Selasa, 29 April 2014

GP Ansor Rapatkan Barisan Cegah Radikalisme

Jember, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Kehadiran organisasi garis keras mengatasnamakan agama yang kian marak belakangan di Tanah Air menggugah Gerakan Pemuda Ansor dari sejumlah daerah untuk meningkatkan soliditas dan peran. Berbagai upaya dilakukan untuk mencegah pertumbuhan kelompok radikal ini.

Di Jember, Jawa Timur, misalnya, untuk mengantisipasi masuknya gerakan ISIS (Iraqi-Syiria of Islamic State), PC GP Ansor? setempat mendatangi Mapolres Jember, Rabu (6/8).? Puluhan pengurus dan kader Ansor yang dipimpin Ayub Junaidi tersebut diterima Kapolres Jember, AKBP Awang Joko Rumitro.

GP Ansor Rapatkan Barisan Cegah Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Rapatkan Barisan Cegah Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Rapatkan Barisan Cegah Radikalisme

“Kami ingin bersinergi dengan jajaran Polres untuk memantau sekaligus menangkal masuknya kelompok ISIS di Jember,” ujar Ketua PC GP.? Ansor Jember, Ayub Junaidi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Untuk itu, kata Ayub, pihaknya saat ini sudah menurunkan 10 anggota Banser di setiap desa yang diberi tugas khusus untuk memantau perkembangan atau gejala-gejala radilkasme di masyarakat. Selanjutnya, anggota Benser tersebut diimbau untuk melapor jika mendapatkan gejala-gejala yang mencurigakan.

Saat ditemui GP Ansor, Kapolres Jember, AKPB Awang Joko Rumitro menyatakan bahwa pihaknya sudah menginstruksikan jajaran Polsek untuk terus mengawasi perkembangan terkait ISIS. “Sejauh ini belum ditemukan indikasi munculnya? ISIS,? dan jika ada kami siap bertindak,” ujarnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sementara itu, di Solo, Jawa Tengah, GP Ansor menyerukan penolakan keras terhadap kelompok-kelompok yang diketahui menyebarkan kekerasan dalam beragama. “Ansor dan Banser Surakarta menolak ISIS!” tegas Anwar, Kamis (7/8).

Menurut Anwar, gerakan ISIS, yang sering melakukan kekerasan bahkan pembunuhan, tidak sesuai dengan ajaran Islam dan nilai Kepancasilaan. “Secara resmi gerakan ISIS bertentangan dengan NKRI dan dilarang di Indonesia. Maka dari itu, kami mengajak kepada semua, khususnya kepada anggota Ansor dan Banser untuk mewaspadai gerakan ini,” ujarnya.

Anwar juga menghimbau kepada masyarakat untuk turut aktif dalam mencegah masuknya gerakan radikalisme, khususnya di wilayah Surakarta, mengingat beberapa waktu lalu telah terindikasi adanya gejala masuknya ISIS di Kota Bengawan.

“Waspadai sekitar lingkungan anda, jika terindikasi ISIS maupun gerakan radikalisme lainnya, segera laporkan ke pihak berwajib,” terangnya. (Aryudi /Ajie /Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Ulama Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Selasa, 22 April 2014

Perkuat Konsolidasi, IPNU-IPPNU Temanggung Acara Lintas Alam

Temanggung, Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kabupaten Temanggung Jawa Tengah mengadakan kegiatan lintas alam di kawasan zona utara Temanggung pada Ahad (29/5).

Kegiatan ini diikuti tujuh Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU-IPPNU Kabupaten Temanggung, antar lain dari Kecamatan Gemawang, Jumo, Tretep, Wonoboyo, Bejen,Candiroto dan Ngaderjo.? Masing-masing PAC yang turut berpartisipasi mendelegasikan lima anggota IPNU dan IPPNU.? Pembukaan acara dilangsungkan di lapangan Gardu Pandang Desa Simpar, Kecamatan Tretep.

Perkuat Konsolidasi, IPNU-IPPNU Temanggung Acara Lintas Alam (Sumber Gambar : Nu Online)
Perkuat Konsolidasi, IPNU-IPPNU Temanggung Acara Lintas Alam (Sumber Gambar : Nu Online)

Perkuat Konsolidasi, IPNU-IPPNU Temanggung Acara Lintas Alam

Menurut Agus Subkhi, ketua koordinator Zona Utara, acara lintas alam ini sebenarnya sudah diagendakan sejak lama dan kini akhirnya berhasil terlaksana.? "Tujuan mengadakan acara ini adalah untuk menunjukkan kekompakan dan keharmonisan Pengurus IPNU IPPNU baik dari tingkat PC maupun tingkat PAC dan untuk memperkuat hubungan silaturahim antar PAC", kata Sekertaris PC IPNU Temanggung ini.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Untuk lebih menyemarakkan acara ini, panitia mengadakan pula suatu permainan sederhana. Teknisnya,? panitia acara membagikan peserta menjadi beberapa kelompok, setiap kelompok harus berjalan mengikuti jalur yang telah di buat oleh panitia, dan di setiap jalur atau titik ada pos yang dijaga oleh panitia. Di tiap pos tersebut peserta diberikan pertanyaan ataupun permainan. Rute yang ditempuh pun tidak terlalu jauh, hanya mengitari bukit gardu pandang. Kira-kira memakan waktu sekitar satu jam.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Keberadaan Gardu Pandang Simpar tidak terlalu tinggi, sekitar 30 meter untuk sampai di atas bukit. Tapi ketika sudah sampai di atas bukit, pengunjung akan disuguhkan dengan pemandangan pegunungan yang eksotis.

Acara lintas alam ini ditutup dengan pembagian hadiah bagi para juara yang kelompoknya sampai di lapangan atau finis terlebih dahulu. Hadiah yang diberikan disponsori oleh Coffe Guci produksi Kecamatan Gemawang Temanggung yang dikelola oleh salah seorang mantan ketua PC IPPNU Temanggung angkatan 2013-2015. (M. Haromain/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Doa, PonPes, Pendidikan Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pagar Nusa: Pencak Silat Produk Asli Indonesia, Lestarikan!

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Mengambil tema besar Pagar Nusa adalah Pergerakan: Berkhidmah untuk Ulama dan Bangsa, Plt Ketua Umum Pimpinan Pusat PSNU Pagar Nusa KH Ajengan Mimih Haeruman mengungkapkan terkait Kejurnas Pagar Nusa bahwa seni bela diri seperti pencak silat penting senantiasa digelorakan untuk melestarikan budaya yang merupakan produk asli Indonesia.?

Pagar Nusa: Pencak Silat Produk Asli Indonesia, Lestarikan! (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa: Pencak Silat Produk Asli Indonesia, Lestarikan! (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa: Pencak Silat Produk Asli Indonesia, Lestarikan!

“Pelestarian pencak silat melalui Kejurnas ini penting agar seni bela diri asli Indonesia tidak diakui oleh negara lain. Semangat ini muncul karena selama ini pencak silat juga menjadi cabang olahraga populer yang dilombakan di PON dan SEA Games,” ujar Ajengan Mimih sehari sebelum resmi dibukanya Kejurnas II Pencak Silat Pagar Nusa di Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, Ahad (21/8) sore.

Menurutnya, Indonesia lahir bukan karena senjata api ataupun nuklir, melainkan dari kegigihan para pendekar melalui ilmu kanuragan dan seni bela diri dalam bentuk pencak silat. Sebab itu, pihaknya akan melakukan berbagai agenda penting seperti Kejurnas itu sendiri, Festival, dan Sarasehan Pendekar.

“Terkait agenda Festival yang juga akan mengiringi Kejurnas, akan diisi unjuk ilmu kanuragan serta berbagai jurus dan tradisi pencak silat lain sebagai perwujudan melestarikan tradisi seni bela diri asli Indonesia dari berbagai macam perguruan pencak silat di Indonesia,” jelas Mimih.

Kegiatan ini diikuti oleh para pendekar, baik putra dan putri dalam kelompok umur. Di antara kelompok tersebut yaitu kelompok remaja (usia 14-17 tahun) dan kelas dewasa (usia 17-33 tahun). Dari pendekar putra maupun putri dibagi ke dalam 3 cabang yaitu tunggal, ganda, dan beregu. Adapun sistem nilainya yaitu pendekar yang berhasil menggunting lawan mendapat 3 poin, menendang 2 poin, dan mendorong 1 poin.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kejurnas II Pagar Nusa ini secara resmi dibuka oleh Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi serta Ketua PBNU Aizzudin Abdurrahman. Presiden RI Jokowi, kata Imam Nahrawi, selalu berpesan kepada dirinya agar memperkenalkan silat sebagai salah satu olahraga asli Indonesia. Ia prihatin ketika salah satu Negara tetangga mengklaim bahwa silat berasal dari negaranya. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Sholawat, Bahtsul Masail, Ahlussunnah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 17 April 2014

Pesantren di Indonesia Warisan Budaya yang Wajib Dijaga

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Sejak dahulu kala perkembangan dan kemajuan dunia Islam di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari pengaruh besar pondok pesantren. Setiap pondok pesantren di Indonesia memiliki figur sentral ulama yang enggan disebut-sebut sebagai ulama, sehingga mereka lebih nyaman apabila dipanggil kiai, ajengan, guru, tuan guru, Abuya dan sebagainya.

Pesantren di Indonesia Warisan Budaya yang Wajib Dijaga (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren di Indonesia Warisan Budaya yang Wajib Dijaga (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren di Indonesia Warisan Budaya yang Wajib Dijaga

Demikian disampaikan Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Ishomuddin, Rabu (16/11). Ia menulis pernyataannya itu dalam akun Facebook pribadinya.?

Menurutnya, ulama sebagai figur sentral di pondok pesantren bukan sekedar bertanggung jawab mentransfer ilmu-ilmu dasar agama, melainkan lebih penting dari itu adalah contoh teladan terbaik di hadapan para santrinya.?

“Ulama di pondok pesantren adalah teladan mereka, karena ulama adalah manusia yang mendedikasikan hidupnya untuk senantiasa meneladani Rasulullah SAW, baik dari sisi ilmunya maupun akhlaknya,” tulis Gus Ishom.

Dengan demikian, lanjutnya, dari dunia pondok pesantren akan dan telah terlahir generasi yang bermanfaat bagi manusia lainnya, yang bukan saja pandai mengutip ayat atau hadits Nabi, melainkan lebih penting dari itu menjadi "santri" yang mampu untuk meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW. sepanjang hayatnya, sehingga ia pun menjadi contoh teladan terbaik bagi masyarakat sekitarnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Saya sebut sebagai pesantren asli Indonesia, karena para kyai pengasuhnya selalu memberikan keteladanan akan arti penting mencintai tanah air Indonesia. Karena bumi Indonesia adalah tempat yang wajib dijaga keamanannya agar agama dapat terjaga dengan cara diajarkan dengan sebenar-benarnya dan dilaksanakan dengan sempurna,” urainya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Terbukti tidak terhitung jasa para kiai dan para santri yang telah berjihad mengusir penjajah dari bumi kita, selain mengusir sejauh mungkin penyakit kebodohan dari jiwa manusia sebagai salah satu sebab pengganggu keamanan negara.

“Saya sebut pesantren asli Indonesia, karena sejak dahulu kala hingga kini nama-nama pondok pesantren itu meskipun terkadang ada nama Arabnya, namun lebih sering populer disebut nama daerah tempat lokasinya, seperti pondok pesantren Bangkalan (Madura), pondok pesantren Langitan (Tuban), pondok pesantren Lirboyo (Kediri), pondok pesantren Ploso (Kediri), pondok pesantren Tebu Ireng (Jombang), pondok pesantren Kempek (Cirebon), pondok pesantren Buntet (Cirebon), pondok pesantren Babakan Ciwaringin (Cirebon), pondok pesantren Leler (Banyumas), pondok pesantren Kesugihan (Cilacap) dan masih sangat banyak yang tidak bisa disebutkan lagi,” papar kiai muda asal Lampung ini.

Pendek kata, tambahnya, untuk menjadi pusat tafaqquh fiddin (pendalaman ajaran agama Islam) yang berasal dari dunia Arab maka tidak harus mengimpor apa saja yang berbau budaya Arab, melainkan bahwa dunia pondok pesantren tetap tidak pernah keluar dari berkomitmen untuk menjaga dan menjunjung tinggi budaya lokal.?

Dia menjelaskan, menjadi seorang muslim Indonesia itu tidak mesti harus seperti orang Arab dengan segala budayanya. Sehingga tepat dan benarlah ungkapan kaidah fikih, bahwa tidak patut keluar dari adat kebiasaan orang di sekitar kita sepanjang adat istiadat itu tidak bertentangan dengan ajaran agama.

Pondok pesantren di Indonesia adalah hasil budaya asli bangsa Indonesia yang biasanya secara turun temurun diwariskan. Maka sebagai "barang warisan", setiap pondok pesantren yang ada mestilah dijaga dari kepunahan, harus terus dikembangkan dan "lebih dicanggihkan" agar tidak tergerus atau terpinggirkan oleh kompleksitas perkembangan zaman.?

“Jika tidak dipelihara, maka pondok pesantren "barang warisan" itu akan habis atau akan menjadi barang antik seperti keris sakti yang kehebatannya hanya bisa menjadi bahan cerita untuk berbangga-bangga dari para pewaris "Gus atau Kang" dunia pondok pesantren,” tutup Gus Ishom. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Makam, Aswaja Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kamis, 10 April 2014

Pengurus Mahasiswa Thoriqoh NU Sleman Dibentuk

Sleman, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Setelah Pengurus Wilayah Mahasiswa Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah (Matan) DI Yogyakarta dilantik tanggal 2 November 2014 lalu, disusul kemudian pelantikan Pengurus Cabang Kabupaten Sleman di Pesantren Ar-Rabithah, Sleman, Ahad Siang (23/11).

Di sela-sela pelantikan bertajuk “Pembekalan dan Pembentukan Pengurus Cabang Matan Kabupaten Sleman”, Ketua PW Matan DIY, Tomy, mengungkapkan bahwa setelah ini akan segera membentuk PC Matan di Bantul, Kota, dan Kulonprogo.

Pengurus Mahasiswa Thoriqoh NU Sleman Dibentuk (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengurus Mahasiswa Thoriqoh NU Sleman Dibentuk (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengurus Mahasiswa Thoriqoh NU Sleman Dibentuk

"Segera akan kita siapkan untuk di Kota Yogyakarta, Bantul, dan Kulonprogo. Kita harus segera membentuk komisariat-komisariat di Universitas-Universitas di Yogyakarta. Itu ke depan yang harus kita persiapkan," ujar Tomy pada Pondok Pesantren An-Nur Slawi.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sementara itu, Ketua PCNU Sleman, KH. Nurjamil Dimyati mewakili jajaran PCNU Sleman memberikan apresiasi sebesar-besarnya atas kehadiran Matan di Kabupaten Sleman.

"Saya memberikan apresiasi yang sebesar-besarnya. Semoga ke depan Matan di Sleman ikut mewarnai Sleman. Saya harap Matan itu benar-benar ada. Jangan ada tapi seolah-olah tidak ada," ujar KH. Nurjamil Masduqi yang disambut tawa para peserta.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Hal senada juga diungkapkan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Ar-Rabithah, KH. M. Masud Masduqi. "Saya ikut senang dengan adanya Matan di Sleman. Kalau sudah terbentuk, Pesantren ini bisa dijadikan kantornya atau semacam basecampnya," ujar KH. Masud Masduqi yang disambut tepuk tangan meriah.

Dalam acara tersebut, Ahyar Machmudi terpilih sebagai ketua PC Sleman lewat pemilihan. Untuk membentuk kepengurusannya, para peserta sepakat membentuk tim formatur yang akan ikut menentukan pengurus-pengurus PC Sleman. (Nur Rokhim/Abdullah Alawi)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Olahraga, Kiai, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 16 Maret 2014

PCNU Probolinggo Segera Produksi Air Minum AMINU

Probolinggo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Dalam waktu dekat, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Probolinggo akan memproduksi Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) AMINU. AMINU ini nantinya akan diproduksi dan berada dibawah naungan Koperasi Amanah Barokah Sejahtera.

Surat Keputusan (SK) pendirian koperasi yang dibawah binaan PCNU Kabupaten Probolinggo ini sendiri diterima langsung oleh Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Probolinggo KH Abdul Hadi dari Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Probolinggo Santiyono, Jum’at (18/12) malam.

PCNU Probolinggo Segera Produksi Air Minum AMINU (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Probolinggo Segera Produksi Air Minum AMINU (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Probolinggo Segera Produksi Air Minum AMINU

Penyerahan SK Koperasi Amanah Barokah Sejahtera ini disaksikan oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Probolinggo HM. Nawi dan sejumlah pengurus. Selanjutnya SK ini diserahkan oleh Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Probolinggo KH Abdul Hadi kepada Ketua Koperasi Amanah Barokah Sejahtera Bambang Lasmono.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Awalnya koperasi ini akan diberi nama Koperasi Amanah. Hanya saja karena ada Permenkop dan UMKM (Peraturan Menteri Koperasi dan UMKM) yang mengharuskan nama koperasi terdiri dari 3 suku kata, maka dirubahlah namanya menjadi Koperasi Amanah Barokah Sejahtera,” kata Sekretaris PCNU Kabupaten Probolinggo Khairul Ishaq.

Menurut Khairul Ishaq, pendirian koperasi yang akan memproduksi air minum ini dilakukan agar NU sebagai sebuah organisasi mampu tampil mandiri tanpa tergantung kepada organisasi dan lembaga lain didalam menjalankan program kerjanya

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Harapannya NU mampu mandiri secara financial dalam mencukupi atau menjalankan program kerjanya. Sudah diputuskan AMINU ini paling lambat bulan Pebruari 2016 sudah mulai produksi. Pasar pertama yang bisa dijadikan sasaran adalah dinas daerah instansi lainnya,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Internasional, Kajian Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sabtu, 15 Maret 2014

Inilah Kepanjangan Sebutan Kata Santri

Jepara, Pondok Pesantren An-Nur Slawi - Kata "santri" berasal dari lima huruf arab. Lima huruf arab tersebut didefinisikan oleh KH Hasyim saat memberikan mauidhoh dalam Haflah Akhiris Sanah dan Harlah Az Zahra XI berlangsung di halaman pesantren Az-Zahra Desa Sekuro Kecamatan Mlonggo Kabupaten Jepara, Kamis (19/5) siang.

Santri berasal dari huruf sin, salik fil ibadah. Menurut kiai yang berasal dari Desa Wonorejo itu artinya jalur beribadahnya harus lurus. Dalam hal ini ia menekankan orang tua harus memberikan contoh yang baik untuk keluarganya. Sebab ia sangat prihatin dengan kondisi anak zaman sekarang yang susah diatur sehingga ibadah yang tekun harus diperkuat.

Inilah Kepanjangan Sebutan Kata Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Kepanjangan Sebutan Kata Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Kepanjangan Sebutan Kata Santri

Kedua, naibun anis syuyukh. Santri, kata dia, harus mulai menata hati dan bercita-cita untuk meneruskan perjuangan para sesepuh. Santri harus menjadikan waktu adalah ilmu sehingga tidak ada waktu yang tersisa kecuali untuk menuntut ilmu.

Setelah nun, huruf ketiga ialah ta’. Taibun anid dzunub. “Tobat dari kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan,” lanjut Hasyim.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Raghibun fil khairat. Senang dengan hal-hal yang positif. “Jika ada kesempatan untuk mengaji luangkan waktu untuk mengikutinya.”

Yang terakhir, yakin ala man an’amallahu ma’ah. Menjadi santri, tegas dia, harus yakin jika Allah sudah memberikan jatah rizki tetapi wajib dibarengi dengan usaha.

Senada dengan Kiai Hasyim definisi santri juga dikemukakan oleh KH Mukhlisin. Menurut pengurus Yayasan Az-Zahra Sekuro, pertama, sitrul aurat, menutup aurat. Menutup aurat harus lahir bathin.

Anggota DPR RI ini prihatin atas kasus kejahatan seksual yang merajalela. Apalagi dengan kabar yang menimpa gadis perempuan yang diperkosa oleh banyak orang.

Berikutnya, nun, naha anil munkar. Mencegah kemunkaran. Sumber dari segala sumber kejahatan ialah miras. Karenanya khamr itu disebut dengan ummul khobaits (induk kejahatan).

Ketiga, taufiq. Santri harus kuat untuk menjaga dirinya. Keempat, ra’isul ummah. Ke depan santri adalah calon-calon pemimpin bangsa. “Untuk itu harus dipersiapkan sejak sekarang,” harap Mukhlisin.

Untuk yang pamungkas, ya’kulu qalil, saat masih santri harus tirakat. Sedikit makannya tidak berlebihan.

Hal yang sama disampaikan, Mukhlisin, wali murid dari M Ilzam Kholid. Menurut perwakilan wali itu santri itu sanggup nerusaken tuntunan rasul illahi (siap meneruskan tuntunan rasul illahi).

Dalam kesempatan itu, dirinya mengingatkan usai lulus dari SMP, SMK dan pesantren santri tidak boleh melupakan guru. “Karena tidak ada mantan guru,” pungkas Mukhlisin.

Kegiatan yang berlangsung setengah hari dimeriahkan paduan suara, tari, silat, drama serta gerak dan lagu. Tahun ini SMP Az-Zahra mewisuda 24 santri dan SMK sejumlah 54 dari jurusan Otomotif, Multimedia dan Broadcasting. (Syaiful Mustaqim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Doa, Budaya Pondok Pesantren An-Nur Slawi