Selasa, 26 Desember 2017

Bahtsul Masail NU Memberi Warna Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Purwakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Forum Bahtsul Masail atau pembahasan sebuah persoalan yang mendasarkan pada kitab-kitab rujukan ulama klasik atau kitab kuning menjadi tradisi Nahdlatul Ulama (NU) sejak lama. Bahkan, Bahtsul Masail yang membahas berbagai permasalah kehidupan telah mewarnai jalannya kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bahtsul Masail NU Memberi Warna Kehidupan Berbangsa dan Bernegara (Sumber Gambar : Nu Online)
Bahtsul Masail NU Memberi Warna Kehidupan Berbangsa dan Bernegara (Sumber Gambar : Nu Online)

Bahtsul Masail NU Memberi Warna Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Hal itu disampaikan oleh Koordinator Bahtsul Masail Musyarawarah Nasional dan Konferensi Besar NU 2017 KH Mujib Qulyubi saat memberikan sambutan pembukaan Pra Munas dan Konbes NU di Pesantren Al-Muhajirin 3 Purwakarta, Jawa Barat, Jumat (10/11).

Dalam kegiatan yang dihadiri oleh Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi ini, Kiai Mujib menjelaskan ketika NU menggelar Bahtsul Masail pada Muktamar NU tahun 1936 di Banjarmasin. NU secara tegas merumuskan bentuk negara yang mengakomodasi kehidupan bersama, yaitu negara bangsa.

“Bukan negara Islam maupun negara sekuler tetapi negara yang berdasarkan nilai-nilai agama,” ujar Kiai Mujib.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pra Munas yang mengambil tema Mencari Jalan Keluar Kesenjangan Ekonomi dan Radikalisme Agama ini, Wakil Rektor UNU Indonesia ini juga menjelaskan, tradisi Bahtsul Masail menunjukkan bahwa NU mendasarkan diri pada metodologi pengambilan hukum Islam yang tidak instan.

“Saat ini tidak sedikit yang menyampaikan sesuatu yang seolah benar padahal itu adalah sebuah kebatilan. Misal jargon kembali pada Al-Qur’an dan Sunnah. Ternyata mereka memahaminya hanya dari terjemahan,” ungkapnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Proses pengambilan hukum hanya bersandar dari terjemahan Al-Qur’an dan Sunnah tidak hanya berdampak pada kesempitan dalam berpikir, tetapi juga menjauhkan diri antara guru dengan muridnya, santri dengan kiainya, dan ulama dengan umatnya.

Bahtsul Masail Pra Munas dan Konbes ini meliputi Bahtsul Masail Waqi’iyah (problem tekini), Bahtsul Masail Maudluiyah (tematik), dan Bahtsul Masail Qonuniyah (perundang-undangan).

Dalam kesempatan pembukaan ini, hadir Ketua SC Munas dan Konbes NU KH Mustofa Aqil Siroj,Rais Syuriyah PWNU Jawa Barat KH Abun Bunyamin, Ketua PWNU Jawa Barat KH Hasan Nuri Hidayatullah, Ketua Lakpesdam PBNU Rumadi Ahmad, Ketua PP ISNU Ali Masykur Musa, Wakil Ketua LBM PBNU KH Abdul Moqsith Ghazali, dan tokoh-tokoh lainnya. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Nahdlatul Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar