadir dalam kesempatan Raker tersebut Katib Syuriyah PBNU KH Mujib Qulyubi, Wakil Ketua I STAINU Imam Bukhori, Wakil Ketua II Arif Rahman, Wakil Ketua III Ahmad Nurul Huda, dan Wakil Ketua IV Aris Adi Leksono.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Di samping itu hadir juga Kepala Program Studi (Kaprodi) PAI Dede Setiawan, Kaprodi Ahwalul Syakhsiyah Irfan Hasanuddin, Kaprodi Perbankan Syariah Khairunnisa, perwakilan Pascasarjana STAINU Jakarta Idris Masudi, dan beberapa dosen. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Internasional, Kajian Islam Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 03 September 2017

5000 Pramuka Santri Pecahkan Rekor MURI Indonesia

Tanah Laut, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Sekitar lima ribu pramuka santri dari seluruh Indonesia tingkat penegak melakukan aksi pemecahan rekor MURI berupa “Konfigurasi Madihin dengan Jumlah Peserta Terbanyak”. Aksi itu dilakukan dalam Upacara Pembukaan Perkemahan Pramuka Santri Nusantara IV (PPSN) di Bumi Perkemahan Agrowisata, Tambang Ulang, Tanah Laut, Kalimantan Selatan (2/6).

Madihin merupakan kesenian musik khas dari Kalimantan Selatan dalam bentuk pelantunan lagu/syair yang berisi pujian dan pesan penting tentang sejarah dan nilai-nilai nasionalisme, patriotisme, serta semangat kebersamaan Santri Bela Negara di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

5000 Pramuka Santri Pecahkan Rekor MURI Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
5000 Pramuka Santri Pecahkan Rekor MURI Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

5000 Pramuka Santri Pecahkan Rekor MURI Indonesia

“Kami memilih Madihin ini untuk mendorong dan menumbuhkembangkan kesadaran pelastarian seni budaya di kalangan anak muda, khususnya santri,” ujar Mardani Zuhri, Koordinator kegiatan dan Perkemahan Pramuka Santri Nusantara IV (PPSN) yang juga menjabat sebagai Andalan Nasional Gerakan Pramuka Kwarnas dalam rilis yang dikirimkan ke Pondok Pesantren An-Nur Slawi.  

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Secara teknis, pemecahan rekor MURI Madihin ini dilakukan secara kolosal diiringi music dan tarian, dengan melibatkan seluruh peserta, panitia, pendamping, dan pimpinan kontingen daerah yang datang dari 33 provinsi di Indonesia. 

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dalam pidato sambutannya, Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifudin sangat mengapresiasi terlaksananya kegiatan kemah santri yang digelar setiap tiga tahun sekali ini.  

“Santri dan pramuka merupakan kombinasi identitas yang sangat pas.  Dari situ, alhamdulillah, banyak nilai dan ilmu yang ketika kita terjun di masyarakat manfaatnya sangat luar biasa,” ujar Lukman. 

Sementara itu, Wakil Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Marbawi A Katon, mengingatkan agar para pramuka santri ini bisa lebih meningkatkan kepedulian dan kehadirannya guna merespons berbagai musibah dan masalah sosial yang terjadi di masyarakat. 

“Saat ini banyak musibah dan masalah yang mendera bangsa ini. Saya berharap, di tangan kalianlah semua masalah itu bisa diselesaikan!” tandasnya. Red: mukafi niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi AlaSantri, Makam, Kajian Islam Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rabu, 28 Juni 2017

Menyingkap Berkah Kabah

Orang yang mengetahui sejarah Kabah tak akan membantah bahwa dari sembilan keajaiban dunia, Baitullah (rumah Allah) adalah tempat yang paling ajaib. Bangunan berukuran 12,84 meter (sisi timur laut), 12,11 meter (sisi barat daya), 11, 28 meter (sisi barat laut), dan 11,53 meter (sisi tenggara) itu, menyedot perhatian banyak orang. Bahkan pemerintah negara-negara Muslim mencurahkan perhatian khusus, dan sudah berlangsung dari masa ke masa.

Lembah tandus, sempit --tidak lebih dari 700 langkah pada awalnya-- dengan dikelilingi gunung cadas dan tidak ditumbuhi pepohonan, sebelum kedatangan Nabi Ibrahim dan Ismail jauh dari hiruk pikuk manusia. Tak ada aktivitas manusia, bahkan burung-burung pun enggan hinggap di lembah tersebut karena memang untuk mendapatkan air saja sangat sulit.

Menyingkap Berkah Kabah (Sumber Gambar : Nu Online)
Menyingkap Berkah Kabah (Sumber Gambar : Nu Online)

Menyingkap Berkah Kabah

Saat ini, tanah tandus itu gemerlap. Menyaksikan kemegahan Mekah sekarang sulit membayangkan kesulitan Siti Hajar saat mondar-mandir mencari air untuk sekadar diminum, setelah bekal untuk Ismail habis. Kini, lembah tersebut menjadi kota padat, setiap harinya didatangi banyak umat manusia dari berbagai belahan dunia.

Kota Mekah setiap tahunnya didatangi sekitar 7-8 juta orang (hlm. 117). Jumlah kunjungan tiap tahunnya terus mengalami tren peningkatan, sehingga harus dibatasi. Rasanya belum ada satu pun kota di dunia yang menyamai Mekah dan Madinah dalam kunjungan orang asing tiap tahunnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kementerian Urusan Haji dan Umrah Arab Saudi mencatat, pada tahun 2012, jumlah jemaah haji saja yang mendatangi dua kota tersebut sekitar 2,9 juta orang. Rilis tersebut meningkat drastis dari tahun-tahun sebelumnya. Jemaah umrah lebih tinggi lagi. Selama bulan Ramadhan 1433 H saja mencapai 4,8 juta (hal. 117).

Banyaknya pengunjung dari berbagai belahan dunia memberikan berkah ekonomis pada pemerintah dan warga yang tinggal di Mekah, Madinah dan sekitarnya seperti Jeddah. Dalam kurun waktu 2004-2005 saja, Kepala Komisi Transportasi, Kamar dan Industri Arab Saudi menyebutkan angka sekitar 30,6 miliar Riyal (Rp. 76,5 triliun) devisa yang diperoleh dalam kurun waktu 2004-2005. Dalam setiap tahunnya, devisa yang masuk terus meningkat (hal. 118).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Hal ini tentu tidak lepas dari doa yang dipanjatkan Nabi Ibrahim saat melepas istri dan putranya, Siti Hajar dan Ismail, di tanah yang tidak memiliki tanam-tanaman itu. Allah mengabadikan doa Nabi Ibrahim dalam Al Quran Surah Ibrahim (14): 37.

Untuk meningkatkan pelayanan jemaah haji dan umrah yang terus membludak dibutuhkan banyak investasi. Guru besar ekonomi Saudi Fahd al-Andeejani menyatakan, investasi di bidang jasa akan lebih banyak lagi menyerap tenaga kerja. Saat ini yang sudah berjalan layanan penyediaan air Zamzam (hal. 119).

Arab News mencatat, sektor jasa penyediaan air Zamzam menyerap ribuan tenaga kerja. Belum lagi sektor jasa lainnya seperti menginapan dan katering yang menghasilkan keuntungan hingga 3 miliar riyal atau sekitar Rp7,5 trilian. Sementara sektor transportasi diperkirakan meraup keuntungan hingga 5 miliar Riyal atau Rp. 12,5 triliun. Belum lagi suvenir seperti sajadah, karpet, parfum dan perhiasan (hal. 119-120).

Peluang besar ini tampaknya terendus hingga ke Indonesia. Hingga saat ini, masyarakat yang kesulitan mengakses pekerjaan di negeri ini menjadikan Arab Saudi sebagai negara tujuan utama mencari nafkah, sekalipun ada banyak TKW yang mengalami perlakuan tidak manusiawi. Pemilihan negeri para nabi sebagai tempat TKI terbanyak selain Malaysia bukan semata karena upah.

Selain karena upah yang lumayan besar, tenaga kerja lebih memilih Arab Saudi sebagai tempat mencari nafkah karena keuntungan yang diperoleh tidak semata berorientasi dunia. TKI tidak hanya memperoleh uang tapi sekaligus bisa menyempurnakan rukun Islam yang kelima, menunaikan umrah atau haji, yang tidak ditemukan di negara lain.

Buku Sejarah Kabah yang ditulis Guru Besar Sejarah Islam Universitas Ain Shams, Kairo, Mesir, Prof. Dr. Ali Husni al-Kharbuthli, menjawab 1001 pertanyaan seluk beluk bangunan Kabah, dari masa ke masa.

Dengan bahasa bertutur yang cukup baik, tidak seperti literatur sejarah pada umumnya yang cenderung menoton dan membosankan, dalam buku setebal 361 itu dikupas aspek agama, politik, ekonomi dan sosial yang mengiringi bangunan Kabah yang tetap berdiri kokoh tak lapuk dimakan zaman.

Penerbit Turos Pustaka menyisipkan hasil kajian ilmiah tentang Ka’bah. Juga dilengkapi panduan haji dan umrah. Wallahu a’lam.

Judul: Sejarah Kabah

Penulis: Prof Dr. Ali Husni al-Kharbuthli

Penerbit: Turos Pustaka

Terbitan: Ketiga, September 2013

Tebal: 364 halaman

ISBN: 978-602-99414-9-4

Peresensi: M. Kamil Akhyari, Guru SMPI Nurul Ishlah dan SMK Nurul Huda, Kecamatan Bluto Sumenep. Alumni Fakultas Ushuluddin, Instika.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Fragmen, Lomba, Kajian Islam Pondok Pesantren An-Nur Slawi