Selasa, 20 Februari 2018

Menggagas Pesantren Masa Depan

Oleh Muhamad Nurdin

Pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan Islam. Pada awal perkembangannya. sulit melakukan respon terhadap gebyar-gebyar perubahan sosial yang berlangsung begitu cepat. Pesantren tempat dan sekaligus merupakan miniatur pendidikan Islam di Indonesia, dalam sejarahnya lahir dan berbasis di pedesaan, jauh dari gebyar dan hiruk pikuk perkotaan, terseok-seok di daerah pinggiran yang kelam.

Bangunan-bangunan tua nun jauh di pedalaman, para kyai dan santri yang hanya melangkah perlahan-lahan menapaki jalan di alam desa yang hening dan kelam bahkan nyaris diam.

Menggagas Pesantren Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)
Menggagas Pesantren Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)

Menggagas Pesantren Masa Depan

Beruntung, pesantren menyadari perlunya perubahan, maka pada awal abad ke-20, pesantren memperkenalkan sistem klasikal yang disebut madrasah. Sistem ini dilengkapi dengan pengetahuan umum, walaupun masih sangat terbatas sebagai jawaban positip atas terjadinya perubahan-perubahan akibat politik etis kolonial.

Kalau saja rentang sejarah berlanjut, dan pesantren tanpa menyadari perubahan, barangkali kita hanya dapat menyaksikan gedung-gedung tua yang reot, reproduksi keulamaan dan keintelektualan Islam hanya akan berjalan tersendat-sendat.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dan ketika telah begitu banyak fakta yang di produksi sejarah, maka berbagai bentuk pengandaian tinggalah sebuah pengandaian. Tapi dengan pengandaian seperti ini, kita akan merenung sejenak, betapa pentingnya perubahan atau modernisasi itu. Dengan metode klasikal atau sistem madrasah. Pesantren moderen, telah membuka kran tradisi dan mengalirkan anak santri “keatas” terlepas dari kenangan masa lampau yang kumuh dan jumud.

Dari rahim pesantren, lahirlah sejumlah nama, sebut saja, KH. Abdurrahman Wahid, ? KH. Hasyim Muzadi, Dr. Nurcholish Madjid, Dr. Komarudin Hidayat, Lukman Hakim Saefuddin, Said Aqil Siroj, Quraish Shihab, Nazaruddin Umar, dan masih banyak yang lainnya. ? Mereka dinilai tangguh dan mampu mengembangkan dirinya dalam bidang ilmu agama Islam, juga memiliki kepekaan terhadap masalah sosial dan lingkungan. Itulah beberapa alumni pesantren yang mendapat legitimasi dari masyarakat sebagai ulama atau cendekiawan.?

Jauh sebelum itu, dari pesantren telah lahir juga tokoh-tokoh yang memainkan peran penting dalam khazanah intelektualisme Islam. Dalam sejarah intelektualisme pesantren, kita pernah mendengar tokoh bersarung, tapi intelektualnya tidak sarungan, bahkan merambah membahana semesta alam jagat mayapada keilmuan di seantero bumi. Sebut saja misalnya, Syekh Nawawi al-Bantany, Syekh Mahfudz al-Tirmasy, Sykeh Yasin al-Fadany, dan lain sebagainya.

Pesantren peka zaman

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Kini, pesantren tidak hanya tumbuh di alam pedesaan, tapi juga sudah jauh merambah ke kota-kota besar. Bahkan, dulu anak-anak pesantren kudis dan korengan, sekarang mereka menjadi santri yang wangi, dengan semprotan parfum merek terkenal, clive christians, carons poivre, bulgari, dan lainnya. Belajarnya tidak hanya berkutat dengan kitab kuningan, yang khas pesantren. Tapi juga belajar Bahasa Inggris, kewirausahaan, dan ilmu-ilmu yang bersifat ke-dunia-wian. Ini penting mengingat zaman sudah berubah.

Di dalam pembabakan perkembangan pendidikan di Indonesia, lahirnya Undang-Undang No. 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional, dipandang sebagai saat simbolik yang mengukuhkan bahwa lembaga keagamaan seperti pesantren, sedang memasuki era baru dalam strategi pengembangan secara nasional.?

Dengan masuknya lembaga pesantren dalam Undang-undang Sisdiknas, jelas ini merupakan langkah maju. Karena sudah terbukti dalam sejarah segala zaman, pesantren tetap eksis di tengah-tengah masyarakatnya, dari tahun ke tahun pesantren terus bertumbuh. Ini menandakan pesantren sudah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Disinilah pesantren berperan sebagai ”Center of excellence” pusat keunggulan. Karena pesantren memiliki keunggulan ? komperatif, yaitu penekanan yang signifikan pada pendidikan agama dan akhlak (moralitas). Inilah yang menjadi daya tarik para orang tua memasukan anaknya pada pesantren.

Untuk merespon dinamika zaman yang terus melaju dengan kencangnya, maka sangat dibutuhkan pesantren yang melongok pada desa global (gobal village), atau pesantren yang peka zaman. Artinya, bahwa pesantren dituntut untuk melayani masyarakat pengguna pendidikan. Hal tersebut dilakukan dengan tidak menghilangkan identitas dan ciri khas pesantren sebagai institusi pendidikan Islam yang bernuansa religius.?

Minimal, ada tiga hal yang harus dilakukan pesantren agar menjadi lembaga pendidikan Islam yang peka zaman. Pertama, pengembangan kurikulum pesantren. Dalam kurikulum tersebut pesantren tidak hanya bergelut dengan kitab kuningan semata, tetapi juga mengajarkan ilmu yang dibutuhkan oleh masyarakat, supaya bisa berdaya saing.?

Kedua, manajemen pengelola. Para pengelola tidak berdasarkan kekeluargaan semata, tapi dipilih sesuai dengan kualitas keilmuan. Pengelola dilakukan perperiodik, bisa tiga tahun atau lima tahun sekali dipilih oleh dewan pesantren.?

Tujuannya yaitu, untuk mengevaluasi dan menilai efektivitas kebijaksanaan pesantren, program, pelaksanaannya serta mutu lulusannya. diharapkan juga dapat menghasilkan suatu laporan yang membeberkan kelemahan-kelemahan, kekuatan-kekuatan dan prestasi pesantren serta memberikan rekomendasi untuk menyususn rencana strategis pengembangan pesantren pada masa yang akan datang.

Ketiga, kepemimpinan pesantren. Dalam menggapai keberhasilan pesantren peka zaman, dibutuhkan sosok pemimpin yang handal. ? Sehingga memiliki peran dan fungsi yang sangat potensial untuk menggerakan, menata, dan mengelola pesantren bersama para kiai atau ustadz ? yang lainnya, dengan asas saling bekerja sama dan saling bahu membahu untuk memanjukan pesantren.?

Dengan kepemimpinan seperti itu, setidaknya dapat mengangkat citra, kualitas, dan gairah baru sebuah pesantren masa depan.

Zaman memang sudah berubah, para penghuninya pun sudah berubah. Akankah kita melihat lagi era keemasan, dimana pesantren yang telah mencetak para ulama sekelas Syekh Nawawi al-Bantany atau Syekh Yasin al-Fadany? Kita tunggu saja ledakan tradisi pemikiran intelektualisme pesantren di masa datang, tentunya harus dibarengi dengan kerja keras yang dahsyat. Mampuhkah itu?

Penulis adalah Ketua ISNU Kuningan, Kepala Seksi Penyelenggara Syariah Kemenag Kuningan, dan penulis beberapa buku yang diterbitkan secara nasional.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Halaqoh, Pesantren, Lomba Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dikti Siap Bantu Tingkatkan Kualitas Unisnu

Jepara,Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Untuk meningkatkan mutu dan kualitas dosen, Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara, Jawa Tengah, mengundang Prof. Dr. Supriyadi Rustad. Pertemuan berlangsung di Gedung Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Sabtu (8/3).

Menurut Direktur Pendidik dan Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, pihaknya siap membantu membesarkan Unisnu.

Dikti Siap Bantu Tingkatkan Kualitas Unisnu (Sumber Gambar : Nu Online)
Dikti Siap Bantu Tingkatkan Kualitas Unisnu (Sumber Gambar : Nu Online)

Dikti Siap Bantu Tingkatkan Kualitas Unisnu

“Unisnu layak menjadi besar layaknya perguruan-perguruan tinggi besar lainnya di Indonesia,” katanya dalam Orientasi Akademik; Pembinaan dan Peningkatan Kualitas Dosen Unisnu Jepara.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ia memaparkan, pondasi pendidikan di Indonesia harus didukung dengan elemen-elemen yang saling bersinergi. Diantaranya Tri Dharma Perguruan Tinggi yang dibingkai dengan standar dan peraturan perundang-undangan serta pelaksanaannya tidak lepas dari kuliaas Sumber Daya Manusia (SDM) khususnya dosen.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Karena itu, pihaknya bersedia membantu mengirimkan dosen-dosen Unisnu untuk dikuliahkan Dikti ke luar negeri. Dikti lanjutnya juga menyediakan beasiswa S2 dan S3 untuk dosen Unisnu baik ke PT dalam maupun luar negeri.

Rektor Unisnu Jepara, Prof. Dr. H. Muhtarom, mengungkapkan kampus yang digawanginya perlu banyak berbenah dan butuh banyak bimbingan dari Dikti serta Kopertis. DYP Sugiarto, Ketua Kopertis Wilayah VI yang turut hadir mengamini komitmen Dikti yang hendak memajukan kampus NU tersebut. “Semoga harapan dari Dikti segera terwujud,” harapnya. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Nahdlatul Ulama, Pemurnian Aqidah, Kiai Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Senin, 19 Februari 2018

Fatayat NU Malaysia Berkomitmen Beri Solusi Permasalahan TKW

Kuala Lumpur, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pengurus Pusat  Fatayat NU memberikan orientasi kepada pengurus PCI Fatayat NU Malaysia, Senin (25/9). Orientasi bertujuan  menyemangati para pengurus PCI Fatayat NU Malaysia yang dilantik sehari sebelumnya.

“Organisasi Fatayat NU harus mampu menjawab kebutuhan dan kepentingan para kader perempuan NU di Malaysia,” ujar Sekretaris Umum PP Fatayat NU, Margareth Aliyatul Maimunah.

Fatayat NU Malaysia Berkomitmen Beri Solusi Permasalahan TKW (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Malaysia Berkomitmen Beri Solusi Permasalahan TKW (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Malaysia Berkomitmen Beri Solusi Permasalahan TKW

Ketua Bidang Keorganisasian PP Fatayat NU, Nadhifa mengungkapkan banyaknya jumlah tenaga kerja wanita (TKW) di Malaysia. “Di antara mereka banyak yang terlibat permasalahan hukum,” tambahnya.

Perempuan yang juga staff ahli Mentri Ketenagakerjaan ini juga mengungkapkan dengan berbagai masalah yang dialami TKW di Malaysia, PCI Fatayat Malaysia harus dapat membantu para TKW tersebut dalam advokasi hukum.  

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Sementara itu, Ketua PCI Fatayat NU Malaysia Kiki Rizki Makiya, menyampaikan tugas dan tantangan Fatayat semakin berat.

“Tetapi yang paling penting adalah tidak boleh keluar dari ideologi kita, yaitu ahlussunah wal jamaah,” ujarnya.

Pelantikan PCI Fatayat NU Malaysia mengambil moto Jadilah orang yang tangguh dan mampu struggle. Kiki menegaskan, dengan moto itu  tidak ada kalimat menyerah dan buntu dalam menyampaikan amanah. (Uswah/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Kajian Sunnah Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Memahami Keberagaman dari Cara Ibu-ibu Belanja di Pasar

Jakarta, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, perbedaan itu adalah ketetapan Allah. Untuk itu, tugas manusia adalah bukan untuk menyeragamkan yang beda, tetapi bagaimana mereka menyikapi perbedaan tersebut dengan bijaksana dan saling menghormati.

“Perbedaan itu sunnatullah dan itu tidak perlu dipertentangkan. Yang kita lakukan adalah bagaimana menyikapi keberagaman itu, bukan menyeragamkannya,” kata Lukman saat memberikan materi kepada peserta Pelatihan Dai-Daiyah Kader NU 2017 di Gedung PBNU, Senin (29/5).

Lukman menguraikan, banyak orang yang tidak arif dan bijaksana dalam menyikapi perbedaan dikarena mereka kurang memiliki wawasan yang cukup, terutama dalam melihat perbedaan yang ada. Menurut dia, kalau seandainya Allah menghendaki manusia itu seragam, maka itu mudah saja.?

Memahami Keberagaman dari Cara Ibu-ibu Belanja di Pasar (Sumber Gambar : Nu Online)
Memahami Keberagaman dari Cara Ibu-ibu Belanja di Pasar (Sumber Gambar : Nu Online)

Memahami Keberagaman dari Cara Ibu-ibu Belanja di Pasar

Ia mengaku mendapatkan laporan bahwa saat ini tidak sedikit rumah-rumah ibadah yang dijadikan sebagai tempat untuk mempertentangkan perbedaan-perbedaan yang ada. Baginya, perbedaan itu tidak perlu dihadap-hadapkan karena itu adalah pilihan-pilihan.?

Terkait hal itu, ia memberikan contoh bahwa saat ibu-ibu pergi ke pasar untuk membeli sayuran, maka ia tidak harus mempertentangkan mana yang lebih baik antara sayur yang satu dengan yang lainnya.

“Kan tidak harus diperhadapkan bahwa bayam itu lebih baik dari kangkung, tergantung dari sudut mana. Kadar nutrisinya saja sudah beda, vitamin yang dikandungnya saja sudah beda, rasanya pun juga beda. Masing-masing punya kelebihan,” ungkapnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ia mengaku sadar, setiap agama memiliki keyakinan bahwa agamanya lah yang paling benar. Alumni Universitas As-Syafiiyah itu menyesalkan pemeluk agama tertentu yang ingin menunjukkan kebenaran agamanya dengan menjelek-jelekkan agama orang lain karena itu akan meat mbupemeluk agama lain melakukan hal sama.

“Untuk mengatakan istri saya cantik, tidak perlu mengatakan istri lain itu jelek. Itu akan mengusik yang lainnya,” kata Lukman mencotohkan.?

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Agama itu benar menurut pemeluknya masing-masing,” tukasnya. (Muchlishon Rochmat/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Santri, Meme Islam, Fragmen Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Ini Cara Belajar Bahasa Arab via Media Sosial

Tangerang Selatan, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Pengajaran Bahasa Arab bagi sebagian guru menjadi tantangan tersendiri. Namun, sejak munculnya Media Sosial atau akrab disebut Medsos, kesulitan tersebut tak perlu lagi dirisaukan.

Ini Cara Belajar Bahasa Arab via Media Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Cara Belajar Bahasa Arab via Media Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Cara Belajar Bahasa Arab via Media Sosial

Hal tersebut dikatakan Mochammad Syarif Hidayatullah saat menjadi narasumber pada lokakarya "Pengajaran Bahasa Arab Kontekstual” yang dihelat di ruang sidang Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Rabu (3/6).

Dosen FAH ini mempresentasikan tema ‘Memanfaatkan Media Sosial untuk Pengajaran Bahasa Arab’ yang dimoderatori Ibnu Harish. “Kegiatan ini dalam rangka menggagas pengajaran Bahasa Arab kontekstual? agar dalam proses ?belajarnya lebih menyenangkan?,” ujarnya.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Menurut Syarif, media sosial banyak sekali ragamnya. Tidak hanya Facebook, Twitter, WhatsApp, Line, dan Instagram. Ia menilai, masyarakat justru kerap membatasi Medsos hanya dua, yakni Facebook dan Twitter.

“Seringkali kita mereduksi makna media sosial itu pada Facebook dan Twitter. Padahal ada banyak kata kunci yang didapat. Networking, application, misalnya. Jadi, medsos itu maknanya tidak tunggal. Dari semua media yang ada, mari kita manfaatkan untuk pengajaran bahasa Arab,” ajak Syarif.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

B3D di Medsos

Menurut dosen Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Jakarta ini, inti Medsos adalah B3D (Baca, Buat, Bagi, dan Diskusi). Bagi dia, membaca apa saja menjadi hal utama yang musti dilakukan.

“Kita baca dulu semua informasi yang ada. Dari orang lain juga. Lalu apa respon kita atas informasi itu, kita buat status. Setelah itu kita berbagi atau share pendapat kita itu. Nah, jangan lupa diskusi dengan teman-teman,” urainya.

Menurut Dosen Pascasarjana Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Jakarta ini, para guru musti bisa memanfaatkan tulisan-tulisan berisi petuah dalam rangka merangsang pelajar untuk cinta kepada bahasa Arab. Guru tidak boleh lagi terpaku kepada model pengajaran masa lalu.

“Tentu para guru harus inovatif. Misalnya, mengajak anak-anak menonton film berbahasa Arab. Jadi, material culture tersebut bisa menjelma sesuatu yang menarik mereka. Hal-hal baru yang lebih inovatif juga layak diberikan kepada siswa. Yang kayak gini-gini mestinya bisa dilakukan. Apalagi anak-anak sekarang sudah melek internet. Mereka pun sadar medsos,” tandasnya.

Buktinya, lanjut Syarif, ada siswa yang mengaku berteman dengan para penulis, aktivis, dan intelektual asal Timur Tengah. “Biarkan saja. Itu malah bagus. Dari situ, anak-anak bisa berlatih bahasa Arab melalui chatting dengan kawannya itu,” kata pria kelahiran Pasuruan ini.? ?

Syarif menyarankan, ketika siswa sedang ber-fesbuk ria, para guru bisa meminta mereka mengganti setelan berbahasa Arab untuk FB mereka. “Bisa juga dengan nge-share artikel dari situs-situs bahasa Arab, semisal, Al-Ahram, Al-Jazeera, dan lain-lain,” ujarnya.

Selain Dr Moch Syarif Hidayatullah, puluhan guru dan mahasiswa S2 peserta lokakarya juga mendapat materi dari dua narasumber berkompeten lainnya, yakni Dosen FITK UIN Jakarta Dr Muhbib Abdul Wahab, dan Saifullah Kamalie, PhD. (Musthofa Asrori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Budaya Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Minggu, 18 Februari 2018

Soal Investasi Dana Haji, MUI: Pandangan Menag Sejalan Fatwa MUI

Tangerang Selatan, Pondok Pesantren An-Nur Slawi?

Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Asrorun Niam Sholeh menegaskan, pandangan Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin tentang bolehnya penggunaan dana setoran Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) untuk hal-hal yang produktif sudah sesuai dengan Fatwa MUI.?

Menurut Niam, MUI telah membahas permasalahan investasi dana haji itu di dalam Forum Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa Se-Indonesia IV yang diselenggarakan di Cipasung Jawa Barat tahun 2012. Ia mengaku memimpin sidang pleno penetapan Fatwa tersebut bersama dengan KH Ma’ruf Amin.

“Forum Ijtima’ Ulama menyepakati bolehnya memproduktifkan dana haji yang disetorkan jama’ah untuk investasi sepanjang dilakukan sesuai syariah dan ada kemaslahatan,” kata Niam kepada Pondok Pesantren An-Nur Slawi di Tangerang Selatan, Sabtu (29/7) malam.

Soal Investasi Dana Haji, MUI: Pandangan Menag Sejalan Fatwa MUI (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Investasi Dana Haji, MUI: Pandangan Menag Sejalan Fatwa MUI (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Investasi Dana Haji, MUI: Pandangan Menag Sejalan Fatwa MUI

Dalam salah satu poin Keputusan Forum Ijtima’ Ulama tersebut disebutkan bahwa dana setoran jama’ah haji yang berada dalam daftar tunggu boleh digunakan atau di-tasharruf-kan untuk hal-hal yang poduktif atau memberikan keuntungan.

Namun demikian, Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menambahkan, pemanfaatan setoran dana haji tersebut harus mengedepankan kepentingan dan kemaslahatan umat. “Akan tetapi harus dipastikan dilakukan sesuai ketentuan syariah dan manfaatnya kembali kepada jama’ah,” jelasnya.

Sebelumnya, Menag menyampaikan bahwa dana setoran haji boleh digunakan untuk investasi infrastruktur selama investasi tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip syariah, sesuai dengan Undang-Undang yang ada, serta memberikan kemaslahatan kepada jama’ah haji dan juga masyarakat umum. Terkait pandangan Menag ini, ada yang mendukung dan juga ada yang mempertanyakan keabsahannya baik secara Undang-Undang maupun hukum Islam. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Nahdlatul Ulama, Kiai Pondok Pesantren An-Nur Slawi

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

MWCNU Wonoasih Hidupkan Kembali Lailatul Ijtima’

Probolinggo, Pondok Pesantren An-Nur Slawi. Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Wonoasih Kota Probolinggo menghidupkan kembali kegiatan rutin malam yang lebih dikenal dengan Lailatul ijtima’. 

MWCNU Wonoasih Hidupkan Kembali Lailatul Ijtima’ (Sumber Gambar : Nu Online)
MWCNU Wonoasih Hidupkan Kembali Lailatul Ijtima’ (Sumber Gambar : Nu Online)

MWCNU Wonoasih Hidupkan Kembali Lailatul Ijtima’

Kegiatan tersebut digelar secara bergantian di tiap-tiap Ranting NU se Kecamatan Wonoasih.

Lailatul ijtima’ yang dihadiri oleh segenap pengurus Syuriah dan Tanfidziyah MWCNU Kecamatan Wonoasih ini diisi dengan shalat Isya’ berjamaah, shalat hajat, tahlil dan pembahasan terkait masalah yang sedang terjadi saat ini, khususnya di Kecamatan Wonoasih.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

MWCNU Kecamatan Wonoasih dikenal salah satu basis NU di Kota Probolinggo, sehingga tidak heran jika lailatul ijtima’ tersebut diikuti oleh puluhan jamaah dan anggota NU Ranting setempat.

Berdasarkan pantauan Pondok Pesantren An-Nur Slawi, jamaah lailatul ijtima’ yang terdiri dari kaum ibu-ibu dan bapak-bapak ini terlihat sangat khusuk mengikuti tahapan demi tahapan pelaksanaan tersebut. Apalagi saat digelarnya pembacaan tahlil bersama yang dipimpin oleh pengurus MWCNU Kecamatan Wonoasih.

Pondok Pesantren An-Nur Slawi

“Kami akan terus berusaha untuk kembali menghidupkan kegiatan lailatul ijtima’ yang merupakan salah satu tradisi yang dilakukan oleh ulama NU. Alhamdulillah, jumlah jamaah tiap kegiatan selalu bertambah. Hal ini menunjukkan masyarakat sangat antusias menymabut kegiatan ini,” ungkap Ketua Tanfidziyah MWCNU Kecamatan Wonoasih Hasin pada Pondok Pesantren An-Nur Slawi, Kamis (7/3).

Menurut Hasin, kegiatan pertemuan bulanan pengurus dan jamaah NU tersebut tidak membutuhkan waktu yang lama. Sebab yang terpenting adalah jamaah dan pengurus NU bisa berkumpul dan mengaji bersama untuk mempererat ukhuwah nahdliyah.

“Semoga melalui kegiatan ini ukhuwah nahdliyah antara pengurus dengan pengurus, maupun pengurus dengan warga NU bisa semakin erat. Yang jelas, kami ingin semua warga NU bisa terus bersatu sehingga tidak mudah terpengaruh dengan paham-paham lain di luar NU yang tidak sesuai dengan Ahlussunnah wal Jama’ah,” harapnya.

Redaktur     : Hamzah Sahal

Kontributor  : Syamsul Akbar

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren An-Nur Slawi Bahtsul Masail, Hadits, AlaSantri Pondok Pesantren An-Nur Slawi