Sabtu, 25 Desember 2010

Berkunjung ke Lokasi Shooting Film Sang Kiai

Kesuksesan film Sang Kiai menjadi film bioskop terbaik 2013 pada festival film Indonesia (FFI) beberapa waktu lalu, memberikan kebanggaan tersendiri bagi warga di sekitar di Pondok Pesantren Salafiyah Kapurejo Pagu Kediri. Maklum saja, dusun kecil ini menjadi salah satu lokasi shooting dari film yang diproduksi Rapi Films itu.

Saat pengambilan gambar, tidak kurang membutuhkan waktu satu bulan. “Para kru produksi film semuanya menginap di lingkungan pondok sini atau di rumah-rumah warga,” kata Afthom Baidhowi.

Pria yang menjadi guru ini menceritakan bahwa warga Kapurejo sangat antusias saat mendukung proses shooting. Masyarakat dilibatkan sebagai peran figuran, terutama yang menceritakan kisah aktivitas masyarakat. “Tidak cuma melihat, masyarakat juga dijadikan semacam artis dadakan dalam film itu,” kata pria yang masih termasuk keluarga pengasuh Pondok Kapurejo itu.

Hampir semua adegan dalam film Sang Kiai diambil lokasinya di Kapurejo. “Mulai masjid, rumah pengasuh, kamar santri, dapur, kandang sapi sampai tempat penjemuran padi di sana,” katanya sambil menunjuk ke arah barat.

Berkunjung ke Lokasi Shooting Film Sang Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)
Berkunjung ke Lokasi Shooting Film Sang Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)

Berkunjung ke Lokasi Shooting Film Sang Kiai

Guru Fiqih ini mengaku bangga karena film yang terkenal itu lokasi pengambilan gambarnya di Kapurejo. “Orang-orang sekarang banyak mengenal Kapurejo lewat film itu,” ujarnya.

Sebagai rasa bangga itu, sekarang film yang disutradarai Rako Prijanto itu diputar di desa-desa sekitar. “Lewat film layar tancap mas, nonton bareng-bareng,” ujarnya dengan bangga.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Hal senada juga disampaikan Mujiono. Guru MA Hasan Muchyi Kapurejo ini dengan semangat menuturkan bahwa pengambilan gambar film Sang Kiai merupakan sejarah tersendiri bagi desanya.

Film yang disutradaai Gope T. Samtani itu, menurutnya, membuat ramai di semua penjuru desa Kapurejo selama sebulan lebih. “Tidak hanya siang, shooting kadang juga dilakukan sore dan malam hari,” ujarnya.

Pria berkumis ini menceritakan warga desa Kapurejo senang karena bisa melihat langsung artis terkenal yang terlibat. Mulai Ikranagara, Christine Hakim dan Agus Kuncoro. Termasuk artis muda pendatang baru seperti Dimas Aditya, Royhan Hidayat, Adipati Dolken, Meriza Febriani Batubara, Ernestan Samudra dan Dayat Simbaia.

Mujiono dengan gamblang menceritakan bahwa banyak properti yang didatangkan dari luar desa. Mulai meubel, pedati, truk sampai kostum pemain. “Saya juga heran, dari mana saja para kru kok bisa mendatangkan barang-barang antic dan kuno seperti itu,” ujarnya. Di sekitar Kapurejo, lanjutnya, barang-barang itu seolah sudah tidak bisa dijumpai lagi.

Lain lagi yang dikisahkan Aminatus Solikah. Santriwati yang baru dua tahun tinggal di Pondok Kapurejo ini mengaku senang karena pondoknya dijadikan lokasi shooting. “Meski selama hamper sebulan tempat mengajinya dipindah ke rumah-rumah penduduk,” akunya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Santriwati yang berasal dari Kepung ini setia mengikuti proses shooting yang dilakukan. Bersama teman-temannya, dia juga memperoleh beberapa fotonya dengan beberapa bintang film itu. “Meski harus berdesak-desakan dulu dengan para penonton yang lain,” ujarnya.

Mukani, warga NU, tinggal di Cukir Jombang. Artikel ditulis setelah melakukan kunjungan ke lokasi selama tiga hari, 4-6 Pebruari 2014.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Internasional, Daerah, Halaqoh Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Jumat, 29 Oktober 2010

Hati-hati, Ada Skenario Agar NU Ditinggalkan Jamaahnya

Jember, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Diakui atau tidak, saat ini tengah terjadi upaya penggerusan yang luar biasa terhadap legitimasi NU. Kepercayaan masyarakat terhadap NU digembosi pascademo anti-Ahok beberapa waktu yang lalu. Tokoh-tokoh NU –dan siapa saja—yang menolak mendukung demo antiAhok seolah-olah menjadi musuh bersama umat Islam. Padahal tidak demikian.

Hal tersebut diungkapkan aktifis NU Jember Muhaimain Kamal saat mengisi acara Mapaga (Masa Pemantaban Anggota) di gedung Ansor Cabang Jember, Ahad (18/12).?

Menurut Muhaimin, ada skenario besar dari pihak-pihak tertentu untuk mendelegitimasi NU dengan memanfaatkan isu anti-Ahok. “Disebarkanlah isu seolah-olah NU tidak membela Islam. NU seakan-akan pro penista agama. Padahal tidak demikian. Untuk soal membela Islam, NU tidak penah menawar. Tapi itu tidak harus dengan demo,” ucapnya.

Hati-hati, Ada Skenario Agar NU Ditinggalkan Jamaahnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Hati-hati, Ada Skenario Agar NU Ditinggalkan Jamaahnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Hati-hati, Ada Skenario Agar NU Ditinggalkan Jamaahnya

Dosen IAIN Jember tersebut menambahan, upaya-upaya pihak tertentu dalam mengikis kepercayaan masyarakat terhadap NU dilakukan secara massif. Dan mereka berhasil membikin opini seolah-olah NU salah karena tidak mendukung demo anti-Ahok. Begitu juga ulama yang tidak setuju? demo anti-Ahok dianggap tidak membela Islam.

Ia lalu mencontohkan Gus Mus (KH. Mustofa Bisri). Siapa pun tahu bagaimana teduh dan bijaknya pemikiran-pemikiran Gus Mus. “Tapi ketika beliau tidak mendukung demo (anti-Ahok), minimal ada yang mempertanyakan kenapa tidak mendukung. Seolah-olah Gus Mus salah. Muara dari semua itu, ya delegitimasi NU. Agar NU ditinggalkan massanya. Kalau NU sudah rapuh, maka mereka punya agenda lain,” tuturnya.

Karena itu, katanya, tiada cara lain kecuali NU harus mengonsolidasi diri. Fikrah nahdliyyah berbasis Ahlussunnah wal jama’ah ala NU, perlu diteguhkan dan ditanamkan terus di simpul-simpul massa akar rumput NU. “Amaliah NU yang berbasis Aswaja dan mu’malah NU yang bercirikan tawasshuth, i’tidal dan sebagainya, perlu dijadikan pegangan,” cetusnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Mapaga tersebut digelar oleh PMII Rayon Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Jember, dan diikuti oleh 30 anggota baru PMII. (aryudi a. razaq/abdullah alawi)?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Pondok Pesantren, Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 03 Oktober 2010

Pascasarjana UIM Siap Mengawal Kedaulatan Pangan di Sulsel

Makassar, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Program Pascasarjana Universitas Islam Makassar (UIM) saat ini Program Pascasarjana UIM siap meningkatkan wawasan pendidikan para penyuluh pertanian, kehutanan, perikanan dan peternakan.

Hal itu dikatakan Asisten Direktur Asdir 1 Program Pascasarjana UIM Dr. Suardi Bakri yang menjadi delegasi pada kunjungan ke Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, 18-19 Desember 2014. Acara yang dipusatkan di Ruang Pola kantor Bupati kabupaten setempat tersebut dalam rangka memberikan penyuluhan pertanian di hadapan para mahasiswa dan para penyuluh pertanian.

Pascasarjana UIM Siap Mengawal Kedaulatan Pangan di Sulsel (Sumber Gambar : Nu Online)
Pascasarjana UIM Siap Mengawal Kedaulatan Pangan di Sulsel (Sumber Gambar : Nu Online)

Pascasarjana UIM Siap Mengawal Kedaulatan Pangan di Sulsel

“UIM siap menjadi garda terdepan demi terwujudnya kedaulatan pangan di Indonesia khususnya di Sulawesi Selatan,” tuturnya yang datang ke Sinjai bersama Ketua Prodi Ilmu Pertanian Dr. Helda Ibrahim.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurutnya, ada empat fungsi penyuluhan pertanian, yaitu pertama,? pembuka jalan bagi petani untuk mendapatkan kebutuhannya di bidang pertanian, khususnya ilmu pengetahuan. Kedua, penyuluhan pertanian merupakan jembatan antara praktik atau kegiatan yang dijalankan petani dengan pengetahuan dan teknologi yang selalu berkembang dan senantiasa dibutuhkan oleh petani.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ketiga, penyampai, pengusahaan dan penyesuaian program nasional dan regional agar dapat dilaksanakan oleh petani dalam rangka menyukseskan program pembangunan nasional.

“Serta yang keempat, kegiatan pendidikan nonformal yang dilakukan secara terus-menerus untuk mengikuti perkembangan teknologi yang dinamis dan masalah-masalah pertanian yang berkembang,” ungkap Suardi di hadapan penyuluh pertanian di Kabupaten Sinjai.

Suardi Bakri mengaku bersyukur saat ini lulusan pascasarjana dan mahasiswanya sudah memikul beberapa peran besar di daerahnya masing-masing. “Di antaranya Kepala Badan Penyuluh Pertanian Sinjai adalah salah satu alumni dari Program Pascasarjana UIM dan Kepala Badan Penyuluh Pertanian Jeneponto adalah mahasiswa yang sementara menempuh Program Pascasarjana UIM,” tambahnya

Kedua Kepala Badan Penyuluh ini, katanya, sudah sepakat untuk merekomendasikan pada penyuluh yang belum berpendidikan S2 dapat melanjutkan pendidikannya di UIM, utamanya Program Pascasarjana. (Andy Muhammad Idris/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kiai Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 20 September 2010

Berjasa Kembangkan Ekonomi Syariah, Kiai Ma’ruf Sandang Gelar Profesor

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Menristek RI) Nomor 69195/A2.3/KP/2017, Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang juga Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin akan diangkat dan dikukuhkan sebagai Profesor dan Guru Besar dengan status sebagai dosen tidak tetap dalam bidang Ilmu Ekonomi Muamalat Syaria’ah di UIN Malang.

Surat pengangkatan menteri tersebut didasarkan kepada surat usul rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dengan Nomor Un.03/0T.01.6/5731/2016 tanggal 18 November 2016.

Berjasa Kembangkan Ekonomi Syariah, Kiai Ma’ruf Sandang Gelar Profesor (Sumber Gambar : Nu Online)
Berjasa Kembangkan Ekonomi Syariah, Kiai Ma’ruf Sandang Gelar Profesor (Sumber Gambar : Nu Online)

Berjasa Kembangkan Ekonomi Syariah, Kiai Ma’ruf Sandang Gelar Profesor

Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang H Mudjia Rahardjo menjelaskan, usulan penganugerahan gelar profesor kepada KH Ma’ruf Amin semula berasal dari para ulama, tokoh masyarakat, dan juga dari Kemenristek. Karena pengangkatan seseorang agar mendapatkan gelar profesor itu harus dari sebuah institusi yang memiliki akreditasi A, maka ia menawarkan usulan tersebut kepada para senat UIN Malang.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Pengusul itu harus dari institusi yang terakreditasi A. Terus saya rapatkan senat dan ternyata senat menyetujui. Karena menyetujui saya mengusulkan melalui Kementerian Agama karena bidangnya ekonomi Islam,” kata H Mudjia saat dihubungi Pondok Pesantren An-Nur Slawi via telepon, Sabtu (20/5).

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Peraih gelar doktor bidang Ilmu Sosial dari Universitas Airlangga itu mengatakan, proses pengukuhannya akan dilaksanakan pada Rabu, 24 Mei 2017, di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Ia menambahkan, rencananya acara tersebut akan dihadiri oleh Presiden, beberapa menteri, dan pejabat negara lainnya. Sampai saat ini, persiapan acara sudah mencapai delapan puluh persen.

“Sampai hari ini beritanya begitu (akan dihadiri Presiden Jokowi), pihak panitia dan beberapa sudah menghubungi istana,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, pemberian gelar tertinggi dalam akademik kepada KH Ma’ruf Amin didasarkan kepada kiprah dan peran Rais ‘Aam PBNU tersebut dalam hal keulamaan dan pengembangannya dalam bidang ekonomi syariah. Menurut dia, gelar profesor untuk KH Ma’ruf Amin adalah bentuk apresiasi atas perannya selama ini.

“Karena perannya, baik perannya sebagai ulama dan peran akademiknya dalam bidang ekonomi itu menonjol sekali. Terutama setelah adanya demo besar-besaran,” urainya.

H Mudjia menilai, KH Ma’ruf Amin adalah sosok ulama yang lengkap, yaitu memiliki garis nasab ulama dan juga memiliki keilmuan agama yang sangat mumpuni, memiliki peran yang signifikan dalam mengembangkan ekonomi syariah, dan bisa diterima semua golongan.

“Beliau sosok ulama yang bisa diterima oleh berbagai kelompok aliran di Indonesia. NU, Muhammadiyah, dan lainnya,” tutup dia. (Muchlishon Rochmat)    



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi PonPes,Attijani Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kementerian Agama Tetapkan Legalitas Sekolah Berbasis Pesantren

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Setelah Ma’had Aly sebagai perguruan tinggi berbasis pesantren pada jenjang Pendidikan Diniyah Formal (PDF) diresmikan bulan Mei 2016 lalu, kini Kementerian Agama (Kemenag) juga meresmikan sekolah berbasis pesantren yang meliputi Pendidikan Diniyah Formal tingkat Ula (setingkat MI/SD), Wustho (setingkat MTs/SMP), dan Ulya (setingkat MA/SMA/SMK).?

Kementerian Agama Tetapkan Legalitas Sekolah Berbasis Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Kementerian Agama Tetapkan Legalitas Sekolah Berbasis Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Kementerian Agama Tetapkan Legalitas Sekolah Berbasis Pesantren

Peresmian bertajuk Dari Pesantren untuk Bangsa? ini dilaksanakan, Senin (1/8) di Pondok Pesantren Minhaajurrasyidiin Lubang Buaya, Jakarta Timur. Pada tahun pertama, Kemenag meresmikan 12 PDF tingkat Wustho dan Ulya dari seluruh Indonesia. Penetapan legalitas ini juga disertai penyerahan Surat Keputusan (SK) izin operasional kepada 12 PDF tersebut.

Hadir dalam acara peresmian ini di antaranya Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag RI Mohsen, Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) Pendidikan Diniyah Ahmad Zayadi, Pengasuh Pesantren Darurrohman KH Syukron Makmun, Kakanwil Kemenag DKI Jakarta Abdurrahman, Ketua Yayasan Minhaajurrasyidiin Nur Faizi Suwandi, Ketua MUI DKI Jakarta KH Syarifuddin Abdul Ghani, Pengasuh Pesantren Minhaajurrasyidin KH Asy’ari Akbar, dan Asosiasi Pondok Pesantren se-DKI Jakarta.

Kasubdit Pendidikan Diniyah Ahmad Zayadi menerangkan, legalitas Pendidikan Diniyah Formal pada tingkat Ula, Wustho, maupun Ulya yang berbasis di pesantren menetapkan satuan pendidikan di pesantren ini setara dengan lembaga pendidikan formal lain seperti madrasah dan sekolah umum.

“PDF pada berbagai tingkatan ini merupakan jenis layanan pendidikan keagamaan Islam yang bersifat formal. Karena pendidikan keagamaan Islam, maka tujuannya untuk mencetak para kader ulama yang ahli di bidang ilmu agama Islam,” ujar Zayadi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Karena tujuannya untuk mencetak ahli-ahli di bidang ilmu agama Islam, lanjut Zayadi, maka kurikulum yang diterapkan di Pendidikan Diniyah Formal kebalikan madrasah. “Jika di madrasah porsi ilmu umum 75 persen dan ilmu agama 25 persen, maka PDF sebaliknya, 75 persen ilmu agama Islam dan 25 persen ilmu umum,” imbuhnya.

Dikatakan Zayadi, karena PDF ini dilksanakan di pesantren, maka pembelajarannya harus berbasis kitab-kitab klasik atau kitab kuning. Hal ini yang menjadi pembeda (distingsi) dengan layanan pendidikan keagamaan lain. Dia mengakui bahwa layanan pendidikan ini memang baru, tapi pihaknya akan terus berkomitmen mengembangkan PDF ini dari tingkat Ula, Wustho, Ulya hingga Ma’had Aly sebagai lembaga pencetak kader ulama.

Senada dengan Zayadi, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Mohsen menjelaskan, PDF merupakan pendidikan berbasis ponpes yang dirancang Kemenag untuk mewujudkan ulama masa depan yang menguasai ilmu agama dengan baik namun tetap menjunjung tinggi toleransi di masyarakat.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

"Peluncuran ini merupakan bagian dari tantangan Kemenag memainkan peran strategis untuk membentuk masyarakat yang semakin religius namun toleran melalui pendidikan formal berbasis pesantren," ujar Mohsen yang hadir mewakili Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Menag berhalangan hadir karena ada agenda rapat dengan Presiden RI Joko Widodo.

Lebih lanjut, Mohsen berharap bahwa melalui PDF ini, lulusan sekolah berbasis pesantren ini juga mampu bersaing dengan lulusan sekolah formal lain dengan menggunakan ijazah formal yang diperoleh usai kelulusan. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi IMNU, Santri, Kajian Islam Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 12 Agustus 2010

Tiap Jumat, Mobil Aswaja Siap Sapa Sejumlah Masjid

Surabaya, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. PW Aswaja NU Center Jawa Timur memastikan bahwa setiap Jumat akan mengunjungi sejumlah masjid untuk kian memasyarakatkan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) kepada kaum muslimin. Hal ini sebagai bentuk tanggung jawab demi menyelamatkan akidah umat dari rongrongan gerakan Islam yang cenderung ekstrem.

"Kami telah memiliki mobil operasional dan akan dioptimalkan untuk menyapa masjid setiap Jumat," kata Direktur PW Aswaja NU Center, KH Abdurrahman Navis, Sabtu (22/8).

Tiap Jumat, Mobil Aswaja Siap Sapa Sejumlah Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiap Jumat, Mobil Aswaja Siap Sapa Sejumlah Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiap Jumat, Mobil Aswaja Siap Sapa Sejumlah Masjid

Mobil dengan jenis APV tersebut akan menyediakan sejumlah kebutuhan Aswaja. "Dari mulai buku, flash disk, dan selebaran Jumat," kata Wakil Ketua PWNU Jatim ini. Bahkan sejumlah pengurus dan anggota siap memberikan layanan tanya jawab seputar Aswaja dan pengetahuan agama Islam yang dibutuhkan masyarakat, lanjutnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kiai Navis, sapaan akrabnya sangat menyadari bahwa tantangan bagi tersebarnya Aswaja demikian berat. "Banyak masjid di sekitar kita yang telah dimasuki aliran Islam garis keras," ungkapnya. Dan untuk mengimbangi atau bahkan melawan gerakan ini, cara yang ditempuh adalah antara lain dengan melakukan sosialisasi ke sejumlah masjid tersebut.

Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya ini juga berharap agar gerakan PW Aswaja NU Center bisa dilakukan juga oleh banyak kalangan, khususnya para generasi muda. "Karena tantangan Aswaja ala NU semakin berat," pungkasnya.? (Syaifullah/Mahbib)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Meme Islam, Tegal, Fragmen Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 12 Juni 2010

Cabang-Cabang Ansor di Sumbar Keluarkan Deklarasi Tolak Paham Radikal

Pasaman Barat, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Tiga Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor di Sumatera Barat keluarkan Deklarasi Kebangsaan menolak semua bentuk paham radikal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang sudah tumbuh sejak lama di tengah masyarakat Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikan pada ? Deklarasi Kebangsaan Gerakan Pemuda Ansor yang diikuti Pimpinan Cabang Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Pasaman dan Kabupaten Pasaman Barat, Minggu (16/7/2017) malam usai shalat Isya berjamaah di Masjid Al-Ikhlas Sidodadi Kecamatan Kinali, Kabupaten Pasaman Barat.?

Pernyataan yang dibacakan kader Ansor Padang Pariaman M. Fadly, menyebutkan, menyikapi perkembangan bangsa Indonesia belakangan ini, maka dengan ini Ansor menyatakanm, pertama, Gerakan Pemuda Ansor menolak semua bentuk paham radikal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang sudah tumbuh sejak lama di tengah masyarakat Indonesia.

Cabang-Cabang Ansor di Sumbar Keluarkan Deklarasi Tolak Paham Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)
Cabang-Cabang Ansor di Sumbar Keluarkan Deklarasi Tolak Paham Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)

Cabang-Cabang Ansor di Sumbar Keluarkan Deklarasi Tolak Paham Radikal

Kedua, menolak paham dan gerakan ISIS yang nyata-nyata tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusian dan agama Islam. Ketiga, mendukung pernyataan sikap Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dan Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor tentang pembubaran ormas Hizbur Tahrir Indonesia (HTI) yang dinilai mengancam keutuhan NKRI.?

Keempat, mendukung sikap Pemerintah ? Indonesia yang membubarkan organisasi atau kelompok yang nyata-nyata berlawanan dengan ideologi Pancasila dan mengancam keutuhan NKRI. Kelima, mendukung sikap TNI dan Polri yang tegas mengambilkan tindakan terhadap pihak-pihak yang dapat mengancam keutuhan NKRI.

Naskah pernyataan ditandatangani Ketua PC Padang Pariaman ? Zeki Aliwardana, Ketua PC Pasaman Asrial dan Ketua PC Pasaman Barat Djafrinal Effendi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurut Zeki Ali Wardana, pernyataan sikap ini disampaikan sebagai bentuk kepedulian Ansor terhadap dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara. “Ansor tidak ingin negara ini dicabik-cabik oleh kelompok yang datang kemudian untuk menghancurkan dengan paham-paham yang bertentangan dengan Pancasila sehingga merongrong keutuhan NKRI. Karena Ansor amat menyadari negara dan bangsa Indonesia didirikan dan dipertahankan oleh para pendahulu dengan pengorbanan pikiran, fisik, tetesan darah para ulama, santri dan komponen bangsa Indonesia lainnya,” kata Zeki, ? yang juga mantan Sekretaris PMII Kota Pariaman ini.

Djafrinal Effendi pun menambahkan, melalui deklarasi kebangsaan ini, kami ingin mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati terhadap paham-paham yang cenderung radikal dan terindikasi merongrong keutuhan NKRI. Meski dibungkus dengan simbol-simbol Islam, namun targetnya jelas membawa kepentingan pihak luar sehingga ideologi bangsa Indonesia diganti sesuai dengan misinya.

“Setiap kader Ansor sudah dibekali wawasan kenapa harus menjaga empat pilar kebangsaan Indonesia. Yakni ideologi Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1 945. Sejarah panjang dan kondisi yang dimiliki Indonesia, hanya cocok dengan konsep empat pilar tersebut,” kata Djafrinal, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Sumatera Barat ini.?

Menurut Ketua Ansor Pasaman Asrial Arfandi Hasan, generasi muda yang tingkat pengetahuan agamanya (Islam) minim lebih mudah dimasuki paham radikal. Jika bertemu dan diajak oleh orang berpaham radikal, bisa tergoda untuk mengikutinya. “Untuk itu, generasi muda perlu meningkatkan pengetahuan agama Islam-nya yang berpahamkan rahmatan lil’alamin, Islam yang moderat,” kata Asrial, mantan Camat ? Padang Gelugur Kabupaten Pasaman ini. ?

Dikatakan Asrial, ? deklarasi kebangsaan ini juga meningkatkan silaturrahmi dan konsolidasi Ansor sesama pimpinan dan kader Ansor di tiga cabang. Ke depan pertemuan ini diharapkan dapat ditingkatkan dengan jumlah cabang yang lebih banyak.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

(Armaidi Tanjung/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Nahdlatul, Meme Islam Pondok Pesantren An-Nur Slawi