Sabtu, 21 Mei 2016

Sekjen PBB Sebut Pemukiman Israel Sebagai “Tindakan Provokatif”

PBB, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon mengecam kegiatan permukiman Israel sebagai "tindakan provokatif" yang memunculkan pertanyaan tentang komitmen Israel pada solusi dua-negara di tengah meningkatnya rasa frustrasi rakyat Palestina akibat pendudukan selama hampir 50 tahun.

Sekjen PBB Sebut Pemukiman Israel Sebagai “Tindakan Provokatif” (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekjen PBB Sebut Pemukiman Israel Sebagai “Tindakan Provokatif” (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekjen PBB Sebut Pemukiman Israel Sebagai “Tindakan Provokatif”

Rakyat Palestina menginginkan suatu negara merdeka di Tepi Barat, Gaza dan Yerusalem Timur, wilayah-wilayah yang direbut Israel dalam perang 1967.

Putaran terakhir pembicaraan damai gagal pada April 2014 dan kekerasan antara Israel-Palestina telah melonjak dalam beberapa bulan terakhir.

Israel menegaskan pada Kamis bahwa akan mencadangkan sebidang tanah luas yang subur di Tepi Barat, dekat Yordania, tempat Israel telah mempunyai banyak peternakan di permukiman yang dibangun di atas tanah yang akan dijadikan wilayah negara oleh Palestina.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ban juga mengatakan ia "sangat terganggu" dengan laporan bahwa pemerintah Israel yang telah menyetujui rencana pembangunan lebih dari 150 unit rumah baru di "permukiman ilegal di Tepi Barat yang diduduki".

"Tindakan provokatif ini akan meningkatkan pertumbuhan populasi pemukim, lebih lanjut meningkatkan ketegangan dan merusak setiap prospek untuk langkah politik ke depan," kata Ban dalam Pertemuan Dewan Keamanan PBB di Timur Tengah.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Kegiatan permukiman yang terus berlanjut merupakan penghinaan terhadap rakyat Palestina dan masyarakat internasional. Kegiatan itu benar-benar menimbulkan pertanyaan mendasar tentang komitmen Israel pada solusi dua-negara," ujar Sekjen PBB seperti dilansir kantor berita Reuters.

Ban mengatakan rasa frustrasi terus meningkat di kalangan warga Palestina.?

Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB Samantha Power mengatakan bahwa Washington sangat menentang aktivitas permukiman.

"Langkah-langkah yang bertujuan memajukan program permukiman Israel ... tidak sesuai dengan solusi dua negara dan menimbulkan pertanyaan legal tentang niat jangka panjang Israel," kata Power kepada Dewan Keamanan PBB.

Menurut data statistik pemerintah dan pusat kajian Israel, sekarang ini ada sekitar 550.000 pemukim Yahudi yang tinggal di Tepi Barat dan Yerusalem Timur.

Sementara itu, sekitar 350.000 warga Palestina tinggal di Yerusalem Timur dan 2,7 juta lainnya di Tepi Barat.

Kepala delegasi Palestina di PBB Riyad Mansour menyerukan Dewan Keamanan PBB mengambil tindakan terhadap permukiman Israel.

"Tindakan itu harus melibatkan langkah-langkah dari semua negara dan seterusnya tidak memberikan bantuan agar dapat membuat Israel mempertanggungjawabkan tindakannya," kata Mansour kepada Dewan Keamanan PBB.

Utusan Israel untuk PBB Danny Danon menuduh Dewan Keamanan bersifat "munafik" karena telah mengutuk "serangan teroris" yang dilakukan di tempat lain di dunia tetapi tidak di Israel. Namun, dia tidak membahas tentang permukiman Israel.

"Jalan menuju perdamaian memang panjang dan sulit, tetapi Israel berkomitmen untuk melakukan setiap upaya," ujar Danon kepada Dewan Keamanan PBB.(Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Olahraga Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 15 Mei 2016

Jelang Ramadhan, Santri Pesantren Salafiyah Parappe Ziarahi Makam Kiai

Polewali Mandar, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Menjelang libur Ramadhan, Pondok Pesantren Salafiyah Parappe Campalagian Polewali Mandar Sulawesi Barat mengadakan beberapa rangkaian kegiatan, diantaranya berziarah ke makam beberapa kiai yang ada kecamatan Tinambung, Pambusuang dan Campalagian, Ahad (31/5).

Kegiatan ini di ikuti oleh seluruh santri, beserta para staf pengajar dan majelis keluarga Pondok Pesantren Salafiyah Parappe. Busyra salah seorang staf pengajar menyampaikan beberapa harapan dalam kegiatan ini bahwa berziarah ke makam ulama selain bernilai ibadah juga bagian dari tradisi pondok pesantren didalam mengenang jasa-jasa para kiai.

Jelang Ramadhan, Santri Pesantren Salafiyah Parappe Ziarahi Makam Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Ramadhan, Santri Pesantren Salafiyah Parappe Ziarahi Makam Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Ramadhan, Santri Pesantren Salafiyah Parappe Ziarahi Makam Kiai

“Berkah dari para ulama khususnya ulama pendahulu kita yang ada di tanah mandar yang mengajarkan Ilmu agama secara turun temurun kepada generasinya  sehingga Pondok pesantren ini tetap eksis di dalam mengajarkan Islam yang tafaqquh fid-din,” katanya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Rombongan pondok pesantren yang di bawah Asuhan KH Abd. Latif Busyra mengawali Tournya dengan mengunjungi makam KH Muhammad As’ad (Puang Daeng) di Tinambung, selanjutnya KH Nahrawi di Monjopai Karama lalu kemudian beberapa makam kiai di Pambusuang dan menghiri ziarahnya di makam KH Muhammad Tahir (Imam Lapeo).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Syamsul, salah seorang santri yang berasal dari kepulauan selayar juga menyampaikan beberapa harapan dari kegiatan. “Kami sebagai seorang santri berharap dari kegiatan ini ada berkah yang kami peroleh dari para kiai penduhulu kami agar kami bisa meneruskan perjuangan beliau di dalam mengajarakan dan mengamalkan Islam Ahlussunnah wal Jamaah,” ujarnya.

Berziarah ke makam para kiai  pondok pesantren yang dikenal eksis mempertahankan kajian kitab turats atau lebih akrab dikenal dengan pengajian kitab kuning berangkat dengan menggunakan bis bantuan dari pemerintah Kecamatan Campalagian dan beberapa Donatur lainnya dengan jumlah peserta yang ikut mencapai 500 an, dalam perjalan dikawal oleh Kepolisian Polsek Campalagia. (Busyra/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Sholawat, Pahlawan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 13 Mei 2016

Banser Ponorogo Perhatikan Budaya

Ponorogo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Seakan tidak mau kalah dengan “Konsorsium” PAC GP Asor Pulung, Pudak, Sooko yang sukses menggelar Diklatsar Banser di Pudak pertengahan November 2012, “Duo” PAC GP Ansor Sukorejo dan Sampung menyelenggarakan kegiatan serupa. 

Banser Ponorogo Perhatikan Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Ponorogo Perhatikan Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Ponorogo Perhatikan Budaya

Diklatsar Banser kali ini dilaksanakan di Pesantren Nurul Hikmah Nambangrejo Sukorejo Ponorogo pada tanggal 2-6 Januari 2013. Menurut panitia Syamsul Ma’arif, pihak panitia tidak hanya menyelenggarakan Diklatsar Banser saja, tetapi diadakan kegiatan pendukung, yaitu pawai budaya dan Haul Gus Dur. Kegiatan ini juga dimaksudkan sebagai implementasi program kerja PC GP Ansor Ponorogo bidang olahraga dan kebudayaan.

“Mumpung sahabat-sahabat PAC semangat, kita usulkan supaya pembukaan Diklatsar dihiasi pawai budaya dan penutupannya diisi dengan Haul Gus Dur. Kebetulan PC juga punya program pelestarian budaya. Jadi macth nantinya,” Kata Syamsul Maarif.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pria yang juga menjadi Sekretaris PC GP Ansor ini juga menjelaskan, pawai budaya dimeriahkan dengan kesenian khas Ponorogo, Gajah-gajahan dan parade hadrah yang di Ponorogo akrab disebut dengan istilah “Kencrengan”. Group hadrah yang tampil adalah IPNU-IPPNU di wilayah Kecamatan Sukorejo dan Sampung. 

Panitia juga menampilkan drumband dengan lagu-lagu islami. Tiga group drumband meramaikan acara, yaitu SDN 1 Nambangrejo, MIN Lengkong Sukorejo dan Mts Al-Azhar Carangrejo Sampung. 110 Peserta Diklatsar Banser ditambah 70 alumni Diklatsar Banser di Pudak ikut berjalan kaki mengiringi pawai budaya. Acara pembukaan semakin semarak dengan hadirnya Kapolres, Dandim 0802 dan Bupati Ponorogo, Bapak H. Amin, SH yang bertindak sebagai inspektur upacara.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Memanfaatkan momen Diklatsar Banser ini pihak Satkorcab Banser Ponorogo juga menggelar acara pembaretan alumni Diklatsar Banser di Pudak. Setelah mengikuti upacara pembukaan para alumni diajak jalan kaki memisahkan diri dari lokasi Diklatsar Banser. 

Di area perkebunan penduduk mereka mendapat briefing dari Idam Mustofa, Ketua PC GP Ansor Ponorogo dan Ahmad Subkhi, Kasatkorcab Banser Ponorogo. Prosesi pembaretan dilakukan secara simbolis dengan penyematan kabaret Banser diikuti dengan aksi mencium bendera Banser, Ansor dan merah putih. Menurut Ahmad Subkhi, aksi mencium bendera tersebut sebagai bentuk kecintaan pada organisasi dan NKRI.

“Bukan asal heroik, dengan aksi mencium bendera Banser, Ansor dan merah putih kami ingin menekankan bahwa tugas dan kewajiban anggota Banser adalah mengembangkan organisasi dalam rangka membela tanah air. Kami berharap ketika mencium bendera, para anggota bisa meresapi rasa cinta pada NKRI melalui perjuangan Banser dan Ansor,” Kata Ahmad Subkhi.

Puncak acara Diklatsar Banser diisi dengan Haul Gus Dur dengan menampilkan Habib Ali bin Abdul Mutholib Assegaf dan Al-Ngatawi. Seakan bersepakat sebelumnya, kedua orang dekat Gus Dur semasa hidupnya ini dalam tausyiahnya mengajak audiens untuk menyadari bahwa Indonesia masih dipenuhi dengan kedzaliman. 

Kontributor: M. Wakhid 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ulama, Anti Hoax, Sholawat Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 02 Mei 2016

Jamaah Banjiri Haul KH Masum Tanahbaru

Bogor, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Peringatan Haul ke-36 KH Ma’sum Tanahbaru yang dipusatkan di komplek Pesantren Al-Ma’sumiyah, Kampung Sawah, Kelurahan Tanahbaru, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor, mendapatkan sambutan luas. Kegiatan ini dihadiri sekitar 500 jamaah dari berbagai penjuru Kota Bogor.

Pengasuh Pesantren Al-Ma’sumiyah KH Asep Saeful Ihsan kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi di Bogor, Selasa, mengatakan, haul yang diselengarakan pada Ahad (16/12) kemarin merupakan kegiatan yang dihelat setiap tahun untuk memperingati wafatnya KH Ma’sum, salah seorang tokoh ulama yang cukup disegani di Kota Bogor pada zamannya.

Jamaah Banjiri Haul KH Masum Tanahbaru (Sumber Gambar : Nu Online)
Jamaah Banjiri Haul KH Masum Tanahbaru (Sumber Gambar : Nu Online)

Jamaah Banjiri Haul KH Masum Tanahbaru

Saat hidupnya, KH Ma’sum dikenal sebagai tokoh pendidik, muballigh dan sangat aktif berkecimpung dalam pembinaan dan pemberdayaan masyarakat. Ia melahirkan banyak kiai dan ustad, yang tersebar di perkampungan Kecamatan Bogor Utara Kota Bogor, dan Kecamatan Babakanmadang serta Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Semasa hidupnya, KH Ma’sum dikenal sebagai sosok kiai ‘kampung’ yang ikhlas dan istikomah dalam berjuang, sederhana, dan dicintai masyarakat,” kata Asep yang juga aktif di Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Bogor.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Peringatan haul ke-36 KH Ma’sum dirangkai dengan pembacaan simtud duror, marhabanan, maulid nabi SAW (mahallul qiyam), tahlil dan tawassul. Kegiatan ini kian semarak dengan tampilnya tim marawis Nurul Hidayah (NH), sayap ekstra kurikuler yang dikembangkan Pesantren Al-Ma’sumiyah.

Selain dibanjiri ratusan warga sekitar dan kiai-kiai dari berbagai pesantren, kegiatan haul KH Maksum juga dihadiri para pemuka NU Kota Bogor. Tampak hadir pula Dr Ifan Haryanto MSc dari PP ISNU.

Ifan Haryanto mengemukakan, kegiatan haul, maulid nabi, dan tahlil merupakan modal sosial dan keunggulan yang membuat NU semakim membumi dalam kehidupan umat.

“Kegiatan haul maupun Maulid Nabi perlu terus dilestarikan sebagai kekayaan kultural NU, yang tidak dimiliki Ormas lainnya. Karena alasan inilah, NU selalu hadir dan dekat dengan kehidupan umat,” ungkap Ifan.

Oleh karena itu, Ifan Haryanto mengajak warga NU Kota Bogor agar terus aktif dalam membumikan ajaran-ajaran warisan ulama besar masa silam tersebut. Pasalnya saat ini banyak kekuatan asing yang secara sistematis menggugat dan membid’ahkan ajaran NU.

“Kita perlu terus merawat dan melestarikan ajaran-ajaran ahlus sunnah wal jamaah yang dibentengi NU melalui penguatan upacara keagamaan yang bersifat kultural dan pembumian kegiatan struktural jam’iyah yang lebih mencerdaskan dan memberdayakan,” paparnya.

Redaktur   : A. Khoirul Anam

Kontributor: Ahmad Fahir

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kiai, Halaqoh, Doa Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 30 April 2016

Melalui MIVO, ASWAJA TV Kini Hadir di Seluruh Dunia

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Aswaja TV sebagai salah satu channel dakwah Nahdliyin telah berhasil mengudarakan tayangannya hingga ke seluruh dunia. Melalui saluran live streaming channel Mico, Aswaja TV telah diakses oleh lebih dari seratus negara dengan kunjungan mencapai 45 juta perbulan. Indonesia menempati peringkat pertama dengan 27 persen dari seluruh kunjungan atau sekitar 12 juta pengunjung.

Melalui MIVO, ASWAJA TV Kini Hadir di Seluruh Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Melalui MIVO, ASWAJA TV Kini Hadir di Seluruh Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Melalui MIVO, ASWAJA TV Kini Hadir di Seluruh Dunia

Dukungan server di di beberapa negara serta teknologi yang dimiliki MIVO memungkinkannya menyiarkan live streaming Aswaja TV dengan kualitas gambar terbaik melalui Master Control Room TV. Selain Aswaja TV, Mivo juga menyiarkan menyiarkan 40 saluran TV lain dari berbagai negara seperti United Arab Emirates, Jerman, India dan lain-lain.

General Manager Program Aswaja TV, Syaifullah Amin menuturkan, dengan kehadiran MIVO di lebih dari seratus negara berarti siaran dakwah Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyyah dapat terpancar semakin luas dan menembus berbagai kalangan yang semakin beragam. Selain itu Aswaja TV juga dapat turut serta dalam mengenalkan dakwah dan ajaran Aswaja serta budaya masyarakat Islam Indonesia kepada seluruh dunia.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Siaran dakwah di Aswaja TV kini bukan hanya dapat dinikmati oleh masyarakat pedesaan Asia Tenggara dengan parabola dan kaum professional di depan komputer berjaringan internet di kota-kota besar Indonesia, tetapi juga dapat disaksikan oleh masyarakat dunia yang lebih luas,” ungkapnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dalam kesempatan konferensi pers di bilangan Kemang Jakarta Selatan, Selasa (7/4) Founder MIV O, Budi menjelaskan,  Aswaja TV menjadi channel yang menyediakan materi dakwah Islam bersama dengan channel-channel lain yang beragam untuk dinikmati masyarakat dunia yang semakin luas.

“Selain Aswaja TV, saluran TV yang tersedia di Mivo sangatlah beragam. Mivo tidak hanya menyiarkan konten berita, religi dan hiburan, tetapi juga menyiarkan konten kesehatan,” tutur Budi.

Menurut Budi, dengan fasilitas internet yang semakin mudah dan cepat, masyarakat dapat menonton siaran televisi di manapun dan kapan pun. Masyarakat dapat mengikuti siaran kesehatan dan dakwah di tanpa mengganggu kesibukannya sehari-hari karena MIVO kini dapat diakses melalui gadget dan smartphone.

“Kesempatan menikmati tayangan televisi melalui smartphone ini kami persembahkan seiring bergesernya kebiasaan masyarakat. Mulanya mereka menonton melalui perangkat televisi, kemudia bergeser ke desktop dan kini ke gadget yang hanya segenggaman tangan,” tandas Budi. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Anti Hoax, News, Sejarah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 29 April 2016

NU-nisasi Orpol?

Oleh KH MA Sahal Mahfudh. Politik itu kenyal, seperti permen karet. Dikunyah terus tak pernah habis. Terkadang rasanya sudah habis, tapi orang masih terus mengunyahnya. Bagi orang yang telah terbiasa mengunyah permen karet, mungkin ia kecanduan dengan kebiasaan yang melekat itu. Rasanya tidak sreg bila pada forum apa saja atau pada kesibukan apa saja, tanpa mengunyah permen karet, dus mengaitkan aktivitas apa saja dengan politik.

NU-nisasi Orpol? (Sumber Gambar : Nu Online)
NU-nisasi Orpol? (Sumber Gambar : Nu Online)

NU-nisasi Orpol?

Dalarn proses hidupnya, manusia rnemang tidak lepas dari pengaruh watak politis. Telah menjadi sunnatullah barang kali, setiap kelompok manusia ada yang dikuasai dan ada yang menguasai, ada yang diperintah dan memerintah, serta ada yang dipengaruhi dan mempengaruhi. Itulah konteks politik.

Secara naluriah manusia selalu ingin menguasai, memerintah dan mempengaruhi. Meskipun pada tingkat-tingkat tertentu, sesuai dengan potensi dan otoritas yang dimiliki. Di sini kiranya dapat dibuktikan adanya adagium, politik merupakan kebutuhan hidup menurut naluri manusiawi. Masyarakat yang hidup dalam suatu negara yang berbentuk apa pun, tentu merasa sebagai makhluk yang berbangsa dan bernegara. Perasaan itu biasanya berkembang menjadi pengertian atau kesadaran kkritis. Dengan demikian mereka sudah terlibat langsung atau tidak, disadari atau tidak berada pada masalah politik. Hanya saja, karena keterbatasan tertentu, di antara mereka ada yang masuk pada golongan kaum elite politik dan ada yang hanya sebagai kaum awam politik. Kelompok kedua inilah yang terbanyak dari masyarakat Indonesia, termasuk warga NU.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kelompok kedua ini, kelihatan acuh tak acuh dan tidak punya perhatian terhadap masalah politik, kecuali secara temporer karena pengaruh dari panutan mereka yang masuk pada kelompok pertama. Pada momentum tertentu mereka ikut melakukan aktivitas politik dengan memberikan dukungan atau menolak atas wawasan politik tertentu. Umumnya mereka tidak bisa membedakan antara kultur politik dan struktur politik, apalagi pengetahuan soal infrastruktur dan suprastruktur politik. Meskipun kenyataannya mereka sudah terlibat, sekurang-kurangnya dalam kultur politik, yakni keseluruhan tata nilai, keyakinan, persepsi dan sikap yang mempengaruhi mereka dalam suatu sistem atau kegiatan politik.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

***

Warga Nahdlatul Ulama (NU) yang sebagian besar awam politik beserta ulamanya telah terlibat langsung atau tidak langsung dalam sejarah pembentukan negara dan bangsa Indonesia. Ketika zaman kolonial Belanda, NU dengan para ulama dan pesantrennya telah mampu menanamkan semangat wathaniyah (nasionalisme) dan kebencian terhadap penjajahan. Semangat itu berpengaruh luas pada masyarakat untuk merebut kemerdekaan Indonesia dan mempertahankannya. Ini merupakan tindakan politik secara kultural yang kemudian disebut peranan politik dalam sejarah bangsa.

Peranan kesejarahan tersebut sebenarnya juga merupakan khittah perjuangannya serta usahanya untuk mencapai tujuan organisasi, yaitu berlakunya syariat Islam ala Ahli al-Sunnah wa al-Jamaah di bumi Nusantara ini. Sikap dan kebijakan para ulama NU seperti itu, bukan tanpa alasan. Justru karena wawasan historis dan wawasan masa depan itulah, para ulama NU sadar akan sejarah yang telah, sedang dan akan berjalan.

Sejarah telah memberikan pelajaran kepada ulama NU, bahwa masuknya Islam di Indonesia sejak awal hingga zaman Wali Songo, tidak melalui jalan politik struktural, namun lewat usaha dan kegiatan yang seiring dengan proses transformasi kultural. Strategi itu menguntungkan, karena tidak menimbulkan perdebatan konflik batin maupun fisik bagi masyarakat sasaran.

Transformasi budaya ini masih terus berproses dan akan terus berproses sejalan dengan perkembangan kehidupan manusia. Bagi NU, ini sebuah tuntutan yang mendorong orrnas Islam terbesar itu, untuk melakukan kegiatan sosial kemasyarakatan yang berpengaruh langsung atau tidak langsung dalam menumbuhkan dan membentuk budaya bernilai Islam.

Adanya indikasi tumbuhnya antusiasme keagamaan Islam di seluruh Indonesia saat ini, merupakan titik cahaya yang akan memberikan terobosan bagi NU untuk memperoleh kesempatan mengisi nilai budaya secara Islami. Tujuan NU bisa terwujud melalui kulturisasi politik tanpa harus menimbulkan ketegangan-ketegangan.

Inilah sebenarnya yang ingin dicapai oleh para ulama NU dengan keputusan strateigisnya, kembali ke Khittah 26. Khittah 26 telah berkali-kali diuji dengan keluar-masuknya NU pada kegiatan po1itik struktural. Ternyata ia masih tetap merupakan garis lurus vertikal mau pun horisontal yang patut menjadi landasan perjuangan NU dan tetap mempunyai relevansi kuat. Khitah 26 akan selalu mampu menarik NU ke tengah-tengah pergumulan sejarah bangsa yang masih panjang. Dengan demikian keberadaan di tengah bangsa Indonesia ini, justru bagai pupuk yang sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas kehidupan dan keberagamaan demi kemajuan optimal bagi bangsa ini.

Di sinilah letak dasar ukuran umum dan wajar yang selalu dipegang oleh para ulama NU sejak berdirinya sampai sekarang. Pada dasar ukuran ini pula terletak kesimpulan, Khittah 26 sejak lahir belum pernah "minus". Khittah 26 cukup sarat dengan berbagai nilai yang kuat relevansinya di segala zaman. Tidak pernah dan tidak akan ada istilah "Khittah Minus".

Nahdlatul Ulama dalam sejarahnya sejak lahir tahun 1926 mengalami perubahan kecil atau besar, internal atau eksternal; mulai dengan bergabung ke MIAI, Masyumi, kemudian jadi partai politik dan berfusi ke dalam PPP. Akhirnya kembali menemukan jatidirinya yang asli, menjadi jamiyah diniyah ijtimaiyah mahdloh (organisasi masyarakat keagamaan murni) yang secara organisatoris tidak mengkaitkan dirinya dengan organisasi politik mana pun.

***

Perubahan tersebut secara umum banyak dipengarahi oleh faktor eksternal dan secara kbusus diletakkan pada strategi yang dipertimbangkan sesuai dengan zamannya. Para ulama NU baik yang terlibat langsung dalam struktur organisasi NU maupun yang di luar struktur, terutama para ulama pengasuh pesantren memberikan kesepakatan bulat atas kembalinya NU pada khittahnya.

Mereka memang punya kepekaan sosial yang tinggi -meskipun bukan tergolong elite politik. Justru identitas mereka adalah faqih fi mashalih al-khalqi. Kepekaan sosial dan pengalaman empirik mereka pada saat NU secara langsung atau tidak langsung terlibat pada politik praktis, mendorong mereka untuk menelaah kembali secara lebih terinci sosok NU menurut esensinya dalam konteks perjuangan keagamaan Islam di Indonesia, dari satu masa ke masa yang lain. Setelah Muktamar NU ke-25 di Surabaya tahun 1975, tepatnya dalam Konferensi besar (Konbes) pada tanggal 5-8 Mei 1975 di Jakarta, dikeluarkan “Pernyataan Pemantapan Kedudukan dan Fungsi Jamiyah Nahdlatul Ulama".

Ada tiga pokok isi dari pernyataan itu yang sangat penting bagi umat NU khususnya dan bangsa serta negara Indonesia umumnya. Pertama memantapkan kedudukan dan fungsi jamiyah NU sebagai organisasi yang menitikberatkan perjuangannya selaku organisasi umat yang berdasarkan ‘aqidah, syariah dan thariqah Islam Ahlu al-Sunnah wa al-Jamaah dan bergerak di bidang dakwah, pendidikan, sosial, ekonomi dan budaya, untuk kesejahteraan umat dalam rangka pembangunan bangsa dan manusia Indonesia seutuhnya.

Kedua, dalam masa pembangunan nasional sekarang ini, NU akan meningkatkan darma baktinya secara persuasif dan edukatif, untuk menciptakan stabilitas dan persatuan nasional, meningkatkan kesadaran dan moral bangsa, serta mendidik hidup berkonstitusi dan berdemokrasi.

Ketiga, jamiyah NU akan berpartisipasi dalam pembangunan nasional, baik material maupun spiritual untuk mencapai cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana terkandung dalam Pembukaan UUD 1945, serta ikut membina ketahanan nasional. Pernyataan tersebut dikeluarkan atas pertimbangan pertama dalam konsiderannya, bahwa NU mengembalikan kedudukan dan fungsinya seperti ketika dibentuk pada tanggal 16 Rajab 1344 H atau 30 Januari 1926 M.

Proses perubahan yang terakhir itu cukup panjang. Dari Muktamar 1971, Konbes 1975, Munas 1983 dan Muktamar 1984. Tigabelas tahun berproses. Suatu kurun waktu cukup panjang yang tentu saja sarat dengan berbagai masalah dan liku-liku konstelasi sosial-. Bahkan bersamaan dengan akhir proses perubahan itu, dengan tekad bulat tanpa didorong oleh perundang-undangan, NU telah menyatakan menerima Pancasila sebagai satu-satunya asas organisasi.

Terlihat di sini, kemampuan NU memadukan antara falsafah negara sebagai buah pikiran manusia yang kemudian menjadi dasar pengikat pada komunitas nasional di dalam berbangsa dan bernegara dengan doktrin keagamaan Islarn sebagai wahyu Allah yang kemudian menjadi dasar pengikat dalam komunitas keberagamaan. Suatu perpaduan yang amat penting artinya bagi bangunan stabilitas di suatu negara.

Perpaduan itu telah dapat dibuktikan oleh NU sendiri secara implementatif dengan rumusan Khittah 26 yang telah ditemukan kembali sebagai ciri intrinsik, yang tidak bisa lepas dari ujud dirinya. Bila ciri itu dilepas -dengan menambah atau mengurangi rumusan khittah- berarti NU kehilangan wujud diri yang sesungguhnya.

Para ulama sebagai penerus dan pewaris para pendiri NU, tidak akan merelakan hal itu terjadi. NU dengan rumusan Khittah 26 seperti itu, telah membebaskan warganya dalam menyalurkan aspirasi politik untuk rnenegakkan kepemimpinan (nashbu al-imamah) lewat salah satu Orpol.

***

Pembahasan soal ini sebenarnya merupakan pendidikan bagi eksekutif (birokrat) untuk menumbuhkan kesadaran hidup berkonstitusi dan berdemokrasi. Sekaligus juga sebagai upaya mengubah sedikit demi sedikit watak paternalistik mereka dalam hal berpolitik, sehingga akan makin dewasa dan obyektif dalam menyalurkan aspirasi rakyat banyak.

Kemandirian berpolitik seperti itu akan menumbuhkan sikap kritis dan dinamis untuk mengembangkan aspirasi rakyat atau paling tidak menyadarinya. Bisa jadi aspirasi agama, ekonomi, pendidikan dan budaya, akan mudah dicerna apabila melalui pendidikan politik secara kultural.

Tampak NU ingin mendidik warganya secara kultural untuk menjadi insan politik yang kritis dan dinamis tanpa harus menunggu perintah panutannya, tanpa harus terikat oleh petunjuk seseorang dan tanpa adanya ketergantungan pada arahan seseorang. Kedewasaan seperti ini akan menuntut kemauan dan kemampuan Orpol mana pun untuk menyerap aspirasi warga NU yang beraneka ragam, tidak saja aspirasi keagamaannya.

Orpol harus bersikap dan berperilaku aspiratif dan akomodatif terhadap kebutuhan warga NU. Bila aspirasi semacam itu bisa disalurkan dan dipenuhi, kiranya warga NU dengan ke-NU-annya tidak akan memerlukan lagi suatu wadah khusus yang dikelola sendiri atau dengan kata lain "Orpolisasi NU". Karena semua aspirasi warga NU telah dapat ditampung dan diupayakan realisasinya oleh Orpol tertentu, yang berarti dengan kata lain adalah "NU-nisasi Orpol".

Meskipun ada isu yang menginginkan memparpolkan NU pasca Pemilu 1987, namun Munas Alim Ulama NU dan Konbes NU pada tanggal 15 s/d 18 November 1987, berlangsung mulus tanpa gejolak dan ketegangan. Sejumlah 25 utusan wilayah ketika diberi kesempatan mengutarakan uneg-uneg dalam forum Munas dan Konbes, tidak satupun yang merespon isu tersebut. Bahkan seluruhnya melaporkan segi-segi posisif penerapan Khittah 26.

Keinginan memparpolkan NU memang punya alasan, mengingat warga NU ketika menjelang Pemilu mengalami kebingungan. Kebingungan itu menjadi indikator belum mapannya wawasan politik praktis warga NU, walaupun sudah cukup lama menjadi anggota Partai Politik NU dan kemudian menjadi penyangga PPP.

Namun perlu diingat, kebingungan itu muncul bukan lantaran NU kembali kepada Khittah 26. Sama sekali bukan karena rumusan Khittah 26 itu sendiri. Kebingungan itu terjadi akibat belum meratanya sosialisasi Khittah. Persepsi mereka tentang Khittah tidak sepenuhnya sesuai dengan yang sebenarnya. Sementara sikap beberapa pimpinan dan ulama NU mengabaikan prinsip tawassuth yang telah digariskan oleh Khittah 26.

Kebingungan seperti itu juga wajar, sebagai akibat dari masa transisi yang kebetulan didukung oleh watak paternalistik warga NU. Bagaikan burung perkutut yang telah cukup lama terperangkap dalam kurungan dan diloloh terus oleh pemiliknya, ketika dilepas dari kurungan untuk mencari makan sendin dan bebas bergabung dengan sejenisnya, maka dalam beberapa waktu ia pasti mengalami kebingungan. Tetapi itu tak akan berjalan lama. Ia akan segera mampu terbang bebas, sesuai dengan alam aslinya dan khittahnya.

Walaupun tidak ada istilah mayoritas minoritas, namun kenyataan menunjukkan bahwa penduduk Indonesia yang terbanyak adalah muslim. Sekitar 75% sampai 80% di antaranya berada di pedesaan. Sebagian besar warga NU pun ada di pedesaan. Penduduk pedesaan itu pada umumnya masih berada di bawah pengaruh para ulama NU yang notabene tidak tergolong kaum elite politik.

Penelitian di lapangan menunjukkan, para ulama NU di pedesaan merasa lebih tenang dengan kembalinya NU kepada Khittah 26, ketimbang masa-masa sebelumnya. Para kiai itu makin mudah berkonsentrasi dan terbuka dalam memikirkan kemaslahatan warganya. Hampir semua bentuk aktivitas di masyarakat sekarang, warga NU terlibat di dalamnya. Di sinilah NU mempunyai banyak kesempatan mempengaruhi mereka untuk dakwah dan menanamkan nilai-nilai Aswaja, seiring dengan proses transformasi kultural.

***

Dari sisi lain timbulnya ide Orpolisasi NU merupakan perbedaan pendapat yang wajar. Dinamika semacam itu diperlukan sepanjang masih menyangkut kepentingan umat dan warga NU sendiri, bukan untuk memenuhi interes pribadi atau kelompok tertentu. Segi positif yang muncul, NU membebaskan warganya mau pun pimpinannya untuk berpendapat dan saling menghargai. Namun perbedaan itu tidak berarti adanya pertentangan internal, apalagi perpecahan.

Tradisi yang masih kental di kalangan ulama NU adalah sikap "sepakat dalam khilaf”, sehingga tak akan mengganggu jalannya roda organisasi. Kedewasaan berorganisasi dan berdemokrasi di dalam NU akan terlihat dari sisi ini. Tetapi perbedaan itu hanya membawa faedah, jika dapat diarahkan untuk membuat demokrasi menjadi "proses belajar dan memecahkan masalah." Ikhtilaf itu memang rahmat.

*) Diambil dari KH MA Sahal Mahfudh, Nuansa Fiqih Sosial, 2004 (Yogyakarta: LKiS). Tulisan ini pernah dimuat majalah Aula edisi No.10 Tahun IX, Desember 1987. Judul asli "Orpolisasi NU atau NU-nisasi Orpol?"

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Makam, Nahdlatul, Sejarah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

GP Ansor Kota Bandung Cegah Kontaminasi Ideologi Remaja

Bandung, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Gerakan Pemuda Ansor Kota Bandung berupaya mencegah kontaminasi ideologi kalangan remaja Ahlussunah wal-Jamaah yang akan memasuki jenjang perguruan tinggi.

Upaya itu dibungkus dengan pesantren kila (Sanlat) dan bimbingan belajar (bimbel) pasca-Ujian Nasional (BPUN) 2013 di Gedung PCNU Kota bandung Jl. Yuda no.03, Kebon Kalapa, Kota Bandung, Ahad (5/5) dimulai pukul 13.00 WIB.

GP Ansor Kota Bandung Cegah Kontaminasi Ideologi Remaja (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Kota Bandung Cegah Kontaminasi Ideologi Remaja (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Kota Bandung Cegah Kontaminasi Ideologi Remaja

Ketua pelaksana, Ujang Miftahudin, mengatakan, kegiatan ini sebagai upaya membantu generasi muda dalam melanjutkan ke jenjang perkuliahan dan juga sebagai upaya untuk menjegah kontaminasi ideologi yang dewasa ini terjadi di kalangan remaja, “Seperti dalam temanya, “Subbanul yaum rijalul ghod”, pemuda hari ini adalah generasi penerus masa yang akan datang,” katanya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ketua GP Ansor Kota Bandung, Aa Abdul Rozak, menegaskan, Dengan ideologi Ahlussunnah wal-Jama’ah diharapkan dapat membackup generasi muda sebagai penerus bangsa untuk meminimalisir gerakan-gerakan konfrontatif yang mencoreng agama Islam.

Dengan Kegiatan ini, GP Ansor Kota Bandung berupaya untuk merealisasikan slogan, Almuhaafadhoh ‘alal qodiim ash-shaalih wal ahdu bil jadiidil ashlah, (menjaga nilai-nilai lama yang baik dan membuat inovasi yang lebih baik) dengan gerakan realistis dan relevan sehingga dapat diterima hal layak.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kegiatan yang berjalan sebulan dan gratis tersebut disambut baik peserta yang datang dari berbagai sekolah menengah atas, “Agenda ini sangat baik dan sangat membantu bagi saya untuk belajar dalam menuju jenjang perkuliahan, selain mendapatkan pengetahuan umum, saya mendapatkan pengetahuan agama. Alangkah lebih baik untuk tetap dipertahankan” ujar Ahmad Rusmana, salah seorang peserta BPUN.

Kegiatan tersebut dihadiri Ustadz Wahyu Afif Al-Ghofiqi, perwakilan dari PCNU Kota Bandung yang juga Dewan Penasihat PC GP Ansor Kota Bandung. Dari PW GP Ansor Jawa Barat diwakili Johan Jauhari Anwar, sekaligus Manager Provinsi BPUN 2013. Kemudian dari Manager Pusat diwakili Muhammad Sofyan Fauzi, yang juga Supervisor dari Yayasan Mata Air.

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pertandingan, Cerita Pondok Pesantren An-Nur Slawi